jump to navigation

Islam vs Kristen; Pemenangnya Atheis! 30 Juli, 2007

Posted by Toga Nainggolan in atheisme, cinta, filosofi, spiritualitas.
trackback

Jika Anda lebih mencintai agama Anda daripada Tuhan, tolong tidak usah repot-repot membaca.

Dari dulu aku sering berpikir, Tuhan gokil sekali terhadap dua agama ini. Kasihan, kadang-kadang. Keduanya agama yang paling banyak mendapat janji-janji eksklusif dari Tuhan, dan yang lebih kacaunya, juga mendapat perintah untuk menyebar ke segala sudut bumi, dibebani missi untuk merekrut sebanyak mungkin pengikut.

Tuhan seolah seperti ketua partai yang kekurangan konstituen menjelang pemilu. Tuhan seperti zat yang lemah lunglai, sehingga perlu pertolongan dan bantuan manusia untuk sekadar merekrut pengikut. Tuhan seperti gentar, gemetaran dipelototi Iblis dari kejauhan.

Sungguhkah Tuhan pernah “minta tolong” seperti itu? Atau Tuhan sungguhankah yang minta tolong itu, yang memotivasi kedua agama itu untuk berebut pengikut, yang kemudian menjerumuskan mereka ke perang-perang “suci” hingga hari ini? Kalau sungguh, tanpa mengurangi rasa hormat, dengan sangat menyesal, Itu bukan tuhan saya.

Saya tak sudi bertuhankan Sesuatu yang bicara begini kepada agama ini, dan bicara begitu kepada agama itu. Saya bodoh, tapi tidak begitu bodohnya untuk beriman kepada Sesuatu yang lemah, yang perlu pertolongan manusia untuk menegakkan kebenaran, untuk menghadapi iblis secara keroyokan.

*****

Bila Anda orang yang doyan keluyuran dari satu chat room ke chat room yang lain, pasti pernah menemukan perdebatan panas sekaligus menjijikkan, antara orang-orang yang menganggap agamanya paling benar.

Tidak sekadar mempertahankan kebenaran agamanya, mereka juga menyerang secara brutal agama lain. Hasilnya, kedua agama itu terlihat sama-sama konyol, sama-sama tak logis. Dan itu tadi, yang akhirnya mendapat trofi kemenangan adalah saudara-saudara kita yang atheis, sebab akhirnya kedua orang bertengkar itu membuka sendiri borok dan kelemahan masing-masing. Mengenaskan kan?

Memang harus saya katakan, saya memilih tetap dalam agama saya sekarang bukan karena saya anggap agama itu paling bagus. Saya tak berpindah ke agama lain karena saya tahu dalam agama saya ada kebaikan seperti dalam agama lain, dan dalam agama lain ada keburukan yang ada dalam agama saya. Sejarah agama-agama senantiasa terdiri atas bab-bab yang paling represif dan buas, tapi juga pasase yang paling mulia dan memberikan harapan.

Agama menyumbangkan kepada kehidupan manusia secercah kesadaran, betapapun mustahilnya keadilan akan datang, nilai itu—dan segala sifat Allah—tetap memberi inspirasi. Agaknya itulah yang berada dalam inti iman.

GM dalam Catatan Pinggir; Murtad.

Andai kearifan GM ini dimiliki orang-orang fanatik yang berdebat di chat room itu, juga di semua tempat lain, kedua agama ini bisa dicegah dari kepunahan dini, bisa diperlambat abrasi keagungannya, meski pada suatu saat sepertinya pasti akan punah juga. :(

Romo Mangunwidjaja pernah bilang, “Masalahnya bukan apa agamamu, tetapi seberapa beragamanya kamu.”

Meski fanatisme rasanya ada di semua agama, tetapi pada kedua agama ini kecenderungan itu sudah keterlaluan. Mereka mungkin lupa silsilah, sama-sama anak kandung Ibrahim, dari ibu yang berbeda.

Makanya jangan poligami!

Bonus pantun: (baru saja diciptakan, fresh from my mind).

Bila jalan di semak belukar/hati-hati digigit ular/Bila Islam dan Kristen bertengkar/yang menang orang yang ingkar

Kalau sampai tergigit ular/rasa sakitnya seperti terbakar/Kalau menang orang yang ingkar/semua agama segera bubar

Setelah sakit seperti terbakar/badan menggigil sampai tak sadar/Kalau semua agama sudah bubar/dunia pun jadi kampung bar-bar

Usai menggigil sampai tak sadar/tak lama kau pun jatuh terkapar/Jika dunia jadi kampung bar-bar/Waduh, udah dulu ya, buru-buru mau ke pasar…

Soalnya badan biniku kurang segar, tapi bukan karena ular menyusup ke semak belukar, di rumah peran kami emg sering bertukar, biar suasana ngga monoton dan hambar, cinta pun mekar, badan jadi melar, biarpun penghasilan masih standar, HP belum sempat ditukar ke model anyar, cicilan motor belum dibayar, TUH KAN KEBANYAKAN NGETIK PASARNYA KEBURU TERBAKAR.

Wah, gue curiga nih, jangan-jangan itu tindakan makar, atau paling tidak, biar klaim asuransinya dibayar, atau ulah para makelar, karena ada toke yang mau bangun mall dan gedung-gedung ke langit mencakar. (Wah, yang ini maksa!)

Masa bodo ah. Oiya, kuakhiri posting sensitif ini, dengan kepada-Mu aku istighfar….

Komentar»

1. Luna Moonfang - 30 Juli, 2007

bukan Tuhan yg aneh … tapi para pemuja-Nya yg selalu bersikap aneh … :)

btw, ijin nge-print artikel ini … :)

Me - 14 Oktober, 2009

Jawaban Gampang
1. Apakah Agama itu =Filsafat
2. Apakah Agama itu =Politik
3. Apakah Islam=Kristen

2. maya - 30 Juli, 2007

wah bang, slese baca aku langsung tepar …maksa bgt yah?:d

btw, setuju bgt sama isi postingannya. andaikan semua orang berpikir seperti ini..damainya dunia hehehehe

Me - 14 Oktober, 2009

JIL Sebuah Doktrin Yang Telah Usang
-Pendahuluan-
Ustadz Muhammad Arifin Badri
إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.
Segala puji hanya milik Allah, yang telah melimpahkan kepada kita umat Islam berbagai kemurahan dan kenikmatan-Nya. Maha Suci Allah yang telah menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian bagi umat manusia, siapakah dari mereka yang baik amalannya.

الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملا وهو العزيز الحكيم
“Yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalannya. Dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)
Dan Maha Suci Allah yang telah menjadikan sebagian manusia sebagai cobaan dan ujian bagi sebagian lainnya, guna menguji dan membuktikan kepada manusia siapakah diri mereka sebenarnya:

وجعلنا بعضكم لبعض فتنة أتصبرون وكان ربك بصيرا
“Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?, dan adalah Tuhan-mu Maha Melihat.” (QS. Al Furqan: 20)
Pertarungan antara kebenaran beserta pemeluknya melawan kebatilan beserta seluruh antek-anteknya telah dimulai semenjak manusia pertama yaitu Nabi Adam ‘Alaihissallam dan istrinya Hawa melawan nenek moyang pemuja kebatilan, yaitu Iblis la’natullah ‘alaihi.

يا بني آدم لا يفتننكم الشيطان كما أخرج أبويكم من الجنة ينـزع عنهما لباسهما ليريهما سوءاتهما إنه يراكم هو وقبيله من حيث لا ترونهم إنا جعلنا الشياطين أولياء للذين لا يؤمنون
“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat tertipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-peminpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al A’araf: 27)
Pertarungan antara kebenaran melawan kebatilan, antara orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir melawan para pengikut iblis dan antek-anteknya tidak mengenal batas waktu dan tempat, sehingga negri kita Indonesia tidak luput darinya. Sejarah perjalanan dan perjuangan kaum muslimin di Indonesia sejak dahulu kala hingga saat ini senantiasa diwarnai dengan adanya pertarungan-pertarungan semacam ini. Dahulu kaum muslimin bangsa Indonesia berperang melalui antek-antek para penjajah yang menjajakan agama mereka, dan setelah bangsa kita merdeka iblispun tidak putus asa untuk melancarkan permusuhannya. Melalui berbagai perangkapnya ia memperdaya para pemujanya untuk memusuhi kebenaran dan pengikutnya.
Diantara makar yang sedang marak -walau sudah usang- ialah apa yang disebut dengan ajaran JIL (Jaringan Islam Liberal), dengan koordinatornya yang bernama Ulil Abshar Abdallah (selanjutnya disingkat: UAA). UAA mempropagandakan makar usang ini dengan mengesankan sebagai upaya “menyegarkan kembali pemahaman Islam.”1
Ini adalah salah satu upaya yang ia tempuh guna mengelabuhi sebagian kaum muslimin yang lugu, dan kurang mengenal akan prinsip dan syariat agamanya sendiri, yaitu agama Islam.
Dan untuk sedikit membuktikan bahwa misi yang sedang ia pikul dengan segala pengorbanannya adalah misi yang telah usang, akan saya sebutkan beberapa buktinya:

1 Silahkan baca artikel yang ia tulis dengan judul ini, yang di muat di harian Kompas tgl 18 Novemper 2002, dan kemudian ia bukukan dalam buku yang diberi judul: Islam Liberal & Fundamental, sebuah pertarungan wacana, diterbitkan oleh Penerbit eLSAQ PRESS, Sleman Jogjakarta, dan yang menjadi sumber tanggapan ini adalah cetakan ke-V, April 2005 M

Me - 14 Oktober, 2009

JIL Sebuah Doktrin Yang Telah Usang
-Bukti Pertama: Kufur Terhadap Janji Allah dan Rasul-Nya-
Ustadz Muhammad Arifin Badri
Saya mengajak para pembaca untuk membandingkan antara ucapannya berikut ini:
“Pandangan bahwa syari’at adalah suatu “paket lengkap” yang sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah salah satu bentuk kemalasan berpikir atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah, sebentuk eskapisme, inilah yang menjadi sumber kemunduran umat Islam di mana-mana.” (Islam Liberal & Fundamental hal. 13).
Bandingkan ucapannya ini dengan ucapan Abu Jahal dan kawan-kawannya ketika dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjadi pemimpin bangsa Arab dan juga selainnya (bangsa ‘ajam/non Arab) bila mereka mengikrarkan ucapan syahadat (La ilaha illallah), ucapan mereka itu telah diabadikan dalam ayat-ayat berikut ini,

أجعل الآلهة إلها واحدا إن هذا لشيء عجاب وانطلق الملأ منهم أن امشوا واصبروا على آلهتكم إن هذا لشيء يراد ما سمعنا بهذا في الملة الآخرة إن هذا إلا اختلاق
“Apakah ia hendak menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): Pergilah kamu, dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki.2 Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir (yaitu agama nasrani), ini (mengesakan Allah) tidak lain hanyalah (kedustaan) yang diada-adakan.” (QS. Shad: 5-7) 3
Bila Abu Jahal menganggap seruan tauhid, beribadah hanya kepada Allah Ta’ala adalah suatu hal yang mengherankan, maka UAA menganggapnya sebagai sikap tidak mampu memahami sunnah Tuhan, atau bahkan sebagai sikap malas berpikir atau sebagai pelarian dari masalah, atau sebagai wujud ketidak berdayaan umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka, dan menyelesaikannya dengan cara rasional. (Islam Liberal & Fundamental hal. 12).
Dengan demikian JIL benar-benar bodoh dan bahkan menentang kandungan syahadat (la ilaha illallahu) yang merupakan inti ajaran dan misi utama dakwah setiap nabi dan rasul, yaitu hanya beribadah kepada Allah dan berlepas diri dari segala peribadatan kepada selain-Nya:

ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت فمنهم من هدى الله ومنهم من حقت عليه الضلالة فسيروا في الأرض فانظروا كيف كان عاقبة المكذبين
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut (setiap sesembahan selain Allah) itu, maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An Nahel: 36)

قد كانت لكم أسوة حسنة في إبراهيم والذين معه إذ قالوا لقومهم إنا براءاء منكم ومما تعبدون من دون الله كفرنا بكم وبدا بيننا وبينكم العداوة والبغضاء أبدا حتى تؤمنوا بالله وحده
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kamu beriman kepada Allah saja.’” (QS. Al Mumtahanah: 4)
Kandungan syahadat la Ilaha illallah, yang yang merupakan misi utama dakwah para rasul sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupakan misi dahwah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagai rasul terakhir. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits, diantaranya dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: (أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا: لا إله إلا الله، فمن قال: لا إله إلا الله عصم منى ماله ونفسه إلا بحقه وحسابه على الله ) متفق عليه
“Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah rodiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia hingga mereka mengikrarkan la ilaha illallahu, maka barang siapa yang telah mengikrarkan: la ilaha illallah, berarti ia telah terlindung dariku harta dan jiwanya, kecuali dengan hak-haknya (hak-hak yang berkenaan dengan harta dan jiwa), sedangkan pertanggung jawaban atas amalannya terserah kepada Allah.’” (Muttafaqun ‘Alaih)
Inilah prinsip utama agama Islam, yaitu beriman dan beribadah hanya kepada Allah dan menentang setiap peribadatan kepada selain-Nya. Sehingga setiap muslim yang benar-benar beriman, pasti meyakini bahwa penyembahan kepada malaikat, nabi, binatang, benda, patung atau syetan dll adalah bentuk-bentuk kemusyrikan yang harus diingkari dan diperangi, karena itu semua bertentangan dengan keimanan dan merupakan kekufuran. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits, diantaranya, firman Allah Ta’ala berikut ini:

لقد كفر الذين قالوا إن الله هو المسيح ابن مريم وقال المسيح يا بني إسرائيل اعبدوا الله ربي وربكم إنه من يشرك بالله فقد حرم عليه الجنة ومأواه النار وما للظالمين من أنصار
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putra Maryam’, padahal Al Masih (sendiri) berkata: ‘Hai, Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu’, sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan atasnya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolong.” (QS. Al Maidah: 72)
Dan bila kita pikirkan lebih jauh, sebenarnya doktrin agama Abu Jahal ini, yaitu persatuan agama dan pengakuan bahwa tuhan itu banyak dan tidak esa, adalah misi utama bagi seluruh upaya dan daya yang ia kerahkan selama ini.

2 Maksud mereka dari perkataan: “hal yang dikehendaki”, ialah mereka menuduh Nabi Muhammad bahwa ia menyeru kepada ajaran tauhid, yaitu beribadah hanya kepada Allah, dan meninggalkan segala peribadatan kepada selain-Nya guna mencari kedudukan sosial, dan hanya sekedar mencari pengikut. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Jarir At Thabari dalam kitab Tafsirnya 10/551, dan dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya 4/27.
3 Diriwayatkan bahwa sebab turunnya ayat-ayat ini adalah ketika Abu Thalib paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit, maka datanglah Abu Jahal dengan beberapa pemuka Quraisy lainnya menemui Abu Thalib, guna memohon darinya agar ia sudi membujuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak lagi mencela dan menjelek-jelekkan tuhan-tuhan yang mereka sembah. Akan tetapi usaha mereka ini tidak membuahkan hasil apapun, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bersikukuh dengan risalahnya yaitu ajaran tauhid, beribadah hanya kepada Allah dan memerangi segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya. Melihat sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian ini, Abu Jahal menyelonong pergi sambil mengucapkan seperti yang dikisahkan oleh Al Qur’an di atas. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, At Tirmizy, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra, Al Baihaqi, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban.

Kategori: Penyimpangan & Bantahan Sumber: http://dear.to/abusalma Keterangan: Disebarkan di Maktabah Abu Salma al-Atsari atas izin muslim.or.id. Hak cipta berada di tangan penulis dan webmaster muslim.or.id. Risalah ini dapat disebarluaskan dan diprint/dicetak selama tidak untuk komersial dan hanya dibagikan gratis. Artikel ini didownload dari Markaz Download Abu Salma.

3. whitegun - 30 Juli, 2007

Banyak orang mengatakan semua agama itu benar, lalu mengapa pula kita bertengkar. Pertengkaran hanya akan membuat kita terkapar, sementara yang menang, orang-orang yang tak benar. Lebih baik kita duduk bersama berkelakar, agar suasana menjadi segar.

Agnostik - 10 Mei, 2009

Sebenarnya sih,,,yang bilang semua agama benar itu munafik,,,tahu tdk yang ngomong itu kan kaum Liberal (kaum yang gk konsisten sama omongannya),,,mereka bilang atas nama HAM,,tetapi mereka melanggar HAM,,dan ada aja logikanya,,,emang licik,saya doain dia masuk agam salah ,,terus masuk neraka

4. meiy - 30 Juli, 2007

hihi nggak mau terkapar ah…modiar ya yang suka bertengkar :D

Kalau Tuhanku tak perlu pemujanya…tak dipujapun DIA tetap Tuhan, tak kan berubah zatNYA & sifatNYA..

5. yati - 30 Juli, 2007

hidup atheis!!! :p

6. Rein - 30 Juli, 2007

Hmmm, yup betul itu. kalau semua tenggelam dalam ranah agamanya masing-masing dan saling membantu satu sama lain dalam filosofi ajaran agamanya, saya kira akan aman-aman saja. salam. :idea:

7. regsa - 31 Juli, 2007

agama menurut saya, adalah hubungan saya pribadi dengan Tuhan saya. Dan saya juga ngak setuju agama untuk diperdebatkan karena memang sudah berbeda . Walo banyak perbedaan mungkin ada sedikit persamaan .Jadi mari yang sedikit itu yang dibicarakan, sambil minum teh dan makan kue alakadarnya.nikmat sekali..

8. Alex Massh - 31 Juli, 2007

Logika anda sudah berdiri dalam posisi sebagai Adam atau Hawa pada saat mereka hidup berdua dan mengenal Pencipta mereka…..luar biasa…kembangkan terus!…salam

9. Mei - 1 Agustus, 2007

hidup agnostik! *loh
I like this posting :)

10. mrlekig - 1 Agustus, 2007

SETUJU!!!
SALUTE!!!

Persis seperti apa yang saya pikirkan.
Sekali lagi saya sampaikan, saya lebih suka berteman dengan orang yang tidak beragama tetapi selalu berbuat baik.

Buat apa ngaku beragama, tetapi menyakiti orang lain.. Betul tidak?
Salam damai..

11. Batak News - 5 Agustus, 2007

laeku toga yang baik,
aku sangat suka membaca artikelmu ini. terutama kutipan goenawan mohamad: “memang harus saya katakan, saya memilih tetap dalam agama saya sekarang bukan karena saya anggap agama itu paling bagus.”

setelah menjadi muslim delapan tahun silam, aku pernah berkata pada sejumlah sahabatku dan keluargaku yang nasrani: “justru setelah aku menjadi muslim, aku makin yakin bahwa agama kristen juga benar.”

mereka bingung, tak percaya, dan menganggap aku sedang melucu. lalu seorang berkata: “kalau begitu, kalau memang kristen juga benar, kenapa engkau tidak kembali menjadi nasrani?”

kujawab: “kristen benar, yahudi benar, islam benar; tapi aku merasa lebih nyaman menjadi muslim.”

tetap saja mereka masih mau mendebat, sembari mengutip ayat-ayat kitab suci. kalau sudah begitu, tentu saja aku diam dan berlalu.

pening kepalaku berdebat muncung dengan maniak-maniak agama seperti itu.

12. hamba Mu - 9 Agustus, 2007

semua itu sudah ada yang menentukan semua akan kembali kepada Nya
Manusia dicipatakan sebagai mahluk yang paling sempurna jika manusia mencari kesempurnaan maka niscaya tidak akan menemukan karena kesempuraan hanya milik Tuhan
Agamamu adalah agamamu bagiku agamaku adalah agamaku jika engkau bertakwa kepada Tuhan Mu niscaya engkau tidak akan tersesat

13. A. izza - 28 Agustus, 2007

terkadang keanehan diri kita sendiri yang membuat agama kita tampak aneh,namun Tuhan dari agama apapun tidak pernah butuh siapapun untuk memuja Dia, namun seringkali kita yang membutuhkannya dengan segala keanehan kita

14. giegie - 31 Agustus, 2007

Buat penulis saya sangat salut dengan postingan anda, jika kita semua memiliki pemikiran seperti ini saya yakin dunia akan memiliki kedamaian, saya sendiri sering lebih banyak belajar dari orang-orang yg tidak beragama, karena bagi saya orang-orang tersebut lebih realistis dan berpemikiran logis, dibandingkan dengan orang-orang yg beragama, karena menurut saya sendiri agama itu hanyalah sebuah label, Tuhan memang ada dan Tuhan hanyalah satu, demikian pendapat saya… semoga banyak orang-orang disekitar kita bahkan diseluruh dunia memiliki pemikiran seperti anda sehingga mampu tercipta perdamaian.

15. Suwandi Muhammad - 26 September, 2007

Manusia hidup memang harus beragama kalo pendalaman agamanya baik & benar terus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-2 niscaya hidup itu indah. barang siapa yang selalu ingat akan Allah S.W.T di setiap langkah hidupnya insya Allah arah dan tujuan kehidupan semakin jelas dan terarah.

dan barang siapa yang tidak beragama berarti dia komunis..yaitu orang-2 yang akan menukik dari dalam dan menjadi biang keonaran dunia.

Itulah secercah kata dari kami semoga kaum Muslimin didunia tetap teguh dalam menjalankan agamanya untuk selalu taat beribadah.

Sesungguhnya Dzat yang paling mulia adalah Allah S.W.T

Amin…amin…Ya Robbal Alamin…

Selain tiga komentar atas nama Suwandi Muhammad, Yesus Ibra Ismail, dan Inul, Anda jg mengirim satu komen lain atas nama dan Asrul Fathony, yang terpaksa saya sensor, tindakan yang sebenarnya saya hindari sebisa mungkin. Pak Suwandi, atau siapapun nama Anda, silakan yakin dengan jalan Anda dan menganggap jalan orang lain salah, namun maaf, bukan di sini tempat untuk menyatakannya, apalagi dengan cara dan bahasa seperti itu. Salam.

16. Asrul Fathony - 26 September, 2007

sesuai Surat Al Kafirun bahwa orang-orang Non Muslim adalah *****[edited]

17. Yesus Ibra Ismail - 26 September, 2007

Saya sebagai Yesus sebenarnya saya itu bukan Nabi Isa, AS. tapi aku adalah seorang kepercayaan Nabi yang telah berkhianat sehingga aku di salib ditiang gantung oleh tentara kerajaan.

Hai..orang…Nasrani yang seiman denganku maafkan kesalahan yang lalu… cari agama yang benar…sebelum maut menjemputmu.

Saloom
YII

david - 17 Mei, 2009

sok tau loe, itu khan kata alquran. muhamad itu manusia biasa bukan nabi, mana ada nabi doyan kawin???

jelasnggak - 3 Juli, 2009

@David.

Muhammad itu bukan nabi yang doyan kawin.
Muhammad itu nabi yang menolong kaum wanita.

Bayangkan,

-Anak kecil umur 9 tahun harus ditolongnya.
-budak (maria) dari istrinya juga harus ditolong
-Safiyah, anak dari yahudi yang dibunuhnya juga harus ditolong, karena dia udah ngga punya suami lagi.

baca dong di sini :

http://mengenal-islam.t35.com/favorite.php

salam.

proxy mode:on

18. Inul - 26 September, 2007

APA PERLU TAK GOYANG BIAR NGGAK RIBUT AJA…..KALO MAU TAU YANG BENAR…HIDUP HARUS BENAR……SING PENTING…GOYANG..DJEH…HE….HE…..HE…..HE…UGF….UGF….WUENAK TENAN…LHO..DILEBONI.

19. yesus kristus - 26 September, 2007

help me…pls…help me I’m affraid not achieve to heaven…we should come first for several year at hell..

i meet muhammad…he’s very happy there..and the god was angry whit me always…I’m not Isa prophet..we just people have many…sin..to god

jelasnggak - 3 Juli, 2009

Hi there…

My name is Muhammad. I am a Prophet. You see….If you follow islam way by killing those innocents people, you will end up like me….in heaven with 72 virgins.

When I was on earth, I had 9 wives, and hundreds of slaves (women)… but those just weren’t enough for me… bcause I have libido as strong as 30 men.. A day i could sleep with 30 womens at once without even getting tired…..whoa…look at that…

That’s what a word “PROPHET” means….if you know what i mean…

okey… now… i have to get back overthere… my 72 virgins are waiting..

bye..

20. yesus - 26 September, 2007

f*** you. [edited again]

21. dannie ahmad - 26 September, 2007

yahh…bagi yang sudah beragama yah silakan diterusin menyembahnya…yakini aja bahwa itu emang benar….dan yang belum beragama dan belum meyakini adanya tuhan ya silahkan saja diterusin begitu……yang penting, setiap orang yang melakukan sesuatu…pasti bakalan mendapatkan sesuatu yang sesuai pula dengan apa yang dilakukannya……ok, good luck…!!!semoga kita mendapatkan apa yang kita cita-citakan…..

22. krisna - 27 September, 2007

@Yesus…

Oalah Yesus.. Yesus… Masa Bahasa Indonesiamu kalah ama anakku yang masih kelas 2 SD?

“… mati di salib ditiang gantung tentara kerajaan…” he he he belajar bahasa dulu ya

23. Endro kawulo - 28 September, 2007

Yes + Kris

kalo belum ada yang paham ngga’ perlu komentar karena sama-2 begonya aja kok berargumentasi

24. kristina akurela - 30 September, 2007

ah..gw kadang-kadang bingung deh…setiap kali gw pergi ke gereja, lalu gw menatap keatas…disitu gw lihat **** (edited)

Plis… janganlah nulis komen kayak gitu. Jangan paksa aku main sensor, atau memberlakukan kembali moderasi komentar. OK, kawan?

25. Tomo - 12 Oktober, 2007

Bagaimanapun peradaban manusia, dongeng dibutuhkan untuk hiburan dan pesan moral.
Di jaman modern ada dongeng superman atau batman. Jaman dulu ada gatut kaca atau hercules. Semua pahlawan dongeng tsb semua sakti. Namun dibanding yesus tidak ada apa apanya. Tapi ada persamaan yesus dan hercules, keduanya anak tuhan.
Jangan-jangan yesus hanya sebuah dongeng dramatik.

26. omkangkung - 13 Oktober, 2007

bung toga… tampaknya ada kecelakaan kaya mulawarman nih di blog lae…
ternyata Tuhan mereka lemah and cemen banget yah ampe butuh mereka untuk ngabarin umat nasrani pindah agama keagama mereka…
Tuhan yg mereka sembah ga punya staff malaikat jadi butuh banget pahlawan2 kaya mereka sebagai representatif.
kasian banget mother theresia, gandhi, dan orang2 lain yg mendedikasikan hidupnya buat sesama udah keburu dijemput maut sebelom pindah agama ke agama mereka,

27. Diamond - 22 Oktober, 2007

“Tuhan seolah seperti ketua partai yang kekurangan konstituen menjelang pemilu. Tuhan seperti zat yang lemah lunglai, sehingga perlu pertolongan dan bantuan manusia untuk sekadar merekrut pengikut. Tuhan seperti gentar, gemetaran dipelototi Iblis dari kejauhan”

Bang Toga,
Saya pikir dugaan abang ini tidak relevan dengan keyakinan abang. Dikatakan sebelumnya bahwa mereka dibebani tugas untuk menyebarkan, kalau sudah begitu ya let it be.

Yang perlu dikritisi adalah sikap pemeluk agama2 itu yg kelewatan, bukan menjustifikasi bahwa abang tidak akan memilih tuhan yg memerintahkan begitu karena bukankah agama2 tersebut mengajarkan kebaikan ? menyampaikan dengan cara yg sebaik mungkin ?

Ada lusinan tindakan2 Tuhan yg kalo ditanyakan akan bikin pusing, seperti mengapa Dia membiarkan peperangan ? Oklah jawaban yg umum bahwa itu adalah ulah manusia2 durhaka. Tapi bukankah dia mampu mencegahnya ? dll

Saya bisa katakan bahwa Tuhan yg seperti ini seperti sesuatu yg senang dengan pertumpahan darah, Dia akan tertawa2 melihat orang2 dibantai seperti kita kalo main game. Apakah juga begitu anggapan kita ?

Pernyataan GM yg abang sitir itu menurut saya hanya retorika. Perselisihan besar kemungkinan tidak akan hilang dengan menghilangkan kewajiban penyebaran agama. Terlalu banyak faktor dalam kehidupan beragama sehingga harus benar2 diteliti dan mungkin lebih penting dibenahi kehidupan beragamanya.

Termasuk ateisme besar kemungkinan tidak akan surut dengan berdamainya Islam Kristen. Pada jaman modern ini ateisme mempunyai akar di dalam iptek. Ilmu pengetahuan bahkan berhasil menjelaskan saat2 penciptaan semesta secara terperinci, konsekuen dan cocok dengan data2 pengamatan yg penting. Sehingga menurut anggapan mereka sendiri telah mendepak Tuhan dari tempat persembunyiannya yg terakhir yaitu penciptaan.

Yang mengatakan ini sialnya adalah tokoh2 ternama termasuk peraih nobel2 fisika, kimia, biologi sehingga omongan mereka pun jadi punya otoritas dikalangan kolega maupun masyarakat.

28. Avatarku Gambar Yesus Kristus? « Nesiaweek Interemotional Edition - 12 November, 2007

[...] Islam vs Kristen; Pemenangnya Atheis! [...]

29. al buruuj - 8 Desember, 2007

Saudara-saudaraku sekalian…

Hanya satu pertanyaan saya kepada anda semua…

Untuk apa kita semua diciptakan?….

“SEBAIK-BAIK MANUSIA ADALAH YANG PALING BERGUNA UNTUK SESAMA DALAM KEBAIKAN DAN MENGERTI UNTUK APA DIA DICIPTAKAN KE DUNIA”

Semoga memberi manfaat untuk kita semua.
Salam

30. andi banget - 25 Desember, 2007

Wah banyak kali perdebatan tentang agama di dunia ini,,, saya kristiani berteman dengan muslim,, ga pernah terlintas “kata agama di benak kami” kami nonton bokep bareng,, minum bareng,,drugs pernah, kerja bakti bareng,, berangkat kenduri bareng,,nyari dana untuk korban gempa bareng..Hanya orang orang tolol yang memperdebatkan salah satu dari kami akan masuk surga atau neraka..Memang kami bukan ahli agama,, Kami hanya ingin membuat perbedaan,, bagi lingkungan kami…Hei kalian yg sedang berdebat,, lanjutkanla h karena kami sedang minum beer dan menertawakan kekonyolan ini…remember we’re different!!

31. laskar - 28 Desember, 2007

Pada dasarnya saya setuju dengan apa yang diungkapkan oleh bang toga, tapi yang jadi masalah adalah apakah Tuhan yang disembah oleh orang Islam ( Allah SWT ) dan Tuhan – Nya orang kristen adalah Tuhan yang sama? Dalam Pancasila yang nota bene adalah dasar negara saja tercantum ” Ketuhanan Yang Maha Esa “, kalo memang Tuhan itu ESA, kenapa harus ada trinitas? yang namanya satu yah satu, kenapa harus ada ” satu dalam tiga, tiga dalam satu? “.

32. laskar - 28 Desember, 2007

Tomo said:
” Jangan-jangan yesus hanya sebuah dongeng dramatik ”
Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada segenap saudara2 saya umat kristen kalo kata2 saya akan menyinggung perasaan saudara2 saya. Tapi perlu saya jelaskan bahwa : Yesus bukan dongeng, tapi hasil rekayasa Raja Konstantin. Raja Konstantin yang melantik Yesus yang mati ditiang salib sebagai TUHAN. Yesus adalah manusia yang diciptakan oleh Allah, apakah mungkin seorang manusia jadi Tuhan? dan Tuhan jadi manusia? Itukan mengada-ngada namanya! Coba kita berpikir secara logika, Ibaratnya seorang tukang kayu menciptakan sebuah kursi. Apakah mungkin kursi bisa jadi tukang kayu? Dan apakah mungkin tukang kayu bisa jadi kursi? Mustahil kan?
Orang kristen itu membohongi diri mereka sendiri. Buktinya, Kelahiran Yesus tanggal 25 Desember (natal) identik dengan salju dan pohon cemara. Apakah di Betlehem ada salju dan pohon cemara?
terus, pada bulan desember itu adalah MUSIM DINGIN, sementara Yesus dilahirkan pada malam hari dimana para penggembala menggelakan domba-domba mereka. Mengapa para penggembala menggembalakan domba mereka pada malam hari, karena pada saat itu adalah MUSIM PANAS.
Sebenarnya mereka sudah tahu bahwa mereka salah, tapi mereka tidak mau mengakui kesalahan mereka. Jadi dapat disimpulkan bahwa Mereka itu adalah Golongan Orang2 Munafik.
Saya bukannya tidak menghormati / menghargai saudara2 saya yang beragama kristen tapi saya hanya mau mengingatkan, “KEMBALILAH KE JALAN ALLAH “.
Emang dalam Al Quran surat Al Kafirun juga sudah dijelaskan ” Lakum Dinukum Waliadin ” Yang artinya ” Untukmu Agamamu Dan Untukku Agamaku “. Tapi ayat tersebut ditujukan bagi orang2 kafir. Tapi orang kristen itu bukanlah orang kafir, tapi mereka masuk dalam golongan orang-orang ” SESAT “.
Jadi pada kesempatan ini sekali lagi saya mengajak saudara2 saya yang beragama kristen untuk kembali ke jalan ALLAH.

33. Salngam - 28 Desember, 2007

Untuk Tomo,
Yesus memang harus mati dan bangkit dari antara orang mati dan ini sudah dinubuatkan oleh nabi-nabi sebelumnya.
Pencipta mernjadi ciptaan bisa apa tidak?. Namanya juga Allah maha besar, Allah maha bisa. Kalau mas Tomo swudah pasti tidak bisa.
Allah jadi manusia dengan demikian bukan mustahil.
Bulan Desember de Eropah itu musim dingin Boss, di Australia musim panas , di Israel musim…,m di Indonesia musim banjir. Tampaknya matematika Bapak sangat lemah, demikian pula Bapak tampaknya tidak mengerti sama sekali analogi dan simbolisasi.
Seharusnya Kristen yang berhak menyatakan Islam (Muhammedsnism) sesat karena Muhammedanism lahir 450 Tahun setelah Kristen. Kristen tidak pernah menyatakan Jahudi sebagai sesat tetapi Kristen menyebut dirinya perjanjian baru (New Covenant). Artinya Warisan yang tadinya hanya diperuntukkan untuk orang Jahudi diperbaharui Janji Allah bahwa Warisan Surga itu untuk seluruh Manusia termasuk saya dan mungkin mas Tono.
Kristen yang benar sudah pasti di Track yang benar. Wassalam

34. laskar - 29 Desember, 2007

salngam said :
” Seharusnya Kristen yang berhak menyatakan Islam (Muhammedsnism) sesat karena Muhammedanism lahir 450 Tahun setelah Kristen. Kristen tidak pernah menyatakan Jahudi sebagai sesat tetapi Kristen menyebut dirinya perjanjian baru (New Covenant). Artinya Warisan yang tadinya hanya diperuntukkan untuk orang Jahudi diperbaharui Janji Allah bahwa Warisan Surga itu untuk seluruh Manusia ”
untuk pak salngam, perlu saya luruskan tulisan anda, bukan ” Muhammedanism ” tapi Muhammad. Itulah bedanya Islam dengan kristen. Mungkin kristen bisa merubah nama dari Isa menjadi Yesus. Apakah anda tahu sejarah perubahan nama dari Isa menjadi Yesus? Perlu anda ketahui Yesus telah mengalami tiga kali pergantian nama dari Isa. Pertama, dari ISA dirubah jadi YEYASA, karena orang romawi pada saat itu susah menyebut ISA maka digantilah dengan nama YEYASA. Setelah itu YEYASA dianggap masih kurang nyaman, maka digantilah YEYASA menjadi YOHOSUA. Setelah itu YOHOSUA diganti lagi dengan YOSUA, dan terakhir barulah diganti dengan YESUS.
Kemudian Pak Salngam tidak berkomentar tentang masalah TRINITAS? Karena memang Allah Maha Esa, yang berarti SATU. Yang namanya satu yah satu. Kayaknya anda deh yang matematika-nya kurang. dalam matematika apakah satu bisa jadi tiga, dan sebaliknya tiga bisa jadi satu? Mustahil kan?
Dan kalau kita lihat sejarah tiga agama ini pada dasarnya memiliki kesamaan namun juga memiliki perbedaan yang sangat mendasar.
Pertama tiga agama ini adalah agama Wahyu yang artinya Agama yang berasal dari ALLAH.
Kedua tiga agama ini mengakui keberadaan Nabi Ibrahim.
Nah, sebelum kita membahas tentang perbedaan dari ke tiga agama ini, ada satu pertanyaan yang harus kita kaji. MENGAPA ALLAH HARUS MENURUNKAN KITAB BEBERAPA KALI MELALUI NABI-NABI UTUSANNYA?
Pertama Allah mengutus nabi Daud dengan kitab Zabur
Kedua Allah mengutus Nabi Musa dengan kitab Taurat.
Ketiga Allah mengutus Nabi Isa dengan kitab Injil
Dan terakhir Allah mengutus Nabi Muhammad dengan kitab Al Qur’an.
Kitab Zabur diturunkan untuk Umat Nabi Daud, Taurat diturunkan untuk Umat Yahudi, Kitab Injil diturunkan untuk Umat Nasrani ( saya menyebut dengan nasrani bukan kristen ) dan terakhir Kitab Al Qur’an diturunkan untuk menyempurnakan kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelumnya.
Perbedaan antara tiga agama ini adalah Umat Yahudi tidak mengakui keberadaan Nabi Isa dan Umat Nasrani tidak mengakui keberadaan Nabi Muhammad, sementara Umat Islam mengakui keberadaan Nabi Musa dan Nabi Isa.
Kemudian perbedaan kitab ketiga agama ini adalah Taurat hanya berisi sepuluh perintah dan sepuluh larangan, Injil hanya berisi tentang kisah-kisah perjalanan hidup Nabi Isa ( bukan Yesus ) selama hidupnya. Dan Al Qur’an semuanya lengkap mulai dari perintah dan larangan Allah, sampai dengan Kisah-kisah para Nabi.
Selain itu perbedaan dari ketiga agama ini adalah Umat Yahudi mereka mengikuti ajaran Nabi Musa, namun mereka tidak menganggap Nabi Musa sebagai Tuhan dan mereka tidak beriman kepada Allah. Sementara umat Nasrani mengikuti ajaran Nabi Isa namun menganggap Nabi Isa sebagai Tuhan dan beranggapan Nabi Isa dan Allah adalah satu. Dan Umat Islam mengikuti ajaran Nabi Muhammad namun tidak menganggap Nabi Muhammad sebagai Tuhan dan tetap beriman kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam.

35. SALNGAM - 3 Januari, 2008

Buat Mas Tono dari Laskar,
Problemmu adalah kamu sok tahu!, seolah-olah kamu adalah ahli ilmu perbandingan agama paling handal. Orang yaang sok tahu biasanaya bodoh dan tolol!. Kenapa tidak, seolah-olah kamu lebih tahu Kristen dibanding saya. Mayoritas orang Indonesia adalah seperti mas maka kita sebagai bangsa terpuruk.
Saya saran cobalah dalam hidup ini dengan bertanya atau biasakan hidup dengan 5WH kurasa hidupmu akan lebih bahagia.
Dari carama berdiskusi sebenarnya kau adalah awam seperti saya not researcher, kenapa tidak, bisa-bisanya kamu memaksakan pola pikirmu bahwa Kitab Injil diturunkan oleh Allah kepada Nasrani. Hanya orang tolol yangberfikir kitab (buku) diturunkan oleh Tuhan kepada Manusia. Turunnya pakai Sinterklass?.
Injil itu tulisan bung!, it’s came from Scroll konon katanya ditulis dalam Bahasa Junani (Greek) oleh Mateus, Markus, Lukas, Johannes , Petrus (Lima murid Jesus) dan Paulus (tentara Romawi yang menjadi Kristen.
Kalau mau lihat aslinya mungkin kau bisa browsing ke Situsnya Vatikan atau Library of Congress.
Kalau aku akan bahas Trinitas sama kamu kamu tidak mengerti karena hatimu sudah kadung prejudice (prasangka buruk) dan tidak terbuka menurut metode berfikir yang logic!.
Tapi sekedar memberitahu Trinity itu adalah logika memahami Tuhan (Allah atau Eloi atau Jahwe atau apalah namanya). Allah itu adalah Roh adanya dan menurut logika Protestanisme biar gampang memahaminya (Theologist) memahaminya dalam Allah Bapa (Allah yang memelihara seperti Bapanya mas Tono), Allah Anak (Allah yang menjadi manusia seperti mas Tono dan Saya), Allah Rohulkudus (Allah yang senantiasa menjadi roh sama seperti rohnya mas Tono dan Roh Saya bedanya RohNya Kudus roh kita khususnya mas Tono Wallahhualam).
Kalau kamu pakai azas material (Fisika) 3 memang tidak akan mungkin menjadi 1.
Mungkin kamu tidak akan bisa menjjawab pertanyaan Atheis berikut: Bisa tidak Allahmu yang mahabesar dan mahabisa itu menciptakan sesuatu benda/material yang Ia sendiri tidak bisa mengangkatnya?. Jika kamu ahli fisika kamu pasti bisa menjawabnya, jika tidak kamu berarti masih tolol dan bodoh seperti saya, Ok Boss selamat berfikir!

36. laskar - 7 Januari, 2008

Salngam Said :
“ Injil itu tulisan bung!, it’s came from Scroll konon katanya ditulis dalam Bahasa Junani (Greek) oleh Mateus, Markus, Lukas, Johannes , Petrus (Lima murid Jesus) dan Paulus (tentara Romawi yang menjadi Kristen “.
Mas Salngam, Saya menggaris bawahi pernyataan anda, memang saya akui pengetahuan saya tentang ajaran Kristen sangat terbatas. Tapi kalo melihat dari pernyataan anda dengan menggunakan kata “ Konon Katanya “, maka jangan salahkan saya kalo saya berpikir bahwa sebagian dari kitab ( Injil ) itu hanyalah sebuah rekayasa atau lebih tepatnya lagi kita sebut dengan “ dongeng “. Kenapa saya mengatakan dongeng, karena hanya dongeng yang menggunakan kata “ Konon Katanya “. Berbicara masalah agama berarti kita berbicara masalah Tuhan, dan kalo kita bicara masalah Tuhan, maka tidak ada keragu2an. Kenapa anda harus ragu dalam mengeluarkan Statement…..?
Kemudian, saya ingin menanyakan kepada anda, apakah Yesus mengajarkan tentang Trinitas? Kalo memang Yesus mengajarkan Trinitas kepada umatnya, tolong tunjukan kepada saya dalam Kitab apa dan fasal berapa dalam Injil…?

37. RIKARDO SIAHAAN - 8 Januari, 2008

Mas Tomo dari Laskar,
Can you read between the line???. “Konon katanya ” berarti saya sebagai pembaca Alkitab ( Not Bible researcher) karena Alkitab yang kubaca tersebut terbitan Lembaga Alkitab Indonesia atau Good News Bible (Terjemahan Dayly English) , atau Bible (King James Version) dan paparan para Pendeta yang sekolah 6 tahun (STh) , +2 Thn Mth, +3 thn Dr.Th itulah artinya “konon katanya”. Saya tidak bisa membaca Perjanjian Baru Asli (Scroll Asli=Greek) atau Septuaginta (Perjanjian Lama=Hebrew/bahasa Ibrani) saya hanya bisa mengerti yang Bahasa Batak/Indonesia/Inggris. Dan kupikir untuk sementara itu sudah cukup bagi saya. Sesekali saya bowsing Anthropologi (sejarah ) Alkitab dan buku telogi kristen lainnya.
Tidak ada satu katapun di injil yang menyatakan tentang Trinitas!!. Membaca Injil Kau harus membacanya dari Mateus 1:1 sampai dengan Wahyu 22:21. Banyak istilah teologis tentang injil. Marthin Luther menyimpulkan Injil sebagai SOLA VIDE, SOLA GRATIA dan SOLA SCRIPTURA. Ada juga teolog setelah membaca injil menyimpulkan GOD is LOVE. Untuk sekedar pengetahuan bahasa Junani Love bisa berarti Agape, Eros dan Filia. GOD=JESUS=AGAPE (Nah bingung kan!).
Kalau kau mau sekolah Alkitab saya rekomendasikan coba belajar secara pribadi kepada Jusuf Roni atau Prof Dr. Daulay (Sekjen PGI) saya kira dia bisa mengajarimu gratis.
Kalau kau mau bahas ayat alkitab sebaiknya kau baca dulu seluruh Alkitab (Perjanjian Lama & Baru) Cerita buku itu runtut dan boleh dipenggaal periodenya mulai dari periode O thn s.d. kira-kira 120 Thn Sesudah Masehi.
Jesus hanya mengajarkan seperti ini kesimpulannya: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap jiwa ragamu dan Kasihilah Sesamamu seperti dirimu sendiri!. Tuhan itu Esa, Tuhan itu 3 tapi Esa Tuhan itu 100 tapi Esa itu tidak penting bung!.
Mungkin kau akan bingung kalau kubilang begini… Aku menjadi Kristen (Umat Kristus=Umat Allah) jauh sebelum bumi ini dicipta!. Aku menjadi Kristen bukan karena aku mau tapi karena Jesus/Allah mau!. Jadi kalau pada akhirnya kau tidak menjadi Kristen jangan salahkan saya!. Tapi coba minta kepada Allah/Jesus siapa tau Dia berubah pikiran. Allah memberkatimu!!

38. Ete - 10 Januari, 2008

ah semua orang disini kaya orang gila bercakap-cakap dengan sesama orang gila… mirip RUMAH SAKIT JIWA…
islam merasa agamanya paling benar….Kristen pun demikian
capek deh….

39. blacko - 11 Januari, 2008

Aduh gini hari masih ngomongin perbedaan katanya kita semua orang pendidikan ( sekolah LOE pada tinggi cekali ) tapi isi otak loe cupet banget TOLOL ALIASAN SUPER DUNGGU SEDUNIA. coba perbedaan itukan udah ada di falsafah negara kita yg katanya kita berbeda tapi satu. itu aja dech dan dari perbadaan itu maka akan ada suatu kekuatan yang tidak bisa diperdiksi dan kekuatan itu sudah ditunjukkan oleh para pendahulu kita coba kita lebih sadar n mengingat perjuangan mereka untuk merebut kemerdekaan bangsa yg sangat kita cintai ini.
COBA KITA MERENUNG N MENGINGAT2X LAGI.
Ok Freind saya harap generasi kita bukan generasi yg jln di tempat kayak gitu cuman mikirin n ngomongin perbedaan antar agama pula. malu dg mahasiswa n bangsa lain. mereka mikirin gimana cara agar mereka bisa taklutkan dunia dgn perdamaian.
………………COME ON MAN WEEK UP………………….
Saya harap obrolan ini udah sampai disini aja
or CASE CLOSE…..
Abang setujukan……..
wasalam
blacko

40. blacko - 11 Januari, 2008

Daer Abang yang baik & semua temen 2X yg nimbrung di blog ini.
Saya mohon dengan sangat abang menutup n kalau boleh saya sarankan kalau dilain hari ada obrolan yg kayak gini distop aja inikan udah jelas berbau SARA.
Thankz buat abang n semua…………
Wasalam
blacko…..

41. zhiuma - 15 Januari, 2008

klop bGt..,Gw sk dGn tulisan2 U.
c’ry..,td Gw Ngocopy kBlog Gw.heee…heee..

bWt Blacko : maAf SbLmX …,Gw Rasa,,Bkn cm “perbedaan antar agama” yg diMksd dlm Tulisan2 Bang NeSia.,Tp, jG tTg Ap sih Yg DiAjaRkan AgaMa tu., yach SbnRx tiNggaL Gmn Cr Qta M’nyiKapiX aZ. Lgian Bang Nesia jG dAh Ksi tAu kAn “JikA Anda Lebih M’CinTai aGamA aNda,DrPd Tuhan…tDk Usah Repot2 m’BacA ” .

DaN Ada brp oRg Yg TaU “n” MaU utK m’Bahas haL2 sPti ni (kLo bKn Qta Sp lG..?)…heee….heee

SaLam
PeAcE

42. FraterTelo - 16 Januari, 2008

Keren, salam kenal dulu ya. Dan apakah agama itu? awalnya orang berkumpul karena punya paham yang sama, A adalah A, oh ya saya setuju A adalah A maka berkumpullah si pendukung A adalah A itu. Mereka mulai mencari orang yang memiliki paham yang sama. Lantas ada kelompok lain A adalah AA, mereka juga mencari orang yang memiliki paham yang sama. dalam pencarian orang itu (marketing) terjadilah saling jegal, saling serang. Padalah A yang mereka definisikan sebenarnya bukanlah A atau AA. tapi A adalah ?/tiada yang tahu.

43. luvpiis - 16 Januari, 2008

salam perdamaian…
teman-teman smua..ga capek mempersoalkan perkara yang ga bakal mungkin ketemu dan ga akan pernah bisa sama?agama adalh masalh keyakinan dan antara kamu ama Tuhan..(buat yg etheis..silakan bermain cantik dalam melakukan kejahatan..toh anda ga percaya Tuhan dan hari pembalasan…so do crime n kumpulin kesenangan aja sebanyak2nya,paling2 urusan ame yg bwajib,itupun bisa diaturlah,so nothing to worried about…jan sampe kburu mati men..ntar mati ga sempat seneng2 kan ksian..btw bo..lo utang banyak banget ama Tuhan..nafas lo dr mule idup mpe skrg,trus biji mata lo..sebiji aja lo ga bsa bayar ma Tuhan.tapi kyax hal sperti ini ga ada dalam kamus lo yah,so percuma jga dibilangin.. ).kalo org beragama hanya mengejar surga dan menghindari neraka,lantas kemana rasa cinta kita kepadaNYA?surga dan neraka itu cuman hasil perbuatan kita yg harus dipertanggung jawabkan di hadapn Tuhan,tapi esensi dri smua ibadah yg kita lakukan hanyalah meyakini dan merindukan akan pertemuan denganNYA…aduu lgi2 ga konek nih ma yg ga punya Tuhan, tapi..pake fasilitas Tuhan..surga ma neraka sepertinya hanyalah akumulasi dri smua perbuatan manusia,sapa nanam apel yah panennya apel lah…Tuhan yang Maha Indah,Maha Cinta,Maha Damai,Maha Kuasa,Maha Perkasa,Maha Pengasih dan Penyayang,dan pasti Maha Esa…maafin kita2 yg banyak salah dan dosa,tiap detik mungkin kami isi dengan berjuta kesalahan tapi masih merasa suci,ampuni kami semua yaah..karena kami percaya,kasih sayang MU lebih banyak Kau curahkan darpada murkaMU..teman2,klo ada yg ga enak yg gw sampein maafin yah…alangkah indahnya perdamaian,ga usah mempertentagkan keyakinan org lain,manusia punya hak untuk memilih bahkan untuk non tuhanpun silakan..(hiks..).this argue will never find a way..masalah pribadi man,lo bunuh juga orang bakal kekeh dgn keyakinan mereka,so what we’re looking for??kenepa sih ga diskusiin aja giman masing2 kita bertanggung jawab untuk berbuat kebaikan dan menyayangi dan mengasihi semua yg ada disekeliling kita?banjir dmna2,longsor,drugs n evrything..buatlah kebaikan dan kemuliaan2 disetiap langkah kita,percaya aja da bakal ada yang membencimu,mo beda agama kelamin dan suku jga ga masalah,karena kebaikan itu unversal,semua psti suka,karena untk itulah Dia mengutus manusia ke bumi ini..jadi kalo ada yg mengaku ngaku punya agama tapi masih saling menyakiti,lo ga beragama man..usul nih buat mas,buka diskusi ajalah buat membangun bangsa ini,tapi..knapa jga yah gw masuk ke zona ini??hehe..takdir kali mas,gw nyasar…ok d..salam perdamaian.keep love piece and friendship..TRUST ME,PERDAMAIAN ITU LEBIH INDAH TEMAN..manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan membawa fitrah yng suci,”ALLAH mengilhamkan manusia sukma kebaikan dan sukma keburukan,beruntunglah siapa yang mensucikannya dan merugilah siapa yang menotorinya”.(QS.AS SYAMS 8-10).jadi kita yang punya pilihan untuk hidup dan kesudahan hidup kita…jangan mengotori sukma anda..jgan sampe oknum orang2 bergama yng bikin kita harus saling menyakiti.tidak ada satu ajaran pun yang mengajarkan kerusakan……salam damai
wassalam..

44. sophie - 1 Februari, 2008

Salam damai sejahtera
Shalom ALaechem
Assalamu’alaikum
he…….:)
memang, tiap org merasa amanya yg paling benar.
Pdahal tuannya sama…
yg perlu dipertegas adlh, di dunia yg serba modern kaya’gini, qt hrs berpikir dewasa n logika. Dewasa ini kedua agama itu amatlah g masuk akal. Allah nya sama, tetapi kok definisinya berbeda. Allah tdk pernah menurunkan agama. Bila qt sama2 memahami kitab2 allah, maka jelaslah bkn agama. Tetapi adl ketetapan. Agar mns bs memakmurkan bumi. Seperti halnya musa/moses yg membebaskan israel dri penindasan ramses II. Bgtu halnya yesus n muhammad. Krn ad malam ad siang bkn??? Jdi ad saatnya bumi rusak (kaya’ni) n ad kalanya kmbali sbg fitrohnya. Sharusnya yg dilakukan bkn cek_cok kaya’gni, tetapi open mind. berpikirlah dewasa.

45. Selain Kristen Sendiri, Hanya Islam Agama yang Mempercayai Yesus « Toga Nainggolan - Nesiaweek Interemotional Edition - 1 Februari, 2008

[...] Sendi… di Muslim, Kristen, dll, Sadarlah… Nesia! di Muslim, Kristen, dll, Sadarlah… sophie di Islam vs Kristen; Pemenangnya … Parjalang di Muslim, Kristen, dll, Sadarlah… maya di Muslim, Kristen, dll, Sadarlah… sezsy di [...]

46. dany - 12 Februari, 2008

saya setuju dengan tulisa abang ini,,,
cuma,,,,ini ni yang ga enak,,,-)
kalo menurut saya ..islam dan kristen itu sama,,,pada awalnya,,,
cuma prinsip dan pemikiran orang kan berbeda,makanya timbul keaneka ragaman aliran,,
seperti di islam sendiri,,ada yang muhammaddiah ada juga aloiran lain,,,
begitu juga di kristen,,,
ada yang protestan,,ada yang katolik,ada adven,ada karismatik….
tapi itu semua sama,,,sama2 mengajarkan kebenaran dan cinta kasih.
so agama itu adalah keyakinan kita pribadi lepas pribadi.tergantung kita meyakini yang mana?????
iya dong???
jangankan dua agama ini..sedangkan satu agama aja diperdebatkan sudah bikin repot…

so santai aja bro,,,yakini apa yang kita yakini.percaya apa yang menurut kamu benar…

47. Ryan Shinuraz - 23 Februari, 2008

Horas Lae..

