jump to navigation

Belajarlah Untuk (Menghormati Mereka yang) Percaya… 24 Maret, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, artikel, atheisme, celebration of life, cinta, dedikasi, dosa, filosofi, fundamentalisme, gunawan mohamad, inspirasi, kata hati, kehidupan, kutipan, nesiaweekism, opini, spiritualitas.
trackback

Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.

Sejak awal, blog ini sudah sering menjadi medan perang debat agama. Jika belum keterlaluan, saya biarkan. Kalau sudah terlalu kasar, terpaksa dihapus. Tidak saja bila yang menjadi sasaran serangan itu agama yang saya anut, tetapi agama manapun, keyakinan macam apapun.

Belakangan ada kecenderungan menarik. Beberapa komentar “menyerang” agama secara keseluruhan. Ada komentar yang sekadar menolak agama, tetapi masih mengakui Tuhan dan spiritualitas, sampai yang (kelihatannya) benar-benar atheis tulen.

Misalnya, yang berikut ini dari pembaca dengan nick Padi dan Kapas (sayang ngga menyertakan link).

ALHAMDULILAH, HALELUYA : AKU SEORANG ATHEIS!! umat islam dan kristen mereka saling berantem tetapi mereka itu lupa, kedua agama itu bukan asli indonesia, kedua agama itu import dari timur tengah, yang jelas kurang cocok dengan budaya kita!! ingatlah, agama adalah produk budaya, nah kedua agama itu adalah produk budaya timur tengah (arab dan palestina)!! kenapa juga harus kita bela2? ngabisin energi aja!! jangan lupa, kita juga punya agama2 produksi budaya kita sendiri lho, jangan sampe lupa donk, malah agama2 budaya kita lebih lembut, sopan santun dan penuh dengan kearifan lokal yang tidak dipunyai agama2 import!!…jawa dengan kejawen, sunda dengan sunda wiwitan, batak dengan agama batak (maaf saya tidak tau namanya, tapi saya pernah denger kalo orang batak punya agama asli). Catatan Nesiaweek: Yup, bener, orang Batak punya agama sendiri, namanya Parmalim. Saya juga pernah menulis esai Hai Orang-orang yang Beragama, Berhentilah Melecehkan Budaya Kami, membela kearifan lokal, dalam hal ini dari etnis Batak, di tengah “invasi” agama “impor” itu.

Nah, meski mengaku (dan bersyukur) menjadi atheis, kawan kita ini tampaknya masih menghargai spiritualitas, masih menyisakan ruang di hatinya bagi getaran yang memesona dan menggetarkan, mysterium tremendum et fascinosum itu. Adith, pemilik blog Ilusive ini lebih “gahar”.

Hari gini kok masih pada ribut agama sih ??? Tuhan gw sekarang google.com. gw tanyain apa aja keluar jawaban, engga kayak tuhan yang katro, mo njengking2 ke barat, mo pegangan tangan dan berlutut… tetep aja cuman ngasih janji surga neraka…. tapi gpp, sepantasnya kalian semua masih harus beragama, pak kyai2 dan pendeta2 itu ntar makan apa kalo g ada yg percaya ama omongan mereka lagi ???? semoga lebih banyak mengisi otaknya dengan pengetahuan dari pada debat kusir yang cuman berakhir darah….

Oke, dua contoh saja. Komentar semacam itu, seakan membenarkan tulisan saya Islam vs Kristen, Pemenangnya Atheis. Dan kebetulan, dua komentar di atas memang untuk tulisan itu.

*****

Penolakan terhadap agama, sebenarnya bukanlah hal baru, bahkan mungkin setua agama itu sendiri. Sudah menjadi cerita umum, utusan-utusan Tuhan, selalu menjadi sasaran pelecehan dan bahan tertawaan, karena dianggap menyuarakan hal yang tak masuk akal. Membual. 

Dan memang, pesatnya perkembangan sains dan teknologi, tidak saja membuat hidup “makin mudah”, tetapi juga sering memaksa kita takjub. Ketika agama berbicara tentang yang abstrak, gaib, janji-janji, tentang nanti, sains menawarkan sesuatu yang riil, di sini, saat ini. Real, here, now!

Itulah barangkali yang membuat Christopher Hitchens, penulis dan jurnalis asal Inggris itu menulis buku yang dari judulnya saja sudah membuat gempar: God Is Not Great:Religion Poisons Everything. Tuhan Itu Nggak Hebat: Agama Udah Meracuni Segalanya. Busyet dah! (Cek keliaran pikirannya di hitchensweb.com).

Yang paling membuat geram tentu saja kutipan Richards Dawkins, seorang pakar biologi yang saya kutip di awal tulisan ini: When one person suffers from a delusion, it is called insanity. When many people suffer from a delusion, it is called Religion. Sebenarnya itu bukan quote dari Dawkins, tapi milik Robert M. Pirsig, seorang filsuf asal Amerika. Tapi memang Dawkins yang quote itu di bukunya The God Delusion. (Halah, kok malah bahas itu. :D ).

Orang “seliberal” Goenawan Mohammad saja mengaku masih “setengah terusik, tersinggung, berdebar-debar, terangsang berpikir” membaca buku itu. Tapi dasar GM, dia juga gembira!

Bayangin, orang sinting sendirian saja sudah menggelikan. Apalagi sintingnya ramai-ramai, gila kolektif, sakit jiwa berjamaah.

Menghadapi serangan semacam itu, lebih baik kita mengelola rasa marah, dan berusaha menahan diri untuk tidak membantah. Atheisme rasanya didukung oleh sains yang membuatnya, lagi-lagi meminjam istilah GM, sangat fasih dengan argumen yang seperti pisau bedah. Itulah rupanya yang membuatnya gembira, karena “siapa tahu para atheis inilah yang akan membuat kalangan agama mengalihkan fokus mereka dan kemudian berhenti bermusuhan”.

Bukan sok nyama-nyamain dengan GM, idola saya itu, tetapi saya juga punya harapan yang sama ketika menulis Muslim, Kristen, dll, Sadarlah, Musuh Kalian Adalah Logika! dan sederet posting senada lainnya.

***** 

Pada sebuah senja, di satu kota yang asing, segerombolan orang datang ke arah Anda. Ketika Anda tahu, gerombolan orang itu baru saja berkumpul untuk beribadah dan berdoa, apakah Anda lantas merasa aman, atau justru kurang aman? Hitchens yang sudah mengelana di separuh bola dunia itu menjawab tegas, “Kurang aman!”

Dia tampaknya tidak sedang menebar fitnah. Ia telah menyaksikan permusuhan antara orang Katolik dan Protestan di Ulster; Islam dan Kristen di Beirut dan Bethlehem; orang Katolik Kroasia dan orang Gereja Ortodoks Serbia dan orang Islam di bekas Yugoslavia; orang Sunni dan Syiah di Baghdad. Beribu-ribu orang tewas dan cacat dan telantar.

Alih-alih menjadi terang bagi dunia, rahmat buat seluruh alam, agama justru menjadi musabab perang dan kegelapan, siksa dan derita bagi umat manusia.

