Archive for the 'fundamentalisme' Category

Percaya Membuat Semuanya Mungkin, Cinta Membuat Semuanya Mudah

Mungkin membuat hati kecut, bahwa sebuah keyakinan ternyata bisa membuat orang jadi beringas, berani membunuh dan siap terbunuh. Tapi pada sisi lain, itu juga sebuah gambaran lugas, betapa perkasa apa yang disebut percaya.

Jika sudah percaya, maka tak ada lagi yang mustahil, semuanya menjadi mungkin saja. Sebenarnya, keyakinan juga sebuah ilmu pengetahuan, sains, hanya saja, cuma bisa dipahami dengan “logika” hati. Tersembunyi, sehingga pembuktian-pembuktian, tak selalu bisa menemukan tempatnya. Maka orang yang percaya, tak pernah membutuhkan penjelasan apapun, sebagaimana orang yang tak percaya, memang tak akan menerima penjelasan apapun. Baca selebihnya »

Haruskah Berhenti (Belajar) Menulis Tentang Agama?

Walau niatnya untuk menumbuhkan saling pengertian, tulisan bertema agama kerap malah menjadi bibit perdebatan yang menjurus kepada “permusuhan”. Inikah saatnya berhenti menulis tentang topik itu?

Kayaknya nggak deh!

Toh masih lebih banyak kawan yang mengekspresikan perasaan yang sama, bahwa kita harus bisa berdamai di tengah perbedaan, saling mengerti dan menghargai pendirian orang lain, sepakat untuk tidak sepakat dengan tetap menaruh hormat. Masih lebih banyak sahabat yang setuju, bahwa korban pertama dari setiap permusuhan adalah kebenaran, dan yang pertama kali diuntungkan oleh perdamaian adalah kehidupan itu sendiri. Baca selebihnya »

Hayo… Agama Kamu Sebenernya Apa Sih?

Kemiskinan mendekatkan orang pada kekafiran, kata Nabi.

Yep! Pasti rada susah dong tunduk, patuh, konon lagi cinta kepada Tuhan, sementara setiap ruas waktu berisi genangan derita. Bagaimana mungkin kita mencintai pemberi derita, (kecuali cinta buta ya…)

Agama dengan sendirinya juga menjadi tak menarik buat orang miskin, karena tak pernah hadir di sisi mereka, mendampingi ketika mereka berkelahi dengan waktu. Hanya ritual ini itu, plus janji-janji tentang sesuatu yang indah di seberang sana, sementara di sebelah sini napas makin berat untuk dihela. Baca selebihnya »

Cinta? Tahu Apa Kau Tentang Cinta?

Kedua lelaki itu berjalan tergesa. Yang satu terlihat tetap tenang, yang lainnya sangat gelisah, khawatir terhadap keselamatan sahabatnya itu, yang sedang diburu, hidup atau mati. Ketika gelap mulai menyelimuti bumi, mereka sampai di kaki sebuah bukit.

Keangkuhan bukit itu bahkan tetap tampak dalam gulita. Keduanya terus menapak, menanjak dalam sunyi, dan berhenti di mulut sebuah gua.

“Aku periksa dulu ke dalam ya,” kata lelaki yang khawatir itu. Gua itu memang dikenal dihuni aneka ular berbisa. Tapi mereka harus bermalam di sana, biar terlindung, baik dari cuaca maupun musuh yang siap memangsa. Baca selebihnya »

Surat Untuk Lae Sinurat, yang Bingung Aku Ini Islam, Kristen, atau… Apaan Tuh?

Lae Sinurat Yth…

Mauliate godang, terima kasih banyak Laeku, atas kunjungan dan komentarmu yang sangat berisi. Komen yang hanya berupa dua tiga karakter, atau bahkan sebutir emoticon pun sebenarnya sama berharganya, tapi yang sekelas komen Lae - tidak saja dalam pengertian kuantitas atau panjangnya, tapi juga kualitas alias muatan pesan yang dibawanya - tentu punya tempat tersendiri). Ehm.. *membetulkan posisi mikrofon* Lho, surat kok jadi pidato?

