Justru Setelah Jadi Muslim, Aku Tahu Kristen Itu Benar
“Inilah yang ingin kukatakan padamu, Ibu, dengan setulus hatiku: justru setelah aku menjadi muslim, maka aku makin yakin bahwa Kristen, agama kalian, tidak salah”
Pindah agama, kerap membawa konsekuensi yang dahsyat. Tapi lelaki ini toh tetap menempuhnya. Lelaki Batak yang dibesarkan dalam iman Kristen ini menyeberang ke Islam, dan menikah dengan seorang muslimah. Ops, bukan karena wanita itu, tetapi karena pergulatan batin, termasuk setelah membaca sebuah buku tulisan Ahmad Dedad.
Dan benar, dia pun harus memelas kepada ibunya, manusia yang paling dihormatinya di muka bumi.
Ibuku yang kucintai, jangan lagi terus-terusan engkau berdiam diri dan menjauhi menantumu itu. Dia sangat baik, Ibu. Dia sudah banyak berkorban untukku, juga untuk ketiga cucumu
Entah sengaja abai, atau memang tidak “tersosialisasi” dengan memadai, tidak banyak yang menyadari Islam dan Kristen adalah agama yang paling banyak persamaannya. Ironisnya, dua agama ini pula yang paling banyak menorehkan sejarah kelam permusuhan hingga hari ini.
Perpindahan keyakinan dari Islam ke Kristen dan sebaliknya, terasa lebih “seru” dibanding ke agama di luar itu, padahal, jika dicermati dengan pikiran jernih, Kristen dan Islam kadang terlihat seperti dua sekte dari satu agama.
“Allazina amanu wa ‘amalussalehah,” itu kalimat yang paling sering muncul di Al-Qur’an. Artinya? Ada di Alkitab, Mazmur (37:3) “Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik.”
Itu barangkali pesan yang ingin disampaikan Jarar ketika menuliskan kalimat yang menggetarkan, yang jadi judul tulisan ini.
Inilah yang ingin kukatakan padamu, Ibu, dengan setulus hatiku: justru setelah aku menjadi muslim, maka aku makin yakin bahwa Kristen, agama kalian, tidak salah
Al-Qur’an tidak pernah mengingkari Yesus Kristus, Isa Putra Maryam. Bahkan narasi tentang Isa dalam Al-Qur’an adalah salah satu cerita yang paling rinci di antara kisah-kisah utusan Allah. Penghormatan kepada sosok ini juga istimewa: Kalamullah (Kata-kata Allah) dan Ruhullah (Ruh dari Allah).
Disebut Kalamullah, karena Isa sudah bisa berkata-kata semasa bayi. Dipastikan, kata-kata itu memang milik Allah, karena bayi manusia biasa jelas belum bisa bicara. Disebut Ruhullah, karena dia memang ruh yang ditiupkan ke tubuh perawan Maria.
Meski tidak mengakuinya sebagai anak Tuhan atau Tuhan itu sendiri, Al-Qur’an mengakui Isa adalah sosok yang “mengandung” keilahian lebih, bahkan dibanding Rasulullah Muhammad SAW, yang punya riwayat genetik manusia biasa.
OK, Adam memang diciptakan tanpa ayah dan ibu, tetapi jelas-jelas dikatakan dibuat dari tanah. Sementara Isa, adalah ruh yang ditiupkan Allah ke tubuh seorang gadis yang belum pernah disentuh lelaki.
Satu-satunya perbedaan, dan sialnya membawa dampak teologis yang luar biasa, adalah soal cerita penyaliban Yesus. Bila Kristianitas mengakui Yesus merasakan penderitaan di kayu salib untuk menebus dosa manusia, Islam menolaknya, karena Allah telah lebih dahulu mengangkatnya ke langit.
Tapi benar-benar cuma di episode itu! Baik Kristen maupun Islam, sama-sama menyebutkan Isa atau Yesus akan turun menjelang hari perhitungan. Meski disebut dalam hadist-hadist shahih, artinya diucapkan oleh Muhammad SAW sendiri, saat ini memang muncul pengingkaran terhadap hal itu di kalangan umat Islam.
Di lain pihak, tidak sedikit kaum muslimin yang beranggapan, “Penerus Pekerjaan” yang disebut-sebut Yesus dalam Yohannes 14:16-26 adalah Muhammad SAW. Klaim yang tentu saja dibantah habis-habisan oleh umat Kristiani. (Hufh! Dua kakak beradik, anak-anak Ibrahim ini emang paling susah diakurin!)
Momen yang bisa dipastikan akan merekonsiliasi dua “sekte” yang berbeda ini adalah saat turunnya Yesus, Isa Al Masih ke bumi. Islam menyebutnya akan meneruskan ajaran Muhammad, sementara Kristen menegaskan Yesus datang demi Kerjaan Surga. Lagi-lagi adu klaim.
Sayangnya, kita mungkin tidak cukup beruntung untuk mendengar langsung dari Isa, siapa benar, siapa salah, atau sebenarnya sama-sama benar, tetapi dipahami salah.
*****
Jika memang Kristen sudah diketahuinya benar, mengapa tak balik lagi ke sana? Kan seorang Jarar Siahaan tidak perlu berhadapan dengan kerepotan-kerepotan itu? Tentu saja, hanya dia yang tahu, dan saya tidak menganjurkannya untuk menerangkan kepada kita. Agama bagi saya bukanlah perayaan komunitas, tetapi jalan sunyi menuju Sang Kebenaran.
Tapi saya jadi ingat obrolan asyik dengan Almarhum Bapak saat saya masih SMA dulu. Dia berpanjanglebar menjawab pertanyaanku yang singkat saja: “Mengapa Tuhan menurunkan agama lebih dari satu?”
Tuhan itu Mahabaik, demokratis kata orang sekarang. Dia mau berepot-repot mendesain beberapa agama, karena Dia ingin memenuhi selera beriman manusia yang berbeda-beda. Satu agama sebenarnya lebih cocok buat seseorang, atau suatu kaum, daripada agama yang lain.
Kau misalnya, kurasa lebih cocok kau jadi Kristen. Kau beriman, dan sebisanya berusaha berbuat baik. Tapi kau malas shalat, malas dengan begitu banyak ritual-ritual yang tertata rinci, yang menjadi ciri Islam. Kau pun selalu bilang, lebih percaya cinta daripada keadilan. Cinta itu esensi Kristen, sementara keadilan adalah pesan utama Islam.
Cobalah mulai kau pelajari Alkitab pelan-pelan, huehehehehe…
Saat itu, ungkapannya itu cuma kumaknai sebagai sindiran halus, karena shalatku bolong-bolong (hal yang masih terus lestari hingga saat ini). Tetapi kalau dipikir-pikir, mungkin ada benarnya juga… Sebuah agama lebih cocok bagi seseorang, atau suatu kaum, daripada agama lain.
-
Bila Anda memahami Tuhan sebagai Yang Mahaamatbaik, sedemikian baiknya hingga rela mengorbankan “anak” satu-satunya menebus dosamu, pilihlah Kristen. Tapi ngga cukup gitu aja dong. Percaya kepada Yesus Sang Penebus, berarti harus hidup dengan cinta kasih. No free lunch, Dear…
-
Bila Anda percaya Tuhan memang Mahabaik, tapi ngga segitu baiknya, sebab hanya akan mengampuni dosa-dosamu lewat pertobatan, monggo ke Islam. Shalatlah minimal lima kali sehari semalam, puasa minimal sebulan dalam setahun, bersedekah, dst. Untuk apa? Bukti kepatuhanmu kepada Tuhan, dan melatihmu berlaku adil kepada sesama manusia.
-
Silakan diperpanjang sendiri deh listnya. Udah mulai puyeng nih.
Kesimpualannya aja deh. Lae Jarar mungkin merasa, desain Islam lebih memenuhi “style imannya” daripada agama sebelumnya. Jadi, sama sekali bukan tentang ini benar, itu salah. Mudah-mudahan terkaan saya benar, sebab kalau tidak, berarti saya salah. @#$%^%$# Pusiiiiing
Wallahu a’lam.
Kalo Anda belum pusing, monggo cicipi tulisan ini juga.
Jika Semua Agama Benar, Tuhan Tampaknya Sedang Belajar

Bagiku agamaku, bagimu agamamu.
Senang membaca tulisan Anda.
memang kristen sama islam adalah sama yaitu agama langit, jadi ajarannya hampir sama. juga sama pula tempat asalny timur tengah jadi agam impor semua kan?
kok nggak ada ya agama yang asli asal indonesia? tapi kita suka mempermasalahkan.
ayo ekspor agama asli indonesia, jangan impor
ada guyonan: kalo ada agama turun di indonesia, ga bakal jadi besar, karen umatnya males nyebarin
wah, soal spiritual memang selalu jadi bahan diskusi yang menarik dan bisajadi sangat ‘panas’ (kipas-kipas dulu aahh).
gini, bang. saya gak punya penjelasan yg cukup bagus, tapi jujur aja, tiga puluh delapan taun jadi muslim, saya merasa kedekatan saya dengan Tuhan makin intens, tapi dengan cara saya sendiri. entah benar entah salah, makin ke sini saya makin merasa bahwa Tuhan itu gak jahat dan kejam yg sukanya nakut2in: kalo gak sholat, masuk neraka! kalo gak puasa, masuk neraka! kalo rajin sholat dan puasa, tiket ke surga pasti dapet!
menurut saya kok gak sesederhana itu. Tuhan mau kita jadi umatnya yang baik, gak jahat sama orang lain, bukan sekadar ‘muslim’, jadi seperti robot yang solat begitu denger adzan, tapi diluar itu gak jelas kelakuannya.
ah ga tau deh, saya juga mulai puyeng, hahahah…
btw, tadi saya ngobrol sama si perempuan dengan tiga hati. kita berdua g ngerti, kenapa ya bang toga gak pernah ngerespons email2 dari kita, para penggemarmu?? alamat emailnya salah atau….
tenkyu, bang! selamat berbuka puasa
@Mbok Venus.