Atheis paruhwaktu, atau yang masih tahap training, mungkin masih akan meyakini, bukan agamanya yang salah, tetapi penganutnya. Masalahnya, jika memang tak bisa membuat penganutnya menjadi manusia yang lebih baik, apa gunanya agama? Sementara atheis kawakan sekelas Dawkins, dengan lantang akan menuduh agama sendirilah sumber kekacauan itu. I am against religion because it teaches us to be satisfied with not understanding the world

*****

Para penganut agama, mereka yang percaya, pasti terluka dengan serangan para atheis ini. Tetapi agama mengajarkan kita untuk menahan amarah dan memelihara harapan, percaya kepada yang tak terlihat, meyakini yang belum datang…

Mudah-mudahan serangan para atheis yang makin tajam dan deras itu, menjadi semacam blessing in disguise, berkah dalam bencana, membuat penganut lintas agama merapatkan barisan, membentuk brotherhood of the believers, persaudaraan orang beriman.

 Kita tentu berharap, jika mereka memang tak bisa percaya kepada Tuhan atau menganut sebuah agama, setidaknya para atheis itu menghormati kita-kita yang percaya.

Tetapi bagaimana bisa, jika orang yang percaya saja tak bisa menghormati mereka yang juga percaya, dalam cara dan nama yang berbeda?

Komentar»

1. sealead - 24 Maret, 2009

trima kasih untuk menjadi yang pertama
uhuk….
yah,,,semoga para penganut agama itu sadar lah,,,bahwa mereka tak sepantasnya bertengkar,
bahwa atheis adalah musuh bersama mereka

2. Nesia! - 24 Maret, 2009

@Sealead
bahwa atheis adalah musuh bersama mereka. Mereka ya? Anda ga termasuk dong…. Huehehehehehe

3. sealead - 24 Maret, 2009

@nesia
iya,,,,aku jadi penonton aja, karena kyknya aku juga terjebak di antaranya (theis,atheis)
hehehehe

4. dony - 24 Maret, 2009

tulisannya bagus … semoga yang baca bisa searif dan sebijaksana abang.
buat saya agama adalah urusan saya dengan Yang Di Atas :D , tanpa perlu memaksakan agama saya sebagai yang paling benar atau memandang rendah agama lain.
dah ah ngaco hehehe

5. gilang mahardika - 24 Maret, 2009

belajarlah menghormati kepada mereka yang kau sebut Manusia..

6. gilang mahardika - 24 Maret, 2009

et2,, kecolongan nih.. Belajarlah untuk (menghormati mereka yang) percaya.. nyahaha.. jelas banget tuh induk kalimatnya harusnya begini..

Belajarlah untuk percaya..

hheuu,, inilah esensi yang menurut aku terbaik.. jika kita percaya Tuhan itu memang ada,, sudah sepantasnya kita tidak akan mempermalukan namaNYa.. sudah seharusnya bau harum yang akan tercium dari sikap kita.. *plaakk, sama orang yang jarang mandi*

7. sitijenang - 25 Maret, 2009

mungkin juga orang atheis bisa membuat penganut agama kian yakin dgn apa yg dianutnya. “tuh liat si atheis… ngakunya rasionalitas adalah solusi, tapi menjadi sepintar dia sepertinya tidak membuat bahagia juga. makin banyak pertanyaan menggelayuti pikirannya.”

musuh bersama penganut agama kan mestinya iblis dong, bang. musuh bersama seluruh umat manusia mungkin adalah kejahatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, dengan anggapan bisa terjalin kesepakatan soal nilai-nilai tersebut.

8. weirdaft - 25 Maret, 2009

cuman mau nanya nih sama org2 yang nggak ngaku punya Tuhan, diciptakan Tuhan dan dikasih hidup sama Tuhan.
Pernah nggak sih mikir, gimana jadinya kalo mata anda nggak bisa berkedip selama 15 menit? Saya nggak akan berteori panjang2 apalg bawa2 ayat, karena saya bukan ahlinya. tapi cuma pertanyaan kyk gitu doang. Paman Google punya jawabannya nggak ya? perlu brp lama tuh percobaan dari para scientist buat menjelaskan soal itu dan ngabisin duit brp banyak buat riset?

Kalau Tuhan aja nggak pernah berhenti kasih nikmatNya sama anda yg nggak percaya DIA, kenapa anda harus usik jalan yg ingin dilalui orang2 yg percaya pada DIA (baca : agama) ?

Kalau sebagian umat beragama dan TUHAN SENDIRI tak peduli apakah anda beragama atau tidak, berTuhan atau tidak, kenapa harus anda sebut, bahwa agama itu pengacau?

jadi, buat para Atheis….gimana klo untuk hari ini, mata anda tak usah berkedip????

9. lovepassword - 25 Maret, 2009

Spritualitas atheis setidaknya membuktikan ada something dalam jiwa mereka. Lha ke arah manapun spiritualitas di arahkan mau diarahkan pada kucing atau alam semesta itu akan tetap menabrak logika. Lha atheis gagal total menjelaskan dari sisi ini. Kalo mereka menganggap spirtualitas kepada Tuhan itu bodoh. Atheis lebih ajaib lagi, mereka nggak percaya, menganggap tidak masuk akal tetapi sadar kalo tidak bisa menghindar. Buku Spiritulaitas Tanpa Tuhan juga bisa diintip. Kalo Dawkins memang kayaknya jadi acuan pemikiran atheis Indonesia.

10. Fery - 25 Maret, 2009

“permusuhan antara orang Katolik dan Protestan di Ulster”
> gak pernah denger bos!

“…Islam dan Kristen di Beirut dan Bethlehem”
> Di beirut bukannya malah bersatu melawan Syria?
Yang di Betlehem, gak pernah denger tuh, malah bersatu melawan Israel

“orang Katolik Kroasia dan orang Gereja Ortodoks Serbia dan orang Islam di bekas Yugoslavia”
> Yang ini setahuku Serbia vs Bosnia. Genocide murni bukan karena agama. Karena korbannya muslim Bosnia di Indo diberitakan ini perang karena agama. Belom pernah dengar Katolik vs Orthodoks.

“orang Sunni dan Syiah di Baghdad”
> halah kok cuma ini mas?
Gak tulis muslim keturunan Afrika vs muslim keturunan Arab di Sudan? atow Thaliban di Afghanistan yang menghancurkan semua aliran Islam kecuali Wahabisme? Atow Teroris Pakistan meneror Mumbai kemaren? Gak usah jauh2 kasus dalam negeri aja bejibun.

MENGENERALISIR kasus boleh-boleh saja, tapi lihat juga AKAR PERMASALAHANNYA.

Kalau kasus di Ulster benar, memang Yesus menyuruh pengikutnya untuk memerangi orang atau menyuruh mengasihi musuh?

Kalau kasus di Beirut & Bethlehem benar, memang Yesus menyuruh pengikutnya untuk memerangi orang atau menyuruh mengasihi musuh?

Kalau kasus di Yugoslavia benar, memang Yesus menyuruh pengikutnya untuk memerangi orang atau menyuruh mengasihi musuh?

plis deh

11. Nesia! - 25 Maret, 2009

@Fery.
Yup, saya juga yakin Yesus tak pernah mengajari Anda untuk ofensif. Tapi komentar Anda, setidaknya dalam penilaian saya, terasa of… ah, sudahlah.

12. Fery - 25 Maret, 2009

Ah siapa bilang bos. Sok tahu juga ente :P

Yesus marah waktu pedagang SEMBARANGAN jualan di depan Bait Allah. Ngamuk malah. Diobrak-abrik kiosnya. Itu termasuk ofensif gak?

Defensiflah. Kan pedagangnya JUALAN DULUAN seenak perut.

