Pergilah Seperti Uap, Karena Kutau, Kau Akan Kembali Sebagai Hujan (Part II) 6 November, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, gairah, hujan, selingkuh, skandal, soulmate.Tags: cinta, hubungan, Kesetiaan
20 comments
Mungkin satu-satunya cara membuatmu percaya, bahwa rumah inilah tempat dirimu sepenuhnya diterima, adalah dengan membiarkanmu melanglang hingga ke tepi dunia.
Juga hanya dengan melepasmu melahap semua pesona dan gairah, kau akhirnya tahu bahwa untukmu, akulah yang terindah.
Di puncak lelah, kau pun pulang ke rumah. Tapi aku tak merasa jadi penunggu tempat sampah. Justru ini bukti keberanianku menjajal kualitas dengan siapa saja yang bisa kau temukan di luar sana.
Dunia memang tempat yang panas, membuatmu mendidih, hilang menguap seperti dihisap awang-awang. Tapi biarlah kau pergi seperti uap, karena kutahu, langit tanpa batas akan membuatmu kesepian, dan kau pun pulang sebagai hujan. Kemudian aku menari di bawah curahmu, dengan kemarau rindu yang kering meretak. Tarianku lincah, liukanku indah, seperti pertama dulu, karena hujan selalu saja baru. (lagi…)
Tak Cukup Dijalani, Hidup Juga Patut Dirayakan 14 Oktober, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, insomnia, inspirasi, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, spiritualitas.19 comments
Jika (sekadar) dijalani, hidup terdengar seperti sebuah tugas, dan yang namanya tugas, tak selalu (atau malah jarang) terasa menyenangkan, kecuali bila Anda seseorang yang sangat ingin dapat promosi dari bos. Tapi jika (juga) dirayakan, hidup akan terasa seperti sebuah kesempatan (untuk berbahagia), a party time. Dan tentang kesempatan, orang biasanya bilang, “Jangan sampai dilewatkan!”
Apakah menganggap hidup sebagai tugas atau sebuah kesempatan akan mengubah hidup itu? “Itu kan anggapan doang, label thok. Hidup ya tetap gini-gini aja, gitu-gitu doang.” Nah, itulah yang mau kita bicarakan.
Bertahan Hidup Bukan Karena Takut Mati 6 Oktober, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, bencana, celebration of life, filosofi, gairah, inspirasi, kehidupan, kematian, spiritualitas.14 comments
Jika seseorang berjuang bertahan hidup-dari serangan penyakit, terpaan bencana, kesulitan ekonomi, atau apapun itu yang bisa mengancam kelangsungan hidupnya-bisakah dia disebut sebagai pengecut yang terlalu takut mati?
BERANI mati itu memang terdengar gagah, tetapi saya lebih kagum kepada mereka yang berani hidup. Modal untuk mati itu murah; setengah liter pestisida atau seutas tali rafia juga sudah cukup. Tidak percaya? Silakan coba. Kalau memang berminat, petunjuk teknisnya nanti saya kirim lewat email. Bergaransi dan telah teruji.
Sebaliknya, modal untuk tetap hidup justru teramat mahal; butuh keseluruhan diri kita.
Ketika hidup terasa menyesak dan pengap, saat segenap harap luruh menguap, and the only way to escape sepertinya adalah loncat dari atap, (atap JW Marriott biar langsung kolaps), malulah kepada nenek tua yang bertahan hidup dengan menjajakan kue, dari pagi hingga petang, dari tanah lapang sampai ujung-ujung gang. (lagi…)
Mencintaimu, tanpa Mengambil Satu Hal pun Darimu 3 September, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, inspirasi, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, soulmate.41 comments
Jika aku bisa menghentikan denyut waktu, ku ingin menaruhmu ke dalam sebuah bingkai, menangkap cahaya di sekitarmu, mengagungkanmu dengan gita dan puja, memajang mengusungmu sebagaimana kau mestinya terlihat, lepas pisah dari noda dan pesona pada permukaan keseharian…
Kemudian aku akan berlutut, di sini di tengah jalanan, mengambil gambarmu. Tapi siapa yang akan percaya? Apakah hanya aku yang bisa melihatnya? Aku hanya ingin memandang, sebelum sesaat kemudian kau menghilang.
Aku hanya ingin mencintaimu, tanpa harus merenggut satu hal pun, dari dirimu… (lagi…)
For Everything Will Come To An End… 21 Agustus, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, cinta, inspirasi.15 comments
Saya lebih memilih satu tarikan napas merasakan aroma rambutnya, satu kecupan saja dari bibirnya, satu genggaman pada jemarinya, daripada keabadian tapi tanpa itu semua…
Kalau sudah nonton City of Angels, dan menyimaknya tentu saja–bukannya malah membuat “suting pilem” sendiri di keremangan bioskop itu–Anda pasti ingat quote itu, dari sang “malaikat” yang diperankan Nicolas Cage.
