Yang Tua dan Jelek Juga Bisa Membuatmu Bahagia 11 Desember, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, celebration of life, cinta, filosofi, gairah, inspirasi, kata hati, kehidupan, pernikahan, pria, wanita.Tags: cinta, hubungan, jelek, kecantikan, kehidupan, pernikahan, tua
16 comments
“Ih, cowoknya tua banget gitu? Kok dia mau sih?” Atau, “Sorry, Bro… Cewek lu yang sekarang kok jelek amat sih? Jangan tersinggung ya, tapi ngga level gitu ama elo…” Atau malah, “Gila kali ya gw mau sama dia. Udah jelek, tua, idup lagi! Mending jomblo seumur hidup deh.”
Begitu menjijikkannyakah manusia yang sudah tua, mereka yang jelek, apalagi orang yang tua dan jelek sekaligus? Mengapa menghindari yang tua, padahal kehidupan tak membawa kita semua, siapapun!, kecuali menuju penuaan dan akhirnya kematian? Seakan mereka yang merasa jijik itu, akan tetap muda selamanya…
Mengapa menyisihkan mereka yang (berwajah) jelek dari daftar orang yang layak dipertimbangkan, menjadi teman, kekasih, suami, atau istri? Sudah yakin dirimu cakep? Jangan-jangan cuma tante, mama kamu yang menganggapmu ganteng, atau si om, papa kamu, yang selalu memujimu cantik? Siapapa pula yang mengatai anaknya jelek, kecuali dia nggak yakin, itu beneran anaknya sendiri. (lagi…)
Bertahan Hidup Bukan Karena Takut Mati 6 Oktober, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, bencana, celebration of life, filosofi, gairah, inspirasi, kehidupan, kematian, spiritualitas.14 comments
Jika seseorang berjuang bertahan hidup-dari serangan penyakit, terpaan bencana, kesulitan ekonomi, atau apapun itu yang bisa mengancam kelangsungan hidupnya-bisakah dia disebut sebagai pengecut yang terlalu takut mati?
BERANI mati itu memang terdengar gagah, tetapi saya lebih kagum kepada mereka yang berani hidup. Modal untuk mati itu murah; setengah liter pestisida atau seutas tali rafia juga sudah cukup. Tidak percaya? Silakan coba. Kalau memang berminat, petunjuk teknisnya nanti saya kirim lewat email. Bergaransi dan telah teruji.
Sebaliknya, modal untuk tetap hidup justru teramat mahal; butuh keseluruhan diri kita.
Ketika hidup terasa menyesak dan pengap, saat segenap harap luruh menguap, and the only way to escape sepertinya adalah loncat dari atap, (atap JW Marriott biar langsung kolaps), malulah kepada nenek tua yang bertahan hidup dengan menjajakan kue, dari pagi hingga petang, dari tanah lapang sampai ujung-ujung gang. (lagi…)
Ngerumpi? Y Not? Jika Niatnya untuk Memahami Wanita, Menjadi Makin Pria 24 Juli, 2009
Posted by Toga Nainggolan in artikel, celebration of life, cinta, dedikasi, filosofi, insomnia, inspirasi, interkonektivitas, kehidupan, nesiaweekism, pernikahan, wanita.25 comments
Masalah yang muncul dalam hubungan pria-wanita, hampir semuanya muncul akibat minimnya saling pengertian satu sama lain. Masing-masing berharap agar pasangan berpikir seperti dirinya.
Hasilnya bisa ditebak. Kedua belah pihak merasa tidak dimengerti, merasa dirinya harus selalu mengalah, dan akhirnya sama-sama terlempar pada kesepian dan kekecewaan masing-masing. (lagi…)
Agama vs Atheisme, Round 2! 13 Juli, 2009
Posted by Toga Nainggolan in artikel, filosofi, inspirasi, kutipan, spiritualitas.348 comments
Tulisan Islam vs Kristen, Pemenangnya Atheis, telah menjelma menjadi thread diskusi spiritualitas yang sangat ramai. Saat tulisan ini saya publish, tulisan itu sudah mendapat 684 komentar, belum termasuk komentar yang berupa balasan langsung. Ini sudah mendekati “sukses” judul Justru Setelah Jadi Muslim, Aku Tahu Kristen Itu Benar, yang mendapat komentar di atas 1.000 buah!