Kalau untuk menegakkan keadilan dan kebenaran gak ada tuh pemimpin agama yang menyuruh untuk tidak ofensif. Kalau dengan kekerasan ada. Tapi Yesus tidak pernah menyuruh dengan kekerasan. gheetoloh

ngaku2 mantan kristen kok gak tahu sih? jadi curiga

13. sealead - 25 Maret, 2009

@nesia,,,
nah,,,,
apa ku bilang kan,,,,,
siap di mulai nih kyknya…
hehehe

14. demoffy - 25 Maret, 2009

belajar…

sampai tua pun kita juga harus belajar…
mengenai apapun…

15. Ananto - 26 Maret, 2009

Hargailah pilihan orang lain, asal tidak merampas hak orang lain. Di dunia ini memang banyak pilihan mulai dari agama, makanan sampai browser.

16. weirdaft - 26 Maret, 2009

@Ananto
setuju,,,sebaiknya kita nggak mulai saling mengganggu. yg antar agama jgn saling mengganggu, yg gak mau ikutan beragam jg jgn mengganggu, jadi peace aja deh

@nesia
ingat chat kita tempo hari? bener yg kubilang kan? sukaaaa kali bikin kontroversi…ckckckcck….

17. Catra - 26 Maret, 2009

asalkan mereka yang percaya itu juga menghargai mereka yang berbudaya…
nice post

18. HeLL-dA - 27 Maret, 2009

Percaya pada apa yg tak terlihat

Saya jadi keingat dg debat saya dg seorang atheis. Susah saya menjawabnya. :(

19. johan si raja turi - 27 Maret, 2009

salam kasih…

udahlah jangan berdebat tentang agama lagi…karena SEMUA MANUSIA ITU BERASAL DARI KERAJAAN SURGA jadi hendaklah menjadi ANAK-ANAK ALLAH…

bagaimana menjadi anak-anak ALLAH?berlakulah seperti yang diajarkan YESUS KRISTUS…karena dia berasal dr ROH YANG MAHA KUDUS,ALLAH ABRAHAM,ALLAH YAKUB,ALLAH MUSA,ALLAH ELIA DAN ALLAH YESUS KRISTUS…marilah untuk selalu menjaga kekudusan..apapun engkau siapapun engkau…SEDERHANA AJA…JADILAH ANAK-ANAK SURGA..

ciri-ciri anak-anak SURGA:
sabar
pemaaf
kasih
rendah hati
dan belajarlah dr pengalaman hidup YESUS KRISTUS..

suatu saat manusia akan memikul DOSA nya sendiri memikul KEDAGINGANnya sendiri…namun YESUS KRISTUS DATANG AGAR SEMUA MANUSIA MAMPU MENGHADAPINYA KARENA DIA TELAH BANGKIT DAN KEKAL DALAM KEKUDUSAN SAMPAI SELAMANYA.

percayala hanya OLEH BELAS KASIH YESUS KRISTUS KITA DIMAAFKAN untuk melihat KERAJAAN SURGA.

amin
haleluyah ALLAH YESUS DI JERUSALEM DI BUKIT SION..HOSANAH..
ampunilah kami ya ALLAH MAHA KUDUS
ajarilah kami tuk DEKAT BERSAMA ROH KUDUS.
amin.haleluyah

20. johan si raja turi - 27 Maret, 2009

i believe for holy spirit in yesus kristus forever and ever…
because i love human than myself…

siapa yang mau mengikut YESUS KRISTUS dialah yang empunya KERAJAAN SURGA…BUKAN HARTA,BUKAN RUMAH,BUKAN TANAH,BUKAN BAJU,BUKAN MOBIL,BUKAN JUGA SAUDARA KITA itu semua milikNya ALLAH MAHAKUDUS jadi dengan apakah kita memberi persembahan kita kepada ALLA SURGA??
dengan apakah kita membalah kasih karunia ALLAH MAHA KUDUS KERAJAAN SURGA??

dengan HATI SEBAGAI HAMBA ALLAH,HATI YANG RENDAH HATI MENGIMANI ALLAH MUSA,ALLAH ELIA DAN ALLAH YESUS sebagai ROH KUDUS DAN API KEBENARAN.

amin
HALELUYAH…HOSANAH YESUS ANAK DOMBA ALLAH…
SALAM KASIH KARUNIA..
DAMAI LAH INDONESIA DAN BUMI
sian dongan naburju partopi tao toba nauli

21. johan si raja turi - 27 Maret, 2009

ndang adong be labani …
ndang adong be gunani…
sai holan debat agama…
alana amang ta jesus ndang songoni di ulahon,
lam ma hita gabe dakdanak ni jesus…unang taulahon na songoni…

sai anju ma hami on amang na burju..jesus kristus
sai ramoti ma hami dohot pasu-pasu mi amang jesus jala haison ni badan nami jala
sai dongan-dongani hami dohot tondi pinorbadia mi..
maulite godang amang jesus nunga di pamalum ho do rohanami nangpe songoni di pamalum amang do roha nami tu dongan na marsala tu hami..

pujion ma ho amang jesus di surgo nabadia i.
aleluyah
amin

22. Nesia! - 30 Maret, 2009

@Fery
Mantap, mencerahkan. Anda benar2 tipikal murid teladan Kristus. Kok gak dari dulu sih berkenan mengkoreksi saya?

@Sealead
Stay cool. Nothing is wrong about being hot!

@Demoffy
Mantabh!

@Ananto
Termasuk browser ya… Huahahaha

@Weirdaft
Tanpa kontroversi, lha otak segede itu buat apa? :D

@Catra
Yup. Saling menghargai, krna tak ada yg bisa mengklaim lebih tinggi dari yg lainnya.

@Helda.
Harus bisa. Jika harus dilihat dulu baru percaya, lantas apa yg bisa dipercaya orang buta?

@Johan.
Terima kasih khotbahnya. Mudah2an ada yg bisa tersentuh. :D

23. Fery - 30 Maret, 2009

halah siape yg mau ane koreksi? siape pula yg mencerahkan? emang ane bohlam? OFENSIF tuh!