Apakah saya Islam atau Kristen?

Waduh, tajam dan beratnya ini pertanyaan. Secara administratif saya Islam, dan identitas itu “dipilihkan” orang tua saya. Saya tak cukup beruntung menemukannya sendiri. Tapi secara hakikat, entahlah. Saya belum bisa menyerahkan diri secara utuh kepada kehendak Allah SWT. Kehilangan duit dua puluh ribuan pun saya masih marah-marah. Konon lagi kehilangan-kehilangan lain yang lebih besar? Bisa-bisa saya menuduh, paling tidak dalam hati, bahwa Tuhan tidak adil. Busyet dah! Tapi emang begitulah. Baca selebihnya »

Menolak Valentine? Ah, Sok Paten Kali pun Kalian!

valentine.jpg

Terus terang, bingung aku melihat penolakan - terutama yang berlebihan seperti yang dilakukan orang Pakistan dalam gambar - terhadap hari Valentine, hari kasih sayang, rahman warrahim, 14 Februari. Kebencian apa sesungguhnya yang bersarang di kepalanya, yang ditutup kopiah putih bersih itu?

Apa karena hari itu berasal dari kisah seorang pemuka agama Kristen Katolik, Valentine dan Santo Marius? So what? Kok tak kau bakari juga semua kalender internasional, yang malah lebih “parah” karena berasal dari momentum kelahiran Yesus Kristus? Trus kok mau kau libur hari Minggu, di mana orang Kristen pergi ke gereja, dan sebaliknya mau pula tetap kerja di hari Jum’at, padahal di situ kaum muslimin pergi shalat Jum’at ke masjid-masjid?

Kok tanggung-tanggung? Katanya harus kaffah, baik menjauhi larangan maupun melaksanakan perintah, nahi mungkar wa amar ma’ruf? (Jangan kau bilang aku terbalik-balik. Tanya ustadz kau, bahwa kita harus lebih dulu menjauhi yang buruk baru mendekati yang baik!) Baca selebihnya »

Doktrin yang Mengerdilkan Tuhan

DENGAN segala kerendahan hati, saya mengaku kurang sensitif, ketika mengambil kisah kelahiran Yesus Kristus - atau Isa Al Masih dalam bahasa Al-Qur’an - sebagai contoh ketidaklogisan agama. Walaupun pertimbangan saya karena kisah itu sama-sama diceritakan Alkitab dan Al-Qur’an secara persis, tapi reaksi Parjalang membuktikan, hal itu bisa terasa sebagai “lebih menyerang” iman Kristen, karena posisi Yesus yang sangat, atau bahkan paling sentral di iman itu.

Untuk itu, kepada Bung Parjalang, dan siapa saja yang menyimpan perasaan yang sama, saya minta maaf.

Mohon izin, diskusi kita lanjutkan … :D

Baca selebihnya »

Selain Kristen Sendiri, Hanya Islam Agama yang Mempercayai Yesus

“Tujuan tulisan ini benar, tapi kenapa harus mengambil contoh tidak logis ‘yang itu’? Kalau dikaji berulang, maka ada 1 agama yg sepertinya ‘bersih’…riteeee.”

Itulah komentar yang saya terima untuk posting ini. Dugaan saya, komentator dengan nick Parjalang ini - sayangnya tanpa link - merasa saya kurang fair, karena mengambil kisah kelahiran Yesus Kristus atau Isa Al Masih sebagai contoh ketidaklogisan agama.

Judul tulisan ini mungkin terkesan biasa ya. Tapi coba deh, sedikit direnungi… Benar-benar hanya Islam, agama yang percaya pada Isa Al Masih, atau Yesus Kristus, tentu saja selain Kristen sendiri. Bahkan Yahudi pun tidak!

Baca selebihnya »

Muslim, Kristen, dll, Sadarlah, Musuh Kalian Adalah Logika!

