Belajarlah Untuk (Menghormati Mereka yang) Percaya… 24 Maret, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, atheisme, celebration of life, cinta, dedikasi, dosa, filosofi, fundamentalisme, gunawan mohamad, inspirasi, kata hati, kehidupan, kutipan, nesiaweekism, opini, spiritualitas.63 comments
Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.
Belakangan ada kecenderungan menarik. Beberapa komentar “menyerang” agama secara keseluruhan. Ada komentar yang sekadar menolak agama, tetapi masih mengakui Tuhan dan spiritualitas, sampai yang (kelihatannya) benar-benar atheis tulen. (lagi…)
Siapa Bilang Cinta Tak Bisa Dibeli? 9 Februari, 2009
Posted by Toga Nainggolan in bencana, celebration of life, cinta, dosa, filosofi, gairah, inspirasi, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, pulp fiction, selingkuh, skandal, sosial, tragis, wanita.47 comments

Usianya sekitar 22 tahun. Mungil, rambut lurus legam, kulit halus walaupun tak begitu putih. Tak tamat SMP, keburu hamil sama pacarnya yang tak mau bertanggung jawab. Tinggal di sebuah kamar kos berukuran 3 x 4 m bertarif Rp 500 ribu per bulan. Dia pelacur, sejak tahun 2004 silam, saat baru berusia sekitar 18 tahun.
“Waktu baru-baru terjun dulu, aku ingat itu pas kejadian tsunami di Aceh. Sempat takut juga, seperti ada hubungannya gitu kan. Seperti diingatkan gitu, kalau Tuhan marah itu ngeri,” katanya, cekikikan. Nyatanya, ketakutannya tak sebesar tekadnya. Buktinya lanjut sampai sekarang.
Di kota ini, dia menjelma menjadi mesin pencari uang. Selain untuk membayar uang kos, keperluan perawatan wajah dan tubuh, dia juga harus memikirkan kiriman uang buat ibunya, yang kini menjadi single parent bagi dua adiknya, dan anaknya sendiri di kampung. Dan satu lagi, membiayai seorang bronces yang tinggal bersamanya di kamar kos itu. (lagi…)
Jika Kau Tau Semuanya, Masihkah Kau Cinta? 13 Maret, 2008
Posted by Toga Nainggolan in artikel, celebration of life, cinta, dosa, gairah, inspirasi, kata hati, kebohongan, kehidupan, nesiaweekism, opini, pria, wanita.21 comments
Mereka bertemu di gerbong kereta, dan jatuh cinta. Jason P Howe kemudian mengetahui, Marylin, wanita yang dicintainya itu, menjalani kehidupan ganda – sebagai seorang assassin, pembunuh rahasia di kelompok sayap kanan, dalam perang sipil Kolombia yang brutal.
Ketika ada rahasia yang diungkapkan, atau terungkap, sebuah hubungan akan bergerak ke sebuah titik: naik, turun, atau malah terjerembab ke titik nol. Biasanya sih rahasia itu nggak jauh-jauh dari seks! Tentang sudah berapa banyak wanita yang kau tiduri, atau justru kau lelaki keberapa yang menidurinya. Setiap kejujuran akan membawa konsekuensi. (lagi…)
Jangan Buat Dia Jatuh, Bila Kau tak Sungguh Ingin Menangkapnya 27 Februari, 2008
Posted by Toga Nainggolan in celebration of life, cinta, dedikasi, don juan, dosa, gairah, iblis, inspirasi, kata hati, kehidupan, pria, tragis, wanita.7 comments
Don Juan de Marco, legenda akbar pecinta itu, konon pernah bilang, cinta sejati bukan berarti hanya sekali, cuma kepada satu hati. Setiap cinta punya kepenuhannya sendiri. Kubayangkan, ia mengatakannya dengan intonasi yang nakal, air muka yang angkuh.