………………………. you got m@il………………….
dari penggemarmu.
Bang Nesia… terima kasih. Saya senang mendapat balasan e-mailnya. Langsung klik ke sini.
Luar biasa…!!!
Saya acungi jempol atas keberanian menuliskan isi hati nurani terdalam ini! Patut diteladani. Menulis dengan hati terasa sekali “roh”-nya, dan itu saya tangkap dari tulisan Bang Nesia.
Karena religiositas saya pikir lebih menyangkut hati daripada otak - apalagi tangan (meski sebetulnya the whole body-and-soul) - agama mestinya lebih mengedepankan iman yang dihidupi daripada sekedar deretan perintah yang ditaati secara buta. Agama (religion) akan sungguh menjadi “jalan” peziarahan hati yang jujur, tulus dan bertanggung jawab. Sebuah agama bukanlah Tuhan, dia hanya jalan di antara jalan-jalan yang lain menuju Tuhan.
Mengapaaaaaaaaa…. hal ini sulit dimengerti ya Bang?
Salam dan simpati.
Kandar Ag.
God bless you and family!
Wah, ternyata ada yang berpikiran gini juga toh. Saya terus terang sudah lama sekali menganggap kalo beragama itu ya masalah cocok cocokan itu.
Buat saya Agama adalah sebuah hubungan antara kita dengan Tuhan secara individu , dan bukanlah sebuah konsumsi publik utk di pertentangkan .
Terkadang seorang yg tak beriman tapi dalam hidupnya selalu berbuat baik , lebih berharga di mata saya dari pada seorang yang mengaku beriman tapi selalu berbuat jahat ..
salut , ada seorang muslim yang menulis dengan cukup jujur , versi islam yang selama ini saya baca …ehhmm terlalu menyudutkan kami ………
tetep aja di negara ini kita
dipaksaharus milih yaktambah heboh disiko hah
pinter kali kau bahasa kampungku lae hehe
Iyolah si emil itu adikku, dia temanmu kah? Anak Mamak (Oom) ku, sekarang di LA TV dia tuh, alah jadi director program, terakhir aku tau yg serem itu, kriminal-apalah judul acaranya? lupa aku. Dulu Di Forum n macem2 lagi. Dah baca bukunya Lae? Tttg Medan jadul tuh.
Kalo mau tar aku kasih deh nomor hp nya.
Pengen komen tapi perlu mikir lama nih, aku lagi sok busy bgt. BRB deh tar!
satu lagi lae, binsar vs bakara temanmu jugakah?
LUAR BIASA!
I’m sorry,
Pls Forgive me,
Thank U & I Love you
Aih, Bang Toga, maafkan diriku salah mengiramu sebagai orang lain. saya kurang tanggap. Saya pikir ini Nesia yang feminin. Hehehehe….
salam cinta!
Aku suka sekali yg ini:
“Agama bagi saya bukanlah perayaan komunitas, tetapi jalan sunyi menuju Sang Kebenaran.”
bagiku juga gitu lae, agama sangat privat, antara aku dan DIA Sang Maha Cinta, aku lebih suka mengingatnya begitu. Kalau mau dipertentangkan ah cape deeeh, pusing lagi berkeliling keliling hehe…
yah…sedikit pemikiranku udh terwakili ama yg atasku
Great. keren banget, biarpun ngaku kepusingan, tetapi nesia menuliskannya dgn jenius.
Btw, kenapa sih pusing milih agama ? dari Kristian, masuk menjadi Moslem, setelah itu ternyata menyadari Kristen yg baik. dan, “saya Jamin”, setelah balik ke Kristen, pasti balik lagi menyadari bahwa islam yg terbaik. percayalah, itu manusiawi.
agama apapun, jika kita menjiwainya, disitu akan membimbing kita ke jalanNYA.
)
ada kata2 Gibran yg saya suka : (daripada saya tulis ayat2 hayo…
Burung malam yg bermata kelam, dia yg buta terhadap siangnya hari, tiada mungkin membuka rahasia tabir cahaya.
so, jgn sampai kita menjadi buta.
salam.
Aq ga pernah menyukai agama.. namun aq ga membencinya..
membahas agama sama saja dengan mengajukan pertanyaan
mau percaya karena cinta atau cinta karena percaya..
semuanya… ada karenanya..
cuih..
saya percaya bahwa agama itu membawa kebajikan apapun bentuk dan konsekuensi penerapannya ..Namun saya lebih percaya kalau dengan menghargai perbedaan adalah kebajikan absolut.
“dan janganlah engkau memperseterukan agamamu dikarenakan politik..”
-at tikah bangetth ayat blahblah-
hehehe..
Oooo….. begitu yak ?
(masih bingung dan garuk-garuk kepala….)
Agama diturunkan…?? Wah turun dari mana yah..? Dari langit maksudnya? Tuhan menurunkan agama?? He he he
Agama itu bikinan manusia, itu udah jelas banget… Yang jelas, mau beragama atau tidak itu harusnya jadi urusan masing-masing pribadi…
Surga dan neraka itu bikinan manusia, coba aja: kalau kamu pindah agama maka kamu akan dihujat dan dicaci habis-habisan, malah mungkin nggak punya privilege right lagi di keluargamu.. Itulah dia neraka, yang marah manusia, yang menghujat manusia dst… Sorga? Naa sorga kebalikannya, mereka yang seiman dengan kamu yang telah pindah itu pasti akan menerimamu, melayanimu dengan sangat baik… He he he.. sekali lagi yang manusialah yang bikin sorga, yang menerimamu dengan baik, yang melayanimu…
Jadi… Gimana baiknya ajalah… yang penting bagaimana perbuatan kita ke orang lain… itu aja… so simple like that kok…
Good point ..
OOT : Tampilannya blog-nya keren euy
Wah..lae kita si jafar ini sepertinya terjebak pada sinkritisme ( bukan menuduh..tapi mohon maaf bila salah )…Yesus tidak pernah membawa agama…tapi Dia membawa hidup kekal bagi siapapun yang percaya kepadaNya ( tanpa Paksaan ). oleh sebab itu,,saran saya adalah..cobalah untuk menguji keTuhanan Yesus supaya anda dapat menemukan jawabannya,,sebab saya percaya DIA senang untuk dicari dan ditanyakan soal eksistensinya..selamat hunting
semua agama itu memang mengajarkan hal yang baik..
tapi hanya ada SATU AGAMA yang benar dimuka bumi ini..
Islam datang ke muka bumi untuk menyempurnakan semua kepercayaan yang ada…
selamat berpuasa..
“agama” itu urusan hati ga bisa dipikirin…hehehe
jadi dimana hati anda dibuka ..disitu anda menemui “kebenaran”
jadi banyak jalan menuju roma kan?
bener ga yah?
mari kita saling menghormati agama yg ada didunia ini, dan lebih mencintai alam dan menghargainya, pasti pemilik alam ini akan “Ridho” ke kita semua
Dari banyak orang yg pindah agama dari kristen ke muslim biasanya fanatiknya luar biasa. Tapi ternyata ada juga yang semakin memahami ajaran kristen itu setelah pindah agama ke islam (saya salut). bagaimana orang2 muslim bisa berbeda pandangan terhadap kaum kristiani dan ajarannya ? apakah ada kaitannya dengan ajarannya (islam) atau memang karena orangnya ? Aku setuju kali kalau islam dan kristen itu hidup berdampingan secara damai. Saling menghormati/menghargai satu sama lainnya. Aku kagum dengan keislamannnya pak JJ ini. Sangat demokratis dengan tetap tidak melanggar hal-hal prinsipil dari ajaran agamanya.
Kristen mengajarkan saling mengasihi sesama manusia tanpa memandang apa agamanya, apa salahnya seorang muslim mengucapkan selamat natal kepada teman/tetangga/kerabatnya yang kristiani ketika mereka merayakan natal, apakah karena kalau itu dilakukan melanggar Sunnah Rasul ? apakah karena kristiani adalah kafir ? Atau satu hal yang di haramkan oleh muslim ?. Aku seorang kristiani - sangat terbuka untuk menerima teman2 ku yang muslim yang mengucapkan selamat natal dan demikian juga sebaliknya aku bisa mengucapkan selamat hari raya untuk mereka. Istriku pernah menyediakan air minum (aqua gelas) waktu seorang kerabat muslim berkunjung kerumahku, dengan rendah hati kami menawarkan minuman itu, sampai dengan beliau itu berpamitan pulang minuman itu tidak disentuh sama sekali. Ahh..sedih kali aku waktu itu, aku hanya bisa menatap wajah istriku yang penuh tanya. Apa salahnya di minum ? ah…pusing juga aku…lebih sakit memberi tapi tidak diterima daripada meminta tapi tdk di beri….aku bilang istriku : Sabarlah sayang..aku tau engkau menghargai semua tamu yang berkunjung kerumah kita, istriku telah membuat yang terbaik.
Sebenernya masalah islam-kristen ada pada intepretasi penganutnya… ada yang keras, ada yang biasa-biasa aja, ada yang masa bodoh.
Ketika ada saudara saya yang beragama lain meninggal dunia, saudara saya yang lainnya yang seagama dengan saya berkata “Wah, masuk neraka dia..” spontan saya berkata “Wah belom tentu… kita belom tau siapa yang benar… karena selama ini kita merasa agama kita yang benar… tapi kita tidak tahu apakah agama kita memang benar… nanti ada saatnya.. kalo situ sudah nyusul saudara yang meninggal itu”
Nah karena intepretasi tadi, kita (sering) langsung berpendapat secara sepihak… bahwa yang lain salah… kita yang paling benar… padahal semua itu masih absurd… karena walau kebenaran itu absolut, tapi cara kita memandangnya masih relatif.