Sebenernya, rada males juga nulis topik ginian. Niatnya, menghembuskan napas perdamaian, eh, hasilnya tetep aja semburan kemarahan, percik kebencian, dan akhirnya, bara api permusuhan.

Mengapa perdebatan agama selalu saja terasa seru? Karena semua agama, sekali lagi semua agama, memang punya celah untuk diserang. Kisah di kitab suci misalnya, khususnya yang sudah saya baca; Al-Qur’an dan Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), ada yang tak logis.

Menangkis serangan terhadap ketidaklogisan itu, kata yang paling ampuh tentu saja seperti ”Kalau Tuhan sudah berkehendak, apa yang tak bisa?” atau “Agama kok dikaji dengan akal, dengan hati dong kalau tidak mau sesat!”

Lha, kalau sudah bicara model begituan, yang memang ngga usah berdebat: end of discussion dong! Baca selebihnya »

Avatarku Gambar Yesus Kristus?

Ketika memutuskan untuk menggunakan gambar lukisan ini sebagai avatar, aku sudah menduga akan ada yang salah paham. Dan benar, beberapa bahkan mempertanyakannya lewat japri, on atau offline. Tapi bukan berarti biar disalahpahami maka gambar itu kuunggah (hwadoh, kata ini selalu berasa kayak alien samaku).

Itu lukisan (potret) Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib (حسين بن علي بن أﺑﻲ طالب) cucu Nabi Muhammad SAW. Mengapa dia? Karena aku mencintai dan merindukan wajah kakeknya. Lho? Begini, orang Denmark pun tau, memvisualiasikan wajah nabi, dalam bentuk apapun, dilarang dalam ajaran Islam. Nah, menurut banyak hadist, manusia yang paling mirip wajah dan perawakannya dengan Rasulullah adalah cucu kesayangannya ini.

selanjutnya…

Toleran, Apakah Juga Kepada yang tidak Toleran?

Bisa terdengar seperti jiwa yang tua, tapi kadang tampak terlalu muda bahkan untuk sekadar jatuh cinta. Menulis adalah menyingkap yang tersembunyi, menggurat jejak diri, merekam sejarah rasa, seabadi prasasti.

Bohong jika kubilang aku tak peduli ada yang membaca atau tidak, karena seperti setiap gelombang suara berkehendak sampai ke gendang telinga, betapa pun samar getaran yang dibuatnya, begitu juga setiap huruf, titik, dan koma, tentu ada untuk dibaca, apakah mengendap di hati atau sekadar singgah di mata, itu lain perkara.

Baca selebihnya »

Gotcha!


Buat Lae Juntak, dan Komentator ‘Fundamentalis’ Lainnya

Mohon maaf Lae Juntak, komen Lae saya potong. Berapa kali harus kubilang, blog ini kubuat untuk mengedepankan perdamaian, saling penghargaan, biar kita bisa hidup manis dalam perbedaan.

Baca selebihnya »

Namanya Chorullah Senghuinuddin (Setelah Alqaeda Buka Cabang di Korea)

Begitu tipisnya garis batas antara hidup dan mati. Seorang Cho Seng Hui melintasi garis itu, dan memaksa 31 orang lainnya ikut bersamanya, dalam hitungan menit. Seorang remaja putus asa itu, memeras air mata dunia, tak terkecuali segenap keluarga yang mestinya dibuatnya bangga.

selanjutnya…

Rumi

Ketika Musa sedang berjalan, ia mendengar seorang penggembala sedang berdoa sambil meratap.

“Oh Tuhan di manakah gerangan Engkau, karena aku ingin melayani-Mu dan menjahitkan sepatu-Mu, dan menyisirkan rambut-Mu. Aku ingin mencucikan baju-Mu, membunuh kutu kepala-Mu dan membawakan susu untuk-Mu, oh duhai Maha Terpuji.”

selanjutnya…

Halaman Berikutnya »