Archive for the 'dedikasi' Category

Islam tak Menghambat Kemajuan, Tapi Mengapa?

Anak Palestina menghadapi tank Israel dengan sebongkah batu. Tak perlu begitu, seandainya bapak mereka bisa membuat tank yang lebih kuat.

——————————————————————————

Dunia Islam tertinggal, lemah, dan menjadi “bulan-bulanan” Barat. Apakah Islam agama yang menghambat kemajuan, sehingga kita harus berguru pada Protestanisme?

Terhenyak aku membaca komentar dari Rikardo Siahaan - dengan nick “Salngam” - untuk posting Hayo, Agama Kamu Sebenarnya Apa Sih. Mengutip Michael P Todaro dalam bukunya Economic Development in A Third World, diungkapkannya negara maju kebanyakan adalah negara-negara yang mayoritasnya menganut Protestanisme.

Sebaliknya, banyak negara (berpenduduk mayoritas) Islam menjadi anggota grup negara terbelakang, atau dalam bahasa “halus”, merupakan penghuni dunia ketiga. Baca selebihnya »

Sms Cinta yang Meluluhkan Hati

Bonus buat para pembaca setia, halah! Nesiaweek merilis koleksi sms cintanya. Wuaks! Dampak yang ditimbulkannya, di luar tanggung jawab percetakan. Keampuhan sudah teruji, jadi mohon digunakan dengan bijaksana. Dan bila penolakannya berlanjut, kesalahan bukan pada sms-nya.

Seperti berobat, yang terpenting bukan obatnya, tapi keinginanmu untuk sembuh. Begitu pula menaklukkan hati, yang terpenting bukan ungkapannya, tapi kesungguhanmu untuk mencintainya. 

Semoga lekas sembuh, eh, jatuh! Baca selebihnya »

Seperti Ngeblog, Musuh #1 Cinta Bukan Pengkhianatan, tapi Kebosanan

Kata Sir Cecil Beaton: ”Barangkali kejahatan terbesar kedua di dunia adalah kebosanan, dan yang nomor satu: menjadi orang yang membosankan!” Kebosananlah, bukan yang lain, yang menjadi virus penghancur hampir seluruh bentuk hubungan antarmanusia, membuat mimpi padam sebelum waktunya, memaksa orang mati sebelum ajalnya.

Bahkan waktu, sesuatu yang begitu presisi dan konsisten, bisa melambat bila sudah dijalari kebosanan. Jarum jam jadi lebih malas berputar, dan detaknya yang begitu lirih, bisa memekakkan telinga.

Baca selebihnya »

Cinta? Tahu Apa Kau Tentang Cinta?

Kedua lelaki itu berjalan tergesa. Yang satu terlihat tetap tenang, yang lainnya sangat gelisah, khawatir terhadap keselamatan sahabatnya itu, yang sedang diburu, hidup atau mati. Ketika gelap mulai menyelimuti bumi, mereka sampai di kaki sebuah bukit.

Keangkuhan bukit itu bahkan tetap tampak dalam gulita. Keduanya terus menapak, menanjak dalam sunyi, dan berhenti di mulut sebuah gua.

“Aku periksa dulu ke dalam ya,” kata lelaki yang khawatir itu. Gua itu memang dikenal dihuni aneka ular berbisa. Tapi mereka harus bermalam di sana, biar terlindung, baik dari cuaca maupun musuh yang siap memangsa. Baca selebihnya »

Jangan Buat Dia Jatuh, Bila Kau tak Sungguh Ingin Menangkapnya

Don Juan de Marco, legenda akbar pecinta itu, konon pernah bilang, cinta sejati bukan berarti hanya sekali, cuma kepada satu hati. Setiap cinta punya kepenuhannya sendiri. Kubayangkan, ia mengatakannya dengan intonasi yang nakal, air muka yang angkuh.

Buat Don Juan - dan para pengikut Don Juanisme ;) - cinta adalah momen. Itulah api yang membakar Jack dan Rose sekian puluh jam di atas RMS Titanic, sebelum mereka terberai saat kapal raksasa itu menabrak bongkahan es. Adakah yang bisa menjamin, misalnya, andai mereka selamat sampai ke daratan Amerika, keduanya akan menjadi pasangan yang setia? Bukankah sangat mungkin Jack yang menawan akan terpikat dan memikat gadis lain begitu tiba di pelabuhan New York? Baca selebihnya »

Surat Untuk Lae Sinurat, yang Bingung Aku Ini Islam, Kristen, atau… Apaan Tuh?

Lae Sinurat Yth…

Mauliate godang, terima kasih banyak Laeku, atas kunjungan dan komentarmu yang sangat berisi. Komen yang hanya berupa dua tiga karakter, atau bahkan sebutir emoticon pun sebenarnya sama berharganya, tapi yang sekelas komen Lae - tidak saja dalam pengertian kuantitas atau panjangnya, tapi juga kualitas alias muatan pesan yang dibawanya - tentu punya tempat tersendiri). Ehm.. *membetulkan posisi mikrofon* Lho, surat kok jadi pidato?