Akhirnya dasar masalah yang terjadi saat ini antara 2 agama ini sekarang ini bukan terletak pada ajarannya tapi lebih terletak pada penganutnya… tapi ya… intinya memang disitu…
Kita boleh menerima pemikiran bahwa agama yang kita anut itu benar dan yang terbaik… tapi jangan langsung menganggap agama lain itu salah… tiap orang punya sudut pandang dan keyakinan masing2… selama ini saya memandang agama selain yang saya anut bukan salah tapi berbeda… karena pada umumnya agama tidak pernah mengajarkan kejahatan… karena kejahatan itu adalah salah.
Yang penting adalah jangan melihat sebuah agama itu hanya dari kelakuan penganutnya… karena banyak orang-orang membawa jargon agama, tapi kelakuannya jauh dari ajaran agama yang dibawa.. dan yang lebih parahnya… mereka berkelakuan anarkis tapi bawa2 embel2 agama dan berseragam ulama…
Jika anda sedikit saja mau mengkaji Alquran, maka dengan jelas dan pasti, anda akan mengetahui bahwa agama para Nabi adalah Islam. Nabi Ibrahim itu agamanya Islam, Nabi Yusuf itu agamanya Islam, Nabi Musa itu agamanya Islam, Nabi Isa itu agamanya Islam, Nabi Muhammad itu agamanya Islam, demikian juga Nabi-nabi yang lain semuanya beragama Islam. Itulah satu-satunya agama yang berasal dari Tuhan yang sama yang didesign dan diperuntukkan bagi manusia ciptaan-NYA. Itulah satu-satunya agama “Langit”.
Adapun agama selain itu pastilah buatan manusia, bukan agam “Langit” yg selama ini dikatakan sebagian orang. Kristen adalah agama buatan manusia, Hindu adalah agama buatan manusia, Budha adalah agama buatan manusia, Konghucu adalah agama buatan manusia.
Coba buka kitab Injilmu, carilah pernyataan yang menyatakan bahwa Nabi Isa itu agamanya Kristen, kecuali itu dialamatkan ke Isa yang lain.
@Muhammad
Wah… wah… wah… apa pula ini??
weiksss…..terlonggong longgong baca tulisan muhammad!!!!
wah..lagi2 ngomongin agama..
Ga tau npa muslim paling gencar musuhin Kristen, di Kristen ga diajarin untuk memusuhi orang lain, apalagi situlis tegas musuhin Islam, ini terjadi gara2 ego manusia, Misi Kristen yang sebenarnya : PERGI keseuluruh dunia dan beritakanlah berita sukacita
KRISTEN bukan AGAMA, Kristen itu “olokan” dari orang ANthiokia kepada pengikut YESUS, dan digunakan sampai sekarang.. yang diikuti aja ( YESUS )udah diakui di ALQURAN klo DIA lahir kudus, itulah kenapa kami selalu berpegang dan BANGGA menjadi pengikut KRISTUS, di ALQURAN pun di tulis klo yang datang sebagai HAKIM akhir zaman adalah ISA ALMASIH ( panggilan Yesus dalam bahasa Arab ), jadi Kristen bukan buatan manusia ( agama ), Kristen disebut agama karena tradisi..
klo ALLAH merasa ajarannya kurang sempurna napa DIA harus cape2 nurunin “NABI” yang SUCI buat memberitakan injil? trus napa man ISA aja satu2x yang SUCI? napa nama ISA lebih banyak disebut daripada “setelahnya” dalam Versi ALQURAN?Napa harus ISA yang turun jadi HAKIM bukan nabi setelahnya? Napa masih harus mendoakan nabi setelahnya saat kita harus berdoa?
Menilik dari masa akhir zaman NUBUAT yang tertulis dalam ALKITAB sudah terpenuhi, jika teman2 muslim tiadk berkeberatan bukalah kitab WAHYU dan kaji dengan masa sekarang AMAZING
Napa ALKITAB mempunyai banyak ajaran yang sama dengan ALQURAN?itu karena ALKITAB sudah duluan ada
Satu hal yang ga berani diingkari di ALQURAN adalah masa akan datang setelah “Muhammad” hidup yaitu tetap menulis apa yang ALKITAB bilang bahwa yang bakal menghakimi dunia adalah ISA ALMASIH bukan dia
Napa akhir zaman ini SATAN2 semakin gencar memerangi KRISTEN( pengikut Kristus?)?
Trus nanggapi Muhammad
udah kejawab emang napa nabi ISA ga ditulis agamanya Kristen? jawabannya: KRISTEN bukan agama, KRISTEN itu PENGIKUT ISA / YESUS
Agama itu nama buatan manusia, aku aja ga terlalu ngambilpusing ma sebutan agama, lo orang tanya maka aku akan jawab : AKU KRISTEN, pengikut Yesus
Oya klo Kristen agama buatan manusia napa isi ALQURAN ((menurut cerita bang JAFAR beserta pembuktiannya) mirip ma ALKITAB yang notabene duluan keluar dari ALQURAN?dan nabi - nabinya sebagian besar sama?jawab napa!
Untuk para komentator di topik ini:
Tak bisakah barang sejenak, minimal saat berkenan singgah di sini, Anda istirahatkan perasaan paling benar Anda itu?
Tolonglah tangkap semangat saya untuk mengedepankan saling pengertian dan kebersamaan dalam kerangka kerendahhatian dan saling penghargaan.
Toh, masih sangat banyak situs, blog, dan forum untuk berdebat seperti itu kan? Janganlah di sini… Plis…
Jangan iris hati saya, saat terpaksa mengedit, bahkan menghapus komentar Anda, karena bagi saya, setiap huruf yang Anda titip sebagai komentar, saya anggap sebagai mutiara pemikiran yang sangat berharga.
Tuhan memang ingin kita berbeda, sebab jika Dia ingin kita satu, siapa yang kuasa melawan kuasa-Nya?
Terima kasih…
Dan… semua agama lain juga benar..
Damailah Indonesia dan semuanya..
Andaikan semua agama dari dulu dibawa dengan benar !
Artinya tanpa terpengaruh dengan keinginan yang menyebarkannya
Mungkin perdebatan, pusing yang dirasakan oleh semua tidak akan terjadi.
“lah wong yang benar cuma satu kok Allah yang menciptakan jagat raya ini, Gitu aja kok repot” Gus dur juga gitu
kalau ada 2 zat Allah berarti dia yang tidak benar.
Perhatikan aja keteraturan alam ini, pasti kita dibawah pengaturannya.
=> untuk bang Toga:
aih..aih bang Toga, sampai segitunya… saya yang baca jadi terbawa sedih…
=> untuk komentator
Kenapa masih mencari mana yang benar dan mana yang salah.. Semua agama ada kelebihan dan kekurangannya. Semua pemeluk agama menganggap agamanya yang paling benar, karna itulah dia memeluk agama itu.
Nah, yang absolutely benar itu TUHAN. Masih mau mempertanyakan kebenaran TUHAN??!!
Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup tidak ada seorang pun yang sampai Kepada Bapa kalau tidak melaui Aku.
Bang Toga tentu tau perkataan siapa ini….
resapi baik2 kata ini dalam hati Anda..
yah terserah sih mau ato ga……
at least saya udah memberi comment a smpliy comment
Isa As mengakui kalo TUHAN itu satu!
Tuhan Maha Tahu…
Tidak ada benarnya kalo saling memperdebatkan agama, tidak ada salahnya juga kalo anda yakin akan kebenaran ajaran agama anda.
Hanya Tuhan yang tahu apakah anda berhak masuk Sorga atau wajib masuk Neraka.
kepada saudara muhammad, coba kaji lagi al quran anda, ayat yang menjabarkan bahwa nabi2 yang anda sebutkan sebelum muhammad, melakukan sholat!!
Dan memang di dalam alkitab tidak ada satu ayat pun yang menuliskan apa sebenarnya agama yang anda sebut “nabi isa”. Ya jawabnya simpel aja, karena gak mungki lah Tuhan menjadi pengikut suatu agama, tapi justru Dia yang diikuti.
Dan kenapa Dia saya sebut Tuhan?
Jawabnya:
Sekedar intermezo. Saya memang seorang seorang kristen, tapi jujur saya akui saya bukan seorang kristen yang taat.
Tapi dengan segenap hati dan iman saya, saya mengakuin bahwa Yesus itulah Tuhan yang satu2nya.
Karena apa?
Ada tertulis (tapi sori ya lupa ayatnya):
Yesus yang bilang ya
” AKULAH JALAN, KEBENARAN DAN HIDUP. TIDAK ADA SEORANG PUN YANG DATANG KEPADA BAPA KALAU TIDAK MELALUI AKU”
Yang artinya: TIDAK ADA SEORANG pun yang dapat masuk surga kalo tidak percaya kepada Dia.
Dan satu lagi
“KARENA BEGITU BESAR KASIH ALLAH AKAN DUNIA INI SEHINGGA IA TELAH MENGARUNIAKAN ANAKNYA YANG TUNGGAL, SEHINGGA SETIAP ORANG YANG PERCA KEPADANYA TIDAK BINASA MELAINKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL”
Artinya BINASA masuk neraka gitu loh!!!
A B C D E F G
merdeka!
Nice reading.
Seharusnya tidak perlu diperdebatkan agama mana yang benar dan agama mana yang salah, karena hal itu sangat subjektif. Bagiku, tentunya, agamaku paling benar. Saya percaya bahwa netralitas penulis dalam hal ini tidak perlu diragukan.
Lae Toga, bisa gak kasih alamat email pribadi? Mana tahu Lae masih ingat sama saya.
Japri ke: lontung.simamora@id.bureauveritas.com
Hal paling penting dr agama itu soal ketuhanan. Untuk kasus Almasih (keberkahan Allah atas beliau) yg satu mengatakan tuhan, yg lain mengatakan bukan tuhan sehingga menyamakan keduanya jelas cacat secara logika. Tidak ada perbedaan yg lebih tinggi dr kedua pernyataan tersebut karena tidak ada pengertian antara yg bs mengkompromikan keduanya.
