Islam vs Kristen; Pemenangnya Atheis!

Jika Anda lebih mencintai agama Anda daripada Tuhan, tolong tidak usah repot-repot membaca.

Dari dulu aku sering berpikir, Tuhan gokil sekali terhadap dua agama ini. Kasihan, kadang-kadang. Keduanya agama yang paling banyak mendapat janji-janji eksklusif dari Tuhan, dan yang lebih kacaunya, juga mendapat perintah untuk menyebar ke segala sudut bumi, dibebani missi untuk merekrut sebanyak mungkin pengikut.

Tuhan seolah seperti ketua partai yang kekurangan konstituen menjelang pemilu. Tuhan seperti zat yang lemah lunglai, sehingga perlu pertolongan dan bantuan manusia untuk sekadar merekrut pengikut. Tuhan seperti gentar, gemetaran dipelototi Iblis dari kejauhan.

Sungguhkah Tuhan pernah “minta tolong” seperti itu? Atau Tuhan sungguhankah yang minta tolong itu, yang memotivasi kedua agama itu untuk berebut pengikut, yang kemudian menjerumuskan mereka ke perang-perang “suci” hingga hari ini? Kalau sungguh, tanpa mengurangi rasa hormat, dengan sangat menyesal, Itu bukan tuhan saya.

Saya tak sudi bertuhankan Sesuatu yang bicara begini kepada agama ini, dan bicara begitu kepada agama itu. Saya bodoh, tapi tidak begitu bodohnya untuk beriman kepada Sesuatu yang lemah, yang perlu pertolongan manusia untuk menegakkan kebenaran, untuk menghadapi iblis secara keroyokan.

*****

Bila Anda orang yang doyan keluyuran dari satu chat room ke chat room yang lain, pasti pernah menemukan perdebatan panas sekaligus menjijikkan, antara orang-orang yang menganggap agamanya paling benar.

Tidak sekadar mempertahankan kebenaran agamanya, mereka juga menyerang secara brutal agama lain. Hasilnya, kedua agama itu terlihat sama-sama konyol, sama-sama tak logis. Dan itu tadi, yang akhirnya mendapat trofi kemenangan adalah saudara-saudara kita yang atheis, sebab akhirnya kedua orang bertengkar itu membuka sendiri borok dan kelemahan masing-masing. Mengenaskan kan?

Memang harus saya katakan, saya memilih tetap dalam agama saya sekarang bukan karena saya anggap agama itu paling bagus. Saya tak berpindah ke agama lain karena saya tahu dalam agama saya ada kebaikan seperti dalam agama lain, dan dalam agama lain ada keburukan yang ada dalam agama saya. Sejarah agama-agama senantiasa terdiri atas bab-bab yang paling represif dan buas, tapi juga pasase yang paling mulia dan memberikan harapan.

Agama menyumbangkan kepada kehidupan manusia secercah kesadaran, betapapun mustahilnya keadilan akan datang, nilai itu—dan segala sifat Allah—tetap memberi inspirasi. Agaknya itulah yang berada dalam inti iman.

GM dalam Catatan Pinggir; Murtad.

Andai kearifan GM ini dimiliki orang-orang fanatik yang berdebat di chat room itu, juga di semua tempat lain, kedua agama ini bisa dicegah dari kepunahan dini, bisa diperlambat abrasi keagungannya, meski pada suatu saat sepertinya pasti akan punah juga. :(

Romo Mangunwidjaja pernah bilang, “Masalahnya bukan apa agamamu, tetapi seberapa beragamanya kamu.”

Meski fanatisme rasanya ada di semua agama, tetapi pada kedua agama ini kecenderungan itu sudah keterlaluan. Mereka mungkin lupa silsilah, sama-sama anak kandung Ibrahim, dari ibu yang berbeda.

Makanya jangan poligami!

Bonus pantun: (baru saja diciptakan, fresh from my mind).

Bila jalan di semak belukar/hati-hati digigit ular/Bila Islam dan Kristen bertengkar/yang menang orang yang ingkar

Kalau sampai tergigit ular/rasa sakitnya seperti terbakar/Kalau menang orang yang ingkar/semua agama segera bubar

Setelah sakit seperti terbakar/badan menggigil sampai tak sadar/Kalau semua agama sudah bubar/dunia pun jadi kampung bar-bar

Usai menggigil sampai tak sadar/tak lama kau pun jatuh terkapar/Jika dunia jadi kampung bar-bar/Waduh, udah dulu ya, buru-buru mau ke pasar…

Soalnya badan biniku kurang segar, tapi bukan karena ular menyusup ke semak belukar, di rumah peran kami emg sering bertukar, biar suasana ngga monoton dan hambar, cinta pun mekar, badan jadi melar, biarpun penghasilan masih standar, HP belum sempat ditukar ke model anyar, cicilan motor belum dibayar, TUH KAN KEBANYAKAN NGETIK PASARNYA KEBURU TERBAKAR.

Wah, gue curiga nih, jangan-jangan itu tindakan makar, atau paling tidak, biar klaim asuransinya dibayar, atau ulah para makelar, karena ada toke yang mau bangun mall dan gedung-gedung ke langit mencakar. (Wah, yang ini maksa!)

Masa bodo ah. Oiya, kuakhiri posting sensitif ini, dengan kepada-Mu aku istighfar….

About these ads

1.341 thoughts on “Islam vs Kristen; Pemenangnya Atheis!

  1. maya

    wah bang, slese baca aku langsung tepar …maksa bgt yah?:d

    btw, setuju bgt sama isi postingannya. andaikan semua orang berpikir seperti ini..damainya dunia hehehehe

    Balas
    1. Me

      JIL Sebuah Doktrin Yang Telah Usang
      -Pendahuluan-
      Ustadz Muhammad Arifin Badri
      إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلاَّ الله وحده لا شريك له وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله. فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.
      Segala puji hanya milik Allah, yang telah melimpahkan kepada kita umat Islam berbagai kemurahan dan kenikmatan-Nya. Maha Suci Allah yang telah menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian bagi umat manusia, siapakah dari mereka yang baik amalannya.

      الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملا وهو العزيز الحكيم
      “Yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalannya. Dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)
      Dan Maha Suci Allah yang telah menjadikan sebagian manusia sebagai cobaan dan ujian bagi sebagian lainnya, guna menguji dan membuktikan kepada manusia siapakah diri mereka sebenarnya:

      وجعلنا بعضكم لبعض فتنة أتصبرون وكان ربك بصيرا
      “Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?, dan adalah Tuhan-mu Maha Melihat.” (QS. Al Furqan: 20)
      Pertarungan antara kebenaran beserta pemeluknya melawan kebatilan beserta seluruh antek-anteknya telah dimulai semenjak manusia pertama yaitu Nabi Adam ‘Alaihissallam dan istrinya Hawa melawan nenek moyang pemuja kebatilan, yaitu Iblis la’natullah ‘alaihi.

      يا بني آدم لا يفتننكم الشيطان كما أخرج أبويكم من الجنة ينـزع عنهما لباسهما ليريهما سوءاتهما إنه يراكم هو وقبيله من حيث لا ترونهم إنا جعلنا الشياطين أولياء للذين لا يؤمنون
      “Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat tertipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-peminpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al A’araf: 27)
      Pertarungan antara kebenaran melawan kebatilan, antara orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir melawan para pengikut iblis dan antek-anteknya tidak mengenal batas waktu dan tempat, sehingga negri kita Indonesia tidak luput darinya. Sejarah perjalanan dan perjuangan kaum muslimin di Indonesia sejak dahulu kala hingga saat ini senantiasa diwarnai dengan adanya pertarungan-pertarungan semacam ini. Dahulu kaum muslimin bangsa Indonesia berperang melalui antek-antek para penjajah yang menjajakan agama mereka, dan setelah bangsa kita merdeka iblispun tidak putus asa untuk melancarkan permusuhannya. Melalui berbagai perangkapnya ia memperdaya para pemujanya untuk memusuhi kebenaran dan pengikutnya.
      Diantara makar yang sedang marak -walau sudah usang- ialah apa yang disebut dengan ajaran JIL (Jaringan Islam Liberal), dengan koordinatornya yang bernama Ulil Abshar Abdallah (selanjutnya disingkat: UAA). UAA mempropagandakan makar usang ini dengan mengesankan sebagai upaya “menyegarkan kembali pemahaman Islam.”1
      Ini adalah salah satu upaya yang ia tempuh guna mengelabuhi sebagian kaum muslimin yang lugu, dan kurang mengenal akan prinsip dan syariat agamanya sendiri, yaitu agama Islam.
      Dan untuk sedikit membuktikan bahwa misi yang sedang ia pikul dengan segala pengorbanannya adalah misi yang telah usang, akan saya sebutkan beberapa buktinya:

      1 Silahkan baca artikel yang ia tulis dengan judul ini, yang di muat di harian Kompas tgl 18 Novemper 2002, dan kemudian ia bukukan dalam buku yang diberi judul: Islam Liberal & Fundamental, sebuah pertarungan wacana, diterbitkan oleh Penerbit eLSAQ PRESS, Sleman Jogjakarta, dan yang menjadi sumber tanggapan ini adalah cetakan ke-V, April 2005 M

      Balas
      1. Me

        JIL Sebuah Doktrin Yang Telah Usang
        -Bukti Pertama: Kufur Terhadap Janji Allah dan Rasul-Nya-
        Ustadz Muhammad Arifin Badri
        Saya mengajak para pembaca untuk membandingkan antara ucapannya berikut ini:
        “Pandangan bahwa syari’at adalah suatu “paket lengkap” yang sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah salah satu bentuk kemalasan berpikir atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah, sebentuk eskapisme, inilah yang menjadi sumber kemunduran umat Islam di mana-mana.” (Islam Liberal & Fundamental hal. 13).
        Bandingkan ucapannya ini dengan ucapan Abu Jahal dan kawan-kawannya ketika dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjadi pemimpin bangsa Arab dan juga selainnya (bangsa ‘ajam/non Arab) bila mereka mengikrarkan ucapan syahadat (La ilaha illallah), ucapan mereka itu telah diabadikan dalam ayat-ayat berikut ini,

        أجعل الآلهة إلها واحدا إن هذا لشيء عجاب وانطلق الملأ منهم أن امشوا واصبروا على آلهتكم إن هذا لشيء يراد ما سمعنا بهذا في الملة الآخرة إن هذا إلا اختلاق
        “Apakah ia hendak menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): Pergilah kamu, dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki.2 Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir (yaitu agama nasrani), ini (mengesakan Allah) tidak lain hanyalah (kedustaan) yang diada-adakan.” (QS. Shad: 5-7) 3
        Bila Abu Jahal menganggap seruan tauhid, beribadah hanya kepada Allah Ta’ala adalah suatu hal yang mengherankan, maka UAA menganggapnya sebagai sikap tidak mampu memahami sunnah Tuhan, atau bahkan sebagai sikap malas berpikir atau sebagai pelarian dari masalah, atau sebagai wujud ketidak berdayaan umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka, dan menyelesaikannya dengan cara rasional. (Islam Liberal & Fundamental hal. 12).
        Dengan demikian JIL benar-benar bodoh dan bahkan menentang kandungan syahadat (la ilaha illallahu) yang merupakan inti ajaran dan misi utama dakwah setiap nabi dan rasul, yaitu hanya beribadah kepada Allah dan berlepas diri dari segala peribadatan kepada selain-Nya:

        ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت فمنهم من هدى الله ومنهم من حقت عليه الضلالة فسيروا في الأرض فانظروا كيف كان عاقبة المكذبين
        “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut (setiap sesembahan selain Allah) itu, maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An Nahel: 36)

        قد كانت لكم أسوة حسنة في إبراهيم والذين معه إذ قالوا لقومهم إنا براءاء منكم ومما تعبدون من دون الله كفرنا بكم وبدا بيننا وبينكم العداوة والبغضاء أبدا حتى تؤمنوا بالله وحده
        “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kamu beriman kepada Allah saja.’” (QS. Al Mumtahanah: 4)
        Kandungan syahadat la Ilaha illallah, yang yang merupakan misi utama dakwah para rasul sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupakan misi dahwah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagai rasul terakhir. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits, diantaranya dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

        عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: (أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا: لا إله إلا الله، فمن قال: لا إله إلا الله عصم منى ماله ونفسه إلا بحقه وحسابه على الله ) متفق عليه
        “Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah rodiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia hingga mereka mengikrarkan la ilaha illallahu, maka barang siapa yang telah mengikrarkan: la ilaha illallah, berarti ia telah terlindung dariku harta dan jiwanya, kecuali dengan hak-haknya (hak-hak yang berkenaan dengan harta dan jiwa), sedangkan pertanggung jawaban atas amalannya terserah kepada Allah.’” (Muttafaqun ‘Alaih)
        Inilah prinsip utama agama Islam, yaitu beriman dan beribadah hanya kepada Allah dan menentang setiap peribadatan kepada selain-Nya. Sehingga setiap muslim yang benar-benar beriman, pasti meyakini bahwa penyembahan kepada malaikat, nabi, binatang, benda, patung atau syetan dll adalah bentuk-bentuk kemusyrikan yang harus diingkari dan diperangi, karena itu semua bertentangan dengan keimanan dan merupakan kekufuran. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits, diantaranya, firman Allah Ta’ala berikut ini:

        لقد كفر الذين قالوا إن الله هو المسيح ابن مريم وقال المسيح يا بني إسرائيل اعبدوا الله ربي وربكم إنه من يشرك بالله فقد حرم عليه الجنة ومأواه النار وما للظالمين من أنصار
        “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putra Maryam’, padahal Al Masih (sendiri) berkata: ‘Hai, Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu’, sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan atasnya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolong.” (QS. Al Maidah: 72)
        Dan bila kita pikirkan lebih jauh, sebenarnya doktrin agama Abu Jahal ini, yaitu persatuan agama dan pengakuan bahwa tuhan itu banyak dan tidak esa, adalah misi utama bagi seluruh upaya dan daya yang ia kerahkan selama ini.

        2 Maksud mereka dari perkataan: “hal yang dikehendaki”, ialah mereka menuduh Nabi Muhammad bahwa ia menyeru kepada ajaran tauhid, yaitu beribadah hanya kepada Allah, dan meninggalkan segala peribadatan kepada selain-Nya guna mencari kedudukan sosial, dan hanya sekedar mencari pengikut. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Jarir At Thabari dalam kitab Tafsirnya 10/551, dan dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya 4/27.
        3 Diriwayatkan bahwa sebab turunnya ayat-ayat ini adalah ketika Abu Thalib paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit, maka datanglah Abu Jahal dengan beberapa pemuka Quraisy lainnya menemui Abu Thalib, guna memohon darinya agar ia sudi membujuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak lagi mencela dan menjelek-jelekkan tuhan-tuhan yang mereka sembah. Akan tetapi usaha mereka ini tidak membuahkan hasil apapun, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bersikukuh dengan risalahnya yaitu ajaran tauhid, beribadah hanya kepada Allah dan memerangi segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya. Melihat sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian ini, Abu Jahal menyelonong pergi sambil mengucapkan seperti yang dikisahkan oleh Al Qur’an di atas. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, At Tirmizy, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra, Al Baihaqi, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban.

        Kategori: Penyimpangan & Bantahan Sumber: http://dear.to/abusalma Keterangan: Disebarkan di Maktabah Abu Salma al-Atsari atas izin muslim.or.id. Hak cipta berada di tangan penulis dan webmaster muslim.or.id. Risalah ini dapat disebarluaskan dan diprint/dicetak selama tidak untuk komersial dan hanya dibagikan gratis. Artikel ini didownload dari Markaz Download Abu Salma.

  2. whitegun

    Banyak orang mengatakan semua agama itu benar, lalu mengapa pula kita bertengkar. Pertengkaran hanya akan membuat kita terkapar, sementara yang menang, orang-orang yang tak benar. Lebih baik kita duduk bersama berkelakar, agar suasana menjadi segar.

    Balas
    1. Agnostik

      Sebenarnya sih,,,yang bilang semua agama benar itu munafik,,,tahu tdk yang ngomong itu kan kaum Liberal (kaum yang gk konsisten sama omongannya),,,mereka bilang atas nama HAM,,tetapi mereka melanggar HAM,,dan ada aja logikanya,,,emang licik,saya doain dia masuk agam salah ,,terus masuk neraka

      Balas
  3. meiy

    hihi nggak mau terkapar ah…modiar ya yang suka bertengkar :D

    Kalau Tuhanku tak perlu pemujanya…tak dipujapun DIA tetap Tuhan, tak kan berubah zatNYA & sifatNYA..

    Balas
  4. Rein

    Hmmm, yup betul itu. kalau semua tenggelam dalam ranah agamanya masing-masing dan saling membantu satu sama lain dalam filosofi ajaran agamanya, saya kira akan aman-aman saja. salam. :idea:

    Balas
  5. regsa

    agama menurut saya, adalah hubungan saya pribadi dengan Tuhan saya. Dan saya juga ngak setuju agama untuk diperdebatkan karena memang sudah berbeda . Walo banyak perbedaan mungkin ada sedikit persamaan .Jadi mari yang sedikit itu yang dibicarakan, sambil minum teh dan makan kue alakadarnya.nikmat sekali..

    Balas
  6. Alex Massh

    Logika anda sudah berdiri dalam posisi sebagai Adam atau Hawa pada saat mereka hidup berdua dan mengenal Pencipta mereka…..luar biasa…kembangkan terus!…salam

    Balas
  7. mrlekig

    SETUJU!!!
    SALUTE!!!

    Persis seperti apa yang saya pikirkan.
    Sekali lagi saya sampaikan, saya lebih suka berteman dengan orang yang tidak beragama tetapi selalu berbuat baik.

    Buat apa ngaku beragama, tetapi menyakiti orang lain.. Betul tidak?
    Salam damai..

    Balas
  8. Batak News

    laeku toga yang baik,
    aku sangat suka membaca artikelmu ini. terutama kutipan goenawan mohamad: “memang harus saya katakan, saya memilih tetap dalam agama saya sekarang bukan karena saya anggap agama itu paling bagus.”

    setelah menjadi muslim delapan tahun silam, aku pernah berkata pada sejumlah sahabatku dan keluargaku yang nasrani: “justru setelah aku menjadi muslim, aku makin yakin bahwa agama kristen juga benar.”

    mereka bingung, tak percaya, dan menganggap aku sedang melucu. lalu seorang berkata: “kalau begitu, kalau memang kristen juga benar, kenapa engkau tidak kembali menjadi nasrani?”

    kujawab: “kristen benar, yahudi benar, islam benar; tapi aku merasa lebih nyaman menjadi muslim.”

    tetap saja mereka masih mau mendebat, sembari mengutip ayat-ayat kitab suci. kalau sudah begitu, tentu saja aku diam dan berlalu.

    pening kepalaku berdebat muncung dengan maniak-maniak agama seperti itu.

    Balas
    1. RICCI

      duh si elay ini yang benar…,,hidup kau lay!!!…,agama di keluarga w tuh gado2..gw sendiri muslim garis tengah…heee..,,gue cuma berfikir gw hidup di dunia ini karna DIA dan gw berterima kasih padaNYA untuk hidup gw yg ke 2 ini…,,HIDUP LaY

      Balas
  9. hamba Mu

    semua itu sudah ada yang menentukan semua akan kembali kepada Nya
    Manusia dicipatakan sebagai mahluk yang paling sempurna jika manusia mencari kesempurnaan maka niscaya tidak akan menemukan karena kesempuraan hanya milik Tuhan
    Agamamu adalah agamamu bagiku agamaku adalah agamaku jika engkau bertakwa kepada Tuhan Mu niscaya engkau tidak akan tersesat

    Balas
  10. A. izza

    terkadang keanehan diri kita sendiri yang membuat agama kita tampak aneh,namun Tuhan dari agama apapun tidak pernah butuh siapapun untuk memuja Dia, namun seringkali kita yang membutuhkannya dengan segala keanehan kita

    Balas
  11. giegie

    Buat penulis saya sangat salut dengan postingan anda, jika kita semua memiliki pemikiran seperti ini saya yakin dunia akan memiliki kedamaian, saya sendiri sering lebih banyak belajar dari orang-orang yg tidak beragama, karena bagi saya orang-orang tersebut lebih realistis dan berpemikiran logis, dibandingkan dengan orang-orang yg beragama, karena menurut saya sendiri agama itu hanyalah sebuah label, Tuhan memang ada dan Tuhan hanyalah satu, demikian pendapat saya… semoga banyak orang-orang disekitar kita bahkan diseluruh dunia memiliki pemikiran seperti anda sehingga mampu tercipta perdamaian.

    Balas
  12. Suwandi Muhammad

    Manusia hidup memang harus beragama kalo pendalaman agamanya baik & benar terus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-2 niscaya hidup itu indah. barang siapa yang selalu ingat akan Allah S.W.T di setiap langkah hidupnya insya Allah arah dan tujuan kehidupan semakin jelas dan terarah.

    dan barang siapa yang tidak beragama berarti dia komunis..yaitu orang-2 yang akan menukik dari dalam dan menjadi biang keonaran dunia.

    Itulah secercah kata dari kami semoga kaum Muslimin didunia tetap teguh dalam menjalankan agamanya untuk selalu taat beribadah.

    Sesungguhnya Dzat yang paling mulia adalah Allah S.W.T

    Amin…amin…Ya Robbal Alamin…

    Selain tiga komentar atas nama Suwandi Muhammad, Yesus Ibra Ismail, dan Inul, Anda jg mengirim satu komen lain atas nama dan Asrul Fathony, yang terpaksa saya sensor, tindakan yang sebenarnya saya hindari sebisa mungkin. Pak Suwandi, atau siapapun nama Anda, silakan yakin dengan jalan Anda dan menganggap jalan orang lain salah, namun maaf, bukan di sini tempat untuk menyatakannya, apalagi dengan cara dan bahasa seperti itu. Salam.

    Balas
  13. Yesus Ibra Ismail

    Saya sebagai Yesus sebenarnya saya itu bukan Nabi Isa, AS. tapi aku adalah seorang kepercayaan Nabi yang telah berkhianat sehingga aku di salib ditiang gantung oleh tentara kerajaan.

    Hai..orang…Nasrani yang seiman denganku maafkan kesalahan yang lalu… cari agama yang benar…sebelum maut menjemputmu.

    Saloom
    YII

    Balas
      1. jelasnggak

        @David.

        Muhammad itu bukan nabi yang doyan kawin.
        Muhammad itu nabi yang menolong kaum wanita.

        Bayangkan,

        -Anak kecil umur 9 tahun harus ditolongnya.
        -budak (maria) dari istrinya juga harus ditolong
        -Safiyah, anak dari yahudi yang dibunuhnya juga harus ditolong, karena dia udah ngga punya suami lagi.

        baca dong di sini :

        http://mengenal-islam.t35.com/favorite.php

        salam.

        proxy mode:on

      2. metz

        ywd klo muhammad manusia ya emang dia manusia…………bukan tuhan…………..klo u di bnding ma muhammad ya kayak manusia baik sama tikus got mlut anjing………………..dada………….domba-domba laknat moga2 nabi isa tidak nerima kamu sbgai pengikutnya…………wong nabi isa aja nyembah allah kamu kq tidak hehehehe……………….

      1. hh

        Pertanyaan bagus, mas Mujahid, dan butuh kesabaran untuk menjelaskannya.

        Saya bisa menduga mengapa pertanyaan seperti ini muncul, karena ada anggapan bahwa pada awalnya Yesus itu bukan Tuhan, tetapi karena sesuatu sebab, Yesus itu menjadi Tuhan. Dari berbagai pendapat yang saya dengar dan baca, Yesus itu menjadi Tuhan kerena diangkat oleh manusia. Begitu bukan, mas?

        Pemikiran seperti itu adalah salah, mas Mujahid, Yesus tidak pernah diangkat menjadi Tuhan, tetapi Dia adalah Tuhan.

        Penjelasannya begini, mas Mujahid, karena manusia sudah jatuh dalam dosa dan sebagai akibatnya adalah manusia harus dihukum dengan kematian kekal. Tuhan, dalam salah satu sifatNya yang maha kasih merasa berkepentingan untuk menyelamatkan manusia dari hukuman tersebut dengan jalan mengambil alih kematian itu.

        Karena Tuhan tidak dapat mati, Tuhan harus menjelma menjadi manusia. Saat menjelma menjadi manusia itulah Dia dinamai Yesus.

        Jadi, Yesus adalah Tuhan dan sekaligus adalah manusia. Dia adalah Tuhan karena memang Dia adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Dia adalah manusia karena didalam penjelmaanNYa menjadi manusia mengalami proses yang sama seperti manusia: menjadi janin didalam rahim seorang wanita dan lahir dari rahim ibunya sebagai manusia yang mempunyai semua sifat alami manusia.

        salam

  14. Inul

    APA PERLU TAK GOYANG BIAR NGGAK RIBUT AJA…..KALO MAU TAU YANG BENAR…HIDUP HARUS BENAR……SING PENTING…GOYANG..DJEH…HE….HE…..HE…..HE…UGF….UGF….WUENAK TENAN…LHO..DILEBONI.

    Balas
  15. yesus kristus

    help me…pls…help me I’m affraid not achieve to heaven…we should come first for several year at hell..

    i meet muhammad…he’s very happy there..and the god was angry whit me always…I’m not Isa prophet..we just people have many…sin..to god

    Balas
    1. jelasnggak

      Hi there…

      My name is Muhammad. I am a Prophet. You see….If you follow islam way by killing those innocents people, you will end up like me….in heaven with 72 virgins.

      When I was on earth, I had 9 wives, and hundreds of slaves (women)… but those just weren’t enough for me… bcause I have libido as strong as 30 men.. A day i could sleep with 30 womens at once without even getting tired…..whoa…look at that…

      That’s what a word “PROPHET” means….if you know what i mean…

      okey… now… i have to get back overthere… my 72 virgins are waiting..

      bye..

      Balas
      1. Jesus Christ

        Oh i”m jesus your savior after i”m death i fuck maria in hell that was so fucking good until i”m fucking tired i make out again with lucifer, his ass was so good you all must try it in HELL!!!

  16. dannie ahmad

    yahh…bagi yang sudah beragama yah silakan diterusin menyembahnya…yakini aja bahwa itu emang benar….dan yang belum beragama dan belum meyakini adanya tuhan ya silahkan saja diterusin begitu……yang penting, setiap orang yang melakukan sesuatu…pasti bakalan mendapatkan sesuatu yang sesuai pula dengan apa yang dilakukannya……ok, good luck…!!!semoga kita mendapatkan apa yang kita cita-citakan…..

    Balas
  17. krisna

    @Yesus…

    Oalah Yesus.. Yesus… Masa Bahasa Indonesiamu kalah ama anakku yang masih kelas 2 SD?

    “… mati di salib ditiang gantung tentara kerajaan…” he he he belajar bahasa dulu ya

    Balas
  18. kristina akurela

    ah..gw kadang-kadang bingung deh…setiap kali gw pergi ke gereja, lalu gw menatap keatas…disitu gw lihat **** (edited)

    Plis… janganlah nulis komen kayak gitu. Jangan paksa aku main sensor, atau memberlakukan kembali moderasi komentar. OK, kawan?

    Balas
  19. Tomo

    Bagaimanapun peradaban manusia, dongeng dibutuhkan untuk hiburan dan pesan moral.
    Di jaman modern ada dongeng superman atau batman. Jaman dulu ada gatut kaca atau hercules. Semua pahlawan dongeng tsb semua sakti. Namun dibanding yesus tidak ada apa apanya. Tapi ada persamaan yesus dan hercules, keduanya anak tuhan.
    Jangan-jangan yesus hanya sebuah dongeng dramatik.

    Balas
  20. omkangkung

    bung toga… tampaknya ada kecelakaan kaya mulawarman nih di blog lae…
    ternyata Tuhan mereka lemah and cemen banget yah ampe butuh mereka untuk ngabarin umat nasrani pindah agama keagama mereka…
    Tuhan yg mereka sembah ga punya staff malaikat jadi butuh banget pahlawan2 kaya mereka sebagai representatif.
    kasian banget mother theresia, gandhi, dan orang2 lain yg mendedikasikan hidupnya buat sesama udah keburu dijemput maut sebelom pindah agama ke agama mereka,

    Balas
  21. Diamond

    “Tuhan seolah seperti ketua partai yang kekurangan konstituen menjelang pemilu. Tuhan seperti zat yang lemah lunglai, sehingga perlu pertolongan dan bantuan manusia untuk sekadar merekrut pengikut. Tuhan seperti gentar, gemetaran dipelototi Iblis dari kejauhan”

    Bang Toga,
    Saya pikir dugaan abang ini tidak relevan dengan keyakinan abang. Dikatakan sebelumnya bahwa mereka dibebani tugas untuk menyebarkan, kalau sudah begitu ya let it be.

    Yang perlu dikritisi adalah sikap pemeluk agama2 itu yg kelewatan, bukan menjustifikasi bahwa abang tidak akan memilih tuhan yg memerintahkan begitu karena bukankah agama2 tersebut mengajarkan kebaikan ? menyampaikan dengan cara yg sebaik mungkin ?

    Ada lusinan tindakan2 Tuhan yg kalo ditanyakan akan bikin pusing, seperti mengapa Dia membiarkan peperangan ? Oklah jawaban yg umum bahwa itu adalah ulah manusia2 durhaka. Tapi bukankah dia mampu mencegahnya ? dll

    Saya bisa katakan bahwa Tuhan yg seperti ini seperti sesuatu yg senang dengan pertumpahan darah, Dia akan tertawa2 melihat orang2 dibantai seperti kita kalo main game. Apakah juga begitu anggapan kita ?

    Pernyataan GM yg abang sitir itu menurut saya hanya retorika. Perselisihan besar kemungkinan tidak akan hilang dengan menghilangkan kewajiban penyebaran agama. Terlalu banyak faktor dalam kehidupan beragama sehingga harus benar2 diteliti dan mungkin lebih penting dibenahi kehidupan beragamanya.

    Termasuk ateisme besar kemungkinan tidak akan surut dengan berdamainya Islam Kristen. Pada jaman modern ini ateisme mempunyai akar di dalam iptek. Ilmu pengetahuan bahkan berhasil menjelaskan saat2 penciptaan semesta secara terperinci, konsekuen dan cocok dengan data2 pengamatan yg penting. Sehingga menurut anggapan mereka sendiri telah mendepak Tuhan dari tempat persembunyiannya yg terakhir yaitu penciptaan.

    Yang mengatakan ini sialnya adalah tokoh2 ternama termasuk peraih nobel2 fisika, kimia, biologi sehingga omongan mereka pun jadi punya otoritas dikalangan kolega maupun masyarakat.

    Balas
  22. Ping balik: Avatarku Gambar Yesus Kristus? « Nesiaweek Interemotional Edition

  23. al buruuj

    Saudara-saudaraku sekalian…

    Hanya satu pertanyaan saya kepada anda semua…

    Untuk apa kita semua diciptakan?….

    “SEBAIK-BAIK MANUSIA ADALAH YANG PALING BERGUNA UNTUK SESAMA DALAM KEBAIKAN DAN MENGERTI UNTUK APA DIA DICIPTAKAN KE DUNIA”

    Semoga memberi manfaat untuk kita semua.
    Salam

    Balas
    1. ki jadul

      sangat tepat dan betuuul sekali, inilah pemikiran yg maju, bhw Allah telah memerintahkan bhw manusia hrs berpikir/berakal guna kesejahtaeraan manusia itu sendiri, makanya ayo kerja sama dlm ilmu apapun yg bisa mendatangkan manfaat. Kalo cuma beretengkar kita sama2 seperti binatang….hyena di Afrika…

      Balas
  24. andi banget

    Wah banyak kali perdebatan tentang agama di dunia ini,,, saya kristiani berteman dengan muslim,, ga pernah terlintas “kata agama di benak kami” kami nonton bokep bareng,, minum bareng,,drugs pernah, kerja bakti bareng,, berangkat kenduri bareng,,nyari dana untuk korban gempa bareng..Hanya orang orang tolol yang memperdebatkan salah satu dari kami akan masuk surga atau neraka..Memang kami bukan ahli agama,, Kami hanya ingin membuat perbedaan,, bagi lingkungan kami…Hei kalian yg sedang berdebat,, lanjutkanla h karena kami sedang minum beer dan menertawakan kekonyolan ini…remember we’re different!!

    Balas
  25. laskar

    Pada dasarnya saya setuju dengan apa yang diungkapkan oleh bang toga, tapi yang jadi masalah adalah apakah Tuhan yang disembah oleh orang Islam ( Allah SWT ) dan Tuhan – Nya orang kristen adalah Tuhan yang sama? Dalam Pancasila yang nota bene adalah dasar negara saja tercantum ” Ketuhanan Yang Maha Esa “, kalo memang Tuhan itu ESA, kenapa harus ada trinitas? yang namanya satu yah satu, kenapa harus ada ” satu dalam tiga, tiga dalam satu? “.

    Balas
  26. laskar

    Tomo said:
    ” Jangan-jangan yesus hanya sebuah dongeng dramatik ”
    Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada segenap saudara2 saya umat kristen kalo kata2 saya akan menyinggung perasaan saudara2 saya. Tapi perlu saya jelaskan bahwa : Yesus bukan dongeng, tapi hasil rekayasa Raja Konstantin. Raja Konstantin yang melantik Yesus yang mati ditiang salib sebagai TUHAN. Yesus adalah manusia yang diciptakan oleh Allah, apakah mungkin seorang manusia jadi Tuhan? dan Tuhan jadi manusia? Itukan mengada-ngada namanya! Coba kita berpikir secara logika, Ibaratnya seorang tukang kayu menciptakan sebuah kursi. Apakah mungkin kursi bisa jadi tukang kayu? Dan apakah mungkin tukang kayu bisa jadi kursi? Mustahil kan?
    Orang kristen itu membohongi diri mereka sendiri. Buktinya, Kelahiran Yesus tanggal 25 Desember (natal) identik dengan salju dan pohon cemara. Apakah di Betlehem ada salju dan pohon cemara?
    terus, pada bulan desember itu adalah MUSIM DINGIN, sementara Yesus dilahirkan pada malam hari dimana para penggembala menggelakan domba-domba mereka. Mengapa para penggembala menggembalakan domba mereka pada malam hari, karena pada saat itu adalah MUSIM PANAS.
    Sebenarnya mereka sudah tahu bahwa mereka salah, tapi mereka tidak mau mengakui kesalahan mereka. Jadi dapat disimpulkan bahwa Mereka itu adalah Golongan Orang2 Munafik.
    Saya bukannya tidak menghormati / menghargai saudara2 saya yang beragama kristen tapi saya hanya mau mengingatkan, “KEMBALILAH KE JALAN ALLAH “.
    Emang dalam Al Quran surat Al Kafirun juga sudah dijelaskan ” Lakum Dinukum Waliadin ” Yang artinya ” Untukmu Agamamu Dan Untukku Agamaku “. Tapi ayat tersebut ditujukan bagi orang2 kafir. Tapi orang kristen itu bukanlah orang kafir, tapi mereka masuk dalam golongan orang-orang ” SESAT “.
    Jadi pada kesempatan ini sekali lagi saya mengajak saudara2 saya yang beragama kristen untuk kembali ke jalan ALLAH.

    Balas
  27. Salngam

    Untuk Tomo,
    Yesus memang harus mati dan bangkit dari antara orang mati dan ini sudah dinubuatkan oleh nabi-nabi sebelumnya.
    Pencipta mernjadi ciptaan bisa apa tidak?. Namanya juga Allah maha besar, Allah maha bisa. Kalau mas Tomo swudah pasti tidak bisa.
    Allah jadi manusia dengan demikian bukan mustahil.
    Bulan Desember de Eropah itu musim dingin Boss, di Australia musim panas , di Israel musim…,m di Indonesia musim banjir. Tampaknya matematika Bapak sangat lemah, demikian pula Bapak tampaknya tidak mengerti sama sekali analogi dan simbolisasi.
    Seharusnya Kristen yang berhak menyatakan Islam (Muhammedsnism) sesat karena Muhammedanism lahir 450 Tahun setelah Kristen. Kristen tidak pernah menyatakan Jahudi sebagai sesat tetapi Kristen menyebut dirinya perjanjian baru (New Covenant). Artinya Warisan yang tadinya hanya diperuntukkan untuk orang Jahudi diperbaharui Janji Allah bahwa Warisan Surga itu untuk seluruh Manusia termasuk saya dan mungkin mas Tono.
    Kristen yang benar sudah pasti di Track yang benar. Wassalam

    Balas
  28. laskar

    salngam said :
    ” Seharusnya Kristen yang berhak menyatakan Islam (Muhammedsnism) sesat karena Muhammedanism lahir 450 Tahun setelah Kristen. Kristen tidak pernah menyatakan Jahudi sebagai sesat tetapi Kristen menyebut dirinya perjanjian baru (New Covenant). Artinya Warisan yang tadinya hanya diperuntukkan untuk orang Jahudi diperbaharui Janji Allah bahwa Warisan Surga itu untuk seluruh Manusia ”
    untuk pak salngam, perlu saya luruskan tulisan anda, bukan ” Muhammedanism ” tapi Muhammad. Itulah bedanya Islam dengan kristen. Mungkin kristen bisa merubah nama dari Isa menjadi Yesus. Apakah anda tahu sejarah perubahan nama dari Isa menjadi Yesus? Perlu anda ketahui Yesus telah mengalami tiga kali pergantian nama dari Isa. Pertama, dari ISA dirubah jadi YEYASA, karena orang romawi pada saat itu susah menyebut ISA maka digantilah dengan nama YEYASA. Setelah itu YEYASA dianggap masih kurang nyaman, maka digantilah YEYASA menjadi YOHOSUA. Setelah itu YOHOSUA diganti lagi dengan YOSUA, dan terakhir barulah diganti dengan YESUS.
    Kemudian Pak Salngam tidak berkomentar tentang masalah TRINITAS? Karena memang Allah Maha Esa, yang berarti SATU. Yang namanya satu yah satu. Kayaknya anda deh yang matematika-nya kurang. dalam matematika apakah satu bisa jadi tiga, dan sebaliknya tiga bisa jadi satu? Mustahil kan?
    Dan kalau kita lihat sejarah tiga agama ini pada dasarnya memiliki kesamaan namun juga memiliki perbedaan yang sangat mendasar.
    Pertama tiga agama ini adalah agama Wahyu yang artinya Agama yang berasal dari ALLAH.
    Kedua tiga agama ini mengakui keberadaan Nabi Ibrahim.
    Nah, sebelum kita membahas tentang perbedaan dari ke tiga agama ini, ada satu pertanyaan yang harus kita kaji. MENGAPA ALLAH HARUS MENURUNKAN KITAB BEBERAPA KALI MELALUI NABI-NABI UTUSANNYA?
    Pertama Allah mengutus nabi Daud dengan kitab Zabur
    Kedua Allah mengutus Nabi Musa dengan kitab Taurat.
    Ketiga Allah mengutus Nabi Isa dengan kitab Injil
    Dan terakhir Allah mengutus Nabi Muhammad dengan kitab Al Qur’an.
    Kitab Zabur diturunkan untuk Umat Nabi Daud, Taurat diturunkan untuk Umat Yahudi, Kitab Injil diturunkan untuk Umat Nasrani ( saya menyebut dengan nasrani bukan kristen ) dan terakhir Kitab Al Qur’an diturunkan untuk menyempurnakan kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelumnya.
    Perbedaan antara tiga agama ini adalah Umat Yahudi tidak mengakui keberadaan Nabi Isa dan Umat Nasrani tidak mengakui keberadaan Nabi Muhammad, sementara Umat Islam mengakui keberadaan Nabi Musa dan Nabi Isa.
    Kemudian perbedaan kitab ketiga agama ini adalah Taurat hanya berisi sepuluh perintah dan sepuluh larangan, Injil hanya berisi tentang kisah-kisah perjalanan hidup Nabi Isa ( bukan Yesus ) selama hidupnya. Dan Al Qur’an semuanya lengkap mulai dari perintah dan larangan Allah, sampai dengan Kisah-kisah para Nabi.
    Selain itu perbedaan dari ketiga agama ini adalah Umat Yahudi mereka mengikuti ajaran Nabi Musa, namun mereka tidak menganggap Nabi Musa sebagai Tuhan dan mereka tidak beriman kepada Allah. Sementara umat Nasrani mengikuti ajaran Nabi Isa namun menganggap Nabi Isa sebagai Tuhan dan beranggapan Nabi Isa dan Allah adalah satu. Dan Umat Islam mengikuti ajaran Nabi Muhammad namun tidak menganggap Nabi Muhammad sebagai Tuhan dan tetap beriman kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam.

    Balas
    1. mr..lolipop

      berarti penggabungan dong??

      terus kenapa di gabungin??

      terus 3 kitab di gabungkan jadi 1??

      complakan dong??

      hasil editan intinya??

      ((maaf ya ini kan kamu yang bilang bukan saya))

      hahhaha…….

      kamu bilang kitab injil hanya menceritakan tentang perjalanan yesus,,

      hahhahahha….

      ngakak lagi,,coba kamu belajar lagi ya dedek ku sayang…

      ^_^

      salam damai…

      Balas
  29. SALNGAM

    Buat Mas Tono dari Laskar,
    Problemmu adalah kamu sok tahu!, seolah-olah kamu adalah ahli ilmu perbandingan agama paling handal. Orang yaang sok tahu biasanaya bodoh dan tolol!. Kenapa tidak, seolah-olah kamu lebih tahu Kristen dibanding saya. Mayoritas orang Indonesia adalah seperti mas maka kita sebagai bangsa terpuruk.
    Saya saran cobalah dalam hidup ini dengan bertanya atau biasakan hidup dengan 5WH kurasa hidupmu akan lebih bahagia.
    Dari carama berdiskusi sebenarnya kau adalah awam seperti saya not researcher, kenapa tidak, bisa-bisanya kamu memaksakan pola pikirmu bahwa Kitab Injil diturunkan oleh Allah kepada Nasrani. Hanya orang tolol yangberfikir kitab (buku) diturunkan oleh Tuhan kepada Manusia. Turunnya pakai Sinterklass?.
    Injil itu tulisan bung!, it’s came from Scroll konon katanya ditulis dalam Bahasa Junani (Greek) oleh Mateus, Markus, Lukas, Johannes , Petrus (Lima murid Jesus) dan Paulus (tentara Romawi yang menjadi Kristen.
    Kalau mau lihat aslinya mungkin kau bisa browsing ke Situsnya Vatikan atau Library of Congress.
    Kalau aku akan bahas Trinitas sama kamu kamu tidak mengerti karena hatimu sudah kadung prejudice (prasangka buruk) dan tidak terbuka menurut metode berfikir yang logic!.
    Tapi sekedar memberitahu Trinity itu adalah logika memahami Tuhan (Allah atau Eloi atau Jahwe atau apalah namanya). Allah itu adalah Roh adanya dan menurut logika Protestanisme biar gampang memahaminya (Theologist) memahaminya dalam Allah Bapa (Allah yang memelihara seperti Bapanya mas Tono), Allah Anak (Allah yang menjadi manusia seperti mas Tono dan Saya), Allah Rohulkudus (Allah yang senantiasa menjadi roh sama seperti rohnya mas Tono dan Roh Saya bedanya RohNya Kudus roh kita khususnya mas Tono Wallahhualam).
    Kalau kamu pakai azas material (Fisika) 3 memang tidak akan mungkin menjadi 1.
    Mungkin kamu tidak akan bisa menjjawab pertanyaan Atheis berikut: Bisa tidak Allahmu yang mahabesar dan mahabisa itu menciptakan sesuatu benda/material yang Ia sendiri tidak bisa mengangkatnya?. Jika kamu ahli fisika kamu pasti bisa menjawabnya, jika tidak kamu berarti masih tolol dan bodoh seperti saya, Ok Boss selamat berfikir!

    Balas
  30. laskar

    Salngam Said :
    “ Injil itu tulisan bung!, it’s came from Scroll konon katanya ditulis dalam Bahasa Junani (Greek) oleh Mateus, Markus, Lukas, Johannes , Petrus (Lima murid Jesus) dan Paulus (tentara Romawi yang menjadi Kristen “.
    Mas Salngam, Saya menggaris bawahi pernyataan anda, memang saya akui pengetahuan saya tentang ajaran Kristen sangat terbatas. Tapi kalo melihat dari pernyataan anda dengan menggunakan kata “ Konon Katanya “, maka jangan salahkan saya kalo saya berpikir bahwa sebagian dari kitab ( Injil ) itu hanyalah sebuah rekayasa atau lebih tepatnya lagi kita sebut dengan “ dongeng “. Kenapa saya mengatakan dongeng, karena hanya dongeng yang menggunakan kata “ Konon Katanya “. Berbicara masalah agama berarti kita berbicara masalah Tuhan, dan kalo kita bicara masalah Tuhan, maka tidak ada keragu2an. Kenapa anda harus ragu dalam mengeluarkan Statement…..?
    Kemudian, saya ingin menanyakan kepada anda, apakah Yesus mengajarkan tentang Trinitas? Kalo memang Yesus mengajarkan Trinitas kepada umatnya, tolong tunjukan kepada saya dalam Kitab apa dan fasal berapa dalam Injil…?

    Balas
  31. RIKARDO SIAHAAN

    Mas Tomo dari Laskar,
    Can you read between the line???. “Konon katanya ” berarti saya sebagai pembaca Alkitab ( Not Bible researcher) karena Alkitab yang kubaca tersebut terbitan Lembaga Alkitab Indonesia atau Good News Bible (Terjemahan Dayly English) , atau Bible (King James Version) dan paparan para Pendeta yang sekolah 6 tahun (STh) , +2 Thn Mth, +3 thn Dr.Th itulah artinya “konon katanya”. Saya tidak bisa membaca Perjanjian Baru Asli (Scroll Asli=Greek) atau Septuaginta (Perjanjian Lama=Hebrew/bahasa Ibrani) saya hanya bisa mengerti yang Bahasa Batak/Indonesia/Inggris. Dan kupikir untuk sementara itu sudah cukup bagi saya. Sesekali saya bowsing Anthropologi (sejarah ) Alkitab dan buku telogi kristen lainnya.
    Tidak ada satu katapun di injil yang menyatakan tentang Trinitas!!. Membaca Injil Kau harus membacanya dari Mateus 1:1 sampai dengan Wahyu 22:21. Banyak istilah teologis tentang injil. Marthin Luther menyimpulkan Injil sebagai SOLA VIDE, SOLA GRATIA dan SOLA SCRIPTURA. Ada juga teolog setelah membaca injil menyimpulkan GOD is LOVE. Untuk sekedar pengetahuan bahasa Junani Love bisa berarti Agape, Eros dan Filia. GOD=JESUS=AGAPE (Nah bingung kan!).
    Kalau kau mau sekolah Alkitab saya rekomendasikan coba belajar secara pribadi kepada Jusuf Roni atau Prof Dr. Daulay (Sekjen PGI) saya kira dia bisa mengajarimu gratis.
    Kalau kau mau bahas ayat alkitab sebaiknya kau baca dulu seluruh Alkitab (Perjanjian Lama & Baru) Cerita buku itu runtut dan boleh dipenggaal periodenya mulai dari periode O thn s.d. kira-kira 120 Thn Sesudah Masehi.
    Jesus hanya mengajarkan seperti ini kesimpulannya: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap jiwa ragamu dan Kasihilah Sesamamu seperti dirimu sendiri!. Tuhan itu Esa, Tuhan itu 3 tapi Esa Tuhan itu 100 tapi Esa itu tidak penting bung!.
    Mungkin kau akan bingung kalau kubilang begini… Aku menjadi Kristen (Umat Kristus=Umat Allah) jauh sebelum bumi ini dicipta!. Aku menjadi Kristen bukan karena aku mau tapi karena Jesus/Allah mau!. Jadi kalau pada akhirnya kau tidak menjadi Kristen jangan salahkan saya!. Tapi coba minta kepada Allah/Jesus siapa tau Dia berubah pikiran. Allah memberkatimu!!

    Balas
  32. Ete

    ah semua orang disini kaya orang gila bercakap-cakap dengan sesama orang gila… mirip RUMAH SAKIT JIWA…
    islam merasa agamanya paling benar….Kristen pun demikian
    capek deh….

    Balas
  33. blacko

    Aduh gini hari masih ngomongin perbedaan katanya kita semua orang pendidikan ( sekolah LOE pada tinggi cekali ) tapi isi otak loe cupet banget TOLOL ALIASAN SUPER DUNGGU SEDUNIA. coba perbedaan itukan udah ada di falsafah negara kita yg katanya kita berbeda tapi satu. itu aja dech dan dari perbadaan itu maka akan ada suatu kekuatan yang tidak bisa diperdiksi dan kekuatan itu sudah ditunjukkan oleh para pendahulu kita coba kita lebih sadar n mengingat perjuangan mereka untuk merebut kemerdekaan bangsa yg sangat kita cintai ini.
    COBA KITA MERENUNG N MENGINGAT2X LAGI.
    Ok Freind saya harap generasi kita bukan generasi yg jln di tempat kayak gitu cuman mikirin n ngomongin perbedaan antar agama pula. malu dg mahasiswa n bangsa lain. mereka mikirin gimana cara agar mereka bisa taklutkan dunia dgn perdamaian.
    ………………COME ON MAN WEEK UP………………….
    Saya harap obrolan ini udah sampai disini aja
    or CASE CLOSE…..
    Abang setujukan……..
    wasalam
    blacko

    Balas
  34. blacko

    Daer Abang yang baik & semua temen 2X yg nimbrung di blog ini.
    Saya mohon dengan sangat abang menutup n kalau boleh saya sarankan kalau dilain hari ada obrolan yg kayak gini distop aja inikan udah jelas berbau SARA.
    Thankz buat abang n semua…………
    Wasalam
    blacko…..

    Balas
  35. zhiuma

    klop bGt..,Gw sk dGn tulisan2 U.
    c’ry..,td Gw Ngocopy kBlog Gw.heee…heee..

    bWt Blacko : maAf SbLmX …,Gw Rasa,,Bkn cm “perbedaan antar agama” yg diMksd dlm Tulisan2 Bang NeSia.,Tp, jG tTg Ap sih Yg DiAjaRkan AgaMa tu., yach SbnRx tiNggaL Gmn Cr Qta M’nyiKapiX aZ. Lgian Bang Nesia jG dAh Ksi tAu kAn “JikA Anda Lebih M’CinTai aGamA aNda,DrPd Tuhan…tDk Usah Repot2 m’BacA ” .

    DaN Ada brp oRg Yg TaU “n” MaU utK m’Bahas haL2 sPti ni (kLo bKn Qta Sp lG..?)…heee….heee

    SaLam
    PeAcE

    Balas
  36. FraterTelo

    Keren, salam kenal dulu ya. Dan apakah agama itu? awalnya orang berkumpul karena punya paham yang sama, A adalah A, oh ya saya setuju A adalah A maka berkumpullah si pendukung A adalah A itu. Mereka mulai mencari orang yang memiliki paham yang sama. Lantas ada kelompok lain A adalah AA, mereka juga mencari orang yang memiliki paham yang sama. dalam pencarian orang itu (marketing) terjadilah saling jegal, saling serang. Padalah A yang mereka definisikan sebenarnya bukanlah A atau AA. tapi A adalah ?/tiada yang tahu.

    Balas
  37. luvpiis

    salam perdamaian…
    teman-teman smua..ga capek mempersoalkan perkara yang ga bakal mungkin ketemu dan ga akan pernah bisa sama?agama adalh masalh keyakinan dan antara kamu ama Tuhan..(buat yg etheis..silakan bermain cantik dalam melakukan kejahatan..toh anda ga percaya Tuhan dan hari pembalasan…so do crime n kumpulin kesenangan aja sebanyak2nya,paling2 urusan ame yg bwajib,itupun bisa diaturlah,so nothing to worried about…jan sampe kburu mati men..ntar mati ga sempat seneng2 kan ksian..btw bo..lo utang banyak banget ama Tuhan..nafas lo dr mule idup mpe skrg,trus biji mata lo..sebiji aja lo ga bsa bayar ma Tuhan.tapi kyax hal sperti ini ga ada dalam kamus lo yah,so percuma jga dibilangin.. ).kalo org beragama hanya mengejar surga dan menghindari neraka,lantas kemana rasa cinta kita kepadaNYA?surga dan neraka itu cuman hasil perbuatan kita yg harus dipertanggung jawabkan di hadapn Tuhan,tapi esensi dri smua ibadah yg kita lakukan hanyalah meyakini dan merindukan akan pertemuan denganNYA…aduu lgi2 ga konek nih ma yg ga punya Tuhan, tapi..pake fasilitas Tuhan..surga ma neraka sepertinya hanyalah akumulasi dri smua perbuatan manusia,sapa nanam apel yah panennya apel lah…Tuhan yang Maha Indah,Maha Cinta,Maha Damai,Maha Kuasa,Maha Perkasa,Maha Pengasih dan Penyayang,dan pasti Maha Esa…maafin kita2 yg banyak salah dan dosa,tiap detik mungkin kami isi dengan berjuta kesalahan tapi masih merasa suci,ampuni kami semua yaah..karena kami percaya,kasih sayang MU lebih banyak Kau curahkan darpada murkaMU..teman2,klo ada yg ga enak yg gw sampein maafin yah…alangkah indahnya perdamaian,ga usah mempertentagkan keyakinan org lain,manusia punya hak untuk memilih bahkan untuk non tuhanpun silakan..(hiks..).this argue will never find a way..masalah pribadi man,lo bunuh juga orang bakal kekeh dgn keyakinan mereka,so what we’re looking for??kenepa sih ga diskusiin aja giman masing2 kita bertanggung jawab untuk berbuat kebaikan dan menyayangi dan mengasihi semua yg ada disekeliling kita?banjir dmna2,longsor,drugs n evrything..buatlah kebaikan dan kemuliaan2 disetiap langkah kita,percaya aja da bakal ada yang membencimu,mo beda agama kelamin dan suku jga ga masalah,karena kebaikan itu unversal,semua psti suka,karena untk itulah Dia mengutus manusia ke bumi ini..jadi kalo ada yg mengaku ngaku punya agama tapi masih saling menyakiti,lo ga beragama man..usul nih buat mas,buka diskusi ajalah buat membangun bangsa ini,tapi..knapa jga yah gw masuk ke zona ini??hehe..takdir kali mas,gw nyasar…ok d..salam perdamaian.keep love piece and friendship..TRUST ME,PERDAMAIAN ITU LEBIH INDAH TEMAN..manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan membawa fitrah yng suci,”ALLAH mengilhamkan manusia sukma kebaikan dan sukma keburukan,beruntunglah siapa yang mensucikannya dan merugilah siapa yang menotorinya”.(QS.AS SYAMS 8-10).jadi kita yang punya pilihan untuk hidup dan kesudahan hidup kita…jangan mengotori sukma anda..jgan sampe oknum orang2 bergama yng bikin kita harus saling menyakiti.tidak ada satu ajaran pun yang mengajarkan kerusakan……salam damai
    wassalam..

    Balas
  38. sophie

    Salam damai sejahtera
    Shalom ALaechem
    Assalamu’alaikum
    he…….:)
    memang, tiap org merasa amanya yg paling benar.
    Pdahal tuannya sama…
    yg perlu dipertegas adlh, di dunia yg serba modern kaya’gini, qt hrs berpikir dewasa n logika. Dewasa ini kedua agama itu amatlah g masuk akal. Allah nya sama, tetapi kok definisinya berbeda. Allah tdk pernah menurunkan agama. Bila qt sama2 memahami kitab2 allah, maka jelaslah bkn agama. Tetapi adl ketetapan. Agar mns bs memakmurkan bumi. Seperti halnya musa/moses yg membebaskan israel dri penindasan ramses II. Bgtu halnya yesus n muhammad. Krn ad malam ad siang bkn??? Jdi ad saatnya bumi rusak (kaya’ni) n ad kalanya kmbali sbg fitrohnya. Sharusnya yg dilakukan bkn cek_cok kaya’gni, tetapi open mind. berpikirlah dewasa.

    Balas
  39. Ping balik: Selain Kristen Sendiri, Hanya Islam Agama yang Mempercayai Yesus « Toga Nainggolan - Nesiaweek Interemotional Edition

  40. dany

    saya setuju dengan tulisa abang ini,,,
    cuma,,,,ini ni yang ga enak,,,-)
    kalo menurut saya ..islam dan kristen itu sama,,,pada awalnya,,,
    cuma prinsip dan pemikiran orang kan berbeda,makanya timbul keaneka ragaman aliran,,
    seperti di islam sendiri,,ada yang muhammaddiah ada juga aloiran lain,,,
    begitu juga di kristen,,,
    ada yang protestan,,ada yang katolik,ada adven,ada karismatik….
    tapi itu semua sama,,,sama2 mengajarkan kebenaran dan cinta kasih.
    so agama itu adalah keyakinan kita pribadi lepas pribadi.tergantung kita meyakini yang mana?????
    iya dong???
    jangankan dua agama ini..sedangkan satu agama aja diperdebatkan sudah bikin repot…

    so santai aja bro,,,yakini apa yang kita yakini.percaya apa yang menurut kamu benar…

    Balas
  41. Ryan Shinuraz

    Horas Lae..

    Saya selalu sensitif kalau udah membahas Islam Kristen. Entah kenapa memang. Tapi tiap kali saya membaca perdebatan kedua agama ini hati saya selalu tergelitik. Entah karena saya masih awam menanggapinya atau karena saya selalu ingin tahu seluk beluknya. Atau mungkin karena saya selalu emosi kalau Islam di hina dan di caci. Atau kombinasi dari semunya yang membuat saya selalu merasa ada sesuatu yang tak bisa saya jelaskan tetapi selalu menggelitik, menggangu dan menghantui pikiran saya?

    Lae.. Nainggolan…
    Membela agama saya pikir suatu keharusan bagi kita. Coba lae bayangkan kalau agama kita dihina dan dinistakan sedemikan hebat. Tapi kita hanya diam dan berdalih dalam hati kita bahwa semua agama berada pada level yang sama. Kondisi agama Islam saat ini memang sunnguh sangat menyedihkan. Diserang dari berbagi penjuru. Media massa, Propoganda, Ekonomi, Politik dan sebagainya digunakan sebagai sarana memojokkan Islam. JIka seandainya Muhammad bisa hidup kembali pasti dia akan menangis dengan keadaan ini. Entah berapa banyak Buku-buku yang memojokkan Islam, menghina Islam, Menghujat dan menuding Islam agama yang gagal. Tidak dari kalangan non-Islam saja, tetapi orang Islam sendiri yang notabene bergelar KH pun tak ragu untuk merusak Islam dari dalam. Majalah2 dan Koran tak usah ditanya sudah mungkin ratusan kali memuat penghinaan Islam. Tayangan televisi yang sungguh jelas2 tidak Islami. Ada apa ini? atau mungkin kita tidak menyadarinya? Tapi saya tidak ragu untuk mengatakan dan menyetujui bahwa ini semua tak terlepas dari konspirasi Barat.

    Lae Nainggola….
    Saya teringat lae dengan pacar saya. kebetulan sekali lae… Pacar saya ini orang Kristen. Dia pernah cerita kalau orang tuanya tidak setuju dengan hubungan kami karena kami berbeda agama. Sedikit banyak Orang tua pacar saya ini mempermasalahkan agama terutama saat acara adat nantinya kalo misalnya kami menikah. Katanya saya tak mungkin memberikan orang tuanya daging babi sebagai sipanganon saat acara penyerahan jambar (daging yang diserahkan kepada pihak perempuan/hula2 saat acara pernikahan berlangsung). Karena hal itu katanya berarti sayat tidak menghargai orang tuanya.

    Jadi muncul dalam benak saya : sebenarnya bagaimana kita mengartikan kata “menghargai” ini?

    Lalu saya bilang ke pacar saya : ” Kalau memang orang tuamu mempermasalhkan hal itu, maka seharusnya dia juga menghargai saya donk sebagai muslim dengan tidak menuntut agar tidak saya atau tidak meminta bagian jambarnya harus daging babi.”
    Menurut saya, orang tuanya harus berlapang dada dan menerima saya sebagai muslim untuk tidak harus melakukan sesuatu yang tidak dapat saya lakukan. Jadi siapa menghargai siapa?
    Apa adat tidak berjalan (tidak sah)kalo gak menggunakan daging babi? apa adat tidak jalan kalau bukan saya menyampaikan daging tersebut ketika suatu saat menyambut Hula2 laeku misalnya?

    Lae Nainggolan…
    Menurut saya, salah satu penyebab “perang” Islam Kristen ini adalah salah pengartian dalam menterjemaahkan “saling menghargai” yang menurut saya tidak benar2 secara konsisten di lakukan oleh kedua belah pihak. Tidak benar2 secara benar dapat di aktualisasikan dalam kehidupan kita.
    Mauliate buat Lae Nainggolan.. yang terus peduli dengan Batak dan segala sesuatunya…
    HOras…!!!

    Balas
  42. marda

    bukan kamu yang memilih TUHAN, tapi TUHANlah yang memilih kamu…

    manusia boleh berusaha tapi TUHAN yang menentukan…

    Qta beragama n fanatik pada agama kita…
    tp klo TUHAN bilang ga kenal ma Qta, ya apa boleh buat,,,

    brarti slama ini kita ga ada di jalan TUHAN kan???

    Balas
  43. Hamdani

    Kristen kok mau ngelawan Islam, yah nggak ada apa-apanya-lah.
    Ditinjau dari segi apapun Islam itu agama yang benar, yang suci dan murni ajarannya, serta petunjuk dari Yang Segala Maha untuk umat manusia yang ada diDunia.
    Memang dulu ajaran Nabi/Rasul terdahulu adalah benar adanya, akan tetapi pada zamannya, setelah Nabi/Rasul Muhammad SAW hadir ia menyempurnakan ajaran-ajaran yang terdahulu. Adapun orang yang tidak mau menyempurnakan keyakinannya menuju Islam, yah tanggung sendiri akibatnya.
    Berpikirlah secara logis hai umat kristen, jangan memutar balikkan kebenaran, jangan merasa malu menerima kebenaran dalam Islam, agama kami selalu terbuka untuk orang yang mau bertobat.
    Berhentilah mempromosikan keyakinan kalian yang berasal dari penjajah kepada orang2 yang sudah mempunyai aqidah yang benar. Mengerti!!!!!!!

    Balas
  44. Toga Nainggolan

    @Hamdani
    Anda bilang Berhentilah mempromosikan keyakinan kalian…

    Sebelumnya Anda tulis
    Kristen kok mau ngelawan Islam, yah nggak ada apa-apanya-lah.
    Ditinjau dari segi apapun Islam itu agama yang benar, yang suci dan murni ajarannya, serta petunjuk dari Yang Segala Maha untuk umat manusia yang ada diDunia.

    Pertanyaannya kemudian, yg barusan promosi itu siapa?

    Balas
  45. marda

    buat hamdani yach,,,

    kalau seandainya anda adalah orang yang bersalah dan akan menunggu eksekusi mati, apa yang anda akan harapkan? antara kasih atau keadilan?

    kasih yang mempu mengampuni atau keadilan yang harus di tegakkan???

    harap anda renungkan…

    jangan selalu menganggap bahwa agama andalah yang benar,,

    karena pastilah disemua agama ditekankan bahwa agamanya benar,,,

    hukum taurat musa diturunkan bukan untuk menghapus dosa dan kesalahan manusia, tetapi untuk menyatakan dosa itu sendiri,
    seperti halnya uu dan peraturan, adalah untuk menyatakan dan membedakan dari mana yang salah dan mana yang benar.

    tentunya orang buta ga bisa menuntun orang buta kan?

    coba kamu buka hatimu,,,
    kalau kamu memang dipilih untuk dapat menang, Tuhan pasti buka jalan dan buka fikiranmu yang picik itu…

    Balas
  46. Hamdani

    @Toga Nainggolan
    Yang promosi itu kalian kristen, melauli kristenisasinya. masak nggak sadar sih? Apa nggak pernah gaul dengan orang-orang gereja?
    makanya gaul dong, jadi tau program2 yg sedang dijalani penginjil2. capek deeh.!!!!

    @ marda
    kalau seandainya anda adalah orang yang bersalah dan akan menunggu eksekusi mati, apa yang anda akan harapkan? antara kasih atau keadilan?
    kasih yang mempu mengampuni atau keadilan yang harus di tegakkan???
    Jawabnya Ya keadilan dong!!! kasih apa? kasihan!!!

    saya selalu dan wajib menganggap Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Itu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
    Hukum yang benar adalah hukum Islam. Dan Islam adalah penyempurna bagi agama2 terdahulu yg telah kadaluarsa.
    Justru Tuhan telah membuka hati saya sehingga saya sudah tepat meimilih Islam.

    Balas
    1. arief

      wah kayanya yang namanya hamdani orgnya bego banget ya. ga bisa nyambung apa yg dikatakan org. kayanya lo ga pantes deh ikut chat dlm blok ini. aku kasihan lihat kamu ga level gitu. bahasamu terlalu rendah. malu-maluin org islam aja. sy sebagai muslim sangat malu dengan kwalitas anda. maaf saya sdh merasa berdosa dengan mengirim ini. tp ini kulakukan demi nama baik agama. Isalm benar;kristen benar;katholik benar, hindu benar,budha benar

      Balas
  47. mujahid

    wahai orang-orang yang berfikir,
    jangan takut dengan gertakan kaum kafirin karena bapak moyang mereka (iblis) sudah ada sebelum nabi adam diciptakan
    jangan ikut pusing dengan banyaknya orang-orang yang ragu, karena kaum munafik banyak berkeliaran ketika Nabi Isa a.s dan Muhammad Saw masih hidp
    jangan terbawa bodoh oleh orang yang mencari kebenaran dengan hawa nafsunya sehingga tolok ukur kebenaran adalah dirinya sendiri..
    jangan gentar oleh orang yang tidak takut Allah, karena kita sama2 akan merasakan mati, dan kita mencintai mati (akhirat) seperti mereka mencintai hidup d dunia ini
    surga mereka disini….dan surga yang sebenarnya tidak akan diisi orang2 yang kotor hati&jiwanya dengan kefasikan…
    bukankah penjara itu diperlukan dan hanya disiapkan untuk para penjahat?

    gini aja…

    loe ikut darwin atau Allah?
    kalo ikut darwin loe dan moyang loe monyet ASLI.. (kalo diperhatiin foto darwin emang mirip monyet)..

    kalo loe ikut Allah, gw mau nanya.. (ini ilmiah !)
    apa ada monyet yang beragama?
    apa ada monyet yang pake baju..
    kalo ada, pasti dipakein ama manusia..

    manusia yang bingung milih baju, apa lantas ia akan memilih berbugil seperti darwin dan keluarga monyetnya?

    memilih agama itu hal biasa, tapi setelah pilihan itu harus ada satu keptusan final yang acceptable dalam segala sisi dan sudut pandang: fisik,psikis,moral,nilai,individual,komunal,statual; dan dia harus teruji kebenaran isi dan sumbernya.

    itulah yang dinamakan agama, gabungan dari AKIDAH dan SYARI`AT, KEYAKINAN dan HUKUM, KASIH SAYANG dan HUKUMAN (bagi yang bersalah), IBADAH dan NEGARA…dan semua aspek kehidupan
    kalo agama hanya keyakinan, itu namanya candu, persis apa yang dikatakan Karl Marx, dan itu pasti bukan Islam
    kalo agama hanya KASIH, apakah pembunuh bayaran, koruptor, teroris (amerika & israel) harus diberi pujian dan hadiah?
    selain Islam tidak ada agama yang mengatur hukum dan ketatanegaraan..
    artinya selain Islam baik itu agama atau faham sekularisme/liberalisme semuanya candu…persis kata si Marx
    ayo tengok sejarah, belanda yang terkenal administrasi hukumnya paling bagus mendapat inspirasi dari Napoleon (prancis)
    dan napoleon mengirimkan utusannya untuk belajar hukum dari sarjana-sarjana islam di arab… (Asas-Asas Hukum Islam, Moh. Idris Ramulyo, SH, MH)
    kenapa Islam sangat menitikberatkan hukum dan seolah membebani ummatnya?
    ya memang harus begitu, karena “manusia” memang harus diatur
    kalo anda pecinta bola, apa bisa dibayangkan permainan bola tanpa referee dan rule of game
    pasti “gak rame”… dan banyak bintang sepakbola yang ‘baik2′ gantung sepatu atau dipenjara karena melanggar aturan FIFA….apatah lagi hidup ini????

    berikut beberapa “tips” menguji kebenaran sebuah agama/way of life:
    1. melihat latarbelakang sejarahnya bagaimana agama itu lahir; menjelaskan proses penurunan ajaran dari mulai sumber (Tuhan)-perantara/messenger-manusia/alam; pilihlah sumber yang VALID dan JUJUR dalam mencarinya, jangan minta obat dari penjual racun.
    2. dari mana agama itu berasal; sebuah produsen mobil pasti menyertakan “buku petunjuk penggunaan” bagi mobil produknya, buku petunjuk mobil Kijang Innova yang paling valid pasti dari TOYOTA,
    TUHAN pasti menyertakan BUKU PETUNJUK HIDUP bagi manusia, produknya; buku petunjuk hidup yang paling valid bagi manusia pasti jika dan hanya jika berasal dari Penciptanya-Tuhan-Allah swt. bukan dari sesama manusia apalagi setan
    3. melihat substansi ajarannya; kalau bukan candu, maka ia harus mengajarkan: cara mengenal Tuhan,kebaikan,kebenaran,keadilan,keseimbangan,arti dan tujuan kenapa ‘nyamuk’ diciptakan,hukum,aturan main,informasi gaib tentang dunia lain,fakta ilmiah,etika…dsb…dsb…dsb…
    bila itu tidak ada, berarti itu agama candu dan dogma. ingat, selain menciptakan nabi yang menerapkan sistem (agama), Allah juga menciptakan setan sebagai anti-sistem.
    4. Logis, baik dengan atau tanpa pembuktian. adalah tidak logis ketika di satu sisi mengajarkan KASIH, tapi banyak dalam “kitab suci”nya menceritakan incest, atau fakta terjadinya holocaust terhadap kaum muslimin pada masa perang salib, atau pernyataan “Tuhan kecapekan” setelah menciptakan alam semesta.
    5. berlaku universal; bukan hanya untuk sebagian bangsa/ummat/suku/orang.
    6. original dan tidak menjiplak seluruh atau sebagian dari agama yang sudah ada.
    7. menawarkan pilihan untuk berpegang atau tidak pada agama tersebut, dan penjelasan konsekuensinya.ini adalah murni tawaran dari Pemberi agama tersebut.
    8. bersifat terbuka untuk dipelajari dan relevan di setiap perkembangan jaman

    so, semua syarat sudah terpenuhi pada Islam. buat kamu yang belajar sendiri dan kepalang kebablasan musti ingat, kuliah ekonomi biar dapat gelar SE aja mesti ada dosennya, apalagi belajar agama untuk masuk sorga.
    orang yang nyata2 mati berjihad membela islam tapi karena motif selain Allah aja masuk neraka, apalagi yang meragukan agama Allah, bahkan menyamakannya dengan candu….na`udzubillah…apalagi yang diluar itu….

    Balas
  48. marda

    @ hamdani
    Silakan,,, silakan saja,,,
    tapi orang bodoh pun akan memilih untuk diampuni bukan,,, tanya hatimu donk, jangan tanya agama kamu. okey

    semoga apa yang kamu yakini bisa membawa kamu ke surga.

    Balas
  49. Szzztttt

    Suatu Hari ada malaikat,dtng ke tuhan
    dan erkata :
    “”TUHAN KENAPA NERAKA HARUS ADA ????””
    TUHAN MENJAWAB:
    “”kRNA KALO NERAKA TDK ADA MAU DIMASUKKAN KEMANA Toga Nainggolan””

    Balas
  50. toni

    Kepada seluruh umat manusia jangan menganggap dirimu paling suci tolong koreksi diri masing-masing kalau kita mempermasalahkan kepercayaan itu soal pribadi masing-masing dan saya tidak memihak siapa-siapa dan kita dihadapan Tuhan sama dan Tuhan tidak memilih-milih agama semua mahluk dia alam semesta ini ciptaan Tuhan supaya jangan terjadi seperti FPI dan AAKB di Monas

    Balas
  51. matabiru

    islam, kristen, hindu, budha ataupun atheis semua sama, krn toh semua memiliki KEYAKINAN, skrng tinggal bener ato nggak kita mengapresiasikan keyakinan itu agar tidak menggangu orang lain, keyakinan memamgn hak asasi tp justru krn hak itulah kita hrus saling menghormati

    Balas
  52. Sonic Jihad

    sudah-sudah jangan ribut yang enggak2.
    silahkan buka aj youtube.com
    pake “search: alquran vs injil”.
    dari situ kliatan, kitab siapa yang masih orisinil dan sesuai firman Allohu swt.
    amin

    Takbir
    “Allohu Akbar”

    Balas
  53. mieno

    islam VS kristen

    entahlah…tau nich orang-orang kristen pada ga sadar dah salah bukannya minta maaf eh….malah bangga dengan keslahan

    Balas
  54. Syekh adi9

    Saudara2ku.. Bumi dan alam semesta ini diciptakan tuhan dengan segala macam keindahanya. Manusia diturunkan ke dunia sebagai khalifah rahmat bagi seluruh alam, semua kebutuhan manusia sudah disiapkan didunia, kitab diturunkan tuhan sebagai pedoman hidup..

    Balas
  55. Syekh adi9

    tuhan maha berilmu mencipta alam disertai hukum sebab akibat, manusia yg terus mmpelajari brbagai bidang ilmu mncoba mncari tahu tntang dunia ini. Jauh sblum bola lampu dtemukan.. Dlm alqur’an surat anur sudah diterangkn tntng lampu dlm kaca. Subhanallah

    Balas
  56. Syekh adi9

    Bola lampu tidak akn prnah ada jika manusia tidak menciptakanya, begitu juga alam semesta ini ada karena di ciptakan tuhan yang maha agung, manusia hidup didunia agr bisa mengerti arti hidup yg sbenarny, saudara2ku mari kita saling berbagi pengetahuan..

    Balas
  57. Syekh adi9

    mari kita saling bergandengan tangan, temukan rahasia hidup ini.. Tidak lama lagi bangsa indonesia dengan penduduk
    Islam trbesar dunia menjadi negara adidaya terbesar. Kemenangan islam mnyelamatkan seluruh umat manusia dari kesesatan. Rahmatan lil alamin

    Balas
  58. Syekh adi9

    saudara2ku kristen, dalam hati kami menangisi saudara, kitab injil yg allah berikan telah direkayasa manusia yg tdk brtnggung jwb, kembalilah ke jalan yg benar allah telah menurunkan kitab alquran yg membenarkn dan menyempurnakn kitab2 sebelumya,

    Balas
  59. mieno

    BENER BANGET SYEH ADI GW SETUJU
    INJIL KAN CUMA BUKU YANG DI EDIT OLEH TANGAN-TANGAN YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB…TOLONG DONK NGERTI HAI…SAUDARA2 KU ORANG2 KRISTEN
    BERTOBAT LAH SESUNGGUHNYA ALLAH ITU MAHA PENGAMPUN

    ALLAHUAKBAR

    Balas
  60. mieno

    Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap jiwa ragamu dan Kasihilah Sesamamu seperti dirimu sendiri!. Tuhan itu Esa, Tuhan itu 3 tapi Esa Tuhan itu 100 tapi Esa itu tidak penting bung!. )BY:RIKARDO SIAHAAN)

    GW BINGUNG MA UCAPAN INI…DIMANA2 ESA ITU YANG PENTING INI KOK GA PENTING DASAR PEMIKIRAN OON NICH ORANG2 KRISTEN

    SADAR LAH LOE-LOE SEMUA SALAH COBA TELITI LAGI SEBELUM BERTINDAK

    Balas
  61. Rio

    Buat para fanatik muslim,kalian gak berhak menghujat kristen dengan cara pandang kalian,oks.kalian tuh ,sok fanatik,byk omong,no action,Cba bka pmikiran klian…byak isi2 al-quran yg brtntngan..coba kalian artiin dong al-quran jgn cma bsa bacanya aja,.gw sendiri udh bca.oks..

