Pernikahan Beda Agama: Mengagumkan, tapi Tidak Dianjurkan
Saya dapat dua pertanyaan dari pembaca. (1) “Bagaimana rasanya menemukan hakikat Tuhan” dari pembaca dengan nick Srondol dan (2) “Bagaimana tentang masalah perkawinan beda agama, khususnya Islam dan Kristen” dari pembaca dengan nick Perkawinan.
Busyet dah, itu pertanyaan pertama. Seringnya saya cuap-cuap soal spiritualitas di blog ini, sama sekali bukan indikasi saya telah menemukan itu, tapi justru bukti saya teramat jauh dari sana. Di kalangan sufi ada ungkapan, “Siapa yang punya pendapat berarti dia belum mendapat. Siapa yang sudah mendapat, tak lagi punya pendapat”.
Menemukan hakikat Tuhan, pastilah sebuah keadaan yang tak tergambarkan dengan sejuta kata, tak terlukiskan dengan semiliar warna. Jangankan Tuhan, cinta dan rindu pun konon tak terlukiskan, padahal Dia Lebih kaya dari cinta, lebih miskin dari rindu.
Jadi tampaknya kita masih sama-sama mencari, dan Anda terlihat samar, jauh di depan saya.
*****
Orang yang menempuh pernikahan beda agama, dan bisa bertahan dengan itu, selalu membuat saya kagum. Merekalah yang telah membuktikan bahwa cinta bisa mengatasi perbedaan apapun, dan bahwa cinta lebih penting dari agama. Saya sendiri baru pada tahap mengkoar-koarkannya.
Namun tanpa bermaksud underestimasi, kayaknya tak banyak yang bisa menjalani itu. Mencintai itu satu hal, dan membangun hubungan permanen dalam sebuah keluarga itu, jelas hal lain. Kekuatan cinta yang tumbuh di antara mereka, akan sangat banyak tersita untuk mengatasi dampak perbedaan itu.
Tidak seperti perbedaan lain, misalnya status ekonomi, etnis, dan strata pendidikan, yang walaupun pasti mendatangkan “kerepotan-kerepotan”, tapi jelas tidak sesensitif perbedaan agama tadi. Belum lagi berbuntut pada, akan “ke mana” anak-anak diarahkan, dan beragam persoalan “teknis” lainnya.
Bila kemudian dia “mengalah” dan mengikut agama Anda, artinya dia pindah demi Anda, jangan cepat merasa menang dulu. Anda malah telah berutang sebuah pengorbanan yang sangat besar. Dan kalau sampai Anda menyia-nyiakannya, entahlah…
Mungkin agak “lari” dari mainstream pemikiran saya yang terlihat sangat mengangungkan pluralitas dsb ya. Tapi begitulah. Jika masih bisa dicegah, misalnya hubungan itu masih pada stadium awal
pikirkanlah lagi. Prinsip “Jalani aja dulu, lihat nanti gimana” itu kadang tak bijak. Bisa saja, hubungan Anda dengannya malah lebih “sehat” jika tidak memperistri atau bersuamikan dia.
Tapi kalau memang sudah pada tahap “tak ada lagi yang bisa memisahkan kami”, berarti akan bertambah lagi satu pasangan pecinta yang membuat saya terkagum-kagum.
Itulah pendapat saya, keputusannya di tangan Anda, dan jangan biarkan siapapun mengganggu gugatnya.
————————————————————
Foto: Jamal Mirdad dan Lidya Kandow, pasutri beda agama yang tergolong “sukses”. (kapanlagi.com)







Setuju Lae, pernikahan beda agama memang sangat sensitif.
Saya pribadi juga tidak menentang dan akan mengagumi mereka yang mampu menjalaninya.
Namun jika masih baru memulai suatu hubungan, memang kudu dipikirkan beratus-ratus kali terlebih dahulu. Taruhlah si pria maupun wanita sama-sama mempunyai kesadaran hati sehingga mampu menerima satu sama lain, tapi belum tentu dengan pihak keluarga.
