Surat Untuk Lae Sinurat, yang Bingung Aku Ini Islam, Kristen, atau… Apaan Tuh?

Lae Sinurat Yth…

Mauliate godang, terima kasih banyak Laeku, atas kunjungan dan komentarmu yang sangat berisi. Komen yang hanya berupa dua tiga karakter, atau bahkan sebutir emoticon pun sebenarnya sama berharganya, tapi yang sekelas komen Lae - tidak saja dalam pengertian kuantitas atau panjangnya, tapi juga kualitas alias muatan pesan yang dibawanya - tentu punya tempat tersendiri). Ehm.. *membetulkan posisi mikrofon* Lho, surat kok jadi pidato?

Apakah saya Islam atau Kristen?

Waduh, tajam dan beratnya ini pertanyaan. Secara administratif saya Islam, dan identitas itu “dipilihkan” orang tua saya. Saya tak cukup beruntung menemukannya sendiri. Tapi secara hakikat, entahlah. Saya belum bisa menyerahkan diri secara utuh kepada kehendak Allah SWT. Kehilangan duit dua puluh ribuan pun saya masih marah-marah. Konon lagi kehilangan-kehilangan lain yang lebih besar? Bisa-bisa saya menuduh, paling tidak dalam hati, bahwa Tuhan tidak adil. Busyet dah! Tapi emang begitulah.

Saya mengerti tapi belum bisa menghayati, bahwa saya ini cuma sebuah objek yang sepenuhnya tunduk dan terikat kepada kehendak Allah, dan bahwa apapun yang ada, mulai dari sebutir atom sampai sekumpulan galaksi berisi miliaran bintang adalah milik-Nya, sehingga sebenarnya sangat menggelikan bila saya pernah merasa kehilangan sesuatu.

Padahal Islam konon adalah penyerahan diri…

Penyerahan diri, submission to God, sungguh tak sederhana. Sebagaimana tidak sederhananya kawan-kawan Kristen berucap setiap hari, “Jadilah kehendak-Mu”, tapi ketika kehendak itu terjadi, terdengar teriakan histeris, “Apa salahku pada-Mu Tuhan, Kau buat aku begini?”

Mudah lidah menggumankan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, tapi berat nian maknanya… Semua dari Allah, dan kepada-Nya pula segenap kembali. Asli, berat!

Begitu pula soal ibadah wajib, (konon pula sunat), mayoritas masih tercecer. Jadi dari sudut mana saya berani merasa sudah Islam? Ritual tidak, hakikat apalagi. Memang sesungguh hati saya bersaksi, mengakui, tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Tapi apa itu cukup? Kekna ngga deh!

Berarti saya Kristen? Jauh juga! Stok cinta kasih di gudang jiwa saya sangat minim, mirip pasokan semen saat dipermainkan spekulan. Apalagi untuk berkorban, menjadi lilin, musnah untuk memberi terang bagi dunia. Hare gene, gitu lo? Nah, kalau menulis tentang itu sih, bisalah, seolah-olah saya ini mata air cinta yang menyejukkan. Aduh jadi malu…

Tapi andai Anda berkesempatan - mudah-mudahan tidak - mengecek langsung, betapa tidak bahagianya orang-orang yang kusebut kucintai… Yang menjadi hak mereka pun belum bisa kugenapi, apalagi untuk berkorban demi mereka. Kalau membuat mereka terpaksa berkorban sih, udah tradisi …

Padahal kasih dan pengorbanan adalah esensi Kristen, setidaknya demikian yang saya pahami.

Jadi, bila menjadi muslim berarti memiliki jiwa yang berserah diri kepada Allah, tawakkal, ridha dan diridhai - radhiayatam mardhiyah - Wallah Lillah, saya ingin hidup dan mati dalam Islam. Hanya dengan penyerahan diri kepada pemilik segala kehidupan, jiwa yang rapuh bisa terbentengi dari segala derita, luka, dan siksa, dan akhirnya selamat sampai ke sisi Yang Maha Tercinta. Sungguh benarlah, bahwa hanya Islam, penyerahan diri itu, satu-satunya sikap hidup yang diterima di sisi Allah.

Tapi juga bila Kristen adalah pribadi yang selalu memancarkan kasih sayang, mencintai orang lain seperti dia mencintai dirinya sendiri, dan oleh karenanya siap berkorban demi orang lain, izinkan saya bermimpi punya jiwa seperti itu, tanpa harus membebani leher saya dengan kalung salib berukuran besar, yang terbuat dari logam.