Sementara memang ada kesamaan antar agama2, tapi perbedaannya juga tidak kurang2 banyaknya. Saya mengamati persamaan2 itu kebanyakan adlh hal2 yg kasat mata dan sudah jelas bahkan seorang ateis pun dgn mudah mengetahuinya. Contohnya jgn mencuri, membunuh dll. Artinya kt bs menjadikan diri kita tolok ukur, kalo tidak mau barangmu dicuri ya jangan mencuri punya org lain misalnya.
Sementara perbedaan2 yg ada boleh jadi bs ditengahi jika tidak seperti kasus ketuhanan di atas. Misalnya Almasih turun ke dunia melakukan A sementara yg lain mengatakan melakukan B, dua pernyataan ini bs dikompromikan bahwa bs jadi akan melakukan A dan B karena jika A bukan merupakan negasi B maka melakukan keduanya tentu tidak kontradiktif dengan kedua pernyataan tersebut. Namun perbedaan2 lain yg tidak bisa ditengahi juga banyak.
Dengan demikian argumen bahwa masing2 org punya kecocokan thd agama2 tertentu mungkin saja benar, tapi jelas tidak bs disetarakan secara mutlak karena tidak mungkin 2 org yg beraksi bahwa “dia sedang menulis ” satunya “dia tidak sedang menulis” adl sama2 benar.
agama itu masalah antara kt dan Tuhan,org lain tidak perlu protes dgn apa yg kita pilih.Jujur status sy sekarang seorang muslim di mata manusia tp tidak di mata Tuhan krn sdh hmpir 2 thun sy tidak pernh sholat lg dan parahnya tahun ini tidak menjalankan puasa 1hari pun.Mungkin krn sdh dewasa sy sdh bs berpikir mana yg masuk akal dan yg tidak.Skrang sy lebih memilih percaya kalau TUHAN MEMANG BENAR ADANYA,TAPI AGAMA YG SELALU DI ANGGAP MANUSIA SBG JLN MENUJU TUHAN Tidak sy yakini 100%lg.Saya besar di antara ortu yg berbeda agama dan sy berkesimpulan Tuhan itu Nyata,mencari surganya bukan dengan cara memilih agama yg notabene menurut sy tidak ada yg sempurna.Penganut agama yg 1 percaya klo itulh yg pling benar bgt pula sebaliknya yg ujung2nya hanya memacu perdebatan.JADI BUAT SAYA PERCAYA TUHAN,MENGAKUI KEBESARANNYA,BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA ITULAH CARA YANG PALING BAIK UNTUK MENUJU SURGA BUKAN DENGAN MENGANUT SALAH SATU AGAMA YANG SUDAH JELAS-JELAS DI BUAT MANUSIA.Bagi yg Fanatik dengan agamanya saya ingin bertanya Adakah seseorang yang sudah pernah membuktikan bahwa agamanyalah yg paling benar tapi bukan dengan mengandalkan apa yg kalian sebut dengan KITAB SUCI ITU???
Semua agama tidak sama, ada yang mengajarkan kasih sayang dan perdamaian, tapi ada juga agama yang mengajarkan kebencian dan permusuhah seperti yang diuraikan secara murni dan objektif di artikel ini. Ini situsnya: http://religi.wordpress.com/2007/03/16/agama-langit-dan-agama-bumi/
AGAMA LANGIT DAN AGAMA BUMI
Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen, maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.
Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya; “Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.
Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).
Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.
Agama bumi dan agama langit.
Dr. H.M. Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuliyah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai berikut:
“Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adalah satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama.” 1)
Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul “Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.
Bahkan dengan doktrin mansukh, pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan Injil).
Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan sama, pandangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya, melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?
Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama. Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).
Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.
Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan malaikat dan jinnya.
Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh agama-agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja. Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.
Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana kedudukan bagian-bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdapat di dalam Al-Qur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam dari Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu?
Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang lebih tepat daripada “agama langit”) memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi, seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan tenggelannya matahari, “menurunkan” wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini benarlah sebutan “agama langit” itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya yang bermukim nun jauh di langit.
Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden). Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.
Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah. Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih benar dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di luar mereka adalah palsu dan sesat.
Pandangan “supremasis” ini membawa serta sikap “triumpalis”, yaitu bahwa agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu “cara apapun” itu berarti kekerasan, perang, penaklukkan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.
Masalah wahyu
Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara kepada para perantara itu, atau satu perantara lain, seorang malaikat menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.
Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa. Berikut adalah beberapa contoh.
Pertama, kesalahan mengenai fakta.
Kitab-suci kitab-suci agama ini, menyatakan bumi ini datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi ini bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih dari tujuh, bumi tetap saja bergoyang, karena gempat.
Kedua, kontradiksi-kontradiksi.
Banyak terdapat kontradiksi-kontradiksi intra maupun antar kitab suci-kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan Hagar, budak Ibrahim yang asal Mesir
Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), sedangkan Al-Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.
Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.
Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita-berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh, dll”. Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata-kata atau kalimat-kalimat pejoratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.
Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.
Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama-agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?
Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang menurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu kebencian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).
Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang mereka sebut penyembah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan terakhir dipinjam oleh agama Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam dari leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno. Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran dari agama-agama atau tradisi buatan manusia?
Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada kesimpulan yang negatif mengenai kedua kitab suci ini. Bahwa kedua kitab suci ini mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan, ketahyulan dan kesalahan. Ia meningkatkan penderitaan ras manusia dengan membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan.
Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.
Kesimpulan.
Tidak ada kriteria yang disepakati bersama di dalam penggolongan agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena-mena untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal ini sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan Islam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.
Di samping itu tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung kitab suci-kitab suci itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?
Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya sesat, menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak penggolongan ini menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhirnya kebencian. Bila kebencian bertemu kebencian, hasilnya adalah kekerasan.
Melihat berbagai cacat dari kitab suci-kitab suci mereka, khususnya ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak datang dari Tuhan, tetapi dari manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan-Tuhan mereka adalah buatan manusia.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit dan agama bumi ini tidak dipergunakan di dalam baik buku pelajaran, wacana keagamaan maupun ilmiah. Dianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih netral, yaitu agama Abrahamik dan agama Timur.
(Ngakan Putu Putra sebagaian bahan dari SATS ; “Semua Agama Tidak Sama” ).
Catatan kaki:
I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : “Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi” penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal 53
2). Lihat Karen Amstrong : A History of God
3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
4). Ibid hal 720.
Orang bijak pernah berkata, yang tahu tidak bicara, yang bicara tidak tahu. Kebenaran ada dalam hati dan kematian.
@Misbah
Lha itu orang bijaknya berkata, bicara juga. Ngga tahu dong dia. Lha kalau semua yang tahu ngga ada yang mau bicara, kita semua bakal ngga tau apa-apa dong?
Dunia tanpa tahu? Hmm, yang jelas warteg pasti pada tutup! Dan kalau semua warteg pada tutup, untuk orang miskin seperti saya, kematian memang pilihan yang aman.
Kenapa umat moeslim menjadi begini? Saya takut anak-anak saya nanti menjadi umat seperti ini…
Maksudnya, hakekat kebenaran tidak bisa dibicarakan. Kalau dibicarakan banyak terjadi bias. Kata-kata kita tidak cukup mewakili apa yang ada dalam hati kita. Orang yang mendengar belum tentu mempersepsi sama dengan maksud kita. Jadi jangan memperdebatkan masalah hakekat kebenaran. kalau hati kita jernih tanpa ada pengaruh pikiran dan nafsu pasti kita akan menemukan titik temu kebenaran. Kita semua dicipta dari fitrah yang sama, tetapi setelah hidup sekian tahun, banyak yang mempengaruhi sehingga persepsi kita berbeda-beda tentang kebenaran. Intinya hapuskan ego dari hati kita, pasti akan temukan kebenaran. Dan ini akan kita saksikan saat kita terjaga dari “tidur” kita di dunia, yakni di alam kubur.
wah bagus tulisanya, boleh ga di muat edited
@Zebath.
Makasih pujiannya, tapi maaf, komen Anda saya potong. Tuhan Blog ini ngga berkenan dengan link situs promosi atau justru penghujatan agama apapun.
Menghujat apa nya? buktikan tuduhan anda,saya hanya menawarkan tulisan anda, jgn terlalu pengecut utk hal demikian,kecuali kalau anda emang tidak bernyali
Tidak ada lagi yang saya komentari soalnya komentator diatas sudah lengkap
@Zebaoth.
Benar sekali, saya memang tidak bernyali, dan sejauh ini Anda orang dengan nyali paling besar yang pernah saya temui. Puas bos?
“Benar sekali, saya memang tidak bernyali, dan sejauh ini Anda orang dengan nyali paling besar yang pernah saya temui. Puas bos?”
Ha ha ha… Bisa jg Bang Toga rupanya nyepet balik sambil membungkuk ya, jadi ngakak aku, kereeen.
berati anda takut akan kebenaran….
agama itu membawa kebenaran, bukan pembenaran..
kalau pembenaran yang dilakukan, apa bedanya dengan politik?
Hmmm…ckckckck
”Tidakkah kau sadari…tidak sedikit, cetan2, n ibliz2 bertengger, selalu siap on line menari2 dalam hati …”
afalah artinya manusia … jikalau tak bisa merasakan kemanusiaanya…
Afalah artinya agama … jikalau tidak bisa menunjukan kebaikan agama yg dianutnya…
Knapa oh mengapa …
Knapa manusia … enggan menjadi manusianya …
Mengafa sang fenganut ajaran agama cuman 1/2 - 1/2 mendalaminya ..
Sehingga terjadi beda fendapat cuman bisa berkata…”katanya si ini,itu…doank, tanpa tau sendiri untuk menelusuri kebenarannya…”
Duhai yang merasa jadi manusia …
Sungguh tega benar dikau merampas singgasana sifat iblisku …
Afakah dikau tak malu …
Kemanakah gerangan ferginya akhlakmu …
Knafa yang ada cuman rasa GENGSI=GENDHENG BERAKSI pd lakumu…
Sampai kafan dikau akan terus menerus begitu …
”Niat baik, tujuan baik, ingin merubah seseorang agar jadi baik … namun CARANYA TIDAK BAIK, dafatkah menjadi baik…!!!”