saya bukannya gak setuju pernikahan beda agama, tapi menurut saya memang gak akan gampang ngejalaninnya, bang. ini, terutama, berhubungan dengan agama yang akan dianut anak2 hasil perkawinan itu. biasanya sih begitu…
di kantor (seolah2 pekerja kantoran) saya banyak yang nikah beda agama, dan semuanya baik2 aja. ortu temen kantor juga gitu, sampe mereka dah punya cucu. lalu sabtu kemarin, temen satu ktr dan satu rumah (seolah punya rumah) jg akhirnya nikah beda agama setelah melewati masa pengurusan berkas yang njlimet…semoga baik2 aja. kalo mo info yg lengkap soal nikah beda agama, bisa liat di situs wahid institut, di paramadina, atau di ICRP. temen saya itu kemaren nikahnya difasilitasi sama ICRP
sorry kalo infonya ga penting
orang tua saya menikah beda agama pada awalnya, namun di kemudian hari mereka mungkin menyadari bahwa kapal dengan dua nahkoda tidak akan mudah untuk dikemudikan, kalau toh pada akhirnya terjadi suatu kesatuan itu dikarenakan proses yang cukup lama karena kedua orang tua saya tidak mau saling memaksakan kehendak untuk mengikuti salah satunya, saya pikir keputusan ayah untuk menyatukan keyakinan dengan ibu setelah 10 tahun berumah tangga itu juga merupakan proses dan panggilan tidak terjadi begitu saja. Percaya atau tidak anak anak yang terlahir di dalamnya justru menjadi kaya oleh toleransi, tenggang rasa, tepo saliro dan memahami betul apa itu menjadi berbeda
Padahal pernikahan itu sendiri tak mungkin terjadi kalau mereka tidak berbeda (jenis).
Tapi, kok tak bisa menerima perbedaan (status sosial, kekayaan, ras, pendidikan, agama,dll) ?????????????????
M E R D E K A !
bila agama tak jadi soal, bila keyakinan tak menjadi penghalang antara pria dan wanita, mengapa mesti ada perkawinan beda agama?
Ini paradoks bagi penggiat perkawinan beda agama. Bila Anda tidak melihat agama di dalam cinta, maka sebaliknya, Anda tak perlu membuka mata lebar-lebar untuk melihat cinta di dalam agama.
Institusi perkawinan ada dimana? Di tuhankah atau di manusia?
Seingat saya, sejak zaman kuda makan roti, manusia selalu kawin dengan disaksikan yang namanya tuhan, dewa, roh atau apapun itu yang bersifat transendental. Itu artinya, bagi saya, perkawinan adalah bagian “agama”. Agama melembagakan kisah cinta manusia. Nah, tak pernah pula saya dengar, ada cinta yang kemudian menjadi agama. Siapa tuhannya?
Bagaimana mungkin, dalam satu institusi bernama perkawinan, ada dua “tuhan” yang berbeda? Yang satu meyakini si Anu dan yang satu lagi percaya si Itu. Aneh dan tak masuk di akal saya yang kayak gitu.
Tuhannya manusia itu pasti satu, tak mungkin berbeda zat dan namanya.
Bila manusia hanya ingin bersama dengan keyakinan yang berbeda, mengapa mesti susah-susah untuk melembagakannya dalam perkawinan?
Saya kira, itu karena pemeluk agama sudah memahami agama itu hanya seperti “kerupuk” saja; ringan, renyah, tak ada gizinya dan ketika digigit oleh gigi, suaranya nyaring betul. Dan tak ketinggalan juga faktor “kekuasaan”.
Horas Lae Toga…
Terus terang saya kagum dengan komentar terakhir (nirwan). “…bila agama tak jadi soal, bila keyakinan tak menjadi penghalang antara pria dan wanita, mengapa mesti ada perkawinan beda agama? ….”
Saya mulai berpikir, Kalau memang agama itu tak jadi soal dan bukan penghalang, kemudian Cinta lebih dikedepankan maka bukankah seharusnya ada pengorbanan? Pengorbanan untuk mengalah satu sama lain, Pengorbanan untuk mau mengikut pada salah satu keyakinan sehingga tak ada “kapal dengan dua nahkoda?”
Bukankah semua atas dasar cinta? Toh cinta dapat menyatukan semua itu tanpa harus memandang agama A atau B. Yang pentingkan mencintai?Lalu kenapa saling bertahan. Berarti ada rasa lebih mencintai agama bukan?
Tarsongonima na boi hudok di tikkion…
Horas
Aku juga pernah denger wawancara sebuah infotaiment dengan Lidya Kandow, dia sendiri yang telah menjalani perkawinan beda agama justru menganjurkan untuk berpikir panjang sebelum memutuskan pernikahan beda agama.