susah juga ngomong sama muke dua

24. Pengembara Jiwa - 30 Maret, 2009

Para pendukung agama tetap saja tidak bisa, tidak dapat, tidak mau dan tidak mampu membuka mata dan hati mereka terhadap berbagai kejadian di bumi ini, yang justru menandakan betapa rendahnya agama2 mereka. Berbagai peristiwa di dunia ini yang mengungkap betapa “hebat”nya agama, misalnya : Islam bunuh2an dengan Kristen di Ethiopia, Indonesia, Irak, Afghanistan, Azerbaijan dan Sudan, Islam bunuh2an dengan Katolik di Filipina, Islam bunuh2an dengan Hindu di India dan Bangladesh, Kristen Protestan bunuh2an dengan Katolik di Irlandia Utara, Budha bunuh2an dengan Hindu di Sri Lanka dan India, Yahudi bunuh2an dengan Islam di Palestina, Kristen Orthodox bunuh2an dengan Katolik di Kroasia, Islam bunuh2an dengan Kristen Orthodox di Bosnia, Sunni bunuh2an dengan Syiah di Lebanon dan Irak, apakah contoh-contoh diatas masih kurang banyak, untuk menunjukkan betapa menjijikannya agama di muka bumi ini, dan kita tetap saja “bangga” dengan kitab suci dan ajaran agama masing2 yang tingkat nalarnya demikian rendah, betapa bodohnya manusia yang patuh saja tanpa bertanya akan agamanya, setelah demikian banyak contoh yang mengerikan tadi diatas. Itu semua adalah contoh nyata dan terang benderang betapa agama yang bersifat kaku, dogmatis, kasar, brutal, kejam dan egois telah “sukses” menularkan “virus iman” yang mematikan kepada umatnya sehingga umat terpaku akan mitos2, simbol2, jargon2 penuh kepalsuan akan “kebesaran” dan “keindahan” agama mereka, yang berakibat semakin rendahnya rasa kemanusiaan. Aneh juga, agama yang berfungsi memanusiawikan manusia dari jaman kegelapan, tetapi malah menjadi ajang saling bunuh, saling serang, saling menjelekkan dll, yang justru menuai benih kegelapan, keterbelakangan, kebodohan dan kemunafikan di dalam diri umat beragama. Jadi apakah pembelaan, penghormatan, pengagungan terhadap agama itu masih diperlukan? Degradasi dan absurbditas agama yang dimanifestasikan kedalam perilaku umat beragama, telah membawa manusia jatuh dalam jurang tanpa dasar suatu keadaan khayalan yang tidak ber-nalar (Delusional State of Insanity) yang membius dan membekukan otak, sehingga nalar menjadi hilang dan akibat selanjutnya adalah munculnya perilaku manusia yang kacau, kejam, brutal, kasar dan egois. Mungkin mata mereka masih tertutup tapi setidaknya hati mereka telah “sedikit” terbuka, tetapi kalau mata mereka masih tertutup dan hati mereka juga masih tertutup, timbulah pertanyaan mengenai bagaimana kualitas keagamaan seseorang? Ujung dari semuanya adalah timbul pertanyaan, apakah ajaran2 agama mereka baik dan benar? Kalau tidak, apakah umat beragama bersedia mengakuinya dengan nalar yang jernih? Beranikah umat beragama merevisi, memodifikasi, me-modern-kan agama2 mereka, sejalan dengan berubahnya ruang dan waktu? Agama terbukti nyata menjauhkan manusia dari kemanusiaan dan itu adalah fakta yang bisa kita rasakan, bisa kita alami, bisa kita saksikan dalam kehidupan kita sehari2 pada jaman sekarang ini. Agama membuat manusia jatuh dalam kegelapan jiwa dan itulah yang harus kita hindari dalam hidup ini…MANUSIA BEBAS

25. murid Jesus Christ - 31 Maret, 2009

Ulasan yang bermutu, membuka wawasan . Thank’s

Memang,
Banyak orang mengaku Kristen , padahal ia tidak mengerti apa itu Kristen.

Banyak orang mengatakan ia membela Tuhan , padahal saat itulah ia menghina Kemahakuasaan Tuhan.

Salam !

26. Nesia! - 31 Maret, 2009

@Pengembara Jiwa.
Salam hormat saya untuk Anda. Sungguh.

@Murid Jesus Christ

Banyak orang mengatakan ia membela Tuhan , padahal saat itulah ia menghina Kemahakuasaan Tuhan.

Huehehehe… Mgkn, itu sebabnya si Dawkins sampe ngatai agama itu delusi rame-rame ya Pak.

27. itikkecil - 1 April, 2009

saya jadi penonton aja bang Toga….
buat saya agama itu masalah pribadi sih… jadi ngapain harus ngotot kalau agama saya yang paling benar…..

28. gilang mahardika - 1 April, 2009

yah namanya juga masi BELAJAR*persis sperti judul diatas*..
mau gag mau harus ada proses lah.. dimna setiap orang ngalamin perubahann…
buat bang toga mungkin akang fery ada benarnya.. namanya agama yang dibawa adalah hal rancu.. jika memang mau membuat postingan tentang hal sperti ini mungkin harus di dalami dulu sejarah2nya.. kita kan gag bisa menutup kemungkinan kalo akang fery memang jauh lebih DULU dan lebih pintar dalam berAGAMA.. hehe..

@ murid Jesus christ
wah2,, sombong banget anda.. (tidak mengerti kristen).. truz yang mengerti itu ukuranya yang keak gimana yah?? jgn bilang deh keak kamu netter nya..

29. Nesia! - 1 April, 2009

@Gilang.
Saya rasa, mendalami sejarah sebelum menulis sesuatu itu, itu level idealistik. Semestinya memang begitu. Tapi kalo harus selalu gitu baru mulai nulis, bisa2 setahun belum tentu ada posting baru. Dan begitu jadi, cocoknya bukan jadi posting, tp mungkin skripsi.

Yg kucoba tulis adalah buah pikiran, yg tentu saja tidak mesti sama dgn yg dipikirkan orang. Itung2 belajar menulislah. Oleh karenanya, di bagian bawah ada kolom komentar bebas, di mana pikiran itu bisa didukung, disetujui, atau juga dikoreksi bahkan dikecam habis-habisan.

Kita ga usah takut salah, selama kita punya kerendahan hati untuk menyadari kalau kita memang bisa saja salah.

Soal komen dari murid Jesus Christ, sy kok ga melihat ada kesombongan dalam komennya ya? Mmg benar kan, banyak orang mengaku2 (dan bahkan bangga berlebihan) sebagai penganut sebuah agama, tidak saja Kristen ya, tp sebenarnya ga tau apa2 ttg agama yg dianutnya itu?

Piss Bro! :D

30. Pejalan Nurani - 2 April, 2009

Spiritualitas, Agama dan Tuhan (SAT) adalah 3 hal yang berbeda, janganlah dicampuradukkan. Per definisi : Spiritualitas (S) adalah kesadaran manusia akan kenyataan dalam semangat atau jiwa yang bersifat bukan material (kebendaan). Agama (A) adalah pemikiran sekelompok manusia berupa kepercayaan dan keyakinan akan keberadaan sesuatu yang lebih tinggi. Tuhan (T) adalah (katanya) suatu yang maha tinggi yang bersifat maha kuasa dan pencipta alam semesta. SAT bisa berdiri beriringan, setengah beriringan atau tidak beriringan sama sekali. Contoh : Orang Kristen dan melakukan pembunuhan berantai (Ted Bundy), Orang Islam dan membom café (Amrozi cs), Orang Katolik dan menolong kaum miskin (Mother Teresa), Orang Yahudi dan membantai para pengungsi (Ariel Sharon), Orang Islam dan menjadi juara dunia bulutangkis (Taufik Hidayat), Orang Yahudi dan menciptakan Facebook (Zuckerberg) dll. Cobalah perhatikan contoh diatas, jelaslah bahwa S, A dan T mempunyai “wilayah operasional”nya masing2. Kita tidak bisa bilang secara pasti bahwa Amrozi cs tingkat SAT-nya lebih tinggi dari Taufik Hidayat, begitu pula apakah tingkat SAT-nya Ted Bundy pasti lebih rendah dari Zuckerberg, apakah tingkat SAT-nya Taufik Hidayat pasti lebih tinggi dari Ariel Sharon dll. Ketika kerancuan muncul, maka manusia dapat terkecoh akan fakta yang diterima oleh panca indera, tanpa lebih jauh berpikir bahwa apa yang kita terima lewat panca indera kita sesungguhnya adalah bukan yang sebenarnya. Seseorang barulah disebut manusia sejati bila tingkat SAT nya berada dalam keadaan yang tertinggi, meskipun tinggi itu sendiri adalah terminologi yang relatif. Agama dan Spiritualtas bisa kita lihat manifestasinya dalam perilaku (behavior) kehidupan manusia sehari2. Sedangkan Tuhan adalah suatu misteri sebab secara logis, obyektif, rasional kita tidak bisa buktikan ADA dan tidak bisa pula kita buktikan TIDAK ADA. Tetapi jika kita manusia merasakan bahwa kita punya hati nurani yang selalu menyuarakan suara hati yang mengatakan ini boleh dan itu tidak boleh, ini benar dan itu tidak benar, ini baik dan itu tidak baik, maka itu mungkin (sekali lagi mungkin) itu adalah Spiritualitas yang berasal dari Tuhan. Jadi jika ada yang berpendapat bahwa Spiritualitas tanpa Agama dan Tuhan tanpa Agama, itu masih bisa diterima oleh nalar. Tetapi jika ada yang berpendapat Agama tanpa Tuhan, Spiritualitas tanpa Tuhan dan Agama tanpa Spiritualitas, itu tidak bisa diterima oleh nalar. Tuhan dan Spiritualitas adalah lebih penting dari Agama, karena Tuhan dan Spiritualitas justru lebih dekat dengan kemanusiaan daripada Agama. Salam Indonesiaku!!

