Archive for the 'gairah' Category

Pungguk yang Mendamba Bulan, Hamba yang Merindukan Tuhan

Bila sungguh pungguk pernah mengidamkan bulan, betapa menggelikan sekaligus mengenaskannya. “Kaciaaan de lu, Ngguk!” Derazat yang terlalu jauh berbeda, jarak yang terlalu jauh untuk direngkuh.

Tapi bukankah sang pungguk tidak seberapa gila, dibanding seorang hamba yang merindukan Penciptanya? Bukankah perbedaan antara pungguk dan bulan menjadi tidak terasa, dibanding selisih antara makhluk dan Khaliknya?

Tetapi juga, apa bisa memberi batas pada rindu? Bukankah sia-sia mengepung cinta dengan tembok-tembok logika, mencoba mengukur rasa dengan satuan-satuan fisika? Baca selebihnya »

Pergilah Seperti Uap, Karena Kutau, Kau Akan Kembali Sebagai Hujan

Aku tahu, kau akan pulang…

Kau beranjak pergi ke dunia, nun jauh, berbilang jarak dari segala. Kemudian kau pulang, berbusana kegelapan. Kau kembali, memberiku cahaya yang lama kau simpan-simpan, kau bentuk-bentuk tak setahu dunia, membentuk dirinya sendiri seperti lempung tanah liat, salju yang menyerbuk membatu, menggumpal, kau hibahkan, menaruhnya pada sebuah sudut hati, seperti persuaan cahaya dengan cahaya.

Dua cahaya menyatu jadi biru, titik warna tertinggi yang dicapai api, terbakar tanpa sempat terkejap—kau serahkan dirimu sendiri, di sini, di sebuah tempat yang jauh dari segala yang lain, bahkan jauh dari dirimu sendiri, di dekatku, di dalamku.

Pada saat yang sama, kau juga membuatku jauh dari diriku sendiri, di dekatmu, di dalammu. Jauh dari diri kita masing-masing, mengakrabi keabadian, mendekat pada sesuatu yang tak ternamai, tak tertempatkan, keindahan yang tak tergelincirkan, tak tergeserkan, tak terundukkan. Baca selebihnya »

Setiap Pria Mestinya Didampingi Empat Wanita

Ini tidak berkait dengan doktrin agama manapun. Cuma efek samping sebuah obrolan pembunuh waktu dengan seorang kawan. Menurut dia, idealnya seorang pria memang punya (baca: memperistri) empat wanita, yang mendampinginya menjalani kehidupan.

Wanita pertama adalah sosok Permaisuri. Inilah pendamping nomor wahid, yang akan meneruskan keturunan, yang mendampingi dalam acara dan “penampakan” resmi.

Kualifikasi: anggun, modis, berwibawa, dst.

Wanita kedua adalah sosok Ibu. Lelaki sebenarnya makhluk paling tidak bisa mandiri. Dia juga lemah di dalam sana, walau selalu berusaha kelihatan kuat dan tegar. Jadi sosok ibu inilah tempat dia menelungkupkan wajah, saat takut melihat ke depan, saat remuk dikepung kegagalan.

Kualifikasi: yup, berjiwa keibuan dong. Betis kesebelasan tidak direkomendasikan. Baca selebihnya »

Sms Cinta yang Meluluhkan Hati

Bonus buat para pembaca setia, halah! Nesiaweek merilis koleksi sms cintanya. Wuaks! Dampak yang ditimbulkannya, di luar tanggung jawab percetakan. Keampuhan sudah teruji, jadi mohon digunakan dengan bijaksana. Dan bila penolakannya berlanjut, kesalahan bukan pada sms-nya.

Seperti berobat, yang terpenting bukan obatnya, tapi keinginanmu untuk sembuh. Begitu pula menaklukkan hati, yang terpenting bukan ungkapannya, tapi kesungguhanmu untuk mencintainya. 

Semoga lekas sembuh, eh, jatuh! Baca selebihnya »

Seperti Ngeblog, Musuh #1 Cinta Bukan Pengkhianatan, tapi Kebosanan

Kata Sir Cecil Beaton: ”Barangkali kejahatan terbesar kedua di dunia adalah kebosanan, dan yang nomor satu: menjadi orang yang membosankan!” Kebosananlah, bukan yang lain, yang menjadi virus penghancur hampir seluruh bentuk hubungan antarmanusia, membuat mimpi padam sebelum waktunya, memaksa orang mati sebelum ajalnya.

Bahkan waktu, sesuatu yang begitu presisi dan konsisten, bisa melambat bila sudah dijalari kebosanan. Jarum jam jadi lebih malas berputar, dan detaknya yang begitu lirih, bisa memekakkan telinga.

Baca selebihnya »

Jika Kau Tau Semuanya, Masihkah Kau Cinta?