Bagaimanapun pernikahan itu lembaga yang pondasinya agama. Kalau agamanya beda, tentu aturannya dan rambunya juga berbeda. Begitu katanya…
Tapi kenyataannya seringkali cinta jatuh tidak memilih tempat, warna, jenis, rasa, ras, atau agama. Begitu juga cinta & kasih sayangku jatuhnya pada seorang yang berbeda agama denganku :-). Ya, sejauh ini disukuri saja, Alhamdulillah. Masalah-masalah perbedaan dan persamaan, ya sabar aja.
dalam pernikahan itu menyatukan 2 manusia yang berbeda yang dibutuhkan hanya 1 nahkoda klo ada 2 nahkoda pastinya penumpangnya akan bingung…………
Iya saya setuju bahwa pernikahan itu lembaga yang pondasinya agama. Kalau agamanya beda, tentu aturannya dan rambunya juga berbeda. Hal ini tentunya sangatlah sulit disatukan. Toh kalo ada yang berhasil menjalankan perbedaan ini, menurut saya itu berarti mereka tidak berpegang teguh pada agama sebagai keyakinannya.
http://infogue.com/seni_budaya/pernikahan_beda_agama_mengagumkan_tapi_tidak_dianjurkan/
kalau cinta berkata memang susah memisahkannya, adikku juga mau nikah beda agama, tapi gimana sih caranya bang? tau? soale katanya hukum negara gak mengijinkan? aku buta hukum neh…
Cinta itu apa sih? Pengorbanankah ? misalnya saja seorang istri karena cintanya rela merawat suaminya yg lagi sakit. ato sebaliknya. Cinta biasanya butuh timbal balik, adakah seorang istri yg masih mencintai suaminya meskipun sang suami punya WIL? Namanya juga manusia biasa, kadang timbal balik cintanya gak seimbang, dan gak abadi. Misalkan salah seorang dari suami istri meninggal, apakah timbal balik itu masih ada? Hanya kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang cinta utama kita, karena meskipun kadang kita lupa tapi Dia masih mencintai dan memelihara kita, dan cintaNYA abadi.
Masih juga diperbincangkan
saya lagi binggung ni sama lagi jatuh cinta sama beda agama.tolong bersolusi yaaaaa, sapa aja bisa toloonn saya
pernikahan beda agama adalah something y/ d jalani berat sekali.
tapi apabila qt dah commit bakalan siap ngadapin
apa pun, pasti hasilnya bagus.
jangan takut untuk ngejalanin pernikahan beda agama,
biar pun nikah satu agama klo ada problem tetap aja
sama……
masalah pasti tetap akan ada, pandai - pandai qt
buat negajalanin hidup ini….
Saya Katholik Pacar saya Muslim,Tahun ini kami akan menikah. Kita sepakat menikah dengan 2 prosesi, terserah yang mana didahulukan,yang penting keinginan 2 pihak keluarga terpenuhi. Disepakati juga bahwa pendidikan agama mengikuti si Ibu namun juga tidak menghalangi si anak dalam keingintahuan untuk mencari panggilan hidupnya. orangtua sekedar mengarahkan. Setelah menikah baik atau buruk itu adalah tanggung jawab kami dalam membangun rumah tangga kedepan. bagi kami agama adalah “kelambine wong urip” tetap TUHAN Kami sama…beres kan.hehehe
berbicara soal pernikahan beda agama tidak cukup kalo hanya tentang kedua pasutri-nya saja..
mereka tentunya menikah untuk melanjutkan keturunan.permasalahan mungkin akan terjadi mengenai bagaimana mereka akan mendidik anak2 mereka nantinya.tentunya perbedaan agama akan berpengaruh pada proses sosialisasi dalam keluarga.
anak akan dihadapkan pada dua pilihan yang sulit ketika mereka akan memilih agama.
pernikahan beda agama itu suatu kepura-puraan
bagaimana bisa satu perahu, dua nahkoda
ato katakanlah menunjuk bintang yang beda,,,
beda keyakinan, pastinya beda motivasi,,
klo di kompromikan ya, beda lagi
jangan2 keyakinannya ga jelaz lagi,,,
jd klo mending nikah ama yang satu keyakinan deh,,,
TUHAN pasti beri yang terbaik, klo belum ketemu yang cocok n seagama, percaya aja…
karna TUHAN membuat segala sesuatu indah pada waktuNYA (pengkhotbah 3:11)
Pernikahan beda agama itu ya nggak benerlah, alangkah banyaknya wanita, dan pria didunia ini yang masih 1 aqidah, kok repot2 cari pasangan beda agama? Itukan namanya cinta buta,
Dalam Islam tidak dianjurkan bahkan dilarang untuk menikah dgn non Islam, hukumnya sama aja berzinah seumur hidup.