Tulisan berikut adalah salah satu komentar untuk tulisan tersebut, dari seorang pembaca dengan nick Hari. Sebuah tulisan singkat, namun mampu membuka mata–setidaknya mata saya–bahwa rasionalitas dan irasionalitas, agama dan atheisme, tak selalu bisa dipertandingkan, karena mereka memang punya “kelas” yang berbeda, punya pesona masing-masing, memiliki “lubang” sendiri-sendiri. (lagi…)
Derita yang Menyembuhkan 17 Juni, 2009
Posted by Toga Nainggolan in celebration of life, dedikasi, filosofi, gairah, inspirasi, interkonektivitas, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, spiritualitas.11 comments
Ketika hati retak menganga, air mata jatuh menelaga, pikiran justru menemukan sebuah celah cahaya. Dengan caranya sendiri, aku justru merasa perih adalah rute yang harus dilewati untuk tetap tumbuh dan berkembang, untuk sembuh dan tetap terbang.
Membendung emosi justru bahaya terbesar. Kadang orang lari menghindari perih: menenggak alkohol, obat, melukai orang lain, dsb. Padahal jauh lebih aman dengan membiarkan diri terbuka kepada apa yang disebut sebagai derita.
Pelarian perih itu akan mendatangkan candu, apakah sekadar main PS atau main dengan PSK. Tapi mungkin sudah menjadi naluri alamiah kita untuk menghindarinya, dan oleh karenanya setiap orang pasti mencandu terhadap sesuatu. (lagi…)
Kutipan Wawancara dengan Hamzah Haz 26 Mei, 2009
Posted by Toga Nainggolan in Politik, artikel, filosofi, fundamentalisme, iblis, inspirasi, kutipan, nesiaweekism, opini, sosial, spiritualitas, wawancara.Tags: hamah haz, islam, Politik, politik islam, wawancara
5 comments
Hanya wawancara biasa, dengan mantan pejabat pula.
Tapi mungkin ada gunanya.
Mantan Wakil Presiden RI dan Ketua Umum PPP ini berbicara tentang merosotnya pamor partai Islam, dinamika politik dan demokrasi Indonesia, serta nikmatnya kehidupan setelah tak lagi menjadi “orang penting” di negeri ini.
Sebelumnya, saya hanya dijadwalkan punya waktu selama 30 menit. Namun perbincangan kemudian menjadi sangat akrab, dan akhirnya molor sampai hampir 2 jam, dan baru berhenti setelah azan Ashar berkumandang di dalam rumah, tempat berlangsungnya wawancara.
Ya, di dalam rumah, karena kediamannya di Jalan Kebon Pedes, Bogor itu, memang telah diubah menjadi masjid, dan hanya menyisakan sebuah kamar tamu, kamar tidur, dan teras yang tak terlalu luas, untuk kepentingan pribadinya. (lagi…)
Tak Ada yang Abadi, Hiduplah Sepenuhnya Hari Ini 26 Mei, 2009
Posted by Toga Nainggolan in artikel, celebration of life, cinta, filosofi, inspirasi, spiritualitas.Tags: abadi, hamzah haz, kehidupan
11 comments

Dijadwalkan bertemu selama 30 menit, saya akhirnya ngobrol hampir 2 jam dengan beliau. Tampak betul, sejak tak lagi jadi pejabat tinggi negara, waktu luangnya semakin banyak.
Obrolan yang akrab, ditemani kue-kue basah yang enak dan masih hangat di rumahnya di Bogor, sulit rasanya membayangkan beberapa tahun lalu dia merupakan orang kedua di republik ini.
Saya pernah melihatnya ketika berkunjung ke Medan, saat menjadi Wapres sekaligus Ketua Umum PPP. Bertemu dia kali ini, setelah tak lagi menyandang semua jabatan dan “kehormatan” itu, dengan jelas bisa terlihat wajahnya jauh lebih fresh. (lagi…)
Segala Perih Datanglah, Tak Kepada Luka Aku Menyerah 19 Mei, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, bunuh diri, celebration of life, cinta, filosofi, gairah, inspirasi, kata hati, kehidupan, kutipan, nesiaweekism, spiritualitas.Tags: cinta, jennifer anniston, love, pain, perih, strength
32 comments
Cinta dan luka, ternyata punya hubungan kekerabatan sangat dekat, bahkan cenderung seperti kembar identik, setidaknya begitu menurut Jennifer Anniston. “The greater your capacity to love, the greater your capacity to feel the pain,” kata janda Brad Pitt ini.
