Sepertinya Anda yakin telah memahaminya. Tahu benar tentang itu, paham betul tentang ini. Tapi kemudian Anda mendengar, atau membaca sebuah sudut pandang lain, sebuah cara memahami yang sebelumnya sama sekali tak terpikirkan, dan tiba-tiba keyakinan sebelumnya menguap seperti kabut yang diterjang panas siang hari.
Dan kemudian Anda sadar, usaha memahami itu tak pernah berhenti, dan kebenaran itu bukan sebongkah batu; diam membeku.
Seperti sebuah negatif film, ada sisi lain yang kadang benar-benar berbeda. Cerah atau redup, hangat atau dingin, siapa yang tahu bagaimana Anda akan merasa esok hari.
Dunia berubah pada setiap momen. Itu sebabnya, kadang aku skeptis mendengar pengakuan orang-orang, bahwa mereka sudah mendapat pencerahan. Apalagi jika pencerahan itu digambarkan sebagai sebuah mahapuncak kearifan yang menjawab segala tanya, sebuah titik di mana segala sesuatunya selaras dengan yang lainnya.
Jangan-jangan pencerahan hanya sebuah mitos.
Mungkin benar, ada perasaan ketika sebuah tabir tersingkap, dan kabut tanya yang tadinya mengepung, seperti terbirit pergi diburu cahaya,dan kita dengan mudah memungut jawabnya.
Tapi itu tak berlangsung lama, karena kemudian segalanya berubah, termasuk kita sendiri.
Karena itu, aku cenderung “waspada” kepada mereka yang sepertinya membatukan kebenarannya, merasa terlalu nyaman dan kemudian angkuh dengan “pencerahannya”.
Karena yang kutahu, hal-hal baik hanya akan datang jika kita membiarkannya datang. Kita tak bisa memaksanya berkunjung. Kita harus selalu menunggu, dengan kesabaran, dan menyediakan tempat untuknya di antara yang sebelumnya.
Dan cahaya itu akan datang ketika dia ingin datang, pada waktu yang cahaya itu sendiri kuasa menentukan.
Cahaya datang dan pergi bergantian, seperti udara yang bertukar, dihela-ditiup dalam saluran pernafasan. Inilah hidup yang selalu terbarukan. Mungkin tak selalu benderang, tetapi pada akhirnya kita selalu menemukan jalan.