    Balas
    1. adli

      coba sebutkan isi alquran yang bertentangan itu kalau memang ada? dan coba teliti apakah memang bertentangan atau kita yang menentangnya karena tidak sesuai dengan nafsu kita dan tidak sesuai dengan dunia kita? dan jangan memasukkan nafsu kita dalam menjawabnya

      tahukah kau kalau alquran itu diartikan lurus sesuai bahasa manusia… alquran itu sebenarnya memiliki arti yang mencakup umum dan memiliki makna2 tersirat dan hanya orang berpikir yang bisa tahu rahasia terbesarnya. karena itu bukan bahasa manusia ke manusia tapi bahasa pencipta kepada makhluknya. alquran itu makna nya tersirat karena tuhan tahu manusia itu bisa berpikir bukan seperti hewan. kau tahu cara alquran itu turun? apakah kau berpikir alquran itu turun dalam satu buku? atau dalam lembaran2 yang telah ada tulisannya? dan kalau kau berpikir seperti itu artinya kau harus banyak belajar dan berpikir lagi kawan

      aku juga dah baca alquran dan semua artinya. untuk manusia yang mau berpikir dan tidak pakai nafsu pasti ngerti maksud tersirat allah.swt

      Balas
  62. Rio

    buat bro mieno…injil itu bukan di edit.,jgn asal cablak kl gak tau,injil itu memiliki banyak versi terjemahan, tidak akan mengubah arti,wktu dlu di Inggris prnh ada yang mengubah isi injil tapi lsg dibakar ko….aplgi di edit2,dan injil.. itu psti terjamin keasliannya 100%,lsung mngenai esa gak penting,mksudnya bro Rikardo siahaan itu,mau punya 3 ato 100 prbadi kek itu gk penting (pribadi=kuasa loh) ttpi yg penting Allah itu satu didalam nama Bapa,Anak dan roh kudus(ktiganya ini kuasa),..memang logika islam gakan pernah nympe buat nalarin ini,oks…wassalam

    Balas
    1. adli

      sebenarnya kamu pengamat kristen bukan sih? dangkal nya lagi…
      orang lain aja dah pada tau. pasti kau ga’ pernah lihat injil asli yang masih bertuliskan tulisan bani israil kan? karena injil asli sudah di lenyapkan oleh bangsa romawi dan diubah sesuai tradisi romawi, dan itu telah diakui seorang biarawati. tahukah kau teman dulu di injil babi itu diharamkan… tapi karena bertentangan dengan nafsu orang yang memeluknya di ubah jadi babi hutan yang haram… lalu diubah2 lagi dan ntah jadi apa sekarang. dan karena berbagai revisi2 makanya ada golongan protestan yang memprotes tentang kasus penebusan dosa oleh katolik. aneh ya! mau dinalar darimana nya coba yang ga bisa dinalar orang islam?
      maryam itu siapa? ibu nya tuhan? kenapa tuhan harus mulai dari bayi dulu? dan kenapa tuhan bisa mati disalib? dalam islam lebih jelas penjelasannya tentang bayi maryam itu. dia itu nabi isa.as bukan tuhan, nabi orang islam juga. kami mengakui kebenaran itu, tapi kami tau allah.swt yang menciptakannya dan bukan karena isa itu tuhan bisa lahir tanpa bapak. dan dalam injil yang asli juga diakui kebenaran bahwa setlah nabi isa akan ada lahir nabi terakhir yang bernama ahmad atau muhammad. itulah makanya islam lebih tau banyak tentang silsilah manusia. coba cari daftar silsilah dari nabi adam sampai nabi muhammad disitu kau akan tau kebenaran yang hakiki.
      dan anehnya lagi dalam injil sering disebut allah, tapi kalian tidak tau siapa itu allah. nalar kalian cuma bisa mencakup allah itu nama kuasanya. padahal allah.swt itu adalah khaliq dan isa itu adalah manusia tulen, asli manusia utusan allah.swt. dan untungnya kawan nabi isa atau yesus itu tidak mati disalib, dia selamat dari bahaya itu. seorang pengkhianat dalam kaum nabi isa atau yesus itu diubah wajah nya serupa nabi isa atau yesus, sehingga yang disalib itu adalah orang pengkhianat itu. dan nabi isa.as diselamatkan oleh allah.swt dan dia diangkat dari bumi ini. jadi siapa tuhan? dia lah allah.swt bacaannya alloh. dia itu khaliq dan dia berbeda dari makhluk seperti jin, manusia, malaikat, dll. dia itu sebuah zat yang agung dan jangan coba2 kalian terka rupanya seperti apa karena dia berbeda dari makhluk, ada waktunya setelah kiamat nanti bagi orang2 tertentu saja yang bisa melihat zat yang maha agung itu. jangan hal gaib kalian piirkan dengan berbagai logika karena dalam gaib ada sesuatu yang tak bisa kalian pecahkan dengan nalar dan logika, salah satunya adalah manusia terbuat dari tanah. itu tak kan bisa dipecahkan dengan nalar dan logika saja. itu berbeda. contoh yang lain bagaimana ruh seseorang bisa lepas dari jiwa ini sehingga ada namanya kematian

      Balas
  63. Syekh adi9

    Saudara2ku kristen.. Kitab injil adlh ptunjuk allah yg benar, ttpi injil skrg trjdi prubahan.. Kenapa kristen menyembah yesus sbgi tuhan.. Yesus adlh manusia sperti halny hamba allah yg lainya.. Yesus dlam ktb injil yg sbnarny adlah nabi isa putra maryam

    Balas
  64. Syekh adi9

    Dn ingatlah ktika allah brfirman,”whai isa putra maryam! Engkaukh yg mnjadikn kpda org2, jadikanlh aku dn ibuku sbgi dua tuhan slain allah?” nabi isa menjwab ”maha suci engkau, tdk patut bagiku mngatakn apa yg bukan haku.”

    Balas
  65. hamzah

    Kalau Anda Berpikir Tuhan Islam “ALLAH SWT”, itu maksa Manuasi Untuk Masuk Dalam Agamanya, Anda Salah Besar. Allah SWT, hanya menyuruh manusia untuk menyampaikan agama Islam Secara Baik2, bukan dengan kekerasan. Opsi Kekerasan (perang) itu diambil jika, Islam diancam Kanan-Kiri oleh Non Islam. Allah SWT berfirman ” Lakum Dinikum Waliyadiin’ “Agamamu-Agamamu, Agamaku-Agamaku” Jelas toh, Islam Tak Maksa. Kalau ada yang maksa, jelas itu tak sejalan dengan firman tadi. Peace………………..!!!

    Balas
  66. hamzah

    Udah Dech Sobat Agama Bukan untuk Diperdebatkan. Islam adalah agama Fitrah (Suci). Hanya orang yang dapat Hidayah Aja yang bakalan masuk agama ini. So Santai aja. Tapi ingat ” Tuhan tidak akan merubah dirinya menjadi Manusia untuk masuk dalam sejarah kehidupan manusia, Tuhan hanya mengatur sejarah manusia”. Yesus Kristus menyembah Tuhan, mengapa kita harus menyembah Yesus, mengapa kita tidak menyembah Tuhan Yesus. Allah SWT. Dalam Injil disebutkan saat Yesus disalib “Eli-eli La ma Sabakhtani” (Tuhanku-Tuhanku jangan tinggalkan Aku), Yesus sama sekali tidak menyebut dirinya tuhan. Pengangkatan Yesus sebagai Tuhan dilakukan oleh Kaisar Konstantin Agung pada 315 M. sebelumnya Yesus bukan Tuhan. Natal yang dikatan sebagai hari lahir yesus adalah bualan besar. 25 Desember adalah hari lahirnya Dewa Matahari ” Dewanya orang Roma” sebelum kristen masuk ke Roma. Karena Khawatir orang Rome tidak bersedia menerima Kristen, Konstantin menyatakan 25 Desember Adalah Natalnya Yesus yang Juga Dewa Matahari. Itu Sebabnya mengapa dibelakang Salib ada lingkaran. Itu adalah simbol dewa matahari. Ini Fakta, yang tidak akan diungkap oleh Kristen. Bahkan ini sudah menjadi dogma yang tidak boleh dipertanyakan. “Agama kok tidak terbuka”!!!

    Balas
  67. Jack@@

    Napa y..org muslim ska mnlai agma dg cra pndangnya,kya si hamzah itu,sok tau bgt,agama jgn dprdbatkan tp lw sndri ngjak dbat..gw udh sering dnger kment kya bgituan,kuno bgt.ttg dewa mtahari lah,itu udh sring dbhas bro,..lw aja ktngglan..Org mslim gkan prnah nemui kbnaran akan injil kl yg dilihat cma kslhan trs,liat dong kitab sci sndri sblm ngeliat KS org lain,liat orang2nya udh pd bner apa blom…dmna2 rbut mngtasnmakan agma, kwin-cerai,poligami di halalkan,Sunguh benar2 ironis skli,kl Islam itu agama Allah perilakuny tidak akan bgtu,SAdarLah Muslim..Tuhan sedang Menyadarkan engkau..sblm trlmbat

    Balas
    1. adli

      karena kami memang tahu kebenarannya. bahkan sejarah agama kristen dan sejarah dari nabi adam sampai nabi isa atau yesus kami juga udah tau.

      nah lo udah tau tapi tetap nyembah… siapa yang ketinggalan jd ny jack? itu yang bilang adalah mantan biarawati yang bapaknya pendeta yang sering membaca buku2 tentang sejarah kristen lo yang bilang. kalau mau debat yang gituan langsung aja debat sama irene, biar jelas karena ilmu nya ga setengah2 nanggung

      coba lu sebutkan kelebihan kitab injil!
      dan itu semua sudah ada di alquran karena tuhan yang menurunkan injil dengan alquran itu sama, termasuk taurat juga allah.swt lah yang menurunkannya. tapi injil yang lo pegang itu adalah karya romawi. ada gitu ceritanya kitab suci bisa diubah manusia dari babi haram diubah jadi babi hutan aja yang haram.
      poligami dihalalkan tapi tidak ada diperintahkan dalan islam dan untuk melakukannya ada syaratnya, salah satunya yaitu bersikap adil kalau ga memenuhi syarat itu maka akan ada pembalasannya, jangan anggap sepele sama poligami coi. bukan sekedar main punya istri banyak aja coi, tapi tanggung jawabnya gede coi, makanya banyak yang ga poligami karena ga sanggup adil. kenapa halal? karena allah.swt tau dengan makhluk yang diciptakannya bahkan sampai kebutuhan yang tidak disadari oleh laki2, tapi mending daripada kasus hubungan di luar nikah ga jadi masalah bagi agama lain dan selingkuh menjadi akibat berikutnya karena ga ada poligami, dan lo tau ga kalau jumlah perempuan didunia itu lebih banyak daripada laki2. baca alquran jangan setengah2 bung. baca keseluruhannya. kawin cerai itu perkara manusianya yang salah. cerai memang halal tapi itu adalah sesuatu yang dibenci allah.swt, kepana begitu? kalau lo manusia berpikir, pikir aja ndiri ya. capek gw kalau terus jelasinnya. lo kan juga manusia yang bisa berpikir sama kayak gw.
      klau hal2 yang manusianya yang salah berarti lo menilai agama orang tu rada ga ilmiah, kalau gitu gimana dengan kasus gereja yang melakukan pelecehan seksual dan gereja yang meramal2 kiamat tanggal sekian2 tapi ga terjadi gimna tu? itu kan manusianya…pasti itu juga jawabannya. aneh ya!
      yang nyuruh sunat siapa? yang nyuruh hidup bersih siapa? kalau ada orang islam yang kotor tolong tegur karena alquran udah menyuruhnya untuk bersih. jadi lo ga perlu salahin islamnya tapi salahin orangnya. kalau mau tau perintah2 agama islam yang benar jangan lihat orang2 yang buat kesalahannya tapi liat isi alquran tu biar lo tau

      kawan lo mau tau kebenaran yang hakiki? tunggu lah kematian itu datang atau coba tobat kubur biar bisa langsung lihat alam selanjutnya dan dari situ lo bakal tau kebenarannya dan ingat kata2 ini ya waktu dah ngerasainnya dan ga ada alasan lo ngatain lo ga tau mana yang bener

      Balas
  68. Jack@@

    nah…kl gtu gw jga bisa…knpa di atas mesjid ska ada blan-bntang y… umat islam tuh nyembah dewa blan-bntang loh,psti gk tau kan…mkanya setiap hari keagamaannya harus dengan brdsarkan peredaran bulan..ya kan….gw punya banyak sumber loh…enak gak klo digituin…

    Balas
    1. adli

      hahaha…asli dangkal pengetahuannya
      sumber karang ndiri jack? kalau soal tanggal 25 desember tadi lo debatin deh ma irene mantan biarawati yang bapaknya pendeta yang belajar agama kristen privat dirumah dan banyak membaca buku tentang sejarah2 agama. dia yang mengetahui kebenaran itu dan itu logis, dan tentu irene itu dia lebih tau seluk beluk kristen bahkan dari lo jack.
      jack, lebih banyak cari referensi lagi ya! biar ga karang2 ndiri arti dari bulan bintang diatas mesjid. dan itu asli dangkal penilaiannya. asli ngakak gw jack

      Balas
  69. Ping balik: Kata Mereka, Al-Qur’an (dan Alkitab) Itu tak Logis, Bahkan Menggelikan Secara Sains « Nesiaweek Interemotional Edition

  70. bon'd

    wlah….gmana bs dibilang org tu mencintai Tuhan yg g kelihatan???
    Mencintai x ada di dpn mata aja(……manusia) belum bisa……

    Balas
  71. mieno

    no action..maksud loe…
    allah itu esa dan jika manusia menyembah manusia itu sama saja dengan perbuatan OON…
    kita juga bisa kok buat tuh yang kayak gituan kenapa ga gw aja yang loe sembah..

    peace man

    wasalam

    Balas
  72. Rio

    lagi2 kata pak ustad y,denger y ini doktrin kristen:orang kristen tuh nyembah Tuhan Yang Esa,msalah Anak Allah bukan berarti Allah beranak,conthnya aja kl misalnya Anak kunci,emg knci itu brnak,kl mislnya gw blang lw anak stan bkan brarti lw anaknya setan kan?itu cma pnyebutannya aja bro,Anak Allah yang berarti Firman,Allah menyampaikan firmannya melalui Yesus yang sebagai manusia,tetapi Dia memiliki roh Allah,dan Roh kudus yang artinya Allah yang selalu memberikan roh sukacita dan kedmaian,bkannya mlaikat gabriel,he..(cupu bgt)semuanya itu Esa bro.Umat mslim trlalu byak mncmpuri doktrin itu,mnrt cra pndang Al.qran yg keliru…Lw bsa brbuat muzizat ga?dan brsaksi kl lw tuh Tuhan,dan lw sudah dinubuatkan blm di kitab suci?..,semua Nabi itu turun di Israel,karena Israel itu Bangsa pilihan Allah (al-quran mngakui)tapi knpa ya Muhammad turun diarab?apa Allah gak da krjaan X y..dia kan kan gak bsa brmuzizat,kl gitu gw tar mau jadi nabi aja dh,,,blom ada kan Nabi dari Indonesia,he..tnggal ngaku2 aja diturnin kitab di gua,dan gak perlu ada saksi lgi..cma bth 500 thn bwat diriin agma,gmpang bgt y…he..peace,wassalam

    Balas
    1. adli

      nabi musa juga ada mukjizat kenapa ga nyembah itu?
      nabi ibrahim juga, bahkan nabi muhammad juga ada. tapi klu islam yang mereka sembah yaitu yang menciptakan mereka yang mempunyai mukjizat bahkan bisa menghidupkan orang mati seperti nabi musa dan isa dia lah allah.swt.

      dari pernyataan lo aja bisa gw tangkap. allah.swt tuhan yang sesungguhnya, menyampaikan firman atau wahyu melalui malaikat jibril atau gabriel kepada nabi isa.as atau yesus yang kalian sembah itu. itu baru bisa diterima.
      kalau dari cara pandang kalian seakan2 tuhan itu punya dua sisi atau ruh nya bisa dibagi2 padahal allah.swt itu bukan ruh tapi zat yang agung dan yang ruh itu adalah makhluk seperti kita ini. ada gitu ceritanya allah.swt menyampaikan sesuatu pada dirinya yang didunia melalui jibril. yang didunia bertugas dan yang diatas bertugas juga. berarti dua donk tuhannya. dan aneh lagi kalau terjemahannya allah menyampaikan wahyu melalui allah yang ada di dunia. apa yang kalian pikirkan kawan. cobalah jadi manusia yang berpikir. darimana, kemana dan mengapanya? ayolah kawan aku aja bisa ngerti letak salahnya. kalau allah turun dari singgasananya untuk turun kebumi selama berpuluh2 tahun terus siapa yang ngatur alam semesta ini? bisa gitu dititip2kan tugasnya? trus tuhannya kenapa harus mati disalib? kalu tugasnya di bumi udah selesai kenapa ga’ balek ke singgasana lagi? coi yakin tuhan itu cowok? tu cewek jadi apa donk? atau tuhan itu bisa berubah2 bentuknya ya? aneh jadinya kan?
      coba terawang lebih baik dan benar lagi kawan

      Balas
      1. adli

        yah lagi2 dangkal
        nabi adam dimana lahirnya? lo kate di israel
        coba baca buku rahasia kekuatan yahudi deh, biar lo paham dan ga jadi hampa lagi.
        gw tau silsilah dari nabi ibrahim sampe nabi isa yang terus menerus membela bani israil tapi tetap ingkar. lo pikir tuhan mau bela kaum yang terus ingkar? pikir deh… dalam alquran ada dijelaskan kenapa harus bani israil dan seberapa ingkarnya bani israil. kebanyakan memang nabi lahir di tanah bani israil termasuk nabi isa yang lo sembah itu.
        kalau gitu lo seakan bilang yahudi itu manusia pilihan tuhan, kaum nya tuhan, trus lo jadi manusia apa?
        dalam injil asli ada diterangkan ahmad nabi terakhir yang akan lahir di tanah arab. lo coba baca buku bibel aja mengakui deh, biar paham.
        lo pikir alquran turun di goa? hahaha…
        cape’ gw ngomong nya, masih dangkal kiranya. biar waktu aja yang jawab, toh kami juga ga ada rugi ny. pokoknya ingat2 aja kata2 ini jadi ga ada alasan lo buat bilang saya dulu ga tahu kebenarannya

  73. Syeh adi9

    Saudara2ku beredarny bulan mngitari bumi kemudian bumi bersma bulan bredar mengelilingi matahari, lalu bumi bersama mtahari mengelilingi apa? Smw manusia d bumi belum tahu, btapa msih trbtasny pngetahuan kita.. shiga tdk pantas mnymbongkn pengetahuan

    Balas
  74. Syeh adi9

    Dialam smesta ini manusia tdk lbih hanya setitik noktah. Saat heningny malam mari kita renungkan betapa agungny tuhan maha pencipta, semoga tuhan membimbing kita ke jalan yg benar, batas wktu kita belajar adlh sejak lahir smpai kita mati,, kmbali pd tuhan

    Balas
  75. Syeh adi9

    serta bagi saudaraku atheis, manusia adlh ciptaan tuhan yg agung. Dan diturunkn ke bumi sbgai pemimpin semw makhluk. Jnganlah kita terlena dengan dunia yg hanya smentara, krn tempat kmbali yg kekal adlh disisi tuhan, mari kita brkenalan dngan pncipta kita

    Balas
  76. Syeh adi9

    orang yg dlm kbenaran didunia ini akn bnyak mendapat rintangan tuhan. Seperti halny seorang kekasih yg mendpat ujian cinta dri kkasihny. Saudara2ku smoga kselamatan selalu untuk kita selamanya. Mhon maaf sbsar2ny jika ada yg salah dlm perkataanku.

    Balas
  77. Syekh adi9

    ”Ashaduallailahaillallah waashaduanna muhamad rasullullah” saya bersaksi tidak ada tuhan selain allah dan muhamad adalah utusan allah,

    Balas
  78. Syekh adi9

    Allah maha pemurah, maha penyayang, maha merajai, maha suci, maha memberi keselamatan, yang memberi keamanan, yang memelihara, yang maha gagah perkasa, yang maha perkasa, yang mempunyai kebesaran, yang maha pencipta, yang melepaskan, yang memberi bentuk,

    Balas
  79. Syekh adi9

    Allah yg maha pengampun, Yg memaksa, yg maha memberi, maha pemberi rizki, pembuka pintu rahmat, yg maha mengetahui, yg menyempitkn rizki, yg melapangkn rizki, yg merendahkn derajat, yg meninggikn derajat, yg memuliakn, yg menghinakn, yg maha mendengar,

    Balas
  80. Syekh adi9

    Allah yg maha melihat, yg menetapkn hukum, yg maha adil, yg maha lemah lembut, yg maha waspada, yg maha penyantun, yg maha agung, yg maha pengampun, yg bertrimakasih, yg maha tinggi, yg maha besar, yg maha memelihara, yg memberi makan, yg maha menghitung,

    Balas
  81. Syekh adi9

    Allah yg mempunyai kebesaran, yg maha mulia, yg mengawasi, yg maha luas, yg maha bijaksana, yg maha mengasihi, yg mulia, yg membangkitkn, yg maha menyaksikn, yg maha benar, yg maha mengurusi, yg maha kuat, yg mengembalikn, yg menghidupkn, yg maha terpuji,

    Balas
  82. Manusia Kera

    wk..wk…wk…
    Gw Monyet boleh beragama nggak ?
    Gw pusing liat manusia kok bisa beragama ?
    MOnyet lebih beragama dari manusia ?
    Soalnya manusia nggak mau dikatakan MONYET

    ha…ha…ha…
    kalau monyet mau dikatakan lebih manusiawi

    hi…hi…hi…

    Balas
  83. Jemaah Islam

    Allah itu Esa…..
    Tiada Tuhan Selain Allah
    Yang Kalian sembah itu hai orang kristen adalah manusia…
    Yesus Adalah manusia….
    cam kan itu….
    Kalian Mengatakan nabi Isa yang disalib…..
    padahal yang disalib itu Tuhan Umat Kristen (Yesus)
    Masa Tuhan kalian dihakimi massa…..
    Berpikirlah secara logika….
    Patung Kok Disembah……

    Balas
  84. hamba allah

    knp umat kristen menyembah seorang manusaia y tlh di hakimi masa,
    knp umat kristen hny bs melihat saat tuhan@ di hukum
    sungguh agama y tdk masuk akal
    dsar kristen agama bego

    aku brsaksi tiada tuhan selain allah dan muhamad utusan allah

    allahu akbar

    Balas
  85. Suka Baca Debat

    Menurut saya yg netral ini… gak usahlah ribut2 apalagi memberikan jawaban ataupun pendapat yg tidak ada dasar, bukti, ataupun sumber dari kitab suci.. Nih tonton langsung acara debat islam vs kristen yg diprakarsai oleh forum ARIMATEA yg dimana forum ARIMATEA sendiri adalah forum kristen & didirikan oleh kristen..liat aja tuh namanya… Forum itu YG BERBICARA & BERDEBAT ADALAH PARA AHLI-AHLI KITAB, PROFESSOR TEOLOGI, KYAI2 PENGHAFAL AL-QURAN, MASTER2 KRISTOLOGI, PENDETA THEOLOGY, dll…Penasaran kan…
    Saya punya salah satu arsipnya berupa 3 keping VCD Debat Islam VS Kristen yg judulnya MUrtadin Vs Muallaf. Jika anda penasaran & berminat ingin menyaksikan langsung, silahkan mentransfer uang (mohon maaf krn saya pun membeli) senilai Rp. 300.000 ke
    rekening BCA an. YASSER ARAFAT SAKA
    No.Rek : 3140482268
    selanjutnya e-mail bukti transfer anda, nama & alamat lengkap anda ke avinet@ymail.com
    INGAT…SAYA INI NETRAL alias TIDAK MEMIHAK ISLAM maupun KRISTEN. Saya hny senang dg debat2 seperti ini

    Balas
  86. ikut ah

    wahhhh Allah kita sama ,tapi semua manusia telah hilang kemuliaan Allah alias berdosa jadi harus ada penebus dosa ,umat muslim juga merayakanya hanya sudah diganti versinya.jaman dahulu dosa dibayar dengan kurban seekor domba jantan yang tidak bercela(jaman sebelum Yesus).Yesus datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa karena tidak ada seorangpun yang baik lagi di dunia ini.Yesus tidak bercela itu dikatakan didalam alquran dalam surat maryam,kitab injil,dan taurat yahudi bahwa Isa Almasih dikandung oleh ROH KUDUS jadi Ia dilahirkan bukan karena hasil hubungan sex loh.jadi orang yang percaya ma Yesus tu beruntung banget karena ia yang mencari kita dan bukan kita yang mencari Allah seperti domba yang tersesat ,kemudian dicari oleh gembalanya.umat islam bisa menjadi besar itu karena ada janji Allah terhadap nabi Ibrahim bahwa keturunanmu akan menjadi bangsa yang besar,tapi yang berhak mendapatkan hak kesulungan adalah keturunan Isak bukan Ismail karena ismail yang kemudian beranak cucu dan lahir muhamad adalah anak seorang pembantu tetapi Yesus secara kedagingan dari keturunan Isak atau anak yang sah dari istri yang sah.eeeeettttttt hampir lupa nihhhhhh.orang kristen ga usah membela agama,atau Tuhan kita hanya diminta untuk menyampaikan berita keselamatan bagi orang yang belum percaya.kalau mau masuk islam sama aja rugi karena ajarannya sam dengan kitab perjanjian lama yaitu hal-hal yang masi bersifat jasmani gitu ,rugi dehhhhh

    Balas
  87. ikut ah

    ingat loh dulu penebusan dosa dengan darah anak domba jantan tapi saat ini umat islam menggantinya dengan hari kurban yatu membagi daging bagi orang miskin.weheeeheeee

    Balas
  88. ikut ah

    kalau dia tidak disalib mana mungkin manusia bisa diselamatkan .hal itu sudah dinubuatkan jauh sebelum Yesus datang ke dunia,dan Yesus berjanji Ia akan kembali lagi untuk kedua kalinya.

    Balas
  89. nimbrung ya...

    memang benar Tuhan itu tak memerlukan penolong. Tuhan juga tak pernah menyuruh cipta’anNya mencari pengikut untukNya sebanyak mungkin.
    dan aku sendiri nggak setuju dengan ucapan ateis. ateis itu hanya seorang manusia bodoh yang tak pernah tau bagaimana cara berterima kasih kepada sang pencipta. kita memang harus saling bersahabat. tapi juga jangan lepas dengan Tuhan. kita harus tetap mencari yang paling hakiki tanpa harus mencari kesalahan orang lain. tapi carilah kesalahan diri sendiri.
    yang muslim ya silahkan cari alasan kalian menyembah Allah. dan yang kristen temukan jawaban bahwa yesus emang pantas di sembah.
    dan buat ateis, yang menciptakan kalian itu bukan kalian sendiri, tapi Tuhan.
    jadi, jangan lah jadi ateis sampai kalian masuk lubang kubur.
    ateis hanya seperti pengangguran yang tak punya arah hidup.
    aku mending berteman dengan beda agama daripada ateis tapi keras kepala.
    dan aku lebih baik mendustakan sesama manusia daripada mendustakan Tuhanku sendiri.
    bukan karna Tuhanku membutuhkan aku, tapi yang sangat membutuhkan Dia.

    Balas
  90. luna maya

    he kok d padu dewe2 to?Nek pgn membuktikan kebenaran agama msg2,cobalah salah satu dari kalian {islam n kristen}mati dulu or pergi ke akhirat.Nah klo udah jelas,kasih tau qta2 yg ada di dunia y?Peace jack

    Balas
  91. syekh adi9

    “lakum dinukum waliyadin” = bagiku agamaku bagimu adalah agamamu ” semua manusia terlahir dalam keadaan suci untuk menempuh berbagai cobaan dari allah didunia ini, hari kurban merupakan hari besar umat islam, nabi ibrahim adalah hamba allah yang saleh, ditengah masyarakat yang semua menyembah patung nabi ibrahim as menolaknya krn patung tidak dapat berbuat apa2 bagi manusia, ketika malam nabi inbahim melihat bulan bgitu berkilaunya hingga mengira itu tuhan tapi ktika menjelang siang bulan hilang sehingga nabi berpikir tuhanku bukan bulan krn ia tdak kekal, siangnya nabi melihat matahari bgitu terang dan mengira itu tuhan tapi stelah surup nabi pun tidak percaya itu tuhan, malam hari nabi melihat gemerlapnya bintang2 tapi tak lama kemudian hilang nabi ibrahim yakin bukan tuhan, hingga mendapat hidayah bahwa tuhan manusia adalah pencipta bulan,matahari,bintang2,serta alam semesta dan isinya yaitu allah yang esa. suatu hari nabi ibrahim beramal ribuan unta dan berucap jangankan harta, anak pun jika diminta allah.. akan aku berikan. nabi yang brtahun2 mnikah blum mempunyai anak akhirnya dikaruniai anak satu2nya bernama nabi ismail. suatu hari nabi ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih anaknya ismail sbagai bukti janjinya dahulu.. nabi ibrahim yang sngat syang pda ismail bilang pada istrinya tapi istri yang solehah bilang jalankanlah perintah allah. kemudian nabi ibrahim bertanya pada ismail, ismail mau disembelih karena itu printah allah. maka dilaksanakan penyembelihan pada tanggal 10dulhijah(idul adha), nabi ismail berbaring siap disembelih serta ditangan nabi ibrahim sebuah pedang tajam berkilau sebelumnya dihantamkan ke sebuah batu besar hingga terbelah. bersiaplah nabi ibrahim menyembelih anaknya.. diletakan pedang menyayat leher akan tetapi dengan izin allah pedang itu tidak dapat melukai nabi ismail. begitu cintanya nabi ibrahim,istrinya hajar, anaknya nabi ismail kepada allah sehingga allah menggantikan penyembelihan nabi ismail dengan seekor kambing jantan esar dan kemudian dibagikan dagingnya kepada masyarakat, hewan kurban bukan penebus dosa tetapi simbol pengorbanan manusia kepada allah , pembagian daging kurban sebagai sarana kasih sayang antar sesama manusia. karena manusia terlahir dalam keadaan suci bukan pembawa dosa, hidup didunia ini adalah cobaan seperti halnya kita yang sering diuji kekasih untuk membuktikan cinta kita, allah maha mengatur umatnya bisa saja allah membuat manusia dalam satu umat saja tetapi allah maha tahu bagaimana kondisi yang terbaik untuk manusia sepertihalnya lima jari tangan yang punya fungsi masing2. kebenaran hanya milik allah tuhan seluruh alam.

    Balas
  92. Irvan

    Perdebatan masalah agama adalah suatu hal yang tidak pernah selesai sampai kapanpun, orang2 yang suka berdebat adalah orang2 yang memiliki pengetahuan cetek masalah kebenaran itu sendiri. kita selalu mencari perbedaan tapi kita ga pernah mencari persamaan, namun sebagai orang Kristen kalau ada yang ngajakin berdebat kenapa diladeni, toh kebenaran tetap kebenaran. Kristen adalah agama pertama sebelum Islam, ajaran2 Islam adalah saduran dari Kristen, buktinya Nabi2 di Alkitab di akui oleh ajaran Islam.namun sebagai kakak kenapa ga pernah ngalah sama adeknya, kalo tau adeknya salah ya dibetulin donk.
    tapi dari itu semua bukan benar atau salah tapi sejauh mana kita merespon kebenaran Allah itu, jangan2 kita hanya sok tau, tapi sebenarnya tidak tahu.
    ketika kebenaran itu ada dalam hatimu, seharusnya kamu jangan keraskan hatimu untuk mendapatkan keselamatan itu yang ditawarkan oleh Allah melalui Yesus Kristus (Nabi Isa)

    Perbedaan mendasar antara ajaran agama Kristen dan Islam adalah :
    Kristen : Allah yang berinisiatif sendiri mencari umat ciptaan-NYa melalui Yesus Kristus, karena tidak ada yang mampu menghampiri Allah yang maha Kudus karena semua manusia adalah berdosa.

    Islam : Manusia yang mencari sendiri Allah (menghampiri Allah) lewat amal dan ibadah, termasuk naik haji kalau mampu, karena disana dia anggap rumah Allah.

    Agama adalah hanya ajaran yang dibuat dan ajarkan oleh manusia, sementara isinya bersumber dari Allah sebagai sumber kebenaran itu sendiri. oleh sebab itu tidak ada yang namanya agama Allah, tetapi yang Allah mau bagaimana supaya ciptaan-Nya kembali kepada-Nya seperti waktu kita di ciptakan dan datang kedunia ini…

    jangan habiskan waktumu hanya untuk berdebat, tetapi tanya pada dirimu sendiri dengan jujur “Sudahkah menerima Keselamatan itu?”

    habiskanlah waktumu dengan Allah dan lakukan kebenaran itu…
    Allah itu adalah kasih, maka ciptaan-Nya juga harus memiliki kasih.

    Shalom….

    Balas
  93. qy

    orang Islam cuap2 bilang tuhannya satu, apa kamu sudah baca kamu punya koran. tuhan kamu menyebut dirinya KAMI=== berarti tuhan Islam banyak dong ( tlg baca tu koran lengkap dengan terjemahanya)

    Balas
  94. Forum

    @Qy.

    Dalam bahasa Arab, dhamir ‘nahnu’ adalah bentuk kata ganti orang pertama dalam bentuk jamak yang berarti kita atau kami. Tapi dalam ilmu nahwu, maknanya bisa saja bukan kami tetapi aku, saya dan lain-lainnya.

    Gimana ya ngejelasinnya, kepada org yg sama sekali ngga ada dasar ilmu bahasa Arab.

    Gini deh… Dalam bahasa Indonesia ada juga penggunaan kata “Kami” tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang kepala sekolah dalam pidato sambutan pesta perpisahan anak sekolah berkata,”Kami sebagai kepala sekolah berpesan . . . “. Padahal yang jadi kepala sekolah hanya dia seorang dan tidak beramai-ramai, tapi dia bilang “Kami”.

    Lalu apakah kalimat itu menunjukkan bahwa kepala sekolah sebenarnya ada banyak atau hanya satu ?. Kata kami dalam hal ini digunakan sebagai sebuah rasa bahasa dengan tujuan nilai kesopanan. Tapi rasa bahasa ini mungkin tidak bisa dicerap oleh orang asing yang tidak mengerti rasa bahasa Indonesia.

    Atau mungkin juga karena di barat tidak lazim digunakan kata-kata seperti itu.

    Kalo si Kepsek dalam bahasa Indonesia tadi menggunakannya untuk alasan kesopanan, nah, nahnu dalam bahasa Arab di Al-Qur’an justru penggambaran kehebatan dan keagungan Tuhan.

    Contoh lain, dalam bahasa Arab, kita bisa menyapa lawan bicara, yang hanya seorang diri dengan sebutan Antum. Padahal Antum itu adalah orang kedua jamak. Itu juga bentuk penghormatan, karena antum itu berarti kalian (jamak), dan untuk satu orang semestinya disebut Anta (cowok), dan Anti (cewek).

    Kalau Qy tidak bisa memahami urusan rasa bahasa ini, saya maklum saja. Toh dari awal, niat Anda pun tampaknya ingin ofensif, bukannya mau tau akar permasalahannya.

    @ Owner/admin

    Saya sering kesal bahkan sangat marah dengan ide dalam tulisan anda. Tapi saya tetap angkat jempol soal kemampuan anda menulis dan kekayaan referensi yang anda sertakan dalam setiap tulisan.

    Salam.

    Balas
  95. syekh adi9

    islam adalah perbaikan dari kitab injil yang telah dinodai umat kristen yang mengaku-ngaku sebagai kitabnya, karena injil yang dipegang umat kristen sekarang bukan yang sebenarnya.. melainkan karangan manusia bodoh seperti halnya saya tapi bedanya saya tidak mengarang kitab MELAINKAN HANYA mengarang “CERPEN”.

    Balas
  96. rha-k

    Lebih mencintai AGAMA daripada mencintai TUHAN.
    Kalimat sederhana yg setelah saya pikir2, hmmm, memiliki makna yg mendalam.. :)
    Salam kenal ya bang Toga Nainggolan, semoga selalu open mind! ;)

    Balas
  97. Bermanno love "LAKTALO"

    Buat anda semua, khususnya buat bang Nainggolan saya sangat tertarik dan menggelitik hati saya untuk berkomentar setelah mambaca komentar2 temen2 smua.
    Kebetulan saya penganut Atheis yang asalnya dari negeri kita sendiri, dan menurut saya Nilai SPIRITUAL seseorang adalah kebutuhan palin tinggi setelah kebutuhan lainnya terpenuhi, dalam ajaran LAKTALO (atheis dari tanah Rejang – Bengkulu red) yang sudah di tinggalkan orang ternyata mempunyai nilai2 lokal yang luhur dan sangat cocok untuk saya.
    Dalam ajaran ini mengajarkan hubungan manusia dengan Sang Penguasa (Tuhan), manusia dg manusia dan manusia dengan lingkungnya. Dengan kasih sayang, damai dan kesejahteraan umat bersama dimuka bumi ini. Simple but sure!

    salam damai buat semua!

    Balas
  98. Bermanno love "LAKTALO"

    Komentar saya tidak bermaksud mengajak temen2 smua ikut saya, tapi setidaknya ada muatan2 lokal dr daerah asalnya anda katakanlah dari tanah Batak, Jawa, Sulawesi, Papua dan lainnya memeiliki nilai2 luhur, mati kita gali.

    Siapa tau ada yang baik2 dan kita lestarikan, sementara yang import dari luar perlahan-lahan kita tinggalkan, bagaimanapun menggunakan produk lokal mempunyai kebanggaan sendiri dan saya yakin tidak ada benturan satu sama lain apalagi sampai bermusuhan.

    Produk lokal itu lebih unik dan exotis bro, kalo di kembangkan bisa menjadi perhatian dunia luar untuk mengetahui dan bahkan mungkin memepelajarinya, jangan kita mulu yang belajar ma orang lain… apalagi ajaran2 itu mewariskan kebencian dan permusuhan satu sama lain, ya gak sih? kasian nanti anak cucu kita, seperti sekarang, membela yang ga jelas gitu, lebih baik kita belajar bersama, membangun bersama dan bahagia bersama.

    Kebetulan saya lagi membuat buku tentang ajaran LAKTALO (= Sang Penguasa), dan doa-in saya saya bisa menyelesaikan tulisan tersebut ya.

    salam damai,

    Balas
  99. 3yoga

    hehehe ….. asyik juga ngeliat orang pada berantem, beradu argumen,dan saling caci maki,ehhhh …. aku kabur aja deh sebelum kena timpuk ……

    berarti agama belum bisa membawa perdamaian ya ? hehehe

    salam,

    Balas
  100. Kamaludin

    LAKTALO itu sebenarnya hanya sebuah budaya di DAERAH REJANG DI 4 KABUPATEN di propinsi bengkulu. Beberapa nilai-nilai dapat dijadikan pedoman hidup, tapi emang gitu semua budaya mengandung norma-norma yang dapat dijadikan panutan.

    Kamaludin.

    Balas
  101. michael

    ingat!!!

    pernakah islam mengajarkan tentang kasih terhadap sesama…?
    alquran tidak mengajarkan tentang kasih…
    apa itu kitab suci yang benar???

    sebagai contoh…
    Di islam di ajarkan berjihad…
    apa itu jihad mati demi agama? hahahaha…
    aneh yah, kalau yakin agamanya itu benar kok malah rela di bela2-in sampe mati? apalagi sampe bikin mati orang lain…(ini nih yang gk masuk akal)
    BOM SANA SINI ATAS NAMA JIHAD…. (bego amat yah nih org)

    Apakah itu yang namanya agama?
    yang mengajarka Kejahatan di balas dengan kejahatan?
    wkwkwkwkwk…. disini ajah udah salah….

    DI kristen…
    Kami di ajarkan kejahatan di balas dengan kebaikan…
    “Jika kamu di Tampar Pipi Kirimu, Beri Juga pipi kananmu untuk di tampar…”

    jelas toh… agama kami mengajarkan kasih….
    kalau kalian tidak….

    kasian banget yah, pemeluk agama islam di doktrin sebagai teroris…
    cape deh….

    Teroris adalah org2 yang iri hati… !!!

    segeralah bertobat…

    tuhan Yesus kristus menyertaimu semua…

    Balas
    1. ahmad

      sdra micheal yang terhormat,
      saudara tdk bisa membedakan teroris dan jihat ya ?… kalau begitu tolong sdr belajar dulu ya. dan setelah itu sdra Micheal juga pelajari tentang perang suci (salib) dan imprealisme penjajahan bangsa barat terhadap dunia Islam. dan sdr perlu tau bahwa tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan kekerasan dan kebencian terhadap suatu agama dan kalau ada itu orangnya(pengikutny) dalam Islam itu jelas bagimu agamu dan bagi kami agama kami dan silahkan laksanakan ajaran agama masing-masing

      Balas
  102. syekh yusuf

    Mengenai Makanan Haram

    memang kristen terlalu rakus jelas anjing,babi tidak boleh dimakan! kok dimakan !! memang rakus !!!!!!!!!!!!!!!!

    Imamat 11:7-8 Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.

    Ulangan 14:8 juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya.

    Alkitab cetakan lama 1991
    Imamat11:7-8 Demikian juga babi, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu.

    Alkitab cetakan lama tahun 1941
    Imamat 11:7-8 Dan lagi babi, karena soenggoehpon koekoenja terbelah doewa, ija itoe bersiratan koekoenja, tetapi tiada ija memamah bijak, maka haramlah ija kapadamoe. Djangan kamoe makan daripada dagingnja dan djangan poela kamoe mendjamah bangkainja, maka haramlah ija kapadamoe.

    Catatan: Menurut Alkitab babi itu haram. Kenyataanya oleh mereka bai diternak secara khusus, dipelihara, dirawat dan dijadikan sebagai bahan dagangan, dagingnya diperjualbelikan sebagai sumber penghidupan. Padahal jangankan memakannya, menyentuh tubuhnya saja dilarang dalam Alkitab.

    Semua umat Islam mengharamkan babi. Tetapi hampir semua umat Kristiani justru makan babi, kecuali sebagian kecil saja dari sekte Advent. Ini membuktikan bahwa yang ikut firman Allah dalam Alkitab tentang haramnya babi, adalah umat Islam. Sementara umat Kristiani yang menjadikan Alkitab sebagai Kitab Sucinya, justru tidak mengharamkan makan babi, bahkan babi merupakan makanan kesukaan mereka.

    Menjadi pertanyaan , mengapa umat Kristiani tidak mengharamkan makan babi, justru malah mereka menghalalkannya?? Ternyata tanpa mereka sadari , mereka tela mengikuti paham Paulus yang mengatakan bahwa segala sesuatu itu halal. Perhatikan ucapan Paulus sbb:

    1. Korintus 6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.

    Ayat-ayat dalam berbagai bahasa tersebut adalah Surat Kiriman Paulus kepada jemaatnya didaerah Korintus. Pendapat Paulus yang menghalalkan sesuatu, seperti daging babi dan lain-lain, bertolak belakang dengan firman Allah yang mengharamkan babi.

    Sebagai umat beragama yng taat, semestinya yang diikuti adalah firman Allah, bukan pendapat Paulus yang hanya manusia biasa.

    Seandainya umat Krsitiani mengikuti firman Allah tentang haramnya babi dll, dan bagaimana cara menyembelih hewan, rasanya dalam hal makanan, tidak terlalu diragukan lagi antara Islam dan Kristanbila menghadapi jamuan atau sejenisnya.
    Ada juga sebagian umat Kristiani mengatakan bahwa yang haram itu adalah “babi hutan”, jadi “babi piaraan” tidak haram. Padahal Alkitab cetakan lama tertulis “babi”, sementara Alkitab cetakan baru dirobah menjadi “babi hutan” Tentu saja yang benar yaitu “babi”, sebab semua Alkitab cetakan lama tertulis “babi”.

    Makna “ babi haram” , berarti semua babi haram, tidak boleh dimakan, termasuk babi hutan. Tetapi “babi hutan haram”, berarti semua babi boleh dimakan, kecuali babi hutan.

    Contoh: kata “dilarang merokok “ maknanya semua rokok apapun mereknya tidak boleh di hisab. Manakala dirobah menjadi “dilarang merokok bentoel”, berarti semua rokok bisa di hisab, kecuali rokok bentoel bukan? Ini membuktikan bahwa penambahan satu kata saja bisa merobah makna dan arti.

    Contoh lain “orang “ jika ditambahkan kata “hutan” akan menjadi “ orang hutan”, tentu artinya sangat jauh berbeda. Demikian juga “babi” dengan “babi hutan” pasti berbeda.

    Tetapi sebagian umat kristiani ada juga yang menjadikan alasan babi halal berdasarkan Injil Matius 15:11 sbb:

    “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk kedalam mulut yang menajiskan orang , melainkan yang keluar dari mulut yag menajiskan orang.”

    Alasan tersebut tidal rasional dan tidak kuat, sebab jika asal masuk kedalam mulut manusia tidak menajiskan, bagaimana jika yang masuk ke mulut adalah : ganja, morphin, shabu-shabu dan sejenisnya apakah jadi halal walaupun merusak tubuh, jiwa dan pikiran manusia?

    Yang namanya ganja, morphin, shabu-shabu dan sejenisnya, walaupun sebelum masuk ke mulut manusia dibacakan doa kepada Tuhan atau Yesus, tetap aja haram hukumnya.

    Nah ternyata apa-apa yang benar , yang pernah difirmankan oleh Allah dalam Alkitab seperti babi haram , diwahyukan kembali oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril kepada Nabi kita Muhammad Saw, didalam Al Qur’an. Alhamdulillah, dimanapun , siapapun dan sampai kapanpun umat Islam tetap akan mengharamkan babi. Firman Allah SWT, babi haram : Qs 2 Al Baqarah 173, Qs 5 Al Maidah 3, Qs 6 Al An’aam 145, dan Qs 16 An Nahl 115.

    Contoh: Qs 2 Al Baqarah 173
    173. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Qs An ‘aam 145
    145. Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Balas
  103. Lucifer

    buat aku yang penting hidup ga ganggu orang lain..berjalan selaras..mo islam kek,mo nasrani kek,mo hindu,budha,atheis,satanis..semua sama..kita orang berdosa…
    aku aja dah di buang dari surga ga dendam sama tuhan…lantas mengapa kalian saling menumbangkan tuhan satu sama lain dengan tulisan kalian…

    Balas
  104. HaHaHaHa

    Hahahaha, lucu kali awak lihat kalian ini semua. kalau ngomong tentang perbedaan agama mana ada sih abisnya, mendingan ikuti aja agama masing-masing, jalankan dengan bener. Pembuktian agama itu bener apa enggak kan tinggal tunggu mati aja, masuk surga atau neraka, kalau mau dibuktikan sekarang mana bisa …. sekarang berbuat yang baik aja deh untuk sesama, trus entar klo dah mati kan ketauan siapa yang masuk surga, siapa yang masuk neraka, nah yang masuk surga tuh agama nya yang bener … hehehehehe, makanya bro yang pada berdebat tandai yah siapa lawan debatnya .. ntar kalau dah mati kan ketauan siapa yang masuk surga, nah disitu baru kalian tau agama mana yang bener … hahahahaha,. Gitu aja kok repot !!!

    Balas
  105. untag jakarta

    Selamat datang di http://untag.ptkpt.net

    Program Perkuliahan Karyawan (P2K) & Beasiswa
    UNTAG – Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta – 54 th
    — TERAKREDITASI —

    Pendaftaran Mahasiswa Baru Semester Ganjil 2008/2009
    Untuk seluruh lulusan SMA/SMK, D3/Poltek/Akademi, D1, D2, dsb
    melanjutkan atau pindah jurusan ke Program Sarjana (S1).

    Gelombang I = 5 Mei – 6 Juli 2008
    Gelombang II = 7 Juli – 31 Agustus 2008
    Gelombang III = 1 – 20 September 2008

    Kuliah dimulai = Minggu, 21 September 2008

    Sesuai UU-RI No.20 Th.2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “Pendidikan Tinggi diselenggarakan dengan Sistem Terbuka”.
    Dan dipenjelasan UU-RI tsb ditulis : “Pendidikan dengan sistem terbuka adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan (multi entry-multi exit system). Peserta didik dapat belajar sambil bekerja, atau mengambil program-program pendidikan …. dst.”

    Juga sesuai dengan UUD 45 bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Sedangkan diantara warga negara terdapat sebagian masyarakat yang memiliki waktu luang terbatas (khususnya karyawan). Juga sebagian masyarakat yang memiliki dana terbatas.

    Untuk memenuhi kebutuhan tersebut UNTAG menyelenggarakan P2K-PKSM ini sekaligus melaksanakan KOMITMEN SOSIAL. Yaitu dengan memberi kesempatan kepada seluruh masyarakat lulusan SMA, SMK, D3, S1, dsb-nya; baik yang memiliki waktu luang terbatas maupun dana terbatas, untuk melanjutkan pendidikan (atau pindah jurusan) ke jenjang Sarjana (S1) pada jurusan yang diminati (silakan klik), secara layak dan bermutu sesuai keunggulan UNTAG (silakan klik).

    Tempat Kuliah di Kampus UNTAG, Jl. Sunter Permai Raya, TOL Sunter – Podomoro, Jakarta Utara, yang merupakan salah satu kampus ternyaman dengan fasilitas pendidikan tinggi dan penunjang yang lengkap. Untuk mudahnya, disini diberikan peta menuju Kampus UNTAG (silakan klik) serta Angkutan Umum menuju Kampus UNTAG (silakan klik).

    Tidak Ada Ujian Negara (sama dengan PTN).

    Biaya pendidikannya (silakan klik) disubsidi sehingga terjangkau masyarakat, juga diberikan fasilitas kredit biaya pendidikan tanpa bunga dan tanpa agunan sehingga dapat diangsur bulanan sesuai kemampuan mahasiswa. Serta diberikan beasiswa (silakan klik) bagi yang tidak mampu secara finansial.

    Lulusan Program Kuliah Sabtu Minggu UNTAG dipersiapkan menjadi Sarjana sesuai jurusannya, yang dapat mengembangkan jati dirinya dengan bekal ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, sehingga mampu menyelesaikan persoalan sekaligus mengembangkan ilmunya.

    Mahasiswa dan Lulusan Program Kuliah Sabtu Minggu UNTAG maupun Program Reguler UNTAG, mempunyai HAK AKADEMIK, GELAR, dan IJAZAH yang SAMA, serta mempunyai HAK untuk menggunakan gelarnya dan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

    Untuk mempercepat perolehan informasi, bila ingin mengcopy/print informasi secara keseluruhan tentang Program Kuliah Sabtu Minggu dan Perkuliahan Karyawan (PKSM-P2K) di UNTAG, silakan klik “Info Keseluruhan” ini, atau dapat di-klik di menu info keseluruhan di website ini (sebelah kiri).

    Bila ada hal yang kurang jelas, mohon kiranya langsung ditanyakan ke layanan info 17 jam di atas atau silakan klik “Contact Us” ini.
    Bila membutuhkan katalog/brosur lengkap, silakan mengisi di Form Permintaan Katalog di samping kiri ini, kami akan mengirimkannya via POS secara gratis.

    Melalui situs/informasi ini, mohon bantuan Bapak/Ibu/Sdr untuk sudi kiranya turut mendorong/memotivasi keluarga/sahabat/rekan kerja untuk melanjutkan/meningkatkan pendidikannya di UNTAG, baik melalui Program Kuliah Sabtu Minggu maupun melalui Program Reguler.

    Terima kasih,
    UNTAG – Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

    Balas
  106. untag

    Selamat datang di http://untag.ptkpt.net

    Program Perkuliahan Karyawan (P2K) & Beasiswa
    UNTAG – Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta – 54 th
    — TERAKREDITASI —

    Pendaftaran Mahasiswa Baru Semester Ganjil 2008/2009
    Untuk seluruh lulusan SMA/SMK, D3/Poltek/Akademi, D1, D2, dsb
    melanjutkan atau pindah jurusan ke Program Sarjana (S1).

    Gelombang I = 5 Mei – 6 Juli 2008
    Gelombang II = 7 Juli – 31 Agustus 2008
    Gelombang III = 1 – 20 September 2008

    Kuliah dimulai = Minggu, 21 September 2008

    Sesuai UU-RI No.20 Th.2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “Pendidikan Tinggi diselenggarakan dengan Sistem Terbuka”.
    Dan dipenjelasan UU-RI tsb ditulis : “Pendidikan dengan sistem terbuka adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan (multi entry-multi exit system). Peserta didik dapat belajar sambil bekerja, atau mengambil program-program pendidikan …. dst.”

    Juga sesuai dengan UUD 45 bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Sedangkan diantara warga negara terdapat sebagian masyarakat yang memiliki waktu luang terbatas (khususnya karyawan). Juga sebagian masyarakat yang memiliki dana terbatas.

    Untuk memenuhi kebutuhan tersebut UNTAG menyelenggarakan P2K-PKSM ini sekaligus melaksanakan KOMITMEN SOSIAL. Yaitu dengan memberi kesempatan kepada seluruh masyarakat lulusan SMA, SMK, D3, S1, dsb-nya; baik yang memiliki waktu luang terbatas maupun dana terbatas, untuk melanjutkan pendidikan (atau pindah jurusan) ke jenjang Sarjana (S1) pada jurusan yang diminati (silakan klik), secara layak dan bermutu sesuai keunggulan UNTAG (silakan klik).

    Tempat Kuliah di Kampus UNTAG, Jl. Sunter Permai Raya, TOL Sunter – Podomoro, Jakarta Utara, yang merupakan salah satu kampus ternyaman dengan fasilitas pendidikan tinggi dan penunjang yang lengkap. Untuk mudahnya, disini diberikan peta menuju Kampus UNTAG (silakan klik) serta Angkutan Umum menuju Kampus UNTAG (silakan klik).

    Tidak Ada Ujian Negara (sama dengan PTN).

    Biaya pendidikannya (silakan klik) disubsidi sehingga terjangkau masyarakat, juga diberikan fasilitas kredit biaya pendidikan tanpa bunga dan tanpa agunan sehingga dapat diangsur bulanan sesuai kemampuan mahasiswa. Serta diberikan beasiswa (silakan klik) bagi yang tidak mampu secara finansial.

    Lulusan Program Kuliah Sabtu Minggu UNTAG dipersiapkan menjadi Sarjana sesuai jurusannya, yang dapat mengembangkan jati dirinya dengan bekal ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, sehingga mampu menyelesaikan persoalan sekaligus mengembangkan ilmunya.

    Mahasiswa dan Lulusan Program Kuliah Sabtu Minggu UNTAG maupun Program Reguler UNTAG, mempunyai HAK AKADEMIK, GELAR, dan IJAZAH yang SAMA, serta mempunyai HAK untuk menggunakan gelarnya dan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

    Untuk mempercepat perolehan informasi, bila ingin mengcopy/print informasi secara keseluruhan tentang Program Kuliah Sabtu Minggu dan Perkuliahan Karyawan (PKSM-P2K) di UNTAG, silakan klik “Info Keseluruhan” ini, atau dapat di-klik di menu info keseluruhan di website ini (sebelah kiri).

    Bila ada hal yang kurang jelas, mohon kiranya langsung ditanyakan ke layanan info 17 jam di atas atau silakan klik “Contact Us” ini.
    Bila membutuhkan katalog/brosur lengkap, silakan mengisi di Form Permintaan Katalog di samping kiri ini, kami akan mengirimkannya via POS secara gratis.

    Melalui situs/informasi ini, mohon bantuan Bapak/Ibu/Sdr untuk sudi kiranya turut mendorong/memotivasi keluarga/sahabat/rekan kerja untuk melanjutkan/meningkatkan pendidikannya di UNTAG, baik melalui Program Kuliah Sabtu Minggu maupun melalui Program Reguler.

    Terima kasih,…
    UNTAG – Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

    Balas
  107. rajaka

    @HaHaHaHa,

    iya dah …. entar kutandai ….. tapi kalau aku mati duluan, aku cari kamu lalu aku gigit biar bisa mati bersamaan, lalu kita lihat siapa yang masuk surga …. hahahaha….

    iya ya… kok repot-repot

    Balas
  108. Dongan Naburju

    dodong on do hape tulang nenggolan on…

    nunga rittik do hape hamu tulang..holan na mangatai agama..accit ulu muse gabe sega do hangoluan..ai sude merasa tikkos…nunga bei..nunga bei ndang adong labani..

    molo merasa mardosa hita..tumagon do hita mamereng dirita majo parjolo nunga hias manang pardosa do..molo ndang dope lao ma hita tu bale partonggoani..las disi ma ta paunduk rohatta tu debata i asa unang gabe joolma na lilu hita,unang gabe jolma na marlate roha hita tu dongannta..ai tonggo2 dohot habisukon do jinalo sian debatai..
    marbada pe akka manisia di luat nadao..unang tapaihut2..ai nunga najolo hian di tikki ni padri..ro akka begu2 ro akka na jukkat ro sude na jaat tu tapanuli ,nunga sai bei..unang be adong tikki padri di tano batak di masa saonari on…nunga loja akka ompung2 manang natua2 najolo mamodai hita halak batak..tabege ma i

    molo ahu tulang..nunga dodong on hamu tulang..he..he..
    kekny memancing di air keruh ni tulang…

    ok deh salam bahagia..gw suka maen ke blog ni tulang
    damai itu indah

    Balas
  109. irvan

    gw ada tebak2an ne buat orang islam yg suci dan saleh…

    kenapa orang islam sholat pake banasa arab?
    karena allah-nya ga lulusan mata kuliah bahasa (ip-nya pas2an)

    kenapa orang islam ga makan babi?
    karena umat islam dan allah-nya babi… (masa babi makan babi)

    kenapa orang islam sujud dan sholat rame dan baris berbaris?
    karena waktu sholat, mereka makan tai orang islam di depannya…

    kenapa kalau orang islam sholat, harus teriak2 dan pasang speaker?

    karena allah-nya rada congek, maklum, udah pikun

    kenapa cwe islam pake jilbab?

    karena cwo islam dan allah-nya sendiri bisa “birahi” kalau liat cwe2 islam ga pake jilbab…

    nabi muhammad kenapa bisa meninggal?

    karena kena penyakit “raja singa/cipilis” , maklum, istrinya 1000

    kenapa islam boleh poligami,padahal wanita seluruh dunia ga setuju?

    karena cwo islam menganut paham anjing, di mana ada “lobang” mereka ga bisa menahan diri dan “melakukannya” di sembarang tempat

    kenapa orang islam harus mati untuk allah-nya?

    karena allah-nya vampire, jadi butuh darah segar, kalau kristen, Allah kita mati demi hidup kita…thanks Jesus…

    sekian tebak2annya

    mohon maaf bila ada salah kata

    Balas
    1. sayamuslim

      irvan,,, bukan islam ya,,, atheis ato nasrani,,,, Bagaimana kehidupan anda apakah berbahagia atao penuh dengan aktivitas cari uang ato bagaimana,,, boleh to kita berbagi… saya muslim….

      Balas
  110. Nesia! Penulis Tulisan

    @ Irvan.
    Wah, kebangetan komentarmu Bung… Biasanya yang kek gini bakal kuhapus. Tp kali ini kubiarkan ajalah, biar menjadi bukti, bahwa sulut api permusuhan bisa datang dari penganut agama manapun. Oiya, itu pun jika kau benar beragama Kristen, seperti kau gambarkan.

    Kau mungkin berhasil membuat hati penganut Islam luka, dengan tebak-tebakan yang sangat menghina ini. Tapi bukankah kau juga telah melukai perasaan Yesus, yang kau yakini mati untukmu, karena sedikitpun kau tak belajar dari kasih dan pengorbanannya, untuk kemudian menjadi manusia yang menjaga tutur kata, tak melukai tubuh dan perasaan orang lain, sebagaimana diajarkannya?

    Bagiku, kau malah lebih mirip dengan orang-orang yang menyalibnya; beringas, melecehkan, mengobarkan permusuhan, yup, mirip dengan para pembunuh tuhan!

    Saya yakin, pengikut sejati Kristus tak akan menulis komen semacam itu, dan berharap pengikut sejati Muhammad SAW juga tak perlu terlalu marah membacanya, karena Nabi yang dihina di atas itu pernah mengatakan, “Hendaklah engkau sabar menghadapi gangguan orang bodoh, memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadamu, dan memulihkan hubungan dengan orang yang memutuskannya denganmu”

    Balas
  111. REMON

    Gw hax mau blg atau sekedar mengingatkan

    ” YESUS BERKATA TIADA YANG DAPAT BERTEMU ALLAH TANPA MELALUI AKU ”

    dari perkataan diatas dapat kita pastikan bahwa Yesus lah jalan keselamatan bukan Muhhamad ok
    sekartang gw mau tax pernah kah muhammad menjamin pengikutnya bahwa mereka akan diselamatkan ?

    gw rasa kalian semua ga’ bisa jawab hee..hee..hee..

    Balas
  112. REMON

    bahkan seorang pemimpin FPI di daerah ……………… saja masuk kristen setelah bertemu langsung Yesus Kristus
    dia merasa senang masuk kristen katanya banyak perubahan
    klo mau lbh jlsnya tontok kasetnya di situ kalian para umat islam dapat melihat perbedaan agama kristen ma agama islam di situ juga dia menjelaskan beberapa kebohongan agama islam

    Balas
  113. DCS

    Lae Toga, kalau ada orang yang sangat puas dengan melukai hati orang lain, Mengatakan Allah itu Babi dst, dst dan dia bilang “kalau ada kata yang salah …… ( ??? ) apa tidak ada yang salah dalam hidup kita sekarang ini? Dongan naburju sampai sakit kepala membaca komentar2 umat Tuhan yang diciptakan sesuai dengan “wajahnya” accitnaiiiiiiiiiiiiiii amang. Yesus nangis diatas sana kalau itu keluar dari mulut jemaatnya.

    Umat Kristiani bilang Yesus itu Tuhan, dan Umat Islam mengatakan Yesus itu sebagai Nabi seharusnya sudah cukup membuat kita membangun manusia yang beradap, selebihnya kita serahkan kepada kehendak sang Pencipta.

    Balas
  114. DCS

    Saya penganut Kristen yang tidak begitu taat.

    Tulisan diatas sebenarnya sangat memukau dari seorang anak manusia yang mempunyai Tuhan, yang mempercayai Tuhan itu maha segalanya dan gak perlu para juru bicara atau juru kampanye dan juru2 lainnya ( tapi yang nongol malah juru2 itu … ), ditambah Tulisan Muhammad Gunawan yang sangat menawan dan komentar Jarar Siahaan yang kalaupun kontroversial ( kata orang ) yang lebih maju dari pikiran orang beragama lainnya dan mengatakan “maniak agama dan parbada muncung” Semuanya sangat menyentuh, seandainya saya bisa duduk dan berbincang2 dengan kalian berdua, indahnya dunia ini.

    Saya mau menantang maniak2 agama diatas :
    Buat Umat kristiani, Tolong khotbahi saya agar rajin kegereja karena sekarang ini, tidak ada yang perduli kalau kita tidak kegereja,Tolong ajarkan saya bagaimana seharusnya umat Kristiani berbuat dalam hidup ini.
    Buat Umat Islam :
    Tolong mualafkan saya kalau kamu bisa menunjukkan kalau itu menjamin saya bisa ketemu sang Pencipta kelak( jujur )

    Darpada kalian marbada muncung, saya menunggu.

    Balas
  115. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Thursday, November 02, 2006
    Pertanyaan Tentang Hak Kelahiran Dan Perjanjian
    Ada perselisihan keagamaan yang sangat-sangat lama antara bani Ismailiah dan Israeliah mengenai beberapa persoalan menyangkut hak kelahiran dan perjanjian. Para pembaca Alkitab (Bibel) dan Al-Qur’an mengetahui tentang kisah nabi besar Ibrahim dan kedua anaknya yang bernama Ismail dan Ishaq. Kisah tentang seruan Ibrahim dari kota Ur di Khaldea, dan kisah tentang keturunannya sampai kematian cucunya Yusuf di Mesir, tertulis dalam kitab Kejadian. Dalam silsilahnya sebagaimana terekam dalam kitab Kejadian, Ibrahim adalah keturunan ke dua puluh dari Adam, dan sejaman dengan Raja Namrud, yang membangun menara Babel yang menakjubkan.

    Kisah awal tentang Ibrahim di Ur, Khaldea, meskipun tidak disebutkan dalam Alkitab, direkam oleh sejarawan Yahudi terkenal, Joseph Flavius dalam Antiquities-nya dan juga dikonfirmasi oleh Al-Qur’an. Tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa bapak dari Ibrahim bernama Terah (Azar), adalah seorang penyembah berhala (Yoshua 24:2,14)

    Ibrahim mewujudkan kecintaan dan kesetiaannya kepada Tuhan ketika ia masuk kedalam bait Allah dan menghancurkan semua patung dan berhala yang ada didalamnya, dan dengan demikian ia adalah prototipe sejati dari keturunannya yang termasyhur, Muhammad. Ia keluar tanpa cedera dan dengan kemenangan dari tungku api yang menyala-nyala yang kedalamnya ia dilemparkan atas perintah Raja Namrud. Ia keluar tanpa cedera dari tungku api yang menyala-nyala. Dengan ketaatan dan kepasrahan mutlak terhadap seruan Ilahi, ia meninggalkan negerinya dan memulai suatu perjalanan yang panjang dan berliku ke negeri Kanaan, Mesir, dan Arabia.

    Istrinya, Sarah, mandul; namun Tuhan memberitahukan dia, bahwa dia ditakdirkan untuk menjadi bapak dari banyak bangsa, bahwa semua wilayah yang dia lintasi dalam perjalanan akan diberikan sebagai warisan kepada keturunannya, dan bahwa “ dengan benihnya semua bangsa di muka bumi akan diberkahi ”! Janji yang sangat hebat dan unik dalam sejarah agama ini diterima dengan keimanan yang tak tergoyahkan di pihak Ibrahim, yang tidak punya keturunan, tidak punya anak.

    Ketika Ia dibawa keluar untuk memandang ke langit pada malam hari dan diberi tahu oleh Allah bahwa anak cucunya akan sebanyak bintang dilangit dan sama tidak terhitungnya dengan pasir di pantai, Ibrahim mempercayai-Nya. Dan keimanannya kepada Tuhan inilah yang “terhitung sebagai kebajikan”, sebagaimana dikatakan kitab-kitab suci.

    Gadis Mesir yang miskin dan berbudi luhur, Hajar namanya, adalah seorang budak dan pelayan Sarah. Atas tawaran dan restu sang nyonya rumah, maka sang pelayanan perempuan pun dikawini oleh Nabi Ibrahim sebagaimana mestinya, dan dari perkawinan ini lahirlah Ismail, sebagaimana diramalkan oleh malaikat.

    Ketika Ismail berumur tiga belas tahun, Allah sekali lagi mendatangi Ibrahim melalui Malaikat-Nya dan wahyu; janji lama yang sama diulangi lagi kepada Ibrahim; upacara khitanan secara resmi dilembagakan dan dengan segera dilaksanakan. Ibrahim, pada usianmya yang kesembilanpuluh, Ismail, dan semua pelayan laki-laki, dikhian; dan ‘perjanjian’ antara Tuhan dan Ibrahim bersama satu-satunya anak yang dilahirkan pun dibuat dan disahkan, seakan-akan dengan darah khitan. Hal itu semacam fakta antara Surga dan Negeri yang Dijanjikan yang ditandatangani dalam diri Ismail sebagai satu-satunya keturunan dari kepala keluarga nonagenarian (orang yang berumur antara 90-99 tahun –penerj.). Ibrahim menjanjikan kesetiaan dan kepatuhan pada Penciptanya, dan Tuhan menjanjikan untuk selamanya menjadi Pelindung dan Tuhan dari keturunan Ismail.

    Belakangan –maksudnya ketika Ibrahim berusia 99 tahun dan Sarah 90 tahun- ternyata Sarah juga melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ishaq, ini sesuai dengan janji Tuhan.

    Karena tidak disampaikan urutan kronologisnya dalam Kitab Kejadian, maka kita diberitahukan bahwa setelah lahirnya Ishaq, Ismail dan ibundanya dikeluarkan dan disuruh pergi dengan cara yang sangat kejam, semata-mata karena Sarah begitu menginginkannya. Ismail dan ibundanya lenyap ditengah gurun pasir; sebuah mata air menyembur ketika sang anak nyaris menemui ajal karena kehausan; ia pun minum dan terselamatkan. Tidak ada lagi yang didengar dari Ismail dalam Kitab Kejadian selain bahwa ia mengawini seorang perempuan Mesir, dan ketika Ibrahim meninggal ia hadir bersama Ishaq untuk menguburkan bapak mereka.

    Kemudian kitab Kejadian melanjutkan kisah tentang Ishaq, dua anaknya, dan turunnya Yaqub ke Mesir, dan diakhiri kematian Yusuf.

    Peristiwa penting berikutnya dalam sejarah Ibrahim seperti terekam dalam Kitab Kejadian (22) adalah pengorbanan “anak laki-laki satu-satunya” kepada Tuhan, tetapi ia ditebus dengan seekor kambing jantan yang dipersembahkan oleh seorang malaikat. Al-Qur’an mengatakan:

    “Seseungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagi Ibrahim) (QS ash-Shaffat 37:106)

    Tetapi kecintaannya kepada Allah melebihi setiap kecintaan lainnya; dan karena alasan inilah maka ia dijuluki “Sahabat Allah” (QS.4)

    Demikianlah cerita singkat mengenai Ibrahim dalam hubungannya dengan subjek tentang Hak Kelahiran dan Perjanjian.

    Ada tiga poin berbeda-beda yang harus diterima sebagai kebenaran oleh setiap orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah:

    Poin Pertama , adalah Ismail adalah anak sah Ibrahim, anak pertamanya, dan oleh karena itu klaimnya tentang hak kelahiran sangatlah adil dan sah!

    Poin Kedua, adalah bahwa perjanjian dibuat antara Tuhan dan Ibrahim dan juga anak satu-satunya, Ismail, sebelum Ishaq lahir. Perjanjian dan kebiasaan khitan itu tidak akan punya nilai dan arti penting kalau janji yang diulang-ulang itu tidak terkandung dalam firman Tuhan, “ Melaluimu semua bangsa bumi akan diberkahi ” dan khususnya ungkapan Benih “ yang akan keluar dari mangkuk-mangkuk ia akan menjadi ahli warismu ” (Kejadian 15:4). Janji itu dipenuhi ketika Ismail lahir (kejadian 16), dan Ibrahim mendapat penghiburan bahwa pelayan utamanya Eliezer tidak akan lagi menjadi ahli warisnya.

    Konsekuensinya, kita harus mengakui bahwa Ismail adalah pewaris martabat dan hak istimewa Ibrahim yang riil dan sah. Hak prerogratif bahwa “ karena Ibrahim maka semua bangsa dibumi akan diberkahi ” begitu sering diulang-ulang–meskipun dalam bentuk-bentuk berbeda– adalah warisan karena hak kelahiran, dan merupakan warisan Ismail dari garis ayah. Warisan yang menjadi hak Ismail karena hak keturunan bukanlah tenda tempat Ibrahim bernaung atau seekor unta tertentu yang biasa ia tunggangi, tetapi hak untuk menaklukkan dan menduduki selamanya wilayah yang membentang dari sungai Nil sampai Efrat yang dihuni oleh sekitar sepuluh bangsa yang berbeda-beda (Kejadian 17:18-21). Negeri-negeri ini belum pernah ditaklukan oleh keturunan Ishaq, melainkan oleh keturunan Ismail. Inilah pemenuhan yang aktual dan sesuai dengan kenyataan terhadap salah satu syarat yang termuat dalam perjanjian.

    Poin Ketiga, adalah bahwa Ishaq juga lahir secara ajaib dan secara khusus diberkati oleh Yang Maha Kuasa, dan bahwa untuk kaumnyalah negeri Kanaan dijanjikan dan benar-benar dikuasai oleh Yoshua. Tidak seorang muslim pun pernah berpikir meremehkan kedudukan Ishaq dan anaknya Yaqub yang sakral dan profetis; karena meremehkam seorang nabi adalah sebuah tindakan buruk. Ketika kita membandingkan Ismail dan Ishaq, tidak ada yang dapat kita lakukan selain bersikap ta’zim dan hormat pada mereka berdua sebagai hamba-hamba Allah yang suci.

    Sebenarnya, bani Israel, dengan hukum dan kitab sucinya, memiliki sejarah keagamaan yang cukup unik di “dunia lama”. Mereka benar-benar umat pilihan Tuhan, meskipun mereka sering menentang Allah dan jatuh ke dalam kemusyrikan, namun mereka telah melahirkan banyak sekali nabi dan laki-laki serta perempuan yang shaleh ke dunia.

    Sejauh ini, tidak ada poin kontroversi yang riil antara bani Ismail dan bani Israel. Karena jika “keberkahan” dan “hak kelahiran” diartikan hanya semacam pemilikan materi dan kekuasaan, maka perselisihan akan diselesaikan sebagaimana telah diselesaikan dengan pedang dan fakta yang telah terjadi mengenai penguasaan Arab atas negeri-negeri yang dijanjikan.

    Tidak! Ada poin perselisihan yang fundamental diantara kedua bangsa yang sekarang eksis selama hampir empat ribu tahun; Dan bahwa yang diperselisihkan tersebut adalah mengenai perselisihan mengenai al masih dan Muhammad. Kaum Yahudi tidak melihat pemenuhan atas apa yang disebut nubuat-nubuat Mesianis dalam diri Yesus atau kalau tidak dalam diri Muhammad. Kaum Yahudi selalu cemburu terhadap Ismail, karena mereka sangat mengetahui bahwa karena dirinya maka perjanjian dibuat dan melalui pengkhitanannya maka perjanjian pun ditanda tangani dan disahkan. Dan karena dendam inilah para pendeta dan doktor hukum mereka menyelewengkan dan menyisipkan banyak bagian dalam kitab-kitab suci mereka. Menghapuskan nama Ismail dari ayat ke 2, ke 6, ke 7 dalam pasal ke 20 dalam kitab Kejadian, dan memasukkan nama Ishaq sebagai gantinya, dan meninggalkan julukan deskriptif “satu-satunya anakmu yang dilahirkan” adalah menyangkal eksistensi Ismail dan melanggar perjanjian yang dibuat oleh Allah dan Ismail. Dengan jelas dikatakan oleh Allah dalam pasal ini: “karena engkau tidak mengecualikan satu-satunya anakmu yang dilahirkan, maka Aku akan menambah dan membiakkan keturunanmu sebanyak bintang-bintang di langit dan pasir di pantai.” Kata membiakkan mana yang digunakan oleh malaikat kepada Hajar dipadang gurun: Aku akan membiakkan anak cucumu sampai tak terkira banyaknya, dan bahwa Ismail akan menjadi “ orang yang subur” (Kejadian 16:12) Sekarang umat Kristen telah menerjemahkan kata bahasa Ibrani yang sama, yang berarti “subur” atau “berlimpah” dari kata kerja “para” — identik dengan bahasa arab wefera– dalam versi-versi mereka sebagai “keledai liar”! Tidakkah memalukan dan kufur menyebut Ismail dengan sebutan “keledai liar” sedangkan Allah menyebutnya “subur” dan “berlimpah”.