Saya selalu sensitif kalau udah membahas Islam Kristen. Entah kenapa memang. Tapi tiap kali saya membaca perdebatan kedua agama ini hati saya selalu tergelitik. Entah karena saya masih awam menanggapinya atau karena saya selalu ingin tahu seluk beluknya. Atau mungkin karena saya selalu emosi kalau Islam di hina dan di caci. Atau kombinasi dari semunya yang membuat saya selalu merasa ada sesuatu yang tak bisa saya jelaskan tetapi selalu menggelitik, menggangu dan menghantui pikiran saya?

Lae.. Nainggolan…
Membela agama saya pikir suatu keharusan bagi kita. Coba lae bayangkan kalau agama kita dihina dan dinistakan sedemikan hebat. Tapi kita hanya diam dan berdalih dalam hati kita bahwa semua agama berada pada level yang sama. Kondisi agama Islam saat ini memang sunnguh sangat menyedihkan. Diserang dari berbagi penjuru. Media massa, Propoganda, Ekonomi, Politik dan sebagainya digunakan sebagai sarana memojokkan Islam. JIka seandainya Muhammad bisa hidup kembali pasti dia akan menangis dengan keadaan ini. Entah berapa banyak Buku-buku yang memojokkan Islam, menghina Islam, Menghujat dan menuding Islam agama yang gagal. Tidak dari kalangan non-Islam saja, tetapi orang Islam sendiri yang notabene bergelar KH pun tak ragu untuk merusak Islam dari dalam. Majalah2 dan Koran tak usah ditanya sudah mungkin ratusan kali memuat penghinaan Islam. Tayangan televisi yang sungguh jelas2 tidak Islami. Ada apa ini? atau mungkin kita tidak menyadarinya? Tapi saya tidak ragu untuk mengatakan dan menyetujui bahwa ini semua tak terlepas dari konspirasi Barat.

Lae Nainggola….
Saya teringat lae dengan pacar saya. kebetulan sekali lae… Pacar saya ini orang Kristen. Dia pernah cerita kalau orang tuanya tidak setuju dengan hubungan kami karena kami berbeda agama. Sedikit banyak Orang tua pacar saya ini mempermasalahkan agama terutama saat acara adat nantinya kalo misalnya kami menikah. Katanya saya tak mungkin memberikan orang tuanya daging babi sebagai sipanganon saat acara penyerahan jambar (daging yang diserahkan kepada pihak perempuan/hula2 saat acara pernikahan berlangsung). Karena hal itu katanya berarti sayat tidak menghargai orang tuanya.

Jadi muncul dalam benak saya : sebenarnya bagaimana kita mengartikan kata “menghargai” ini?

Lalu saya bilang ke pacar saya : ” Kalau memang orang tuamu mempermasalhkan hal itu, maka seharusnya dia juga menghargai saya donk sebagai muslim dengan tidak menuntut agar tidak saya atau tidak meminta bagian jambarnya harus daging babi.”
Menurut saya, orang tuanya harus berlapang dada dan menerima saya sebagai muslim untuk tidak harus melakukan sesuatu yang tidak dapat saya lakukan. Jadi siapa menghargai siapa?
Apa adat tidak berjalan (tidak sah)kalo gak menggunakan daging babi? apa adat tidak jalan kalau bukan saya menyampaikan daging tersebut ketika suatu saat menyambut Hula2 laeku misalnya?

Lae Nainggolan…
Menurut saya, salah satu penyebab “perang” Islam Kristen ini adalah salah pengartian dalam menterjemaahkan “saling menghargai” yang menurut saya tidak benar2 secara konsisten di lakukan oleh kedua belah pihak. Tidak benar2 secara benar dapat di aktualisasikan dalam kehidupan kita.
Mauliate buat Lae Nainggolan.. yang terus peduli dengan Batak dan segala sesuatunya…
HOras…!!!

48. marda - 9 April, 2008

bukan kamu yang memilih TUHAN, tapi TUHANlah yang memilih kamu…

manusia boleh berusaha tapi TUHAN yang menentukan…

Qta beragama n fanatik pada agama kita…
tp klo TUHAN bilang ga kenal ma Qta, ya apa boleh buat,,,

brarti slama ini kita ga ada di jalan TUHAN kan???

49. Hamdani - 12 April, 2008

Kristen kok mau ngelawan Islam, yah nggak ada apa-apanya-lah.
Ditinjau dari segi apapun Islam itu agama yang benar, yang suci dan murni ajarannya, serta petunjuk dari Yang Segala Maha untuk umat manusia yang ada diDunia.
Memang dulu ajaran Nabi/Rasul terdahulu adalah benar adanya, akan tetapi pada zamannya, setelah Nabi/Rasul Muhammad SAW hadir ia menyempurnakan ajaran-ajaran yang terdahulu. Adapun orang yang tidak mau menyempurnakan keyakinannya menuju Islam, yah tanggung sendiri akibatnya.
Berpikirlah secara logis hai umat kristen, jangan memutar balikkan kebenaran, jangan merasa malu menerima kebenaran dalam Islam, agama kami selalu terbuka untuk orang yang mau bertobat.
Berhentilah mempromosikan keyakinan kalian yang berasal dari penjajah kepada orang2 yang sudah mempunyai aqidah yang benar. Mengerti!!!!!!!

50. Toga Nainggolan - 13 April, 2008

@Hamdani
Anda bilang Berhentilah mempromosikan keyakinan kalian…

Sebelumnya Anda tulis
Kristen kok mau ngelawan Islam, yah nggak ada apa-apanya-lah.
Ditinjau dari segi apapun Islam itu agama yang benar, yang suci dan murni ajarannya, serta petunjuk dari Yang Segala Maha untuk umat manusia yang ada diDunia.

Pertanyaannya kemudian, yg barusan promosi itu siapa?

51. marda - 13 April, 2008

buat hamdani yach,,,

kalau seandainya anda adalah orang yang bersalah dan akan menunggu eksekusi mati, apa yang anda akan harapkan? antara kasih atau keadilan?

kasih yang mempu mengampuni atau keadilan yang harus di tegakkan???

harap anda renungkan…

jangan selalu menganggap bahwa agama andalah yang benar,,

karena pastilah disemua agama ditekankan bahwa agamanya benar,,,

hukum taurat musa diturunkan bukan untuk menghapus dosa dan kesalahan manusia, tetapi untuk menyatakan dosa itu sendiri,
seperti halnya uu dan peraturan, adalah untuk menyatakan dan membedakan dari mana yang salah dan mana yang benar.

tentunya orang buta ga bisa menuntun orang buta kan?

coba kamu buka hatimu,,,
kalau kamu memang dipilih untuk dapat menang, Tuhan pasti buka jalan dan buka fikiranmu yang picik itu…

52. Hamdani - 13 April, 2008

@Toga Nainggolan
Yang promosi itu kalian kristen, melauli kristenisasinya. masak nggak sadar sih? Apa nggak pernah gaul dengan orang-orang gereja?
makanya gaul dong, jadi tau program2 yg sedang dijalani penginjil2. capek deeh.!!!!

@ marda
kalau seandainya anda adalah orang yang bersalah dan akan menunggu eksekusi mati, apa yang anda akan harapkan? antara kasih atau keadilan?
kasih yang mempu mengampuni atau keadilan yang harus di tegakkan???
Jawabnya Ya keadilan dong!!! kasih apa? kasihan!!!

saya selalu dan wajib menganggap Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Itu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
Hukum yang benar adalah hukum Islam. Dan Islam adalah penyempurna bagi agama2 terdahulu yg telah kadaluarsa.
Justru Tuhan telah membuka hati saya sehingga saya sudah tepat meimilih Islam.

arief - 28 Agustus, 2009

wah kayanya yang namanya hamdani orgnya bego banget ya. ga bisa nyambung apa yg dikatakan org. kayanya lo ga pantes deh ikut chat dlm blok ini. aku kasihan lihat kamu ga level gitu. bahasamu terlalu rendah. malu-maluin org islam aja. sy sebagai muslim sangat malu dengan kwalitas anda. maaf saya sdh merasa berdosa dengan mengirim ini. tp ini kulakukan demi nama baik agama. Isalm benar;kristen benar;katholik benar, hindu benar,budha benar

53. mujahid - 24 April, 2008

wahai orang-orang yang berfikir,
jangan takut dengan gertakan kaum kafirin karena bapak moyang mereka (iblis) sudah ada sebelum nabi adam diciptakan
jangan ikut pusing dengan banyaknya orang-orang yang ragu, karena kaum munafik banyak berkeliaran ketika Nabi Isa a.s dan Muhammad Saw masih hidp
jangan terbawa bodoh oleh orang yang mencari kebenaran dengan hawa nafsunya sehingga tolok ukur kebenaran adalah dirinya sendiri..
jangan gentar oleh orang yang tidak takut Allah, karena kita sama2 akan merasakan mati, dan kita mencintai mati (akhirat) seperti mereka mencintai hidup d dunia ini
surga mereka disini….dan surga yang sebenarnya tidak akan diisi orang2 yang kotor hati&jiwanya dengan kefasikan…
bukankah penjara itu diperlukan dan hanya disiapkan untuk para penjahat?

gini aja…

loe ikut darwin atau Allah?
kalo ikut darwin loe dan moyang loe monyet ASLI.. (kalo diperhatiin foto darwin emang mirip monyet)..

kalo loe ikut Allah, gw mau nanya.. (ini ilmiah !)
apa ada monyet yang beragama?
apa ada monyet yang pake baju..
kalo ada, pasti dipakein ama manusia..

manusia yang bingung milih baju, apa lantas ia akan memilih berbugil seperti darwin dan keluarga monyetnya?

memilih agama itu hal biasa, tapi setelah pilihan itu harus ada satu keptusan final yang acceptable dalam segala sisi dan sudut pandang: fisik,psikis,moral,nilai,individual,komunal,statual; dan dia harus teruji kebenaran isi dan sumbernya.

itulah yang dinamakan agama, gabungan dari AKIDAH dan SYARI`AT, KEYAKINAN dan HUKUM, KASIH SAYANG dan HUKUMAN (bagi yang bersalah), IBADAH dan NEGARA…dan semua aspek kehidupan
kalo agama hanya keyakinan, itu namanya candu, persis apa yang dikatakan Karl Marx, dan itu pasti bukan Islam
kalo agama hanya KASIH, apakah pembunuh bayaran, koruptor, teroris (amerika & israel) harus diberi pujian dan hadiah?
selain Islam tidak ada agama yang mengatur hukum dan ketatanegaraan..
artinya selain Islam baik itu agama atau faham sekularisme/liberalisme semuanya candu…persis kata si Marx
ayo tengok sejarah, belanda yang terkenal administrasi hukumnya paling bagus mendapat inspirasi dari Napoleon (prancis)
dan napoleon mengirimkan utusannya untuk belajar hukum dari sarjana-sarjana islam di arab… (Asas-Asas Hukum Islam, Moh. Idris Ramulyo, SH, MH)
kenapa Islam sangat menitikberatkan hukum dan seolah membebani ummatnya?
ya memang harus begitu, karena “manusia” memang harus diatur
kalo anda pecinta bola, apa bisa dibayangkan permainan bola tanpa referee dan rule of game
pasti “gak rame”… dan banyak bintang sepakbola yang ‘baik2′ gantung sepatu atau dipenjara karena melanggar aturan FIFA….apatah lagi hidup ini????

berikut beberapa “tips” menguji kebenaran sebuah agama/way of life:
1. melihat latarbelakang sejarahnya bagaimana agama itu lahir; menjelaskan proses penurunan ajaran dari mulai sumber (Tuhan)-perantara/messenger-manusia/alam; pilihlah sumber yang VALID dan JUJUR dalam mencarinya, jangan minta obat dari penjual racun.
2. dari mana agama itu berasal; sebuah produsen mobil pasti menyertakan “buku petunjuk penggunaan” bagi mobil produknya, buku petunjuk mobil Kijang Innova yang paling valid pasti dari TOYOTA,
TUHAN pasti menyertakan BUKU PETUNJUK HIDUP bagi manusia, produknya; buku petunjuk hidup yang paling valid bagi manusia pasti jika dan hanya jika berasal dari Penciptanya-Tuhan-Allah swt. bukan dari sesama manusia apalagi setan
3. melihat substansi ajarannya; kalau bukan candu, maka ia harus mengajarkan: cara mengenal Tuhan,kebaikan,kebenaran,keadilan,keseimbangan,arti dan tujuan kenapa ‘nyamuk’ diciptakan,hukum,aturan main,informasi gaib tentang dunia lain,fakta ilmiah,etika…dsb…dsb…dsb…
bila itu tidak ada, berarti itu agama candu dan dogma. ingat, selain menciptakan nabi yang menerapkan sistem (agama), Allah juga menciptakan setan sebagai anti-sistem.
4. Logis, baik dengan atau tanpa pembuktian. adalah tidak logis ketika di satu sisi mengajarkan KASIH, tapi banyak dalam “kitab suci”nya menceritakan incest, atau fakta terjadinya holocaust terhadap kaum muslimin pada masa perang salib, atau pernyataan “Tuhan kecapekan” setelah menciptakan alam semesta.
5. berlaku universal; bukan hanya untuk sebagian bangsa/ummat/suku/orang.
6. original dan tidak menjiplak seluruh atau sebagian dari agama yang sudah ada.
7. menawarkan pilihan untuk berpegang atau tidak pada agama tersebut, dan penjelasan konsekuensinya.ini adalah murni tawaran dari Pemberi agama tersebut.
8. bersifat terbuka untuk dipelajari dan relevan di setiap perkembangan jaman

so, semua syarat sudah terpenuhi pada Islam. buat kamu yang belajar sendiri dan kepalang kebablasan musti ingat, kuliah ekonomi biar dapat gelar SE aja mesti ada dosennya, apalagi belajar agama untuk masuk sorga.
orang yang nyata2 mati berjihad membela islam tapi karena motif selain Allah aja masuk neraka, apalagi yang meragukan agama Allah, bahkan menyamakannya dengan candu….na`udzubillah…apalagi yang diluar itu….

54. marda - 4 Mei, 2008

@ hamdani
Silakan,,, silakan saja,,,
tapi orang bodoh pun akan memilih untuk diampuni bukan,,, tanya hatimu donk, jangan tanya agama kamu. okey

semoga apa yang kamu yakini bisa membawa kamu ke surga.

55. Szzztttt - 4 Mei, 2008

Suatu Hari ada malaikat,dtng ke tuhan
dan erkata :
“”TUHAN KENAPA NERAKA HARUS ADA ????”"
TUHAN MENJAWAB:
“”kRNA KALO NERAKA TDK ADA MAU DIMASUKKAN KEMANA Toga Nainggolan”"

56. lucas - 3 Juni, 2008

agama adalah aturan,kalo lu mo hidup gak pake aturan,ya jangan hidup!hidup aja di hutan.he

57. toni - 3 Juni, 2008

Kepada seluruh umat manusia jangan menganggap dirimu paling suci tolong koreksi diri masing-masing kalau kita mempermasalahkan kepercayaan itu soal pribadi masing-masing dan saya tidak memihak siapa-siapa dan kita dihadapan Tuhan sama dan Tuhan tidak memilih-milih agama semua mahluk dia alam semesta ini ciptaan Tuhan supaya jangan terjadi seperti FPI dan AAKB di Monas

58. sof1aan - 6 Juni, 2008

[] Ingat, orang cerdas adalah orang yang selalu ingat akan kematian. []

59. matabiru - 8 Juni, 2008

islam, kristen, hindu, budha ataupun atheis semua sama, krn toh semua memiliki KEYAKINAN, skrng tinggal bener ato nggak kita mengapresiasikan keyakinan itu agar tidak menggangu orang lain, keyakinan memamgn hak asasi tp justru krn hak itulah kita hrus saling menghormati

60. Sonic Jihad - 10 Juni, 2008

sudah-sudah jangan ribut yang enggak2.
silahkan buka aj youtube.com
pake “search: alquran vs injil”.
dari situ kliatan, kitab siapa yang masih orisinil dan sesuai firman Allohu swt.
amin

Takbir
“Allohu Akbar”

61. mieno - 24 Juni, 2008

islam VS kristen

entahlah…tau nich orang-orang kristen pada ga sadar dah salah bukannya minta maaf eh….malah bangga dengan keslahan

62. elas - 25 Juni, 2008

setujuka boz

63. Syekh adi9 - 29 Juni, 2008

Saudara2ku.. Bumi dan alam semesta ini diciptakan tuhan dengan segala macam keindahanya. Manusia diturunkan ke dunia sebagai khalifah rahmat bagi seluruh alam, semua kebutuhan manusia sudah disiapkan didunia, kitab diturunkan tuhan sebagai pedoman hidup..

64. Syekh adi9 - 29 Juni, 2008

tuhan maha berilmu mencipta alam disertai hukum sebab akibat, manusia yg terus mmpelajari brbagai bidang ilmu mncoba mncari tahu tntang dunia ini. Jauh sblum bola lampu dtemukan.. Dlm alqur’an surat anur sudah diterangkn tntng lampu dlm kaca. Subhanallah

65. Syekh adi9 - 30 Juni, 2008

Bola lampu tidak akn prnah ada jika manusia tidak menciptakanya, begitu juga alam semesta ini ada karena di ciptakan tuhan yang maha agung, manusia hidup didunia agr bisa mengerti arti hidup yg sbenarny, saudara2ku mari kita saling berbagi pengetahuan..

66. Syekh adi9 - 30 Juni, 2008

mari kita saling bergandengan tangan, temukan rahasia hidup ini.. Tidak lama lagi bangsa indonesia dengan penduduk
Islam trbesar dunia menjadi negara adidaya terbesar. Kemenangan islam mnyelamatkan seluruh umat manusia dari kesesatan. Rahmatan lil alamin

67. Syekh adi9 - 30 Juni, 2008

saudara2ku kristen, dalam hati kami menangisi saudara, kitab injil yg allah berikan telah direkayasa manusia yg tdk brtnggung jwb, kembalilah ke jalan yg benar allah telah menurunkan kitab alquran yg membenarkn dan menyempurnakn kitab2 sebelumya,

68. mieno - 2 Juli, 2008

BENER BANGET SYEH ADI GW SETUJU
INJIL KAN CUMA BUKU YANG DI EDIT OLEH TANGAN-TANGAN YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB…TOLONG DONK NGERTI HAI…SAUDARA2 KU ORANG2 KRISTEN
BERTOBAT LAH SESUNGGUHNYA ALLAH ITU MAHA PENGAMPUN

ALLAHUAKBAR

69. mieno - 2 Juli, 2008

Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap jiwa ragamu dan Kasihilah Sesamamu seperti dirimu sendiri!. Tuhan itu Esa, Tuhan itu 3 tapi Esa Tuhan itu 100 tapi Esa itu tidak penting bung!. )BY:RIKARDO SIAHAAN)

GW BINGUNG MA UCAPAN INI…DIMANA2 ESA ITU YANG PENTING INI KOK GA PENTING DASAR PEMIKIRAN OON NICH ORANG2 KRISTEN

SADAR LAH LOE-LOE SEMUA SALAH COBA TELITI LAGI SEBELUM BERTINDAK

70. Rio - 2 Juli, 2008

Buat para fanatik muslim,kalian gak berhak menghujat kristen dengan cara pandang kalian,oks.kalian tuh ,sok fanatik,byk omong,no action,Cba bka pmikiran klian…byak isi2 al-quran yg brtntngan..coba kalian artiin dong al-quran jgn cma bsa bacanya aja,.gw sendiri udh bca.oks..

71. Rio - 2 Juli, 2008

buat bro mieno…injil itu bukan di edit.,jgn asal cablak kl gak tau,injil itu memiliki banyak versi terjemahan, tidak akan mengubah arti,wktu dlu di Inggris prnh ada yang mengubah isi injil tapi lsg dibakar ko….aplgi di edit2,dan injil.. itu psti terjamin keasliannya 100%,lsung mngenai esa gak penting,mksudnya bro Rikardo siahaan itu,mau punya 3 ato 100 prbadi kek itu gk penting (pribadi=kuasa loh) ttpi yg penting Allah itu satu didalam nama Bapa,Anak dan roh kudus(ktiganya ini kuasa),..memang logika islam gakan pernah nympe buat nalarin ini,oks…wassalam

72. Syekh adi9 - 4 Juli, 2008

Saudara2ku kristen.. Kitab injil adlh ptunjuk allah yg benar, ttpi injil skrg trjdi prubahan.. Kenapa kristen menyembah yesus sbgi tuhan.. Yesus adlh manusia sperti halny hamba allah yg lainya.. Yesus dlam ktb injil yg sbnarny adlah nabi isa putra maryam

73. Syekh adi9 - 4 Juli, 2008

Dn ingatlah ktika allah brfirman,”whai isa putra maryam! Engkaukh yg mnjadikn kpda org2, jadikanlh aku dn ibuku sbgi dua tuhan slain allah?” nabi isa menjwab ”maha suci engkau, tdk patut bagiku mngatakn apa yg bukan haku.”

74. hamzah - 4 Juli, 2008

Kalau Anda Berpikir Tuhan Islam “ALLAH SWT”, itu maksa Manuasi Untuk Masuk Dalam Agamanya, Anda Salah Besar. Allah SWT, hanya menyuruh manusia untuk menyampaikan agama Islam Secara Baik2, bukan dengan kekerasan. Opsi Kekerasan (perang) itu diambil jika, Islam diancam Kanan-Kiri oleh Non Islam. Allah SWT berfirman ” Lakum Dinikum Waliyadiin’ “Agamamu-Agamamu, Agamaku-Agamaku” Jelas toh, Islam Tak Maksa. Kalau ada yang maksa, jelas itu tak sejalan dengan firman tadi. Peace………………..!!!

75. hamzah - 4 Juli, 2008

Udah Dech Sobat Agama Bukan untuk Diperdebatkan. Islam adalah agama Fitrah (Suci). Hanya orang yang dapat Hidayah Aja yang bakalan masuk agama ini. So Santai aja. Tapi ingat ” Tuhan tidak akan merubah dirinya menjadi Manusia untuk masuk dalam sejarah kehidupan manusia, Tuhan hanya mengatur sejarah manusia”. Yesus Kristus menyembah Tuhan, mengapa kita harus menyembah Yesus, mengapa kita tidak menyembah Tuhan Yesus. Allah SWT. Dalam Injil disebutkan saat Yesus disalib “Eli-eli La ma Sabakhtani” (Tuhanku-Tuhanku jangan tinggalkan Aku), Yesus sama sekali tidak menyebut dirinya tuhan. Pengangkatan Yesus sebagai Tuhan dilakukan oleh Kaisar Konstantin Agung pada 315 M. sebelumnya Yesus bukan Tuhan. Natal yang dikatan sebagai hari lahir yesus adalah bualan besar. 25 Desember adalah hari lahirnya Dewa Matahari ” Dewanya orang Roma” sebelum kristen masuk ke Roma. Karena Khawatir orang Rome tidak bersedia menerima Kristen, Konstantin menyatakan 25 Desember Adalah Natalnya Yesus yang Juga Dewa Matahari. Itu Sebabnya mengapa dibelakang Salib ada lingkaran. Itu adalah simbol dewa matahari. Ini Fakta, yang tidak akan diungkap oleh Kristen. Bahkan ini sudah menjadi dogma yang tidak boleh dipertanyakan. “Agama kok tidak terbuka”!!!

76. Jack@@ - 4 Juli, 2008

Napa y..org muslim ska mnlai agma dg cra pndangnya,kya si hamzah itu,sok tau bgt,agama jgn dprdbatkan tp lw sndri ngjak dbat..gw udh sering dnger kment kya bgituan,kuno bgt.ttg dewa mtahari lah,itu udh sring dbhas bro,..lw aja ktngglan..Org mslim gkan prnah nemui kbnaran akan injil kl yg dilihat cma kslhan trs,liat dong kitab sci sndri sblm ngeliat KS org lain,liat orang2nya udh pd bner apa blom…dmna2 rbut mngtasnmakan agma, kwin-cerai,poligami di halalkan,Sunguh benar2 ironis skli,kl Islam itu agama Allah perilakuny tidak akan bgtu,SAdarLah Muslim..Tuhan sedang Menyadarkan engkau..sblm trlmbat

77. Jack@@ - 4 Juli, 2008

nah…kl gtu gw jga bisa…knpa di atas mesjid ska ada blan-bntang y… umat islam tuh nyembah dewa blan-bntang loh,psti gk tau kan…mkanya setiap hari keagamaannya harus dengan brdsarkan peredaran bulan..ya kan….gw punya banyak sumber loh…enak gak klo digituin…

78. Kata Mereka, Al-Qur’an (dan Alkitab) Itu tak Logis, Bahkan Menggelikan Secara Sains « Nesiaweek Interemotional Edition - 4 Juli, 2008

[...] itu “gagal”, saya pertajam lagi pesannya, lewat posting yang judulnya saja sudah Islam vs Kristen, Pemenangnya Atheis. Yeee, di sini malah lebih parah lagi, saling maki. Ada juga yang mengancam memenggal leher [...]

79. bon'd - 5 Juli, 2008

wlah….gmana bs dibilang org tu mencintai Tuhan yg g kelihatan???
Mencintai x ada di dpn mata aja(……manusia) belum bisa……

80. mieno - 5 Juli, 2008

no action..maksud loe…
allah itu esa dan jika manusia menyembah manusia itu sama saja dengan perbuatan OON…
kita juga bisa kok buat tuh yang kayak gituan kenapa ga gw aja yang loe sembah..

peace man

wasalam

81. Rio - 8 Juli, 2008

lagi2 kata pak ustad y,denger y ini doktrin kristen:orang kristen tuh nyembah Tuhan Yang Esa,msalah Anak Allah bukan berarti Allah beranak,conthnya aja kl misalnya Anak kunci,emg knci itu brnak,kl mislnya gw blang lw anak stan bkan brarti lw anaknya setan kan?itu cma pnyebutannya aja bro,Anak Allah yang berarti Firman,Allah menyampaikan firmannya melalui Yesus yang sebagai manusia,tetapi Dia memiliki roh Allah,dan Roh kudus yang artinya Allah yang selalu memberikan roh sukacita dan kedmaian,bkannya mlaikat gabriel,he..(cupu bgt)semuanya itu Esa bro.Umat mslim trlalu byak mncmpuri doktrin itu,mnrt cra pndang Al.qran yg keliru…Lw bsa brbuat muzizat ga?dan brsaksi kl lw tuh Tuhan,dan lw sudah dinubuatkan blm di kitab suci?..,semua Nabi itu turun di Israel,karena Israel itu Bangsa pilihan Allah (al-quran mngakui)tapi knpa ya Muhammad turun diarab?apa Allah gak da krjaan X y..dia kan kan gak bsa brmuzizat,kl gitu gw tar mau jadi nabi aja dh,,,blom ada kan Nabi dari Indonesia,he..tnggal ngaku2 aja diturnin kitab di gua,dan gak perlu ada saksi lgi..cma bth 500 thn bwat diriin agma,gmpang bgt y…he..peace,wassalam

82. Syeh adi9 - 9 Juli, 2008

Saudara2ku beredarny bulan mngitari bumi kemudian bumi bersma bulan bredar mengelilingi matahari, lalu bumi bersama mtahari mengelilingi apa? Smw manusia d bumi belum tahu, btapa msih trbtasny pngetahuan kita.. shiga tdk pantas mnymbongkn pengetahuan

83. Syeh adi9 - 9 Juli, 2008

Dialam smesta ini manusia tdk lbih hanya setitik noktah. Saat heningny malam mari kita renungkan betapa agungny tuhan maha pencipta, semoga tuhan membimbing kita ke jalan yg benar, batas wktu kita belajar adlh sejak lahir smpai kita mati,, kmbali pd tuhan

84. Syeh adi9 - 9 Juli, 2008

serta bagi saudaraku atheis, manusia adlh ciptaan tuhan yg agung. Dan diturunkn ke bumi sbgai pemimpin semw makhluk. Jnganlah kita terlena dengan dunia yg hanya smentara, krn tempat kmbali yg kekal adlh disisi tuhan, mari kita brkenalan dngan pncipta kita

85. Syeh adi9 - 9 Juli, 2008

orang yg dlm kbenaran didunia ini akn bnyak mendapat rintangan tuhan. Seperti halny seorang kekasih yg mendpat ujian cinta dri kkasihny. Saudara2ku smoga kselamatan selalu untuk kita selamanya. Mhon maaf sbsar2ny jika ada yg salah dlm perkataanku.

86. Rio - 9 Juli, 2008

ok deh..peace dh
….

87. Syekh adi9 - 11 Juli, 2008

”Ashaduallailahaillallah waashaduanna muhamad rasullullah” saya bersaksi tidak ada tuhan selain allah dan muhamad adalah utusan allah,

88. Syekh adi9 - 11 Juli, 2008

Allah maha pemurah, maha penyayang, maha merajai, maha suci, maha memberi keselamatan, yang memberi keamanan, yang memelihara, yang maha gagah perkasa, yang maha perkasa, yang mempunyai kebesaran, yang maha pencipta, yang melepaskan, yang memberi bentuk,

89. Syekh adi9 - 11 Juli, 2008

Allah yg maha pengampun, Yg memaksa, yg maha memberi, maha pemberi rizki, pembuka pintu rahmat, yg maha mengetahui, yg menyempitkn rizki, yg melapangkn rizki, yg merendahkn derajat, yg meninggikn derajat, yg memuliakn, yg menghinakn, yg maha mendengar,

90. Syekh adi9 - 11 Juli, 2008

Allah yg maha melihat, yg menetapkn hukum, yg maha adil, yg maha lemah lembut, yg maha waspada, yg maha penyantun, yg maha agung, yg maha pengampun, yg bertrimakasih, yg maha tinggi, yg maha besar, yg maha memelihara, yg memberi makan, yg maha menghitung,

91. Syekh adi9 - 11 Juli, 2008

Allah yg mempunyai kebesaran, yg maha mulia, yg mengawasi, yg maha luas, yg maha bijaksana, yg maha mengasihi, yg mulia, yg membangkitkn, yg maha menyaksikn, yg maha benar, yg maha mengurusi, yg maha kuat, yg mengembalikn, yg menghidupkn, yg maha terpuji,

92. Manusia Kera - 20 Juli, 2008

wk..wk…wk…
Gw Monyet boleh beragama nggak ?
Gw pusing liat manusia kok bisa beragama ?
MOnyet lebih beragama dari manusia ?
Soalnya manusia nggak mau dikatakan MONYET

ha…ha…ha…
kalau monyet mau dikatakan lebih manusiawi

hi…hi…hi…

93. Jemaah Islam - 1 Agustus, 2008

Allah itu Esa…..
Tiada Tuhan Selain Allah
Yang Kalian sembah itu hai orang kristen adalah manusia…
Yesus Adalah manusia….
cam kan itu….
Kalian Mengatakan nabi Isa yang disalib…..
padahal yang disalib itu Tuhan Umat Kristen (Yesus)
Masa Tuhan kalian dihakimi massa…..
Berpikirlah secara logika….
Patung Kok Disembah……

94. hamba allah - 2 Agustus, 2008

knp umat kristen menyembah seorang manusaia y tlh di hakimi masa,
knp umat kristen hny bs melihat saat tuhan@ di hukum
sungguh agama y tdk masuk akal
dsar kristen agama bego

aku brsaksi tiada tuhan selain allah dan muhamad utusan allah

allahu akbar

95. misno - 2 Agustus, 2008

setuju mr. hamba Allah

96. Suka Baca Debat - 9 Agustus, 2008
97. Suka Baca Debat - 9 Agustus, 2008

Menurut saya yg netral ini… gak usahlah ribut2 apalagi memberikan jawaban ataupun pendapat yg tidak ada dasar, bukti, ataupun sumber dari kitab suci.. Nih tonton langsung acara debat islam vs kristen yg diprakarsai oleh forum ARIMATEA yg dimana forum ARIMATEA sendiri adalah forum kristen & didirikan oleh kristen..liat aja tuh namanya… Forum itu YG BERBICARA & BERDEBAT ADALAH PARA AHLI-AHLI KITAB, PROFESSOR TEOLOGI, KYAI2 PENGHAFAL AL-QURAN, MASTER2 KRISTOLOGI, PENDETA THEOLOGY, dll…Penasaran kan…
Saya punya salah satu arsipnya berupa 3 keping VCD Debat Islam VS Kristen yg judulnya MUrtadin Vs Muallaf. Jika anda penasaran & berminat ingin menyaksikan langsung, silahkan mentransfer uang (mohon maaf krn saya pun membeli) senilai Rp. 300.000 ke
rekening BCA an. YASSER ARAFAT SAKA
No.Rek : 3140482268
selanjutnya e-mail bukti transfer anda, nama & alamat lengkap anda ke avinet@ymail.com
INGAT…SAYA INI NETRAL alias TIDAK MEMIHAK ISLAM maupun KRISTEN. Saya hny senang dg debat2 seperti ini

98. peace man - 14 Agustus, 2008

Tolong ubah pandangan tentang Kristen menyembah manusia, k?
peace man

99. ikut ah - 16 Agustus, 2008

kristen bukan agama tapi Gaya Hidup.Yesus tidak perlu di bela karana kita hanya makluk ciptaan

100. ikut ah - 16 Agustus, 2008

wahhhh Allah kita sama ,tapi semua manusia telah hilang kemuliaan Allah alias berdosa jadi harus ada penebus dosa ,umat muslim juga merayakanya hanya sudah diganti versinya.jaman dahulu dosa dibayar dengan kurban seekor domba jantan yang tidak bercela(jaman sebelum Yesus).Yesus datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa karena tidak ada seorangpun yang baik lagi di dunia ini.Yesus tidak bercela itu dikatakan didalam alquran dalam surat maryam,kitab injil,dan taurat yahudi bahwa Isa Almasih dikandung oleh ROH KUDUS jadi Ia dilahirkan bukan karena hasil hubungan sex loh.jadi orang yang percaya ma Yesus tu beruntung banget karena ia yang mencari kita dan bukan kita yang mencari Allah seperti domba yang tersesat ,kemudian dicari oleh gembalanya.umat islam bisa menjadi besar itu karena ada janji Allah terhadap nabi Ibrahim bahwa keturunanmu akan menjadi bangsa yang besar,tapi yang berhak mendapatkan hak kesulungan adalah keturunan Isak bukan Ismail karena ismail yang kemudian beranak cucu dan lahir muhamad adalah anak seorang pembantu tetapi Yesus secara kedagingan dari keturunan Isak atau anak yang sah dari istri yang sah.eeeeettttttt hampir lupa nihhhhhh.orang kristen ga usah membela agama,atau Tuhan kita hanya diminta untuk menyampaikan berita keselamatan bagi orang yang belum percaya.kalau mau masuk islam sama aja rugi karena ajarannya sam dengan kitab perjanjian lama yaitu hal-hal yang masi bersifat jasmani gitu ,rugi dehhhhh

101. ikut ah - 16 Agustus, 2008

ingat loh dulu penebusan dosa dengan darah anak domba jantan tapi saat ini umat islam menggantinya dengan hari kurban yatu membagi daging bagi orang miskin.weheeeheeee

102. ikut ah - 16 Agustus, 2008

kalau dia tidak disalib mana mungkin manusia bisa diselamatkan .hal itu sudah dinubuatkan jauh sebelum Yesus datang ke dunia,dan Yesus berjanji Ia akan kembali lagi untuk kedua kalinya.

103. nimbrung ya... - 18 Agustus, 2008

memang benar Tuhan itu tak memerlukan penolong. Tuhan juga tak pernah menyuruh cipta’anNya mencari pengikut untukNya sebanyak mungkin.
dan aku sendiri nggak setuju dengan ucapan ateis. ateis itu hanya seorang manusia bodoh yang tak pernah tau bagaimana cara berterima kasih kepada sang pencipta. kita memang harus saling bersahabat. tapi juga jangan lepas dengan Tuhan. kita harus tetap mencari yang paling hakiki tanpa harus mencari kesalahan orang lain. tapi carilah kesalahan diri sendiri.
yang muslim ya silahkan cari alasan kalian menyembah Allah. dan yang kristen temukan jawaban bahwa yesus emang pantas di sembah.
dan buat ateis, yang menciptakan kalian itu bukan kalian sendiri, tapi Tuhan.
jadi, jangan lah jadi ateis sampai kalian masuk lubang kubur.
ateis hanya seperti pengangguran yang tak punya arah hidup.
aku mending berteman dengan beda agama daripada ateis tapi keras kepala.
dan aku lebih baik mendustakan sesama manusia daripada mendustakan Tuhanku sendiri.
bukan karna Tuhanku membutuhkan aku, tapi yang sangat membutuhkan Dia.

104. melu donk... - 18 Agustus, 2008

hidup ALLAH…..
i love Nabi Muhammad………
piss jack…..

105. luna maya - 22 Agustus, 2008

he kok d padu dewe2 to?Nek pgn membuktikan kebenaran agama msg2,cobalah salah satu dari kalian {islam n kristen}mati dulu or pergi ke akhirat.Nah klo udah jelas,kasih tau qta2 yg ada di dunia y?Peace jack

106. luna maya - 22 Agustus, 2008

O iy klo g tau cara perginya ksn,naik heavenly expresss aja.

107. syekh adi9 - 27 Agustus, 2008

“lakum dinukum waliyadin” = bagiku agamaku bagimu adalah agamamu ” semua manusia terlahir dalam keadaan suci untuk menempuh berbagai cobaan dari allah didunia ini, hari kurban merupakan hari besar umat islam, nabi ibrahim adalah hamba allah yang saleh, ditengah masyarakat yang semua menyembah patung nabi ibrahim as menolaknya krn patung tidak dapat berbuat apa2 bagi manusia, ketika malam nabi inbahim melihat bulan bgitu berkilaunya hingga mengira itu tuhan tapi ktika menjelang siang bulan hilang sehingga nabi berpikir tuhanku bukan bulan krn ia tdak kekal, siangnya nabi melihat matahari bgitu terang dan mengira itu tuhan tapi stelah surup nabi pun tidak percaya itu tuhan, malam hari nabi melihat gemerlapnya bintang2 tapi tak lama kemudian hilang nabi ibrahim yakin bukan tuhan, hingga mendapat hidayah bahwa tuhan manusia adalah pencipta bulan,matahari,bintang2,serta alam semesta dan isinya yaitu allah yang esa. suatu hari nabi ibrahim beramal ribuan unta dan berucap jangankan harta, anak pun jika diminta allah.. akan aku berikan. nabi yang brtahun2 mnikah blum mempunyai anak akhirnya dikaruniai anak satu2nya bernama nabi ismail. suatu hari nabi ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih anaknya ismail sbagai bukti janjinya dahulu.. nabi ibrahim yang sngat syang pda ismail bilang pada istrinya tapi istri yang solehah bilang jalankanlah perintah allah. kemudian nabi ibrahim bertanya pada ismail, ismail mau disembelih karena itu printah allah. maka dilaksanakan penyembelihan pada tanggal 10dulhijah(idul adha), nabi ismail berbaring siap disembelih serta ditangan nabi ibrahim sebuah pedang tajam berkilau sebelumnya dihantamkan ke sebuah batu besar hingga terbelah. bersiaplah nabi ibrahim menyembelih anaknya.. diletakan pedang menyayat leher akan tetapi dengan izin allah pedang itu tidak dapat melukai nabi ismail. begitu cintanya nabi ibrahim,istrinya hajar, anaknya nabi ismail kepada allah sehingga allah menggantikan penyembelihan nabi ismail dengan seekor kambing jantan esar dan kemudian dibagikan dagingnya kepada masyarakat, hewan kurban bukan penebus dosa tetapi simbol pengorbanan manusia kepada allah , pembagian daging kurban sebagai sarana kasih sayang antar sesama manusia. karena manusia terlahir dalam keadaan suci bukan pembawa dosa, hidup didunia ini adalah cobaan seperti halnya kita yang sering diuji kekasih untuk membuktikan cinta kita, allah maha mengatur umatnya bisa saja allah membuat manusia dalam satu umat saja tetapi allah maha tahu bagaimana kondisi yang terbaik untuk manusia sepertihalnya lima jari tangan yang punya fungsi masing2. kebenaran hanya milik allah tuhan seluruh alam.

108. Irvan - 31 Agustus, 2008

Perdebatan masalah agama adalah suatu hal yang tidak pernah selesai sampai kapanpun, orang2 yang suka berdebat adalah orang2 yang memiliki pengetahuan cetek masalah kebenaran itu sendiri. kita selalu mencari perbedaan tapi kita ga pernah mencari persamaan, namun sebagai orang Kristen kalau ada yang ngajakin berdebat kenapa diladeni, toh kebenaran tetap kebenaran. Kristen adalah agama pertama sebelum Islam, ajaran2 Islam adalah saduran dari Kristen, buktinya Nabi2 di Alkitab di akui oleh ajaran Islam.namun sebagai kakak kenapa ga pernah ngalah sama adeknya, kalo tau adeknya salah ya dibetulin donk.
tapi dari itu semua bukan benar atau salah tapi sejauh mana kita merespon kebenaran Allah itu, jangan2 kita hanya sok tau, tapi sebenarnya tidak tahu.
ketika kebenaran itu ada dalam hatimu, seharusnya kamu jangan keraskan hatimu untuk mendapatkan keselamatan itu yang ditawarkan oleh Allah melalui Yesus Kristus (Nabi Isa)

Perbedaan mendasar antara ajaran agama Kristen dan Islam adalah :
Kristen : Allah yang berinisiatif sendiri mencari umat ciptaan-NYa melalui Yesus Kristus, karena tidak ada yang mampu menghampiri Allah yang maha Kudus karena semua manusia adalah berdosa.

Islam : Manusia yang mencari sendiri Allah (menghampiri Allah) lewat amal dan ibadah, termasuk naik haji kalau mampu, karena disana dia anggap rumah Allah.

Agama adalah hanya ajaran yang dibuat dan ajarkan oleh manusia, sementara isinya bersumber dari Allah sebagai sumber kebenaran itu sendiri. oleh sebab itu tidak ada yang namanya agama Allah, tetapi yang Allah mau bagaimana supaya ciptaan-Nya kembali kepada-Nya seperti waktu kita di ciptakan dan datang kedunia ini…

jangan habiskan waktumu hanya untuk berdebat, tetapi tanya pada dirimu sendiri dengan jujur “Sudahkah menerima Keselamatan itu?”

habiskanlah waktumu dengan Allah dan lakukan kebenaran itu…
Allah itu adalah kasih, maka ciptaan-Nya juga harus memiliki kasih.

Shalom….

109. qy - 4 September, 2008

orang Islam cuap2 bilang tuhannya satu, apa kamu sudah baca kamu punya koran. tuhan kamu menyebut dirinya KAMI=== berarti tuhan Islam banyak dong ( tlg baca tu koran lengkap dengan terjemahanya)

110. Forum - 4 September, 2008

@Qy.

Dalam bahasa Arab, dhamir ‘nahnu’ adalah bentuk kata ganti orang pertama dalam bentuk jamak yang berarti kita atau kami. Tapi dalam ilmu nahwu, maknanya bisa saja bukan kami tetapi aku, saya dan lain-lainnya.

Gimana ya ngejelasinnya, kepada org yg sama sekali ngga ada dasar ilmu bahasa Arab.

Gini deh… Dalam bahasa Indonesia ada juga penggunaan kata “Kami” tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang kepala sekolah dalam pidato sambutan pesta perpisahan anak sekolah berkata,”Kami sebagai kepala sekolah berpesan . . . “. Padahal yang jadi kepala sekolah hanya dia seorang dan tidak beramai-ramai, tapi dia bilang “Kami”.

Lalu apakah kalimat itu menunjukkan bahwa kepala sekolah sebenarnya ada banyak atau hanya satu ?. Kata kami dalam hal ini digunakan sebagai sebuah rasa bahasa dengan tujuan nilai kesopanan. Tapi rasa bahasa ini mungkin tidak bisa dicerap oleh orang asing yang tidak mengerti rasa bahasa Indonesia.

Atau mungkin juga karena di barat tidak lazim digunakan kata-kata seperti itu.

Kalo si Kepsek dalam bahasa Indonesia tadi menggunakannya untuk alasan kesopanan, nah, nahnu dalam bahasa Arab di Al-Qur’an justru penggambaran kehebatan dan keagungan Tuhan.

Contoh lain, dalam bahasa Arab, kita bisa menyapa lawan bicara, yang hanya seorang diri dengan sebutan Antum. Padahal Antum itu adalah orang kedua jamak. Itu juga bentuk penghormatan, karena antum itu berarti kalian (jamak), dan untuk satu orang semestinya disebut Anta (cowok), dan Anti (cewek).

Kalau Qy tidak bisa memahami urusan rasa bahasa ini, saya maklum saja. Toh dari awal, niat Anda pun tampaknya ingin ofensif, bukannya mau tau akar permasalahannya.

@ Owner/admin

Saya sering kesal bahkan sangat marah dengan ide dalam tulisan anda. Tapi saya tetap angkat jempol soal kemampuan anda menulis dan kekayaan referensi yang anda sertakan dalam setiap tulisan.

Salam.

111. syekh adi9 - 5 September, 2008

islam adalah perbaikan dari kitab injil yang telah dinodai umat kristen yang mengaku-ngaku sebagai kitabnya, karena injil yang dipegang umat kristen sekarang bukan yang sebenarnya.. melainkan karangan manusia bodoh seperti halnya saya tapi bedanya saya tidak mengarang kitab MELAINKAN HANYA mengarang “CERPEN”.

112. rha-k - 21 September, 2008

Lebih mencintai AGAMA daripada mencintai TUHAN.
Kalimat sederhana yg setelah saya pikir2, hmmm, memiliki makna yg mendalam.. :)
Salam kenal ya bang Toga Nainggolan, semoga selalu open mind! ;)

113. Bermanno love "LAKTALO" - 23 September, 2008

Buat anda semua, khususnya buat bang Nainggolan saya sangat tertarik dan menggelitik hati saya untuk berkomentar setelah mambaca komentar2 temen2 smua.
Kebetulan saya penganut Atheis yang asalnya dari negeri kita sendiri, dan menurut saya Nilai SPIRITUAL seseorang adalah kebutuhan palin tinggi setelah kebutuhan lainnya terpenuhi, dalam ajaran LAKTALO (atheis dari tanah Rejang – Bengkulu red) yang sudah di tinggalkan orang ternyata mempunyai nilai2 lokal yang luhur dan sangat cocok untuk saya.
Dalam ajaran ini mengajarkan hubungan manusia dengan Sang Penguasa (Tuhan), manusia dg manusia dan manusia dengan lingkungnya. Dengan kasih sayang, damai dan kesejahteraan umat bersama dimuka bumi ini. Simple but sure!

salam damai buat semua!

114. Bermanno love "LAKTALO" - 23 September, 2008

Komentar saya tidak bermaksud mengajak temen2 smua ikut saya, tapi setidaknya ada muatan2 lokal dr daerah asalnya anda katakanlah dari tanah Batak, Jawa, Sulawesi, Papua dan lainnya memeiliki nilai2 luhur, mati kita gali.

Siapa tau ada yang baik2 dan kita lestarikan, sementara yang import dari luar perlahan-lahan kita tinggalkan, bagaimanapun menggunakan produk lokal mempunyai kebanggaan sendiri dan saya yakin tidak ada benturan satu sama lain apalagi sampai bermusuhan.

Produk lokal itu lebih unik dan exotis bro, kalo di kembangkan bisa menjadi perhatian dunia luar untuk mengetahui dan bahkan mungkin memepelajarinya, jangan kita mulu yang belajar ma orang lain… apalagi ajaran2 itu mewariskan kebencian dan permusuhan satu sama lain, ya gak sih? kasian nanti anak cucu kita, seperti sekarang, membela yang ga jelas gitu, lebih baik kita belajar bersama, membangun bersama dan bahagia bersama.

Kebetulan saya lagi membuat buku tentang ajaran LAKTALO (= Sang Penguasa), dan doa-in saya saya bisa menyelesaikan tulisan tersebut ya.

salam damai,

115. Bermanno love "LAKTALO" - 23 September, 2008

Sorry kalo ada ketikan2 yang salah ya…(maklum dah ngantuk tapi asyik hehheheee…)

116. 3yoga - 23 September, 2008

hehehe ….. asyik juga ngeliat orang pada berantem, beradu argumen,dan saling caci maki,ehhhh …. aku kabur aja deh sebelum kena timpuk ……

berarti agama belum bisa membawa perdamaian ya ? hehehe

salam,

117. Kamaludin - 24 September, 2008

LAKTALO itu sebenarnya hanya sebuah budaya di DAERAH REJANG DI 4 KABUPATEN di propinsi bengkulu. Beberapa nilai-nilai dapat dijadikan pedoman hidup, tapi emang gitu semua budaya mengandung norma-norma yang dapat dijadikan panutan.

Kamaludin.

118. michael - 25 September, 2008

ingat!!!

pernakah islam mengajarkan tentang kasih terhadap sesama…?
alquran tidak mengajarkan tentang kasih…
apa itu kitab suci yang benar???

sebagai contoh…
Di islam di ajarkan berjihad…
apa itu jihad mati demi agama? hahahaha…
aneh yah, kalau yakin agamanya itu benar kok malah rela di bela2-in sampe mati? apalagi sampe bikin mati orang lain…(ini nih yang gk masuk akal)
BOM SANA SINI ATAS NAMA JIHAD…. (bego amat yah nih org)

Apakah itu yang namanya agama?
yang mengajarka Kejahatan di balas dengan kejahatan?
wkwkwkwkwk…. disini ajah udah salah….

DI kristen…
Kami di ajarkan kejahatan di balas dengan kebaikan…
“Jika kamu di Tampar Pipi Kirimu, Beri Juga pipi kananmu untuk di tampar…”

jelas toh… agama kami mengajarkan kasih….
kalau kalian tidak….

kasian banget yah, pemeluk agama islam di doktrin sebagai teroris…
cape deh….

Teroris adalah org2 yang iri hati… !!!

segeralah bertobat…

tuhan Yesus kristus menyertaimu semua…

119. syekh yusuf - 26 September, 2008

Mengenai Makanan Haram

memang kristen terlalu rakus jelas anjing,babi tidak boleh dimakan! kok dimakan !! memang rakus !!!!!!!!!!!!!!!!

Imamat 11:7-8 Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.

Ulangan 14:8 juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya.

Alkitab cetakan lama 1991
Imamat11:7-8 Demikian juga babi, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu.

Alkitab cetakan lama tahun 1941
Imamat 11:7-8 Dan lagi babi, karena soenggoehpon koekoenja terbelah doewa, ija itoe bersiratan koekoenja, tetapi tiada ija memamah bijak, maka haramlah ija kapadamoe. Djangan kamoe makan daripada dagingnja dan djangan poela kamoe mendjamah bangkainja, maka haramlah ija kapadamoe.

Catatan: Menurut Alkitab babi itu haram. Kenyataanya oleh mereka bai diternak secara khusus, dipelihara, dirawat dan dijadikan sebagai bahan dagangan, dagingnya diperjualbelikan sebagai sumber penghidupan. Padahal jangankan memakannya, menyentuh tubuhnya saja dilarang dalam Alkitab.

Semua umat Islam mengharamkan babi. Tetapi hampir semua umat Kristiani justru makan babi, kecuali sebagian kecil saja dari sekte Advent. Ini membuktikan bahwa yang ikut firman Allah dalam Alkitab tentang haramnya babi, adalah umat Islam. Sementara umat Kristiani yang menjadikan Alkitab sebagai Kitab Sucinya, justru tidak mengharamkan makan babi, bahkan babi merupakan makanan kesukaan mereka.

Menjadi pertanyaan , mengapa umat Kristiani tidak mengharamkan makan babi, justru malah mereka menghalalkannya?? Ternyata tanpa mereka sadari , mereka tela mengikuti paham Paulus yang mengatakan bahwa segala sesuatu itu halal. Perhatikan ucapan Paulus sbb:

1. Korintus 6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.

Ayat-ayat dalam berbagai bahasa tersebut adalah Surat Kiriman Paulus kepada jemaatnya didaerah Korintus. Pendapat Paulus yang menghalalkan sesuatu, seperti daging babi dan lain-lain, bertolak belakang dengan firman Allah yang mengharamkan babi.

Sebagai umat beragama yng taat, semestinya yang diikuti adalah firman Allah, bukan pendapat Paulus yang hanya manusia biasa.

Seandainya umat Krsitiani mengikuti firman Allah tentang haramnya babi dll, dan bagaimana cara menyembelih hewan, rasanya dalam hal makanan, tidak terlalu diragukan lagi antara Islam dan Kristanbila menghadapi jamuan atau sejenisnya.
Ada juga sebagian umat Kristiani mengatakan bahwa yang haram itu adalah “babi hutan”, jadi “babi piaraan” tidak haram. Padahal Alkitab cetakan lama tertulis “babi”, sementara Alkitab cetakan baru dirobah menjadi “babi hutan” Tentu saja yang benar yaitu “babi”, sebab semua Alkitab cetakan lama tertulis “babi”.

Makna “ babi haram” , berarti semua babi haram, tidak boleh dimakan, termasuk babi hutan. Tetapi “babi hutan haram”, berarti semua babi boleh dimakan, kecuali babi hutan.

Contoh: kata “dilarang merokok “ maknanya semua rokok apapun mereknya tidak boleh di hisab. Manakala dirobah menjadi “dilarang merokok bentoel”, berarti semua rokok bisa di hisab, kecuali rokok bentoel bukan? Ini membuktikan bahwa penambahan satu kata saja bisa merobah makna dan arti.

Contoh lain “orang “ jika ditambahkan kata “hutan” akan menjadi “ orang hutan”, tentu artinya sangat jauh berbeda. Demikian juga “babi” dengan “babi hutan” pasti berbeda.

Tetapi sebagian umat kristiani ada juga yang menjadikan alasan babi halal berdasarkan Injil Matius 15:11 sbb:

“Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk kedalam mulut yang menajiskan orang , melainkan yang keluar dari mulut yag menajiskan orang.”

Alasan tersebut tidal rasional dan tidak kuat, sebab jika asal masuk kedalam mulut manusia tidak menajiskan, bagaimana jika yang masuk ke mulut adalah : ganja, morphin, shabu-shabu dan sejenisnya apakah jadi halal walaupun merusak tubuh, jiwa dan pikiran manusia?

Yang namanya ganja, morphin, shabu-shabu dan sejenisnya, walaupun sebelum masuk ke mulut manusia dibacakan doa kepada Tuhan atau Yesus, tetap aja haram hukumnya.

Nah ternyata apa-apa yang benar , yang pernah difirmankan oleh Allah dalam Alkitab seperti babi haram , diwahyukan kembali oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril kepada Nabi kita Muhammad Saw, didalam Al Qur’an. Alhamdulillah, dimanapun , siapapun dan sampai kapanpun umat Islam tetap akan mengharamkan babi. Firman Allah SWT, babi haram : Qs 2 Al Baqarah 173, Qs 5 Al Maidah 3, Qs 6 Al An’aam 145, dan Qs 16 An Nahl 115.