Please kirim salam buat teman - teman iblizku, yang selalu siap sedia on line bertengger dalam hatimu … salam sukses selalu
Tulisan mengenai agama selalu memancing polemik tak berkesudahan. Pro kontra tidak pernah putus.
Biasanya tidak ada yang bisa mengakhiri dengan baik sebagaimana dimaksudkan oleh penulis diawalnya. Polemik berkembang liar tak terkendali, ego masing-masing keluar.
Meski komentar di edit, tapi tidak mendinginkan suasana.
Kebenaran hakiki tidak muncul, yang ada pembenaran diri. Apakah ini yang diinginkan Tuhan dari umatNya?, rasanya tidak.
Selamat berpolemik.
saya setuju dengan bang Toga dimana bahwa Tuhan hanyalah satu dan ia medesain agama berdasarkan kepribadian tiap-tiap orang. di keluarga saya, kami menganut tiga agama. bapak-ibu saya masih bertahan dengan kong hu cu, abang saya pindah menjadi kristen tahun lalu, dan saya sendiri Buddhism. tidak tahu agama mana yang paling benar, karna menurut saya semua agama itu benar dan bukankah TUhan hanya satu? *saya kadang masih jengkel dengan sikap fanatisme abang saya yang suka melecehkan agama bapak-ibu saya* bukankah iman itu adalah hubungan kita dan Tuhan masing2, jadi siapa yang berhak merasa dia yang paling benar? saya sangat suka dengan artikel yang satu ini, trims
Bang, boleh aku punya usul? Ngga usah deh repot-repot menulis tema beginian. Buat capek doang, toh yang Anda dapat cuma caci maki dan kerepotan menghadapi fanatik-fanatik yang udah tertutup mata hatinya itu.
Mending Anda fokus ke tema cinta yang kayaknya menjadi bisa mengeluarkan/mengeksplorasi kemampuan Anda mengolah kata. Lagian tema seperti itu akan menenteramkan jiwa, perhatikan deh komentar-komentar tentang itu, mereka seperti tersentuh tangan-tangan malaikat cinta.
Religion is suck, love is the answer!
lagi-lagi Speechless…
Banyak jalan menuju roma.
Iman-i jalan menuju surga.
Rintis jalan menuju kebahagiaan abadi.
[Postingan ini menarik. Boleh nambahin ya.. biar tambah menarik...
]
Begini…
Ngomong2x, Tuhan itu hebat yaa….
Memang betul kata Bapak pemilik blog ini… saya setuju..
Saya sendiri berfikir sederhana bahwa agama seperti ‘alat’ untuk makan…
Orang bisa makan pakai mangkuk, pakai piring, pakai daun sekalipun, atau langsung nyendok dari tempat nasi….
atau pakai kaleng seperti yg digunakan orang-orang tunawisma…
atau pakai… pokoknya macem-macemlah….
Tapi intinya kan makan….
Nah, alat apa yg kita gunakan untuk makan…? tergantung kondisi kita masing-masing…
Boleh dibilang, (kembali lagi, Tuhan itu memang hebat banget…
bahwa agama atau petunjuk yang diberikan Tuhan kepada manusia, diturunkan-NYA berdasarkan kronologis sejarah…
Sejarah apa…?
Ya sejarah perkembangan manusia itu sendiri…..
Dari mulai manusia itu hidup di jaman Pra-Sejarah… sampai sekarang menjadi manusia yg hidup dijaman teknologi……
Tuntunan atau nasihat atau petunjuk Tuhan diberikan berdasarkan “perkembangan akal pikiran manusia”….
Karena manusia terus berkembang, (khususnya daya pikirnya), maka petunjuk Tuhan pun mengalami perkembangan dari waktu ke waktu….
Pertama Tuhan nurunin agama Level 1… trus karena manusia sudah berkembang, maka level 1 itu sudah tidak memadai, maka Tuhan menurunkan agama (yang tentunya sama) tetapi derajatnya Level 2…..
Demikian seterusnya……
======
Salah satu hal yg menarik adalah….
Bahwa perubahan / perkembangan manusia dari waktu ke waktu turut mempengaruhi perubahan dalam agama itu sendiri….
Agama yg tadinya MURNI dari Tuhan, menjadi 1/2 murni karena telah dirubah oleh tangan-tangan manusia…..
Kesimpulan:
Jadi, sebenarnya Tuhan TIDAK menurunkan agama yang berbeda. Tapi lebih tepatnya, Tuhan menurunkan agama yang SAMA tapi dengan level/bobot/kualitas yg berbeda dari jaman ke jaman…
Perubahan ini disebabkan:
1_ Karena Tuhan bermaksud mengikuti perkembangan manusia itu sendiri……
2_ Tuhan bermaksud mengembalikan kemurnian ajaran-ajaran-NYA yg sedikit banyak telah dirubah oleh tangan2x manusia……..
——————-
Makanya jangan heran, kalau kita banyak menemukan ajaran-ajaran yang sama antara agama yg satu dengan agama yg lain…. Ya karena memang Tuhan manusia itu sama….
Masa sama-sama manusia tapi Tuhan yg menciptakannya beda, kan tidak mungkin…..
——————-
Pertanyaan selanjutnya menurut saya adalah:
Lalu dengan adanya berbagai macam agama dan aliran yang ada sekarang ini, (dg asumsi bahwa semua agama itu benar), agama yang mana yg harus kita jalani…???
Tentu saja, kita kembali pada sejarah… atau kronologis perkembangan manusia dg turunnya suatu agama….
Cara mudahnya:
Urutin deh, dari agama-agama yg ada, mulai dari Hindhu, Budha, Yahudi, Kristen, Islam, maupun sekedar aliran kepercayaan saja, dll…..
Nah, dari semua agama itu, (sekali lagi, dengan asumsi bahwa semua agama adalah benar)… maka » agama mana yang turunnya paling akhir…?
Atau dengan kata lain yg paling UP-DATE….?
Jika dilihat dari sejarah, kita sekarang hidup di jaman apa…?
Kemudian kondisikan agama yg akan kita pilih yg turun paling dekat dengan jaman kita ini….
Gitu…….
Udah ya….
Salam, semoga bermanfaat…
Sekedar sharing dari saya utk anda-anda yg sedang bingung pilih-pilih agama……
Apapun yang anda pilih… itulah yg terbaik utk anda, maka jalani pilihan itu dg segenap hati dan jiwa…..
Karena pada dasarnya Tuhan kita adalah SAMA……
Dan agama apa yg kita pilih » itu tergantung HIDAYAH dari Tuhan….
Knp mesti hidayah dari Tuhan…?
Karena DIA adalah Maha Segalanya……
= Wallahu A’lam =
(Hanya Tuhan Yang Maha Tahu atas segalanya)
=salam=
Wah, entry yang ini kekna selalu anget yah…
Kita perlu melihat sikap dua orang ini: (Bg Toga sebagai penutur dan Bg Jarar sebagai yang dituturkan) dengan pikiran terbuka.
Banyak yang melihat keduanya sebagai kafir, menyesatkan, Islam tak jelas dan sebagainya. Yang bener?
Aku malah melihat, mereka berdua sebagai pendekar Islam sejati. Iman mereka tidak seperti kelihatannya, insya Allah.
Bayangkan, Bg Jarar sanggup ‘dimusuhi’ keluarganya demi pilihannya masuk Islam… Bg Toga, dengan pengetahuannya yang cukup mendalam ttg Kristianitas, toh tetap memilih Islam. Bukankah itu menunjukkan sebuah kekuataan pilihan iman?
Jagan2 kita yang mengaku muslim yang benar ini justru yang sedang rapuh… Jangan-jangan bila kita baca sedikit saja tentang ‘kebenaran’ agama lain kita akan goyah.
Khusus untuk kasus Jarar, kita juga mestinya malu, sebagai muslim karena latarbelakang keturunan, yang jadi muslim karena orang tua kita muslim. JARAR ITU MEMILIH SENDIRI, dan kita orang Islam terlalu bodoh untuk bisa menunjukkan penghargaan kepada dia
Soal toleransi dan pluralitas, bukankah itu sebuah sikap yang baik, inti dari agama untuk perdamaian. Kita sering mengaku Islam agama damai, tetapi sikap kita persis seperti maniak perang.
SIAPA YANG BAKALAN PERCAYA?
Salam!
“agama adalah jalan sunyi menuju kebenaran”
setuju bang dan menurut saya pribadi :
“agama adalah jalan seseorang untuk lebih mendekatkan diri dengan Yang Maha Besar”
“agama adalah bentuk pengikatan diri bagi seseorang untuk melakukan semua yang diperintahkan Tuhan”
“agama adalah bentuk kasih Tuhan pada umatnya agar mereka selalu ingat padaNya, dan menebarkan pesona kasih pada sesama”
-premasai-
Fourseason
Berlebihan soal pendekar itu. :)) Not that good-lah. Tapi sepenuhnya setuju soal harus mengedepankan damai dan pluralitas itu.
Adeksetiawati
Sepakat. Kalau tak bisa begitu, ngga usah ada agama aja udah.
first really gratefull you had decided to convert into mosleem… mungkin sudah lama tapi karena baru kenal, selamat Bang.
Soal mana agama yang benar mana yang salah itu adalah wacana “what if”, manusiawi sekali kalau kita berpikir dan memperluas “what if” atas segala agama… kenapa? karena kita cuma manusia, manusia yang hidup katanya di penghujung jaman, yang tidak tahu apakah bukti-2 yang ditinggalkan masing-masing agama itu benar atau tidak…
Satu-satunya yang kita pegang adalah keyakinan pribadi… jadi marilah kita peluk agama kita secara pribadi, dan menjalankan komitmen pada-Nya secara pribadi…
horas….