31. johan - 3 April, 2009

teman2 ku…hendaknya kita punya iman sebiji sawi untuk menjadi anak-anak Allah,sebab banyak orang mengaku kenal Allah dan Roh Kudus namun pakai mobil mewah ke gereja???????MENGAPA DEMIKIAN??????
lihatlah dan pahamilah sang mesias juru slamat kita aja YESUS KRISTUS telah memberikan contoh bagaimana untuk masuk ke ruang kudus=gereja, tidak punya apa2 menggunkan keledai untuk menuju mezbah Allah..itulah teladan bagi kita semua.sederhana

jadi percuma kita membangga-banggakan BUMI INI,HARTA INI,RUMAH INI,JABATAN INI…namun kesia-siaan di hadapan Allah.
namun berilah hati sebagai HAMBA ALLAH maka kita akan diampuni TUHAN YESUS.

amin.
bersama kita bisa menuju kerajaan SORGA.

32. Ryan Shinu Raz - 3 April, 2009

Horas.. !!!

Wah…sepertinya ada babak baru disini. Lae…untuk menetralisir keadaan gimana kalau buat postingan yang kira2 memberikan gambaran dunia ini yang justru kalau misalnya agama sama sekali tidak ada. ( He..he..maaf lae.. dari dulu cuma ngasi2 usul2 yang gak jelas ya?) Tapi kan setidaknya lebih berimbang daripada banyak diantara kita yang juga ikut-ikutan menuduh agama adalah sumber kekacauan itu sendiri.

Kalau menurut saya sih lae, alasan awal paling masuk akal kenapa manusia itu beragama adalah karena manusia percaya ada kekuatan lain di dunia ini yang lebih dasyat, hebat, maha kuat dsb dibanding kekuatan manusia itu sendiri. Maka tidak heran kalau dulunya juga agama itu dimulai dari penyembahan2 kepada hal2 yang besar. seperti Pohon yang besar, Batu, Matahari, Bulan, Petir dsbnya yang manusia yakin bahwa mereka tidak pnya dan tak mampu menahan kekuatan itu. (Mulai gak nyambung ya? ha..ha…tapi seperti kata lae, itung2 belajar menulis. Toh kotak komentar masih tersedia panjang dibawah untuk mengoreksi bahkan mengecam. ya kan lae..?)

Horas.. !!!

33. gilang mahardika - 3 April, 2009

itu dya bang.. kadang orang merasa orang lain salah dan tidak mengertii karena takaran yang ia pahami.. jujur aku liat blog ini layaknya forum setiap orang mengaspirasikan pikiranya…
*walaupun bnyak yang aneh2 si*
cuma itulah kehidupan.. gag bisa dipandang dalam satu wadah otak seberat beberapa ons saja..
cth seperti itik kecil yang koment agama adalah milik pribadi ,, jadi ngapain ngotot kalau AGAMA saya yang paling BENAR..

pcaya gag pecaya itu malah membuat statement dimana publik akan lebih protes.. seakan dia tahu dimana kebenaran yang hakiki.. padahal pasrah dengan keadaan lah yang membuatnya begitu..

malah aku lebih respect dengan orang yang bercuap2 entah kemana daripada yang dengan sombongnya berkata seperti itu…
orang lain bilang itu bijaksana?? i dont think so..

yahh,, sudah lah aku tidak ingin memunculkan perdebatan.. hehe..

34. lovepassword - 5 April, 2009

Bagaimana kalau kamu tambahin gini juga : Belajarlah menghormati yang tidak percaya :) :) :) . Biar adil gicu lho

35. zal - 6 April, 2009

::hebat kali blog abang ini, kalau dulu ada blog yg dikenal dengan nama wedehel, mempunyai back yang banyak untuk meletupi “pendatang haram” tapi disini lain, macam inggris yang menyediakan lahan untuk ditinggali bangsa palestina dan israel.. ,
paten..!!!, itu pujianku untuk blog abang ini, sebab mungkin entah kapan akan menyadarkan bahwa siapapun aslinya tak memilih lahir dari bapak dan ibu siapa.., termasuk juga tak memilih bapak dan ibu beragama apa..,
kalaulah mulai menilik diri, “yang mengenal akan dirinya mengenal akan tuhannya” tentu juga akan mengenal “aku bersama bapa, tak ada yang sampai kepada bapa kecuali melalui aku”…
tapi kalau tak ada yang berdebat…engga enak juga barangkali..eh..koq barangkali.., eh iyalah…menghanyut.. :)

36. Che - 7 April, 2009

Jadilah dirimu sendiri…………….

Ok…………….

37. kelapamuda - 10 April, 2009

atas nama bapa dan putera dan roh kudus…tiada tuhan selain allah, muhamad adalah rasul allah…orang indonesia seharusnya cerdas, ditipu2 sama orang arab dan palestina yang biadab dan bodoh, kok mau aja, alangkah bego nya!!

38. romailprincipe - 14 April, 2009

Halo, senang juga membaca ini..
Moga-moga, agama apapun anda dapat menemukan kebenaran yang hakiki, bukan ajaran manusia, bukan dari ideologi bangsa dan negara, bukan simbol2, tetapi pribadi sendiri menemukan kebenaran.
Gimana caranya?
ketika meyakini sesuatu, dan benar-benar merasakan kedamaian dan watak yang diubahkan ke lebih baik maka kemungkinan itulah Jalan yang baik.. Karena menurut saya dasarnya manusia adalah pendosa..
Koreksi? Malah makin gelap?hehe…
Semangat menulis lah..

39. aku ciptaan Tuhan - 1 Juni, 2009

buat yang punya blog ini.orang atheis pun perlu disadarkan,
anda ada didunia klo ga seijin Tuhan,ijin siapa dunk?pencipta anda juga adalah Tuhan kan? sadar dunk……. aku dulu juga atheis lho
aku sadar bahwa aku hidup itu perlu Tuhan,karena Tuhan juga lah yang ciptain aku sehingga ada didumia ini.
buat semua orang yang masih atheis……
aku dapatin makna hidup bukan dari pendeta atau kyai.tapi dari Firman Tuhan langsung yang memberikan pengertian luar biasa tentang jalan kepastian masuk surga….! bagaimana?
mereka bertengkar agama karena pikiran mereka selalu fanatik.
siapapun yang baca,aku siap bimbing kalian menuju jalan kesurga,dari pada anda nanti mati sia2 masuk neraka.bahkan hidup tanpa Tujuan,
ayo pakai ratio yang sehat

hub: aan_ewa@yahoo.com

40. Maren Kitatau - 2 Juni, 2009

@aku

Atheis nggak perlu nasihat, kurasa.
Malah mereka ganas menasehati kita.
Aku tak tau apa tujuan “kebaikan” mereka itu.
-

Salam Damai!

