Archive for the 'arise' Category

Percaya Membuat Semuanya Mungkin, Cinta Membuat Semuanya Mudah

Mungkin membuat hati kecut, bahwa sebuah keyakinan ternyata bisa membuat orang jadi beringas, berani membunuh dan siap terbunuh. Tapi pada sisi lain, itu juga sebuah gambaran lugas, betapa perkasa apa yang disebut percaya.

Jika sudah percaya, maka tak ada lagi yang mustahil, semuanya menjadi mungkin saja. Sebenarnya, keyakinan juga sebuah ilmu pengetahuan, sains, hanya saja, cuma bisa dipahami dengan “logika” hati. Tersembunyi, sehingga pembuktian-pembuktian, tak selalu bisa menemukan tempatnya. Maka orang yang percaya, tak pernah membutuhkan penjelasan apapun, sebagaimana orang yang tak percaya, memang tak akan menerima penjelasan apapun. Baca selebihnya »

Islam tak Menghambat Kemajuan, Tapi Mengapa?

Anak Palestina menghadapi tank Israel dengan sebongkah batu. Tak perlu begitu, seandainya bapak mereka bisa membuat tank yang lebih kuat.

——————————————————————————

Dunia Islam tertinggal, lemah, dan menjadi “bulan-bulanan” Barat. Apakah Islam agama yang menghambat kemajuan, sehingga kita harus berguru pada Protestanisme?

Terhenyak aku membaca komentar dari Rikardo Siahaan - dengan nick “Salngam” - untuk posting Hayo, Agama Kamu Sebenarnya Apa Sih. Mengutip Michael P Todaro dalam bukunya Economic Development in A Third World, diungkapkannya negara maju kebanyakan adalah negara-negara yang mayoritasnya menganut Protestanisme.

Sebaliknya, banyak negara (berpenduduk mayoritas) Islam menjadi anggota grup negara terbelakang, atau dalam bahasa “halus”, merupakan penghuni dunia ketiga. Baca selebihnya »

Hayo… Agama Kamu Sebenernya Apa Sih?

Kemiskinan mendekatkan orang pada kekafiran, kata Nabi.

Yep! Pasti rada susah dong tunduk, patuh, konon lagi cinta kepada Tuhan, sementara setiap ruas waktu berisi genangan derita. Bagaimana mungkin kita mencintai pemberi derita, (kecuali cinta buta ya…)

Agama dengan sendirinya juga menjadi tak menarik buat orang miskin, karena tak pernah hadir di sisi mereka, mendampingi ketika mereka berkelahi dengan waktu. Hanya ritual ini itu, plus janji-janji tentang sesuatu yang indah di seberang sana, sementara di sebelah sini napas makin berat untuk dihela. Baca selebihnya »

Sms Cinta yang Meluluhkan Hati

Bonus buat para pembaca setia, halah! Nesiaweek merilis koleksi sms cintanya. Wuaks! Dampak yang ditimbulkannya, di luar tanggung jawab percetakan. Keampuhan sudah teruji, jadi mohon digunakan dengan bijaksana. Dan bila penolakannya berlanjut, kesalahan bukan pada sms-nya.

Seperti berobat, yang terpenting bukan obatnya, tapi keinginanmu untuk sembuh. Begitu pula menaklukkan hati, yang terpenting bukan ungkapannya, tapi kesungguhanmu untuk mencintainya. 

Semoga lekas sembuh, eh, jatuh! Baca selebihnya »

Menolak Valentine? Ah, Sok Paten Kali pun Kalian!

valentine.jpg

Terus terang, bingung aku melihat penolakan - terutama yang berlebihan seperti yang dilakukan orang Pakistan dalam gambar - terhadap hari Valentine, hari kasih sayang, rahman warrahim, 14 Februari. Kebencian apa sesungguhnya yang bersarang di kepalanya, yang ditutup kopiah putih bersih itu?

Apa karena hari itu berasal dari kisah seorang pemuka agama Kristen Katolik, Valentine dan Santo Marius? So what? Kok tak kau bakari juga semua kalender internasional, yang malah lebih “parah” karena berasal dari momentum kelahiran Yesus Kristus? Trus kok mau kau libur hari Minggu, di mana orang Kristen pergi ke gereja, dan sebaliknya mau pula tetap kerja di hari Jum’at, padahal di situ kaum muslimin pergi shalat Jum’at ke masjid-masjid?