Apakah saya Islam atau Kristen?

Waduh, tajam dan beratnya ini pertanyaan. Secara administratif saya Islam, dan identitas itu “dipilihkan” orang tua saya. Saya tak cukup beruntung menemukannya sendiri. Tapi secara hakikat, entahlah. Saya belum bisa menyerahkan diri secara utuh kepada kehendak Allah SWT. Kehilangan duit dua puluh ribuan pun saya masih marah-marah. Konon lagi kehilangan-kehilangan lain yang lebih besar? Bisa-bisa saya menuduh, paling tidak dalam hati, bahwa Tuhan tidak adil. Busyet dah! Tapi emang begitulah. Baca selebihnya »

Menolak Valentine? Ah, Sok Paten Kali pun Kalian!

valentine.jpg

Terus terang, bingung aku melihat penolakan - terutama yang berlebihan seperti yang dilakukan orang Pakistan dalam gambar - terhadap hari Valentine, hari kasih sayang, rahman warrahim, 14 Februari. Kebencian apa sesungguhnya yang bersarang di kepalanya, yang ditutup kopiah putih bersih itu?

Apa karena hari itu berasal dari kisah seorang pemuka agama Kristen Katolik, Valentine dan Santo Marius? So what? Kok tak kau bakari juga semua kalender internasional, yang malah lebih “parah” karena berasal dari momentum kelahiran Yesus Kristus? Trus kok mau kau libur hari Minggu, di mana orang Kristen pergi ke gereja, dan sebaliknya mau pula tetap kerja di hari Jum’at, padahal di situ kaum muslimin pergi shalat Jum’at ke masjid-masjid?

Kok tanggung-tanggung? Katanya harus kaffah, baik menjauhi larangan maupun melaksanakan perintah, nahi mungkar wa amar ma’ruf? (Jangan kau bilang aku terbalik-balik. Tanya ustadz kau, bahwa kita harus lebih dulu menjauhi yang buruk baru mendekati yang baik!) Baca selebihnya »

Tuhan yang Mengerdilkan Diri-Nya

Menurut saya bukan mengerdilkan Tuhan, Lae. Tapi Tuhan sendirilah yang mengerdilkan diri agar dipahami oleh manusia.

Komentar Yeni “The Sandalian” Setiawan ini menjawab setidaknya satu dari beberapa pertanyaan teologis, cieee…, yang selama ini kurasa cukup mengganggu. Keren! Tuhan ternyata bela-belain mengerdilkan diri, sebab jika ia tampil sebagaimana sesungguhnya, kita tak akan mengerti Dia, karena terlalu besar untuk dipahami, apalagi dicintai. Hmm…

Bahkan untuk saudara-saudara saya yang Kristen, Tuhan malah “melangkah” lebih jauh, sampai mewujudkan diri-Nya dalam tubuh Yesus Kristus, seorang manusia yang lahir dari rahim Maria. Terus terang, bagi saya perwujudan Tuhan dalam diri Yesus memang terasa sebagai pengerdilan Tuhan. Tapi biar bisa dipahami dan (akhirnya) dicintai manusia, mengapa tidak ya? Baca selebihnya »

Pada Arus yang Memantulkan Bulan

Di setiap ruas waktu, kau di sana, tangan terentang menungguku datang, bersisian melangkah ke depan.

Akulah si ragu, si pemikir tak pernah sampai, si penanya tak kunjung tuntas, dikejar-kejar kekhawatiran bahwa kita tetaplah dua orang asing, yang akan kembali ke titik nol masing-masing, tinggal menunggu giliran. Baca selebihnya »

After an end, comes another beginning

Never say never again. Sebisa mungkin hindari bersumpah, karena kau mungkin akan terpaksa melanggarnya. Jangan pernah meludah di depan orang ramai, sebab bisa saja kau tak punya pilihan lain, kecuali menjilatnya kembali, juga di depan orang ramai.

Butuh kekuatan untuk mempertahankan pilihan, tapi juga perlu lebih banyak keberanian - persisnya berani malu - untuk mengakui kau telah mengambil pilihan yang salah, dan menebusnya. Lagian, kalau emang bener cintamu lebih besar dari (ke) malu (an)-mu, kau mestinya cuma perlu malu untuk menunjukkan kemaluanmu, bukannya cintamu.

Pun, bila kita mendasarkan hidup pada apa yang dipikirkan orang lain, deuh, betapa tersianya hidup, dalam pendeknya ruas waktu.

Singkat cerita ;) ngeblog itu ternyata benar-benar enak, dan itu (makin) kusadari justru ketika aku berjuang menjauhinya, dan gagal. Sakaw-nya berat, lebih berat dari sakaw-sakaw lain yang pernah kurasakan.