Benarlah juga, hanya Kristen, kasih dan pengorbanan itu, satu-satunya jalan menuju Dia. Masuk akalkah, ada yang tembus mencapai sisi Tuhan, dengan hati yang penuh kebencian dan karakter yang mau menang sendiri?

Bahkan bila Buddha adalah level jiwa yang sudah terbebas dari segala macam hasrat dan keinginan, aku juga ingin menapak anak tangga ke nirwana, juga tanpa harus menggunduli kepalaku, yang bentuknya kebetulan kurang begitu simetris.

Juga bila menjadi seorang Hindu berarti mau dan mampu hidup selaras dengan sesama manusia, bahkan dengan seluruh makhluk ciptaan Tuhan, sebagaimana terbukti di Pulau Dewata, mengapa tidak? Bukankah itu berarti Hindu adalah satu-satunya jawaban mencegah angkara membakar dunia, menghempang bumi dari kerusakan di semua penjurunya. Mengapa saya tak mau jadi Hindu, tanpa harus memaksakan diri nyelonong ke pura.

Tentu saja, tak perlu serakus itu, merengkuh semua agama, yang hanya akan buat capek pas ngisi formulir di kelurahan. Saya yakin, satu ajaran saja kita hidup-hidupkan dalam diri dan keseharian secara konsisten, tugas menjalani kehidupan di dunia akan terlalui dengan mudah. Jika tugas itu sudah selesai, mati, atau apapun yang menunggu di seberang sana, rasanya tak kan lagi perlu dicemaskan.

Jadi apalah nama, karena yang ditunggu sejarah adalah bukti, yang diperintahkan Tuhan adalah bakti.

Ketika seorang gadis, yang gelombang rambutnya seolah sampai ke degup jantungmu, yang di bening matanya seperti kau lihat masa depanmu, di gemulai lengannya begitu nyata anak-anakmu yang akan lahir di hari depan menggelayut manja, masihkah kau peduli siapa namanya? Kau bahkan takut untuk berpikir, cemas kehilangan momen, ketika dia tiba-tiba merenggut wajahnya dari tatapmu yang masih dahaga.

Sms mana coba yang Lae pilih… “Aku tak tahu namamu, tapi aku mencintaimu”, atau “Aku tahu namamu tapi aku tak mencintaimu”.

Panjang ya Lae… Aku pun tak yakin Lae, atau siapapun, di hari yang sesibuk ini, membaca sampai ke sini. :D Tapi daripada download clip jav?

*****

Lae bilang Kalaupun Lae Nainggolan ini Muslim, aku yakin lae tidak memahami Islam sepenuhnya… Absolutly right! Nampak kali ya Lae betapa cekak pemahaman saya tentang ajaran agung yang dibawa Baginda Nabi ini… Justru dengan kesadaran itulah Lae, diskusi seperti ini kujadikan usaha untuk saling memperkaya satu sama lain. Omong2, Lae bisa kasih referensi siapa kira2 orang yang paham Islam sepenuhnya?

Lae Sinurat yang tetap santun dan bersahabat dalam ketidaksetujuannya. (Terus terang, itu kualitas yang langka. Entah kenapa, bawaannya mau kasar aja ama yang kontra).

Saya sebenernya ngga pernah bilang semua agama itu sama, tetapi memang kuyakini semuanya sama-sama jalan menuju Sang Kebenaran Sejati, sama-sama merupakan usaha mencari hakikat kehidupan, dan oleh karenanya harus pula sama-sama menjadi alat untuk memperbaiki kehidupan. (Namanya juga usaha, bisa untung, bisa buntung. Namanya jalan, bisa tembus, tapi kalau kena longsor bisa juga putus).

Karenanya saya selalu risau; bagaimana mungkin, dua atau lebih jalan mencari kebenaran, justru bisa berbenturan, bermusuhan. Bukankah korban pertama dari setiap permusuhan justru kebenaran itu sendiri? Atau apakah kebenaran ini sejenis siluman berwajah banyak, yang mengadu domba kita? Wah, benar-benar siluman sialan dia itu!

Nah, justru karena sadar agama itu berbeda, Laeku, makanya dalam setiap tulisan dengan topik spiritualitas, saya berusaha mengedepankan saling pengertian, saling penghargaan, kerendahhatian. Kalau yang membahas perbedaan, udah terlalu banyak, Lae. Menurut teori pemasaran, buatlah produk yang belum banyak terdapat di pasar, sehingga positioning-nya jelas.