Mereka bertemu di gerbong kereta, dan jatuh cinta. Jason P Howe kemudian mengetahui, Marylin, wanita yang dicintainya itu, menjalani kehidupan ganda - sebagai seorang assassin, pembunuh rahasia di kelompok sayap kanan, dalam perang sipil Kolombia yang brutal.

Ketika ada rahasia yang diungkapkan, atau terungkap, sebuah hubungan akan bergerak ke sebuah titik: naik, turun, atau malah terjerembab ke titik nol. Biasanya sih rahasia itu nggak jauh-jauh dari seks! Tentang sudah berapa banyak wanita yang kau tiduri, atau justru kau lelaki keberapa yang menidurinya. Setiap kejujuran akan membawa konsekuensi. Baca selebihnya »

Dari Skandal Gub. New York: Wanita Bertarif Rp50 Juta/Jam

 Eliot Spitzer menanggung beban aib yang luar biasa. Gubernur New York itu ketahuan sedang mengatur pertemuan dengan seorang wanita pangilan hi-class, yang berada di bawah “manajemen” Emperor’s Club VIP. Dia pun dituntut mundur. Tapi yang bahas itu sudah banyak!

Sejak skandal itu terkuak, situs EC, www.emperorsclubvip.com tutup. Tadinya, di sana mereka menyebut dirinya sebagai the most preferred international social introduction service for those accustomed to excellence. Hm, kemasan bahasa yang cukup bagus! Baca selebihnya »

Jangan Buat Dia Jatuh, Bila Kau tak Sungguh Ingin Menangkapnya

Don Juan de Marco, legenda akbar pecinta itu, konon pernah bilang, cinta sejati bukan berarti hanya sekali, cuma kepada satu hati. Setiap cinta punya kepenuhannya sendiri. Kubayangkan, ia mengatakannya dengan intonasi yang nakal, air muka yang angkuh.

Buat Don Juan - dan para pengikut Don Juanisme ;) - cinta adalah momen. Itulah api yang membakar Jack dan Rose sekian puluh jam di atas RMS Titanic, sebelum mereka terberai saat kapal raksasa itu menabrak bongkahan es. Adakah yang bisa menjamin, misalnya, andai mereka selamat sampai ke daratan Amerika, keduanya akan menjadi pasangan yang setia? Bukankah sangat mungkin Jack yang menawan akan terpikat dan memikat gadis lain begitu tiba di pelabuhan New York? Baca selebihnya »

Menolak Valentine? Ah, Sok Paten Kali pun Kalian!

valentine.jpg

Terus terang, bingung aku melihat penolakan - terutama yang berlebihan seperti yang dilakukan orang Pakistan dalam gambar - terhadap hari Valentine, hari kasih sayang, rahman warrahim, 14 Februari. Kebencian apa sesungguhnya yang bersarang di kepalanya, yang ditutup kopiah putih bersih itu?

Apa karena hari itu berasal dari kisah seorang pemuka agama Kristen Katolik, Valentine dan Santo Marius? So what? Kok tak kau bakari juga semua kalender internasional, yang malah lebih “parah” karena berasal dari momentum kelahiran Yesus Kristus? Trus kok mau kau libur hari Minggu, di mana orang Kristen pergi ke gereja, dan sebaliknya mau pula tetap kerja di hari Jum’at, padahal di situ kaum muslimin pergi shalat Jum’at ke masjid-masjid?

Kok tanggung-tanggung? Katanya harus kaffah, baik menjauhi larangan maupun melaksanakan perintah, nahi mungkar wa amar ma’ruf? (Jangan kau bilang aku terbalik-balik. Tanya ustadz kau, bahwa kita harus lebih dulu menjauhi yang buruk baru mendekati yang baik!) Baca selebihnya »

Bahagia: Bertaruh Demi yang Tak Pasti, atau Nyaman dengan Apa yang Ada

 

Banyak orang bingung, mengapa pejudi bisa bertahan berhari-hari dengan permainan yang sudah pasti akan membuat bangkrut itu. “Yang menang bisa jadi melarat, apalagi yang kalah Wuo wou…” kata Rhoma Irama. (O o, ketauan selera musiknya).

Rhoma salah, kalau menganggap pejudi tulen betah bermain karena ingin menang. Keasyikan terbesar dalam judi, bukanlah saat menang, tapi di saat-saat genting permainan itu sendiri. Bukan hendak bergaya belaka, ketika pemain poker mengintip pelan-pelan kartunya, tetapi memang di situlah sedapnya. Sudah menjadi hukum alam, kalau rasa sedap itu akan menimbulkan candu.

Jadi, kalau ingin mencandu pada sesuatu yang baik, temukanlah kesedapan-kesedapan yang (menurutmu) baik. Baca selebihnya »

After an end, comes another beginning

Never say never again. Sebisa mungkin hindari bersumpah, karena kau mungkin akan terpaksa melanggarnya. Jangan pernah meludah di depan orang ramai, sebab bisa saja kau tak punya pilihan lain, kecuali menjilatnya kembali, juga di depan orang ramai.

