jump to navigation

Pesona Bunuh Diri yang Menggoda 13 Nopember, 2007

Posted by Toga Nainggolan in albert camus, artikel, bunuh diri, celebration of life, cinta, filosofi, inspirasi, kata hati, kehidupan, kematian, lucu, opini, spiritualitas, tragis.
trackback

Menurut Albert Camus, sebenarnya hanya ada satu pertanyaan paling besar dalam kehidupan, persoalan filsafat yang merupakan sumber dari segala sumber pertanyaan. Apa itu? Bunuh diri.

Menilai bahwa hidup ini layak atau tidak layak dijalani: itulah pertanyaan dasar filsafat. Selebihnya, apakah dunia memiliki tiga dimensi, apakah jiwa memiliki sembilan atau dua belas kategori, apakah perempuan perlu tiga hati, apakah berbohong demi kebenaran itu boleh, merupakan pertanyaan asesoris aja.

Saya jadi berpikir tentang persoalan yang terlalu serius ini, setelah di beberapa blog aku lihat ada tebar aroma kematian. Kematian blog, maksudna. Nah, sebelum kita memasuki pokok bahasan, halah!, silakan cermati dua ilustrasi berikut.

Bunuh Diri I

Suatu hari Bologuddin berniat untuk bunuh diri dengan meledakkan diri di tepi sebuah sungai. Bubuk mesiu sudah ditaburkan di seluruh badannya, api sudah dinyalakan pada tumpukan kayu kering.

Ia pun naik pohon dengan mata tertutup, ia berpikir jika ia loncat ke api maka akan meledak dan mati. Sesampainya di atas pohon ia pun meloncat. Tetapi karena terlalu semangat, Bologuddin meloncat terlalu jauh, tidak mendarat di api, tetapi tercebur ke sungai berarus deras itu.

Dengan terengah-engah ia pun berenang ke tepi, sesampainya di tepi ia pun merutuk, “Sialan, untung gue jago berenang, kalo nggak bisa mampus gue.”

Bunuh Diri II

Seekor babi, bukan beibeh ya, tampak bermuram durja. Mataya menatap kosong. Jembatan tempatnya berdiri, melintasi jurang yang sangat dalam dengan batu cadas berlumut. Debur arus air di bawah sana, hanya terdengar samar.

Seekor monyet mendekat, keheranan. Memberanikan diri bertanya, selembut mungkin, “Bi, lu ngapain di situ”.

Si Babi menoleh, masih dengan mata sendu itu. Lama dia baru menjawab. “Gue mau bunuh diri, Nyet”.

“Hah? Napa? Apa masalahnya? Ngomong dong, cerita-cerita ama gue. Jangan main emosi gitu.”

“Gimana gue ngga mau bunuh diri coba? Gue kesel banget tuh ama manusia. Masa kalau memaki orang pake bawa-bawa nama gue sih? ‘Babi lu, dasar babi lu, babi ngepet lu!’ gitu. Salah gue apa?”

Monyet menyimak, merasa tak perlu bicara.

“Belum lagi bapak-bapak manusia yang kurang ajar, yang memaki anaknya ‘Anak babi lu!’, lha kapan gue bikin affair ama bini dia? Sori ya.”

Si Monyet tak lagi bisa menahan geram mendengar keluhan sahabatnya itu. Ia jadi ingat, namanya juga sering dipake manusia dalam makian. Dengan simpati yang sampai ke uluhati dia menyarankan, “Udah deh, Bi, ngga usah dipikirin. Emang babi tuh manusia!”

Si Babi pun terjun bebas, meinggalkan si monyet yang menutup mata, mulut, dan telinga, saking kagetnya.

Para pembaca sekalian yang berbahagia… Tulisan ini bukan untuk Anda, karena kalau memang Anda bahagia, bunuh diri tentu ngga bakal pernah kepikiran.

Jadi, para pembaca yang sedang kurang bahagia. Rhoma Irama (?) pernah bersabda, “Sudah tiada baru terasa, bahwa kehadiranmu sungguh berharga”.

Pernah merasa betapa kehilangan, merasa bahwa kesehatan begitu berharga, ketika Anda sedang terbaring sakit?