Merasa paling benar itu sah-sah saja, dan adalah hak masing-masing orang untuk merasa nyaman dengan kebenaran yang digenggamnya. Yang kemudian jadi masalah adalah, bila perasaan itu disuarakan, dikoar-koarkan, apalagi bila sampai menuduh orang di luar kita sesat, dan dipastikan telah memesan kavlingnya di neraka. Amang tahe… Bukankah agak terlalu seram kita membayangkan “wajah” Tuhan, Zat yang kita sapa dengan segala harap; “Yaa Rahman, Yaa Rahim, Wahai Kasih, Wahai Sayang… “

Bersyukurlah bila telah mendapat sentuhan hidayah, petunjuk, roh kudus, atau apapun itu bentuk-bentuk getaran misteri Ilahi yang memesona itu, tapi tolong jangan tudingkan jarimu kepada mereka yang kau anggap belum mendapat. Kita tak pernah tahu, sungguh kita tak akan pernah tahu, mereka telah sampai di mana.

Soal ketertarikan mempelajari serba sedikit tentang agama lain, terutama Kristen yang saya lihat punya “riwayat kekerabatan” dengan Islam, itu adalah bagian dari usaha saya untuk bisa mendapatkan sudut pandang yang lebih baik, yang lebih bersahabat, terhadap agama lain.

Tak takut tergelincir? Almarhum Ayah saya pernah bilang, “Kalau memang merasa yakin sudah mengemas kebenaran sejati di dalam dirimu, mengapa harus takut berhadapan dengan tantangan pemikiran apapun? Semakin kau gentar atau enggan bersinggungan dengan “kebenaran” orang lain, semakin kau anggap remeh kebenaran yang telah kau miliki.”

Begitulah kira-kira Laeku. Terlalu panjang nampaknya ya… (Makanya bingung aku melihat orang-orang yang sibuk memperpanjang alat-alatnya, baik yang vital maupun yang fatal: kuku atau taring, misalnya. Padahal kuncinya kan the man behind the gun, ya ngga Lae? It’s all about technic and skill, dan tentu saja reliabilitas. Paham maksudnya? Saya nggak!

Sering-sering berkunjung ya, Laeku, Saudaraku, dongan sabangsokku. Ini bukan basa-basi, tapi aku memang lebih suka pendapat yang menentangku, seperti yang dengan jitu Lae tembakkan, yang akan memperkaya pemikiranku, daripada yang setuju belaka, dan malah membuatku terlalu yakin dengan kebenaranku, dan akhirnya menutup diri terhadap sapaan kebenaran lain.

Akhirnya, keselamatan, cinta, pengampunan, serta berkat Allah SWT selalu terlimpah kepadamu, kepadaku, kepada kita semua.

—————————————————————–

PS: Salah satu dari tiga komen Lae yang paten-paten itu, kupilih sebagai comment of the week. Mantap Lae, serius. Buatlah blogmu. Aku yakin, Lae bisa memberi sesuatu yang berarti kepada banyak orang, atau syukur-syukur, membuat banyak orang jadi berarti.

Cihuuy! Rekor baru, posting ini mengandung 1414 kata, itu belum termasuk kata ”Cihuuy!”

30 komen sejauh ini

  1. Valentino Rossi on 19 Februari, 2008

    Mantap B Toga. Tulisan ini melaju seperti sebuah motor balap yang menggunakan mesin ducati, memakai sasis honda, dan rider-nya dari yamaha, The Doctor.

    1411 lap, tak terasa saya melahapnya. Mungkin harus saya baca beberapa kali lagi.

    Dan ini: Bersyukurlah bila telah mendapat sentuhan hidayah, petunjuk, roh kudus, atau apapun itu bentuk-bentuk getaran misteri Ilahi yang memesona itu, tapi tolong jangan tudingkan jarimu kepada mereka yang kau anggap belum mendapat. Kita tak pernah tahu, sungguh kita tak akan pernah tahu, mereka telah sampai di mana.

    Anda pantas dapat podium!

  2. cintabening on 19 Februari, 2008

    Setuju, Bang! justru beranjak dari ketidakpahaman tentang sesuatu yang membuat kita nggak berhenti belajar.

  3. Agiek on 19 Februari, 2008

    membaca tulisan abang yang ini, saya seperti menyelam ke samudera hakikat yg paling dalam. Anehnya semakin dalam aku menyelam, bukan sesak yang kudapat, justru kelegaan luar biasa yg belum pernah kudapatkan sebelumnya.