Ketika harus memilih, antara keabadian yang hampa, an empty eternity, atau sebuah momen yang penuh tapi akan berlalu meluruh, manakah yang akan Anda ambil? (lagi…)
Segala Perih Datanglah, Tak Kepada Luka Aku Menyerah 19 Mei, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, bunuh diri, celebration of life, cinta, filosofi, gairah, inspirasi, kata hati, kehidupan, kutipan, nesiaweekism, spiritualitas.Tags: cinta, jennifer anniston, love, pain, perih, strength
32 comments
Cinta dan luka, ternyata punya hubungan kekerabatan sangat dekat, bahkan cenderung seperti kembar identik, setidaknya begitu menurut Jennifer Anniston. “The greater your capacity to love, the greater your capacity to feel the pain,” kata janda Brad Pitt ini.
Apakah ungkapan itu merupakan simpulan yang dia dapat dari kisah cintanya yang tak sesukses kariernya di dunia entertainment, silakan tanya sendiri, kalo punya nomor ponselnya. Atau udah temenan di pesbuk? (lagi…)
Manusia, Usia, Rahasia, Sia-sia… 8 Mei, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, gairah, inspirasi, kata hati, kehidupan, kematian, nesiaweekism, spiritualitas.Tags: kehidupan, kematian, ultah, usia, waktu
17 comments

Di hadapan waktu yang membentang, kita sering merasa kecut, kecil, mengerut, mengerdil. Diam-diam kita sadar akan segera tiada. Betapa pendek ruas yang kita miliki. Waktu akan terus melanjutkan perjalanannya, dan kita akan tinggal di titik ini, sepertinya tak kan sempat tercatat, tak kan pantas diingat.
Manusia selalu takluk di hadapan usia, dihantui sebuah rahasia, kapan tepi itu akhirnya akan tiba. Bahkan Fir’aun yang perkasa dan jumawa, membangun piramid-piramid karena kesadaran akan batas itu.
Tahun baru, ulang tahun, semua tanggal-tanggal penting dalam kalender, adalah bel yang berdentang makin keras, mengingatkan kematian semakin dekat, ujung jalan makin terlihat. (lagi…)
Kita Tak Bahagia, Mungkin Karena Kita Bodoh 16 April, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, celebration of life, cinta, dedikasi, gairah, inspirasi, interkonektivitas, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, spiritualitas.Tags: hati, inspirasi, kebahagiaan, kehidupan
29 comments
Mungkin ada orang yang ga minat nikah, ga berpikir untuk punya anak, atau ga terlalu semangat memburu uang, bahkan ngga terobsesi dengan seks. Tapi siapa yang ga mau bahagia? Ayo tunjuk burung!
Pastinya, kita semua pengen dunk. Kita udah didesain secara sistematis untuk memburu kesenangan, seperti bunga matahari ditakdirkan tunduk menghadap sang surya.
Sayangnya, tak ada (kebahagiaan) yang abadi. Dan kita pun bergegas memburunya lagi. Kebahagiaan – seperti tali pusar bayi – adalah sesuatu yang efemeral, hanya ada untuk suatu masa dan menghilang sesudahnya. (lagi…)
Here In The Real World 6 April, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, gairah, insomnia, inspirasi, kata hati, kehidupan, kutipan.Tags: cinta, insomnia, kehidupan, sedih
15 comments
Untuk Alied, yg juga insomnia di seberang sana
Lelaki jantan, apapun ceritanya, tak boleh menangis dan menjadi lemah. Kebenaran tak akan bisa kalah, karena cinta itu mimpi terindah, yang pasti akan mewujud menyata, seperti kuntum yang mekar merekah…
Andai kehidupan berjalan seperti kisah di layar perak, sungguh tak ada alasan untuk gentar meniti hari-hari.
But here in the real world, di dunia yang tak selalu happy ending ini, sungguh tak semudah itu. Ketika hati patah merapuh, maka air mata pasti akan jatuh. Ketika mimpi hilang direnggut paksa, tak selalu ada kekuatan yang berkenan datang membela. (lagi…)
Belajarlah Untuk (Menghormati Mereka yang) Percaya… 24 Maret, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, atheisme, celebration of life, cinta, dedikasi, dosa, filosofi, fundamentalisme, gunawan mohamad, inspirasi, kata hati, kehidupan, kutipan, nesiaweekism, opini, spiritualitas.63 comments
Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.
Belakangan ada kecenderungan menarik. Beberapa komentar “menyerang” agama secara keseluruhan. Ada komentar yang sekadar menolak agama, tetapi masih mengakui Tuhan dan spiritualitas, sampai yang (kelihatannya) benar-benar atheis tulen. (lagi…)
Sepertinya, Persahabatan Memang Lebih Bernilai daripada Cinta 13 Maret, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, celebration of life, cinta, filosofi, inspirasi, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, sahabat.35 comments
Persahabatan itu juga sebuah bentuk cinta, hanya saja dilengkapi oleh pengertian. Friendship is love, with understanding. Anda tentu pernah dengar bahwa cinta itu buta. Oleh karenanya, cinta bisa menghilangkan objektivitas, menggiring kita untuk berlaku tidak adil, termasuk kepada diri sendiri.