    Sangat luar biasa bahwa Kristus sendiri (seperti dilaporkan oleh kitab Injil Barnabas) yang mencerca kaum Yahudi (dimana kaum Yahudi mengatakan bahwa Rasul Agung yang mereka sebut ‘Mesias’ akan turun dari generasi keturunan Raja Daud, terang-terangan memberi tahu mereka bahwa tidak mungkin ia anak Daud, karena Daud menyebut dia ‘Tuhannya’, dan selanjutnya menjelaskan bagaimana bapak-bapak mereka telah mengubah kitab-kitab suci, dan bahwa Perjanjian dibuat, tidak dengan Ishaq, tetapi dengan Ismail, yang diambil untuk diberikan sebagai pengorbanan kepada Tuhan, dan bahwa ungkapan “satu-satunya anakmu yang dilahirkan” berarti Ismail, bukan Ishaq.

    Paulus yang menganggap dirinya sebagai seorang rasul dari Yesus Kristus, menggunakan beberapa kata yang tidak sopan tentang Hajar (Galatia 6:21-23, dan ditempat lainnya) dan Ismail, dan terang-terangan menentang Gurunya. Orang ini telah melakukan segala upaya untuk merusak dan menyesatkan umat Kristen yang dulu dianiayanya sebelum ia memeluk Kristen; dan saya sangat ragu bahwa Yesus versi Paulus tidak mungkin seorang Yesus tertentu, juga anak Maria, yang digantung diatas sebuah pohon sekitar satu abad sebelum Kristus, karena pretensi-pretensi Mesianiknya.

    Sesungguhnya, surat-surat Paulus sebagaimana ditunjukkan dihadapan kita penuh dengan doktrin-doktrin yang benar-benar sangat menjijikkan bagi spirit Perjanjian Lama, dan juga spirit Nabi dari Nazaret yang rendah hati.

    Paulus adalah seorang Pharisee yang fanatik dan seorang ahli hukum dan filsafat. Setelah memeluk agama Kristen ia malah kelihatan menjadi lebih fanatik lagi dibanding sebelumnya. Kebenciannya terhadap Ismail dan klaimnya terhadap hak kelahiran membuatnya lupa dan mengabaikan hukum Musa yang melarang seorang lelaki menikahi saudara perempuannya sendiri dengan ancaman hukuman mati.

    Jika Paulus diberi wahyu oleh Tuhan, maka ia sudah dicela kitab Kejadian sebagai penuh dengan kepalsuan ketika ia mengatakan dua kali bahwa Ibrahim adalah suami dari saudara perempuannya sendiri. Atau kalau tidak, ia sudah menuduh Nabi sebagai pembohong! (Tuhan melarang.) Tetapi ia mempercayai firman-firman dalam kitab, dan kata hatinya tidak menyiksanya setidaknya ketika ia mengidentifikasikan Hajar dengan Gurun Sinai yang tandus, dan sifat-sifat Sarah sebagai Yerusalem diatas surga (Galatia 4:25-26).

    Pernahkah Paulus membaca laknat dari hukum ini:

    “Terkutuklah orang yang tidur dengan saudaranya perempuan, anak perempuan bapaknya, atau anak perempuan ibunya. Dan seluruh bangsa itu akan berkata: Amin?” (Ulangan 27:22)

    Adakah hukum manusia atau Ilahi yang menganggap lebih sah orang yang merupakan anak laki-laki dari paman dan bibinya daripada orang yang bapaknya adalah orang Khaldean dan ibunya orang Mesir? Apa engkau menentang kesucian dan keshalehan Hajar? Tentu tidak, karena ia adalah istri dari seorang nabi dan ibu dari seorang nabi, dan ia sendiri memperoleh wahyu Ilahi.

    Tuhan yang membuat perjanjian dengan Ismail karenanya menjelaskan hukum waris, yaitu jika seorang lelaki mempunyai dua istri, yaitu satu dicintai dan satunya lagi tidak dicintai, dana masing-masing melahirkan seorang anak laki-laki, dan jika anak dari istri yang tidak dicintai adalah lahir yang pertama (sulung), maka anak itu, dan bukan anak dari istri yang dicintai, berhak atas hak kelahiran (warisan). Konsekuensinya yang lahir pertama akan mewarisi dua kali dari saudaranya (Ulangan 21:15-17). Lantas, apakah hukum ini tidak cukup untuk membungkam semua orang yang menentang klaim Ismail yang pantas atas hak kelahiran (warisan sebagai anak sulung)?

    Sekarang kita membahas persoalan hak kelahiran ini sesingkat mungkin. Kita tahu bahwa Ibrahim adalah seorang kepala nomadem dan juga seorang Rasul Tuhan, dan bahwa ia biasa tinggal di tenda dan mempunyai banyak kawanan ternak dan kekayaan. Kini orang-orang suku nomadem tidak mewarisi tanah dan padang rumput, tetapi sang tokoh menyerahkan kepada masing-masing anaknya klan-klan atau suku-suku tertentu sebagai warga negara atau tanggungannya. Peraturannya, yang paling muda mewarisi tungku atau tenda orang tuanya, sedangkan yang lebih tua –kecuali kalau tidak layak– mewarisi singgasananya.

    Sang penakluk dari Mongol Jenghiz Khan, digantikan oleh Oghtai, anaknya yang paling tua, yang bertahta di Pekin sebagai Khaqan, tetapi anaknya yang paling muda tetap mendapat tungku bapaknya di Qaraqorum, Mongolia. Sama persis dengan dua anaknya nabi Ibrahim. Ishaq, yang lebih muda, mewarisi tenda bapaknya dan seperti bapaknya, menjalani kehidupan nomadem di tenda-tenda. Tetapi Ismail, dikirim ke Hijaz untuk menjaga rumah Allah yang telah dibangunnya dengan Ibrahim (Q.S.2). Di sinilah ia menetap, menjadi Nabi dan Pangeran di kalangan suku-suku Arab yang mempercayainya.

    Di Mekah, Ka’bah menjadi pusat ziarah yang disebut al Hajj . Ismail lah yang mendirikan agama satu Allah yang sejati dan melembagakan Khitanan. Anak cucunya dengan cepat bertambah dan berlipat ganda seperti bintang-bintang di langit.

    Dari masa Ismail sampai dengan lahirnya Muhammad, bangsa Arab Hijaz, Yaman, dan lain-lainnya sudah merdeka dan menjadi pemilik atas negeri-negeri mereka sendiri. Kekaisaran Romawi dan Persia tidak berdaya untuk menaklukkan bani Ismail. Meskipun kemusyrikan kemudian diperkenalkan, namun nama Allah, Ibrahim, Ismail, dan beberapa nabi lainnya tetap tidak dilupakan oleh mereka. Bahkan Esau anak Ishaq yang lebih tua, menyerahkan tungku bapaknya kepada adiknya, Yakub, dan tinggal di Edom, disana ia menjadi pemimpin kaumnya dan segera bercampur dengan suku-suku Arab keturunan Ismail, yang adalah paman sekaligus bapak mertuanya.

    Kisah tentang Esau yang menjual hak kelahirannya kepada Yakub untuk mendapat sepiring sop kental adalah muslihat busuk yang dibuat-buat untuk menjustifikasikan perlakuan buruk yang dinisbahkan kepada Ismail. Dinyatakan tanpa dibuktikan kebenarannya, bahwa Tuhan membenci Esau dan mencintai Yakub, sementara anak kembar itu masih berada dalam rahim ibunya. Dan bahwa “ saudara yang lebih tua akan menghamba kepada saudara yang lebih muda ” (Kejadian 25, Roma 11:12,13). Tetapi anehnya, laporan lain, mungkin dari sumber lain, menunjukkan kasus ini hanya sebagai kebalikan dari prediksi tersebut diatas. Karena pasal 33 dari Kitab Kejadian, dengan jelas mengakui bahwa Yakub menghamba kepada Esau, didepan siapa ia tujuh kali sujud menghormat, dengan menyebutnya “tuanku” dan menyatakan dirinya sebagai “hambamu”.

    Ibrahim dilaporkan memiliki beberapa anak lainnya dari Qitura dan para ‘selir’, kepada siapa ia memberikan hadiah atau pemberian dan mengirim mereka ke timur. Mereka semua menjadi suku-suku yang besar dan kuat. Dua belas anak Ismail disebutkan nama-namanya menurut urutannya dan dideskripsikan, masing-masing menjadi tokoh di kota dan kampung atau tentaranya (Kejadian 25). Begitu pula anak-anak dari Qitura, dan lain-lainnya, juga anak-anak keturunan Esau yang disebut nama-nama mereka.

    Ketika kita melihat jumlah keluarga Yakub pada saat pergi ke Mesir, yang hampir tidak melebihi 70 kepala, dan ketika ia ditemui oleh Esau diiringi 400 pengawal berkuda dan suku-suku Arab yang kuat yang tunduk pada 12 Emir dari keluarga Ismail, dan kemudian ketika nabi Allah terakhir memproklamirkan agama Islam, semua suku Arab itu secara bersama-sama menyambutnya dengan gembira dan menerima agamanya, dan menyerahkan semua negeri-negeri yang dijanjikan kepada anak-anak Ibrahim, sebenarnya kita harus buta agar tidak melihat bahwa perjanjian dibuat dengan Ismail dan janji teralisir dalam diri nabi Muhammad saw.

    Sebelum menyimpulkan bab ini, saya ingin menarik perhatian para pengkaji Alkitab –terutama pengkaji yang kekritisannya terhadap Alkitab lebih tinggi– pada kenyataannya bahwa nubuat-nubuat dan bagian-bagian mesianik merupakan propaganda untuk Dinasti Daud setelah kematian Raja Sulaiman ketika kerajaannya terpecah menjadi dua. Dua nabi besar Elias dan Elisha yang tumbuh subur di Kerajaan Samaria atau Israel, malah tidak menyebut nama Daud ataupun Sulaiman. Yerusalem tidak lagi menjadi pusat agama untuk sepuluh suku dan klaim-klaim kaum Daud terhadap pemerintahan yang abadi ditolak!

    Tetapi nabi-nabi seperti nabi Isyaia dan lainnya yang terikat dengan Bait Yerusalem dan Rumah Daud telah meramalkan kedatangan seorang nabi dan raja besar.

    Sebagaimana dikatakan dalam artikel pertama, terdapat beberapa tanda nyata yang menjadi pengenal dari Nabi terakhir yang akan datang. Dan tanda-tanda inilah yang akan coba kita telaah dalam uraian-uraian berikutnya.

    Balas
  116. amril

    Fren,
    Seharusnya kita bisa tamatkan saja diskusi gelap ini. Kesimpulannya;
    1. Islam adalah agama yang benar menurut umat islam yang Beriman (saja).
    2. Kristen adalah agama yang benar menurut umat kristen yang ber iman saja.

    Gak akan ada titik temu.

    Biar Sejarah yang menjawab, bahwa Islam adalah agama mayoritas di Indonesia.

    Biar Allah yang mengazab siapa yang dikhendaki, dan memberi syurga kepada siapa saja yang dikhendaki.

    Untuk mu Agamu, untuk ku Agamaku.

    Kita

    Balas
  117. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Pertanyaan Tentang Hak Kelahiran Dan Perjanjian
    Ada perselisihan keagamaan yang sangat-sangat lama antara bani Ismailiah dan Israeliah mengenai beberapa persoalan menyangkut hak kelahiran dan perjanjian. Para pembaca Alkitab (Bibel) dan Al-Qur’an mengetahui tentang kisah nabi besar Ibrahim dan kedua anaknya yang bernama Ismail dan Ishaq. Kisah tentang seruan Ibrahim dari kota Ur di Khaldea, dan kisah tentang keturunannya sampai kematian cucunya Yusuf di Mesir, tertulis dalam kitab Kejadian. Dalam silsilahnya sebagaimana terekam dalam kitab Kejadian, Ibrahim adalah keturunan ke dua puluh dari Adam, dan sejaman dengan Raja Namrud, yang membangun menara Babel yang menakjubkan.

    Kisah awal tentang Ibrahim di Ur, Khaldea, meskipun tidak disebutkan dalam Alkitab, direkam oleh sejarawan Yahudi terkenal, Joseph Flavius dalam Antiquities-nya dan juga dikonfirmasi oleh Al-Qur’an. Tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa bapak dari Ibrahim bernama Terah (Azar), adalah seorang penyembah berhala (Yoshua 24:2,14)

    Ibrahim mewujudkan kecintaan dan kesetiaannya kepada Tuhan ketika ia masuk kedalam bait Allah dan menghancurkan semua patung dan berhala yang ada didalamnya, dan dengan demikian ia adalah prototipe sejati dari keturunannya yang termasyhur, Muhammad. Ia keluar tanpa cedera dan dengan kemenangan dari tungku api yang menyala-nyala yang kedalamnya ia dilemparkan atas perintah Raja Namrud. Ia keluar tanpa cedera dari tungku api yang menyala-nyala. Dengan ketaatan dan kepasrahan mutlak terhadap seruan Ilahi, ia meninggalkan negerinya dan memulai suatu perjalanan yang panjang dan berliku ke negeri Kanaan, Mesir, dan Arabia.

    Istrinya, Sarah, mandul; namun Tuhan memberitahukan dia, bahwa dia ditakdirkan untuk menjadi bapak dari banyak bangsa, bahwa semua wilayah yang dia lintasi dalam perjalanan akan diberikan sebagai warisan kepada keturunannya, dan bahwa “ dengan benihnya semua bangsa di muka bumi akan diberkahi ”! Janji yang sangat hebat dan unik dalam sejarah agama ini diterima dengan keimanan yang tak tergoyahkan di pihak Ibrahim, yang tidak punya keturunan, tidak punya anak.

    Ketika Ia dibawa keluar untuk memandang ke langit pada malam hari dan diberi tahu oleh Allah bahwa anak cucunya akan sebanyak bintang dilangit dan sama tidak terhitungnya dengan pasir di pantai, Ibrahim mempercayai-Nya. Dan keimanannya kepada Tuhan inilah yang “terhitung sebagai kebajikan”, sebagaimana dikatakan kitab-kitab suci.

    Gadis Mesir yang miskin dan berbudi luhur, Hajar namanya, adalah seorang budak dan pelayan Sarah. Atas tawaran dan restu sang nyonya rumah, maka sang pelayanan perempuan pun dikawini oleh Nabi Ibrahim sebagaimana mestinya, dan dari perkawinan ini lahirlah Ismail, sebagaimana diramalkan oleh malaikat.

    Ketika Ismail berumur tiga belas tahun, Allah sekali lagi mendatangi Ibrahim melalui Malaikat-Nya dan wahyu; janji lama yang sama diulangi lagi kepada Ibrahim; upacara khitanan secara resmi dilembagakan dan dengan segera dilaksanakan. Ibrahim, pada usianmya yang kesembilanpuluh, Ismail, dan semua pelayan laki-laki, dikhian; dan ‘perjanjian’ antara Tuhan dan Ibrahim bersama satu-satunya anak yang dilahirkan pun dibuat dan disahkan, seakan-akan dengan darah khitan. Hal itu semacam fakta antara Surga dan Negeri yang Dijanjikan yang ditandatangani dalam diri Ismail sebagai satu-satunya keturunan dari kepala keluarga nonagenarian (orang yang berumur antara 90-99 tahun –penerj.). Ibrahim menjanjikan kesetiaan dan kepatuhan pada Penciptanya, dan Tuhan menjanjikan untuk selamanya menjadi Pelindung dan Tuhan dari keturunan Ismail.

    Belakangan –maksudnya ketika Ibrahim berusia 99 tahun dan Sarah 90 tahun- ternyata Sarah juga melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ishaq, ini sesuai dengan janji Tuhan.

    Karena tidak disampaikan urutan kronologisnya dalam Kitab Kejadian, maka kita diberitahukan bahwa setelah lahirnya Ishaq, Ismail dan ibundanya dikeluarkan dan disuruh pergi dengan cara yang sangat kejam, semata-mata karena Sarah begitu menginginkannya. Ismail dan ibundanya lenyap ditengah gurun pasir; sebuah mata air menyembur ketika sang anak nyaris menemui ajal karena kehausan; ia pun minum dan terselamatkan. Tidak ada lagi yang didengar dari Ismail dalam Kitab Kejadian selain bahwa ia mengawini seorang perempuan Mesir, dan ketika Ibrahim meninggal ia hadir bersama Ishaq untuk menguburkan bapak mereka.

    Kemudian kitab Kejadian melanjutkan kisah tentang Ishaq, dua anaknya, dan turunnya Yaqub ke Mesir, dan diakhiri kematian Yusuf.

    Peristiwa penting berikutnya dalam sejarah Ibrahim seperti terekam dalam Kitab Kejadian (22) adalah pengorbanan “anak laki-laki satu-satunya” kepada Tuhan, tetapi ia ditebus dengan seekor kambing jantan yang dipersembahkan oleh seorang malaikat. Al-Qur’an mengatakan:

    “Seseungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagi Ibrahim) (QS ash-Shaffat 37:106)

    Tetapi kecintaannya kepada Allah melebihi setiap kecintaan lainnya; dan karena alasan inilah maka ia dijuluki “Sahabat Allah” (QS.4)

    Demikianlah cerita singkat mengenai Ibrahim dalam hubungannya dengan subjek tentang Hak Kelahiran dan Perjanjian.

    Ada tiga poin berbeda-beda yang harus diterima sebagai kebenaran oleh setiap orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah:

    Poin Pertama , adalah Ismail adalah anak sah Ibrahim, anak pertamanya, dan oleh karena itu klaimnya tentang hak kelahiran sangatlah adil dan sah!

    Poin Kedua, adalah bahwa perjanjian dibuat antara Tuhan dan Ibrahim dan juga anak satu-satunya, Ismail, sebelum Ishaq lahir. Perjanjian dan kebiasaan khitan itu tidak akan punya nilai dan arti penting kalau janji yang diulang-ulang itu tidak terkandung dalam firman Tuhan, “ Melaluimu semua bangsa bumi akan diberkahi ” dan khususnya ungkapan Benih “ yang akan keluar dari mangkuk-mangkuk ia akan menjadi ahli warismu ” (Kejadian 15:4). Janji itu dipenuhi ketika Ismail lahir (kejadian 16), dan Ibrahim mendapat penghiburan bahwa pelayan utamanya Eliezer tidak akan lagi menjadi ahli warisnya.

    Konsekuensinya, kita harus mengakui bahwa Ismail adalah pewaris martabat dan hak istimewa Ibrahim yang riil dan sah. Hak prerogratif bahwa “ karena Ibrahim maka semua bangsa dibumi akan diberkahi ” begitu sering diulang-ulang–meskipun dalam bentuk-bentuk berbeda– adalah warisan karena hak kelahiran, dan merupakan warisan Ismail dari garis ayah. Warisan yang menjadi hak Ismail karena hak keturunan bukanlah tenda tempat Ibrahim bernaung atau seekor unta tertentu yang biasa ia tunggangi, tetapi hak untuk menaklukkan dan menduduki selamanya wilayah yang membentang dari sungai Nil sampai Efrat yang dihuni oleh sekitar sepuluh bangsa yang berbeda-beda (Kejadian 17:18-21). Negeri-negeri ini belum pernah ditaklukan oleh keturunan Ishaq, melainkan oleh keturunan Ismail. Inilah pemenuhan yang aktual dan sesuai dengan kenyataan terhadap salah satu syarat yang termuat dalam perjanjian.

    Poin Ketiga, adalah bahwa Ishaq juga lahir secara ajaib dan secara khusus diberkati oleh Yang Maha Kuasa, dan bahwa untuk kaumnyalah negeri Kanaan dijanjikan dan benar-benar dikuasai oleh Yoshua. Tidak seorang muslim pun pernah berpikir meremehkan kedudukan Ishaq dan anaknya Yaqub yang sakral dan profetis; karena meremehkam seorang nabi adalah sebuah tindakan buruk. Ketika kita membandingkan Ismail dan Ishaq, tidak ada yang dapat kita lakukan selain bersikap ta’zim dan hormat pada mereka berdua sebagai hamba-hamba Allah yang suci.

    Sebenarnya, bani Israel, dengan hukum dan kitab sucinya, memiliki sejarah keagamaan yang cukup unik di “dunia lama”. Mereka benar-benar umat pilihan Tuhan, meskipun mereka sering menentang Allah dan jatuh ke dalam kemusyrikan, namun mereka telah melahirkan banyak sekali nabi dan laki-laki serta perempuan yang shaleh ke dunia.

    Sejauh ini, tidak ada poin kontroversi yang riil antara bani Ismail dan bani Israel. Karena jika “keberkahan” dan “hak kelahiran” diartikan hanya semacam pemilikan materi dan kekuasaan, maka perselisihan akan diselesaikan sebagaimana telah diselesaikan dengan pedang dan fakta yang telah terjadi mengenai penguasaan Arab atas negeri-negeri yang dijanjikan.

    Tidak! Ada poin perselisihan yang fundamental diantara kedua bangsa yang sekarang eksis selama hampir empat ribu tahun; Dan bahwa yang diperselisihkan tersebut adalah mengenai perselisihan mengenai al masih dan Muhammad. Kaum Yahudi tidak melihat pemenuhan atas apa yang disebut nubuat-nubuat Mesianis dalam diri Yesus atau kalau tidak dalam diri Muhammad. Kaum Yahudi selalu cemburu terhadap Ismail, karena mereka sangat mengetahui bahwa karena dirinya maka perjanjian dibuat dan melalui pengkhitanannya maka perjanjian pun ditanda tangani dan disahkan. Dan karena dendam inilah para pendeta dan doktor hukum mereka menyelewengkan dan menyisipkan banyak bagian dalam kitab-kitab suci mereka. Menghapuskan nama Ismail dari ayat ke 2, ke 6, ke 7 dalam pasal ke 20 dalam kitab Kejadian, dan memasukkan nama Ishaq sebagai gantinya, dan meninggalkan julukan deskriptif “satu-satunya anakmu yang dilahirkan” adalah menyangkal eksistensi Ismail dan melanggar perjanjian yang dibuat oleh Allah dan Ismail. Dengan jelas dikatakan oleh Allah dalam pasal ini: “karena engkau tidak mengecualikan satu-satunya anakmu yang dilahirkan, maka Aku akan menambah dan membiakkan keturunanmu sebanyak bintang-bintang di langit dan pasir di pantai.” Kata membiakkan mana yang digunakan oleh malaikat kepada Hajar dipadang gurun: Aku akan membiakkan anak cucumu sampai tak terkira banyaknya, dan bahwa Ismail akan menjadi “ orang yang subur” (Kejadian 16:12) Sekarang umat Kristen telah menerjemahkan kata bahasa Ibrani yang sama, yang berarti “subur” atau “berlimpah” dari kata kerja “para” — identik dengan bahasa arab wefera– dalam versi-versi mereka sebagai “keledai liar”! Tidakkah memalukan dan kufur menyebut Ismail dengan sebutan “keledai liar” sedangkan Allah menyebutnya “subur” dan “berlimpah”.

    Sangat luar biasa bahwa Kristus sendiri (seperti dilaporkan oleh kitab Injil Barnabas) yang mencerca kaum Yahudi (dimana kaum Yahudi mengatakan bahwa Rasul Agung yang mereka sebut ‘Mesias’ akan turun dari generasi keturunan Raja Daud, terang-terangan memberi tahu mereka bahwa tidak mungkin ia anak Daud, karena Daud menyebut dia ‘Tuhannya’, dan selanjutnya menjelaskan bagaimana bapak-bapak mereka telah mengubah kitab-kitab suci, dan bahwa Perjanjian dibuat, tidak dengan Ishaq, tetapi dengan Ismail, yang diambil untuk diberikan sebagai pengorbanan kepada Tuhan, dan bahwa ungkapan “satu-satunya anakmu yang dilahirkan” berarti Ismail, bukan Ishaq.

    Paulus yang menganggap dirinya sebagai seorang rasul dari Yesus Kristus, menggunakan beberapa kata yang tidak sopan tentang Hajar (Galatia 6:21-23, dan ditempat lainnya) dan Ismail, dan terang-terangan menentang Gurunya. Orang ini telah melakukan segala upaya untuk merusak dan menyesatkan umat Kristen yang dulu dianiayanya sebelum ia memeluk Kristen; dan saya sangat ragu bahwa Yesus versi Paulus tidak mungkin seorang Yesus tertentu, juga anak Maria, yang digantung diatas sebuah pohon sekitar satu abad sebelum Kristus, karena pretensi-pretensi Mesianiknya.

    Sesungguhnya, surat-surat Paulus sebagaimana ditunjukkan dihadapan kita penuh dengan doktrin-doktrin yang benar-benar sangat menjijikkan bagi spirit Perjanjian Lama, dan juga spirit Nabi dari Nazaret yang rendah hati.

    Paulus adalah seorang Pharisee yang fanatik dan seorang ahli hukum dan filsafat. Setelah memeluk agama Kristen ia malah kelihatan menjadi lebih fanatik lagi dibanding sebelumnya. Kebenciannya terhadap Ismail dan klaimnya terhadap hak kelahiran membuatnya lupa dan mengabaikan hukum Musa yang melarang seorang lelaki menikahi saudara perempuannya sendiri dengan ancaman hukuman mati.

    Jika Paulus diberi wahyu oleh Tuhan, maka ia sudah dicela kitab Kejadian sebagai penuh dengan kepalsuan ketika ia mengatakan dua kali bahwa Ibrahim adalah suami dari saudara perempuannya sendiri. Atau kalau tidak, ia sudah menuduh Nabi sebagai pembohong! (Tuhan melarang.) Tetapi ia mempercayai firman-firman dalam kitab, dan kata hatinya tidak menyiksanya setidaknya ketika ia mengidentifikasikan Hajar dengan Gurun Sinai yang tandus, dan sifat-sifat Sarah sebagai Yerusalem diatas surga (Galatia 4:25-26).

    Pernahkah Paulus membaca laknat dari hukum ini:

    “Terkutuklah orang yang tidur dengan saudaranya perempuan, anak perempuan bapaknya, atau anak perempuan ibunya. Dan seluruh bangsa itu akan berkata: Amin?” (Ulangan 27:22)

    Adakah hukum manusia atau Ilahi yang menganggap lebih sah orang yang merupakan anak laki-laki dari paman dan bibinya daripada orang yang bapaknya adalah orang Khaldean dan ibunya orang Mesir? Apa engkau menentang kesucian dan keshalehan Hajar? Tentu tidak, karena ia adalah istri dari seorang nabi dan ibu dari seorang nabi, dan ia sendiri memperoleh wahyu Ilahi.

    Tuhan yang membuat perjanjian dengan Ismail karenanya menjelaskan hukum waris, yaitu jika seorang lelaki mempunyai dua istri, yaitu satu dicintai dan satunya lagi tidak dicintai, dana masing-masing melahirkan seorang anak laki-laki, dan jika anak dari istri yang tidak dicintai adalah lahir yang pertama (sulung), maka anak itu, dan bukan anak dari istri yang dicintai, berhak atas hak kelahiran (warisan). Konsekuensinya yang lahir pertama akan mewarisi dua kali dari saudaranya (Ulangan 21:15-17). Lantas, apakah hukum ini tidak cukup untuk membungkam semua orang yang menentang klaim Ismail yang pantas atas hak kelahiran (warisan sebagai anak sulung)?

    Sekarang kita membahas persoalan hak kelahiran ini sesingkat mungkin. Kita tahu bahwa Ibrahim adalah seorang kepala nomadem dan juga seorang Rasul Tuhan, dan bahwa ia biasa tinggal di tenda dan mempunyai banyak kawanan ternak dan kekayaan. Kini orang-orang suku nomadem tidak mewarisi tanah dan padang rumput, tetapi sang tokoh menyerahkan kepada masing-masing anaknya klan-klan atau suku-suku tertentu sebagai warga negara atau tanggungannya. Peraturannya, yang paling muda mewarisi tungku atau tenda orang tuanya, sedangkan yang lebih tua –kecuali kalau tidak layak– mewarisi singgasananya.

    Sang penakluk dari Mongol Jenghiz Khan, digantikan oleh Oghtai, anaknya yang paling tua, yang bertahta di Pekin sebagai Khaqan, tetapi anaknya yang paling muda tetap mendapat tungku bapaknya di Qaraqorum, Mongolia. Sama persis dengan dua anaknya nabi Ibrahim. Ishaq, yang lebih muda, mewarisi tenda bapaknya dan seperti bapaknya, menjalani kehidupan nomadem di tenda-tenda. Tetapi Ismail, dikirim ke Hijaz untuk menjaga rumah Allah yang telah dibangunnya dengan Ibrahim (Q.S.2). Di sinilah ia menetap, menjadi Nabi dan Pangeran di kalangan suku-suku Arab yang mempercayainya.

    Di Mekah, Ka’bah menjadi pusat ziarah yang disebut al Hajj . Ismail lah yang mendirikan agama satu Allah yang sejati dan melembagakan Khitanan. Anak cucunya dengan cepat bertambah dan berlipat ganda seperti bintang-bintang di langit.

    Dari masa Ismail sampai dengan lahirnya Muhammad, bangsa Arab Hijaz, Yaman, dan lain-lainnya sudah merdeka dan menjadi pemilik atas negeri-negeri mereka sendiri. Kekaisaran Romawi dan Persia tidak berdaya untuk menaklukkan bani Ismail. Meskipun kemusyrikan kemudian diperkenalkan, namun nama Allah, Ibrahim, Ismail, dan beberapa nabi lainnya tetap tidak dilupakan oleh mereka. Bahkan Esau anak Ishaq yang lebih tua, menyerahkan tungku bapaknya kepada adiknya, Yakub, dan tinggal di Edom, disana ia menjadi pemimpin kaumnya dan segera bercampur dengan suku-suku Arab keturunan Ismail, yang adalah paman sekaligus bapak mertuanya.

    Kisah tentang Esau yang menjual hak kelahirannya kepada Yakub untuk mendapat sepiring sop kental adalah muslihat busuk yang dibuat-buat untuk menjustifikasikan perlakuan buruk yang dinisbahkan kepada Ismail. Dinyatakan tanpa dibuktikan kebenarannya, bahwa Tuhan membenci Esau dan mencintai Yakub, sementara anak kembar itu masih berada dalam rahim ibunya. Dan bahwa “ saudara yang lebih tua akan menghamba kepada saudara yang lebih muda ” (Kejadian 25, Roma 11:12,13). Tetapi anehnya, laporan lain, mungkin dari sumber lain, menunjukkan kasus ini hanya sebagai kebalikan dari prediksi tersebut diatas. Karena pasal 33 dari Kitab Kejadian, dengan jelas mengakui bahwa Yakub menghamba kepada Esau, didepan siapa ia tujuh kali sujud menghormat, dengan menyebutnya “tuanku” dan menyatakan dirinya sebagai “hambamu”.

    Ibrahim dilaporkan memiliki beberapa anak lainnya dari Qitura dan para ‘selir’, kepada siapa ia memberikan hadiah atau pemberian dan mengirim mereka ke timur. Mereka semua menjadi suku-suku yang besar dan kuat. Dua belas anak Ismail disebutkan nama-namanya menurut urutannya dan dideskripsikan, masing-masing menjadi tokoh di kota dan kampung atau tentaranya (Kejadian 25). Begitu pula anak-anak dari Qitura, dan lain-lainnya, juga anak-anak keturunan Esau yang disebut nama-nama mereka.

    Ketika kita melihat jumlah keluarga Yakub pada saat pergi ke Mesir, yang hampir tidak melebihi 70 kepala, dan ketika ia ditemui oleh Esau diiringi 400 pengawal berkuda dan suku-suku Arab yang kuat yang tunduk pada 12 Emir dari keluarga Ismail, dan kemudian ketika nabi Allah terakhir memproklamirkan agama Islam, semua suku Arab itu secara bersama-sama menyambutnya dengan gembira dan menerima agamanya, dan menyerahkan semua negeri-negeri yang dijanjikan kepada anak-anak Ibrahim, sebenarnya kita harus buta agar tidak melihat bahwa perjanjian dibuat dengan Ismail dan janji teralisir dalam diri nabi Muhammad saw.

    Sebelum menyimpulkan bab ini, saya ingin menarik perhatian para pengkaji Alkitab –terutama pengkaji yang kekritisannya terhadap Alkitab lebih tinggi– pada kenyataannya bahwa nubuat-nubuat dan bagian-bagian mesianik merupakan propaganda untuk Dinasti Daud setelah kematian Raja Sulaiman ketika kerajaannya terpecah menjadi dua. Dua nabi besar Elias dan Elisha yang tumbuh subur di Kerajaan Samaria atau Israel, malah tidak menyebut nama Daud ataupun Sulaiman. Yerusalem tidak lagi menjadi pusat agama untuk sepuluh suku dan klaim-klaim kaum Daud terhadap pemerintahan yang abadi ditolak!

    Tetapi nabi-nabi seperti nabi Isyaia dan lainnya yang terikat dengan Bait Yerusalem dan Rumah Daud telah meramalkan kedatangan seorang nabi dan raja besar.

    Sebagaimana dikatakan dalam artikel pertama, terdapat beberapa tanda nyata yang menjadi pengenal dari Nabi terakhir yang akan datang. Dan tanda-tanda inilah yang akan coba kita telaah dalam uraian-uraian berikutnya.

    Balas
  118. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Misteri Mispa
    Dalam uraian ini, sebagaimana judulnya, saya akan mencoba memberikan suatu penjelasan tentang Stone-Cult (pemujaan batu) bangsa Yahudi kuno, yang mereka warisi dari Ibrahim, nenek moyang mereka, dan menunjukkan bahwa Stone Cult dilembagakan di Mekkah oleh Patriarch (bapak para nabi) itu dan anaknya Ismail. Di negeri Kanaan oleh Ishaq dan Yakub, dan di Moab dan tempat lainnya oleh anak cucu Ibrahim lainnya.

    Dengan istilah Stone-Cult perlu dipahami dulu, maksud saya bukan penyembahan batu, yakni kemusyrikan (pemujaan kepada berhalaa); saya mengartikannya sebagai penyembahan Tuhan melalaui batu yang secara khusus dijadikan arah yang dimaksudkan untuk tujuan itu.

    Pada jaman dahulu kala tersebut, ketika keluarga pilihan itu menjalani kehidupan nomadem dan menggembala, tidak ada tempat tinggal yang tetap dimana ia dapat membangun rumah, yang khusus dipakai untuk menyembah Tuhan; mereka biasa menegakkan sebuah batu tertentu yang disekelilingnya digunakan untuk melaksanakan haji, maksudnya, berputar tujuh kali dalam bentuk gelang menari.

    Kata Hajj (haji) bisa menakuti para pembaca Kristen dan mereka mungkin ciut dengan pemandangannya disebabkan oleh bentuk bahasa Arabnya dan karena sekarang, ia merupakan pelaksanaan ibadah keagamaan kaum Muslim.

    Kata Hajj benar-benar identik dalam makna dan etimologinya dengan kata yang sama dalam bahasa Ibrani Hagag dan bahasa semit lainnya. Kata kerja Ibrani Hagag sama dengan kata Arab Haji , satu-satunya perbedaan adalah pengucapan huruf ketiga dari alfabet bahasa semit gamal , yang diucapkan orang Arab sebagai j . Hukum Musa menggunakan kata Hagag atau Haghagh ini,6 ketika memerintahkan pelaksanaan upacara perayaannya. Kata tersebut berarti melingkari sebuah gedung, sebuah altar atau sebuah batu dengan cara berlari mengelilinginya dengan langkah yang tetap dan teratur dengan tujuan melaksanakan perayaan keagamaan sambil bergembira dan bernyanyi.

    Di Timur, kaum Kristen masih mempraktekkan apa yang mereka sebut higga selama haru-hari raya atau dalam perkawinan. Konsekuensinya, kata ini tidak ada hubungannya dengan ziarah, yang berasal dari bahasa Itali pellegrino, dan ini pun dari bahasa Latin peregrinus–artinya ‘orang asing’.

    Selama persinggahannya, Ibrahim biasa membangun sebuah altar untuk ibadah dan korban ditempat-tempat yang berbeda dan pada kesempatan-kesempatan tertentu. Ketika Yakub sedang dalam perjalanan ke Padan Aram dan melihat pemandangan tangga yang indah itu, ia menegakkan sebuah batu disana, yang diatasnya ia taburi dengan minyak dan menyebutnya Betel, yaitu ‘rumah Tuhan'; dan dua puluh tahun kemudian ia kembali mengunjungi batu itu, yang diatasnya ia taburkan minyak dan ‘anggur murni’ [!] sebagaimana tercatat dalam Kejadian 28:10-22;35.

    Sebuah batu khusus ditancapkan sebagai monumen oleh Yaqub dan bapak mertuanya diatas tumpukan batu yang disebut Gal’ead dalam bahasa Ibrani, dan Yaghar sahdutha oleh Laban dalam bahasa Aramianya yang berarti ‘tumpukan kesaksian’. Tetapi, kata benda nama diri yang mereka berikan pada batu yang ditancapkan itu adalah Mispa (Kejadian 31:45-55), dan saya lebih suka untuk menuliskannya dalam bentuk bahasa Arab yang tepat, Mispha , dan hal ini saya lakukan agar bermanfaat untuk para pembaca Muslim saya.

    Kini Mispha (Mizpa) ini kemudian menjadi tempat ibadah yang paling penting, dan pusat berkumpulnya bangsa-bangsa dalam sejarah Bani Israil. Disinilah Naphthah (Yefta) – seorang pahlawan Yahudi – bersumpah “dihadapan Tuhan”, dan setelah mengalahkan Bani Amon, ia diharuskan mengorbankan saudara perempuan satu-satunya sebagai sajian yang dibakar (Hakim 11).

    Di Mispha semua orang dikumpulkan oleh Nabi Samuel, dimana mereka “bersumpah dihadapan Tuhan” untuk menghancurkan semua patung dan berhala mereka dan kemudian diselamatkan dari tangan orang-orang Filistin (1 1 Samuel 7). Disinilah bangsa itu berkumpul dan Saul ditetapkan sebagai raja atas Bani Israil (1 Samuel 10).

    Singkatnya, setiap peristiwa besar nasional diputuskan di Mispha ini atau di Betel. Kelihatan bahwa tempat-tempat suci ini dibangun diatas tempat yang tinggi atau diatas panggung yang ditinggikan, sering disebut Ramoth , yang berarti “tempat tinggi.” Bahkan setelah pembangunan Bait Sulaiman yang indah pun, Mispha tetap diberikan penghormatan yang besar. Namun, seperti Ka’bah di Mekkah, Mispha-mispha ini sering diisi dengan patung-patung dan berhala. Setelah penghancuran Yerusalem dan Bait Allah oleh Bangsa Khaldea, Mispha masih mempertahankan watak sakralnya paling tidak hingga zaman Maccabees selama pemerintahan Raja Antiochus.7

    Sekarang, apa artinya kata Mispa ? Pada umumnya kata ini diterjemahkan sebagai “menara pengawas”, dan tergolong kata benda Semitik – Asma Zarf – yang namanya diambil atau berasal dari benda yang mereka cakup atau kandung. Mispa adalah tempat atau bangunan yang namanya berasal dari sapha , kata kuno untuk “batu”. Kata biasa untuk batu dalam bahasa Ibrani adalah iben , dan dalam bahasa Arab hajar . Bahasa Syriac (bahasa Arami kuno yang dipakai oleh orang-orang Syria – penerj ) untuk batu adalah kipa . Tetapi safa atau sapha nampaknya lazim mereka gunakan untuk suatu objek atau orang tertentu ketika ditunjuk sebagai “batu”. Karena itu, makna sebenarnya dari Mispa adalah lokasi atau tempat dimana sebuah sapha atau batu dipasang.

    Akan diketahui bahwa ketika nama ini, Mispa , untuk pertama kali diberikan kepada batu yang dipancang diatas tumpukan batu, maka tidak ada bangunan yang didirikan disekelilingnya. Itulah tempat diatas mana sebuah sapha berada, yang disebut mispa .

    Sebelum menjelaskan pengertian dari kata benda sapha , saya harus meminta lagi kesabaran para pembaca yang tidak mengerti bahasa Ibrani. Dalam alfabet bahasa Arab tidak ada bunyi p persis sebagaimana bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa Semit lainnya, dimana huruf p , seperti g , kadang-kadang lemah dan diucapkan seperti f atau ph . Dalam bahasa Inggris, biasanya, kata-kata Semitik dan Yunani yang mengandung bunyi f ditransliterasikan dan ditulis dengan sisipan ‘ph’ sebagai ganti ‘f’ , misanya Seraph, Mustapha, dan Philosophy . Sesuai dengan kaidah ini, saya lebih suka menuliskan kata sapha ini dengan safa .

    Ketika Yesus Kristus menjuluki murid pertamanya Shim’on (Simon) dengan gelar ‘Petros’ (Peter), sudah pasti yang ia maksud adalah Sapha kuno yang sakral ini yang telah hilang lama! Tetapi, aduh! Kita benar-benar tidak dapat mengemukakan kata yang persis sama yang dia ungkapkan dalam bahasanya sendiri. Bentuk bahasa Yunani Petros dalam jenis kelamin laki-laki (maskulin) – feminimnya Petra – sama sekali tidak kuno dan bukan bahasa Yunani, sehingga kita heran kata tersebut diadopsi oleh gereja.

    Apakah Yesus dan orang-orang Yahudi lainnya pernah bermimpi menyebut nelayan Bar Yona sebagai Petros ? Pasti tidak. Versi Syriac yang disebut Pshittha sering mengubah bentuk bahasa Yunani ini menjadi Kipha (Kipa) . Dan fakta bahwa teks Yunani pun telah mempertahankan nama asli “Kephas” yang versi-versi Inggrisnya telah meniru dalam bentuk “Cephas”, menunjukkan bahwa Yesus berbicara bahasa Arami dan memberikan julukan “Kipha” kepada murid utamanya.

    Versi-versi Arab kuno Perjanjian Lama sudah sering menuliskan nama Petrus dengan “Sham’un’ as-Sapha”; artinya, “Simon si Batu”. Ucapan Yesus: “Engkau adalah Petrus”, dan sebagainya, mempunyai padanan dalam versi bahasa Arab dalam bentuk “Antas-Sapha” (Matius 16:18; Yohanes 1:42; dan sebagainya).

    Oleh karena itu, konsekuensinya jika Simon sebagai sang Sapha , maka gereja yang akan dibangun diatasnya pasti menjadi Mispha . Bahwa Yesus harus menyamakan Simon dengan Sapha dan gereja dengan Mispha sangatlah luar biasa. Tetapi, ketika saya membongkar misteri yang tersembunyi dalam persamaan ini dan hikmah yang terkandung dalam Sapha , maka kata itu mesti diterima sebagai kebenaran yang sangat mengagumkan tentang kelayakan Muhammad atas gelarnya yang agung: “Sang Mustapha”!

    Dari apa yang telah dinyatakan diatas, keingintahuan pasti membawa kita untuk mengajukan beberapa pertanyaan:

    Mengapa kaum Muslim dan Unitarian (Ahlutauhid) keturunan Ibrahim memilih sebuah batu untuk melaksanakan ibadah keagamaan mereka diatas atau disekelilingnya?

    Mengapa batu khusus itu harus diberi nama sapha ?

    Apa yang diinginkan penulis? Dan seterusnya–barangkali beberapa lagi

    Batu dipilih sebagai material yang paling tepat dimana orang yang taat (pada agamanya) berjalan mengelilinginya, memberikan (ibadah) korbannya, menuangkan minyak dan anggur 8 murninya, dan melaksanakan ibadahnya disekeliling batu. Tentunya lebih dari itu, batu ini ditegakkan untuk memperingati sumpah-sumpah dan janji-janji tertentu yang dibuat oleh seorang nabi atau orang shaleh kepada Penciptanya, dan wahyu yang ia terima dari Tuhan. Konsekuensinya, ia merupakan monumen suci untuk mengabadikan kenangan dan tokoh suci dari suatu peristiwa besar keagamaan.

    Untuk tujuan seperti itu, maka tidak ada material lain yang mampu mengungguli batu. Bukan hanya kekerasan dan daya tahan batu yang membuatnya cocok untuk tujuan tersebut, tetapi juga kesederhanaannya, kemurahannya, dan ketidakberhargaannya di suatu tempat yang sepi, akan melindunginya dari setiap daya tarik yang menimbulkan ketamakan atau kebencian manusia untuk mencuri atau menghancurkannya.

    Sebagaimana diketahui, Hukum Musa dengan keras melarang memecah atau memahat batu-batu altar. Batu bernama Sapha benar-benar harus dibiarkan alami; tidak boleh ada gambar, prasasti, atau peralatan yang ditulis diatasnya, agar tidak satu pun dari hal-hal tersebut dijadikan sembahan di masa akan datang oleh orang-orang bodoh. Emas, besi, tembaga, atau logam lainnya, tidak dapat memenuhi semua sifat ini yang terdapat dalam batu yang sederhana. Oleh karena itu, akan dimengerti bahwa material yang paling murni, paling tahan lama, paling memenuhi syarat, dan paling aman untuk sebuah monumen yang religius dan sakral tidak bisa selain batu.

    Patung Yupiter dari perunggu yang disembah oleh kafir Romawi Pontifex Maximus, diangkut dari Pantheon dan dituang kembali menjadi patung St. Petrus atas perintah seorang Kristen Pontiff. Sebenarnya, hikmah yang terdapat dalam sapha itu mengagumkan dan patut mendapat penghargaan dari orang-orang yang tidak menyembah objek lain, selain Tuhan.

    Harus juga diingat bahwa Sapha yang ditegakkan itu tidak hanya merupakan sebuah monumen keramat; tetapi juga merupakan tempat dan sirkuit dimana Sapha itu diletakkan. Karena alasan itulah, maka hajj (haji) kaum Muslim, seperti higga dalam bahasa Ibrani, dilaksanakan mengelilingi bangunan dimana batu suci terpasang.

    Adalah fakta yang bayak diketahui bahwa kaum Karamatian yang membawa Batu Hitam dari Ka’aba (Ka’bah) dan menyimpannya di negeri mereka selama sekitar dua puluh tahun, diharuskan membawa dan meletakkannya kembali ditempatnya semula karena mereka tidak dapat menarik para peziarah dari Mekkah. Seandainya, ia adalah emas atau objek berharga lainnya, ia tidak mungkin ada, paling tidak, selama kira-kira lima ribu tahun; atau seandainya pun ada pahatan atau gambar seni diatasnya, maka sudah dihancurkan oleh nabi Muhammad sendiri.

    Adapun mengenai makna – atau mungkin makna-makna – Sapha , saya sudah membicarakannya sebagai sifat-sifat batu itu.

    Kata Sapha terdiri dari konsonan “sadi” dan “pi” yang diakhiri dengan vokal “hi”, yang mana keduanya sebagai kata kerja dan kata benda. Artinya, dalam bentuk qal -nya, “menyucikan, mengawasi, memandang dari jauh, dan memilih”. Ia juga bermakna “menjadi kuat dan baik”; dalam paradigma pi’el -nya, yaitu kausatif, ia bermakna “membuat suatu pilihan, menyebabkan memilih”, dan seterusnya.

    Orang yang mengawasi dari sebuah menara disebut Sophi (2 Raja-raja 9:17, dst.). Di zaman kuno – yaitu, sebelum dibangunnya Bait Sulaiman – nabi atau “Manusia Tuhan” disebut Roi dan Hozi , yang artinya “pelihat (ahli ramal)” (1 Samuel 9:9). Para ahli bahasa Ibrani, tentunya tidak asing dengan kata Msaphpi , atau malah Msappi , yang dalam orthografi sama dengan bahasa Arab Musaphphi , yang berarti “orang yang berusaha keras memilih yang murni, baik, dan kuat”, dan sebagainya.

    Pengawas di Menara Yisrael, seperti dikutip tadi, memandang dan mengawasi dengan tajam dari jarak yang sangat jauh untuk melihat dengan jelas serombongan orang yang datang ke kota . Ia melihat utusan pertama sang Raja yang tiba dan bergabung dengan rombongan itu tetapi tidak kembali. Kasus yang sama terjadi pada kasus kedua dan ketiga. Baru kemudianlah sang Sophi dapat melihat dengan jelas ketua rombongan, yakni Yehu. Nah, lantas apa urusan dan jasa pengawas itu? Yaitu mengawasi dengan saksama dari jarak tertentu untuk membedakan sesuatu diantara yang lainnya dengan maksud untuk mengetahui identitasnya dan gerakan-gerakannya, jika benar-benar memungkinkan, dan kemudian menginformasikan kepada rajanya.

    Jika Anda bertanya: Apa urusan dan jasa dari Sophi yang sendirian berada di Mispa itu? Jawabannya – yang sekadar bahwa ia biasa mengawasi dari Menara Mispha (Mispa) untuk melihat dengan jelas identitas para peziarah di gurun pasir, atau bahwa ia biasa terus menjaga jangan sampai terjadi suatu bahaya – tidak mampu memuaskan seorang penyelidik yang sangat ingin tahu. Jika demikian, Mispha akan kehilangan watak religius dan sakralnya, dan malahan akan kelihatan sebagai menara pengawas militer.

    Namun kasus Sophi dan Mispha sangat berbeda. Pada mulanya, Mispha hanyalah sebuah bait sederhana di sebuah tempat tinggi yang terpencil di Gal’ead dimana sang Sophi beserta keluarga dan pelayannya biasa tinggal. Setelah penaklukkan dan pendudukan negeri Kanaan oleh Israel , jumlah Mispha bertambah, dan mereka segera menjadi pusat-pusat keagamaan yang besar dan berkembang menjadi lembaga-lembaga pengetahuan dan confraternities .9 Mereka kelihatannya seperti Maulawi, Bakhtasy, Naqsyabandi, dan kumpulan-kumpulan keagamaan lainnya, masing-masing berada di bawah Syeikh dan Mursyid-nya sendiri-sendiri. Mereka mempunyai sekolah-sekolah yang menempel di Mispha , dimana hukum, agama, literatur Yahudi dan cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya dijabarkan.

    Namun disamping karya kependidikan ini, sang Sophi menjadi kepala tertinggi dari suatu komunitas calon-calon anggota yang biasa dilatih dan diajarinya agama esoteris atau mistis yang kita kenal dengan nama Sophia . Sebenarnya, apa yang kita istilahkan sekarang dengan Suphee ( sufee atau sufi ) kemudian disebut nbiyim atau “nabi,” dan yang disebut, dalam istilah Islam takkas, zikr, atau doa dalam sembahyang, mereka biasa mengatakan “bernubuat.”

    Di masa nabi Samuel, yaitu kepala negara dan juga kepala lembaga-lembaga Mispha , para murid dan calon anggota ini sudah menjadi banyak sekali; dan ketika Saul diberi upacara perminyakan suci dan dinobatkan, ia mengkuti zikr atau praktek doa bersama para calon anggota dan diumumkan dimana-mana, “Lihatlah Saul juga ada diantara para nabi.” Dan ucapan ini menjadi sebuah peribahasa karena ia juga “bernubuat” bersama kelompok nabi-nabi (1 Samuel 10:9-13).

    Kaum Sufi diantara kaum Yahudi masih terus sebagai kelompok keagamaan esoteris di bawah supremasi seorang nabi jamannya sampai meninggalnya Raja Sulaiman. Setelah kerajaan terbagi menjadi dua, nampaklah bahwa telah terjadi pula perpecahan hebat diantara para Sophi . Di zaman nabi Elia, sekitar 900 SM, konon ia adalah satu-satunya nabi sejat yang masih ada dan bahwa semua nabi lainnya terbunuh, dan bahwa ada delapan ratus lima puluh nabi dari Baal dan Asyera (Ishra) yang “makan di meja Ratu Izebel” (1 Raja-raja 18:19). Namun hanya beberapa tahun kemudian, murid dan pengganti Elias, nabi Elisa, di Betel dan Yericho di penuhi oleh banyak sekali “anak-anak para nabi” yang meramalkan dia tentang kenaikan tuannya, Elia, yang sudah dekat (2 Raja-raja pasal 2).

    Bagaimanapun keadaan riil para Sophi ( Sophee ) Yahudi setelah terjadinya perpecahan besar dalam keagamaan dan kebangsaan, satu hal pasti, bahwa pengetahuan sejati tentang Tuhan dan ilmu agama esoteris terus dipertahankan sampai munculnya Yesus Kristus, yang membangun Komunitas Inisiasi dalam Agama Batin pada Simon sang Sapha , dan bahwa para Sophi sejati atau para peramal dari Mispha Kristen terus menghidupkan pengetahuan ini dan menjaganya sampai munculnya Pilihan Allah, Muhammad al-Mustapha – bahasa Ibrani “ Mustaphi ”!

    Alkitab menyebutkan – sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya – banyak sekali nabi terkait dengan Mispha , tetapi kita harus memahami benar bahwa, sebagaimana dinyatakan Al-Qur’an dengan jelas, “Allah sangat mengetahui siapa yang akan ia tunjuk sebagai rasul-Nya” (QS Al-An’am); bahwa Dia tidak memberikan karuania kenabian kepada seseorang karena keningratan, kekayaan, atau bahkan keshalehannya, tetapi karena keridoan-Nya. Keimanan dan semua amal shaleh, meditasi, latihan spiritual, shalat, puasa, dan pengetahuan Ilahiah bisa mengangkat orang baru menjadi seorang musyid atau pembimbing spiritual, atau ke tingkat orang suci, tetapi tidak akan pernah ke status seorang nabi; karena kenabian tidak diperoleh melalui usaha, namun sebagai karunia Allah. Bahkan dianatara para nabi, hanya ada beberpa saja yang berstatus Rasul dengan membawa kitab khusus dan ditugaskan untuk memimpin kaum tertentu atau membawa misi khusus. Oleh karena itu, istilah “nabi” seperti digunakan dalam kitab-kitab suci bahasa Ibrani sering bermakna ganda.

    Saya juga harus menyatakan dalam kaitan ini bahwa barangkali sebagian besar materi Alkitab adalah karya atau hasil dari Mispha-Mispha ini sebelum Penahanan Bangsa Babylonia, atau bahkan lebih awal lagi, tetapi kemudian direvisi oleh tangan-tangan yang tidak dikenal sampai memiliki bentuk seperti kita kenal sekarang.

    Sekarang masih membicarakan tentang Sufisme Muslim dan kata Yunani Sophia (hikmah); dan diskusi tentang dua sistem pengetahuan tinggi ini benar-benar berada di luar lingkup artikel ini, adalah studi atau ilmu pengetahuan yang lebih luas dari istilah ini, adalah studi atau ilmu pengetahuan tentang prinsip-prinsip wujud pertama; dengan kata lain, filsafat melampaui batas-batas fisik dalam mengkaji wujud sejati, dan meninggalkan studi tentang sebab-sebab atau hukum-hukum dari sesuatu yang terjadi atau yang terlihat di alam. Perlu usaha yang sangat keras untuk menemukan kebenaran.

    Sufisme Islam adalah perenungan tentang Allah dan diri ( nafs ), dan perlu usaha yang sangat keras untuk mencapai penyatuan diantara keduanya. Keunggulan Sophia Islam dibandingkan filsafat Yunani nampak jelas dari objek yang dilihatnya. Dan pasti lebih unggul dari paham membujang dan kebiaraan Kristen dalam pengabaiannya terhadap hati nurani dan keyakinan orang lain. Seorang Sophi (sufi) Muslim selalu mempunyai respek terhadap agama lain, menertawakan ide bid’ah dan benci terhadap semua penganiayaan dan penindasan.

    Sebagian besar Santo (orang suci) Kristen adalah penganiaya tukang bid’ah, atau kalau tidak, dianiaya tukang bid’ah, dan para santo terkenal dalam ketidaktolerannya.

    Sebagai pernyataan kedua, saya ingin menambahkan bahwa para penulis Muslim selalu menulis kata Yunani philosophy (filosifi) dalam bentuk Phelsepha (filsafat) dengan sin sebagai ganti sadi atau tzadi , yakni salah satu huruf konstituen dalam kata Ibrani dan Arab Sapha dan Sophi . Saya kira bentuk ini diperkenalkan ke dalam literatur Arab oleh penerjemah Assyria yang tadinya anggota sekte Nestorian. Bangsa Turki menulis St. Sophia di Konstantinopel dengan sadi , tetapi filosofi dengan sin , seperti samekh orang Yahudi. Saya percaya bahwa bahasa Yunani Sophia harus diidentifikasi secara etimologis dengan kata bahasa Ibrani; dan ide bahwa kata Muslim Sophia ( sawfiya ) berasal dari soph , yang berarti “wol,” harus ditinggalkan.

    Sophia – atau hikmah – sejati, pengetahuan sejati tentang Tuhan, ilmu sejati tentang agama dan moralitas, dan pemilihan mutlak Rasul Allah terakhir dari diantara seluruh Utusan-Nya, termasuk institusi kuno Israel yang disebut Mispha sampai ia diubah bentuknya menjadi Mispha kaum Nassara atau Kristen.

    Sangat mengagumkan melihat betapa lengkap analoginya dan betapa perekonomian Tuhan mengenai urusan-Nya dengan manusia dilaksanakan dengan keseragaman dan tata tertib yang mutlak. Mispha adalah filter dimana semua data dan orang disaring dan diteliti oleh Musaphphi (bahasa Ibrani, Mosappi ) sebagaimana oleh sebuah alat pemeras (karena demikianlah makna dari kata tersebut) agar yang asli dibedakan dan dipisahkan dari yang palsu, dan yag bersih dari yang kotor; namun abad demi abad silih berganti, beribu-ribu nabi datang dan pergi, masih saja sang Mustapha , manusia pilihan, belum muncul.

    Kemudian datanglah Yesus yang kudus, namun ia ditolak dan dianiaya, karena tidak ada lagi di Israel Mispha resmi yang akan mengakui dan mengumumkan dia sebagai Rasul Tuhan sejati yang diutus untuk memberikan kesaksian kepada sang Mustapha yang merupakan nabi terkahir setelahnya. “Majelis Agung Synagog” yang diadakan Ezra dan Nehemia, yang anggota terakhirnya adalah “Simeon Yang Adil” (310 SM), digantikan oleh Pengadilan Tertinggi Yerusalem, namanya “Sahedrin”; namun majelis yang belakangan ini, yang diketuai oleh Nassi atau sang “Pangeran,” menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus karena ia tidak mengenal orangnya dan sifat dari misi Ilahiahnya.

    Namun segelintir Sophi mengetahui Yesus dan mempercayai misi kenabiannya, akan tetapi khalayak pada satu waktu keliru karena mengira dia sang Mustapha atau Rasul Allah yang “terpilih,” dan meraih serta menyatakannya sebagai raja, namun ia menghilang dari tengah-tengah mereka. Dia bukan sang Mustapha , kalau tidak maka akan menggelikan seandainya menjadikan Simon sebagai Sapha dan Gerejanya sebagai Mispha . Karena tugas dan kewajiban Mispha adalah mengawasi dan mencari sang Rasul Terakhir, agar ketika ia datang ia akan diproklamirkan sebagai Orang Terpilih (sang Mustapha ). Jika Yesus adalah Mustapha , maka tidak perlu lagi ada lembaga Mispha . Ini memang pokok bahasan yang sangat dalam menarik, dan patut dikaji dengan sabar. Muhammad al-Mustapha adalah misteri Mispha , dan harta karun Sophia.

    ——————————————————————————–

    Footnotes

    6. Tidak seperti bangsa Arab yang mengenal j . Bangsa Yahudi dan Arami tidak mengenal bunyi j dalam alfabet mereka; huruf ketiga mereka gamal , apabila keras berbunyi g dan apabila lembut ada bunyi tambahan h nya sehingga menjadi gh .

    7. Alkitab yang saya rujuk tidak memuat kitab-kitab Perjanjian Lama deutrocanonical atau Apocryphal. Alkitab ini diterbitkan oleh American Bible Society (New York, 1893). Judulnya adalah Ktabhi Qaddishi Dadiathiqi Wadiathiqi Khadati an S’had-watha Poushaqa dmin lishani qdimaqi. Matba ‘ta d’dasta. Biblioneta d’America [Kitab-kitab suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, disertai konkordasi atau kesaksian-kesaksian. Terjemahan dari bahasa-bahasa kuno. Terbit di Press of The American Bible Society].

    8. Anggur tidak haram bagi orang Israel .

    9. Perkumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan dan profesi yang sama – penerj

    Balas
  119. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Muhammad Adalah Sang Syiloh
    Yaqub, cucu Ibrahim, terbaring sakit ditempat tidur; usianya sudah seratus empat puluh tujuh tahun, dan ajal sedang mendekat dengan cepat. Ia memanggil keduabelas anak dan sanak keluarganya ketempat tidurnya, dan mendoakan setiap anak serta meramal masa depan sukunya. Peristiwa ini secara umum dikenal sebagai “kesaksian Yaqub”, dan ditulis dalam gaya bahasa Ibrani yang bagus sekali dengan sentuhan puitis. Ia mengandung beberapa kata yang unik dan tidak pernah muncul lagi dalam Alkitab.

    Kesaksian tersebut mengingatkan pada berbagai macam peristiwa dalam kehidupan seorang manusia yang selalu naik turun. Dilaporkan bahwa Yaqub mengambil keuntungan dari rasa lapar saudaranya dan menjual hak kelahirannya untuk mendapat sepiring sop kental, dan menipu bapak tuanya yang buta dan mendapatkan berkah yang menurut hak kelahiran adalah milik Esau. Ia mengabdi selam sepuluh tahun untuk mengawini Rahel, tapi dibohongi oleh bapaknya Rahel, karena dikawinkan dengan kakaknya, Liah; maka ia harus mengabdi tujuh tahun lagi untuk mendapatkan Rahel. Pembantaian semua penduduk laki-laki oleh dua anak Yaqub, Simon dan Levi, karena penzinaan saudara perempuan Yaqub, Dina, oleh Skhekhim, tokoh kota itu, telah sangat membuatnya bersedih hati. Perbuatan memalukan anak pertamanya, Ruben, ketika mengotori tempat tidur bapaknya dengan tidur bersama selirnya tidak pernah dilupakan ataupun dimaafkan olehnya. Tetapi kesedihan terbesar yang menimpanya setelah kehilangan terbesar yang menimpanya setelah kehilangan istri tercintanya Rahel adalah menghilangnya selama beberapa tahun anak laki-laki kesayangannya, Yusuf. Kepergiannya ke Mesir dan pertemuan dengan Yusuf membuatnya sangat gembira dan memulihkan kebutaannya. Yaqub adalah seorang nabi, dan dipanggil oleh Tuhan dengan julukan “Israel”, nama yang diadopsi oleh dua belas suku yang menjadi keturunannya.

    Kebijakan tentang perebutan hak kelahiran direkam dalam catatan-catatan Kitab Kejadian, dan Yaqub ditampilkan sebagai seorang pahlawan pelanggaran hak-hak orang lain ini. Dilaporkan, Yaqub memberikan hak kelahiran cucunya, Manasye, kepada adik laki-lakinya, Efraim, meskipun dikeluhkan bapak mereka, Yusuf (pasal 48). Ia mencabut hak kelahiran anak pertamanya dan memberikan restunya kepada Yudas, anaknya yang keempat, karena yang pertama kepergok tidur dengan Bilha, “selir” Yaqub, yakni ibu dari dua anaknya, Dan dan Nefthalli; dan mencabut hak Yehuda karena ia tidak lebih baik dari yang lainnya, dimana ia berzina dengan adik tirinya sendiri, Tamar, yang membuahkan seorang anak laki-laki yang menjadi nenek moyang Daud dan Yesus Kristus (pasal 25:22;pasal 38)

    Sungguh tidak masuk akal kalau penulis, atau paling tidak editor terakhir, dari kitab ini “diberi wahyu oleh Roh Kudus”, sebagaimana dinyatakan kaum Yahudi dan kristen. Yaqub dilaporkan telah mengawini dua saudara perempuannya sekaligus, suatu perbuatan yang dikutuk oleh hukum Tuhan (Imamat 18:18). Sebenarnya, dengan kekecualian Yusuf dan Benyamin, anak-anak dia lainnya digambarkan sebagai gembala-gembala yang kasar, pembohong (kepada bapak mereka dan kepada Yusuf), pembunuh, pezina, yang berarti itu adalah sebuah keluarga yang tidak pantas menjadi keluarga seorang nabi sama sekali.

    Tentu saja, kaum Muslim tidak dapat menerima fitnah apapun terhadap seorang Nabi atau orang shaleh kalu tidak secara jelas dicatat atau disebutkan dalam Al-Qur’an. Kita tidak mempercayai kebenaran dari dosa yang dinisbahkan kepada Yehuda (badingkan pasal 38), kalau tidak maka restu yang diberikan kontradiktif; dan restu inilah yang akan kita kaji dan diskusikan dalam artikel ini.

    Yaqub tidak mungkin merestui anaknya, Yehuda, jika Yehuda benar-benar bapak dari anak dari saudara perempuan tirinya, Peres, karena kedua pezina akan dijatuhi hukuman mati oleh Hukum Tuhan, Yang telah memberinya karunia kenabian (Imamat 20:12). Namun, kisah Yaqub dan kisah tentang keluarganya yang sangat tidak pantas dicontoh ini terdapat dalam Kitab Kejadian (pasal 25:-1)

    Nubuat yang terkenal, yang bisa dianggap sebagai inti dari kesaksian ini, terkandung dalam ayat kesepuluh dari pasal empat puluh sembilan kitab Kejadia, sebagai berikut:

    Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda,
    dan pemberi hukum [lambang pemerintahan] dari antara kakinya.
    sampai datangnya Syiloh,
    dan miliknyalah ketaatan umat manusia.

    Ini adalah terjemahan harfiah dari teks bahasa Ibrani yang mampu saya pahami. Ada dua kata dalam teks tersebut yang unik yang unik dan tidak muncul di tempat lain dalam Perjanjian Lama adalah Syiloh ” dan satunya lagi Yiqha atau Yiqath .

    Syiloh terbentuk dari empat huruf ibrani yakni syin, yod, lamed, dan hi . Ada “ Syiloh ” nama sebuah kota di Efraim (I Samuel 1), tetapi tidak ada yod didalamnya. Nama ini tidak dapat disamakan dengan atau merujuk kepada kota tempat dimana Bahtera Perjanjian ( Ark of the Convenant) atau tempat ibadat berada. Karena, sampai saat itu tidak ada sceptre (tongkat kerajaan) atau lawgiver (pemberi hukum) muncul dari suku Yehuda. Kata tersebut pasti merujuk kepada seseorang dan bukan nama sebuah tempat.

    Seingat saya semua versi Perjanjian Lama telah mempertahankan Syiloh asli ini tanpa memberinya perubahan atau terjemahan. Hanya pshittha versi Syriac (dalam bahasa Arab disebut al-bassitha ) yang telah menerjemahkannya menjadi “Dia yang memilikinya”. Mudah untuk mengetahui bagaimana si penerjemah telah memahami kata itu seperti tersusun dari “ sh ” yang disingkatkan dari asher = “dia (laki-laki) itu” dan loh (Arab lahu ) = “adalah miliknya”. Konsekuensinya, menurut pshittha, kalimat itu harus dibaca dengan cara berikut :” Sampai dia yang memilikinya datang”. Kata ganti “-nya” bisa menunjuk kepada “ketaatan” dalam anak kalimat keempat dari ayat tersebut, bahasanya bernada puitis. Menurut versi yang penting ini maka ramalannya adalah begini:

    “Karakter raja dan kenabian tidak akan hilang dari Yehuda sampai dia yang memilikinya datang, karena miliknya lah penghormatan manusia.”

    Tetapi nampaknya tidak ada alasan yang rasional untuk suatu perubahan yang disengaja dari heth dan hi , karena yod dipertahankan dalam bentuk syiloh sekarang ini, dengan tanpa vaw , yang diperlukan untuk bentuk kata kerja lampau Syluh . Disamping itu, Septugint10 mempertahankan Syiloh seperti apa adanya. Oleh karena itu, satu-satunya perubahan yang mungkin adalah perubahan huruf terakhir heth menjadi hi . Andaikan seperti itu kejadiannya, maka kata tersebut akan mengambil bentuk Syiluh dan sangat cocok dengan “Utusan Yahweh” atau utusan Tuhan. Saya tahu bahwa kata Syiluah juga bersifat teknis untuk “surat cerai”, dan hal ini karena istri yang dicerai berarti “disuruh pergi”.

    Saya pikir tidak ada interpretasi lain untuk nama tersebut selain dari tiga versi yang sudah saya sebutkan.

    Sudah pasti dengan sendirinya baik umat Yahudi maupun Kristiani meyakini berkah ini sebagai salah satu nubuat mesianistik yang paling penting. Bahwa Yesus, nabi dari Nazaret adalah seorang kristus/ mesias tidak seorang muslim pun menyangkal. Karena Al-Qur’an sungguh-sungguh mengakui gelar itu. Bahwa setiap Raja Israel dan Imam tertinggi diberi upacara perminyakan suci dengan minyak suci yang terdiri atas minyak zaitun dan berbagai macam rempah (Imamat 30:23-33). Bahkan Raja Persia Zarduthi Koresy disebut Kristus Tuhan, “Demikianlah berkata Tuhan kepada Kristus-Nya, Koresy,” dan seterusnya (Yesaya 45:1-7).

    Adapun mengenai Yesus, meskipun misi kenabiannya diakui oleh kaum Yahudi, tugas Mesianiknya tidak pernah diterima oleh mereka. karena tidak ada satu pun tanda atau ciri sang Mesias yang mereka harapkan terhadap pada orang yang berusaha mereka salib, umat Yahudi mengharapkan seorang Mesias yang memiliki pedang dan kekuasaan duniawi seorang penakluk yang akan mengembalikan dan memperluas kerajaan Daud, dan seorang Mesias yang akan menyatukan Israel yang bubar di negeri Kanaan, dan menundukkan banyak bangsa dibawah penindasannya; tetapi mereka tidak pernah dapat menyambut gembira seorang pengkhotbah di atas Gunung Zaitun atau yang lahir dalam sebuah palung.

    Untuk menunjukkan bahwa nubuat yang sangat kuno ini secara praktis dan harfiah telah terpenuhi pada Muhammad, maka argumen-argumen berikut dapat diajukan. Ayat yang menyatakan “tongkat pemegang kekuasaan” dan pemberi hukum”, dengan suara bulat diakui oleh para penafsir bahwa orang yang dinanti-nanti tersebut adalah seorang nabi sekaligus pemegang kekuasaan duniawi. Tanpa berhenti lama untuk memeriksa akar kata dan derivasi dari kata tunggal kedua “ yiqha” . Kita bisa mengambil salah satu dari dua pengertiannya, yakni “ ketaatan” atau “ harapan ”.

    Mari kita ikuti interpretasi pertama Syiloh seperti yang diberikan dalam versi pshittha : “ dia yang memilikinya ”. Secara praktis kalimat ini berarti “ pemilik tongkat kekuasaan dan hukum ”. Atau “ dia yang memiliki tongkat kekuasaan dan hukum ”, dan miliknya lah ketaatan segala bangsa. Lantas siapakah orang tersebut? Pasti bukan Musa, karena ia adalah organisator pertama 12 suku bani Israel , dan sebelum dia tidak pernah muncul seorang nabi dan raja dari suku Yehuda. Jelas bukan Daud, karena dia adalah raja dan nabi pertama keturunan Yehuda. Dan tentuk bukan Yesus Kristus, karena dia sendiri menolak gagasan bahwa Mesias yang ditunggu-tunggu adalah anak Daud (Matius 22:44,45; Markus 12:35-37; Lukas 20:41-44). Dia tidak meninggalkan hukum tertulis dan tidak bermimpi mendapatkan tongkat kerajaan; malahan, ia menasihati kaum Yahudi agar bersifat loyal terhadap Caesar dan membayar upeti kepadanya, dan pada satu kesempatan khalayak berusaha menjadikannya seorang raja, tetapi ia lari dan menyembunyikan diri. Kitab Injilnya ditulis dalam lembaran hatinya, dan ia menyampaikan pesan “kabar-kabar baik”-nya tidak in scriptio (dalam bentuk tulisan), tetapi secara lisan.

    Dalam nubuat ini tidak ada soal penyelamatan dari dosa asal dengan darah seorang yang disalib, tidak juga soal kekuasan seorang imam atas hati manusia. Disamping itu, Yesus tidak membatalkan Hukum Musa, melainkan dengan jelas menyatakan bahwa ia telah datang untuk memenuhinya; juga ia bukan nabi terakhir; karena setelah dirinya Paulus membicarakan banyak “nabi” dalam gereja.

    Muhammad datang kekuatan militer dan Al-Qur’an untuk menggantikan tongkat kekuasaan kaum Yahudi lama yang sudah usang dan hukum pengorbanan yang tidak dapat dilaksanakan dan sudah kuno serta kependetaan yang korup. Ia memproklamirkan agama yang paling murni dari Tuhan yang sejati, dan meletakkan ajaran-ajaran dan aturan-aturan praktis yang paling baik untuk moral dan perilaku manusia. Ia menegakkan agama Islam yang telah menyatukan banyak bangsa dan kaum yang tidak menyekutukan Tuhan dengan apapun kedalam satu persaudaraan yang nyata.

    Interpretasi kedua dari tetragram “ Syilh ” (dibaca Syiloh), sama pentingnya dan cocok untuk Muhammad. Sebagaimana ditunjukkan tadi, kata ini berarti “tenang, damai, terpercaya, diam, dan sebagainya”. Bahasa Arami dari kata ini adalah “ Syilya ” yakni dari akar kata yang sama Syala atau Syla . Kata kerja ini tidak dipergunakan dalam bahasa Arab.

    Adalah fakta yang terkenal dalam sejarah Nabi Arabia, bahwa sebelum panggilan Kerasulannya, ia benar-benar tenang, damai, terpercaya, dan suka merenung serta sifatnya menarik; ia dijuluki oleh orang-orang Mekah sebagai “Muhammad al-Amin.” Ketika orang-orang Mekah memberi gelar “Amin” ini kepada Muhammad, mereka tidak memiliki gagasan yang paling jauh tentang “Syiloh”, namun kebodohan kaum musyrikin Arab digunakan oleh Tuhan untuk mempersulit kaum kafir Yahudi yang memiliki kitab-kitab suci dan mengetahui isinya.

    Kata arab amanah, seperti kata Ibrani aman, “kokoh, konstan, aman,” dan karenanya “tenang, setia, dan terpercaya,” menunjukkan bahwa “amin” persis sama artinya dengan Syiloh, dan memberikan semua arti yang terkandung didalamnya.

    Muhammad, sebelum ia diperintahkan oleh Allah untuk menyebarkan agama Islam dan menghapus kemusyrikan yang berhasil dia jalankan, adalah orang yang paling tenang dan jujur di Mekah; ia bukanlah seorang pejuang ataupun seorang pembuat undang-undang; namun setelah menerima misi kenabianlah maka ia menjadi pembicara yang paling fasih dan orang Arab yang paling gagah berani. Ia memerangi kaum kafir dengan pedang di kanan, bukan demi agama-Nya–Al-Islam. Ia ditunjukkan oleh Allah kunci-kunci perbendaharaan dunia, tetapi ia tidak menerimanya, dan ketika wafat praktis ia sebagai orang miskin.

    Tidak ada hamba Allah lainnya, apakah seorang raja atau seorang nabi, yang telah memberikan pelayanan yang sangat mengagumkan dan murni kepada Tuhan dan kepada manusia sebagaimana telah dilakukan Muhammad: kepada Tuhan dalam membasmi kemusyrikan dari sebagian besar dunia, dan kepada manusia dengan memberikan agama yang paling sempurna dan hukum yang terbaik untuk petunjuk dan keselamatannya. Ia meraih tongkat kekuasaan dan hukum dari kaum Yahudi; memperkuat tongkat kekuasaan dan menyempurnakan hukum.

