jump to navigation

Yang Tua dan Jelek Juga Bisa Membuatmu Bahagia 11 Desember, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, celebration of life, cinta, filosofi, gairah, inspirasi, kata hati, kehidupan, pernikahan, pria, wanita.
Tags: , , , , , ,
18 comments

“Ih, cowoknya tua banget gitu? Kok dia mau sih?” Atau,  “Sorry, Bro… Cewek lu yang sekarang kok jelek amat sih? Jangan tersinggung ya, tapi ngga level gitu ama elo…” Atau malah, “Gila kali ya gw mau sama dia. Udah jelek, tua, idup lagi! Mending jomblo seumur hidup deh.”

Begitu menjijikkannyakah manusia yang sudah tua, mereka yang jelek, apalagi orang yang tua dan jelek sekaligus? Mengapa menghindari yang tua, padahal kehidupan tak membawa kita semua, siapapun!, kecuali menuju penuaan dan akhirnya kematian? Seakan mereka yang merasa jijik itu, akan tetap muda selamanya…

Mengapa menyisihkan mereka yang (berwajah) jelek dari daftar orang yang layak dipertimbangkan, menjadi teman, kekasih, suami, atau istri? Sudah yakin dirimu cakep? Jangan-jangan cuma tante, mama kamu yang menganggapmu ganteng, atau si om, papa kamu, yang selalu memujimu cantik? Siapapa pula yang mengatai anaknya jelek, kecuali dia nggak yakin, itu beneran anaknya sendiri. (lagi…)

Sms dan Ungkapan Cinta yang Meluluhkan Hati (Reader Edition) 23 November, 2009

Posted by Toga Nainggolan in celebration of life, cinta, gairah, inspirasi, kutipan, nesiaweekism, sms cinta, sms romantis.
Tags: , ,
14 comments

Serial SMS Cinta yang Meluluhkan Hati, harus kuakui, merupakan salah satu penyumbang hits terbesar untuk blog ini. Padahal itu cuma “proyek” iseng-iseng. :D Malah posting yang dikerjakan rada “seriusan” ngga sebegitunya peminatnya.

Selain hits, serial itu juga menuai banyak komen dari temen-temen yang baca, termasuk komen yang malah lebih “mengerikan” tingkat kegombalannya. Berikut ini, beberapa contohnya.

Warning: Gombal kelas berat. Pastikan Anda telah berusia 18 tahun ke samping. (lagi…)

Kemeriahan dan Keceriaan tak Selalu Berhubungan 16 Oktober, 2009

Posted by Toga Nainggolan in celebration of life, cinta, inspirasi, kata hati, kehidupan.
23 comments

Kadang kita mengeluarkan biaya besar demi terciptanya kemeriahan. Tetapi meriah, tak selalu berarti ceria, apalagi bahagia. Sebuah pelajaran lagi, dari anak-anakku untuk kami, orang tua mereka.

Seminggu lebih setelah kepergian ibu saya, Zaid anak kedua saya tepat 5 tahun. Ultah sendiri atau nyonyah bolehlah luput (atau bahkan lupa andai gak ada situs2 jejaring sosial itu, ketika wall tiba2 penuh dengan ucapan selamat, entah dari belahan dunia mana). Tapi ultah anak? Ngutang dana ke tetangga pun jadi.

Dalam sidang paripurna keluarga, lengkap dengan 5 fraksi, saya dan istri selaku pimpinan sidang, dan ketiga “produk” kami itu sebagai anggota, saya menyampaikan usul, acara sebaiknya di rumah saja.

(lagi…)

Tak Cukup Dijalani, Hidup Juga Patut Dirayakan 14 Oktober, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, insomnia, inspirasi, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, spiritualitas.
19 comments

halfJika (sekadar) dijalani, hidup terdengar seperti sebuah tugas, dan yang namanya tugas, tak selalu (atau malah jarang) terasa menyenangkan, kecuali bila Anda seseorang yang sangat ingin dapat promosi dari bos. Tapi jika (juga) dirayakan, hidup akan terasa seperti sebuah kesempatan (untuk berbahagia), a party time. Dan tentang kesempatan, orang biasanya bilang, “Jangan sampai dilewatkan!”