Kecuali yang akan dinikahi itu terlebih dulu memeluk Islam, tapi memeluk Islamnya bukan karena alasan menikah,akan tetapi benar-benar menemukan kebenaran dalam Islam.
Kalau alasan memeluk Islam karena mau menikah pasti balik lagi ke ajaran lamanya bahkan menyeret pasangannya keagamanya dulu, dengan ancaman cerai dan anak. (banyak contoh nyata yang sudah terjadi di sekitar kita) Hati-hati dan waspadalah atas keyakinanmu.
Entah kalau di agama lain, mungkin sah-sah saja kali ya? keluar masuk agama. Kalau di Islam sudah murtad dan munafik gelarnya.
setau saya munafik berarti bila berkata ia berbohong, bila berjanji ia ingkar, bila dipercaya ia khianat. bukan karena pindah agama.
saya muslim, pacar saya khatolik. kami berencana nikah tahun depan.
@dewi
sama aja dong dewi, keluar masuk, keluar lagi sama aja bohong=ingkar=khianat
pesan saya jangan gadaikan keyakinan kamu, hanya demi sebuah cinta, karena akan sia-sia hidupmu. banyaklah berkonsultasi dengan orang2 yang mengerti Islam.
saya seorang muslim sedangkan calon suami saya katholik. selama ini kami tidak mempermasalahkan perbedaan tsb. tetapi orang tua saya yang sulit untuk memberikan restunya. saya pernah membaca artikel yang mengatakan deddy corbuzier menikah dengan cara islam melalui bantuan paramadina. gimana caranya???? ada yang bisa bantu saya…..
baru ngomentari dewi eh si nda juga sama kasusnya.
Paramadina itu = JIL = nggak bener = sesat.
Jadi nda, jangan diikuti si deddy corbuzier.
Cari yang Islam ngapa sih? Bohong besar kalau cinta itu nggak bisa dipisahkan, apalagi harus ditukar dengan keimanan.
Lebih berharga mana keyakinan kalian dengan “cinta”?
“Lebih berharga mana keyakinan kalian dengan “cinta”?” (hamdani)
Bung Hamdani, ini pilihan masing-masing orang karena agama adalah hak hakiki tiap-tiap manusia.. Jadi manusia lain tidak punya hak sama sekali untuk mencampur urusi urusan kalbu masing2 orang..
Inilah yang diatur dalam traktat kemerdekaan tiap-tiap negara yang memegang azas demokrasi.
Kecuali anda tinggal di negara-negara otoriter seperti Cina, Myanmar, Afghanistan, dst yah itu soal berbeda.
Dalam setiap agama berhembus nafas “cinta”, cinta antar manusia, cinta manusia kepada Tuhannya, dan cinta Tuhan terhadap manusianya… Keyakinan yang berdasarkan cinta adalah hal terindah di dunia ini.
Salam
Indonesia negara Pancasila yg bhineka tunggal ika. Terdiri dr berbagai macam suku,ras,agama,budaya, dll. Mau gak mau pasti akan terjadi percampuran. Tp mengapa utk pernikahan beda agama tdk bisa. Bukankah cinta itu anugerah Tuhan. Bukankah dihadapan Tuhan, manusia itu sama. Tdk memandang agama,kaya,miskin,cakep,jelek dll
Janganlah menikah beda agama , ribet urusannya.
Apalagi kalau udah punya anak, anak-anak jadinya bingung. Pasti kedua orang tuanya sedikit banyak nya mempengaruhi anaknya, untuk ikut agama dia.
Bohong itu kalau orangtuanya ngomong, terserah si anak mau ikut bapak atau Ibu.
Kalau gara-gara pernikahan pindah keyakinan nggak usahlah. Kalau dalam Islam diharamkan menikah beda agama (baca di AlQur’an) bagi yang Islam lho.