    Jika Muhammad diizinkan untuk muncul kembali saat ini di Mekah atau di Madinah, ia akan ditemui oleh kaum Muslim dengan kasih-sayang dan “ketaatan” yang sama dengan yang ia saksikan disana ketika ia didunia. Dan ia akan menyaksikan dengan rasa senang yang mendalam bahwa kitab suci yang telah ditinggalkannya ternyata masih sama tanpa ada sedikit pun perubahan didalamnya, dan bahwa Kitab sucinya dikumandangkan dan dibaca persis seperti yang dulu ia dan para sahabatnya lakukan. Ia akan gembira dengan memberi mereka ucapan selamat atas kesetiaan mereka kepada agama dan ketauhidan Allah, dan kepada fakta bahwa mereka tidak menjadikan beliau sebagai tuhan atau anak tuhan.

    Adapun interpretasi ketiga dari “ Syiloh ”, saya menyatakan bahwa bisa jadi ia merupakan perubahan dari “ Syluah ” dan dalam hal ini maka sudah pasti sesuai dengan gelar nabi dalam bahasa Arab yakni Rasul/pesuruh. “ Syluah Elohim ” dalam bahsa Ibrani adalah sama persis dengan “ Rasul Allah ” dalam bahasa Arab. Sebuah ungkapan yang dikumandangkan lima kali sehari oleh Muazin (tukang Adzan Shalat) dari menara semua mesjid di dunia.

    Dalam Al-Qur’an beberapa nabi, terutama nabi-nabi yang diberi kitab suci, disebut sebagai Rasul; tapi dimana pun dalam Perjanjian Lama kita tidak dapat menemukan Syiloh atau Syluh kecuali dalam Wasiat Yaqub.

    Kini, dari sudut pandang manapun kita mencoba mengkaji dan memeriksa nubuat Yaqub ini, kita dipaksa, dengan alasan pemenuhan sesungguhnya dari nubuat itu dalam Muhammad, untuk mengakui bahwa umat Yahudi sia-sia mengharapkan kedatangan Syiloh lain, dan bahwa umat Kristiani dengan kepala batu tetap bersikukuh mempertahankan kesalahan mereka dalam meyakini bahwa Yesus-lah Syiloh yang dimaksud.

    Kemudian ada dua observasi lain yang patut mendapat perhatian serius kita:

    Pertama , sangat jelas bahwa “tongkat kekuasaan” dan “legislator” akan tetap dari suku Yehuda sepanjang Syiloh tidak muncul ditempatnya. Menurut pengakuan kaum Yahudi, baik tongkat kerajaan maupun suksesi kenabian masih tetap ada dan milik suku itu.

    Kedua , harus diperhatikan bahwa suku Yehuda juga telah lenyap bersama dengan otoritas kerajaan dan saudaranya– suksesi kenabian. Memperhatikan eksistensi dan identitas kesukuan merupakan syarat yang diperlukan untuk menunjukkan bahwa suku secara keseluruhan hidup ditanah airnya sendiri atau dimanapun secara kolektif dan menggunakan bahasanya sendiri.

    Tetapi untuk kaum Yahudi, kasusnya malah sebaliknya. Untuk membuktikan diri sebagai orang Israel , Anda tidak perlu susah untuk itu, tetapi Anda tidak pernah dapat membuktikan diri sebagai anggota salah satu dari dua belas suku bani Israel . Sehingga Anda akan gagal.

    Sebagai pengamatan ketiga, harus diperhatikan bahwa teks dengan jelas menyatakan, dan sangat bertentangan dengan keyakinan baik kaum Yahudi maupun umat Kristen, bahwa Syiloh sama sekali asing bagi suku Yehuda dan juga semua suku lainnya. Hal ini akan terang sekali, bahwa hanya dalam beberapa menit saja merenung sudah cukup untuk meyakinkan seseorang.

    Nubuat dengan jelas menunjukkan bahwa ketika Syiloh datang dengan sceptre (tongkat kekuasaan) dan law-giver (pemberi hukum) akan hilang dari Yehuda. Dan itu hanya dapat terealisir jika Syloh bukan orang dari suku Yehuda. Jika Syiloh adalah keturunan Yehuda, bagaimana bisa dua elemen tersebut menghilang dari suku tersebut ? Tidak mungkin Syiloh adalah keturunan dari salah satu suku bani Israel lainnya, karena sceptre dan law-giver adalah untuk semua bani Israel . Observasi ini juga membuktikan kesalahan klaim kaum Kristiani. Karena Yesus adalah keturunan Yehuda-paling tidak dari jalur ibunya.

    Saya sering kali mempertanyakan kaum Yahudi yang sering berpindah-pindah tempat dan melakukan kesalahan ini. Karena lebih dari 25 abad mereka telah mempelajari seratus bahasa manusia yang mereka layani. Karena bani Ismail dan bani Israel , keduanya adalah keturunan sah dari nabi Ibrahim, lantas apa urusannya bagi mereka jika Syiloh berasal dari Yehuda atau Zebulun, dari Esau atau Isakhar, dari Ismail atau Ishaq, sepanjang ia adalah keturunan dari Ibrahim, bapak mereka? Taatilah Hukum Muhammad, jadilah Muslim, maka Anda dapat pergi dan tinggal di tanah air lama Anda dalam kedamaian dan keselamatan.

    ——————————————————————————–

    Footnotes

    10. Perjanjian Lama terjemahan Yunani yang dibuat pada abad ketiga SM [Latin, septuagint, tujuh puluh, "Sang Tujuh Puluh", penunjukkan 70 atau 72 sarjana Yahudi yang, menurut tradisi yang tidak historis, menyelesaikan terjemahan dalam 72 hari di pulau Faros]–penerj.

    Balas
  120. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Muhammad Dan Kaisar Konstantin Agung
    Nubuat yang paling menakjubkan dan paling nyata tentang misi Ilahiah dari manusia teragung dan Rasul Tuhan, yang termuat dalam pasal tujuh Kitab Danil, patut dikaji secara serius dan objektif. Didalamnya peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah umat manusia, yang silih berganti dalam periode lebih dari seribu tahun, ditunjukkan oleh sosok empat monster besar dalam penglihatan mimpi Danil.

    “Empat angin dari langit menderu-deru di laut besar.” Binatang pertama yang muncul dari dalam laut adalah seekor singa bersayap; kemudian datang binatang kedua dalam bentuk seekor beruang yang menggigit tiga tulang rusuk diantara gigi-giginya. Disusul oleh binatang ketiga yang mengerikan dalam bentuk seekor macan tutul yang memiliki empat sayap dan empat kepala. Binatang keempat, lebih hebat dan ganas dari tiga yang pertama, adalah monster yang memiliki sepuluh tanduk diatas kepalanya, dan mempunyai gigi-gigi besi di mulutnya. Kemudian satu tanduk kecil mencuat di tengah tanduk-tanduk lainnya, dan sebelumnya tiga tanduk patah. Lihatlah, mata dan mulut manusia muncul pada tanduk ini, dan ia muncul berbicara sombong menentang Yang Maha Tinggi. Tiba-tiba, ditengah-tengah cakrawala, bayangan Yang Mahakekal terlihat di tengah-tengah cahaya yang gemerlapan, duduk diatas mimbar-Nya (Arab: Kursi) yang terbuat dari cahaya yang menyala yang roda-rodanya adalah cahaya yang memancar.11 Sungai cahaya mengalir dan berjalan di hadapan-Nya ; dan jutaan makhluk angkasa beribadah kepada-Nya dan puluhan ribu di antaranya berdiri di hadapan-Nya.

    Pengadilan Kiamat, sebagaimana mestinya, mengadakan sidang-sidang luar biasa; buku-buku catatan dibuka. Tubuh binatang buas dibakar dengan api, tapi Tanduk yang menghujat dibiarkan hidup sampai seorang “Bar Nasya”–yakni, seorang “Anak Manusia”–dinaikkan ke atas awan dan dihadapkan kepada Yang Maha Kekal, dari siapa ia menerima kekuasaan, kehormatan, dan kerajaan untuk selamanya. Nabi yang terheran-heran itu menandatangani salah seorang Malaikat yang siaga menunggu dan memohon dia untuk menjelaskan makna dari bayangan yang mengagumkan ini. Malaikat yang baik memberikan penafsirannya dengan sedemikian rupa cara sehingga keseluruhan misteri yang terbungkus dalam bahasa dan gambaran yang bersifat kiasan atau alegoris menjadi terang.

    Sebagai seorang dari keluarga kerajaan. Daniel dibawa bersama oleh tiga pemuda Yahudi lainnya ke istana raja Babylonia , disana ia dididik berbagai macam ilmu bangsa Khaldea. Ia tinggal disana sampai dengan penaklukan Persia dan jatuhnya kerajaan Babylonia . Ia menjadi nabi dimasa Nebukadnezer dan juga Darius.

    Para pengkaji alkitab tidak menganggap bahwa pengarang seluruh Kitab adalah Daniel, yang hidup dan mati setidaknya dua abad sebelum penaklukan Yunani, yang ia sebut dengan “Yavan= Ionia ”. Delapan pasal pertama kitab Daniel –jika saya tidak salah- ditulis dalam bahasa Khaldea dan pasal-pasal selanjutnya dalam bahasa Ibrani. Untuk tujuan kita yang segera, tidak begitu banyak tanggal dan penulisan kitab yang memunculkan pertanyaan penting sebagaimana pemenuhan nubuat yang sesungguhnya, yang terkandung dala versi Septuagint, yang dibuat sekitar tiga abad Sebelum Masehi.

    Menurut interpretasi sang malaikat, masing-masing dari empat binatang itu menunjukkan sebuah kekaisaran. Singa bersayap elang berarti kekaisaran Khaldea, yang kuat dan cepat seperti seekor elang menyambar musuh. Beruang menunjukkan “Madai-Paris” atau Kekaisaran Medo-Persia, yang memperluas penaklukannya hingga Laut Adriatik dan Ethiopia, jadi menahan dengan gigi-giginya satu tulang iga tumbuh masing-masing dari tiga benua di Belahan Bumi Timur. Binatang ketiga, menurut sifatnya sebagai harimau betina yang loncatannya cepat dan ganas, melambangkan gerakan-gerakan kemenangan Alexander Agung, dimana kekaisarannya yang luas, setelah kematiannya terbagi menjadi empat kerajaan.

    Tetapi malaikat yang menafsirkan penglihatan ini tidak berhenti menjelaskan secara terperinci tiga kerajaan yang pertama seperti ketika ia berhenti menjelaskan binatang buas keempat. Disini ia membahas secara terperinci dan penuh tekanan. Disini layar pandangannya diperbesar. Binatang buas itu benar-benar seekor monster dan setan yang sangat besar. Ini adalah Kekaisaran Romawi yang hebat. Sepuluh tanduk adalah sepuluh Kaisar Romawi yang menyiksa kaum Kristiani awal. Baliklah halaman-halaman sejarah gereja manapun untuk tiga abad pertama sampai kemasa yang disebut perubahan Konstantin Agung, dan yang akan Anda baca tak lain hanyalah kengerian-kengerian dari “Sepuluh Penyiksaan” yang terkenal.

    Sejauh ini, empat binatang tersebut semuanya menggambarkan “Kuasa Kegelapan,” yaitu, Kerajaan Setan, pemujaan berhala.

    Dalam kaitan ini, saya alihkan perhatian Anda kepada sebuah kebenaran yang terang yang terutama terdapat dalam artikel penting Iman Islam: “Kebaikan dan Keburukan adalah dari Allah.”

    Perlu diperhatikan bahwa diantara empat binatang itu maka kekuasaan Persia digambarkan dengan sosok seekor beruang tidak sebuas dan tidak begitu suka makan daging seperti tiga lainnya; dan lagi: karena ia dapat berjalan dengan kaki belakangnya maka ia menyerupai manusia–paling tidak dari jarak yang agak jauh.

    Dalam semua literatur teologi dan keagamaan Kristen yang telah saya baca, saya tidak pernah menemukan satu pun pernyataan dari ungkapan Keyakinan Muslim ini: Tuhan adalah pengarang sebenarnya dari kebaikan dan keburukan. Ungkapan dari keyakinan Muslim ini, sebagai kebalikannya, sangat menjijikkan bagi agama Kristen, dan sumber kebencian terhadap agama Islam. Namun doktrin ini dengan tegas diberitahukan oleh Tuhan kepada Koresy, yang Dia sebut “Kristus”-Nya. Dia ingin Koresy mengetahui bahwa tidak ada tuhan disamping Dia, dan menyatakan:

    “Akulah yang menciptakan terang, dan menciptakan gelap, yang menjadikan kedamaian, dan yang menciptakan keburukan, Akulah Tuhan yang membuat semua ini.” (Yesaya 45:7)

    Bahwa Tuhan adalah pembuat keburukan dan juga kebaikan, sama sekali tidak berarti menolak gagasan tentang kebaikan Tuhan. Penolakan terhadap gagasan ini ditujukan kepada keesaan mutlak Yang Maha Kuasa. Disamping itu, yang kita istilahkan dan pahami sebagai “keburukan” hanya mempengaruhi wujud-wujud yang diciptakan, dan hal itu untuk perkembangan dan perbaikan makhluk-makhluk, sama sekali tidak ada pengaruhnya pada Tuhan.

    Dengan membiarkan penyimpangan ini, saya cepat-cepat mengatakan bahwa semua binatang liar ini adalah musuh “orang-orang suci”, seperti itulah orang Israel kuno dan para pengikut awal Kitab Injil tersebut. Karena hanya mereka yang memiliki pengetahuan yang benar, kitab-kitab suci dan wahyu Tuhan. Binatang-binatang liar ini menyiksa dan membantai orang-orang shaleh. Tetapi sifat dan watak Tanduk kecil yang tumbuh diatas kepala monster keempat berbeda sekali dengan binatang lainnya, dan bahwa Tuhan sendiri, seperti adanya, harus turun dan menegakkan singgasana-Nya di cakrawala, menilai dan membinasakan binatang keempat; memanggil sang Barnasha –“Anak Manusia”–kehadapan-Nya dan menjadikannya secara berturut-turut artinya “kekuasaan, kemuliaan, kerajaan” seluruh manusia dan bangsa-bangsa, diberikan kepadanya (Daniel 7:14) dan kepada “orang-orang suci umat Yang Mahatinggi” (Daniel 7:27)

    Perlu diketahui bahwa karena Anak Manusia itu lebih mulia, dan lebih unggul, dari binatang-binatang buas itu, maka demikian pula agama yang dinyatakan dan ditegakkan sangat jauh lebih suci daripada agama sang Tanduk Kecil.

    Sekarang mari kita periksa, siapa si tanduk kecil ini? Bila sudah memastikan identitas raja kesebelas ini, maka pada hakikatnya, identitas Bar Nasha akan diketahui. Tanduk Kecil muncul setelah Sepuluh Penyiksaan dibawah pemerintahan kaisar-kaisar Romawi. Kekaisaran ini menggeliat dibawah empat rival, Konstantin adalah salah satu diantaranya. Mereka semua berebutan untuk menjadi raja; tiga lainnya mati atau gugur dalam pertempuran; dan Konstantin dibiarkan sendirian sebagai penguasa tertinggi dari kekaisaran yang luas.

    Para juru tafsir Kristen awal telah bekerja sia-sia menisbahkan si Tanduk Kecil yang bodoh ini sebagai Anti-Christ, sebagai Paus Roma menurut kaum Protestan, dan sebagai pendiri Islam ( Naudzubillah! ). Tetapi para kritikus alkitab yang belakangan tidak tahu bagaimana memecahkan problem binatang buas keempat yang cenderung mereka identifikasi sebagai kekaisaran Yunani dan si Tanduk Kecil sebagai Antiochus.

    Sebagai kritikus, misalnya Carpenter, menganggap Kekaisaran Medo-Persia sebagai dua kerajaan terpisah. Tetapi kekaisaran ini tidaklah lebih tua dari bekas Kekaisaran Austro-Hungaria. Eksplorasi-eksplorasi yang dilaksanaka oleh misi ilmiah sarjana Perancis, M.Morgan, di Shushan ( Susa ) dan di tempat-tempat lainnya tidak meninggalkan keraguan soal ini. Oleh karena itu, binatang buas keempat tidak lain selain Konstantin Agung, argumen-argumen berikut dapat diajukan dengan aman:

    Konstantin menguasai Maximian dan dua rival lainnya serta menjadi raja, dan mengakhiri penyiksaan kaum Kristiani.

    Menurut saya, The Decline and Fall of The Roman Empire karangan Gibbon adalah karya terbaik yang dapat memberikan keterangan kepada kita tentang masa-masa itu. Dan Anda tidak akan pernah dapat menemukan empat rival setelah Sepuluh Penyiksaan dari gereja, selain dari Konstantin dan musuh-musuhnya yang jatuh dihadapannya seperti tiga tanduk yang jatuh di hadapan sang Tanduk Kecil

    Keempat binatang buas semuanya ditunjukkan dalam penglihatan itu sebagai orang-orang kejam yang irasional, tetapi, sang Tanduk Kecil mempunyai mulut dan mata manusia yang, dengan kata lain, merupakan deskripsi dari monster menyeramkan yang diberkati dengan akal dan kemampuan bicara. Ia memproklamirkan agama Kristen sebagai agama yang benar, menyerahkan Roma kepada Paus dan menjadikan Byzantium, yang diberi nama Konstantinopel, sebagai pusat kekaisaran. Ia berpura-pura mengakui agama Kristen tapi tidak pernah dibaptis sampai tak lama setelah kematiannya, dan inipun menjadi persoalan yang diperselisihkan.

    Dongeng bahwa kepindahannya memeluk Kristen karena melihat Salib dilangit sudah lama sejak–seperti cerita tentang Yesus Kristus yang disisipkan dalam Antiquities karya Josephus–diekspos sebagai bagian pemalsuan lainnya.

    Kebencian binatang-binatang buas itu terhadap orang-orang yang beriman kepada Tuhan sangatlah brutal dan biadab, tetapi kebencian Tanduk yang rasional adalah kejam dan sangat membahayakan. Kebencian ini paling berbisa dan berbahaya bagi agama, karena ia ditunjukkan untuk merusak kebenaran dan keimanan. Semua serangan sebelum dari empat kekaisaran itu adalah kaum pagan (penyembah berhala); mereka menyiksa dan menzalimi kaum beriman tetapi tidak mampu merusak kebenaran dan keimanan.

    Konstantin inilah yang masuk ke dalam bungkusan Yesus dalam bentuk seorang beriman dan dalam pakaian seekor domba, tetapi dalam hatinya ia sama sekali bukan seorang yang beriman. Seberapa beracun dan jahatnya kebencian ini, akan terlihat dalam uraian berikut ini:

    Kaisar Tanduk berbicara “sombong” atau “kata-kata hebar” (robhan dalam lidah orang Khaldea) menentang Yang Maha Tinggi. Mengucapkan kata-kata yang menghina tentang Tuhan, menyekutukan Dia dengan makhluk lain, dan menisbahkan kepada-Nya nama-nama dan sifat-sifat yang bodoh, seperti yang “memperanakkan” dan “diperanakkan”, “kelahiran” dan “prosesi”(orang kedua dan ketiga), “KeEsaan dalam Trinitas” dan “inkarnasi” adalah menolak keesaan-Nya.

    Sejak hari ketika Tuhan menampakkan Diri-Nya kepada Ibrahim di Ur, Khaldea, sampai Sahadat dan Undang-Undang Dewan Nikea diproklamirkan dan diberlakukan melalui sebuah maklumat kerajaan Konstantin ditengah-tengah kengerian dan protes dari tiga perempat anggota benar-benar beriman pada 325 M, keesaan Tuhan tidak pernah dengan begitu resmi dan terang-terangan dicemarkan oleh mereka yang pura-pura menjadi umat-Nya seperti Konstantin dan gerombolannya kaum gerejawi yang kufur!

    Dalam artikel pertama dari serial ini saya telah menunjukkan kesalahan gereja-gereja mengenai Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Saya tidak perlu membicarakan lagi pokok pembahasan yang tidak menyenangkan ini; karena hal itu membuat saya sakit dan sedih ketika saya menyaksikan seorang nabi suci dan roh kudus, keduanya adalah makhluk Tuhan yang mulia, disekutukan dengan Dia oleh mereka yang seharusnya lebih mengetahui.

    Jika Brahma dan Osiris, atau Yupiter dan Vesta disekutukan dengan Tuhan, kita hanya menganggap ini sebagai keyakinan pagan; tetapi ketika kita melihat Yesus Nabi dari Nazaret dan salah satu dari jutaan roh kudus yang berbakti kepada Tuhan Yang Kekal tampil menyamai martabat Tuhan, kita tidak dapat menemukan nama untuk mereka yang berkeyakinan begitu selain dari yang selalu harus digunakan oleh kaum Muslim –yaitu julukan “Ghawun”.

    Kini, karena Tanduk mengerikan yang berkata sombong itu, dengan melontarkan kata-kata hinaan terhadap Tuhan, adalah seorang raja –sebagaimana diberitakan oleh Malaikat kepada Daniel–dan karena raja itu adalah Caesar yang memerintah di Roma dan menyiksa orang shaleh, maka tidak bisa lain dia adalah Konstantin, karena maklumatnyalah yang memproklamirkan keyakinan atas Trintias oknum dalam ketuhanan, suatu syahadat yang dikutuk sebagai penghujatan oleh Perjanjian Lama yang merupakan dokumen yang kuat, dan yang dibenci baik oleh kaum Yahudi maupun Muslim.

    Seandainya dia bukan Konstantin, lantas, muncul pertanyaan, siapa gerangan dia? Dia sudah datang dan pergi, dan bukan seorang penipu ulung atau Anti-Christ yang muncul sesudah ini, yang mungkin kita tidak dapat mengetahui dan mengidentifikasinya.

    Seandainya kita tidak mengetahui bahwa Sang Tanduk Kecil yang dibicarakan sudah datang, lantas bagaimana kita harus menafsirkan keempat binatang buas itu, dimana binatang buas yang pertama sudah pasti Kerajaan Khaldea, binatang kedua Medo-Persia, dan seterusnya? Jika binatang buas keempat tidak mewakili Kerajaan Romawi, bagaimana kita dapat menafsirkan yang ketiga, yang memiliki empat kepala sebagai Kekaisaran Alexander yang terpecah menjadi empat kerajaan setelah kematiannya? Adakah kekuasaan lain yang menggantikan Kekaisaran Yunani sebelum Kekaisaran Romawi dengan sepuluh rajanya yang menyiksa orang-orang beriman kepada Tuhan? Cara berpikir yang menyesatkan dan ilusi tidaklah berguna.

    Si “Tanduk Kecil” itu pastilah Konstantin, meskipun kita bisa menolak nubuat Daniel. Apakah penulis pasal ketujuh dari kitab Daniel itu seorang nabi, imam, atau seorang tukang sihir, tidaklah penting. Satu hal pasti, bahwa prediksi dan deskripsinya tentang peristiwa-peristiwa itu, sekitar dua puluh empat abad silam, ternyata tepat, benar, dan telah terpenuhi pada diri Konstantin Agung, yang pantang bagi Gereja Roma untuk menjadikannya sebagai seorang Santo, sebagaimana dilakukan Gereja Yunani.

    Si Tanduk Kecil yang berkembang menjadi “penglihatan yang sedikit lebih hebat” daripada tanduk lainnya, tidak hanya mengucapkan kata-kata kufur menentang Yang Maha Tinggi, tetapi juga ia memerangi orang-orang suci umat Yang Maha Tinggi dan menaklukan mereka (Daniel 7:25).

    Di mata Nabi Yahudi, umat yang mengimani satu Tuhan adalah umat yang terpisah dan suci. Kini tak bisa disangkal lagi kebenarannya bahwa Konstantin menyiksa orang-orang Kristen yang, seperti kaum Yahudi, meyakini Keesaan Tuhan yang mutlak dan dengan berani menyatakan Trintias sebagai konsepsi ketuhanan yang tidak benar dan sesat.

    Lebih dari seribu rohaniwan dipanggil ke Majelis Umum di Nikea, dan hanya tiga ratus delapan belas orang yang tunduk pada keputusan-keputusan Majelis, dan mereka pun membentuk tiga faksi yang berlawanan dengan masing-masing ungkapannya yang ambigu dan kotor seperti “ homousion ” atau “homoousion12, “Konsubstansial” 13, dan istilah-istilah lainnya yang sama sekali asing bagi para nabi Israel, tapi hanya bermanfaat bagi si “Tanduk yang berbicara.”

    Kaum Kristen yang menderita penyiksaan dan mati syahid– dibawah kaisar-kaisar Romawi penyembah berhala – karena mereka mengimani satu Tuhan dan Yesus hamba-Nya, kini dihukum atas peintah kerajaan dari Konstantin “Kristen” dengan siksaan-siksaan yang bahkan lebih kejam karena mereka menolak untuk memuja sang hamba Yesus sebagai konsubtansial dan sebaya dengan Tuhan dan Penciptanya!

    Para sesepuh dan pendeta akidah Aria, yakni Qshishi dan Mashmshani -seperti itulah mereka disebut oleh kaum Kristen Yahudi awal – dipecat atau dibuang, kitab-kitab keagamaan mereka diberangus, dan gereja-gereja mereka dirampas dan diserahkan kepada para uskup dan imam Trinitarian. Setiap karya bersejarah Gereja Kristen akan memberi kita banyak informasi kepada kita tentang jasa yang diberikan Konstantin kepada munculnya Akidah Trintias, dan tirani kepada orang yang menentangnya. Pasukan-pasukan yang tidak punya belas-kasih ditempatkan di setiap provinsi untuk membantu otoritas-otoritas gerejawi.

    Konstantin melambangkan sebuah rejim teror dan perang yang sengit terhadap kaum unitarian (ahlutauhid), yang di Timur berakhir selama tiga setengah abad, ketika kaum Muslim menegakkan agama Allah dan mengambil kekuasaan serta dominion atas negeri-negeri yang diinjak-injak dan dihancurkan oleh empat binatang buas itu.

    “Tanduk Yang Berbicara” dituduh telah berniat mengubah “Hukum dan Waktu”. Ini adalah sebuah tuduhan yang sangat serius terhadap sang Tanduk. Hujatan-hujatannya atau “kata-kata sombong menentang Yang Maha Tinggi” bisa saja mempengaruhi orang lain, tetapi mengubah Hukum Tuhan dan hari-hari serta perayaan-perayaan suci sudah pasti akan menumbangkan juga agama. Dua perintah Hukum Musa, mengenai keesaan Tuhan yang mutlak –“Engkau tidak mempunyai tuhan-tuhan lain disamping Aku”–dan pelarangan yang keras membuat gambar dan patung untuk pemujaan, benar-benar dilanggar dan dicabut atas perintah Konstantin.

    Memproklamirkan tiga oknum dalam Ketuhanan dan mengakui bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dan Mahakekal dikandung dan dilahirkan oleh perawan Maria adalah penghinaan paling akbar terhadap Hukum Tuhan dan merupakan pemberhalaan yang paling kotor.

    Membuat patung emas atau kayu untuk pemujaan sudah cukup buruk sekali, tapi membuat makhluk hidup sebagai objek pemujaan dengan menyatakannya sebagai Tuhan (!), dan bahkan memuja roti dan anggur Ekaristi sebagai “tubuh dan darah Tuhan”, adalah suatu penghinaan yang tidak bertuhan.

    Lantas, bagi setiap orang Yahudi yang shaleh dan bagi seorang nabi seperti Daniel, yang sejak muda menjadi pelaksana Hukum Musa yang paling taat, apa yang mungkin lebih menjijikkan daripada penggantian Paskah dengan Domba Paskah (Paschal Lamb [yakni, Kristus]) yang dimakan pada perayaan agung paskah dan pengorbanan “Domba Tuhan” diatas kayu salib, dan diatas ribuan altar setiap hari?

    Penghapusan hari Sabat adalah suatu pelanggaran langsung atas perintah keempat dari sepuluh perintah Tuhan ( Ten Commandments atau Decologue ), dan kebiasaan minggu malah berubah-ubah karena berlawanan. Memang benar, Al-Qur’an menghapuskan hari Sabath, bukan karena Jum’at adalah hari yang lebih suci, tapi karena kaum Yahudi menyalahgunakannya dengan menyatakan bahwa setelah Tuhan bekerja enam hari, beristirahat pada hari ketujuh, seakan-akan Dia adalah manusia dan menderita kelelahan.

    Muhammad akan menghancurkan hari atau objek apa saja, betapapun suci atau sakral, jika ia dijadikan objek pemujaan dengan maksud untuk memberikan pukulan atau melukai kebesaran dan keagungan Tuhan. Tetapi, penghapusan Sabat atas perintah Konstantin adalah utnuk institusi Minggu pada hari dimana Yesus dinyatakan telah bangkit dari kubur. Yesus sendiri sangat menghormati hari Sabat, dan menegur para pemimpin Yahudi karena keberatan mereka atas derma yang ia lakukan pada hari itu.

    Sang Tanduk dibolehkan untuk memerangi para Santo selama sekitar tiga setengah abad; hak itu hanya “melemahkan” mereka, membuat “mereka tidak bersemangat”–tapi tidak dapat memadamkan dan membasmi mereka sama sekali bangsa Aria, yang mempercayai satu Tuhan saja, kadang-kadang, misalnya dibawah pemerintahan Konstantinus (anak dari Konstantin), Julian, dan lain-lainnya yang lebih toleran, dengan kokoh mempertahankan diri dan berperang demi agama mereka..

    Poin penting berikutnya dalam penglihatan yang sangat hebat ini adalah mengidentifikasi “Bar Nasha,” atau Anak Manusia, yang menghancurkan sang Tanduk; dan kita akan membahas dalam artikel selanjutnya.

    ——————————————————————————–

    Footnotes

    11. Kata asalnya adalah nur, dan, seperti kata Arab, artinya “cahaya” bukannya “api” yang ditunjukkan dalam teks denganb “isy”.
    12. Orang Kristiani yang mendukung definisi kaum Trinitas dalam Majelis Nikea tentang Yesus Anak Tuhan sebagai konsubstansial dengan Tuhan Bapak–penerj.
    13. Memiliki substansi, sifat, atau esensi yang sama dengan tiga oknum Trinitas — penerj

    Balas
  121. remon

    hee,,,,heee,,,heee sekarang gw mau tanya kepada syekh menurut lu seberapa besar iman mu dan menurut mu apakah jika lu membunuh umat non islam merupakan merupakan perbuatan beriman ?

    apa lu dah nonton kaset fpi masuk kristen ?
    apa tanggapan lu ?
    dan kenapa para jihad bangga dengan perbuatan mereka yang jelas2x salah misalnya saat peledakan bom bali 2 ?
    knapa umat muslin beribadah hari ju’mat ?
    adakah pernyatan yang menyatakan muhhamad banggkit dari kubur setelah meninggal ?
    jelaskan proses terjadinya dunia menurut orang islam ?
    knapa alquran banyak ayat yang tidak diartikan ?
    apa lu yakin akan masuk surga kelak jika sudah meninggala ?
    knapa orang harus lakukan ibadah haji ?
    dari mana sumber air zamzam ?

    Balas
  122. dongan naburju

    horas…

    salam hangat amang syekh yusuf..

    ayahanda (amang) syekh yusuf..cobalah ayahanda memanggil nama JESUS tulus dari dalam hati??

    maka bersiaplah ayahanda menjadi saleh,suci dan taat pada printah Allah, bersiap untuk menolong orang menderita,bersahaja ketika di caci maki,memamafkan yang telah memfitnah kita,sabar,rendah hati,tidak mempunyai harta dan tahta di bumi dan hidup mati untuk mengasihi manusia,tidak menikah dan dapat mengendalikan diri dari godaaan hawa nafsu….maunya ayahanda syekh yusuf seperti itu??

    memanggil JESUS??buat sapa aja…

    salam damai dan kasih menyertai kita semua..
    holong do naummarga di portibion

    Balas
  123. remon

    PESAN BUAT SYEKH YUSUF :

    KALAU MAU MUNGHUJAT AGAMA ORANG PELAJARI DULU AGAMA SENDIRI OK

    TAPI DARIPADA NGOMONGIN AGAMA YANG GA’ ADA HABISNYA LEBIH BAIK KITA PEACE MAN OK DAN LEBIH BAIK KITA BERSATU

    MEMBANGUN INDONESIA BERSAMA OK

    SALAM DAMAI BRO

    Balas
    1. raja

      dikatakan dalam 10 hukum taurat yg dibawa nabi kita bersama nabi MUSA “jangn menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarang” aq yakin tuhan kita sama…
      perbedaan terjadi kmu menurut nabi muhammad (islam) dan kami yesus(kristen).

      Balas
  124. dongan naburju

    martinius..kami kristiani butuh pertolonganNya,terserah bung..mw maki atau gimana…tanggung sendiri akibatnya..kami merasa kasihan melihat mu begitu..

    Balas
  125. dcs

    @Martinus
    Dari mulut yang mengumandangkan takbir dan selalu berseru Allahu Akbar, keluar kata2 yang mentaik kucingkan seorang nabi ( menurut Islam). seperti kata Dongan Naburju, Kasihan melihat ciptaan Tuhan seperti kamu.

    Buat semua pemeluk agama kristen dan islam.
    Setelah ngalor ngidul mempelajari bahasan2 agama menurut maniak2 agama, baik itu orang kristen yang membahas agama islam, maupun orang yang beragama islam membahas agama kristen, sepertinya kedua agama hanya ciptaan manusia saja dan banyak kebohongannya.Alkitab yang berbohonglah tentang kebenaran Yesus disalib, Nabi Muhammad yang mengawini anak bayilah dan menciptakan ayat untuk membenarkan perbuatannya dan banyak lagi yang seram2, sepertinya Alkitab dan Alquran itu tidak lebih baik dari cerita komik.

    Seperti kata penulis jangan2 Tuhan Gokil menciptakan kedua agama itu. atau dia lagi fly sehingga hasil ciptaannya membuat mahluk ciptaannya yang paling sempurna saling cakar2an.

    Jadi berhenti membuat pembahasan dan penafsiran agama orang lain, seperti kata Remon, mari kita bangun Indonesia, terutama membangun Ahlak yang baik, baik dimata manusia maupun dimata sang Khalik, kita bangun toleransi antar umat beragama. Buat yang beragama Islam yakini bahwa Yesus itu adalah nabi, dan turuti perintahnya, buat yang beragama kristen aminin Yesus itu adalah penebus yang datang untuk menyelamatkan kamu ( saya pernah dengar ulama besar Islam mengakui bahwa Yesus itu juga Juru Selamat bagi Umat Muslim ), jadi yang diributin itu apa saudara2 sekalian, jangan “paha” istri orang yang kamu intip2 dan cium dan berharap mencium anyir, tapi cari uang yang halal untuk membeli celana dalam dan sabun buat istrimu agar harum dan hidupmu bahagia. (maaf)

    Salam.

    Balas
  126. Bakkery

    Emang ada kejahatan dan kebencian dari ajaran yang suci. Kalo boleh membunuh mahluk lain, menyiksa karena beda itu disebut sesuatu yang suci, apa ini yng dimaksud dunia akan kiamat.

    Hehehe
    Teroris aja ngak makan anak sendiri,
    tapi meledakkan mahluk lain.
    hahahah

    Balas
  127. lovepassword

    Antar agama cakar-cakaran , atheis yang mendapat keuntungan ??? Apa atheis perduli kalo agama cakar-cakaran ? Hi Hi Hi terlalu naif itu.

    Debat terbuka, kita keroyok juga belum tentu pakar-pakar agama yang menang kok. Hi Hi Hi. apalagi kalo yang debat model orang2 overPD yang kebesaran gaya seperti aku. Hi hi hi. Alala bum bum..Blukutuk kutuk.

    Merasa pinter ??? Ada yang mau protes nggak setuju omongan ini, ya sono masuk ke forum atheis atau blognya atheis. Silakan memaki sekeras-keras, serang mereka. Lalu Anda rasakan sendiri seberapa dalam pengetahuan kita tentang agama kita masing-masing. Hi Hi Hi.

    Penganut agama memang hebat. Nggak sadar juga bahwa timbulnya aliran aneh2 termasuk atheisme itu timbulnya karena kesebalan terhadap perilaku ajaib umat beragama.

    Kalo atas nama Tuhan kita memaki
    Kalo atas nama Tuhan kita membunuh

    Maka sangat wajar bila orang yang sebel malah memilih jadi atheis. Karena atheis itu salah satu penyebabnya adalah pada rasa dongkol terhadap perilaku umat beragama, maka yang pasti dosa ya mestinya umat beragama. Artinya kita berdosa lumayan serius karena setiap perdebatan kita yang out of control telah menimbulkan bibit-bibit atheis baru.

    Apakah diskusi antar agama nggak boleh ? Ya boleh2 sajalah. Tetapi kalem dikit nape. Nggak ada kok orang yang takut kalo kita ngomong dengan ucapan2 sarkastis. Paling2 di luar sana ada yang nyeletuk. O gicu tho perilaku umat beragama ketika berbicara dengan sesamanya. Weleh…weleh.Hik Hik

    Balas
  128. dcs

    @Lae Toga,

    Salam hormat lae, aku hanya tidak bisa melihat bahwa ada orang yang beragama yang melecehkan Yesus, aku juga sangat miris kalau ada yang mengaku kristen merendahkan Muhammad SAW. Ajaran yang mereka turunkan itu sangat luar biasa, kalau kita pelajari dengan hati yang tulus dan jernih.

    Seperti kata Lovepassword, kalau atas nama Tuhan kita memaki, kalau atas nama Tuhan kita membunuh, kalau atas nama Tuhan kita mengatakan orang lain masuk neraka, emangnya kapan Tuhan mengangkat kita jadi Jaksanya.

    Akupun sering melihat ayat2 kontroversial dalam kitab suciku, demikian juga kalau saya mendengar ajaran agama yang lain agak aneh, kadang2 saya pikir jangan2 Tuhan salah cetak. Ada juga yang menuduh saya murtad kalau mempersoalkan ajaran agama saya, apalagi kalau menyoal agama yang lain, bisa berabe.

    Pertama sekali membaca “Islam VS Kristen…. dan Justru setelah muslim, ….. aku merinding lae, merinding bangat.Saya hampir bilang Justru setelah saya membaca itu saya sadari keraguan saya selama ini, artinya ajaran kristen yang sebenarnya saya pahami dari seorang yang beragama lain dan mualaf.Sumpah, Saya tidak berbohong.

    Apapun itu, terimakasih buat komentar lae dan tulisan2nya, saya tunggu tulisan yang lain. Salam.

    Balas
  129. Fatary

    Ibarat ada surga dan neraka, untuk ke surga ada 2 pilihan, jalur A ato jalur B, Tujuan sama. Untuk pergi ke neraka ada dua pilihan, jalur A ato Jalur B, Tujuanpun tetap sama. Namun Kita diwajibkan untuk memilih, maka jika anda tidak memilih jalur A, so pasti anda akan memilih jalur B ato sebaliknya. Disini saya mengatakan Atheis GOLPUT. saya sendiri blm ngerti dengan pemikiran orang2 GOLPUT, apakah dia seorang yg bingung, seorang yg ngga punya tujuan, seorang yg ngga punya nyali utk memilih, ato emang udah di takdirkan ngga bakal milih?. brarti jika demikian jgn plin plan dengan prinsip tersebut, sekali GOLPUT harus GOLDPUT. Anda tidak perlu harus memilih jodoh anda, apakah nanti anda dapat yg baik ato tidak, yg cantik ato tidak, apakah anda nanti miskin ato kaya, anda tidak punya hak untuk memilih bahkan semua pilihan anda juga tidak cocok buat anda karena itu pilihan yg bukan hak anda, jadi jangan pernah memilih alias neko2. Bila anda punya pasang hidup yang baik, cakep, ganteng, kaya, miskin, itu pun tidak layak buat anda karena itu adalah bagian dari pilihan, dan sekali lagi anda bukan pemilih alias GOLPUT. :D

    Balas
  130. Fatary

    Tambahin sedikit ahh…Jika pagi telah datang, anda di hadapkan pada dua pilihan, mandi ato tidak mandi, sesuai prinsip Atheis untuk tidak memilih alias GOLPUT, anda tidak layak untuk tidak mandi apalagi sampai mandi, anda harus berada di tengah antara keduanya. jika hari ini anda harus makan, anda tidak layak makan makanan yg tidak enak apalagi makan makanan yg enak karena itu adalah bagian dari pilihan. Jika anda di hadapan harus menikah, anda tidak layak menikah dengan pria ato pun wanita karena itu adalah pilihan dan anda harus selalu berada diantara kedua pilihan tersebut. Ingat SEKALI GOLPUT HARUS GOLPUT baik dalam memilih keyakinan maupun dalam hal lain, jika anda setengah2 brarti anda bukan GOLPUT SEJATI ato Seorang ATHEIS SEJATI dan jangan pernah berpikir untuk memilih karena itu di luar prinsip anda dan sekali lagi anda tidak layak untuk MEMILIH bahkan jangan pernah menggunakan kata “PILIH dan kata-kata yang Sebangsa dengannya” :D

    Balas
  131. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Islam Adalah Kerajaan Tuhan Di Muka Bumi
    Ketika memeriksa ramalan Nabi Daniel (Pasal 7) yang mengagumkan itu, kita melihat22 betapa Muhammad diiringi oleh banyak sekali makhluk langit dan di bawa ke hadirat agung Sang Mahakekal; betapa beliau mendengar kata-kata hormat dan kasih sayang yang tidak pernah diberikan kepada makhluk lain (2 Korintus 11); bagaimana beliau dinobatkan sebagai Sultan para Nabi dan dibekali dengan kekuatan untuk menghancurkan “Binatang Buas Keempat” dan “Tanduk yang Menghujat Tuhan.”

    Selain itu, kita melihat bagaimana beliau diberi wewenang untuk menegakkan dan memproklamirkan Kerajaan Tuhan di muka bumi; bagaimana segenap kemampuan manusia dapat membayangkan kehormatan tertinggi yang diberikan oleh Yang Mahakuasa kepada seorang Hamba tercinta dan kepada Rasul-Nya yang paling pantas dapat dianggap hanya berasal dari Muhammad semata.

    Perlu diingat bahwa dari semua Nabi dan Rasul Allah, hanya Muhammad yang muncul laksana sebuah menara yang lebih tinggi dari semua menara lainnya; dan karya yang hebat dan mulia yang dikerjakannya menjadi sebuah monumen kehormatan dan kebesarannya yang abadi.

    Seseorang tidak dapat mengapresiasi nilai dan arti penting dari Islam sebagai benteng pertahanan khas untuk melawan pemberhalaan dan politheisme kalau keesaan Tuhan yang mutlak tidak diakui secara sungguh-sungguh.

    Ketika kita menyadari sepenuhnya bahwa Allah adalah Tuhan yang juga dikenal oleh Adam dan Ibrahim, dan yang disembah oleh Musa dan Yesus, maka tidak ada kesulitan bagi kita untuk menerima Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan Muhammad sebagai Pangeran dari semua Nabi dan Hamba Tuhan. Kita tidak dapat menambah kebesaran Allah dengan memahami-NYa sekarang sebagai “Bapak,” sekarang sebagai “Anak,” dan sekarang sebagai “Roh Kudus,” atau membayangkan Dia sebagai memiliki tiga oknum yang dapat saling memanggil dengan tiga kata ganti orang tunggal: aku, engkau, dia. Dengan begitu maka kita kehilangan semua konsep yang benar mengenai Wujud Mutlak, dan tidak lagi beriman kepada Tuhan yang Sejati.

    Dengan cara yang sama, kita tidak bisa menambah sedikit pun pada kesucian agama dengan cara melembagakan sakramen-sakramen atau misteri-misteri; juga kita tidak dapat memperoleh makanan spiritual apap pun untuk roh kita dari mayat seorang nabi atau tuhan yang menitis; karena dengan berbuat begitu maka kita kehilangan semua gagasan tentang sebuah agama yang benar dan riil dan tidak lagi mempercayai agama sama sekali.

    Juga kita tidak bisa, setidaknya, mempromosikan martabat Muhammad jika kita harus membayangkan sebagai seorang anak Tuhan atau titisan Tuhan; karena dengan berbuat begitu kita akan benar-benar kehilangan Nabi dari Mekah yang riil dan bersejarah dan tanpa disadari jatuh ke dalam jurang politheisme yang dalam sekali.

    Kebesaran Muhammad terletak dalam upayanya menegakkan agama yang begitu logis, jelas, namun benar, dan dalam aplikasi praktis dari ajaran dan prinsip-prinsipnya yang saking teliti dan tegasnya sampai-sampai mustahil bagi seorang Muslim sejati untuk menerima syahadat atau keimanan lain selain dari yang diakui dalam ungkapan, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.” Dan syahadat singkat ini selanjutnya menjadi keyakinan dari setiap Mukmin sejati hingga hari kebangkitan.

    Sang pemusnah agung yang menghancurkan “Tanduk Kesebelas”, yang melambangkan Konstantin Agung dan Gereja Trinitas, bukanlah seorang Bar Allaha (Anak Tuhan), melainkan seorang Bar Nasha (Anak Manusia) dan tidak seorang pun selain Muhammad al-Musthafa yang benar-benar mendirikan dan membangun Kerajaan Tuhan di bumi. Kerajaan Tuhan inilah yang sekarang akan kita kaji dan uraikan.

    Harus diingat bahwa selama pertemuan ilahiah dengan Sultan para Nabi inilah, sebagaimana dikemukakan dalam Daniel, dijanjikan bahwa:

    “Pemerintahan, kekuasaan, dan kebesaran dari Kerajaan-kerajaan di bawah semesta langit akan diberikan kepada orang-orang Suci milik yang Mahatinggi; pemerintahan [rakyat]-nya [akan menjadi] sebuah pemerintahan yang kekal, dan semua kekuasaan akan mengabdi dan patuh kepadanya.” (Daniel 7:22,27)

    Ungkapan-ungkapan dalam bagian kenabian ini yang menyatakan bahwa kerajaan Tuhan akan terdiri dari “Orang-orang Suci milik Yang Mahatinggi”, dan bahwa semua kekuasaan atau pemerintahan lainnya akan mengabdi dan mematuhi orang-orang itu, dengan jelas menunjukkan bahwa dalam Islam, Agama dan Negara adalah satu tubuh yang sama, dan konsekuensinya tidak dapat dipisahkan. Islam bukanlah hanya Agama Tuhan, tapi juga kekuasaan atau kerajaan duniawi-Nya.

    Agar dapat membentuk sebuah gagasan yang jelas dan benar mengenai sifat dan konstitusi dari “Kerajaan Tuhan di bumi” maka perlu melihat sekilas sejarah agama Islam sebelum ia disempurnakan, dilengkapkan, dan secara resmi ditegakkan oleh Tuhan Sendiri di bawah Muhammad Rasul-Nya.

    Islam Sebelum Muhammad bukanlah Kerajaan Tuhan di Bumi Melainkan Hanya Agama Tuhan yang benar

    Mereka yang percaya bahwa agama Allah yang benar diwahyukan hanya kepada Ibrahim dan dipelihara hanya oleh Bani Israel saja, pastilah pengkaji Literatur Perjanjian Lama yang sangat bodoh, dan pasti memiliki pengetahuan yang sangat keliru mengenai sifat agama itu.

    Ibrahim sendiri membayar tithe (semacam zakat) kepada Raja dan Imam23 Yerusalem dan direstui olehnya (Kitab Kejadian 14:18). Bapak mertua Musa, adalah juga seorang Imam dan seorang Nabi Allah; Yob, Balaam, Ad, Hud, Lukman, dan banyak nabi lainnya bukanlah orang Yahudi. Berbagai macam suku dan bangsa seperti Ishmail, Moab, Ammon, Edom, dan lain-lainnya yang merupakan anak-anak Ibrahim dan Luth, mengenal Tuhan Yang Mahakuasa meski mereka pun, seperti Bani Israel, jatuh ke dalam kemusyrikan dan kebodohan.

    Namun, cahaya Islam sama sekali tidak pernah padam atau pun digantikan oleh kemusyrikan. Patung-patung dan gambar-gambar, yang dianggap “sakral” dan sebagai tuhan-tuhan rumah tangga oleh kaum Yahudi, dan juga bangsa-bangsa sama, dan biasanya disebut “Traphim” (Kitab Kejadian 31) dalam bahsa Ibrani, adalah –menurut pendapat saya yang sederhana– memiliki sifat dan karakter yang sama dengan gambar-gambar dan patung-patung yang disimpan dan disembah oleh kaum Kristen Ortodoks dan Katolik di rumah-rumah dan bait-bait mereka.

    Di jaman kebodohan yang kuno, patung-patung merupakan semacam “kartu identitas” atau sebagai paspor. Bukankah luar biasa mengetahui bahwa Rahel (Rahil), istri Yaqub dan anak perempuan Laban, harus mencuri “traphim” bapaknya? (Kitab Kejadian 31). Bagaimanapun Laban dan juga suaminya adalah Muslim, dan pada hari yang sama menaikkan batu “Mispha” dan mempersembahkannya kepada Tuhan!

    Kaum Yahudi di padang gurun, mabuk dengan keanehan dan keajaiban yang terjadi siang-malam –kemah mereka dinaungi oleh awan yang ajaib pada siang hari dan diterangi oleh tiang api pada malam hari, mereka sendiri diberi makan dengan “manna” dan “salwa”– segera setelah Nabi Musa lenyap selama beberapa hari di puncak Gunung Sinai yang berkabut, membuat sebuah patung anak sapi dari emas dan menyembahnya.

    Sejarah tentang kaum yang keras kepada dari sejak kematiannya Yoshua sampai upacara perminyakan suci raja Saul, yang meliputi seuatu masa lebih dari empat abad, penuh dengan penyembahan berhala yang memalukan yang selalu kambuh dan kambuh lagi. Hanya setelah ditutupnya wahyu dan undang-undang dari Kitab-kitab Suci mereka pada abad ketiga sebelum Masehi, barulah kaum Yahudi berhenti menyembah patung-patung, dan sejak itu tetap sebagai kaum monoteis (ahlutauhid). Namun, kepercayaan mereka akan Keesaan Tuhan, meskipun hal itu menjadikan mereka memenuhi syariat untuk disebut “Muslim,” karena mereka dengan kepala batu telah menolak baik Yesus, Muhammad, maupun wahyunya.

    Hanya melalui ketundukkan kepada kehendak Tuhan, barulah seseorang dapat mencapai kedamaian dan menjadi Muslim. Sebaliknya, keyakinan tanpa ketaatan dan ketundukkan adalah sama dengan keyakinan iblis yang mempercayai eksistensi Allah dan gemetar.

    Karena kita tidak mempunyai catatan tentnag kaum-kaum lain yang disokong dengan wahyu Ilahi dan para nabi serta Imam yang didatangkan kepada mereka oleh Tuhan, kita harus puas dengan pernyataan bahwa agama Islam yang hidup di tengah bangsa Israel dan bangsa-bangsa Arab lainnya, di jaman dahulu, kadang-kadang lebih bercahaya, namun kebanyakan seperti sumbu yang kerlap-kerlip atau seperti sinar yang redup dalam sebuah ruang yang gelap. Ia adalah agama yang diakui oleh suatu kaum yang segera melupakannya, atau mengabaikannya, atau mengubahnya menjadi ibadat kaum pagan. Namun begitu selalu ada individu atau keluarga yang mencintai dan menyembah Tuhan.

    Nampaknya kaum Yahudi, khususnya rakyat jelata, tidak mempunyai konsepsi yang benar tentang Tuhan dan agama sebagaimana dipunyai kaum Muslim tentang Allah dan Islam. Apabila Bani Israel menjadi makmur dan menang dalam perang-perangnya, maka Yahwah pun diakui dan disembah; tapi bila terjadi sebaliknya, Dia ditinggalkan dan tuhan dari bangsa yang lebih kuat dan lebih makmur pun diambil dan patung atau gambarnya disembah.

    Sebuah kajian teliti terhadap Kitab Suci Ibrani menunjukkan bahwa orang Yahudi awam menganggap tuhannya kadang-kadang lebih kuat atau lebih tinggi, dan kadang lebih lemah, dibandingkan tuhan-tuhan yang diakui oleh bangsa-bangsa lainnya. Kepindahan mereka yang sangat mudah dan berulang-kali ke dalam penyembahan berhala adalah suatu bukti bahwa bangsa Israel memiliki pemikiran yang nyaris sama tentang El atau Yahwah mereka, sebagaimana dimilki bangsa Assyria tentang Ashur-nya, bangsa Babylonia tentang Mardukh-nya, dan bangsa Phoenicia dengan Ba’al-nya. Dengan kekecualian para nabi dan sofi, kaum Muslim dari taurat, Bani Israel dari Hukum Musa, tidak pernah naik menyamai tingginya kesucian agama mereka, tidak juga tingginya konsepsi Ketuhanan mereka yang benar.

    Keimanan pada Allah dan keyakinan serta keimanan yang kokoh terhadap kehidupan masa akan datang tidak mendarah daging dan tertanam dalam semangat dan batin kaum Yahudi.

    Maka, alangkah kontrasnya antara kaum Muslim dan Al-Qur’an, kaum Mukmin dari Muhammadan Law24 (Hukum Muhammad), dan kaum Muslim dari Taurat atau Mosaic Law (Hukum Musa)! Pernahkah diketahui dan dibuktikan bahwa ada satu kaum Muslim meninggalkan mesjid, Imam, dan Al-Qur’an-nya, lantas memeluk agama lain dan mengakui bahwa Allah adalah bukan Tuhannya? Tidak pernah! Sangat mustahil kalau suatu komunitas Muslim pengikut Muhammad, sepanjang ia dilengkapi dengan [dan benar-benar menghayati] Kitab Allah, mesjid dan mullah, bisa kembali ke dalam penyembahan berhala atau bahkan ke dalam agama Kristen.

    Saya mengetahui beberapa keluarga Tartar yang memeluk Agama Kristen Ortodoks di Rusia. Namun, saya dapat meyakinkan para pembaca, dengan sumber yang otentik, bahwa orang-orang “Tartar” ini adalah bangsa Mongol yang, lama setelah penaklukkan Rusia dan didirikannya “Altin Ordu” oleh Batu Khan, masih pagan atau baru pindah ke Islam dan nampaknya telah dipaksa atau dibujuk untuk mengikuti Gereja Rusi. Dan dalam kaitan ini jangan dilupakan bahwa ini terjai setelah kekuasaan Muslim “Golden Horde” (“Altin Ordu”) ambruk karena invasi Timur Lang (Tamerlane) yang hebat sekali.

    Sebaliknya, para pedagang dan saudagar Muslim, di Cina dan juga di benua hitam Afrika, selalu meyebarkan agama suci mereka; dan jutaan Muslim Cina dan negro adalah hasil dari para misionaris Muslim yang tidak dibayar dan tidak resmi ini.

    Jelaslah dari keterangan di atas bahwa agama Tuhan yang benar sebelum Muhammad itu hanya dalam pertumbuhannya, bahwa ia masih belum matang dan tidak berkembang di tengah-tengah kaum Yahudi, meskipun ia bersinar cemerlang dalam kehidupan para hamba Yahwah yang sejati. Di bawah pimpinan para hakum yang takut kepada Tuhan dan Raja-raja Israel yang shaleh, pemerintahan selalu bersfat teokratis, dan sepanjang sabda-sabda para nabi diterima dengan baik dan perintah-perintah mereka dilaksanakan sebagaimana mestinya, maka baik agama maupun bangsa akan menjadi maju.

    Namun, agama Tuhan yang benar tidak pernah berbentuk Kerajaan Tuhan sebagaimana di bawah rezim Qur’ani. Allah dalam hikmah-Nya yang tidak terbatas telah menetapkan bahwa empat Kuasa Kegelapan besar akan datang silih berganti sebelum Kerajaan-Nya sendiri ditegakkan. Peradaban-peradaban dan kekaisaran-kekaisaran besar kuno dari Assyro-Khaldea, dari Medo-Persia, dari Yunani, dan dari Romawi, akan muncul dan berkembang, untuk menyiksa dan menzalimi para rasul, dan melakukan semua kejahatan dan kenakalan yang direncanakan oleh Iblis. Keagungan dari kuasa-kuasa besar ini terletak pada penyembahan mereka terhadap Iblis; dan “keagungan” inilah yang dijanjikan oleh “Pangeran Kegelapan” akan diberikan kepada Yesus Kristus dari puncak gunung yang tinggi seandainya saja ia mengikuti dan menyembahnya.

    Kristus dan Murid-murid-Nya mengabarkan Kerajaan Tuhan

    Memang benar mereka adalah pertanda Kerajaan Tuhan di muka bumi. Jiwa dan inti dari Injil Yesus terkandung dalam ungkapan, “Kerajaan-Mu datang.”

    Selama dua puluh abad umat Kristiani dari semua golongan dan naungan kepercayaan telah berdoa dan mengulang-ulang doa, “Kerajaan-Mu datang,” dan hanya Tuhan yang mengetahui berapa lama mereka akan terus berdoa dan dengan sia-sia mengantisipasi kedatangannya.

    Antisipasi umat Kristiani akan datangnya Kerajaan Tuhan sama dengan antisipasi agama Yahudi akan datangnya Mesias. Kedua antisipasi ini memperlihatkan suatu imajinasi yang tanpa perhatian dan tanpa pikiran, dan anehnya mereka secara terus-menerus berpegang teguh pada harapan yang sia-sia ini.

    Jika Anda bertanya kepada seorang pendeta Kristen mengenai pendapatnya tentang Kerajaan Tuhan, ia akan menceritakan kepada Anda segala macam hal yang dibuat-buat dan tak bermakna. Kerajaan ini, ia menegaskan, adalah Gereja tempat dirinya berada yang menguasai dan menyerap semua gereja bid’ah lainnya.

    Pendeta lainnya akan berpidato panjang lebar mengenai “milenium.” Seorang Salvasionis atau seorang Quaker25 mungkin mengatakan kepada Anda bahwa menurut keyakinannya Kerajaan Tuhan akan terdiri dari orang-orang Kristen yang baru lahir dan tanpa dosa, yang dimandikan dan dibersihkan dengan darah Yesus; dan seterusnya.

    Kerajaan Tuhan tidak berarti sebuah Gereja Katolik yang jaya, atau sebuah Negara Puritan yang diperbaharui dan tanpa dosa. Ia bukanlah seorang “Raja Milenium” yang suka berkhayal. Ia bukanlah sebuah kerajaan yang terdiri dari makhluk-makhluk langit, termasuk roh-roh almarhum para nabi dan orang-orang beriman yang diberkati, di bawah pemerintahan seorang Domba Tuhan; dengan para malaikat sebagai polisi dan polisi-militer-nya; para Kherub26 sebagai gubernur dan hakim-hakimnya; para Seraf27 sebagai perwira dan komandannya; atau para Malaikat yang utama sebagai Paus, Patriarch, Uskup, dan para pengabar Injil.

    Kerajaan Tuhan di bumi adalah sebuah agama, sebuah masyarakat yang kuat yang percaya kepada Satu Tuhan dan dilengkapi dengan iman dan pedang untuk berperang dan mempertahankan eksistensi serta kemerdekaan mutlaknya melawan Kerajaan Kegelapan, melawan semua orang yang tidak percaya bahwa Tuhan itu Satu, atau mereka yang percaya bahwa Dia mempunyai seorang anak, seorang bapak atau ibu, sekutu dan sebaya.

    Kata Yunani euangelion, diterjemahkan sebagai “Gospel” dalam bahasa Inggris, secara praktis berarti “ucapan kabar baik.” Dan ucapan ini adalah berita tentang Kerajaan Tuhan yang sedang mendekat, yang paling rendah di antara warga negaranya adalah lebih mulia dari Yohanes Pembaptis. Dia sendiri dan para Rasul setelahnya mengajarkan dan mengabarkan Kerajaan ini kepada bangsa Yahudi, mengajak mereka untuk percaya dan bertobat agar diizinkan memasukinya.

    Yesus sebenarnya tidak membatalkan atau mengubah Hukum Musa, tetapi menafsirkannya dalam makna spiritual sehingga ia meninggalkannya sebagai surat yang tidak sampai kepada alamatnya (dead letter). Ketika ia menyatakan bahwa kebencian adalah akar dari pembunuhan, syahwat adalah sumber perzinahan, bahwa ketamakan dan kemunafikan adalah dosa yang sama buruknya dengan kemusyrikan, dan bahwa kasih-sayang dan kemurahan hati adalah lebih dapat diterima daripada sesajen yang dibakar dan ketaatan yang keras terhadap hari Sabat, maka secara praktis ia telah menghapuskan isi Hukum Musa demi makna spiritualnya.

    Kitab-kitab Injil yang palsu dan banyak ditambah-tambah ini sering melaporkan cerita-cerita perumpamaan (parabel) dan penisbahan Kristus kepada Kerajaan Tuhan, dan kepada Barnasha atau Anak Manusia, tetapi mereka demikian rusak dan menyimpang sehingga berhasil, dan masih berhasil, dalam menyesatkan umat Kristiani yang malang untuk percaya bahwa yang dimaksud Yesus dengan “Kerajaan Tuhan” adalah Gerejanya, dan bahwa dia sendiri adalah “Anak Manusia.”

    Poin-poin penting ini akan dibicarakan secara tuntas kemudian, insya Allah. Untuk sekarang ini saya harus puas dengan menyatakan apa yang dikabarkan Yesus, bawha Islam-lah yang dimaksud Kerajaan Tuhan itu dan bahwa Muhammadlah yang dimaksud sebagai Anak Manusia, yang ditugaskan untuk menghancurkan Binatang Buas dan untuk menegakkan Kerajaan yang kuat dan orang-orang suci milik Yang Mahatinggi.

    Agama Tuhan, sampai Yesus Kristus, ditujukan terutama kepada Bani Israel; ia lebih bersifat material dan berkarakter nasional. Para ahli hukum, pendeta, dan penulisnya telah menodai agama itu dengan literatur yang kotor dan penuh tahayul tentang tradisi-tradisi para leluhur mereka. Kristus mengutuk tradisi-tradisi itu, mengecam kaum Yahudi dan para pemimpin mereka sebagai kaum “munafik” dan “anak-anak Iblis.” Meskipun setan kemusyrikan telah meninggalkan Israel, namun kemudian tujuh setan telah mengambil alih bangsa itu (Matius 12:43-456; Lukas 11:24-26).

    Krisus mereformasi agama lama, memberikan suatu kehidupan dan spirit baru terhadapnya; ia menjelaskan dengan lebih gamblang tentang kekekalan jiwa manusia, kebangkitan dan kehidupan di dunia mendatang; dan secara terbuka mengumumkan bahwa Mesias yang sedang ditunggu-tunggu kaum Yahudi bukanlah seorang Yahudi atau anak Daud, melainkan anak Ismail yang namanya Ahmad, dan bahwa ia akan menegakkan Kerajaan Tuhan di bumi dengan kekuatan firman Tuhan dan dengan pedang. Konsekuensinya, agama Islam menerima suatu kehidupan, cahaya, dan spirit baru, dan para pemeluknya diharuskan bersikap sederhana, menunjukkan kesabaran dan penahanan hawa nafsu. Mereka sebelumnya diberitahu tentang penyiksaan, kesengsaraan, kesyahidan, dan penjara.

    Kaum “Nashara” awal –demikian Al-Qur’an menyebut orang-orang yang beriman kepada Kitab Injil Yesus Kristus– mengalami sepuluh penyiksaan yang menakutkan di bawah Kekaisaran Romawi. Kemudian datanglah Konstantn Agung dan memproklamirkan kebebasan untuk Gereja; tetapi setelah ada keputusan-keputusan dan Akidah Trinitas dari Dewan Nicene pada 325 M, kaum Muslim28 Unitarian menerima serangkaian penyiksaan baru dan bahkan lebih kejam dari kaum Trinitarian, sampai lahirnya Muhammad saw.

    Sifat dan Konstitusi Kerajaan Tuhan

    Ada lagu Islami yang indah dan dikumandangkan lima kali sehari dari menara dan mesjid-mesjid pada setiap belahan bumi di mana kaum Muslim hidup. Lagu ini diikuti dengan suatu peribadatan yang sangat khidmat kepada Allah oleh umat-Nya yang tulus. Nyanyian pujian Muslim yang indah ini disebut adzan. Ini bukan segala-galanya; setiap perbuatan, perusahaan dan bisnis, betapapun penting atau remeh-remehnya ia, dimulai dengan ucapan bismillah (dengan nama Allah), dan diakhiri dengan Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah).

    Pertlian iman yang mengikat seorang Muslim dengan Raja Surga-nya begitu erat, sehingga tidak ada, betapa pun kuat atau menggairahkannya, yang dapat memisahkan dia dari Allah. Al-Qur’an menyatakan bahwa “Kita lebih dekat kepada Tuhan daripada hablul-Warid,” yang berarti “kehidupan sia-sia”.

    Tidak pernah ada seorang anggota kesayangan yang, dalam perasaan kasih sayang, kesetiaan, kepatuhan, dan respeknya terhadap rajanya yang dermawan, penuh sanggup menyamai perasaan yang mereka miliki terhadap Tuhannya. Allah adalah Raja Langit dan Bumi, Dia adalah Raja Diraja dan Lord of the Lord pada umumnya. Dia adalah Raja dan Tuhan dari setiap Muslim khususnya, karena hanya seorang Muslim yang bersyukur dan memuji Rajanya Yang Mahakuasa atas semua yang terjadi dan menimpanya. Apakah itu kemakmuran atau sebaliknya?

    Hampir –lebih kurang– tiga ratus juta Muslim diberkati dengan perasaan keimanan dan kepercayaan yang sama kepada Allah.

    Oleh karena tiu, jelaslah bahwa Islam tercapai karena ia menjadi satu-satunya Kerajaan Teokratis di bumi yang riil dan sebenar-benarnya. Allah tidak perlu lagi mengirim para Utusan atau Nabi untuk menyampaikan sabda dan pesan-pesan-Nya kepada kaum Muslim sebagaimana biasa Dia lakukan kepada Bani Israel dan kaum Yahudi lainnya; karena kehendak-Nya sepenuhnya diungkapkan dalam Al-Qur’an dan tertanam dalam benak hamba-hambanya yang tulus.

    Adapun mengenai pembentukan dan konstitusi Kerajaan Tuhan, inter alia, maka poin-poin berikut ini perlu diperhatikan:

    Semua Muslim membentuk satu bangsa, satu keluarga, dan satu persaudaraan. Saya tidak perlu menahan para pembaca untuk mengkaji berbagai kutipan dari Al-Qur’an dan hadits (tradisi Nabi) mengenai poin-poin ini. Kita harus menilai masyarakat Muslim tidak seperti adanya sekarang, tetapi seperti dulu di masa Muhammad dan para penggantinya yang dekat.

    Setiap anggota kaum ini adalah pekerja yang jujur, prajurit yang berani, dan seorang yang memiliki keyakinan dan ketaatan yang kuat. Semua hasil kerja keras yang jujur menjadi milik dan hak orang lain yang mengusahakannya; namun demikian, hukum menyebabkan mustahil bagi seorang Muslim untuk menjadi kaya secara berlebih-lebihan.

    Satu dari lima29 amal saleh Islam yang wajib adalah kewajiban bersedekah (pemberian sukarela) dan berzakat (pemberian wajib). Di masa Nabi dan empat Khalifah pertama, tidak seorang Muslim pun dikenal sangat kaya sekali. Kekayaan nasional masuk ke dalam perbendaharaan umum yang disebut Baitul Mal, dan tidak seorang Muslim pun dibiarkan hidup dalam kemiskinan.

    Nama “Muslim” secara harfiah berarti “pembuat kedamaian.” Anda tidak akan pernah dapat menemukan manusia lain yang lebih patuh, ramah, tidak mengganggu dan damai daripada seorang Muslim yang baik. Namun, begitu agama, kehormatan, dan hartanya diserang, si Muslim menjadi seorang lawan yang hebat. Al-Qur’an sangat tepat mengenai hal ini, “Wa la ta’tadu” (Dan janganlah engkau melanggar [atau melakukan serangan]).

    Jihad bukanlah perang untuk melanggar, tapi untuk membela diri. Meskipun para perampok, suku-suku yang buas, kaum Muslim pengembara yang setengah biadab, mungkin punya pikiran yang relijius dan kepercayaan terhadap eksistensi Allah, namun tidak adanya pengetahuan dan pendidikan keagamaan lah yang menjadi sumber penyebab sifat buruk dan kerusakan moral mereka. Mereka adalah kekecualian. Kita tidak akan dapat menjadi seorang Muslim yang baik tanpa pendidikan
    dan pengajaran keagamaan.

    Menurut deskripsi dari Nabi Daniel, warga Kerajaan Tuhan adalah “the People of the Saints” (orang-orang Suci). Dalam teks asli Khaldea dan Aramia, mereka digambarkan sebagai “A’mma d’ qaddishid’ I’lionin,” sebuah julukan yang hanya patut untuk Pangeran para Nabi dan untuk tentaranya yang mulia dari kaum Muhajirin (Imigran) dan Anshar (Penolong), yang mencabut habis kemusyrikan hingga ke akar-akarnya dari sebagian besar Asia dan Afrika dan menghancurkan Binatang Buas Romawi.

    Semua Muslim, yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan Rasul-rasul-Nya, beriman kepada hari Kebangkitan dan Pengadilan, dan meyakini bahwa kebaikan dan keburukan adalah dari Allah, dan mengerjakan amal shaleh menurut kemampuan dan niat baik mereka, adalah orang-orang suci dan warga yang Kerajaan diberkati. Tidak ada kebodohan religius yang lebih buruk daripada kepercayaan bahwa ada oknum yang disebut Holy Ghost (Roh Kudus) yang mengisi hati orang-orang yang dibaptis atas nama tiga tuhan, masing-masing yang ketiga dari tiga, atau yang tiga dari ketiga, dan dengan demikian mengorbankan orang-orang yang mempercayai kemustahilan mereka.

    Seorang Muslim percaya bahwa tidak hanya ada satu Holy Spirit (Roh Kudus), melainkan tidak terhitung jumlahnya yang semuanya diciptakan dan meladeni Tuhan Yang Satu. Kaum Muslim diciptakan, tidak melalui pembaptisan atau permandian, tetapi roh mereka dibersihkan dan disucikan oleh cahaya iman dan oleh api semangat dan keberanian untuk membela dan berperang demi keimanan itu.

    Yohanes Pembaptis, atau malah Kristus sendiri (menurut Kitab Injil Barnabas), berkata, “Aku membaptisamu dengan air pertobatan, namun dia yang datang setelahku, dia lebih kuat dariku; dia akan membaptismu dengan api dan dengan roh kudus.” Dengan api dan roh inilah Muhammad membaptis (mempermandikan) kaum pengembara yang setengah biadab, kaum kafir penyembah berhala, dan mengubah mereka menjadi pasukan orang suci yang heroik, yang mengubah sinagog tua yang semakin surut kekuasaannya dan gereja rusak menjadi Kerajaan Allah yang permanen dan kokoh di negeri-negeri yang dijanjikan dan di tempat-tempat lainnya.

    Keabadian dan Kemuliaan Kerajaan Allah

    Hal ini dua kali dipastikan oleh seorang Malaikat kepada Daniel. Dinyatakan bahwa “semua bangsa di bawah langit akan melayani Orang-orang Suci milik Yang Mahatinggi.”

    Tidak perlu bukti untuk mengatakan bahwa semua Kekuasaan Orang Kristen menunjukkan suatu respek tertentu, dan bahkan rasa hormat bila perlu tidak hanya kepada Kekuasaan Muslim dan tempat-tempat suci serta mesjid-mesjid kaum Muslim, tapi juga kepada institusi-institusi lokal dari warga Muslim mereka. Misteri “pengabdian” ini terletak pada:

    kaum Muslim selalu membangkitkan rasa hormat dan takut melalui perilaku mereka yang bermartabat, kesetiaan pada agama mereka dan ketaatan pada hukum yang adil, dan ketentraman merekal;
    karena pemerintahan-pemerintahan Kristen, biasanya, memperlakukan kaum Muslim dengan adil dan tidak mencampuri hukum dan agama mereka.

    Ruangan yang ada tidak mengizinkan kita untuk memperluas pengamatan kita pada poin-poin lain dari Agama dan Kerajaan Tuhan ini, seperti Khalifah-khalifah Muslim, Sultan, dan sebagainya. Cukup dikatakan bahwa pemerintahan-pemerintahan Muslim tunduk pada hukum Qurani yang sama dengan kompatriot mereka; bahwa keadilan dan kesederhanaan adalah sebaik-baiknya upaya perlindungan untuk kemakmuran dan stabilitas setiap Negara, Muslim atau non-Muslim; dan bahwa semangat dan prinsip Kitab Allah adalah sebaik-baiknya petunjuk untuk semua perundang-undangan dan peradaban.

    ——————————————————————————–

    Footnotes
    22. Vide Artikel V dan VI, yang terdapat dalam Islamic Review untuk Nopember dan Desember, 1928.
    23. Dalam bahasa Ibrani Imam-imam tua ini disebut “Kohen,” dan diterjemahkan oleh umat Kristiani sebagai “Pendeta.” Seorang pendeta Yahudi tidak bisa disamakan dengan pendeta Sakramentarian Kristen.
    24. Istilah “Muhammadan” digunakan di sini untuk membedakannya dari Mosaic Law, yang dua-duanya dari Allah.
    25. Suatu perkumpulan Kristen yang antiperang dan antisumpah–penerj.
    26. Malaikat urutan kedua, atau malaikat yang digambarkan sebagai anak kecil bersayap–penerj.
    27. Makhluk langit yang memiliki tiga pasang sayap, atau salah satu dari sembilan urutan malaikat–penerj.
    28. Yesus Kristus tidak pernah mengizinkan pengikutnya untuk menyebut diri mereka “Kristen.” Tidak ada sebutan yang lebih baik untuk kaum Unitarian selain “Muslim.” –A.D.
    29. Jihad atau “Perang Suci” adalah juga sebuah amal shaleh yang hukumnya wajib. Jadi, jumlahnya bukan empat, tapi lima.

    Balas
  132. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Islam Adalah Kerajaan Tuhan Di Muka Bumi
    Ketika memeriksa ramalan Nabi Daniel (Pasal 7) yang mengagumkan itu, kita melihat22 betapa Muhammad diiringi oleh banyak sekali makhluk langit dan di bawa ke hadirat agung Sang Mahakekal; betapa beliau mendengar kata-kata hormat dan kasih sayang yang tidak pernah diberikan kepada makhluk lain (2 Korintus 11); bagaimana beliau dinobatkan sebagai Sultan para Nabi dan dibekali dengan kekuatan untuk menghancurkan “Binatang Buas Keempat” dan “Tanduk yang Menghujat Tuhan.”

    Selain itu, kita melihat bagaimana beliau diberi wewenang untuk menegakkan dan memproklamirkan Kerajaan Tuhan di muka bumi; bagaimana segenap kemampuan manusia dapat membayangkan kehormatan tertinggi yang diberikan oleh Yang Mahakuasa kepada seorang Hamba tercinta dan kepada Rasul-Nya yang paling pantas dapat dianggap hanya berasal dari Muhammad semata.

    Perlu diingat bahwa dari semua Nabi dan Rasul Allah, hanya Muhammad yang muncul laksana sebuah menara yang lebih tinggi dari semua menara lainnya; dan karya yang hebat dan mulia yang dikerjakannya menjadi sebuah monumen kehormatan dan kebesarannya yang abadi.

    Seseorang tidak dapat mengapresiasi nilai dan arti penting dari Islam sebagai benteng pertahanan khas untuk melawan pemberhalaan dan politheisme kalau keesaan Tuhan yang mutlak tidak diakui secara sungguh-sungguh.

    Ketika kita menyadari sepenuhnya bahwa Allah adalah Tuhan yang juga dikenal oleh Adam dan Ibrahim, dan yang disembah oleh Musa dan Yesus, maka tidak ada kesulitan bagi kita untuk menerima Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan Muhammad sebagai Pangeran dari semua Nabi dan Hamba Tuhan. Kita tidak dapat menambah kebesaran Allah dengan memahami-NYa sekarang sebagai “Bapak,” sekarang sebagai “Anak,” dan sekarang sebagai “Roh Kudus,” atau membayangkan Dia sebagai memiliki tiga oknum yang dapat saling memanggil dengan tiga kata ganti orang tunggal: aku, engkau, dia. Dengan begitu maka kita kehilangan semua konsep yang benar mengenai Wujud Mutlak, dan tidak lagi beriman kepada Tuhan yang Sejati.