Contoh: Qs 2 Al Baqarah 173
173. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Qs An ‘aam 145
145. Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

120. Lucifer - 28 September, 2008

buat aku yang penting hidup ga ganggu orang lain..berjalan selaras..mo islam kek,mo nasrani kek,mo hindu,budha,atheis,satanis..semua sama..kita orang berdosa…
aku aja dah di buang dari surga ga dendam sama tuhan…lantas mengapa kalian saling menumbangkan tuhan satu sama lain dengan tulisan kalian…

121. HaHaHaHa - 2 Oktober, 2008

Hahahaha, lucu kali awak lihat kalian ini semua. kalau ngomong tentang perbedaan agama mana ada sih abisnya, mendingan ikuti aja agama masing-masing, jalankan dengan bener. Pembuktian agama itu bener apa enggak kan tinggal tunggu mati aja, masuk surga atau neraka, kalau mau dibuktikan sekarang mana bisa …. sekarang berbuat yang baik aja deh untuk sesama, trus entar klo dah mati kan ketauan siapa yang masuk surga, siapa yang masuk neraka, nah yang masuk surga tuh agama nya yang bener … hehehehehe, makanya bro yang pada berdebat tandai yah siapa lawan debatnya .. ntar kalau dah mati kan ketauan siapa yang masuk surga, nah disitu baru kalian tau agama mana yang bener … hahahahaha,. Gitu aja kok repot !!!

122. untag jakarta - 8 Oktober, 2008

Selamat datang di http://untag.ptkpt.net

Program Perkuliahan Karyawan (P2K) & Beasiswa
UNTAG – Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta – 54 th
— TERAKREDITASI —

Pendaftaran Mahasiswa Baru Semester Ganjil 2008/2009
Untuk seluruh lulusan SMA/SMK, D3/Poltek/Akademi, D1, D2, dsb
melanjutkan atau pindah jurusan ke Program Sarjana (S1).

Gelombang I = 5 Mei – 6 Juli 2008
Gelombang II = 7 Juli – 31 Agustus 2008
Gelombang III = 1 – 20 September 2008

Kuliah dimulai = Minggu, 21 September 2008

Sesuai UU-RI No.20 Th.2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “Pendidikan Tinggi diselenggarakan dengan Sistem Terbuka”.
Dan dipenjelasan UU-RI tsb ditulis : “Pendidikan dengan sistem terbuka adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan (multi entry-multi exit system). Peserta didik dapat belajar sambil bekerja, atau mengambil program-program pendidikan …. dst.”

Juga sesuai dengan UUD 45 bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Sedangkan diantara warga negara terdapat sebagian masyarakat yang memiliki waktu luang terbatas (khususnya karyawan). Juga sebagian masyarakat yang memiliki dana terbatas.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut UNTAG menyelenggarakan P2K-PKSM ini sekaligus melaksanakan KOMITMEN SOSIAL. Yaitu dengan memberi kesempatan kepada seluruh masyarakat lulusan SMA, SMK, D3, S1, dsb-nya; baik yang memiliki waktu luang terbatas maupun dana terbatas, untuk melanjutkan pendidikan (atau pindah jurusan) ke jenjang Sarjana (S1) pada jurusan yang diminati (silakan klik), secara layak dan bermutu sesuai keunggulan UNTAG (silakan klik).

Tempat Kuliah di Kampus UNTAG, Jl. Sunter Permai Raya, TOL Sunter – Podomoro, Jakarta Utara, yang merupakan salah satu kampus ternyaman dengan fasilitas pendidikan tinggi dan penunjang yang lengkap. Untuk mudahnya, disini diberikan peta menuju Kampus UNTAG (silakan klik) serta Angkutan Umum menuju Kampus UNTAG (silakan klik).

Tidak Ada Ujian Negara (sama dengan PTN).

Biaya pendidikannya (silakan klik) disubsidi sehingga terjangkau masyarakat, juga diberikan fasilitas kredit biaya pendidikan tanpa bunga dan tanpa agunan sehingga dapat diangsur bulanan sesuai kemampuan mahasiswa. Serta diberikan beasiswa (silakan klik) bagi yang tidak mampu secara finansial.

Lulusan Program Kuliah Sabtu Minggu UNTAG dipersiapkan menjadi Sarjana sesuai jurusannya, yang dapat mengembangkan jati dirinya dengan bekal ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, sehingga mampu menyelesaikan persoalan sekaligus mengembangkan ilmunya.

Mahasiswa dan Lulusan Program Kuliah Sabtu Minggu UNTAG maupun Program Reguler UNTAG, mempunyai HAK AKADEMIK, GELAR, dan IJAZAH yang SAMA, serta mempunyai HAK untuk menggunakan gelarnya dan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Untuk mempercepat perolehan informasi, bila ingin mengcopy/print informasi secara keseluruhan tentang Program Kuliah Sabtu Minggu dan Perkuliahan Karyawan (PKSM-P2K) di UNTAG, silakan klik “Info Keseluruhan” ini, atau dapat di-klik di menu info keseluruhan di website ini (sebelah kiri).

Bila ada hal yang kurang jelas, mohon kiranya langsung ditanyakan ke layanan info 17 jam di atas atau silakan klik “Contact Us” ini.
Bila membutuhkan katalog/brosur lengkap, silakan mengisi di Form Permintaan Katalog di samping kiri ini, kami akan mengirimkannya via POS secara gratis.

Melalui situs/informasi ini, mohon bantuan Bapak/Ibu/Sdr untuk sudi kiranya turut mendorong/memotivasi keluarga/sahabat/rekan kerja untuk melanjutkan/meningkatkan pendidikannya di UNTAG, baik melalui Program Kuliah Sabtu Minggu maupun melalui Program Reguler.

Terima kasih,
UNTAG – Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

123. untag - 8 Oktober, 2008

Selamat datang di http://untag.ptkpt.net

Program Perkuliahan Karyawan (P2K) & Beasiswa
UNTAG – Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta – 54 th
— TERAKREDITASI —

Pendaftaran Mahasiswa Baru Semester Ganjil 2008/2009
Untuk seluruh lulusan SMA/SMK, D3/Poltek/Akademi, D1, D2, dsb
melanjutkan atau pindah jurusan ke Program Sarjana (S1).

Gelombang I = 5 Mei – 6 Juli 2008
Gelombang II = 7 Juli – 31 Agustus 2008
Gelombang III = 1 – 20 September 2008

Kuliah dimulai = Minggu, 21 September 2008

Sesuai UU-RI No.20 Th.2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “Pendidikan Tinggi diselenggarakan dengan Sistem Terbuka”.
Dan dipenjelasan UU-RI tsb ditulis : “Pendidikan dengan sistem terbuka adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan (multi entry-multi exit system). Peserta didik dapat belajar sambil bekerja, atau mengambil program-program pendidikan …. dst.”

Juga sesuai dengan UUD 45 bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Sedangkan diantara warga negara terdapat sebagian masyarakat yang memiliki waktu luang terbatas (khususnya karyawan). Juga sebagian masyarakat yang memiliki dana terbatas.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut UNTAG menyelenggarakan P2K-PKSM ini sekaligus melaksanakan KOMITMEN SOSIAL. Yaitu dengan memberi kesempatan kepada seluruh masyarakat lulusan SMA, SMK, D3, S1, dsb-nya; baik yang memiliki waktu luang terbatas maupun dana terbatas, untuk melanjutkan pendidikan (atau pindah jurusan) ke jenjang Sarjana (S1) pada jurusan yang diminati (silakan klik), secara layak dan bermutu sesuai keunggulan UNTAG (silakan klik).

Tempat Kuliah di Kampus UNTAG, Jl. Sunter Permai Raya, TOL Sunter – Podomoro, Jakarta Utara, yang merupakan salah satu kampus ternyaman dengan fasilitas pendidikan tinggi dan penunjang yang lengkap. Untuk mudahnya, disini diberikan peta menuju Kampus UNTAG (silakan klik) serta Angkutan Umum menuju Kampus UNTAG (silakan klik).

Tidak Ada Ujian Negara (sama dengan PTN).

Biaya pendidikannya (silakan klik) disubsidi sehingga terjangkau masyarakat, juga diberikan fasilitas kredit biaya pendidikan tanpa bunga dan tanpa agunan sehingga dapat diangsur bulanan sesuai kemampuan mahasiswa. Serta diberikan beasiswa (silakan klik) bagi yang tidak mampu secara finansial.

Lulusan Program Kuliah Sabtu Minggu UNTAG dipersiapkan menjadi Sarjana sesuai jurusannya, yang dapat mengembangkan jati dirinya dengan bekal ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, sehingga mampu menyelesaikan persoalan sekaligus mengembangkan ilmunya.

Mahasiswa dan Lulusan Program Kuliah Sabtu Minggu UNTAG maupun Program Reguler UNTAG, mempunyai HAK AKADEMIK, GELAR, dan IJAZAH yang SAMA, serta mempunyai HAK untuk menggunakan gelarnya dan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Untuk mempercepat perolehan informasi, bila ingin mengcopy/print informasi secara keseluruhan tentang Program Kuliah Sabtu Minggu dan Perkuliahan Karyawan (PKSM-P2K) di UNTAG, silakan klik “Info Keseluruhan” ini, atau dapat di-klik di menu info keseluruhan di website ini (sebelah kiri).

Bila ada hal yang kurang jelas, mohon kiranya langsung ditanyakan ke layanan info 17 jam di atas atau silakan klik “Contact Us” ini.
Bila membutuhkan katalog/brosur lengkap, silakan mengisi di Form Permintaan Katalog di samping kiri ini, kami akan mengirimkannya via POS secara gratis.

Melalui situs/informasi ini, mohon bantuan Bapak/Ibu/Sdr untuk sudi kiranya turut mendorong/memotivasi keluarga/sahabat/rekan kerja untuk melanjutkan/meningkatkan pendidikannya di UNTAG, baik melalui Program Kuliah Sabtu Minggu maupun melalui Program Reguler.

Terima kasih,…
UNTAG – Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

124. rajaka - 10 Oktober, 2008

@HaHaHaHa,

iya dah …. entar kutandai ….. tapi kalau aku mati duluan, aku cari kamu lalu aku gigit biar bisa mati bersamaan, lalu kita lihat siapa yang masuk surga …. hahahaha….

iya ya… kok repot-repot

125. Dongan Naburju - 13 Oktober, 2008

dodong on do hape tulang nenggolan on…

nunga rittik do hape hamu tulang..holan na mangatai agama..accit ulu muse gabe sega do hangoluan..ai sude merasa tikkos…nunga bei..nunga bei ndang adong labani..

molo merasa mardosa hita..tumagon do hita mamereng dirita majo parjolo nunga hias manang pardosa do..molo ndang dope lao ma hita tu bale partonggoani..las disi ma ta paunduk rohatta tu debata i asa unang gabe joolma na lilu hita,unang gabe jolma na marlate roha hita tu dongannta..ai tonggo2 dohot habisukon do jinalo sian debatai..
marbada pe akka manisia di luat nadao..unang tapaihut2..ai nunga najolo hian di tikki ni padri..ro akka begu2 ro akka na jukkat ro sude na jaat tu tapanuli ,nunga sai bei..unang be adong tikki padri di tano batak di masa saonari on…nunga loja akka ompung2 manang natua2 najolo mamodai hita halak batak..tabege ma i

molo ahu tulang..nunga dodong on hamu tulang..he..he..
kekny memancing di air keruh ni tulang…

ok deh salam bahagia..gw suka maen ke blog ni tulang
damai itu indah

126. irvan - 14 Oktober, 2008

gw ada tebak2an ne buat orang islam yg suci dan saleh…

kenapa orang islam sholat pake banasa arab?
karena allah-nya ga lulusan mata kuliah bahasa (ip-nya pas2an)

kenapa orang islam ga makan babi?
karena umat islam dan allah-nya babi… (masa babi makan babi)

kenapa orang islam sujud dan sholat rame dan baris berbaris?
karena waktu sholat, mereka makan tai orang islam di depannya…

kenapa kalau orang islam sholat, harus teriak2 dan pasang speaker?

karena allah-nya rada congek, maklum, udah pikun

kenapa cwe islam pake jilbab?

karena cwo islam dan allah-nya sendiri bisa “birahi” kalau liat cwe2 islam ga pake jilbab…

nabi muhammad kenapa bisa meninggal?

karena kena penyakit “raja singa/cipilis” , maklum, istrinya 1000

kenapa islam boleh poligami,padahal wanita seluruh dunia ga setuju?

karena cwo islam menganut paham anjing, di mana ada “lobang” mereka ga bisa menahan diri dan “melakukannya” di sembarang tempat

kenapa orang islam harus mati untuk allah-nya?

karena allah-nya vampire, jadi butuh darah segar, kalau kristen, Allah kita mati demi hidup kita…thanks Jesus…

sekian tebak2annya

mohon maaf bila ada salah kata

127. Nesia! - 15 Oktober, 2008

@ Irvan.
Wah, kebangetan komentarmu Bung… Biasanya yang kek gini bakal kuhapus. Tp kali ini kubiarkan ajalah, biar menjadi bukti, bahwa sulut api permusuhan bisa datang dari penganut agama manapun. Oiya, itu pun jika kau benar beragama Kristen, seperti kau gambarkan.

Kau mungkin berhasil membuat hati penganut Islam luka, dengan tebak-tebakan yang sangat menghina ini. Tapi bukankah kau juga telah melukai perasaan Yesus, yang kau yakini mati untukmu, karena sedikitpun kau tak belajar dari kasih dan pengorbanannya, untuk kemudian menjadi manusia yang menjaga tutur kata, tak melukai tubuh dan perasaan orang lain, sebagaimana diajarkannya?

Bagiku, kau malah lebih mirip dengan orang-orang yang menyalibnya; beringas, melecehkan, mengobarkan permusuhan, yup, mirip dengan para pembunuh tuhan!

Saya yakin, pengikut sejati Kristus tak akan menulis komen semacam itu, dan berharap pengikut sejati Muhammad SAW juga tak perlu terlalu marah membacanya, karena Nabi yang dihina di atas itu pernah mengatakan, “Hendaklah engkau sabar menghadapi gangguan orang bodoh, memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadamu, dan memulihkan hubungan dengan orang yang memutuskannya denganmu”

128. REMON - 15 Oktober, 2008

Gw hax mau blg atau sekedar mengingatkan

” YESUS BERKATA TIADA YANG DAPAT BERTEMU ALLAH TANPA MELALUI AKU ”

dari perkataan diatas dapat kita pastikan bahwa Yesus lah jalan keselamatan bukan Muhhamad ok
sekartang gw mau tax pernah kah muhammad menjamin pengikutnya bahwa mereka akan diselamatkan ?

gw rasa kalian semua ga’ bisa jawab hee..hee..hee..

129. REMON - 15 Oktober, 2008

bahkan seorang pemimpin FPI di daerah ……………… saja masuk kristen setelah bertemu langsung Yesus Kristus
dia merasa senang masuk kristen katanya banyak perubahan
klo mau lbh jlsnya tontok kasetnya di situ kalian para umat islam dapat melihat perbedaan agama kristen ma agama islam di situ juga dia menjelaskan beberapa kebohongan agama islam

130. REMON - 15 Oktober, 2008

gw berharap setelah menonton film itu kalian sadar ok

131. MONRE - 15 Oktober, 2008

kalo skdr ngomong bakal jamin keselamatan mah apa susahnya? tetangga gw jg bisa ngomong gitu!

hehehehe juga!

132. DCS - 16 Oktober, 2008

Lae Toga, kalau ada orang yang sangat puas dengan melukai hati orang lain, Mengatakan Allah itu Babi dst, dst dan dia bilang “kalau ada kata yang salah …… ( ??? ) apa tidak ada yang salah dalam hidup kita sekarang ini? Dongan naburju sampai sakit kepala membaca komentar2 umat Tuhan yang diciptakan sesuai dengan “wajahnya” accitnaiiiiiiiiiiiiiii amang. Yesus nangis diatas sana kalau itu keluar dari mulut jemaatnya.

Umat Kristiani bilang Yesus itu Tuhan, dan Umat Islam mengatakan Yesus itu sebagai Nabi seharusnya sudah cukup membuat kita membangun manusia yang beradap, selebihnya kita serahkan kepada kehendak sang Pencipta.

133. DCS - 16 Oktober, 2008

Saya penganut Kristen yang tidak begitu taat.

Tulisan diatas sebenarnya sangat memukau dari seorang anak manusia yang mempunyai Tuhan, yang mempercayai Tuhan itu maha segalanya dan gak perlu para juru bicara atau juru kampanye dan juru2 lainnya ( tapi yang nongol malah juru2 itu … ), ditambah Tulisan Muhammad Gunawan yang sangat menawan dan komentar Jarar Siahaan yang kalaupun kontroversial ( kata orang ) yang lebih maju dari pikiran orang beragama lainnya dan mengatakan “maniak agama dan parbada muncung” Semuanya sangat menyentuh, seandainya saya bisa duduk dan berbincang2 dengan kalian berdua, indahnya dunia ini.

Saya mau menantang maniak2 agama diatas :
Buat Umat kristiani, Tolong khotbahi saya agar rajin kegereja karena sekarang ini, tidak ada yang perduli kalau kita tidak kegereja,Tolong ajarkan saya bagaimana seharusnya umat Kristiani berbuat dalam hidup ini.
Buat Umat Islam :
Tolong mualafkan saya kalau kamu bisa menunjukkan kalau itu menjamin saya bisa ketemu sang Pencipta kelak( jujur )

Darpada kalian marbada muncung, saya menunggu.

134. syekh yusuf - 16 Oktober, 2008

Menguak Misteri Muhammad
Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

Thursday, November 02, 2006
Pertanyaan Tentang Hak Kelahiran Dan Perjanjian
Ada perselisihan keagamaan yang sangat-sangat lama antara bani Ismailiah dan Israeliah mengenai beberapa persoalan menyangkut hak kelahiran dan perjanjian. Para pembaca Alkitab (Bibel) dan Al-Qur’an mengetahui tentang kisah nabi besar Ibrahim dan kedua anaknya yang bernama Ismail dan Ishaq. Kisah tentang seruan Ibrahim dari kota Ur di Khaldea, dan kisah tentang keturunannya sampai kematian cucunya Yusuf di Mesir, tertulis dalam kitab Kejadian. Dalam silsilahnya sebagaimana terekam dalam kitab Kejadian, Ibrahim adalah keturunan ke dua puluh dari Adam, dan sejaman dengan Raja Namrud, yang membangun menara Babel yang menakjubkan.

Kisah awal tentang Ibrahim di Ur, Khaldea, meskipun tidak disebutkan dalam Alkitab, direkam oleh sejarawan Yahudi terkenal, Joseph Flavius dalam Antiquities-nya dan juga dikonfirmasi oleh Al-Qur’an. Tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa bapak dari Ibrahim bernama Terah (Azar), adalah seorang penyembah berhala (Yoshua 24:2,14)

Ibrahim mewujudkan kecintaan dan kesetiaannya kepada Tuhan ketika ia masuk kedalam bait Allah dan menghancurkan semua patung dan berhala yang ada didalamnya, dan dengan demikian ia adalah prototipe sejati dari keturunannya yang termasyhur, Muhammad. Ia keluar tanpa cedera dan dengan kemenangan dari tungku api yang menyala-nyala yang kedalamnya ia dilemparkan atas perintah Raja Namrud. Ia keluar tanpa cedera dari tungku api yang menyala-nyala. Dengan ketaatan dan kepasrahan mutlak terhadap seruan Ilahi, ia meninggalkan negerinya dan memulai suatu perjalanan yang panjang dan berliku ke negeri Kanaan, Mesir, dan Arabia.

Istrinya, Sarah, mandul; namun Tuhan memberitahukan dia, bahwa dia ditakdirkan untuk menjadi bapak dari banyak bangsa, bahwa semua wilayah yang dia lintasi dalam perjalanan akan diberikan sebagai warisan kepada keturunannya, dan bahwa “ dengan benihnya semua bangsa di muka bumi akan diberkahi ”! Janji yang sangat hebat dan unik dalam sejarah agama ini diterima dengan keimanan yang tak tergoyahkan di pihak Ibrahim, yang tidak punya keturunan, tidak punya anak.

Ketika Ia dibawa keluar untuk memandang ke langit pada malam hari dan diberi tahu oleh Allah bahwa anak cucunya akan sebanyak bintang dilangit dan sama tidak terhitungnya dengan pasir di pantai, Ibrahim mempercayai-Nya. Dan keimanannya kepada Tuhan inilah yang “terhitung sebagai kebajikan”, sebagaimana dikatakan kitab-kitab suci.

Gadis Mesir yang miskin dan berbudi luhur, Hajar namanya, adalah seorang budak dan pelayan Sarah. Atas tawaran dan restu sang nyonya rumah, maka sang pelayanan perempuan pun dikawini oleh Nabi Ibrahim sebagaimana mestinya, dan dari perkawinan ini lahirlah Ismail, sebagaimana diramalkan oleh malaikat.

Ketika Ismail berumur tiga belas tahun, Allah sekali lagi mendatangi Ibrahim melalui Malaikat-Nya dan wahyu; janji lama yang sama diulangi lagi kepada Ibrahim; upacara khitanan secara resmi dilembagakan dan dengan segera dilaksanakan. Ibrahim, pada usianmya yang kesembilanpuluh, Ismail, dan semua pelayan laki-laki, dikhian; dan ‘perjanjian’ antara Tuhan dan Ibrahim bersama satu-satunya anak yang dilahirkan pun dibuat dan disahkan, seakan-akan dengan darah khitan. Hal itu semacam fakta antara Surga dan Negeri yang Dijanjikan yang ditandatangani dalam diri Ismail sebagai satu-satunya keturunan dari kepala keluarga nonagenarian (orang yang berumur antara 90-99 tahun –penerj.). Ibrahim menjanjikan kesetiaan dan kepatuhan pada Penciptanya, dan Tuhan menjanjikan untuk selamanya menjadi Pelindung dan Tuhan dari keturunan Ismail.

Belakangan –maksudnya ketika Ibrahim berusia 99 tahun dan Sarah 90 tahun- ternyata Sarah juga melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ishaq, ini sesuai dengan janji Tuhan.

Karena tidak disampaikan urutan kronologisnya dalam Kitab Kejadian, maka kita diberitahukan bahwa setelah lahirnya Ishaq, Ismail dan ibundanya dikeluarkan dan disuruh pergi dengan cara yang sangat kejam, semata-mata karena Sarah begitu menginginkannya. Ismail dan ibundanya lenyap ditengah gurun pasir; sebuah mata air menyembur ketika sang anak nyaris menemui ajal karena kehausan; ia pun minum dan terselamatkan. Tidak ada lagi yang didengar dari Ismail dalam Kitab Kejadian selain bahwa ia mengawini seorang perempuan Mesir, dan ketika Ibrahim meninggal ia hadir bersama Ishaq untuk menguburkan bapak mereka.

Kemudian kitab Kejadian melanjutkan kisah tentang Ishaq, dua anaknya, dan turunnya Yaqub ke Mesir, dan diakhiri kematian Yusuf.

Peristiwa penting berikutnya dalam sejarah Ibrahim seperti terekam dalam Kitab Kejadian (22) adalah pengorbanan “anak laki-laki satu-satunya” kepada Tuhan, tetapi ia ditebus dengan seekor kambing jantan yang dipersembahkan oleh seorang malaikat. Al-Qur’an mengatakan:

“Seseungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagi Ibrahim) (QS ash-Shaffat 37:106)

Tetapi kecintaannya kepada Allah melebihi setiap kecintaan lainnya; dan karena alasan inilah maka ia dijuluki “Sahabat Allah” (QS.4)

Demikianlah cerita singkat mengenai Ibrahim dalam hubungannya dengan subjek tentang Hak Kelahiran dan Perjanjian.

Ada tiga poin berbeda-beda yang harus diterima sebagai kebenaran oleh setiap orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah:

Poin Pertama , adalah Ismail adalah anak sah Ibrahim, anak pertamanya, dan oleh karena itu klaimnya tentang hak kelahiran sangatlah adil dan sah!

Poin Kedua, adalah bahwa perjanjian dibuat antara Tuhan dan Ibrahim dan juga anak satu-satunya, Ismail, sebelum Ishaq lahir. Perjanjian dan kebiasaan khitan itu tidak akan punya nilai dan arti penting kalau janji yang diulang-ulang itu tidak terkandung dalam firman Tuhan, “ Melaluimu semua bangsa bumi akan diberkahi ” dan khususnya ungkapan Benih “ yang akan keluar dari mangkuk-mangkuk ia akan menjadi ahli warismu ” (Kejadian 15:4). Janji itu dipenuhi ketika Ismail lahir (kejadian 16), dan Ibrahim mendapat penghiburan bahwa pelayan utamanya Eliezer tidak akan lagi menjadi ahli warisnya.

Konsekuensinya, kita harus mengakui bahwa Ismail adalah pewaris martabat dan hak istimewa Ibrahim yang riil dan sah. Hak prerogratif bahwa “ karena Ibrahim maka semua bangsa dibumi akan diberkahi ” begitu sering diulang-ulang–meskipun dalam bentuk-bentuk berbeda– adalah warisan karena hak kelahiran, dan merupakan warisan Ismail dari garis ayah. Warisan yang menjadi hak Ismail karena hak keturunan bukanlah tenda tempat Ibrahim bernaung atau seekor unta tertentu yang biasa ia tunggangi, tetapi hak untuk menaklukkan dan menduduki selamanya wilayah yang membentang dari sungai Nil sampai Efrat yang dihuni oleh sekitar sepuluh bangsa yang berbeda-beda (Kejadian 17:18-21). Negeri-negeri ini belum pernah ditaklukan oleh keturunan Ishaq, melainkan oleh keturunan Ismail. Inilah pemenuhan yang aktual dan sesuai dengan kenyataan terhadap salah satu syarat yang termuat dalam perjanjian.

Poin Ketiga, adalah bahwa Ishaq juga lahir secara ajaib dan secara khusus diberkati oleh Yang Maha Kuasa, dan bahwa untuk kaumnyalah negeri Kanaan dijanjikan dan benar-benar dikuasai oleh Yoshua. Tidak seorang muslim pun pernah berpikir meremehkan kedudukan Ishaq dan anaknya Yaqub yang sakral dan profetis; karena meremehkam seorang nabi adalah sebuah tindakan buruk. Ketika kita membandingkan Ismail dan Ishaq, tidak ada yang dapat kita lakukan selain bersikap ta’zim dan hormat pada mereka berdua sebagai hamba-hamba Allah yang suci.

Sebenarnya, bani Israel, dengan hukum dan kitab sucinya, memiliki sejarah keagamaan yang cukup unik di “dunia lama”. Mereka benar-benar umat pilihan Tuhan, meskipun mereka sering menentang Allah dan jatuh ke dalam kemusyrikan, namun mereka telah melahirkan banyak sekali nabi dan laki-laki serta perempuan yang shaleh ke dunia.

Sejauh ini, tidak ada poin kontroversi yang riil antara bani Ismail dan bani Israel. Karena jika “keberkahan” dan “hak kelahiran” diartikan hanya semacam pemilikan materi dan kekuasaan, maka perselisihan akan diselesaikan sebagaimana telah diselesaikan dengan pedang dan fakta yang telah terjadi mengenai penguasaan Arab atas negeri-negeri yang dijanjikan.

Tidak! Ada poin perselisihan yang fundamental diantara kedua bangsa yang sekarang eksis selama hampir empat ribu tahun; Dan bahwa yang diperselisihkan tersebut adalah mengenai perselisihan mengenai al masih dan Muhammad. Kaum Yahudi tidak melihat pemenuhan atas apa yang disebut nubuat-nubuat Mesianis dalam diri Yesus atau kalau tidak dalam diri Muhammad. Kaum Yahudi selalu cemburu terhadap Ismail, karena mereka sangat mengetahui bahwa karena dirinya maka perjanjian dibuat dan melalui pengkhitanannya maka perjanjian pun ditanda tangani dan disahkan. Dan karena dendam inilah para pendeta dan doktor hukum mereka menyelewengkan dan menyisipkan banyak bagian dalam kitab-kitab suci mereka. Menghapuskan nama Ismail dari ayat ke 2, ke 6, ke 7 dalam pasal ke 20 dalam kitab Kejadian, dan memasukkan nama Ishaq sebagai gantinya, dan meninggalkan julukan deskriptif “satu-satunya anakmu yang dilahirkan” adalah menyangkal eksistensi Ismail dan melanggar perjanjian yang dibuat oleh Allah dan Ismail. Dengan jelas dikatakan oleh Allah dalam pasal ini: “karena engkau tidak mengecualikan satu-satunya anakmu yang dilahirkan, maka Aku akan menambah dan membiakkan keturunanmu sebanyak bintang-bintang di langit dan pasir di pantai.” Kata membiakkan mana yang digunakan oleh malaikat kepada Hajar dipadang gurun: Aku akan membiakkan anak cucumu sampai tak terkira banyaknya, dan bahwa Ismail akan menjadi “ orang yang subur” (Kejadian 16:12) Sekarang umat Kristen telah menerjemahkan kata bahasa Ibrani yang sama, yang berarti “subur” atau “berlimpah” dari kata kerja “para” — identik dengan bahasa arab wefera– dalam versi-versi mereka sebagai “keledai liar”! Tidakkah memalukan dan kufur menyebut Ismail dengan sebutan “keledai liar” sedangkan Allah menyebutnya “subur” dan “berlimpah”.

Sangat luar biasa bahwa Kristus sendiri (seperti dilaporkan oleh kitab Injil Barnabas) yang mencerca kaum Yahudi (dimana kaum Yahudi mengatakan bahwa Rasul Agung yang mereka sebut ‘Mesias’ akan turun dari generasi keturunan Raja Daud, terang-terangan memberi tahu mereka bahwa tidak mungkin ia anak Daud, karena Daud menyebut dia ‘Tuhannya’, dan selanjutnya menjelaskan bagaimana bapak-bapak mereka telah mengubah kitab-kitab suci, dan bahwa Perjanjian dibuat, tidak dengan Ishaq, tetapi dengan Ismail, yang diambil untuk diberikan sebagai pengorbanan kepada Tuhan, dan bahwa ungkapan “satu-satunya anakmu yang dilahirkan” berarti Ismail, bukan Ishaq.

Paulus yang menganggap dirinya sebagai seorang rasul dari Yesus Kristus, menggunakan beberapa kata yang tidak sopan tentang Hajar (Galatia 6:21-23, dan ditempat lainnya) dan Ismail, dan terang-terangan menentang Gurunya. Orang ini telah melakukan segala upaya untuk merusak dan menyesatkan umat Kristen yang dulu dianiayanya sebelum ia memeluk Kristen; dan saya sangat ragu bahwa Yesus versi Paulus tidak mungkin seorang Yesus tertentu, juga anak Maria, yang digantung diatas sebuah pohon sekitar satu abad sebelum Kristus, karena pretensi-pretensi Mesianiknya.

Sesungguhnya, surat-surat Paulus sebagaimana ditunjukkan dihadapan kita penuh dengan doktrin-doktrin yang benar-benar sangat menjijikkan bagi spirit Perjanjian Lama, dan juga spirit Nabi dari Nazaret yang rendah hati.

Paulus adalah seorang Pharisee yang fanatik dan seorang ahli hukum dan filsafat. Setelah memeluk agama Kristen ia malah kelihatan menjadi lebih fanatik lagi dibanding sebelumnya. Kebenciannya terhadap Ismail dan klaimnya terhadap hak kelahiran membuatnya lupa dan mengabaikan hukum Musa yang melarang seorang lelaki menikahi saudara perempuannya sendiri dengan ancaman hukuman mati.

Jika Paulus diberi wahyu oleh Tuhan, maka ia sudah dicela kitab Kejadian sebagai penuh dengan kepalsuan ketika ia mengatakan dua kali bahwa Ibrahim adalah suami dari saudara perempuannya sendiri. Atau kalau tidak, ia sudah menuduh Nabi sebagai pembohong! (Tuhan melarang.) Tetapi ia mempercayai firman-firman dalam kitab, dan kata hatinya tidak menyiksanya setidaknya ketika ia mengidentifikasikan Hajar dengan Gurun Sinai yang tandus, dan sifat-sifat Sarah sebagai Yerusalem diatas surga (Galatia 4:25-26).

Pernahkah Paulus membaca laknat dari hukum ini:

“Terkutuklah orang yang tidur dengan saudaranya perempuan, anak perempuan bapaknya, atau anak perempuan ibunya. Dan seluruh bangsa itu akan berkata: Amin?” (Ulangan 27:22)

Adakah hukum manusia atau Ilahi yang menganggap lebih sah orang yang merupakan anak laki-laki dari paman dan bibinya daripada orang yang bapaknya adalah orang Khaldean dan ibunya orang Mesir? Apa engkau menentang kesucian dan keshalehan Hajar? Tentu tidak, karena ia adalah istri dari seorang nabi dan ibu dari seorang nabi, dan ia sendiri memperoleh wahyu Ilahi.

Tuhan yang membuat perjanjian dengan Ismail karenanya menjelaskan hukum waris, yaitu jika seorang lelaki mempunyai dua istri, yaitu satu dicintai dan satunya lagi tidak dicintai, dana masing-masing melahirkan seorang anak laki-laki, dan jika anak dari istri yang tidak dicintai adalah lahir yang pertama (sulung), maka anak itu, dan bukan anak dari istri yang dicintai, berhak atas hak kelahiran (warisan). Konsekuensinya yang lahir pertama akan mewarisi dua kali dari saudaranya (Ulangan 21:15-17). Lantas, apakah hukum ini tidak cukup untuk membungkam semua orang yang menentang klaim Ismail yang pantas atas hak kelahiran (warisan sebagai anak sulung)?

Sekarang kita membahas persoalan hak kelahiran ini sesingkat mungkin. Kita tahu bahwa Ibrahim adalah seorang kepala nomadem dan juga seorang Rasul Tuhan, dan bahwa ia biasa tinggal di tenda dan mempunyai banyak kawanan ternak dan kekayaan. Kini orang-orang suku nomadem tidak mewarisi tanah dan padang rumput, tetapi sang tokoh menyerahkan kepada masing-masing anaknya klan-klan atau suku-suku tertentu sebagai warga negara atau tanggungannya. Peraturannya, yang paling muda mewarisi tungku atau tenda orang tuanya, sedangkan yang lebih tua –kecuali kalau tidak layak– mewarisi singgasananya.

Sang penakluk dari Mongol Jenghiz Khan, digantikan oleh Oghtai, anaknya yang paling tua, yang bertahta di Pekin sebagai Khaqan, tetapi anaknya yang paling muda tetap mendapat tungku bapaknya di Qaraqorum, Mongolia. Sama persis dengan dua anaknya nabi Ibrahim. Ishaq, yang lebih muda, mewarisi tenda bapaknya dan seperti bapaknya, menjalani kehidupan nomadem di tenda-tenda. Tetapi Ismail, dikirim ke Hijaz untuk menjaga rumah Allah yang telah dibangunnya dengan Ibrahim (Q.S.2). Di sinilah ia menetap, menjadi Nabi dan Pangeran di kalangan suku-suku Arab yang mempercayainya.

Di Mekah, Ka’bah menjadi pusat ziarah yang disebut al Hajj . Ismail lah yang mendirikan agama satu Allah yang sejati dan melembagakan Khitanan. Anak cucunya dengan cepat bertambah dan berlipat ganda seperti bintang-bintang di langit.

Dari masa Ismail sampai dengan lahirnya Muhammad, bangsa Arab Hijaz, Yaman, dan lain-lainnya sudah merdeka dan menjadi pemilik atas negeri-negeri mereka sendiri. Kekaisaran Romawi dan Persia tidak berdaya untuk menaklukkan bani Ismail. Meskipun kemusyrikan kemudian diperkenalkan, namun nama Allah, Ibrahim, Ismail, dan beberapa nabi lainnya tetap tidak dilupakan oleh mereka. Bahkan Esau anak Ishaq yang lebih tua, menyerahkan tungku bapaknya kepada adiknya, Yakub, dan tinggal di Edom, disana ia menjadi pemimpin kaumnya dan segera bercampur dengan suku-suku Arab keturunan Ismail, yang adalah paman sekaligus bapak mertuanya.

Kisah tentang Esau yang menjual hak kelahirannya kepada Yakub untuk mendapat sepiring sop kental adalah muslihat busuk yang dibuat-buat untuk menjustifikasikan perlakuan buruk yang dinisbahkan kepada Ismail. Dinyatakan tanpa dibuktikan kebenarannya, bahwa Tuhan membenci Esau dan mencintai Yakub, sementara anak kembar itu masih berada dalam rahim ibunya. Dan bahwa “ saudara yang lebih tua akan menghamba kepada saudara yang lebih muda ” (Kejadian 25, Roma 11:12,13). Tetapi anehnya, laporan lain, mungkin dari sumber lain, menunjukkan kasus ini hanya sebagai kebalikan dari prediksi tersebut diatas. Karena pasal 33 dari Kitab Kejadian, dengan jelas mengakui bahwa Yakub menghamba kepada Esau, didepan siapa ia tujuh kali sujud menghormat, dengan menyebutnya “tuanku” dan menyatakan dirinya sebagai “hambamu”.

Ibrahim dilaporkan memiliki beberapa anak lainnya dari Qitura dan para ’selir’, kepada siapa ia memberikan hadiah atau pemberian dan mengirim mereka ke timur. Mereka semua menjadi suku-suku yang besar dan kuat. Dua belas anak Ismail disebutkan nama-namanya menurut urutannya dan dideskripsikan, masing-masing menjadi tokoh di kota dan kampung atau tentaranya (Kejadian 25). Begitu pula anak-anak dari Qitura, dan lain-lainnya, juga anak-anak keturunan Esau yang disebut nama-nama mereka.

Ketika kita melihat jumlah keluarga Yakub pada saat pergi ke Mesir, yang hampir tidak melebihi 70 kepala, dan ketika ia ditemui oleh Esau diiringi 400 pengawal berkuda dan suku-suku Arab yang kuat yang tunduk pada 12 Emir dari keluarga Ismail, dan kemudian ketika nabi Allah terakhir memproklamirkan agama Islam, semua suku Arab itu secara bersama-sama menyambutnya dengan gembira dan menerima agamanya, dan menyerahkan semua negeri-negeri yang dijanjikan kepada anak-anak Ibrahim, sebenarnya kita harus buta agar tidak melihat bahwa perjanjian dibuat dengan Ismail dan janji teralisir dalam diri nabi Muhammad saw.

Sebelum menyimpulkan bab ini, saya ingin menarik perhatian para pengkaji Alkitab –terutama pengkaji yang kekritisannya terhadap Alkitab lebih tinggi– pada kenyataannya bahwa nubuat-nubuat dan bagian-bagian mesianik merupakan propaganda untuk Dinasti Daud setelah kematian Raja Sulaiman ketika kerajaannya terpecah menjadi dua. Dua nabi besar Elias dan Elisha yang tumbuh subur di Kerajaan Samaria atau Israel, malah tidak menyebut nama Daud ataupun Sulaiman. Yerusalem tidak lagi menjadi pusat agama untuk sepuluh suku dan klaim-klaim kaum Daud terhadap pemerintahan yang abadi ditolak!

Tetapi nabi-nabi seperti nabi Isyaia dan lainnya yang terikat dengan Bait Yerusalem dan Rumah Daud telah meramalkan kedatangan seorang nabi dan raja besar.

Sebagaimana dikatakan dalam artikel pertama, terdapat beberapa tanda nyata yang menjadi pengenal dari Nabi terakhir yang akan datang. Dan tanda-tanda inilah yang akan coba kita telaah dalam uraian-uraian berikutnya.

135. amril - 16 Oktober, 2008

Fren,
Seharusnya kita bisa tamatkan saja diskusi gelap ini. Kesimpulannya;
1. Islam adalah agama yang benar menurut umat islam yang Beriman (saja).
2. Kristen adalah agama yang benar menurut umat kristen yang ber iman saja.

Gak akan ada titik temu.

Biar Sejarah yang menjawab, bahwa Islam adalah agama mayoritas di Indonesia.

Biar Allah yang mengazab siapa yang dikhendaki, dan memberi syurga kepada siapa saja yang dikhendaki.

Untuk mu Agamu, untuk ku Agamaku.

Kita

136. syekh yusuf - 17 Oktober, 2008

Menguak Misteri Muhammad
Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

Pertanyaan Tentang Hak Kelahiran Dan Perjanjian
Ada perselisihan keagamaan yang sangat-sangat lama antara bani Ismailiah dan Israeliah mengenai beberapa persoalan menyangkut hak kelahiran dan perjanjian. Para pembaca Alkitab (Bibel) dan Al-Qur’an mengetahui tentang kisah nabi besar Ibrahim dan kedua anaknya yang bernama Ismail dan Ishaq. Kisah tentang seruan Ibrahim dari kota Ur di Khaldea, dan kisah tentang keturunannya sampai kematian cucunya Yusuf di Mesir, tertulis dalam kitab Kejadian. Dalam silsilahnya sebagaimana terekam dalam kitab Kejadian, Ibrahim adalah keturunan ke dua puluh dari Adam, dan sejaman dengan Raja Namrud, yang membangun menara Babel yang menakjubkan.

Kisah awal tentang Ibrahim di Ur, Khaldea, meskipun tidak disebutkan dalam Alkitab, direkam oleh sejarawan Yahudi terkenal, Joseph Flavius dalam Antiquities-nya dan juga dikonfirmasi oleh Al-Qur’an. Tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa bapak dari Ibrahim bernama Terah (Azar), adalah seorang penyembah berhala (Yoshua 24:2,14)

Ibrahim mewujudkan kecintaan dan kesetiaannya kepada Tuhan ketika ia masuk kedalam bait Allah dan menghancurkan semua patung dan berhala yang ada didalamnya, dan dengan demikian ia adalah prototipe sejati dari keturunannya yang termasyhur, Muhammad. Ia keluar tanpa cedera dan dengan kemenangan dari tungku api yang menyala-nyala yang kedalamnya ia dilemparkan atas perintah Raja Namrud. Ia keluar tanpa cedera dari tungku api yang menyala-nyala. Dengan ketaatan dan kepasrahan mutlak terhadap seruan Ilahi, ia meninggalkan negerinya dan memulai suatu perjalanan yang panjang dan berliku ke negeri Kanaan, Mesir, dan Arabia.

Istrinya, Sarah, mandul; namun Tuhan memberitahukan dia, bahwa dia ditakdirkan untuk menjadi bapak dari banyak bangsa, bahwa semua wilayah yang dia lintasi dalam perjalanan akan diberikan sebagai warisan kepada keturunannya, dan bahwa “ dengan benihnya semua bangsa di muka bumi akan diberkahi ”! Janji yang sangat hebat dan unik dalam sejarah agama ini diterima dengan keimanan yang tak tergoyahkan di pihak Ibrahim, yang tidak punya keturunan, tidak punya anak.

Ketika Ia dibawa keluar untuk memandang ke langit pada malam hari dan diberi tahu oleh Allah bahwa anak cucunya akan sebanyak bintang dilangit dan sama tidak terhitungnya dengan pasir di pantai, Ibrahim mempercayai-Nya. Dan keimanannya kepada Tuhan inilah yang “terhitung sebagai kebajikan”, sebagaimana dikatakan kitab-kitab suci.

Gadis Mesir yang miskin dan berbudi luhur, Hajar namanya, adalah seorang budak dan pelayan Sarah. Atas tawaran dan restu sang nyonya rumah, maka sang pelayanan perempuan pun dikawini oleh Nabi Ibrahim sebagaimana mestinya, dan dari perkawinan ini lahirlah Ismail, sebagaimana diramalkan oleh malaikat.

Ketika Ismail berumur tiga belas tahun, Allah sekali lagi mendatangi Ibrahim melalui Malaikat-Nya dan wahyu; janji lama yang sama diulangi lagi kepada Ibrahim; upacara khitanan secara resmi dilembagakan dan dengan segera dilaksanakan. Ibrahim, pada usianmya yang kesembilanpuluh, Ismail, dan semua pelayan laki-laki, dikhian; dan ‘perjanjian’ antara Tuhan dan Ibrahim bersama satu-satunya anak yang dilahirkan pun dibuat dan disahkan, seakan-akan dengan darah khitan. Hal itu semacam fakta antara Surga dan Negeri yang Dijanjikan yang ditandatangani dalam diri Ismail sebagai satu-satunya keturunan dari kepala keluarga nonagenarian (orang yang berumur antara 90-99 tahun –penerj.). Ibrahim menjanjikan kesetiaan dan kepatuhan pada Penciptanya, dan Tuhan menjanjikan untuk selamanya menjadi Pelindung dan Tuhan dari keturunan Ismail.

Belakangan –maksudnya ketika Ibrahim berusia 99 tahun dan Sarah 90 tahun- ternyata Sarah juga melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ishaq, ini sesuai dengan janji Tuhan.

Karena tidak disampaikan urutan kronologisnya dalam Kitab Kejadian, maka kita diberitahukan bahwa setelah lahirnya Ishaq, Ismail dan ibundanya dikeluarkan dan disuruh pergi dengan cara yang sangat kejam, semata-mata karena Sarah begitu menginginkannya. Ismail dan ibundanya lenyap ditengah gurun pasir; sebuah mata air menyembur ketika sang anak nyaris menemui ajal karena kehausan; ia pun minum dan terselamatkan. Tidak ada lagi yang didengar dari Ismail dalam Kitab Kejadian selain bahwa ia mengawini seorang perempuan Mesir, dan ketika Ibrahim meninggal ia hadir bersama Ishaq untuk menguburkan bapak mereka.

Kemudian kitab Kejadian melanjutkan kisah tentang Ishaq, dua anaknya, dan turunnya Yaqub ke Mesir, dan diakhiri kematian Yusuf.

Peristiwa penting berikutnya dalam sejarah Ibrahim seperti terekam dalam Kitab Kejadian (22) adalah pengorbanan “anak laki-laki satu-satunya” kepada Tuhan, tetapi ia ditebus dengan seekor kambing jantan yang dipersembahkan oleh seorang malaikat. Al-Qur’an mengatakan:

“Seseungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagi Ibrahim) (QS ash-Shaffat 37:106)

Tetapi kecintaannya kepada Allah melebihi setiap kecintaan lainnya; dan karena alasan inilah maka ia dijuluki “Sahabat Allah” (QS.4)

Demikianlah cerita singkat mengenai Ibrahim dalam hubungannya dengan subjek tentang Hak Kelahiran dan Perjanjian.

Ada tiga poin berbeda-beda yang harus diterima sebagai kebenaran oleh setiap orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah:

Poin Pertama , adalah Ismail adalah anak sah Ibrahim, anak pertamanya, dan oleh karena itu klaimnya tentang hak kelahiran sangatlah adil dan sah!

Poin Kedua, adalah bahwa perjanjian dibuat antara Tuhan dan Ibrahim dan juga anak satu-satunya, Ismail, sebelum Ishaq lahir. Perjanjian dan kebiasaan khitan itu tidak akan punya nilai dan arti penting kalau janji yang diulang-ulang itu tidak terkandung dalam firman Tuhan, “ Melaluimu semua bangsa bumi akan diberkahi ” dan khususnya ungkapan Benih “ yang akan keluar dari mangkuk-mangkuk ia akan menjadi ahli warismu ” (Kejadian 15:4). Janji itu dipenuhi ketika Ismail lahir (kejadian 16), dan Ibrahim mendapat penghiburan bahwa pelayan utamanya Eliezer tidak akan lagi menjadi ahli warisnya.

Konsekuensinya, kita harus mengakui bahwa Ismail adalah pewaris martabat dan hak istimewa Ibrahim yang riil dan sah. Hak prerogratif bahwa “ karena Ibrahim maka semua bangsa dibumi akan diberkahi ” begitu sering diulang-ulang–meskipun dalam bentuk-bentuk berbeda– adalah warisan karena hak kelahiran, dan merupakan warisan Ismail dari garis ayah. Warisan yang menjadi hak Ismail karena hak keturunan bukanlah tenda tempat Ibrahim bernaung atau seekor unta tertentu yang biasa ia tunggangi, tetapi hak untuk menaklukkan dan menduduki selamanya wilayah yang membentang dari sungai Nil sampai Efrat yang dihuni oleh sekitar sepuluh bangsa yang berbeda-beda (Kejadian 17:18-21). Negeri-negeri ini belum pernah ditaklukan oleh keturunan Ishaq, melainkan oleh keturunan Ismail. Inilah pemenuhan yang aktual dan sesuai dengan kenyataan terhadap salah satu syarat yang termuat dalam perjanjian.

Poin Ketiga, adalah bahwa Ishaq juga lahir secara ajaib dan secara khusus diberkati oleh Yang Maha Kuasa, dan bahwa untuk kaumnyalah negeri Kanaan dijanjikan dan benar-benar dikuasai oleh Yoshua. Tidak seorang muslim pun pernah berpikir meremehkan kedudukan Ishaq dan anaknya Yaqub yang sakral dan profetis; karena meremehkam seorang nabi adalah sebuah tindakan buruk. Ketika kita membandingkan Ismail dan Ishaq, tidak ada yang dapat kita lakukan selain bersikap ta’zim dan hormat pada mereka berdua sebagai hamba-hamba Allah yang suci.

Sebenarnya, bani Israel, dengan hukum dan kitab sucinya, memiliki sejarah keagamaan yang cukup unik di “dunia lama”. Mereka benar-benar umat pilihan Tuhan, meskipun mereka sering menentang Allah dan jatuh ke dalam kemusyrikan, namun mereka telah melahirkan banyak sekali nabi dan laki-laki serta perempuan yang shaleh ke dunia.

Sejauh ini, tidak ada poin kontroversi yang riil antara bani Ismail dan bani Israel. Karena jika “keberkahan” dan “hak kelahiran” diartikan hanya semacam pemilikan materi dan kekuasaan, maka perselisihan akan diselesaikan sebagaimana telah diselesaikan dengan pedang dan fakta yang telah terjadi mengenai penguasaan Arab atas negeri-negeri yang dijanjikan.

Tidak! Ada poin perselisihan yang fundamental diantara kedua bangsa yang sekarang eksis selama hampir empat ribu tahun; Dan bahwa yang diperselisihkan tersebut adalah mengenai perselisihan mengenai al masih dan Muhammad. Kaum Yahudi tidak melihat pemenuhan atas apa yang disebut nubuat-nubuat Mesianis dalam diri Yesus atau kalau tidak dalam diri Muhammad. Kaum Yahudi selalu cemburu terhadap Ismail, karena mereka sangat mengetahui bahwa karena dirinya maka perjanjian dibuat dan melalui pengkhitanannya maka perjanjian pun ditanda tangani dan disahkan. Dan karena dendam inilah para pendeta dan doktor hukum mereka menyelewengkan dan menyisipkan banyak bagian dalam kitab-kitab suci mereka. Menghapuskan nama Ismail dari ayat ke 2, ke 6, ke 7 dalam pasal ke 20 dalam kitab Kejadian, dan memasukkan nama Ishaq sebagai gantinya, dan meninggalkan julukan deskriptif “satu-satunya anakmu yang dilahirkan” adalah menyangkal eksistensi Ismail dan melanggar perjanjian yang dibuat oleh Allah dan Ismail. Dengan jelas dikatakan oleh Allah dalam pasal ini: “karena engkau tidak mengecualikan satu-satunya anakmu yang dilahirkan, maka Aku akan menambah dan membiakkan keturunanmu sebanyak bintang-bintang di langit dan pasir di pantai.” Kata membiakkan mana yang digunakan oleh malaikat kepada Hajar dipadang gurun: Aku akan membiakkan anak cucumu sampai tak terkira banyaknya, dan bahwa Ismail akan menjadi “ orang yang subur” (Kejadian 16:12) Sekarang umat Kristen telah menerjemahkan kata bahasa Ibrani yang sama, yang berarti “subur” atau “berlimpah” dari kata kerja “para” — identik dengan bahasa arab wefera– dalam versi-versi mereka sebagai “keledai liar”! Tidakkah memalukan dan kufur menyebut Ismail dengan sebutan “keledai liar” sedangkan Allah menyebutnya “subur” dan “berlimpah”.

Sangat luar biasa bahwa Kristus sendiri (seperti dilaporkan oleh kitab Injil Barnabas) yang mencerca kaum Yahudi (dimana kaum Yahudi mengatakan bahwa Rasul Agung yang mereka sebut ‘Mesias’ akan turun dari generasi keturunan Raja Daud, terang-terangan memberi tahu mereka bahwa tidak mungkin ia anak Daud, karena Daud menyebut dia ‘Tuhannya’, dan selanjutnya menjelaskan bagaimana bapak-bapak mereka telah mengubah kitab-kitab suci, dan bahwa Perjanjian dibuat, tidak dengan Ishaq, tetapi dengan Ismail, yang diambil untuk diberikan sebagai pengorbanan kepada Tuhan, dan bahwa ungkapan “satu-satunya anakmu yang dilahirkan” berarti Ismail, bukan Ishaq.

Paulus yang menganggap dirinya sebagai seorang rasul dari Yesus Kristus, menggunakan beberapa kata yang tidak sopan tentang Hajar (Galatia 6:21-23, dan ditempat lainnya) dan Ismail, dan terang-terangan menentang Gurunya. Orang ini telah melakukan segala upaya untuk merusak dan menyesatkan umat Kristen yang dulu dianiayanya sebelum ia memeluk Kristen; dan saya sangat ragu bahwa Yesus versi Paulus tidak mungkin seorang Yesus tertentu, juga anak Maria, yang digantung diatas sebuah pohon sekitar satu abad sebelum Kristus, karena pretensi-pretensi Mesianiknya.

Sesungguhnya, surat-surat Paulus sebagaimana ditunjukkan dihadapan kita penuh dengan doktrin-doktrin yang benar-benar sangat menjijikkan bagi spirit Perjanjian Lama, dan juga spirit Nabi dari Nazaret yang rendah hati.

Paulus adalah seorang Pharisee yang fanatik dan seorang ahli hukum dan filsafat. Setelah memeluk agama Kristen ia malah kelihatan menjadi lebih fanatik lagi dibanding sebelumnya. Kebenciannya terhadap Ismail dan klaimnya terhadap hak kelahiran membuatnya lupa dan mengabaikan hukum Musa yang melarang seorang lelaki menikahi saudara perempuannya sendiri dengan ancaman hukuman mati.

Jika Paulus diberi wahyu oleh Tuhan, maka ia sudah dicela kitab Kejadian sebagai penuh dengan kepalsuan ketika ia mengatakan dua kali bahwa Ibrahim adalah suami dari saudara perempuannya sendiri. Atau kalau tidak, ia sudah menuduh Nabi sebagai pembohong! (Tuhan melarang.) Tetapi ia mempercayai firman-firman dalam kitab, dan kata hatinya tidak menyiksanya setidaknya ketika ia mengidentifikasikan Hajar dengan Gurun Sinai yang tandus, dan sifat-sifat Sarah sebagai Yerusalem diatas surga (Galatia 4:25-26).

