Malam Lebaran, Bulan di Atas Kuburan 23 September, 2008
Posted by Toga Nainggolan in kehidupan, opini, spiritualitas.Tags: idul fitri, islam, kehidupan, lebaran, materialistis, modern, sitor situmorang, sosial
trackback

Crescent Moon Over the East End Cemetery karya Elizabeth Fraser
Salah satu puisi yang paling banyak diperdebatkan maknanya adalah “Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisinya cuma sebaris, “bulan di atas kuburan”. Pertama puisi itu sangat pendek. Kedua, malam lebaran yang berarti malam 1 Syawal, adalah saat di mana bulan sama sekali tidak kelihatan.
Dan saya tak ingin memperpanjang debat itu.
Lebaran adalah hari kemenangan, tetapi juga kekalahan; kekalahan bagi yang tak berhasil meningkatkan barang segaris kualitas kemanusiaannya, juga kekalahan bagi yang tak bisa membelikan barang sepotong baju baru untuk anaknya.
Hari kemenangan itu telah menjadi beban, karena terjadi pengeluaran besar-besaran. Ironis, ketika hari kemenangan justru disambut dengan kepanikan, kenaikan harga-harga barang, dan penambahan saldo utang.
Segala hal telah berkiblat kepada kebendaan. Tak ada lagi yang peduli menyelami, apa yang semestinya terjadi di Idul Fitri. Apakah merenungi, menelanjangi jiwa sendiri, atau ke sana ke mari wara-wiri dengan baju baru dan gemerlap perhiasan warna-warni. Mengapa menjelang hari itu segalanya justru menjadi sesak; mall, pasar tradisional, toko sembako, seperti sesaknya dada si fakir yang tak tau harus membelanjakan apa menyambut hari raya, sesak pengap membekap, padahal namanya lebaran, bukan sempitan.
Jika begitu, lebaran memang menjadi bulan di atas kuburan. Pedih, menyayat, sepi, mencekik.







Lebaran bagi saya adalah perjuangan, bagaimana mencari warung makan yang buka di kota pelajar yang kotanya pada sepi kosong melompong di hari H.:mrgreen:
Bulan di atas kuburan…
Bercahaya namun menakutkan…
saya pernah baca sebuah komentar menarik, tapi lupa di blog apa. intinya, sebaik-baiknya tempat adalah masjid, sedangkan seburuk-buruknya tempat ialah pasar. di bulan ramadan ibadah di masjid kian ramai, namun menjelang lebaran pedagang di pasarlah yang menuai.
postingan ke-4 yg senanda ttg ironi lebaran yg kubaca, mestinya jangan berlebaran, maunya yg lebar2, besar2an, heboh..ber idul fitri saja ya
Mungkin ini pergulatan bathin Sitor juga…
padahal namanya lebaran, bukan sempitan.
gitu pula ya lae? bisa2nya lae aja itukan? ntar jadi longgaran pula…esensinya jd gak dapat lae…
Kok mata kita sama ya Pak JS..
(Maksudnya apa ini?)
..padahal namanya lebaran, bukan sempitan.Lebaran adalah salah satu cara untuk mengungkapkan rasa gembira atas kemenangan dalam perang melawan syetan dalam diri kita sendiri di bulan Ramadhan….
Lebaran juga merupakan perangkap baru untuk menjerumuskan kita ke pelukan dosa
Lebaran dulu, lebaran sekarang dan lebaran akan datang, apa bedanya?
Lebaran akan tetap datang, tergantung bagaimana kita memaknainya…
Selamat ber Lebaran…
Malam Lebaran, Bulan Di atas Kuburan.
Aku ingat kata guru SMA-ku (Pak P.K.Riberu), “Penyair harus unik dan sentrik, dan Sitor Sitormorang memang nyentrik.”
Koment saya,
“Dunia malam memang gelap, kuburan pasti menakutkan hati yang gementar. Masih ada bulan di atas sana. Mestinya tak jatuh kita terpuruk.”
lebaran seharusnya menjadi hari kemenangan yang hanya pantas dirayakan oleh orang-orang berpuasa yang berhasil melatih kelapangan hatinya dengan keadaan maupun ketiadaannya…
Tapi menjadi hari kekalahan bagi orang-orang yang gagal melatih kelapangan hatinya dengan keadaan maupun ketiadaannya…
Lebaran adalah hari kemenangan bagi mereka yang beribadah dengan baik. Yang tidak beribadah dilarang berlebaran
.
Berlebaran dengan sederhana, adalah kemenangan itu sendiri
saya suka banget dg puisinya bung sitor ini. kontradiktif, ta;i seklaigus juga menawarkan banyak perenungan dan refleksi jadi kepikiran juga utk bikin postingan ttg puisi ini menjelang lebaran. selamat memyambut hari kemengan, bung, semoga kita bisa kembali ke fitrah-Nya, amiin.
Lebaran … adalah masa kecil yang ceria.
Selamat Lebaran!
Lebaran sebagai sebuah tradisi, ternyata memang jauh berseberangan dengan makna “kemenangan besar” yang diagung-agungkan Idul Fitri…
Selamat Idul Fitri 1429H
Mohon maaf lahir dan batin…
iya mas, puisinya itu pernah di bahas jg di salah satu kuliah.. hehe..
paradoks
hmmm…apa pun, bang, maaf lahir batin
Dasar Batak! Lebaran dibaca ‘le’ seperti lelakon, bukan seperti lele. Eh tapi orang batak tetap aja baca ‘le’ dalam lelakon seperti lele … hahahaha
masih lebaran ito..walau telat maafkan daku ya..:)
semoga belum terlambat untuk mengucapkan selamat lebaran kan ? mohon maaf lahir & batin ya bang
maaf kang, saya potong artikelnya sebagian tuk posting saya. tapi kelanjutannya tetap nge-link ke blognya akang.
bulan : ingat surga di “langit” yang tinggi.
kuburan : ingat kematian.
malam lebaran —–> Bulan di atas kuburan : Selamat lebaran, semoga cita-cita menemui surga setelah berkorban-berbuasa bisa tercapai.
saya org katholik tp saya tertarik bgt dgn puisinya sitor situmorang.Yah,guru saya prnh blng kyk’a itu puisi terpendek di Indo’.wahh..slamat ya utk indonesia ^_^
Hi!
Bingung dengan makna puisi malam lebaran? Nanti saya tanyakan pada penciptanya, yang kebetulan adalah kakek saya