41. heavenless - 2 Juni, 2009

@No39.
siapapun yang baca,aku siap bimbing kalian menuju jalan kesurga,dari pada anda nanti mati sia2 masuk neraka.

emangnya udah bolak balik berapa kali dari sana bos?

42. Hari - 26 Juni, 2009

Bagi atheist yang diceritakan adalah data-data perseteruan antar pemeluk agama atau Sekte dalam Agaama ? Sebagaimana yang ditulis oleh si Pengembara Jiwa di bawah ini :

Para pendukung agama tetap saja tidak bisa, tidak dapat, tidak mau dan tidak mampu membuka mata dan hati mereka terhadap berbagai kejadian di bumi ini, yang justru menandakan betapa rendahnya agama2 mereka. Berbagai peristiwa di dunia ini yang mengungkap betapa “hebat”nya agama, misalnya : Islam bunuh2an dengan Kristen di Ethiopia, Indonesia, Irak, Afghanistan, Azerbaijan dan Sudan, Islam bunuh2an dengan Katolik di Filipina, Islam bunuh2an dengan Hindu di India dan Bangladesh, Kristen Protestan bunuh2an dengan Katolik di Irlandia Utara, Budha bunuh2an dengan Hindu di Sri Lanka dan India, Yahudi bunuh2an dengan Islam di Palestina, Kristen Orthodox bunuh2an dengan Katolik di Kroasia, Islam bunuh2an dengan Kristen Orthodox di Bosnia, Sunni bunuh2an dengan Syiah di Lebanon dan Irak, apakah contoh-contoh diatas masih kurang banyak, untuk menunjukkan betapa menjijikannya agama di muka bumi ini, dan kita tetap saja “bangga” dengan kitab suci dan ajaran agama masing2 yang tingkat nalarnya demikian rendah, betapa bodohnya manusia yang patuh saja tanpa bertanya akan agamanya, setelah demikian banyak contoh yang mengerikan tadi diatas. Itu semua adalah contoh nyata dan terang benderang betapa agama yang bersifat kaku, dogmatis, kasar, brutal, kejam dan egois telah “sukses” menularkan “virus iman” yang mematikan kepada umatnya sehingga umat terpaku akan mitos2, simbol2, jargon2 penuh kepalsuan akan “kebesaran” dan “keindahan” agama mereka, yang berakibat semakin rendahnya rasa kemanusiaan. Aneh juga, agama yang berfungsi memanusiawikan manusia dari jaman kegelapan, tetapi malah menjadi ajang saling bunuh, saling serang, saling menjelekkan dll, yang justru menuai benih kegelapan, keterbelakangan, kebodohan dan kemunafikan di dalam diri umat beragama. Jadi apakah pembelaan, penghormatan, pengagungan terhadap agama itu masih diperlukan? Degradasi dan absurbditas agama yang dimanifestasikan kedalam perilaku umat beragama, telah membawa manusia jatuh dalam jurang tanpa dasar suatu keadaan khayalan yang tidak ber-nalar (Delusional State of Insanity) yang membius dan membekukan otak, sehingga nalar menjadi hilang dan akibat selanjutnya adalah munculnya perilaku manusia yang kacau, kejam, brutal, kasar dan egois. Mungkin mata mereka masih tertutup tapi setidaknya hati mereka telah “sedikit” terbuka, tetapi kalau mata mereka masih tertutup dan hati mereka juga masih tertutup, timbulah pertanyaan mengenai bagaimana kualitas keagamaan seseorang? Ujung dari semuanya adalah timbul pertanyaan, apakah ajaran2 agama mereka baik dan benar? Kalau tidak, apakah umat beragama bersedia mengakuinya dengan nalar yang jernih? Beranikah umat beragama merevisi, memodifikasi, me-modern-kan agama2 mereka, sejalan dengan berubahnya ruang dan waktu? Agama terbukti nyata menjauhkan manusia dari kemanusiaan dan itu adalah fakta yang bisa kita rasakan, bisa kita alami, bisa kita saksikan dalam kehidupan kita sehari2 pada jaman sekarang ini. Agama membuat manusia jatuh dalam kegelapan jiwa dan itulah yang harus kita hindari dalam hidup ini…MANUSIA BEBAS

MANUSIA BEBAS … Makanya bebas pula untuk mempertayakan apa yang diceritakan ? Masalah-masalah yang dibahas itu … Kalau ditanyakan lebih jauh ? Apakah benar motif AGAMA ? Atau motif2 PERSONAL ? Ego si Pemimpin, Ketakutan akan terampasnya sumber ekonomi ? Dan ribuan alasan yang sebenarnya daripada alasan yang tampil di permukaan, yaitu perang agama atau sekte agama ? Karena persoalan agresifitas ? Kasih sayang atau cinta ? Keinginan damai ? Dan ke-aku-an, apakah itu bukan merupakan hal yang sudah terlekat ke diri manusia ? Sudah built in ke diri kita ? Apapun agama kita ? Dengan EMPATI-lah, maka kerjasama, koordinasi atau sinergi sering dilakukan ? Tapi kalau ANTIPATI yang diketengahkan ? Maka perseteruan, percekcokan atau baku hantam merupakan jalan keluar yang sering dilakukan ? Tapi kenapa kerjasama dan pertentangan ? Banyak dilakukan ? Jadi kalau mau lebih dalam mengorek-ngorek persoalan pertentangan agama itu ? Sebenarnya persoalannya berkisar di seputar EGO PEMIMPIN dan SOAL EKONOMI ? Yang dibawa ke ranah publik dengan segala justifikasinya ?

Kalau itu yang diserang kaum atheist ? Sepertinya salah alamat ? Karena seperti itulah manusia ? Bekerjasama dan berantem sepertinya merupakan hal yang saling melengkapi. Jadi bukan agamanya ?

Tapi kalau atheist menyerang konsepsi keTUHANan yang ada ? Barulah itu asyik untuk didiskusikan ? Yang diserang atheist itu existensi tuhan ? Dengan menisbikan keberadaannya ? Atau konsepsi ketuhanan yang dianut oleh pemeluknya ? Sepertinya yang terakhir ini yang diserang ? Karena konsepsi ketuhanan dari pemeluknya ini ? Tergantung MILLEU dari pemeluknya sendiri ? Dan ini tergantung dari sosio kultural perkembangan masyarakat yang ada ? Sedangkan soal existensi TUHAN, tidaklah terikat dengan MILLEU suatu masyarakat ? Penjelasan atas existensi tersebutlah yang membedakannya ? Kalau masyarakatnya semakin WELL EDUCATED, maka penjelasan akan existensi TUHAN yang dijelaskan melalui KETERATURAN dan ke SOFISTIKASIAN obyek yang ada di alam semesta ini akan jauh berbeda. Ini adalah soal POINT OF VIEW atas pemaknaan OBYEK-OBYEK yang ada. Bagi THEIST, maka OBYEK-OBYEK TERSEBUT dapat mengarahkan dirinya ke SANG PENCIPTA, tapi bagi ATHEIST, maka OBYEK-OBYEK tersebut maknanya apa yang TERSURAT SAJA tidak dikaitkan dengan YANG MENCIPTAKAN OBYEK tersebut. Suatu PERBEDAAN yang MENDASAR dan berimplikasi ke masing-masing individu dengan RESIKO yang SUNGGUH BERAT.

