Pergilah Seperti Uap, Karena Kutau, Kau Akan Kembali Sebagai Hujan

Aku tahu, kau akan pulang…

Kau beranjak pergi ke dunia, nun jauh, berbilang jarak dari segala. Kemudian kau pulang, berbusana kegelapan. Kau kembali, memberiku cahaya yang lama kau simpan-simpan, kau bentuk-bentuk tak setahu dunia, membentuk dirinya sendiri seperti lempung tanah liat, salju yang menyerbuk membatu, menggumpal, kau hibahkan, menaruhnya pada sebuah sudut hati, seperti persuaan cahaya dengan cahaya.

Dua cahaya menyatu jadi biru, titik warna tertinggi yang dicapai api, terbakar tanpa sempat terkejap—kau serahkan dirimu sendiri, di sini, di sebuah tempat yang jauh dari segala yang lain, bahkan jauh dari dirimu sendiri, di dekatku, di dalamku.

Pada saat yang sama, kau juga membuatku jauh dari diriku sendiri, di dekatmu, di dalammu. Jauh dari diri kita masing-masing, mengakrabi keabadian, mendekat pada sesuatu yang tak ternamai, tak tertempatkan, keindahan yang tak tergelincirkan, tak tergeserkan, tak terundukkan.

Di sini, di tempat ini, kita tertegaskan, terteguhkan, terkukuhkan, terpaskan, tersahkan. Kita ternyata harus terpisah untuk bisa bersama seperti ini, bercerai untuk rujuk menjadi sesuatu yang baru, rasa yang mengejutkan setiap kali datang, terpesona pada kebaruan yang selalu menyapa, berkilau wujud senyawa sederhana.

Kita pergi ke sana, untuk kemudian menyadari kita selalu di sana, dan akan tetap di sana, untuk kita temukan lagi, untuk kita lupakan lagi, dibarukan, disingkap, dibagi, digugurkan, disemi lagi.

Menjauh untuk kembali, berbusana kegelapan, membuka selubung cahaya, membangun cahaya, mengenali cahaya. Beringsut ke belakang, merangkak ke depan. Cahaya yang membuat bayang-bayang pepohonan menari-nari di tengah angin, di hadapan jendela tak berdaun di palung malam ini. Menengadah, merunduk. 

Inilah kembara rintik, kembali ke sumbernya, merontokkan dirinya sendiri ke bumi, agar bisa mengenali samudera.

Seperti ini. Sungguh seperti itu.

26 komen sejauh ini

  1. edy on 28 Maret, 2008

    jadi malu…
    saya harus banyak belajar dari blog ini :neutral:

  2. nesia on 28 Maret, 2008

    ah, pak edy bisa ajha, saya yg jadi malu…

    *ganjen mode on*

  3. putirenobaiak on 28 Maret, 2008

    duh mate aku bacanya ito :)

    dan kita rela gila demi cahaya itu

  4. goop on 28 Maret, 2008

    mandi cahaya…
    lebur, luluh bersamanya…
    begitukah?

  5. Jendral Bayut™ on 28 Maret, 2008

    *mikir*
    bener juga yah

  6. venus on 28 Maret, 2008

    this is…..sangat bang toga. ho ho….

  7. HARUHI-ism on 28 Maret, 2008

    Judul tulisan: Pergilah Seperti Uap, Karena Kutau, Kau Akan Kembali Sebagai Hujan

    Slug tulisan: bila-cinta-tak-pernah-pergi-maka-cinta-tak-pernah-hadir

    Ah, saya sedang mencoba memikirkannya lebih lanjut.. :|

  8. Hendy on 28 Maret, 2008

    bung menulis seperti pakar sosiologi yang serba ilmiah di artikel sebelumnya. trus disini seperti pujangga yang kesurupan shakesper.

    hebat bung!