Pis
memang kadang kala orang lebih membawakan perasaan emosi dr pada logika..untuk pernikahan beda agama memang suatu kputusan yg kadang masuk akal karna saat itu mereka hanya mementingkan perasaan n cinta mereka..
apakah dalam pernikahan itu yg kita nikahi adalah istri/suaminya?siap menikah berarti juga siap menerima semua kluarga…karna tanpa restu dr kluarga n orang tua..pernikahan itu tidak ada rsnya ibarat nasi goreng tanpa garama..hehheheh…
sangatlah sulit untuk menikah beda agama apalagi masng2 masih tetap kekeh anut agamanya sndri.tapi apakah dalam keluarga itu hrs ada 2 prinsip agama yg berbeda?agama mana yg benar?…semua pasti menganggap agamnya yg benar..
sebelum kita melanjutkan hub k jenjang pernikahan ada kalanya kita harus memikirkan ke depan apakah hub beda agama itu baik buat kluarganya ke depan?…n hrs ada komit siapa yg harus di ikuti?..
selama masih pacaran..lebih baik di pikirkan seratus kale..jgn sampai cinta n rasa itu mendalam baru d lepaskan karna..pasti menyakitkan…hehhehehehehheh..
“cinta dan perbedaan agama”…
satu kesatuan yang sulit di pisahkan….
lantas untuk apa manusia dapat merasakan indah nya cinta, kalau memang harus di halangi oleh perbedaan agama?…apa sudah pasti iya yang satu agama tidak ada perbedaan???bukan kah sampai akhir pernikahan, kita harus terus mempelajari perbedaan karakter pasangan kita (sekalipun satu agama)…terus mengapa pula cinta kita dimulai dengan terlarang, hanya karena perbedaan agama?cinta adalah anugerah…tidak semua orang bisa merasakan anugerah itu…hidup cinta…hidup penikahan yang justru bisa mengalahkan perbedaan dua insan
Tolol jangan dipiara dimas
Cinta g salah, agama juga arus diimani
saya dan pasangan sy beda agama, ni dah taon ke 4 kita jalan, restu belum didapat
kami cuma bisa pasrah menunggu waktu, tp sy yakin kekuatan hati bisa menjadi jawaban untuk hubungan ini. perbedaan adalah suatu anugrah tergantung kita menyikapi perbeaan itu. jangan jadikan perbedaan sebagai kendala.
saya pasrah kalau harus pisah meskipun berat
saya inginkan dia. Tuhan Tolong berikan kami jalan yang terbaik
untuk mas hamdan
saya tau mas menitik beratkan pada agama, tapi mas jika kita udah merasakan berada dalam posisi itu kita akan sangat sulit untuk berkatTuhan ciptakan hambanya berbeda2 jd mas juga harus berlapang dada jika orang memiliki pendapat yang berbeda.
biarkan mereka atau saya bertindak toh nanti semua konsekuensi juga ditanggung sendiri2.
masuk surga / neraka juga dewean kok.
saya juga ngalamin hal yg sama pacaran ama yg beda agama,kami udah pacaran 5 taon dan berencana buat nikah beda agama,kalo nikah di catatan sipil bisa ngga ya?
saya lupa info ini didapat dari mana, saat mengcopy nya, lupa nulis sumbernya
, sekedar berbagi buat temen2 yg memerlukan info ini
Perkawinan di Indonesia diatur oleh UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Berdasarkan UU tersebut perkawinan di definisikan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Oleh karenanya dalam UU yang sama diatur bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu serta telah dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ada dua cara dalam menyikapi perkawinan beda agama ini:
Pertama: Salah satu pihak dapat melakukan perpindahan agama, namun ini dapat berarti penyelundupan hukum, karena sesungguhnya yang terjadi adalah hanya menyiasati secara hukum ketentuan dalam UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Namun setelah perkawinan berlangsung masing-masing pihak kembali memeluk agamanya masing-masing. Cara ini sangat tidak disarankan.
Kedua: Berdasarkan Putusan MA No 1400 K/Pdt/1986 Kantor Catatan Sipil diperkenankan untuk melangsungkan perkawinan beda agama. Kasus ini bermula dari perkawinan yang hendak dicatatkan oleh Ani Vonny Gani P (perempuan/Islam) dengan Petrus Hendrik Nelwan (laki-laki/Kristen).
Dalam putusannya MA menyatakan bahwa dengan pengajuan pencatatan pernikahan di KCS maka Vonny telah tidak menghiraukan peraturan agama Islam tentang Perkawinan dan karenanya harus dianggap bahwa ia menginginkan agar perkawinannya tidak dilangsungkan menurut agama Islam. Dengan demikian, mereka berstatus tidak beragama Islam, maka KCS harus melangsungkan perkawinan tersebut.
