jump to navigation

Mengutuk Malaysia, tapi Operasi Yustisi di Jakarta = Pukkimak Kaulah! 4 November, 2007

Posted by Toga Nainggolan in artikel, batak, gairah, kata hati, kebohongan, kehidupan, kemiskinan, marah-marah, narkoba, opini, sosial, tragis.
trackback

update: setelah dibaca ulang, bahasanya ternyata sangat kasar, jadi yang tidak berkenan dengan jenis bahasa seperti itu, mohon maaf ya. aku tidak ingin mengubahnya, biar bisa jadi semacam rekaman emosi spontan waktu menulisnya.

Entahlah, tapi kita memang bangsa yang aneh! Rasanya nyesal kali aku pernah baca itu buku-buku PMP, PSPB dan sejenisnya waktu sekolah; yang selalu bercerita, lebih tepatnya membual, bahwa bangsa ini berbudaya tinggi, berbudi luhur, tepa selira, hantublau barat ke timur.

Lagi-lagi aku harus mencopot ilusi nasionalisme dari pikiranku–ilusi, karena kata yang satu itu ngga pernah punya defenisi apalagi praktek jelas di negeri ini.

Kemarin, dengan amarah seekor singa lapar yang dicabut kumisnya saat tertidur, kita mengutuk Malaysia karena mengusir seenaknya WNI yang mencoba peruntungan di sana. Bah, kok sok marah pulak? Jadi itu operasi yustisi, ntahapapon arti yustisi ini aku tak tau, yang merazia anak-anak kandung pertiwi yang mencoba peruntungan di Jakarta, ibukota negaranya sendiri, kok didiamkan? Bukankah itu lebih kurang ajar lagi, jauh lebih pukkimak lagi?

Kecuali kepalanya terbentur benda tumpul hingga mendadak amnesia, siapapun pasti belum lupa jargon kampanye Fauzi Bowo, yang sejauh ini tak kutau kelebihannya kecuali soal lebatnya kumis itu, “Jakarta untuk Semua”. Maksudnya semua koruptor? Yang lengkaplah, Wak, kalau bercakap!

“Mereka tak punya KTP, tak punya ketrampilan, tak punya kejelasan tempat tinggal, dst.” Taunya kau. Itu pulalah alasan orang Malaysia itu mengusiri dan memulangkan adikmu, keponakanmu, bibimu, mungkin juga ibumu, dari negeri mereka.

Kita, dengan nasionalisme yang membutakan objektivitas itu pun rame-rame protes. Kita menutup mata, seakan para petaruh nasib itu hanya menderita di negerinya si Badawi, padahal nestapa mereka kerap kali mencapai puncaknya begitu menginjakkan kaki di tanah sendiri, dipungli petugas imigrasi, diperas saudara sebangsanya sendiri.

*****

Geram betul aku melihat seorang PNS DKI Jakarta, kebetulan orang Batak pula, yang ketika diwawancarai reporter tv, dengan wajah penuh ekspresi kemenangan, mengatakan pihaknya sukses menjaring belasan pendatang baru yang tak punya identitas.

Memang betullah kau lontong yang lupa daun pisangnya! Kaupikir mereka ikan di Danau Toba, bisa dijaring? Macam yang tak merantau kau, atau orang tuamu, atau ompungmu, atau siapapun leluhurmu, ke Jakarta.

Pernah nggak terbayang di kepala dia itu ya, pencari kehidupan itu mungkin sudah jual sawah di kampung biar punya ongkos ke Jakarta, hanya untuk kemudian ditangkap, dan diadili oleh hakim pakai baju hitam itu, dengan cepat dan tegas.

Cocoklah memang dia itu pake baju hitam, karena sudah makin hitam dibuatnya nasib keadilan di negeri ini. Kalau sudah menyangkut orang kecil, bisa dia cepat dan tegas memutus perkara, macam wakil Tuhan. Tapi kalau sudah menyangkut orang kaya, biarpun dari hasil korupsi atau jual narkoba, kata pertama yang terucap dari mulut busuknya, “Saudara harus ingat, hukum punya asas praduga tak bersalah.” Padahal yang ada di otaknya, “Tunggu dulu, kita lihat berapa setorannya”.