    Mind, body, and soul seolah-olah tersegarkan bersama-sama..
    ..

    *speechless*

    PS:

    Bang nulis buku dong! entar kalo ga best seller, aku bantu jualin deh pake sistem mlm hehehe :)

  4. nesia on 19 Februari, 2008

    @Valentino
    Wuih… MotoGP banged tuh komen. Boleh juga tuh membangun supermotor dengan komponen gado-gado terbaik gitu. Yg laen pasti diasapi semua.

    @Ning
    Semakin banyak belajar, semakin sadar betapa kita ngga tau.

    @Agiek
    Kacau, melambung aku… Ini jenis komen yang berbahaya :D

  5. fetro on 21 Februari, 2008

    terimakasih pencerahannya Bang. setuju deh kalo Abang bikin Buku :)

  6. kw on 22 Februari, 2008

    sepakat . saya juga suka “nengok2 kepercayaan sebelah. dan intinya sih tak ada yang bertentangan sama sekali. perbedaan satu sama lain hanya pada tingkat praktek doang.
    lae, bisa posting tentang parmalim? :)

  7. Ryan Shinuraz on 23 Februari, 2008

    Assalamu aliakum (Salam kebahagian dan kesejahateraan untukmu laekku Toga Nainggolan (kira2 gitu artinya ate lae? )

    Horas Laekku…. (kira2 gitu artinya kalo di bahasa batakkan. He.he.. jadi teringat aku ada blog yang ngartikan pancasila dalam versi bahasa batak. sayang aku lupa siapa yang ngarang.)

    Lae Nainggolan…
    Pertama, aku begitu senang sekali bisa dapat balasan atas komentarku yang kubuat beberapa waktu lalu. Jujur sebagai orang yang masih sangat awam, mendapat balasan saja sudah merupakan suatu yang sangat berharga bagi saya lae. apalagi dari orang sekelas lae. Mulanya saya berpikir kalau komentar saya akan menjadi sampah di blog lae. Tapi ternyata ditanggapi sehingga menjadikan saya ingin lebih berbincang lebih banyak dengan lae Nainggolan tentu dalam konteks saling belajar dan menimba ilmu.

    Lae Nainggolan….
    Jujur pula saya akui lae, dalam komentar saya sebelumnya lupa menambahkan bahwa perlunya saling menghargai dan saling pengertian dalam menyikapi masalah ini. Tapi lae, percayalah bahwa apapun komentar saya sebelumnya bukanlah berarti menyudutkan golongan tertentu dan mengkerdilkannya. Seperti menganggap bahwa kristen itu adalah sesuatu yang buruk dan menjijikan misalnya. Tidak dan tidak sama sekali.

    Lae Nainggolan,
    Saya jadi teringat dengan kampung halaman saya di Kecamatan Bandar Pasir Mandoge. Mungkin lae belum pernah mendengarnya. Tapi itu salah satu kecamatan di Kabupaten Asahan. Dikampung halaman saya ini, bisa dikatakan bahwa Islam dan Kristen itu jumlahnya berimbang. Suasana kondusif disana sungguh jauh dengan kondisi sekarang ini yang kita lihat di berbagai media. Ada yang merasa diri paling benar, lalu mengkafikan orang lain. bahkan saudara sendiri pun di kafirkan. Ada yang sampai perang saudara dan saling membantai. Ada pula yang berkonvoi layaknya seperti perang Badar ketika memprotes suatu hal. Padahal, belum tentu yang disuarakannya itu sudah benar bisa dihindarinya dengan sebenar-benarnya. Seperti protes tentang Valentine Day itu misalnya, belum tentu orang2 yang beriyel-iyel meneriakkan penolakan itu sudah membina keluarganya dengan benar, sudah mendidik anaknya dengan tepat, sudah benar ibadah namborunya, sudah benar rakaat tulangnya, sudah berpuasa berenya ketika bulan puasa tiba atau bahkan belum bisa mengendalikan nafsunya sendiri. Ini sungguh menyedihkan. Dikampung saya ini sungguh tidak pernah terjadi. Suasana saling menghargai itu saya pikir masih terjaga sampai sekarang. Isu agama itu sungguh jauh2 disingkirkan. Itu terbukti ketika acara adat dalam suatu acara pesta misalnya. Harga mengharagi itu sungguh sangat terasa. Ketika yang berpesta orang kristen maka tak lah pula harus menjadikan Daging babi sebagai jambar. Apalagi Hula2 nya mungkin muslim. Kalaupun harus memotong daging babi, maka disediakan rumah atau halaman khusus untuk orang yang muslim. Dan bukan berarti hubungan persaudaraan langsung terputus. Bahkan bulan Oktober lalu, ketika Oppung boru dari ibu saya meninggal, masih menggunakan adat batak walaupun kata sebagian orang masih kurang lengkap karena tidak ada gondangnya. Tapi Adat masih tetap jalan.