    Dengan cara yang sama, kita tidak bisa menambah sedikit pun pada kesucian agama dengan cara melembagakan sakramen-sakramen atau misteri-misteri; juga kita tidak dapat memperoleh makanan spiritual apap pun untuk roh kita dari mayat seorang nabi atau tuhan yang menitis; karena dengan berbuat begitu maka kita kehilangan semua gagasan tentang sebuah agama yang benar dan riil dan tidak lagi mempercayai agama sama sekali.

    Juga kita tidak bisa, setidaknya, mempromosikan martabat Muhammad jika kita harus membayangkan sebagai seorang anak Tuhan atau titisan Tuhan; karena dengan berbuat begitu kita akan benar-benar kehilangan Nabi dari Mekah yang riil dan bersejarah dan tanpa disadari jatuh ke dalam jurang politheisme yang dalam sekali.

    Kebesaran Muhammad terletak dalam upayanya menegakkan agama yang begitu logis, jelas, namun benar, dan dalam aplikasi praktis dari ajaran dan prinsip-prinsipnya yang saking teliti dan tegasnya sampai-sampai mustahil bagi seorang Muslim sejati untuk menerima syahadat atau keimanan lain selain dari yang diakui dalam ungkapan, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.” Dan syahadat singkat ini selanjutnya menjadi keyakinan dari setiap Mukmin sejati hingga hari kebangkitan.

    Sang pemusnah agung yang menghancurkan “Tanduk Kesebelas”, yang melambangkan Konstantin Agung dan Gereja Trinitas, bukanlah seorang Bar Allaha (Anak Tuhan), melainkan seorang Bar Nasha (Anak Manusia) dan tidak seorang pun selain Muhammad al-Musthafa yang benar-benar mendirikan dan membangun Kerajaan Tuhan di bumi. Kerajaan Tuhan inilah yang sekarang akan kita kaji dan uraikan.

    Harus diingat bahwa selama pertemuan ilahiah dengan Sultan para Nabi inilah, sebagaimana dikemukakan dalam Daniel, dijanjikan bahwa:

    “Pemerintahan, kekuasaan, dan kebesaran dari Kerajaan-kerajaan di bawah semesta langit akan diberikan kepada orang-orang Suci milik yang Mahatinggi; pemerintahan [rakyat]-nya [akan menjadi] sebuah pemerintahan yang kekal, dan semua kekuasaan akan mengabdi dan patuh kepadanya.” (Daniel 7:22,27)

    Ungkapan-ungkapan dalam bagian kenabian ini yang menyatakan bahwa kerajaan Tuhan akan terdiri dari “Orang-orang Suci milik Yang Mahatinggi”, dan bahwa semua kekuasaan atau pemerintahan lainnya akan mengabdi dan mematuhi orang-orang itu, dengan jelas menunjukkan bahwa dalam Islam, Agama dan Negara adalah satu tubuh yang sama, dan konsekuensinya tidak dapat dipisahkan. Islam bukanlah hanya Agama Tuhan, tapi juga kekuasaan atau kerajaan duniawi-Nya.

    Agar dapat membentuk sebuah gagasan yang jelas dan benar mengenai sifat dan konstitusi dari “Kerajaan Tuhan di bumi” maka perlu melihat sekilas sejarah agama Islam sebelum ia disempurnakan, dilengkapkan, dan secara resmi ditegakkan oleh Tuhan Sendiri di bawah Muhammad Rasul-Nya.

    Islam Sebelum Muhammad bukanlah Kerajaan Tuhan di Bumi Melainkan Hanya Agama Tuhan yang benar

    Mereka yang percaya bahwa agama Allah yang benar diwahyukan hanya kepada Ibrahim dan dipelihara hanya oleh Bani Israel saja, pastilah pengkaji Literatur Perjanjian Lama yang sangat bodoh, dan pasti memiliki pengetahuan yang sangat keliru mengenai sifat agama itu.

    Ibrahim sendiri membayar tithe (semacam zakat) kepada Raja dan Imam23 Yerusalem dan direstui olehnya (Kitab Kejadian 14:18). Bapak mertua Musa, adalah juga seorang Imam dan seorang Nabi Allah; Yob, Balaam, Ad, Hud, Lukman, dan banyak nabi lainnya bukanlah orang Yahudi. Berbagai macam suku dan bangsa seperti Ishmail, Moab, Ammon, Edom, dan lain-lainnya yang merupakan anak-anak Ibrahim dan Luth, mengenal Tuhan Yang Mahakuasa meski mereka pun, seperti Bani Israel, jatuh ke dalam kemusyrikan dan kebodohan.

    Namun, cahaya Islam sama sekali tidak pernah padam atau pun digantikan oleh kemusyrikan. Patung-patung dan gambar-gambar, yang dianggap “sakral” dan sebagai tuhan-tuhan rumah tangga oleh kaum Yahudi, dan juga bangsa-bangsa sama, dan biasanya disebut “Traphim” (Kitab Kejadian 31) dalam bahsa Ibrani, adalah –menurut pendapat saya yang sederhana– memiliki sifat dan karakter yang sama dengan gambar-gambar dan patung-patung yang disimpan dan disembah oleh kaum Kristen Ortodoks dan Katolik di rumah-rumah dan bait-bait mereka.

    Di jaman kebodohan yang kuno, patung-patung merupakan semacam “kartu identitas” atau sebagai paspor. Bukankah luar biasa mengetahui bahwa Rahel (Rahil), istri Yaqub dan anak perempuan Laban, harus mencuri “traphim” bapaknya? (Kitab Kejadian 31). Bagaimanapun Laban dan juga suaminya adalah Muslim, dan pada hari yang sama menaikkan batu “Mispha” dan mempersembahkannya kepada Tuhan!

    Kaum Yahudi di padang gurun, mabuk dengan keanehan dan keajaiban yang terjadi siang-malam –kemah mereka dinaungi oleh awan yang ajaib pada siang hari dan diterangi oleh tiang api pada malam hari, mereka sendiri diberi makan dengan “manna” dan “salwa”– segera setelah Nabi Musa lenyap selama beberapa hari di puncak Gunung Sinai yang berkabut, membuat sebuah patung anak sapi dari emas dan menyembahnya.

    Sejarah tentang kaum yang keras kepada dari sejak kematiannya Yoshua sampai upacara perminyakan suci raja Saul, yang meliputi seuatu masa lebih dari empat abad, penuh dengan penyembahan berhala yang memalukan yang selalu kambuh dan kambuh lagi. Hanya setelah ditutupnya wahyu dan undang-undang dari Kitab-kitab Suci mereka pada abad ketiga sebelum Masehi, barulah kaum Yahudi berhenti menyembah patung-patung, dan sejak itu tetap sebagai kaum monoteis (ahlutauhid). Namun, kepercayaan mereka akan Keesaan Tuhan, meskipun hal itu menjadikan mereka memenuhi syariat untuk disebut “Muslim,” karena mereka dengan kepala batu telah menolak baik Yesus, Muhammad, maupun wahyunya.

    Hanya melalui ketundukkan kepada kehendak Tuhan, barulah seseorang dapat mencapai kedamaian dan menjadi Muslim. Sebaliknya, keyakinan tanpa ketaatan dan ketundukkan adalah sama dengan keyakinan iblis yang mempercayai eksistensi Allah dan gemetar.

    Karena kita tidak mempunyai catatan tentnag kaum-kaum lain yang disokong dengan wahyu Ilahi dan para nabi serta Imam yang didatangkan kepada mereka oleh Tuhan, kita harus puas dengan pernyataan bahwa agama Islam yang hidup di tengah bangsa Israel dan bangsa-bangsa Arab lainnya, di jaman dahulu, kadang-kadang lebih bercahaya, namun kebanyakan seperti sumbu yang kerlap-kerlip atau seperti sinar yang redup dalam sebuah ruang yang gelap. Ia adalah agama yang diakui oleh suatu kaum yang segera melupakannya, atau mengabaikannya, atau mengubahnya menjadi ibadat kaum pagan. Namun begitu selalu ada individu atau keluarga yang mencintai dan menyembah Tuhan.

    Nampaknya kaum Yahudi, khususnya rakyat jelata, tidak mempunyai konsepsi yang benar tentang Tuhan dan agama sebagaimana dipunyai kaum Muslim tentang Allah dan Islam. Apabila Bani Israel menjadi makmur dan menang dalam perang-perangnya, maka Yahwah pun diakui dan disembah; tapi bila terjadi sebaliknya, Dia ditinggalkan dan tuhan dari bangsa yang lebih kuat dan lebih makmur pun diambil dan patung atau gambarnya disembah.

    Sebuah kajian teliti terhadap Kitab Suci Ibrani menunjukkan bahwa orang Yahudi awam menganggap tuhannya kadang-kadang lebih kuat atau lebih tinggi, dan kadang lebih lemah, dibandingkan tuhan-tuhan yang diakui oleh bangsa-bangsa lainnya. Kepindahan mereka yang sangat mudah dan berulang-kali ke dalam penyembahan berhala adalah suatu bukti bahwa bangsa Israel memiliki pemikiran yang nyaris sama tentang El atau Yahwah mereka, sebagaimana dimilki bangsa Assyria tentang Ashur-nya, bangsa Babylonia tentang Mardukh-nya, dan bangsa Phoenicia dengan Ba’al-nya. Dengan kekecualian para nabi dan sofi, kaum Muslim dari taurat, Bani Israel dari Hukum Musa, tidak pernah naik menyamai tingginya kesucian agama mereka, tidak juga tingginya konsepsi Ketuhanan mereka yang benar.

    Keimanan pada Allah dan keyakinan serta keimanan yang kokoh terhadap kehidupan masa akan datang tidak mendarah daging dan tertanam dalam semangat dan batin kaum Yahudi.

    Maka, alangkah kontrasnya antara kaum Muslim dan Al-Qur’an, kaum Mukmin dari Muhammadan Law24 (Hukum Muhammad), dan kaum Muslim dari Taurat atau Mosaic Law (Hukum Musa)! Pernahkah diketahui dan dibuktikan bahwa ada satu kaum Muslim meninggalkan mesjid, Imam, dan Al-Qur’an-nya, lantas memeluk agama lain dan mengakui bahwa Allah adalah bukan Tuhannya? Tidak pernah! Sangat mustahil kalau suatu komunitas Muslim pengikut Muhammad, sepanjang ia dilengkapi dengan [dan benar-benar menghayati] Kitab Allah, mesjid dan mullah, bisa kembali ke dalam penyembahan berhala atau bahkan ke dalam agama Kristen.

    Saya mengetahui beberapa keluarga Tartar yang memeluk Agama Kristen Ortodoks di Rusia. Namun, saya dapat meyakinkan para pembaca, dengan sumber yang otentik, bahwa orang-orang “Tartar” ini adalah bangsa Mongol yang, lama setelah penaklukkan Rusia dan didirikannya “Altin Ordu” oleh Batu Khan, masih pagan atau baru pindah ke Islam dan nampaknya telah dipaksa atau dibujuk untuk mengikuti Gereja Rusi. Dan dalam kaitan ini jangan dilupakan bahwa ini terjai setelah kekuasaan Muslim “Golden Horde” (“Altin Ordu”) ambruk karena invasi Timur Lang (Tamerlane) yang hebat sekali.

    Sebaliknya, para pedagang dan saudagar Muslim, di Cina dan juga di benua hitam Afrika, selalu meyebarkan agama suci mereka; dan jutaan Muslim Cina dan negro adalah hasil dari para misionaris Muslim yang tidak dibayar dan tidak resmi ini.

    Jelaslah dari keterangan di atas bahwa agama Tuhan yang benar sebelum Muhammad itu hanya dalam pertumbuhannya, bahwa ia masih belum matang dan tidak berkembang di tengah-tengah kaum Yahudi, meskipun ia bersinar cemerlang dalam kehidupan para hamba Yahwah yang sejati. Di bawah pimpinan para hakum yang takut kepada Tuhan dan Raja-raja Israel yang shaleh, pemerintahan selalu bersfat teokratis, dan sepanjang sabda-sabda para nabi diterima dengan baik dan perintah-perintah mereka dilaksanakan sebagaimana mestinya, maka baik agama maupun bangsa akan menjadi maju.

    Namun, agama Tuhan yang benar tidak pernah berbentuk Kerajaan Tuhan sebagaimana di bawah rezim Qur’ani. Allah dalam hikmah-Nya yang tidak terbatas telah menetapkan bahwa empat Kuasa Kegelapan besar akan datang silih berganti sebelum Kerajaan-Nya sendiri ditegakkan. Peradaban-peradaban dan kekaisaran-kekaisaran besar kuno dari Assyro-Khaldea, dari Medo-Persia, dari Yunani, dan dari Romawi, akan muncul dan berkembang, untuk menyiksa dan menzalimi para rasul, dan melakukan semua kejahatan dan kenakalan yang direncanakan oleh Iblis. Keagungan dari kuasa-kuasa besar ini terletak pada penyembahan mereka terhadap Iblis; dan “keagungan” inilah yang dijanjikan oleh “Pangeran Kegelapan” akan diberikan kepada Yesus Kristus dari puncak gunung yang tinggi seandainya saja ia mengikuti dan menyembahnya.

    Kristus dan Murid-murid-Nya mengabarkan Kerajaan Tuhan

    Memang benar mereka adalah pertanda Kerajaan Tuhan di muka bumi. Jiwa dan inti dari Injil Yesus terkandung dalam ungkapan, “Kerajaan-Mu datang.”

    Selama dua puluh abad umat Kristiani dari semua golongan dan naungan kepercayaan telah berdoa dan mengulang-ulang doa, “Kerajaan-Mu datang,” dan hanya Tuhan yang mengetahui berapa lama mereka akan terus berdoa dan dengan sia-sia mengantisipasi kedatangannya.

    Antisipasi umat Kristiani akan datangnya Kerajaan Tuhan sama dengan antisipasi agama Yahudi akan datangnya Mesias. Kedua antisipasi ini memperlihatkan suatu imajinasi yang tanpa perhatian dan tanpa pikiran, dan anehnya mereka secara terus-menerus berpegang teguh pada harapan yang sia-sia ini.

    Jika Anda bertanya kepada seorang pendeta Kristen mengenai pendapatnya tentang Kerajaan Tuhan, ia akan menceritakan kepada Anda segala macam hal yang dibuat-buat dan tak bermakna. Kerajaan ini, ia menegaskan, adalah Gereja tempat dirinya berada yang menguasai dan menyerap semua gereja bid’ah lainnya.

    Pendeta lainnya akan berpidato panjang lebar mengenai “milenium.” Seorang Salvasionis atau seorang Quaker25 mungkin mengatakan kepada Anda bahwa menurut keyakinannya Kerajaan Tuhan akan terdiri dari orang-orang Kristen yang baru lahir dan tanpa dosa, yang dimandikan dan dibersihkan dengan darah Yesus; dan seterusnya.

    Kerajaan Tuhan tidak berarti sebuah Gereja Katolik yang jaya, atau sebuah Negara Puritan yang diperbaharui dan tanpa dosa. Ia bukanlah seorang “Raja Milenium” yang suka berkhayal. Ia bukanlah sebuah kerajaan yang terdiri dari makhluk-makhluk langit, termasuk roh-roh almarhum para nabi dan orang-orang beriman yang diberkati, di bawah pemerintahan seorang Domba Tuhan; dengan para malaikat sebagai polisi dan polisi-militer-nya; para Kherub26 sebagai gubernur dan hakim-hakimnya; para Seraf27 sebagai perwira dan komandannya; atau para Malaikat yang utama sebagai Paus, Patriarch, Uskup, dan para pengabar Injil.

    Kerajaan Tuhan di bumi adalah sebuah agama, sebuah masyarakat yang kuat yang percaya kepada Satu Tuhan dan dilengkapi dengan iman dan pedang untuk berperang dan mempertahankan eksistensi serta kemerdekaan mutlaknya melawan Kerajaan Kegelapan, melawan semua orang yang tidak percaya bahwa Tuhan itu Satu, atau mereka yang percaya bahwa Dia mempunyai seorang anak, seorang bapak atau ibu, sekutu dan sebaya.

    Kata Yunani euangelion, diterjemahkan sebagai “Gospel” dalam bahasa Inggris, secara praktis berarti “ucapan kabar baik.” Dan ucapan ini adalah berita tentang Kerajaan Tuhan yang sedang mendekat, yang paling rendah di antara warga negaranya adalah lebih mulia dari Yohanes Pembaptis. Dia sendiri dan para Rasul setelahnya mengajarkan dan mengabarkan Kerajaan ini kepada bangsa Yahudi, mengajak mereka untuk percaya dan bertobat agar diizinkan memasukinya.

    Yesus sebenarnya tidak membatalkan atau mengubah Hukum Musa, tetapi menafsirkannya dalam makna spiritual sehingga ia meninggalkannya sebagai surat yang tidak sampai kepada alamatnya (dead letter). Ketika ia menyatakan bahwa kebencian adalah akar dari pembunuhan, syahwat adalah sumber perzinahan, bahwa ketamakan dan kemunafikan adalah dosa yang sama buruknya dengan kemusyrikan, dan bahwa kasih-sayang dan kemurahan hati adalah lebih dapat diterima daripada sesajen yang dibakar dan ketaatan yang keras terhadap hari Sabat, maka secara praktis ia telah menghapuskan isi Hukum Musa demi makna spiritualnya.

    Kitab-kitab Injil yang palsu dan banyak ditambah-tambah ini sering melaporkan cerita-cerita perumpamaan (parabel) dan penisbahan Kristus kepada Kerajaan Tuhan, dan kepada Barnasha atau Anak Manusia, tetapi mereka demikian rusak dan menyimpang sehingga berhasil, dan masih berhasil, dalam menyesatkan umat Kristiani yang malang untuk percaya bahwa yang dimaksud Yesus dengan “Kerajaan Tuhan” adalah Gerejanya, dan bahwa dia sendiri adalah “Anak Manusia.”

    Poin-poin penting ini akan dibicarakan secara tuntas kemudian, insya Allah. Untuk sekarang ini saya harus puas dengan menyatakan apa yang dikabarkan Yesus, bawha Islam-lah yang dimaksud Kerajaan Tuhan itu dan bahwa Muhammadlah yang dimaksud sebagai Anak Manusia, yang ditugaskan untuk menghancurkan Binatang Buas dan untuk menegakkan Kerajaan yang kuat dan orang-orang suci milik Yang Mahatinggi.

    Agama Tuhan, sampai Yesus Kristus, ditujukan terutama kepada Bani Israel; ia lebih bersifat material dan berkarakter nasional. Para ahli hukum, pendeta, dan penulisnya telah menodai agama itu dengan literatur yang kotor dan penuh tahayul tentang tradisi-tradisi para leluhur mereka. Kristus mengutuk tradisi-tradisi itu, mengecam kaum Yahudi dan para pemimpin mereka sebagai kaum “munafik” dan “anak-anak Iblis.” Meskipun setan kemusyrikan telah meninggalkan Israel, namun kemudian tujuh setan telah mengambil alih bangsa itu (Matius 12:43-456; Lukas 11:24-26).

    Krisus mereformasi agama lama, memberikan suatu kehidupan dan spirit baru terhadapnya; ia menjelaskan dengan lebih gamblang tentang kekekalan jiwa manusia, kebangkitan dan kehidupan di dunia mendatang; dan secara terbuka mengumumkan bahwa Mesias yang sedang ditunggu-tunggu kaum Yahudi bukanlah seorang Yahudi atau anak Daud, melainkan anak Ismail yang namanya Ahmad, dan bahwa ia akan menegakkan Kerajaan Tuhan di bumi dengan kekuatan firman Tuhan dan dengan pedang. Konsekuensinya, agama Islam menerima suatu kehidupan, cahaya, dan spirit baru, dan para pemeluknya diharuskan bersikap sederhana, menunjukkan kesabaran dan penahanan hawa nafsu. Mereka sebelumnya diberitahu tentang penyiksaan, kesengsaraan, kesyahidan, dan penjara.

    Kaum “Nashara” awal –demikian Al-Qur’an menyebut orang-orang yang beriman kepada Kitab Injil Yesus Kristus– mengalami sepuluh penyiksaan yang menakutkan di bawah Kekaisaran Romawi. Kemudian datanglah Konstantn Agung dan memproklamirkan kebebasan untuk Gereja; tetapi setelah ada keputusan-keputusan dan Akidah Trinitas dari Dewan Nicene pada 325 M, kaum Muslim28 Unitarian menerima serangkaian penyiksaan baru dan bahkan lebih kejam dari kaum Trinitarian, sampai lahirnya Muhammad saw.

    Sifat dan Konstitusi Kerajaan Tuhan

    Ada lagu Islami yang indah dan dikumandangkan lima kali sehari dari menara dan mesjid-mesjid pada setiap belahan bumi di mana kaum Muslim hidup. Lagu ini diikuti dengan suatu peribadatan yang sangat khidmat kepada Allah oleh umat-Nya yang tulus. Nyanyian pujian Muslim yang indah ini disebut adzan. Ini bukan segala-galanya; setiap perbuatan, perusahaan dan bisnis, betapapun penting atau remeh-remehnya ia, dimulai dengan ucapan bismillah (dengan nama Allah), dan diakhiri dengan Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah).

    Pertlian iman yang mengikat seorang Muslim dengan Raja Surga-nya begitu erat, sehingga tidak ada, betapa pun kuat atau menggairahkannya, yang dapat memisahkan dia dari Allah. Al-Qur’an menyatakan bahwa “Kita lebih dekat kepada Tuhan daripada hablul-Warid,” yang berarti “kehidupan sia-sia”.

    Tidak pernah ada seorang anggota kesayangan yang, dalam perasaan kasih sayang, kesetiaan, kepatuhan, dan respeknya terhadap rajanya yang dermawan, penuh sanggup menyamai perasaan yang mereka miliki terhadap Tuhannya. Allah adalah Raja Langit dan Bumi, Dia adalah Raja Diraja dan Lord of the Lord pada umumnya. Dia adalah Raja dan Tuhan dari setiap Muslim khususnya, karena hanya seorang Muslim yang bersyukur dan memuji Rajanya Yang Mahakuasa atas semua yang terjadi dan menimpanya. Apakah itu kemakmuran atau sebaliknya?

    Hampir –lebih kurang– tiga ratus juta Muslim diberkati dengan perasaan keimanan dan kepercayaan yang sama kepada Allah.

    Oleh karena tiu, jelaslah bahwa Islam tercapai karena ia menjadi satu-satunya Kerajaan Teokratis di bumi yang riil dan sebenar-benarnya. Allah tidak perlu lagi mengirim para Utusan atau Nabi untuk menyampaikan sabda dan pesan-pesan-Nya kepada kaum Muslim sebagaimana biasa Dia lakukan kepada Bani Israel dan kaum Yahudi lainnya; karena kehendak-Nya sepenuhnya diungkapkan dalam Al-Qur’an dan tertanam dalam benak hamba-hambanya yang tulus.

    Adapun mengenai pembentukan dan konstitusi Kerajaan Tuhan, inter alia, maka poin-poin berikut ini perlu diperhatikan:

    Semua Muslim membentuk satu bangsa, satu keluarga, dan satu persaudaraan. Saya tidak perlu menahan para pembaca untuk mengkaji berbagai kutipan dari Al-Qur’an dan hadits (tradisi Nabi) mengenai poin-poin ini. Kita harus menilai masyarakat Muslim tidak seperti adanya sekarang, tetapi seperti dulu di masa Muhammad dan para penggantinya yang dekat.

    Setiap anggota kaum ini adalah pekerja yang jujur, prajurit yang berani, dan seorang yang memiliki keyakinan dan ketaatan yang kuat. Semua hasil kerja keras yang jujur menjadi milik dan hak orang lain yang mengusahakannya; namun demikian, hukum menyebabkan mustahil bagi seorang Muslim untuk menjadi kaya secara berlebih-lebihan.

    Satu dari lima29 amal saleh Islam yang wajib adalah kewajiban bersedekah (pemberian sukarela) dan berzakat (pemberian wajib). Di masa Nabi dan empat Khalifah pertama, tidak seorang Muslim pun dikenal sangat kaya sekali. Kekayaan nasional masuk ke dalam perbendaharaan umum yang disebut Baitul Mal, dan tidak seorang Muslim pun dibiarkan hidup dalam kemiskinan.

    Nama “Muslim” secara harfiah berarti “pembuat kedamaian.” Anda tidak akan pernah dapat menemukan manusia lain yang lebih patuh, ramah, tidak mengganggu dan damai daripada seorang Muslim yang baik. Namun, begitu agama, kehormatan, dan hartanya diserang, si Muslim menjadi seorang lawan yang hebat. Al-Qur’an sangat tepat mengenai hal ini, “Wa la ta’tadu” (Dan janganlah engkau melanggar [atau melakukan serangan]).

    Jihad bukanlah perang untuk melanggar, tapi untuk membela diri. Meskipun para perampok, suku-suku yang buas, kaum Muslim pengembara yang setengah biadab, mungkin punya pikiran yang relijius dan kepercayaan terhadap eksistensi Allah, namun tidak adanya pengetahuan dan pendidikan keagamaan lah yang menjadi sumber penyebab sifat buruk dan kerusakan moral mereka. Mereka adalah kekecualian. Kita tidak akan dapat menjadi seorang Muslim yang baik tanpa pendidikan
    dan pengajaran keagamaan.

    Menurut deskripsi dari Nabi Daniel, warga Kerajaan Tuhan adalah “the People of the Saints” (orang-orang Suci). Dalam teks asli Khaldea dan Aramia, mereka digambarkan sebagai “A’mma d’ qaddishid’ I’lionin,” sebuah julukan yang hanya patut untuk Pangeran para Nabi dan untuk tentaranya yang mulia dari kaum Muhajirin (Imigran) dan Anshar (Penolong), yang mencabut habis kemusyrikan hingga ke akar-akarnya dari sebagian besar Asia dan Afrika dan menghancurkan Binatang Buas Romawi.

    Semua Muslim, yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan Rasul-rasul-Nya, beriman kepada hari Kebangkitan dan Pengadilan, dan meyakini bahwa kebaikan dan keburukan adalah dari Allah, dan mengerjakan amal shaleh menurut kemampuan dan niat baik mereka, adalah orang-orang suci dan warga yang Kerajaan diberkati. Tidak ada kebodohan religius yang lebih buruk daripada kepercayaan bahwa ada oknum yang disebut Holy Ghost (Roh Kudus) yang mengisi hati orang-orang yang dibaptis atas nama tiga tuhan, masing-masing yang ketiga dari tiga, atau yang tiga dari ketiga, dan dengan demikian mengorbankan orang-orang yang mempercayai kemustahilan mereka.

    Seorang Muslim percaya bahwa tidak hanya ada satu Holy Spirit (Roh Kudus), melainkan tidak terhitung jumlahnya yang semuanya diciptakan dan meladeni Tuhan Yang Satu. Kaum Muslim diciptakan, tidak melalui pembaptisan atau permandian, tetapi roh mereka dibersihkan dan disucikan oleh cahaya iman dan oleh api semangat dan keberanian untuk membela dan berperang demi keimanan itu.

    Yohanes Pembaptis, atau malah Kristus sendiri (menurut Kitab Injil Barnabas), berkata, “Aku membaptisamu dengan air pertobatan, namun dia yang datang setelahku, dia lebih kuat dariku; dia akan membaptismu dengan api dan dengan roh kudus.” Dengan api dan roh inilah Muhammad membaptis (mempermandikan) kaum pengembara yang setengah biadab, kaum kafir penyembah berhala, dan mengubah mereka menjadi pasukan orang suci yang heroik, yang mengubah sinagog tua yang semakin surut kekuasaannya dan gereja rusak menjadi Kerajaan Allah yang permanen dan kokoh di negeri-negeri yang dijanjikan dan di tempat-tempat lainnya.

    Keabadian dan Kemuliaan Kerajaan Allah

    Hal ini dua kali dipastikan oleh seorang Malaikat kepada Daniel. Dinyatakan bahwa “semua bangsa di bawah langit akan melayani Orang-orang Suci milik Yang Mahatinggi.”

    Tidak perlu bukti untuk mengatakan bahwa semua Kekuasaan Orang Kristen menunjukkan suatu respek tertentu, dan bahkan rasa hormat bila perlu tidak hanya kepada Kekuasaan Muslim dan tempat-tempat suci serta mesjid-mesjid kaum Muslim, tapi juga kepada institusi-institusi lokal dari warga Muslim mereka. Misteri “pengabdian” ini terletak pada:

    kaum Muslim selalu membangkitkan rasa hormat dan takut melalui perilaku mereka yang bermartabat, kesetiaan pada agama mereka dan ketaatan pada hukum yang adil, dan ketentraman merekal;
    karena pemerintahan-pemerintahan Kristen, biasanya, memperlakukan kaum Muslim dengan adil dan tidak mencampuri hukum dan agama mereka.

    Ruangan yang ada tidak mengizinkan kita untuk memperluas pengamatan kita pada poin-poin lain dari Agama dan Kerajaan Tuhan ini, seperti Khalifah-khalifah Muslim, Sultan, dan sebagainya. Cukup dikatakan bahwa pemerintahan-pemerintahan Muslim tunduk pada hukum Qurani yang sama dengan kompatriot mereka; bahwa keadilan dan kesederhanaan adalah sebaik-baiknya upaya perlindungan untuk kemakmuran dan stabilitas setiap Negara, Muslim atau non-Muslim; dan bahwa semangat dan prinsip Kitab Allah adalah sebaik-baiknya petunjuk untuk semua perundang-undangan dan peradaban.

    Balas
  133. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Nabi-nabi Sejati Hanya Mengajarkan Islam
    Tidak ada bangsa yang dikenal dalam sejarah seperti Bani Israel, yang dalam jangka waktu kurang dari empat ratus tahun penuh dengan ribuan nabi palsu, belum lagi para tukang sihir, tukang ramal, dan semua jenis ilmu sihir dan tukang sulap.

    Nabi-nabi palsu ada dua jenis: yang mengakui agama dan Taurat (Hukum) Yahweh dan pura-pura bernubuat atas nama-Nya, dan yang berada di bawah perlindungan seorang raja Israel penyembah berhala yang bernubuat atas nama Baal atau dewa-dewa lain dari kaum musyrikin sekitarnya. Termasuk kategori pertama ada beberapa penipu ulung yang sejaman dengan nabi-nabi sejati seperti Mikha (Micah) dan Yeremia, dan termasuk kategori kedua ada orang-orang yang memberikan banyak kesulitan kepada kaum beriman selama pemerintahan Ahab dan istrinya Yezebel.

    Yang paling berbahaya bagi keyakinan dan agama yang benar adalah para nabi-semu, yang mengerjakan tugas-tugas ilahiah di bait dan juga Mishpha-mispha dan berpura-pura menyampaikan sabda-sabda Tuhan kepada manusia. Barangkali, tidak ada nabi yang menerima siksaan dan kesulitan dari para penipu ulung ini sebanyak Nabi Yeremia.

    Selagi usia muda, Yeremia memulai misi kenabiannya sekitar kuartal terakhir abad ketujuh sebelum Masehi, ketika Kerajaan Yudas sedang terancam bahaya invasi oleh pasukan Khaldea. Kaum Yahudi telah bersekutu dengan Fir’aun dari Mesir, tetapi karena Fir’aun ditaklukkan dengan buruk oleh tentara Nebukadnezar, maka ajal Yerusalem hanya tinggal menunggu waktu saja. Pada masa-masa kritis ini, selama mana nasib orang beriman yang tersisa akan diputuskan, Nabi Yeremia dengan keras menasihati raja dan para pemimpin kaum Yahudi untuk tunduk dan mengabdi Raja Babylonia, agar Yerusalem bisa diselamatkan jangan sampai dibakar menjadi bau dan jangan sampai orang-orang dijebloskan ke dalam tahanan. Ia menumpahkan semua pidatonya yang pedas dan mengesankan ke telinga para raja, pendeta, dan orang-orang tua, namun semuanya sia-sia.

    Nabi Yeremia menyampaikan pesan demi pesan dari Tuhan, dengan mengatakan bahwa satu-satunya obat untuk menyelamatkan negeri dan masyarakat dari kehancuran yang sudah dekat adalah menyerah kepada bangsa Khaldea; namun tidak satu pun mau mendengarkan peringatan-peringatannya.

    Nabukadnezar datang dan merebut kota, mengangkut raja, para pangeran, dan banyak tawanan, dan juga semua harta bait, termasuk bejana-bejana emas dan perak. Pangeran lainnya, dan pangeran yang ketiga, diangkat oleh Kaisar Babylonia untuk memerintah sebagai budaknya di Yerusalem. Raja ini, bukannya bersifat bijak dan loyal terhadap pemimpinnya di babylonia, tapi malah memberontak terhadapnya.

    Yeremia tak henti-hentinya memperingatkan sang raja tetap loyal dan meninggalkan kebijakan bangsa Mesir. Namun, nabi-nabi palsu terus berpidato panjang lebar di dalam bait, dengan mengatakan, “Maka berkatalah Tuhan Rombongan Besar, Lihatlah, Aku telah mematahkan kuk Raja Babylonia, dan dalam waktu dua tahun semua tawanan Yahudi dan bejana-bejana Rumah Tuhan akan dikembalikan ke Yerusalem.” Yeremia memasang buah kuk kayu di sekeliling lehernya sendiri lalu pergi ke kuil dan memberitahu orang-orang bahwa Tuhan telah ridha memasang dengan cara ini kuk raja Babylonia pada leher semua kaum Yahudi. Ia dipukul mukanya oleh seorang nabi yang melawan, yang mematahkan hingga berkeping-keping kuk kayu dari leher Yeremia dan mengulangi pidato panjang lebar para nabi palsu.

    Yeremia dilemparkan ke dalam sebuah penjara bawah tanah yang penuh lumpur dan dalam, dan hanya diberi makan sepotong roti gandum kering sehari sampai kelaparan melanda kota, yang dikepung oleh bangsa Khaldea. Nabi-palsu Hananya mati seperti yang diramalkan Yeremia. Tembok kota diruntuhkan, dan pasukan yang menang cepat-cepat memasuki kota, Raja Zedekiah dan rombongannya melarikan diri ditangkap dan dibawa ke Raja Babylonia. Kota dan bait, setelah dijarah, dibakar, dan seluruh penduduk Yerusalem digiring ke Babylonia; hanya golongan miskin yang dibiarkan untuk mengolah tanah.

    Atas perintah Nebukadnezar, Yeremia dibolehkan untuk tinggal di Yerusalem, dan gubernur yang baru diangkat, Gedaliah, ditugaskan untuk menjaga dan mengurus nabi dengan baik. Tapi Gedaliah dibunuh oleh orang-orang Yahudi yang memberontak, dan kemudian mereka semua melarikan diri ke Mesir, membawa serta Yeremia. Di Mesir pun ia bernubuat untuk para buronan dan bangsa Mesir. Ia harus mengakhiri hidupnya di Mesir.

    Kitab-kitabnya, sebagaimana ada sekarang, sangat berbeda dengan teks kitab Septuagint; terang saja, salinan dari mana teks Yunani ditulis oleh para penerjemah Aleksandria mempunyai urutan pasal-pasal yang berbeda.

    Para kritikus Alkitab beranggapan bahwa Yeremia adalah pengarang, atau, bagaimanapun, penyusun kitab kelima Pentateuch yang disebut Ulangan. Saya sendiri punya pendapat yang sama. Yeremia adalah orang Lewi dan pendeta dan juga nabi. Terdapat banyak ajaran Yeremia dalam Ulangan yang tidak ada dalam bagian lain dari tulisan-tulisan Perjanjian Lama. Dan saya mengutip salah satu ajaran ini untuk pokok bahasan saya sekarang, yang saya anggap sebagai salah satu teks mutiara atau emas dalam Perjanjian Lama dan harus dihargai karena sangat mulia dan suci.

    Setelah penjelasan yang mendetail ini saya bersegera ke persoalan utama yang telah saya pilih untuk topik artikel ini: Bagaimana membedakan seorang nabi sejati dari nabi palsu. Yeremia telah memasok kita dengan jawaban yang cukup memuaskan, yaitu: “Nabi yang mengajarkan Islam”.

    Dalam kitab Ulangan (13:1-5, 18:20-22) Tuhan Yang Mahakuasa memberikan beberapa petunjuk mengenai nabi-nabi palsu yang bisa bernubuat atas nama Tuhan dan dengan cara yang demkian busuk dan membahayakan sehingga mereka bisa menyesatkan kaumnya. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengetahui kedurhakaan si penipu ulung ini adalah dengan mengantisipasi pemenuhan ramalan-ramalannya, dan kemudian menghukum mati dia ketika penipuannya terbongkar.

    Namun, sebagaimana banyak diketahui, orang bodoh tidak dapat membedakan dengan benar antara nabi palsu dan penipu ulung, persis seperti sekarang ini mereka tidak mampu secara tepat menemukan yang mana di antara dua, seorang pendeta Katolik Roma atau seorang pendeta Calvinis, adalah pengikut sejati Yesus Kristus! Nabi palsu juga akan meramalkan berbagai keajaiban, menyembuhkan secara ajaib, dan melakukan hal-hal religius lainnya yang sama –paling tidak kelihatan sama– dengan yang dilakukan oleh seorang nabi sejati.

    Persaingan antara Nabi Musa dan para tukang sihir mesir adalah ilustrasi yang tepat dari pernyataan ini. Dengan demikian, Yeremia-lah yang memberi kita contoh terbaik untuk menguji kejujuran dan kesejatian seorang nabi, dan cara itu adalah syariat Islam. Silahkan baca Yeremia pasal 28 seluruhnya, dan kemudian renungkan secara hayati ayat 9:

    “Nabi yang bernubuat tentang Islam (Syalom), saat datangnya sabda Nabi, nabi itu akan diakui benar-benar telah diutus oleh Tuhan.” (Yeremia 28:9)

    Terjemahan ini sangat harfiah. Kata kerja asli naba, biasa diterjemahkan menjadi “meramalkan” atau “bernubuat,” dan kata benda nabi, “nabi” memberikan kesan bahwa seorang nabi adalah seorang yang meramalkan masa depan atau kejadian-kejadian masa lalu dengan bantuan wahyu ilahi. Definisi ini hanya benar sebagian. Definisi yang lengkap dari kata “Nabi” mestilah: “orang yang menerima sabda atau pesan dari Tuhan, dan menyampaikannya dengan jujur kepada orang atau kaum yang dituju.”

    Jelaslah bahwa pesan Ilahi tidak harus berupa ramalan tentang kejadian-kejadian masa lalu dan masa akan datang. Dengan cara yang sama, kata kerja “bernubuat” tidak mesti berarti mengungkapkan kejadian-kejadian masa lalu dan masa akan datang, melainkan mengajarkan atau menyebarluaskan pesan Tuhan. Konsekuensinya bernubuat adalah menyampaikan dan mengucapkan sabda baru, yang sifat dan karakternya sangat immaterial. Membaca ucapan seorang nabi adalah bernubuat tidak lebih dari sabda yang disampaikan oleh seorang nabi ketika berceramah atau berpidato atas kehendaknya sendiri.

    Dalam Al-Qur’an Tuhan menyuruh hamba-Nya yang dikasihi, Muhammad, untuk menyatakan, “Aku adalah manusia seperti kalian; hanya [bedanya] aku menerima wahyu,” dan seterusnya, sehingga kita berhati-hati untuk tidak menisbahkan kepada seorang nabi sifat mengetahui dan mengucapkan segala seseuatu melalui wahyu.

    Wahyu Ilahi biasanya datang sewaktu-waktu, sedangkan para nabi dalam hubungan dan pengetahuan pribadi, mereka bisa saja salah dan keliru. Seorang nabi tidak diangkat oleh Tuhan untuk mengajari manusia ilmu fisika, matematika, atau ilmu positif lainnya. Kita sangat tidak adil kalau menyalahkan seorang nabi karena kesalahan bicara atau kekhilafan yang dilakukan sebagai seorang manusia. Oleh karenanya, seorang nabi diuji dan diperiksa hanya ketika ia secara resmi dan secara jabatan menyampaikan pesan yang diterimanya dari Tuhan.

    Untuk mengetahui apakah seorang nabi itu asli atau penipu ulung, tidaklah fair memberikan putusan terhadap sifat profetisnya karena ia dilaporkan telah bersifat sedikit kasar atau tidak sopan terhadap ibunya atau karena ia mempercayai spiration seperti apa adanya dan mempercayai bahwa pengarang Pentateuch adalah Musa. Ketika melakukan observasi ini, saya mempertimbangkan kasus Yesus Kristus, dan banyak kasus lainnya dalam sejarah Israel tentang hal-hal lain.

    Adalah tidak jujur dan karena rasa benci menuduh para nabi dengan sifat-sifat sensualitas, kekasaran, bodoh dalam ilmu, dan kelemahan-kelemahan moral lainnya. Mereka adalah manusia seperti kita dan sewaktu-waktu merasakan kecenderungan dan nafsu yang alamiah. Mereka dilindungi hanya dari dosa-dosa besar dan dari pemutarbalikkan pesan yang harus mereka sampaikan.

    Kita harus ekstra hati-hati jangan sampai mengagungkan nabi-nabi Tuhan terlalu tinggi dalam imajinasi kita, kalau tidak Tuhan tidak meridhai kita. Mereka adalah makhluk dan hamba-Nya; para nabi menunaikan tugas mereka dan kembali kepada-Nya. Ketika kita melupakan Tuhan dan mengkonsentrasikan cinta dan pujian kita pada salah seorang dari utusa-utusan Tuhan, maka kita dalam bahaya terperosok ke dalam dosa syirik (politheisme).

    Setelah jauh menjelaskan sifat dan signifikansi prophet (nabi) dan prophecy (nubuat), sekarang saya akan berusaha keras untuk membuktikan bahwa tidak ada nabi yang asli kecuali, sebagaimana dengan jelas dikatakan oleh Yeremia, kalau ia mengajarkan dan menyebarluaskan agama Islam.

    Untuk memahami dengan lebih baik pengertian dan arti penting dan soal yang sedang kita renungkan, kita harus melirik sejenak pada ayat sebelumnya, di mana Yeremia berkata kepada musuhnya Nabi Hananya, “Nabi-nabi yang ada sebelumku dan sebelummu dari [jaman] dahulu kala telah bernubuat terhadap banyak negeri dan kerajaan-kerajaan yang besar mengenai perang, malapetaka, dan penyakit sampat.” Lalu ia melanjutkan:

    “Nabi yang bernubuat tentang Islam segera setelah datang sabda nabi, nabi itu diketahui benar-benar telah diutus oleh Tuhan.”

    Bisa saja tidak ada keberatan terhadap susunan kata Inggris dari bagian ini kecuali kalimat “l Syalom” yang telah saya terjemahkan sebagai “concerning Islam.” Kata depan “l” sebelum “Syalom” berarti “concerning” atau “about” (tentang), dan menempatkan subjeknya dalam kasus objektif dan tidak dalam kasus datif, sebagaimana halnya kalau predikatnya adalah kata kerja seperti “come” (datang), “go”, atau “give” (memberi).

    Bahwa “Syalom” dan bahasa Syria “Sylama”, dan juga kata Arab “salam” dan “Islam.” berasa; daro sati alar lata najasa Semit yang sama, “shalam” berarti “tunduk, menyerahkan diri”, dan kemudian “berdamai”; dan konsekuensinya “menjadi aman, baik, dan tenang.”

    Tidak ada sistem keagamaan di dunia ini yang diberi sifat dengan nama yang baik dan lebih komprehensif, bermartabat dan luhur selain dari nama “Islam.” Agama sejati dari Tuhan Yang Sejati tidak bisa diberi nama dengan nama suatu kaum atau negeri. Sebenarnya, kesucian dan ketidaktercelaan dari kata “Islam” inilah yang membuat musuh-musuhnya terpesona, takut, dan hormat sekalipun ketika kaum Muslim dalam keadaan lemah dan tidak bahagia. Itulah nama dan gelar dari sebuah agama yang mengajarkan dan memerintahkan suatu ketundukkan dan kepasrahan mutlak terhadap Zat Yang Mahatinggi, dan kemudian meraih kedamaian dan ketenangan dalam batin, tidak peduli dengan kesengsaraan atau kemalangan yang mungkin mengancam kita. Itulah yang membuat musuh-musuh Islam terpesona.21

    Adalah keyakinan yang teguh dan tak tergoyahkan akan Keesaan Allah dan kepercayaan yang kokoh terhadap belasan kasih dan keadilan-Nya yang menjadikan seorang Muslim dapat dibedakan dan menonjol di tengah-tengah kaum non-Muslim. Dan keimanan yang benar terhadap Allah dan kecintaan yang tulus terhadap Al-Qur’an Suci dan Rasul lah yang menyebabkan para misionaris kristen mati-matian menyerang dan gagal dengan sia-sia. Karena itu, ucapan Yeremia bahwa “Nabi yang bernubuat, yaitu, yang mengajarkan dan berbicara mengenai urusan-urusan Islam sebagai agamanya, ia akan langsung dikenal lebih benar-benar diutus oleh Tuhan.” Oleh karena itu, mari kita perhatikan dengan sungguh-sungguh beberapa poin berikut:

    Nabi Yeremia adalah satu-satunya nabi sebelum Kristus yang menggunakan kata Syalom dalam pengertian sebuah agama. Ia adalah satu-satunya nabi yang menggunakan kata ini dengan tujuan untuk menetapkan atau membuktikan kejujuran seorang utusan Tuhan.

    Menurut wahyu Al-Qur’an, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, Musa, dan semua nabi adalah Muslim, dan mengakui Islam sebagai agama mereka. Istilah “Islam” dan padanan “Syalom” dan “Sylama”, dikenal oleh kaum Yahudi dan Nasrani Mekah dan Madinah ketika Muhammad muncul untuk menyempurnakan dan menguniversalkan agama Islam.

    Seorang nabi yang memprediksi “perdamaian” sebagai suatu kondisi yang abstrak, samar-samar, dan temporer tidak akan bisa berhasil dalam membuktikan identitasnya.

    Sebenarnya, yang menjadi pokok perselisihan, atau malah persoalan kebangsaan yang gawat, yang dipertentangkan oleh dua nabi terkemuka yang dikenal pengadilan dan bangsa seperti Yeremia dan Hananya (Yeremia 28), tidak dapat dipecahkan dan ditetapkan secara pasti oleh penegasan dari salah satu dan penolakan dari satunya lagi, mengenai malapetaka yang sudah dekat. Memprediksi “perdamaian” menurut Yeremia ketika dari sejak semula ia sudah meramalkan bencana nasional yang besar–apakah dengan takluknya Raja Sidaqia kepada penguasa Khaldea atau dengan perlawanannya–tidak hanya akan menyebabkan kegagalannya, belum lagi keberhasilannya dalam membuktikan kejujurannya, tapi juga malah akan membuatnya konyol. Karena, bagaimana pun, “perdamaian” yang diduganya itu berarti tidak ada perdamaian sama sekali.

    Sebaliknya, jika kaum Yahudi melawan tentara Khaldea, maka itu artinya kehancuran nasional yang menyeluruh, dan jika mereka menyerah, maka itu artinya suatu perbuatan tanpa syarat. Oleh karena itu, maka jelaslah bahwa Yeremia menggunakan Syalom dalam pengertian suatu sistem keagamaan yang nyata, konkret, dan riil yang dicakup dalam Islam.

    Agar lebih jelas, kita harus mendengar dengan penuh perhatian argumen-argumen dari dua nabi lawannya yang mendiskusikan dan memperselisihkan persoalan nasional dihadapan seorang raja yang jahat dan pengadilan para penyanjung yang busuk dan kaum munafik yang sudah bejat akhlaknya.

    Yeremia dalam batinnya memiliki hujah Tuhan dan agama perdamaian-Nya, dan demi kepentingan-kepentingan vital agama perdamaian, atau Islam, ia menasehati raja yang jahat dan para anggota istananya untuk menyerah pada tekanan Babylonia dan melayani bangsa Khaldea dan hidup. Karena tidak ada alternatif lain bagi mereka. Mereka harus meninggalkan Tuhan para nenek moyang mereka, mengotori bait-Nya, mengolok-olok dan mencerca pada nabi-Nya, dan melakukan kejahatan serta pengkhianatan (2 Tawarikh.36, dan seterusnya). Maka Tuhan menyerahkan mereka ke dalam kekuasaan Nebukadnezar, dan tidak akan menyelamatkan mereka.

    Bagi seorang hamba Tuhan yang sejati dan tulus, agama adalah nomor satu dan baru kemudian bangsa. Pemerintahan dan bangsa lah –terutama apabila mereka mengabaikan Tuhan– yang harus dikorbankan demi agama, dan bukan sebaliknya!

    Nabi dari Gibeon lainnya, Hananya, berusaha menyerahkan tuannya, sang raja: ia adalah seorang anggota istana dan disukainya, kaya serta necis, sementara lawan-lawannya selalu merana dan mati kelaparan di dalam penjara dan ruang tahanan bawah tanah. Ia tidak peduli dengan seruan kepada agama dan kesejahteraan umat yang nyata. Ia juga seorang nabi, begitulah kata Kitab Yeremia, namun ia seorang bajingan, dan telah menukar Tuhan dengan seorang raja yang bejat akhlaknya! Ia bernubuat atas nama Tuhan yang sama seperti dilakukan Yeremia, dan mengumumkan pengembalian barang rampasan dan para tawanan dari Babylonia dalam tempo dua tahun.

    Nah, dari gambaran yang sumbang mengenai para nabi di atas, yang mana di antara keduanya yang akan Anda golongkan sebagai hamba Tuhan yang sejati dan sebagai pembela setia agama Tuhan? Sudah pasti Yeremia akan langsung menarik simpati dan pilihan Anda.

    Hanya agama Syalom (Islam) lah yang dapat memberikan bukti tentang watak dan tegas seorang nabi sejati, imam, atau duta Tuhan di muka bumi. Tuhan itu satu, san agama-Nya pun satu. Tidak ada agama lain di dunia ini seperti Islam, yang mengakui dan mempertahankan keesaan Tuhan yang mutlak. Oleh karena itu, orang yang mengorbankan setiap kepentingan, kehormatan, dan cinta lain apa pun demi Agama Suci ini, tidak diragukan lagi dia adalah nabi sejati dan duta Tuhan.

    Namun, masih ada satu hal yang patut kita ketahui, yaitu, jika agama Islam tidak menjadi standar dan ukuran untuk menguji kejujuran seorang nabi atau duta Tuhan, maka tidak ada kriteria lain untuk memenuhi tujuan itu. Mukjizat tidak selalu menjadi bukti yang cukup, karena tukang sihir juga bisa melakukan keajaiban. Pemenuhan suatu ramalan atau nujuman itu sendiri, pun, bukan bukti yang cukup; karena sebagaimana roh kudus mengungkapkan suatu peristiwa masa akan datang kepada seorang nabi sejati, begitu pula kadang-kadang roh jahat melakukan hal yang sama terhadap seorang penipu ulung.

    Maka jelaslah bahwa nabi yang “bernubuat tentang Syalom (Islam) sebagai nama agama dan jalan hidup, begitu ia menerima pesan dari Tuhan maka ia akan dikenal telah diutus oleh-Nya”. Begitulah argumen yang telah dikemukakan Yeremia untuk meyakinkan para audiensnya mengenai kepalsuan Hananya. Tetapi raja yang jahat dan gengnya tidak mau mendengar dan menaati firman Tuhan.

    Sebagaimana disampaikan dalam paragraf sebelumnya, perlu dicatat bahwa baik pemenuhan suatu ramalan atau pun terjadinya suatu mukjizat tidaklah cukup untuk menunjukkan ciri sejati dari seorang nabi; bahwa loyalitas dan kecintaan yang sempurna terhadap agama adalah bukti yang paling tepat dan meyakinkan untuk tujuan ini; bahwa Syalom digunakan untuk mengekspresikan agama perdamaian.

    Sekali lagi kita mengulangi penegasan yang sama bahwa Syalom tak lain adalah Islam. Dan kita meminta dari mereka yang berkeberatan terhadap penafsiran ini untuk menunjukkan kata Arab selain Islam dan Salam sebagai padanan kata Syalom, dan juga mencarikan bagi kita kata lain dalam bahasa Ibrani disamping Syalom yang memberikan dan mengungkapkan makna yang sama dengan Islam.

    Memang mustahil menemukan padanan lain seperti itu. Oleh karenanya, kita dipaksa bahwa Syalom sama dengan Salam atau Perdamaian dalam pengertian abstrak, dan “Islam” sebagai sebuah agama dan keyakinan dalam pengertian konkrit

    Sebagaimana Al-Qur’an dalam surah 2 dengan jelas mengingatkan kita bahwa Ibrahim dan anak-cucunya adalah pengikut Islam; bahwa mereka bukanlah Yahudi atau pun Kristen; bahwa mereka mengajarkan dan menyebarkan penyembahan dan keimanan akan satu Tuhan kepada semua umat di tengah mana mereka tinggal atau berada, kita harus mengakui bahwa tidak hanya bangsa Yahudi, tapi beberapa bangsa lain yang berasal dari anak-anak Ibrahim lainnya dan banyak suku-sku yang diajak dan terpikat oleh mereka, adalah juga Muslim; artinya, orang-orang yang beriman kepada Allah dan tunduk pada kehendak-Nya.

    Adalah Bani Esau, Edom, Midian, dan banyak bani lainnya yang tinggal di Arabia, mereka mengenal Tuhan dan menyembah-Nya seperti bani Israel. Bani-bani ini juga punya nabi dan pembimbing agamanya masing-masing seperti Yob, Yethro (bapak mertuanya Nabi Musa), Balaam, Hud, dan banyak lagi. Namun, seperti kaum Yahudi, mereka telah lari kepada penyembahan berhala sampai diberantas total oleh sang Pangeran para nabi.

    Kaum Yahudi, sekitar abad ketujuh SM, mengarang sebagian besar kitab-kitab Perjanjian Lama, ketika ingatan-ingatan akan penaklukkan negeri Kanaan oleh Yoshua, bait Sulaiman dan Yerusalem, adalah kejadian-kejadian yang terkubur dalam sejarah jaman dulu mereka yang menakjubkan. Semangat nasionalistik dan Yudaistik terhadap keasingan dan kecemasan merajalela di tengah sebagian kecil bangsa Israel; keyakinan akan datangnya Juru Selamat Agung untuk mengembalikan singgasana dan mahkota Daud yang hilang telah mendominasi, dan makna lama Syalom sebagai nama agama Ibrahim dan lazim bagi semua umat yang berbeda-beda yang merupakan keturunannya sudah dilupakan.

    Dari sudut pandang inilah saya memandang pasal Yeremia ini sebagai salah satu golden text dalam tulisan suci bahasa Ibrani.

    Balas
  134. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Nabi-nabi Sejati Hanya Mengajarkan Islam
    Tidak ada bangsa yang dikenal dalam sejarah seperti Bani Israel, yang dalam jangka waktu kurang dari empat ratus tahun penuh dengan ribuan nabi palsu, belum lagi para tukang sihir, tukang ramal, dan semua jenis ilmu sihir dan tukang sulap.

    Nabi-nabi palsu ada dua jenis: yang mengakui agama dan Taurat (Hukum) Yahweh dan pura-pura bernubuat atas nama-Nya, dan yang berada di bawah perlindungan seorang raja Israel penyembah berhala yang bernubuat atas nama Baal atau dewa-dewa lain dari kaum musyrikin sekitarnya. Termasuk kategori pertama ada beberapa penipu ulung yang sejaman dengan nabi-nabi sejati seperti Mikha (Micah) dan Yeremia, dan termasuk kategori kedua ada orang-orang yang memberikan banyak kesulitan kepada kaum beriman selama pemerintahan Ahab dan istrinya Yezebel.

    Yang paling berbahaya bagi keyakinan dan agama yang benar adalah para nabi-semu, yang mengerjakan tugas-tugas ilahiah di bait dan juga Mishpha-mispha dan berpura-pura menyampaikan sabda-sabda Tuhan kepada manusia. Barangkali, tidak ada nabi yang menerima siksaan dan kesulitan dari para penipu ulung ini sebanyak Nabi Yeremia.

    Selagi usia muda, Yeremia memulai misi kenabiannya sekitar kuartal terakhir abad ketujuh sebelum Masehi, ketika Kerajaan Yudas sedang terancam bahaya invasi oleh pasukan Khaldea. Kaum Yahudi telah bersekutu dengan Fir’aun dari Mesir, tetapi karena Fir’aun ditaklukkan dengan buruk oleh tentara Nebukadnezar, maka ajal Yerusalem hanya tinggal menunggu waktu saja. Pada masa-masa kritis ini, selama mana nasib orang beriman yang tersisa akan diputuskan, Nabi Yeremia dengan keras menasihati raja dan para pemimpin kaum Yahudi untuk tunduk dan mengabdi Raja Babylonia, agar Yerusalem bisa diselamatkan jangan sampai dibakar menjadi bau dan jangan sampai orang-orang dijebloskan ke dalam tahanan. Ia menumpahkan semua pidatonya yang pedas dan mengesankan ke telinga para raja, pendeta, dan orang-orang tua, namun semuanya sia-sia.

    Nabi Yeremia menyampaikan pesan demi pesan dari Tuhan, dengan mengatakan bahwa satu-satunya obat untuk menyelamatkan negeri dan masyarakat dari kehancuran yang sudah dekat adalah menyerah kepada bangsa Khaldea; namun tidak satu pun mau mendengarkan peringatan-peringatannya.

    Nabukadnezar datang dan merebut kota, mengangkut raja, para pangeran, dan banyak tawanan, dan juga semua harta bait, termasuk bejana-bejana emas dan perak. Pangeran lainnya, dan pangeran yang ketiga, diangkat oleh Kaisar Babylonia untuk memerintah sebagai budaknya di Yerusalem. Raja ini, bukannya bersifat bijak dan loyal terhadap pemimpinnya di babylonia, tapi malah memberontak terhadapnya.

    Yeremia tak henti-hentinya memperingatkan sang raja tetap loyal dan meninggalkan kebijakan bangsa Mesir. Namun, nabi-nabi palsu terus berpidato panjang lebar di dalam bait, dengan mengatakan, “Maka berkatalah Tuhan Rombongan Besar, Lihatlah, Aku telah mematahkan kuk Raja Babylonia, dan dalam waktu dua tahun semua tawanan Yahudi dan bejana-bejana Rumah Tuhan akan dikembalikan ke Yerusalem.” Yeremia memasang buah kuk kayu di sekeliling lehernya sendiri lalu pergi ke kuil dan memberitahu orang-orang bahwa Tuhan telah ridha memasang dengan cara ini kuk raja Babylonia pada leher semua kaum Yahudi. Ia dipukul mukanya oleh seorang nabi yang melawan, yang mematahkan hingga berkeping-keping kuk kayu dari leher Yeremia dan mengulangi pidato panjang lebar para nabi palsu.

    Yeremia dilemparkan ke dalam sebuah penjara bawah tanah yang penuh lumpur dan dalam, dan hanya diberi makan sepotong roti gandum kering sehari sampai kelaparan melanda kota, yang dikepung oleh bangsa Khaldea. Nabi-palsu Hananya mati seperti yang diramalkan Yeremia. Tembok kota diruntuhkan, dan pasukan yang menang cepat-cepat memasuki kota, Raja Zedekiah dan rombongannya melarikan diri ditangkap dan dibawa ke Raja Babylonia. Kota dan bait, setelah dijarah, dibakar, dan seluruh penduduk Yerusalem digiring ke Babylonia; hanya golongan miskin yang dibiarkan untuk mengolah tanah.

    Atas perintah Nebukadnezar, Yeremia dibolehkan untuk tinggal di Yerusalem, dan gubernur yang baru diangkat, Gedaliah, ditugaskan untuk menjaga dan mengurus nabi dengan baik. Tapi Gedaliah dibunuh oleh orang-orang Yahudi yang memberontak, dan kemudian mereka semua melarikan diri ke Mesir, membawa serta Yeremia. Di Mesir pun ia bernubuat untuk para buronan dan bangsa Mesir. Ia harus mengakhiri hidupnya di Mesir.

    Kitab-kitabnya, sebagaimana ada sekarang, sangat berbeda dengan teks kitab Septuagint; terang saja, salinan dari mana teks Yunani ditulis oleh para penerjemah Aleksandria mempunyai urutan pasal-pasal yang berbeda.

    Para kritikus Alkitab beranggapan bahwa Yeremia adalah pengarang, atau, bagaimanapun, penyusun kitab kelima Pentateuch yang disebut Ulangan. Saya sendiri punya pendapat yang sama. Yeremia adalah orang Lewi dan pendeta dan juga nabi. Terdapat banyak ajaran Yeremia dalam Ulangan yang tidak ada dalam bagian lain dari tulisan-tulisan Perjanjian Lama. Dan saya mengutip salah satu ajaran ini untuk pokok bahasan saya sekarang, yang saya anggap sebagai salah satu teks mutiara atau emas dalam Perjanjian Lama dan harus dihargai karena sangat mulia dan suci.

    Setelah penjelasan yang mendetail ini saya bersegera ke persoalan utama yang telah saya pilih untuk topik artikel ini: Bagaimana membedakan seorang nabi sejati dari nabi palsu. Yeremia telah memasok kita dengan jawaban yang cukup memuaskan, yaitu: “Nabi yang mengajarkan Islam”.

    Dalam kitab Ulangan (13:1-5, 18:20-22) Tuhan Yang Mahakuasa memberikan beberapa petunjuk mengenai nabi-nabi palsu yang bisa bernubuat atas nama Tuhan dan dengan cara yang demkian busuk dan membahayakan sehingga mereka bisa menyesatkan kaumnya. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengetahui kedurhakaan si penipu ulung ini adalah dengan mengantisipasi pemenuhan ramalan-ramalannya, dan kemudian menghukum mati dia ketika penipuannya terbongkar.

    Namun, sebagaimana banyak diketahui, orang bodoh tidak dapat membedakan dengan benar antara nabi palsu dan penipu ulung, persis seperti sekarang ini mereka tidak mampu secara tepat menemukan yang mana di antara dua, seorang pendeta Katolik Roma atau seorang pendeta Calvinis, adalah pengikut sejati Yesus Kristus! Nabi palsu juga akan meramalkan berbagai keajaiban, menyembuhkan secara ajaib, dan melakukan hal-hal religius lainnya yang sama –paling tidak kelihatan sama– dengan yang dilakukan oleh seorang nabi sejati.

    Persaingan antara Nabi Musa dan para tukang sihir mesir adalah ilustrasi yang tepat dari pernyataan ini. Dengan demikian, Yeremia-lah yang memberi kita contoh terbaik untuk menguji kejujuran dan kesejatian seorang nabi, dan cara itu adalah syariat Islam. Silahkan baca Yeremia pasal 28 seluruhnya, dan kemudian renungkan secara hayati ayat 9:

    “Nabi yang bernubuat tentang Islam (Syalom), saat datangnya sabda Nabi, nabi itu akan diakui benar-benar telah diutus oleh Tuhan.” (Yeremia 28:9)

    Terjemahan ini sangat harfiah. Kata kerja asli naba, biasa diterjemahkan menjadi “meramalkan” atau “bernubuat,” dan kata benda nabi, “nabi” memberikan kesan bahwa seorang nabi adalah seorang yang meramalkan masa depan atau kejadian-kejadian masa lalu dengan bantuan wahyu ilahi. Definisi ini hanya benar sebagian. Definisi yang lengkap dari kata “Nabi” mestilah: “orang yang menerima sabda atau pesan dari Tuhan, dan menyampaikannya dengan jujur kepada orang atau kaum yang dituju.”

    Jelaslah bahwa pesan Ilahi tidak harus berupa ramalan tentang kejadian-kejadian masa lalu dan masa akan datang. Dengan cara yang sama, kata kerja “bernubuat” tidak mesti berarti mengungkapkan kejadian-kejadian masa lalu dan masa akan datang, melainkan mengajarkan atau menyebarluaskan pesan Tuhan. Konsekuensinya bernubuat adalah menyampaikan dan mengucapkan sabda baru, yang sifat dan karakternya sangat immaterial. Membaca ucapan seorang nabi adalah bernubuat tidak lebih dari sabda yang disampaikan oleh seorang nabi ketika berceramah atau berpidato atas kehendaknya sendiri.

    Dalam Al-Qur’an Tuhan menyuruh hamba-Nya yang dikasihi, Muhammad, untuk menyatakan, “Aku adalah manusia seperti kalian; hanya [bedanya] aku menerima wahyu,” dan seterusnya, sehingga kita berhati-hati untuk tidak menisbahkan kepada seorang nabi sifat mengetahui dan mengucapkan segala seseuatu melalui wahyu.

    Wahyu Ilahi biasanya datang sewaktu-waktu, sedangkan para nabi dalam hubungan dan pengetahuan pribadi, mereka bisa saja salah dan keliru. Seorang nabi tidak diangkat oleh Tuhan untuk mengajari manusia ilmu fisika, matematika, atau ilmu positif lainnya. Kita sangat tidak adil kalau menyalahkan seorang nabi karena kesalahan bicara atau kekhilafan yang dilakukan sebagai seorang manusia. Oleh karenanya, seorang nabi diuji dan diperiksa hanya ketika ia secara resmi dan secara jabatan menyampaikan pesan yang diterimanya dari Tuhan.

    Untuk mengetahui apakah seorang nabi itu asli atau penipu ulung, tidaklah fair memberikan putusan terhadap sifat profetisnya karena ia dilaporkan telah bersifat sedikit kasar atau tidak sopan terhadap ibunya atau karena ia mempercayai spiration seperti apa adanya dan mempercayai bahwa pengarang Pentateuch adalah Musa. Ketika melakukan observasi ini, saya mempertimbangkan kasus Yesus Kristus, dan banyak kasus lainnya dalam sejarah Israel tentang hal-hal lain.

    Adalah tidak jujur dan karena rasa benci menuduh para nabi dengan sifat-sifat sensualitas, kekasaran, bodoh dalam ilmu, dan kelemahan-kelemahan moral lainnya. Mereka adalah manusia seperti kita dan sewaktu-waktu merasakan kecenderungan dan nafsu yang alamiah. Mereka dilindungi hanya dari dosa-dosa besar dan dari pemutarbalikkan pesan yang harus mereka sampaikan.

    Kita harus ekstra hati-hati jangan sampai mengagungkan nabi-nabi Tuhan terlalu tinggi dalam imajinasi kita, kalau tidak Tuhan tidak meridhai kita. Mereka adalah makhluk dan hamba-Nya; para nabi menunaikan tugas mereka dan kembali kepada-Nya. Ketika kita melupakan Tuhan dan mengkonsentrasikan cinta dan pujian kita pada salah seorang dari utusa-utusan Tuhan, maka kita dalam bahaya terperosok ke dalam dosa syirik (politheisme).

    Setelah jauh menjelaskan sifat dan signifikansi prophet (nabi) dan prophecy (nubuat), sekarang saya akan berusaha keras untuk membuktikan bahwa tidak ada nabi yang asli kecuali, sebagaimana dengan jelas dikatakan oleh Yeremia, kalau ia mengajarkan dan menyebarluaskan agama Islam.

    Untuk memahami dengan lebih baik pengertian dan arti penting dan soal yang sedang kita renungkan, kita harus melirik sejenak pada ayat sebelumnya, di mana Yeremia berkata kepada musuhnya Nabi Hananya, “Nabi-nabi yang ada sebelumku dan sebelummu dari [jaman] dahulu kala telah bernubuat terhadap banyak negeri dan kerajaan-kerajaan yang besar mengenai perang, malapetaka, dan penyakit sampat.” Lalu ia melanjutkan:

    “Nabi yang bernubuat tentang Islam segera setelah datang sabda nabi, nabi itu diketahui benar-benar telah diutus oleh Tuhan.”

    Bisa saja tidak ada keberatan terhadap susunan kata Inggris dari bagian ini kecuali kalimat “l Syalom” yang telah saya terjemahkan sebagai “concerning Islam.” Kata depan “l” sebelum “Syalom” berarti “concerning” atau “about” (tentang), dan menempatkan subjeknya dalam kasus objektif dan tidak dalam kasus datif, sebagaimana halnya kalau predikatnya adalah kata kerja seperti “come” (datang), “go”, atau “give” (memberi).

    Bahwa “Syalom” dan bahasa Syria “Sylama”, dan juga kata Arab “salam” dan “Islam.” berasa; daro sati alar lata najasa Semit yang sama, “shalam” berarti “tunduk, menyerahkan diri”, dan kemudian “berdamai”; dan konsekuensinya “menjadi aman, baik, dan tenang.”

    Tidak ada sistem keagamaan di dunia ini yang diberi sifat dengan nama yang baik dan lebih komprehensif, bermartabat dan luhur selain dari nama “Islam.” Agama sejati dari Tuhan Yang Sejati tidak bisa diberi nama dengan nama suatu kaum atau negeri. Sebenarnya, kesucian dan ketidaktercelaan dari kata “Islam” inilah yang membuat musuh-musuhnya terpesona, takut, dan hormat sekalipun ketika kaum Muslim dalam keadaan lemah dan tidak bahagia. Itulah nama dan gelar dari sebuah agama yang mengajarkan dan memerintahkan suatu ketundukkan dan kepasrahan mutlak terhadap Zat Yang Mahatinggi, dan kemudian meraih kedamaian dan ketenangan dalam batin, tidak peduli dengan kesengsaraan atau kemalangan yang mungkin mengancam kita. Itulah yang membuat musuh-musuh Islam terpesona.21

    Adalah keyakinan yang teguh dan tak tergoyahkan akan Keesaan Allah dan kepercayaan yang kokoh terhadap belasan kasih dan keadilan-Nya yang menjadikan seorang Muslim dapat dibedakan dan menonjol di tengah-tengah kaum non-Muslim. Dan keimanan yang benar terhadap Allah dan kecintaan yang tulus terhadap Al-Qur’an Suci dan Rasul lah yang menyebabkan para misionaris kristen mati-matian menyerang dan gagal dengan sia-sia. Karena itu, ucapan Yeremia bahwa “Nabi yang bernubuat, yaitu, yang mengajarkan dan berbicara mengenai urusan-urusan Islam sebagai agamanya, ia akan langsung dikenal lebih benar-benar diutus oleh Tuhan.” Oleh karena itu, mari kita perhatikan dengan sungguh-sungguh beberapa poin berikut:

    Nabi Yeremia adalah satu-satunya nabi sebelum Kristus yang menggunakan kata Syalom dalam pengertian sebuah agama. Ia adalah satu-satunya nabi yang menggunakan kata ini dengan tujuan untuk menetapkan atau membuktikan kejujuran seorang utusan Tuhan.

    Menurut wahyu Al-Qur’an, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, Musa, dan semua nabi adalah Muslim, dan mengakui Islam sebagai agama mereka. Istilah “Islam” dan padanan “Syalom” dan “Sylama”, dikenal oleh kaum Yahudi dan Nasrani Mekah dan Madinah ketika Muhammad muncul untuk menyempurnakan dan menguniversalkan agama Islam.

    Seorang nabi yang memprediksi “perdamaian” sebagai suatu kondisi yang abstrak, samar-samar, dan temporer tidak akan bisa berhasil dalam membuktikan identitasnya.

    Sebenarnya, yang menjadi pokok perselisihan, atau malah persoalan kebangsaan yang gawat, yang dipertentangkan oleh dua nabi terkemuka yang dikenal pengadilan dan bangsa seperti Yeremia dan Hananya (Yeremia 28), tidak dapat dipecahkan dan ditetapkan secara pasti oleh penegasan dari salah satu dan penolakan dari satunya lagi, mengenai malapetaka yang sudah dekat. Memprediksi “perdamaian” menurut Yeremia ketika dari sejak semula ia sudah meramalkan bencana nasional yang besar–apakah dengan takluknya Raja Sidaqia kepada penguasa Khaldea atau dengan perlawanannya–tidak hanya akan menyebabkan kegagalannya, belum lagi keberhasilannya dalam membuktikan kejujurannya, tapi juga malah akan membuatnya konyol. Karena, bagaimana pun, “perdamaian” yang diduganya itu berarti tidak ada perdamaian sama sekali.

    Sebaliknya, jika kaum Yahudi melawan tentara Khaldea, maka itu artinya kehancuran nasional yang menyeluruh, dan jika mereka menyerah, maka itu artinya suatu perbuatan tanpa syarat. Oleh karena itu, maka jelaslah bahwa Yeremia menggunakan Syalom dalam pengertian suatu sistem keagamaan yang nyata, konkret, dan riil yang dicakup dalam Islam.

    Agar lebih jelas, kita harus mendengar dengan penuh perhatian argumen-argumen dari dua nabi lawannya yang mendiskusikan dan memperselisihkan persoalan nasional dihadapan seorang raja yang jahat dan pengadilan para penyanjung yang busuk dan kaum munafik yang sudah bejat akhlaknya.

    Yeremia dalam batinnya memiliki hujah Tuhan dan agama perdamaian-Nya, dan demi kepentingan-kepentingan vital agama perdamaian, atau Islam, ia menasehati raja yang jahat dan para anggota istananya untuk menyerah pada tekanan Babylonia dan melayani bangsa Khaldea dan hidup. Karena tidak ada alternatif lain bagi mereka. Mereka harus meninggalkan Tuhan para nenek moyang mereka, mengotori bait-Nya, mengolok-olok dan mencerca pada nabi-Nya, dan melakukan kejahatan serta pengkhianatan (2 Tawarikh.36, dan seterusnya). Maka Tuhan menyerahkan mereka ke dalam kekuasaan Nebukadnezar, dan tidak akan menyelamatkan mereka.

    Bagi seorang hamba Tuhan yang sejati dan tulus, agama adalah nomor satu dan baru kemudian bangsa. Pemerintahan dan bangsa lah –terutama apabila mereka mengabaikan Tuhan– yang harus dikorbankan demi agama, dan bukan sebaliknya!

    Nabi dari Gibeon lainnya, Hananya, berusaha menyerahkan tuannya, sang raja: ia adalah seorang anggota istana dan disukainya, kaya serta necis, sementara lawan-lawannya selalu merana dan mati kelaparan di dalam penjara dan ruang tahanan bawah tanah. Ia tidak peduli dengan seruan kepada agama dan kesejahteraan umat yang nyata. Ia juga seorang nabi, begitulah kata Kitab Yeremia, namun ia seorang bajingan, dan telah menukar Tuhan dengan seorang raja yang bejat akhlaknya! Ia bernubuat atas nama Tuhan yang sama seperti dilakukan Yeremia, dan mengumumkan pengembalian barang rampasan dan para tawanan dari Babylonia dalam tempo dua tahun.

    Nah, dari gambaran yang sumbang mengenai para nabi di atas, yang mana di antara keduanya yang akan Anda golongkan sebagai hamba Tuhan yang sejati dan sebagai pembela setia agama Tuhan? Sudah pasti Yeremia akan langsung menarik simpati dan pilihan Anda.

    Hanya agama Syalom (Islam) lah yang dapat memberikan bukti tentang watak dan tegas seorang nabi sejati, imam, atau duta Tuhan di muka bumi. Tuhan itu satu, san agama-Nya pun satu. Tidak ada agama lain di dunia ini seperti Islam, yang mengakui dan mempertahankan keesaan Tuhan yang mutlak. Oleh karena itu, orang yang mengorbankan setiap kepentingan, kehormatan, dan cinta lain apa pun demi Agama Suci ini, tidak diragukan lagi dia adalah nabi sejati dan duta Tuhan.