Pernahkah Paulus membaca laknat dari hukum ini:

“Terkutuklah orang yang tidur dengan saudaranya perempuan, anak perempuan bapaknya, atau anak perempuan ibunya. Dan seluruh bangsa itu akan berkata: Amin?” (Ulangan 27:22)

Adakah hukum manusia atau Ilahi yang menganggap lebih sah orang yang merupakan anak laki-laki dari paman dan bibinya daripada orang yang bapaknya adalah orang Khaldean dan ibunya orang Mesir? Apa engkau menentang kesucian dan keshalehan Hajar? Tentu tidak, karena ia adalah istri dari seorang nabi dan ibu dari seorang nabi, dan ia sendiri memperoleh wahyu Ilahi.

Tuhan yang membuat perjanjian dengan Ismail karenanya menjelaskan hukum waris, yaitu jika seorang lelaki mempunyai dua istri, yaitu satu dicintai dan satunya lagi tidak dicintai, dana masing-masing melahirkan seorang anak laki-laki, dan jika anak dari istri yang tidak dicintai adalah lahir yang pertama (sulung), maka anak itu, dan bukan anak dari istri yang dicintai, berhak atas hak kelahiran (warisan). Konsekuensinya yang lahir pertama akan mewarisi dua kali dari saudaranya (Ulangan 21:15-17). Lantas, apakah hukum ini tidak cukup untuk membungkam semua orang yang menentang klaim Ismail yang pantas atas hak kelahiran (warisan sebagai anak sulung)?

Sekarang kita membahas persoalan hak kelahiran ini sesingkat mungkin. Kita tahu bahwa Ibrahim adalah seorang kepala nomadem dan juga seorang Rasul Tuhan, dan bahwa ia biasa tinggal di tenda dan mempunyai banyak kawanan ternak dan kekayaan. Kini orang-orang suku nomadem tidak mewarisi tanah dan padang rumput, tetapi sang tokoh menyerahkan kepada masing-masing anaknya klan-klan atau suku-suku tertentu sebagai warga negara atau tanggungannya. Peraturannya, yang paling muda mewarisi tungku atau tenda orang tuanya, sedangkan yang lebih tua –kecuali kalau tidak layak– mewarisi singgasananya.

Sang penakluk dari Mongol Jenghiz Khan, digantikan oleh Oghtai, anaknya yang paling tua, yang bertahta di Pekin sebagai Khaqan, tetapi anaknya yang paling muda tetap mendapat tungku bapaknya di Qaraqorum, Mongolia. Sama persis dengan dua anaknya nabi Ibrahim. Ishaq, yang lebih muda, mewarisi tenda bapaknya dan seperti bapaknya, menjalani kehidupan nomadem di tenda-tenda. Tetapi Ismail, dikirim ke Hijaz untuk menjaga rumah Allah yang telah dibangunnya dengan Ibrahim (Q.S.2). Di sinilah ia menetap, menjadi Nabi dan Pangeran di kalangan suku-suku Arab yang mempercayainya.

Di Mekah, Ka’bah menjadi pusat ziarah yang disebut al Hajj . Ismail lah yang mendirikan agama satu Allah yang sejati dan melembagakan Khitanan. Anak cucunya dengan cepat bertambah dan berlipat ganda seperti bintang-bintang di langit.

Dari masa Ismail sampai dengan lahirnya Muhammad, bangsa Arab Hijaz, Yaman, dan lain-lainnya sudah merdeka dan menjadi pemilik atas negeri-negeri mereka sendiri. Kekaisaran Romawi dan Persia tidak berdaya untuk menaklukkan bani Ismail. Meskipun kemusyrikan kemudian diperkenalkan, namun nama Allah, Ibrahim, Ismail, dan beberapa nabi lainnya tetap tidak dilupakan oleh mereka. Bahkan Esau anak Ishaq yang lebih tua, menyerahkan tungku bapaknya kepada adiknya, Yakub, dan tinggal di Edom, disana ia menjadi pemimpin kaumnya dan segera bercampur dengan suku-suku Arab keturunan Ismail, yang adalah paman sekaligus bapak mertuanya.

Kisah tentang Esau yang menjual hak kelahirannya kepada Yakub untuk mendapat sepiring sop kental adalah muslihat busuk yang dibuat-buat untuk menjustifikasikan perlakuan buruk yang dinisbahkan kepada Ismail. Dinyatakan tanpa dibuktikan kebenarannya, bahwa Tuhan membenci Esau dan mencintai Yakub, sementara anak kembar itu masih berada dalam rahim ibunya. Dan bahwa “ saudara yang lebih tua akan menghamba kepada saudara yang lebih muda ” (Kejadian 25, Roma 11:12,13). Tetapi anehnya, laporan lain, mungkin dari sumber lain, menunjukkan kasus ini hanya sebagai kebalikan dari prediksi tersebut diatas. Karena pasal 33 dari Kitab Kejadian, dengan jelas mengakui bahwa Yakub menghamba kepada Esau, didepan siapa ia tujuh kali sujud menghormat, dengan menyebutnya “tuanku” dan menyatakan dirinya sebagai “hambamu”.

Ibrahim dilaporkan memiliki beberapa anak lainnya dari Qitura dan para ’selir’, kepada siapa ia memberikan hadiah atau pemberian dan mengirim mereka ke timur. Mereka semua menjadi suku-suku yang besar dan kuat. Dua belas anak Ismail disebutkan nama-namanya menurut urutannya dan dideskripsikan, masing-masing menjadi tokoh di kota dan kampung atau tentaranya (Kejadian 25). Begitu pula anak-anak dari Qitura, dan lain-lainnya, juga anak-anak keturunan Esau yang disebut nama-nama mereka.

Ketika kita melihat jumlah keluarga Yakub pada saat pergi ke Mesir, yang hampir tidak melebihi 70 kepala, dan ketika ia ditemui oleh Esau diiringi 400 pengawal berkuda dan suku-suku Arab yang kuat yang tunduk pada 12 Emir dari keluarga Ismail, dan kemudian ketika nabi Allah terakhir memproklamirkan agama Islam, semua suku Arab itu secara bersama-sama menyambutnya dengan gembira dan menerima agamanya, dan menyerahkan semua negeri-negeri yang dijanjikan kepada anak-anak Ibrahim, sebenarnya kita harus buta agar tidak melihat bahwa perjanjian dibuat dengan Ismail dan janji teralisir dalam diri nabi Muhammad saw.

Sebelum menyimpulkan bab ini, saya ingin menarik perhatian para pengkaji Alkitab –terutama pengkaji yang kekritisannya terhadap Alkitab lebih tinggi– pada kenyataannya bahwa nubuat-nubuat dan bagian-bagian mesianik merupakan propaganda untuk Dinasti Daud setelah kematian Raja Sulaiman ketika kerajaannya terpecah menjadi dua. Dua nabi besar Elias dan Elisha yang tumbuh subur di Kerajaan Samaria atau Israel, malah tidak menyebut nama Daud ataupun Sulaiman. Yerusalem tidak lagi menjadi pusat agama untuk sepuluh suku dan klaim-klaim kaum Daud terhadap pemerintahan yang abadi ditolak!

Tetapi nabi-nabi seperti nabi Isyaia dan lainnya yang terikat dengan Bait Yerusalem dan Rumah Daud telah meramalkan kedatangan seorang nabi dan raja besar.

Sebagaimana dikatakan dalam artikel pertama, terdapat beberapa tanda nyata yang menjadi pengenal dari Nabi terakhir yang akan datang. Dan tanda-tanda inilah yang akan coba kita telaah dalam uraian-uraian berikutnya.

137. syekh yusuf - 17 Oktober, 2008

Menguak Misteri Muhammad
Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

Misteri Mispa
Dalam uraian ini, sebagaimana judulnya, saya akan mencoba memberikan suatu penjelasan tentang Stone-Cult (pemujaan batu) bangsa Yahudi kuno, yang mereka warisi dari Ibrahim, nenek moyang mereka, dan menunjukkan bahwa Stone Cult dilembagakan di Mekkah oleh Patriarch (bapak para nabi) itu dan anaknya Ismail. Di negeri Kanaan oleh Ishaq dan Yakub, dan di Moab dan tempat lainnya oleh anak cucu Ibrahim lainnya.

Dengan istilah Stone-Cult perlu dipahami dulu, maksud saya bukan penyembahan batu, yakni kemusyrikan (pemujaan kepada berhalaa); saya mengartikannya sebagai penyembahan Tuhan melalaui batu yang secara khusus dijadikan arah yang dimaksudkan untuk tujuan itu.

Pada jaman dahulu kala tersebut, ketika keluarga pilihan itu menjalani kehidupan nomadem dan menggembala, tidak ada tempat tinggal yang tetap dimana ia dapat membangun rumah, yang khusus dipakai untuk menyembah Tuhan; mereka biasa menegakkan sebuah batu tertentu yang disekelilingnya digunakan untuk melaksanakan haji, maksudnya, berputar tujuh kali dalam bentuk gelang menari.

Kata Hajj (haji) bisa menakuti para pembaca Kristen dan mereka mungkin ciut dengan pemandangannya disebabkan oleh bentuk bahasa Arabnya dan karena sekarang, ia merupakan pelaksanaan ibadah keagamaan kaum Muslim.

Kata Hajj benar-benar identik dalam makna dan etimologinya dengan kata yang sama dalam bahasa Ibrani Hagag dan bahasa semit lainnya. Kata kerja Ibrani Hagag sama dengan kata Arab Haji , satu-satunya perbedaan adalah pengucapan huruf ketiga dari alfabet bahasa semit gamal , yang diucapkan orang Arab sebagai j . Hukum Musa menggunakan kata Hagag atau Haghagh ini,6 ketika memerintahkan pelaksanaan upacara perayaannya. Kata tersebut berarti melingkari sebuah gedung, sebuah altar atau sebuah batu dengan cara berlari mengelilinginya dengan langkah yang tetap dan teratur dengan tujuan melaksanakan perayaan keagamaan sambil bergembira dan bernyanyi.

Di Timur, kaum Kristen masih mempraktekkan apa yang mereka sebut higga selama haru-hari raya atau dalam perkawinan. Konsekuensinya, kata ini tidak ada hubungannya dengan ziarah, yang berasal dari bahasa Itali pellegrino, dan ini pun dari bahasa Latin peregrinus–artinya ‘orang asing’.

Selama persinggahannya, Ibrahim biasa membangun sebuah altar untuk ibadah dan korban ditempat-tempat yang berbeda dan pada kesempatan-kesempatan tertentu. Ketika Yakub sedang dalam perjalanan ke Padan Aram dan melihat pemandangan tangga yang indah itu, ia menegakkan sebuah batu disana, yang diatasnya ia taburi dengan minyak dan menyebutnya Betel, yaitu ‘rumah Tuhan’; dan dua puluh tahun kemudian ia kembali mengunjungi batu itu, yang diatasnya ia taburkan minyak dan ‘anggur murni’ [!] sebagaimana tercatat dalam Kejadian 28:10-22;35.

Sebuah batu khusus ditancapkan sebagai monumen oleh Yaqub dan bapak mertuanya diatas tumpukan batu yang disebut Gal’ead dalam bahasa Ibrani, dan Yaghar sahdutha oleh Laban dalam bahasa Aramianya yang berarti ‘tumpukan kesaksian’. Tetapi, kata benda nama diri yang mereka berikan pada batu yang ditancapkan itu adalah Mispa (Kejadian 31:45-55), dan saya lebih suka untuk menuliskannya dalam bentuk bahasa Arab yang tepat, Mispha , dan hal ini saya lakukan agar bermanfaat untuk para pembaca Muslim saya.

Kini Mispha (Mizpa) ini kemudian menjadi tempat ibadah yang paling penting, dan pusat berkumpulnya bangsa-bangsa dalam sejarah Bani Israil. Disinilah Naphthah (Yefta) – seorang pahlawan Yahudi – bersumpah “dihadapan Tuhan”, dan setelah mengalahkan Bani Amon, ia diharuskan mengorbankan saudara perempuan satu-satunya sebagai sajian yang dibakar (Hakim 11).

Di Mispha semua orang dikumpulkan oleh Nabi Samuel, dimana mereka “bersumpah dihadapan Tuhan” untuk menghancurkan semua patung dan berhala mereka dan kemudian diselamatkan dari tangan orang-orang Filistin (1 1 Samuel 7). Disinilah bangsa itu berkumpul dan Saul ditetapkan sebagai raja atas Bani Israil (1 Samuel 10).

Singkatnya, setiap peristiwa besar nasional diputuskan di Mispha ini atau di Betel. Kelihatan bahwa tempat-tempat suci ini dibangun diatas tempat yang tinggi atau diatas panggung yang ditinggikan, sering disebut Ramoth , yang berarti “tempat tinggi.” Bahkan setelah pembangunan Bait Sulaiman yang indah pun, Mispha tetap diberikan penghormatan yang besar. Namun, seperti Ka’bah di Mekkah, Mispha-mispha ini sering diisi dengan patung-patung dan berhala. Setelah penghancuran Yerusalem dan Bait Allah oleh Bangsa Khaldea, Mispha masih mempertahankan watak sakralnya paling tidak hingga zaman Maccabees selama pemerintahan Raja Antiochus.7

Sekarang, apa artinya kata Mispa ? Pada umumnya kata ini diterjemahkan sebagai “menara pengawas”, dan tergolong kata benda Semitik – Asma Zarf – yang namanya diambil atau berasal dari benda yang mereka cakup atau kandung. Mispa adalah tempat atau bangunan yang namanya berasal dari sapha , kata kuno untuk “batu”. Kata biasa untuk batu dalam bahasa Ibrani adalah iben , dan dalam bahasa Arab hajar . Bahasa Syriac (bahasa Arami kuno yang dipakai oleh orang-orang Syria – penerj ) untuk batu adalah kipa . Tetapi safa atau sapha nampaknya lazim mereka gunakan untuk suatu objek atau orang tertentu ketika ditunjuk sebagai “batu”. Karena itu, makna sebenarnya dari Mispa adalah lokasi atau tempat dimana sebuah sapha atau batu dipasang.

Akan diketahui bahwa ketika nama ini, Mispa , untuk pertama kali diberikan kepada batu yang dipancang diatas tumpukan batu, maka tidak ada bangunan yang didirikan disekelilingnya. Itulah tempat diatas mana sebuah sapha berada, yang disebut mispa .

Sebelum menjelaskan pengertian dari kata benda sapha , saya harus meminta lagi kesabaran para pembaca yang tidak mengerti bahasa Ibrani. Dalam alfabet bahasa Arab tidak ada bunyi p persis sebagaimana bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa Semit lainnya, dimana huruf p , seperti g , kadang-kadang lemah dan diucapkan seperti f atau ph . Dalam bahasa Inggris, biasanya, kata-kata Semitik dan Yunani yang mengandung bunyi f ditransliterasikan dan ditulis dengan sisipan ‘ph’ sebagai ganti ‘f’ , misanya Seraph, Mustapha, dan Philosophy . Sesuai dengan kaidah ini, saya lebih suka menuliskan kata sapha ini dengan safa .

Ketika Yesus Kristus menjuluki murid pertamanya Shim’on (Simon) dengan gelar ‘Petros’ (Peter), sudah pasti yang ia maksud adalah Sapha kuno yang sakral ini yang telah hilang lama! Tetapi, aduh! Kita benar-benar tidak dapat mengemukakan kata yang persis sama yang dia ungkapkan dalam bahasanya sendiri. Bentuk bahasa Yunani Petros dalam jenis kelamin laki-laki (maskulin) – feminimnya Petra – sama sekali tidak kuno dan bukan bahasa Yunani, sehingga kita heran kata tersebut diadopsi oleh gereja.

Apakah Yesus dan orang-orang Yahudi lainnya pernah bermimpi menyebut nelayan Bar Yona sebagai Petros ? Pasti tidak. Versi Syriac yang disebut Pshittha sering mengubah bentuk bahasa Yunani ini menjadi Kipha (Kipa) . Dan fakta bahwa teks Yunani pun telah mempertahankan nama asli “Kephas” yang versi-versi Inggrisnya telah meniru dalam bentuk “Cephas”, menunjukkan bahwa Yesus berbicara bahasa Arami dan memberikan julukan “Kipha” kepada murid utamanya.

Versi-versi Arab kuno Perjanjian Lama sudah sering menuliskan nama Petrus dengan “Sham’un’ as-Sapha”; artinya, “Simon si Batu”. Ucapan Yesus: “Engkau adalah Petrus”, dan sebagainya, mempunyai padanan dalam versi bahasa Arab dalam bentuk “Antas-Sapha” (Matius 16:18; Yohanes 1:42; dan sebagainya).

Oleh karena itu, konsekuensinya jika Simon sebagai sang Sapha , maka gereja yang akan dibangun diatasnya pasti menjadi Mispha . Bahwa Yesus harus menyamakan Simon dengan Sapha dan gereja dengan Mispha sangatlah luar biasa. Tetapi, ketika saya membongkar misteri yang tersembunyi dalam persamaan ini dan hikmah yang terkandung dalam Sapha , maka kata itu mesti diterima sebagai kebenaran yang sangat mengagumkan tentang kelayakan Muhammad atas gelarnya yang agung: “Sang Mustapha”!

Dari apa yang telah dinyatakan diatas, keingintahuan pasti membawa kita untuk mengajukan beberapa pertanyaan:

Mengapa kaum Muslim dan Unitarian (Ahlutauhid) keturunan Ibrahim memilih sebuah batu untuk melaksanakan ibadah keagamaan mereka diatas atau disekelilingnya?

Mengapa batu khusus itu harus diberi nama sapha ?

Apa yang diinginkan penulis? Dan seterusnya–barangkali beberapa lagi

Batu dipilih sebagai material yang paling tepat dimana orang yang taat (pada agamanya) berjalan mengelilinginya, memberikan (ibadah) korbannya, menuangkan minyak dan anggur 8 murninya, dan melaksanakan ibadahnya disekeliling batu. Tentunya lebih dari itu, batu ini ditegakkan untuk memperingati sumpah-sumpah dan janji-janji tertentu yang dibuat oleh seorang nabi atau orang shaleh kepada Penciptanya, dan wahyu yang ia terima dari Tuhan. Konsekuensinya, ia merupakan monumen suci untuk mengabadikan kenangan dan tokoh suci dari suatu peristiwa besar keagamaan.

Untuk tujuan seperti itu, maka tidak ada material lain yang mampu mengungguli batu. Bukan hanya kekerasan dan daya tahan batu yang membuatnya cocok untuk tujuan tersebut, tetapi juga kesederhanaannya, kemurahannya, dan ketidakberhargaannya di suatu tempat yang sepi, akan melindunginya dari setiap daya tarik yang menimbulkan ketamakan atau kebencian manusia untuk mencuri atau menghancurkannya.

Sebagaimana diketahui, Hukum Musa dengan keras melarang memecah atau memahat batu-batu altar. Batu bernama Sapha benar-benar harus dibiarkan alami; tidak boleh ada gambar, prasasti, atau peralatan yang ditulis diatasnya, agar tidak satu pun dari hal-hal tersebut dijadikan sembahan di masa akan datang oleh orang-orang bodoh. Emas, besi, tembaga, atau logam lainnya, tidak dapat memenuhi semua sifat ini yang terdapat dalam batu yang sederhana. Oleh karena itu, akan dimengerti bahwa material yang paling murni, paling tahan lama, paling memenuhi syarat, dan paling aman untuk sebuah monumen yang religius dan sakral tidak bisa selain batu.

Patung Yupiter dari perunggu yang disembah oleh kafir Romawi Pontifex Maximus, diangkut dari Pantheon dan dituang kembali menjadi patung St. Petrus atas perintah seorang Kristen Pontiff. Sebenarnya, hikmah yang terdapat dalam sapha itu mengagumkan dan patut mendapat penghargaan dari orang-orang yang tidak menyembah objek lain, selain Tuhan.

Harus juga diingat bahwa Sapha yang ditegakkan itu tidak hanya merupakan sebuah monumen keramat; tetapi juga merupakan tempat dan sirkuit dimana Sapha itu diletakkan. Karena alasan itulah, maka hajj (haji) kaum Muslim, seperti higga dalam bahasa Ibrani, dilaksanakan mengelilingi bangunan dimana batu suci terpasang.

Adalah fakta yang bayak diketahui bahwa kaum Karamatian yang membawa Batu Hitam dari Ka’aba (Ka’bah) dan menyimpannya di negeri mereka selama sekitar dua puluh tahun, diharuskan membawa dan meletakkannya kembali ditempatnya semula karena mereka tidak dapat menarik para peziarah dari Mekkah. Seandainya, ia adalah emas atau objek berharga lainnya, ia tidak mungkin ada, paling tidak, selama kira-kira lima ribu tahun; atau seandainya pun ada pahatan atau gambar seni diatasnya, maka sudah dihancurkan oleh nabi Muhammad sendiri.

Adapun mengenai makna – atau mungkin makna-makna – Sapha , saya sudah membicarakannya sebagai sifat-sifat batu itu.

Kata Sapha terdiri dari konsonan “sadi” dan “pi” yang diakhiri dengan vokal “hi”, yang mana keduanya sebagai kata kerja dan kata benda. Artinya, dalam bentuk qal -nya, “menyucikan, mengawasi, memandang dari jauh, dan memilih”. Ia juga bermakna “menjadi kuat dan baik”; dalam paradigma pi’el -nya, yaitu kausatif, ia bermakna “membuat suatu pilihan, menyebabkan memilih”, dan seterusnya.

Orang yang mengawasi dari sebuah menara disebut Sophi (2 Raja-raja 9:17, dst.). Di zaman kuno – yaitu, sebelum dibangunnya Bait Sulaiman – nabi atau “Manusia Tuhan” disebut Roi dan Hozi , yang artinya “pelihat (ahli ramal)” (1 Samuel 9:9). Para ahli bahasa Ibrani, tentunya tidak asing dengan kata Msaphpi , atau malah Msappi , yang dalam orthografi sama dengan bahasa Arab Musaphphi , yang berarti “orang yang berusaha keras memilih yang murni, baik, dan kuat”, dan sebagainya.

Pengawas di Menara Yisrael, seperti dikutip tadi, memandang dan mengawasi dengan tajam dari jarak yang sangat jauh untuk melihat dengan jelas serombongan orang yang datang ke kota . Ia melihat utusan pertama sang Raja yang tiba dan bergabung dengan rombongan itu tetapi tidak kembali. Kasus yang sama terjadi pada kasus kedua dan ketiga. Baru kemudianlah sang Sophi dapat melihat dengan jelas ketua rombongan, yakni Yehu. Nah, lantas apa urusan dan jasa pengawas itu? Yaitu mengawasi dengan saksama dari jarak tertentu untuk membedakan sesuatu diantara yang lainnya dengan maksud untuk mengetahui identitasnya dan gerakan-gerakannya, jika benar-benar memungkinkan, dan kemudian menginformasikan kepada rajanya.

Jika Anda bertanya: Apa urusan dan jasa dari Sophi yang sendirian berada di Mispa itu? Jawabannya – yang sekadar bahwa ia biasa mengawasi dari Menara Mispha (Mispa) untuk melihat dengan jelas identitas para peziarah di gurun pasir, atau bahwa ia biasa terus menjaga jangan sampai terjadi suatu bahaya – tidak mampu memuaskan seorang penyelidik yang sangat ingin tahu. Jika demikian, Mispha akan kehilangan watak religius dan sakralnya, dan malahan akan kelihatan sebagai menara pengawas militer.

Namun kasus Sophi dan Mispha sangat berbeda. Pada mulanya, Mispha hanyalah sebuah bait sederhana di sebuah tempat tinggi yang terpencil di Gal’ead dimana sang Sophi beserta keluarga dan pelayannya biasa tinggal. Setelah penaklukkan dan pendudukan negeri Kanaan oleh Israel , jumlah Mispha bertambah, dan mereka segera menjadi pusat-pusat keagamaan yang besar dan berkembang menjadi lembaga-lembaga pengetahuan dan confraternities .9 Mereka kelihatannya seperti Maulawi, Bakhtasy, Naqsyabandi, dan kumpulan-kumpulan keagamaan lainnya, masing-masing berada di bawah Syeikh dan Mursyid-nya sendiri-sendiri. Mereka mempunyai sekolah-sekolah yang menempel di Mispha , dimana hukum, agama, literatur Yahudi dan cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya dijabarkan.

Namun disamping karya kependidikan ini, sang Sophi menjadi kepala tertinggi dari suatu komunitas calon-calon anggota yang biasa dilatih dan diajarinya agama esoteris atau mistis yang kita kenal dengan nama Sophia . Sebenarnya, apa yang kita istilahkan sekarang dengan Suphee ( sufee atau sufi ) kemudian disebut nbiyim atau “nabi,” dan yang disebut, dalam istilah Islam takkas, zikr, atau doa dalam sembahyang, mereka biasa mengatakan “bernubuat.”

Di masa nabi Samuel, yaitu kepala negara dan juga kepala lembaga-lembaga Mispha , para murid dan calon anggota ini sudah menjadi banyak sekali; dan ketika Saul diberi upacara perminyakan suci dan dinobatkan, ia mengkuti zikr atau praktek doa bersama para calon anggota dan diumumkan dimana-mana, “Lihatlah Saul juga ada diantara para nabi.” Dan ucapan ini menjadi sebuah peribahasa karena ia juga “bernubuat” bersama kelompok nabi-nabi (1 Samuel 10:9-13).

Kaum Sufi diantara kaum Yahudi masih terus sebagai kelompok keagamaan esoteris di bawah supremasi seorang nabi jamannya sampai meninggalnya Raja Sulaiman. Setelah kerajaan terbagi menjadi dua, nampaklah bahwa telah terjadi pula perpecahan hebat diantara para Sophi . Di zaman nabi Elia, sekitar 900 SM, konon ia adalah satu-satunya nabi sejat yang masih ada dan bahwa semua nabi lainnya terbunuh, dan bahwa ada delapan ratus lima puluh nabi dari Baal dan Asyera (Ishra) yang “makan di meja Ratu Izebel” (1 Raja-raja 18:19). Namun hanya beberapa tahun kemudian, murid dan pengganti Elias, nabi Elisa, di Betel dan Yericho di penuhi oleh banyak sekali “anak-anak para nabi” yang meramalkan dia tentang kenaikan tuannya, Elia, yang sudah dekat (2 Raja-raja pasal 2).

Bagaimanapun keadaan riil para Sophi ( Sophee ) Yahudi setelah terjadinya perpecahan besar dalam keagamaan dan kebangsaan, satu hal pasti, bahwa pengetahuan sejati tentang Tuhan dan ilmu agama esoteris terus dipertahankan sampai munculnya Yesus Kristus, yang membangun Komunitas Inisiasi dalam Agama Batin pada Simon sang Sapha , dan bahwa para Sophi sejati atau para peramal dari Mispha Kristen terus menghidupkan pengetahuan ini dan menjaganya sampai munculnya Pilihan Allah, Muhammad al-Mustapha – bahasa Ibrani “ Mustaphi ”!

Alkitab menyebutkan – sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya – banyak sekali nabi terkait dengan Mispha , tetapi kita harus memahami benar bahwa, sebagaimana dinyatakan Al-Qur’an dengan jelas, “Allah sangat mengetahui siapa yang akan ia tunjuk sebagai rasul-Nya” (QS Al-An’am); bahwa Dia tidak memberikan karuania kenabian kepada seseorang karena keningratan, kekayaan, atau bahkan keshalehannya, tetapi karena keridoan-Nya. Keimanan dan semua amal shaleh, meditasi, latihan spiritual, shalat, puasa, dan pengetahuan Ilahiah bisa mengangkat orang baru menjadi seorang musyid atau pembimbing spiritual, atau ke tingkat orang suci, tetapi tidak akan pernah ke status seorang nabi; karena kenabian tidak diperoleh melalui usaha, namun sebagai karunia Allah. Bahkan dianatara para nabi, hanya ada beberpa saja yang berstatus Rasul dengan membawa kitab khusus dan ditugaskan untuk memimpin kaum tertentu atau membawa misi khusus. Oleh karena itu, istilah “nabi” seperti digunakan dalam kitab-kitab suci bahasa Ibrani sering bermakna ganda.

Saya juga harus menyatakan dalam kaitan ini bahwa barangkali sebagian besar materi Alkitab adalah karya atau hasil dari Mispha-Mispha ini sebelum Penahanan Bangsa Babylonia, atau bahkan lebih awal lagi, tetapi kemudian direvisi oleh tangan-tangan yang tidak dikenal sampai memiliki bentuk seperti kita kenal sekarang.

Sekarang masih membicarakan tentang Sufisme Muslim dan kata Yunani Sophia (hikmah); dan diskusi tentang dua sistem pengetahuan tinggi ini benar-benar berada di luar lingkup artikel ini, adalah studi atau ilmu pengetahuan yang lebih luas dari istilah ini, adalah studi atau ilmu pengetahuan tentang prinsip-prinsip wujud pertama; dengan kata lain, filsafat melampaui batas-batas fisik dalam mengkaji wujud sejati, dan meninggalkan studi tentang sebab-sebab atau hukum-hukum dari sesuatu yang terjadi atau yang terlihat di alam. Perlu usaha yang sangat keras untuk menemukan kebenaran.

Sufisme Islam adalah perenungan tentang Allah dan diri ( nafs ), dan perlu usaha yang sangat keras untuk mencapai penyatuan diantara keduanya. Keunggulan Sophia Islam dibandingkan filsafat Yunani nampak jelas dari objek yang dilihatnya. Dan pasti lebih unggul dari paham membujang dan kebiaraan Kristen dalam pengabaiannya terhadap hati nurani dan keyakinan orang lain. Seorang Sophi (sufi) Muslim selalu mempunyai respek terhadap agama lain, menertawakan ide bid’ah dan benci terhadap semua penganiayaan dan penindasan.

Sebagian besar Santo (orang suci) Kristen adalah penganiaya tukang bid’ah, atau kalau tidak, dianiaya tukang bid’ah, dan para santo terkenal dalam ketidaktolerannya.

Sebagai pernyataan kedua, saya ingin menambahkan bahwa para penulis Muslim selalu menulis kata Yunani philosophy (filosifi) dalam bentuk Phelsepha (filsafat) dengan sin sebagai ganti sadi atau tzadi , yakni salah satu huruf konstituen dalam kata Ibrani dan Arab Sapha dan Sophi . Saya kira bentuk ini diperkenalkan ke dalam literatur Arab oleh penerjemah Assyria yang tadinya anggota sekte Nestorian. Bangsa Turki menulis St. Sophia di Konstantinopel dengan sadi , tetapi filosofi dengan sin , seperti samekh orang Yahudi. Saya percaya bahwa bahasa Yunani Sophia harus diidentifikasi secara etimologis dengan kata bahasa Ibrani; dan ide bahwa kata Muslim Sophia ( sawfiya ) berasal dari soph , yang berarti “wol,” harus ditinggalkan.

Sophia – atau hikmah – sejati, pengetahuan sejati tentang Tuhan, ilmu sejati tentang agama dan moralitas, dan pemilihan mutlak Rasul Allah terakhir dari diantara seluruh Utusan-Nya, termasuk institusi kuno Israel yang disebut Mispha sampai ia diubah bentuknya menjadi Mispha kaum Nassara atau Kristen.

Sangat mengagumkan melihat betapa lengkap analoginya dan betapa perekonomian Tuhan mengenai urusan-Nya dengan manusia dilaksanakan dengan keseragaman dan tata tertib yang mutlak. Mispha adalah filter dimana semua data dan orang disaring dan diteliti oleh Musaphphi (bahasa Ibrani, Mosappi ) sebagaimana oleh sebuah alat pemeras (karena demikianlah makna dari kata tersebut) agar yang asli dibedakan dan dipisahkan dari yang palsu, dan yag bersih dari yang kotor; namun abad demi abad silih berganti, beribu-ribu nabi datang dan pergi, masih saja sang Mustapha , manusia pilihan, belum muncul.

Kemudian datanglah Yesus yang kudus, namun ia ditolak dan dianiaya, karena tidak ada lagi di Israel Mispha resmi yang akan mengakui dan mengumumkan dia sebagai Rasul Tuhan sejati yang diutus untuk memberikan kesaksian kepada sang Mustapha yang merupakan nabi terkahir setelahnya. “Majelis Agung Synagog” yang diadakan Ezra dan Nehemia, yang anggota terakhirnya adalah “Simeon Yang Adil” (310 SM), digantikan oleh Pengadilan Tertinggi Yerusalem, namanya “Sahedrin”; namun majelis yang belakangan ini, yang diketuai oleh Nassi atau sang “Pangeran,” menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus karena ia tidak mengenal orangnya dan sifat dari misi Ilahiahnya.

Namun segelintir Sophi mengetahui Yesus dan mempercayai misi kenabiannya, akan tetapi khalayak pada satu waktu keliru karena mengira dia sang Mustapha atau Rasul Allah yang “terpilih,” dan meraih serta menyatakannya sebagai raja, namun ia menghilang dari tengah-tengah mereka. Dia bukan sang Mustapha , kalau tidak maka akan menggelikan seandainya menjadikan Simon sebagai Sapha dan Gerejanya sebagai Mispha . Karena tugas dan kewajiban Mispha adalah mengawasi dan mencari sang Rasul Terakhir, agar ketika ia datang ia akan diproklamirkan sebagai Orang Terpilih (sang Mustapha ). Jika Yesus adalah Mustapha , maka tidak perlu lagi ada lembaga Mispha . Ini memang pokok bahasan yang sangat dalam menarik, dan patut dikaji dengan sabar. Muhammad al-Mustapha adalah misteri Mispha , dan harta karun Sophia.

——————————————————————————–

Footnotes

6. Tidak seperti bangsa Arab yang mengenal j . Bangsa Yahudi dan Arami tidak mengenal bunyi j dalam alfabet mereka; huruf ketiga mereka gamal , apabila keras berbunyi g dan apabila lembut ada bunyi tambahan h nya sehingga menjadi gh .

7. Alkitab yang saya rujuk tidak memuat kitab-kitab Perjanjian Lama deutrocanonical atau Apocryphal. Alkitab ini diterbitkan oleh American Bible Society (New York, 1893). Judulnya adalah Ktabhi Qaddishi Dadiathiqi Wadiathiqi Khadati an S’had-watha Poushaqa dmin lishani qdimaqi. Matba ‘ta d’dasta. Biblioneta d’America [Kitab-kitab suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, disertai konkordasi atau kesaksian-kesaksian. Terjemahan dari bahasa-bahasa kuno. Terbit di Press of The American Bible Society].

8. Anggur tidak haram bagi orang Israel .

9. Perkumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan dan profesi yang sama – penerj

138. syekh yusuf - 17 Oktober, 2008

Menguak Misteri Muhammad
Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

Muhammad Adalah Sang Syiloh
Yaqub, cucu Ibrahim, terbaring sakit ditempat tidur; usianya sudah seratus empat puluh tujuh tahun, dan ajal sedang mendekat dengan cepat. Ia memanggil keduabelas anak dan sanak keluarganya ketempat tidurnya, dan mendoakan setiap anak serta meramal masa depan sukunya. Peristiwa ini secara umum dikenal sebagai “kesaksian Yaqub”, dan ditulis dalam gaya bahasa Ibrani yang bagus sekali dengan sentuhan puitis. Ia mengandung beberapa kata yang unik dan tidak pernah muncul lagi dalam Alkitab.

Kesaksian tersebut mengingatkan pada berbagai macam peristiwa dalam kehidupan seorang manusia yang selalu naik turun. Dilaporkan bahwa Yaqub mengambil keuntungan dari rasa lapar saudaranya dan menjual hak kelahirannya untuk mendapat sepiring sop kental, dan menipu bapak tuanya yang buta dan mendapatkan berkah yang menurut hak kelahiran adalah milik Esau. Ia mengabdi selam sepuluh tahun untuk mengawini Rahel, tapi dibohongi oleh bapaknya Rahel, karena dikawinkan dengan kakaknya, Liah; maka ia harus mengabdi tujuh tahun lagi untuk mendapatkan Rahel. Pembantaian semua penduduk laki-laki oleh dua anak Yaqub, Simon dan Levi, karena penzinaan saudara perempuan Yaqub, Dina, oleh Skhekhim, tokoh kota itu, telah sangat membuatnya bersedih hati. Perbuatan memalukan anak pertamanya, Ruben, ketika mengotori tempat tidur bapaknya dengan tidur bersama selirnya tidak pernah dilupakan ataupun dimaafkan olehnya. Tetapi kesedihan terbesar yang menimpanya setelah kehilangan terbesar yang menimpanya setelah kehilangan istri tercintanya Rahel adalah menghilangnya selama beberapa tahun anak laki-laki kesayangannya, Yusuf. Kepergiannya ke Mesir dan pertemuan dengan Yusuf membuatnya sangat gembira dan memulihkan kebutaannya. Yaqub adalah seorang nabi, dan dipanggil oleh Tuhan dengan julukan “Israel”, nama yang diadopsi oleh dua belas suku yang menjadi keturunannya.

Kebijakan tentang perebutan hak kelahiran direkam dalam catatan-catatan Kitab Kejadian, dan Yaqub ditampilkan sebagai seorang pahlawan pelanggaran hak-hak orang lain ini. Dilaporkan, Yaqub memberikan hak kelahiran cucunya, Manasye, kepada adik laki-lakinya, Efraim, meskipun dikeluhkan bapak mereka, Yusuf (pasal 48). Ia mencabut hak kelahiran anak pertamanya dan memberikan restunya kepada Yudas, anaknya yang keempat, karena yang pertama kepergok tidur dengan Bilha, “selir” Yaqub, yakni ibu dari dua anaknya, Dan dan Nefthalli; dan mencabut hak Yehuda karena ia tidak lebih baik dari yang lainnya, dimana ia berzina dengan adik tirinya sendiri, Tamar, yang membuahkan seorang anak laki-laki yang menjadi nenek moyang Daud dan Yesus Kristus (pasal 25:22;pasal 38)

Sungguh tidak masuk akal kalau penulis, atau paling tidak editor terakhir, dari kitab ini “diberi wahyu oleh Roh Kudus”, sebagaimana dinyatakan kaum Yahudi dan kristen. Yaqub dilaporkan telah mengawini dua saudara perempuannya sekaligus, suatu perbuatan yang dikutuk oleh hukum Tuhan (Imamat 18:18). Sebenarnya, dengan kekecualian Yusuf dan Benyamin, anak-anak dia lainnya digambarkan sebagai gembala-gembala yang kasar, pembohong (kepada bapak mereka dan kepada Yusuf), pembunuh, pezina, yang berarti itu adalah sebuah keluarga yang tidak pantas menjadi keluarga seorang nabi sama sekali.

Tentu saja, kaum Muslim tidak dapat menerima fitnah apapun terhadap seorang Nabi atau orang shaleh kalu tidak secara jelas dicatat atau disebutkan dalam Al-Qur’an. Kita tidak mempercayai kebenaran dari dosa yang dinisbahkan kepada Yehuda (badingkan pasal 38), kalau tidak maka restu yang diberikan kontradiktif; dan restu inilah yang akan kita kaji dan diskusikan dalam artikel ini.

Yaqub tidak mungkin merestui anaknya, Yehuda, jika Yehuda benar-benar bapak dari anak dari saudara perempuan tirinya, Peres, karena kedua pezina akan dijatuhi hukuman mati oleh Hukum Tuhan, Yang telah memberinya karunia kenabian (Imamat 20:12). Namun, kisah Yaqub dan kisah tentang keluarganya yang sangat tidak pantas dicontoh ini terdapat dalam Kitab Kejadian (pasal 25:-1)

Nubuat yang terkenal, yang bisa dianggap sebagai inti dari kesaksian ini, terkandung dalam ayat kesepuluh dari pasal empat puluh sembilan kitab Kejadia, sebagai berikut:

Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda,
dan pemberi hukum [lambang pemerintahan] dari antara kakinya.
sampai datangnya Syiloh,
dan miliknyalah ketaatan umat manusia.

Ini adalah terjemahan harfiah dari teks bahasa Ibrani yang mampu saya pahami. Ada dua kata dalam teks tersebut yang unik yang unik dan tidak muncul di tempat lain dalam Perjanjian Lama adalah Syiloh ” dan satunya lagi Yiqha atau Yiqath .

Syiloh terbentuk dari empat huruf ibrani yakni syin, yod, lamed, dan hi . Ada “ Syiloh ” nama sebuah kota di Efraim (I Samuel 1), tetapi tidak ada yod didalamnya. Nama ini tidak dapat disamakan dengan atau merujuk kepada kota tempat dimana Bahtera Perjanjian ( Ark of the Convenant) atau tempat ibadat berada. Karena, sampai saat itu tidak ada sceptre (tongkat kerajaan) atau lawgiver (pemberi hukum) muncul dari suku Yehuda. Kata tersebut pasti merujuk kepada seseorang dan bukan nama sebuah tempat.

Seingat saya semua versi Perjanjian Lama telah mempertahankan Syiloh asli ini tanpa memberinya perubahan atau terjemahan. Hanya pshittha versi Syriac (dalam bahasa Arab disebut al-bassitha ) yang telah menerjemahkannya menjadi “Dia yang memilikinya”. Mudah untuk mengetahui bagaimana si penerjemah telah memahami kata itu seperti tersusun dari “ sh ” yang disingkatkan dari asher = “dia (laki-laki) itu” dan loh (Arab lahu ) = “adalah miliknya”. Konsekuensinya, menurut pshittha, kalimat itu harus dibaca dengan cara berikut :” Sampai dia yang memilikinya datang”. Kata ganti “-nya” bisa menunjuk kepada “ketaatan” dalam anak kalimat keempat dari ayat tersebut, bahasanya bernada puitis. Menurut versi yang penting ini maka ramalannya adalah begini:

“Karakter raja dan kenabian tidak akan hilang dari Yehuda sampai dia yang memilikinya datang, karena miliknya lah penghormatan manusia.”

Tetapi nampaknya tidak ada alasan yang rasional untuk suatu perubahan yang disengaja dari heth dan hi , karena yod dipertahankan dalam bentuk syiloh sekarang ini, dengan tanpa vaw , yang diperlukan untuk bentuk kata kerja lampau Syluh . Disamping itu, Septugint10 mempertahankan Syiloh seperti apa adanya. Oleh karena itu, satu-satunya perubahan yang mungkin adalah perubahan huruf terakhir heth menjadi hi . Andaikan seperti itu kejadiannya, maka kata tersebut akan mengambil bentuk Syiluh dan sangat cocok dengan “Utusan Yahweh” atau utusan Tuhan. Saya tahu bahwa kata Syiluah juga bersifat teknis untuk “surat cerai”, dan hal ini karena istri yang dicerai berarti “disuruh pergi”.

Saya pikir tidak ada interpretasi lain untuk nama tersebut selain dari tiga versi yang sudah saya sebutkan.

Sudah pasti dengan sendirinya baik umat Yahudi maupun Kristiani meyakini berkah ini sebagai salah satu nubuat mesianistik yang paling penting. Bahwa Yesus, nabi dari Nazaret adalah seorang kristus/ mesias tidak seorang muslim pun menyangkal. Karena Al-Qur’an sungguh-sungguh mengakui gelar itu. Bahwa setiap Raja Israel dan Imam tertinggi diberi upacara perminyakan suci dengan minyak suci yang terdiri atas minyak zaitun dan berbagai macam rempah (Imamat 30:23-33). Bahkan Raja Persia Zarduthi Koresy disebut Kristus Tuhan, “Demikianlah berkata Tuhan kepada Kristus-Nya, Koresy,” dan seterusnya (Yesaya 45:1-7).

Adapun mengenai Yesus, meskipun misi kenabiannya diakui oleh kaum Yahudi, tugas Mesianiknya tidak pernah diterima oleh mereka. karena tidak ada satu pun tanda atau ciri sang Mesias yang mereka harapkan terhadap pada orang yang berusaha mereka salib, umat Yahudi mengharapkan seorang Mesias yang memiliki pedang dan kekuasaan duniawi seorang penakluk yang akan mengembalikan dan memperluas kerajaan Daud, dan seorang Mesias yang akan menyatukan Israel yang bubar di negeri Kanaan, dan menundukkan banyak bangsa dibawah penindasannya; tetapi mereka tidak pernah dapat menyambut gembira seorang pengkhotbah di atas Gunung Zaitun atau yang lahir dalam sebuah palung.

Untuk menunjukkan bahwa nubuat yang sangat kuno ini secara praktis dan harfiah telah terpenuhi pada Muhammad, maka argumen-argumen berikut dapat diajukan. Ayat yang menyatakan “tongkat pemegang kekuasaan” dan pemberi hukum”, dengan suara bulat diakui oleh para penafsir bahwa orang yang dinanti-nanti tersebut adalah seorang nabi sekaligus pemegang kekuasaan duniawi. Tanpa berhenti lama untuk memeriksa akar kata dan derivasi dari kata tunggal kedua “ yiqha” . Kita bisa mengambil salah satu dari dua pengertiannya, yakni “ ketaatan” atau “ harapan ”.

Mari kita ikuti interpretasi pertama Syiloh seperti yang diberikan dalam versi pshittha : “ dia yang memilikinya ”. Secara praktis kalimat ini berarti “ pemilik tongkat kekuasaan dan hukum ”. Atau “ dia yang memiliki tongkat kekuasaan dan hukum ”, dan miliknya lah ketaatan segala bangsa. Lantas siapakah orang tersebut? Pasti bukan Musa, karena ia adalah organisator pertama 12 suku bani Israel , dan sebelum dia tidak pernah muncul seorang nabi dan raja dari suku Yehuda. Jelas bukan Daud, karena dia adalah raja dan nabi pertama keturunan Yehuda. Dan tentuk bukan Yesus Kristus, karena dia sendiri menolak gagasan bahwa Mesias yang ditunggu-tunggu adalah anak Daud (Matius 22:44,45; Markus 12:35-37; Lukas 20:41-44). Dia tidak meninggalkan hukum tertulis dan tidak bermimpi mendapatkan tongkat kerajaan; malahan, ia menasihati kaum Yahudi agar bersifat loyal terhadap Caesar dan membayar upeti kepadanya, dan pada satu kesempatan khalayak berusaha menjadikannya seorang raja, tetapi ia lari dan menyembunyikan diri. Kitab Injilnya ditulis dalam lembaran hatinya, dan ia menyampaikan pesan “kabar-kabar baik”-nya tidak in scriptio (dalam bentuk tulisan), tetapi secara lisan.

Dalam nubuat ini tidak ada soal penyelamatan dari dosa asal dengan darah seorang yang disalib, tidak juga soal kekuasan seorang imam atas hati manusia. Disamping itu, Yesus tidak membatalkan Hukum Musa, melainkan dengan jelas menyatakan bahwa ia telah datang untuk memenuhinya; juga ia bukan nabi terakhir; karena setelah dirinya Paulus membicarakan banyak “nabi” dalam gereja.

Muhammad datang kekuatan militer dan Al-Qur’an untuk menggantikan tongkat kekuasaan kaum Yahudi lama yang sudah usang dan hukum pengorbanan yang tidak dapat dilaksanakan dan sudah kuno serta kependetaan yang korup. Ia memproklamirkan agama yang paling murni dari Tuhan yang sejati, dan meletakkan ajaran-ajaran dan aturan-aturan praktis yang paling baik untuk moral dan perilaku manusia. Ia menegakkan agama Islam yang telah menyatukan banyak bangsa dan kaum yang tidak menyekutukan Tuhan dengan apapun kedalam satu persaudaraan yang nyata.

Interpretasi kedua dari tetragram “ Syilh ” (dibaca Syiloh), sama pentingnya dan cocok untuk Muhammad. Sebagaimana ditunjukkan tadi, kata ini berarti “tenang, damai, terpercaya, diam, dan sebagainya”. Bahasa Arami dari kata ini adalah “ Syilya ” yakni dari akar kata yang sama Syala atau Syla . Kata kerja ini tidak dipergunakan dalam bahasa Arab.

Adalah fakta yang terkenal dalam sejarah Nabi Arabia, bahwa sebelum panggilan Kerasulannya, ia benar-benar tenang, damai, terpercaya, dan suka merenung serta sifatnya menarik; ia dijuluki oleh orang-orang Mekah sebagai “Muhammad al-Amin.” Ketika orang-orang Mekah memberi gelar “Amin” ini kepada Muhammad, mereka tidak memiliki gagasan yang paling jauh tentang “Syiloh”, namun kebodohan kaum musyrikin Arab digunakan oleh Tuhan untuk mempersulit kaum kafir Yahudi yang memiliki kitab-kitab suci dan mengetahui isinya.

Kata arab amanah, seperti kata Ibrani aman, “kokoh, konstan, aman,” dan karenanya “tenang, setia, dan terpercaya,” menunjukkan bahwa “amin” persis sama artinya dengan Syiloh, dan memberikan semua arti yang terkandung didalamnya.

Muhammad, sebelum ia diperintahkan oleh Allah untuk menyebarkan agama Islam dan menghapus kemusyrikan yang berhasil dia jalankan, adalah orang yang paling tenang dan jujur di Mekah; ia bukanlah seorang pejuang ataupun seorang pembuat undang-undang; namun setelah menerima misi kenabianlah maka ia menjadi pembicara yang paling fasih dan orang Arab yang paling gagah berani. Ia memerangi kaum kafir dengan pedang di kanan, bukan demi agama-Nya–Al-Islam. Ia ditunjukkan oleh Allah kunci-kunci perbendaharaan dunia, tetapi ia tidak menerimanya, dan ketika wafat praktis ia sebagai orang miskin.

Tidak ada hamba Allah lainnya, apakah seorang raja atau seorang nabi, yang telah memberikan pelayanan yang sangat mengagumkan dan murni kepada Tuhan dan kepada manusia sebagaimana telah dilakukan Muhammad: kepada Tuhan dalam membasmi kemusyrikan dari sebagian besar dunia, dan kepada manusia dengan memberikan agama yang paling sempurna dan hukum yang terbaik untuk petunjuk dan keselamatannya. Ia meraih tongkat kekuasaan dan hukum dari kaum Yahudi; memperkuat tongkat kekuasaan dan menyempurnakan hukum.

Jika Muhammad diizinkan untuk muncul kembali saat ini di Mekah atau di Madinah, ia akan ditemui oleh kaum Muslim dengan kasih-sayang dan “ketaatan” yang sama dengan yang ia saksikan disana ketika ia didunia. Dan ia akan menyaksikan dengan rasa senang yang mendalam bahwa kitab suci yang telah ditinggalkannya ternyata masih sama tanpa ada sedikit pun perubahan didalamnya, dan bahwa Kitab sucinya dikumandangkan dan dibaca persis seperti yang dulu ia dan para sahabatnya lakukan. Ia akan gembira dengan memberi mereka ucapan selamat atas kesetiaan mereka kepada agama dan ketauhidan Allah, dan kepada fakta bahwa mereka tidak menjadikan beliau sebagai tuhan atau anak tuhan.

Adapun interpretasi ketiga dari “ Syiloh ”, saya menyatakan bahwa bisa jadi ia merupakan perubahan dari “ Syluah ” dan dalam hal ini maka sudah pasti sesuai dengan gelar nabi dalam bahasa Arab yakni Rasul/pesuruh. “ Syluah Elohim ” dalam bahsa Ibrani adalah sama persis dengan “ Rasul Allah ” dalam bahasa Arab. Sebuah ungkapan yang dikumandangkan lima kali sehari oleh Muazin (tukang Adzan Shalat) dari menara semua mesjid di dunia.

Dalam Al-Qur’an beberapa nabi, terutama nabi-nabi yang diberi kitab suci, disebut sebagai Rasul; tapi dimana pun dalam Perjanjian Lama kita tidak dapat menemukan Syiloh atau Syluh kecuali dalam Wasiat Yaqub.

Kini, dari sudut pandang manapun kita mencoba mengkaji dan memeriksa nubuat Yaqub ini, kita dipaksa, dengan alasan pemenuhan sesungguhnya dari nubuat itu dalam Muhammad, untuk mengakui bahwa umat Yahudi sia-sia mengharapkan kedatangan Syiloh lain, dan bahwa umat Kristiani dengan kepala batu tetap bersikukuh mempertahankan kesalahan mereka dalam meyakini bahwa Yesus-lah Syiloh yang dimaksud.

Kemudian ada dua observasi lain yang patut mendapat perhatian serius kita:

Pertama , sangat jelas bahwa “tongkat kekuasaan” dan “legislator” akan tetap dari suku Yehuda sepanjang Syiloh tidak muncul ditempatnya. Menurut pengakuan kaum Yahudi, baik tongkat kerajaan maupun suksesi kenabian masih tetap ada dan milik suku itu.

Kedua , harus diperhatikan bahwa suku Yehuda juga telah lenyap bersama dengan otoritas kerajaan dan saudaranya– suksesi kenabian. Memperhatikan eksistensi dan identitas kesukuan merupakan syarat yang diperlukan untuk menunjukkan bahwa suku secara keseluruhan hidup ditanah airnya sendiri atau dimanapun secara kolektif dan menggunakan bahasanya sendiri.

Tetapi untuk kaum Yahudi, kasusnya malah sebaliknya. Untuk membuktikan diri sebagai orang Israel , Anda tidak perlu susah untuk itu, tetapi Anda tidak pernah dapat membuktikan diri sebagai anggota salah satu dari dua belas suku bani Israel . Sehingga Anda akan gagal.

Sebagai pengamatan ketiga, harus diperhatikan bahwa teks dengan jelas menyatakan, dan sangat bertentangan dengan keyakinan baik kaum Yahudi maupun umat Kristen, bahwa Syiloh sama sekali asing bagi suku Yehuda dan juga semua suku lainnya. Hal ini akan terang sekali, bahwa hanya dalam beberapa menit saja merenung sudah cukup untuk meyakinkan seseorang.

Nubuat dengan jelas menunjukkan bahwa ketika Syiloh datang dengan sceptre (tongkat kekuasaan) dan law-giver (pemberi hukum) akan hilang dari Yehuda. Dan itu hanya dapat terealisir jika Syloh bukan orang dari suku Yehuda. Jika Syiloh adalah keturunan Yehuda, bagaimana bisa dua elemen tersebut menghilang dari suku tersebut ? Tidak mungkin Syiloh adalah keturunan dari salah satu suku bani Israel lainnya, karena sceptre dan law-giver adalah untuk semua bani Israel . Observasi ini juga membuktikan kesalahan klaim kaum Kristiani. Karena Yesus adalah keturunan Yehuda-paling tidak dari jalur ibunya.

Saya sering kali mempertanyakan kaum Yahudi yang sering berpindah-pindah tempat dan melakukan kesalahan ini. Karena lebih dari 25 abad mereka telah mempelajari seratus bahasa manusia yang mereka layani. Karena bani Ismail dan bani Israel , keduanya adalah keturunan sah dari nabi Ibrahim, lantas apa urusannya bagi mereka jika Syiloh berasal dari Yehuda atau Zebulun, dari Esau atau Isakhar, dari Ismail atau Ishaq, sepanjang ia adalah keturunan dari Ibrahim, bapak mereka? Taatilah Hukum Muhammad, jadilah Muslim, maka Anda dapat pergi dan tinggal di tanah air lama Anda dalam kedamaian dan keselamatan.