Untuk mencegah orang pergi ke Malaysia, yang sebagian akan dibunuh atau diperkosa, buatlah negeri kita ini jadi tempat yang layak untuk mencari hidup. Kalau tak mau setiap habis lebaran orang-orang kampung kek aku nekad tembak langsung ke Jakarta, jangan kau kumpulkan semua uang negara ini di sana.

Hasil tambang, hasil bumi dan perkebunan kami di daerah, kalian sedot semua ke ibukota. Tetapi ketika kami ingin sekadar berkunjung ke sana, untung-untung dapat penghidupan, kalian usir pula seolah kami anjing tak terurus, atau dijaring bak ikan porapora.

Maka pukkimak kaulah!

Tak tau kau artinya? Itulah organ tubuh, dari mana kau dulu muncul ke dunia. Jadi, tak usah sok hebat, sama-sama mantan zigotnya kita. KTP itu cuma secarik kertas, sama sekali tak lebih penting dari sekeping hati yang membara ingin mengubah nasib, setelah merasa sesak terhimpit di kampung halamannya.

Kau padamkan mimpi itu, kau suruh bungkus lagi semangatnya, kau perintahkan dia untuk tetap menjadi bahan pikiran orang tuanya di kampungnya.

Maka sekali lagi, pukkimak kaulah!

Komentar»

1. The Sandalian - 4 November, 2007

Waduh, Bang Toga marah besar sepertinya..

Begitulah Bang orang kita. Kuman di seberang lautan tampak, kapal pesiar di pelupuk mata gak kelihatan.

Tak pernah berkaca akan diri sendiri, yang dilihatnya keburukan dari orang lain.

Semoga kita terhindar dari perilaku itu Bang.

2. maya - 5 November, 2007

sigh…sepertinya di negara ini memang sudah tidak ada tempat buat rakyat kecil, di hatipun sudah tidak ada.

3. jejakkakiku - 5 November, 2007

Bless your heart :)
udah tenang kan?

4. unai - 5 November, 2007

hehe seram kali pun baca judulnya Bang…after all according u….*mo ikutan ngumpat pulak, tapi dalam hati sajalah bang

5. yati - 5 November, 2007

“Entahlah, tapi kita memang bangsa yang aneh! Rasanya nyesal kali aku pernah baca itu buku-buku PMP, PSPB dan sejenisnya waktu sekolah; yang selalu bercerita, lebih tepatnya membual, bahwa bangsa ini berbudaya tinggi, berbudi luhur, tepa selira, hantublau barat ke timur.”

nambah…yang dikenal dengan keramahtamahannya. Anjir,,,katanya Jakarta untuk semua! Pas mereka datang, diusir :p sama kayak ke balikpapan, seperti masuk ke negara dalam negara! huh!

6. mei - 5 November, 2007

kalau salah, mohon d benarkan..kalau tak salah dalam UUD45 ada tulisannya kalau orang miskin dan anak terlantar dipelihara negara???benar tidak???

7. mei - 5 November, 2007

lo khok ilang bang???

8. mei - 5 November, 2007

eh ternyata ada =)

9. lohot simanjuntak - 5 November, 2007

horas lae toga
itulah ironi jadi bangsa indonesia,lain padang lain belalang,lain yang di pelajari,lain pula yang dikerjakan,negeri yang katanya beradab,namun biadab
mauliate,salam kenal-horas

10. Totoks - 5 November, 2007

Jakarta untuk semua koruptor
Jakarta untuk semua orang kaya
Jakarta untuk semua pejabat dan sodara2nya
Jakarta untuk semua cukong dan kroninya
lha saya ini termasuk siapa ya… *ngumpet dibawah meja, ada operasi yustisi nih*

11. meiy - 5 November, 2007

asyik banget aku bacanya lae, serasa lepas juga umpatan di ujung lidahku hehehe…

aku juga mau muntah ngeliat koruptor, orang-orang sok tau, sok bener, nyatanya di sekitar kita juga banyak dan bangga pulak!
moga kita bisa menghindar dari menjadi bagian mereka

12. meiy - 5 November, 2007

kok templatenya ganti…jelek ah bagusan yg doeloe :(

13. ordinary - 5 November, 2007

OOT:
aku protes!! leot yang ini jelek kali bagusan juga yang kemaren tu…
dari salah satu penggemarmu
halah
:lol:

14. salamatahari - 5 November, 2007

waduh…makiannya..maknyus banget yak… :D

mungkin si batak dalam tulisan abangnya adalah produk dari rezim yang berkuasa sekarang. Tidak bisa disalahkan seratus persen. Karena secara vertikal dia punya tanggung jawab kepada atasannya…dan dia sedang diwawancara di tv kan? lagian PNS = sekrup pemerintah.tapi yakin deh…secara horizontal dia disana mungkin juga merasa tidak nyaman telah berbuat demikian.

seperti abang bilang ” Macam yang tak merantau kau, atau orang tuamu, atau ompungmu, atau siapapun leluhurmu, ke Jakarta”.