Butuh kekuatan untuk mempertahankan pilihan, tapi juga perlu lebih banyak keberanian - persisnya berani malu - untuk mengakui kau telah mengambil pilihan yang salah, dan menebusnya. Lagian, kalau emang bener cintamu lebih besar dari (ke) malu (an)-mu, kau mestinya cuma perlu malu untuk menunjukkan kemaluanmu, bukannya cintamu.

Pun, bila kita mendasarkan hidup pada apa yang dipikirkan orang lain, deuh, betapa tersianya hidup, dalam pendeknya ruas waktu.

Singkat cerita ;) ngeblog itu ternyata benar-benar enak, dan itu (makin) kusadari justru ketika aku berjuang menjauhinya, dan gagal. Sakaw-nya berat, lebih berat dari sakaw-sakaw lain yang pernah kurasakan.

O, Blogosphere, aku berlutut menginjak janji dan harga diri, berilah aku hidup kembali, seribu tahun lagi…

Sila Ketiga? (Tanggapan Seorang Pembaca Wanita, Keren Banget!)

Hanya beberapa jam setelah posting “Aku Mencintaimu, Tolong Tinggalkan Aku” di-publish, kutemukan komentar dari seorang pembaca yang juga blogger, Annisha, The On Becoming Happy Lady.

Aku sampai tersedak. Bukan saja karena begitu panjang, (tersedak karena panjang? Mati kita!) tapi juga karena seperti bisa membaca ‘pergerakan’ pikiran, yang padahal sudah kuacak seacak-acaknya. Aku ternyata salah, tadinya kupikir hanya soulmate-ku yang bisa paham ‘pola’ itu. Nah ini dia… *Pos Kota mode on*

iiiii

BETAPA butuh lebih banyak waktu dan energi hanya untuk memahami puisi yang diprosakan atau prosa dari puisi diatas. Hari Kamis malam jumat yang biasanya jadi favorit saya jadi mendadak sedikit mendung. Namun, semuanya tak sia-sia. Setelah berkali-kali mencerna, visualisasi tulisan diatas menemui bentuknya juga dalam benak saya.

Baca selebihnya »

Aku Mencintaimu, Tolong Tinggalkan Aku

“Letting Go” photograph by John Watson at photodoto.com

Aku pernah berpikir cinta itu sesuatu yang abadi, sesuatu yang kau simpan rapat-rapat dan tak akan pernah kau biarkan berlalu. Aku juga pernah yakin, bahwa aku akan selalu meyakininya begitu.

Kini terasa lucu juga, bagaimana arus waktu membilas semua asumsimu yang paling membatu. Selucu ketika menyadari bahwa salah satu pelajaran terpenting dalam hidup adalah melupakan, betapa kita hanya bisa menyelamatkan kehidupan dengan melupakan.

Lapisan-lapisan pemahaman dan kedirian, seperti slide show yang malas menggilir gambar, sampai gambar terakhir yang putih polos, belum sempat sekalipun tersapu kuas.

Kita menyaksikan, seperti semua mimpi, cinta pun sekarat di hadapan realita. Baca selebihnya »

Karena mimpi adalah cahaya, maka mati bukanlah bahaya

Di kejauhan sana selalu ada cahaya, terlalu jauh untuk kuraih, tetapi hangatnya bahkan terlalu dekat, menyelinap ke bawah kulitku, kutatap dari gulitanya rindu, kubiarkan menuntun langkahku.

Apakah mimpi baru berharga jika ia bisa berubah nyata? Tidak juga, karena sebagian mimpi kadang harus dibiarkan “hanya” jadi mimpi. Bisa saja, begitu dia mewujud nyata, kau tersentak sadar telah salah memilih mimpi. Weks!

Seperti cahaya di kejauhan itu, yang datang dari pijar bola raksasa matahari, ia akan membakarmu, dalam sekejap jadi uap, jika kau memaksa bersisian terlalu akrab.

Baca selebihnya »

Thousand pieces of a fallen dream

Jika sebuah impian jatuh, pecah menjadi seribu serpihan, selalu ada waktu untuk memungutnya serpih demi serpih.

ATAU kalaupun tidak, mulailah dengan sebuah impian yang baru dengan gambar yang sama, karena kita bisa bertahan hidup beberapa hari tanpa makan dan minum, tetapi tidak tanpa impian.

Impian apa yang akan kau pilih? Impian tentang kesuksesan, uang, properti yang membentang di lintas benua? Atau idealisme, kebenaran, sebuah “rumah” di dalam hatimu? Atau tentang kepedihan dan keinginan balas dendam, menghirup dan memuntahkan semua harapan?

Baca selebihnya »

Halaman Berikutnya »