Kok tanggung-tanggung? Katanya harus kaffah, baik menjauhi larangan maupun melaksanakan perintah, nahi mungkar wa amar ma’ruf? (Jangan kau bilang aku terbalik-balik. Tanya ustadz kau, bahwa kita harus lebih dulu menjauhi yang buruk baru mendekati yang baik!) Baca selebihnya »

Tuhan yang Mengerdilkan Diri-Nya

Menurut saya bukan mengerdilkan Tuhan, Lae. Tapi Tuhan sendirilah yang mengerdilkan diri agar dipahami oleh manusia.

Komentar Yeni “The Sandalian” Setiawan ini menjawab setidaknya satu dari beberapa pertanyaan teologis, cieee…, yang selama ini kurasa cukup mengganggu. Keren! Tuhan ternyata bela-belain mengerdilkan diri, sebab jika ia tampil sebagaimana sesungguhnya, kita tak akan mengerti Dia, karena terlalu besar untuk dipahami, apalagi dicintai. Hmm…

Bahkan untuk saudara-saudara saya yang Kristen, Tuhan malah “melangkah” lebih jauh, sampai mewujudkan diri-Nya dalam tubuh Yesus Kristus, seorang manusia yang lahir dari rahim Maria. Terus terang, bagi saya perwujudan Tuhan dalam diri Yesus memang terasa sebagai pengerdilan Tuhan. Tapi biar bisa dipahami dan (akhirnya) dicintai manusia, mengapa tidak ya? Baca selebihnya »

Doktrin yang Mengerdilkan Tuhan

DENGAN segala kerendahan hati, saya mengaku kurang sensitif, ketika mengambil kisah kelahiran Yesus Kristus - atau Isa Al Masih dalam bahasa Al-Qur’an - sebagai contoh ketidaklogisan agama. Walaupun pertimbangan saya karena kisah itu sama-sama diceritakan Alkitab dan Al-Qur’an secara persis, tapi reaksi Parjalang membuktikan, hal itu bisa terasa sebagai “lebih menyerang” iman Kristen, karena posisi Yesus yang sangat, atau bahkan paling sentral di iman itu.

Untuk itu, kepada Bung Parjalang, dan siapa saja yang menyimpan perasaan yang sama, saya minta maaf.

Mohon izin, diskusi kita lanjutkan … :D

Baca selebihnya »

Berilah Dia Ruang…

Betapa sulit sekarang ini untuk sekadar menemukan ruang, space, untuk mengelola sendiri kedirianmu. Sepertinya, semua budaya, norma-norma yang berlaku, bahkan keseluruhan dunia, sudah diset untuk menghempang langkahmu menemukan kekuatan dan keindahanmu yang unik, yang sesungguhnya.

Setiap hari, yang kita lihat dan pelajari adalah tentang membongkar dan mencabik-cabik orang lain. Kita menonton televisi, membaca koran, tentang politisi yang terlibat skandal, artis-artis yang dalam proses perceraian, dan kedua belah pihak merasa sama-sama tersakiti. Bahkan kita sendiri, kadang juga terlibat membicarakan orang lain, dalam aura negatif, yang membuatnya terburai dalam kepingan-kepingan. Baca selebihnya »

After an end, comes another beginning

Never say never again. Sebisa mungkin hindari bersumpah, karena kau mungkin akan terpaksa melanggarnya. Jangan pernah meludah di depan orang ramai, sebab bisa saja kau tak punya pilihan lain, kecuali menjilatnya kembali, juga di depan orang ramai.

Butuh kekuatan untuk mempertahankan pilihan, tapi juga perlu lebih banyak keberanian - persisnya berani malu - untuk mengakui kau telah mengambil pilihan yang salah, dan menebusnya. Lagian, kalau emang bener cintamu lebih besar dari (ke) malu (an)-mu, kau mestinya cuma perlu malu untuk menunjukkan kemaluanmu, bukannya cintamu.

Pun, bila kita mendasarkan hidup pada apa yang dipikirkan orang lain, deuh, betapa tersianya hidup, dalam pendeknya ruas waktu.

Singkat cerita ;) ngeblog itu ternyata benar-benar enak, dan itu (makin) kusadari justru ketika aku berjuang menjauhinya, dan gagal. Sakaw-nya berat, lebih berat dari sakaw-sakaw lain yang pernah kurasakan.

O, Blogosphere, aku berlutut menginjak janji dan harga diri, berilah aku hidup kembali, seribu tahun lagi…