Archive for the 'batak' Category

Islam tak Menghambat Kemajuan, Tapi Mengapa?

Anak Palestina menghadapi tank Israel dengan sebongkah batu. Tak perlu begitu, seandainya bapak mereka bisa membuat tank yang lebih kuat.

——————————————————————————

Dunia Islam tertinggal, lemah, dan menjadi “bulan-bulanan” Barat. Apakah Islam agama yang menghambat kemajuan, sehingga kita harus berguru pada Protestanisme?

Terhenyak aku membaca komentar dari Rikardo Siahaan - dengan nick “Salngam” - untuk posting Hayo, Agama Kamu Sebenarnya Apa Sih. Mengutip Michael P Todaro dalam bukunya Economic Development in A Third World, diungkapkannya negara maju kebanyakan adalah negara-negara yang mayoritasnya menganut Protestanisme.

Sebaliknya, banyak negara (berpenduduk mayoritas) Islam menjadi anggota grup negara terbelakang, atau dalam bahasa “halus”, merupakan penghuni dunia ketiga. Baca selebihnya »

Batak, Bali, Schapelle, dan Dunia Yang Gila

Betul-betul tak tau aku harus bereaksi bagaimana, melihat “kreativitas” orang (yang mengaku) bernama Eddie Hutauruk ini.

Secara tak sengaja pas lagi surfing soal si Schapelle untuk bahan berita, aku menemukan situs, di mana lelaki yang dari namanya tampaknya Batak yang melanglang ke Bali ini mengklaim sudah punya jam terbang tinggi soal mengelola tur. Trus, dia menawarkan sebuah tur yang tak biasa: Schapelle Corby Tour. Baca selebihnya »

Surat Untuk Lae Sinurat, yang Bingung Aku Ini Islam, Kristen, atau… Apaan Tuh?

Lae Sinurat Yth…

Mauliate godang, terima kasih banyak Laeku, atas kunjungan dan komentarmu yang sangat berisi. Komen yang hanya berupa dua tiga karakter, atau bahkan sebutir emoticon pun sebenarnya sama berharganya, tapi yang sekelas komen Lae - tidak saja dalam pengertian kuantitas atau panjangnya, tapi juga kualitas alias muatan pesan yang dibawanya - tentu punya tempat tersendiri). Ehm.. *membetulkan posisi mikrofon* Lho, surat kok jadi pidato?

Apakah saya Islam atau Kristen?

Waduh, tajam dan beratnya ini pertanyaan. Secara administratif saya Islam, dan identitas itu “dipilihkan” orang tua saya. Saya tak cukup beruntung menemukannya sendiri. Tapi secara hakikat, entahlah. Saya belum bisa menyerahkan diri secara utuh kepada kehendak Allah SWT. Kehilangan duit dua puluh ribuan pun saya masih marah-marah. Konon lagi kehilangan-kehilangan lain yang lebih besar? Bisa-bisa saya menuduh, paling tidak dalam hati, bahwa Tuhan tidak adil. Busyet dah! Tapi emang begitulah. Baca selebihnya »

Menolak Valentine? Ah, Sok Paten Kali pun Kalian!

valentine.jpg

Terus terang, bingung aku melihat penolakan - terutama yang berlebihan seperti yang dilakukan orang Pakistan dalam gambar - terhadap hari Valentine, hari kasih sayang, rahman warrahim, 14 Februari. Kebencian apa sesungguhnya yang bersarang di kepalanya, yang ditutup kopiah putih bersih itu?

Apa karena hari itu berasal dari kisah seorang pemuka agama Kristen Katolik, Valentine dan Santo Marius? So what? Kok tak kau bakari juga semua kalender internasional, yang malah lebih “parah” karena berasal dari momentum kelahiran Yesus Kristus? Trus kok mau kau libur hari Minggu, di mana orang Kristen pergi ke gereja, dan sebaliknya mau pula tetap kerja di hari Jum’at, padahal di situ kaum muslimin pergi shalat Jum’at ke masjid-masjid?

Kok tanggung-tanggung? Katanya harus kaffah, baik menjauhi larangan maupun melaksanakan perintah, nahi mungkar wa amar ma’ruf? (Jangan kau bilang aku terbalik-balik. Tanya ustadz kau, bahwa kita harus lebih dulu menjauhi yang buruk baru mendekati yang baik!) Baca selebihnya »

Tuhan yang Mengerdilkan Diri-Nya

Menurut saya bukan mengerdilkan Tuhan, Lae. Tapi Tuhan sendirilah yang mengerdilkan diri agar dipahami oleh manusia.