    Namun, masih ada satu hal yang patut kita ketahui, yaitu, jika agama Islam tidak menjadi standar dan ukuran untuk menguji kejujuran seorang nabi atau duta Tuhan, maka tidak ada kriteria lain untuk memenuhi tujuan itu. Mukjizat tidak selalu menjadi bukti yang cukup, karena tukang sihir juga bisa melakukan keajaiban. Pemenuhan suatu ramalan atau nujuman itu sendiri, pun, bukan bukti yang cukup; karena sebagaimana roh kudus mengungkapkan suatu peristiwa masa akan datang kepada seorang nabi sejati, begitu pula kadang-kadang roh jahat melakukan hal yang sama terhadap seorang penipu ulung.

    Maka jelaslah bahwa nabi yang “bernubuat tentang Syalom (Islam) sebagai nama agama dan jalan hidup, begitu ia menerima pesan dari Tuhan maka ia akan dikenal telah diutus oleh-Nya”. Begitulah argumen yang telah dikemukakan Yeremia untuk meyakinkan para audiensnya mengenai kepalsuan Hananya. Tetapi raja yang jahat dan gengnya tidak mau mendengar dan menaati firman Tuhan.

    Sebagaimana disampaikan dalam paragraf sebelumnya, perlu dicatat bahwa baik pemenuhan suatu ramalan atau pun terjadinya suatu mukjizat tidaklah cukup untuk menunjukkan ciri sejati dari seorang nabi; bahwa loyalitas dan kecintaan yang sempurna terhadap agama adalah bukti yang paling tepat dan meyakinkan untuk tujuan ini; bahwa Syalom digunakan untuk mengekspresikan agama perdamaian.

    Sekali lagi kita mengulangi penegasan yang sama bahwa Syalom tak lain adalah Islam. Dan kita meminta dari mereka yang berkeberatan terhadap penafsiran ini untuk menunjukkan kata Arab selain Islam dan Salam sebagai padanan kata Syalom, dan juga mencarikan bagi kita kata lain dalam bahasa Ibrani disamping Syalom yang memberikan dan mengungkapkan makna yang sama dengan Islam.

    Memang mustahil menemukan padanan lain seperti itu. Oleh karenanya, kita dipaksa bahwa Syalom sama dengan Salam atau Perdamaian dalam pengertian abstrak, dan “Islam” sebagai sebuah agama dan keyakinan dalam pengertian konkrit

    Sebagaimana Al-Qur’an dalam surah 2 dengan jelas mengingatkan kita bahwa Ibrahim dan anak-cucunya adalah pengikut Islam; bahwa mereka bukanlah Yahudi atau pun Kristen; bahwa mereka mengajarkan dan menyebarkan penyembahan dan keimanan akan satu Tuhan kepada semua umat di tengah mana mereka tinggal atau berada, kita harus mengakui bahwa tidak hanya bangsa Yahudi, tapi beberapa bangsa lain yang berasal dari anak-anak Ibrahim lainnya dan banyak suku-sku yang diajak dan terpikat oleh mereka, adalah juga Muslim; artinya, orang-orang yang beriman kepada Allah dan tunduk pada kehendak-Nya.

    Adalah Bani Esau, Edom, Midian, dan banyak bani lainnya yang tinggal di Arabia, mereka mengenal Tuhan dan menyembah-Nya seperti bani Israel. Bani-bani ini juga punya nabi dan pembimbing agamanya masing-masing seperti Yob, Yethro (bapak mertuanya Nabi Musa), Balaam, Hud, dan banyak lagi. Namun, seperti kaum Yahudi, mereka telah lari kepada penyembahan berhala sampai diberantas total oleh sang Pangeran para nabi.

    Kaum Yahudi, sekitar abad ketujuh SM, mengarang sebagian besar kitab-kitab Perjanjian Lama, ketika ingatan-ingatan akan penaklukkan negeri Kanaan oleh Yoshua, bait Sulaiman dan Yerusalem, adalah kejadian-kejadian yang terkubur dalam sejarah jaman dulu mereka yang menakjubkan. Semangat nasionalistik dan Yudaistik terhadap keasingan dan kecemasan merajalela di tengah sebagian kecil bangsa Israel; keyakinan akan datangnya Juru Selamat Agung untuk mengembalikan singgasana dan mahkota Daud yang hilang telah mendominasi, dan makna lama Syalom sebagai nama agama Ibrahim dan lazim bagi semua umat yang berbeda-beda yang merupakan keturunannya sudah dilupakan.

    Balas
  135. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Nabi-nabi Sejati Hanya Mengajarkan Islam
    Tidak ada bangsa yang dikenal dalam sejarah seperti Bani Israel, yang dalam jangka waktu kurang dari empat ratus tahun penuh dengan ribuan nabi palsu, belum lagi para tukang sihir, tukang ramal, dan semua jenis ilmu sihir dan tukang sulap.

    Nabi-nabi palsu ada dua jenis: yang mengakui agama dan Taurat (Hukum) Yahweh dan pura-pura bernubuat atas nama-Nya, dan yang berada di bawah perlindungan seorang raja Israel penyembah berhala yang bernubuat atas nama Baal atau dewa-dewa lain dari kaum musyrikin sekitarnya. Termasuk kategori pertama ada beberapa penipu ulung yang sejaman dengan nabi-nabi sejati seperti Mikha (Micah) dan Yeremia, dan termasuk kategori kedua ada orang-orang yang memberikan banyak kesulitan kepada kaum beriman selama pemerintahan Ahab dan istrinya Yezebel.

    Yang paling berbahaya bagi keyakinan dan agama yang benar adalah para nabi-semu, yang mengerjakan tugas-tugas ilahiah di bait dan juga Mishpha-mispha dan berpura-pura menyampaikan sabda-sabda Tuhan kepada manusia. Barangkali, tidak ada nabi yang menerima siksaan dan kesulitan dari para penipu ulung ini sebanyak Nabi Yeremia.

    Selagi usia muda, Yeremia memulai misi kenabiannya sekitar kuartal terakhir abad ketujuh sebelum Masehi, ketika Kerajaan Yudas sedang terancam bahaya invasi oleh pasukan Khaldea. Kaum Yahudi telah bersekutu dengan Fir’aun dari Mesir, tetapi karena Fir’aun ditaklukkan dengan buruk oleh tentara Nebukadnezar, maka ajal Yerusalem hanya tinggal menunggu waktu saja. Pada masa-masa kritis ini, selama mana nasib orang beriman yang tersisa akan diputuskan, Nabi Yeremia dengan keras menasihati raja dan para pemimpin kaum Yahudi untuk tunduk dan mengabdi Raja Babylonia, agar Yerusalem bisa diselamatkan jangan sampai dibakar menjadi bau dan jangan sampai orang-orang dijebloskan ke dalam tahanan. Ia menumpahkan semua pidatonya yang pedas dan mengesankan ke telinga para raja, pendeta, dan orang-orang tua, namun semuanya sia-sia.

    Nabi Yeremia menyampaikan pesan demi pesan dari Tuhan, dengan mengatakan bahwa satu-satunya obat untuk menyelamatkan negeri dan masyarakat dari kehancuran yang sudah dekat adalah menyerah kepada bangsa Khaldea; namun tidak satu pun mau mendengarkan peringatan-peringatannya.

    Nabukadnezar datang dan merebut kota, mengangkut raja, para pangeran, dan banyak tawanan, dan juga semua harta bait, termasuk bejana-bejana emas dan perak. Pangeran lainnya, dan pangeran yang ketiga, diangkat oleh Kaisar Babylonia untuk memerintah sebagai budaknya di Yerusalem. Raja ini, bukannya bersifat bijak dan loyal terhadap pemimpinnya di babylonia, tapi malah memberontak terhadapnya.

    Yeremia tak henti-hentinya memperingatkan sang raja tetap loyal dan meninggalkan kebijakan bangsa Mesir. Namun, nabi-nabi palsu terus berpidato panjang lebar di dalam bait, dengan mengatakan, “Maka berkatalah Tuhan Rombongan Besar, Lihatlah, Aku telah mematahkan kuk Raja Babylonia, dan dalam waktu dua tahun semua tawanan Yahudi dan bejana-bejana Rumah Tuhan akan dikembalikan ke Yerusalem.” Yeremia memasang buah kuk kayu di sekeliling lehernya sendiri lalu pergi ke kuil dan memberitahu orang-orang bahwa Tuhan telah ridha memasang dengan cara ini kuk raja Babylonia pada leher semua kaum Yahudi. Ia dipukul mukanya oleh seorang nabi yang melawan, yang mematahkan hingga berkeping-keping kuk kayu dari leher Yeremia dan mengulangi pidato panjang lebar para nabi palsu.

    Yeremia dilemparkan ke dalam sebuah penjara bawah tanah yang penuh lumpur dan dalam, dan hanya diberi makan sepotong roti gandum kering sehari sampai kelaparan melanda kota, yang dikepung oleh bangsa Khaldea. Nabi-palsu Hananya mati seperti yang diramalkan Yeremia. Tembok kota diruntuhkan, dan pasukan yang menang cepat-cepat memasuki kota, Raja Zedekiah dan rombongannya melarikan diri ditangkap dan dibawa ke Raja Babylonia. Kota dan bait, setelah dijarah, dibakar, dan seluruh penduduk Yerusalem digiring ke Babylonia; hanya golongan miskin yang dibiarkan untuk mengolah tanah.

    Atas perintah Nebukadnezar, Yeremia dibolehkan untuk tinggal di Yerusalem, dan gubernur yang baru diangkat, Gedaliah, ditugaskan untuk menjaga dan mengurus nabi dengan baik. Tapi Gedaliah dibunuh oleh orang-orang Yahudi yang memberontak, dan kemudian mereka semua melarikan diri ke Mesir, membawa serta Yeremia. Di Mesir pun ia bernubuat untuk para buronan dan bangsa Mesir. Ia harus mengakhiri hidupnya di Mesir.

    Kitab-kitabnya, sebagaimana ada sekarang, sangat berbeda dengan teks kitab Septuagint; terang saja, salinan dari mana teks Yunani ditulis oleh para penerjemah Aleksandria mempunyai urutan pasal-pasal yang berbeda.

    Para kritikus Alkitab beranggapan bahwa Yeremia adalah pengarang, atau, bagaimanapun, penyusun kitab kelima Pentateuch yang disebut Ulangan. Saya sendiri punya pendapat yang sama. Yeremia adalah orang Lewi dan pendeta dan juga nabi. Terdapat banyak ajaran Yeremia dalam Ulangan yang tidak ada dalam bagian lain dari tulisan-tulisan Perjanjian Lama. Dan saya mengutip salah satu ajaran ini untuk pokok bahasan saya sekarang, yang saya anggap sebagai salah satu teks mutiara atau emas dalam Perjanjian Lama dan harus dihargai karena sangat mulia dan suci.

    Setelah penjelasan yang mendetail ini saya bersegera ke persoalan utama yang telah saya pilih untuk topik artikel ini: Bagaimana membedakan seorang nabi sejati dari nabi palsu. Yeremia telah memasok kita dengan jawaban yang cukup memuaskan, yaitu: “Nabi yang mengajarkan Islam”.

    Dalam kitab Ulangan (13:1-5, 18:20-22) Tuhan Yang Mahakuasa memberikan beberapa petunjuk mengenai nabi-nabi palsu yang bisa bernubuat atas nama Tuhan dan dengan cara yang demkian busuk dan membahayakan sehingga mereka bisa menyesatkan kaumnya. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengetahui kedurhakaan si penipu ulung ini adalah dengan mengantisipasi pemenuhan ramalan-ramalannya, dan kemudian menghukum mati dia ketika penipuannya terbongkar.

    Namun, sebagaimana banyak diketahui, orang bodoh tidak dapat membedakan dengan benar antara nabi palsu dan penipu ulung, persis seperti sekarang ini mereka tidak mampu secara tepat menemukan yang mana di antara dua, seorang pendeta Katolik Roma atau seorang pendeta Calvinis, adalah pengikut sejati Yesus Kristus! Nabi palsu juga akan meramalkan berbagai keajaiban, menyembuhkan secara ajaib, dan melakukan hal-hal religius lainnya yang sama –paling tidak kelihatan sama– dengan yang dilakukan oleh seorang nabi sejati.

    Persaingan antara Nabi Musa dan para tukang sihir mesir adalah ilustrasi yang tepat dari pernyataan ini. Dengan demikian, Yeremia-lah yang memberi kita contoh terbaik untuk menguji kejujuran dan kesejatian seorang nabi, dan cara itu adalah syariat Islam. Silahkan baca Yeremia pasal 28 seluruhnya, dan kemudian renungkan secara hayati ayat 9:

    “Nabi yang bernubuat tentang Islam (Syalom), saat datangnya sabda Nabi, nabi itu akan diakui benar-benar telah diutus oleh Tuhan.” (Yeremia 28:9)

    Terjemahan ini sangat harfiah. Kata kerja asli naba, biasa diterjemahkan menjadi “meramalkan” atau “bernubuat,” dan kata benda nabi, “nabi” memberikan kesan bahwa seorang nabi adalah seorang yang meramalkan masa depan atau kejadian-kejadian masa lalu dengan bantuan wahyu ilahi. Definisi ini hanya benar sebagian. Definisi yang lengkap dari kata “Nabi” mestilah: “orang yang menerima sabda atau pesan dari Tuhan, dan menyampaikannya dengan jujur kepada orang atau kaum yang dituju.”

    Jelaslah bahwa pesan Ilahi tidak harus berupa ramalan tentang kejadian-kejadian masa lalu dan masa akan datang. Dengan cara yang sama, kata kerja “bernubuat” tidak mesti berarti mengungkapkan kejadian-kejadian masa lalu dan masa akan datang, melainkan mengajarkan atau menyebarluaskan pesan Tuhan. Konsekuensinya bernubuat adalah menyampaikan dan mengucapkan sabda baru, yang sifat dan karakternya sangat immaterial. Membaca ucapan seorang nabi adalah bernubuat tidak lebih dari sabda yang disampaikan oleh seorang nabi ketika berceramah atau berpidato atas kehendaknya sendiri.

    Dalam Al-Qur’an Tuhan menyuruh hamba-Nya yang dikasihi, Muhammad, untuk menyatakan, “Aku adalah manusia seperti kalian; hanya [bedanya] aku menerima wahyu,” dan seterusnya, sehingga kita berhati-hati untuk tidak menisbahkan kepada seorang nabi sifat mengetahui dan mengucapkan segala seseuatu melalui wahyu.

    Wahyu Ilahi biasanya datang sewaktu-waktu, sedangkan para nabi dalam hubungan dan pengetahuan pribadi, mereka bisa saja salah dan keliru. Seorang nabi tidak diangkat oleh Tuhan untuk mengajari manusia ilmu fisika, matematika, atau ilmu positif lainnya. Kita sangat tidak adil kalau menyalahkan seorang nabi karena kesalahan bicara atau kekhilafan yang dilakukan sebagai seorang manusia. Oleh karenanya, seorang nabi diuji dan diperiksa hanya ketika ia secara resmi dan secara jabatan menyampaikan pesan yang diterimanya dari Tuhan.

    Untuk mengetahui apakah seorang nabi itu asli atau penipu ulung, tidaklah fair memberikan putusan terhadap sifat profetisnya karena ia dilaporkan telah bersifat sedikit kasar atau tidak sopan terhadap ibunya atau karena ia mempercayai spiration seperti apa adanya dan mempercayai bahwa pengarang Pentateuch adalah Musa. Ketika melakukan observasi ini, saya mempertimbangkan kasus Yesus Kristus, dan banyak kasus lainnya dalam sejarah Israel tentang hal-hal lain.

    Adalah tidak jujur dan karena rasa benci menuduh para nabi dengan sifat-sifat sensualitas, kekasaran, bodoh dalam ilmu, dan kelemahan-kelemahan moral lainnya. Mereka adalah manusia seperti kita dan sewaktu-waktu merasakan kecenderungan dan nafsu yang alamiah. Mereka dilindungi hanya dari dosa-dosa besar dan dari pemutarbalikkan pesan yang harus mereka sampaikan.

    Kita harus ekstra hati-hati jangan sampai mengagungkan nabi-nabi Tuhan terlalu tinggi dalam imajinasi kita, kalau tidak Tuhan tidak meridhai kita. Mereka adalah makhluk dan hamba-Nya; para nabi menunaikan tugas mereka dan kembali kepada-Nya. Ketika kita melupakan Tuhan dan mengkonsentrasikan cinta dan pujian kita pada salah seorang dari utusa-utusan Tuhan, maka kita dalam bahaya terperosok ke dalam dosa syirik (politheisme).

    Setelah jauh menjelaskan sifat dan signifikansi prophet (nabi) dan prophecy (nubuat), sekarang saya akan berusaha keras untuk membuktikan bahwa tidak ada nabi yang asli kecuali, sebagaimana dengan jelas dikatakan oleh Yeremia, kalau ia mengajarkan dan menyebarluaskan agama Islam.

    Untuk memahami dengan lebih baik pengertian dan arti penting dan soal yang sedang kita renungkan, kita harus melirik sejenak pada ayat sebelumnya, di mana Yeremia berkata kepada musuhnya Nabi Hananya, “Nabi-nabi yang ada sebelumku dan sebelummu dari [jaman] dahulu kala telah bernubuat terhadap banyak negeri dan kerajaan-kerajaan yang besar mengenai perang, malapetaka, dan penyakit sampat.” Lalu ia melanjutkan:

    “Nabi yang bernubuat tentang Islam segera setelah datang sabda nabi, nabi itu diketahui benar-benar telah diutus oleh Tuhan.”

    Bisa saja tidak ada keberatan terhadap susunan kata Inggris dari bagian ini kecuali kalimat “l Syalom” yang telah saya terjemahkan sebagai “concerning Islam.” Kata depan “l” sebelum “Syalom” berarti “concerning” atau “about” (tentang), dan menempatkan subjeknya dalam kasus objektif dan tidak dalam kasus datif, sebagaimana halnya kalau predikatnya adalah kata kerja seperti “come” (datang), “go”, atau “give” (memberi).

    Bahwa “Syalom” dan bahasa Syria “Sylama”, dan juga kata Arab “salam” dan “Islam.” berasa; daro sati alar lata najasa Semit yang sama, “shalam” berarti “tunduk, menyerahkan diri”, dan kemudian “berdamai”; dan konsekuensinya “menjadi aman, baik, dan tenang.”

    Tidak ada sistem keagamaan di dunia ini yang diberi sifat dengan nama yang baik dan lebih komprehensif, bermartabat dan luhur selain dari nama “Islam.” Agama sejati dari Tuhan Yang Sejati tidak bisa diberi nama dengan nama suatu kaum atau negeri. Sebenarnya, kesucian dan ketidaktercelaan dari kata “Islam” inilah yang membuat musuh-musuhnya terpesona, takut, dan hormat sekalipun ketika kaum Muslim dalam keadaan lemah dan tidak bahagia. Itulah nama dan gelar dari sebuah agama yang mengajarkan dan memerintahkan suatu ketundukkan dan kepasrahan mutlak terhadap Zat Yang Mahatinggi, dan kemudian meraih kedamaian dan ketenangan dalam batin, tidak peduli dengan kesengsaraan atau kemalangan yang mungkin mengancam kita. Itulah yang membuat musuh-musuh Islam terpesona.21

    Adalah keyakinan yang teguh dan tak tergoyahkan akan Keesaan Allah dan kepercayaan yang kokoh terhadap belasan kasih dan keadilan-Nya yang menjadikan seorang Muslim dapat dibedakan dan menonjol di tengah-tengah kaum non-Muslim. Dan keimanan yang benar terhadap Allah dan kecintaan yang tulus terhadap Al-Qur’an Suci dan Rasul lah yang menyebabkan para misionaris kristen mati-matian menyerang dan gagal dengan sia-sia. Karena itu, ucapan Yeremia bahwa “Nabi yang bernubuat, yaitu, yang mengajarkan dan berbicara mengenai urusan-urusan Islam sebagai agamanya, ia akan langsung dikenal lebih benar-benar diutus oleh Tuhan.” Oleh karena itu, mari kita perhatikan dengan sungguh-sungguh beberapa poin berikut:

    Nabi Yeremia adalah satu-satunya nabi sebelum Kristus yang menggunakan kata Syalom dalam pengertian sebuah agama. Ia adalah satu-satunya nabi yang menggunakan kata ini dengan tujuan untuk menetapkan atau membuktikan kejujuran seorang utusan Tuhan.

    Menurut wahyu Al-Qur’an, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, Musa, dan semua nabi adalah Muslim, dan mengakui Islam sebagai agama mereka. Istilah “Islam” dan padanan “Syalom” dan “Sylama”, dikenal oleh kaum Yahudi dan Nasrani Mekah dan Madinah ketika Muhammad muncul untuk menyempurnakan dan menguniversalkan agama Islam.

    Seorang nabi yang memprediksi “perdamaian” sebagai suatu kondisi yang abstrak, samar-samar, dan temporer tidak akan bisa berhasil dalam membuktikan identitasnya.

    Sebenarnya, yang menjadi pokok perselisihan, atau malah persoalan kebangsaan yang gawat, yang dipertentangkan oleh dua nabi terkemuka yang dikenal pengadilan dan bangsa seperti Yeremia dan Hananya (Yeremia 28), tidak dapat dipecahkan dan ditetapkan secara pasti oleh penegasan dari salah satu dan penolakan dari satunya lagi, mengenai malapetaka yang sudah dekat. Memprediksi “perdamaian” menurut Yeremia ketika dari sejak semula ia sudah meramalkan bencana nasional yang besar–apakah dengan takluknya Raja Sidaqia kepada penguasa Khaldea atau dengan perlawanannya–tidak hanya akan menyebabkan kegagalannya, belum lagi keberhasilannya dalam membuktikan kejujurannya, tapi juga malah akan membuatnya konyol. Karena, bagaimana pun, “perdamaian” yang diduganya itu berarti tidak ada perdamaian sama sekali.

    Sebaliknya, jika kaum Yahudi melawan tentara Khaldea, maka itu artinya kehancuran nasional yang menyeluruh, dan jika mereka menyerah, maka itu artinya suatu perbuatan tanpa syarat. Oleh karena itu, maka jelaslah bahwa Yeremia menggunakan Syalom dalam pengertian suatu sistem keagamaan yang nyata, konkret, dan riil yang dicakup dalam Islam.

    Agar lebih jelas, kita harus mendengar dengan penuh perhatian argumen-argumen dari dua nabi lawannya yang mendiskusikan dan memperselisihkan persoalan nasional dihadapan seorang raja yang jahat dan pengadilan para penyanjung yang busuk dan kaum munafik yang sudah bejat akhlaknya.

    Yeremia dalam batinnya memiliki hujah Tuhan dan agama perdamaian-Nya, dan demi kepentingan-kepentingan vital agama perdamaian, atau Islam, ia menasehati raja yang jahat dan para anggota istananya untuk menyerah pada tekanan Babylonia dan melayani bangsa Khaldea dan hidup. Karena tidak ada alternatif lain bagi mereka. Mereka harus meninggalkan Tuhan para nenek moyang mereka, mengotori bait-Nya, mengolok-olok dan mencerca pada nabi-Nya, dan melakukan kejahatan serta pengkhianatan (2 Tawarikh.36, dan seterusnya). Maka Tuhan menyerahkan mereka ke dalam kekuasaan Nebukadnezar, dan tidak akan menyelamatkan mereka.

    Bagi seorang hamba Tuhan yang sejati dan tulus, agama adalah nomor satu dan baru kemudian bangsa. Pemerintahan dan bangsa lah –terutama apabila mereka mengabaikan Tuhan– yang harus dikorbankan demi agama, dan bukan sebaliknya!

    Nabi dari Gibeon lainnya, Hananya, berusaha menyerahkan tuannya, sang raja: ia adalah seorang anggota istana dan disukainya, kaya serta necis, sementara lawan-lawannya selalu merana dan mati kelaparan di dalam penjara dan ruang tahanan bawah tanah. Ia tidak peduli dengan seruan kepada agama dan kesejahteraan umat yang nyata. Ia juga seorang nabi, begitulah kata Kitab Yeremia, namun ia seorang bajingan, dan telah menukar Tuhan dengan seorang raja yang bejat akhlaknya! Ia bernubuat atas nama Tuhan yang sama seperti dilakukan Yeremia, dan mengumumkan pengembalian barang rampasan dan para tawanan dari Babylonia dalam tempo dua tahun.

    Nah, dari gambaran yang sumbang mengenai para nabi di atas, yang mana di antara keduanya yang akan Anda golongkan sebagai hamba Tuhan yang sejati dan sebagai pembela setia agama Tuhan? Sudah pasti Yeremia akan langsung menarik simpati dan pilihan Anda.

    Hanya agama Syalom (Islam) lah yang dapat memberikan bukti tentang watak dan tegas seorang nabi sejati, imam, atau duta Tuhan di muka bumi. Tuhan itu satu, san agama-Nya pun satu. Tidak ada agama lain di dunia ini seperti Islam, yang mengakui dan mempertahankan keesaan Tuhan yang mutlak. Oleh karena itu, orang yang mengorbankan setiap kepentingan, kehormatan, dan cinta lain apa pun demi Agama Suci ini, tidak diragukan lagi dia adalah nabi sejati dan duta Tuhan.

    Namun, masih ada satu hal yang patut kita ketahui, yaitu, jika agama Islam tidak menjadi standar dan ukuran untuk menguji kejujuran seorang nabi atau duta Tuhan, maka tidak ada kriteria lain untuk memenuhi tujuan itu. Mukjizat tidak selalu menjadi bukti yang cukup, karena tukang sihir juga bisa melakukan keajaiban. Pemenuhan suatu ramalan atau nujuman itu sendiri, pun, bukan bukti yang cukup; karena sebagaimana roh kudus mengungkapkan suatu peristiwa masa akan datang kepada seorang nabi sejati, begitu pula kadang-kadang roh jahat melakukan hal yang sama terhadap seorang penipu ulung.

    Maka jelaslah bahwa nabi yang “bernubuat tentang Syalom (Islam) sebagai nama agama dan jalan hidup, begitu ia menerima pesan dari Tuhan maka ia akan dikenal telah diutus oleh-Nya”. Begitulah argumen yang telah dikemukakan Yeremia untuk meyakinkan para audiensnya mengenai kepalsuan Hananya. Tetapi raja yang jahat dan gengnya tidak mau mendengar dan menaati firman Tuhan.

    Sebagaimana disampaikan dalam paragraf sebelumnya, perlu dicatat bahwa baik pemenuhan suatu ramalan atau pun terjadinya suatu mukjizat tidaklah cukup untuk menunjukkan ciri sejati dari seorang nabi; bahwa loyalitas dan kecintaan yang sempurna terhadap agama adalah bukti yang paling tepat dan meyakinkan untuk tujuan ini; bahwa Syalom digunakan untuk mengekspresikan agama perdamaian.

    Sekali lagi kita mengulangi penegasan yang sama bahwa Syalom tak lain adalah Islam. Dan kita meminta dari mereka yang berkeberatan terhadap penafsiran ini untuk menunjukkan kata Arab selain Islam dan Salam sebagai padanan kata Syalom, dan juga mencarikan bagi kita kata lain dalam bahasa Ibrani disamping Syalom yang memberikan dan mengungkapkan makna yang sama dengan Islam.

    Memang mustahil menemukan padanan lain seperti itu. Oleh karenanya, kita dipaksa bahwa Syalom sama dengan Salam atau Perdamaian dalam pengertian abstrak, dan “Islam” sebagai sebuah agama dan keyakinan dalam pengertian konkrit

    Sebagaimana Al-Qur’an dalam surah 2 dengan jelas mengingatkan kita bahwa Ibrahim dan anak-cucunya adalah pengikut Islam; bahwa mereka bukanlah Yahudi atau pun Kristen; bahwa mereka mengajarkan dan menyebarkan penyembahan dan keimanan akan satu Tuhan kepada semua umat di tengah mana mereka tinggal atau berada, kita harus mengakui bahwa tidak hanya bangsa Yahudi, tapi beberapa bangsa lain yang berasal dari anak-anak Ibrahim lainnya dan banyak suku-sku yang diajak dan terpikat oleh mereka, adalah juga Muslim; artinya, orang-orang yang beriman kepada Allah dan tunduk pada kehendak-Nya.

    Adalah Bani Esau, Edom, Midian, dan banyak bani lainnya yang tinggal di Arabia, mereka mengenal Tuhan dan menyembah-Nya seperti bani Israel. Bani-bani ini juga punya nabi dan pembimbing agamanya masing-masing seperti Yob, Yethro (bapak mertuanya Nabi Musa), Balaam, Hud, dan banyak lagi. Namun, seperti kaum Yahudi, mereka telah lari kepada penyembahan berhala sampai diberantas total oleh sang Pangeran para nabi.

    Kaum Yahudi, sekitar abad ketujuh SM, mengarang sebagian besar kitab-kitab Perjanjian Lama, ketika ingatan-ingatan akan penaklukkan negeri Kanaan oleh Yoshua, bait Sulaiman dan Yerusalem, adalah kejadian-kejadian yang terkubur dalam sejarah jaman dulu mereka yang menakjubkan. Semangat nasionalistik dan Yudaistik terhadap keasingan dan kecemasan merajalela di tengah sebagian kecil bangsa Israel; keyakinan akan datangnya Juru Selamat Agung untuk mengembalikan singgasana dan mahkota Daud yang hilang telah mendominasi, dan makna lama Syalom sebagai nama agama Ibrahim dan lazim bagi semua umat yang berbeda-beda yang merupakan keturunannya sudah dilupakan.

    Dari sudut pandang inilah saya memandang pasal Yeremia ini sebagai salah satu golden text dalam tulisan suci bahasa Ibrani.

    ——————————————————————————–

    Footnotes
    21. Menarik dan penting untuk dicatat, betapa hasil-hasil observasi para pakar bersesuaian dengan hasil observasi eks-Kaiser Jerman yang, pada saat peringatan ulang tahunnya yang ketujuh puluh tahun di Doorn, Belanda, dikabarkan telah mengatakan dalam pidatonya, “Dan pahamilah ini –jika sekiranya kaum Muhammadan memahami ide bahwa adalah perintah Allah untuk membawa ketertiban ke Barat yang mundur dan tunduk kepada kehendak-Nya, kemudian– dengan keimana kepada Tuhan– mereka akan menemukan bangsa Eropa yang tidak bertuhan seperti gelombang air pasang, terhadap mana kaum Bolshevis yang paling komunis sekalipun, yang penuh dengan hasrat perang, akan tidak berdaya.” (Evening Standard, London, Januari 26, 1929).

    Sumber:

    “Menguak Misteri Muhammad SAW”, Benjamin Keldani, Sahara Publisher, Edisi Khusus Cetakan kesebelas Mei 2006, hal. 127-138.

    Balas
  136. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Raja Daud Menyapanya, Tuanku
    Sejarah Daud, perbuatannya yang luar biasa, dan tulisan-tulisan kenabiannya, terdapat dalam dua kitab Perjanjian lama yakni Samuel dan Mazmur. Ia adalah anak bontot Yishai (Yessie) dari suku Yudas. Ketika masih seorang gembala muda, ia sudah mampu membunuh seekor beruang dan mencabik-cabik dua ekor singa. Anak muda yang gagah berani itu mengayunkan sebuah batu kecil persis ke dahi Goliat, seorang jawara Filistin yang bersenjata dan menyelamatkan tentara Israel. Hadiah tertinggi untuk prestasi yang terbaik dalam menunjukkan keberanian adalah Michal, anak perempuan Raja Saul.

    Daud pandai bermain harpa dan seruling, dan ia adalah penyanyi yang bagus. Pelarian dia dari bapak mertuanya yang iri hati, petualangan dan perbuatan-perbuatan luarbiasa nya sebagai seorang bandit sudah banyak diketahui. Saat kematian Saul, maka Daud diundang oleh masyarakat untuk menerima mahkota kerajaan, untuk mana sudah lama sebelumnya ia diberi upacara perminyakan suci oleh nabi Samuel. Ia memerintah selama sekitar tujuh tahun di Hebron. Ia mengambil Yerusalem dari kaum Yebusit dan menjadikannya ibukota kerajaan.

    Dua bukit atau gunung, di Yerusalem diberi nama “Moriah” dan “Sion”. Kedua kata ini memiliki pengertian dan makna yang sama sebagai “Marwah” dan “Shafa” yang terkenal di Mekah, yang berturut-turut artinya adalah “tempat bayangan Tuhan” dan “cadas” atau “batu”.

    Berbagai perang yang dilakukan Daud, kesulitan-kesulitan keluarganya yang sangat berat, dosanya terhadap tentara yang beriman, Uria dan istrinya, Batsyeba, tidak dibiarkan tanpa mendapat hukuman. Ia berkuasa selama empat puluh tahun. Kehidupannya diwarnai dengan peperangan dan kesedihan keluarga. Ada beberapa cerita kontradiktif mengenai dia yang jelas-jelas berasal dari dua sumber yang berlawanan.

    Kejahatan Daud dalam kaitannya dengan Uria dan istrinya (2 Samuel 11) bahkan tidak disinggung dalam Al-Qur’an Surah 38. Itulah keunggulan al-Qur’an yang mengajarkan kepada kita bahwa semua nabi terlahir tanpa dosa dan mati juga tanpa dosa. Tidak seperti Alkitab (Injil), Al-Qur’an tidak mempertalikan mereka dengan kejahatan-kejahatan dan dosa-dosa –misalnya kejahatan ganda Daud yang disebutkan dalam Alkitab, yang, menurut Hukum Musa, harus di hukum mati –yang, apa lagi seorang nabi yang merupakan hamba pilihan Tuhan Yang Mahakuasa, melekatkan pada nama seorang mansuia biasa pun tidak terpikirkan oleh kita.

    Kisah tentang Daud melakukan perzinaan sehingga dua malaikat datang kepadanya dan mengingatkan dia akan dosa adalah dusta yang tolol dan kekanak-kanakan–dimana pun kisah itu adanya. Hal ini sudah disangkal melalui pemikiran yang terbaik dari kaum Muslim. Razi berkata: “Sebagian besar kaum terpelajar, dan yang mencari kebenaran di antara mereka menyatakan tuduhan ini palsu dan mengutuknya sebagai sebuah kisah dusta dan jahat.

    Kata-kata istighfara dan ghafarana yang terdapat dalam Al-Qur’an 38:23, sama sekali tidak mengindikasikan Daud telah melakukan suatu dosa, karena istighfar sebenarnya berarti meminta perlindungan, dan Daud meminta perlindungan Tuhan ketika ia melihat bahwa musuh-musuhnya semakin bertambah berani melawannya. Dan dengan ghafarana berarti pembetulan urusan-urusannya, karena Daud sebagai penguasa hebat, tidak bisa berhasil menguasai secara penuh musuh-musuhnya.

    Perjanjian Lama tidak menyebutkan waktu kapan karunia kenabian diberikan kepada Daud. Kita membaca bahwa setelah Daud melakukan dua dosa, maka Tuhan mengutus nabi Natan untuk menghukum Daud. Sesungguhnya hingga akhir hidupnya, kita menemukan dia selalu mendapat pertolongan dari nabi-nabi lain. Oleh karena itu, menurut cerita-cerita versi alkitab, nampaklah bahwa karunia nubuat datang padanya setelah ia benar-benar bertobat dari dosa-dosanya.

    Dalam salah satu artikel saya sebelumnya, saya mengatakan bahwa setelah terpecahnya Kerajaan menjadi dua bagian yang merdeka dan saling berperang satu sama lain, sepuluh suku yang membentuk kerajaan Israel selalu memusuhi Dinasti Daud dan tidak pernah mengakui bagian manapun dari Perjanjian Lama selain Taurat atau Hukum Musa seperti terdapat dalam Pentateuch. Hal ini jelas menurut versi Samaritan dari lima kitab pertama Perjanjian Lama.

    Kita tidak menemukan satupun kata atau nubuat tentang keturunan Daud dalam wacana-wacana tentang para nabi besar, seperti Elia, Elisa, dan lain-lainnya yang tumbuh subur di Samaria selama pemerintahan raja-raja Israel yang kejam. Hanya setelah runtuhnya kerajaan Israel dan pindahnya sepuluh suku ke Assyria barulah pada nabi Yudea mulai meramalkan lahirnya seorang Pangeran dari Rumah Daud yang segera memulihkan seluruh bangsa dan menaklukkan musuh-musuhnya.

    Ada beberapa dari ucapan-ucapan yang bermakna ganda ini dalam tulisan-tulisan atau pidato-pidato beberapa nabi terakhir yang memberikan kegembiraan yang luar biasa dan menakjubkan kepada Bapa-bapa Gereja, tetapi dalam kenyataannya, ucapan-ucapan itu tidak ada hubungannya denga Yesus Kristus.

    Saya akan mengutip secara ringkas dua diantara nubuat ini. Pertama dalam Yesaya (pasal 7 ayat 14), dimana nabi itu meramalkan bahwa “seorang hadis yang sudah mengandung akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamainya Imanuel”. Kata Ibrani a’lmah bukan berarti “perawan”, seperti umumnya diartikan oleh para theolog Kristen dan karena itu diterapkan kepada perawan Maria, tetapi berarti “seorang perempuan yang sudah boleh kawin (dewasa), gadis, dara.” Kata Ibrani untuk perawan adalah bthulah. Maka nama anaknya harus Imanuel, yang berarti “Tuhan-bersama-kita.” Terdapat ratusan nama dalam bahasa Ibrani yang terdiri dari “el” dan kata benda lainnya, yang membentuk suku-suku pertama atau, kalau tidak, suku kata terakhir dari kata benda majemuk seperti itu.

    Baik Yesaya ataupun Raja Ahaz, atau setiap orang Yahudi tidak pernah berpikir bahwa bayi yang baru lahir itu adalah “Tuhan-bersama-kita”. Mereka tidak pernah memikirkan hal lain selain bahwa nama dia hanya akan seperti ini. Tetapi teks dengan jelas menyatakan bahwa Ahazlah (yang kelihatannya sudah mengenal sang gadis yang mempunyai anak) yang akan memberikan nama itu kepada sang anak. Ahaz dalam keadaan bahaya, musuh-musuhnya sedang merangsek ke Yerusalem, dan janji ini diberikan kepadanya dengan menunjuki dia suatu tanda , yakni, gadis yang hamil, dan bukan seorang perawan Maria yang akan datang kedunia lebih dari tujuh ratus tahun kemudian!

    Ramalan sederhana tentang seorang anak yang akan dilahirkan pada masa pemerintahan Ahaz ini disalahpahami juga oleh penulis Injil Matius (Matius 1:23). Nama “Yesus” diberikan oleh malaikat Jibril (Matius 1:21), dan ia belum pernah dipanggil “Imanuel”. Bukankah keji mengambil nama ini sebagai argumen dan bukti doktrin “inkarnasi” Kristen?

    Penafsiran aneh lainnya terhadap ramalan kenabian adalah dari Zakaria (9:9), yang salah kutip dan sama sekali disalahpahami oleh penulis Injil Matiuis (21:5). Nabi Zakaria berkata: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan membawa keselamatan. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda, anak dari keledai betina.” Dalam bagian yang puitis ini sang penyair benar-benar ingin menggambarkan si keledai jantan –dimana sang Raja duduk- dengan mengatakan bahwa ia adalah seekor keledai muda; dan anak keledai ini pun, digambarkan sebagai anak seekor keledai betina. Ia hanyalah seekor anak keledai jantan atau keledai muda. Nah! Matius mengutip bagian ini seperti berikut:

    “Katakanlah kepada puteri Sion,
    Lihat, Rajamu datang kepadamu,
    Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai,
    seekor keledai beban yang muda, anak dari seekor keledai betina.”

    Baik orang yang menulis ayat diatas benar-benar percaya ataupun tidak bahwa Yesus, ketika masuk ke Yerusalem dengan membawa kemenangannya sambil mengendarai atau duduk diatas keledai induk dan anaknya pada waktu yang sama, melakukan keajaiban bukanlah persoalan; meski demikian, adalah melakukan keajaiban bukanlah persoalan; meski demikian, adalah benar mengatakan bahwa mayoritas Bapa Kristen begitu mempercayai; dan tidak pernah terbetik pada mereka bahwa pertunjukan seperti itu akan terlihat lebih seperti sebuah komedi ketimbang sebuah prosesi kerajaan yang megah. Namun, Lukas bersikap waspada, dan tidak jatuh ke dalam kesalahan Matius. Apakah dua pengarang ini diilahami oleh Roh yang sama?

    Zakaria meramalkan di Yerusalem, setelah kepulangan Yesus dari penahanan akan kedatangan seorang raja. Meskipun lembut dan rendah hati, mengendarai seekor anak keledai, tetap saja ia datang membawa keselamatan dan akan membangun kembali rumah Tuhan. Ia meramalkan hal ini pada saat kaum Yahudi sedang berusaha keras membangun kembali Bait Allah dan kota yang hancur; masyarakat sekelilingnya menentang mereka; pekerjaan pembangunan dihentikan sampai Darius, raja Persia , mengeluarkan perintah pembangunan.

    Meskipun tidak ada raja Yahudi pernah muncul sejak abad ke enam Sebelum Masehi, namun, mereka sudah memiliki pemerintahan-pemerintahan otonom dibawah penguasa asing. Keselamatan yang dijanjikan disini, perlu dicatat, adalah bersifat material dan segera, dan bukan keselamatan yang akan datang 520 tahun kemudian, ketika Yesus dari Nazaret menunggangi dua ekor keledai sekaligus dan memasuki Yerusalem, yang sudah merupakan sebuah kota besar dan kaya serta memiliki bait yang megah, semata-mata untuk ditangkap dan disalib oleh kaum Yahudi sendiri dan oleh jawara-jawara Romawi, sebagaimana diceritakan Kitab-kitab Injil yang ada sekarang! Ini sama sekali bukan penghiburan bagi kaum Yahudi malang yang dikelilingi oleh musuh-musuh dalam sebuah kota yang hancur. Konsekuensinya, dengan kata “raja” dapat kita pahami, sebagai salah seorang pemimpin utama mereka –Zerobabel, Ezra, atau Nehemia.

    Dua contoh ini dimaksudkan untuk menunjukkan terutama kepada para pembaca muslim –yang mungkin kurang familiar dengan kitab-kitab suci kaum Yahudi- betapa umat Kristiani telah disesatkan oleh pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka, ketika menyampaikan penafsiran-penafsiran dan makna-makna bodoh terhadap nubuat-nubuat yang terkandung didalamnya.

    Sekarang saya membahas nubuat Daud:

    “YaHWaH berkata kepada Adonku,
    Duduklah disebelah kananku sampai aku tempatkan
    Musuh-musuhmu sebagai ganjal dibawah kakimu.

    Ayat Daud ini ditulis dalam kitab Mazmur 111, dan dikutip oleh Matius (22:44), Markus (12:36), dan Lukas (20:42). Dalam Bible semua bahasa, dua nama yang terdapat dalam bait pertama diterjemahkan sebagai “The Lord said unto my Lord” (Tuhan berkata kepada Tuhanku). Sudah pasti, jika Lord yang pertama adalah Tuhan, maka Lord yang kedua juga Tuhan. Tidak ada argumen yang lebih tepat dan pantas untuk seorang pendeta atau pastor Kristen daripada ini, yakni si pembicara adalah Tuhan dan yang diajak bicara juga Tuhan. Oleh karena itu, Daud mengenal dua Tuhan! Tidak ada yang masuk akal daripada jalan pikiran ini! Diantara dua domini ini, mana yang termasuk Lord nya Daud?

    Seandainya Daud menulis, ”Dominus meus dixit Domino meo” , maka ia membuat dirinya menggelikan, karena dengan demikian ia mengakui dirinya sebagai budak atau hamba dari dua Lord, tanpa menyebut nama diri mereka. Pengakuan bahkan lebih jauh dari eksistensi dua Lord; itu berarti Lord kedua Daud telah berlindung kepada Lord pertamanya, yang memerintah dia untuk duduk disebelah kirinya sampai ia meletakkan musuh-musuhnya sebagai ganjal dibawah kakinya. Alasan ini membawa kita pada pengakuan bahwa untuk mengetahui dengan baik Agama Anda, Anda harus mengetahui Alkitab atau Al-Qur’an dalam bahasa aslinya ketika ia dituliskan, dan tidak tergantung dan menyandarkan pada terjemahannya.

    Saya sengaja menulis kata aslinya dalam bahasa Ibrani “YaHWah dan Adon”, guna menghindari ambiguitas dan kesalahpahaman dari pengertian yang disampaikan oleh kedua kata tersebut. Nama sakral yang ditulis dalam Kitab Suci keagamaan seperti itu harus dibiarkan seperti adanya, kecuali kalau Anda dapat menemukan kata yang benar-benar sepadan untuk keduanya dalam bahasa yang menjadi terjemahannya.

    Tetragram Yhwh biasa diucapkan Yehovah (Jehovah), tetapi kini diucapkan Yahwah. Kata ini adalah nama diri Tuhan Yang Mahakuasa. Kata ini adalah nama diri dari Tuhan Yang Mahakuasa, dan saking dianggap sucinya oleh kaum Yahudi sampai-sampai ketika membaca Kitab Suci mereka tidak pernah mengucapkannya, tetapi sebagai ganti membacakannya “Adoni”. Nama lain, “Elohim”, selalu diucapkan, tapi YaHWaH tidak pernah. Mengapa kaum Yahudi membuat pembedaan seperti itu diantara dua nama dari Tuhan yang sama, adalah sebuah pertanyaan yang sama sekali di luar skup pokok bahasan kita sekarang. Namun, sepintas lalu saja, bisa disebutkan bahwa YaHWaH, tidak seperti Elohim, tidak pernah digunakan dengan akhiran pronominal, dan nampaknya sebagai sebuah nama khusus dalam bahasa Ibrani untuk ketuhanan (Deity) sebagai Tuhan nasional bangsa Israel.

    Sebenarnya, “Elohim” adalah nama tertua yang dikenal semua orang Semit; dan untuk memberikan sifat khusus terhadap konsepsi Tuhan sejati, tetragram ini sering dihubungkan dengan Elohim yang diterapkan kepada-Nya. Bentuk Arab, Rabb Allah, cocok dengan bentuk Ibrani, Yahwah Elohim.

    Kata lain, “Adon”, berarti “Pempin, Tuan, dan Pemilik”, atau sama dengan kata benda bahasa Arab dan Turki Amir, Sayyid, dan Agha. Adon berlaku sebagai lawan kata dari “prajurit, budak, dan barang milik”. Konsekuensinya, bagian pertama dari bait itu harus diterjemahkan sebagai “Tuhan berkata kepada Tuanku.”

    Daud dalam kapasitasnya sebagai seorang raja, adalah Tuan dan Pemimpin dari setiap orang Israel dan Pemilik Kerajaan. Lantas, “hamba” siapa gerangan dia?

    Daud, sebagai raja yang kuat, sesungguhnya tidak mungkin menjadi budak atau hamba dari manusia hidup apa pun. Juga tidak bisa dibayangkan kalau dia memanggil Tuan (his Lord) kepada seorang nabi atau orang suci yang sudah mati seperti Ibrahim atau Yaqub, padahal istilah yang biasa dan layak bagi mereka adalah “Bapak”. Juga ada kemungkinan bahwa Daud tidak akan menggunakan sebutan “Tuanku” bagi siapa pun dari keturunannya sendiri, yang bagi mereka, pun, istilah yang biasa adalah “anak”. Tetap saja, disamping Tuhan, tidak ada wujud yang menjadi Tuannya Daud, kecuali manusia yang paling luhur dari ras manusia.

    Sangat dapat dimengerti kalau mengira bahwa dalam pandangan dan pilihan Tuhan pasti ada seorang manusia yang paling mulia, paling terpuji, dan paling dirindukan diantara semua manusia. Sudah pasti para ahli ramal dan para nabi terdahulu mengetahui tokoh suci ini dan seperti Daud memanggilnya “Tuanku”.

    Tentu saja, para pendeta Yahudi dan para pengulas Perjanjian Lama memahami ungkapan ini sebagai mesias yang merupakan keturunan Daud sendiri. Dan dengan demikian menjawab pertanyaan yang diberikan pada mereka oleh Yesus Kristus sebagaimana dikutip diatas dari Matius pasal 22, dan Injil Synoptic16 lainnya. Yesus dengan tegas menyangkal kaum Yahudi ketika ia menanyai mereka dengan pertanyaan kedua: “Bagaimana mungkin Daud memanggil “Tuanku” padahal ia adalah anaknya?” Pertanyaan dari Yesus ini membungkam pendengarnya, karena mereka tidak dapat menemukan jawabannya.

    Para pengabar Injil dengan tiba-tiba memotong subjek diskusi yang penting ini. Menghentikan tanpa penjelasan lebih jauh adalah tidak layak bagi Yesus atau bagi para pelapornya. Karena, dengan meninggalkan pertanyaan tentang ketuahannya dan bahkan tentang ciri kenabiannya, Yesus sebagai seorang guru berkewajiban untuk memecahkan persoalan yang ditimbulkan oleh dia sendiri ketika ia melihat bahwa murid-murid dan para pendengarnya tidak sanggup mengenali siapa gerangan sang “Tuan” itu!

    Lewat ungkapannya bahwa “Tuan” atau “Adon” itu tidaklah mungkin anak Daud, maka berarti Yesus mengecualikan dirinya dari gelar tersebut. Pengakuan ini sangat menentukan dan harusnya membangkitkan guru-guru agama Kristiani untuk menempatkan guru-guru agama Kristiani untuk menempatkan Kristus pada statusnya yang sebenarnya sebagai hamba Tuhan yang suci dan mulia, dan melepaskan sifat ilmiah yang luarbiasa yang dianggap berasal darinya, benar-benar karena kebencian dan ketidakrelaan Kristus sendiri [untuk dianggap seperti itu]

    Saya tidak dapat membayangkan seorang guru yang ketika murid-muridnya tidak mempu menjawab pertanyaan dia, harus diam seribu bahasa, kalau bukan dia sendiri bodoh seperti mereka dan tidak sanggup memberikan solusinya. Tapi Yesus tidaklah bodoh seperti mereka dan tidak sanggup memberikan solusinya. Tapi Yesus tidaklah bodoh dan bukan pula seorang guru yang berhati dengki. Dia adalah seorang nabi dengan cinta yang membara terhadap Tuhan dan manusia. Dia tidak meninggalkan masalah tanpa terpecahkan atau pertanyaan tanpa jawaban.

    Kitab-kitab Injil Gereja tidak melaporkan jawaban Yesus terhadap pertanyaan “Siapakah Tuhannya Daud?” Namun Kitab Injil Barnabas memberikannya. Kitab Injil ini telah ditolak oleh gereja-gereja karena bahasanya lebih sesuai dengan kitab-kitab suci yang diwahyukan, dan karena ia sangat eksplisit tentang sifat misi Kristus, dan yang terpenting adalah karena Injil Barnabas mencatat kata-kata Yesus yang sebenarnya mengenai Muhammad. Kitab Injil selain Barnabas dapat dengan mudah diperoleh.

    Dalam Injil Barnabas Anda akan menemukan jawaban Yesus sendiri, yang menyatakan bahwa Perjanjian antara Tuhan dan Ibrahim dibuat untuk Ismail, dan bahwa “yang paling mulia dan terpuji” di antara manusia adalah seorang keturunan Ismail dan bukan keturunan Ishaq melalui Daud.

    Yesus berulangkali dilaporkan telah berbicara tentang Muhammad yang roh dan jiwanya telah ia lihat di surga.

    Insya Allah, saya akan menyempatkan untuk menulis tentang Kitab Injil ini nanti.

    Tidak ada keraguan bahwa penglihatan nubuat Daniel yang melihat “Barnasha” yang agung, yakni Muhammad, melalui pandangan supranatural yang luar biasa, adalah sama dengan penglihatan nubuatnya Daud. Manusia yang paling mulia dan terpuji inilah yang dilihat oleh Ayub (19:25) sebagai “juru selamat” dari kekuasaan Iblis.

    Lantas apakah Muhammad adalah yang dipanggil Daud dengan seruan “Tuanku” atau “Adonku”? Mari kita lihat.

    Argumen-argumen yang mendukung Muhammad yang disebut “Sayyidul Mursalin” , sama artinya dengan “Adon para nabi”, sangat meyakinkan: Argumen-argumen tersebut begiitu jelas dan tegas dalam kata-kata Perjanjian Lama sehingga kita merasa heran dengan kebodohan dan sifat keras kepala orang-orang yang tidak mau mengerti dan mentaati.

    Nabi dan Adon terbesar, dalam pandangan Tuhan dan manusia bukanlah penakluk dan perusak manusia yang hebat, bukan juga seorang pertapa suci yang menghabiskan hidupnya didalam gua atau sel untuk bersemedi pada Tuhan hanya demi menyelamatkan dirinya sendiri, melainkan orang yang memberikan lebih banyak kebaikan dan pelayanan kepada umat manusia dengan membawa mereka kepada cahaya pengetahuian tentang Tuhan sejati Yang Esa, dan sama sekali menghancurkan kuasa iblis dan berhala-berhalanya yang buruk sekali dan istitusi-institusinya yang jahat.

    Muhammad lah yang membuat memar sang kepala ular17 dan itulah sebabnya mengapa al-Qur’an dengan tepat menyebut Devil sebagai “Iblis”, yakni “yang dilukai sampai memar”! Ia membersihkan Bait Ka’bah dari semua berhala Arabia dan memberikan cahaya, agama, kegembiraan, dan kekuatan kepada kaum musyrikin Arab yang bodoh, yang dalam waktu singkat menyebarkan cahaya itu keempat penjuru bumi.

    Dalam kebaktian kepada Tuhan, karya dan keberhasilan Muhammad tidak dapat disamai dan tidak tertandingi.

    Para Nabi, dan Orang Suci, dan Syuhada membentuk tentara Tuhan melawan Kuasa Iblis, dan Muhammad sendiri sudah pasti jadi panglima tertinggi mereka semua. Sebenarnya, ia sendiri bukan hanya Adon dan Tuannya Daud, tetapi juga Adon nya semua Nabi, karena ia telah membersihkan Palestina dan semua negeri yang dikunjungi oleh Ibrahim dari kemusyrikan dan penindasan asing.

    Karena Yesus Kristus mengakui bahwa dirinya bukanlah Tuan nya Daud, juga bahwa Mesias bukan keturunan Daud, maka tetap tidak ada diantara para nabi, selain Muhammad yang menjadi Adon atau Tuan-nya Daud. Dan ketika sampai pada membandingkan revolusi keagamaan yang patut dipuji yang dibawakan oleh anak Ismail yang Mulia kedunia ini, dengan yang telah dicapai bersama oleh seluruh ribuan nabi, maka kita mesti sampai pada kesimpulan bahwa hanya Muhammad saja yang patut mendapat gelar kehormatan Adon.

    Bagaimana Daud tahu bahwa “Yahwah berkata kepada Adonku. Duduklah disebelah kananku sampai aku tempatkan musuh-musuhmu sebagai ganjal dibawah kakimu”? dan kapan Daud mendengar ucapan Tuhan ini? Kristus sendiri memberikan jawabannya yakni “Roh Daud menuliskan ini”. Ia melihat sang Adon Muhammad persis seperti Daniel melihat dia (Daniel pasal 7), dan Paulus telah melihat dia (2 Korintus 12), dan banyak lainnya yang telah melihat dia.

    Tentu saja misteri “Duduklah disebelah kananku” ini disembuyikan dari kita. Namun kita bisa menerka dengan aman bahwa pentasbihan resmi dengan kehormatan untuk menundukkan diri disebelah kanan singgasana Tuhan ini, dan karenanya naik ke martabat “Adon”, tidak hanya dari para nabi, tapi juga dari seluruh makhluk, berlangsung pada peristiwa malam Mi’raj menuju Surga yang terkenal itu.

    Satu-satu keberatan utama pada misi ilahiah Muhamamd dan superioritasnya adalah pengutukannya terhadap doktrin Trinitas. Tetapi Perjanjian Lama mengetahui tidak ada Tuhan disamping Allah. Dan Tuan-nya Daud tidak duduk di sebelah kanan dari tuhan yang tigam tapi disebalah kanan Allah Yang Esa. Karena itu, di antara para nabi yang beriman kepada Allah, tidak seorang pun yang begitu hebat dan memberikan pelayanan yang demikian menakjubkan kepada Allah dan umat manusia, seperti Muhammad, baginya salawat dan salam.

    ——————————————————————————–

    Footnotes

    16. Tentang atau menunjuk kepada tiga kitab Injil pertama dari Perjanjian Baru, yang berkaitan kerat –penerj
    17. Lihat Islamic Review, October 1926, artikel saya “Mengapa Al-Qur’an menyebut Devil “Iblis”.

    Sumber:
    Benjamin Keldani, Menguak Misteri Muhammad, hal.103-114

    Balas
  137. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Raja Daud Menyapanya, Tuanku
    Sejarah Daud, perbuatannya yang luar biasa, dan tulisan-tulisan kenabiannya, terdapat dalam dua kitab Perjanjian lama yakni Samuel dan Mazmur. Ia adalah anak bontot Yishai (Yessie) dari suku Yudas. Ketika masih seorang gembala muda, ia sudah mampu membunuh seekor beruang dan mencabik-cabik dua ekor singa. Anak muda yang gagah berani itu mengayunkan sebuah batu kecil persis ke dahi Goliat, seorang jawara Filistin yang bersenjata dan menyelamatkan tentara Israel. Hadiah tertinggi untuk prestasi yang terbaik dalam menunjukkan keberanian adalah Michal, anak perempuan Raja Saul.

    Daud pandai bermain harpa dan seruling, dan ia adalah penyanyi yang bagus. Pelarian dia dari bapak mertuanya yang iri hati, petualangan dan perbuatan-perbuatan luarbiasa nya sebagai seorang bandit sudah banyak diketahui. Saat kematian Saul, maka Daud diundang oleh masyarakat untuk menerima mahkota kerajaan, untuk mana sudah lama sebelumnya ia diberi upacara perminyakan suci oleh nabi Samuel. Ia memerintah selama sekitar tujuh tahun di Hebron. Ia mengambil Yerusalem dari kaum Yebusit dan menjadikannya ibukota kerajaan.

    Dua bukit atau gunung, di Yerusalem diberi nama “Moriah” dan “Sion”. Kedua kata ini memiliki pengertian dan makna yang sama sebagai “Marwah” dan “Shafa” yang terkenal di Mekah, yang berturut-turut artinya adalah “tempat bayangan Tuhan” dan “cadas” atau “batu”.

    Berbagai perang yang dilakukan Daud, kesulitan-kesulitan keluarganya yang sangat berat, dosanya terhadap tentara yang beriman, Uria dan istrinya, Batsyeba, tidak dibiarkan tanpa mendapat hukuman. Ia berkuasa selama empat puluh tahun. Kehidupannya diwarnai dengan peperangan dan kesedihan keluarga. Ada beberapa cerita kontradiktif mengenai dia yang jelas-jelas berasal dari dua sumber yang berlawanan.

    Kejahatan Daud dalam kaitannya dengan Uria dan istrinya (2 Samuel 11) bahkan tidak disinggung dalam Al-Qur’an Surah 38. Itulah keunggulan al-Qur’an yang mengajarkan kepada kita bahwa semua nabi terlahir tanpa dosa dan mati juga tanpa dosa. Tidak seperti Alkitab (Injil), Al-Qur’an tidak mempertalikan mereka dengan kejahatan-kejahatan dan dosa-dosa –misalnya kejahatan ganda Daud yang disebutkan dalam Alkitab, yang, menurut Hukum Musa, harus di hukum mati –yang, apa lagi seorang nabi yang merupakan hamba pilihan Tuhan Yang Mahakuasa, melekatkan pada nama seorang mansuia biasa pun tidak terpikirkan oleh kita.

    Kisah tentang Daud melakukan perzinaan sehingga dua malaikat datang kepadanya dan mengingatkan dia akan dosa adalah dusta yang tolol dan kekanak-kanakan–dimana pun kisah itu adanya. Hal ini sudah disangkal melalui pemikiran yang terbaik dari kaum Muslim. Razi berkata: “Sebagian besar kaum terpelajar, dan yang mencari kebenaran di antara mereka menyatakan tuduhan ini palsu dan mengutuknya sebagai sebuah kisah dusta dan jahat.

    Kata-kata istighfara dan ghafarana yang terdapat dalam Al-Qur’an 38:23, sama sekali tidak mengindikasikan Daud telah melakukan suatu dosa, karena istighfar sebenarnya berarti meminta perlindungan, dan Daud meminta perlindungan Tuhan ketika ia melihat bahwa musuh-musuhnya semakin bertambah berani melawannya. Dan dengan ghafarana berarti pembetulan urusan-urusannya, karena Daud sebagai penguasa hebat, tidak bisa berhasil menguasai secara penuh musuh-musuhnya.

    Perjanjian Lama tidak menyebutkan waktu kapan karunia kenabian diberikan kepada Daud. Kita membaca bahwa setelah Daud melakukan dua dosa, maka Tuhan mengutus nabi Natan untuk menghukum Daud. Sesungguhnya hingga akhir hidupnya, kita menemukan dia selalu mendapat pertolongan dari nabi-nabi lain. Oleh karena itu, menurut cerita-cerita versi alkitab, nampaklah bahwa karunia nubuat datang padanya setelah ia benar-benar bertobat dari dosa-dosanya.

    Dalam salah satu artikel saya sebelumnya, saya mengatakan bahwa setelah terpecahnya Kerajaan menjadi dua bagian yang merdeka dan saling berperang satu sama lain, sepuluh suku yang membentuk kerajaan Israel selalu memusuhi Dinasti Daud dan tidak pernah mengakui bagian manapun dari Perjanjian Lama selain Taurat atau Hukum Musa seperti terdapat dalam Pentateuch. Hal ini jelas menurut versi Samaritan dari lima kitab pertama Perjanjian Lama.

    Kita tidak menemukan satupun kata atau nubuat tentang keturunan Daud dalam wacana-wacana tentang para nabi besar, seperti Elia, Elisa, dan lain-lainnya yang tumbuh subur di Samaria selama pemerintahan raja-raja Israel yang kejam. Hanya setelah runtuhnya kerajaan Israel dan pindahnya sepuluh suku ke Assyria barulah pada nabi Yudea mulai meramalkan lahirnya seorang Pangeran dari Rumah Daud yang segera memulihkan seluruh bangsa dan menaklukkan musuh-musuhnya.

    Ada beberapa dari ucapan-ucapan yang bermakna ganda ini dalam tulisan-tulisan atau pidato-pidato beberapa nabi terakhir yang memberikan kegembiraan yang luar biasa dan menakjubkan kepada Bapa-bapa Gereja, tetapi dalam kenyataannya, ucapan-ucapan itu tidak ada hubungannya denga Yesus Kristus.

    Saya akan mengutip secara ringkas dua diantara nubuat ini. Pertama dalam Yesaya (pasal 7 ayat 14), dimana nabi itu meramalkan bahwa “seorang hadis yang sudah mengandung akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamainya Imanuel”. Kata Ibrani a’lmah bukan berarti “perawan”, seperti umumnya diartikan oleh para theolog Kristen dan karena itu diterapkan kepada perawan Maria, tetapi berarti “seorang perempuan yang sudah boleh kawin (dewasa), gadis, dara.” Kata Ibrani untuk perawan adalah bthulah. Maka nama anaknya harus Imanuel, yang berarti “Tuhan-bersama-kita.” Terdapat ratusan nama dalam bahasa Ibrani yang terdiri dari “el” dan kata benda lainnya, yang membentuk suku-suku pertama atau, kalau tidak, suku kata terakhir dari kata benda majemuk seperti itu.

    Baik Yesaya ataupun Raja Ahaz, atau setiap orang Yahudi tidak pernah berpikir bahwa bayi yang baru lahir itu adalah “Tuhan-bersama-kita”. Mereka tidak pernah memikirkan hal lain selain bahwa nama dia hanya akan seperti ini. Tetapi teks dengan jelas menyatakan bahwa Ahazlah (yang kelihatannya sudah mengenal sang gadis yang mempunyai anak) yang akan memberikan nama itu kepada sang anak. Ahaz dalam keadaan bahaya, musuh-musuhnya sedang merangsek ke Yerusalem, dan janji ini diberikan kepadanya dengan menunjuki dia suatu tanda , yakni, gadis yang hamil, dan bukan seorang perawan Maria yang akan datang kedunia lebih dari tujuh ratus tahun kemudian!

    Ramalan sederhana tentang seorang anak yang akan dilahirkan pada masa pemerintahan Ahaz ini disalahpahami juga oleh penulis Injil Matius (Matius 1:23). Nama “Yesus” diberikan oleh malaikat Jibril (Matius 1:21), dan ia belum pernah dipanggil “Imanuel”. Bukankah keji mengambil nama ini sebagai argumen dan bukti doktrin “inkarnasi” Kristen?

    Penafsiran aneh lainnya terhadap ramalan kenabian adalah dari Zakaria (9:9), yang salah kutip dan sama sekali disalahpahami oleh penulis Injil Matiuis (21:5). Nabi Zakaria berkata: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan membawa keselamatan. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda, anak dari keledai betina.” Dalam bagian yang puitis ini sang penyair benar-benar ingin menggambarkan si keledai jantan –dimana sang Raja duduk- dengan mengatakan bahwa ia adalah seekor keledai muda; dan anak keledai ini pun, digambarkan sebagai anak seekor keledai betina. Ia hanyalah seekor anak keledai jantan atau keledai muda. Nah! Matius mengutip bagian ini seperti berikut:

    “Katakanlah kepada puteri Sion,
    Lihat, Rajamu datang kepadamu,
    Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai,
    seekor keledai beban yang muda, anak dari seekor keledai betina.”

    Baik orang yang menulis ayat diatas benar-benar percaya ataupun tidak bahwa Yesus, ketika masuk ke Yerusalem dengan membawa kemenangannya sambil mengendarai atau duduk diatas keledai induk dan anaknya pada waktu yang sama, melakukan keajaiban bukanlah persoalan; meski demikian, adalah melakukan keajaiban bukanlah persoalan; meski demikian, adalah benar mengatakan bahwa mayoritas Bapa Kristen begitu mempercayai; dan tidak pernah terbetik pada mereka bahwa pertunjukan seperti itu akan terlihat lebih seperti sebuah komedi ketimbang sebuah prosesi kerajaan yang megah. Namun, Lukas bersikap waspada, dan tidak jatuh ke dalam kesalahan Matius. Apakah dua pengarang ini diilahami oleh Roh yang sama?

    Zakaria meramalkan di Yerusalem, setelah kepulangan Yesus dari penahanan akan kedatangan seorang raja. Meskipun lembut dan rendah hati, mengendarai seekor anak keledai, tetap saja ia datang membawa keselamatan dan akan membangun kembali rumah Tuhan. Ia meramalkan hal ini pada saat kaum Yahudi sedang berusaha keras membangun kembali Bait Allah dan kota yang hancur; masyarakat sekelilingnya menentang mereka; pekerjaan pembangunan dihentikan sampai Darius, raja Persia , mengeluarkan perintah pembangunan.

    Meskipun tidak ada raja Yahudi pernah muncul sejak abad ke enam Sebelum Masehi, namun, mereka sudah memiliki pemerintahan-pemerintahan otonom dibawah penguasa asing. Keselamatan yang dijanjikan disini, perlu dicatat, adalah bersifat material dan segera, dan bukan keselamatan yang akan datang 520 tahun kemudian, ketika Yesus dari Nazaret menunggangi dua ekor keledai sekaligus dan memasuki Yerusalem, yang sudah merupakan sebuah kota besar dan kaya serta memiliki bait yang megah, semata-mata untuk ditangkap dan disalib oleh kaum Yahudi sendiri dan oleh jawara-jawara Romawi, sebagaimana diceritakan Kitab-kitab Injil yang ada sekarang! Ini sama sekali bukan penghiburan bagi kaum Yahudi malang yang dikelilingi oleh musuh-musuh dalam sebuah kota yang hancur. Konsekuensinya, dengan kata “raja” dapat kita pahami, sebagai salah seorang pemimpin utama mereka –Zerobabel, Ezra, atau Nehemia.

    Dua contoh ini dimaksudkan untuk menunjukkan terutama kepada para pembaca muslim –yang mungkin kurang familiar dengan kitab-kitab suci kaum Yahudi- betapa umat Kristiani telah disesatkan oleh pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka, ketika menyampaikan penafsiran-penafsiran dan makna-makna bodoh terhadap nubuat-nubuat yang terkandung didalamnya.

    Sekarang saya membahas nubuat Daud:

    “YaHWaH berkata kepada Adonku,
    Duduklah disebelah kananku sampai aku tempatkan
    Musuh-musuhmu sebagai ganjal dibawah kakimu.

    Ayat Daud ini ditulis dalam kitab Mazmur 111, dan dikutip oleh Matius (22:44), Markus (12:36), dan Lukas (20:42). Dalam Bible semua bahasa, dua nama yang terdapat dalam bait pertama diterjemahkan sebagai “The Lord said unto my Lord” (Tuhan berkata kepada Tuhanku). Sudah pasti, jika Lord yang pertama adalah Tuhan, maka Lord yang kedua juga Tuhan. Tidak ada argumen yang lebih tepat dan pantas untuk seorang pendeta atau pastor Kristen daripada ini, yakni si pembicara adalah Tuhan dan yang diajak bicara juga Tuhan. Oleh karena itu, Daud mengenal dua Tuhan! Tidak ada yang masuk akal daripada jalan pikiran ini! Diantara dua domini ini, mana yang termasuk Lord nya Daud?

    Seandainya Daud menulis, ”Dominus meus dixit Domino meo” , maka ia membuat dirinya menggelikan, karena dengan demikian ia mengakui dirinya sebagai budak atau hamba dari dua Lord, tanpa menyebut nama diri mereka. Pengakuan bahkan lebih jauh dari eksistensi dua Lord; itu berarti Lord kedua Daud telah berlindung kepada Lord pertamanya, yang memerintah dia untuk duduk disebelah kirinya sampai ia meletakkan musuh-musuhnya sebagai ganjal dibawah kakinya. Alasan ini membawa kita pada pengakuan bahwa untuk mengetahui dengan baik Agama Anda, Anda harus mengetahui Alkitab atau Al-Qur’an dalam bahasa aslinya ketika ia dituliskan, dan tidak tergantung dan menyandarkan pada terjemahannya.

    Saya sengaja menulis kata aslinya dalam bahasa Ibrani “YaHWah dan Adon”, guna menghindari ambiguitas dan kesalahpahaman dari pengertian yang disampaikan oleh kedua kata tersebut. Nama sakral yang ditulis dalam Kitab Suci keagamaan seperti itu harus dibiarkan seperti adanya, kecuali kalau Anda dapat menemukan kata yang benar-benar sepadan untuk keduanya dalam bahasa yang menjadi terjemahannya.

    Tetragram Yhwh biasa diucapkan Yehovah (Jehovah), tetapi kini diucapkan Yahwah. Kata ini adalah nama diri Tuhan Yang Mahakuasa. Kata ini adalah nama diri dari Tuhan Yang Mahakuasa, dan saking dianggap sucinya oleh kaum Yahudi sampai-sampai ketika membaca Kitab Suci mereka tidak pernah mengucapkannya, tetapi sebagai ganti membacakannya “Adoni”. Nama lain, “Elohim”, selalu diucapkan, tapi YaHWaH tidak pernah. Mengapa kaum Yahudi membuat pembedaan seperti itu diantara dua nama dari Tuhan yang sama, adalah sebuah pertanyaan yang sama sekali di luar skup pokok bahasan kita sekarang. Namun, sepintas lalu saja, bisa disebutkan bahwa YaHWaH, tidak seperti Elohim, tidak pernah digunakan dengan akhiran pronominal, dan nampaknya sebagai sebuah nama khusus dalam bahasa Ibrani untuk ketuhanan (Deity) sebagai Tuhan nasional bangsa Israel.

    Sebenarnya, “Elohim” adalah nama tertua yang dikenal semua orang Semit; dan untuk memberikan sifat khusus terhadap konsepsi Tuhan sejati, tetragram ini sering dihubungkan dengan Elohim yang diterapkan kepada-Nya. Bentuk Arab, Rabb Allah, cocok dengan bentuk Ibrani, Yahwah Elohim.

    Kata lain, “Adon”, berarti “Pempin, Tuan, dan Pemilik”, atau sama dengan kata benda bahasa Arab dan Turki Amir, Sayyid, dan Agha. Adon berlaku sebagai lawan kata dari “prajurit, budak, dan barang milik”. Konsekuensinya, bagian pertama dari bait itu harus diterjemahkan sebagai “Tuhan berkata kepada Tuanku.”

    Daud dalam kapasitasnya sebagai seorang raja, adalah Tuan dan Pemimpin dari setiap orang Israel dan Pemilik Kerajaan. Lantas, “hamba” siapa gerangan dia?

    Daud, sebagai raja yang kuat, sesungguhnya tidak mungkin menjadi budak atau hamba dari manusia hidup apa pun. Juga tidak bisa dibayangkan kalau dia memanggil Tuan (his Lord) kepada seorang nabi atau orang suci yang sudah mati seperti Ibrahim atau Yaqub, padahal istilah yang biasa dan layak bagi mereka adalah “Bapak”. Juga ada kemungkinan bahwa Daud tidak akan menggunakan sebutan “Tuanku” bagi siapa pun dari keturunannya sendiri, yang bagi mereka, pun, istilah yang biasa adalah “anak”. Tetap saja, disamping Tuhan, tidak ada wujud yang menjadi Tuannya Daud, kecuali manusia yang paling luhur dari ras manusia.

    Sangat dapat dimengerti kalau mengira bahwa dalam pandangan dan pilihan Tuhan pasti ada seorang manusia yang paling mulia, paling terpuji, dan paling dirindukan diantara semua manusia. Sudah pasti para ahli ramal dan para nabi terdahulu mengetahui tokoh suci ini dan seperti Daud memanggilnya “Tuanku”.

    Tentu saja, para pendeta Yahudi dan para pengulas Perjanjian Lama memahami ungkapan ini sebagai mesias yang merupakan keturunan Daud sendiri. Dan dengan demikian menjawab pertanyaan yang diberikan pada mereka oleh Yesus Kristus sebagaimana dikutip diatas dari Matius pasal 22, dan Injil Synoptic16 lainnya. Yesus dengan tegas menyangkal kaum Yahudi ketika ia menanyai mereka dengan pertanyaan kedua: “Bagaimana mungkin Daud memanggil “Tuanku” padahal ia adalah anaknya?” Pertanyaan dari Yesus ini membungkam pendengarnya, karena mereka tidak dapat menemukan jawabannya.

    Para pengabar Injil dengan tiba-tiba memotong subjek diskusi yang penting ini. Menghentikan tanpa penjelasan lebih jauh adalah tidak layak bagi Yesus atau bagi para pelapornya. Karena, dengan meninggalkan pertanyaan tentang ketuahannya dan bahkan tentang ciri kenabiannya, Yesus sebagai seorang guru berkewajiban untuk memecahkan persoalan yang ditimbulkan oleh dia sendiri ketika ia melihat bahwa murid-murid dan para pendengarnya tidak sanggup mengenali siapa gerangan sang “Tuan” itu!

    Lewat ungkapannya bahwa “Tuan” atau “Adon” itu tidaklah mungkin anak Daud, maka berarti Yesus mengecualikan dirinya dari gelar tersebut. Pengakuan ini sangat menentukan dan harusnya membangkitkan guru-guru agama Kristiani untuk menempatkan guru-guru agama Kristiani untuk menempatkan Kristus pada statusnya yang sebenarnya sebagai hamba Tuhan yang suci dan mulia, dan melepaskan sifat ilmiah yang luarbiasa yang dianggap berasal darinya, benar-benar karena kebencian dan ketidakrelaan Kristus sendiri [untuk dianggap seperti itu]

    Saya tidak dapat membayangkan seorang guru yang ketika murid-muridnya tidak mempu menjawab pertanyaan dia, harus diam seribu bahasa, kalau bukan dia sendiri bodoh seperti mereka dan tidak sanggup memberikan solusinya. Tapi Yesus tidaklah bodoh seperti mereka dan tidak sanggup memberikan solusinya. Tapi Yesus tidaklah bodoh dan bukan pula seorang guru yang berhati dengki. Dia adalah seorang nabi dengan cinta yang membara terhadap Tuhan dan manusia. Dia tidak meninggalkan masalah tanpa terpecahkan atau pertanyaan tanpa jawaban.

