Kama Rabbayani Saghira… 28 Agustus, 2009
Posted by Toga Nainggolan in artikel, spiritualitas.Tags: Agama, doa, islam, kristen, orang tua
trackback
Pater Noster, atau Doa Bapa Kami, barangkali merupakan doa yang paling terkenal dalam agama Kristen. Perhaps the best-known prayer in Christianity, kata Wikipedia. Dalam Islam, “padanannya” barangkali Al Fatiha, surat (chapter) pembuka Al-Qur’an.
(Dan memang, substansi bahkan struktur keduanya mirip loh: pengakuan dan pemujaan, penyerahan diri, permohonan akan kebutuhan hidup, petunjuk dan pengampunan, dan terakhir perlindungan dari kesesatan. Tapi ngga usah bahas itu ya… Ntar jadi forum “holy war” lagi deh).
Nah, salah satu bagian dari Pater Noster tadi berbunyi: “Dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni orang yang bersalah kepada kami”.
Dan bagaimana kita bisa berharap mendapat ampunan-Nya, bila kita sendiri tak pernah sanggup, terlebih dahulu, mengampuni kesalahan orang lain?
Pantaskah kita “protes” kelak di hari kemudian, ketika catatan dosa dan kesalahan kita ternyata tercatat lengkap dan rapi dalam hard disk para malaikat? Bukankah Tuhan menyimpannya (dan tak menghapusnya) karena melihat kita juga telaten benar menyimpan, bahkan membesar-besarkan kesalahan orang lain?
*****
Waktu ngaji semasa bocah dulu, salah satu doa yang paling awal diajarkan Pak Ustadz adalah doa untuk Ibu dan Ayah. Lafaznya kira-kira: “Allahummaghfirlii, waliwalidayya, warhamhuma kama rabbayani saghira”. (Ya Allah, ampunilah aku, dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu aku kecil).
Saya yakin, Anda sudah melihat benang merah kedua do’a itu… Kita selalu meminta yang terbaik dan terindah dari Tuhan, namun kebaikan dan keindahan itu sangat tergantung kepada perilaku kita sendiri…
Tuhan tak akan menghapus setitik pun dosa dan kesalahan kita karena kita pun selalu menyimpan dosa dan kesalahan orang lain. Tuhan (barangkali) akan memperlakukan kita dengan kasar, main hardik, dsb, di akhirat, karena begitulah kita memperlakukan anak-anak kita ketika hidup di dunia…
Bukankah kita sendiri yang meminta itu, berulang-ulang, setiap hari.
Ah, mudah-mudahan Allah SWT, Tuhan pemilik begitu banyak sebutan yang indah, jauh lebih pengampun dari yang bisa kita bayangkan.
Jika tidak, hajab kita!








Benar itu lae, Tuhan jauh lebih pengampum dari yang bisa kita bayangkan.
Tambahan, melengkapi doa Bapa Kami itu ada ayat di Alkitab yang kira-kira begini,
“bagaimana engkau bisa mengasihi Allah yang tidak terlihat, sedangkan engkau tidak mengasihi saudaramu yang kelihatan”.
Saya percaya Tuhan Maha Pengasih, untuk itu kita pun harus mengasihi sesama kita. Dan bagaimana kita mengasihi sesama kita? Seperti kita mengasihi diri kita sendiri.
*udah ga cuti, bang?
*
@HH.
Dan tampaknya Dia memang selalu lebih dari yang bisa kita bayangkan, dalam segala aspek, dimensi, dan ukuran…
@Desty.
Yup… Ga usah ngaku2 pecinta Tuhan ya, klu hubungan sama sesama aja ga ada bagus2nya… How could?
*di blog sendiri mana bole cuti? lha, siyapa yg ngurus?*
saya jg harus belajar memperbaiki hubugan dgn sesama manusia. biar bisa mencintai Tuhan saya dgn jauh lebih indah dan mesra
kurang lebih, gitu kan bang?
*sok tau mode : on*
@Wirdaft
Aha.. Mau bilang itulah aku sebenarnya… Makasih ya… Wakakaka…
jlebebbbbb,,,,
woelah bang,, kuq aq g prnah kpikiran yak..
“kama rabbayani saghira”
benul juga itu,. harapan terbesar nya si orang tua pasti bakalan sayang luar binasa sama anak nya. pada al,, g semua yang kita harap ntu bisa jadi bener. yang demen nyiksa anak sendiri juga banyak kan..
tabur angin tuai badai
tabur benih tuai anak
Harddisknya bisa diserang virus nggak ya ???? ( smile)
kunjungan pertama..
horas…
salah satu intinya mengampuni ya Lae..
menampar banget nih bang. bagiku memaafkan sudah bisa. yg paling sulit bagian mendoakan yg baik buat orang yg kita kesali
Horas !!!
Itulah sebabnya lae…. (he.he.he…) Baek2 aku bilang lae ganteng..
Mudah2an.. ntar di akhirat (kalau tak terpeleset ya lae) Di kasi awak foang wajah yang enak dipandang. Bukan seperti di dunia saat ini lae..
Meliat wajah awak aja pun agak2 nnekq orang ngeliatnya.. apalagilah tambah komen ini itu awak. Tak nyambung pula itu. Hajab kalilah lae..
setttuuujjjuuu…seee all religion teach us to be good person…so why religion sometimes made us hate each other? yes we are different…only the way we TALK to Him…PRAISE Him…rite…
tulisanmu mang ga ada yang ga berbobot…
Saluttt
begitulah Tuhan…^_^
bagus sekali artikelnya bang..
tuhan saja bisa memaafkan, manusia kok merasa lebih hebat dari tuhan..
sedih melihat soal pengkafiran orang yang dilakukan oleh orang juga..
two thumbs up bg, bgs bgt dan yg paling penting; bermanfaat.
ini kunjungan pertama n kyknya aku bakalan jd pengunjung setia blog bg toga dweeh..
eniwei pas pertama baca judul di atas tak kirain itu nama salah satu anak abg hehe…
*jd mikir kl Kama Rabayani Saghira bgs jg dijadikan nama…*
salam jumpa lagi lae,pada umumnya manusia itu punya catatan yang dibagi menjadi dua hal.
1.catatan pertama mengenai kejelekan orang lain dan kebaikan yang pernah kita lakukan, ini pakai tinta emas
2.catatan kedua mengenai kebaikan orang lain dan kejelekan yang kita lakukan, mungkin pakai pensil jadi sering terhapus
Dan catatan yang paling sering kita buka adalah mengenai catatan pertama tadi, kesalahan orang lain dan perbuatan baik kita selalu digaris bawahi dan tebal(B&U), membuat kita enggan memaafkan orang lain.
Jaman sekarang lae, sudah ada doa politik, doa mamparbuat
@DCS: wah, dari mana saja Laeku… Sengaja mau buat orang masihol apa macam mana? Wakakaka… welcome back, Lae.
Ya … kutipan diatas adalah bagian dari doa yang diajarkan langsung oleh Jesus Kristus kepada murid-muridnya .
Salam !