Nah putusan ini, secara sekilas hanya berlaku bila perempuan yang beragama Islam dan Laki-laki yang beragama Nasrani hendak melangsungkan perkawinan. Lalu bagaimana dengan bila sebaliknya? Secara argumentum a contrario maka KUA wajib melangsungkan perkawinannya, karena perempuan yang beragama Nasrani tidak lagi menghiraukan statusnya yang beragama Nasrani. Oleh karena itu melakukan penundukkan hukum secara jelas kepada seluruh Hukum Islam yang terkait dengan perkawinan.
Dengan ini, dari semula pasangan yang berbeda agama tidak perlu melakukan penyelundupan hukum dengan mengganti agama untuk sementara, namun bisa melangsungkan perkawinan tanpa berpindah agama.
@ mas hamdani,
jika paramadina itu = sesat, bagaimana dengan Prof. Dr. Kautsa Azhari Noer? Dosen Pascasarjana UIN Jakarta. Apakah anda tidak setuju dengan buku berjudul “fiqih lintas agama” ?
jangankan menikah, selingkuh pun idealnya harus seagama (ini nasihat bg mrk yg doyan slngkh). setiap orang bebas mempercayai apapun yg diyakininya. Yang penting, jgn pernah menyimpulkan orang/kelompok lain sesat (kebenaran hakiki hanya MilikNya). “janganlah kamu memperolok-olok seseorang (suatu kaum), karena blm tentu yg memperolok2 itu lbh baik dari yg diperolok2″.
saya wanita,katolik dan pacar saya muslim.kami berpacaran sudah 3thn,pekerjaan km sudh mapan,keduax pns tp sampai saat ini hub km msh mengambang,keduax saling bertahn.bagi saya memang sangt sulit,berulg kali km pts tapi tetp blk lg. dan ortu saya paling menentang hub km. seperti berada dalm perahu di tengh laut bingung tujuan kemana….buat tmn2 yg baru mulai pacaran kyk km saya saranin pikir panjng untk kedpn,karena ada masanya dimana km merasa hidup benr2 bimbang seperti yg kurasa skrg….
menurut g seh sah-sah ja selama orang itu dapat menjalani nya dengan baik..
g juga pacaran ma co g beda agama.g buddha dy kristen..
mank sih banyak rintangan apalagi orang tua
tapi namanya jodoh mah di tangan Tuhan
menurut g ga papa pacaran beda agama daripada poligami…..
TO : Mas Hamdani,
Mas saya S2 Masters lulusan teknik kimia dari Inggris, jadi jangan asal mencela orang… Ga baik mas, malu sama anak-anak kecil… Kita sebagai orang dewasa harus beri contoh yang baik.
Anda mau bangsa kita jadi bangsa bermartabat tidak?
Cara kita bersikap, menghargai orang lain, menghargai perbedaan pendapat orang lain menunjukan tingkat kedewasaan kita dan kematangan kita sebagai individu yang dewasa dan terpelajar.
Dari jawaban anda, orang2 bisa mengukur apakah anda pribadi yang bisa dihargai atau tidak.
Sekali lagi mas, malu sama anak-anak..
Kapan bangsa kita berhenti menjadi banga yang kerdil?… Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan menghormati perbedaan.. Kalau anda tidak suka, silakan hijrah ke Afghanistan, Korea Utara, Zimbabwe atau Myanmar.. Terserah anda
Salam,
beda agama bikin pusing,tapi gimana ya ma yang beda agama ko malah merasa paling cocok yach?? malah cinta makin brtambah,pusing di restu ortu,emang sih ortuku beda agama jg,tp calon mertua g restui ni,gimana dunk???pengen bgt bisa kyk Lidya kandau///
BTW ada yg tau cara resmiin nikah beda agama g??tlong Dunk…
itu stupid 1000x
knp keyakinan harus memisahkan percintaan yg murni ,,,adil kah ini kita sbgi umat manusia ,,,where s the freedom of human being…????
g uda pacaran beda agama, g katolik, Ce g Islam, g cuma bilang kl cinta itu anugerah terbesar dari TUHAN, dimasa sekarang ini yang dunia makin kacau kl nda cinta mao jadi apa dunia nie, banyak orang yang saling mencela, mencaci atau yang laennya, eh ini dikasih anugerah terbesar malah gimana coba, harus terima, dan juga g selalu ingetin ke Ce g, yg penting kita satu tujuan 1 TUHAN, banyak jalan menuju ROMA tp cuma ada 1 tujuan ROMA,dan g selalu ingetin dia untuk selalu berdoa dan selalu tekun ke agama nya dan g juga tetep tekun ke agama g.
