jump to navigation

Mengapa Aku Butuh Jarak untuk Mencintaimu… 3 Oktober, 2007

Posted by Toga Nainggolan in cinta, kata hati, soulmate, surat.
trackback

Kau pernah bayangkan, andai bulan hanya muncul sekali dalam seratus tahun, betapa kita akan memandangnya dengan penuh takjub dan kekaguman. Tapi dia menyapa hampir di setiap malam. Kita lupa, dia selalu berjaga, saat kau larut dalam lelapmu, saat aku menulis surat ini, digoda sunyi pada detak parau jam di dinding.

Juga bisakah kau bayangkan, andai bulan ada di sini, menggantikan bumi. Akan kita injak-injak dia tanpa beban, tanpa terima kasih, tanpa kekaguman. Akan kita perkosa hutan-hutannya, kita reguk sari dari perutnya.

Kau tahu berapa biaya yang dikeluarkan para “astronot” komersial itu, pergi ke luar angkasa? Puluhan, atau mungkin ratusan miliar rupiah, hanya agar punya jarak dengan bumi. Dan di sana, dia tercengang, melihat bola raksasa dengan biru atmosfirnya, di tengah pekatnya semesta. Dia jatuh cinta kepada alas kakinya sendiri selama bertahun-tahun kehidupannya.

Dan andai pungguk pernah tahu betapa wajah bulan tak selembut itu, penuh jerawat seperti muka ABG yang kebanyakan makan fastfood, dia mungkin tak akan menghabiskan malamnya untuk merindu.

Cinta bukan perbuatan, bukan sentuhan. Sebab jika ia, berarti cinta bisa dibeli. Dengan uang ditanganmu, akan ada saja orang yang mau berbuat apa pun untukmu, siap menyentuhmu dengan cara yang paling kau inginkan.

Berhentilah berharap pada happy ending itu. Cinta sejati memang tidak boleh happy ending, tak boleh berakhir bahagia, karena dia sesuatu yang tak punya akhir.

Sayangku, cahayaku… Jarak adalah vaksin bagi kebinatangan kita. Jarak adalah juru selamat kita dari dosa berikutnya. Jarak merenggut semua, menyaring segala, hingga yang tersisa adalah butiran-butiran murni kerinduan, tetes-tetes bening cinta.

Hiduplah di sana, bagi tawamu dengan siapa saja. Tangismu biar untukku, dalam sepi kau menengadah. Tak setahu dunia, tak tercatat jadi dosa. Kita pengantin di luar cuaca, tak kematian pun bisa memisah.

Komentar»

1. kw - 4 Oktober, 2007

hmm gitu ya bang, jadi kalau berjarak terusssssssssss….. apakah itu juga namanya cinta? :)

2. jejakkakiku - 4 Oktober, 2007

never ending stories,
never ending lullaby,
untold dreams,
wishing on the stars,
singing in the rain,
foolish acts,
laugh while crying…

That’s just part of what one call LOVE :)

FEEL it in every core of one’s body,
FEEl it in every blink of one’s eyes,

Then we don’t need distance to say I LOVE U,
cause you’re here in every beat, breathe and veins..

:) FREE YOURSELF, indeed

3. caplang™ - 4 Oktober, 2007

cinta memang indah
tapi tak selalu berakhir dalam keindahan

pagi ini saya baru saja mengirim teks itu
mudah-mudahan dia mengerti

4. mei - 4 Oktober, 2007

… jarak adalah vaksin bagi kebinatangan kita. Jarak adalah juru selamat kita dari dosa berikutnya. Jarak merenggut semua, menyaring segala, hingga yang tersisa adalah butiran-butiran murni kerinduan, tetes-tetes bening cinta.

Hiduplah di sana, bagi tawamu dengan siapa saja. Tangismu biar untukku, dalam sepi kau menengadah. Tak setahu dunia, tak tercatat jadi dosa. Kita pengantin, di luar cuaca, tak kematian pun bisa memisah.—->nanti aku ngopi-paste buat postingan d blogku ya bang??? boleh khan?

5. meiy - 4 Oktober, 2007

romantisnya postinganmu lae. aku baru aja nulis ttg cinta sejati, tar sorelah kalo sempet kuposting…kalo speedy sialan gak berulah lagi

*lagi bt sm speedy* :D

6. Susie - 4 Oktober, 2007

Cinta ? setelah mendengar jawaban suamiku kemarin , hmmm gak tahu apakah aku masih percaya akan magisnya ( ahahaha bercanda kok )

7. unai - 5 Oktober, 2007

indahnya postingan ini, bikin saya jadi ketagihan mampir

8. ann!sha - 5 Oktober, 2007

.
.
.
ratu_kucing : tapi aku membutuhkanmu
ratu_kucing : aku tidak bisa merayakan hidupku tanpamu
kucing_garong : iya, aku juga. tapi itu tidak berarti kita harus bersama
ratu_kucing : aku juga sangat menyayangimu
kucing_garong : aku tahu, walaupun kita tidak pernah bertemu. aku juga mencintaimu. namun, biarkan aku mencintaimu dari jauh
ratu_kucing : tapi kenapa? kenapa tidak?
kucing_garong : aku tidak sanggup mengatakannya
ratu_kucing : kenapa kita tidak ditakdirkan bersatu?
ratu_kucing : hei
ratu_kucing : kamu masih disana?
kucing_garong : aku ..
ratu_kucing : kenapa? kenapa aku tidak bisa menemuimu dan bersatu disana?
kucing_garong : maaf, aku sungguh tidak bisa
ratu_kucing : KENAPA?
kucing_garong : aku .. maaf, sebenarnya …
kucing_garong : aku gay
.
.
.

9. yati - 5 Oktober, 2007

Hiduplah di sana, bagi tawamu dengan siapa saja. Tangismu biar untukku, dalam sepi kau menengadah. Tak setahu dunia, tak tercatat jadi dosa. Kita pengantin di luar cuaca, tak kematian pun bisa memisah

………………?????????????

*seperti biasa, ga bisa comment

10. puput - 5 Oktober, 2007

tapi jaraknya jangan jauh-jauh bang, nanti tak bisa di gapai..

>.<

11. venus - 5 Oktober, 2007

cinta yang jauh, yang tak tergapai, ada tapi tiada….

aargggghhhh…bikin sedih aza!

12. may airinn - 6 Oktober, 2007

cintaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
sini dong.. gapapa mo yang berjarak ato ga berjarak,
*lagi eror*

13. irdix - 6 Oktober, 2007

hehehe.. bang, sudilah mampir ke singasana-ku sebentar.. abang aq kenalkan pada luna..

14. za - 10 Oktober, 2007

aih aih…..za sampe tercengang….bagus sekali perumapaannya….:)

15. Acho - 10 Oktober, 2007

Kemarin malam aku belajar, bahwa sebuah kebahagiaan kerap kali melewati sebuah proses yang terkadang begitu membingungkan, pun hari ini aku makin yakin akan hal itu, after this post pastinya..

16. ulan - 11 Oktober, 2007

indah….

17. ries - 19 Oktober, 2007

dalem banget…

18. Rhe - 19 Oktober, 2007

tulisannya bagus bgt…..
bikin aku jadi melamun….
mengapa di dunia ini ada kata2 “jarak”…

19. athya - 5 September, 2008

jarak itu racun..
dan akuu gak kunjung mengerti..
kenapa setelah akuu berdekatan, semua jadi dua kali lebih sulit?
justru waktu akuu terpisah darinya,,
terasa mudah?

huaahh..
postinganmuuh gue banget..
wahaha^^