    Lae Nainggolan…
    Mungkin karena kondisi dan suasana yang seperti itulah, maka saya tidak pernah menyudutkan orang lain diluar saya secara berlebihan. Saya berusaha menghargai orang diluar muslim dengan tidak terlalu membenturkan setiap masalah dengan agama. Yang saya tahu dan selalu menjadi inspirasi dalam menyikapi Islam Kristen ini adalah kondisi dikampung saya. Saya selalu berpikir lae, Kenapa di kampung saya bisa? Apa muslim yang dikampung saya itu bukan muslim yang sebenar-benarnya karena mau bermasyarakat dengan orang Kristen? atau Apa orang Kristen dikampung saya hanya berpura-pura baik saja di hadapan orang2 muslim dan sebenarnya Membenci Islam? Apa semua kondisi ini merupakan bom waktu yang kapan saja dapat meledak seperti yang terjadi di Poso? wah, saya tak bisa membayangkan kalau ini terjadi. Tapi saya yakin lae, Saya Masih Islam, Orang tua saya masih Islam, Tulang saya juga masih Islam. Tetangga saya yang Kristen juga pasti masih menjalankan agamanya dengan benar.

    Lae Nainggolan,
    Saya setuju dengan lae bahwa memang harus ada saling pengertian dah menghargai. Ini memang masalah kepercayaan. Percaya (iman) kepada Tuhan. Kita tak dapat memaksakan kehendak kita untuk dapat membuat orang selalu mengikuti kita karena kita merasa paling benar dalam mengikuti kepercayaan itu. Tapi Maaf lae… Apapun namanya, menghina dan menghujat agama Islam atas nama budaya menurut saya adalah tetap merupakan sikap nyeleneh. Menganggap Budaya Batak lebih mulia dari Al-Quran adalah penghinaan yang sangat menusuk hati setiap muslim. Bukannya menjelekan adat batak dengan segala aturan mainya. adat itu tetap indah dan memang diperlukan dan harus di lestarikan. Saya dan ribuan orang batak yang muslim seperti saya juga setuju bahwa agama Islam tidak melarang budaya batak. Tetapi jika muncul pertanyaan begitu mendasar : Agama Islam atau Adat batak?
    Maka akan ada juga ribuan ragam jawaban dan alasan yang akan diberikan. Saya sendiri tak akan ragu menjawab bahwa saya masih memilih Islam. sekali lagi bukan berarti saya tidak beradat. Bukan saya tidak mencintai batak. Bahkan dengan bangga saya katakan betapa bangganya dilahirkan sebagai orang batak.

    Lae nainggolan…
    Balasan saya kali ini lae mungkin agak melenceng dan tidak relevan dengan pembahasan kita sebelumnya. (agak tak nyambung ate lae).Tapi dengan segenap kerendahan hati saya selalu berharap bisa bertukar ilmu dengan lae dan juga dengan semua orang yang membaca blog lae. Dari komentar saya kali ini, Satu penegasan dari saya lae, bahwa komentar atau opini yang sebelumnya bukanlah berarti memojokkan lae. Bukan dalam koridor menghujat dan menghina. Saya, Lae dan kita semua saya pikir adalah dalam tahap belajar. dan memang terus dalam tahap itu.
    Karena itu lae, saya tetap mengharapkan balasan atau setidaknya setitik dua titik komentar yang akan terus menjadi inspirasi dan motivasi bagi saya untuk terus berkembang dalam berpikir dan berpendapat sehingga saya dapat menyikapi setiap persoalan di depan saya dengan arif dan bijak.

    Lae Nainggolan,
    Sekali lagi terima kasih atas segalanya. Saya senang belajar. apalagi yang menyangkut budaya batak. Pertama kali membaca blog lae, saya terkesan. belum pernah saya jumpai gaya bahasa yang seperti ini sebelumnya.

    Horas tu Lae Nainggolan…
    Horas tu hita saluhutna

    Botima

  8. lohot simanjuntak on 23 Februari, 2008

    @lae sinurat
    pendapat saya:pelihara dan tingkatkan kerukunan beragama itu. dan setau saya memang di mandoge dan sekitarnya hal ini terjalin dengan baik
    oot:lae nurat masih bisa enggak mandi di sungai kopas?

