jump to navigation

Derita yang Menyembuhkan 17 Juni, 2009

Posted by Toga Nainggolan in celebration of life, dedikasi, filosofi, gairah, inspirasi, interkonektivitas, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, spiritualitas.
trackback

Ketika hati retak menganga, air mata jatuh menelaga, pikiran justru menemukan sebuah celah cahaya. Dengan caranya sendiri, aku justru merasa perih adalah rute yang harus dilewati untuk tetap tumbuh dan berkembang, untuk sembuh dan tetap terbang.

Membendung emosi justru bahaya terbesar. Kadang orang lari menghindari perih: menenggak alkohol, obat, melukai orang lain, dsb. Padahal jauh lebih aman dengan membiarkan diri terbuka kepada apa yang disebut sebagai derita.

Pelarian perih itu akan mendatangkan candu, apakah sekadar main PS atau main dengan PSK. Tapi mungkin sudah menjadi naluri alamiah kita untuk menghindarinya, dan oleh karenanya setiap orang pasti mencandu terhadap sesuatu.

Padahal pemulihan seutuhnya hanya bisa didapat jika kita berani menggeletakkan hati, melepas ilusi, dan menatap lekat-lekat realita di depan mata. Sekali Anda bisa melakukannya, berarti Anda belajar untuk memperbaiki diri, terlibat sepenuhnya dalam kehidupan, menerima tanggung jawab atas takdir sendiri.

Tak ada perih yang melebihi ketika kita melihat seseorang yang kita kenal baik, kita hormati, kita sayangi, sedang menghancurkan dirinya sendiri. Tak mungkin mengingkari perih yang muncul dalam keadaan seperti itu. Kita seperti tenggelam dalam kubangan kekalutan dan kemarahan, mencampakkan diri kepada kekosongan yang terlalu luas, mencabik jiwa kita terlepas dari tubuh.

Tapi derita hanya perlu waktu untuk berlalu. Usai badai rasa itu, Anda akan mulai melihat titik cahaya. Betapa diri Anda bukanlah sekadar diri Anda sendiri, tetapi juga semua orang yang terhubung denganmu.

Kita bukanlah sebatang pohon yang dihimpit sunyi di tengah padang ilalang. Kita, bersama-sama, adalah rimbun hutan yang memberi napas pada bumi. Akar kita saling terjalin di bawah tanah sana, dan dedaun kita menengadah pada cahaya yang sama.

Hutan itulah kita dulu, kita kini, dan kita nanti. Tak siapapun yang terpisah, terkucil, atau tercabik sendiri.

Dan mengenali deritamu, adalah menghayati deritaku sendiri. Apakah yang lebih menyembuhkan, daripada menerima derita, bersama-sama?

Komentar»

1. weirdaft - 17 Juni, 2009

sedang berdamai jg dengan waktu. meski rasanya sudah seperti luluh, lantak, tak berbentuk. tapi biarlah, waktu jg yg akan jadi juaranya :D

2. weirdaft - 17 Juni, 2009

weaks,,,,pertamax,,,hehehehehe

3. arda sumirat - 18 Juni, 2009

Hmmm…ambigu tapi indah kali

4. putirenobaiak - 18 Juni, 2009

kusimpan di hati, di print trus di hapalin? eh di endapkan biar ngaruh gitu loh hehe

kenapa ya tulisanmu sehebat ini. aku ngiri, plus kecanduan baca:D

5. sealead - 18 Juni, 2009

bisa karena terbiasa
mungkin juga gitu
@wierdaft
mulai besok kaskus pindah ke sini yah
berlomba cari pertamax
hahahaha

6. Toga Nainggolan - 18 Juni, 2009

@Wirda
rasanya sudah seperti luluh, lantak, tak berbentuk

Kalo masih bisa merasa, berarti belum luluh lantak.

@Arda
Iya, hidup ini sendiri pun kykna ambigu. :D

@Meiy
*tersanjung, tak bisa berkata-kata*

@Alit
Biasa kena luka, lama2 imun.

7. weirdaft - 18 Juni, 2009

@sealed
hehehehehe….harap maklum, saya penggemar blog ini :D

@bang Toga
klo begitu, bisa dikatakan,,,,hampir. begitukah?

8. Ryan Shinu Raz - 18 Juni, 2009

Horas. !!
Kata-kata ini mungkin agak begitu cocok jika di kaitkan pada diriku sendri :”…..Membendung emosi justru bahaya terbesar. Kadang orang lari menghindari perih: menenggak alkohol, obat, melukai orang lain, dsb. Padahal jauh lebih aman dengan membiarkan diri terbuka kepada apa yang disebut sebagai derita..”

Tapi tergantung Derita yang bagimana lae. Bukankan hidup ini seperti ambigu. Tergantung dari sudut padang mana kita melihatnya. Terkadang bukankah justru sebaliknya juga, Nikmat membawa Sengsara.

Hidup ini memang pilihan lae…

9. yati - 21 Juni, 2009

siapa ?

10. yati - 21 Juni, 2009

*pertanyaan bodoh dan makin ga nyambung*