——————————————————————————–

Footnotes

10. Perjanjian Lama terjemahan Yunani yang dibuat pada abad ketiga SM [Latin, septuagint, tujuh puluh, "Sang Tujuh Puluh", penunjukkan 70 atau 72 sarjana Yahudi yang, menurut tradisi yang tidak historis, menyelesaikan terjemahan dalam 72 hari di pulau Faros]–penerj.

139. syekh yusuf - 17 Oktober, 2008

Menguak Misteri Muhammad
Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

Muhammad Dan Kaisar Konstantin Agung
Nubuat yang paling menakjubkan dan paling nyata tentang misi Ilahiah dari manusia teragung dan Rasul Tuhan, yang termuat dalam pasal tujuh Kitab Danil, patut dikaji secara serius dan objektif. Didalamnya peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah umat manusia, yang silih berganti dalam periode lebih dari seribu tahun, ditunjukkan oleh sosok empat monster besar dalam penglihatan mimpi Danil.

“Empat angin dari langit menderu-deru di laut besar.” Binatang pertama yang muncul dari dalam laut adalah seekor singa bersayap; kemudian datang binatang kedua dalam bentuk seekor beruang yang menggigit tiga tulang rusuk diantara gigi-giginya. Disusul oleh binatang ketiga yang mengerikan dalam bentuk seekor macan tutul yang memiliki empat sayap dan empat kepala. Binatang keempat, lebih hebat dan ganas dari tiga yang pertama, adalah monster yang memiliki sepuluh tanduk diatas kepalanya, dan mempunyai gigi-gigi besi di mulutnya. Kemudian satu tanduk kecil mencuat di tengah tanduk-tanduk lainnya, dan sebelumnya tiga tanduk patah. Lihatlah, mata dan mulut manusia muncul pada tanduk ini, dan ia muncul berbicara sombong menentang Yang Maha Tinggi. Tiba-tiba, ditengah-tengah cakrawala, bayangan Yang Mahakekal terlihat di tengah-tengah cahaya yang gemerlapan, duduk diatas mimbar-Nya (Arab: Kursi) yang terbuat dari cahaya yang menyala yang roda-rodanya adalah cahaya yang memancar.11 Sungai cahaya mengalir dan berjalan di hadapan-Nya ; dan jutaan makhluk angkasa beribadah kepada-Nya dan puluhan ribu di antaranya berdiri di hadapan-Nya.

Pengadilan Kiamat, sebagaimana mestinya, mengadakan sidang-sidang luar biasa; buku-buku catatan dibuka. Tubuh binatang buas dibakar dengan api, tapi Tanduk yang menghujat dibiarkan hidup sampai seorang “Bar Nasya”–yakni, seorang “Anak Manusia”–dinaikkan ke atas awan dan dihadapkan kepada Yang Maha Kekal, dari siapa ia menerima kekuasaan, kehormatan, dan kerajaan untuk selamanya. Nabi yang terheran-heran itu menandatangani salah seorang Malaikat yang siaga menunggu dan memohon dia untuk menjelaskan makna dari bayangan yang mengagumkan ini. Malaikat yang baik memberikan penafsirannya dengan sedemikian rupa cara sehingga keseluruhan misteri yang terbungkus dalam bahasa dan gambaran yang bersifat kiasan atau alegoris menjadi terang.

Sebagai seorang dari keluarga kerajaan. Daniel dibawa bersama oleh tiga pemuda Yahudi lainnya ke istana raja Babylonia , disana ia dididik berbagai macam ilmu bangsa Khaldea. Ia tinggal disana sampai dengan penaklukan Persia dan jatuhnya kerajaan Babylonia . Ia menjadi nabi dimasa Nebukadnezer dan juga Darius.

Para pengkaji alkitab tidak menganggap bahwa pengarang seluruh Kitab adalah Daniel, yang hidup dan mati setidaknya dua abad sebelum penaklukan Yunani, yang ia sebut dengan “Yavan= Ionia ”. Delapan pasal pertama kitab Daniel –jika saya tidak salah- ditulis dalam bahasa Khaldea dan pasal-pasal selanjutnya dalam bahasa Ibrani. Untuk tujuan kita yang segera, tidak begitu banyak tanggal dan penulisan kitab yang memunculkan pertanyaan penting sebagaimana pemenuhan nubuat yang sesungguhnya, yang terkandung dala versi Septuagint, yang dibuat sekitar tiga abad Sebelum Masehi.

Menurut interpretasi sang malaikat, masing-masing dari empat binatang itu menunjukkan sebuah kekaisaran. Singa bersayap elang berarti kekaisaran Khaldea, yang kuat dan cepat seperti seekor elang menyambar musuh. Beruang menunjukkan “Madai-Paris” atau Kekaisaran Medo-Persia, yang memperluas penaklukannya hingga Laut Adriatik dan Ethiopia, jadi menahan dengan gigi-giginya satu tulang iga tumbuh masing-masing dari tiga benua di Belahan Bumi Timur. Binatang ketiga, menurut sifatnya sebagai harimau betina yang loncatannya cepat dan ganas, melambangkan gerakan-gerakan kemenangan Alexander Agung, dimana kekaisarannya yang luas, setelah kematiannya terbagi menjadi empat kerajaan.

Tetapi malaikat yang menafsirkan penglihatan ini tidak berhenti menjelaskan secara terperinci tiga kerajaan yang pertama seperti ketika ia berhenti menjelaskan binatang buas keempat. Disini ia membahas secara terperinci dan penuh tekanan. Disini layar pandangannya diperbesar. Binatang buas itu benar-benar seekor monster dan setan yang sangat besar. Ini adalah Kekaisaran Romawi yang hebat. Sepuluh tanduk adalah sepuluh Kaisar Romawi yang menyiksa kaum Kristiani awal. Baliklah halaman-halaman sejarah gereja manapun untuk tiga abad pertama sampai kemasa yang disebut perubahan Konstantin Agung, dan yang akan Anda baca tak lain hanyalah kengerian-kengerian dari “Sepuluh Penyiksaan” yang terkenal.

Sejauh ini, empat binatang tersebut semuanya menggambarkan “Kuasa Kegelapan,” yaitu, Kerajaan Setan, pemujaan berhala.

Dalam kaitan ini, saya alihkan perhatian Anda kepada sebuah kebenaran yang terang yang terutama terdapat dalam artikel penting Iman Islam: “Kebaikan dan Keburukan adalah dari Allah.”

Perlu diperhatikan bahwa diantara empat binatang itu maka kekuasaan Persia digambarkan dengan sosok seekor beruang tidak sebuas dan tidak begitu suka makan daging seperti tiga lainnya; dan lagi: karena ia dapat berjalan dengan kaki belakangnya maka ia menyerupai manusia–paling tidak dari jarak yang agak jauh.

Dalam semua literatur teologi dan keagamaan Kristen yang telah saya baca, saya tidak pernah menemukan satu pun pernyataan dari ungkapan Keyakinan Muslim ini: Tuhan adalah pengarang sebenarnya dari kebaikan dan keburukan. Ungkapan dari keyakinan Muslim ini, sebagai kebalikannya, sangat menjijikkan bagi agama Kristen, dan sumber kebencian terhadap agama Islam. Namun doktrin ini dengan tegas diberitahukan oleh Tuhan kepada Koresy, yang Dia sebut “Kristus”-Nya. Dia ingin Koresy mengetahui bahwa tidak ada tuhan disamping Dia, dan menyatakan:

“Akulah yang menciptakan terang, dan menciptakan gelap, yang menjadikan kedamaian, dan yang menciptakan keburukan, Akulah Tuhan yang membuat semua ini.” (Yesaya 45:7)

Bahwa Tuhan adalah pembuat keburukan dan juga kebaikan, sama sekali tidak berarti menolak gagasan tentang kebaikan Tuhan. Penolakan terhadap gagasan ini ditujukan kepada keesaan mutlak Yang Maha Kuasa. Disamping itu, yang kita istilahkan dan pahami sebagai “keburukan” hanya mempengaruhi wujud-wujud yang diciptakan, dan hal itu untuk perkembangan dan perbaikan makhluk-makhluk, sama sekali tidak ada pengaruhnya pada Tuhan.

Dengan membiarkan penyimpangan ini, saya cepat-cepat mengatakan bahwa semua binatang liar ini adalah musuh “orang-orang suci”, seperti itulah orang Israel kuno dan para pengikut awal Kitab Injil tersebut. Karena hanya mereka yang memiliki pengetahuan yang benar, kitab-kitab suci dan wahyu Tuhan. Binatang-binatang liar ini menyiksa dan membantai orang-orang shaleh. Tetapi sifat dan watak Tanduk kecil yang tumbuh diatas kepala monster keempat berbeda sekali dengan binatang lainnya, dan bahwa Tuhan sendiri, seperti adanya, harus turun dan menegakkan singgasana-Nya di cakrawala, menilai dan membinasakan binatang keempat; memanggil sang Barnasha –”Anak Manusia”–kehadapan-Nya dan menjadikannya secara berturut-turut artinya “kekuasaan, kemuliaan, kerajaan” seluruh manusia dan bangsa-bangsa, diberikan kepadanya (Daniel 7:14) dan kepada “orang-orang suci umat Yang Mahatinggi” (Daniel 7:27)

Perlu diketahui bahwa karena Anak Manusia itu lebih mulia, dan lebih unggul, dari binatang-binatang buas itu, maka demikian pula agama yang dinyatakan dan ditegakkan sangat jauh lebih suci daripada agama sang Tanduk Kecil.

Sekarang mari kita periksa, siapa si tanduk kecil ini? Bila sudah memastikan identitas raja kesebelas ini, maka pada hakikatnya, identitas Bar Nasha akan diketahui. Tanduk Kecil muncul setelah Sepuluh Penyiksaan dibawah pemerintahan kaisar-kaisar Romawi. Kekaisaran ini menggeliat dibawah empat rival, Konstantin adalah salah satu diantaranya. Mereka semua berebutan untuk menjadi raja; tiga lainnya mati atau gugur dalam pertempuran; dan Konstantin dibiarkan sendirian sebagai penguasa tertinggi dari kekaisaran yang luas.

Para juru tafsir Kristen awal telah bekerja sia-sia menisbahkan si Tanduk Kecil yang bodoh ini sebagai Anti-Christ, sebagai Paus Roma menurut kaum Protestan, dan sebagai pendiri Islam ( Naudzubillah! ). Tetapi para kritikus alkitab yang belakangan tidak tahu bagaimana memecahkan problem binatang buas keempat yang cenderung mereka identifikasi sebagai kekaisaran Yunani dan si Tanduk Kecil sebagai Antiochus.

Sebagai kritikus, misalnya Carpenter, menganggap Kekaisaran Medo-Persia sebagai dua kerajaan terpisah. Tetapi kekaisaran ini tidaklah lebih tua dari bekas Kekaisaran Austro-Hungaria. Eksplorasi-eksplorasi yang dilaksanaka oleh misi ilmiah sarjana Perancis, M.Morgan, di Shushan ( Susa ) dan di tempat-tempat lainnya tidak meninggalkan keraguan soal ini. Oleh karena itu, binatang buas keempat tidak lain selain Konstantin Agung, argumen-argumen berikut dapat diajukan dengan aman:

Konstantin menguasai Maximian dan dua rival lainnya serta menjadi raja, dan mengakhiri penyiksaan kaum Kristiani.

Menurut saya, The Decline and Fall of The Roman Empire karangan Gibbon adalah karya terbaik yang dapat memberikan keterangan kepada kita tentang masa-masa itu. Dan Anda tidak akan pernah dapat menemukan empat rival setelah Sepuluh Penyiksaan dari gereja, selain dari Konstantin dan musuh-musuhnya yang jatuh dihadapannya seperti tiga tanduk yang jatuh di hadapan sang Tanduk Kecil

Keempat binatang buas semuanya ditunjukkan dalam penglihatan itu sebagai orang-orang kejam yang irasional, tetapi, sang Tanduk Kecil mempunyai mulut dan mata manusia yang, dengan kata lain, merupakan deskripsi dari monster menyeramkan yang diberkati dengan akal dan kemampuan bicara. Ia memproklamirkan agama Kristen sebagai agama yang benar, menyerahkan Roma kepada Paus dan menjadikan Byzantium, yang diberi nama Konstantinopel, sebagai pusat kekaisaran. Ia berpura-pura mengakui agama Kristen tapi tidak pernah dibaptis sampai tak lama setelah kematiannya, dan inipun menjadi persoalan yang diperselisihkan.

Dongeng bahwa kepindahannya memeluk Kristen karena melihat Salib dilangit sudah lama sejak–seperti cerita tentang Yesus Kristus yang disisipkan dalam Antiquities karya Josephus–diekspos sebagai bagian pemalsuan lainnya.

Kebencian binatang-binatang buas itu terhadap orang-orang yang beriman kepada Tuhan sangatlah brutal dan biadab, tetapi kebencian Tanduk yang rasional adalah kejam dan sangat membahayakan. Kebencian ini paling berbisa dan berbahaya bagi agama, karena ia ditunjukkan untuk merusak kebenaran dan keimanan. Semua serangan sebelum dari empat kekaisaran itu adalah kaum pagan (penyembah berhala); mereka menyiksa dan menzalimi kaum beriman tetapi tidak mampu merusak kebenaran dan keimanan.

Konstantin inilah yang masuk ke dalam bungkusan Yesus dalam bentuk seorang beriman dan dalam pakaian seekor domba, tetapi dalam hatinya ia sama sekali bukan seorang yang beriman. Seberapa beracun dan jahatnya kebencian ini, akan terlihat dalam uraian berikut ini:

Kaisar Tanduk berbicara “sombong” atau “kata-kata hebar” (robhan dalam lidah orang Khaldea) menentang Yang Maha Tinggi. Mengucapkan kata-kata yang menghina tentang Tuhan, menyekutukan Dia dengan makhluk lain, dan menisbahkan kepada-Nya nama-nama dan sifat-sifat yang bodoh, seperti yang “memperanakkan” dan “diperanakkan”, “kelahiran” dan “prosesi”(orang kedua dan ketiga), “KeEsaan dalam Trinitas” dan “inkarnasi” adalah menolak keesaan-Nya.

Sejak hari ketika Tuhan menampakkan Diri-Nya kepada Ibrahim di Ur, Khaldea, sampai Sahadat dan Undang-Undang Dewan Nikea diproklamirkan dan diberlakukan melalui sebuah maklumat kerajaan Konstantin ditengah-tengah kengerian dan protes dari tiga perempat anggota benar-benar beriman pada 325 M, keesaan Tuhan tidak pernah dengan begitu resmi dan terang-terangan dicemarkan oleh mereka yang pura-pura menjadi umat-Nya seperti Konstantin dan gerombolannya kaum gerejawi yang kufur!

Dalam artikel pertama dari serial ini saya telah menunjukkan kesalahan gereja-gereja mengenai Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Saya tidak perlu membicarakan lagi pokok pembahasan yang tidak menyenangkan ini; karena hal itu membuat saya sakit dan sedih ketika saya menyaksikan seorang nabi suci dan roh kudus, keduanya adalah makhluk Tuhan yang mulia, disekutukan dengan Dia oleh mereka yang seharusnya lebih mengetahui.

Jika Brahma dan Osiris, atau Yupiter dan Vesta disekutukan dengan Tuhan, kita hanya menganggap ini sebagai keyakinan pagan; tetapi ketika kita melihat Yesus Nabi dari Nazaret dan salah satu dari jutaan roh kudus yang berbakti kepada Tuhan Yang Kekal tampil menyamai martabat Tuhan, kita tidak dapat menemukan nama untuk mereka yang berkeyakinan begitu selain dari yang selalu harus digunakan oleh kaum Muslim –yaitu julukan “Ghawun”.

Kini, karena Tanduk mengerikan yang berkata sombong itu, dengan melontarkan kata-kata hinaan terhadap Tuhan, adalah seorang raja –sebagaimana diberitakan oleh Malaikat kepada Daniel–dan karena raja itu adalah Caesar yang memerintah di Roma dan menyiksa orang shaleh, maka tidak bisa lain dia adalah Konstantin, karena maklumatnyalah yang memproklamirkan keyakinan atas Trintias oknum dalam ketuhanan, suatu syahadat yang dikutuk sebagai penghujatan oleh Perjanjian Lama yang merupakan dokumen yang kuat, dan yang dibenci baik oleh kaum Yahudi maupun Muslim.

Seandainya dia bukan Konstantin, lantas, muncul pertanyaan, siapa gerangan dia? Dia sudah datang dan pergi, dan bukan seorang penipu ulung atau Anti-Christ yang muncul sesudah ini, yang mungkin kita tidak dapat mengetahui dan mengidentifikasinya.

Seandainya kita tidak mengetahui bahwa Sang Tanduk Kecil yang dibicarakan sudah datang, lantas bagaimana kita harus menafsirkan keempat binatang buas itu, dimana binatang buas yang pertama sudah pasti Kerajaan Khaldea, binatang kedua Medo-Persia, dan seterusnya? Jika binatang buas keempat tidak mewakili Kerajaan Romawi, bagaimana kita dapat menafsirkan yang ketiga, yang memiliki empat kepala sebagai Kekaisaran Alexander yang terpecah menjadi empat kerajaan setelah kematiannya? Adakah kekuasaan lain yang menggantikan Kekaisaran Yunani sebelum Kekaisaran Romawi dengan sepuluh rajanya yang menyiksa orang-orang beriman kepada Tuhan? Cara berpikir yang menyesatkan dan ilusi tidaklah berguna.

Si “Tanduk Kecil” itu pastilah Konstantin, meskipun kita bisa menolak nubuat Daniel. Apakah penulis pasal ketujuh dari kitab Daniel itu seorang nabi, imam, atau seorang tukang sihir, tidaklah penting. Satu hal pasti, bahwa prediksi dan deskripsinya tentang peristiwa-peristiwa itu, sekitar dua puluh empat abad silam, ternyata tepat, benar, dan telah terpenuhi pada diri Konstantin Agung, yang pantang bagi Gereja Roma untuk menjadikannya sebagai seorang Santo, sebagaimana dilakukan Gereja Yunani.

Si Tanduk Kecil yang berkembang menjadi “penglihatan yang sedikit lebih hebat” daripada tanduk lainnya, tidak hanya mengucapkan kata-kata kufur menentang Yang Maha Tinggi, tetapi juga ia memerangi orang-orang suci umat Yang Maha Tinggi dan menaklukan mereka (Daniel 7:25).

Di mata Nabi Yahudi, umat yang mengimani satu Tuhan adalah umat yang terpisah dan suci. Kini tak bisa disangkal lagi kebenarannya bahwa Konstantin menyiksa orang-orang Kristen yang, seperti kaum Yahudi, meyakini Keesaan Tuhan yang mutlak dan dengan berani menyatakan Trintias sebagai konsepsi ketuhanan yang tidak benar dan sesat.

Lebih dari seribu rohaniwan dipanggil ke Majelis Umum di Nikea, dan hanya tiga ratus delapan belas orang yang tunduk pada keputusan-keputusan Majelis, dan mereka pun membentuk tiga faksi yang berlawanan dengan masing-masing ungkapannya yang ambigu dan kotor seperti “ homousion ” atau “homoousion12, “Konsubstansial” 13, dan istilah-istilah lainnya yang sama sekali asing bagi para nabi Israel, tapi hanya bermanfaat bagi si “Tanduk yang berbicara.”

Kaum Kristen yang menderita penyiksaan dan mati syahid– dibawah kaisar-kaisar Romawi penyembah berhala – karena mereka mengimani satu Tuhan dan Yesus hamba-Nya, kini dihukum atas peintah kerajaan dari Konstantin “Kristen” dengan siksaan-siksaan yang bahkan lebih kejam karena mereka menolak untuk memuja sang hamba Yesus sebagai konsubtansial dan sebaya dengan Tuhan dan Penciptanya!

Para sesepuh dan pendeta akidah Aria, yakni Qshishi dan Mashmshani -seperti itulah mereka disebut oleh kaum Kristen Yahudi awal – dipecat atau dibuang, kitab-kitab keagamaan mereka diberangus, dan gereja-gereja mereka dirampas dan diserahkan kepada para uskup dan imam Trinitarian. Setiap karya bersejarah Gereja Kristen akan memberi kita banyak informasi kepada kita tentang jasa yang diberikan Konstantin kepada munculnya Akidah Trintias, dan tirani kepada orang yang menentangnya. Pasukan-pasukan yang tidak punya belas-kasih ditempatkan di setiap provinsi untuk membantu otoritas-otoritas gerejawi.

Konstantin melambangkan sebuah rejim teror dan perang yang sengit terhadap kaum unitarian (ahlutauhid), yang di Timur berakhir selama tiga setengah abad, ketika kaum Muslim menegakkan agama Allah dan mengambil kekuasaan serta dominion atas negeri-negeri yang diinjak-injak dan dihancurkan oleh empat binatang buas itu.

“Tanduk Yang Berbicara” dituduh telah berniat mengubah “Hukum dan Waktu”. Ini adalah sebuah tuduhan yang sangat serius terhadap sang Tanduk. Hujatan-hujatannya atau “kata-kata sombong menentang Yang Maha Tinggi” bisa saja mempengaruhi orang lain, tetapi mengubah Hukum Tuhan dan hari-hari serta perayaan-perayaan suci sudah pasti akan menumbangkan juga agama. Dua perintah Hukum Musa, mengenai keesaan Tuhan yang mutlak –”Engkau tidak mempunyai tuhan-tuhan lain disamping Aku”–dan pelarangan yang keras membuat gambar dan patung untuk pemujaan, benar-benar dilanggar dan dicabut atas perintah Konstantin.

Memproklamirkan tiga oknum dalam Ketuhanan dan mengakui bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dan Mahakekal dikandung dan dilahirkan oleh perawan Maria adalah penghinaan paling akbar terhadap Hukum Tuhan dan merupakan pemberhalaan yang paling kotor.

Membuat patung emas atau kayu untuk pemujaan sudah cukup buruk sekali, tapi membuat makhluk hidup sebagai objek pemujaan dengan menyatakannya sebagai Tuhan (!), dan bahkan memuja roti dan anggur Ekaristi sebagai “tubuh dan darah Tuhan”, adalah suatu penghinaan yang tidak bertuhan.

Lantas, bagi setiap orang Yahudi yang shaleh dan bagi seorang nabi seperti Daniel, yang sejak muda menjadi pelaksana Hukum Musa yang paling taat, apa yang mungkin lebih menjijikkan daripada penggantian Paskah dengan Domba Paskah (Paschal Lamb [yakni, Kristus]) yang dimakan pada perayaan agung paskah dan pengorbanan “Domba Tuhan” diatas kayu salib, dan diatas ribuan altar setiap hari?

Penghapusan hari Sabat adalah suatu pelanggaran langsung atas perintah keempat dari sepuluh perintah Tuhan ( Ten Commandments atau Decologue ), dan kebiasaan minggu malah berubah-ubah karena berlawanan. Memang benar, Al-Qur’an menghapuskan hari Sabath, bukan karena Jum’at adalah hari yang lebih suci, tapi karena kaum Yahudi menyalahgunakannya dengan menyatakan bahwa setelah Tuhan bekerja enam hari, beristirahat pada hari ketujuh, seakan-akan Dia adalah manusia dan menderita kelelahan.

Muhammad akan menghancurkan hari atau objek apa saja, betapapun suci atau sakral, jika ia dijadikan objek pemujaan dengan maksud untuk memberikan pukulan atau melukai kebesaran dan keagungan Tuhan. Tetapi, penghapusan Sabat atas perintah Konstantin adalah utnuk institusi Minggu pada hari dimana Yesus dinyatakan telah bangkit dari kubur. Yesus sendiri sangat menghormati hari Sabat, dan menegur para pemimpin Yahudi karena keberatan mereka atas derma yang ia lakukan pada hari itu.

Sang Tanduk dibolehkan untuk memerangi para Santo selama sekitar tiga setengah abad; hak itu hanya “melemahkan” mereka, membuat “mereka tidak bersemangat”–tapi tidak dapat memadamkan dan membasmi mereka sama sekali bangsa Aria, yang mempercayai satu Tuhan saja, kadang-kadang, misalnya dibawah pemerintahan Konstantinus (anak dari Konstantin), Julian, dan lain-lainnya yang lebih toleran, dengan kokoh mempertahankan diri dan berperang demi agama mereka..

Poin penting berikutnya dalam penglihatan yang sangat hebat ini adalah mengidentifikasi “Bar Nasha,” atau Anak Manusia, yang menghancurkan sang Tanduk; dan kita akan membahas dalam artikel selanjutnya.

——————————————————————————–

Footnotes

11. Kata asalnya adalah nur, dan, seperti kata Arab, artinya “cahaya” bukannya “api” yang ditunjukkan dalam teks denganb “isy”.
12. Orang Kristiani yang mendukung definisi kaum Trinitas dalam Majelis Nikea tentang Yesus Anak Tuhan sebagai konsubstansial dengan Tuhan Bapak–penerj.
13. Memiliki substansi, sifat, atau esensi yang sama dengan tiga oknum Trinitas — penerj

140. remon - 17 Oktober, 2008

hee,,,,heee,,,heee sekarang gw mau tanya kepada syekh menurut lu seberapa besar iman mu dan menurut mu apakah jika lu membunuh umat non islam merupakan merupakan perbuatan beriman ?

apa lu dah nonton kaset fpi masuk kristen ?
apa tanggapan lu ?
dan kenapa para jihad bangga dengan perbuatan mereka yang jelas2x salah misalnya saat peledakan bom bali 2 ?
knapa umat muslin beribadah hari ju’mat ?
adakah pernyatan yang menyatakan muhhamad banggkit dari kubur setelah meninggal ?
jelaskan proses terjadinya dunia menurut orang islam ?
knapa alquran banyak ayat yang tidak diartikan ?
apa lu yakin akan masuk surga kelak jika sudah meninggala ?
knapa orang harus lakukan ibadah haji ?
dari mana sumber air zamzam ?

141. remon - 17 Oktober, 2008

heeheehee ga bsa jwb ya

142. dongan naburju - 18 Oktober, 2008

horas…

salam hangat amang syekh yusuf..

ayahanda (amang) syekh yusuf..cobalah ayahanda memanggil nama JESUS tulus dari dalam hati??

maka bersiaplah ayahanda menjadi saleh,suci dan taat pada printah Allah, bersiap untuk menolong orang menderita,bersahaja ketika di caci maki,memamafkan yang telah memfitnah kita,sabar,rendah hati,tidak mempunyai harta dan tahta di bumi dan hidup mati untuk mengasihi manusia,tidak menikah dan dapat mengendalikan diri dari godaaan hawa nafsu….maunya ayahanda syekh yusuf seperti itu??

memanggil JESUS??buat sapa aja…

salam damai dan kasih menyertai kita semua..
holong do naummarga di portibion

143. remon - 19 Oktober, 2008

PESAN BUAT SYEKH YUSUF :

KALAU MAU MUNGHUJAT AGAMA ORANG PELAJARI DULU AGAMA SENDIRI OK

TAPI DARIPADA NGOMONGIN AGAMA YANG GA’ ADA HABISNYA LEBIH BAIK KITA PEACE MAN OK DAN LEBIH BAIK KITA BERSATU

MEMBANGUN INDONESIA BERSAMA OK

SALAM DAMAI BRO

144. martinius - 21 Oktober, 2008

yesus tai kucing
bunda maria telek ayam
kenapa gak pantatku aja lo sembah

145. dongan naburju - 21 Oktober, 2008

martinius..kami kristiani butuh pertolonganNya,terserah bung..mw maki atau gimana…tanggung sendiri akibatnya..kami merasa kasihan melihat mu begitu..

146. dcs - 22 Oktober, 2008

@Martinus
Dari mulut yang mengumandangkan takbir dan selalu berseru Allahu Akbar, keluar kata2 yang mentaik kucingkan seorang nabi ( menurut Islam). seperti kata Dongan Naburju, Kasihan melihat ciptaan Tuhan seperti kamu.

Buat semua pemeluk agama kristen dan islam.
Setelah ngalor ngidul mempelajari bahasan2 agama menurut maniak2 agama, baik itu orang kristen yang membahas agama islam, maupun orang yang beragama islam membahas agama kristen, sepertinya kedua agama hanya ciptaan manusia saja dan banyak kebohongannya.Alkitab yang berbohonglah tentang kebenaran Yesus disalib, Nabi Muhammad yang mengawini anak bayilah dan menciptakan ayat untuk membenarkan perbuatannya dan banyak lagi yang seram2, sepertinya Alkitab dan Alquran itu tidak lebih baik dari cerita komik.

Seperti kata penulis jangan2 Tuhan Gokil menciptakan kedua agama itu. atau dia lagi fly sehingga hasil ciptaannya membuat mahluk ciptaannya yang paling sempurna saling cakar2an.

Jadi berhenti membuat pembahasan dan penafsiran agama orang lain, seperti kata Remon, mari kita bangun Indonesia, terutama membangun Ahlak yang baik, baik dimata manusia maupun dimata sang Khalik, kita bangun toleransi antar umat beragama. Buat yang beragama Islam yakini bahwa Yesus itu adalah nabi, dan turuti perintahnya, buat yang beragama kristen aminin Yesus itu adalah penebus yang datang untuk menyelamatkan kamu ( saya pernah dengar ulama besar Islam mengakui bahwa Yesus itu juga Juru Selamat bagi Umat Muslim ), jadi yang diributin itu apa saudara2 sekalian, jangan “paha” istri orang yang kamu intip2 dan cium dan berharap mencium anyir, tapi cari uang yang halal untuk membeli celana dalam dan sabun buat istrimu agar harum dan hidupmu bahagia. (maaf)

Salam.

147. Nesia! - 22 Oktober, 2008

@DCS
Lagi-lagi comment-mu mantap kali Lae… Tak terkatakan lagi.

*membungkuk dalam*

148. Bakkery - 22 Oktober, 2008

Emang ada kejahatan dan kebencian dari ajaran yang suci. Kalo boleh membunuh mahluk lain, menyiksa karena beda itu disebut sesuatu yang suci, apa ini yng dimaksud dunia akan kiamat.

Hehehe
Teroris aja ngak makan anak sendiri,
tapi meledakkan mahluk lain.
hahahah

149. lovepassword - 23 Oktober, 2008

Antar agama cakar-cakaran , atheis yang mendapat keuntungan ??? Apa atheis perduli kalo agama cakar-cakaran ? Hi Hi Hi terlalu naif itu.

Debat terbuka, kita keroyok juga belum tentu pakar-pakar agama yang menang kok. Hi Hi Hi. apalagi kalo yang debat model orang2 overPD yang kebesaran gaya seperti aku. Hi hi hi. Alala bum bum..Blukutuk kutuk.

Merasa pinter ??? Ada yang mau protes nggak setuju omongan ini, ya sono masuk ke forum atheis atau blognya atheis. Silakan memaki sekeras-keras, serang mereka. Lalu Anda rasakan sendiri seberapa dalam pengetahuan kita tentang agama kita masing-masing. Hi Hi Hi.

Penganut agama memang hebat. Nggak sadar juga bahwa timbulnya aliran aneh2 termasuk atheisme itu timbulnya karena kesebalan terhadap perilaku ajaib umat beragama.

Kalo atas nama Tuhan kita memaki
Kalo atas nama Tuhan kita membunuh

Maka sangat wajar bila orang yang sebel malah memilih jadi atheis. Karena atheis itu salah satu penyebabnya adalah pada rasa dongkol terhadap perilaku umat beragama, maka yang pasti dosa ya mestinya umat beragama. Artinya kita berdosa lumayan serius karena setiap perdebatan kita yang out of control telah menimbulkan bibit-bibit atheis baru.

Apakah diskusi antar agama nggak boleh ? Ya boleh2 sajalah. Tetapi kalem dikit nape. Nggak ada kok orang yang takut kalo kita ngomong dengan ucapan2 sarkastis. Paling2 di luar sana ada yang nyeletuk. O gicu tho perilaku umat beragama ketika berbicara dengan sesamanya. Weleh…weleh.Hik Hik

150. dcs - 23 Oktober, 2008

@Lae Toga,

Salam hormat lae, aku hanya tidak bisa melihat bahwa ada orang yang beragama yang melecehkan Yesus, aku juga sangat miris kalau ada yang mengaku kristen merendahkan Muhammad SAW. Ajaran yang mereka turunkan itu sangat luar biasa, kalau kita pelajari dengan hati yang tulus dan jernih.

Seperti kata Lovepassword, kalau atas nama Tuhan kita memaki, kalau atas nama Tuhan kita membunuh, kalau atas nama Tuhan kita mengatakan orang lain masuk neraka, emangnya kapan Tuhan mengangkat kita jadi Jaksanya.

Akupun sering melihat ayat2 kontroversial dalam kitab suciku, demikian juga kalau saya mendengar ajaran agama yang lain agak aneh, kadang2 saya pikir jangan2 Tuhan salah cetak. Ada juga yang menuduh saya murtad kalau mempersoalkan ajaran agama saya, apalagi kalau menyoal agama yang lain, bisa berabe.

Pertama sekali membaca “Islam VS Kristen…. dan Justru setelah muslim, ….. aku merinding lae, merinding bangat.Saya hampir bilang Justru setelah saya membaca itu saya sadari keraguan saya selama ini, artinya ajaran kristen yang sebenarnya saya pahami dari seorang yang beragama lain dan mualaf.Sumpah, Saya tidak berbohong.

Apapun itu, terimakasih buat komentar lae dan tulisan2nya, saya tunggu tulisan yang lain. Salam.

151. Fatary - 24 Oktober, 2008

Ibarat ada surga dan neraka, untuk ke surga ada 2 pilihan, jalur A ato jalur B, Tujuan sama. Untuk pergi ke neraka ada dua pilihan, jalur A ato Jalur B, Tujuanpun tetap sama. Namun Kita diwajibkan untuk memilih, maka jika anda tidak memilih jalur A, so pasti anda akan memilih jalur B ato sebaliknya. Disini saya mengatakan Atheis GOLPUT. saya sendiri blm ngerti dengan pemikiran orang2 GOLPUT, apakah dia seorang yg bingung, seorang yg ngga punya tujuan, seorang yg ngga punya nyali utk memilih, ato emang udah di takdirkan ngga bakal milih?. brarti jika demikian jgn plin plan dengan prinsip tersebut, sekali GOLPUT harus GOLDPUT. Anda tidak perlu harus memilih jodoh anda, apakah nanti anda dapat yg baik ato tidak, yg cantik ato tidak, apakah anda nanti miskin ato kaya, anda tidak punya hak untuk memilih bahkan semua pilihan anda juga tidak cocok buat anda karena itu pilihan yg bukan hak anda, jadi jangan pernah memilih alias neko2. Bila anda punya pasang hidup yang baik, cakep, ganteng, kaya, miskin, itu pun tidak layak buat anda karena itu adalah bagian dari pilihan, dan sekali lagi anda bukan pemilih alias GOLPUT. :D

152. Fatary - 24 Oktober, 2008

Tambahin sedikit ahh…Jika pagi telah datang, anda di hadapkan pada dua pilihan, mandi ato tidak mandi, sesuai prinsip Atheis untuk tidak memilih alias GOLPUT, anda tidak layak untuk tidak mandi apalagi sampai mandi, anda harus berada di tengah antara keduanya. jika hari ini anda harus makan, anda tidak layak makan makanan yg tidak enak apalagi makan makanan yg enak karena itu adalah bagian dari pilihan. Jika anda di hadapan harus menikah, anda tidak layak menikah dengan pria ato pun wanita karena itu adalah pilihan dan anda harus selalu berada diantara kedua pilihan tersebut. Ingat SEKALI GOLPUT HARUS GOLPUT baik dalam memilih keyakinan maupun dalam hal lain, jika anda setengah2 brarti anda bukan GOLPUT SEJATI ato Seorang ATHEIS SEJATI dan jangan pernah berpikir untuk memilih karena itu di luar prinsip anda dan sekali lagi anda tidak layak untuk MEMILIH bahkan jangan pernah menggunakan kata “PILIH dan kata-kata yang Sebangsa dengannya” :D

153. syekh yusuf - 24 Oktober, 2008

Menguak Misteri Muhammad
Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

Islam Adalah Kerajaan Tuhan Di Muka Bumi
Ketika memeriksa ramalan Nabi Daniel (Pasal 7) yang mengagumkan itu, kita melihat22 betapa Muhammad diiringi oleh banyak sekali makhluk langit dan di bawa ke hadirat agung Sang Mahakekal; betapa beliau mendengar kata-kata hormat dan kasih sayang yang tidak pernah diberikan kepada makhluk lain (2 Korintus 11); bagaimana beliau dinobatkan sebagai Sultan para Nabi dan dibekali dengan kekuatan untuk menghancurkan “Binatang Buas Keempat” dan “Tanduk yang Menghujat Tuhan.”

Selain itu, kita melihat bagaimana beliau diberi wewenang untuk menegakkan dan memproklamirkan Kerajaan Tuhan di muka bumi; bagaimana segenap kemampuan manusia dapat membayangkan kehormatan tertinggi yang diberikan oleh Yang Mahakuasa kepada seorang Hamba tercinta dan kepada Rasul-Nya yang paling pantas dapat dianggap hanya berasal dari Muhammad semata.

Perlu diingat bahwa dari semua Nabi dan Rasul Allah, hanya Muhammad yang muncul laksana sebuah menara yang lebih tinggi dari semua menara lainnya; dan karya yang hebat dan mulia yang dikerjakannya menjadi sebuah monumen kehormatan dan kebesarannya yang abadi.

Seseorang tidak dapat mengapresiasi nilai dan arti penting dari Islam sebagai benteng pertahanan khas untuk melawan pemberhalaan dan politheisme kalau keesaan Tuhan yang mutlak tidak diakui secara sungguh-sungguh.

Ketika kita menyadari sepenuhnya bahwa Allah adalah Tuhan yang juga dikenal oleh Adam dan Ibrahim, dan yang disembah oleh Musa dan Yesus, maka tidak ada kesulitan bagi kita untuk menerima Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan Muhammad sebagai Pangeran dari semua Nabi dan Hamba Tuhan. Kita tidak dapat menambah kebesaran Allah dengan memahami-NYa sekarang sebagai “Bapak,” sekarang sebagai “Anak,” dan sekarang sebagai “Roh Kudus,” atau membayangkan Dia sebagai memiliki tiga oknum yang dapat saling memanggil dengan tiga kata ganti orang tunggal: aku, engkau, dia. Dengan begitu maka kita kehilangan semua konsep yang benar mengenai Wujud Mutlak, dan tidak lagi beriman kepada Tuhan yang Sejati.

Dengan cara yang sama, kita tidak bisa menambah sedikit pun pada kesucian agama dengan cara melembagakan sakramen-sakramen atau misteri-misteri; juga kita tidak dapat memperoleh makanan spiritual apap pun untuk roh kita dari mayat seorang nabi atau tuhan yang menitis; karena dengan berbuat begitu maka kita kehilangan semua gagasan tentang sebuah agama yang benar dan riil dan tidak lagi mempercayai agama sama sekali.

Juga kita tidak bisa, setidaknya, mempromosikan martabat Muhammad jika kita harus membayangkan sebagai seorang anak Tuhan atau titisan Tuhan; karena dengan berbuat begitu kita akan benar-benar kehilangan Nabi dari Mekah yang riil dan bersejarah dan tanpa disadari jatuh ke dalam jurang politheisme yang dalam sekali.

Kebesaran Muhammad terletak dalam upayanya menegakkan agama yang begitu logis, jelas, namun benar, dan dalam aplikasi praktis dari ajaran dan prinsip-prinsipnya yang saking teliti dan tegasnya sampai-sampai mustahil bagi seorang Muslim sejati untuk menerima syahadat atau keimanan lain selain dari yang diakui dalam ungkapan, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.” Dan syahadat singkat ini selanjutnya menjadi keyakinan dari setiap Mukmin sejati hingga hari kebangkitan.

Sang pemusnah agung yang menghancurkan “Tanduk Kesebelas”, yang melambangkan Konstantin Agung dan Gereja Trinitas, bukanlah seorang Bar Allaha (Anak Tuhan), melainkan seorang Bar Nasha (Anak Manusia) dan tidak seorang pun selain Muhammad al-Musthafa yang benar-benar mendirikan dan membangun Kerajaan Tuhan di bumi. Kerajaan Tuhan inilah yang sekarang akan kita kaji dan uraikan.

Harus diingat bahwa selama pertemuan ilahiah dengan Sultan para Nabi inilah, sebagaimana dikemukakan dalam Daniel, dijanjikan bahwa:

“Pemerintahan, kekuasaan, dan kebesaran dari Kerajaan-kerajaan di bawah semesta langit akan diberikan kepada orang-orang Suci milik yang Mahatinggi; pemerintahan [rakyat]-nya [akan menjadi] sebuah pemerintahan yang kekal, dan semua kekuasaan akan mengabdi dan patuh kepadanya.” (Daniel 7:22,27)

Ungkapan-ungkapan dalam bagian kenabian ini yang menyatakan bahwa kerajaan Tuhan akan terdiri dari “Orang-orang Suci milik Yang Mahatinggi”, dan bahwa semua kekuasaan atau pemerintahan lainnya akan mengabdi dan mematuhi orang-orang itu, dengan jelas menunjukkan bahwa dalam Islam, Agama dan Negara adalah satu tubuh yang sama, dan konsekuensinya tidak dapat dipisahkan. Islam bukanlah hanya Agama Tuhan, tapi juga kekuasaan atau kerajaan duniawi-Nya.

Agar dapat membentuk sebuah gagasan yang jelas dan benar mengenai sifat dan konstitusi dari “Kerajaan Tuhan di bumi” maka perlu melihat sekilas sejarah agama Islam sebelum ia disempurnakan, dilengkapkan, dan secara resmi ditegakkan oleh Tuhan Sendiri di bawah Muhammad Rasul-Nya.

Islam Sebelum Muhammad bukanlah Kerajaan Tuhan di Bumi Melainkan Hanya Agama Tuhan yang benar

Mereka yang percaya bahwa agama Allah yang benar diwahyukan hanya kepada Ibrahim dan dipelihara hanya oleh Bani Israel saja, pastilah pengkaji Literatur Perjanjian Lama yang sangat bodoh, dan pasti memiliki pengetahuan yang sangat keliru mengenai sifat agama itu.

Ibrahim sendiri membayar tithe (semacam zakat) kepada Raja dan Imam23 Yerusalem dan direstui olehnya (Kitab Kejadian 14:18). Bapak mertua Musa, adalah juga seorang Imam dan seorang Nabi Allah; Yob, Balaam, Ad, Hud, Lukman, dan banyak nabi lainnya bukanlah orang Yahudi. Berbagai macam suku dan bangsa seperti Ishmail, Moab, Ammon, Edom, dan lain-lainnya yang merupakan anak-anak Ibrahim dan Luth, mengenal Tuhan Yang Mahakuasa meski mereka pun, seperti Bani Israel, jatuh ke dalam kemusyrikan dan kebodohan.

Namun, cahaya Islam sama sekali tidak pernah padam atau pun digantikan oleh kemusyrikan. Patung-patung dan gambar-gambar, yang dianggap “sakral” dan sebagai tuhan-tuhan rumah tangga oleh kaum Yahudi, dan juga bangsa-bangsa sama, dan biasanya disebut “Traphim” (Kitab Kejadian 31) dalam bahsa Ibrani, adalah –menurut pendapat saya yang sederhana– memiliki sifat dan karakter yang sama dengan gambar-gambar dan patung-patung yang disimpan dan disembah oleh kaum Kristen Ortodoks dan Katolik di rumah-rumah dan bait-bait mereka.

Di jaman kebodohan yang kuno, patung-patung merupakan semacam “kartu identitas” atau sebagai paspor. Bukankah luar biasa mengetahui bahwa Rahel (Rahil), istri Yaqub dan anak perempuan Laban, harus mencuri “traphim” bapaknya? (Kitab Kejadian 31). Bagaimanapun Laban dan juga suaminya adalah Muslim, dan pada hari yang sama menaikkan batu “Mispha” dan mempersembahkannya kepada Tuhan!

Kaum Yahudi di padang gurun, mabuk dengan keanehan dan keajaiban yang terjadi siang-malam –kemah mereka dinaungi oleh awan yang ajaib pada siang hari dan diterangi oleh tiang api pada malam hari, mereka sendiri diberi makan dengan “manna” dan “salwa”– segera setelah Nabi Musa lenyap selama beberapa hari di puncak Gunung Sinai yang berkabut, membuat sebuah patung anak sapi dari emas dan menyembahnya.

Sejarah tentang kaum yang keras kepada dari sejak kematiannya Yoshua sampai upacara perminyakan suci raja Saul, yang meliputi seuatu masa lebih dari empat abad, penuh dengan penyembahan berhala yang memalukan yang selalu kambuh dan kambuh lagi. Hanya setelah ditutupnya wahyu dan undang-undang dari Kitab-kitab Suci mereka pada abad ketiga sebelum Masehi, barulah kaum Yahudi berhenti menyembah patung-patung, dan sejak itu tetap sebagai kaum monoteis (ahlutauhid). Namun, kepercayaan mereka akan Keesaan Tuhan, meskipun hal itu menjadikan mereka memenuhi syariat untuk disebut “Muslim,” karena mereka dengan kepala batu telah menolak baik Yesus, Muhammad, maupun wahyunya.

Hanya melalui ketundukkan kepada kehendak Tuhan, barulah seseorang dapat mencapai kedamaian dan menjadi Muslim. Sebaliknya, keyakinan tanpa ketaatan dan ketundukkan adalah sama dengan keyakinan iblis yang mempercayai eksistensi Allah dan gemetar.

Karena kita tidak mempunyai catatan tentnag kaum-kaum lain yang disokong dengan wahyu Ilahi dan para nabi serta Imam yang didatangkan kepada mereka oleh Tuhan, kita harus puas dengan pernyataan bahwa agama Islam yang hidup di tengah bangsa Israel dan bangsa-bangsa Arab lainnya, di jaman dahulu, kadang-kadang lebih bercahaya, namun kebanyakan seperti sumbu yang kerlap-kerlip atau seperti sinar yang redup dalam sebuah ruang yang gelap. Ia adalah agama yang diakui oleh suatu kaum yang segera melupakannya, atau mengabaikannya, atau mengubahnya menjadi ibadat kaum pagan. Namun begitu selalu ada individu atau keluarga yang mencintai dan menyembah Tuhan.

Nampaknya kaum Yahudi, khususnya rakyat jelata, tidak mempunyai konsepsi yang benar tentang Tuhan dan agama sebagaimana dipunyai kaum Muslim tentang Allah dan Islam. Apabila Bani Israel menjadi makmur dan menang dalam perang-perangnya, maka Yahwah pun diakui dan disembah; tapi bila terjadi sebaliknya, Dia ditinggalkan dan tuhan dari bangsa yang lebih kuat dan lebih makmur pun diambil dan patung atau gambarnya disembah.

Sebuah kajian teliti terhadap Kitab Suci Ibrani menunjukkan bahwa orang Yahudi awam menganggap tuhannya kadang-kadang lebih kuat atau lebih tinggi, dan kadang lebih lemah, dibandingkan tuhan-tuhan yang diakui oleh bangsa-bangsa lainnya. Kepindahan mereka yang sangat mudah dan berulang-kali ke dalam penyembahan berhala adalah suatu bukti bahwa bangsa Israel memiliki pemikiran yang nyaris sama tentang El atau Yahwah mereka, sebagaimana dimilki bangsa Assyria tentang Ashur-nya, bangsa Babylonia tentang Mardukh-nya, dan bangsa Phoenicia dengan Ba’al-nya. Dengan kekecualian para nabi dan sofi, kaum Muslim dari taurat, Bani Israel dari Hukum Musa, tidak pernah naik menyamai tingginya kesucian agama mereka, tidak juga tingginya konsepsi Ketuhanan mereka yang benar.

Keimanan pada Allah dan keyakinan serta keimanan yang kokoh terhadap kehidupan masa akan datang tidak mendarah daging dan tertanam dalam semangat dan batin kaum Yahudi.

Maka, alangkah kontrasnya antara kaum Muslim dan Al-Qur’an, kaum Mukmin dari Muhammadan Law24 (Hukum Muhammad), dan kaum Muslim dari Taurat atau Mosaic Law (Hukum Musa)! Pernahkah diketahui dan dibuktikan bahwa ada satu kaum Muslim meninggalkan mesjid, Imam, dan Al-Qur’an-nya, lantas memeluk agama lain dan mengakui bahwa Allah adalah bukan Tuhannya? Tidak pernah! Sangat mustahil kalau suatu komunitas Muslim pengikut Muhammad, sepanjang ia dilengkapi dengan [dan benar-benar menghayati] Kitab Allah, mesjid dan mullah, bisa kembali ke dalam penyembahan berhala atau bahkan ke dalam agama Kristen.

Saya mengetahui beberapa keluarga Tartar yang memeluk Agama Kristen Ortodoks di Rusia. Namun, saya dapat meyakinkan para pembaca, dengan sumber yang otentik, bahwa orang-orang “Tartar” ini adalah bangsa Mongol yang, lama setelah penaklukkan Rusia dan didirikannya “Altin Ordu” oleh Batu Khan, masih pagan atau baru pindah ke Islam dan nampaknya telah dipaksa atau dibujuk untuk mengikuti Gereja Rusi. Dan dalam kaitan ini jangan dilupakan bahwa ini terjai setelah kekuasaan Muslim “Golden Horde” (“Altin Ordu”) ambruk karena invasi Timur Lang (Tamerlane) yang hebat sekali.

Sebaliknya, para pedagang dan saudagar Muslim, di Cina dan juga di benua hitam Afrika, selalu meyebarkan agama suci mereka; dan jutaan Muslim Cina dan negro adalah hasil dari para misionaris Muslim yang tidak dibayar dan tidak resmi ini.

Jelaslah dari keterangan di atas bahwa agama Tuhan yang benar sebelum Muhammad itu hanya dalam pertumbuhannya, bahwa ia masih belum matang dan tidak berkembang di tengah-tengah kaum Yahudi, meskipun ia bersinar cemerlang dalam kehidupan para hamba Yahwah yang sejati. Di bawah pimpinan para hakum yang takut kepada Tuhan dan Raja-raja Israel yang shaleh, pemerintahan selalu bersfat teokratis, dan sepanjang sabda-sabda para nabi diterima dengan baik dan perintah-perintah mereka dilaksanakan sebagaimana mestinya, maka baik agama maupun bangsa akan menjadi maju.

Namun, agama Tuhan yang benar tidak pernah berbentuk Kerajaan Tuhan sebagaimana di bawah rezim Qur’ani. Allah dalam hikmah-Nya yang tidak terbatas telah menetapkan bahwa empat Kuasa Kegelapan besar akan datang silih berganti sebelum Kerajaan-Nya sendiri ditegakkan. Peradaban-peradaban dan kekaisaran-kekaisaran besar kuno dari Assyro-Khaldea, dari Medo-Persia, dari Yunani, dan dari Romawi, akan muncul dan berkembang, untuk menyiksa dan menzalimi para rasul, dan melakukan semua kejahatan dan kenakalan yang direncanakan oleh Iblis. Keagungan dari kuasa-kuasa besar ini terletak pada penyembahan mereka terhadap Iblis; dan “keagungan” inilah yang dijanjikan oleh “Pangeran Kegelapan” akan diberikan kepada Yesus Kristus dari puncak gunung yang tinggi seandainya saja ia mengikuti dan menyembahnya.

Kristus dan Murid-murid-Nya mengabarkan Kerajaan Tuhan

Memang benar mereka adalah pertanda Kerajaan Tuhan di muka bumi. Jiwa dan inti dari Injil Yesus terkandung dalam ungkapan, “Kerajaan-Mu datang.”

Selama dua puluh abad umat Kristiani dari semua golongan dan naungan kepercayaan telah berdoa dan mengulang-ulang doa, “Kerajaan-Mu datang,” dan hanya Tuhan yang mengetahui berapa lama mereka akan terus berdoa dan dengan sia-sia mengantisipasi kedatangannya.

Antisipasi umat Kristiani akan datangnya Kerajaan Tuhan sama dengan antisipasi agama Yahudi akan datangnya Mesias. Kedua antisipasi ini memperlihatkan suatu imajinasi yang tanpa perhatian dan tanpa pikiran, dan anehnya mereka secara terus-menerus berpegang teguh pada harapan yang sia-sia ini.

Jika Anda bertanya kepada seorang pendeta Kristen mengenai pendapatnya tentang Kerajaan Tuhan, ia akan menceritakan kepada Anda segala macam hal yang dibuat-buat dan tak bermakna. Kerajaan ini, ia menegaskan, adalah Gereja tempat dirinya berada yang menguasai dan menyerap semua gereja bid’ah lainnya.

Pendeta lainnya akan berpidato panjang lebar mengenai “milenium.” Seorang Salvasionis atau seorang Quaker25 mungkin mengatakan kepada Anda bahwa menurut keyakinannya Kerajaan Tuhan akan terdiri dari orang-orang Kristen yang baru lahir dan tanpa dosa, yang dimandikan dan dibersihkan dengan darah Yesus; dan seterusnya.

Kerajaan Tuhan tidak berarti sebuah Gereja Katolik yang jaya, atau sebuah Negara Puritan yang diperbaharui dan tanpa dosa. Ia bukanlah seorang “Raja Milenium” yang suka berkhayal. Ia bukanlah sebuah kerajaan yang terdiri dari makhluk-makhluk langit, termasuk roh-roh almarhum para nabi dan orang-orang beriman yang diberkati, di bawah pemerintahan seorang Domba Tuhan; dengan para malaikat sebagai polisi dan polisi-militer-nya; para Kherub26 sebagai gubernur dan hakim-hakimnya; para Seraf27 sebagai perwira dan komandannya; atau para Malaikat yang utama sebagai Paus, Patriarch, Uskup, dan para pengabar Injil.

Kerajaan Tuhan di bumi adalah sebuah agama, sebuah masyarakat yang kuat yang percaya kepada Satu Tuhan dan dilengkapi dengan iman dan pedang untuk berperang dan mempertahankan eksistensi serta kemerdekaan mutlaknya melawan Kerajaan Kegelapan, melawan semua orang yang tidak percaya bahwa Tuhan itu Satu, atau mereka yang percaya bahwa Dia mempunyai seorang anak, seorang bapak atau ibu, sekutu dan sebaya.

Kata Yunani euangelion, diterjemahkan sebagai “Gospel” dalam bahasa Inggris, secara praktis berarti “ucapan kabar baik.” Dan ucapan ini adalah berita tentang Kerajaan Tuhan yang sedang mendekat, yang paling rendah di antara warga negaranya adalah lebih mulia dari Yohanes Pembaptis. Dia sendiri dan para Rasul setelahnya mengajarkan dan mengabarkan Kerajaan ini kepada bangsa Yahudi, mengajak mereka untuk percaya dan bertobat agar diizinkan memasukinya.