  9. Ryan Shinuraz on 23 Februari, 2008

    Horas Laekku SImanjuntak…
    Bah…. Toho do ibah Lae.. memang harus dipeliharalah kerukunan beragama itu. Saya gak menyangka kalau ada yang baca blog lae naingggolan ini yang tau kampung saya Bandar Pasir Mandoge.
    Lae…Juntak, mungkin sungai kopas yang dulu sudah lain dengan sekarang. kalo lae nanya mandi, ya mungkin bisa aja. Tapi terus terang lae, melihat kondisi sungai kopas sekarang sungguh prihatin kita. Airnya sudah tak sederas yang dulu lagi mengalirnya. Mungkin habitat didalamnya pun sudah hampir punah. Ikan-ikan yang dulunya biasa kita lihat kini tak pernah nampak lagi.

    Ok lae juntak…
    Salam kenal bah. Kalau boleh tau apa pernah lae tinggal di mandoge atau mungkin punya sauadara disana??

    Mauliate

  10. almascatie on 24 Februari, 2008

    sudah berapa kali aku baca-baca disini, dan sudah berapa kali pula aku melihat bang toga membahas mengenai keagamaan, status, maupun plakat yang harus bang Toga pikul seperti sayah, sodara-sodara yang laen serta ribuan orang, tapi harus sayah akui, makin banyak pertanyaan ke bang Toga, yang mempertanyakan plakat mana yang disandang membuat sayah jadi sedikit merasa aneh.
    Sayah mungkin bukan seorang penganut agama yang alim sekaligus orang yang masih membutuhkan plakat yang bernama agama, tapi sayah pun mencoba memahami dan sayah sangat kagum sama bang Toga, tidak ada keterikatan membuat bang Toga bisa menjelajah sampai pada sekat2 yang jarang ditembus orang atau bahkan sengaja untuk tidak ditembus oleh semua orang yang melewati tirai tersebut dengan membawa plakat bernama agama masing2.
    Tapi ini adalah pilihan, pilihan yang harus dilalui oleh setiap orang yang mampu memilih, Bang Toga telah memilih untuk menjalani ini, setidaknya adalah pilihan yang sangat idiot -bagi pendapat umum yang tidak menerima- dan pilihan yang sangat cemerlang bagi orang2 yang terus mencari..
    sayah menikmati diskusi2 disini sebagai masukan yang kadang tingkat obyektifitasnya melebihi air zam-zam yang suci, karena disini semua seakan mencari, dengan mempertanyakan, menghujat, melecehkan ataupun apalah sambutannya, namun semua berujung pada pencarian, hanya kita tidak mau melepas plakat dan bersembunyi dalam tabir ketidakmampuan untuk keluar, bang Toga telah mendahului kita dan sayah berdoa semoga bang Toga mampu mendapatkan cahaya tersebut sehingga cahaya tersebut tidak hanya berada dalam genggaman bang Toga seorang, tapi memancar kesemua orang yang pernah atau sering bahkan langganan disini. :)
    Mungkin bagi saya Jika Tuhan ataupun apalah namanya itu ada tiga, empat bahkan seratus maka dunia pun akan lebih dari satu, tapi jika dunia hanya satu saya pasti mencari “DIA Yang Maha Kuasa” entah jalan apa yang ditempuh hanya keyakinan akan jalan yang dilalui yang akan menentukan sampai atau tidaknya saya di depan “DIA”

  11. emmy21 on 25 Februari, 2008

    menangis aku mengenal kalian .. orang-orang terkasih …
    kalian bukan calon pengguni surga



    surga lah sudah kalian semua

  12. meiy on 26 Februari, 2008

    membicarakan perbedaan, pencarian dg damai terasa nyaman…walaupun kita bisa saja tak sepaham

  13. lohot simanjuntak on 27 Februari, 2008

    @sinurat
    dulu saya sering kesana ,cari barondolan.he..he..
    dan masih pengen kesana kalau ada waktu
    dan untuk lae toga
    mauliate godang-horas