Pernah merasa bahwa kekasih Anda yang ceriwis, posesif, cemburuan, manja, ngga mandiri, pokoknya segala yang menyebalkan deh, ternyata telah membawa setengah hidupmu, menghisap separuh napasmu, mencuri isi laci hatimu, begitu dia memutuskan pergi, setelah kau nyatakan tak lagi menghendakinya?

Nah, bayangkanlah Saudara-saudara… Betapa kau akan sangat merindukan kehidupan, beberapa menit saja setelah kau berhasil membuangnya. Dan kau sudah berada di titik itu, at the point of no return. Nyesek dah pokoknya, senyesek liang lahat.

Hargai hidupmu, bagaimanapun bentuknya, beri arti kepada apa yang dikira orang sudah tiada. . Bahkan dalam getir dunia, dia tetaplah pilihan termanis, dibanding apapun.

Jangan pikirkan orang-orang yang menyebalkan itu. Emang bab, ups, emang manusia itu semua!

——————————————-

Masih kepikir untuk bunuh diri juga? Lanjut deh ke sini.

Komentar»

1. Andy-san! - 13 Nopember, 2007

Lucu, dalem, mencerahkan sekaligus. Bunuh orang lain itu kebodohan, bunuh diri itu lebih bodoh lagi.

Viva La Vida Loca, bener ngga ituh Bg?

2. Toga - 13 Nopember, 2007

Andy
Makasih. Dari kemaren, perasaan Anda muji mulu deh. Kritik dong, apa kek. Membawa-bawa babi tanpa izin tertulis dari asosiasi babi sedunia, atao apalah.

Thanks very very much. Yup, Viva La Vida Loca, ayo hidup gila-gilaan, daripada bunuh diri karena gila!

3. Andy-san! - 13 Nopember, 2007

Aku bakal memuji yang pantes dipuji, dan Abg siap-siap aja kukecam kalo kuanggap memang salah.

Tapi posting di atas udah kubaca ulang, Bg, belum nemu tuh bahan untuk dikecam.

Satu hal aja kali, apa abang ngga percaya ada janji kehidupan di alam sana? Kita yang beragama kan mestinya mempercayai itu?

4. Toga - 13 Nopember, 2007

Bah, jadi macam ceting kita di sini :) ) Lumayan nambah jumlah komen biar seolah-olah laris.

Aku percaya hari kemudian, tapi tidak percaya seperti digambarkan orang-orang itu. Tak usahlah kita bahas itu, bertele-tele nanti.

Yang jelas, aku mau hidup untuk hari ini. Di blog-ku yang dulu aku pake tagline “Reguklah Hari Ini”.

Aku yakin, bila aku jalani dan akhiri hari ini sebaik mungkin, esok akan bisa kumulai dengan sangat mudah, jadi tak perlu apapun kekhawatiran.

ps: aku kirim email. addresnya kok feminim gitu sih? Ops, maaf… It’s ok to be whatever you want to be.

5. venus - 13 Nopember, 2007

ga ngerti juga, knp pada ngerencanain bunuh diri ya? padahal ngeblog itu enak, lhoh :D

6. caplang™ - 13 Nopember, 2007

Jangan pikirkan orang-orang yang menyebalkan itu.

benar-benar menggoda :D

7. verlita - 13 Nopember, 2007

aku mau hidup 1000 tahun lagi!! hehehehe

8. Toga - 13 Nopember, 2007

Simbok Venus
Iya, keputusan yang buru-buru. Tapi kalo pun berpikir mau “bunuh diri blog” hayah!, cukup berhenti aja, ngga usah sampe dihapus. Jadi, kalo pengen balik lagi, bisa dengan mudah.

Pak Edy Caplang
Ga dipikirin, tapi kepikiran. Gimana kabar komunitas bloger Tangerang, Pak?

Verlita
1000 tahun lagi, teknologi blog udah kayak apa ya?

9. yati - 13 Nopember, 2007

lalu?

10. Toga - 13 Nopember, 2007

Yati
Lalu Mariyun, Lalu Lalang, Lalu Bersama Angin, lalu apa aja, asal jangan… lalu bunuh diri.