Persahabatan juga mirip-mirip sebenarnya. Seorang sahabat sejati, akan membela kita, apapun ceritanya. Tetapi bukan karena persahabatan itu buta seperti cinta. Ia hanya memilih menutup mata. Artinya, pilihan sikap itu dibuat dengan kesadaran. (lagi…)
Yuk, Tolak Valentine dan Semua yang Berbau Barat 16 Februari, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, dedikasi, filosofi, fundamentalisme, gairah, inspirasi, kapitalisme, kata hati, kehidupan, lucu, marah-marah, nesiaweekism, opini, sosial, spiritualitas.33 comments

Saya pernah menulis “Menolak Valentine? Ah, Sok Paten Kali pun Kalian“, dan ada komen yang menarik dari pembaca dengan nick Anti Barat. Menurutnya, bukan hanya Hari Valentine, tetapi semua hal berbau barat juga harus ditolak.
Berikut ajakan dari beliau, ajakan yang memang tidak tanggung-tanggung!
Kepada sesama kawan ANTI BUDAYA BARAT, Valentine yang berasal dari budaya barat, memang harus kita tolak. Tidak peduli ada unsur positifnya atau tidak, saya rasa kita sebagai sesama anti budaya barat harus menolaknya (lagi…)
Sms Kosong pun Ada Maknanya… 31 Januari, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, gairah, inspirasi, kata hati, nesiaweekism, sms cinta, sms romantis, soulmate.57 comments
Ponsel Anda berdering. Ada sms masuk di Inbox. Pengirimnya seseorang yang Anda kenal. Pas dibuka, eh, isinya kosong. Reaksi Anda? Mungkin kesel, trus ngirim reply semacam, “Apaan sih?”, atau setidaknya membalas dengan sms kosong juga.
Sms kosong kerap dijadikan orang sebagai alat pendeteksi, kapan nomor yang dikirimi sms itu aktif, yang segera diketahui melalui laporan pengiriman atau delivery report. Langkah yang lebih cerdas, ketimbang harus menghubungi tiap lima menit, hanya untuk mendengar jawaban yang sama, “Nomor yang Anda tuju masih selingkuh, mohon sabar menunggu giliran, beberapa menit lagi“.
Terus bagaimana pula, bila orang yang sama mengirimi Anda sms kosong berkali-kali, atau 3 kali sehari, kayak makan antibiotik? Sementara Anda sendiri tipikal orang yang mengaktifkan ponsel 24 jam, seperti SPBU di Jalur Pantura, jadi ngga perlu dideteksi segala. (lagi…)
Pikiran yang Jernih, Tangan yang Kotor 30 Januari, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, dedikasi, filosofi, gairah, inspirasi, kata hati.Tags: Spiritual
8 comments
Dengan indah telah terpajang, gambaran sebuah kesempurnaan di dalam pikiranmu. Bahkan sudah tuntas kau rancang, bagaimana bentuk dunia seharusnya. Sudah pula kau tentukan, bagaimana cerita tentang orang-orang yang kau cintai, akan bergulir.
Dan masalah kemudian muncul. Seperti ada tembok tebal, memisahkanmu dengan realita. Warna-warna mengkilap dalam lukisan itu luntur memudar. Kau coba bersikukuh, mempertahankan versi imajinatifmu tentang mereka yang tercinta, saat topengmu melorot mempertontonkan wajahmu yang bahkan kau sendiri tak pernah menyukainya. (lagi…)
Pencerahan? Ah, Sebentar Lagi Juga Bakal Redup Lagi 23 Januari, 2009
Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, celebration of life, filosofi, fundamentalisme, inspirasi, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, opini, spiritualitas.16 comments
Sepertinya Anda yakin telah memahaminya. Tahu benar tentang itu, paham betul tentang ini. Tapi kemudian Anda mendengar, atau membaca sebuah sudut pandang lain, sebuah cara memahami yang sebelumnya sama sekali tak terpikirkan, dan tiba-tiba keyakinan sebelumnya menguap seperti kabut yang diterjang panas siang hari.
Dan kemudian Anda sadar, usaha memahami itu tak pernah berhenti, dan kebenaran itu bukan sebongkah batu; diam membeku.
Seperti sebuah negatif film, ada sisi lain yang kadang benar-benar berbeda. Cerah atau redup, hangat atau dingin, siapa yang tahu bagaimana Anda akan merasa esok hari. (lagi…)

Seiring bergegasnya waktu, dan usia yang terus menjejalkan diri ke tubuh kita, menjadi makin paham akan kemampuan dan keterbatasan diri, kita mengerti bahwa upaya untuk mengerti itu tak pernah berhenti.






