Percaya Membuat Semuanya Mungkin, Cinta Membuat Semuanya Mudah

Mungkin membuat hati kecut, bahwa sebuah keyakinan ternyata bisa membuat orang jadi beringas, berani membunuh dan siap terbunuh. Tapi pada sisi lain, itu juga sebuah gambaran lugas, betapa perkasa apa yang disebut percaya.
Jika sudah percaya, maka tak ada lagi yang mustahil, semuanya menjadi mungkin saja. Sebenarnya, keyakinan juga sebuah ilmu pengetahuan, sains, hanya saja, cuma bisa dipahami dengan “logika” hati. Tersembunyi, sehingga pembuktian-pembuktian, tak selalu bisa menemukan tempatnya. Maka orang yang percaya, tak pernah membutuhkan penjelasan apapun, sebagaimana orang yang tak percaya, memang tak akan menerima penjelasan apapun. Baca selebihnya »
Comments(8)
Lae Sinurat Yth…
DENGAN segala kerendahan hati, saya mengaku kurang sensitif, ketika mengambil kisah kelahiran Yesus Kristus - atau Isa Al Masih dalam bahasa Al-Qur’an - sebagai contoh ketidaklogisan agama. Walaupun pertimbangan saya karena kisah itu sama-sama diceritakan Alkitab dan Al-Qur’an secara persis, tapi reaksi Parjalang membuktikan, hal itu bisa terasa sebagai “lebih menyerang” iman Kristen, karena posisi Yesus yang sangat, atau bahkan paling sentral di iman itu.
Sebenernya, rada males juga nulis topik ginian. Niatnya, menghembuskan napas perdamaian, eh, hasilnya tetep aja semburan kemarahan, percik kebencian, dan akhirnya, bara api permusuhan.
Ke mana pun kau melangkah, kenangan seperti mengepung di setiap sudut. Di sana, di pantai di mana kau dulu pernah bolos dari sekolah; di sana, di ujung jalan di mana kau pertama kali berhasil meremas jemarinya; di sana, di restoran di mana pertama kali kau makan ayam bakar, padahal kau sedang kurang sehat, pas di hari ulang tahunmu itu…
Menurut Albert Camus, sebenarnya hanya ada satu pertanyaan paling besar dalam kehidupan, persoalan filsafat yang merupakan sumber dari segala sumber pertanyaan. Apa itu? Bunuh diri. 