(artinya immanuel=tuhan menyertai kita)
saya tetap mengikut Jesus Kristus,biarlah saya terlahir kristen dan gak pindah agama walau apapun terjadi saya tetap beragama kristen dan itu harus bisa kita trima begitu juga dgn agama lainnya…pindah agama bukanlah menjadi sebuah jaminan kita masuk surga!@!namun lebih melihat sisi pribadi kita…ok saya beri pengandaian……….
andaikan kamu punya dua teman..yg A kerja di IT lulusan univ.negri terbaik punya mobil,pintar dan gaya hidupnya full musik bewarna,selalu menolong yang gak punya duit truz kegiatan rohani selalu diikutin..tp si A punya kelebihan sifat egois dan hidup hedonis (suka-suka gw donk) ,,,dan si B hanya lulusan dari SMA kampung2,berasal dr keluarga gak mampu kerja nya mekanik komputer,orang biasa,rendah hati,menjadi pengurus rohani gereja,orangnya baik,gak pemarah,dewasa dan bersifat pemimpin…kamu milih yang mana si A ato Si B????
BTuhan juga demikian thp kita?
apakah situ pernah ketemu yesus atau muhammad,atau mungkin anda pernah ketemu tuhan,coba ajarin gue ketemu Dia,gua lagi pusing,klo ketemu temen saya sering,ana sering ketemu ibu,gitu loh
[...] Surat Seorang Kristen Kepada Jarar Siahaan Ditulis pada 30 November, 2007 oleh Toga Awalnya posting di bawah ini adalah komentar untuk artikel “Bisa Hidup Tanpa Agama Tapi Tidak Tanpa Cinta” yang tadinya juga merupakan komentar Jarar Siahaan untuk menanggapi postinganku tentang kisah migrasi imannya: Justru Setelah Jadi Muslim Aku Jadi Tahu Kristen Itu Benar. [...]
saya seorang kristen (katolik),meski menurut saya saya bukan seorang kristen yang baik walau saya sudah berusaha untuk menjadi baik,saya hanya mencoba untuk memberikan pendapat saya:
menurut pengetahuan saya sebagai orang kristen bahwa Yesus Sang Juru Selamat turun ke bumi untuk memberi kesan bahwa Allah punya satu sifat yang sangat membuat saya tenteram,yaitu “KASIH” kalau harus saya kutip “KASIH ITU SABAR,KASIH ITU MURAH HATI,IA TIDAK CEMBURU,IA TIDAK MEMEGAHKAN DIRI DAN TIDAK SOMBONG”.bukan berarti saya ingin menyombongkan agama saya,toh agama itu pada dasarnya “hanya buatan manusia”maksud saya ini bersifat universal,yaitu tidak mengikat bahwa hanya agama tertentu yang masuk surga dan yang lain tidak!menurut saya semua orang punya kans yang sama untuk menuju kepada Allah, tidak menutup kemungkinan kepada siapapun!!karena setahu saya “Allah adalah kasih, dan barang siapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”dengan kata lain anda tidak harus menjadi seorang kristen untuk bisa berada dalam Allah!berarti secara langsung menjawab“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”mungkin sebenarnya disini Yesus ingin mengajak kita bersama untuk mengerti bahwa “Aku adalah kasih” dan bukan berarti “Aku adalah Kristen”
juga bukan berarti saya ingin memojokan agama saya,alasan saya tetap bertahan menjadi kristen adalah karena saya tidak harus mengambil langkah radikal yang memungkinkan saya untuk membentuk sebuah agama baru karena semua agama pada dasarnya benar!saya hanya harus yakin bahwa kalau saya mencintai Allah pastilah juga Allah mencintai saya!!
maaf mungkin saya yang kurang pengetahuan agama seperti saudara2 sekalian terdengar seperti suara hambar ditelinga!!
tapi saya sungguh tidak bermaksud kurang ajar. kalau saya harus masuk neraka karena hal ini”bring it on” saya terima!
Kalau saya salah,biar Allah yang menghukum saya kepada neraka!karena memang dari awal saya tidak mencari surga,Allah yang memperhitungkan siapa yang berhak dan siapa yang tidak!!
carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu…
terimakasih…
You Rock!
Isa (عيسى) merupakan seorang nabi yang penting dalam agama Islam. Dalam Kitab Suci Al Qur’an, ia dipanggil Isa bin Maryam atau Isa al-Masih. Kata ini diperkirakan berasal dari bahasa Aram, Eesho atau Eesaa. Yesus Kristus adalah nama yang umumnya dipakai umat Kristen untuk menyebutnya, sedangkan orang Kristen Arab menyebutnya dengan Yasu’ al-Masih (يسوع المسيح).
Narasi Qur’an tentang Isa dimulai dari kelahiran Maryam sebagai putri dari Imran, berlanjut dengan tumbuh kembangnya dalam asuhan Zakariya, serta kelahiran Yahya. Kemudian Qur’an menceritakan keajaiban kelahiran Isa sebagai anak Maryam tanpa ayah.
(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah) (QS Ali Imran: 45)
Yesus dari Nazaret (kurang lebih antara 6 SM–4 SM - 29–33) adalah seorang tukang kayu, pengkhotbah/pengajar, penyembuh, guru/rabbi, pembuat mujizat, dan tokoh Yahudi yang paling terkenal; di dalam kekristenan Yesus Kristus juga merupakan Anak Allah, Tuhan, Mesias, dan Juru Selamat umat manusia; di dalam keislaman, Isa Almasih adalah seorang nabi penting (Nabi Isa).
Nama “Yesus” adalah alihaksara dari bahasa Yunani Ιησους [Iēsoûs], yang pada gilirannya juga merupakan alihaksara dari bahasa Aram atau bahasa Ibrani yaitu:Yeshua, yang berarti : Keselamatan, atau “Tuhan adalah keselamatan”, “Tuhan menyelamatkan”. “Kristus” adalah gelar dalam teologi juga berasal dari bahasa Yunani Χριστός [Christos], yang dari bahasa Ibrani “Mesias”, berarti “yang diurapi” atau “yang terpilih”.
Agama Tuhan hanya satu yakni Islam. Adam, Ibrahim, Musa, Isa Alaihim salam, dan Muhammad Saw semuanya satu agama yakni beragama Islam. Jadi tidak benar Tuhan menurunkan banyak agama. AgamaNya hanya satu yakni Islam yang artinya menyerahkan diri kepada kehendakNya. Oleh sebab itu semua manusia akan dievaluasi Tuhan apakah Ia benar-benar Islam (pasrah kepada kehendak Allah) bukan
berdasarkan lebel agamanya di dunia ini.
Tuhan tidak punya agama. Kalau pengertian kita sama bahwa yang sdr Faisar anggap agama adalah keyakinan, maka pastilah Tuhan tidak punya agama. Kalau Tuhan memiliki agama, itu sama artinya kita memerangkap DIA dalam penjara aturan-aturan yang manusia buat. Konon katanya aturan2 itu datangnya dariNya. Aneh bukan? Tuhan dibatasi dan harus tunduk oleh aturan yang DIA buat? Pertanyaannya, apakah dia subordinate dr sesuatu yang sifatnya SUPREME? Itu sama juga artinya bukan Maha Besar bukan pula Maha Kuasa, karena toh ke Maha Kuasa-anNya di kebiri oleh agama yang menurut saudara di yakiniNya.
Tidak benar juga kalau Adam,Ibrahim.Musa,Isa beragama Islam, kembali saya tekankan (jika pengertian kita tentang agama itu sama). Masing-masing agama punya manual, punya pedoman.Jika saudara setuju maka kita sebut namanya saja,Kitab Suci. Setiap agama di dunia punya manual/pedoman/kitab suci bahkan sampai ke tingkat kepercayaan sekalipun. Ada Weda/Veda, Talmud, Tripitaka, Bible, Quran dll. Nah kalo menggunkan rasio, apakah Isa menggunakan Weda, sehingga dia di klaim penganut Budha? Atau bolehkah dia diklaim sebagai seorang penganut Islam sementara dia hidup dilingkungan penganjur Talmud?
Dan apakah mungkin Musa menganggap Quran sama dengan Taurat (Musa yang membawa Taurat turun dari Sinai) dan karena itu saudara dengan berani mengklaim Musa itu muslim.
Saya malah cenderung mengatakan Ibrahim itu beragama Hindu, karena mereka lebih dahulu ada di bumi. Jauh sebelum Gautama, Yesus, Muhammad ada. Itu berarti juga, jauh sebelum Veda/Weda dibuat, lebih jauh lagi sebelum Bible ditulis dan di bukukan, dan yang paling jauh sebelum Quran di “wahyukan”.
Demikian pemahaman saya, semoga pendapat ini tidak menjadi kontroversi.
Karena sama seperti saudara, saya juga tidak hidup dimasa2 itu, tidak mengerti konteksnya, tidak tahu penciptaan, tidak pernah bertemu Pencipta langsung, bahkan dengar suaraNyapun tidak.Yang ada hanya iman, penafsiran dan logika semata. Kalaupun saya bilang memahami itu tidak lebih dari pribadi semata. Karena relasi dengan Tuhan adalah sesuatu yang pribadi. Hak yang paling asasi dari setiap manusia/individu yang tidak boleh dirampas orang lain. Orang lain hanya berhak mengkritisinya, lebih dari itu TIDAK…
salam,horas,peace….
maruli naibaho
Kenapa kita sibuk mempermasalahkan kebenaran yang masing-masing kita anut dan berani meng-klaim (atau menakut-nakuti) bakalan masuk neraka kalau tidak menganut sesuai keyakinan kita.