11. ann!sha - 13 Nopember, 2007

Lah iya, hidup didunia nyata konon udah sangat rumit, masa iya didunia maya dirumitin jugak. Ga bosen apa?

Kalo bunuh diri blog lagi trend, mungkin nesiaweek bisa memberi contoh yang kebalikannya. Dari terawangan saya, kayaknya sedang mengandung ‘bayi-bayi’ nan lucu dan cantik. Kapan bakal ‘dilahirkan’? Itung2 nyuntikin semangad baru bagi pembaca yang sedang tidak bahagia itu. Lagian, sepertinya penulis sedang menikmati kemewahan longgarnya waktu disela deadline nih.

sesuatu yang berwarna biru memang berkesan lebih macho dan tidak ‘intimidatif’ (wah, ada ga ya kata ini)

12. itikkecil - 13 Nopember, 2007

makasih bang toga, postingannya mencerahkan hati saya :D

13. Acho - 13 Nopember, 2007

huahahaha.. ini cerita lucu kan bang? huahahaha :D

*anjrit, gw ketauan ngakak sendirian dikantor*

14. dayat - 13 Nopember, 2007

cerita bunuh diri I asyik tuh..

menyiratkan bahwa bukan soal hasil akhirnya (yang sama) yang penting, tetapi proses menuju..

ahh untuk mati pun manusai bisa egois.. :p

15. Harriansyah - 13 Nopember, 2007

dl waktu sekolah pernah ad teori ttg ini, tp sayangnya aku suka tidur dikelas :) )

kl kg salah namanya anomie (merton)

16. Totoks - 13 Nopember, 2007

bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah.. lalu kenapa masih ada saja yg bunuh diri.. cupet atau dah kendor otaknya kali ya :D

17. Toga - 13 Nopember, 2007

Annisha
Scary, aku seperti berhadapan dengan “dukun” yang punya manajemen pengetahuan (knowledge management), kok bisa-bisanya tau aku sedang “hamil” sesuatu.

Ira
Sama-sama. Eceknya berbagai cahaya.

Acho
Ketawa sendirian? Seyem!

Dayat
Mo modar aja egois. Garing bgt ya.

Harriansyah
Yup, bener, teori anomie, kehampaan hidup. Kali, bagusan tidur emg daripada ngebahas gituan. :) )

Totoks
Bunuh diri emg ngga menyelesaikan masalah, tp menyelesaikan yg punya masalah. Kacian bgt.

18. Yeni Setiawan - 14 Nopember, 2007

Betul Bang, hargai hidup kita.
Kita adalah tokoh penting dalam hidup kita sendiri, tanpa tokoh penting, ba bakal seru hidup ini ^_^

19. unai - 14 Nopember, 2007

gak ah..gaau bunuh diri..gak mau kaya babi itu..ya kan Nyet? hehe

20. ordinary - 14 Nopember, 2007

celingak-celinguk
ini ngomongin apa yah
*mode oon *
:P

21. Ridwan Simanullang - 14 Nopember, 2007

Persiapkanlah kematian dengan menghargai hidup

22. Nesiaweek! - 14 Nopember, 2007

Yeni
Kita tokoh penting yah… perlu pengawalan ala VVIP dong. Tp bener tuh… hargai diri sendiri! Hidup diri sendiri!

Airin
Pura-pura lagi deh…

Ridwan
Sepenggal kata yang membuat terbengong-bengong.

23. Nesiaweek! - 14 Nopember, 2007

Nai
Lha, kok iso luput iki? Tp emg ngga bisa dijawab nih komen… Ntar malah gue dong nyet-nya…

24. zal - 14 Nopember, 2007

::akh mati.., mangapa kau disamain dengan bunuh diri…???, …hei mati kamu itu apa toh…, mengapa kau menjadi mengerikan…,..apa kau ngga bisa berjalan tapi aku tetap hidup…, hei mati jawab donk…, nyam..nyam..hmm..hmm..nyam..nyam..hmm…hmm…, bah yang lagi makannya aku rupanya…. :lol:

25. Bachtiar - 14 Nopember, 2007

hahahah :P

26. salamatahari - 14 Nopember, 2007

Bunuh diri sama dengan membunuh raga. Tapi tahukah anda bahwa kita lebih sering membunuh jiwa. Kita hidup tapi mati. Mati tapi hidup. karena apa? kita lupa memberi jiwa ini makan dan minum. Dan membiarkannya lapuk dalam kegelapan. Sehingga kesombongan jadi wajah kita. Keserakahan adalah kaki tangannya. Dan kita adalah tuan rumahnya.

