Ketika hati retak menganga, air mata jatuh menelaga, pikiran justru menemukan sebuah celah cahaya. Dengan caranya sendiri, aku justru merasa perih adalah rute yang harus dilewati untuk tetap tumbuh dan berkembang, untuk sembuh dan tetap terbang.
Membendung emosi justru bahaya terbesar. Kadang orang lari menghindari perih: menenggak alkohol, obat, melukai orang lain, dsb. Padahal jauh lebih aman dengan membiarkan diri terbuka kepada apa yang disebut sebagai derita.
Pelarian perih itu akan mendatangkan candu, apakah sekadar main PS atau main dengan PSK. Tapi mungkin sudah menjadi naluri alamiah kita untuk menghindarinya, dan oleh karenanya setiap orang pasti mencandu terhadap sesuatu.

Padahal pemulihan seutuhnya hanya bisa didapat jika kita berani menggeletakkan hati, melepas ilusi, dan menatap lekat-lekat realita di depan mata. Sekali Anda bisa melakukannya, berarti Anda belajar untuk memperbaiki diri, terlibat sepenuhnya dalam kehidupan, menerima tanggung jawab atas takdir sendiri.
Tak ada perih yang melebihi ketika kita melihat seseorang yang kita kenal baik, kita hormati, kita sayangi, sedang menghancurkan dirinya sendiri. Tak mungkin mengingkari perih yang muncul dalam keadaan seperti itu. Kita seperti tenggelam dalam kubangan kekalutan dan kemarahan, mencampakkan diri kepada kekosongan yang terlalu luas, mencabik jiwa kita terlepas dari tubuh.
Tapi derita hanya perlu waktu untuk berlalu. Usai badai rasa itu, Anda akan mulai melihat titik cahaya. Betapa diri Anda bukanlah sekadar diri Anda sendiri, tetapi juga semua orang yang terhubung denganmu.
Kita bukanlah sebatang pohon yang dihimpit sunyi di tengah padang ilalang. Kita, bersama-sama, adalah rimbun hutan yang memberi napas pada bumi. Akar kita saling terjalin di bawah tanah sana, dan dedaun kita menengadah pada cahaya yang sama.
Hutan itulah kita dulu, kita kini, dan kita nanti. Tak siapapun yang terpisah, terkucil, atau tercabik sendiri.
Dan mengenali deritamu, adalah menghayati deritaku sendiri. Apakah yang lebih menyembuhkan, daripada menerima derita, bersama-sama?