Apakah ungkapan itu merupakan simpulan yang dia dapat dari kisah cintanya yang tak sesukses kariernya di dunia entertainment, silakan tanya sendiri, kalo punya nomor ponselnya. Atau udah temenan di pesbuk? (lagi…)
Belajarlah Untuk (Menghormati Mereka yang) Percaya… 24 Maret, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, atheisme, celebration of life, cinta, dedikasi, dosa, filosofi, fundamentalisme, gunawan mohamad, inspirasi, kata hati, kehidupan, kutipan, nesiaweekism, opini, spiritualitas.63 comments
Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.
Belakangan ada kecenderungan menarik. Beberapa komentar “menyerang” agama secara keseluruhan. Ada komentar yang sekadar menolak agama, tetapi masih mengakui Tuhan dan spiritualitas, sampai yang (kelihatannya) benar-benar atheis tulen. (lagi…)
Sepertinya, Persahabatan Memang Lebih Bernilai daripada Cinta 13 Maret, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, celebration of life, cinta, filosofi, inspirasi, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, sahabat.35 comments
Persahabatan itu juga sebuah bentuk cinta, hanya saja dilengkapi oleh pengertian. Friendship is love, with understanding. Anda tentu pernah dengar bahwa cinta itu buta. Oleh karenanya, cinta bisa menghilangkan objektivitas, menggiring kita untuk berlaku tidak adil, termasuk kepada diri sendiri.
Persahabatan juga mirip-mirip sebenarnya. Seorang sahabat sejati, akan membela kita, apapun ceritanya. Tetapi bukan karena persahabatan itu buta seperti cinta. Ia hanya memilih menutup mata. Artinya, pilihan sikap itu dibuat dengan kesadaran. (lagi…)
Jauh Melanglang Buana, Agar Tahu di Mana Rumah Berada 3 Maret, 2009
Posted by Toga Nainggolan in celebration of life, dedikasi, energi, filosofi, inspirasi, interkonektivitas, kehidupan, spiritualitas.Tags: filosofi, kehidupan, konektivitas, kosmik, renugan, spiritualitas
14 comments
Duduk, menunggu detik tiba di sini, mendengar angin menyelinap melalui bebukit yang mengabur bayang di pucuk malam. Pikiran menjelajah, mencari tahu di mana titik awal berada. Angin ini mestilah datang dari tempat yang lebih jauh dari Samudera Pasifik.
Kita tak akan pernah bisa menelusur gerak pertama angin, arus pertama air, perubahan pertama tekanan udara yang membawa angin sampai ke sekeliling kita.
Semua hal dalam kehidupan, apakah cuaca di lelangit atau emosi di dalam jiwa, adalah bagian dari sebuah proses, yang mengalir dan berkait-kaitan timpa-menimpa, begitu rumpil rumit, sehingga tak mungkin mengenali dan menguraikannya menjadi lapisan-lapisan tunggal yang mudah dimengerti. (lagi…)
Kematian Itu Bukan Lawan, tapi Unsur Kehidupan 26 Februari, 2009
Posted by Toga Nainggolan in energi, filosofi, gairah, inspirasi, kehidupan, kematian, kutipan, opini, spiritualitas, sri aurobindo.13 comments

sumber: smarthistory.org
Memposisikan kematian sebagai lawan dari kehidupan, seperti hitam dengan putih, atau kosong dengan penuh, adalah sebuah kesalahan mentalitas, kekeliruan pada inti pemahaman, walaupun sepertinya benar pada tataran permukaan.
Ini sama kelirunya dengan menyamakan derazat kecantikan dengan tingkat kecerahan warna kulit, atau menilai kesucian air dari tingkat kejernihannya. Hehehe, belum tau ya, banyak cairan paling mematikan itu justru beniiing banget. Atau apa penglihatannya ga begitu bagus ya, untuk bisa menenemukan kenyataan, bahwa kulit legam pun punya keindahannya sendiri?
