jump to navigation

Pergilah Seperti Uap, Karena Kutau, Kau Akan Kembali Sebagai Hujan (Part II) 6 November, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, gairah, hujan, selingkuh, skandal, soulmate.
Tags: , ,
trackback

Mungkin satu-satunya cara membuatmu percaya, bahwa rumah inilah tempat dirimu sepenuhnya diterima, adalah dengan membiarkanmu melanglang hingga ke tepi dunia.

Juga hanya dengan melepasmu melahap semua pesona dan gairah, kau akhirnya tahu bahwa untukmu, akulah yang terindah.

Di puncak lelah, kau pun pulang ke rumah. Tapi aku tak merasa jadi penunggu tempat sampah. Justru ini bukti keberanianku menjajal kualitas dengan siapa saja yang bisa kau temukan di luar sana.

Dunia memang tempat yang panas, membuatmu mendidih, hilang menguap seperti dihisap awang-awang. Tapi biarlah kau pergi seperti uap, karena kutahu, langit tanpa batas akan membuatmu kesepian, dan kau pun pulang sebagai hujan. Kemudian aku menari di bawah curahmu, dengan kemarau rindu yang kering meretak. Tarianku lincah, liukanku indah, seperti pertama dulu, karena hujan selalu saja baru.

Kulepas kau mengikuti kembara rintik, merontokkan dirinya sendiri ke bumi, agar bisa mengenali samudera, menyegarkan dedaunan, membasahi pucuk ilalang.

Aku tak perlu merasa terhina menerima seorang yang kalah, karena itu berarti akulah pemenangnya. Lagi pula ini bukanlah pertarungan.

Ini karena kita lebih dekat dari pertalian darah, membentuk keesaan dan trinitas sekaligus: aku, kau, kita. Kita satu sama lain, seperti bulan memantul di arus air, yang sesungguhnya adalah sinar mentari yang satu.

Menerimamu pulang, dengan segala kehampaan dan noda yang melumurimu, adalah membiarkan jiwaku kembali utuh, menemukan bagiannya yang hilang. Membersihkan lumpur di wajahmu adalah menyelamatkan takdir kita, yang tak akan kubiarkan kalah hanya oleh noda, kemarahan, dendam, harga diri, apalagi cemoohan tetangga.

Kau sendiri terperangah, menatapku tengadah, hampir tak percaya ada cinta yang begitu indah, menyemburkan maaf yang melimpah ruah. Kemudian kau berlutut, terbata menyatakan penyesalan, perilaku khas orang yang kalah.

Aku tak marah. Sama sekali tidak. Agak cemas saja. Mudah-mudahan kau tak pernah tahu, sementara menunggumu pulang, entah dari langit mana, aku telah mandi hujan di mana-mana.  Kau sepertinya lupa, dari dulu aku memang paling suka menari di bawah hujan, tentu saja tanpa sehelaipun pakaian…

Sini gerimisku yang lucu, cepat basahi aku… Bukankah bagimu aku terlihat begitu kemarau?

——————————————

Sebelumnya: Pergilah Seperti Uap, Karena Kutau, Kau Akan Kembali Sebagai Hujan (Part I)

Komentar»

1. batjoe - 6 November, 2009

mantapz mas

2. batjoe - 6 November, 2009

pertamanya mas…

sebenarnya apa ya…?

Toga Nainggolan - 6 November, 2009

pertamanya gimana, pak? :D klu maksudnya Part I, ada link-nya di bawah tulisan. kalo maksudnya pertamax, bener, bapak emg pertamax. saya cukup avtur aja. :D

3. Maren Kitatau - 7 November, 2009

Dahsyat bangat cintamu itu, Lae!
Seandainya kou itu perempuan,
Suami baja pun lumer kou bikin.

Bravo!
NB:
Teringat aku dgn lagu “Foolish Game”.
Lupa aku perempuan yg menyanyikannya.

weirdaft - 10 November, 2009

foolish game itu lagunya Jewel

Maren Kitatau - 10 November, 2009

Yes! Betul Daft, Jewel!
Bisa kasih textnya ngak.
Dan terjemahannya sekalian.