Kalau TESIS dari THEIST benar, bahwa TUHAN itu ada dan dengan ADANYA TUHAN itu, maka TUHAN BISA saja menciptakan SURGA dan NERAKA yang KEKAL ABADI ? Bagi yang TIDAK PERCAYA tentang keberadaannya TUHAN, maka akan terjadi kecelakaan sangat besar, karena harus menghadapi NERAKA yang SIKSAANNYA LUAR BIASA itu dalam waktu TAK BERHINGGA …

Tapi kalau TESIS bahwa ATHEIST yang BENAR, maka apa RUGINYA bagi THEIST ? Kan namanya SURGA dan NERAKA itu TIDAK ADA ? Jadi hidup itu ya di dunia saja dan itu sudah dijalaninya ?

Ini soal PROBABILITAS yang TARUHANNYA TIDAK SEBANDING … ? Kalau masih NGOTOT dengan KEYAKINANNYA ? Monggo ? Mau TARUHAN dengan taruhan beresiko SANGAT TINGGI ? Kalau BERHASIL … Tidak mendapatkan apa-apa. Tapi kalau SALAH … Hasilnya … SANGAT … SANGAT … SANGAT … SANGAT AMAT LUAR BIASA … ? Bisa mikir sendiri kan ?

43. Maren Kitatau - 26 Juni, 2009

@Hari

Menurutku nih,
Pertumbuhan itu tiga …hehe!
Kanak, dewasa, tua.
Penguasaan diri juga tiga,
Tubuh, jiwa dan roh.

Awal menguasai tubuh, jatuh-jatuh.
Awal penguasaan jiwa, gila-gila,
Awal penguasaan roh, aneh-aneh.

Subsitusikan pd segala hal,
Termasuk kepada Agama.
Agama pun tumbuh begitu

Agama sedangkal tubuh,
Agama sejauh jiwa,
Agama setinggi roh.

Atheis tak tau itu.
Kita belum setinggi itu.
Sabarlah, At!
-

Salam Damai!

44. Hari - 28 Juni, 2009

To : Maren Kitatau

Menurutku nih,
Pertumbuhan itu tiga …hehe!
Kanak, dewasa, tua.

Bukannya EMPAT ?
Kanak, remaja, dewasa, tua … ? (tergantung point of view seseorang kan ?)

Terus yang ATHEIST mana nich … KOK NGGAK MUNCUL u- berargumentasi … ? Kenapa … ?

Maren Kitatau - 29 Juni, 2009

Ya!
Poinmu itu bisa dijadiin lima … bangka!
Juga pd keberadaan kita, lahir-hidup-mati
Bisa tambah jadi lima +… sakit2 dan sekarat!

Bepikirlah tiga dulu,
Lain-lain menyusul.
-

Salam Damai!

45. Hari - 29 Juni, 2009

U- yang SATU itu … Aku tetap berpikir SATU … Tidak akan KUTAMBAH apalagi KUKURANGI …

U- yang lain …
Aku TIDAK MENGACU ke DUA, ke TIGA, ke EMPAT atau ke yang lebih banyak lagi …
Aku SENANG dengan SUDUT PANDANG … ?
Karena …
Namanya saja SUDUT … Maka jumlahnya bisa lebih dari 1 …

46. Maren Kitatau - 29 Juni, 2009

@Hari
Nadanya Akang ini bagai sudah dicekal abis.
Tak bisa lagi bicara hidup dan kehidupan.
Selalu sudi pd Yang SATU doang, seolah aku mengajak tiga..ahh!
-

Salam Pikir Tiga!

47. nuri - 29 Juni, 2009

Dengan Agama hidup bisa lebih terarah..
Agama yang bisa diterima dengan akal sehat itulah agama yang benar. Tidak ada tuhan…. Kecuali Allah..!!! Sumpah..

48. nuri - 29 Juni, 2009

Dengan Agama hidup bisa lebih terarah..
Agama yang bisa diterima dengan akal sehat itulah agama yang benar. Tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah..!!! Sumpah…

___ISLAM ITU CINTA DAMAI___

49. deni - 29 Juni, 2009

Agama berbicara “kalau itu benar ya benar, dan kalau itu salah ya salah”
Apakah anda rela hak anda dirampas oleh orang lain ??
Manusia yang kerjaannya hanya bisa merampas hak orang lain terus karena dia memang ngga mengerti.
Oleh karena itu kita harus berpegangan dengan agama, dengan agama kita diarahkan untuk menjadi orang baik, dan supaya dapat mengerti perbedaan antara yang benar dan yang salah, ini adalah sebagai salah satu contoh dalam agama.

Islam..Peace…

50. Hari - 30 Juni, 2009

Ini blog … sebenarnya u- yang atheist … tapi kemana yach yang atheists itu ? Kok nggak nongol-nongol ? Yang banyak nongol yang ISLAM dan KRISTEN ? Nanti yang banyak nongol berdebat sengit … maksudnya diskusi sangat seru … yang ujung-ujungnya … lakum dinukum waliadiin.

Penginnya sich … yang atheist itu banyak nongol sehingga kita tahu argumen kritisnya ? Sebenarnya argumen mereka itu kritis atau ketidak mautahuan atas sejumlah fakta.

51. Toga Nainggolan - 30 Juni, 2009

Mas Hari, mgkn jg karena mrka merasa kt2 yg beragama ini ga layak dijadikan sparring partner berdenat. Abis, emosian sih, wakakakakak…

annisa - 3 Juli, 2009

emang bener juga sih…^_^ bwkwkwkwkwk..mungkin karena kita2 yang beragama ini suka emosian ga jelas gitu kalo diajak diskusi secara logika, jadi para atheist “ilfeel” duluan deh…^_^

52. Maren Kitatau - 30 Juni, 2009

@Bang Toga

Kemungkinan lain mereka lagi bersabar, “wait and see!”.
Jika kita semangkin akur mereka ikut pelan,
Jika kita semakin ancur mereka ribut kencang,
Let’s see what they see!
-

Salam Damai!

53. Hari - 30 Juni, 2009

U- Saudaraku Lae TOGA NAINGGOLAN

Padahal mereka juga tahu pandangan HEGEL tentang spiral pemikiran TESIS – ANTITESIS dan SINTESIS ? Kenapa harus takut argue yach ? Belum tentu apa yang diketahui itu sudah mumpuni ? Bagaimana tahu bahwa pandangannya itu mumpuni atau tidak ? Kalau tidak berkomunikasi ? Dan komunikasi yang baik adalah dengan berdiskusi secara jujur berdasarkan DATA, FAKTA, KRONOLOGIS dan PEMAKNAAN ?

Tapi ada yang GENERAL … Yang saya tahu ? Kenapa yach … Banyak mahasiswa-mahasiswa KEDOKTERAN yang karena dihadapkan pada ke SOFISTIKASIAN yang namanya MANUSIA itu ? Maka sangat sedikit kalau tidak boleh mengatakan HAMPIR TIDAK ADA yang namanya ATHEIST ? Tapi kenapa di FAKULTAS2 yang berbasis SOCIAL SCIENCE ? Banyak sekali yang ATHEIST ? Bahkan … Jadi mode yang trendy … begitulah ?

Yang satu (mahasiswa2 FK) tahu tentang HEBATnya penyusunan manusia ? Sehingga TIDAK AKAN MUNGKIN ADA itu namanya MANUSIA kalau tidak ada kekuatan yang MAHA …. Yang bisa membentuk MANUSIA seperti itu ? Dari hal neuron, dendrit, DNA, RNA yang begitu MENAKJUBKAN yang fungsinya luar biasa itu ?