Berfikirlah sebelum membunuh ragamu. Jangan-jangan sang jiwa telah mampus lebih dahulu tanpa kau ketahui.

salamatahari,

27. Toga - 14 Nopember, 2007

zal
kadang makan juga cara bunuh diri secara perlahan lo. pepatah arab bilang: banyak orang menggali kuburnya sendiri dengan giginya.

bachtiar
:D

hanum
asyik… akhirnya dapet juga bahan untuk komen minggu ini. udah lama banget tuh yg di atas.

28. maya - 15 Nopember, 2007

melepaskan diri dari godaan itu obatnya seperti yang di bilang selamatahari , beri jiwa makan dan minum yg menyehatkan , seperti tulisan ini misalnya :) .

29. Pandapotan MT Siallagan - 15 Nopember, 2007

Bunuh diri. Absurditas. Mite Sisifus. Sepak bola. Nobel sastra 1957. Ah, Camus yang memesona, diceritakan dalam bentuk gurih. Salut.

30. Toga - 15 Nopember, 2007

maia, eh, maya
yep. makanya jadi comment of the week. :) ) makanan menyehatkan seperti tulisan ini?

*mulai mencicipi monitor pc*

Lae Siallagan
Mauliate Lae, tentang Camus, aku cuma ‘mengerti’ kulit-kulitnya. Itu pun sudah ‘mengenyangkan’ jiwa.

31. dhe lagi ngak nyambung euy - 15 Nopember, 2007

…ada gak ya bunuh diri dengan cara mutilasi diri sendiri…hihihi

32. dhe lagi ngak nyambung euy - 15 Nopember, 2007

kalau kau tak bahagia ( buat yang mau bunuh diri) jangan kau bikin orang lain juga tak bahagia dan meneteskan air mata karena kematian mu, betul jangan pikirkan orang yang menyebalkan itu, tapi pikirkan lah ‘aku’ (org2mu tersayang) yang akan kehilangan mu .

kalau kamu tak bahagia setidaknya buatlah orang lain bahagia

setidaknya aku
cukup dengan ditraktir makan bakso…hihihi

“koment sok menasehati”
anjrit sia ….si anjrit ikutan bunuh diri juga..

33. Toga - 15 Nopember, 2007

dhe
ga nyambung aja, gitu bijaknya… kalo lagi nyambung, bakal nyetrum nih.

memutilasi diri? susyah… sebelum tuntas mah udah modar duluan. tp memutilasi hati sendiri? itu sih hobby banyak orang (bodoh)

34. nieznaniez - 18 Nopember, 2007

emang manusia yang bunuh diri tu b**i semua !!
ehehheee…

35. bedh - 30 Nopember, 2007

babilah………. telat kali aku tau blog abang ni…..
ntilah aku baca lagi semuanya huahuahuahua
dah ngantuk aku.
.
.
.
.
.
.
psst kok banyak yang mirip yah bang apa yang abang ceritain huhuhu berasa seperti ngelewatin jalan yang udah abang lewati huhuhu
aku malah mikir abang ajalah yang jalan nti kalau dah sampe ke ujung jemput aku naik helikopter
huhuhuhu
aku tidur dulu bentar…ntik aku lanjutin jalan ini lagi, kali2 aja ada tempat wat belok.

36. paulus abubakar - 19 Januari, 2009

Bunuh diri atau tidak itu adalah hak tiap manusia, sebab yang menjalankan hidup suatu individu adalah individu itu sendiri, jadi yang merasakan senang, susah, gembira, sedih dll adalah yang bersangkutan. Kadang2 itu susah dimengerti, tetapi kalau kita mempunyai kenalan atau saudara yang menderita sekali, kita baru mengerti mengapa bunuh diri itu adalah hak. Simpati saja tidak cukup, kita perlu empati…Salam Bunuh Diri