    Kitab-kitab Injil Gereja tidak melaporkan jawaban Yesus terhadap pertanyaan “Siapakah Tuhannya Daud?” Namun Kitab Injil Barnabas memberikannya. Kitab Injil ini telah ditolak oleh gereja-gereja karena bahasanya lebih sesuai dengan kitab-kitab suci yang diwahyukan, dan karena ia sangat eksplisit tentang sifat misi Kristus, dan yang terpenting adalah karena Injil Barnabas mencatat kata-kata Yesus yang sebenarnya mengenai Muhammad. Kitab Injil selain Barnabas dapat dengan mudah diperoleh.

    Dalam Injil Barnabas Anda akan menemukan jawaban Yesus sendiri, yang menyatakan bahwa Perjanjian antara Tuhan dan Ibrahim dibuat untuk Ismail, dan bahwa “yang paling mulia dan terpuji” di antara manusia adalah seorang keturunan Ismail dan bukan keturunan Ishaq melalui Daud.

    Yesus berulangkali dilaporkan telah berbicara tentang Muhammad yang roh dan jiwanya telah ia lihat di surga.

    Insya Allah, saya akan menyempatkan untuk menulis tentang Kitab Injil ini nanti.

    Tidak ada keraguan bahwa penglihatan nubuat Daniel yang melihat “Barnasha” yang agung, yakni Muhammad, melalui pandangan supranatural yang luar biasa, adalah sama dengan penglihatan nubuatnya Daud. Manusia yang paling mulia dan terpuji inilah yang dilihat oleh Ayub (19:25) sebagai “juru selamat” dari kekuasaan Iblis.

    Lantas apakah Muhammad adalah yang dipanggil Daud dengan seruan “Tuanku” atau “Adonku”? Mari kita lihat.

    Argumen-argumen yang mendukung Muhammad yang disebut “Sayyidul Mursalin” , sama artinya dengan “Adon para nabi”, sangat meyakinkan: Argumen-argumen tersebut begiitu jelas dan tegas dalam kata-kata Perjanjian Lama sehingga kita merasa heran dengan kebodohan dan sifat keras kepala orang-orang yang tidak mau mengerti dan mentaati.

    Nabi dan Adon terbesar, dalam pandangan Tuhan dan manusia bukanlah penakluk dan perusak manusia yang hebat, bukan juga seorang pertapa suci yang menghabiskan hidupnya didalam gua atau sel untuk bersemedi pada Tuhan hanya demi menyelamatkan dirinya sendiri, melainkan orang yang memberikan lebih banyak kebaikan dan pelayanan kepada umat manusia dengan membawa mereka kepada cahaya pengetahuian tentang Tuhan sejati Yang Esa, dan sama sekali menghancurkan kuasa iblis dan berhala-berhalanya yang buruk sekali dan istitusi-institusinya yang jahat.

    Muhammad lah yang membuat memar sang kepala ular17 dan itulah sebabnya mengapa al-Qur’an dengan tepat menyebut Devil sebagai “Iblis”, yakni “yang dilukai sampai memar”! Ia membersihkan Bait Ka’bah dari semua berhala Arabia dan memberikan cahaya, agama, kegembiraan, dan kekuatan kepada kaum musyrikin Arab yang bodoh, yang dalam waktu singkat menyebarkan cahaya itu keempat penjuru bumi.

    Dalam kebaktian kepada Tuhan, karya dan keberhasilan Muhammad tidak dapat disamai dan tidak tertandingi.

    Para Nabi, dan Orang Suci, dan Syuhada membentuk tentara Tuhan melawan Kuasa Iblis, dan Muhammad sendiri sudah pasti jadi panglima tertinggi mereka semua. Sebenarnya, ia sendiri bukan hanya Adon dan Tuannya Daud, tetapi juga Adon nya semua Nabi, karena ia telah membersihkan Palestina dan semua negeri yang dikunjungi oleh Ibrahim dari kemusyrikan dan penindasan asing.

    Karena Yesus Kristus mengakui bahwa dirinya bukanlah Tuan nya Daud, juga bahwa Mesias bukan keturunan Daud, maka tetap tidak ada diantara para nabi, selain Muhammad yang menjadi Adon atau Tuan-nya Daud. Dan ketika sampai pada membandingkan revolusi keagamaan yang patut dipuji yang dibawakan oleh anak Ismail yang Mulia kedunia ini, dengan yang telah dicapai bersama oleh seluruh ribuan nabi, maka kita mesti sampai pada kesimpulan bahwa hanya Muhammad saja yang patut mendapat gelar kehormatan Adon.

    Bagaimana Daud tahu bahwa “Yahwah berkata kepada Adonku. Duduklah disebelah kananku sampai aku tempatkan musuh-musuhmu sebagai ganjal dibawah kakimu”? dan kapan Daud mendengar ucapan Tuhan ini? Kristus sendiri memberikan jawabannya yakni “Roh Daud menuliskan ini”. Ia melihat sang Adon Muhammad persis seperti Daniel melihat dia (Daniel pasal 7), dan Paulus telah melihat dia (2 Korintus 12), dan banyak lainnya yang telah melihat dia.

    Tentu saja misteri “Duduklah disebelah kananku” ini disembuyikan dari kita. Namun kita bisa menerka dengan aman bahwa pentasbihan resmi dengan kehormatan untuk menundukkan diri disebelah kanan singgasana Tuhan ini, dan karenanya naik ke martabat “Adon”, tidak hanya dari para nabi, tapi juga dari seluruh makhluk, berlangsung pada peristiwa malam Mi’raj menuju Surga yang terkenal itu.

    Satu-satu keberatan utama pada misi ilahiah Muhamamd dan superioritasnya adalah pengutukannya terhadap doktrin Trinitas. Tetapi Perjanjian Lama mengetahui tidak ada Tuhan disamping Allah. Dan Tuan-nya Daud tidak duduk di sebelah kanan dari tuhan yang tigam tapi disebalah kanan Allah Yang Esa. Karena itu, di antara para nabi yang beriman kepada Allah, tidak seorang pun yang begitu hebat dan memberikan pelayanan yang demikian menakjubkan kepada Allah dan umat manusia, seperti Muhammad, baginya salawat dan salam.

    Balas
  138. Fatary

    Ibarat ada surga dan neraka, untuk ke surga ada 2 pilihan, jalur A ato jalur B, Tujuan sama. Untuk pergi ke neraka ada dua pilihan, jalur A ato Jalur B, Tujuanpun tetap sama. Namun Kita diwajibkan untuk memilih, maka jika anda tidak memilih jalur A, so pasti anda akan memilih jalur B ato sebaliknya. Disini saya mengatakan Atheis GOLPUT. saya sendiri blm ngerti dengan pemikiran orang2 GOLPUT, apakah dia seorang yg bingung, seorang yg ngga punya tujuan, seorang yg ngga punya nyali utk memilih, ato emang udah di takdirkan ngga bakal milih?. brarti jika demikian jgn plin plan dengan prinsip anda tersebut, sekali GOLPUT harus GOLPUT. Anda tidak perlu harus memilih jodoh anda, apakah nanti anda dapat yg baik ato tidak, yg cantik ato tidak, apakah anda nanti miskin ato kaya, anda tidak punya hak untuk memilih bahkan semua pilihan anda juga tidak cocok buat anda karena itu pilihan yg bukan hak anda, jadi jangan pernah memilih alias neko2. Bila anda punya pasang hidup yang baik, buruk, cakep, jelek, kaya, miskin, itu pun tidak layak buat anda karena itu adalah bagian dari pilihan, dan sekali lagi anda bukan pemilih alias GOLPUT.

    Tambahin sedikit ahh…Jika pagi telah datang, anda di hadapkan pada dua pilihan, mandi ato tidak mandi, sesuai prinsip Atheis untuk tidak memilih alias GOLPUT, anda tidak layak untuk tidak mandi apalagi sampai mandi, anda harus berada di tengah antara keduanya. jika hari ini anda harus makan, anda tidak layak makan makanan yg tidak enak apalagi makan makanan yg enak karena itu adalah bagian dari pilihan. Jika anda di hadapan harus menikah, anda tidak layak menikah dengan pria ato pun wanita karena itu adalah pilihan dan anda harus selalu berada diantara kedua pilihan tersebut. Ingat SEKALI GOLPUT HARUS GOLPUT baik dalam memilih keyakinan maupun dalam hal lain, jika anda setengah2 brarti anda bukan GOLPUT SEJATI ato Seorang ATHEIS SEJATI dan jangan pernah berpikir untuk memilih karena itu di luar prinsip anda dan sekali lagi anda tidak layak untuk MEMILIH bahkan jangan pernah menggunakan kata “PILIH dan kata-kata yang Sebangsa dengannya” :D

    Balas
  139. PEMBENARAN

    UDAH AH.. BENTAR LAGI MATI. KIAMAT JUGA BENTAR LAGI. BURUAN CARI YANG BENER! MIKIR!

    SIAP2 MASUK NERAKA, SURGA, ATAU HAMPA, ITU PILIHAN,

    YANG ATHEIS..INGIN MATI TERUS HAMPA SIA2 SILAHKAN
    YANG BERAGAMA DAN BAIK INGIN SURGA, SILAHKAN
    YANG BEJAT DURHAKA DURJANA SILAHKAN MASUK NERAKA

    PILIH KELAHIRAN SETELAH MATI

    ALAM BARZAH TUK DILAHIRKAN KE KANDUNGAN
    KANDUNGAN TUK DILAHIRKAN KE DUNIA
    DUNIA TUK DILAHIRKAN KE AKHIRAT YANG KEKAL

    PENELITIAN TERMODERN BAHWA ALAM SEMESTA INI BAGAI TELUR YANG MEMUAI..
    PIKIR!!!!

    KITE GAK ADA SEDEBU2NYA DI ALAM SEMESTA!
    PIKIR!
    ALLAHUAKBAR!

    Balas
  140. lovepassword

    Kemungkinan besar saya Golput, tapi saya tetap bukan atheis. Hi Hi Hi.
    Masalahnya nggak sesederhana, alasannya karena mereka bingung. Tapi karena mereka menganggap semua pilihan nggak ada yang baik.

    Penganut agama A memaki-maki
    Penganut agama B mencaci
    Penganut agama C idem

    agama A ngebom
    agama B ngebom
    agama C ngebom

    Lha ndak ada pilihan yang enak di hati, di mata dan di logika. Ya sudah mereka memutuskan jadi atheis saja. Hi hi hi

    Jadi saya rasa juga sangat perlu untuk dibahas seberapa besar konstribusi perilaku ganas umat beragama – terhadap berkembangnya atheisme di mana-mana.

    Di Indonesia sangat mungkin atheis itu sudah ada cukup banyak. Tetapi KTPnya tetap terisi agama.

    Dan dosa mereka sudah pasti dosa kita juga. Mengapa ? Iya penyebabnya kita kok. Hi Hi hi.

    Balas
  141. dongan naburju

    berbeda itu dah fitrah dan karunia dari Allah..

    kulit ku tidak sama ma kulitnya..
    rambut ku tidak sama ma rambutnya..
    bangsa ku tidak sama ma bangsanya..
    agama ku tidak sama ma agamanya..
    namun hatiku dan hatinya sama dalam kasih sayang…
    namun jiwaku dan jiwanya sama dalam penyertaan Allah…
    namun bahagiaku dan bahagianya sama dalam mengenal Allah…

    biarlah berbeda namun selalu jalan sama dalam mengenal Allah itu yang paling utama.

    Tuhan ampunilah kami.Jesus tolonglah kami.amin
    salam kasih..
    horas..

    Balas
  142. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    “Anak Manusia” Menurut Kitab-kitab Yahudi
    Dari apa yang sudah dibahas dalam halaman-halaman ini, jelaslah bahwa sebutan “Barnasha”, atau “Anak Manusia”, adalah bukan gelar seperti “Mesias”, yang dapat diterapkan pada setiap nabi, imam tinggi, dan raja yang diberi upacara perminyakan, melainkan ia adalah sebuah kata benda nama diri ( proper noun ) yang secara khusus untuk Nabi Terakhir.

    Para ahli ramal dan kaum bijak Yahudi, dan para Apocalyptist menggambarkan Anak Manusia yang akan datang pada waktu yang ditetapkan oleh Yang Mahakuasa untuk membebaskan Israel dan Yerusalem dari penindasan kaum penyembah berhala dan menegakkan kerajaan yang permanen untuk “orang-orang kudus milik Yang Maha Tinggi”.

    Para ahli ramal, kaum bijak, meramalkan lahirnya sang Pembebas yang kuat; mereka melihat dia – hanya dalam penglihatan, wahyu, dan keimanan – dengan segala kekuatan dan keagungannya.

    Tidak ada Nabi atau Sophee pernah mengatakan bahwa dia sendiri adalah “sang Anak Manusia”, dan bahwa dia akan “datang lagi pada Hari Akhir untuk menghakimi yang hidup dan yang mati” sebagaimana dikatakan dalam syahadat kaum Nicene yang dianggap bersumber dari perkataan-perkataan Yesus Kristus.

    Penggunaan yang sering atas julukan yang sedang dibicarakan ini oleh para penginjil menunjukkan, sangat pasti, pengetahuan mereka akan Apocalypses Yahudi, sebagaimana juga keyakinan yang kuat akan keasliannya sebagai yang berasal dari Tuhan. Jelas sekali bahwa Apocalypses yang mengemban nama Henoch, Musa, Baruch, dan Ezra ditulis jauh sebelum kitab-kitab Injil, dan bahwa nama “Barnasha” yang disebut didalamnya dipinjam oleh para pengarang kitab-kitab Injil; kalau tidak, maka penggunaannya yang sering itu merupakan suatu hal baru yang mengundang teka-teki dan tidak dapat dipahami –atau kalau bukan tidak berarti.

    Oleh karena itu, konsekuensinya Yesus meyakini dirinya sebagai “Anak Manusia” Apocalyptic, atau kalau tidak, ia tahu Anak Manusia adalah seseorang yang jelas-jelas selain dirinya. Jika ia meyakini dirinya sebagai Anak Manusia, maka konsekuensinya dia atau, kalau tidak, kaum Apocalyptist keliru. Dan bagaimanapun argumen itu jelas sekali bertentangan dengan Yesus Kristus. Karena kekeliruannya mengenai kepribadian dan misinya sama buruknya dengan prediksi-prediksi yang keliru dari kaum Apocalyptist, yang ia yakini mendapat wahyu dari Tuhan.

    Tentu saja, alasan yang dilematis ini akan menggiring kita kepada suatu kesimpulan akhir yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Yesus dari kecemaran ini adalah melihat dia seperti digambarkan oleh Al-Qur’an kepada kita; dan sesuai dengan itu menishbahkan semua pernyataan kontraproduktif dan membingungkan tentang dia dalam Kitab-kitab Injil kepada para pengarang atau redakturnya.

    Sebelum membahas lebih jauh pokok bahasan ini, “Anak Manusia” seperti digambarkan dalam Apocalypses Yahudi, beberapa fakta harus dipertimbangkan secara seksama.

    Pertama, Apocalypses ini tidak hanya berasal dari konun Alkitab (Bibel) Yahudi, tapi juga tidak termasuk di antara Apocrypha atau yang disebut kitab-kitab “Deutro-canonical” dari Perjanjian Lama.

    Kedua, kepengarangannya tidak dikenal. Mereka mengemban nama Henoch, Musa, Baruch, Ezra, tapi pengarang atau editor mereka sesungguhnya kelihatannya mengetahui kehancuran terakhir Yerusalem dan pembubaran bangsa Yahudi dibawah kekuasaan Romawi. Nama-nama samaran ini dipilih, bukan untuk tujuan-tujuan yang curang, tapi karena motif baik para Sophee atau ahli ramal yang menyusunnya. Bukankah Plato meletakkan segala pandangannya dan dialektikanya kedalam mulut gurunya, Sokrates?

    Ketiga, “kitab-kitab” ini menurut Grand Rabbin Paul Haguenauer “dalam bentuk membingungkan, mistis, supernatural, mencoba menjelaskan rahasia-rahasia alam, asal-usul [sic]Tuhan, problem kebaikan dan kejahatan, keadilan dan kebahagiaan, masa lalu dan masa yang akan datang. Mengenai semua persoalan ini, Apocalypse membuat beberapa wahyu yang melampaui pemahaman manusia. Tokoh-tokoh utama mereka adalah Henoch, Musa, Baruch, dan Ezra.

    Tulisan-tulisan ini jelas merupakan produk dari jaman agama Yahudi yang menyakitkan dan mendatangkan malapetaka.102 Konsekuensinya mereka tidak bisa sepenuhnya dipahami lagi sebagai Apocalypse yang mengemban nama rasul Yohanes.

    Keempat, Apocalypses ini telah ditambah-tambah oleh kaum Kristen. Dalam kitab Henoch “Anak Manusia” juga disebut “Anak dari Perempuan” dan “Anak Tuhan”, sehingga menambah teori inkarnasinya Gereja; Tentu saja, tidak ada ahli ramal Yahudi akan menuliskan “Anak Tuhan”.

    Kelima, perlu diketahui bahwa doktrin Mesianik adalah sebuah perkembangan yang belakangan dari nubuat-nubuat lama tentang Rasul Allah Terakhir, seperti diramalkan oleh Yaqub dan Nabi-nabi lainnya. Hanyalah dalam Apocrypha dan Apocalypse, dan khususnya, dalam tulisan-tulisan Rabbinical, bahwa sang “Pembebas Terakhir” ini diklaim sebagai keturunan Daud.

    Benar ada nubuat-nubuat setelah penangkapan orang Babylonia, dan bahkan setelah pendeportasian Sepuluh Suku ke Assyria, tentang seorang “Anak Daud” yang akan datang untuk mengumpulkan semua orang Israel yang dibubarkan. Tapi prediksi-prediksi ini terpenuhi hanya sebagian dibawah Zorobabel –salah seorang keturunan Raja Daud. Kemudian setelah invasi Yunani, prediksi-prediksi yang sama disebarkan dan diumumkan, dan kita hanya melihat seorang Yudas Maqbaya yang berjuang dengan sedikit keberhasilan melawan Antiochus Epiphanes. Disamping itu, keberhasilan ini bersifat sementara dan punya nilai permanen.

    Apocalypses, yang membawa penglihatan-penglihatan mereka hingga masa setelah penghancuran Yerusalem oleh Titus dan Vespian, meramalkan “Anak Manusia” akan muncul dengan membawa kekuatan besar untuk menghancurkan kekuatan Romawi dan musuh-musuh Israel lainnya.

    Dua puluh abad telah berlalu sebelum Kekaisaran Romawi dihancurkan pada abad kelima Masehi oleh seorang Kaisar Turki, Atilla –seorang Hun penyembah penyembah berhala– dan terakhir oleh seorang Turki Muslim, Fatih Muhammad II. Tapi kekuasaan itu sama sekali hancur untuk selamanya ditanah-tanah yang dijanjikan kepada Ismail oleh Sultan para Nabi, MUHAMMAD AL-MUSTHAFA.

    Masih ada dua observasi lagi yang tidak dapat saya abaikan dalam kaitan ini.

    Seandainya saya adalah seorang Zionis yang bernafsu, atau seorang Rabbi yang terpelajar, maka saya akan mengkaji lagi persoalan Mesianik ini sedalam dan seobyektif mungkin. Dan kemudian dengan penuh semangat saya akan mendesak sesama orang Yahudi untuk tidak lagi meninggalkan harapan ini selamanya. Bahkan jika “Anak Daud” harus muncul diatas bukit Zion dan meniup terompet dan mengklaim sebagai “Mesias”, maka saya akan menjadi orang pertama yang mengatakan kepadanya dengan tegas, “Silakan Bapak! Anda sangat terlambat! Jangan mengganggu keseimbangan di Palestina! Jangan menumpahkan darah! Jangan biarkan para malaikatmu bercampur dengan pesawat terbang yang hebat ini! Betapapun berhasilnya petualangan-petualangan kamu, saya khawatir mereka tidak akan mengungguli petualangan-petualangan para leluhurmu, seperti Daud, Zoroabel, Yudas Maccabaeus (Maqbaya)!”

    Penakluk Yahudi yang hebat bukanlah Daud, tetapi Yesus bar Nun (Yoshua); ia adalah Mesias yang pertama, yang bukannya mengubah suku-suku pagan Kanaan yang telah menunjukkan keramahtamahan kepada Ibrahim, Ishaq, dan Yaqub; malah tanpa belas kasih membantai mereka secara besar-besaran. Dan Yoshua, tentu saja, adalah seorang Nabi dan Mesias di jamannya.

    Setiap Hakim bangsa Israel selama periode tiga abad atau lebih adalah seorang Mesias dan Pembebas. Dengan demikian kita menemukan bahwa dalam setiap malapetaka nasional, khususnya bencana alam, seorang Mesias diramalkan, dan biasanya pembebasan terjadi akibat bencana dan benar-benar dalam kadar yang tidak sesuai.

    Adalah ciri khas kaum Yahudi bahwa hanya mereka dari seluruh kebangsaan yang bercita-cita, melalui penaklukan-penaklukan yang luar biasa oleh seorang Anak Daud, mengejar dominasi universal atas penduduk bumi. Kecerobohan dan kelembaman mereka sangat cocok dengan keyakinan mereka yang tidak tergoyahkan akan kelahiran “Singa Yudas”. Dan itulah barangkali alasannya mereka tidak pernah mengkonsentrasikan semua sumberdaya, energi, dan kekuatan nasional mereka dan melakukan upaya bersama untuk menjadi sebuah bangsa yang berpemerintahan sendiri.

    Kini kepada umat Kristiani yang mengklaim Yesus sebagai Anak Manusia berdasarkan nubuat, saya terpaksa mengatakan: Jika ia adalah sang Pembebas Israel yang diharapkan itu maka ia akan sudah membebaskan banga itu dari penindasan orang Romawi, tidak peduli apakah orang-orang Yahudi mempercayai dia atau tidak. Pertama pembebasan, kemudian baru ucapan terima kasih dan loyalitas. Dan bukan sebaliknya. Seseorang harus lebih dahulu dibebaskan dari kekuasaan orang yang menahannya dengan membunuh atau menakuti mereka, dan kemudian diharapkan untuk menunjukkan kasih sayang dan kesetiaannya yang permanen terhadap si Pembebas.

    Kaum Yahudi bukanlah penghuni sebuah rumah sakit yang harus dirawat oleh para dokter dan perawat; mereka hampir-hampir merupakan tawanan yang diikat dan membutuhkan seorang pahlawan untuk membebaskan mereka. Keyakinan mereka pada Tuhan dan pada hukum-Nya adalah sama sempurnanya dengan keyakinan para leluhur mereka di kaki Gunung Sinai ketika Tuhan menyampaikan kepada Musa. Mereka tidak membutuhkan seorang nabi yang memiliki mukjizat; karena seluruh sejarah mereka berjalinan dengan keajaiban dan mukjizat.

    Penghidupan kembali seorang Lazarus yang sudah mati, pembukaan mata Bartimaeus yang buta, atau penyembuhan penyakit kusta, tidak memperkuat keyakinan kaum Yahudi dan tidak juga mengenyangkan kehausan mereka akan kemerdekaan dan kebebasan.

    Kaum Yahudi menolak Yesus, tidak karena ia bukan “Anak Manusia” atau “Mesias” yang dikabarkan oleh Apocalypse –tidak disebabkan ia bukan seorang Nabi, karena mereka tahu benar bahwa ia tidak mengklaim sebagai Anak Manusia, dan bahwa ia adalah seorang nabi– tapi disebabkan oleh kebencian mereka kepada dia karena ucapannya: Mesias bukan anak Daud, melainkan tuannya”.103 Pengakuan dari Synoptics ini memperkuat pernyataan dalam Injil Barnabas, dimana Yesus dilaporkan telah menambahkan bahwa Yang Dijanjikan akan terpenuhi dengan “Syiloah” –Rasul Allah– yang akan datang dari keluarga Ismail. Karena alasan ni kaum Talmud menggambarkan Yesus sebagai “Balaam kedua” –yaitu, Nabi yang bernubuat demi kepentingan kaum penyembah berhala dengan mengorbankan “orang-orang pilihan”.

    Oleh karena itu, sangatlah jelas bahwa penerimaan atau penolakan kaum Yahudi atas Yesus bukanlah syarat sine qua non untuk menentukan sifat misinya. Jika ia adalah sang Pembebas terakhir maka ia akan sudah membuat kaum Yahudi tunduk kepadanya, nolens volens , seperti yang dilakukan Muhammad.

    Tetapi kontras antara keadaan-keadaan dimana masing-masing dari dua Nabi itu berada, dan pekerjaan mereka, tidak mengenal ukuran dan batas. Cukup dikatakan bahwa Muhammad mengubah sekitar sepuluh juta Arab pagan menjadi orang-orang beriman kepada Tuhan sejati yang paling tulus dan bersemangat, dan sama sekali melenyapkan penyembahan berhala di negeri-negeri dimana kemusyrikan telah mengakar. Ia berhasil, karena disatu tangan ia memegang Hukum dan ditangan lainnya ia memegang tongkat. Ia dibenci, dilecehkan, disiksa oleh suku Arab paling mulia yang merupakan sukunya, dan terpaksa melarikan diri, namun dengan kekuasaan Allah, ia menyelesaikan tugas terbesar demi agama sejati yang tidak sanggup dilakukan oleh Nabi sebelumnya.

    Sekarang saya akan meneruskan dengan menunjukkan bahwa “Anak Manusia” yang dinubuatkan oleh Apocalypse tidak lain adalah Muhammad al-Musthafa.

    Bukti yang paling meyakinkan dan penting bahwa Barnasha menurut Apocalypse adalah Muhammad, digambarkan secara menakjubkan dalam penglihatan Daniel (7) yang sudah dibahas dalam artikel sebelumnya.

    Bagaimanapun, gambaran tentang Barnasha didalamnya, tidak dapat diidentifikasikan dengan pahlawan Maccabees ataupun dengan Yesus; juga, Binatang Buas mengerikan yang benar-benar dibunuh dan dihancurkan oleh Anak Manusia itu tidak mungkin prototipe Epiphanes atau Kaisar Romawi, Nero.

    Kejahatan yang memuncak dari Binatang Buas yang menakutkan itu adalah “Tanduk Kecil” yang melontarkan hujatan-hujatan terhadap Yang Maha Tinggi dengan menyekutukan tiga oknum ilahiah yang sama-sama abadi dengan hakikat-Nya dan dengan penyiksaan terhadap orang-orang yang mempertahankan keesaan Tuhan yang mutlak. Konstantin Agung adalah orang yang dilambangkan oleh Tanduk yang mengerikan itu.

    Apocalypse Henoch 104 meramalkan kemunculan Anak Manusia pada saat ketika sekawanan kecil Domba, meskipun dengan penuh semangat dibela oleh seekor domba jantan, akan diserang dengan dahsyat oleh burung-burung pemangsa dari atas dan oleh binatang-binatang pemakan daging diatas tanah. Diantara musuh-musuh kawanan kecil itu dilihat banyak kambing dan domba lainnya yang telah sesat. Pemilik kawanan itu, sebagai seorang penggembala yang baik, tiba-tiba muncul dan menghantam bumi dengan batang atau tongkat, ia membuka mulutnya dan menelan musuh yang menyerang, memburu dan mengusir dari padang rumput burung-burung dan orang-orang kejam yang merusak. Kemudian sebilah pedang diberikan kepada kawanan itu sebagai lambang kekuasaan dan senjata penghancur. Setelah itu kawanan tersebut tidak lagi dikepalai oleh seekor domba jantan, tetapi oleh seekor sapi jantan yang memiliki dua tanduk hitam besar.

    Penglihatan parabolis ini cukup transparan. Dari Yaqub turun ke “orang-orang pilihan” diwakili secara simbolis oleh kawanan domba. Keturunan Esau digambarkan sebagai babi. Kaum dan suku-suku penyembah berhala lainnya diwakili dalam penglihatan itu, menurut karakteristiknya masing-masing, sebagai burung gagak, rajawali, heriang, dan jenis-jenis keganasan yang berbeda-beda, semuanya haus untuk menghisap darah domba-domba itu dan lapar untuk melahap mereka.

    Hampir semua ahli Kitab sepakat bahwa penglihatan itu menunjukkan masa yang menyakitkan dari kaum Maccabee dan perjuangan berdarah mereka dengan pasukan Antiochus Epiphanes sampai kematian Yohanes Hurcanus pada 110 (?) SM.

    Metode untuk menafsirkan penglihatan ini sama sekali salah, dan menyebabkan kitab itu secara keseluruhan menjadi tidak bernilai. Bahwa seorang nabi atau seorang ahli ramal yang kuno harus menggambarkan sejarah ras manusia dari sudut pandang keagamaan, dimulai dengan Adam, dibawah Simbol Sapi Jantan Putih, dan diakhiri dengan Yohanes Hurcanusatau saudaranya Yudas Maccabaeus (Maqbaya) sebagai Sapi Jantan Putih Terakhir, dan kemudian membiarkan kawanan “kaum beriman” itu untuk dilahap lagi oleh bangsa Romawi, umat Kristen, dan umat Islam sampai hari ini adalah sangat menggelikan dan mengejutkan!

    Sebenarnya, perang-perang kaum Maccabees dan konsekuensi-konsekuensinya tidak begitu berarti dalam sejarah agama Tuhan sebagai ujung penghabisan dari perkembangan. Tidak ada satu pun orang Maccabee yang menjadi nabi, dan tidak juga ada yang menjadi pendiri apa yang disebut “Pemerintahan Mesianik” yang dalam kitab-kitab Injil disebut “Kerajaan Tuhan”.

    Disamping itu, penafsiran dan penglihatan ini tidak konsisten dengan ciri-ciri yang digambarkan dalam drama dibawah simbol-simbol kiasan dari pemilik kawanan domba, tongkat ditangan, sang domba jantan, dan sapi betina putih; dan kemudian dengan dengan pedang besar yang diberikan kepada para penggembala yang mereka gunakan untuk membunuh atau mengusir binatang-binatang dan burung-burung yang kotor.

    Selanjutnya, penafsiran Kristiani atas Apocalypse Enoch ini tidak menjelaskan transplantasi mistis atau transportasi bumi Yerusalem kedalam sebuah negeri yang letaknya jauh disebelah selatan; dan makna apa yang dapat diberikan kepada Bait Allah yang baru dibangun ditempat Bait yang lama, lebih besar dan lebih tinggi daripada bangunan besar pertama yang suci, terhadap mana kawanan domba tidak hanya sebagai domba yang beriman –kaum Yahudi yang setia– tapi juga berbagai macam kebangsaan pagan yang telah memeluk agama sang Anak Manusia yang menghancurkan musuh-musuhnya dengan tongkat atau batangnya! Karena, semua perbuatan dan gambaran khusus ini dilihat dan digambarkan dalam penglihatan yang dramatis tersebut. Rantai yang menghubungkan peristiwa-peristiwa dalam bahasa kiasan ini dimulai dari Adam dan berakhir pada sosok Nabi Mekkah!

    Ada beberapa argumen yang meyakinkan untuk membenarkan kebenaran dari pernyataan tegas ini:

    Dua pembagian domba menunjukkan pengikut Kitab-Kitab Suci, apakah Yahudi atau Kristen, yang diantara mereka ada orang yang beriman pada keesaan Tuhan (tauhid), ada yang menjadikan Yesus dan Roh Kudus juga sama dan konsubstansial (memiliki substansi, sifat, dan hakikat yang sama) dengan Tuhan. Ahli ramal membedakan antara orang yang percaya dan orang yang ingkar.

    Kitab-kitab Injil melaporkan bahwa pada Hari Kiamat “domba akan dipisahkan dari kambing”,105 yang menunjukkan pandangan yang sama.

    Adapun mengenai domba jantan simbolis, kita bisa memahami dengan cara demikian Arius atau pemimpin Unitarian (Ahlutauhid) spiritual untuk kaum Nasrani sejati dan Rabbi kepala untuk kaum Yahudi yang setia, karena mereka berdua memiliki musuh yang sama. Jika kita mengidentifikasi Konstantin dengan Tanduk Kecil yang jahat, maka kita bisa secara tepat mengidentifikasi Arius sebagai sang Domba Jantan.

    Sebenarnya, Arius berhak mendapatkan kehormatan ini, karena ia mengepalai kelompok yang lebih besar dalam Dewan Nicea dan dengan penuh semangat membela agama yang benar dari doktrin-doktrin Trinitas dan Gereja-gereja Sakramentarian.

    Dari sudut pandang Muslim yang keras, kaum Yahudi, dimulai sejak mereka menolak dan menghukum mati Yesus Kristus, maka gelar mereka berhenti menjadi “umat pilihan”, dan bahwa gelar kehormatan diberikan hanya kepada orang-orang yang mempercayai kerasulannya.

    Anak Manusia yang menyelamatkan kawanan domba dari musuh-musuhnya untuk siapa ia turun menjadi anggota bumi dengan menemukan tongkat penggembalaan dia diatasnya, dan memberikan pedang yang kuat kepada domba untuk menyembelih yang kejam dan burung-burung pemangsa, adalah pasti Muhammad.

    Sceptr (dalam bahasa Ibrani “shebet” – batang, tongkat) adalah lambang kekuasaan, hukum, dan pemerintahan. Tongkat kecil yang diberikan Tuhan kepada suku Yehuda106 diambil, dan tongkat yang lebih kuat dan besar hanya diberikan kepada Rasul Allah (“Shiloah”) sebagai gantinya. Hal itu sebenarnya mengagumkan, karena betapa penglihatan nubuat benar-benar terpenuhi ketika tongkat Muhammad menjadi lambang kekuasaan kaum Muslim atas seluruh negeri –di Mesir, Assyria, Khaldea, Syria, dan Arabia– dimana kaum beriman disiksa oleh para penguasa pagan negeri-negeri itu dan oleh kekuasaan penjajah asing penyembah berhala dari Medo-Persia, Yunani, dan Romawi!

    Sungguh suatu pemenuhan penglihatan yang agung ketika kawanan domba, yang selama beberapa abad telah terbuka terhadap serangan paruh dan cakar burung-burung pemangsa yang tak kenal ampun dan terhadap gigi-gigi dan cakar Binatang Buas yang mengerikan, sekarang diperlengkapi dengan sebilah pedang besar untuk mempertahankan diri yang dilakukan oleh setiap Muslim sampai darah para Shalihin dan – Syuhada107 dibalas secara pantas.

    Sapi Jantan Putih. Sampai Ismail, semua Nabi digambarkan sebagai sapi jantan putih; tapi dari Yaqub sampai turun ke tokoh-tokoh dari umat pilihan muncul dalam bentuk biri-biri jantan. Agama universal telah dijadikan agama nasional; dan kaisar telah menjadi seorang kepala yang han.

    Disinilah sekali lagi pemenuhan nubuat yang mengagumkan lainnya dari penglihatan di masa Muhammad. Para pemimpin Patriarkh dari agama internasional kuno digambarkan sebagai sapi-sapi jantan putih, dan para Pemimpin kaum beriman (Amirul Mukminin) juga sebagai sapi jantan puti, dengan satu-satunya perbedaan bahwa Amirul Mukminin mempunyai tanduk-tanduk hitam yang besar, lambang kekuasaan ganda yakni, ukhrawi (spiritual) dan duniawi (temporal).

    Dari semua binatang berkaki empat yang bersih maka tidak ada yang lebih indah dan mulia daripada sapi jantan putih, dan lebih-lebih lagi, khususnya, ketika dimahkotai dengan sepasang tanduk hitam besar. Sehingga paling agung dan penuh keaggungan.

    Sangat luarbiasa bahwa Imam kaum beriman, apakah seorang Khalifah atau Sultan, atau memiliki dua gelar itu, dibedakan dan dirasakan siang-malam oleh kemurinian dan amalnya dan oleh soliditas dari kekuasaan dan keagungan di kepala sekumpulan orang beriman yang jmlahnya sangat banyak sekali dan terdiri dari semua ras dan bahasa! Penglihatan tersebut secara jelas mengakui jalan masuk dan izin masuknya orang-orang ingkar dan kafir ke dalama kawanan domba. Kaum Yahudi –ribuan kaum Yahudi– Kristiani, dan Sabian, dan jutaan orang Arab dan bangsa-bangsa penyembah berhala lainnya, percaya akan keesaan Tuhan dan memeluk Islam.

    Dalam hubungan ini, patut diketahui adalah bahwa semua darah yang tertumpah dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan operasi militer lainnya yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad, tidak melebihi seperseratus darah yang ditumpahkan oleh Yoshua. Namun, tidak satu pun contoh kekejaman atau ketidakadilan dapat dibukikan pada Rasul Allah itu. Dia toleran, mulia, murah hati, dan pemaaf. Itulah sebabnya hanya dia di antara ras manusia yang digambarkan dalam semua penglihatan nubuat “Anak Manusia”, seperti orang pertama sebelum kejatuhannya!

    Anak Manusia mendirikan Kerajaan Perdamaian yang ibukotanya bukan lagi Yerusalem, melainkan Yerusalem baru – “Darussalam” (kota atau istana perdamaian).

    Sophee atau ahli ramal dalam penglihatan gaib ini menceritakan bagaimana Yerusalem di bumi diangkat dan dipindahkan kesebuah negeri di selatan, tapi sebuah Bait yang baru, lebih luas dan lebih tinggi dari Bait pertama, dibangun diatas puing-puing bangunan lama! Ya Allah! Sungguh hebat semua ini yang semuanya telah diselesaikan oleh Muhammad hamba-Mu yang paling termasyhur dan suci!

    Yerusalem Baru tidak lain adalah Mekkah, karena ia berada di negeri sebelah selatan, dua bukit di Mekkah yakni Marwa dan Safa, menyandang nama yang sama dengan nama Moriah dan Zion, memiliki sumber dan signifikansi yang sama, tetapi bermula lebih awal. “Irushalem” atau “Urshalem” Lama menjadi kota “Cahaya dan Kedamaian”.

    Karena alasan ini jugalah Mekah sebagai tempat Ka’bah yang suci dan menjadi kiblat –arah– ke mana kaum Muslim menghadap ketika shalat. Di Mekah inilah setiap tahun puluhan ribu peziarah dari semua negeri Muslim berkumpul, mengunjugi Ka’bah yang suci dan melaksanakan korban, dan memperbarui ketaatan mereka kepada Allah dan berjanji untuk menjalankan suatu kehidupan baru yang pantas bagi seorang Muslim.

    Tidak hanya Mekah, tapi juga Madinah dan wilayah di sekeliling kedua kota itu, telah menjadi suci dan tidak dapat diganggu gugat, dan terlarang bagi kaum laki-laki atau perempuan non-Muslim! Dalam penglihatan Henoch juga lah bahwa Khalifah kedua, Umar, membangun kembali Mesjid Suci di Yerusalem di atas bukit Moriah, di tempat Kuil Sulaiman.

    Semua ini secara mengagumkan membuktikan bahwa penglihatan itu disaksikan oleh seorang ahli ramal yang mendapat ilham dari Tuhan, yang dapat melihat rangkaian peristiwa Kaum Muslim di masa akan datang. Dapatkah Roma atau Byzantium mengklaim sebagai Yerusalem Baru? Dapatkah Paus atau setiap Partiarch yang berbuat memecah belah mengklaim sebagai Sapi Jantan Putih dalam Apocalypse yang memiliki dua tanduk hitam besar? Dapatkah agama Kristen mengklaim sebagai Kerajaan Perdamaian (Islam = “Syalom”), sementara ia menjadikan Yesus dan Roh Kudus konsubstansial dengan Satu Tuhan Yang Mutlak? Sangat pasti, Tidak!

    Dalam bab-bab yang membicarakan Kerajaan Perdamaian itu, sang Mesias disebut Anak Manusia. Tapi dalam deskripsi Hari Kiamat yang mengikuti di akhir Kekuaaan Islam atau Perdamaian ini ia disebut “Anak dari Perempuan” dan “Anak Tuhan”, dan bersama-sama dengan Tuhan dalam Pengadilan Dunia.

    Diakui oleh semua sarjana bahwa pernyataan-pernyataan yang berlebih-lebihan dan tolol tersebut tidak berasal dari kaum Yahudi, tapi dari imajinasi kaum Kristiani yang disisipkan dan ditambahkan oleh mereka.

    Apocalypse lainnya, yang menyandang nama Musa, Baruch, Ezra, Jubilee, Oracula Sibyliana, haruslah dikaji secara obyektif, karena setelah itulah baru mereka, seperti Apocalypse Daniel dan Henoch, tidak hanya akan dipahami tapi juga membuktikan terpenuhi dalam MUHAMMAD dan ISLAM.

    ——————————————————————————–

    Catatan Kaki
    102. Munuel de Litterature Juive, Juive. Nancy, 1927.
    103. Matius 22:44-46; Markus 12:35-37; Lukas 20:41-44.
    104. Saya menyesal mengatakan bahwa “Apocalypse Yahudi” tidak dapat saya peroleh. Ensiklopedia-ensiklopedi yang ada hanya merupakan ikhtisar dari masing-masing kitab, yang tidak memenuhi harapan saya dalam pengkajian. Saya tahu bahwa Uskup Agung Irlandia, Laurence, telah menerjemahkan Apocalypse ini kedalam bahasa Inggris, tapi sayangnya tidak bisa saya peroleh.
    105. Matius 25:32-46.
    106. Kejadian 49:10.
    107. Wahyu 6:9-11.

    Balas
  143. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Anak Manusia Itu Adalah Muhammad
    Dalam artikel sebelumnya, saya telah menunjukkan bahwa “Anak Manusia” yang diramalkan dalam Apocalypse kaum Yahudi itu bukan Yesus Kristus, dan bahwa Yesus tidak pernah mengakui sebutan itu untuk dirinya, karena kalau benar itu diakui maka ia telah membuat dirinya sendiri menggelikan dimata para pendengarnya.

    Hanya ada dua jalan untuk dia: Mencela nubuat-nubuat mesianik dan pandangan-pandangan Apokaliptik tentang Barnasha sebagai pemalsuan dan dongengan, atau kalau tidak, memperkuatnya dan pada saat yang sama mengisi, jika ia sosok yang agung itu, jabatan “Anak Manusia.”

    Mengatakan, “Anak Manusia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani” 81 atau “Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat” 82, atau “Anak Manusia datang, ia makan dan minum [anggur]” bersama orang-orang berdosa dan pemungut cukai”83>, dan pada saat yang sama mengaku bahwa ia adalah seorang pengemis yang hidup dari kedermawanan dan kebaikan orang lain, bahwa ia akan mencemoohkan bangsanya dan perasaan-perasaan keagamaannya yang paling suci! Membanggakan bahwa ia adalah Anak Manusia dan telah datang untuk menyelamatkan dan menemukan Domba Israel yang hilang84, tapi harus menunda penyelamatan ini sampai Hari Kiamat, dan bahkan kemudian dilemparkan kedalam api abadi, adalah mengecewakan semua harapan orang-orang yang disiksa itu, dan bahwa ia sendirian yang mendapat kehormatan sebagai satu-satunya bangsa yang mengakui keimanan dan agama Tuhan yang sejati, dan hal itu menghinakan nabi-nabi dan Apocalypses mereka.

    Mungkinkah Yesus Kristus menerima gelar itu? Apakah pengarang dari empat kitab Injil itu adalah orang Yahudi? Mungkinkah Yesus dengan sungguh-sungguh mempercayai dirinya sebagai apa yang dinyatakan Injil-Injil palsu ini? Mungkinkah seorang Yahudi secara sungguh-sungguh menulis kisah-kisah seperti itu yang sengaja ditulis untuk membingungkan dan mengkandaskan harapan orang-orang itu? Tentu saja, selain dari jawaban yang menyangkal, tidak bisa diharapkan dari saya untuk pertanyaan-pertanyaan ini.

    Baik Yesus maupun rasul-rasulnya tidak akan pernah menggunakan gelar yang luar biasa ditengah-tengah suatu kaum yang sudah mengetahui pemilik yang sah dari nama panggilan itu. Hal itu dapat disamakan dengan meletakkan mahkota raja diatas kepala duta besarnya, si duta besar tidak punya tentara yang dapat memproklamirkannya sebagai raja. Hal itu hanyalah suatu perampasan yang gila atas hak-hak dan kehormatan dari Anak Manusia yang sah.

    Konsekuensinya, perampasan yang tidak bisa diberikan semacam itu dipihak Yesus adalah sama dengan penerimaan julukan “Anak Manusia Palsu” dan julukan Antikristus!

    Imajinasi tentang suatu tindakan serupa yang berani dipihak Yesus Kristus yang Suci membuat seluruh tabiat saya memberontak. Semakin saya membaca kitab-kitab Injil ini, semakin saya menjadi yakin bahwa kitab-kitab tersebut adalah bikinan – paling tidak dalam bentuk dan isinya sekarang ini– pengarang-pengarang selain dari kaum Yahudi.

    Kitab-kitab Injil ini merupakan imbangan dari wahyu (Apocalypses) Yahudi – khususnya sebagai proyek tandingan terhadap kitab-kitab kaum Sibyllian. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh kaum Kristen Yunani yang tidak tertarik dengan klaim “anak-anak Ibrahim”.

    Pengarang kitab-kitab Sabyllian duduk berdampingan dengan nabi-nabi Israel seperti Henoch, Sulaiman, Daniel, dan Ezra, nama-nama guru Yunani Hermes, Homer, Orpheus, Pyhagoras, dan lain-lain, jelas-jelas dengan sasaran mengadakan propaganda untuk agama orang Yahudi. Kitab-kitab ini ditulis ketika Yerusalem dan bait dalam keadaan hancur, suatu waktu sebelum atau diterbitkannya Apocalypse Yohanes. Maksud dari Apocalypse Sibyllian adalah bahwa Anak Manusia Ibrani (Hebrew) 85 atau sang Mesias akan datang untuk menghancurkan kekuasaan Romawi dan menegakkan agama Tuhan sejati untuk semua manusia.

    Kita dapat membuat banyak argumen yang masuk akal untuk membuktikan identitas “Anak Manusia” dengan Muhammad saja, dan saya akan membagi argumen-argumen ini sebagai berikut:

    Argumen dari Kitab-kitab Injil dan dari Apocalypse

    Dalam pasal-pasal yang paling penting dan bertalian secara logis dari khotbah-khotbah Yesus dimana julukan “Barnasha” – atau “Anak Manusia”- muncul, hanya Muhammad yang dimaksudkan, dan hanya pada dirinya saja ramalan yang terkandung di dalamnya benar-benar terpenuhi.

    Dalam beberapa pasal, dimana Yesus dianggap telah menerima gelar itu untuk dirinya, pasal itu menjadi tidak logis, bodoh, dan sama sekali kabur. Ambil contoh pasal berikut. “Anak Manusia datang, ia makan dan minum, dan mereka berkata,”Lihatlah….”86

    Yohanes Pembaptis adalah seorang peminum minuman keras, ia hanya minum air, makan belalang, dan madu liar, mereka berkata ia adalah seorang yang kejam. Tetapi Anak Manusia, id est Yesus (?), yang makan dan minum anggur, dicap sebagai “teman para pemungut cukai dan orang-orang berdosa”.

    Menyalahkan seorang nabi karena ia berpuasa dan menahan nafsu merupakan dosa ketidaksetiaan dan kebodohan yang besar. Tetapi mencela seseorang yang mengaku sebagai seorang Pesuruh Tuhan karena sering-sering mengunjungi perjamuan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, dan karena suka minum anggur, adalah sangat wajar dan suatu tuduhan serius terhadap ketulusan hati orang itu yang menganggap diri sebagai pembimbing spiritual manusia.

    Dapatkah kita kaum Muslim mempercayai ketulusan hati seorang Khwaja atau Mullah ketika kita melihat dia bergaul dengan pemabuk dan pelacur? Dapatkah umat Kristiani betah dengan seorang Pendeta atau Pastor yang berkelakuan sama? Pasti tidak. Seorang pembimbing spiritual bisa saja bergaul dengan semua jenis pendosa dalam rangka untuk mengubah dan memperbaiki mereka, asalkan ia tidak mabuk, bebas dari minuman keras, dan tulus.

    Menurut kutipan yang baru saja disebutkan, Yesus mengakui bahwa perilakunya telah mempermalukan para pemimpin keagamaan dan bangsanya. Benar, bahwa para petugas pabean, yang disebut publican (Pemungut cukai), dibenci oleh kaum Yahudi hanya karena jabatan mereka. Kita hanya diberitahu dua publican87 dan satu Harlot8 dan satu perempuan “kesurupan” yang diubah oleh Yesus [menjadi pengikutnya], tetapi semua pendeta dan ahli hukum dicap dengan kutuk dan laknat 89. Semua ini kelihatan aneh dan tak masuk akal.

    Ide atau pemikiran bahwa seorang Nabi suci, yang begitu suci dan tanpa dosa seperti Yesus, gemar akan anggur, bahwa ia mengubah enam galon air menjadi anggur yang paling memabukkan untuk membuat gila serombongan besar tamu yang sudah agak mabuk dalam gedung perkawinan di Kana 10, benar-benar menggambarkan dia sebagai seorang tukang tipu dan tukang sihir!

    Pikirkanlah tentang keajaiban yang dilakukan oleh seorang thaumaturge 91 didepan reruntuhan para pemabuk! Menggambarkan Yesus sebagai seorang pemabuk, dan rakus, dan teman orang yang tidak karuan, dan kemudian memberinya gelar “Anak Manusia” berarti menyangkal semua Apocalypse dan agama Yahudi.

    Lagi-lagi Yesus dilaporkan telah berkata bahwa, “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” 92. Para juru tafsir tentu saja menafsirkan pasal ini hanya dalam makna spiritual. Benar, adalah misi dan tugas dari setiap nabi dan pengkhotbah agama mengajak para pendosa untuk menyesali dosa dan kejahatannya.

    Kita benar-benar mengakui bahwa Yesus diutus hanya untuk “domba Israel yang hilang”, untuk memperbaiki dan mengubah mereka dari dosa, dan khususnya untuk mengajarkan kepada mereka secara jelas mengenai “Anak Manusia” yang akan datang dengan membawa kekuatan dan keselamatan untuk mengembalikan yang hilang dan membangun kembali yang hancur; tidak, menaklukkan dan menghancurkan musuh kaum beriman yang sejati.

    Yesus tidak tidak dapat menerima untuk dirinya gelar Apocaliptic “Barnasha” itu, dan kemudian tidak dapat menyelamatkan kaumnya, kecuali Zakheus, seorang perempuan Samaria, dan segelintir orang Yahudi lainnya, termasuk beberapa rasul, yang kebanyakan dibunuh sesudah itu karena dia. Paling mungkin yang Yesus katakan adalah, “Anak Manusia akan datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” . Karena hanya pada Muhammad sajalah maka kaum Yahudi yang beriman dan juga bangsa Arab dan orang-orang beriman lainnya menemukan semua yang tidak dapat diperbaiki, hilang, dan hancur –Yerusalem dan Mekah, semua wilayah yang dijanjikan; banyak kebenaran tentang agama sejati, kekuasaan dan kerajaan Tuhan; kedamaian dan berkat yang dianugerahkan Islam didunia ini dan dunia yang akan datang.

    Kita tidak dapat memberikan ruang untuk kutipan-kutipan lebih jauh dari banyak pasal dimana “Anak Manusia” muncul sebagai subyek atau obyek atau predikat dari kalimat. Tetapi cukup dengan satu kutipan lagi, yaitu “Anak Manusia akan diserahkan ketangan-tangan manusia” 93 dan seterusnya, dan semua pasal dimana ia dijadikan subyek nafsu dan kematian. Ucapan-ucapan seperti itu diletakkan pada mulut Yesus oleh penulis non-Yahudi yang curang dengan tujuan menyelewengkan kebenaran tentang “Anak Manusia” seperti yang dipahami dan diyakini oleh kaum Yahudi, dan membuat mereka percaya bahwa Yesus dari Nazaret adalah Juru Selamat yang disebutkan dalam Wahyu, tetapi ia hanya akan muncul di Hari Kiamat.

    Itulah kebijakan dan propaganda yang licik tentang contoh suatu perbuatan, dan kemudian persuasi yang sengaja dilakukan untuk kaum Yahudi. Namun penipuan itu terbongkar, dan kaum Kristen Yahudi menjadi anggota Gereja yang tetap menganggap kitab-kitab Injil ini sebagai wahyu Ilahi. Karena tidak ada yang lebih menjijikkan bagi cita-cita kebangsaan dan sentimen keagamaan Yahudi daripada menghadirkan kepada mereka sang Mesias yang ditunggu-tunggu dalam wujud Yesus yang dihukum salib oleh para imam kepala dan para tetua sebagai seorang penggoda!

    Oleh karena itu, sangatlah jelas bahwa Yesus tidak pernah menyandang gelar “Anak Manusia”, tetapi ia mencanangkannya hanya untuk Muhammad, dan inilah beberapa argumennya:

    Apocalypses Yahudi menisbahkan gelar “Mesias” dan “Anak Manusia” semata-mata untuk Nabi Terakhir yang akan berjuang melawan kuasa-kuasa gelap dan menaklukkan mereka, dan kemudian akan menegakkan Kerajaan Perdamaian dan Kerajaan Cahaya di muka bumi. Dengan demikian, kedua gelar itu sinonim, memungkiri salah satunya berarti sama sekali memungkiri klaim sebagai Nabi Terakhir.

    Kini kita membaca dalam Synoptic bahwa Yesus mentah-mentah menolak dirinya sebagai kristus dan melarang murid-muridnya menyatakan dia sebagai sang “mesias”! dilaporkan bahwa Simon Petrus, ketika menjawab pertanyaannya Yesus, “Menurut kamu, siapakah aku ini?” Dijawab, “Engkau adalah kristus (mesias) dari Allah 94. Kemudian Yesus memerintahkan muridnya untuk tidak mengatakan kepada siapapun bahwa ia adalah kristus15.

    Markus dan Lukas tidak tahu apa-apa tentang “kekuasaan kunci-kunci” yang diberikan kepada Petrus. Mereka, karena tidak berada disana, tidak mendengarnya. Yohanes tidak berkomentar apa-apa tentang percakapan mesianistik ini, barangkali ia telah melupakannya!

    Matius melaporkan 96 bahwa ketika Yesus menyuruh mereka agar tidak memberitahukan bahwa ia adalah Kristus, ia menjelaskan kepada mereka bagaimana ia akan diserahkan dan dibunuh. Lalu Petrus mulai memarahi dan memperingatkannya agar tidak mengulangi kata-kata yang sama tentang keinginan besar dan kematiannya.

    Menurut cerita dari Matius ini, Petrus seratus persen benar ketika mengatakan, “Guru, walaupun jauh darimu, jika benar bahwa pengakuannya, “Engkau adalah Mesias”, menyenangkan Yesus, siapa yang menganugerahkan gelar “Sapha” atau “Cepha” pada Simon, kemudian menyatakan bahwa “Anak Manusia” mengalami kematian yang tercela diatas salib adalah penolakan mentah-mentah akan sifat mesianiknya. Tetapi Yesus menjadi lebih positif dan dengan marah mencerca Petrus dengan mengatakan, “Berdirilah engkau dibelakangku, Setan! Menyusul kemarahan yang pedas ini adalah kata-kata sang Guru yang paling tegas dan menegaskan bahwa ia bukan “Mesias” atau “Anak Manusia”.

    Bagaimana mendamaikan “keyakinan” Petrus, dibalas dengan gelar yang agung “Sapha” dan kekuasaan kunci-kunci Surga dan Neraka, dengan “ketidaksetiaan” Petrus yang dihukum dengan sebutan hina “Setan”, dalam waktu kira-kira setengah jam? Beberapa pemikiran muncul sendiri dalam benak saya, dan saya merasa itu tugas yang merupakan panggilan kata hati saya untuk menguraikannya secara tertulis.

    Jika Yesus adalah sang “Anak Manusia” seperti yang dilihat dan diramalkan oleh Daniel, Ezra, Henoch, dan nabi-nabi Yahudi lainnya, maka ia sudah menyuruh murid-muridnya untuk memproklamirkan dan menyatakan dirinya demikian, dan ia sendiri akan mendukung mereka. Namun, faktanya adalah bahwa ia benar-benar berbuat sebaliknya.

    Lagi-lagi jika ia adalah Mesias, atau Barnasha, maka ia akan segera meneror musuh-musuhnya, dan dengan bantuan para malaikatnya yang gaib, menghancurkan Kerajaan Romawi dan Persia, kemudian menguasai dunia yang beradab. Namun justru Yesus tidak melakukan hal semacam itu, atau seperti Muhammad, ia akan merekrut pejuang-pejuang yang gagah berani seperti Ali, Umar, Khalid, dan seterusnya, dan bukan seperti Zebedee dan Jonas, yang menghilang, seperti hantu yang menakutkan ketika polisi Romawi datang untuk menangkap mereka.

    Ada dua pernyataan yang tidak dapat didamaikan yang dikemukakan oleh Matius (atau diselewengkan oleh penyisipnya), yang secara logis saling menghancurkan. Dalam satu jam Petrus adalah “Batu Keyakinan”, sebagaimana dibanggakan oleh agama Katolik, namun disisi lain dicap juga sebagai “Setan Ketidaksetiaan”, sebagaimana diejek oleh agama Protestan! Mengapa demikian? Karena ketika ia percaya Yesus sebagai Mesias, maka ia diberi ganjaran, tetapi ketika ia ia menolak untuk mengakui bahwa gurunya bukan mesias, maka ia dihukum!

    Tidak ada dua “Anak Manusia”, yang satu sebagai pemimpin orang beriman, dengan pedang ditangan berperang demi Tuhan, dan melenyapkan kemusyrikan, kerajaan musuh hingga keakar-akarnya, sedangkan satunya lagi sebagai Kepala Biara Kaum Anchorite yang malang di puncak Calvary, berjuang dalam perang demi Tuhan dengan salib ditangan dan mati secara memalukan oleh orang-orang Romawi musyrik dan para imam Uskup dan Rabbi Yahudi yang tidak percaya!

    “Anak Manusia” yang tangan-tangannya terlihat oleh nabi Yehezkiel dibawah sayap Kerub-kerub (2) dan didepan singgasana Tuhan oleh nabi Daniel (7), dan digambarkan oleh Apocalypse Yahudi lainnya, tidak ditakdirkan untuk digantung diatas Golgota, tetapi untuk mengubah tahta para raja penyembah berhala menjadi salib bagi mereka sendiri, untuk mengubah istana-istana mereka menjadi calvary , dan membuat kuburan-kuburan kota-kota besar mereka.

    Bukan Yesus, melainkan Muhammad, yang mendapat kehormatan untuk menyandang gelar “Anak Manusia”! Fakta-fakta yang ada lebih mengesankan ketimbang Apocalypses dan Penglihatan-penglihatan sekalipun. Kesuksesan dari penaklukan-penaklukan material dan moral yang dicapai oleh Muhammad atas musuh-musuhnya tidak ada yang mampu menandinginya.

    “Anak Manusia” disebut oleh Yesus sebagai “Tuhan atas hari Sabat”97. Hal ini memang sangat luar biasa, kesucian hari ketujuh merupakan tema Hukum Musa. Tuhan menyelesaikan pekerjaan penciptaan selama enam hari, dan pada hari ketujuh Dia beristirahat dari semua pekerjaan. Laki-laki dan perempuan, anak-anak dan budak, bahkan binatang-binatang piaraan beristirahat dari semua pekerjaan dalam sakit kematian.

    Firman keempat dari Decalogue memerintahkan Bani Israel, “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat”98. Para pengkaji Alkitab (Bibel) tahu betapa Tuhan cemburu mengenai pelaksanaan yang ketat atas Hari Istirahat. Sebelum Musa, tidak ada ketentuan khusus mengenai ini, dan para Patriarch pengembara tidak menjalankannya. Besar kemungkinan bahwa kata Sabath kaum Yahudi asalnya dari Sabattu bangsa Babylonia .

    Al-Qur’an tidak mau mengakui konsep kaum Yahudi mengenai anthropomorphus (keserupaan dengan manusia) Tuhan, karena itu berarti mengatakan, jika seperti manusia, Tuhan bekerja enam hari, merasa letih, istirahat, dan tidur. Ayat suci Al-Qur’an karenanya mengatakan:

    “Dan sesungguhnya telah kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan” (QS Qaf [50]:38)

    Gagasan kaum Yahudi tentang Sabath telah menjadi sangat meteri dan membahayakan. Bukannya menjadikan hari itu sebagai hari istirahat yang menyenangkan dan liburan yang menggembirakan, malah telah diubah menjadi hari yang penuh pemantangan dan pengurungan. Tidak boleh memasak, tidak boleh jalan-jalan, dan tidak boleh beramal atau berderma.

    Para pendeta di bait membakar roti dan mengadakan korban di hari Sabat, tetapi mencemooh Nabi dari Nazaret ketika ia menyembuhkan secara ajaib seorang yang tangannya mati sebelah99. Terhadap hal ini, Yesus berkata bahwa hari Sabat itu diadakan untuk kebaikan manusia, dan bukannya manusia untuk kebaikan hari Sabat. Bukannya menjadikan hari itu sebagai hari Kebaktian dan kemudian hari rekreasi, hari kesenangan yang tidak merusak, dan hari istirahat yang sesungguhnya, mereka malahan menjadikan Hari Sabat sebagai hari pemenjaraan yang membosankan.

    Pelanggaran terkecil atas aturan apapun berkenaan dengan hari ketujuh dihukum dengan beberapa jenis hukuman. Musa sendiri menghukum seorang lelaki miskin karena telah memungut beberapa tongkat dari tanah pada Hari Sabat; dan murid-murid Yesus dimarahi karena memetik beberapa bulir jagung pada Hari Sabath, meskipun mereka lapar. Jelas sekali, bahwa Yesus Kristus bukan seorang Sabatarian dan tidak mengikuti penafsiran harfiah dari peraturan-peraturan drakonik tentang Hari Sabath. Ia menginginkan kasih sayang atau perbuatan baik dan bukan pemberian korban.

    Meskipun demikian Yesus tidak pernah berpikir untuk menghapus Hari Sabath, tidak juga untuk mencoba melakukannya. Seandainya ia mencoba mengganti hari tersebut dengan hari minggu, sudah pasti ia akan ditinggalkan oleh para pengikutnya. Tetapi, pendek ia, pendek kata, menjalankan hukum Musa. Sebagaimana kita ketahui dari sejarawan Yahudi, Joseph Flavius, dan dari Eusebius, dan lain-lain, Yakobus “saudara” Yesus adalah seorang Ibionite yang keras yang kepala kaum Kristen Yudaistik yang menjalankan Hukum Musa dan Sabath dengan segala kekakuannya.

    Kaum Kristen Helenistik secara berangsur-angsur menggantikan lebih dahulu “Hari Tuhan” yaitu hari Minggu, tetapi Gereja-gereja Timur sampai abad keempat menghormati kedua hari itu.

    Nah, jika Yesus adalah “Tuhan atas Hari Sabat”, maka pasti ia sudah mengubah hukum-hukumnya yang keras atau sama sekali menghapusnya. Namun, ia tidak melakukannya. Kaum Yahudi yang mendengarkannya dan memahami dengan baik bahwa ia menunjuk kepdaa Mesias yang diharapkan sebagai “Tuhan atas Hari Sabat”, dan itulah sebabnya mengapa mereka bungkam.

    Redaktur dari Synoptics, di sini seperti di mana-mana, telah menyembunyikan sebagian ucapan Yesus apabila “Anak Manusia” menjadi subyek ceramahnya, dan penyembunyian ini adalah penyebab dari semua ambiguitas, kontradiksi, dan kesalahpahaman ini.

    Kalau kita tidak mengambil al-Qur’an sebagai pedoman, dan Rasul Allah sebagai objek alkitab, maka semua upaya untuk menemukan kebenaran dan untuk sampai pada kesimpulan yang memuaskan akan berakhir dalam kegagalan.

    Higher Biblical Criticism akan membimbing Anda sampai ke pintu gerbang tempat kebenaran yang keramat dan disana ia berhenti dan diliputi perasaan khidmat dan rasa tidak percaya. Ia tidak membuka pintu untuk masuk kedalam dan mencari dokumen-dokumen abadi yang tersimpan didalamnya. Semua penelitian dan pengetahuan yang ditunjukkan oleh kritikus-kritikus yang “obyektif” ini, apakah para pemikir liberal, rasionalis, atau penulis biasa, betapapun secara menyedihkan tidak tertarik, skeptis, dan mengecewakan.

    Belakangan ini saya membaca larya-karya sarjana Perancis Ernest Renan, La vie de Jesus, Saint Paul , dan L’Antichrist . Saya heran dengan banyaknya karya, kuno, dan modern yang telah ia teliti. Ia mengingatkan saya pada Gibbon dan lain-lainnya. Tetapi, aduh, apa kesimpulan dari riset dan kajian mereka yang tak kenal lelah itu? Nol atau tidak ada! Dalam bidang sains, keajaiban-keajaiban alam ditemukan oleh kaum Positivis, tetapi dalam bidang keagamaan, kaum Positivis ini menarik keuntungan darinya dan meracuni sentimen keagamaan kepada para pembacanya. Jika para kritikus terpelajar ini mengambil spirit Al-Qur’an sebagai pembimbing mereka dan Muhammad sebagai pemenuhan harfiah, moral, dan praktis dar Penulisan Suci, maka riset mereka tidak akan begitu tidak karuan dan destruktif.

    Orang-orang yang shaleh menginginkan sebuah agama yang riil dan bukan yang ideal. Mereka menginginkan seorang “Anak Manusia” yang akan menarik pedangnya dan berbaris didepan pasukannya yang gagah berani untuk menghancurleburkan musuh-musuh Tuhan dan membuktikan dengan ucapan dan perbuatan bahwa ia adalah “Tuhan atas Hari Sabat”, dan mencabut sebutan itu sama sekali, karena telah dikacaukan oleh kaum Yahudi, sebagaimana “Kebapakan” Tuhan telah dikacaukan oleh kaum Kristen. Dan Muhammad benar-benar melakukan ini.

    Sebagaimana sudah sering saya ulangi dalam halaman-halaman ini, kita hanya dapat memahami kitab-kitab suci yang diselewengkan, ketika kita menembus dengan bantuan cahaya Al-Qur’an kedalam pernyataannya yang membingungkan dan bertentangan, dan hanya setelah itu baru kita dapat menyaring mereka dengan saringan kebenaran dan memisahkan yang asli dari yang palsu.

    Ketika, misalnya, berbicara tentang para imam yang secara terus-menerus melarutkan Sabat dalam Bait, Yesus dilaporkan telah berkata, “ Behold, here is one that is greater than the Temple [Lihat, inilah yang lebih hebat dari Bait Allah] 100. Saya tidak dapat menerka arti keberadaan kata keterangan “here” dalam anak kalimat ini, kalau kita tidak membubuhkan tambahan huruf “t” sehingga menjad “there”. Karena, jika Yesus ataupun nabi sebelumnya harus punya keberanian untuk menyatakan diri “lebih hebat dari Bait Allah”, mungkin ia sudah langsung dihukum mati oleh kaum Yahudi sebagai seorang “penghina”, kecuali kalau ia dapat membuktikan dirinya sebagai Anak Manusia, yang diberi kekuasaan dan kebesaran, sebagaimana Rasul Allah.

    Penghapusan Sabtu oleh pangeran para nabi –Muhammad– diisyaratkan dalam Al-Qur’an Surah al-Jumu’ah. Sebelum Muhammad, bangsa Arab menyebut hari Jum’at “al-A’ruba” yang sama dengan Pshittha Syriac “A’rubta” dari bahasa Arami “Arabh” –”membenamkan (matahari)”. Disebut begitu karena setelah terbenamnya matahari pada hari jum’at maka hari Sabat dimulai.

    Alasan yang diberikan mengenai kesakralan Hari Sabtu adalah bahwa pada hari itu Tuhan “beristirahat” dari pekerjaan menciptanya. Tapi alasan untuk pilihan hari Jum’at, seperti dapat dipahami dengan mudah, ada dua:

    Pertama , karena pada hari ini kerja besar penciptaan, atau pembentukan alam semesta yang terdiri dari banyak sekali dunia, makhluk-makhluk nyata dan gaib, planet-planet, dan mikroba-mikroba disempurnakan. Ini adalah kejadian pertama yang menyela keabadian, ketika waktu, ruang, dan materi mewujud. Perayaan, peringatan, dan kesucian dari kejadian yang luar biasa seperti itu pada hari dimana ia dicapai adalah sangat masuk akal, dan bahkan perlu.

    Kedua , bahwa pada hari ini doa dan kebaktian diadakan oleh orang-orang beriman dengan suara bulat, dan karena alasan inilah maka hari ini disebut “jumu’ah”, yang artinya, kumpulan manusia atau majelis. Ayat mengenai pokok bahasan ini menunjukkan kewajiban kita pada hari Jum’at:

    “Hai orang-orang yang beriman! Apabila engkau diseru untuk menunaikan sembahang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. … dan seterusnya ” (QS Al-Jumu’ah [62]:9)

    Orang-orang beriman diseru untuk bergabung dalam kebaktian bersama dalam sebuah rumah yang dipersembahkan untuk penyembahan Tuhan, dan untuk sementara meninggalkan dulu setiap perniagaan apa pun, tetapi seusai sembahyang jama’ah, mereka tidak dilarang untuk kembali bekerja seperti biasa. Seorang Muslim sejati dalam duapuluh empat jam menyembah Penciptanya tiga sampai lima kali dalam shalat dan doa.

    Kita sudah membuat beberapa ulasan mengenai bagian dalam Matius (18:11) di mana misi “Anak Manusia” adalah “mencari dan menyelamatkan yang hilang”. Inilah ramalan penting lainnya–meskipun pasti diubah bentuknya–tentang Muhammad, atau Barnasha. “Hal-hal yang hilang” ini yang akan dicari dan diselamatkan oleh sang Barnasha ada dua kategori, keagamaan dan kebangsaan.

    Mari kita bahas keduanya secara terperinci:

    Misi Barnasha adalah mengembalikan kemurnian dan keuniversalan agama Ibrahim yang telah hilang. Semua kaum dan suku keturunan dari bapak kaum beriman itu akan dibawa masuk ke dalam lipatan “Agama Perdamaian” yang tak lain adalah “Dina da-Shlama,” atau Agama Islam.

    Agama Musa bersifat kebangsaan dan khusus, dan oleh karena itu kependetaannya yang turun-temurun, pengorbanan Levitikus dan ritus-ritusnya yang megah, hari-hari Sabatnya, hari-hari peringatannya, dan perayaan-perayaannya, dan semua hukum dan kitab-kitab sucinya yang diubah akan dihapuskan dan diganti oleh yang baru yang mempunyai ciri universal, kekuatan, dan daya tahan. Yesus adalah orang Yahudi; ia tidak mampu menyelesaikan tugas raksasa yang hebat seperti itu karena secara materi mustahil dikerjakan olehnya. “Aku datang bukan untuk mengganti hukum [Taurat] atau para nabi.”101 katanya.

    Di lain pihak, kemusyrikan yang melampaui batas, dengan semua praktek pagan, ketakhayulan, dan ilmu sihirnya yang buruk sekali, untuk mana bangsa Arab kecanduan dengan semua itu, sama sekali telah disapu bersih, dan ke-satu-an Tuhan dan agama dikembalikan di bawah bendera Rasul Allah yang mengemban Inskripsi Suci, “Aku bersaksi bahwa tidak ada yang disembah selain Allah; dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”

    Penyatuan bangsa-bangsa keturunan Ibrahim dan tanah-tanah tempat mereka berdiam harus dikembalikan dan dikerjakan.

    Diantara banyak gagasan yang dubah, yang bersifat mementingkan diri sendiri, bodoh, dan tidak dapat dibenarkan yang terkandung dalam kitab-kitab suci Yahudi adalah prasangka sembarangan yang mereka lontarkan terhadap bangsa-bangsa non-Israel. Mereka tidak pernah menghormati keturunan lainnya dari leluhur mereka yang agung, Ibrahim; dan antipati ini ditunjukkan kepada kaum Ismailiah, Edomiah, dan suku-suku Ibrahimiah lainnya. Fakta bahwa disamping Ibrahim dan Ismail sekitar tiga ratus sebelas budak dan pejuang laki-laki disunat adalah argumen yang dipaksakan untuk sikap kaum Yahudi terhadap bangsa-bangsa sepupu mereka.

    Kerajaan Daud hampir tidak memperluas perbatasan keluar wilayah yang dalam Kekaisaran Ottoman hanya membentuk dua “Vilyet” atau Provinsi, yang berbatasan. Dan “Anak Daud” yang diharapkan kaum Yahudi akan datang dengan membawa atribut “Mesias terakhir”, mungkin mampu atau mungkin tidak mampu menguasai juga dua provinsi itu, dan disamping itu, kapan ia akan datang? Karena mestinya Ia sudah datang untuk menghancurkan “Binatang Buas” Romawi.

    “Binatang Buas” itu hanya dipotong-potong dan disembelih oleh Muhammad! Apa lagi yang diharapkan? Ketika Muhammad berhasil mendirikan Kerajaan Perdamaian (Islam), mayoritas kaum Yahudi di Arabia, Syria, Mesopotamia, dan sebagainya, secara sukarela berbondong-bondong kepada sang gembala umat manusia yang paling agung, ketika ia muncul dengan pukulan-pukulan dahsyat yang ia lontarkan kepada “kaum pagan yang tidak berprikemanusiaan”. Muhammad membangun sebuah persaudaraan yang universal, yang pangkalnya tentu saja adalah keluarga Ibrahim, termasuk di antara anggota-anggotanya adalah bangsa Persia, Turki, Cina, Negro, Jawa, Indian, Inggris, dan sebagainya, semuanya membentuk satu “ummah” atau “umtha da-Shlama” yakni bangsa Islam!

    Maka perolehan kembali tanah-tanah yang dijanjikan, termasuk tanah Kanaan dan semua wilayah dari sungai Nil sampai Eufrat, dan secara berangsur-angsur Kerajaan Allah meluas dari Lautan Pasifik sampai pantai-pantai Timur Atlantik, adalah suatu pemenuhan yang mengagumkan dari semua nubuat tentang Anak Manusia yang Paling Suci dan Paling Agung!

    Mengingat tugas raksasa yang dilaksanakan Muhammad demi Satu Tuhan Sejati, waktu singkat yang dihabiskan olehnya dan para sahabatnya yang berani dan setia dalam penyelesaian tugas itu, dan pengaruh-pengaruh yang dapat dilihat bahwa tugas dan agama Muhammad telah meninggalkan pada semua kerajaan dan para ahli pikir, kita tidak tahu penghargaan apa yang harus diberikan kepada Nabi Arabia ini, kecuali keinginan untuk melihatnya bersinar dalam kemuliaan yang dilipatduakan di hadapan Singgasana Yang Kekal sebagaimana dilihat Daniel dalam penglihatannya!

    ——————————————————————————–

    Footnotes

    81. Matius 20:28.
    82. ibid 20:18.
    83. Matius 11:19.
    84. ibid 18:11.
    85. Nama “Hebrew” (Ibrani) dalam arti luas diterapkan untuk semua keturunan Ibrahim, yang kemudian menerima nama-nama dari para pendahulu mereka masing-masing seperti Ismailiah (Ismaelites), Edomiah (Edomites), Israeliah (Israelites), dan seterusnya.
    86. Matius 11:19.
    87. Matius dan Zakheus (Matius 9:9, Lukas 19:1-11).
    88. Yohanes 4.
    89. Matius 13, dan seterusnya.
    90. Yohanes 2.
    91. Pelaku keajaiban atau sihir – penerj.
    92. Matius 13:11; Lukas 9:56; Lukas 19:10, dan seterusnya.
    93. Matius 16:21; Matius 17:12, dan seterusnya.
    94. Lukas 9:20.
    95. ibid (9:21) mengatakan, “Yesus melarang mereka dengan keras supaya mereka mereka jangan memberitahukan bahwa ia adalah mesias.” Bandingkan, Matius 16:29; Markus 8:30
    96. Loc. Cit., 21-28
    97. Matius 12:8.
    98. Keluaran 20:8.
    99. Matius 12:10-13.
    100. Matius 12:6.
    101. Matius 5:17-19.