  14. yati on 27 Februari, 2008

    beuh…1414? nomer cantik. :p

  15. nirwan on 4 Maret, 2008

    wih ngeri kali postingan ini bah :D males ah ikut campur, ntar dikira murtad pula. :)

    tapi, btw, gambar avatar bang toga ini pun ngeri kali, imam husein. :D

  16. dogom harahap on 4 Maret, 2008

    tolong carikan kampung ompung bapak saya di daerah pasir mandoge nama kampungnya Damak Rambe. Ompung bapak saya ini marganya Harahap tapi waktu merantau 100 tahun lalu ke kecamatan tanah Jawa dia mengaku ke Raja Tanah Jawa ber marga Rambe.
    Mauliate

  17. dogom harahap on 4 Maret, 2008

    tolong carikan kampung ompung bapak saya di daerah pasir mandoge nama kampungnya Damak Rambe. Ompung bapak saya ini marganya Harahap tapi waktu merantau 100 tahun lalu ke kecamatan tanah Jawa dia mengaku ke Raja Tanah Jawa ber marga Rambe. Nama ompung bapak itu Lobe Bonggal tapi di sana kata orang di panggil Muhammad Banggal. Dialah yang mendirikan Damak Rambe kira-kira tahun 1900 dan sekaligus jadi Tuan Syeh. Kata orang kuburannya menjadi keramat dan banyak orang berziarah dan bernazar ke sana. Kami keturunannya belum pernah ke sana
    Mauliate

  18. edward simatupang on 6 Maret, 2008

    saya adalah seorang guru.., ketika saya bertanya kepada siswa yang beragama Islam dan Kristen, percayakah kamu bahwa kau yang yang beragama Islam dan kau yang beragama kristen diciptakan (reproduksi) oleh oknum yang sama…? maka siswaku menjawab: ” percaya pak …!” Dan saya katakan siswa tersebut: ” Jangan pertentangkan agama, tetapi lakukanlah yang terbaik untuk kehidupan menurut keyakinanmu dan yang terpenting jangan rusak ciptaan ALLAH (manusia maupuin yang lainnya). Oleh karena itu marilah kita semua manusia berbuat baik dan kebenaran menurut hukum hati nurani y7ang setiap waktu berbicara dengan kita (kalau hati nuraninya belum mati). Tetapi ingat bukan dunia ini yang akan kita buat baik, sebab dunia memang harus hancur, tetapi yang kita buat bauk adalah kehidupan kita… Horasss…!

  19. taqiku on 15 Maret, 2008

    salam kenal

  20. Ryan Shinu Raz on 16 Maret, 2008

    Horas di hita saluhutna..
    @lohot simanjuntak

    Nyari brondolan dimana lae dimandoge?? ( ha..ha… ;) sekarang harga sawit lebih menggila lae, cepat2 lah lae ke mandoge lagi sotung sanga anjok muse lae.. ( hee..Hee)

    @dogom harahap
    Usia saya hampir 24 tahun, tapi belum pernah saya dengar nama itu (damak rambe) di kecamatan Bandar Pasir Mandoge. Jangankan nama, sejarah tentang Raja Tanah jawa yang bermarga rambe belum pernah saya dengar. Entah saya yang kurang bertanya kepada oppung saya, pemuka adat, orang2 tua disana. Ale, ntar aku tanya nanti sama oppung ku. apa pernah ada marga rambe jadi raja di Mandoge atau di Tanah Jawa.

    Horas

  21. RAJANI SIMATUPANG on 27 Maret, 2008

    Berbicara agama,TIDAK PERNAH BISA SELESAI SEBAB MASING2 MENGKLAIM KEBENARANNYA.MENGAPA DEMIKIAN?KARENA YG MEMBUAT AGAMA ITU MANUSIA.ARTINYA ADA KETERBATASAN MANUSIA.OLEH SEBAB ITU TUNDUKLAH KEPADA FIRMAN TUHAN.DARIMANA KITA TAHU BHW ITU FIRMAN TUHAN,TENTU DARI KITAB SUCI MASING2 AGAMA.TETAPI APAKAH SEMUA ISI KITAB SUCI ITU FIRMAN TUHAN?(KATA2 LANGSUNG TUHAN?).JELAS TIDAK!DISITU ADA SEJARAH,PENGALAMAN,NASEHAT PARA IMAM/NABI DAN LAIN2.INDIKATOR FIRMAN TUHAN(KATA2 LANGSUNG TUHAN)AKAN TERDAPAT KATA2″AKU,KITA ATAU KAMI” DALAM KALIMAT AYATNYA.SELEBIHNYA ITU ADALAH TANGGAPAN/PEMAHAMAN MANUSIA(IMAM,NABI,ATAU UMAT) DAN ITU AKAN BERBEDA-BEDA.