Apakah menganggap hidup sebagai tugas atau sebuah kesempatan akan mengubah hidup itu? “Itu kan anggapan doang, label thok. Hidup ya tetap gini-gini aja, gitu-gitu doang.” Nah, itulah yang mau kita bicarakan. :D

(lagi…)

Bertahan Hidup Bukan Karena Takut Mati 6 Oktober, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, bencana, celebration of life, filosofi, gairah, inspirasi, kehidupan, kematian, spiritualitas.
14 comments

Jika seseorang berjuang bertahan hidup-dari serangan penyakit, terpaan bencana, kesulitan ekonomi, atau apapun itu yang bisa mengancam kelangsungan hidupnya-bisakah dia disebut sebagai pengecut yang terlalu takut mati?

BERANI mati itu memang terdengar gagah, tetapi saya lebih kagum kepada mereka yang berani hidup. Modal untuk mati itu murah; setengah liter pestisida atau seutas tali rafia juga sudah cukup. Tidak percaya? Silakan coba. Kalau memang berminat, petunjuk teknisnya nanti saya kirim lewat email. Bergaransi dan telah teruji. ;) Sebaliknya, modal untuk tetap hidup justru teramat mahal; butuh keseluruhan diri kita.

Ketika hidup terasa menyesak dan pengap, saat segenap harap luruh menguap, and the only way to escape sepertinya adalah loncat dari atap, (atap JW Marriott biar langsung kolaps), malulah kepada nenek tua yang bertahan hidup dengan menjajakan kue, dari pagi hingga petang, dari tanah lapang sampai ujung-ujung gang. (lagi…)

Mencintaimu, tanpa Mengambil Satu Hal pun Darimu 3 September, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, inspirasi, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, soulmate.
41 comments

Jika aku bisa menghentikan denyut waktu, ku ingin menaruhmu ke dalam sebuah bingkai, menangkap cahaya di sekitarmu, mengagungkanmu dengan gita dan puja, memajang mengusungmu sebagaimana kau mestinya terlihat, lepas pisah dari noda dan pesona pada permukaan keseharian…

Kemudian aku akan berlutut, di sini di tengah jalanan, mengambil gambarmu. Tapi siapa yang akan percaya? Apakah hanya aku yang bisa melihatnya? Aku hanya ingin memandang, sebelum sesaat kemudian kau menghilang.

Aku hanya ingin mencintaimu, tanpa harus merenggut satu hal pun, dari dirimu… (lagi…)

For Everything Will Come To An End… 21 Agustus, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, cinta, inspirasi.
15 comments

Saya lebih memilih satu tarikan napas merasakan aroma rambutnya, satu kecupan saja dari bibirnya, satu genggaman pada jemarinya, daripada keabadian tapi tanpa itu semua…

Kalau sudah nonton City of Angels, dan menyimaknya tentu saja–bukannya malah membuat “suting pilem” sendiri di keremangan bioskop itu–Anda pasti ingat quote itu, dari sang “malaikat” yang diperankan Nicolas Cage.

Ketika harus memilih, antara keabadian yang hampa, an empty eternity, atau sebuah momen yang penuh tapi akan berlalu meluruh, manakah yang akan Anda ambil? (lagi…)

Ngerumpi? Y Not? Jika Niatnya untuk Memahami Wanita, Menjadi Makin Pria 24 Juli, 2009

Posted by Toga Nainggolan in artikel, celebration of life, cinta, dedikasi, filosofi, insomnia, inspirasi, interkonektivitas, kehidupan, nesiaweekism, pernikahan, wanita.
25 comments

Masalah yang muncul dalam hubungan pria-wanita, hampir semuanya muncul akibat minimnya saling pengertian satu sama lain. Masing-masing berharap agar pasangan berpikir seperti dirinya.