Tidak semua orang bisa menyuarakannya secara terang-terangan.

15. susie - 5 November, 2007

inikah ” Bagus ku bilang2 daripada kupendam-pendam ” nya orang Batak ? hehehe

Rasanya bahasanya boleh lebih kasar lagi kalau perlu ,karena memang sudah saatnya bangsa Indonesia kita ini mengalami evolusi … !

16. Pyrrho - 5 November, 2007

hahahaha…. lae Nainggolan ini memang luar biasa. :)

memang kalau dipikir selintas, alasan pengusiran itu sepertinya masuk akal. dengan berlindung dibalik Perda Kependudukan bla-bla-bla….

Tapi hak hidup dan hak mencari pekerjaan itu lebih dari sekedar Perda kan ? itu ada di konstitusi. dan hak setiap orang untuk mencari kehidupannya di negara ini.

atau memang negara ini anti sama orang miskin ? :|

*kok ganti template, lae ?*

17. venus - 5 November, 2007

gak komen….

18. The Sandalian - 5 November, 2007

Lah, Budhe Venus kok gak komen sih?

19. kenny - 6 November, 2007

emang saatnya Indonesia bebenah diri, koreksi diri sendiri, sbl menyalahkan negara laen.

mampir baca2, ke’ nya bakalan sering mampir nih

20. Toga - 6 November, 2007

Meiy dan May (Kebetulan kawan sekampung semua)
Macam mana awak nak menolak pendapat kawan sekampung nih… Back to basic, as you want. Juga untuk Bung Ferthob, yang meski hanya bertanya *kok ganti template, lae* kuartikan sebagai “Apanya ini, macam tak ada kerjaan gonta-ganti template”.

Sebenarnya, aku mau jawab, “Masa’ terhadap template pun kita harus setia?” Tapi kupikir lagi, barangkali kesetiaan bisa juga dilatih dari situ.

:) Thanks for caring.

21. dhe' - 6 November, 2007

ah bang toga , itu baru kau dengar berita dr tv di sini kenyataan nya lebih parah lagi, ada perda sapu jagad dki yang di godok di rumah rakyat? yang isi nya kita dilarang memberi uang pada pengemis dan membeli pd tukang asongan kalau kita beri, kita di denda 20 juta….ah emang pukkimak lah ……

salam kenal bang toga, aku akan sering tenggok2 kesini, ijin bang buat aku link di blog ku

22. wahyu hari - 12 November, 2007

emang gt kenyataanya bang, tak perlulah yang tidak punya KTP, tak punya ketrampilan. saya yang kebetulan pendatang yang sudah ada keterangan kerja dari perusahaan saja masih tidak dipercaya, satpol PP emang orang kecil yang nindas orang kecil

*sudah lama mamir di sini tapi blom sempet komen, salam kenal lae

23. Johan Sebastian - 16 Februari, 2008

Sami Mawon
Indonesia itu Malaysia….Malaysia itu Indonesia…
Cari akarnya? Itulah pekerjaan rumah kita semua

24. Ryan Shinu Raz - 1 Maret, 2008

Horas…. Lae…
Ah.. Marah kali lae ini bah. Tapi setuju saya lae. Saya pikir intinya ada di kalimat “…..“Mereka tak punya KTP, tak punya ketrampilan, tak punya kejelasan tempat tinggal, dst.” Taunya kau. Itu pulalah alasan orang Malaysia itu mengusiri dan memulangkan adikmu, keponakanmu, bibimu, mungkin juga ibumu, dari negeri mereka…” Mantaf kali saya dengar kalimat ini bah. Kapan2 kalo saya berdebat tentang Malaysia ini pasti akan saya bilang kalimat ini. (hee..he..jadi mencontek saya kali ini ya lae??? )

Horas ma di hita saluhutna