Salam!

weirdaft - 10 November, 2009

saya kasi link-nya aja ya bang. soalnya klo kepanjangan nanti dipentung si bang toga hehehe….

http://www.kapanlagi.com/lirik/artis/jewel/foolish_games

4. lovepassword - 7 November, 2009

Keren sungguh keren. Entah apa yang kau makan sebelum membuat tulisan sekeren ini :)

5. bandit sp™ - 7 November, 2009

Ketulusan yg mantab sekali Lae…
Saluttt

6. hh - 7 November, 2009

Luar biasa, lae Toga. Gerimis yang kini sedang turun, walau gak utuh uap yang telah dibiarkan mengawang dahulu, kerena (mungkin) telah menjadi hujan dimana mana, dari langit mana saja ke tanah kemarau mana saja, dan telah menjadi uap kembali dan kini menjadi gerimis yang turun dari langit dan di kemarau sendiri.

7. ita aisyah asita - 7 November, 2009

“..Dunia memang tempat yang panas, membuatmu mendidih, hilang menguap seperti dihisap awang-awang. Tapi biarlah kau pergi seperti uap, karena kutahu, langit tanpa batas akan membuatmu kesepian, dan kau pun pulang sebagai hujan. Kemudian aku menari di bawah curahmu, dengan kemarau rindu yang kering meretak. Tarianku lincah, liukanku indah, seperti pertama dulu, karena hujan selalu saja baru..”

gue banget nech bang sekarang..haha..tapi sayangnya dia gak mengerti aku membiarkannya pergi karena aku hanya butuh sejenak ruang menikmati panas agar aku bisa benar-benar tahu bahwa aku butuh hujan..

8. fanny - 7 November, 2009

sini gerimisku yg lucu….hmm..gerimis apakah itu?

9. Siu Elha - 8 November, 2009

edian tenan…!!! siapa gak melting dengan tulisan ini, cuma ini nih bagian bahayanya ….. “Aku tak marah. Sama sekali tidak. Agak cemas saja. Mudah-mudahan kau tak pernah tahu, sementara menunggumu pulang, entah dari langit mana, aku telah mandi hujan di mana-mana. Kau sepertinya lupa, dari dulu aku memang paling suka menari di bawah hujan, tentu saja tanpa sehelaipun pakaian…” BAHAYA…..!!! jangan terjebak ya? hahahaha…

Maren Kitatau - 8 November, 2009

Maksud mu,
Dia dahaga hujan tak kuat kerontang,
Maka tak marah hujiannya lambat?

Jelasin, Bang Toga!

10. luvaholic9itz - 8 November, 2009

telaaaaaaaaaaaaatttttttttttttt..!!!!!!!!!!! ih nyesel ih baru bisa konek :(

posting juga akhirnya, dizini ujan noh bang.
*nyari yang nari tanpa sehelai pun pakaian ah*

mana dimana :roll:

:mrgreen:

11. aubreyade - 8 November, 2009

Doh! bang Toga…**spikles**

udah deh, aku nge link aja ya bang, ini salam namu, sekalian minta ijin ;D

12. Nayla - 9 November, 2009

Lebih menggetarkan part 1nya. tp lebih masuk akal yang ini. :D

13. weirdaft - 10 November, 2009

Aku tak perlu merasa terhina menerima seorang yang kalah, karena itu berarti akulah pemenangnya. Lagi pula ini bukanlah pertarungan.

meskipun “aku” yang ditinggalkan, tapi “aku” lah pemenangnya. karena akhirnya “kau” kembali lg untuk menyesali semuanya

ini-keren-sekali

14. Maren Kitatau - 11 November, 2009

@weirdaft

Sudah kutemukan “Foolish Games” komplit.
Kisah dua seniman bentrok adu cinta,
Seniman praktis vs seniman teoritis.

Di situ si Cowok main ujan beneran,
Mungkin untuk cari perhatian,
Supaya diandukin kali, gituh!