Hasilnya bisa ditebak. Kedua belah pihak merasa tidak dimengerti, merasa dirinya harus selalu mengalah, dan akhirnya sama-sama terlempar pada kesepian dan kekecewaan masing-masing. (lagi…)

Agama vs Atheisme, Round 2! 13 Juli, 2009

Posted by Toga Nainggolan in artikel, filosofi, inspirasi, kutipan, spiritualitas.
367 comments

Tulisan Islam vs Kristen, Pemenangnya Atheis, telah menjelma menjadi thread diskusi spiritualitas yang sangat ramai. Saat tulisan ini saya publish, tulisan itu sudah mendapat 684 komentar, belum termasuk komentar yang berupa balasan langsung. Ini sudah mendekati “sukses” judul Justru Setelah Jadi Muslim, Aku Tahu Kristen Itu Benar, yang mendapat komentar di atas 1.000 buah!

Tulisan berikut adalah salah satu komentar untuk tulisan tersebut, dari seorang pembaca dengan nick Hari. Sebuah tulisan singkat, namun mampu membuka mata–setidaknya mata saya–bahwa rasionalitas dan irasionalitas, agama dan atheisme, tak selalu bisa dipertandingkan, karena mereka memang punya “kelas” yang berbeda, punya pesona masing-masing, memiliki “lubang” sendiri-sendiri. (lagi…)

Ranking 6 Itu Ngga Ada Apa-apanya! 30 Juni, 2009

Posted by Toga Nainggolan in dedikasi, gairah, inspirasi, kata hati, kehidupan, sahabat.
15 comments

Tulisan saya, Anak Berprestasi, Bangga atau Justru Malu Sendiri?, yang berisi perenungan tentang kedurhakaan saya sebagai orang tua kepada Echa anak saya, mendapat tanggapan beragam, baik di blog ini, maupun di Facebook.

Ternyata saya tidak sendirian dalam kekeliruan itu. Hal itu tergambar dalam penuturan seorang pembaca, Sealead, pemilik Blog Cinta dan Patah Hati, dalam komennya untuk tulisan itu. Berikut saya muat utuh, mudah-mudahan bisa memperkaya refleksi kita, para orang tua atau yang pada gilirannya juga akan menjadi orang tua. (lagi…)

Derita yang Menyembuhkan 17 Juni, 2009

Posted by Toga Nainggolan in celebration of life, dedikasi, filosofi, gairah, inspirasi, interkonektivitas, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, spiritualitas.
11 comments

Ketika hati retak menganga, air mata jatuh menelaga, pikiran justru menemukan sebuah celah cahaya. Dengan caranya sendiri, aku justru merasa perih adalah rute yang harus dilewati untuk tetap tumbuh dan berkembang, untuk sembuh dan tetap terbang.

Membendung emosi justru bahaya terbesar. Kadang orang lari menghindari perih: menenggak alkohol, obat, melukai orang lain, dsb. Padahal jauh lebih aman dengan membiarkan diri terbuka kepada apa yang disebut sebagai derita.

Pelarian perih itu akan mendatangkan candu, apakah sekadar main PS atau main dengan PSK. Tapi mungkin sudah menjadi naluri alamiah kita untuk menghindarinya, dan oleh karenanya setiap orang pasti mencandu terhadap sesuatu. (lagi…)

Kutipan Wawancara dengan Hamzah Haz 26 Mei, 2009

Posted by Toga Nainggolan in Politik, artikel, filosofi, fundamentalisme, iblis, inspirasi, kutipan, nesiaweekism, opini, sosial, spiritualitas, wawancara.
Tags: , , , ,
5 comments

Hanya wawancara biasa, dengan mantan pejabat pula.

Tapi mungkin ada gunanya.

Mantan Wakil Presiden RI dan Ketua Umum PPP ini berbicara tentang merosotnya pamor partai Islam, dinamika politik dan demokrasi Indonesia, serta nikmatnya kehidupan setelah tak lagi menjadi “orang penting” di negeri ini.

Sebelumnya, saya hanya dijadwalkan punya waktu selama 30 menit. Namun perbincangan kemudian menjadi sangat akrab, dan akhirnya molor sampai hampir 2 jam, dan baru berhenti setelah azan Ashar berkumandang di dalam rumah, tempat berlangsungnya wawancara.