Yesus sebenarnya tidak membatalkan atau mengubah Hukum Musa, tetapi menafsirkannya dalam makna spiritual sehingga ia meninggalkannya sebagai surat yang tidak sampai kepada alamatnya (dead letter). Ketika ia menyatakan bahwa kebencian adalah akar dari pembunuhan, syahwat adalah sumber perzinahan, bahwa ketamakan dan kemunafikan adalah dosa yang sama buruknya dengan kemusyrikan, dan bahwa kasih-sayang dan kemurahan hati adalah lebih dapat diterima daripada sesajen yang dibakar dan ketaatan yang keras terhadap hari Sabat, maka secara praktis ia telah menghapuskan isi Hukum Musa demi makna spiritualnya.

Kitab-kitab Injil yang palsu dan banyak ditambah-tambah ini sering melaporkan cerita-cerita perumpamaan (parabel) dan penisbahan Kristus kepada Kerajaan Tuhan, dan kepada Barnasha atau Anak Manusia, tetapi mereka demikian rusak dan menyimpang sehingga berhasil, dan masih berhasil, dalam menyesatkan umat Kristiani yang malang untuk percaya bahwa yang dimaksud Yesus dengan “Kerajaan Tuhan” adalah Gerejanya, dan bahwa dia sendiri adalah “Anak Manusia.”

Poin-poin penting ini akan dibicarakan secara tuntas kemudian, insya Allah. Untuk sekarang ini saya harus puas dengan menyatakan apa yang dikabarkan Yesus, bawha Islam-lah yang dimaksud Kerajaan Tuhan itu dan bahwa Muhammadlah yang dimaksud sebagai Anak Manusia, yang ditugaskan untuk menghancurkan Binatang Buas dan untuk menegakkan Kerajaan yang kuat dan orang-orang suci milik Yang Mahatinggi.

Agama Tuhan, sampai Yesus Kristus, ditujukan terutama kepada Bani Israel; ia lebih bersifat material dan berkarakter nasional. Para ahli hukum, pendeta, dan penulisnya telah menodai agama itu dengan literatur yang kotor dan penuh tahayul tentang tradisi-tradisi para leluhur mereka. Kristus mengutuk tradisi-tradisi itu, mengecam kaum Yahudi dan para pemimpin mereka sebagai kaum “munafik” dan “anak-anak Iblis.” Meskipun setan kemusyrikan telah meninggalkan Israel, namun kemudian tujuh setan telah mengambil alih bangsa itu (Matius 12:43-456; Lukas 11:24-26).

Krisus mereformasi agama lama, memberikan suatu kehidupan dan spirit baru terhadapnya; ia menjelaskan dengan lebih gamblang tentang kekekalan jiwa manusia, kebangkitan dan kehidupan di dunia mendatang; dan secara terbuka mengumumkan bahwa Mesias yang sedang ditunggu-tunggu kaum Yahudi bukanlah seorang Yahudi atau anak Daud, melainkan anak Ismail yang namanya Ahmad, dan bahwa ia akan menegakkan Kerajaan Tuhan di bumi dengan kekuatan firman Tuhan dan dengan pedang. Konsekuensinya, agama Islam menerima suatu kehidupan, cahaya, dan spirit baru, dan para pemeluknya diharuskan bersikap sederhana, menunjukkan kesabaran dan penahanan hawa nafsu. Mereka sebelumnya diberitahu tentang penyiksaan, kesengsaraan, kesyahidan, dan penjara.

Kaum “Nashara” awal –demikian Al-Qur’an menyebut orang-orang yang beriman kepada Kitab Injil Yesus Kristus– mengalami sepuluh penyiksaan yang menakutkan di bawah Kekaisaran Romawi. Kemudian datanglah Konstantn Agung dan memproklamirkan kebebasan untuk Gereja; tetapi setelah ada keputusan-keputusan dan Akidah Trinitas dari Dewan Nicene pada 325 M, kaum Muslim28 Unitarian menerima serangkaian penyiksaan baru dan bahkan lebih kejam dari kaum Trinitarian, sampai lahirnya Muhammad saw.

Sifat dan Konstitusi Kerajaan Tuhan

Ada lagu Islami yang indah dan dikumandangkan lima kali sehari dari menara dan mesjid-mesjid pada setiap belahan bumi di mana kaum Muslim hidup. Lagu ini diikuti dengan suatu peribadatan yang sangat khidmat kepada Allah oleh umat-Nya yang tulus. Nyanyian pujian Muslim yang indah ini disebut adzan. Ini bukan segala-galanya; setiap perbuatan, perusahaan dan bisnis, betapapun penting atau remeh-remehnya ia, dimulai dengan ucapan bismillah (dengan nama Allah), dan diakhiri dengan Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah).

Pertlian iman yang mengikat seorang Muslim dengan Raja Surga-nya begitu erat, sehingga tidak ada, betapa pun kuat atau menggairahkannya, yang dapat memisahkan dia dari Allah. Al-Qur’an menyatakan bahwa “Kita lebih dekat kepada Tuhan daripada hablul-Warid,” yang berarti “kehidupan sia-sia”.

Tidak pernah ada seorang anggota kesayangan yang, dalam perasaan kasih sayang, kesetiaan, kepatuhan, dan respeknya terhadap rajanya yang dermawan, penuh sanggup menyamai perasaan yang mereka miliki terhadap Tuhannya. Allah adalah Raja Langit dan Bumi, Dia adalah Raja Diraja dan Lord of the Lord pada umumnya. Dia adalah Raja dan Tuhan dari setiap Muslim khususnya, karena hanya seorang Muslim yang bersyukur dan memuji Rajanya Yang Mahakuasa atas semua yang terjadi dan menimpanya. Apakah itu kemakmuran atau sebaliknya?

Hampir –lebih kurang– tiga ratus juta Muslim diberkati dengan perasaan keimanan dan kepercayaan yang sama kepada Allah.

Oleh karena tiu, jelaslah bahwa Islam tercapai karena ia menjadi satu-satunya Kerajaan Teokratis di bumi yang riil dan sebenar-benarnya. Allah tidak perlu lagi mengirim para Utusan atau Nabi untuk menyampaikan sabda dan pesan-pesan-Nya kepada kaum Muslim sebagaimana biasa Dia lakukan kepada Bani Israel dan kaum Yahudi lainnya; karena kehendak-Nya sepenuhnya diungkapkan dalam Al-Qur’an dan tertanam dalam benak hamba-hambanya yang tulus.

Adapun mengenai pembentukan dan konstitusi Kerajaan Tuhan, inter alia, maka poin-poin berikut ini perlu diperhatikan:

Semua Muslim membentuk satu bangsa, satu keluarga, dan satu persaudaraan. Saya tidak perlu menahan para pembaca untuk mengkaji berbagai kutipan dari Al-Qur’an dan hadits (tradisi Nabi) mengenai poin-poin ini. Kita harus menilai masyarakat Muslim tidak seperti adanya sekarang, tetapi seperti dulu di masa Muhammad dan para penggantinya yang dekat.

Setiap anggota kaum ini adalah pekerja yang jujur, prajurit yang berani, dan seorang yang memiliki keyakinan dan ketaatan yang kuat. Semua hasil kerja keras yang jujur menjadi milik dan hak orang lain yang mengusahakannya; namun demikian, hukum menyebabkan mustahil bagi seorang Muslim untuk menjadi kaya secara berlebih-lebihan.

Satu dari lima29 amal saleh Islam yang wajib adalah kewajiban bersedekah (pemberian sukarela) dan berzakat (pemberian wajib). Di masa Nabi dan empat Khalifah pertama, tidak seorang Muslim pun dikenal sangat kaya sekali. Kekayaan nasional masuk ke dalam perbendaharaan umum yang disebut Baitul Mal, dan tidak seorang Muslim pun dibiarkan hidup dalam kemiskinan.

Nama “Muslim” secara harfiah berarti “pembuat kedamaian.” Anda tidak akan pernah dapat menemukan manusia lain yang lebih patuh, ramah, tidak mengganggu dan damai daripada seorang Muslim yang baik. Namun, begitu agama, kehormatan, dan hartanya diserang, si Muslim menjadi seorang lawan yang hebat. Al-Qur’an sangat tepat mengenai hal ini, “Wa la ta’tadu” (Dan janganlah engkau melanggar [atau melakukan serangan]).

Jihad bukanlah perang untuk melanggar, tapi untuk membela diri. Meskipun para perampok, suku-suku yang buas, kaum Muslim pengembara yang setengah biadab, mungkin punya pikiran yang relijius dan kepercayaan terhadap eksistensi Allah, namun tidak adanya pengetahuan dan pendidikan keagamaan lah yang menjadi sumber penyebab sifat buruk dan kerusakan moral mereka. Mereka adalah kekecualian. Kita tidak akan dapat menjadi seorang Muslim yang baik tanpa pendidikan
dan pengajaran keagamaan.

Menurut deskripsi dari Nabi Daniel, warga Kerajaan Tuhan adalah “the People of the Saints” (orang-orang Suci). Dalam teks asli Khaldea dan Aramia, mereka digambarkan sebagai “A’mma d’ qaddishid’ I’lionin,” sebuah julukan yang hanya patut untuk Pangeran para Nabi dan untuk tentaranya yang mulia dari kaum Muhajirin (Imigran) dan Anshar (Penolong), yang mencabut habis kemusyrikan hingga ke akar-akarnya dari sebagian besar Asia dan Afrika dan menghancurkan Binatang Buas Romawi.

Semua Muslim, yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan Rasul-rasul-Nya, beriman kepada hari Kebangkitan dan Pengadilan, dan meyakini bahwa kebaikan dan keburukan adalah dari Allah, dan mengerjakan amal shaleh menurut kemampuan dan niat baik mereka, adalah orang-orang suci dan warga yang Kerajaan diberkati. Tidak ada kebodohan religius yang lebih buruk daripada kepercayaan bahwa ada oknum yang disebut Holy Ghost (Roh Kudus) yang mengisi hati orang-orang yang dibaptis atas nama tiga tuhan, masing-masing yang ketiga dari tiga, atau yang tiga dari ketiga, dan dengan demikian mengorbankan orang-orang yang mempercayai kemustahilan mereka.

Seorang Muslim percaya bahwa tidak hanya ada satu Holy Spirit (Roh Kudus), melainkan tidak terhitung jumlahnya yang semuanya diciptakan dan meladeni Tuhan Yang Satu. Kaum Muslim diciptakan, tidak melalui pembaptisan atau permandian, tetapi roh mereka dibersihkan dan disucikan oleh cahaya iman dan oleh api semangat dan keberanian untuk membela dan berperang demi keimanan itu.

Yohanes Pembaptis, atau malah Kristus sendiri (menurut Kitab Injil Barnabas), berkata, “Aku membaptisamu dengan air pertobatan, namun dia yang datang setelahku, dia lebih kuat dariku; dia akan membaptismu dengan api dan dengan roh kudus.” Dengan api dan roh inilah Muhammad membaptis (mempermandikan) kaum pengembara yang setengah biadab, kaum kafir penyembah berhala, dan mengubah mereka menjadi pasukan orang suci yang heroik, yang mengubah sinagog tua yang semakin surut kekuasaannya dan gereja rusak menjadi Kerajaan Allah yang permanen dan kokoh di negeri-negeri yang dijanjikan dan di tempat-tempat lainnya.

Keabadian dan Kemuliaan Kerajaan Allah

Hal ini dua kali dipastikan oleh seorang Malaikat kepada Daniel. Dinyatakan bahwa “semua bangsa di bawah langit akan melayani Orang-orang Suci milik Yang Mahatinggi.”

Tidak perlu bukti untuk mengatakan bahwa semua Kekuasaan Orang Kristen menunjukkan suatu respek tertentu, dan bahkan rasa hormat bila perlu tidak hanya kepada Kekuasaan Muslim dan tempat-tempat suci serta mesjid-mesjid kaum Muslim, tapi juga kepada institusi-institusi lokal dari warga Muslim mereka. Misteri “pengabdian” ini terletak pada:

kaum Muslim selalu membangkitkan rasa hormat dan takut melalui perilaku mereka yang bermartabat, kesetiaan pada agama mereka dan ketaatan pada hukum yang adil, dan ketentraman merekal;
karena pemerintahan-pemerintahan Kristen, biasanya, memperlakukan kaum Muslim dengan adil dan tidak mencampuri hukum dan agama mereka.

Ruangan yang ada tidak mengizinkan kita untuk memperluas pengamatan kita pada poin-poin lain dari Agama dan Kerajaan Tuhan ini, seperti Khalifah-khalifah Muslim, Sultan, dan sebagainya. Cukup dikatakan bahwa pemerintahan-pemerintahan Muslim tunduk pada hukum Qurani yang sama dengan kompatriot mereka; bahwa keadilan dan kesederhanaan adalah sebaik-baiknya upaya perlindungan untuk kemakmuran dan stabilitas setiap Negara, Muslim atau non-Muslim; dan bahwa semangat dan prinsip Kitab Allah adalah sebaik-baiknya petunjuk untuk semua perundang-undangan dan peradaban.

——————————————————————————–

Footnotes
22. Vide Artikel V dan VI, yang terdapat dalam Islamic Review untuk Nopember dan Desember, 1928.
23. Dalam bahasa Ibrani Imam-imam tua ini disebut “Kohen,” dan diterjemahkan oleh umat Kristiani sebagai “Pendeta.” Seorang pendeta Yahudi tidak bisa disamakan dengan pendeta Sakramentarian Kristen.
24. Istilah “Muhammadan” digunakan di sini untuk membedakannya dari Mosaic Law, yang dua-duanya dari Allah.
25. Suatu perkumpulan Kristen yang antiperang dan antisumpah–penerj.
26. Malaikat urutan kedua, atau malaikat yang digambarkan sebagai anak kecil bersayap–penerj.
27. Makhluk langit yang memiliki tiga pasang sayap, atau salah satu dari sembilan urutan malaikat–penerj.
28. Yesus Kristus tidak pernah mengizinkan pengikutnya untuk menyebut diri mereka “Kristen.” Tidak ada sebutan yang lebih baik untuk kaum Unitarian selain “Muslim.” –A.D.
29. Jihad atau “Perang Suci” adalah juga sebuah amal shaleh yang hukumnya wajib. Jadi, jumlahnya bukan empat, tapi lima.

154. syekh yusuf - 24 Oktober, 2008

Menguak Misteri Muhammad
Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

Islam Adalah Kerajaan Tuhan Di Muka Bumi
Ketika memeriksa ramalan Nabi Daniel (Pasal 7) yang mengagumkan itu, kita melihat22 betapa Muhammad diiringi oleh banyak sekali makhluk langit dan di bawa ke hadirat agung Sang Mahakekal; betapa beliau mendengar kata-kata hormat dan kasih sayang yang tidak pernah diberikan kepada makhluk lain (2 Korintus 11); bagaimana beliau dinobatkan sebagai Sultan para Nabi dan dibekali dengan kekuatan untuk menghancurkan “Binatang Buas Keempat” dan “Tanduk yang Menghujat Tuhan.”

Selain itu, kita melihat bagaimana beliau diberi wewenang untuk menegakkan dan memproklamirkan Kerajaan Tuhan di muka bumi; bagaimana segenap kemampuan manusia dapat membayangkan kehormatan tertinggi yang diberikan oleh Yang Mahakuasa kepada seorang Hamba tercinta dan kepada Rasul-Nya yang paling pantas dapat dianggap hanya berasal dari Muhammad semata.

Perlu diingat bahwa dari semua Nabi dan Rasul Allah, hanya Muhammad yang muncul laksana sebuah menara yang lebih tinggi dari semua menara lainnya; dan karya yang hebat dan mulia yang dikerjakannya menjadi sebuah monumen kehormatan dan kebesarannya yang abadi.

Seseorang tidak dapat mengapresiasi nilai dan arti penting dari Islam sebagai benteng pertahanan khas untuk melawan pemberhalaan dan politheisme kalau keesaan Tuhan yang mutlak tidak diakui secara sungguh-sungguh.

Ketika kita menyadari sepenuhnya bahwa Allah adalah Tuhan yang juga dikenal oleh Adam dan Ibrahim, dan yang disembah oleh Musa dan Yesus, maka tidak ada kesulitan bagi kita untuk menerima Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan Muhammad sebagai Pangeran dari semua Nabi dan Hamba Tuhan. Kita tidak dapat menambah kebesaran Allah dengan memahami-NYa sekarang sebagai “Bapak,” sekarang sebagai “Anak,” dan sekarang sebagai “Roh Kudus,” atau membayangkan Dia sebagai memiliki tiga oknum yang dapat saling memanggil dengan tiga kata ganti orang tunggal: aku, engkau, dia. Dengan begitu maka kita kehilangan semua konsep yang benar mengenai Wujud Mutlak, dan tidak lagi beriman kepada Tuhan yang Sejati.

Dengan cara yang sama, kita tidak bisa menambah sedikit pun pada kesucian agama dengan cara melembagakan sakramen-sakramen atau misteri-misteri; juga kita tidak dapat memperoleh makanan spiritual apap pun untuk roh kita dari mayat seorang nabi atau tuhan yang menitis; karena dengan berbuat begitu maka kita kehilangan semua gagasan tentang sebuah agama yang benar dan riil dan tidak lagi mempercayai agama sama sekali.

Juga kita tidak bisa, setidaknya, mempromosikan martabat Muhammad jika kita harus membayangkan sebagai seorang anak Tuhan atau titisan Tuhan; karena dengan berbuat begitu kita akan benar-benar kehilangan Nabi dari Mekah yang riil dan bersejarah dan tanpa disadari jatuh ke dalam jurang politheisme yang dalam sekali.

Kebesaran Muhammad terletak dalam upayanya menegakkan agama yang begitu logis, jelas, namun benar, dan dalam aplikasi praktis dari ajaran dan prinsip-prinsipnya yang saking teliti dan tegasnya sampai-sampai mustahil bagi seorang Muslim sejati untuk menerima syahadat atau keimanan lain selain dari yang diakui dalam ungkapan, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.” Dan syahadat singkat ini selanjutnya menjadi keyakinan dari setiap Mukmin sejati hingga hari kebangkitan.

Sang pemusnah agung yang menghancurkan “Tanduk Kesebelas”, yang melambangkan Konstantin Agung dan Gereja Trinitas, bukanlah seorang Bar Allaha (Anak Tuhan), melainkan seorang Bar Nasha (Anak Manusia) dan tidak seorang pun selain Muhammad al-Musthafa yang benar-benar mendirikan dan membangun Kerajaan Tuhan di bumi. Kerajaan Tuhan inilah yang sekarang akan kita kaji dan uraikan.

Harus diingat bahwa selama pertemuan ilahiah dengan Sultan para Nabi inilah, sebagaimana dikemukakan dalam Daniel, dijanjikan bahwa:

“Pemerintahan, kekuasaan, dan kebesaran dari Kerajaan-kerajaan di bawah semesta langit akan diberikan kepada orang-orang Suci milik yang Mahatinggi; pemerintahan [rakyat]-nya [akan menjadi] sebuah pemerintahan yang kekal, dan semua kekuasaan akan mengabdi dan patuh kepadanya.” (Daniel 7:22,27)

Ungkapan-ungkapan dalam bagian kenabian ini yang menyatakan bahwa kerajaan Tuhan akan terdiri dari “Orang-orang Suci milik Yang Mahatinggi”, dan bahwa semua kekuasaan atau pemerintahan lainnya akan mengabdi dan mematuhi orang-orang itu, dengan jelas menunjukkan bahwa dalam Islam, Agama dan Negara adalah satu tubuh yang sama, dan konsekuensinya tidak dapat dipisahkan. Islam bukanlah hanya Agama Tuhan, tapi juga kekuasaan atau kerajaan duniawi-Nya.

Agar dapat membentuk sebuah gagasan yang jelas dan benar mengenai sifat dan konstitusi dari “Kerajaan Tuhan di bumi” maka perlu melihat sekilas sejarah agama Islam sebelum ia disempurnakan, dilengkapkan, dan secara resmi ditegakkan oleh Tuhan Sendiri di bawah Muhammad Rasul-Nya.

Islam Sebelum Muhammad bukanlah Kerajaan Tuhan di Bumi Melainkan Hanya Agama Tuhan yang benar

Mereka yang percaya bahwa agama Allah yang benar diwahyukan hanya kepada Ibrahim dan dipelihara hanya oleh Bani Israel saja, pastilah pengkaji Literatur Perjanjian Lama yang sangat bodoh, dan pasti memiliki pengetahuan yang sangat keliru mengenai sifat agama itu.

Ibrahim sendiri membayar tithe (semacam zakat) kepada Raja dan Imam23 Yerusalem dan direstui olehnya (Kitab Kejadian 14:18). Bapak mertua Musa, adalah juga seorang Imam dan seorang Nabi Allah; Yob, Balaam, Ad, Hud, Lukman, dan banyak nabi lainnya bukanlah orang Yahudi. Berbagai macam suku dan bangsa seperti Ishmail, Moab, Ammon, Edom, dan lain-lainnya yang merupakan anak-anak Ibrahim dan Luth, mengenal Tuhan Yang Mahakuasa meski mereka pun, seperti Bani Israel, jatuh ke dalam kemusyrikan dan kebodohan.

Namun, cahaya Islam sama sekali tidak pernah padam atau pun digantikan oleh kemusyrikan. Patung-patung dan gambar-gambar, yang dianggap “sakral” dan sebagai tuhan-tuhan rumah tangga oleh kaum Yahudi, dan juga bangsa-bangsa sama, dan biasanya disebut “Traphim” (Kitab Kejadian 31) dalam bahsa Ibrani, adalah –menurut pendapat saya yang sederhana– memiliki sifat dan karakter yang sama dengan gambar-gambar dan patung-patung yang disimpan dan disembah oleh kaum Kristen Ortodoks dan Katolik di rumah-rumah dan bait-bait mereka.

Di jaman kebodohan yang kuno, patung-patung merupakan semacam “kartu identitas” atau sebagai paspor. Bukankah luar biasa mengetahui bahwa Rahel (Rahil), istri Yaqub dan anak perempuan Laban, harus mencuri “traphim” bapaknya? (Kitab Kejadian 31). Bagaimanapun Laban dan juga suaminya adalah Muslim, dan pada hari yang sama menaikkan batu “Mispha” dan mempersembahkannya kepada Tuhan!

Kaum Yahudi di padang gurun, mabuk dengan keanehan dan keajaiban yang terjadi siang-malam –kemah mereka dinaungi oleh awan yang ajaib pada siang hari dan diterangi oleh tiang api pada malam hari, mereka sendiri diberi makan dengan “manna” dan “salwa”– segera setelah Nabi Musa lenyap selama beberapa hari di puncak Gunung Sinai yang berkabut, membuat sebuah patung anak sapi dari emas dan menyembahnya.

Sejarah tentang kaum yang keras kepada dari sejak kematiannya Yoshua sampai upacara perminyakan suci raja Saul, yang meliputi seuatu masa lebih dari empat abad, penuh dengan penyembahan berhala yang memalukan yang selalu kambuh dan kambuh lagi. Hanya setelah ditutupnya wahyu dan undang-undang dari Kitab-kitab Suci mereka pada abad ketiga sebelum Masehi, barulah kaum Yahudi berhenti menyembah patung-patung, dan sejak itu tetap sebagai kaum monoteis (ahlutauhid). Namun, kepercayaan mereka akan Keesaan Tuhan, meskipun hal itu menjadikan mereka memenuhi syariat untuk disebut “Muslim,” karena mereka dengan kepala batu telah menolak baik Yesus, Muhammad, maupun wahyunya.

Hanya melalui ketundukkan kepada kehendak Tuhan, barulah seseorang dapat mencapai kedamaian dan menjadi Muslim. Sebaliknya, keyakinan tanpa ketaatan dan ketundukkan adalah sama dengan keyakinan iblis yang mempercayai eksistensi Allah dan gemetar.

Karena kita tidak mempunyai catatan tentnag kaum-kaum lain yang disokong dengan wahyu Ilahi dan para nabi serta Imam yang didatangkan kepada mereka oleh Tuhan, kita harus puas dengan pernyataan bahwa agama Islam yang hidup di tengah bangsa Israel dan bangsa-bangsa Arab lainnya, di jaman dahulu, kadang-kadang lebih bercahaya, namun kebanyakan seperti sumbu yang kerlap-kerlip atau seperti sinar yang redup dalam sebuah ruang yang gelap. Ia adalah agama yang diakui oleh suatu kaum yang segera melupakannya, atau mengabaikannya, atau mengubahnya menjadi ibadat kaum pagan. Namun begitu selalu ada individu atau keluarga yang mencintai dan menyembah Tuhan.

Nampaknya kaum Yahudi, khususnya rakyat jelata, tidak mempunyai konsepsi yang benar tentang Tuhan dan agama sebagaimana dipunyai kaum Muslim tentang Allah dan Islam. Apabila Bani Israel menjadi makmur dan menang dalam perang-perangnya, maka Yahwah pun diakui dan disembah; tapi bila terjadi sebaliknya, Dia ditinggalkan dan tuhan dari bangsa yang lebih kuat dan lebih makmur pun diambil dan patung atau gambarnya disembah.

Sebuah kajian teliti terhadap Kitab Suci Ibrani menunjukkan bahwa orang Yahudi awam menganggap tuhannya kadang-kadang lebih kuat atau lebih tinggi, dan kadang lebih lemah, dibandingkan tuhan-tuhan yang diakui oleh bangsa-bangsa lainnya. Kepindahan mereka yang sangat mudah dan berulang-kali ke dalam penyembahan berhala adalah suatu bukti bahwa bangsa Israel memiliki pemikiran yang nyaris sama tentang El atau Yahwah mereka, sebagaimana dimilki bangsa Assyria tentang Ashur-nya, bangsa Babylonia tentang Mardukh-nya, dan bangsa Phoenicia dengan Ba’al-nya. Dengan kekecualian para nabi dan sofi, kaum Muslim dari taurat, Bani Israel dari Hukum Musa, tidak pernah naik menyamai tingginya kesucian agama mereka, tidak juga tingginya konsepsi Ketuhanan mereka yang benar.

Keimanan pada Allah dan keyakinan serta keimanan yang kokoh terhadap kehidupan masa akan datang tidak mendarah daging dan tertanam dalam semangat dan batin kaum Yahudi.

Maka, alangkah kontrasnya antara kaum Muslim dan Al-Qur’an, kaum Mukmin dari Muhammadan Law24 (Hukum Muhammad), dan kaum Muslim dari Taurat atau Mosaic Law (Hukum Musa)! Pernahkah diketahui dan dibuktikan bahwa ada satu kaum Muslim meninggalkan mesjid, Imam, dan Al-Qur’an-nya, lantas memeluk agama lain dan mengakui bahwa Allah adalah bukan Tuhannya? Tidak pernah! Sangat mustahil kalau suatu komunitas Muslim pengikut Muhammad, sepanjang ia dilengkapi dengan [dan benar-benar menghayati] Kitab Allah, mesjid dan mullah, bisa kembali ke dalam penyembahan berhala atau bahkan ke dalam agama Kristen.

Saya mengetahui beberapa keluarga Tartar yang memeluk Agama Kristen Ortodoks di Rusia. Namun, saya dapat meyakinkan para pembaca, dengan sumber yang otentik, bahwa orang-orang “Tartar” ini adalah bangsa Mongol yang, lama setelah penaklukkan Rusia dan didirikannya “Altin Ordu” oleh Batu Khan, masih pagan atau baru pindah ke Islam dan nampaknya telah dipaksa atau dibujuk untuk mengikuti Gereja Rusi. Dan dalam kaitan ini jangan dilupakan bahwa ini terjai setelah kekuasaan Muslim “Golden Horde” (“Altin Ordu”) ambruk karena invasi Timur Lang (Tamerlane) yang hebat sekali.

Sebaliknya, para pedagang dan saudagar Muslim, di Cina dan juga di benua hitam Afrika, selalu meyebarkan agama suci mereka; dan jutaan Muslim Cina dan negro adalah hasil dari para misionaris Muslim yang tidak dibayar dan tidak resmi ini.

Jelaslah dari keterangan di atas bahwa agama Tuhan yang benar sebelum Muhammad itu hanya dalam pertumbuhannya, bahwa ia masih belum matang dan tidak berkembang di tengah-tengah kaum Yahudi, meskipun ia bersinar cemerlang dalam kehidupan para hamba Yahwah yang sejati. Di bawah pimpinan para hakum yang takut kepada Tuhan dan Raja-raja Israel yang shaleh, pemerintahan selalu bersfat teokratis, dan sepanjang sabda-sabda para nabi diterima dengan baik dan perintah-perintah mereka dilaksanakan sebagaimana mestinya, maka baik agama maupun bangsa akan menjadi maju.

Namun, agama Tuhan yang benar tidak pernah berbentuk Kerajaan Tuhan sebagaimana di bawah rezim Qur’ani. Allah dalam hikmah-Nya yang tidak terbatas telah menetapkan bahwa empat Kuasa Kegelapan besar akan datang silih berganti sebelum Kerajaan-Nya sendiri ditegakkan. Peradaban-peradaban dan kekaisaran-kekaisaran besar kuno dari Assyro-Khaldea, dari Medo-Persia, dari Yunani, dan dari Romawi, akan muncul dan berkembang, untuk menyiksa dan menzalimi para rasul, dan melakukan semua kejahatan dan kenakalan yang direncanakan oleh Iblis. Keagungan dari kuasa-kuasa besar ini terletak pada penyembahan mereka terhadap Iblis; dan “keagungan” inilah yang dijanjikan oleh “Pangeran Kegelapan” akan diberikan kepada Yesus Kristus dari puncak gunung yang tinggi seandainya saja ia mengikuti dan menyembahnya.

Kristus dan Murid-murid-Nya mengabarkan Kerajaan Tuhan

Memang benar mereka adalah pertanda Kerajaan Tuhan di muka bumi. Jiwa dan inti dari Injil Yesus terkandung dalam ungkapan, “Kerajaan-Mu datang.”

Selama dua puluh abad umat Kristiani dari semua golongan dan naungan kepercayaan telah berdoa dan mengulang-ulang doa, “Kerajaan-Mu datang,” dan hanya Tuhan yang mengetahui berapa lama mereka akan terus berdoa dan dengan sia-sia mengantisipasi kedatangannya.

Antisipasi umat Kristiani akan datangnya Kerajaan Tuhan sama dengan antisipasi agama Yahudi akan datangnya Mesias. Kedua antisipasi ini memperlihatkan suatu imajinasi yang tanpa perhatian dan tanpa pikiran, dan anehnya mereka secara terus-menerus berpegang teguh pada harapan yang sia-sia ini.

Jika Anda bertanya kepada seorang pendeta Kristen mengenai pendapatnya tentang Kerajaan Tuhan, ia akan menceritakan kepada Anda segala macam hal yang dibuat-buat dan tak bermakna. Kerajaan ini, ia menegaskan, adalah Gereja tempat dirinya berada yang menguasai dan menyerap semua gereja bid’ah lainnya.

Pendeta lainnya akan berpidato panjang lebar mengenai “milenium.” Seorang Salvasionis atau seorang Quaker25 mungkin mengatakan kepada Anda bahwa menurut keyakinannya Kerajaan Tuhan akan terdiri dari orang-orang Kristen yang baru lahir dan tanpa dosa, yang dimandikan dan dibersihkan dengan darah Yesus; dan seterusnya.

Kerajaan Tuhan tidak berarti sebuah Gereja Katolik yang jaya, atau sebuah Negara Puritan yang diperbaharui dan tanpa dosa. Ia bukanlah seorang “Raja Milenium” yang suka berkhayal. Ia bukanlah sebuah kerajaan yang terdiri dari makhluk-makhluk langit, termasuk roh-roh almarhum para nabi dan orang-orang beriman yang diberkati, di bawah pemerintahan seorang Domba Tuhan; dengan para malaikat sebagai polisi dan polisi-militer-nya; para Kherub26 sebagai gubernur dan hakim-hakimnya; para Seraf27 sebagai perwira dan komandannya; atau para Malaikat yang utama sebagai Paus, Patriarch, Uskup, dan para pengabar Injil.

Kerajaan Tuhan di bumi adalah sebuah agama, sebuah masyarakat yang kuat yang percaya kepada Satu Tuhan dan dilengkapi dengan iman dan pedang untuk berperang dan mempertahankan eksistensi serta kemerdekaan mutlaknya melawan Kerajaan Kegelapan, melawan semua orang yang tidak percaya bahwa Tuhan itu Satu, atau mereka yang percaya bahwa Dia mempunyai seorang anak, seorang bapak atau ibu, sekutu dan sebaya.

Kata Yunani euangelion, diterjemahkan sebagai “Gospel” dalam bahasa Inggris, secara praktis berarti “ucapan kabar baik.” Dan ucapan ini adalah berita tentang Kerajaan Tuhan yang sedang mendekat, yang paling rendah di antara warga negaranya adalah lebih mulia dari Yohanes Pembaptis. Dia sendiri dan para Rasul setelahnya mengajarkan dan mengabarkan Kerajaan ini kepada bangsa Yahudi, mengajak mereka untuk percaya dan bertobat agar diizinkan memasukinya.

Yesus sebenarnya tidak membatalkan atau mengubah Hukum Musa, tetapi menafsirkannya dalam makna spiritual sehingga ia meninggalkannya sebagai surat yang tidak sampai kepada alamatnya (dead letter). Ketika ia menyatakan bahwa kebencian adalah akar dari pembunuhan, syahwat adalah sumber perzinahan, bahwa ketamakan dan kemunafikan adalah dosa yang sama buruknya dengan kemusyrikan, dan bahwa kasih-sayang dan kemurahan hati adalah lebih dapat diterima daripada sesajen yang dibakar dan ketaatan yang keras terhadap hari Sabat, maka secara praktis ia telah menghapuskan isi Hukum Musa demi makna spiritualnya.

Kitab-kitab Injil yang palsu dan banyak ditambah-tambah ini sering melaporkan cerita-cerita perumpamaan (parabel) dan penisbahan Kristus kepada Kerajaan Tuhan, dan kepada Barnasha atau Anak Manusia, tetapi mereka demikian rusak dan menyimpang sehingga berhasil, dan masih berhasil, dalam menyesatkan umat Kristiani yang malang untuk percaya bahwa yang dimaksud Yesus dengan “Kerajaan Tuhan” adalah Gerejanya, dan bahwa dia sendiri adalah “Anak Manusia.”

Poin-poin penting ini akan dibicarakan secara tuntas kemudian, insya Allah. Untuk sekarang ini saya harus puas dengan menyatakan apa yang dikabarkan Yesus, bawha Islam-lah yang dimaksud Kerajaan Tuhan itu dan bahwa Muhammadlah yang dimaksud sebagai Anak Manusia, yang ditugaskan untuk menghancurkan Binatang Buas dan untuk menegakkan Kerajaan yang kuat dan orang-orang suci milik Yang Mahatinggi.

Agama Tuhan, sampai Yesus Kristus, ditujukan terutama kepada Bani Israel; ia lebih bersifat material dan berkarakter nasional. Para ahli hukum, pendeta, dan penulisnya telah menodai agama itu dengan literatur yang kotor dan penuh tahayul tentang tradisi-tradisi para leluhur mereka. Kristus mengutuk tradisi-tradisi itu, mengecam kaum Yahudi dan para pemimpin mereka sebagai kaum “munafik” dan “anak-anak Iblis.” Meskipun setan kemusyrikan telah meninggalkan Israel, namun kemudian tujuh setan telah mengambil alih bangsa itu (Matius 12:43-456; Lukas 11:24-26).

Krisus mereformasi agama lama, memberikan suatu kehidupan dan spirit baru terhadapnya; ia menjelaskan dengan lebih gamblang tentang kekekalan jiwa manusia, kebangkitan dan kehidupan di dunia mendatang; dan secara terbuka mengumumkan bahwa Mesias yang sedang ditunggu-tunggu kaum Yahudi bukanlah seorang Yahudi atau anak Daud, melainkan anak Ismail yang namanya Ahmad, dan bahwa ia akan menegakkan Kerajaan Tuhan di bumi dengan kekuatan firman Tuhan dan dengan pedang. Konsekuensinya, agama Islam menerima suatu kehidupan, cahaya, dan spirit baru, dan para pemeluknya diharuskan bersikap sederhana, menunjukkan kesabaran dan penahanan hawa nafsu. Mereka sebelumnya diberitahu tentang penyiksaan, kesengsaraan, kesyahidan, dan penjara.

Kaum “Nashara” awal –demikian Al-Qur’an menyebut orang-orang yang beriman kepada Kitab Injil Yesus Kristus– mengalami sepuluh penyiksaan yang menakutkan di bawah Kekaisaran Romawi. Kemudian datanglah Konstantn Agung dan memproklamirkan kebebasan untuk Gereja; tetapi setelah ada keputusan-keputusan dan Akidah Trinitas dari Dewan Nicene pada 325 M, kaum Muslim28 Unitarian menerima serangkaian penyiksaan baru dan bahkan lebih kejam dari kaum Trinitarian, sampai lahirnya Muhammad saw.

Sifat dan Konstitusi Kerajaan Tuhan

Ada lagu Islami yang indah dan dikumandangkan lima kali sehari dari menara dan mesjid-mesjid pada setiap belahan bumi di mana kaum Muslim hidup. Lagu ini diikuti dengan suatu peribadatan yang sangat khidmat kepada Allah oleh umat-Nya yang tulus. Nyanyian pujian Muslim yang indah ini disebut adzan. Ini bukan segala-galanya; setiap perbuatan, perusahaan dan bisnis, betapapun penting atau remeh-remehnya ia, dimulai dengan ucapan bismillah (dengan nama Allah), dan diakhiri dengan Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah).

Pertlian iman yang mengikat seorang Muslim dengan Raja Surga-nya begitu erat, sehingga tidak ada, betapa pun kuat atau menggairahkannya, yang dapat memisahkan dia dari Allah. Al-Qur’an menyatakan bahwa “Kita lebih dekat kepada Tuhan daripada hablul-Warid,” yang berarti “kehidupan sia-sia”.

Tidak pernah ada seorang anggota kesayangan yang, dalam perasaan kasih sayang, kesetiaan, kepatuhan, dan respeknya terhadap rajanya yang dermawan, penuh sanggup menyamai perasaan yang mereka miliki terhadap Tuhannya. Allah adalah Raja Langit dan Bumi, Dia adalah Raja Diraja dan Lord of the Lord pada umumnya. Dia adalah Raja dan Tuhan dari setiap Muslim khususnya, karena hanya seorang Muslim yang bersyukur dan memuji Rajanya Yang Mahakuasa atas semua yang terjadi dan menimpanya. Apakah itu kemakmuran atau sebaliknya?

Hampir –lebih kurang– tiga ratus juta Muslim diberkati dengan perasaan keimanan dan kepercayaan yang sama kepada Allah.

Oleh karena tiu, jelaslah bahwa Islam tercapai karena ia menjadi satu-satunya Kerajaan Teokratis di bumi yang riil dan sebenar-benarnya. Allah tidak perlu lagi mengirim para Utusan atau Nabi untuk menyampaikan sabda dan pesan-pesan-Nya kepada kaum Muslim sebagaimana biasa Dia lakukan kepada Bani Israel dan kaum Yahudi lainnya; karena kehendak-Nya sepenuhnya diungkapkan dalam Al-Qur’an dan tertanam dalam benak hamba-hambanya yang tulus.

Adapun mengenai pembentukan dan konstitusi Kerajaan Tuhan, inter alia, maka poin-poin berikut ini perlu diperhatikan:

Semua Muslim membentuk satu bangsa, satu keluarga, dan satu persaudaraan. Saya tidak perlu menahan para pembaca untuk mengkaji berbagai kutipan dari Al-Qur’an dan hadits (tradisi Nabi) mengenai poin-poin ini. Kita harus menilai masyarakat Muslim tidak seperti adanya sekarang, tetapi seperti dulu di masa Muhammad dan para penggantinya yang dekat.

Setiap anggota kaum ini adalah pekerja yang jujur, prajurit yang berani, dan seorang yang memiliki keyakinan dan ketaatan yang kuat. Semua hasil kerja keras yang jujur menjadi milik dan hak orang lain yang mengusahakannya; namun demikian, hukum menyebabkan mustahil bagi seorang Muslim untuk menjadi kaya secara berlebih-lebihan.

Satu dari lima29 amal saleh Islam yang wajib adalah kewajiban bersedekah (pemberian sukarela) dan berzakat (pemberian wajib). Di masa Nabi dan empat Khalifah pertama, tidak seorang Muslim pun dikenal sangat kaya sekali. Kekayaan nasional masuk ke dalam perbendaharaan umum yang disebut Baitul Mal, dan tidak seorang Muslim pun dibiarkan hidup dalam kemiskinan.

Nama “Muslim” secara harfiah berarti “pembuat kedamaian.” Anda tidak akan pernah dapat menemukan manusia lain yang lebih patuh, ramah, tidak mengganggu dan damai daripada seorang Muslim yang baik. Namun, begitu agama, kehormatan, dan hartanya diserang, si Muslim menjadi seorang lawan yang hebat. Al-Qur’an sangat tepat mengenai hal ini, “Wa la ta’tadu” (Dan janganlah engkau melanggar [atau melakukan serangan]).

Jihad bukanlah perang untuk melanggar, tapi untuk membela diri. Meskipun para perampok, suku-suku yang buas, kaum Muslim pengembara yang setengah biadab, mungkin punya pikiran yang relijius dan kepercayaan terhadap eksistensi Allah, namun tidak adanya pengetahuan dan pendidikan keagamaan lah yang menjadi sumber penyebab sifat buruk dan kerusakan moral mereka. Mereka adalah kekecualian. Kita tidak akan dapat menjadi seorang Muslim yang baik tanpa pendidikan
dan pengajaran keagamaan.

Menurut deskripsi dari Nabi Daniel, warga Kerajaan Tuhan adalah “the People of the Saints” (orang-orang Suci). Dalam teks asli Khaldea dan Aramia, mereka digambarkan sebagai “A’mma d’ qaddishid’ I’lionin,” sebuah julukan yang hanya patut untuk Pangeran para Nabi dan untuk tentaranya yang mulia dari kaum Muhajirin (Imigran) dan Anshar (Penolong), yang mencabut habis kemusyrikan hingga ke akar-akarnya dari sebagian besar Asia dan Afrika dan menghancurkan Binatang Buas Romawi.

Semua Muslim, yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan Rasul-rasul-Nya, beriman kepada hari Kebangkitan dan Pengadilan, dan meyakini bahwa kebaikan dan keburukan adalah dari Allah, dan mengerjakan amal shaleh menurut kemampuan dan niat baik mereka, adalah orang-orang suci dan warga yang Kerajaan diberkati. Tidak ada kebodohan religius yang lebih buruk daripada kepercayaan bahwa ada oknum yang disebut Holy Ghost (Roh Kudus) yang mengisi hati orang-orang yang dibaptis atas nama tiga tuhan, masing-masing yang ketiga dari tiga, atau yang tiga dari ketiga, dan dengan demikian mengorbankan orang-orang yang mempercayai kemustahilan mereka.

Seorang Muslim percaya bahwa tidak hanya ada satu Holy Spirit (Roh Kudus), melainkan tidak terhitung jumlahnya yang semuanya diciptakan dan meladeni Tuhan Yang Satu. Kaum Muslim diciptakan, tidak melalui pembaptisan atau permandian, tetapi roh mereka dibersihkan dan disucikan oleh cahaya iman dan oleh api semangat dan keberanian untuk membela dan berperang demi keimanan itu.

Yohanes Pembaptis, atau malah Kristus sendiri (menurut Kitab Injil Barnabas), berkata, “Aku membaptisamu dengan air pertobatan, namun dia yang datang setelahku, dia lebih kuat dariku; dia akan membaptismu dengan api dan dengan roh kudus.” Dengan api dan roh inilah Muhammad membaptis (mempermandikan) kaum pengembara yang setengah biadab, kaum kafir penyembah berhala, dan mengubah mereka menjadi pasukan orang suci yang heroik, yang mengubah sinagog tua yang semakin surut kekuasaannya dan gereja rusak menjadi Kerajaan Allah yang permanen dan kokoh di negeri-negeri yang dijanjikan dan di tempat-tempat lainnya.

Keabadian dan Kemuliaan Kerajaan Allah

Hal ini dua kali dipastikan oleh seorang Malaikat kepada Daniel. Dinyatakan bahwa “semua bangsa di bawah langit akan melayani Orang-orang Suci milik Yang Mahatinggi.”

Tidak perlu bukti untuk mengatakan bahwa semua Kekuasaan Orang Kristen menunjukkan suatu respek tertentu, dan bahkan rasa hormat bila perlu tidak hanya kepada Kekuasaan Muslim dan tempat-tempat suci serta mesjid-mesjid kaum Muslim, tapi juga kepada institusi-institusi lokal dari warga Muslim mereka. Misteri “pengabdian” ini terletak pada:

kaum Muslim selalu membangkitkan rasa hormat dan takut melalui perilaku mereka yang bermartabat, kesetiaan pada agama mereka dan ketaatan pada hukum yang adil, dan ketentraman merekal;
karena pemerintahan-pemerintahan Kristen, biasanya, memperlakukan kaum Muslim dengan adil dan tidak mencampuri hukum dan agama mereka.

Ruangan yang ada tidak mengizinkan kita untuk memperluas pengamatan kita pada poin-poin lain dari Agama dan Kerajaan Tuhan ini, seperti Khalifah-khalifah Muslim, Sultan, dan sebagainya. Cukup dikatakan bahwa pemerintahan-pemerintahan Muslim tunduk pada hukum Qurani yang sama dengan kompatriot mereka; bahwa keadilan dan kesederhanaan adalah sebaik-baiknya upaya perlindungan untuk kemakmuran dan stabilitas setiap Negara, Muslim atau non-Muslim; dan bahwa semangat dan prinsip Kitab Allah adalah sebaik-baiknya petunjuk untuk semua perundang-undangan dan peradaban.

155. syekh yusuf - 24 Oktober, 2008

Menguak Misteri Muhammad
Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

Nabi-nabi Sejati Hanya Mengajarkan Islam
Tidak ada bangsa yang dikenal dalam sejarah seperti Bani Israel, yang dalam jangka waktu kurang dari empat ratus tahun penuh dengan ribuan nabi palsu, belum lagi para tukang sihir, tukang ramal, dan semua jenis ilmu sihir dan tukang sulap.

Nabi-nabi palsu ada dua jenis: yang mengakui agama dan Taurat (Hukum) Yahweh dan pura-pura bernubuat atas nama-Nya, dan yang berada di bawah perlindungan seorang raja Israel penyembah berhala yang bernubuat atas nama Baal atau dewa-dewa lain dari kaum musyrikin sekitarnya. Termasuk kategori pertama ada beberapa penipu ulung yang sejaman dengan nabi-nabi sejati seperti Mikha (Micah) dan Yeremia, dan termasuk kategori kedua ada orang-orang yang memberikan banyak kesulitan kepada kaum beriman selama pemerintahan Ahab dan istrinya Yezebel.

Yang paling berbahaya bagi keyakinan dan agama yang benar adalah para nabi-semu, yang mengerjakan tugas-tugas ilahiah di bait dan juga Mishpha-mispha dan berpura-pura menyampaikan sabda-sabda Tuhan kepada manusia. Barangkali, tidak ada nabi yang menerima siksaan dan kesulitan dari para penipu ulung ini sebanyak Nabi Yeremia.

Selagi usia muda, Yeremia memulai misi kenabiannya sekitar kuartal terakhir abad ketujuh sebelum Masehi, ketika Kerajaan Yudas sedang terancam bahaya invasi oleh pasukan Khaldea. Kaum Yahudi telah bersekutu dengan Fir’aun dari Mesir, tetapi karena Fir’aun ditaklukkan dengan buruk oleh tentara Nebukadnezar, maka ajal Yerusalem hanya tinggal menunggu waktu saja. Pada masa-masa kritis ini, selama mana nasib orang beriman yang tersisa akan diputuskan, Nabi Yeremia dengan keras menasihati raja dan para pemimpin kaum Yahudi untuk tunduk dan mengabdi Raja Babylonia, agar Yerusalem bisa diselamatkan jangan sampai dibakar menjadi bau dan jangan sampai orang-orang dijebloskan ke dalam tahanan. Ia menumpahkan semua pidatonya yang pedas dan mengesankan ke telinga para raja, pendeta, dan orang-orang tua, namun semuanya sia-sia.

Nabi Yeremia menyampaikan pesan demi pesan dari Tuhan, dengan mengatakan bahwa satu-satunya obat untuk menyelamatkan negeri dan masyarakat dari kehancuran yang sudah dekat adalah menyerah kepada bangsa Khaldea; namun tidak satu pun mau mendengarkan peringatan-peringatannya.

Nabukadnezar datang dan merebut kota, mengangkut raja, para pangeran, dan banyak tawanan, dan juga semua harta bait, termasuk bejana-bejana emas dan perak. Pangeran lainnya, dan pangeran yang ketiga, diangkat oleh Kaisar Babylonia untuk memerintah sebagai budaknya di Yerusalem. Raja ini, bukannya bersifat bijak dan loyal terhadap pemimpinnya di babylonia, tapi malah memberontak terhadapnya.

Yeremia tak henti-hentinya memperingatkan sang raja tetap loyal dan meninggalkan kebijakan bangsa Mesir. Namun, nabi-nabi palsu terus berpidato panjang lebar di dalam bait, dengan mengatakan, “Maka berkatalah Tuhan Rombongan Besar, Lihatlah, Aku telah mematahkan kuk Raja Babylonia, dan dalam waktu dua tahun semua tawanan Yahudi dan bejana-bejana Rumah Tuhan akan dikembalikan ke Yerusalem.” Yeremia memasang buah kuk kayu di sekeliling lehernya sendiri lalu pergi ke kuil dan memberitahu orang-orang bahwa Tuhan telah ridha memasang dengan cara ini kuk raja Babylonia pada leher semua kaum Yahudi. Ia dipukul mukanya oleh seorang nabi yang melawan, yang mematahkan hingga berkeping-keping kuk kayu dari leher Yeremia dan mengulangi pidato panjang lebar para nabi palsu.

Yeremia dilemparkan ke dalam sebuah penjara bawah tanah yang penuh lumpur dan dalam, dan hanya diberi makan sepotong roti gandum kering sehari sampai kelaparan melanda kota, yang dikepung oleh bangsa Khaldea. Nabi-palsu Hananya mati seperti yang diramalkan Yeremia. Tembok kota diruntuhkan, dan pasukan yang menang cepat-cepat memasuki kota, Raja Zedekiah dan rombongannya melarikan diri ditangkap dan dibawa ke Raja Babylonia. Kota dan bait, setelah dijarah, dibakar, dan seluruh penduduk Yerusalem digiring ke Babylonia; hanya golongan miskin yang dibiarkan untuk mengolah tanah.

Atas perintah Nebukadnezar, Yeremia dibolehkan untuk tinggal di Yerusalem, dan gubernur yang baru diangkat, Gedaliah, ditugaskan untuk menjaga dan mengurus nabi dengan baik. Tapi Gedaliah dibunuh oleh orang-orang Yahudi yang memberontak, dan kemudian mereka semua melarikan diri ke Mesir, membawa serta Yeremia. Di Mesir pun ia bernubuat untuk para buronan dan bangsa Mesir. Ia harus mengakhiri hidupnya di Mesir.

Kitab-kitabnya, sebagaimana ada sekarang, sangat berbeda dengan teks kitab Septuagint; terang saja, salinan dari mana teks Yunani ditulis oleh para penerjemah Aleksandria mempunyai urutan pasal-pasal yang berbeda.

Para kritikus Alkitab beranggapan bahwa Yeremia adalah pengarang, atau, bagaimanapun, penyusun kitab kelima Pentateuch yang disebut Ulangan. Saya sendiri punya pendapat yang sama. Yeremia adalah orang Lewi dan pendeta dan juga nabi. Terdapat banyak ajaran Yeremia dalam Ulangan yang tidak ada dalam bagian lain dari tulisan-tulisan Perjanjian Lama. Dan saya mengutip salah satu ajaran ini untuk pokok bahasan saya sekarang, yang saya anggap sebagai salah satu teks mutiara atau emas dalam Perjanjian Lama dan harus dihargai karena sangat mulia dan suci.

Setelah penjelasan yang mendetail ini saya bersegera ke persoalan utama yang telah saya pilih untuk topik artikel ini: Bagaimana membedakan seorang nabi sejati dari nabi palsu. Yeremia telah memasok kita dengan jawaban yang cukup memuaskan, yaitu: “Nabi yang mengajarkan Islam”.

Dalam kitab Ulangan (13:1-5, 18:20-22) Tuhan Yang Mahakuasa memberikan beberapa petunjuk mengenai nabi-nabi palsu yang bisa bernubuat atas nama Tuhan dan dengan cara yang demkian busuk dan membahayakan sehingga mereka bisa menyesatkan kaumnya. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengetahui kedurhakaan si penipu ulung ini adalah dengan mengantisipasi pemenuhan ramalan-ramalannya, dan kemudian menghukum mati dia ketika penipuannya terbongkar.

Namun, sebagaimana banyak diketahui, orang bodoh tidak dapat membedakan dengan benar antara nabi palsu dan penipu ulung, persis seperti sekarang ini mereka tidak mampu secara tepat menemukan yang mana di antara dua, seorang pendeta Katolik Roma atau seorang pendeta Calvinis, adalah pengikut sejati Yesus Kristus! Nabi palsu juga akan meramalkan berbagai keajaiban, menyembuhkan secara ajaib, dan melakukan hal-hal religius lainnya yang sama –paling tidak kelihatan sama– dengan yang dilakukan oleh seorang nabi sejati.

Persaingan antara Nabi Musa dan para tukang sihir mesir adalah ilustrasi yang tepat dari pernyataan ini. Dengan demikian, Yeremia-lah yang memberi kita contoh terbaik untuk menguji kejujuran dan kesejatian seorang nabi, dan cara itu adalah syariat Islam. Silahkan baca Yeremia pasal 28 seluruhnya, dan kemudian renungkan secara hayati ayat 9:

“Nabi yang bernubuat tentang Islam (Syalom), saat datangnya sabda Nabi, nabi itu akan diakui benar-benar telah diutus oleh Tuhan.” (Yeremia 28:9)

Terjemahan ini sangat harfiah. Kata kerja asli naba, biasa diterjemahkan menjadi “meramalkan” atau “bernubuat,” dan kata benda nabi, “nabi” memberikan kesan bahwa seorang nabi adalah seorang yang meramalkan masa depan atau kejadian-kejadian masa lalu dengan bantuan wahyu ilahi. Definisi ini hanya benar sebagian. Definisi yang lengkap dari kata “Nabi” mestilah: “orang yang menerima sabda atau pesan dari Tuhan, dan menyampaikannya dengan jujur kepada orang atau kaum yang dituju.”