Salam Damai!
NB:
Aneh juga,
Lagu hati yang robek masih enak didenger.

weirdaft - 13 November, 2009

lagu yg bikin hati robek berdarah2 memang selalu enak didengar bang :D

ada vid klipnya jg…mantappp :D

hrs puas dgn versi mp3 aja krn di kntr smua yg berbau flash player di blok dgn sukses :D

15. Toga Nainggolan - 11 November, 2009

Wah, sampe ada link yutub-nya. Makasih ya Bos. :D

16. » cinta yang (bisa) membunuh Hanya Sekedar Tulisan - 13 November, 2009

[...] lelah menangis. Jika menahanmu disini hanya akan menjadi beban buatmu, maka pergilah seperti uap, karena jika suatu saat kau ingin kembali sebagai hujan, saya akan menerima setiap tetesannya. Jika [...]

17. ntieholic - 13 November, 2009

* haduuhh pinter gawe meleleh dan meluluh

* gambarnya ma tulisannya sama sexy nya euy ..

* mantap, mak nyuzz

18. qultie - 17 November, 2009

wow, two thumbs up ! *__*

19. myalisha - 17 November, 2009

so beautifull…

20. BeBe Gunawan - 18 November, 2009

mas toga (bener ga si?)
beneran bagus! aku suka bacanya.
isinya mantap. bahasanya nyastrani tp ngga maksa hehe..
bagus pokoknya!

21. putirenobaiak - 18 November, 2009

ini nih tulisan yg ‘membunuh’

Kemudian aku menari di bawah curahmu, dengan kemarau rindu yang kering meretak. Tarianku lincah, liukanku indah, seperti pertama dulu, karena hujan selalu saja baru.

aku ngiri asliiii…gimana bisa nulis seindah ini ito???

jhon - 19 November, 2009

@putirenobaiak : saya ndak ngiri sama bang toga. sama halnya saya ndak ngiri sama yg menciptakan mobil, telephone dll. yang penting saya bisa menikmatinya, cukup wis. karena setiap orang punya takdir masing2. yg terpenting, duing de bes wi ken

Toga Nainggolan - 19 November, 2009

lagian, itu kan cuma cara Uni Meiy membesarkan hati orang. :D emang paling bisa ibu yg satu ini. setuju bos, ttg duing de bes.

22. jhon - 20 November, 2009

wakakak.., bang Toga, kalo masalah tulisannya bagus, dan abang punya bakat yg ruarbiasa dlm hal menulis dll, saya mah setuju sekali itu. dan saya bisa menikmati spt halnya saya menikmati lagu2 the beatles misalnya. tapi saya kan gak mgkn jadi the beatles. jadi, maksudnya ya itu tadi.., buat apa ngiri. malah bersyukur dan turut mendoakan, mudah2an bang Toga tetap produktif sampe akhir hayat.., amiiin!

23. batjoe - 22 November, 2009

hehehehe gambranya juga mantap pak….
ajarin dong buat artikel yang enak banget dibaca….

24. katasa07 - 30 Desember, 2009

Aku tak marah. Sama sekali tidak. Agak cemas saja. Mudah-mudahan kau tak pernah tahu, sementara menunggumu pulang, entah dari langit mana, aku telah mandi hujan di mana-mana. Kau sepertinya lupa, dari dulu aku memang paling suka menari di bawah hujan, tentu saja tanpa sehelaipun pakaian……

kalian memang jodoh..hihhihi sesama t. selingkuh..ya cocok lah…

dhe’ lagi ngak nyambung euy’ ….

25. sadiesoegi - 30 Desember, 2009

hai bang.. aku jadi mikirin tulisanmu ini bang. sampe kebawa-bawa tidur.. aku bisa memakai maknanya dalam banyak hal nih.. teguran buat aku dari ‘yg di atas’… penantian kekasih… penantian buat suami yg semoga tobatttt plus harapan ibu buat anaknya. Sebenarnya yang mana sih bang ? biar aku malam ini tidak tidur dikelilingi kalimat cantikmu ini!

26. jhon - 5 Januari, 2010

bang Toga, maap, saya sdh lancang tanpa permisi menambahkan/nge-add anda di blog saya. tolong diterima permohonan maap saya, dan kalo ada waktu, bolehlah mampir ke blog saya yg msh baru, msh belajar but dan perlu banyak masukan dan kritik serta saran dari bang Toga yang senior ini. Tks.