Tapi di sisi lain, ada pihak yang berangkat dari pemikiran DISPARITAS SOSIAL (terjadinya kemiskinan struktural) yang membuat seseorang akan MELARAT seumur-umur ? Dan TUHAN seakan-akan berpihak ke YANG KUAT (Supra Struktur) dan TUHAN TIDAK MAU TAHU dengan TEKANAN SOSIAL yang LUAR BIASA ini ? Makanya keberpihakan ke yang MELARAT adalah CARA TUHAN untuk mengubah keadaan orang-orang MELARAT yang sudah kehilangan ke AKU an dan ke EGO annya, untuk BANGKIT agar BERMARTABAT ? Bukan begitu saudaraku Lae TOGA ?

annisa - 3 Juli, 2009

Mas hari, setiap manusia itupunya pilihan tersendiri, entah mereka mau “percaya” ataupun “tidak percaya”, mau beragama ataupun tidak beragama. Pada akhirnya diri mereka sendiri yang menjalani hidupnya. Perihal masuk surga atau neraka, yaa~ mereka sendiri yang menjalaninya, emangnya anda mau nolongin mereka kalo mereka masuk neraka? trus emangnya anda mau nebeng masuk surga kalo mereka masuk surga? Ya~ enggak kan…sekarang yang lebih penting adalah, kita-kita yang beragama ini jangan mengusik kepercayaan orang lain kalo ga mau diusik juga~ ^_^

54. Toga Nainggolan - 30 Juni, 2009

@Maren.
Mgkn juga… Dan itu menyedihkan sebenernya, kalo atheis ternyata bisa bersabar, pdhl org beragama yg bolak-balik diperintah Tuhannya untuk bersabar… :-D

@Hari,
Menarik itu, Pak. Tp tentu harus ada penelitian soal itu, demi statistik yg akurat. Soalnya, ilmu kedokteran jg berpotensi menggiring orang untuk melihat tak adanya signifikansi tuhan.

Lupa saya persisnya, tp sy pernah denger cerita, ketika seorang dokter dgn ketus ngomong sama keluarga pasien, yg komat-kamit berdo’a. “Bukan do’a yg dia perlukan, tp obat2an yg akan kuberikan!”

55. Maren Kitatau - 30 Juni, 2009

Tapi dokter yg tadi tak nerti apa obatnya kesurupan.
Kesurupan itu kiwari semakin trendi sebab …
Bahkan rame-rame karena …
-

Salam Damai!
NB:
Roh yg ada di dalam dirimu,
Lebih besar dari pada roh yg ada di dalam dunia.
Aku percaya ini!

56. Hari - 1 Juli, 2009

Kemana nich atheists nggak nongol-nongol ? Kenapa ? Atau kalau nggak keberatan Lae Toga sendiri berakting sebagai atheist ? Bagaimana Lae ? Agar ada diskusi kembali supaya jangan mandek ?

57. Toga Nainggolan - 1 Juli, 2009

Huahakakakakaka… Berakting jadi atheis! Kita tunggulah aku kesurupan ruh seorang atheis. Tentu saja itu bisa terjadi, jika Tuhan menghendaki. Berakting jadi atheis, atas izin-Nya. Wakakakaa… Ada2 aja si bos ini.

Maren Kitatau - 2 Juli, 2009

Jangan mau, Lae!

Nodong itu mulanya acting belati.
Garong mulanya acting sepetolan.
Kini reacting-nya selalu Pestol and Rose.
Pestol and Rose dia bawa kemana pergi
Pun denger melati kedengarannya belati.
Repot dah, Lae!
-

Salam Dame!
NB:
Bertandang dong bang…
Keblog-ku plis!

58. Hari - 6 Juli, 2009

To : annisa

Tks saudariku annisa

Bahwasanya pilihan orang memang beda-beda, untuk hal apapun juga, termasuk soal agama ? Tapi ternyata dalam perjalanan kehidupan seseorang, pilihan yang telah dipilih sebelumnya itu bisa berubah ke pilihan lainnya ? Kenapa ? Salah satunya dengan diskusi ? Atau adanya pilihan-pilihan yang lebih baik, makanya dia memilih pilihan yang lebih baik itu.

Dalam hal beragama, ada hal yang SANGAT BERBEDA daripada pilihan-pilihan yang NYATA ? Dimana pengukuran atas pilihan-pilihan NYATA tersebut lebih konkrit ? Makanya akan mudah untuk memberikan NILAI atas VALUE yang ada ? Soal AGAMA ? Wow SUSAH SEKALI ? Karena menyangkut persoalan TRANSENDENTAL ? Karena apapun pilihan atas hal TRANSENDENTAL ini buktinya adanya setelah mati ?

59. Hari - 6 Juli, 2009

Tapi manusia diberi kemampuan pikiran yang BEBAS … Yang bisa mengkaji, menganalisis dan membuat kesimpulan yang akhirnya bisa membenarkan atau menyalahkan atas suatu konsep atau pikiran juga ?

Tapi bisa juga karena keogahan atau kemalasan, maka TIDAK TERTARIK dengan masalah-masalah yang terlalu jauh ? Yaitu soal TUHAN ? Dan menghina orang-orang yang ber TUHAN sebagai kaum yang BODOH ? WHY ?

Disepakati bahwa persoalan BIG BANG … adalah soal ASAL MUASAL ALAM SEMESTA. Suatu kejadian yang melibatkan energi … triyun … trilyun … trilyun derajat celcius (Baiquni – Pakar ATOM Indonesia) yang melontarkan material yang begitu banyaknya dan begitu besar-besarnya … ke segala penjuru yang tak berbatas ? Atas nama OBYEKTIFITAS, maka peristiwa BIG BANG ini … adalah peristiwa TUNGGAL tanpa terkait dengan SANG PENCIPTA ? Benarkah ? Suatu PERNYATAAN yang begitu SOMBONG, AROGAN, CONGKAK dan TENGILNYA ? Di release ke public ? Padahal hubungan KAUSALITAS –Sebab – Akibat– adalah hukum pertama yang diketahui manusia. Tidak ada akibat tanpa sebab, sebablah yang menyebabkan akibat ? BIG BANG adalah akibat, maka sebabnya itu siapa ? Kalau bukan TUHAN atau KEKUATAN yang SANGAT … SANGAT … SANGAT SUPER PERKASA ? TUHAN atau KEKUATAN yang SANGAT … SANGAT … SANGAT SUPER PERKASA itu namanya siapa ? Para NABI tahu bahwa namanya ALLAH. Kenapa FILOSOF yang adalah seorang PEMIKIR tidak tahu ? Bagaimana bisa tahu kalau tidak diberi tahu oleh yang EMPUNYA nama. Toh kalaulah seandainya diberitahu ? Belum tentu FILOSOF akan memberitahukannya ? Karena konsepsi OBYEKTIFITAS lah yang menghalangi seseorang menginformasikan tentang ALLAH ?

Inilah hak PREROGATIF ALLAH ? Memberikan kekhususan kepada siapa yang DIA kehendaki ? Dalam hal ini adalah para NABI. Kalau FILOSOF nggak diberi tahu … JANGAN SEWOT DONK ? Namanya saja HAK PREROGATIF ALLAH ?

60. ........... - 18 Januari, 2010
61. Jo - 22 Januari, 2010

Hmmm aku ga percaya agama apapun, tapi aku percaya Tuhan itu ada.. dan aku ga menganggap aku atheis.

Hak manusia juga kan percaya pada Tuhan walaupun tidak (sepenuhnya) percaya pada agama yang manapun?

Peace :D

*masuk agama tertentu artinya masuk komunitas agama itu – dengan tafsiran-tafsiran sempit dan manusiawi yang kadang salah kaprah.. *