O, Blogosphere, aku berlutut menginjak janji dan harga diri, berilah aku hidup kembali, seribu tahun lagi…

Seperti Air Laut, Semakin Kau Reguk Cinta, Semakin Kau Dahaga Dibuatnya

Jika kau takjub pada cinta yang membuat waktu begitu mudah berlalu, mengapa harus mengecam waktu yang semudah itu juga membuat cinta pergi?

CINTA bukan saling menatap mata, tetapi memandang ke titik yang sama; aktivitas yang tak selalu membuat betah kalau untuk waktu yang lama. Setiap orang punya jalan masing-masing menuju bahagia, dan jika kau punya jalan lain ke sana, tak serta merta aku boleh menuduhmu telah tersesat. Juga bila aku tidak mencintaimu dengan cara yang kau inginkan, kau tak bisa menyimpulkan bahwa aku tidak mencintaimu dengan segala yang kupunya.

Hidup selalu saja pilihan-pilihan yang harus dibuat. (1) Orang yang mencari kebahagiaan di luar rumahnya, hanya akan menemukan kehampaan, atau (2) rumah bukanlah di mana kau tinggal, tetapi di mana kau dimengerti. Jadi, kapan kau sebenarnya berada jauh dari rumah, kapan pula kau berada begitu dekat dengan kebahagiaan? Baca selebihnya »

Aku Mencintaimu, Tolong Tinggalkan Aku

“Letting Go” photograph by John Watson at photodoto.com

Aku pernah berpikir cinta itu sesuatu yang abadi, sesuatu yang kau simpan rapat-rapat dan tak akan pernah kau biarkan berlalu. Aku juga pernah yakin, bahwa aku akan selalu meyakininya begitu.

Kini terasa lucu juga, bagaimana arus waktu membilas semua asumsimu yang paling membatu. Selucu ketika menyadari bahwa salah satu pelajaran terpenting dalam hidup adalah melupakan, betapa kita hanya bisa menyelamatkan kehidupan dengan melupakan.

Lapisan-lapisan pemahaman dan kedirian, seperti slide show yang malas menggilir gambar, sampai gambar terakhir yang putih polos, belum sempat sekalipun tersapu kuas.

Kita menyaksikan, seperti semua mimpi, cinta pun sekarat di hadapan realita. Baca selebihnya »

Karena mimpi adalah cahaya, maka mati bukanlah bahaya

Di kejauhan sana selalu ada cahaya, terlalu jauh untuk kuraih, tetapi hangatnya bahkan terlalu dekat, menyelinap ke bawah kulitku, kutatap dari gulitanya rindu, kubiarkan menuntun langkahku.

Apakah mimpi baru berharga jika ia bisa berubah nyata? Tidak juga, karena sebagian mimpi kadang harus dibiarkan “hanya” jadi mimpi. Bisa saja, begitu dia mewujud nyata, kau tersentak sadar telah salah memilih mimpi. Weks!

Seperti cahaya di kejauhan itu, yang datang dari pijar bola raksasa matahari, ia akan membakarmu, dalam sekejap jadi uap, jika kau memaksa bersisian terlalu akrab.

Baca selebihnya »

Thousand pieces of a fallen dream

Jika sebuah impian jatuh, pecah menjadi seribu serpihan, selalu ada waktu untuk memungutnya serpih demi serpih.

ATAU kalaupun tidak, mulailah dengan sebuah impian yang baru dengan gambar yang sama, karena kita bisa bertahan hidup beberapa hari tanpa makan dan minum, tetapi tidak tanpa impian.

Impian apa yang akan kau pilih? Impian tentang kesuksesan, uang, properti yang membentang di lintas benua? Atau idealisme, kebenaran, sebuah “rumah” di dalam hatimu? Atau tentang kepedihan dan keinginan balas dendam, menghirup dan memuntahkan semua harapan?

Baca selebihnya »

Jika Kau Menyerahkan Hati, Pastikan Ada Tanda Terimanya

Pada masanya, caraku jatuh cinta itu pun kucintai, apalagi kau; luapan air yang keluar dari arusnya, menamparku dari lembah yang tak kuduga.

TAPI seperti udara yang kuhirup, ternyata tak bisa kau selamanya kusimpan di paru-paruku, harus kulepas pergi, sepelan mungkin, membawa perih, meninggalkan pedih, kekosongan itu mendadak akrab. Hela napas baru itu tak mengisi setiap gelembung yang kau tinggal.

Aku pun dipaksa melanggar sumpah keangkuhan itu, untuk tak menangisi apa yang berlalu dari hidupku; dan tak pernah bisa kurayakan setiap detik yang pernah kita bagi bersama, seperti orang-orang beriman berfestival di hari kelahiran dan kematian nabi-nabinya.

Baca selebihnya »

Halaman Berikutnya »