Kalau memang demikian kasihan banget mereka yang tidak sempat mengenal keyakinan kita (orang-orang pedalaman atau yang terpencil), bisa dikatakan mereka semua bakalan masuk neraka dong….
bila surga dan neraka itu ga ada,masih ga yah kita mo menyembah NYA??sebenarnya yang DIA inginkan hanyalah keikhlasan kita mengabdi dan beriman padaNYA.surga dan neraka NYA itu adalah gambaran dari hasil perbuatan kita di dunia,terlepas ada yg ngga dgn surga n nraka.(eh tapi klo hri pembalasan itu ga ada kita bisa have fun aja didunia yah..ga ada resikonya ini,paling2 brurusan me yg bwajib,itupun bisa diaturlah men..so??no wonder drugs n crime are ev’where,krn mreka percaya ga ada hri pembalasan men..ck..ck..).
Tapi diatas itu smua sbenarnya surga n neraka itu ga ada artinya dibandingkan saat pertemuan kita dengan sang MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG..dan buat gue,kalo surgaNYA aja begitu indah dan tak akan mampu terbayangkan oleh kita,gimana dengan penciptanya???so friend..mari kita sama-sama menata hati,tebarkan cinta dimanapun engkau berpijak,sayangilah umat manusia sebagaiman DIA menyayangimu walaupun kau sadar kau takkan sanggup menyamai kasihNYA,sepanjang masih dalam wujud manusia berarti adalah hambaNYA dan harus bersujud serta menyembahnya,malaikat yg bercahaya pun takkan sanggup menyamai cahayaNYA karena malaikat pun menyembah dan bersujud padaNYA..dengan cinta yang kau tebarkan kau akan menemukan kedamaian..so agama adalah percaya dan yakin kepadaNYA, mengimani kalamNYA dan mengerjakan perintahNYA..kalau kita cinta padaNYA ga akan tersa berat apapun yg diperintahNYA,wong klo cinta ama pacar aja kita rela2 ajakan melakukan apapn untuk dia,palagi kalo yang minta DIA YANG MAHA CINTA??DIA ga pernah menyeru manusia untk bermusuh2an..kalo ada yg salah yg dilakukan oleh orang yg beragama berarti itu adalh oknum,karena agama apapun! ga pernah ngjarin hal itu,yg harus diperangi adalah kerusakan,kebodohan dan kemaksiatan..so..stop argue,ga akan menemukan jalan keluar,hanya melahirkan kebencia2 n baru dan saya yakin DIA juga tak akan suka…agama adalh masalah keyakinan dan ga boleh!! dipaksain sampe kapanpun…agamamu untukmu agamaku untukku..tapi jgn menyebarkan agama kpd org yg udah beragama dgn alasan apapun,kcuali dia yg minta elo ngajari agama lo..mendingan skarang kita mikirin gmana nyelamatin bangsa ini dr keterpurukan,gmana??DIA yg MAHA KASIH pasti akan menolong kita bila kita brsunggu2 berjuang n mengharap uluran tanganNYA…DIA yg MAHA KUASA,MAHA PENYAYANG,MAHA CINTA,MAHA BIJAKSANA,MAHA MELIHAT,MAHA DAMAI MAHA DIATAS SEGALANYA dan MAHA ESA tdak akan menyia2kan usaha dan kesungguhan kita..AAMIIN peace love friendship….keep this world peace n safe..
waaaaaaahh,,,menarik banget ,,,
spectaculer,,,,,,,,,,,,,,,,,,
pengen tau lebih detil neH,,,
boLeh khaN??????
oh ya,,,email akuw d0lphiinz@yahoo.com.,,,
^_^
daMai seLALu,,,,,,,,,,,,,,
BIAR PADA PUAS gw dapetin dari salah satu website…………selamat membaca
Injil-injil kanonik dalam Perjanjian Baru ternyata mengandung banyak kesalahan periwayatan sejarah, yang tak dapat dijelaskan dan dijawab secara memuaskan, dan sekaligus membuktikan bahwa Injil-injil kanonik (Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, Injil Yohanes) hanya bisa disejajarkan dengan dongeng mitologi zaman baheula. Injil-injil berisi berbagai peristiwa yang sebenarnya tak pernah terjadi. Injil-injil hanyalah kelanjutan episode cerita mitos pagan seperti dewa matahari seperti Mithras, Horus, dan Bacchus, dll.
Cerita mengenai penyaliban, kebangkitan orang-orang kudus versi Matius, gempa bumi, kebangkitan, dan penyaliban itu sendiri adalah peristiwa-peristiwa mitos, yang tidak direkam oleh sejarawan yang tinggal selama periode waktu tsb. Philo Judaes hidup sekitar tahun 50 M dan ia tidak pernah menyebutkan peristiwa-peristiwa seperti apa yang telah diceritakan oleh Injil kanonik. Kesaksian Pilatus TIDAK menyebut Yesus. Ribuan orang kriminal disalib oleh Romawi, tetapi tidak ada cerita mengenai Yesus, karena memang Pilatus tidak pernah menyalib Yesus. Yesus telah diselamatkan oleh Allah berdasarkan Qur’an 4:157.
Matius adalah satu-satunya Injil Perjanjian Baru yang mencatat ‘pembantaian bayi-bayi yang tidak berdosa atas perintah Herodes’. Kami memiliki berbagai komentar cendekiawan yang menyatakan bahwa ‘peristiwa pembantaian bagi-bayi oleh Herodes’ hanyalah kilas balik dari mitologi pagan. Dewa matahari orang Yunani kuno, Roma, dan Mesir diancam ketika lahir, dan perintah pembunuhan kepada ’semua bayi-bayi yang baru lahir’. Episode Injil Matius 2:16 adalah suatu bentuk replay yang dilakoni oleh Yesus yang menjiplak kepercayaan masyarakat pagan.
Istilah ‘Tuhan Anak’ yang diatributkan untuk Yesus mengimplikasikan kepercayaan Pagan Trinitas. Title ‘Domba Tuhan’ (Lamb of God) tidaklah unik, sebab telah terlebih dahulu dipakai agama Hindu untuk kristus atau mesias mereka yaitu Krishna.
Berikut ini adalah beberapa error historis dalam Injil.
Herodes tidak pernah memerintahkan pembantaian balita
Ramalan yang dihubung-hubungkan untuk kelahiran seorang mesias bernama Yesus yang jiwanya terancam karena keputusan Herodes membunuh bayi-bayi yang tidak berdosa hanya ada dalam Injil Matius 2:16-18 yang mengklaim itu adalah nubuat dari Yeremia 31:15 yang menyatakan bahwa “Di Rama terdengar ratapan, tangisan yang pahit pedih: Rahel menangisi anak-anaknya, ia tidak mau dihibur karena anak-anaknya, sebab mereka tidak ada lagi”.
Konteks Yeremia adalah bukan nubuat masa depan dimana anak-anak dibantai oleh Herodes. “Rahel menangisi anak-anaknya’ merefer kepada ibu dari Yusuf dan Benyamin (dan istri dari Yakub) yang menangisi anak-anaknya. Pada konteks ini adalah mengenai penawanan Babylonia. Ayat berikutnya mengatakan bahwa orang-orang yang mengalami pembuangan akan kembali.
Pembantaian oleh Herodes (Matius 2:16) adalah bohong karena pengarang Injil Matius adalah satu-satunya orang yang mencatat peristiwa ini. Sejarawan Yahudi Flavius Josephus tidak mencatat peristiwa ini.
“Karena kita telah melihat, cerita-cerita malaikat-malaikat dan gembala-gembala, dalam Lukas, dan dari orang bijak, dalam Matius, adalah catatan ulang dari tema mistis orang-orang Mesir pada tahun sekurang-kurangnya dua ribu tahun lebih awal. Mereka melukiskan dalam bentuk seni di Luxor. Tidak ada bukti historis “pembantaian orang-orang yang tak berdosa” oleh Herodes. Pikiran sehat mengatakan kepada kita bahwa sebuah perintah seperti ini tidak mungkin. Apakah Herodes bermaksud untuk membunuh anak-anak dari teman-temannya, tentara-tentaranya, pelayan-pelayan sipilnya, turis-turis yang lewat, dan lain-lain (Tom Harper, The Pagan Christ, hal. 126)
Injil-injil Error dalam Geografi
Markus 7:31 menyatakan bahwa Yesus meninggalkan kota Tyre pergi ke Danau Galilee (Laut Galilee) melalui kota Sidon. Ini benar-benar tidak masuk akal.
Selain itu, Markus menyatakan bahwa Yesus naik perahu menyeberangi Danau Galilee (Laut Galilee) menuju Dalmanutha. Lokasi Dalmanutha secara pasti tidak diketahui, atau tidak akurat, karena terletak di sebelah timur perairan Galilee sebagai negeri Gadarenes (Markus 8:10 KJV Bible). Gerasa terletak lebih dari 30 mil dari tenggara Danau Galilee, jadi jauh sekali jika kita melihat setting cerita Bible ini. Pengarang Injil Matius tampaknya sadar betapa errornya Injil Markus, sehingga ia mengubah kata ‘Gadarenes’ menjadi ‘Gergesenes’ (Lihat Matius 8:28 KJV). Gadara hanya berjarak 8 mil dari Danau Galilee.
Banyak contoh-contoh yang tidak masuk akal dalam memahami alur cerita Injil-injil Perjanjian Baru ini. Markus 10:46 menyatakan bahwa lokasi dimana orang buta disembuhkan adalah setelah Yesus meninggalkan kota Jericho, sedangkan Lukas 18:35;19:1 menyatakan lokasi orang buta disembuhkan adalah sebelum Yesus memasuki kota Jericho Jika umat Kristen menganggap masalah ini bukan kontradiksi, maka konsekuensinya injil-injil Perjanjian Baru hendak memberitahu kita bahwa ada dua kota bernama Jericho di Palestina
Dalam Markus 10:46 juga disebutkan bahwa rombongan Yesus berjalan dari Jericho ke Yerusalem via Bethpage dan kemudian Bethany. Ini sangat aneh, sebab Yerusalem lebih jauh daripada Bethpage. Matius yang sering menjiplak Injil Markus tampak hati-hati dalam masalah ini, Matius dengan pintar telah menghilangkan kata ‘Bethany’ seperti yang dapat kita saksikan dalam Matius 21:1.