Buat Don Juan – dan para pengikut Don Juanisme
– cinta adalah momen. Itulah api yang membakar Jack dan Rose sekian puluh jam di atas RMS Titanic, sebelum mereka terberai saat kapal raksasa itu menabrak bongkahan es. Adakah yang bisa menjamin, misalnya, andai mereka selamat sampai ke daratan Amerika, keduanya akan menjadi pasangan yang setia? Bukankah sangat mungkin Jack yang menawan akan terpikat dan memikat gadis lain begitu tiba di pelabuhan New York? (lagi…)
Masa Lalu? Ah, di Setiap Pagi Kau akan Terbangun tanpa Dosa 17 November, 2007
Posted by Toga Nainggolan in artikel, celebration of life, cinta, dedikasi, dosa, filosofi, gairah, inspirasi, kata hati, kehidupan, spiritualitas.17 comments
for you, that haunted by the past
Ada hal yang terasa aneh, ketika kau ziarah ke tempat-tempat di mana kau dulu menghabiskan masa lalu.
Ke mana pun kau melangkah, kenangan seperti mengepung di setiap sudut. Di sana, di pantai di mana kau dulu pernah bolos dari sekolah; di sana, di ujung jalan di mana kau pertama kali berhasil meremas jemarinya; di sana, di restoran di mana pertama kali kau makan ayam bakar, padahal kau sedang kurang sehat, pas di hari ulang tahunmu itu…
Hal-hal yang sudah nyaris kau lupakan sama sekali, sesuatu yang terasa tak terkait lagi dengan kekinianmu, ke konsepsi dirimu saat ini; mulai menyembur, seperti luapan air yang melepas sumbatnya, dan getaran di bawah sekujur kulitmu itu memulai iramanya, semua hanya karena tiba-tiba matamu melihat riak air memantulkan cahaya bulan, atau bau yang khas di udara, mungkin juga rute-rute lama ke mana kau dulu mengayunkan langkah.
Avatarku Gambar Yesus Kristus? 12 November, 2007
Posted by Toga Nainggolan in artikel, cinta, dedikasi, dosa, filosofi, fundamentalisme, iblis, imam husain, inspirasi, kata hati, kematian, kepahlawanan, marah-marah, opini, spiritualitas, tragis.88 comments
Ketika memutuskan untuk menggunakan gambar lukisan ini sebagai avatar, aku sudah menduga akan ada yang salah paham. Dan benar, beberapa bahkan mempertanyakannya lewat japri, on atau offline. Tapi bukan berarti biar disalahpahami maka gambar itu kuunggah (hwadoh, kata ini selalu berasa kayak alien samaku).
Itu lukisan (potret) Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib (حسين بن علي بن أﺑﻲ طالب) cucu Nabi Muhammad SAW. Mengapa dia? Karena aku mencintai dan merindukan wajah kakeknya. Lho? Begini, orang Denmark pun tau, memvisualiasikan wajah nabi, dalam bentuk apapun, dilarang dalam ajaran Islam. Nah, menurut banyak hadist, manusia yang paling mirip wajah dan perawakannya dengan Rasulullah adalah cucu kesayangannya ini.
Hati-hati Jatuh Cinta di Dunia Maya 26 Oktober, 2007
Posted by Toga Nainggolan in blogging, celebration of life, cinta, dosa, dunia maya, gairah, inspirasi, kata hati, pria, pulp fiction, soulmate, wanita.27 comments
Karena Tuhan Itu Tak Ada, Maka Janganlah Berbuat Dosa 22 Mei, 2007
Posted by Toga Nainggolan in albert camus, atheisme, dosa, opini, spiritualitas.12 comments
Oops… Jangan ngamuk dulu. Itu “cuma” ungkapan Albert Camus, filsuf Perancis penerima hadiah nobel sastra 1957. Barangkali, dia hendak “menyindir” mentalitas orang-orang beragama, yang memposisikan Tuhan cuma menjadi penghapus atau tipeks, terhadap dosa-dosa manusia. Namun bisa juga lebih dari sekadar menyindir, karena sepertinya, Albert memang atheis.