Daripada Rokok dan Golput, Mending MUI Haramkan Haji Berkali-kali 23 Februari, 2009
Posted by Toga Nainggolan in artikel, filosofi, gairah, inspirasi, kehidupan, kemiskinan, muhammad, nesiaweekism, opini, perjalanan, sosial, spiritualitas.26 comments
Keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan golput dan rokok – meskipun yang terakhir hanya untuk anak-anak dan wanita hamil – telah menuai kontroversi. Entahlah… Tapi kalau memang siap mengeluarkan fatwa yang berpotensi menjadi kontroversi, mending MUI haramkan haji berkali-kali, misalnya lebih dari dua kali.
Saya memang belum merasakan kenikmatan yang juga menjadi satu dari lima rukun Islam ini. Tapi saya bisa membayangkan, itu pastilah sebuah perjalanan badan dan kembara spiritualitas yang sangat indah, dan sangat pantas jika nyaris semua yang pernah melakukannya ingin mengulanginya lagi.
Tetapi apakah sebuah kesalehan, menunaikan haji berkali-kali, sementara di sekelilingnya masih sangat banyak persoalan kehidupan yang menimpa para tetangganya, saudara-saudaranya seiman? (lagi…)
Yuk, Tolak Valentine dan Semua yang Berbau Barat 16 Februari, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, dedikasi, filosofi, fundamentalisme, gairah, inspirasi, kapitalisme, kata hati, kehidupan, lucu, marah-marah, nesiaweekism, opini, sosial, spiritualitas.33 comments

Saya pernah menulis “Menolak Valentine? Ah, Sok Paten Kali pun Kalian“, dan ada komen yang menarik dari pembaca dengan nick Anti Barat. Menurutnya, bukan hanya Hari Valentine, tetapi semua hal berbau barat juga harus ditolak.
Berikut ajakan dari beliau, ajakan yang memang tidak tanggung-tanggung!
Kepada sesama kawan ANTI BUDAYA BARAT, Valentine yang berasal dari budaya barat, memang harus kita tolak. Tidak peduli ada unsur positifnya atau tidak, saya rasa kita sebagai sesama anti budaya barat harus menolaknya (lagi…)
Siapa Bilang Cinta Tak Bisa Dibeli? 9 Februari, 2009
Posted by Toga Nainggolan in bencana, celebration of life, cinta, dosa, filosofi, gairah, inspirasi, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, pulp fiction, selingkuh, skandal, sosial, tragis, wanita.47 comments

Usianya sekitar 22 tahun. Mungil, rambut lurus legam, kulit halus walaupun tak begitu putih. Tak tamat SMP, keburu hamil sama pacarnya yang tak mau bertanggung jawab. Tinggal di sebuah kamar kos berukuran 3 x 4 m bertarif Rp 500 ribu per bulan. Dia pelacur, sejak tahun 2004 silam, saat baru berusia sekitar 18 tahun.
“Waktu baru-baru terjun dulu, aku ingat itu pas kejadian tsunami di Aceh. Sempat takut juga, seperti ada hubungannya gitu kan. Seperti diingatkan gitu, kalau Tuhan marah itu ngeri,” katanya, cekikikan. Nyatanya, ketakutannya tak sebesar tekadnya. Buktinya lanjut sampai sekarang.
Di kota ini, dia menjelma menjadi mesin pencari uang. Selain untuk membayar uang kos, keperluan perawatan wajah dan tubuh, dia juga harus memikirkan kiriman uang buat ibunya, yang kini menjadi single parent bagi dua adiknya, dan anaknya sendiri di kampung. Dan satu lagi, membiayai seorang bronces yang tinggal bersamanya di kamar kos itu. (lagi…)
Jika Ajal Sudah Ditentukan, Mangapa Harus Ada yang Disalahkan Atas Sebuah Kematian 5 Februari, 2009
Posted by Toga Nainggolan in bencana, filosofi, inspirasi, kehidupan, kejenuhan, kematian, spiritualitas, stress, tragis.20 comments
Ketua DPRD Sumut, Abdul Aziz Angkat, meninggal dunia di tengah kepungan unjukrasa. Dia tampaknya beberapa kali menjadi sasaran pukulan, namun penyakit jantung yang dideritanyalah, yang sepertinya menjadi penyebab kematian.
Sepeninggalnya, orang-orang berdebat. Jenazah yang semestinya langsung menjalani kifayah itu, harus dibelah, otopsi namanya, untuk menentukan penyebab pasti kematiannya.
Namun di antara kerumunan orang yang melayatnya, terdengar suara berguman, “Namanya juga sudah ajal.” (lagi…)