karena g punya keyakinan TUHAN tidaklah sepicik manusia, Tuhan lah yang menciptakan manusia berbeda-beda, jadi TUHAN tao yang terbaik untuk manusia masing-masing, dan TUHAN selalu menolong orang yang percaya ma DIA,apapun agamanya yang PENTING Taat ma DIA…Itu yg g yakinin…TUHAN sangatlah BESAR, juga bahkan pemikirannya…Coba aku tanya siapa yg bilang manusia itu beda2, TUHAN kah? nda khan manusia khan, manusia bilang u dari ini, dari itu, u suku ini, u suku itu, TUHAN, apakah TUHAN ngomong begitu? nda khan?jadi manusianya aja.YAng pasti g bilang ke Ce g, kita pacaran ini bertiga,Aku, Kau dan DIA…
Keluarga g menentang abis2an,keluarga Ce g terima2 aja…tp g hanya berdoa dan g saranin dia selalu berdoa…hanya itu kita berserah kepada DIA…TUHAN…Makasih TUHAN…
koQ kisah loe persis bgt se sama gw,gw jga khatolik cO gwe islam keluarganya dya jga terima gew tp keluarga ga nerima dya bingung mo ngomong k’ortu gw gmnnya
gw pacaran 5 thn beda,dan akhirnya pisah..bukan karena pihak luar..tp karena kita menyadari bahwa ternyata kita masih berat mengenai masalah anak apabila kita nikah…kadang kita pikir ini gampang tp percaya deh..itu sangat tidak mudah..saya sangat menghargai perbedaan tp saya berusaha realistis menjalani hidup..buat yg pacaran berbeda..percayalah kekuatan itu datang dari keikhlasan..klo kita ga bisa ikhlas lebih baik tinggalkan saja…tp klo kita ikhlas semoga ada berkah disitu..
salam
Mungkin karena banyak orang yg lebih cinta pada cinta itu sendiri( yg merupakan ciptaan Tuhan ) ketimbang cinta pada yang menciptakan Cinta ya.makanya suka bicara Cinta adalah segalanya ( tapi konteksnya cinta pada hal2 duniawi semata)dan mengabaikan perintah dan aturan2 yang Tuhan berikan pd kita demi kebaikan kita sendiri.
Agama kan “way of life” beda agama beda jalan tho…
Selama pacaran perbedaan itu belon menyentuh hal yg prinsipil.
Tapi mikirin gt memang alot, tapi simplenya..inget nanti kita harus mempertanggung jawabkan pilihan kita dihadapkan Tuhan kelak…berani???
Y untuk yg belum menjalankan pasti akan bilang melarang, dan ingatlah untuk aturan agama. dia bisa bicara karena blm mengalami. so buat yang blm merasakan jgnlah terlalu mencibir dengan kasar pasangan yang beda.
aku cecil muslim dan pacar aku katholik, kita sudah pacaran 2.5 tahun ini. memang ga gampag awalnya, sudah coba untuk pisah tapi akhirnyakembali lagi. kedua keluarga kami pun baik dan menerima sejauh ini belu ada larangan. tapi yang namanya hubungan tujuannya menikah bukan?? walaupun kita berdua menerima semua perbedaan yang ada dan ga ada rintangan dari kedua belah pihak. tapi yang namanya nikah bener loh ga bisa dengan dua keyakinan yang beda, terlebih lagi di islam jelas dilarang seorang wanita muslim menikahi non muslim, begitu juga di nasraniloh ada larang untuk menikah dengan seseorang diluar keyakinannya. ada 3 syarat di nasrani jika harus menikah dengan beda agama.
bener kata dien kuncinya adalah iklhas.
sekarang itu yang aku pegang
aku mulai mengiklaskan pacar aku ini,
bagiku dia yang terbaik
bagi aku di calon suami yang aku idamkan
tapi balik lagi kedunia nyata, ternyata dia bukan jodoh aku
sesuatu yang beda ga bisa berjalan bersamaan
aku iklas klo dalam hub ini ternyata diamenemukan orang lain yang seiman.
aku sayang sama dia jadi aku mau yang terbaik juga untuk pacar aku.
tapi untuk semua yang mau mengambil resiko aku doakan yang terbaik
toh apapun pendapat orang, kalau akhirnya stiap orang akan mempertanggungkan perbuatannya masing2.