Ya, di dalam rumah, karena kediamannya di Jalan Kebon Pedes, Bogor itu, memang telah diubah menjadi masjid, dan hanya menyisakan sebuah kamar tamu, kamar tidur, dan teras yang tak terlalu luas, untuk kepentingan pribadinya. (lagi…)

Tak Ada yang Abadi, Hiduplah Sepenuhnya Hari Ini 26 Mei, 2009

Posted by Toga Nainggolan in artikel, celebration of life, cinta, filosofi, inspirasi, spiritualitas.
Tags: , ,
11 comments

Dijadwalkan bertemu selama 30 menit, saya akhirnya ngobrol hampir 2 jam dengan beliau. Tampak betul, sejak tak lagi jadi pejabat tinggi negara, waktu luangnya semakin banyak.

Obrolan yang akrab, ditemani kue-kue basah yang enak dan masih hangat di rumahnya di Bogor, sulit rasanya membayangkan beberapa tahun lalu dia merupakan orang kedua di republik ini.

Saya pernah melihatnya ketika berkunjung ke Medan, saat menjadi Wapres sekaligus Ketua Umum PPP. Bertemu dia kali ini, setelah tak lagi menyandang semua jabatan dan “kehormatan” itu, dengan jelas bisa terlihat wajahnya jauh lebih fresh. (lagi…)

Segala Perih Datanglah, Tak Kepada Luka Aku Menyerah 19 Mei, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, bunuh diri, celebration of life, cinta, filosofi, gairah, inspirasi, kata hati, kehidupan, kutipan, nesiaweekism, spiritualitas.
Tags: , , , , ,
32 comments

Cinta dan luka, ternyata punya hubungan kekerabatan sangat dekat, bahkan cenderung seperti kembar identik, setidaknya begitu menurut Jennifer Anniston. “The greater your capacity to love, the greater your capacity to feel the pain,” kata janda Brad Pitt ini.

Apakah ungkapan itu merupakan simpulan yang dia dapat dari kisah cintanya yang tak sesukses kariernya di dunia entertainment, silakan tanya sendiri, kalo punya nomor ponselnya. Atau udah temenan di pesbuk? (lagi…)

Manusia, Usia, Rahasia, Sia-sia… 8 Mei, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, gairah, inspirasi, kata hati, kehidupan, kematian, nesiaweekism, spiritualitas.
Tags: , , , ,
17 comments

Di hadapan waktu yang membentang, kita sering merasa kecut, kecil, mengerut, mengerdil. Diam-diam kita sadar akan segera tiada. Betapa pendek ruas yang kita miliki. Waktu akan terus melanjutkan perjalanannya, dan kita akan tinggal di titik ini, sepertinya tak kan sempat tercatat, tak kan pantas diingat.

Manusia selalu takluk di hadapan usia, dihantui sebuah rahasia, kapan tepi itu akhirnya akan tiba. Bahkan Fir’aun yang perkasa dan jumawa, membangun piramid-piramid karena kesadaran akan batas itu.

Tahun baru, ulang tahun, semua tanggal-tanggal penting dalam kalender, adalah bel yang berdentang makin keras, mengingatkan kematian semakin dekat, ujung jalan makin terlihat. (lagi…)

Kita Tak Bahagia, Mungkin Karena Kita Bodoh 16 April, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, celebration of life, cinta, dedikasi, gairah, inspirasi, interkonektivitas, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, spiritualitas.
Tags: , , ,
30 comments

Mungkin ada orang yang ga minat nikah, ga berpikir untuk punya anak, atau ga terlalu semangat memburu uang, bahkan ngga terobsesi dengan seks. Tapi siapa yang ga mau bahagia? Ayo tunjuk burung!

Pastinya, kita semua pengen dunk. Kita udah didesain secara sistematis untuk memburu kesenangan, seperti bunga matahari ditakdirkan tunduk menghadap sang surya.

Sayangnya, tak ada (kebahagiaan) yang abadi. Dan kita pun bergegas memburunya lagi. Kebahagiaan – seperti tali pusar bayi – adalah sesuatu yang efemeral, hanya ada untuk suatu masa dan menghilang sesudahnya. (lagi…)