jump to navigation

Kematian Itu Bukan Lawan, tapi Unsur Kehidupan 26 Februari, 2009

Posted by Toga Nainggolan in energi, filosofi, gairah, inspirasi, kehidupan, kematian, kutipan, opini, spiritualitas, sri aurobindo.
trackback
smarthistory.org

sumber: smarthistory.org

Memposisikan kematian sebagai lawan dari kehidupan, seperti hitam dengan putih, atau kosong dengan penuh, adalah sebuah kesalahan mentalitas, kekeliruan pada inti pemahaman, walaupun sepertinya benar pada tataran permukaan.

Ini sama kelirunya dengan menyamakan derazat kecantikan dengan tingkat kecerahan warna kulit, atau menilai kesucian air dari tingkat kejernihannya. Hehehe, belum tau ya, banyak cairan paling mematikan itu justru beniiing banget. Atau apa penglihatannya ga begitu bagus ya, untuk bisa menenemukan kenyataan, bahwa kulit legam pun punya keindahannya sendiri?

Kematian tak lain tak bukan cuma sebuah, atau salah satu proses dalam kehidupan. Pemisahan substans-substansi sekaligus pembaruan substansi-substansi. Pemeliharaan dan perubahan bentuk-bentuk, adalah proses tak berkesudahan dalam hidup. Dan memang, kematian adalah bentuk perubahan yang besar dan cepat dari format kehidupan itu. Perubahan yang memang diperlukan kehidupan demi keberlanjutan kehidupan itu sendiri.

Bahkan dalam “kematian” tubuh itu, sesungguhnya tak ada satu pun yang mati. Hanya pecah terurainya materi dari sebuah bentuk, yang dibutuhkan sebagai materi untuk membentuk format kehidupan lainnya.

Dengan cara yang sama, kita pun dapat mengerti, dalam kerangka hukum alam atau sunnatullah yang seragam, bahwa energi yang ada dalam zat-zat yang terurai dan berubah tadi, termasuk energi yang kita kenal sebagai jiwa dan mental, tak ada yang musnah atau menghilang; hanya berpindah tempat atau berubah bentuk, untuk selalu menyediakan energi dan jiwa, bagi bentuk-bentuk kehidupan berikutnya.

Semua membarukan dirinya, tak ada yang beranjak pergi dan menghilang dari sini.

Terinspirasi dari The Life Divine, Sri Aurobindo.

Komentar»

1. lovepassword - 26 Februari, 2009

Mengapa bukan hidup itu unsur kematian? Hi hi Hi

2. roberthendrik - 27 Februari, 2009

ehmmm menurut saya kematian bukan unsur kehidupan.. tapi KEMATIAN merupakan KONDISI tanpa kehiupan.

sama seperti gelap bukan unsur erang tepi gelap merupakan ketiadaan terang dalam arti terang bisa dibikin lebihterang tapi gelap ada batasnya..

sama juga dengan energy panas.. dingin merupakan ketiadaan panas. batas minimum dingin adalah -273 derajat kelvin , saat semua partikel berhenti bergerak tapi panas bisa dibikin makin panas tanpa batasan.

3. gilang mahardika - 27 Februari, 2009

@reoberthendrik
kalo menurut gw yang dibilang bang toga bener banget. gag taw kenapa yang ngebuat gw pikir kyk gtu, tapi jelas kehidupan itu sebenarnya kekal.
dulu yang gw tau cuman kalo mati adalah awal kehidupan baru dari sisi jiwa dan roh gw.tapi dari tulisan ini gw bisa nganguk2 setuju banget. dan memang sudah pantas jika kematian adalah unsur kehidupan.

@ bang toga
adududuwww… ini bener-bener ilmu yang baru buat aku bang. kayaknya dari sekarang emang sudah harus buka pikiran nih..

4. weirdaft - 28 Februari, 2009

tulisan tingkat tinggi

5. Remaja Menuju Kedewasaan | Helda dot Info - 2 Maret, 2009

[...] bangkit. Menerima kenyataan dan menatap luasnya dunia. Membuka mata kembali bahwa banyak orang yang sayang pada saya, agar suatu saat tidaklah jatuh di lubang yang [...]

6. HeLL-dA - 2 Maret, 2009

Maksudnya apa ya, Tulang?
Saya ndak ngerti… Apa ada hubungan dengan yg namanya reinkarnasi?

7. Nesia! - 2 Maret, 2009

@Helda.
semacam itu kali… cuma lebih menyeluruh.

*makin ngga ngerti, termasuk aku*

8. Sealead - 3 Maret, 2009

Nah,pusing jg saya,otak yg tak sberapa ini ku paksa utk memahami tulisan ini,pecah kpalaku,hahaha

9. meiy - 6 Maret, 2009

walaupun belum mati, dikau menggambarkannya dg pas sekali hehe…konon proses hidup yg akan kita jalani masih panjang, memang kematian hanya tahapannya.

10. sabdalangit - 11 Maret, 2009

Permisi Numpang komen ya Mas,
Konsep Kematian yg tidak menakutkan antara lain konsep Jawa/kejawen. Kelahiran adalah awal proses menuju “kematian”, manusia lahir dlm kehidupan yg “palsu”, di tempat yg “panas” (mercapada) yg akan terkena rumus kerusakan. Sedangkan kematian adalah proses hidup yg sebenarnya. Bagi org yg perbuatan selama hidupnya baik dan banyak berguna untuk orang lain, tdk menyakiti hati, mencelakai org, Kematiannya adalah selesainya kehidupan palsu, sekaligus menjadi “kelahiran” menuju kehidupan sejati. Tempatnya sangat dekat dgn dimensi bumi, hanya saja kebanyakan orang2 tak bisa menyaksikan lgs. Maka dalam filsafat Jawa di kenal saloka; “kakangne lembarep adiknya wuragil” atau kakaknya si sulung, adiknya si bungsu.
salam sejati

11. gilang mahardika - 13 Maret, 2009

berkali-kali kubuka postingan ini dan kuresapi.. makna yang terkandung membuatku mengertii ” dunia ini bukan lah nereka lagi”

12. Jup4rkov - 21 April, 2009

yup, kematian merupakan unsur dari kehidupan…
alangkah baikny jika kehidupan ini diisi dengan pencarian akan “jawaban” tentang makna dari kehidupan itu sendiri.
Jangan pernah berhenti bertanya.

13. joJO - 2 Mei, 2009

kematian bukan unsur kehidupan..tapi justru ialah kehidupan itu sendiri.
sebab dengan adanya jalan kematian,maka jalan kehidupan setiap makhluk yg bernyawa akan sampai pada tujuan keabadiannya..