bener kata cecil, aku juga udah 3 tahun pacaran sama co ku dia berbeda agama dengan aku dia budha dan aku muslim.. selain itu karena aku beda warga negara agak sulit juga ortu aku udh seneng bgt dgn dia, tapi stlah dia ngmng dgn ortunya dia dilarang untuk ikut aku…. jadi sekarang sih aku selalu berdoa Ya alloh jika memang dia yang terbaik untuk aku tolonglah dekatkan dia dan berikanlah hidayah, dan jika dia bukan jodohku jauhkan dia dari aku dan berikan aku keikhlasan.
terkadang aku juga bingung. aku dah 2,5 th menjalani hubungan dengan pcr aku. dia kristen. keluarganya nerima aku dengan baik tetapi keluargaku memberi syarat, jika dia ingin menikahiku maka dia harus masuk islam. padahal aku sama sekali tidak pernah ingin memaksa lelaki yang ku sayangi untuk mengikuti keyakinanku. walau tidak dapat ku ingkari bahwa aku pasti sangat bersyukur jika kami seagama. aku tahu klo islam tidak membenarkan nikah beda agama. tapi rasa cinta itu memang sudah sangat kuat adanya. dia memilih menjadi seorang tentara, jadi hanya hubungan jarak jauh yang bisa kami lalui. seharusnya jarak dan waktu bisa buat cinta kami berkurang atau apalah itu..tapi kenyataannya malah makin dalam dan terus dalam…aku bingung…terkadang aku menyesali perbedaan itu..bukan maksudku lebih memilih cinta daripada agama, tetapi begitu sulit…sangat sulit…andai saja aku bisa pasrah dan iklas, tetapi sampai sekarang aku masih sangat menginginkannya..menginginkan tiap rencana masa depan yang sudah kami rencanakan dapat terwujud. andai saja Tuhan dapat menunjukkan yang terbaik bagi kita berdua tanpa rasa sakit sedikitpun dihatiku dan hatinya.
just be ikhlas tyas,
aku rasa semua orang yang mengalami hal serupa dg kita jg merasa sama,
sama2 tdk memaksakan keyainan kita,
merasakan kalau dia ” d right man”
merasakan cinta yang sangat dalam
aku juga ga bs hidup tanpa pacar aku ini.
tapi pakai logika dan kenyataan aj.
kalau ini semua hanya pembelajaran hidup. bagaimana kita untuk belajar ikhlas melepaskan orang yang kita sayang demi banyak hal.
aku rasa saling ikhlas jawabannya.
kamu blajar untuk mengikhlaskan pacar kamu.
pacar kamu jg hrs blajar mengiklaskan kamu. ingetkan cinta tak harus memiliki
memang klise c, tapi kita harus liat dunia nyata. banyak perjuangan yang harus dtempuh.
tapi kalo kamu masih mau berjuang berdoa aj.
smoga Tuhan memberikan jalan yang terbaik buat kamu, buat aku dan buat pasangan lain yang mengalami hal yang serupa
amien
dear Tyas,
emang berattttt bgttt saya berani ngmg ini karena saya juga mersakan hal yang sama,hub saya 5 thn,saya udah sangat nyaman dengannya,saya jg berpikir bahwa dia sangat sempurna dimata saya dan sampai saat ini masih saya rasakan dialah yang terbaik.
setelah saya ga bersama dia lagi dan putus,saya bener2 merasakan sakit dan hampa,pupus semua harapan saya memiliki pasangan lagi mati rasa,saya mencari jawabannya dgn doa Tyas,ternyata jwbn yg saya terima adalah IKHLAS,hidup itu yg kekal bukan di dunia tp diakhirat,apakah kita yakin kita bener berani menentang aturan agama??mmg kita ga tau urusan neraka dan surga..tp lebih baik kita ikuti aja aturan yg ada dari agama kita msg2..percaya ga ada kesakitan yang abadi tp selalu ada kebahagiaan pada akhirnya.
setiap orang menginginkan bahagia,klo kita punya future oriented hmmm hal yg pertama saya bayangkan adalah…saya iingin ketika saya punya keluarga saya bisa ke masjid sama-sama,puasa,susah dan senang bersama dan tentunya berkumpul lagi di dunia yg kekal pada saatnya nanti..ga ada orang dgn agama apapun tidak menginginkan itu
I’m in the midle of that Problem I,m in love with someone with diffrent faith, I really don’t know what to do….?