Cerita Injil mengenai kegelapan, gempa bumi, dan mayat berjalan-jalan adalah bohong
Matius (27:50-54) menyatakan bahwa pasca kematian Yesus terdapat beberapa peristiwa ajaib, berawal dari terbelahnya kuil, disusul gempa bumi, terbelahnya bukti-bukti batu, dan tiba-tiba saja kuburan tempat bersemayam orang-orang kudus terbuka dan terjadi penampakkan mayat sedang berjalan berombongan dari kuburan menuju kota Yerusalem dan disaksikan orang-orang dan tentara Romawi.
Dongeng Kristen tsb hanya dapat diciptakan oleh gereja dan diimani berdasarkan ketakhayulan umat Kristiani, karena pada faktanya tidak mendapat dukungan dari sumber-sumber sejarah sekuler (non-biblikal). Dapatkah kita bayangkan jika kuburan di TMP Kalibata Jakarta tiba-tiba saja terbuka, dan tengkorak-tengkorak keluar dari kuburan mereka masing-masing lalu berjalan berombongan dengan hanya mengenakan sehelai kain kafan menuju Stasiun Gambir, pastilah peristiwa ini akan menjadi bahan berita yang luar biasa hebohnya dan diliput/dicatat oleh berbagai media massa cetak dan elektronik, menjadi bahan perbincangan penduduk kota Jakarta, serta dicatat oleh sejarawan Indonesia maupun para turis yang hanya sekedar berwisata ke Jakarta.
Faktanya adalah bahwa kisah-kisah takhayul omong kosong dari agama Kristen ini tidak didukung oleh catatan sejarawan Romawi, Yahudi, maupun sejarawan yang tinggal diPalestina kala itu, dan hal ini memudahkan kita untuk dapat menarik kesimpulan bahwa cerita Injil Matius adalah tak lebih hanya dongeng yang dibuat-buat oleh bapak-bapak gereja.
“…mengenai kegoncangan dan “kegelapan menyelimuti seluruh bumi”…tidak ada sejarawan-sejarawan yang mencatat peristiwa tsb…” (Deceptions & Myths of the Bible, Lloyd Graham hal. 349)
“Cerita mengenai gempa bumi, kenaikan lapisan bebatuan, terbukanya kuburan-kuburan, dan penampakkan orang mati, adalah hanya dinyatakan dalam Injil Matius, yang ditulis hampir delapan puluh tahun setelah peristiwa tsb, sehingga tidak dipastikan keautentikannya. Tentu saja tidak ada alasan mengapa satu gempa bumi seharusnya tidak terjadi pada hari itu, tetapi jika itu benar-benar telah terjadi ditempat tsb hampir tidak dapat dibayangkan bahwa tidak ada dari tiga Injil-injil yang lebih awal menyebutkan peristiwa tsb.” (The Paganism in Our Christianity, Arthur Weigall, 1928, hal. 62)
Tidak ada sensus Romawi kala Yesus lahir
Sub bab ini akan mudah dipahami jika Anda telah membaca artikel: Kelahiran Yesus dan Sensus Quiriniusrecommended
Kapan Yesus lahir Menurut Lukas, itu terjadi selama pemerintahan Gubernur Romawi Quirinius, pada saat itu sebuah sensus diperintahkan oleh Augustus keseluruh dunia (9). Menurut Lukas dan Matius kelahiran Yesus terjadi ketika masa pemerintahan raja Herodes Yang Agung. (10) Masalahnya adalah Herodes mati pada tahun 4 SM, dan ini 10 tahun sebelum sensusnya Quirinius. Selain itu, pada saat masa pemerintahan Herodes, tidak ada sensus Romawi yang terjadi diwilayahnya, yang meliputi baik Yudaea dan Galilee, tempat Bethelem dan Nazareth. (11)Herodes akan telah memungut pajaknya sendiri, dan memberikan upeti kepada Romawi. Terakhir, eksistensi dari sebuah sensus diseluruh [wilayah] kekaisaran adalah bertentangan dengan kebiasaan Romawi, yang mengumpulkan pajak provinsi demi provinsi.
(http://www.infidels.org/library/modern/larry_taylor/messiahgate.html)
Meskipun Lukas 1:5 menyatakan kelahiran Yesus di “masa Herodes, Raja Yudea,” yang mati pada tahun 4 SM, ia membutuhkan perjalanan jauh dari Galilee ke Bethlehem agar terjadi sebagai respon untuk satu sensus yang diperintahkan ketika “Quirinius adalah gubernur Syria.” Karena sejarawan mengetahui, “satu-satunya sensus yang diatur ketika Quirinius menjadi wali di Syria hanya mempengaruhi Yudaea, bukan Galilee, dan terjadi pada tahun 6-7 M, sepuluh tahun pasca kematian Herodes Yang Agung.” Dalam kekhawatirannya untuk menghubungkan asuhan orang Galilee yang dianggap kelahiran Bethlehem, Lukas telah keliru dalam fakta-faktanya. Sesungguhnya, kekhawatiran Lukas telah melingkupinya dalam beberapa hal yang sebenarnya tidak masuk akal, seperti tidak perlu berjalan sembilan puluh mil seorang wanita di hari-hari terakhir kehamilannya- sebagaimana itu adalah Yusuf keturunan Daud yang dianggap telah didaftarkan dalam kampung leluhur, bukan Maria orang Lewi. Tapi jeleknya, Lukas telah dipaksa untuk membuat sebuah dislokasi universal untuk sebuah registrasi pajak yang sederhana: yang dapat membayangkan orang-orang Romawi mewajibkan jutaan [orang] dalam [wilayah] kekaisaran untuk perjalanan jauh dua puluh dari ratusan mil ke desa-desa millenium - leluhur hanya untuk menandatangi satu pajak. Tidak perlu dikatakan, tidak ada peristiwa seperti ini terjadi dalam sejarah kekaisaran Romawi, tetapi Mikha 5:2 harus digenapi. (Randel Helms, Gospel Fictions, pp. 59-60)
Error, sejauh ini, mungkin kelihatan agak marginal. Injil ketiga telah keliru mengenai sebuah sensus lokal di Yudaea dengan satu dekrit dari Augustus; Injil Lukas telah mencoba untuk mencatat tanggal cerita Quirinius, dimanapun, seperti yang dimiliki Matius, ceritanya terjadi ketika Herodes Yang Agung. Pada faktanya, akan menjadi sulit. Disini ada satu kontradiksi pada cerita Lukas: Jika Quirinius adalah gubernur, sensus Romawi adalah kredibel tetapi Herodes adalah satu kesalahan. Ada juga satu kontradiksi dengan cerita Matius: Jika Quirinius atau sensus Romawi adalah benar, Herodes adalah bukan raja dan cerita Matius dari Orang Bijak, pembantaian anak kecil yang tidak berdosa dan pelarian ke Mesir maka berdasarkan kronologis adalah tidak mungkin. Jika Herodes adalah raja, disana tak ada sensus menurut Caesar Augustus. Meskipun jika disana telah ada sebuah sensus, pandangan Injil ketiga ini akan menghadapi masalah-masalah berikutnya.
(Robin Lane Fox, The Unauthorized Version: Truth and Fiction In The Bible (Penguin Books Ltd, 1991), pp. 30-31)
Meskipun registrasi seluruh warga negara Romawi dibuktikan pada tahun 28 SM, 8 SM, dan 14 M dan pendaftaran di provinsi-provinsi individual dari registrasi sensus untuk yang adalah bukan warga negara Romawi adalah juga dibuktikan, nyatanya sebuah sensus di seluruh Romawi dibawah Caesar Augustus adalah tidak diketahui berdasarkan sumber-sumber non-Perjanjian Baru. Dan lagi, ada permasalahan historis terkenal terkait dengan penanggalan sensus versi Lukas ketika Quirinius adalah gubernur Syria, dan berbagai upaya untuk memecahkan kesulitan ini telah terbukti tidak berhasil. P. Sulpicius Quirinius menjadi wali dari provinsi Syria pada tahun 6-7 M ketika Yudea dianeksasi kedalam provinsi Syria. Pada saat itu, sebuah sensus provinsi Yudea digelar. Jika Quirinius telah menjadi wali Syria sebelumnya, maka itu harus terjadi sebelum tahun 10 SM karena banyak wali Syria dari tahun 10 SM hingga 4 SM (kematian Herodes) yang telah diketahui, dan sebuah tanggal bagi sebuah sensus lebih awal dibawah Quirinius akan menciptakan masalah tambahan bagi penanggalan awal dari ministry Yesus (Luke 3:1, 23). Satu legateship sebelumnya yaitu setelah tahun 4 SM (dan sebelum tahun 6 SM) tidak akan cocok dengan penanggalan kelahiran Yesus dizaman Herodes (Lukas 1:5; Matius 2:1). Lukas mungkin secara sederhana mengkombinasikan kelahiran Yesus di Bethelehm dengan kesamaran dari sebuah sensus dibawah Quirinius (lihat juga Acts 5:37) untuk menekankan signifikansi dari kelahiran ini bagi dunia Romawi secara keseluruhan: melalui anak yang lahir di Bethlehem maka damai sejahtera dan penyelamatan datang ke kekaisaran.
(http://www.nccbuscc.org/nab/bible/luke/luke2.htm)
“…Lukas memberitahu bagaimana sebuah dekrit keluar dari Augustus bahwa “seluruh dunia akan diregistrasi”. Masalahnya adalah bahwa secara historis ini tidak bisa ditelusuri….Sederhananya Yusuf dan Maria ke Bethelem demi alasan teologis. Mesias akan berasal dari keturunan Daud, dan jadi dari Bethlehem. Lukas mengatakan kelahiran Yesus terjadi ketika Quirinius adalah gubernur Syria. Artinya adalah bahwa ini tidak terjadi sebelum tahun 6 SM, tahun yangmana kita tahu tatkala ia mengambil kantor [masuk kantor untuk perta