  9. yati on 28 Maret, 2008

    dia udah pergi seperti uap, kembali ke penciptanya. tapi orang2 di sekelilingnya selalu mengingatkan saya tentangnya. mereka baru menemukan sesuatu yang disimpannya berisi nama saya. apa itu tanda dia kembali dalam ujud hujan? :( sediiiih sekali…

  10. Panda on 29 Maret, 2008

    dasyat, bagi mereka yang benar-benar yakin kekuasaan kata, harus rajin membaca di sini. horas bah lae, tak terkatakan lagi…

  11. juliach on 29 Maret, 2008

    Bener-bener sastrawan top

  12. Rindu on 29 Maret, 2008

    Sekarang mampukah kita berdiri diatas cahaya kita sendiri tanpa bayangan orang lain, karena bayangan pasti hitam, tak berwarna…

  13. Zulmasri on 29 Maret, 2008

    kubiarkan angin membawaku ke benua jauh
    mencari cinta pada hijaunya daun
    tumbuhkan tunas dan mekarkan kembang
    :akulah mendungmu saat kemarau berpirau

    Wah Bang, asyik kali baca tulisannya. Kata-kata terpilah dan terpilih.

    Salam kenal!

  14. Hanna on 30 Maret, 2008

    senang banget membaca tulisannya.

    sungai berkata kepada awan:

    “cepatlah pergi dan cepatlah datang kembali”

    awan pergi berubah menjadi hujan. hujan turun ke bumi menjelma kembali menjadi air, air membentuk sungai. sungai menguap membentuk awan kembali… hehe…

    jadi berbahagialah dalam bentuk apapun karena pada akhirnya kita akan kembali semula.

  15. RhyzQ on 30 Maret, 2008

    tentang siklus cinta ya bang??? :mrgreen:

  16. Robert Manurung on 30 Maret, 2008

    There is not a new under the sun ?

    Pantesan Orde Baru eksis lagi, dengan seragam baru dan siasat yang lebih lihai. Rakyat juga tetap lugu dan dungu……………………

    ….tetap bersemangat menyanyikan Indonesia Raya, meski sudah sekarat karena kelaparan.

    Hidup Republik Cinta!

  17. maya on 31 Maret, 2008

    lagi, tulisan indah dari bang toga :)

  18. calonorangtenarsedunia on 31 Maret, 2008

    Dua cahaya menyatu jadi biru, titik warna tertinggi yang dicapai api, terbakar tanpa sempat terkejap—kau serahkan dirimu sendiri, di sini, di sebuah tempat yang jauh dari segala yang lain, bahkan jauh dari dirimu sendiri, di dekatku, di dalamku.

    Harus adakah peleburan itu?

  19. erander on 1 April, 2008

    Jadi ingat lagu .. cinta kan membawa mu kembali :) sejauh apapun dia pergi .. pasti kembali juga. Seperti seorang pengembara atau perantau, yang selalu rindu pulang.

  20. meiy on 2 April, 2008

    kekuasaan kata(seperti kata panda) membuatku kembali lagi ke sini, membacanya sekali lagi, indah

  21. unai on 2 April, 2008

    cinta kalipun awak sama tulisanmu, Lae…

  22. SiMunGiL on 2 April, 2008

    kangen sekali lama tidak membaca tulisan seperti ini…

  23. SiMunGiL on 2 April, 2008

    dan ‘baju baru’ ini aku suka banged, karna mirip banged juga dengan ‘bajuku’ *blush*

  24. Luthfi on 10 April, 2008

    Jadi teringat kalimat ini (lupa pilem apaan):
    Kamu adalah dirimu yg kamu pikirkan, bukan yg orang lain pikirkan.

    Well.. good one folk.

  25. ridya on 6 Mei, 2008

    errander… itu lagu kebangsaanku dengannya

    “tapi mungkin sekarang dia benar-benar akan pergi”

    hiks..hiks…hiks…

  26. Siu Elha on 21 Mei, 2008

    hmhh…… tfs ya bang… selalu istimewa…speechless deh… Cahaya…

Leave a reply