Jelaslah bahwa pesan Ilahi tidak harus berupa ramalan tentang kejadian-kejadian masa lalu dan masa akan datang. Dengan cara yang sama, kata kerja “bernubuat” tidak mesti berarti mengungkapkan kejadian-kejadian masa lalu dan masa akan datang, melainkan mengajarkan atau menyebarluaskan pesan Tuhan. Konsekuensinya bernubuat adalah menyampaikan dan mengucapkan sabda baru, yang sifat dan karakternya sangat immaterial. Membaca ucapan seorang nabi adalah bernubuat tidak lebih dari sabda yang disampaikan oleh seorang nabi ketika berceramah atau berpidato atas kehendaknya sendiri.

Dalam Al-Qur’an Tuhan menyuruh hamba-Nya yang dikasihi, Muhammad, untuk menyatakan, “Aku adalah manusia seperti kalian; hanya [bedanya] aku menerima wahyu,” dan seterusnya, sehingga kita berhati-hati untuk tidak menisbahkan kepada seorang nabi sifat mengetahui dan mengucapkan segala seseuatu melalui wahyu.

Wahyu Ilahi biasanya datang sewaktu-waktu, sedangkan para nabi dalam hubungan dan pengetahuan pribadi, mereka bisa saja salah dan keliru. Seorang nabi tidak diangkat oleh Tuhan untuk mengajari manusia ilmu fisika, matematika, atau ilmu positif lainnya. Kita sangat tidak adil kalau menyalahkan seorang nabi karena kesalahan bicara atau kekhilafan yang dilakukan sebagai seorang manusia. Oleh karenanya, seorang nabi diuji dan diperiksa hanya ketika ia secara resmi dan secara jabatan menyampaikan pesan yang diterimanya dari Tuhan.

Untuk mengetahui apakah seorang nabi itu asli atau penipu ulung, tidaklah fair memberikan putusan terhadap sifat profetisnya karena ia dilaporkan telah bersifat sedikit kasar atau tidak sopan terhadap ibunya atau karena ia mempercayai spiration seperti apa adanya dan mempercayai bahwa pengarang Pentateuch adalah Musa. Ketika melakukan observasi ini, saya mempertimbangkan kasus Yesus Kristus, dan banyak kasus lainnya dalam sejarah Israel tentang hal-hal lain.

Adalah tidak jujur dan karena rasa benci menuduh para nabi dengan sifat-sifat sensualitas, kekasaran, bodoh dalam ilmu, dan kelemahan-kelemahan moral lainnya. Mereka adalah manusia seperti kita dan sewaktu-waktu merasakan kecenderungan dan nafsu yang alamiah. Mereka dilindungi hanya dari dosa-dosa besar dan dari pemutarbalikkan pesan yang harus mereka sampaikan.

Kita harus ekstra hati-hati jangan sampai mengagungkan nabi-nabi Tuhan terlalu tinggi dalam imajinasi kita, kalau tidak Tuhan tidak meridhai kita. Mereka adalah makhluk dan hamba-Nya; para nabi menunaikan tugas mereka dan kembali kepada-Nya. Ketika kita melupakan Tuhan dan mengkonsentrasikan cinta dan pujian kita pada salah seorang dari utusa-utusan Tuhan, maka kita dalam bahaya terperosok ke dalam dosa syirik (politheisme).

Setelah jauh menjelaskan sifat dan signifikansi prophet (nabi) dan prophecy (nubuat), sekarang saya akan berusaha keras untuk membuktikan bahwa tidak ada nabi yang asli kecuali, sebagaimana dengan jelas dikatakan oleh Yeremia, kalau ia mengajarkan dan menyebarluaskan agama Islam.

Untuk memahami dengan lebih baik pengertian dan arti penting dan soal yang sedang kita renungkan, kita harus melirik sejenak pada ayat sebelumnya, di mana Yeremia berkata kepada musuhnya Nabi Hananya, “Nabi-nabi yang ada sebelumku dan sebelummu dari [jaman] dahulu kala telah bernubuat terhadap banyak negeri dan kerajaan-kerajaan yang besar mengenai perang, malapetaka, dan penyakit sampat.” Lalu ia melanjutkan:

“Nabi yang bernubuat tentang Islam segera setelah datang sabda nabi, nabi itu diketahui benar-benar telah diutus oleh Tuhan.”

Bisa saja tidak ada keberatan terhadap susunan kata Inggris dari bagian ini kecuali kalimat “l Syalom” yang telah saya terjemahkan sebagai “concerning Islam.” Kata depan “l” sebelum “Syalom” berarti “concerning” atau “about” (tentang), dan menempatkan subjeknya dalam kasus objektif dan tidak dalam kasus datif, sebagaimana halnya kalau predikatnya adalah kata kerja seperti “come” (datang), “go”, atau “give” (memberi).

Bahwa “Syalom” dan bahasa Syria “Sylama”, dan juga kata Arab “salam” dan “Islam.” berasa; daro sati alar lata najasa Semit yang sama, “shalam” berarti “tunduk, menyerahkan diri”, dan kemudian “berdamai”; dan konsekuensinya “menjadi aman, baik, dan tenang.”

Tidak ada sistem keagamaan di dunia ini yang diberi sifat dengan nama yang baik dan lebih komprehensif, bermartabat dan luhur selain dari nama “Islam.” Agama sejati dari Tuhan Yang Sejati tidak bisa diberi nama dengan nama suatu kaum atau negeri. Sebenarnya, kesucian dan ketidaktercelaan dari kata “Islam” inilah yang membuat musuh-musuhnya terpesona, takut, dan hormat sekalipun ketika kaum Muslim dalam keadaan lemah dan tidak bahagia. Itulah nama dan gelar dari sebuah agama yang mengajarkan dan memerintahkan suatu ketundukkan dan kepasrahan mutlak terhadap Zat Yang Mahatinggi, dan kemudian meraih kedamaian dan ketenangan dalam batin, tidak peduli dengan kesengsaraan atau kemalangan yang mungkin mengancam kita. Itulah yang membuat musuh-musuh Islam terpesona.21

Adalah keyakinan yang teguh dan tak tergoyahkan akan Keesaan Allah dan kepercayaan yang kokoh terhadap belasan kasih dan keadilan-Nya yang menjadikan seorang Muslim dapat dibedakan dan menonjol di tengah-tengah kaum non-Muslim. Dan keimanan yang benar terhadap Allah dan kecintaan yang tulus terhadap Al-Qur’an Suci dan Rasul lah yang menyebabkan para misionaris kristen mati-matian menyerang dan gagal dengan sia-sia. Karena itu, ucapan Yeremia bahwa “Nabi yang bernubuat, yaitu, yang mengajarkan dan berbicara mengenai urusan-urusan Islam sebagai agamanya, ia akan langsung dikenal lebih benar-benar diutus oleh Tuhan.” Oleh karena itu, mari kita perhatikan dengan sungguh-sungguh beberapa poin berikut:

Nabi Yeremia adalah satu-satunya nabi sebelum Kristus yang menggunakan kata Syalom dalam pengertian sebuah agama. Ia adalah satu-satunya nabi yang menggunakan kata ini dengan tujuan untuk menetapkan atau membuktikan kejujuran seorang utusan Tuhan.

Menurut wahyu Al-Qur’an, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, Musa, dan semua nabi adalah Muslim, dan mengakui Islam sebagai agama mereka. Istilah “Islam” dan padanan “Syalom” dan “Sylama”, dikenal oleh kaum Yahudi dan Nasrani Mekah dan Madinah ketika Muhammad muncul untuk menyempurnakan dan menguniversalkan agama Islam.

Seorang nabi yang memprediksi “perdamaian” sebagai suatu kondisi yang abstrak, samar-samar, dan temporer tidak akan bisa berhasil dalam membuktikan identitasnya.

Sebenarnya, yang menjadi pokok perselisihan, atau malah persoalan kebangsaan yang gawat, yang dipertentangkan oleh dua nabi terkemuka yang dikenal pengadilan dan bangsa seperti Yeremia dan Hananya (Yeremia 28), tidak dapat dipecahkan dan ditetapkan secara pasti oleh penegasan dari salah satu dan penolakan dari satunya lagi, mengenai malapetaka yang sudah dekat. Memprediksi “perdamaian” menurut Yeremia ketika dari sejak semula ia sudah meramalkan bencana nasional yang besar–apakah dengan takluknya Raja Sidaqia kepada penguasa Khaldea atau dengan perlawanannya–tidak hanya akan menyebabkan kegagalannya, belum lagi keberhasilannya dalam membuktikan kejujurannya, tapi juga malah akan membuatnya konyol. Karena, bagaimana pun, “perdamaian” yang diduganya itu berarti tidak ada perdamaian sama sekali.

Sebaliknya, jika kaum Yahudi melawan tentara Khaldea, maka itu artinya kehancuran nasional yang menyeluruh, dan jika mereka menyerah, maka itu artinya suatu perbuatan tanpa syarat. Oleh karena itu, maka jelaslah bahwa Yeremia menggunakan Syalom dalam pengertian suatu sistem keagamaan yang nyata, konkret, dan riil yang dicakup dalam Islam.

Agar lebih jelas, kita harus mendengar dengan penuh perhatian argumen-argumen dari dua nabi lawannya yang mendiskusikan dan memperselisihkan persoalan nasional dihadapan seorang raja yang jahat dan pengadilan para penyanjung yang busuk dan kaum munafik yang sudah bejat akhlaknya.

Yeremia dalam batinnya memiliki hujah Tuhan dan agama perdamaian-Nya, dan demi kepentingan-kepentingan vital agama perdamaian, atau Islam, ia menasehati raja yang jahat dan para anggota istananya untuk menyerah pada tekanan Babylonia dan melayani bangsa Khaldea dan hidup. Karena tidak ada alternatif lain bagi mereka. Mereka harus meninggalkan Tuhan para nenek moyang mereka, mengotori bait-Nya, mengolok-olok dan mencerca pada nabi-Nya, dan melakukan kejahatan serta pengkhianatan (2 Tawarikh.36, dan seterusnya). Maka Tuhan menyerahkan mereka ke dalam kekuasaan Nebukadnezar, dan tidak akan menyelamatkan mereka.

Bagi seorang hamba Tuhan yang sejati dan tulus, agama adalah nomor satu dan baru kemudian bangsa. Pemerintahan dan bangsa lah –terutama apabila mereka mengabaikan Tuhan– yang harus dikorbankan demi agama, dan bukan sebaliknya!

Nabi dari Gibeon lainnya, Hananya, berusaha menyerahkan tuannya, sang raja: ia adalah seorang anggota istana dan disukainya, kaya serta necis, sementara lawan-lawannya selalu merana dan mati kelaparan di dalam penjara dan ruang tahanan bawah tanah. Ia tidak peduli dengan seruan kepada agama dan kesejahteraan umat yang nyata. Ia juga seorang nabi, begitulah kata Kitab Yeremia, namun ia seorang bajingan, dan telah menukar Tuhan dengan seorang raja yang bejat akhlaknya! Ia bernubuat atas nama Tuhan yang sama seperti dilakukan Yeremia, dan mengumumkan pengembalian barang rampasan dan para tawanan dari Babylonia dalam tempo dua tahun.

Nah, dari gambaran yang sumbang mengenai para nabi di atas, yang mana di antara keduanya yang akan Anda golongkan sebagai hamba Tuhan yang sejati dan sebagai pembela setia agama Tuhan? Sudah pasti Yeremia akan langsung menarik simpati dan pilihan Anda.

Hanya agama Syalom (Islam) lah yang dapat memberikan bukti tentang watak dan tegas seorang nabi sejati, imam, atau duta Tuhan di muka bumi. Tuhan itu satu, san agama-Nya pun satu. Tidak ada agama lain di dunia ini seperti Islam, yang mengakui dan mempertahankan keesaan Tuhan yang mutlak. Oleh karena itu, orang yang mengorbankan setiap kepentingan, kehormatan, dan cinta lain apa pun demi Agama Suci ini, tidak diragukan lagi dia adalah nabi sejati dan duta Tuhan.

Namun, masih ada satu hal yang patut kita ketahui, yaitu, jika agama Islam tidak menjadi standar dan ukuran untuk menguji kejujuran seorang nabi atau duta Tuhan, maka tidak ada kriteria lain untuk memenuhi tujuan itu. Mukjizat tidak selalu menjadi bukti yang cukup, karena tukang sihir juga bisa melakukan keajaiban. Pemenuhan suatu ramalan atau nujuman itu sendiri, pun, bukan bukti yang cukup; karena sebagaimana roh kudus mengungkapkan suatu peristiwa masa akan datang kepada seorang nabi sejati, begitu pula kadang-kadang roh jahat melakukan hal yang sama terhadap seorang penipu ulung.

Maka jelaslah bahwa nabi yang “bernubuat tentang Syalom (Islam) sebagai nama agama dan jalan hidup, begitu ia menerima pesan dari Tuhan maka ia akan dikenal telah diutus oleh-Nya”. Begitulah argumen yang telah dikemukakan Yeremia untuk meyakinkan para audiensnya mengenai kepalsuan Hananya. Tetapi raja yang jahat dan gengnya tidak mau mendengar dan menaati firman Tuhan.

Sebagaimana disampaikan dalam paragraf sebelumnya, perlu dicatat bahwa baik pemenuhan suatu ramalan atau pun terjadinya suatu mukjizat tidaklah cukup untuk menunjukkan ciri sejati dari seorang nabi; bahwa loyalitas dan kecintaan yang sempurna terhadap agama adalah bukti yang paling tepat dan meyakinkan untuk tujuan ini; bahwa Syalom digunakan untuk mengekspresikan agama perdamaian.

Sekali lagi kita mengulangi penegasan yang sama bahwa Syalom tak lain adalah Islam. Dan kita meminta dari mereka yang berkeberatan terhadap penafsiran ini untuk menunjukkan kata Arab selain Islam dan Salam sebagai padanan kata Syalom, dan juga mencarikan bagi kita kata lain dalam bahasa Ibrani disamping Syalom yang memberikan dan mengungkapkan makna yang sama dengan Islam.

Memang mustahil menemukan padanan lain seperti itu. Oleh karenanya, kita dipaksa bahwa Syalom sama dengan Salam atau Perdamaian dalam pengertian abstrak, dan “Islam” sebagai sebuah agama dan keyakinan dalam pengertian konkrit

Sebagaimana Al-Qur’an dalam surah 2 dengan jelas mengingatkan kita bahwa Ibrahim dan anak-cucunya adalah pengikut Islam; bahwa mereka bukanlah Yahudi atau pun Kristen; bahwa mereka mengajarkan dan menyebarkan penyembahan dan keimanan akan satu Tuhan kepada semua umat di tengah mana mereka tinggal atau berada, kita harus mengakui bahwa tidak hanya bangsa Yahudi, tapi beberapa bangsa lain yang berasal dari anak-anak Ibrahim lainnya dan banyak suku-sku yang diajak dan terpikat oleh mereka, adalah juga Muslim; artinya, orang-orang yang beriman kepada Allah dan tunduk pada kehendak-Nya.

Adalah Bani Esau, Edom, Midian, dan banyak bani lainnya yang tinggal di Arabia, mereka mengenal Tuhan dan menyembah-Nya seperti bani Israel. Bani-bani ini juga punya nabi dan pembimbing agamanya masing-masing seperti Yob, Yethro (bapak mertuanya Nabi Musa), Balaam, Hud, dan banyak lagi. Namun, seperti kaum Yahudi, mereka telah lari kepada penyembahan berhala sampai diberantas total oleh sang Pangeran para nabi.

Kaum Yahudi, sekitar abad ketujuh SM, mengarang sebagian besar kitab-kitab Perjanjian Lama, ketika ingatan-ingatan akan penaklukkan negeri Kanaan oleh Yoshua, bait Sulaiman dan Yerusalem, adalah kejadian-kejadian yang terkubur dalam sejarah jaman dulu mereka yang menakjubkan. Semangat nasionalistik dan Yudaistik terhadap keasingan dan kecemasan merajalela di tengah sebagian kecil bangsa Israel; keyakinan akan datangnya Juru Selamat Agung untuk mengembalikan singgasana dan mahkota Daud yang hilang telah mendominasi, dan makna lama Syalom sebagai nama agama Ibrahim dan lazim bagi semua umat yang berbeda-beda yang merupakan keturunannya sudah dilupakan.

Dari sudut pandang inilah saya memandang pasal Yeremia ini sebagai salah satu golden text dalam tulisan suci bahasa Ibrani.

156. syekh yusuf - 24 Oktober, 2008

Menguak Misteri Muhammad
Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

Nabi-nabi Sejati Hanya Mengajarkan Islam
Tidak ada bangsa yang dikenal dalam sejarah seperti Bani Israel, yang dalam jangka waktu kurang dari empat ratus tahun penuh dengan ribuan nabi palsu, belum lagi para tukang sihir, tukang ramal, dan semua jenis ilmu sihir dan tukang sulap.

Nabi-nabi palsu ada dua jenis: yang mengakui agama dan Taurat (Hukum) Yahweh dan pura-pura bernubuat atas nama-Nya, dan yang berada di bawah perlindungan seorang raja Israel penyembah berhala yang bernubuat atas nama Baal atau dewa-dewa lain dari kaum musyrikin sekitarnya. Termasuk kategori pertama ada beberapa penipu ulung yang sejaman dengan nabi-nabi sejati seperti Mikha (Micah) dan Yeremia, dan termasuk kategori kedua ada orang-orang yang memberikan banyak kesulitan kepada kaum beriman selama pemerintahan Ahab dan istrinya Yezebel.

Yang paling berbahaya bagi keyakinan dan agama yang benar adalah para nabi-semu, yang mengerjakan tugas-tugas ilahiah di bait dan juga Mishpha-mispha dan berpura-pura menyampaikan sabda-sabda Tuhan kepada manusia. Barangkali, tidak ada nabi yang menerima siksaan dan kesulitan dari para penipu ulung ini sebanyak Nabi Yeremia.

Selagi usia muda, Yeremia memulai misi kenabiannya sekitar kuartal terakhir abad ketujuh sebelum Masehi, ketika Kerajaan Yudas sedang terancam bahaya invasi oleh pasukan Khaldea. Kaum Yahudi telah bersekutu dengan Fir’aun dari Mesir, tetapi karena Fir’aun ditaklukkan dengan buruk oleh tentara Nebukadnezar, maka ajal Yerusalem hanya tinggal menunggu waktu saja. Pada masa-masa kritis ini, selama mana nasib orang beriman yang tersisa akan diputuskan, Nabi Yeremia dengan keras menasihati raja dan para pemimpin kaum Yahudi untuk tunduk dan mengabdi Raja Babylonia, agar Yerusalem bisa diselamatkan jangan sampai dibakar menjadi bau dan jangan sampai orang-orang dijebloskan ke dalam tahanan. Ia menumpahkan semua pidatonya yang pedas dan mengesankan ke telinga para raja, pendeta, dan orang-orang tua, namun semuanya sia-sia.

Nabi Yeremia menyampaikan pesan demi pesan dari Tuhan, dengan mengatakan bahwa satu-satunya obat untuk menyelamatkan negeri dan masyarakat dari kehancuran yang sudah dekat adalah menyerah kepada bangsa Khaldea; namun tidak satu pun mau mendengarkan peringatan-peringatannya.

Nabukadnezar datang dan merebut kota, mengangkut raja, para pangeran, dan banyak tawanan, dan juga semua harta bait, termasuk bejana-bejana emas dan perak. Pangeran lainnya, dan pangeran yang ketiga, diangkat oleh Kaisar Babylonia untuk memerintah sebagai budaknya di Yerusalem. Raja ini, bukannya bersifat bijak dan loyal terhadap pemimpinnya di babylonia, tapi malah memberontak terhadapnya.

Yeremia tak henti-hentinya memperingatkan sang raja tetap loyal dan meninggalkan kebijakan bangsa Mesir. Namun, nabi-nabi palsu terus berpidato panjang lebar di dalam bait, dengan mengatakan, “Maka berkatalah Tuhan Rombongan Besar, Lihatlah, Aku telah mematahkan kuk Raja Babylonia, dan dalam waktu dua tahun semua tawanan Yahudi dan bejana-bejana Rumah Tuhan akan dikembalikan ke Yerusalem.” Yeremia memasang buah kuk kayu di sekeliling lehernya sendiri lalu pergi ke kuil dan memberitahu orang-orang bahwa Tuhan telah ridha memasang dengan cara ini kuk raja Babylonia pada leher semua kaum Yahudi. Ia dipukul mukanya oleh seorang nabi yang melawan, yang mematahkan hingga berkeping-keping kuk kayu dari leher Yeremia dan mengulangi pidato panjang lebar para nabi palsu.

Yeremia dilemparkan ke dalam sebuah penjara bawah tanah yang penuh lumpur dan dalam, dan hanya diberi makan sepotong roti gandum kering sehari sampai kelaparan melanda kota, yang dikepung oleh bangsa Khaldea. Nabi-palsu Hananya mati seperti yang diramalkan Yeremia. Tembok kota diruntuhkan, dan pasukan yang menang cepat-cepat memasuki kota, Raja Zedekiah dan rombongannya melarikan diri ditangkap dan dibawa ke Raja Babylonia. Kota dan bait, setelah dijarah, dibakar, dan seluruh penduduk Yerusalem digiring ke Babylonia; hanya golongan miskin yang dibiarkan untuk mengolah tanah.

Atas perintah Nebukadnezar, Yeremia dibolehkan untuk tinggal di Yerusalem, dan gubernur yang baru diangkat, Gedaliah, ditugaskan untuk menjaga dan mengurus nabi dengan baik. Tapi Gedaliah dibunuh oleh orang-orang Yahudi yang memberontak, dan kemudian mereka semua melarikan diri ke Mesir, membawa serta Yeremia. Di Mesir pun ia bernubuat untuk para buronan dan bangsa Mesir. Ia harus mengakhiri hidupnya di Mesir.

Kitab-kitabnya, sebagaimana ada sekarang, sangat berbeda dengan teks kitab Septuagint; terang saja, salinan dari mana teks Yunani ditulis oleh para penerjemah Aleksandria mempunyai urutan pasal-pasal yang berbeda.

Para kritikus Alkitab beranggapan bahwa Yeremia adalah pengarang, atau, bagaimanapun, penyusun kitab kelima Pentateuch yang disebut Ulangan. Saya sendiri punya pendapat yang sama. Yeremia adalah orang Lewi dan pendeta dan juga nabi. Terdapat banyak ajaran Yeremia dalam Ulangan yang tidak ada dalam bagian lain dari tulisan-tulisan Perjanjian Lama. Dan saya mengutip salah satu ajaran ini untuk pokok bahasan saya sekarang, yang saya anggap sebagai salah satu teks mutiara atau emas dalam Perjanjian Lama dan harus dihargai karena sangat mulia dan suci.

Setelah penjelasan yang mendetail ini saya bersegera ke persoalan utama yang telah saya pilih untuk topik artikel ini: Bagaimana membedakan seorang nabi sejati dari nabi palsu. Yeremia telah memasok kita dengan jawaban yang cukup memuaskan, yaitu: “Nabi yang mengajarkan Islam”.

Dalam kitab Ulangan (13:1-5, 18:20-22) Tuhan Yang Mahakuasa memberikan beberapa petunjuk mengenai nabi-nabi palsu yang bisa bernubuat atas nama Tuhan dan dengan cara yang demkian busuk dan membahayakan sehingga mereka bisa menyesatkan kaumnya. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengetahui kedurhakaan si penipu ulung ini adalah dengan mengantisipasi pemenuhan ramalan-ramalannya, dan kemudian menghukum mati dia ketika penipuannya terbongkar.

Namun, sebagaimana banyak diketahui, orang bodoh tidak dapat membedakan dengan benar antara nabi palsu dan penipu ulung, persis seperti sekarang ini mereka tidak mampu secara tepat menemukan yang mana di antara dua, seorang pendeta Katolik Roma atau seorang pendeta Calvinis, adalah pengikut sejati Yesus Kristus! Nabi palsu juga akan meramalkan berbagai keajaiban, menyembuhkan secara ajaib, dan melakukan hal-hal religius lainnya yang sama –paling tidak kelihatan sama– dengan yang dilakukan oleh seorang nabi sejati.

Persaingan antara Nabi Musa dan para tukang sihir mesir adalah ilustrasi yang tepat dari pernyataan ini. Dengan demikian, Yeremia-lah yang memberi kita contoh terbaik untuk menguji kejujuran dan kesejatian seorang nabi, dan cara itu adalah syariat Islam. Silahkan baca Yeremia pasal 28 seluruhnya, dan kemudian renungkan secara hayati ayat 9:

“Nabi yang bernubuat tentang Islam (Syalom), saat datangnya sabda Nabi, nabi itu akan diakui benar-benar telah diutus oleh Tuhan.” (Yeremia 28:9)

Terjemahan ini sangat harfiah. Kata kerja asli naba, biasa diterjemahkan menjadi “meramalkan” atau “bernubuat,” dan kata benda nabi, “nabi” memberikan kesan bahwa seorang nabi adalah seorang yang meramalkan masa depan atau kejadian-kejadian masa lalu dengan bantuan wahyu ilahi. Definisi ini hanya benar sebagian. Definisi yang lengkap dari kata “Nabi” mestilah: “orang yang menerima sabda atau pesan dari Tuhan, dan menyampaikannya dengan jujur kepada orang atau kaum yang dituju.”

Jelaslah bahwa pesan Ilahi tidak harus berupa ramalan tentang kejadian-kejadian masa lalu dan masa akan datang. Dengan cara yang sama, kata kerja “bernubuat” tidak mesti berarti mengungkapkan kejadian-kejadian masa lalu dan masa akan datang, melainkan mengajarkan atau menyebarluaskan pesan Tuhan. Konsekuensinya bernubuat adalah menyampaikan dan mengucapkan sabda baru, yang sifat dan karakternya sangat immaterial. Membaca ucapan seorang nabi adalah bernubuat tidak lebih dari sabda yang disampaikan oleh seorang nabi ketika berceramah atau berpidato atas kehendaknya sendiri.

Dalam Al-Qur’an Tuhan menyuruh hamba-Nya yang dikasihi, Muhammad, untuk menyatakan, “Aku adalah manusia seperti kalian; hanya [bedanya] aku menerima wahyu,” dan seterusnya, sehingga kita berhati-hati untuk tidak menisbahkan kepada seorang nabi sifat mengetahui dan mengucapkan segala seseuatu melalui wahyu.

Wahyu Ilahi biasanya datang sewaktu-waktu, sedangkan para nabi dalam hubungan dan pengetahuan pribadi, mereka bisa saja salah dan keliru. Seorang nabi tidak diangkat oleh Tuhan untuk mengajari manusia ilmu fisika, matematika, atau ilmu positif lainnya. Kita sangat tidak adil kalau menyalahkan seorang nabi karena kesalahan bicara atau kekhilafan yang dilakukan sebagai seorang manusia. Oleh karenanya, seorang nabi diuji dan diperiksa hanya ketika ia secara resmi dan secara jabatan menyampaikan pesan yang diterimanya dari Tuhan.

Untuk mengetahui apakah seorang nabi itu asli atau penipu ulung, tidaklah fair memberikan putusan terhadap sifat profetisnya karena ia dilaporkan telah bersifat sedikit kasar atau tidak sopan terhadap ibunya atau karena ia mempercayai spiration seperti apa adanya dan mempercayai bahwa pengarang Pentateuch adalah Musa. Ketika melakukan observasi ini, saya mempertimbangkan kasus Yesus Kristus, dan banyak kasus lainnya dalam sejarah Israel tentang hal-hal lain.

Adalah tidak jujur dan karena rasa benci menuduh para nabi dengan sifat-sifat sensualitas, kekasaran, bodoh dalam ilmu, dan kelemahan-kelemahan moral lainnya. Mereka adalah manusia seperti kita dan sewaktu-waktu merasakan kecenderungan dan nafsu yang alamiah. Mereka dilindungi hanya dari dosa-dosa besar dan dari pemutarbalikkan pesan yang harus mereka sampaikan.

Kita harus ekstra hati-hati jangan sampai mengagungkan nabi-nabi Tuhan terlalu tinggi dalam imajinasi kita, kalau tidak Tuhan tidak meridhai kita. Mereka adalah makhluk dan hamba-Nya; para nabi menunaikan tugas mereka dan kembali kepada-Nya. Ketika kita melupakan Tuhan dan mengkonsentrasikan cinta dan pujian kita pada salah seorang dari utusa-utusan Tuhan, maka kita dalam bahaya terperosok ke dalam dosa syirik (politheisme).

Setelah jauh menjelaskan sifat dan signifikansi prophet (nabi) dan prophecy (nubuat), sekarang saya akan berusaha keras untuk membuktikan bahwa tidak ada nabi yang asli kecuali, sebagaimana dengan jelas dikatakan oleh Yeremia, kalau ia mengajarkan dan menyebarluaskan agama Islam.

Untuk memahami dengan lebih baik pengertian dan arti penting dan soal yang sedang kita renungkan, kita harus melirik sejenak pada ayat sebelumnya, di mana Yeremia berkata kepada musuhnya Nabi Hananya, “Nabi-nabi yang ada sebelumku dan sebelummu dari [jaman] dahulu kala telah bernubuat terhadap banyak negeri dan kerajaan-kerajaan yang besar mengenai perang, malapetaka, dan penyakit sampat.” Lalu ia melanjutkan:

“Nabi yang bernubuat tentang Islam segera setelah datang sabda nabi, nabi itu diketahui benar-benar telah diutus oleh Tuhan.”

Bisa saja tidak ada keberatan terhadap susunan kata Inggris dari bagian ini kecuali kalimat “l Syalom” yang telah saya terjemahkan sebagai “concerning Islam.” Kata depan “l” sebelum “Syalom” berarti “concerning” atau “about” (tentang), dan menempatkan subjeknya dalam kasus objektif dan tidak dalam kasus datif, sebagaimana halnya kalau predikatnya adalah kata kerja seperti “come” (datang), “go”, atau “give” (memberi).

Bahwa “Syalom” dan bahasa Syria “Sylama”, dan juga kata Arab “salam” dan “Islam.” berasa; daro sati alar lata najasa Semit yang sama, “shalam” berarti “tunduk, menyerahkan diri”, dan kemudian “berdamai”; dan konsekuensinya “menjadi aman, baik, dan tenang.”

Tidak ada sistem keagamaan di dunia ini yang diberi sifat dengan nama yang baik dan lebih komprehensif, bermartabat dan luhur selain dari nama “Islam.” Agama sejati dari Tuhan Yang Sejati tidak bisa diberi nama dengan nama suatu kaum atau negeri. Sebenarnya, kesucian dan ketidaktercelaan dari kata “Islam” inilah yang membuat musuh-musuhnya terpesona, takut, dan hormat sekalipun ketika kaum Muslim dalam keadaan lemah dan tidak bahagia. Itulah nama dan gelar dari sebuah agama yang mengajarkan dan memerintahkan suatu ketundukkan dan kepasrahan mutlak terhadap Zat Yang Mahatinggi, dan kemudian meraih kedamaian dan ketenangan dalam batin, tidak peduli dengan kesengsaraan atau kemalangan yang mungkin mengancam kita. Itulah yang membuat musuh-musuh Islam terpesona.21

Adalah keyakinan yang teguh dan tak tergoyahkan akan Keesaan Allah dan kepercayaan yang kokoh terhadap belasan kasih dan keadilan-Nya yang menjadikan seorang Muslim dapat dibedakan dan menonjol di tengah-tengah kaum non-Muslim. Dan keimanan yang benar terhadap Allah dan kecintaan yang tulus terhadap Al-Qur’an Suci dan Rasul lah yang menyebabkan para misionaris kristen mati-matian menyerang dan gagal dengan sia-sia. Karena itu, ucapan Yeremia bahwa “Nabi yang bernubuat, yaitu, yang mengajarkan dan berbicara mengenai urusan-urusan Islam sebagai agamanya, ia akan langsung dikenal lebih benar-benar diutus oleh Tuhan.” Oleh karena itu, mari kita perhatikan dengan sungguh-sungguh beberapa poin berikut:

Nabi Yeremia adalah satu-satunya nabi sebelum Kristus yang menggunakan kata Syalom dalam pengertian sebuah agama. Ia adalah satu-satunya nabi yang menggunakan kata ini dengan tujuan untuk menetapkan atau membuktikan kejujuran seorang utusan Tuhan.

Menurut wahyu Al-Qur’an, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, Musa, dan semua nabi adalah Muslim, dan mengakui Islam sebagai agama mereka. Istilah “Islam” dan padanan “Syalom” dan “Sylama”, dikenal oleh kaum Yahudi dan Nasrani Mekah dan Madinah ketika Muhammad muncul untuk menyempurnakan dan menguniversalkan agama Islam.

Seorang nabi yang memprediksi “perdamaian” sebagai suatu kondisi yang abstrak, samar-samar, dan temporer tidak akan bisa berhasil dalam membuktikan identitasnya.

Sebenarnya, yang menjadi pokok perselisihan, atau malah persoalan kebangsaan yang gawat, yang dipertentangkan oleh dua nabi terkemuka yang dikenal pengadilan dan bangsa seperti Yeremia dan Hananya (Yeremia 28), tidak dapat dipecahkan dan ditetapkan secara pasti oleh penegasan dari salah satu dan penolakan dari satunya lagi, mengenai malapetaka yang sudah dekat. Memprediksi “perdamaian” menurut Yeremia ketika dari sejak semula ia sudah meramalkan bencana nasional yang besar–apakah dengan takluknya Raja Sidaqia kepada penguasa Khaldea atau dengan perlawanannya–tidak hanya akan menyebabkan kegagalannya, belum lagi keberhasilannya dalam membuktikan kejujurannya, tapi juga malah akan membuatnya konyol. Karena, bagaimana pun, “perdamaian” yang diduganya itu berarti tidak ada perdamaian sama sekali.

Sebaliknya, jika kaum Yahudi melawan tentara Khaldea, maka itu artinya kehancuran nasional yang menyeluruh, dan jika mereka menyerah, maka itu artinya suatu perbuatan tanpa syarat. Oleh karena itu, maka jelaslah bahwa Yeremia menggunakan Syalom dalam pengertian suatu sistem keagamaan yang nyata, konkret, dan riil yang dicakup dalam Islam.

Agar lebih jelas, kita harus mendengar dengan penuh perhatian argumen-argumen dari dua nabi lawannya yang mendiskusikan dan memperselisihkan persoalan nasional dihadapan seorang raja yang jahat dan pengadilan para penyanjung yang busuk dan kaum munafik yang sudah bejat akhlaknya.

Yeremia dalam batinnya memiliki hujah Tuhan dan agama perdamaian-Nya, dan demi kepentingan-kepentingan vital agama perdamaian, atau Islam, ia menasehati raja yang jahat dan para anggota istananya untuk menyerah pada tekanan Babylonia dan melayani bangsa Khaldea dan hidup. Karena tidak ada alternatif lain bagi mereka. Mereka harus meninggalkan Tuhan para nenek moyang mereka, mengotori bait-Nya, mengolok-olok dan mencerca pada nabi-Nya, dan melakukan kejahatan serta pengkhianatan (2 Tawarikh.36, dan seterusnya). Maka Tuhan menyerahkan mereka ke dalam kekuasaan Nebukadnezar, dan tidak akan menyelamatkan mereka.

Bagi seorang hamba Tuhan yang sejati dan tulus, agama adalah nomor satu dan baru kemudian bangsa. Pemerintahan dan bangsa lah –terutama apabila mereka mengabaikan Tuhan– yang harus dikorbankan demi agama, dan bukan sebaliknya!

Nabi dari Gibeon lainnya, Hananya, berusaha menyerahkan tuannya, sang raja: ia adalah seorang anggota istana dan disukainya, kaya serta necis, sementara lawan-lawannya selalu merana dan mati kelaparan di dalam penjara dan ruang tahanan bawah tanah. Ia tidak peduli dengan seruan kepada agama dan kesejahteraan umat yang nyata. Ia juga seorang nabi, begitulah kata Kitab Yeremia, namun ia seorang bajingan, dan telah menukar Tuhan dengan seorang raja yang bejat akhlaknya! Ia bernubuat atas nama Tuhan yang sama seperti dilakukan Yeremia, dan mengumumkan pengembalian barang rampasan dan para tawanan dari Babylonia dalam tempo dua tahun.

Nah, dari gambaran yang sumbang mengenai para nabi di atas, yang mana di antara keduanya yang akan Anda golongkan sebagai hamba Tuhan yang sejati dan sebagai pembela setia agama Tuhan? Sudah pasti Yeremia akan langsung menarik simpati dan pilihan Anda.

Hanya agama Syalom (Islam) lah yang dapat memberikan bukti tentang watak dan tegas seorang nabi sejati, imam, atau duta Tuhan di muka bumi. Tuhan itu satu, san agama-Nya pun satu. Tidak ada agama lain di dunia ini seperti Islam, yang mengakui dan mempertahankan keesaan Tuhan yang mutlak. Oleh karena itu, orang yang mengorbankan setiap kepentingan, kehormatan, dan cinta lain apa pun demi Agama Suci ini, tidak diragukan lagi dia adalah nabi sejati dan duta Tuhan.

Namun, masih ada satu hal yang patut kita ketahui, yaitu, jika agama Islam tidak menjadi standar dan ukuran untuk menguji kejujuran seorang nabi atau duta Tuhan, maka tidak ada kriteria lain untuk memenuhi tujuan itu. Mukjizat tidak selalu menjadi bukti yang cukup, karena tukang sihir juga bisa melakukan keajaiban. Pemenuhan suatu ramalan atau nujuman itu sendiri, pun, bukan bukti yang cukup; karena sebagaimana roh kudus mengungkapkan suatu peristiwa masa akan datang kepada seorang nabi sejati, begitu pula kadang-kadang roh jahat melakukan hal yang sama terhadap seorang penipu ulung.

Maka jelaslah bahwa nabi yang “bernubuat tentang Syalom (Islam) sebagai nama agama dan jalan hidup, begitu ia menerima pesan dari Tuhan maka ia akan dikenal telah diutus oleh-Nya”. Begitulah argumen yang telah dikemukakan Yeremia untuk meyakinkan para audiensnya mengenai kepalsuan Hananya. Tetapi raja yang jahat dan gengnya tidak mau mendengar dan menaati firman Tuhan.

Sebagaimana disampaikan dalam paragraf sebelumnya, perlu dicatat bahwa baik pemenuhan suatu ramalan atau pun terjadinya suatu mukjizat tidaklah cukup untuk menunjukkan ciri sejati dari seorang nabi; bahwa loyalitas dan kecintaan yang sempurna terhadap agama adalah bukti yang paling tepat dan meyakinkan untuk tujuan ini; bahwa Syalom digunakan untuk mengekspresikan agama perdamaian.

Sekali lagi kita mengulangi penegasan yang sama bahwa Syalom tak lain adalah Islam. Dan kita meminta dari mereka yang berkeberatan terhadap penafsiran ini untuk menunjukkan kata Arab selain Islam dan Salam sebagai padanan kata Syalom, dan juga mencarikan bagi kita kata lain dalam bahasa Ibrani disamping Syalom yang memberikan dan mengungkapkan makna yang sama dengan Islam.

Memang mustahil menemukan padanan lain seperti itu. Oleh karenanya, kita dipaksa bahwa Syalom sama dengan Salam atau Perdamaian dalam pengertian abstrak, dan “Islam” sebagai sebuah agama dan keyakinan dalam pengertian konkrit

Sebagaimana Al-Qur’an dalam surah 2 dengan jelas mengingatkan kita bahwa Ibrahim dan anak-cucunya adalah pengikut Islam; bahwa mereka bukanlah Yahudi atau pun Kristen; bahwa mereka mengajarkan dan menyebarkan penyembahan dan keimanan akan satu Tuhan kepada semua umat di tengah mana mereka tinggal atau berada, kita harus mengakui bahwa tidak hanya bangsa Yahudi, tapi beberapa bangsa lain yang berasal dari anak-anak Ibrahim lainnya dan banyak suku-sku yang diajak dan terpikat oleh mereka, adalah juga Muslim; artinya, orang-orang yang beriman kepada Allah dan tunduk pada kehendak-Nya.

Adalah Bani Esau, Edom, Midian, dan banyak bani lainnya yang tinggal di Arabia, mereka mengenal Tuhan dan menyembah-Nya seperti bani Israel. Bani-bani ini juga punya nabi dan pembimbing agamanya masing-masing seperti Yob, Yethro (bapak mertuanya Nabi Musa), Balaam, Hud, dan banyak lagi. Namun, seperti kaum Yahudi, mereka telah lari kepada penyembahan berhala sampai diberantas total oleh sang Pangeran para nabi.

Kaum Yahudi, sekitar abad ketujuh SM, mengarang sebagian besar kitab-kitab Perjanjian Lama, ketika ingatan-ingatan akan penaklukkan negeri Kanaan oleh Yoshua, bait Sulaiman dan Yerusalem, adalah kejadian-kejadian yang terkubur dalam sejarah jaman dulu mereka yang menakjubkan. Semangat nasionalistik dan Yudaistik terhadap keasingan dan kecemasan merajalela di tengah sebagian kecil bangsa Israel; keyakinan akan datangnya Juru Selamat Agung untuk mengembalikan singgasana dan mahkota Daud yang hilang telah mendominasi, dan makna lama Syalom sebagai nama agama Ibrahim dan lazim bagi semua umat yang berbeda-beda yang merupakan keturunannya sudah dilupakan.

157. syekh yusuf - 24 Oktober, 2008

Menguak Misteri Muhammad
Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

Nabi-nabi Sejati Hanya Mengajarkan Islam
Tidak ada bangsa yang dikenal dalam sejarah seperti Bani Israel, yang dalam jangka waktu kurang dari empat ratus tahun penuh dengan ribuan nabi palsu, belum lagi para tukang sihir, tukang ramal, dan semua jenis ilmu sihir dan tukang sulap.

Nabi-nabi palsu ada dua jenis: yang mengakui agama dan Taurat (Hukum) Yahweh dan pura-pura bernubuat atas nama-Nya, dan yang berada di bawah perlindungan seorang raja Israel penyembah berhala yang bernubuat atas nama Baal atau dewa-dewa lain dari kaum musyrikin sekitarnya. Termasuk kategori pertama ada beberapa penipu ulung yang sejaman dengan nabi-nabi sejati seperti Mikha (Micah) dan Yeremia, dan termasuk kategori kedua ada orang-orang yang memberikan banyak kesulitan kepada kaum beriman selama pemerintahan Ahab dan istrinya Yezebel.

Yang paling berbahaya bagi keyakinan dan agama yang benar adalah para nabi-semu, yang mengerjakan tugas-tugas ilahiah di bait dan juga Mishpha-mispha dan berpura-pura menyampaikan sabda-sabda Tuhan kepada manusia. Barangkali, tidak ada nabi yang menerima siksaan dan kesulitan dari para penipu ulung ini sebanyak Nabi Yeremia.

Selagi usia muda, Yeremia memulai misi kenabiannya sekitar kuartal terakhir abad ketujuh sebelum Masehi, ketika Kerajaan Yudas sedang terancam bahaya invasi oleh pasukan Khaldea. Kaum Yahudi telah bersekutu dengan Fir’aun dari Mesir, tetapi karena Fir’aun ditaklukkan dengan buruk oleh tentara Nebukadnezar, maka ajal Yerusalem hanya tinggal menunggu waktu saja. Pada masa-masa kritis ini, selama mana nasib orang beriman yang tersisa akan diputuskan, Nabi Yeremia dengan keras menasihati raja dan para pemimpin kaum Yahudi untuk tunduk dan mengabdi Raja Babylonia, agar Yerusalem bisa diselamatkan jangan sampai dibakar menjadi bau dan jangan sampai orang-orang dijebloskan ke dalam tahanan. Ia menumpahkan semua pidatonya yang pedas dan mengesankan ke telinga para raja, pendeta, dan orang-orang tua, namun semuanya sia-sia.

Nabi Yeremia menyampaikan pesan demi pesan dari Tuhan, dengan mengatakan bahwa satu-satunya obat untuk menyelamatkan negeri dan masyarakat dari kehancuran yang sudah dekat adalah menyerah kepada bangsa Khaldea; namun tidak satu pun mau mendengarkan peringatan-peringatannya.

Nabukadnezar datang dan merebut kota, mengangkut raja, para pangeran, dan banyak tawanan, dan juga semua harta bait, termasuk bejana-bejana emas dan perak. Pangeran lainnya, dan pangeran yang ketiga, diangkat oleh Kaisar Babylonia untuk memerintah sebagai budaknya di Yerusalem. Raja ini, bukannya bersifat bijak dan loyal terhadap pemimpinnya di babylonia, tapi malah memberontak terhadapnya.

Yeremia tak henti-hentinya memperingatkan sang raja tetap loyal dan meninggalkan kebijakan bangsa Mesir. Namun, nabi-nabi palsu terus berpidato panjang lebar di dalam bait, dengan mengatakan, “Maka berkatalah Tuhan Rombongan Besar, Lihatlah, Aku telah mematahkan kuk Raja Babylonia, dan dalam waktu dua tahun semua tawanan Yahudi dan bejana-bejana Rumah Tuhan akan dikembalikan ke Yerusalem.” Yeremia memasang buah kuk kayu di sekeliling lehernya sendiri lalu pergi ke kuil dan memberitahu orang-orang bahwa Tuhan telah ridha memasang dengan cara ini kuk raja Babylonia pada leher semua kaum Yahudi. Ia dipukul mukanya oleh seorang nabi yang melawan, yang mematahkan hingga berkeping-keping kuk kayu dari leher Yeremia dan mengulangi pidato panjang lebar para nabi palsu.

Yeremia dilemparkan ke dalam sebuah penjara bawah tanah yang penuh lumpur dan dalam, dan hanya diberi makan sepotong roti gandum kering sehari sampai kelaparan melanda kota, yang dikepung oleh bangsa Khaldea. Nabi-palsu Hananya mati seperti yang diramalkan Yeremia. Tembok kota diruntuhkan, dan pasukan yang menang cepat-cepat memasuki kota, Raja Zedekiah dan rombongannya melarikan diri ditangkap dan dibawa ke Raja Babylonia. Kota dan bait, setelah dijarah, dibakar, dan seluruh penduduk Yerusalem digiring ke Babylonia; hanya golongan miskin yang dibiarkan untuk mengolah tanah.

Atas perintah Nebukadnezar, Yeremia dibolehkan untuk tinggal di Yerusalem, dan gubernur yang baru diangkat, Gedaliah, ditugaskan untuk menjaga dan mengurus nabi dengan baik. Tapi Gedaliah dibunuh oleh orang-orang Yahudi yang memberontak, dan kemudian mereka semua melarikan diri ke Mesir, membawa serta Yeremia. Di Mesir pun ia bernubuat untuk para buronan dan bangsa Mesir. Ia harus mengakhiri hidupnya di Mesir.

Kitab-kitabnya, sebagaimana ada sekarang, sangat berbeda dengan teks kitab Septuagint; terang saja, salinan dari mana teks Yunani ditulis oleh para penerjemah Aleksandria mempunyai urutan pasal-pasal yang berbeda.

Para kritikus Alkitab beranggapan bahwa Yeremia adalah pengarang, atau, bagaimanapun, penyusun kitab kelima Pentateuch yang disebut Ulangan. Saya sendiri punya pendapat yang sama. Yeremia adalah orang Lewi dan pendeta dan juga nabi. Terdapat banyak ajaran Yeremia dalam Ulangan yang tidak ada dalam bagian lain dari tulisan-tulisan Perjanjian Lama. Dan saya mengutip salah satu ajaran ini untuk pokok bahasan saya sekarang, yang saya anggap sebagai salah satu teks mutiara atau emas dalam Perjanjian Lama dan harus dihargai karena sangat mulia dan suci.

Setelah penjelasan yang mendetail ini saya bersegera ke persoalan utama yang telah saya pilih untuk topik artikel ini: Bagaimana membedakan seorang nabi sejati dari nabi palsu. Yeremia telah memasok kita dengan jawaban yang cukup memuaskan, yaitu: “Nabi yang mengajarkan Islam”.

Dalam kitab Ulangan (13:1-5, 18:20-22) Tuhan Yang Mahakuasa memberikan beberapa petunjuk mengenai nabi-nabi palsu yang bisa bernubuat atas nama Tuhan dan dengan cara yang demkian busuk dan membahayakan sehingga mereka bisa menyesatkan kaumnya. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengetahui kedurhakaan si penipu ulung ini adalah dengan mengantisipasi pemenuhan ramalan-ramalannya, dan kemudian menghukum mati dia ketika penipuannya terbongkar.

Namun, sebagaimana banyak diketahui, orang bodoh tidak dapat membedakan dengan benar antara nabi palsu dan penipu ulung, persis seperti sekarang ini mereka tidak mampu secara tepat menemukan yang mana di antara dua, seorang pendeta Katolik Roma atau seorang pendeta Calvinis, adalah pengikut sejati Yesus Kristus! Nabi palsu juga akan meramalkan berbagai keajaiban, menyembuhkan secara ajaib, dan melakukan hal-hal religius lainnya yang sama –paling tidak kelihatan sama– dengan yang dilakukan oleh seorang nabi sejati.

Persaingan antara Nabi Musa dan para tukang sihir mesir adalah ilustrasi yang tepat dari pernyataan ini. Dengan demikian, Yeremia-lah yang memberi kita contoh terbaik untuk menguji kejujuran dan kesejatian seorang nabi, dan cara itu adalah syariat Islam. Silahkan baca Yeremia pasal 28 seluruhnya, dan kemudian renungkan secara hayati ayat 9:

“Nabi yang bernubuat tentang Islam (Syalom), saat datangnya sabda Nabi, nabi itu akan diakui benar-benar telah diutus oleh Tuhan.” (Yeremia 28:9)

Terjemahan ini sangat harfiah. Kata kerja asli naba, biasa diterjemahkan menjadi “meramalkan” atau “bernubuat,” dan kata benda nabi, “nabi” memberikan kesan bahwa seorang nabi adalah seorang yang meramalkan masa depan atau kejadian-kejadian masa lalu dengan bantuan wahyu ilahi. Definisi ini hanya benar sebagian. Definisi yang lengkap dari kata “Nabi” mestilah: “orang yang menerima sabda atau pesan dari Tuhan, dan menyampaikannya dengan jujur kepada orang atau kaum yang dituju.”

Jelaslah bahwa pesan Ilahi tidak harus berupa ramalan tentang kejadian-kejadian masa lalu dan masa akan datang. Dengan cara yang sama, kata kerja “bernubuat” tidak mesti berarti mengungkapkan kejadian-kejadian masa lalu dan masa akan datang, melainkan mengajarkan atau menyebarluaskan pesan Tuhan. Konsekuensinya bernubuat adalah menyampaikan dan mengucapkan sabda baru, yang sifat dan karakternya sangat immaterial. Membaca ucapan seorang nabi adalah bernubuat tidak lebih dari sabda yang disampaikan oleh seorang nabi ketika berceramah atau berpidato atas kehendaknya sendiri.

Dalam Al-Qur’an Tuhan menyuruh hamba-Nya yang dikasihi, Muhammad, untuk menyatakan, “Aku adalah manusia seperti kalian; hanya [bedanya] aku menerima wahyu,” dan seterusnya, sehingga kita berhati-hati untuk tidak menisbahkan kepada seorang nabi sifat mengetahui dan mengucapkan segala seseuatu melalui wahyu.

Wahyu Ilahi biasanya datang sewaktu-waktu, sedangkan para nabi dalam hubungan dan pengetahuan pribadi, mereka bisa saja salah dan keliru. Seorang nabi tidak diangkat oleh Tuhan untuk mengajari manusia ilmu fisika, matematika, atau ilmu positif lainnya. Kita sangat tidak adil kalau menyalahkan seorang nabi karena kesalahan bicara atau kekhilafan yang dilakukan sebagai seorang manusia. Oleh karenanya, seorang nabi diuji dan diperiksa hanya ketika ia secara resmi dan secara jabatan menyampaikan pesan yang diterimanya dari Tuhan.

Untuk mengetahui apakah seorang nabi itu asli atau penipu ulung, tidaklah fair memberikan putusan terhadap sifat profetisnya karena ia dilaporkan telah bersifat sedikit kasar atau tidak sopan terhadap ibunya atau karena ia mempercayai spiration seperti apa adanya dan mempercayai bahwa pengarang Pentateuch adalah Musa. Ketika melakukan observasi ini, saya mempertimbangkan kasus Yesus Kristus, dan banyak kasus lainnya dalam sejarah Israel tentang hal-hal lain.

Adalah tidak jujur dan karena rasa benci menuduh para nabi dengan sifat-sifat sensualitas, kekasaran, bodoh dalam ilmu, dan kelemahan-kelemahan moral lainnya. Mereka adalah manusia seperti kita dan sewaktu-waktu merasakan kecenderungan dan nafsu yang alamiah. Mereka dilindungi hanya dari dosa-dosa besar dan dari pemutarbalikkan pesan yang harus mereka sampaikan.

Kita harus ekstra hati-hati jangan sampai mengagungkan nabi-nabi Tuhan terlalu tinggi dalam imajinasi kita, kalau tidak Tuhan tidak meridhai kita. Mereka adalah makhluk dan hamba-Nya; para nabi menunaikan tugas mereka dan kembali kepada-Nya. Ketika kita melupakan Tuhan dan mengkonsentrasikan cinta dan pujian kita pada salah seorang dari utusa-utusan Tuhan, maka kita dalam bahaya terperosok ke dalam dosa syirik (politheisme).

Setelah jauh menjelaskan sifat dan signifikansi prophet (nabi) dan prophecy (nubuat), sekarang saya akan berusaha keras untuk membuktikan bahwa tidak ada nabi yang asli kecuali, sebagaimana dengan jelas dikatakan oleh Yeremia, kalau ia mengajarkan dan menyebarluaskan agama Islam.

Untuk memahami dengan lebih baik pengertian dan arti penting dan soal yang sedang kita renungkan, kita harus melirik sejenak pada ayat sebelumnya, di mana Yeremia berkata kepada musuhnya Nabi Hananya, “Nabi-nabi yang ada sebelumku dan sebelummu dari [jaman] dahulu kala telah bernubuat terhadap banyak negeri dan kerajaan-kerajaan yang besar mengenai perang, malapetaka, dan penyakit sampat.” Lalu ia melanjutkan:

“Nabi yang bernubuat tentang Islam segera setelah datang sabda nabi, nabi itu diketahui benar-benar telah diutus oleh Tuhan.”

Bisa saja tidak ada keberatan terhadap susunan kata Inggris dari bagian ini kecuali kalimat “l Syalom” yang telah saya terjemahkan sebagai “concerning Islam.” Kata depan “l” sebelum “Syalom” berarti “concerning” atau “about” (tentang), dan menempatkan subjeknya dalam kasus objektif dan tidak dalam kasus datif, sebagaimana halnya kalau predikatnya adalah kata kerja seperti “come” (datang), “go”, atau “give” (memberi).

Bahwa “Syalom” dan bahasa Syria “Sylama”, dan juga kata Arab “salam” dan “Islam.” berasa; daro sati alar lata najasa Semit yang sama, “shalam” berarti “tunduk, menyerahkan diri”, dan kemudian “berdamai”; dan konsekuensinya “menjadi aman, baik, dan tenang.”