  22. lohot simanjuntak on 28 Maret, 2008

    @ nesia
    sori natua-tua holanna oot
    @ sinurat
    nyari berondolan ,di asahan maupun simalungun, parjalang naso dapot tuppal,he..he..
    @ dogom harahap
    sepertinya cerita mu itu pernah saya dengar ,di daerah gereja lama buntu turunan,dulu ada ustad marga sirait(disini mayoritas batak islam),atau cuba tanya marga sinaga disamping gereja HKBP buntu turunan,beliau muslim,saran saya kalau dicari pasti dapat
    mauliate godang lae Toga-Horas

  23. arif sipayung on 28 Maret, 2008

    horas lae..!

    aku pikir setiap individu selalu mengalami hal namanya pencarian..(kalau merasa tak ada lagi yang dicari ya udah game over aja..) mencari yang paling benar.. setelah beberapa lama mencari dan mengandalkan diri/fikiran/kekuatan sendiri…..
    tapi ternyata aku tak mampu, jika aku tidak berserah.. sampai suatu saat saya berserah.. dengan satu keputusan aku harus punya “kandang” iman.
    mula mula aku merasa tidak enak di “kandang” saya sendiri karena ternyata kadang yang saya tempati itu terlihat sumpek, reyot, kotor, bau dan penghuninya juga amburadul.. apalagi kalo kulihat dari “kejauhan” kandang tetangaku, bersih, rapi, teratur, catnya bagus..! (apa karena ngeliatnya dari jauh ya?!)
    memang aku belum bisa merubah kandangku menjadi istana, tapi paling tidak melihat kandangku papannya ada yang reyot, ku ambil paku.. yang kotor ku sapu.. ku buang sampah.. pakai pengharum ..tapi tau nggak lae.. pas aku diri di depan kaca..barulah kulihat diriku sendiripun.. compang camping..udah kayak gelandangan..!! tapi, minimal aku udah punya kandangkan..?? tempat “berteduh” kalau hujan, tidurpun tak perlu lagi “numpang” di emperan, kalau “kedinginan” masih ada kain yang bisa kita pakai untuk selimut..nggak kayak dulu lagi..!

    salam damai..

  24. lohot simanjuntak on 31 Maret, 2008

    @ arif sipayung
    bagus itu lae harus punya kandang sendiri,namun jangan lah melihat dari jauh kandang orang lain,sebab kandang orang matipun sangat bagus,indah,putih,dst,namun isinya tetap lah bangkai dan tengkorak
    salam kenal - horas

  25. Ryan Shinu Raz on 4 April, 2008

    Horas di hita saluhutna…

    @lohot simanjuntak….”parjalang naso dapat tuppal..???”. Aha muse do i lae???

    Jadi sekarang Lae tinggal dimana??
    Koq sama lae kayak aku rajin kali kayaknya menyamperin blolg ini… ??

    Horas lae…

  26. boreg on 17 April, 2008

    Horas Bang …

    Aku baru nemu nih situs ini, tapi beneran deh TOPPPP ABIIEEZZZZZ………

    Hampir semua pembahasannya menggambarkan realita yg emang kita alamin gak kayak sinetron2 atau novel2 yg cuma mengumbar cerita2 duniawi yg bikin makin banyak aja orang stress di bumi ini.

    Yg jelas setelah nemuin nih blog hampir tiap hari aku bacanya…
    Okelah Mauliate ya bang …

  27. boreg on 17 April, 2008

    Horas Bang …

    Aku baru nemu nih situs ini, tapi beneran deh TOPPPP ABIIEEZZZZZ………

    Hampir semua pembahasannya menggambarkan realita yg emang kita alamin gak kayak sinetron2 atau novel2 yg cuma mengumbar cerita2 duniawi yg bikin makin banyak aja orang stress di bumi ini.

    Yg jelas setelah nemuin nih blog hampir tiap hari aku bacanya…
    Okelah Mauliate ya bang …

  28. Tikus on 17 Mei, 2008

    Just Read the Bible …

    GBU

  29. goklas sinurat on 19 Mei, 2008

    salam kenal baa bang sinurat….
    nangis aku baca tulisan abang…… karena kejadiannya mirip yang dialami keluarga kami….

  30. Ryan Shinu Raz on 10 Juni, 2008

    @goklas sinurat

    Horas bah… abang..
    Maaf bang.. baru liat komen abang ada disini.
    Tapi kalau boleh tau kenapa abang mesti nangis?
    Tulisan yang mana bang mirip kejadian keluarga?

Leave a reply