Komentar Yeni “The Sandalian” Setiawan ini menjawab setidaknya satu dari beberapa pertanyaan teologis, cieee…, yang selama ini kurasa cukup mengganggu. Keren! Tuhan ternyata bela-belain mengerdilkan diri, sebab jika ia tampil sebagaimana sesungguhnya, kita tak akan mengerti Dia, karena terlalu besar untuk dipahami, apalagi dicintai. Hmm…

Bahkan untuk saudara-saudara saya yang Kristen, Tuhan malah “melangkah” lebih jauh, sampai mewujudkan diri-Nya dalam tubuh Yesus Kristus, seorang manusia yang lahir dari rahim Maria. Terus terang, bagi saya perwujudan Tuhan dalam diri Yesus memang terasa sebagai pengerdilan Tuhan. Tapi biar bisa dipahami dan (akhirnya) dicintai manusia, mengapa tidak ya? Baca selebihnya »

Surat Seorang Kristen Kepada Saudaranya

Awalnya posting di bawah ini adalah komentar untuk artikel “Bisa Hidup Tanpa Agama Tapi Tidak Tanpa Cinta” yang tadinya juga merupakan komentar Jarar Siahaan untuk menanggapi postinganku tentang kisah migrasi imannya: Justru Setelah Jadi Muslim Aku Jadi Tahu Kristen Itu Benar.

Komentar yang dikirim oleh seorang penganut Kristen yang kebetulan satu marga dengan Jarar - Rikardo Siahaan - ini kuanggap sangat bagus; berbobot sekaligus disampaikan dalam bahasa yang sejuk. Saya selalu suka cara mengungkapkan pikiran seperti itu, apalagi dalam topik agama, yang umumnya sangat sensitif. Semoga bermanfaat.

Baca selebihnya »

“Breaking Post”: Ada yang Bajak Nama Jarar Siahaan untuk Komen


Mengutuk Malaysia, tapi Operasi Yustisi di Jakarta = Pukkimak Kaulah!

Buat Lae Juntak, dan Komentator ‘Fundamentalis’ Lainnya

Mohon maaf Lae Juntak, komen Lae saya potong. Berapa kali harus kubilang, blog ini kubuat untuk mengedepankan perdamaian, saling penghargaan, biar kita bisa hidup manis dalam perbedaan.

Baca selebihnya »

Let It Fucking Go! (Mengapa dalam Bahasa Batak, tak Ada Kata Maaf)

MEREDAM sedikit saja “harga dirimu”, egomu, rasa pedih di hatimu, akan lebih mudah, lebih menyehatkan, sekaligus mencegah kerusakan lebih besar di dalam jiwamu; daripada bertahan, menunggu orang lain menjadi sosok yang sempurna untukmu.

Mengapa begitu bersikukuh merengkuh penyakit? Bila seseorang menyakiti kita, kita kok mau-maunya memelihara rasa sakit itu, hingga efeknya bekerja jauh lebih lama dari seharusnya.

Baca selebihnya »

Bisa Hidup tanpa Agama, tapi Tidak tanpa Cinta

Tulisan ini awalnya dikirim sebagai komentar oleh Jarar Siahaan, menanggapi postinganku tentang “migrasi” imannya. Kuanggap begitu berharga, karena berisi kejujuran kata hati.

tidak pernah, sekali pun tidak pernah, aku memulai artikelku di blogku maupun komentarku dengan menyebut-nyebut nama TUHAN atau sapaan agamawi seperti “bismillah …” dll. tapi kali ini, sebelum memulainya, aku ingin, dengan seikhlas hatiku, berkata: “dengan menyebut nama TUHAN YANG MAHA-MELIHAT…, ALLAH-ku, THE ONE AND ONLY, aku memulai komentar ini.”

Selanjutnya…

Justru Setelah Jadi Muslim, Aku Tahu Kristen Itu Benar

Inilah yang ingin kukatakan padamu, Ibu, dengan setulus hatiku: justru setelah aku menjadi muslim, maka aku makin yakin bahwa Kristen, agama kalian, tidak salah”

Pindah agama, kerap membawa konsekuensi yang dahsyat. Tapi lelaki ini toh tetap menempuhnya. Lelaki Batak yang dibesarkan dalam iman Kristen ini menyeberang ke Islam, dan menikah dengan seorang muslimah. Ops, bukan karena wanita itu, tetapi karena pergulatan batin, termasuk setelah membaca sebuah buku tulisan Ahmad Dedad.

Baca selebihnya »

“Aku Cinta Padamu. Ada Pertanyaan?”

Gara-gara Lae Jarar

Aku bukan tipe orang yang percaya pada stereotip, pada kecenderungan untuk memukul rata, menggeneralisir, atau bahasa bakunya, merampatkan. Misalnya, orang Batak itu begini, orang Aceh begitu, orang Jawa begini-begitu, orang Sunda ngga begini-ngga begitu, dst.

Selanjutnya…