Tidak ada sistem keagamaan di dunia ini yang diberi sifat dengan nama yang baik dan lebih komprehensif, bermartabat dan luhur selain dari nama “Islam.” Agama sejati dari Tuhan Yang Sejati tidak bisa diberi nama dengan nama suatu kaum atau negeri. Sebenarnya, kesucian dan ketidaktercelaan dari kata “Islam” inilah yang membuat musuh-musuhnya terpesona, takut, dan hormat sekalipun ketika kaum Muslim dalam keadaan lemah dan tidak bahagia. Itulah nama dan gelar dari sebuah agama yang mengajarkan dan memerintahkan suatu ketundukkan dan kepasrahan mutlak terhadap Zat Yang Mahatinggi, dan kemudian meraih kedamaian dan ketenangan dalam batin, tidak peduli dengan kesengsaraan atau kemalangan yang mungkin mengancam kita. Itulah yang membuat musuh-musuh Islam terpesona.21

Adalah keyakinan yang teguh dan tak tergoyahkan akan Keesaan Allah dan kepercayaan yang kokoh terhadap belasan kasih dan keadilan-Nya yang menjadikan seorang Muslim dapat dibedakan dan menonjol di tengah-tengah kaum non-Muslim. Dan keimanan yang benar terhadap Allah dan kecintaan yang tulus terhadap Al-Qur’an Suci dan Rasul lah yang menyebabkan para misionaris kristen mati-matian menyerang dan gagal dengan sia-sia. Karena itu, ucapan Yeremia bahwa “Nabi yang bernubuat, yaitu, yang mengajarkan dan berbicara mengenai urusan-urusan Islam sebagai agamanya, ia akan langsung dikenal lebih benar-benar diutus oleh Tuhan.” Oleh karena itu, mari kita perhatikan dengan sungguh-sungguh beberapa poin berikut:

Nabi Yeremia adalah satu-satunya nabi sebelum Kristus yang menggunakan kata Syalom dalam pengertian sebuah agama. Ia adalah satu-satunya nabi yang menggunakan kata ini dengan tujuan untuk menetapkan atau membuktikan kejujuran seorang utusan Tuhan.

Menurut wahyu Al-Qur’an, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, Musa, dan semua nabi adalah Muslim, dan mengakui Islam sebagai agama mereka. Istilah “Islam” dan padanan “Syalom” dan “Sylama”, dikenal oleh kaum Yahudi dan Nasrani Mekah dan Madinah ketika Muhammad muncul untuk menyempurnakan dan menguniversalkan agama Islam.

Seorang nabi yang memprediksi “perdamaian” sebagai suatu kondisi yang abstrak, samar-samar, dan temporer tidak akan bisa berhasil dalam membuktikan identitasnya.

Sebenarnya, yang menjadi pokok perselisihan, atau malah persoalan kebangsaan yang gawat, yang dipertentangkan oleh dua nabi terkemuka yang dikenal pengadilan dan bangsa seperti Yeremia dan Hananya (Yeremia 28), tidak dapat dipecahkan dan ditetapkan secara pasti oleh penegasan dari salah satu dan penolakan dari satunya lagi, mengenai malapetaka yang sudah dekat. Memprediksi “perdamaian” menurut Yeremia ketika dari sejak semula ia sudah meramalkan bencana nasional yang besar–apakah dengan takluknya Raja Sidaqia kepada penguasa Khaldea atau dengan perlawanannya–tidak hanya akan menyebabkan kegagalannya, belum lagi keberhasilannya dalam membuktikan kejujurannya, tapi juga malah akan membuatnya konyol. Karena, bagaimana pun, “perdamaian” yang diduganya itu berarti tidak ada perdamaian sama sekali.

Sebaliknya, jika kaum Yahudi melawan tentara Khaldea, maka itu artinya kehancuran nasional yang menyeluruh, dan jika mereka menyerah, maka itu artinya suatu perbuatan tanpa syarat. Oleh karena itu, maka jelaslah bahwa Yeremia menggunakan Syalom dalam pengertian suatu sistem keagamaan yang nyata, konkret, dan riil yang dicakup dalam Islam.

Agar lebih jelas, kita harus mendengar dengan penuh perhatian argumen-argumen dari dua nabi lawannya yang mendiskusikan dan memperselisihkan persoalan nasional dihadapan seorang raja yang jahat dan pengadilan para penyanjung yang busuk dan kaum munafik yang sudah bejat akhlaknya.

Yeremia dalam batinnya memiliki hujah Tuhan dan agama perdamaian-Nya, dan demi kepentingan-kepentingan vital agama perdamaian, atau Islam, ia menasehati raja yang jahat dan para anggota istananya untuk menyerah pada tekanan Babylonia dan melayani bangsa Khaldea dan hidup. Karena tidak ada alternatif lain bagi mereka. Mereka harus meninggalkan Tuhan para nenek moyang mereka, mengotori bait-Nya, mengolok-olok dan mencerca pada nabi-Nya, dan melakukan kejahatan serta pengkhianatan (2 Tawarikh.36, dan seterusnya). Maka Tuhan menyerahkan mereka ke dalam kekuasaan Nebukadnezar, dan tidak akan menyelamatkan mereka.

Bagi seorang hamba Tuhan yang sejati dan tulus, agama adalah nomor satu dan baru kemudian bangsa. Pemerintahan dan bangsa lah –terutama apabila mereka mengabaikan Tuhan– yang harus dikorbankan demi agama, dan bukan sebaliknya!

Nabi dari Gibeon lainnya, Hananya, berusaha menyerahkan tuannya, sang raja: ia adalah seorang anggota istana dan disukainya, kaya serta necis, sementara lawan-lawannya selalu merana dan mati kelaparan di dalam penjara dan ruang tahanan bawah tanah. Ia tidak peduli dengan seruan kepada agama dan kesejahteraan umat yang nyata. Ia juga seorang nabi, begitulah kata Kitab Yeremia, namun ia seorang bajingan, dan telah menukar Tuhan dengan seorang raja yang bejat akhlaknya! Ia bernubuat atas nama Tuhan yang sama seperti dilakukan Yeremia, dan mengumumkan pengembalian barang rampasan dan para tawanan dari Babylonia dalam tempo dua tahun.

Nah, dari gambaran yang sumbang mengenai para nabi di atas, yang mana di antara keduanya yang akan Anda golongkan sebagai hamba Tuhan yang sejati dan sebagai pembela setia agama Tuhan? Sudah pasti Yeremia akan langsung menarik simpati dan pilihan Anda.

Hanya agama Syalom (Islam) lah yang dapat memberikan bukti tentang watak dan tegas seorang nabi sejati, imam, atau duta Tuhan di muka bumi. Tuhan itu satu, san agama-Nya pun satu. Tidak ada agama lain di dunia ini seperti Islam, yang mengakui dan mempertahankan keesaan Tuhan yang mutlak. Oleh karena itu, orang yang mengorbankan setiap kepentingan, kehormatan, dan cinta lain apa pun demi Agama Suci ini, tidak diragukan lagi dia adalah nabi sejati dan duta Tuhan.

Namun, masih ada satu hal yang patut kita ketahui, yaitu, jika agama Islam tidak menjadi standar dan ukuran untuk menguji kejujuran seorang nabi atau duta Tuhan, maka tidak ada kriteria lain untuk memenuhi tujuan itu. Mukjizat tidak selalu menjadi bukti yang cukup, karena tukang sihir juga bisa melakukan keajaiban. Pemenuhan suatu ramalan atau nujuman itu sendiri, pun, bukan bukti yang cukup; karena sebagaimana roh kudus mengungkapkan suatu peristiwa masa akan datang kepada seorang nabi sejati, begitu pula kadang-kadang roh jahat melakukan hal yang sama terhadap seorang penipu ulung.

Maka jelaslah bahwa nabi yang “bernubuat tentang Syalom (Islam) sebagai nama agama dan jalan hidup, begitu ia menerima pesan dari Tuhan maka ia akan dikenal telah diutus oleh-Nya”. Begitulah argumen yang telah dikemukakan Yeremia untuk meyakinkan para audiensnya mengenai kepalsuan Hananya. Tetapi raja yang jahat dan gengnya tidak mau mendengar dan menaati firman Tuhan.

Sebagaimana disampaikan dalam paragraf sebelumnya, perlu dicatat bahwa baik pemenuhan suatu ramalan atau pun terjadinya suatu mukjizat tidaklah cukup untuk menunjukkan ciri sejati dari seorang nabi; bahwa loyalitas dan kecintaan yang sempurna terhadap agama adalah bukti yang paling tepat dan meyakinkan untuk tujuan ini; bahwa Syalom digunakan untuk mengekspresikan agama perdamaian.

Sekali lagi kita mengulangi penegasan yang sama bahwa Syalom tak lain adalah Islam. Dan kita meminta dari mereka yang berkeberatan terhadap penafsiran ini untuk menunjukkan kata Arab selain Islam dan Salam sebagai padanan kata Syalom, dan juga mencarikan bagi kita kata lain dalam bahasa Ibrani disamping Syalom yang memberikan dan mengungkapkan makna yang sama dengan Islam.

Memang mustahil menemukan padanan lain seperti itu. Oleh karenanya, kita dipaksa bahwa Syalom sama dengan Salam atau Perdamaian dalam pengertian abstrak, dan “Islam” sebagai sebuah agama dan keyakinan dalam pengertian konkrit

Sebagaimana Al-Qur’an dalam surah 2 dengan jelas mengingatkan kita bahwa Ibrahim dan anak-cucunya adalah pengikut Islam; bahwa mereka bukanlah Yahudi atau pun Kristen; bahwa mereka mengajarkan dan menyebarkan penyembahan dan keimanan akan satu Tuhan kepada semua umat di tengah mana mereka tinggal atau berada, kita harus mengakui bahwa tidak hanya bangsa Yahudi, tapi beberapa bangsa lain yang berasal dari anak-anak Ibrahim lainnya dan banyak suku-sku yang diajak dan terpikat oleh mereka, adalah juga Muslim; artinya, orang-orang yang beriman kepada Allah dan tunduk pada kehendak-Nya.

Adalah Bani Esau, Edom, Midian, dan banyak bani lainnya yang tinggal di Arabia, mereka mengenal Tuhan dan menyembah-Nya seperti bani Israel. Bani-bani ini juga punya nabi dan pembimbing agamanya masing-masing seperti Yob, Yethro (bapak mertuanya Nabi Musa), Balaam, Hud, dan banyak lagi. Namun, seperti kaum Yahudi, mereka telah lari kepada penyembahan berhala sampai diberantas total oleh sang Pangeran para nabi.

Kaum Yahudi, sekitar abad ketujuh SM, mengarang sebagian besar kitab-kitab Perjanjian Lama, ketika ingatan-ingatan akan penaklukkan negeri Kanaan oleh Yoshua, bait Sulaiman dan Yerusalem, adalah kejadian-kejadian yang terkubur dalam sejarah jaman dulu mereka yang menakjubkan. Semangat nasionalistik dan Yudaistik terhadap keasingan dan kecemasan merajalela di tengah sebagian kecil bangsa Israel; keyakinan akan datangnya Juru Selamat Agung untuk mengembalikan singgasana dan mahkota Daud yang hilang telah mendominasi, dan makna lama Syalom sebagai nama agama Ibrahim dan lazim bagi semua umat yang berbeda-beda yang merupakan keturunannya sudah dilupakan.

Dari sudut pandang inilah saya memandang pasal Yeremia ini sebagai salah satu golden text dalam tulisan suci bahasa Ibrani.

——————————————————————————–

Footnotes
21. Menarik dan penting untuk dicatat, betapa hasil-hasil observasi para pakar bersesuaian dengan hasil observasi eks-Kaiser Jerman yang, pada saat peringatan ulang tahunnya yang ketujuh puluh tahun di Doorn, Belanda, dikabarkan telah mengatakan dalam pidatonya, “Dan pahamilah ini –jika sekiranya kaum Muhammadan memahami ide bahwa adalah perintah Allah untuk membawa ketertiban ke Barat yang mundur dan tunduk kepada kehendak-Nya, kemudian– dengan keimana kepada Tuhan– mereka akan menemukan bangsa Eropa yang tidak bertuhan seperti gelombang air pasang, terhadap mana kaum Bolshevis yang paling komunis sekalipun, yang penuh dengan hasrat perang, akan tidak berdaya.” (Evening Standard, London, Januari 26, 1929).

Sumber:

“Menguak Misteri Muhammad SAW”, Benjamin Keldani, Sahara Publisher, Edisi Khusus Cetakan kesebelas Mei 2006, hal. 127-138.

158. syekh yusuf - 24 Oktober, 2008

Menguak Misteri Muhammad
Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

Raja Daud Menyapanya, Tuanku
Sejarah Daud, perbuatannya yang luar biasa, dan tulisan-tulisan kenabiannya, terdapat dalam dua kitab Perjanjian lama yakni Samuel dan Mazmur. Ia adalah anak bontot Yishai (Yessie) dari suku Yudas. Ketika masih seorang gembala muda, ia sudah mampu membunuh seekor beruang dan mencabik-cabik dua ekor singa. Anak muda yang gagah berani itu mengayunkan sebuah batu kecil persis ke dahi Goliat, seorang jawara Filistin yang bersenjata dan menyelamatkan tentara Israel. Hadiah tertinggi untuk prestasi yang terbaik dalam menunjukkan keberanian adalah Michal, anak perempuan Raja Saul.

Daud pandai bermain harpa dan seruling, dan ia adalah penyanyi yang bagus. Pelarian dia dari bapak mertuanya yang iri hati, petualangan dan perbuatan-perbuatan luarbiasa nya sebagai seorang bandit sudah banyak diketahui. Saat kematian Saul, maka Daud diundang oleh masyarakat untuk menerima mahkota kerajaan, untuk mana sudah lama sebelumnya ia diberi upacara perminyakan suci oleh nabi Samuel. Ia memerintah selama sekitar tujuh tahun di Hebron. Ia mengambil Yerusalem dari kaum Yebusit dan menjadikannya ibukota kerajaan.

Dua bukit atau gunung, di Yerusalem diberi nama “Moriah” dan “Sion”. Kedua kata ini memiliki pengertian dan makna yang sama sebagai “Marwah” dan “Shafa” yang terkenal di Mekah, yang berturut-turut artinya adalah “tempat bayangan Tuhan” dan “cadas” atau “batu”.

Berbagai perang yang dilakukan Daud, kesulitan-kesulitan keluarganya yang sangat berat, dosanya terhadap tentara yang beriman, Uria dan istrinya, Batsyeba, tidak dibiarkan tanpa mendapat hukuman. Ia berkuasa selama empat puluh tahun. Kehidupannya diwarnai dengan peperangan dan kesedihan keluarga. Ada beberapa cerita kontradiktif mengenai dia yang jelas-jelas berasal dari dua sumber yang berlawanan.

Kejahatan Daud dalam kaitannya dengan Uria dan istrinya (2 Samuel 11) bahkan tidak disinggung dalam Al-Qur’an Surah 38. Itulah keunggulan al-Qur’an yang mengajarkan kepada kita bahwa semua nabi terlahir tanpa dosa dan mati juga tanpa dosa. Tidak seperti Alkitab (Injil), Al-Qur’an tidak mempertalikan mereka dengan kejahatan-kejahatan dan dosa-dosa –misalnya kejahatan ganda Daud yang disebutkan dalam Alkitab, yang, menurut Hukum Musa, harus di hukum mati –yang, apa lagi seorang nabi yang merupakan hamba pilihan Tuhan Yang Mahakuasa, melekatkan pada nama seorang mansuia biasa pun tidak terpikirkan oleh kita.

Kisah tentang Daud melakukan perzinaan sehingga dua malaikat datang kepadanya dan mengingatkan dia akan dosa adalah dusta yang tolol dan kekanak-kanakan–dimana pun kisah itu adanya. Hal ini sudah disangkal melalui pemikiran yang terbaik dari kaum Muslim. Razi berkata: “Sebagian besar kaum terpelajar, dan yang mencari kebenaran di antara mereka menyatakan tuduhan ini palsu dan mengutuknya sebagai sebuah kisah dusta dan jahat.

Kata-kata istighfara dan ghafarana yang terdapat dalam Al-Qur’an 38:23, sama sekali tidak mengindikasikan Daud telah melakukan suatu dosa, karena istighfar sebenarnya berarti meminta perlindungan, dan Daud meminta perlindungan Tuhan ketika ia melihat bahwa musuh-musuhnya semakin bertambah berani melawannya. Dan dengan ghafarana berarti pembetulan urusan-urusannya, karena Daud sebagai penguasa hebat, tidak bisa berhasil menguasai secara penuh musuh-musuhnya.

Perjanjian Lama tidak menyebutkan waktu kapan karunia kenabian diberikan kepada Daud. Kita membaca bahwa setelah Daud melakukan dua dosa, maka Tuhan mengutus nabi Natan untuk menghukum Daud. Sesungguhnya hingga akhir hidupnya, kita menemukan dia selalu mendapat pertolongan dari nabi-nabi lain. Oleh karena itu, menurut cerita-cerita versi alkitab, nampaklah bahwa karunia nubuat datang padanya setelah ia benar-benar bertobat dari dosa-dosanya.

Dalam salah satu artikel saya sebelumnya, saya mengatakan bahwa setelah terpecahnya Kerajaan menjadi dua bagian yang merdeka dan saling berperang satu sama lain, sepuluh suku yang membentuk kerajaan Israel selalu memusuhi Dinasti Daud dan tidak pernah mengakui bagian manapun dari Perjanjian Lama selain Taurat atau Hukum Musa seperti terdapat dalam Pentateuch. Hal ini jelas menurut versi Samaritan dari lima kitab pertama Perjanjian Lama.

Kita tidak menemukan satupun kata atau nubuat tentang keturunan Daud dalam wacana-wacana tentang para nabi besar, seperti Elia, Elisa, dan lain-lainnya yang tumbuh subur di Samaria selama pemerintahan raja-raja Israel yang kejam. Hanya setelah runtuhnya kerajaan Israel dan pindahnya sepuluh suku ke Assyria barulah pada nabi Yudea mulai meramalkan lahirnya seorang Pangeran dari Rumah Daud yang segera memulihkan seluruh bangsa dan menaklukkan musuh-musuhnya.

Ada beberapa dari ucapan-ucapan yang bermakna ganda ini dalam tulisan-tulisan atau pidato-pidato beberapa nabi terakhir yang memberikan kegembiraan yang luar biasa dan menakjubkan kepada Bapa-bapa Gereja, tetapi dalam kenyataannya, ucapan-ucapan itu tidak ada hubungannya denga Yesus Kristus.

Saya akan mengutip secara ringkas dua diantara nubuat ini. Pertama dalam Yesaya (pasal 7 ayat 14), dimana nabi itu meramalkan bahwa “seorang hadis yang sudah mengandung akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamainya Imanuel”. Kata Ibrani a’lmah bukan berarti “perawan”, seperti umumnya diartikan oleh para theolog Kristen dan karena itu diterapkan kepada perawan Maria, tetapi berarti “seorang perempuan yang sudah boleh kawin (dewasa), gadis, dara.” Kata Ibrani untuk perawan adalah bthulah. Maka nama anaknya harus Imanuel, yang berarti “Tuhan-bersama-kita.” Terdapat ratusan nama dalam bahasa Ibrani yang terdiri dari “el” dan kata benda lainnya, yang membentuk suku-suku pertama atau, kalau tidak, suku kata terakhir dari kata benda majemuk seperti itu.

Baik Yesaya ataupun Raja Ahaz, atau setiap orang Yahudi tidak pernah berpikir bahwa bayi yang baru lahir itu adalah “Tuhan-bersama-kita”. Mereka tidak pernah memikirkan hal lain selain bahwa nama dia hanya akan seperti ini. Tetapi teks dengan jelas menyatakan bahwa Ahazlah (yang kelihatannya sudah mengenal sang gadis yang mempunyai anak) yang akan memberikan nama itu kepada sang anak. Ahaz dalam keadaan bahaya, musuh-musuhnya sedang merangsek ke Yerusalem, dan janji ini diberikan kepadanya dengan menunjuki dia suatu tanda , yakni, gadis yang hamil, dan bukan seorang perawan Maria yang akan datang kedunia lebih dari tujuh ratus tahun kemudian!

Ramalan sederhana tentang seorang anak yang akan dilahirkan pada masa pemerintahan Ahaz ini disalahpahami juga oleh penulis Injil Matius (Matius 1:23). Nama “Yesus” diberikan oleh malaikat Jibril (Matius 1:21), dan ia belum pernah dipanggil “Imanuel”. Bukankah keji mengambil nama ini sebagai argumen dan bukti doktrin “inkarnasi” Kristen?

Penafsiran aneh lainnya terhadap ramalan kenabian adalah dari Zakaria (9:9), yang salah kutip dan sama sekali disalahpahami oleh penulis Injil Matiuis (21:5). Nabi Zakaria berkata: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan membawa keselamatan. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda, anak dari keledai betina.” Dalam bagian yang puitis ini sang penyair benar-benar ingin menggambarkan si keledai jantan –dimana sang Raja duduk- dengan mengatakan bahwa ia adalah seekor keledai muda; dan anak keledai ini pun, digambarkan sebagai anak seekor keledai betina. Ia hanyalah seekor anak keledai jantan atau keledai muda. Nah! Matius mengutip bagian ini seperti berikut:

“Katakanlah kepada puteri Sion,
Lihat, Rajamu datang kepadamu,
Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai,
seekor keledai beban yang muda, anak dari seekor keledai betina.”

Baik orang yang menulis ayat diatas benar-benar percaya ataupun tidak bahwa Yesus, ketika masuk ke Yerusalem dengan membawa kemenangannya sambil mengendarai atau duduk diatas keledai induk dan anaknya pada waktu yang sama, melakukan keajaiban bukanlah persoalan; meski demikian, adalah melakukan keajaiban bukanlah persoalan; meski demikian, adalah benar mengatakan bahwa mayoritas Bapa Kristen begitu mempercayai; dan tidak pernah terbetik pada mereka bahwa pertunjukan seperti itu akan terlihat lebih seperti sebuah komedi ketimbang sebuah prosesi kerajaan yang megah. Namun, Lukas bersikap waspada, dan tidak jatuh ke dalam kesalahan Matius. Apakah dua pengarang ini diilahami oleh Roh yang sama?

Zakaria meramalkan di Yerusalem, setelah kepulangan Yesus dari penahanan akan kedatangan seorang raja. Meskipun lembut dan rendah hati, mengendarai seekor anak keledai, tetap saja ia datang membawa keselamatan dan akan membangun kembali rumah Tuhan. Ia meramalkan hal ini pada saat kaum Yahudi sedang berusaha keras membangun kembali Bait Allah dan kota yang hancur; masyarakat sekelilingnya menentang mereka; pekerjaan pembangunan dihentikan sampai Darius, raja Persia , mengeluarkan perintah pembangunan.

Meskipun tidak ada raja Yahudi pernah muncul sejak abad ke enam Sebelum Masehi, namun, mereka sudah memiliki pemerintahan-pemerintahan otonom dibawah penguasa asing. Keselamatan yang dijanjikan disini, perlu dicatat, adalah bersifat material dan segera, dan bukan keselamatan yang akan datang 520 tahun kemudian, ketika Yesus dari Nazaret menunggangi dua ekor keledai sekaligus dan memasuki Yerusalem, yang sudah merupakan sebuah kota besar dan kaya serta memiliki bait yang megah, semata-mata untuk ditangkap dan disalib oleh kaum Yahudi sendiri dan oleh jawara-jawara Romawi, sebagaimana diceritakan Kitab-kitab Injil yang ada sekarang! Ini sama sekali bukan penghiburan bagi kaum Yahudi malang yang dikelilingi oleh musuh-musuh dalam sebuah kota yang hancur. Konsekuensinya, dengan kata “raja” dapat kita pahami, sebagai salah seorang pemimpin utama mereka –Zerobabel, Ezra, atau Nehemia.

Dua contoh ini dimaksudkan untuk menunjukkan terutama kepada para pembaca muslim –yang mungkin kurang familiar dengan kitab-kitab suci kaum Yahudi- betapa umat Kristiani telah disesatkan oleh pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka, ketika menyampaikan penafsiran-penafsiran dan makna-makna bodoh terhadap nubuat-nubuat yang terkandung didalamnya.

Sekarang saya membahas nubuat Daud:

“YaHWaH berkata kepada Adonku,
Duduklah disebelah kananku sampai aku tempatkan
Musuh-musuhmu sebagai ganjal dibawah kakimu.

Ayat Daud ini ditulis dalam kitab Mazmur 111, dan dikutip oleh Matius (22:44), Markus (12:36), dan Lukas (20:42). Dalam Bible semua bahasa, dua nama yang terdapat dalam bait pertama diterjemahkan sebagai “The Lord said unto my Lord” (Tuhan berkata kepada Tuhanku). Sudah pasti, jika Lord yang pertama adalah Tuhan, maka Lord yang kedua juga Tuhan. Tidak ada argumen yang lebih tepat dan pantas untuk seorang pendeta atau pastor Kristen daripada ini, yakni si pembicara adalah Tuhan dan yang diajak bicara juga Tuhan. Oleh karena itu, Daud mengenal dua Tuhan! Tidak ada yang masuk akal daripada jalan pikiran ini! Diantara dua domini ini, mana yang termasuk Lord nya Daud?

Seandainya Daud menulis, ”Dominus meus dixit Domino meo” , maka ia membuat dirinya menggelikan, karena dengan demikian ia mengakui dirinya sebagai budak atau hamba dari dua Lord, tanpa menyebut nama diri mereka. Pengakuan bahkan lebih jauh dari eksistensi dua Lord; itu berarti Lord kedua Daud telah berlindung kepada Lord pertamanya, yang memerintah dia untuk duduk disebelah kirinya sampai ia meletakkan musuh-musuhnya sebagai ganjal dibawah kakinya. Alasan ini membawa kita pada pengakuan bahwa untuk mengetahui dengan baik Agama Anda, Anda harus mengetahui Alkitab atau Al-Qur’an dalam bahasa aslinya ketika ia dituliskan, dan tidak tergantung dan menyandarkan pada terjemahannya.

Saya sengaja menulis kata aslinya dalam bahasa Ibrani “YaHWah dan Adon”, guna menghindari ambiguitas dan kesalahpahaman dari pengertian yang disampaikan oleh kedua kata tersebut. Nama sakral yang ditulis dalam Kitab Suci keagamaan seperti itu harus dibiarkan seperti adanya, kecuali kalau Anda dapat menemukan kata yang benar-benar sepadan untuk keduanya dalam bahasa yang menjadi terjemahannya.

Tetragram Yhwh biasa diucapkan Yehovah (Jehovah), tetapi kini diucapkan Yahwah. Kata ini adalah nama diri Tuhan Yang Mahakuasa. Kata ini adalah nama diri dari Tuhan Yang Mahakuasa, dan saking dianggap sucinya oleh kaum Yahudi sampai-sampai ketika membaca Kitab Suci mereka tidak pernah mengucapkannya, tetapi sebagai ganti membacakannya “Adoni”. Nama lain, “Elohim”, selalu diucapkan, tapi YaHWaH tidak pernah. Mengapa kaum Yahudi membuat pembedaan seperti itu diantara dua nama dari Tuhan yang sama, adalah sebuah pertanyaan yang sama sekali di luar skup pokok bahasan kita sekarang. Namun, sepintas lalu saja, bisa disebutkan bahwa YaHWaH, tidak seperti Elohim, tidak pernah digunakan dengan akhiran pronominal, dan nampaknya sebagai sebuah nama khusus dalam bahasa Ibrani untuk ketuhanan (Deity) sebagai Tuhan nasional bangsa Israel.

Sebenarnya, “Elohim” adalah nama tertua yang dikenal semua orang Semit; dan untuk memberikan sifat khusus terhadap konsepsi Tuhan sejati, tetragram ini sering dihubungkan dengan Elohim yang diterapkan kepada-Nya. Bentuk Arab, Rabb Allah, cocok dengan bentuk Ibrani, Yahwah Elohim.

Kata lain, “Adon”, berarti “Pempin, Tuan, dan Pemilik”, atau sama dengan kata benda bahasa Arab dan Turki Amir, Sayyid, dan Agha. Adon berlaku sebagai lawan kata dari “prajurit, budak, dan barang milik”. Konsekuensinya, bagian pertama dari bait itu harus diterjemahkan sebagai “Tuhan berkata kepada Tuanku.”

Daud dalam kapasitasnya sebagai seorang raja, adalah Tuan dan Pemimpin dari setiap orang Israel dan Pemilik Kerajaan. Lantas, “hamba” siapa gerangan dia?

Daud, sebagai raja yang kuat, sesungguhnya tidak mungkin menjadi budak atau hamba dari manusia hidup apa pun. Juga tidak bisa dibayangkan kalau dia memanggil Tuan (his Lord) kepada seorang nabi atau orang suci yang sudah mati seperti Ibrahim atau Yaqub, padahal istilah yang biasa dan layak bagi mereka adalah “Bapak”. Juga ada kemungkinan bahwa Daud tidak akan menggunakan sebutan “Tuanku” bagi siapa pun dari keturunannya sendiri, yang bagi mereka, pun, istilah yang biasa adalah “anak”. Tetap saja, disamping Tuhan, tidak ada wujud yang menjadi Tuannya Daud, kecuali manusia yang paling luhur dari ras manusia.

Sangat dapat dimengerti kalau mengira bahwa dalam pandangan dan pilihan Tuhan pasti ada seorang manusia yang paling mulia, paling terpuji, dan paling dirindukan diantara semua manusia. Sudah pasti para ahli ramal dan para nabi terdahulu mengetahui tokoh suci ini dan seperti Daud memanggilnya “Tuanku”.

Tentu saja, para pendeta Yahudi dan para pengulas Perjanjian Lama memahami ungkapan ini sebagai mesias yang merupakan keturunan Daud sendiri. Dan dengan demikian menjawab pertanyaan yang diberikan pada mereka oleh Yesus Kristus sebagaimana dikutip diatas dari Matius pasal 22, dan Injil Synoptic16 lainnya. Yesus dengan tegas menyangkal kaum Yahudi ketika ia menanyai mereka dengan pertanyaan kedua: “Bagaimana mungkin Daud memanggil “Tuanku” padahal ia adalah anaknya?” Pertanyaan dari Yesus ini membungkam pendengarnya, karena mereka tidak dapat menemukan jawabannya.

Para pengabar Injil dengan tiba-tiba memotong subjek diskusi yang penting ini. Menghentikan tanpa penjelasan lebih jauh adalah tidak layak bagi Yesus atau bagi para pelapornya. Karena, dengan meninggalkan pertanyaan tentang ketuahannya dan bahkan tentang ciri kenabiannya, Yesus sebagai seorang guru berkewajiban untuk memecahkan persoalan yang ditimbulkan oleh dia sendiri ketika ia melihat bahwa murid-murid dan para pendengarnya tidak sanggup mengenali siapa gerangan sang “Tuan” itu!

Lewat ungkapannya bahwa “Tuan” atau “Adon” itu tidaklah mungkin anak Daud, maka berarti Yesus mengecualikan dirinya dari gelar tersebut. Pengakuan ini sangat menentukan dan harusnya membangkitkan guru-guru agama Kristiani untuk menempatkan guru-guru agama Kristiani untuk menempatkan Kristus pada statusnya yang sebenarnya sebagai hamba Tuhan yang suci dan mulia, dan melepaskan sifat ilmiah yang luarbiasa yang dianggap berasal darinya, benar-benar karena kebencian dan ketidakrelaan Kristus sendiri [untuk dianggap seperti itu]

Saya tidak dapat membayangkan seorang guru yang ketika murid-muridnya tidak mempu menjawab pertanyaan dia, harus diam seribu bahasa, kalau bukan dia sendiri bodoh seperti mereka dan tidak sanggup memberikan solusinya. Tapi Yesus tidaklah bodoh seperti mereka dan tidak sanggup memberikan solusinya. Tapi Yesus tidaklah bodoh dan bukan pula seorang guru yang berhati dengki. Dia adalah seorang nabi dengan cinta yang membara terhadap Tuhan dan manusia. Dia tidak meninggalkan masalah tanpa terpecahkan atau pertanyaan tanpa jawaban.

Kitab-kitab Injil Gereja tidak melaporkan jawaban Yesus terhadap pertanyaan “Siapakah Tuhannya Daud?” Namun Kitab Injil Barnabas memberikannya. Kitab Injil ini telah ditolak oleh gereja-gereja karena bahasanya lebih sesuai dengan kitab-kitab suci yang diwahyukan, dan karena ia sangat eksplisit tentang sifat misi Kristus, dan yang terpenting adalah karena Injil Barnabas mencatat kata-kata Yesus yang sebenarnya mengenai Muhammad. Kitab Injil selain Barnabas dapat dengan mudah diperoleh.

Dalam Injil Barnabas Anda akan menemukan jawaban Yesus sendiri, yang menyatakan bahwa Perjanjian antara Tuhan dan Ibrahim dibuat untuk Ismail, dan bahwa “yang paling mulia dan terpuji” di antara manusia adalah seorang keturunan Ismail dan bukan keturunan Ishaq melalui Daud.

Yesus berulangkali dilaporkan telah berbicara tentang Muhammad yang roh dan jiwanya telah ia lihat di surga.

Insya Allah, saya akan menyempatkan untuk menulis tentang Kitab Injil ini nanti.

Tidak ada keraguan bahwa penglihatan nubuat Daniel yang melihat “Barnasha” yang agung, yakni Muhammad, melalui pandangan supranatural yang luar biasa, adalah sama dengan penglihatan nubuatnya Daud. Manusia yang paling mulia dan terpuji inilah yang dilihat oleh Ayub (19:25) sebagai “juru selamat” dari kekuasaan Iblis.

Lantas apakah Muhammad adalah yang dipanggil Daud dengan seruan “Tuanku” atau “Adonku”? Mari kita lihat.

Argumen-argumen yang mendukung Muhammad yang disebut “Sayyidul Mursalin” , sama artinya dengan “Adon para nabi”, sangat meyakinkan: Argumen-argumen tersebut begiitu jelas dan tegas dalam kata-kata Perjanjian Lama sehingga kita merasa heran dengan kebodohan dan sifat keras kepala orang-orang yang tidak mau mengerti dan mentaati.

Nabi dan Adon terbesar, dalam pandangan Tuhan dan manusia bukanlah penakluk dan perusak manusia yang hebat, bukan juga seorang pertapa suci yang menghabiskan hidupnya didalam gua atau sel untuk bersemedi pada Tuhan hanya demi menyelamatkan dirinya sendiri, melainkan orang yang memberikan lebih banyak kebaikan dan pelayanan kepada umat manusia dengan membawa mereka kepada cahaya pengetahuian tentang Tuhan sejati Yang Esa, dan sama sekali menghancurkan kuasa iblis dan berhala-berhalanya yang buruk sekali dan istitusi-institusinya yang jahat.

Muhammad lah yang membuat memar sang kepala ular17 dan itulah sebabnya mengapa al-Qur’an dengan tepat menyebut Devil sebagai “Iblis”, yakni “yang dilukai sampai memar”! Ia membersihkan Bait Ka’bah dari semua berhala Arabia dan memberikan cahaya, agama, kegembiraan, dan kekuatan kepada kaum musyrikin Arab yang bodoh, yang dalam waktu singkat menyebarkan cahaya itu keempat penjuru bumi.

Dalam kebaktian kepada Tuhan, karya dan keberhasilan Muhammad tidak dapat disamai dan tidak tertandingi.

Para Nabi, dan Orang Suci, dan Syuhada membentuk tentara Tuhan melawan Kuasa Iblis, dan Muhammad sendiri sudah pasti jadi panglima tertinggi mereka semua. Sebenarnya, ia sendiri bukan hanya Adon dan Tuannya Daud, tetapi juga Adon nya semua Nabi, karena ia telah membersihkan Palestina dan semua negeri yang dikunjungi oleh Ibrahim dari kemusyrikan dan penindasan asing.

Karena Yesus Kristus mengakui bahwa dirinya bukanlah Tuan nya Daud, juga bahwa Mesias bukan keturunan Daud, maka tetap tidak ada diantara para nabi, selain Muhammad yang menjadi Adon atau Tuan-nya Daud. Dan ketika sampai pada membandingkan revolusi keagamaan yang patut dipuji yang dibawakan oleh anak Ismail yang Mulia kedunia ini, dengan yang telah dicapai bersama oleh seluruh ribuan nabi, maka kita mesti sampai pada kesimpulan bahwa hanya Muhammad saja yang patut mendapat gelar kehormatan Adon.

Bagaimana Daud tahu bahwa “Yahwah berkata kepada Adonku. Duduklah disebelah kananku sampai aku tempatkan musuh-musuhmu sebagai ganjal dibawah kakimu”? dan kapan Daud mendengar ucapan Tuhan ini? Kristus sendiri memberikan jawabannya yakni “Roh Daud menuliskan ini”. Ia melihat sang Adon Muhammad persis seperti Daniel melihat dia (Daniel pasal 7), dan Paulus telah melihat dia (2 Korintus 12), dan banyak lainnya yang telah melihat dia.

Tentu saja misteri “Duduklah disebelah kananku” ini disembuyikan dari kita. Namun kita bisa menerka dengan aman bahwa pentasbihan resmi dengan kehormatan untuk menundukkan diri disebelah kanan singgasana Tuhan ini, dan karenanya naik ke martabat “Adon”, tidak hanya dari para nabi, tapi juga dari seluruh makhluk, berlangsung pada peristiwa malam Mi’raj menuju Surga yang terkenal itu.

Satu-satu keberatan utama pada misi ilahiah Muhamamd dan superioritasnya adalah pengutukannya terhadap doktrin Trinitas. Tetapi Perjanjian Lama mengetahui tidak ada Tuhan disamping Allah. Dan Tuan-nya Daud tidak duduk di sebelah kanan dari tuhan yang tigam tapi disebalah kanan Allah Yang Esa. Karena itu, di antara para nabi yang beriman kepada Allah, tidak seorang pun yang begitu hebat dan memberikan pelayanan yang demikian menakjubkan kepada Allah dan umat manusia, seperti Muhammad, baginya salawat dan salam.

——————————————————————————–

Footnotes

16. Tentang atau menunjuk kepada tiga kitab Injil pertama dari Perjanjian Baru, yang berkaitan kerat –penerj
17. Lihat Islamic Review, October 1926, artikel saya “Mengapa Al-Qur’an menyebut Devil “Iblis”.

Sumber:
Benjamin Keldani, Menguak Misteri Muhammad, hal.103-114

159. syekh yusuf - 24 Oktober, 2008

Menguak Misteri Muhammad
Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

Raja Daud Menyapanya, Tuanku
Sejarah Daud, perbuatannya yang luar biasa, dan tulisan-tulisan kenabiannya, terdapat dalam dua kitab Perjanjian lama yakni Samuel dan Mazmur. Ia adalah anak bontot Yishai (Yessie) dari suku Yudas. Ketika masih seorang gembala muda, ia sudah mampu membunuh seekor beruang dan mencabik-cabik dua ekor singa. Anak muda yang gagah berani itu mengayunkan sebuah batu kecil persis ke dahi Goliat, seorang jawara Filistin yang bersenjata dan menyelamatkan tentara Israel. Hadiah tertinggi untuk prestasi yang terbaik dalam menunjukkan keberanian adalah Michal, anak perempuan Raja Saul.

Daud pandai bermain harpa dan seruling, dan ia adalah penyanyi yang bagus. Pelarian dia dari bapak mertuanya yang iri hati, petualangan dan perbuatan-perbuatan luarbiasa nya sebagai seorang bandit sudah banyak diketahui. Saat kematian Saul, maka Daud diundang oleh masyarakat untuk menerima mahkota kerajaan, untuk mana sudah lama sebelumnya ia diberi upacara perminyakan suci oleh nabi Samuel. Ia memerintah selama sekitar tujuh tahun di Hebron. Ia mengambil Yerusalem dari kaum Yebusit dan menjadikannya ibukota kerajaan.

Dua bukit atau gunung, di Yerusalem diberi nama “Moriah” dan “Sion”. Kedua kata ini memiliki pengertian dan makna yang sama sebagai “Marwah” dan “Shafa” yang terkenal di Mekah, yang berturut-turut artinya adalah “tempat bayangan Tuhan” dan “cadas” atau “batu”.

Berbagai perang yang dilakukan Daud, kesulitan-kesulitan keluarganya yang sangat berat, dosanya terhadap tentara yang beriman, Uria dan istrinya, Batsyeba, tidak dibiarkan tanpa mendapat hukuman. Ia berkuasa selama empat puluh tahun. Kehidupannya diwarnai dengan peperangan dan kesedihan keluarga. Ada beberapa cerita kontradiktif mengenai dia yang jelas-jelas berasal dari dua sumber yang berlawanan.

Kejahatan Daud dalam kaitannya dengan Uria dan istrinya (2 Samuel 11) bahkan tidak disinggung dalam Al-Qur’an Surah 38. Itulah keunggulan al-Qur’an yang mengajarkan kepada kita bahwa semua nabi terlahir tanpa dosa dan mati juga tanpa dosa. Tidak seperti Alkitab (Injil), Al-Qur’an tidak mempertalikan mereka dengan kejahatan-kejahatan dan dosa-dosa –misalnya kejahatan ganda Daud yang disebutkan dalam Alkitab, yang, menurut Hukum Musa, harus di hukum mati –yang, apa lagi seorang nabi yang merupakan hamba pilihan Tuhan Yang Mahakuasa, melekatkan pada nama seorang mansuia biasa pun tidak terpikirkan oleh kita.

Kisah tentang Daud melakukan perzinaan sehingga dua malaikat datang kepadanya dan mengingatkan dia akan dosa adalah dusta yang tolol dan kekanak-kanakan–dimana pun kisah itu adanya. Hal ini sudah disangkal melalui pemikiran yang terbaik dari kaum Muslim. Razi berkata: “Sebagian besar kaum terpelajar, dan yang mencari kebenaran di antara mereka menyatakan tuduhan ini palsu dan mengutuknya sebagai sebuah kisah dusta dan jahat.

Kata-kata istighfara dan ghafarana yang terdapat dalam Al-Qur’an 38:23, sama sekali tidak mengindikasikan Daud telah melakukan suatu dosa, karena istighfar sebenarnya berarti meminta perlindungan, dan Daud meminta perlindungan Tuhan ketika ia melihat bahwa musuh-musuhnya semakin bertambah berani melawannya. Dan dengan ghafarana berarti pembetulan urusan-urusannya, karena Daud sebagai penguasa hebat, tidak bisa berhasil menguasai secara penuh musuh-musuhnya.

Perjanjian Lama tidak menyebutkan waktu kapan karunia kenabian diberikan kepada Daud. Kita membaca bahwa setelah Daud melakukan dua dosa, maka Tuhan mengutus nabi Natan untuk menghukum Daud. Sesungguhnya hingga akhir hidupnya, kita menemukan dia selalu mendapat pertolongan dari nabi-nabi lain. Oleh karena itu, menurut cerita-cerita versi alkitab, nampaklah bahwa karunia nubuat datang padanya setelah ia benar-benar bertobat dari dosa-dosanya.

Dalam salah satu artikel saya sebelumnya, saya mengatakan bahwa setelah terpecahnya Kerajaan menjadi dua bagian yang merdeka dan saling berperang satu sama lain, sepuluh suku yang membentuk kerajaan Israel selalu memusuhi Dinasti Daud dan tidak pernah mengakui bagian manapun dari Perjanjian Lama selain Taurat atau Hukum Musa seperti terdapat dalam Pentateuch. Hal ini jelas menurut versi Samaritan dari lima kitab pertama Perjanjian Lama.

Kita tidak menemukan satupun kata atau nubuat tentang keturunan Daud dalam wacana-wacana tentang para nabi besar, seperti Elia, Elisa, dan lain-lainnya yang tumbuh subur di Samaria selama pemerintahan raja-raja Israel yang kejam. Hanya setelah runtuhnya kerajaan Israel dan pindahnya sepuluh suku ke Assyria barulah pada nabi Yudea mulai meramalkan lahirnya seorang Pangeran dari Rumah Daud yang segera memulihkan seluruh bangsa dan menaklukkan musuh-musuhnya.

Ada beberapa dari ucapan-ucapan yang bermakna ganda ini dalam tulisan-tulisan atau pidato-pidato beberapa nabi terakhir yang memberikan kegembiraan yang luar biasa dan menakjubkan kepada Bapa-bapa Gereja, tetapi dalam kenyataannya, ucapan-ucapan itu tidak ada hubungannya denga Yesus Kristus.

Saya akan mengutip secara ringkas dua diantara nubuat ini. Pertama dalam Yesaya (pasal 7 ayat 14), dimana nabi itu meramalkan bahwa “seorang hadis yang sudah mengandung akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamainya Imanuel”. Kata Ibrani a’lmah bukan berarti “perawan”, seperti umumnya diartikan oleh para theolog Kristen dan karena itu diterapkan kepada perawan Maria, tetapi berarti “seorang perempuan yang sudah boleh kawin (dewasa), gadis, dara.” Kata Ibrani untuk perawan adalah bthulah. Maka nama anaknya harus Imanuel, yang berarti “Tuhan-bersama-kita.” Terdapat ratusan nama dalam bahasa Ibrani yang terdiri dari “el” dan kata benda lainnya, yang membentuk suku-suku pertama atau, kalau tidak, suku kata terakhir dari kata benda majemuk seperti itu.

Baik Yesaya ataupun Raja Ahaz, atau setiap orang Yahudi tidak pernah berpikir bahwa bayi yang baru lahir itu adalah “Tuhan-bersama-kita”. Mereka tidak pernah memikirkan hal lain selain bahwa nama dia hanya akan seperti ini. Tetapi teks dengan jelas menyatakan bahwa Ahazlah (yang kelihatannya sudah mengenal sang gadis yang mempunyai anak) yang akan memberikan nama itu kepada sang anak. Ahaz dalam keadaan bahaya, musuh-musuhnya sedang merangsek ke Yerusalem, dan janji ini diberikan kepadanya dengan menunjuki dia suatu tanda , yakni, gadis yang hamil, dan bukan seorang perawan Maria yang akan datang kedunia lebih dari tujuh ratus tahun kemudian!

Ramalan sederhana tentang seorang anak yang akan dilahirkan pada masa pemerintahan Ahaz ini disalahpahami juga oleh penulis Injil Matius (Matius 1:23). Nama “Yesus” diberikan oleh malaikat Jibril (Matius 1:21), dan ia belum pernah dipanggil “Imanuel”. Bukankah keji mengambil nama ini sebagai argumen dan bukti doktrin “inkarnasi” Kristen?

Penafsiran aneh lainnya terhadap ramalan kenabian adalah dari Zakaria (9:9), yang salah kutip dan sama sekali disalahpahami oleh penulis Injil Matiuis (21:5). Nabi Zakaria berkata: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan membawa keselamatan. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda, anak dari keledai betina.” Dalam bagian yang puitis ini sang penyair benar-benar ingin menggambarkan si keledai jantan –dimana sang Raja duduk- dengan mengatakan bahwa ia adalah seekor keledai muda; dan anak keledai ini pun, digambarkan sebagai anak seekor keledai betina. Ia hanyalah seekor anak keledai jantan atau keledai muda. Nah! Matius mengutip bagian ini seperti berikut:

“Katakanlah kepada puteri Sion,
Lihat, Rajamu datang kepadamu,
Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai,
seekor keledai beban yang muda, anak dari seekor keledai betina.”

Baik orang yang menulis ayat diatas benar-benar percaya ataupun tidak bahwa Yesus, ketika masuk ke Yerusalem dengan membawa kemenangannya sambil mengendarai atau duduk diatas keledai induk dan anaknya pada waktu yang sama, melakukan keajaiban bukanlah persoalan; meski demikian, adalah melakukan keajaiban bukanlah persoalan; meski demikian, adalah benar mengatakan bahwa mayoritas Bapa Kristen begitu mempercayai; dan tidak pernah terbetik pada mereka bahwa pertunjukan seperti itu akan terlihat lebih seperti sebuah komedi ketimbang sebuah prosesi kerajaan yang megah. Namun, Lukas bersikap waspada, dan tidak jatuh ke dalam kesalahan Matius. Apakah dua pengarang ini diilahami oleh Roh yang sama?

Zakaria meramalkan di Yerusalem, setelah kepulangan Yesus dari penahanan akan kedatangan seorang raja. Meskipun lembut dan rendah hati, mengendarai seekor anak keledai, tetap saja ia datang membawa keselamatan dan akan membangun kembali rumah Tuhan. Ia meramalkan hal ini pada saat kaum Yahudi sedang berusaha keras membangun kembali Bait Allah dan kota yang hancur; masyarakat sekelilingnya menentang mereka; pekerjaan pembangunan dihentikan sampai Darius, raja Persia , mengeluarkan perintah pembangunan.

Meskipun tidak ada raja Yahudi pernah muncul sejak abad ke enam Sebelum Masehi, namun, mereka sudah memiliki pemerintahan-pemerintahan otonom dibawah penguasa asing. Keselamatan yang dijanjikan disini, perlu dicatat, adalah bersifat material dan segera, dan bukan keselamatan yang akan datang 520 tahun kemudian, ketika Yesus dari Nazaret menunggangi dua ekor keledai sekaligus dan memasuki Yerusalem, yang sudah merupakan sebuah kota besar dan kaya serta memiliki bait yang megah, semata-mata untuk ditangkap dan disalib oleh kaum Yahudi sendiri dan oleh jawara-jawara Romawi, sebagaimana diceritakan Kitab-kitab Injil yang ada sekarang! Ini sama sekali bukan penghiburan bagi kaum Yahudi malang yang dikelilingi oleh musuh-musuh dalam sebuah kota yang hancur. Konsekuensinya, dengan kata “raja” dapat kita pahami, sebagai salah seorang pemimpin utama mereka –Zerobabel, Ezra, atau Nehemia.

Dua contoh ini dimaksudkan untuk menunjukkan terutama kepada para pembaca muslim –yang mungkin kurang familiar dengan kitab-kitab suci kaum Yahudi- betapa umat Kristiani telah disesatkan oleh pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka, ketika menyampaikan penafsiran-penafsiran dan makna-makna bodoh terhadap nubuat-nubuat yang terkandung didalamnya.

Sekarang saya membahas nubuat Daud:

“YaHWaH berkata kepada Adonku,
Duduklah disebelah kananku sampai aku tempatkan
Musuh-musuhmu sebagai ganjal dibawah kakimu.

Ayat Daud ini ditulis dalam kitab Mazmur 111, dan dikutip oleh Matius (22:44), Markus (12:36), dan Lukas (20:42). Dalam Bible semua bahasa, dua nama yang terdapat dalam bait pertama diterjemahkan sebagai “The Lord said unto my Lord” (Tuhan berkata kepada Tuhanku). Sudah pasti, jika Lord yang pertama adalah Tuhan, maka Lord yang kedua juga Tuhan. Tidak ada argumen yang lebih tepat dan pantas untuk seorang pendeta atau pastor Kristen daripada ini, yakni si pembicara adalah Tuhan dan yang diajak bicara juga Tuhan. Oleh karena itu, Daud mengenal dua Tuhan! Tidak ada yang masuk akal daripada jalan pikiran ini! Diantara dua domini ini, mana yang termasuk Lord nya Daud?

Seandainya Daud menulis, ”Dominus meus dixit Domino meo” , maka ia membuat dirinya menggelikan, karena dengan demikian ia mengakui dirinya sebagai budak atau hamba dari dua Lord, tanpa menyebut nama diri mereka. Pengakuan bahkan lebih jauh dari eksistensi dua Lord; itu berarti Lord kedua Daud telah berlindung kepada Lord pertamanya, yang memerintah dia untuk duduk disebelah kirinya sampai ia meletakkan musuh-musuhnya sebagai ganjal dibawah kakinya. Alasan ini membawa kita pada pengakuan bahwa untuk mengetahui dengan baik Agama Anda, Anda harus mengetahui Alkitab atau Al-Qur’an dalam bahasa aslinya ketika ia dituliskan, dan tidak tergantung dan menyandarkan pada terjemahannya.

Saya sengaja menulis kata aslinya dalam bahasa Ibrani “YaHWah dan Adon”, guna menghindari ambiguitas dan kesalahpahaman dari pengertian yang disampaikan oleh kedua kata tersebut. Nama sakral yang ditulis dalam Kitab Suci keagamaan seperti itu harus dibiarkan seperti adanya, kecuali kalau Anda dapat menemukan kata yang benar-benar sepadan untuk keduanya dalam bahasa yang menjadi terjemahannya.

Tetragram Yhwh biasa diucapkan Yehovah (Jehovah), tetapi kini diucapkan Yahwah. Kata ini adalah nama diri Tuhan Yang Mahakuasa. Kata ini adalah nama diri dari Tuhan Yang Mahakuasa, dan saking dianggap sucinya oleh kaum Yahudi sampai-sampai ketika membaca Kitab Suci mereka tidak pernah mengucapkannya, tetapi sebagai ganti membacakannya “Adoni”. Nama lain, “Elohim”, selalu diucapkan, tapi YaHWaH tidak pernah. Mengapa kaum Yahudi membuat pembedaan seperti itu diantara dua nama dari Tuhan yang sama, adalah sebuah pertanyaan yang sama sekali di luar skup pokok bahasan kita sekarang. Namun, sepintas lalu saja, bisa disebutkan bahwa YaHWaH, tidak seperti Elohim, tidak pernah digunakan dengan akhiran pronominal, dan nampaknya sebagai sebuah nama khusus dalam bahasa Ibrani untuk ketuhanan (Deity) sebagai Tuhan nasional bangsa Israel.

Sebenarnya, “Elohim” adalah nama tertua yang dikenal semua orang Semit; dan untuk memberikan sifat khusus terhadap konsepsi Tuhan sejati, tetragram ini sering dihubungkan dengan Elohim yang diterapkan kepada-Nya. Bentuk Arab, Rabb Allah, cocok dengan bentuk Ibrani, Yahwah Elohim.

Kata lain, “Adon”, berarti “Pempin, Tuan, dan Pemilik”, atau sama dengan kata benda bahasa Arab dan Turki Amir, Sayyid, dan Agha. Adon berlaku sebagai lawan kata dari “prajurit, budak, dan barang milik”. Konsekuensinya, bagian pertama dari bait itu harus diterjemahkan sebagai “Tuhan berkata kepada Tuanku.”

Daud dalam kapasitasnya sebagai seorang raja, adalah Tuan dan Pemimpin dari setiap orang Israel dan Pemilik Kerajaan. Lantas, “hamba” siapa gerangan dia?

Daud, sebagai raja yang kuat, sesungguhnya tidak mungkin menjadi budak atau hamba dari manusia hidup apa pun. Juga tidak bisa dibayangkan kalau dia memanggil Tuan (his Lord) kepada seorang nabi atau orang suci yang sudah mati seperti Ibrahim atau Yaqub, padahal istilah yang biasa dan layak bagi mereka adalah “Bapak”. Juga ada kemungkinan bahwa Daud tidak akan menggunak