    Balas
  144. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Anak Manusia Itu Adalah Muhammad
    Dalam artikel sebelumnya, saya telah menunjukkan bahwa “Anak Manusia” yang diramalkan dalam Apocalypse kaum Yahudi itu bukan Yesus Kristus, dan bahwa Yesus tidak pernah mengakui sebutan itu untuk dirinya, karena kalau benar itu diakui maka ia telah membuat dirinya sendiri menggelikan dimata para pendengarnya.

    Hanya ada dua jalan untuk dia: Mencela nubuat-nubuat mesianik dan pandangan-pandangan Apokaliptik tentang Barnasha sebagai pemalsuan dan dongengan, atau kalau tidak, memperkuatnya dan pada saat yang sama mengisi, jika ia sosok yang agung itu, jabatan “Anak Manusia.”

    Mengatakan, “Anak Manusia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani” 81 atau “Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat” 82, atau “Anak Manusia datang, ia makan dan minum [anggur]” bersama orang-orang berdosa dan pemungut cukai”83>, dan pada saat yang sama mengaku bahwa ia adalah seorang pengemis yang hidup dari kedermawanan dan kebaikan orang lain, bahwa ia akan mencemoohkan bangsanya dan perasaan-perasaan keagamaannya yang paling suci! Membanggakan bahwa ia adalah Anak Manusia dan telah datang untuk menyelamatkan dan menemukan Domba Israel yang hilang84, tapi harus menunda penyelamatan ini sampai Hari Kiamat, dan bahkan kemudian dilemparkan kedalam api abadi, adalah mengecewakan semua harapan orang-orang yang disiksa itu, dan bahwa ia sendirian yang mendapat kehormatan sebagai satu-satunya bangsa yang mengakui keimanan dan agama Tuhan yang sejati, dan hal itu menghinakan nabi-nabi dan Apocalypses mereka.

    Mungkinkah Yesus Kristus menerima gelar itu? Apakah pengarang dari empat kitab Injil itu adalah orang Yahudi? Mungkinkah Yesus dengan sungguh-sungguh mempercayai dirinya sebagai apa yang dinyatakan Injil-Injil palsu ini? Mungkinkah seorang Yahudi secara sungguh-sungguh menulis kisah-kisah seperti itu yang sengaja ditulis untuk membingungkan dan mengkandaskan harapan orang-orang itu? Tentu saja, selain dari jawaban yang menyangkal, tidak bisa diharapkan dari saya untuk pertanyaan-pertanyaan ini.

    Baik Yesus maupun rasul-rasulnya tidak akan pernah menggunakan gelar yang luar biasa ditengah-tengah suatu kaum yang sudah mengetahui pemilik yang sah dari nama panggilan itu. Hal itu dapat disamakan dengan meletakkan mahkota raja diatas kepala duta besarnya, si duta besar tidak punya tentara yang dapat memproklamirkannya sebagai raja. Hal itu hanyalah suatu perampasan yang gila atas hak-hak dan kehormatan dari Anak Manusia yang sah.

    Konsekuensinya, perampasan yang tidak bisa diberikan semacam itu dipihak Yesus adalah sama dengan penerimaan julukan “Anak Manusia Palsu” dan julukan Antikristus!

    Imajinasi tentang suatu tindakan serupa yang berani dipihak Yesus Kristus yang Suci membuat seluruh tabiat saya memberontak. Semakin saya membaca kitab-kitab Injil ini, semakin saya menjadi yakin bahwa kitab-kitab tersebut adalah bikinan – paling tidak dalam bentuk dan isinya sekarang ini– pengarang-pengarang selain dari kaum Yahudi.

    Kitab-kitab Injil ini merupakan imbangan dari wahyu (Apocalypses) Yahudi – khususnya sebagai proyek tandingan terhadap kitab-kitab kaum Sibyllian. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh kaum Kristen Yunani yang tidak tertarik dengan klaim “anak-anak Ibrahim”.

    Pengarang kitab-kitab Sabyllian duduk berdampingan dengan nabi-nabi Israel seperti Henoch, Sulaiman, Daniel, dan Ezra, nama-nama guru Yunani Hermes, Homer, Orpheus, Pyhagoras, dan lain-lain, jelas-jelas dengan sasaran mengadakan propaganda untuk agama orang Yahudi. Kitab-kitab ini ditulis ketika Yerusalem dan bait dalam keadaan hancur, suatu waktu sebelum atau diterbitkannya Apocalypse Yohanes. Maksud dari Apocalypse Sibyllian adalah bahwa Anak Manusia Ibrani (Hebrew) 85 atau sang Mesias akan datang untuk menghancurkan kekuasaan Romawi dan menegakkan agama Tuhan sejati untuk semua manusia.

    Kita dapat membuat banyak argumen yang masuk akal untuk membuktikan identitas “Anak Manusia” dengan Muhammad saja, dan saya akan membagi argumen-argumen ini sebagai berikut:

    Argumen dari Kitab-kitab Injil dan dari Apocalypse

    Dalam pasal-pasal yang paling penting dan bertalian secara logis dari khotbah-khotbah Yesus dimana julukan “Barnasha” – atau “Anak Manusia”- muncul, hanya Muhammad yang dimaksudkan, dan hanya pada dirinya saja ramalan yang terkandung di dalamnya benar-benar terpenuhi.

    Dalam beberapa pasal, dimana Yesus dianggap telah menerima gelar itu untuk dirinya, pasal itu menjadi tidak logis, bodoh, dan sama sekali kabur. Ambil contoh pasal berikut. “Anak Manusia datang, ia makan dan minum, dan mereka berkata,”Lihatlah….”86

    Yohanes Pembaptis adalah seorang peminum minuman keras, ia hanya minum air, makan belalang, dan madu liar, mereka berkata ia adalah seorang yang kejam. Tetapi Anak Manusia, id est Yesus (?), yang makan dan minum anggur, dicap sebagai “teman para pemungut cukai dan orang-orang berdosa”.

    Menyalahkan seorang nabi karena ia berpuasa dan menahan nafsu merupakan dosa ketidaksetiaan dan kebodohan yang besar. Tetapi mencela seseorang yang mengaku sebagai seorang Pesuruh Tuhan karena sering-sering mengunjungi perjamuan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, dan karena suka minum anggur, adalah sangat wajar dan suatu tuduhan serius terhadap ketulusan hati orang itu yang menganggap diri sebagai pembimbing spiritual manusia.

    Dapatkah kita kaum Muslim mempercayai ketulusan hati seorang Khwaja atau Mullah ketika kita melihat dia bergaul dengan pemabuk dan pelacur? Dapatkah umat Kristiani betah dengan seorang Pendeta atau Pastor yang berkelakuan sama? Pasti tidak. Seorang pembimbing spiritual bisa saja bergaul dengan semua jenis pendosa dalam rangka untuk mengubah dan memperbaiki mereka, asalkan ia tidak mabuk, bebas dari minuman keras, dan tulus.

    Menurut kutipan yang baru saja disebutkan, Yesus mengakui bahwa perilakunya telah mempermalukan para pemimpin keagamaan dan bangsanya. Benar, bahwa para petugas pabean, yang disebut publican (Pemungut cukai), dibenci oleh kaum Yahudi hanya karena jabatan mereka. Kita hanya diberitahu dua publican87 dan satu Harlot8 dan satu perempuan “kesurupan” yang diubah oleh Yesus [menjadi pengikutnya], tetapi semua pendeta dan ahli hukum dicap dengan kutuk dan laknat 89. Semua ini kelihatan aneh dan tak masuk akal.

    Ide atau pemikiran bahwa seorang Nabi suci, yang begitu suci dan tanpa dosa seperti Yesus, gemar akan anggur, bahwa ia mengubah enam galon air menjadi anggur yang paling memabukkan untuk membuat gila serombongan besar tamu yang sudah agak mabuk dalam gedung perkawinan di Kana 10, benar-benar menggambarkan dia sebagai seorang tukang tipu dan tukang sihir!

    Pikirkanlah tentang keajaiban yang dilakukan oleh seorang thaumaturge 91 didepan reruntuhan para pemabuk! Menggambarkan Yesus sebagai seorang pemabuk, dan rakus, dan teman orang yang tidak karuan, dan kemudian memberinya gelar “Anak Manusia” berarti menyangkal semua Apocalypse dan agama Yahudi.

    Lagi-lagi Yesus dilaporkan telah berkata bahwa, “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” 92. Para juru tafsir tentu saja menafsirkan pasal ini hanya dalam makna spiritual. Benar, adalah misi dan tugas dari setiap nabi dan pengkhotbah agama mengajak para pendosa untuk menyesali dosa dan kejahatannya.

    Kita benar-benar mengakui bahwa Yesus diutus hanya untuk “domba Israel yang hilang”, untuk memperbaiki dan mengubah mereka dari dosa, dan khususnya untuk mengajarkan kepada mereka secara jelas mengenai “Anak Manusia” yang akan datang dengan membawa kekuatan dan keselamatan untuk mengembalikan yang hilang dan membangun kembali yang hancur; tidak, menaklukkan dan menghancurkan musuh kaum beriman yang sejati.

    Yesus tidak tidak dapat menerima untuk dirinya gelar Apocaliptic “Barnasha” itu, dan kemudian tidak dapat menyelamatkan kaumnya, kecuali Zakheus, seorang perempuan Samaria, dan segelintir orang Yahudi lainnya, termasuk beberapa rasul, yang kebanyakan dibunuh sesudah itu karena dia. Paling mungkin yang Yesus katakan adalah, “Anak Manusia akan datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” . Karena hanya pada Muhammad sajalah maka kaum Yahudi yang beriman dan juga bangsa Arab dan orang-orang beriman lainnya menemukan semua yang tidak dapat diperbaiki, hilang, dan hancur –Yerusalem dan Mekah, semua wilayah yang dijanjikan; banyak kebenaran tentang agama sejati, kekuasaan dan kerajaan Tuhan; kedamaian dan berkat yang dianugerahkan Islam didunia ini dan dunia yang akan datang.

    Kita tidak dapat memberikan ruang untuk kutipan-kutipan lebih jauh dari banyak pasal dimana “Anak Manusia” muncul sebagai subyek atau obyek atau predikat dari kalimat. Tetapi cukup dengan satu kutipan lagi, yaitu “Anak Manusia akan diserahkan ketangan-tangan manusia” 93 dan seterusnya, dan semua pasal dimana ia dijadikan subyek nafsu dan kematian. Ucapan-ucapan seperti itu diletakkan pada mulut Yesus oleh penulis non-Yahudi yang curang dengan tujuan menyelewengkan kebenaran tentang “Anak Manusia” seperti yang dipahami dan diyakini oleh kaum Yahudi, dan membuat mereka percaya bahwa Yesus dari Nazaret adalah Juru Selamat yang disebutkan dalam Wahyu, tetapi ia hanya akan muncul di Hari Kiamat.

    Itulah kebijakan dan propaganda yang licik tentang contoh suatu perbuatan, dan kemudian persuasi yang sengaja dilakukan untuk kaum Yahudi. Namun penipuan itu terbongkar, dan kaum Kristen Yahudi menjadi anggota Gereja yang tetap menganggap kitab-kitab Injil ini sebagai wahyu Ilahi. Karena tidak ada yang lebih menjijikkan bagi cita-cita kebangsaan dan sentimen keagamaan Yahudi daripada menghadirkan kepada mereka sang Mesias yang ditunggu-tunggu dalam wujud Yesus yang dihukum salib oleh para imam kepala dan para tetua sebagai seorang penggoda!

    Oleh karena itu, sangatlah jelas bahwa Yesus tidak pernah menyandang gelar “Anak Manusia”, tetapi ia mencanangkannya hanya untuk Muhammad, dan inilah beberapa argumennya:

    Apocalypses Yahudi menisbahkan gelar “Mesias” dan “Anak Manusia” semata-mata untuk Nabi Terakhir yang akan berjuang melawan kuasa-kuasa gelap dan menaklukkan mereka, dan kemudian akan menegakkan Kerajaan Perdamaian dan Kerajaan Cahaya di muka bumi. Dengan demikian, kedua gelar itu sinonim, memungkiri salah satunya berarti sama sekali memungkiri klaim sebagai Nabi Terakhir.

    Kini kita membaca dalam Synoptic bahwa Yesus mentah-mentah menolak dirinya sebagai kristus dan melarang murid-muridnya menyatakan dia sebagai sang “mesias”! dilaporkan bahwa Simon Petrus, ketika menjawab pertanyaannya Yesus, “Menurut kamu, siapakah aku ini?” Dijawab, “Engkau adalah kristus (mesias) dari Allah 94. Kemudian Yesus memerintahkan muridnya untuk tidak mengatakan kepada siapapun bahwa ia adalah kristus15.

    Markus dan Lukas tidak tahu apa-apa tentang “kekuasaan kunci-kunci” yang diberikan kepada Petrus. Mereka, karena tidak berada disana, tidak mendengarnya. Yohanes tidak berkomentar apa-apa tentang percakapan mesianistik ini, barangkali ia telah melupakannya!

    Matius melaporkan 96 bahwa ketika Yesus menyuruh mereka agar tidak memberitahukan bahwa ia adalah Kristus, ia menjelaskan kepada mereka bagaimana ia akan diserahkan dan dibunuh. Lalu Petrus mulai memarahi dan memperingatkannya agar tidak mengulangi kata-kata yang sama tentang keinginan besar dan kematiannya.

    Menurut cerita dari Matius ini, Petrus seratus persen benar ketika mengatakan, “Guru, walaupun jauh darimu, jika benar bahwa pengakuannya, “Engkau adalah Mesias”, menyenangkan Yesus, siapa yang menganugerahkan gelar “Sapha” atau “Cepha” pada Simon, kemudian menyatakan bahwa “Anak Manusia” mengalami kematian yang tercela diatas salib adalah penolakan mentah-mentah akan sifat mesianiknya. Tetapi Yesus menjadi lebih positif dan dengan marah mencerca Petrus dengan mengatakan, “Berdirilah engkau dibelakangku, Setan! Menyusul kemarahan yang pedas ini adalah kata-kata sang Guru yang paling tegas dan menegaskan bahwa ia bukan “Mesias” atau “Anak Manusia”.

    Bagaimana mendamaikan “keyakinan” Petrus, dibalas dengan gelar yang agung “Sapha” dan kekuasaan kunci-kunci Surga dan Neraka, dengan “ketidaksetiaan” Petrus yang dihukum dengan sebutan hina “Setan”, dalam waktu kira-kira setengah jam? Beberapa pemikiran muncul sendiri dalam benak saya, dan saya merasa itu tugas yang merupakan panggilan kata hati saya untuk menguraikannya secara tertulis.

    Jika Yesus adalah sang “Anak Manusia” seperti yang dilihat dan diramalkan oleh Daniel, Ezra, Henoch, dan nabi-nabi Yahudi lainnya, maka ia sudah menyuruh murid-muridnya untuk memproklamirkan dan menyatakan dirinya demikian, dan ia sendiri akan mendukung mereka. Namun, faktanya adalah bahwa ia benar-benar berbuat sebaliknya.

    Lagi-lagi jika ia adalah Mesias, atau Barnasha, maka ia akan segera meneror musuh-musuhnya, dan dengan bantuan para malaikatnya yang gaib, menghancurkan Kerajaan Romawi dan Persia, kemudian menguasai dunia yang beradab. Namun justru Yesus tidak melakukan hal semacam itu, atau seperti Muhammad, ia akan merekrut pejuang-pejuang yang gagah berani seperti Ali, Umar, Khalid, dan seterusnya, dan bukan seperti Zebedee dan Jonas, yang menghilang, seperti hantu yang menakutkan ketika polisi Romawi datang untuk menangkap mereka.

    Ada dua pernyataan yang tidak dapat didamaikan yang dikemukakan oleh Matius (atau diselewengkan oleh penyisipnya), yang secara logis saling menghancurkan. Dalam satu jam Petrus adalah “Batu Keyakinan”, sebagaimana dibanggakan oleh agama Katolik, namun disisi lain dicap juga sebagai “Setan Ketidaksetiaan”, sebagaimana diejek oleh agama Protestan! Mengapa demikian? Karena ketika ia percaya Yesus sebagai Mesias, maka ia diberi ganjaran, tetapi ketika ia ia menolak untuk mengakui bahwa gurunya bukan mesias, maka ia dihukum!

    Tidak ada dua “Anak Manusia”, yang satu sebagai pemimpin orang beriman, dengan pedang ditangan berperang demi Tuhan, dan melenyapkan kemusyrikan, kerajaan musuh hingga keakar-akarnya, sedangkan satunya lagi sebagai Kepala Biara Kaum Anchorite yang malang di puncak Calvary, berjuang dalam perang demi Tuhan dengan salib ditangan dan mati secara memalukan oleh orang-orang Romawi musyrik dan para imam Uskup dan Rabbi Yahudi yang tidak percaya!

    “Anak Manusia” yang tangan-tangannya terlihat oleh nabi Yehezkiel dibawah sayap Kerub-kerub (2) dan didepan singgasana Tuhan oleh nabi Daniel (7), dan digambarkan oleh Apocalypse Yahudi lainnya, tidak ditakdirkan untuk digantung diatas Golgota, tetapi untuk mengubah tahta para raja penyembah berhala menjadi salib bagi mereka sendiri, untuk mengubah istana-istana mereka menjadi calvary , dan membuat kuburan-kuburan kota-kota besar mereka.

    Bukan Yesus, melainkan Muhammad, yang mendapat kehormatan untuk menyandang gelar “Anak Manusia”! Fakta-fakta yang ada lebih mengesankan ketimbang Apocalypses dan Penglihatan-penglihatan sekalipun. Kesuksesan dari penaklukan-penaklukan material dan moral yang dicapai oleh Muhammad atas musuh-musuhnya tidak ada yang mampu menandinginya.

    “Anak Manusia” disebut oleh Yesus sebagai “Tuhan atas hari Sabat”97. Hal ini memang sangat luar biasa, kesucian hari ketujuh merupakan tema Hukum Musa. Tuhan menyelesaikan pekerjaan penciptaan selama enam hari, dan pada hari ketujuh Dia beristirahat dari semua pekerjaan. Laki-laki dan perempuan, anak-anak dan budak, bahkan binatang-binatang piaraan beristirahat dari semua pekerjaan dalam sakit kematian.

    Firman keempat dari Decalogue memerintahkan Bani Israel, “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat”98. Para pengkaji Alkitab (Bibel) tahu betapa Tuhan cemburu mengenai pelaksanaan yang ketat atas Hari Istirahat. Sebelum Musa, tidak ada ketentuan khusus mengenai ini, dan para Patriarch pengembara tidak menjalankannya. Besar kemungkinan bahwa kata Sabath kaum Yahudi asalnya dari Sabattu bangsa Babylonia .

    Al-Qur’an tidak mau mengakui konsep kaum Yahudi mengenai anthropomorphus (keserupaan dengan manusia) Tuhan, karena itu berarti mengatakan, jika seperti manusia, Tuhan bekerja enam hari, merasa letih, istirahat, dan tidur. Ayat suci Al-Qur’an karenanya mengatakan:

    “Dan sesungguhnya telah kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan” (QS Qaf [50]:38)

    Gagasan kaum Yahudi tentang Sabath telah menjadi sangat meteri dan membahayakan. Bukannya menjadikan hari itu sebagai hari istirahat yang menyenangkan dan liburan yang menggembirakan, malah telah diubah menjadi hari yang penuh pemantangan dan pengurungan. Tidak boleh memasak, tidak boleh jalan-jalan, dan tidak boleh beramal atau berderma.

    Para pendeta di bait membakar roti dan mengadakan korban di hari Sabat, tetapi mencemooh Nabi dari Nazaret ketika ia menyembuhkan secara ajaib seorang yang tangannya mati sebelah99. Terhadap hal ini, Yesus berkata bahwa hari Sabat itu diadakan untuk kebaikan manusia, dan bukannya manusia untuk kebaikan hari Sabat. Bukannya menjadikan hari itu sebagai hari Kebaktian dan kemudian hari rekreasi, hari kesenangan yang tidak merusak, dan hari istirahat yang sesungguhnya, mereka malahan menjadikan Hari Sabat sebagai hari pemenjaraan yang membosankan.

    Pelanggaran terkecil atas aturan apapun berkenaan dengan hari ketujuh dihukum dengan beberapa jenis hukuman. Musa sendiri menghukum seorang lelaki miskin karena telah memungut beberapa tongkat dari tanah pada Hari Sabat; dan murid-murid Yesus dimarahi karena memetik beberapa bulir jagung pada Hari Sabath, meskipun mereka lapar. Jelas sekali, bahwa Yesus Kristus bukan seorang Sabatarian dan tidak mengikuti penafsiran harfiah dari peraturan-peraturan drakonik tentang Hari Sabath. Ia menginginkan kasih sayang atau perbuatan baik dan bukan pemberian korban.

    Meskipun demikian Yesus tidak pernah berpikir untuk menghapus Hari Sabath, tidak juga untuk mencoba melakukannya. Seandainya ia mencoba mengganti hari tersebut dengan hari minggu, sudah pasti ia akan ditinggalkan oleh para pengikutnya. Tetapi, pendek ia, pendek kata, menjalankan hukum Musa. Sebagaimana kita ketahui dari sejarawan Yahudi, Joseph Flavius, dan dari Eusebius, dan lain-lain, Yakobus “saudara” Yesus adalah seorang Ibionite yang keras yang kepala kaum Kristen Yudaistik yang menjalankan Hukum Musa dan Sabath dengan segala kekakuannya.

    Kaum Kristen Helenistik secara berangsur-angsur menggantikan lebih dahulu “Hari Tuhan” yaitu hari Minggu, tetapi Gereja-gereja Timur sampai abad keempat menghormati kedua hari itu.

    Nah, jika Yesus adalah “Tuhan atas Hari Sabat”, maka pasti ia sudah mengubah hukum-hukumnya yang keras atau sama sekali menghapusnya. Namun, ia tidak melakukannya. Kaum Yahudi yang mendengarkannya dan memahami dengan baik bahwa ia menunjuk kepdaa Mesias yang diharapkan sebagai “Tuhan atas Hari Sabat”, dan itulah sebabnya mengapa mereka bungkam.

    Redaktur dari Synoptics, di sini seperti di mana-mana, telah menyembunyikan sebagian ucapan Yesus apabila “Anak Manusia” menjadi subyek ceramahnya, dan penyembunyian ini adalah penyebab dari semua ambiguitas, kontradiksi, dan kesalahpahaman ini.

    Kalau kita tidak mengambil al-Qur’an sebagai pedoman, dan Rasul Allah sebagai objek alkitab, maka semua upaya untuk menemukan kebenaran dan untuk sampai pada kesimpulan yang memuaskan akan berakhir dalam kegagalan.

    Higher Biblical Criticism akan membimbing Anda sampai ke pintu gerbang tempat kebenaran yang keramat dan disana ia berhenti dan diliputi perasaan khidmat dan rasa tidak percaya. Ia tidak membuka pintu untuk masuk kedalam dan mencari dokumen-dokumen abadi yang tersimpan didalamnya. Semua penelitian dan pengetahuan yang ditunjukkan oleh kritikus-kritikus yang “obyektif” ini, apakah para pemikir liberal, rasionalis, atau penulis biasa, betapapun secara menyedihkan tidak tertarik, skeptis, dan mengecewakan.

    Belakangan ini saya membaca larya-karya sarjana Perancis Ernest Renan, La vie de Jesus, Saint Paul , dan L’Antichrist . Saya heran dengan banyaknya karya, kuno, dan modern yang telah ia teliti. Ia mengingatkan saya pada Gibbon dan lain-lainnya. Tetapi, aduh, apa kesimpulan dari riset dan kajian mereka yang tak kenal lelah itu? Nol atau tidak ada! Dalam bidang sains, keajaiban-keajaiban alam ditemukan oleh kaum Positivis, tetapi dalam bidang keagamaan, kaum Positivis ini menarik keuntungan darinya dan meracuni sentimen keagamaan kepada para pembacanya. Jika para kritikus terpelajar ini mengambil spirit Al-Qur’an sebagai pembimbing mereka dan Muhammad sebagai pemenuhan harfiah, moral, dan praktis dar Penulisan Suci, maka riset mereka tidak akan begitu tidak karuan dan destruktif.

    Orang-orang yang shaleh menginginkan sebuah agama yang riil dan bukan yang ideal. Mereka menginginkan seorang “Anak Manusia” yang akan menarik pedangnya dan berbaris didepan pasukannya yang gagah berani untuk menghancurleburkan musuh-musuh Tuhan dan membuktikan dengan ucapan dan perbuatan bahwa ia adalah “Tuhan atas Hari Sabat”, dan mencabut sebutan itu sama sekali, karena telah dikacaukan oleh kaum Yahudi, sebagaimana “Kebapakan” Tuhan telah dikacaukan oleh kaum Kristen. Dan Muhammad benar-benar melakukan ini.

    Sebagaimana sudah sering saya ulangi dalam halaman-halaman ini, kita hanya dapat memahami kitab-kitab suci yang diselewengkan, ketika kita menembus dengan bantuan cahaya Al-Qur’an kedalam pernyataannya yang membingungkan dan bertentangan, dan hanya setelah itu baru kita dapat menyaring mereka dengan saringan kebenaran dan memisahkan yang asli dari yang palsu.

    Ketika, misalnya, berbicara tentang para imam yang secara terus-menerus melarutkan Sabat dalam Bait, Yesus dilaporkan telah berkata, “ Behold, here is one that is greater than the Temple [Lihat, inilah yang lebih hebat dari Bait Allah] 100. Saya tidak dapat menerka arti keberadaan kata keterangan “here” dalam anak kalimat ini, kalau kita tidak membubuhkan tambahan huruf “t” sehingga menjad “there”. Karena, jika Yesus ataupun nabi sebelumnya harus punya keberanian untuk menyatakan diri “lebih hebat dari Bait Allah”, mungkin ia sudah langsung dihukum mati oleh kaum Yahudi sebagai seorang “penghina”, kecuali kalau ia dapat membuktikan dirinya sebagai Anak Manusia, yang diberi kekuasaan dan kebesaran, sebagaimana Rasul Allah.

    Penghapusan Sabtu oleh pangeran para nabi –Muhammad– diisyaratkan dalam Al-Qur’an Surah al-Jumu’ah. Sebelum Muhammad, bangsa Arab menyebut hari Jum’at “al-A’ruba” yang sama dengan Pshittha Syriac “A’rubta” dari bahasa Arami “Arabh” –”membenamkan (matahari)”. Disebut begitu karena setelah terbenamnya matahari pada hari jum’at maka hari Sabat dimulai.

    Alasan yang diberikan mengenai kesakralan Hari Sabtu adalah bahwa pada hari itu Tuhan “beristirahat” dari pekerjaan menciptanya. Tapi alasan untuk pilihan hari Jum’at, seperti dapat dipahami dengan mudah, ada dua:

    Pertama , karena pada hari ini kerja besar penciptaan, atau pembentukan alam semesta yang terdiri dari banyak sekali dunia, makhluk-makhluk nyata dan gaib, planet-planet, dan mikroba-mikroba disempurnakan. Ini adalah kejadian pertama yang menyela keabadian, ketika waktu, ruang, dan materi mewujud. Perayaan, peringatan, dan kesucian dari kejadian yang luar biasa seperti itu pada hari dimana ia dicapai adalah sangat masuk akal, dan bahkan perlu.

    Kedua , bahwa pada hari ini doa dan kebaktian diadakan oleh orang-orang beriman dengan suara bulat, dan karena alasan inilah maka hari ini disebut “jumu’ah”, yang artinya, kumpulan manusia atau majelis. Ayat mengenai pokok bahasan ini menunjukkan kewajiban kita pada hari Jum’at:

    “Hai orang-orang yang beriman! Apabila engkau diseru untuk menunaikan sembahang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. … dan seterusnya ” (QS Al-Jumu’ah [62]:9)

    Orang-orang beriman diseru untuk bergabung dalam kebaktian bersama dalam sebuah rumah yang dipersembahkan untuk penyembahan Tuhan, dan untuk sementara meninggalkan dulu setiap perniagaan apa pun, tetapi seusai sembahyang jama’ah, mereka tidak dilarang untuk kembali bekerja seperti biasa. Seorang Muslim sejati dalam duapuluh empat jam menyembah Penciptanya tiga sampai lima kali dalam shalat dan doa.

    Kita sudah membuat beberapa ulasan mengenai bagian dalam Matius (18:11) di mana misi “Anak Manusia” adalah “mencari dan menyelamatkan yang hilang”. Inilah ramalan penting lainnya–meskipun pasti diubah bentuknya–tentang Muhammad, atau Barnasha. “Hal-hal yang hilang” ini yang akan dicari dan diselamatkan oleh sang Barnasha ada dua kategori, keagamaan dan kebangsaan.

    Mari kita bahas keduanya secara terperinci:

    Misi Barnasha adalah mengembalikan kemurnian dan keuniversalan agama Ibrahim yang telah hilang. Semua kaum dan suku keturunan dari bapak kaum beriman itu akan dibawa masuk ke dalam lipatan “Agama Perdamaian” yang tak lain adalah “Dina da-Shlama,” atau Agama Islam.

    Agama Musa bersifat kebangsaan dan khusus, dan oleh karena itu kependetaannya yang turun-temurun, pengorbanan Levitikus dan ritus-ritusnya yang megah, hari-hari Sabatnya, hari-hari peringatannya, dan perayaan-perayaannya, dan semua hukum dan kitab-kitab sucinya yang diubah akan dihapuskan dan diganti oleh yang baru yang mempunyai ciri universal, kekuatan, dan daya tahan. Yesus adalah orang Yahudi; ia tidak mampu menyelesaikan tugas raksasa yang hebat seperti itu karena secara materi mustahil dikerjakan olehnya. “Aku datang bukan untuk mengganti hukum [Taurat] atau para nabi.”101 katanya.

    Di lain pihak, kemusyrikan yang melampaui batas, dengan semua praktek pagan, ketakhayulan, dan ilmu sihirnya yang buruk sekali, untuk mana bangsa Arab kecanduan dengan semua itu, sama sekali telah disapu bersih, dan ke-satu-an Tuhan dan agama dikembalikan di bawah bendera Rasul Allah yang mengemban Inskripsi Suci, “Aku bersaksi bahwa tidak ada yang disembah selain Allah; dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”

    Penyatuan bangsa-bangsa keturunan Ibrahim dan tanah-tanah tempat mereka berdiam harus dikembalikan dan dikerjakan.

    Diantara banyak gagasan yang dubah, yang bersifat mementingkan diri sendiri, bodoh, dan tidak dapat dibenarkan yang terkandung dalam kitab-kitab suci Yahudi adalah prasangka sembarangan yang mereka lontarkan terhadap bangsa-bangsa non-Israel. Mereka tidak pernah menghormati keturunan lainnya dari leluhur mereka yang agung, Ibrahim; dan antipati ini ditunjukkan kepada kaum Ismailiah, Edomiah, dan suku-suku Ibrahimiah lainnya. Fakta bahwa disamping Ibrahim dan Ismail sekitar tiga ratus sebelas budak dan pejuang laki-laki disunat adalah argumen yang dipaksakan untuk sikap kaum Yahudi terhadap bangsa-bangsa sepupu mereka.

    Kerajaan Daud hampir tidak memperluas perbatasan keluar wilayah yang dalam Kekaisaran Ottoman hanya membentuk dua “Vilyet” atau Provinsi, yang berbatasan. Dan “Anak Daud” yang diharapkan kaum Yahudi akan datang dengan membawa atribut “Mesias terakhir”, mungkin mampu atau mungkin tidak mampu menguasai juga dua provinsi itu, dan disamping itu, kapan ia akan datang? Karena mestinya Ia sudah datang untuk menghancurkan “Binatang Buas” Romawi.

    “Binatang Buas” itu hanya dipotong-potong dan disembelih oleh Muhammad! Apa lagi yang diharapkan? Ketika Muhammad berhasil mendirikan Kerajaan Perdamaian (Islam), mayoritas kaum Yahudi di Arabia, Syria, Mesopotamia, dan sebagainya, secara sukarela berbondong-bondong kepada sang gembala umat manusia yang paling agung, ketika ia muncul dengan pukulan-pukulan dahsyat yang ia lontarkan kepada “kaum pagan yang tidak berprikemanusiaan”. Muhammad membangun sebuah persaudaraan yang universal, yang pangkalnya tentu saja adalah keluarga Ibrahim, termasuk di antara anggota-anggotanya adalah bangsa Persia, Turki, Cina, Negro, Jawa, Indian, Inggris, dan sebagainya, semuanya membentuk satu “ummah” atau “umtha da-Shlama” yakni bangsa Islam!

    Maka perolehan kembali tanah-tanah yang dijanjikan, termasuk tanah Kanaan dan semua wilayah dari sungai Nil sampai Eufrat, dan secara berangsur-angsur Kerajaan Allah meluas dari Lautan Pasifik sampai pantai-pantai Timur Atlantik, adalah suatu pemenuhan yang mengagumkan dari semua nubuat tentang Anak Manusia yang Paling Suci dan Paling Agung!

    Mengingat tugas raksasa yang dilaksanakan Muhammad demi Satu Tuhan Sejati, waktu singkat yang dihabiskan olehnya dan para sahabatnya yang berani dan setia dalam penyelesaian tugas itu, dan pengaruh-pengaruh yang dapat dilihat bahwa tugas dan agama Muhammad telah meninggalkan pada semua kerajaan dan para ahli pikir, kita tidak tahu penghargaan apa yang harus diberikan kepada Nabi Arabia ini, kecuali keinginan untuk melihatnya bersinar dalam kemuliaan yang dilipatduakan di hadapan Singgasana Yang Kekal sebagaimana dilihat Daniel dalam penglihatannya!

    ——————————————————————————–

    Footnotes

    81. Matius 20:28.
    82. ibid 20:18.
    83. Matius 11:19.
    84. ibid 18:11.
    85. Nama “Hebrew” (Ibrani) dalam arti luas diterapkan untuk semua keturunan Ibrahim, yang kemudian menerima nama-nama dari para pendahulu mereka masing-masing seperti Ismailiah (Ismaelites), Edomiah (Edomites), Israeliah (Israelites), dan seterusnya.
    86. Matius 11:19.
    87. Matius dan Zakheus (Matius 9:9, Lukas 19:1-11).
    88. Yohanes 4.
    89. Matius 13, dan seterusnya.
    90. Yohanes 2.
    91. Pelaku keajaiban atau sihir – penerj.
    92. Matius 13:11; Lukas 9:56; Lukas 19:10, dan seterusnya.
    93. Matius 16:21; Matius 17:12, dan seterusnya.
    94. Lukas 9:20.
    95. ibid (9:21) mengatakan, “Yesus melarang mereka dengan keras supaya mereka mereka jangan memberitahukan bahwa ia adalah mesias.” Bandingkan, Matius 16:29; Markus 8:30
    96. Loc. Cit., 21-28
    97. Matius 12:8.
    98. Keluaran 20:8.
    99. Matius 12:10-13.
    100. Matius 12:6.
    101. Matius 5:17-19.

    Balas
  145. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    “Anak manusia”, Siapakah Dia?
    Al-Qur’an mengemukakan kepada kita Yesus Kristus sejati sebagai “Putra Maria (Maryam)”; dan kitab-kitab Injil pun menunjukkan dia sebagai putra Maria; tapi Injil yang ditulis pada lembaran-lembaran hati Yesus dan disampaikan kepada para murid secara lisan itu, waduh! dicampuri dengan banyak sekali mitos dan legenda. “Anak Maria” menjadi “Anak Yusuf” yang memiliki saudara laki-laki dan perempuan 56. Kemudian ia menjadi “Anak Daud” 57, “Anak Manusia”58, “Anak Tuhan” 59, “Anak” saja 60, “Kristus” 61, dan “Domba” 62.

    Beberapa tahun silam, satu hari saya mengunjungi Exeter Hall di London; ketika itu saya seorang pendeta Katolik; nolens volens saya dipimpin ke Hall tersebut dimana seorang dokter laki-laki muda mulai berpidato dalam pertemuan Young Men’s Christian Association. “Saya ulangi apa yang sudah sering saya katakan” seru si dokter, “Yesus Kristus adalah pasti seperti yang diakuinya dalam kitab Injil, atau kalau tidak, ia pasti penipu ulung terbesar yang penah dunia saksikan!” Saya tidak pernah melupakan statement dogmatis ini. Yang ingin ia katakan ialah bahwa Yesus adalah Anak Tuhan atau ,kalau bukan, penipu ulung terbesar.

    Jika Anda menerima hipotesis pertama, maka Anda adalah seorang Kristiani, seorang penganut Trinitas; jika yang kedua, maka Anda adalah seorang Yahudi kafir. Tapi kita yang tidak menerima kedua pernyataan ini sudah pasti kaum Muslim Ahlutauhid.

    Sebagai Muslim kita tidak dapat menerima satu pun dari dua gelar yang diberikan kepada Yesus Kristus dalam pengertian yang dianggap oleh Gereja dan Kitab-kitab Suci mereka yang tidak dapat dipercaya berasal dari sebutan-sebutan itu. Belum lagi ia adalah “Anak Tuhan”, dan belum lagi “Anak Manusia”, karena jika dibolehkan memanggil Tuhan “Bapak”, maka tidak hanya Yesus, tetapi setiap nabi dan orang shaleh pun adalah “anak Tuhan”.

    Dengan cara yang sama, jika Yesus benar-benar anak Yusuf Tukang Kayu, dan mempunyai empat saudara dan beberapa saudara perempuan yang sudah kawin sebagaimana anggapan Kitab Injil, lantas mengapa hanya dia yang harus menerima sebutan asing “Anak Manusia” ini yang lazim bagi manusia?

    Kelihatan bahwa para pendeta, pastor, teolog dan apologis Kristen ini memiliki logika berpikir sendiri dan kecenderungan khusus akan berbagai misteri dan kemustahilan. Logika mereka tidak mengenal medium, tidak mengenal perbedaan istilah, dan tidak mempunyai ide yang pasti mengenai gelar-gelar dan sebutan-sebutan yang mereka gunakan. Mereka memiliki selera yang patut ditiru akan statemen-statemen yang tidak dapat didamaikan kembali dan saling kontraproduktif yang hanya mereka sendiri yang dapat menelannya layaknya telur-telur matang.

    Mereka dapat mempercayai tanpa ada keraguan sedikit pun bahwa Maria adalah perawan dan juga seorang istri, bahwa Yusuf adalah pasangan dan juga suami, bahwa Yakobus, Yoses, Simon, dan Yudas adalah sepupu Yesus dan sekaligus saudara-saudaranya, bahwa Yesus adalah Tuhan yang sempurna dan manusia yang sempurna, dan bahwa “anak Tuhan”, “Anak Manusia”, “Domba”, dan “anak Daud” semuanya adalah satu oknum yang sama itu-itu juga! Mereka menghidupkan sendiri doktin-doktin yang beraneka ragam dan saling bertentangan yang ditunjukkan oleh istilah-istilah ini dengan selera yang sama rakusnya dengan yang mereka rasakan terhadap daging babi dan telur-telur saat makan pagi. Mereka tidak pernah berpikir dan merenungkan objek yang mereka sembah, mereka memuja patung Kristus dan Yang Maha Kuasa seakan-akan mereka mencium tanda salib berdarah dari pembunuh saudara mereka dihadapan bapaknya!

    Saya tidak percaya ada satu pun orang Kristen dalam sepuluh juta yang benar-benar mempunyai gagasan yang jelas atau pengetahuan yang pasti mengenai asal mula dan pengertian yang sebenarnya dari istilah “Anak Manusia”. Semua Gereja dan tanpa terkecuali para juru tafsir mereka akan mengatakan kepada Anda bahwa “Anak Tuhan” menerima sebutan “Anak Manusia” atau “Barnasha” diluar kemanusiaan dan kelembutan hati, tidak pernah mengetahui bahwa kitab Wahyu kaum Yahudi, dimana hati dan jiwa Yesus dan murid-muridnya mempercayai, meramalkan bukan “Anak Manusia” yang akan berlembut hati, sederhana, tidak mempunyai tempat untuk berbaring, dan diserahkan ketangan pelaku kejahatan dan pembunuh, melainkan seorang manusia kuat dengan kekuasaan dan kekuatan yang luar biasa untuk menghancurkan dan membubarkan burung-burung pemangsa dan binatang-binatang buas yang ganas yang merobek-robek dan melahap domba-domba dan kambing-kambingnya!

    Kaum Yahudi yang mendengar Yesus berbicara mengenai “Anak Manusia” memahami benar kepada siapa ia menyinggung. Yesus tidak membuat-buat nama “Barnasha”, tetapi meminjamnya dari kitab suci kaum Yahudi: Kitab Enoch, kitab-kitab Sibylline, Anggapan Musa, Kitab Daniel, dan sebagainya.

    Mari kita kaji asal mula dari gelar “Barnasha” atau “Anak Manusia” ini.

    “Anak Manusia” adalah Nabi Terakhir, yang menegakkan “Kerajaan Perdamaian” dan menyelamatkan orang-orang beriman dari perbudakan dan penyiksaan dibawah kekuasaan berhala Setan.

    Gelar “Barnasha” adalah suatu ungkapan simbolis untuk membedakan sang Juru Selamat untuk orang-orang beriman yang digambarkan sebagai “domba”, dan bangsa-bangsa pagan lainnya dibumi digambarkan sebagai “spesies burung pemangsa, binatang buas, dan hewan-hewan najis”.

    Nabi Yehezkiel hampir selalu disebut oleh Tuhan sebagai “Ben Adam” (Anak Adam) dalam arti Gembala Domba Israel. Nabi ini juga mempunyai beberapa bagian wahyu dalam kitabnya. Dalam penglihatan pertamanya yang mana ia memulai kitab nubuatnya, ia melihat disamping tahta Yang Maha Kekal yang kelihatan seperti permata lazurit rupa “Anak Manusia”63. “Anak Manusia” ini yang berulang kali disebutkan sebagai selalu dihadapan Tuhan dan diatas Kerub bukanlah Yehezkiel sendiri.64 Dia adalah “Barnasha”, nabi terakhir, yang ditugaskan untuk menyelamati orang-orang shaleh dari tangan-tangan kaum kafir dibumi.

    “Anak Manusia” menurut Wahyu Enoch.
    Tidak ada keraguan bahwa Yesus sangat mengetahui wahyu Enoch, percaya ditulis oleh keturunan ketujuh dari Adam. Adapun Yudas, “saudaranya Yakobus” dan “pelayan Yesus Kristus”, yakni saudara dari Yesus Yesus, percaya bahwa Enoch adalah pengarang sebenarnya dari karya yang mencantumkan namanya itu 66. Ada beberapa potongan ayat yang tercerai berai dari Wahyu yang bagus sekali ini yang terpelihara dalam kutipan-kutipan para penulis Kristen awal.

    Kitab tersebut hilang lama sebelum Photius. Hanya pada sekitar awal abad terakhir barulah karya penting ini ditemukan dalam Kitab-Kitab Suci milik Gereja Abyssinia (Ethiopia), dan diterjemahkan dari bahasa Ethiopia kedalam bahasa Jerman oleh Dr. Dillmann, disertai berbagai catatan dan penjelasan 66. Kitab ini dibagi ke dalam lima bagian atau buku-buku, dan seluruhnya memuat seribu sepuluh bab yang panjang serta berbeda-beda.

    Pengarang kitab tersebut menggambarkan jatuhnya para malaikat karena hubungan haram mereka dengan anak-anak perempuan manusia, yang melahirkan ras raksasa yang menciptakan segala kepalsuan dan pengetahuan yang berbahaya. Kemudian sifat buruk dan kejahatan meningkat sedemikian tingginya sehingga Yang Maha Kuasa menghukum mereka dengan banjir besar. Dia juga menghubungkan dua perjalanannya kelangit-langit dan melintasi bumi, dengan dibimbing oleh malaikat yang baik, dan berbagai misteri dan keajaiban yang ia lihat didalamnya.

    Pada bagian kedua, yakni gambaran tentang Kerajaan Perdamaian, sang “Anak Manusia” menangkap para raja di tengah-tengah kehidupan mereka yang menggiurkan dan mempercepat mereka ke dalam neraka67. Tapi buku kedua ini bukan milik satu pengarang, dan pastinya banyak diselewengkan oleh tangan-tangan Kristiani.

    Buku (atau bagian) ketiga dari Kitab Enoch mengandung beberapa pemikiran astronomis dan fisika yang aneh dan berkembang.

    Bagian Keempat menyajikan pandangan Apocalyptical (Wahyu) tentang ras manusia dari awal sampai masa Islam, yang dicap oleh pengarangnya sebagai jaman “Mesianik”, dalam dua parabel simbolis atau malah alegoris. Seekor sapi jantan berwarna putih muncul dari bumi; kemudian seekor sapi muda berwarna putih bergabung dengannya, dan mereka melahirkan dua anak sapi; satu warna hitam, satunya lagi warna merah; sapi jantan hitam mengalahkan dan mengusir yang merah; dan, ketika ia tidak menemukannya, maka ia memekik dan berteriak keras-keras, ketika sapi jantan merah muncul, mereka pun mulai memperbanyak spesies mereka.

    Tentu saja, parabel (cerita perumpamaan) yang jelas ini melambangkan Adam, Hawa, Kabil, Habil, dan Syet, dan lain-lain, sampai Yaqub yang keturunannya digambarkan sebagai “sekawanan domba” – sebagai bangsa Israel pilihan, tapi keturunan saudaranya Esau, yaitu kaum Edom digambarkan sebagai kawanan babi.

    Dalam parabel kedua tersebut, kawanan domba itu sering diganggu, diserang, dibunuh oleh binatang-binatang buas dan burung pemangsa sampai kita tiba di jaman yang disebut Mesianistik, ketika kawanan sapi lagi-lagi diserang diserang dengan sengit oleh burung-burung gagak dan hewan-hewan pemakan daging lainnya, tapi “Ram” yang perkasa melawan dengan gagah berani. Setelah itu barulah “Anak Manusia”, yakni tuan atau pemilik sesungguhnya dari kawanan domba itu tampil membebaskan dombanya.

    Seorang sarjana non-Muslim tidak pernah dapat menjelaskan visi seorang Sophee – atau ahli ramai. Dia, sebagaimana mereka lakukan, akan membawakan penglihatan itu kepada kaum Maccabees dan Raja Antiochus Epifanes di pertengahan abad kedua Sebelum Masehi, ketika sang Pembebas datang sambil membawa pentungan atau tongkat kekuasaan yang dahsyat dan menghantam kiri dan kanan pada burung-burung dan binatang-binatang buas itu, yang menyebabkan pembantaian mereka besar-besaran; di bumi, dengan membuka mulutnya, menelan mereka; dan sisanya beterbangan. kemudian pedang-pedang dibagikan di antara domba-domba, dan seekor sapi jantan putih memimpin mereka dalam kedamaian dan keamanan yang sempurna.

    Adapun kitab kelima, ia mengandung nasihat-nasihat agama dan moral. Keseluruhan karya itu dalam bentuknya sekarang memperlihatkan berbagai indikasi yang menunjukkan bahwa kitab itu disusun selambat-lambatnya pada 110 SM dalam bahasa Aramia asli oleh seorang Yahudi Palestina, setidaknya demikianlah pendapat French Encyclopedia.

    Al-Qur’an hanya menyebutkan Henoch dengan nama keluarganya “Idris” –bentuk bahasa Arab dari bahasa Aramia “Drisha” yang segolongan dengan kata benda sederhana “Iblis” dan “Bisa” 68. “Idris” dan “Drisha” artinya orang yang berpengetahuan tinggi, seorang sarjana dan terpelajar, dari “darash” (Arab, “darisa”.). Nash Al-Qur’an berkata:

    “Dan ceritakanlah [hai Muhammad kepada mereka, kisah] Idris [yang tersebut] dalam kitab [Al Quran]; sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi; dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Maryam [19]:56-57)

    Ahli tafsir Muslim, al-Baydhawi dan Jalaluddin, nampaknya mengetahui bahwa Henoch telah mempelajari astronomi, fisika, aritmatika, bahwa dialah yang pertama menulis dengan pena, dan bahwa “Idris” berarti manusia yang berpengetahuan banyak, dengan demikian menunjukkan bahwa Wahyu Henoch belum hilang di jaman mereka.

    Setelah diakhirinya konun kitab-kitab Suci Ibrani sekitar abad keempat 4 SM oleh “Anggota Sinagog Agung”, yang didirikan oleh Ezra dan Nehemia, semua literatur suci atau keagamaan lain disamping literatur yang termasuk dalam Konun itu disebut Apocrypa dan dikeluarkan dari Alkitab Ibrani oleh majelis kaum Yahudi yang terpelajar dan shaleh, yang terakhir diantara mereka adalah “Simeon Yang Adil” yang terkenal dan meninggal pada 310 SM.

    Sekarang, diantara kitab-kitab Apocrypal ini termasuk Wahyu Henoch, Baruch, Musa, Ezra, dan kitab-kitab Sibyline, yang ditulis dalam zaman berbeda antara masa kaum Maccabee dan setelah penghancuran Yerusalem oleh Titus, kelihatannya sangat a la mode dengan kaum Bijak Yahudi untuk menyusun literatur Apokaliptis dan keagamaan di bawah nama beberapa tokoh terkemuka jaman purbakala.

    Kitab Apocalypse (Wahyu) pada akhir Perjanjian Baru yang menuliskan nama Yohanes sang Tuhan tidak mengecualikan dalam kebiasaan Kristen-Yudaeo lama ini. Jika “Yudas saudara Tuhan” bisa mempercayai bahwa “Henoch keturunan ketujuh dari Adam” adalah benar-benar pengarang dari seratus sepuluh pasal yang memuat nama itu, tidak ada keraguan bahwa Yustin Sang Martir, Papias, dan Eusebius akan mempercayai kepengarangan Matius dan Yohanes.

    Namun tujuan saya disini bukan untuk mengkritisi kepengarangan atau memperpanjang komentar-komentar atas wahyu-wahyu yang membingungkan dan misterius ini yang dihimpun dalam kondisi yang menyakitkan dan menyedihkan dalam sejarah bangsa Yahudi; melainkan menceritakan tentang asal mula nama “Anak Manusia” dan menjelaskan pengertiannya yang benar.

    Kitab Henoch juga, seperti Apocalypse dari gereja-gereja dan seperti Kitab-Kitab Injil yang berbicara tentang kedatangan “Anak Manusia” untuk membebaskan para nabi dari musuh-musuh mereka dan merancukan penglihatan ini dengan Pengadilan terakhir.

    Wahyu Sibyline yang disusun setelah kejatuhan terakhir Yerusalem oleh tentara Romawi, menyatakan bahwa “Anak Manusia” akan muncul dan menghancurkan Kerajaan Romawi dan membebaskan orang-orang yang percaya akan satu Tuhan. Kitab ini ditulis paling tidak delapan puluh tahun setelah Yesus Kristus.

    Kita sudah memberikan penjelasan yang terperinci mengenai “Anak Manusia” ketika kita membicarakan penglihatan Daniel69, dimana ia diajukan kepada Yang Maha Kuasa dan diberikan kekuasaan menghancurkan Binatang Buas Romawi. Maka penglihatan-penglihatan dalam kitab “Anggapan Musa”, Kitab Baruch (atau Barukh), lebih kurang mirip dengan pandangan dan harapan yang digambarkan “Apocalypses” tersebut diatas. Semua sepakat menggambarkan sang pembebas orang beriman sebagai “Barnasha” atau sang “Anak Manusia”, untuk membedakannya dari sang “Monster”; karena yang pertama diciptakan dalam bayang-bayang Tuhan dan yang kedua berubah menjadi bayang-bayang Setan

    Sang “Anak Manusia” itu tidak mungkin Yesus Kristus.

    Panggilan “Anak Manusia” ini sama sekali tidak dapat diterapkan pada anak Maria. Semua keinginan dari yang namanya “Injil” yang membuat “Domba” Nazaret menangkap raja-raja, ditengah-tengah kehidupan mereka yang glamor dan melemparkan mereka kedalam neraka70, tiada keaslian sedikitpun, dan jarak yang memisahkan dia dari “Anak Manusia” yang berbaris bersama banyak sekali malaikat diatas awan menuju Singgasana sang Mahakekal adalah lebih dari jarak dari bumi kita ke platet Yupier. Dia bisa jadi seorang “Anak Manusia” dan seorang “Mesias” karena memang demikian setiap raja, nabi, dan pendeta kaum Yahudi, tetapi dia bukan “Anak Manusia” atau “Mesias” yang diramalkan oleh para nabi Yahudi dan para apokaliptis.

    Dan kaum Yahudi benar-benar berhak untuk menolak gelar dan jabatan tersebut baginya. Mereka jelas salah menolak kenabiannya, dan kejahatan telah menumpahkan darahnya yang tak berdosa –sebagaimana diyakini oleh mereka dan umat Kristiani.

    “Majelis Sinagog Agung”, setelah kematian Simeon Yang Adil pada 310 SM, digantikan oleh “San hedrin”, yang ketuanya disebut “Nassi” atau Pangeran. Mengherankan bahwa “Nassi” yang mengelurkan hukuman terhadap Yesus, mengatakan, “Lebih berguna jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa binasa,”71 adalah seorang nabi!72

    Jika dia adalah seorang nabi, bagaimana sampai ia tidak mengakui misi kenabian atau ciri Mesianik dari sang “Mesias”?

    Karenanya, inilah alasan-alasan pokok mengapa Yesus bukan “Anak Manusia” dan bukan pula Mesias versi Apokaliptis:

    Seorang utusan Tuhan tidak ditugaskan untuk bernubuat tentang dirinya sendiri sebagai tokoh terkemuka di jaman dimasa akan datang, atau meramalkan reinkarnasi dirinya dan karenanya menampilkan diri sebagai pahlawan dalam sebuah drama besar dunia di masa yang akan datang.

    Yaqub meramalkan tentang Rasul Allah,”73 Musa tentang seorang nabi yang akan datang setelahnya dengan membawa Hukum, dan Israel diharuskan untuk “menaati dia”;74. Haggai meramalkan Ahmad;75 Maleakhi memprediksikan kedatangan sang “Utusan yang Dijanjikan” dan kedatangan Elia;76, tapi tidak ada satu pun nabi-nabi itu pernah bernubuat tentang kedatangan keduanya ke dunia.

    Yang sangat abnormal dalam kasus Yesus adalah bahwa dia diusahakan menganggap identitasnya dirinya sebagai “Anak Manusia”, namun dia ternyata tidak mampu melakukannya, paling tidak, pekerjaan besar yang diharapkan diselesaikan oleh “Anak Manusia” yang diramalkan itu! Menyatakan kepada kaum Yahudi dibawah penindasan Pilatus bahwa dia adalah “Anak Manusia” itu, dan kemudian membayar upeti kepada Caesar; dan mengaku bahwa “Anak Manusia” tidak punya tempat untuk meletakkan kepalanya”; dan kemudian menunda pembebasan umat dari penindasan orang Romawi sampai masa akan datang yang tidak terbatas; bila semua ketidaklogisan ini dianggap sebagai ucapan-ucapan dari mulut Yesus, hanya membuat diri mereka sendiri idiot.

    Yesus lebih mengetahui daripada siapa pun siapa “Anak Manusia” itu dan apa misinya. Dia menurunkan raja-raja jangak dari tahtanya dan melempar mereka ke dalam api neraka.

    “Apocalypse Baruch” dan Apocalypse Ezra – kitab keempat dari Esdras dalam Vulgate – berbicara tentang kedatangan sang “Anak Manusia” yang akan menegakkan Kerajaan Perdamaian yang kuat diatas reruntuhan Kekaisaran Romawi. Semua Apokrifal ini menunjukkan keadaan pikiran kaum Yahudi tentang kedatangan sang Pembebas agung terakhir yang mereka sebut “Anak Manusia” dan “Mesias”.

    Yesus tidak mungkin tidak mengetahui dan tidak mengenal literatur ini dan harapan besar umatnya ini. Dia tidak bisa menerima salah satu pun dari dua gelar itu untuk dirinya dalam pengertian seperti yang diberikan oleh Sanhedrin –yakni Pengadilan Tertinggi Yerusalem– dan agama Yahudi kepada dua gelar itu; karena dia bukan “Anak Manusia” dan “Mesias” itu, karena dia tidak mempunyai agenda politik maupun pola kemasyarakatan; dan karena dia sendiri adalah perintis jalan bagi “Anak Manusia” dan “Mesiasi” itu –Adon, Nabi Penakluk, Sultan Para Nabi yang Diurapi dan dinobatkan.

    Kajian kritis terhadap sebutan “Anak Manusia” yang diletakkan delapan puluh tiga kali dalam mulut sang guru akan dan mesti menghasilkan satu-satunya kesimpulan bahwa dia tidak pernah mengambil sebutan itu untuk dirinya sendiri, dan sebenarnya ia sering menggunakan gelar itu pada orang ketiga. Beberapa contoh cukup untuk meyakinkan kita bahwa Yesus menerapkan sebutan itu pada seseorang yang akan muncul di masa akan datang:

    Seorang Scribe (ahli Taurat), yaitu seorang terpelajar berkata, “Aku akan mengikuti engkau kemana pun engkau pergi”, Yesus menjawab, “Srigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalanya”77. Dalam ayat berikut ia menolak ijin salah satu pengikutnya untuk pergi dan menguburkan bapaknya!

    Anda akan menemukan tidak seorang pun santo, atau penafsir telah menyusahkan kepalanya atau kemampuan akalnya untuk mengungkapkan pengertian sangat sederhana yang terdapat dalam penolakan Yesus untuk mengizinkan Scribe yang terpelajar itu untuk mengikutinya. Jika ia mempunyai tempat untuk tiga belas kepala, maka pasti ia juga dapat menyediakan tempat untuk keempatbelasnya. Selain itu, dia dapat mendaftarkannya diantara tujuh puluh pengikut setianya.78

    Sang Scribe yang sedang dibicarakan itu bukanlah seorang nelayan yang bodoh, seperti anak-anaknya Zebedee dan Yonas; ia adalah seorang sarjana dan pengacara praktek. Tidak ada alasan untuk mencurigai ketulusan hatinya; ia digiring untuk mempercayai bahwa Yesus adalah sang Mesias yang diramalkan, sang Anak Manusia, yang sewaktu-waktu bisa memerintahkan pasukan langitnya dan menaiki tahta leluhurnya Daud.

    Yesus memahami pikiran salah si Scribe, dan terang-terangan membiarkannya memahami bahwa orang yang tidak mempunyai dua yard persegi tanah di bumi untuk meletakkan kepalanya pastilah bukan “Anak Manusia” itu! Dia tidak kasar kepada Scribe; dengan penuh kebaikan dia menyelamatkannya dari membuang-buang waktu untuk mengejar harapan yang sia-sia!

    Yesus Kristus dilaporkan telah menyatakan bahwa Anak Manusia akan memisahkan domba dari kambing (Matius 25:31-34). “Domba” melambangkan bangsa Israel yang beriman yang akan memasuki kerajaan, tetapi “kambing” melambangkan bangsa Yahudi yang tidak percaya telah bergabung dengan musuh-musuh dari agama yang benar dan konsekuensinya dijatuhi hukuman mati. Praktisnya, inilah apa yang telah diramalkan oleh Apocalypse Henoch tentang Anak Manusia.

    Yesus benar-benar mempertegas Apocalypse Enoch dan memberinya sifat ilmiah. Dia sendiri diutus untuk memperingatkan domba Israel80 agar tetap beriman kepada Tuhan dan menunggu dengan sabar akan kelahiran Anak Manusia yang akan datang untuk menyelamatkan mereka dari musuh-musuh mereka; tapi dia sendiri bukan Anak Manusia, dan tidak ada hubungannya dengan dunia politik, tidak juga dengan “domba” dan “kambing” yang keduanya sama-sama menolak dan menghinakannya, kecuali segelintir orang yang mencintai dan mempercayainya.

    Anak Manusia dikatakan sebagai “Tuhan hari Sabat”, yaitu, ia mempunyai kekuasaan untuk membatalkan hukum yang menjadikan hari itu sebagai hari libur suci dari bekerja.

    Yesus adalah seorang pelaksana hari Sabat yang keras, dimana pada hari itu dia selalu menghadiri kebaktian di bait atau di sinagog. Dia terang-terangan memerintahkan para pengikutnya untuk berdoa agar kejatuhan nasional karena penghancuran Yerusalem tidak terjadi pada hari Sabat.

    Kalau demikian, bagaimana mungkin Yesus mengklaim dirinya sebagai Anak Manusia, “Tuhan hari sabat”, sementara ia harus melaksanakan dan menjaganya seperti orang Yahudi lainnya? Bagaimana mungkin dia berusaha keras mengklaim gelar yang membanggakan itu dan kemudian meramalkan kehancuran Bait dan kota Yerusalem?

    Contoh-contoh ini dan banyak lagi yang lainnya menunjukkan bahwa Yesus tidak pernah menyebut “Barnasha” untuk dirinya sendiri, tapi ia nisbahkan kepada Nabi Terakhir yang kuat, yang benar-benar menyelamatkan “domba-domba” yaitu orang Yahudi yang percaya dan menghancurkan atau menghinakan orang-orang yang tidak percaya di antara mereka; menghapuskan hari Sabat; menegakkan Kerajaan Perdamaian; dan menjanjikan bahwa agama dan kerajaan ini akan berakhir sampai Hari Kiamat.

    Dalam uraian selanjutnya, kita akan beralih pada menemukan semua tanda dan sifat dari “Anak Manusia” yang benar-benar dan secara utuh terdapat pada Rasul Allah yang terakhir, atasnya keselamatan dan keberkatan Tuhan!

    ——————————————————————————–

    Footnotes
    56. Matius XIII:55-56; Markus VI:3; III:31; Lukas II:48; VIII:19-21; Yohanes II:12; VII:3,5; Kisah I:14; 1 Korintus IX:5; Galatia I:19; Yudea I.

    57. Matius XXII:42; Markus XII:35; Lukas XX:41; Matius XX:30; Matius IX:27; Matius XXI:9; Kisah XIII:22-23; Wahyu V:5; Roma XV:12; Ibrani VII:14, dsb.

    58. Sekitar delapan puluh tiga kali julukan ini diucapkan berulang-ulang dalam khotbah-khotbah.

    59. Matius XIV:32. XVI:16. Yohanes XI:27. Kisah IX:20. 1 Yohanes IV:15. V:5. Ibrani I:2,5. dst.

    60. Yohanes V:19,20,21,23,24,26, dst, dan dalam ucapan salam pembaptisan Matius XXVIII:19. Yohanes I:34.

    61. Matius XVI:16, dan sering dalam Epistel.

    62. Yohanes 1:29, 36 dan sering dalam Wahyu.

    63. Yehezkiel I:26.

    64. ibid., X:2.

    65. Yudas I:14. Dalam Injil ia disebut sebagai salah satu dari empat saudara Yesus, Matius XIII:55,56, dst.

    66. Kitab ini juga sudah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh seorang Uskup Irlandia, Laurence.

    67. Enoch 46:4-8.

    68. “Iblis”, bentuk bahasa Arab dari bahasa Arami “Blisa”. Sebuah julukan yang diberikan kepada Setan yang artinya “Yang Dilukai”.

    69. Daniel 7, lihat artikel, “Muhammad dalam Perjanjian Lama,” dalam The Islamic Review, Nopember 1938.

    70. Henoch 46:4-8

    71. Yohanes 11:50

    72. ibid, 51.

    73. Kejadian 49:50.

    74. Ulangan 18:15.

    75. Hagai 2:7.

    76. Maleakhi 3:1;4:5.

    77. Matius 8:20

    78. Lukas 10:1.

    79. Matius 25:31-34.

    80. ibid, 15:24.

    Balas
  146. dongan naburju

    horas…

    salam hangat amang syekh yusuf..

    ayahanda (amang) syekh yusuf..cobalah ayahanda memanggil nama JESUS tulus dari dalam hati??

    maka bersiaplah ayahanda menjadi saleh,suci dan taat pada printah Allah, bersiap untuk menolong orang menderita,bersahaja ketika di caci maki,memamafkan yang telah memfitnah kita,sabar,rendah hati,tidak mempunyai harta dan tahta di bumi dan hidup mati untuk mengasihi manusia,tidak menikah dan dapat mengendalikan diri dari godaaan hawa nafsu….maunya ayahanda syekh yusuf seperti itu??

    memanggil JESUS??buat sapa aja…

    salam damai dan kasih menyertai kita semua..
    holong do naummarga di portibion

    Balas
  147. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Periqlytos Artinya Ahmad
    “Dan ketika Yesus (Isa) Putra Maria (Maryam) berkata, ‘Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Tuhan yang dikirim kepadamu, membenarkan hukum (kitab) yang turun sebelumku, dan memberi kabar gembira tentang seorang Rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad.'” (QS. asy-Syaff [61]:6)

    “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Periqlytos [Penolong] yang lain, supaya ia menyertai kamu selamanya” (Yohanes 14:16)

    Ada ketidaklogisan dalam kata-kata yang dinisbahkan kepada Yesus oleh Injil keempat. Ia berkata seolah-oleh beberapa Periqlyte sudah datang dan pergi, dan bahwa “ Periclyte yang lain” akan diberikan hanya atas permintaan Yesus. Kata-kata ini juga meninggalkan kesan bahwa Rasul-rasul itu sudah mengenal nama yang dalam teks Yunani menjadi Periclytos .

    Kata sifat “yang lain” yang mendahului sebuah kata benda asing yang untuk pertama kali diumumkan kelihatan sangat asing dan sama sekali berlebih-lebihan. Tidak diragukan bahwa teks tersebut telah telah diperhalus dan diubah, Seakan-akan bahwa sang Bapa akan mengirim Periqlyte atas permintaan Yesus, kalau tidak maka Periqlyte tidak akan pernah datang!

    Kata “minta” pun kelihatan dibuat-buat dan menunjukkan kesombongan di pihak nabi Yesus. Jika kita ingin menemukan arti sesungguhnya dalam kata-kata ini maka kita harus mengkoreksi teksnya dan memberikan kata-kata yang dicuri atau diselewengkan, menjadi: “Aku akan pergi kepada Bapa, dan ia akan mengirim kamu utusan yang lain yang namanya Periqlytos, supaya ia menyertai kamu selamanya.” Nah, dengan kata-kata tambahan yang dimiringkan, maka sifat rendah hati Yesus yang dirampas pun dikembalikan dan ciri-ciri sang Periqlyte pun teridentifikasi.

    Kita sudah mengetahui bahwa Periclyte itu bukanlah Roh Kudus, maksudnya, oknum Ilahiah, Jibril, atau malaikat lainnya. Sekarang masih harus dibuktikan bahwa Periclyte itu tidak mungkin seorang penghibur dan tidak pula seorang perantara antara Tuhan dan manusia.

    Periqlyte itu bukan “Penghibur” juga bukan “Perantara”. Kami telah membuktikan sepenuhnya kemustahilan material dalam mengungkapkan pengertian minimal “penghiburan” atau dari “perantaraan”.

    Kristus tidak memakai kata Paracalon . Disamping itu bahkan dari sudut pandang agama dan moral, gagasan tentang penghiburan dan perantaraan ini tidak dapat diterima.

    Keyakinan bahwa kematian Yesus di atas Salib menyelamatkan orang beriman terhadap kutukan dosa asal, dan bahwa roh, keramahan, dan kehadirannya dalam Ekaristi akan selamanya bersama mereka, sama sekali tidak memberikan mereka dalam kebutuhan akan penghiburan atau kedatangan sama sekali seorang penghibur. Di sisi lain, jika mereka memerlukan seorang penghibur seperti itu, maka seluruh prasangka dan keinginan akan pengorbanan Cavalry pun kandas sama sekali.

    Sebenarnya, bahasa Kitab-kitab Injil dan bahasa epistel sangat jelas menunjukkan bahwa kedatangan Yesus untuk kedua kalinya di atas awan adalah sebentar lagi (Matius 16:28; Markus 9:1; Lukas 9:27; Yohanes 2:18; 2 Timotius 2:1; 2 Tesalonika 2: 3, dan seterusnya).

    Penghiburan tidak pernah dapat mengembalikan yang hilang. Menghibur seseorang yang telah kehilangan penglihatan, harta, anak, atau keadaannya tidak akan dapat mengembalikan kehilangan-kehilangan itu. Janji bahwa seorang penghibur akan dikirimkan oleh Tuhan sesudah Yesus wafat menunjukkan kandasnya semua harapan akan kejayaan Kerajaan Tuhan.

    Janji seorang penghibur menunjukkan perkabungan dan ratapan dan tentu saja akan mendorong para Rasul ke dalam kekecewaan jika tidak kedalam keputusasaan. Yang mereka butuhkan bukan seorang penghibur saat mereka susah dan menderita, tapi seorang pejuang yang menang untuk menghancurkan Iblis dan kuasanya, orang yang akan mengakhiri kesulitan-kesulitan dan penyiksaan-penyiksaan mereka.

    Gagasan tentang seorang “perantara” antara Tuhan dan manusia bahkan lebih tidak dapat dipertahankan daripada gagasan tentang “penghibur”. Tidak ada mediator mutlak antara Pencipta dan makhluk. Keesaan Allah sendiri adalah perantara kita yang mutlak.

    Kristus yang menasihatkan pendengarnya agar berdoa kepada Tuhan secara diam-diam, agar masuk ke dalam lemari dinding dan menutup pintunya lalu berdoa –karena hanya di bawah kondisi seperti itu “Bapa” mereka yang ada di surga akan mendengar doa mereka dan memberi mereka nikmat dan pertolongan-Nya– tidak dapat menjanjikan kepada mereka seorang perantara. Bagaimana mendamaikan kontradiksi ini!

    Semua orang beriman, dalam doa-doa mereka, saling memerantarai, para nabi dan malaikat pun melakukan hal yang sama. Kewajiban kita lah untuk memohon rahmat dan ampunan Tuhan, menolong diri kita sendiri dan juga orang lain. Tapi Tuhan tidak harus atau wajib menerima perantaraan siapa pun kecuali yang Dia ridhai. Jika Allah menerima perantaraan Hamba Suci-Nya Muhammad, semua manusia akan sudah pindah ke agama Islam.

    Saya –sebagaimana mestinya– berterima kasih kepada orang yang, melalui perantaraan saya, memperoleh ampunan dan pertolongan. Tapi saya harus selalu takut kepada hakim atau penguasa lalim yang menyerahkan saya kepada seorang eksekutor.

    Betapa terpelajarnya orang-orang Kristiani ini, ketika mereka percaya bahwa Yesus di tangan kanan Bapanya memerantai mereka, dan pada saat yang sama mempercayai perantara yang lain –yang lebih rendah dari dirinya– yang duduk di atas singgasana Yang Mahakuasa!

    Al-Qur’an dengan tegas melarang keyakinan, kepercayaan pada seorang”syafi” atau perantara. Tentu saja kita tidak mengetahui secara pasti, tapi sangat bisa dimengerti bahwa malaikat-malaikat tertentu, roh-roh para nabi dan orang-orang suci, diizinkan Tuhan untuk memberikan bantuan dan bimbingan kepada mereka yang berada di bawah perlindungan mereka.

    Gagasan tentang pembela di hadapan pengadilan Allah, membela perkara para klien nya, mungkin sangat mengagumkan, tapi itu keliru, karena Tuhan bukanlah hakim manusia yang bisa tunduk pada nafsu, kebodohan, subyektifitas, dan lain-lain. Kaum Muslim, kaum beriman, hanya membutuhkan pendidikan dan latihan keagamaan; Tuhan sangat jauh lebih mengetahui perbuatan hati manusia daripada para malaikat dan para nabi. Konsekuensinya, tidak perlu ada perantara antara Tuhan dan makhluk.

    Keyakinan pada para perantara memancar dari kepercayaan pada pengorbanan, sesajen yang dibakar, kependetaan, dan bangunan besar ketakhayulan. Kepercayaan ini menggiring manusia ke dalam penyembahan kuburan dan patung para santo dan syuhada; ia membantu memperbesar pengaruh dan dominasi pendeta dan rahib; ia membuat orang-orang tetap tidak mengetahui hal-hal menyangkut ketuhanan; awan tebal perantara sama sekali menutup atmosfir antara Tuhan dan roh manusia. Kemudian keyakinan ini mendorong orang yang, karena pura-pura mengagungkan Tuhan dan kepindahan orang-orang dari agama yang berbeda dengan agama mereka, mengumpulkan uang dalam jumlah yang besar sekali, menjalankan misi yang kuat dan beraneka ragam, dan rumah-rumah besar yang megah; tapi dalam batinnya para misionaris itu adalah agen-agen politik dari pemerintahan-pemerintahan mereka masing-masing.

    Sebab nyata dari berbagai malapetaka yang telah menimpa bangsa Armenia, Yunani, dan Chaldeo-Assyria di Turki dan Persia harus dicari dalam ajaran yang berbahaya dan revolusioner yang diberikan oleh semua misi asing di Timur. Sesungguhnya, kepercayaan pada perantara selalu menjadi sumber kekacauan, fanatisme, penyiksaan, kebodohan, dan banyak kejahatan lainnya.

    Setelah membuktikan bahwa “Paraclete” Injil Yohanes sama sekali bukan dan tidak bisa diartikan “penghibur” atau “penolong”, atau pun yang lainnya, dan bahwa itu adalah bentuk Periqlytos yang diselewengkan, sekarang kita akan melanjutkan dengan membahas pengertian yang riil.

    Secara etimologis dan harafiah “Periqlytos” berarti “yang paling terkenal, termasyhur, patut dipuji.” Sebagai sumber, saya mengambil kamus Dictionnaire Grec-Francais karya Alexandre = Periqlytos, “Ou’on peut entendre de tous les cotes; qu’il est facile a entendre. Tres celebre,” dan seterusnya;” = Periqleitos, tres celebre, illustre, glorieux” dari = Kleos, glorire, renommee, celebrite.” Kata benda gabungan ini terdiri dari awalan “peri”, dan “kleitos”, yang terakhir ini berasal dari “mengagungkan, memuji.”

    Kata benda, yang saya tulis dalam huruf-huruf Inggris Periqleitos atau Periqlytos, artinya persis seperti arti dalam bahasa Arab AHMAD, yakni yang paling terkenal, agung, dan termasyhur. Satu-satunya kesulitan yang harus dipecahkan dan diatasi adalah menemukan nama Semit asli yang digunakan oleh Yesus Kristus dalam bahasa Ibrani atau Aramia.

    Pshittha Syria, ketika menulis “Paraqleita,” tidak memberikan artinya dalam daftar kata sekalipun. Tapi Vulgate menerjemahkannya sebagai “pelipur” atau “penghibur”. Bentuk Aramia mestilah “Mhamda” atau “Hamida” bersesuaian dengan bahasa Arab “Muhammad” atau “Ahmad” dan bahasa Yunani “Periqlyte”.

    Interpretasi dari kata Yunani dalam arti penghiburan tidak berarti bahwa nama Periqlyte itu sendiri adalah sang penghibur, tapi keyakinan dan harapan pada janji bahwa dia akan datang” untuk menghibur umat Kristiani awal”. Pengharapan bahwa Yesus akan turun lagi dalam keagungan sebelum banyak di antara pendengarnya “merasakan kematian” telah mengejutkan mereka, dan mengkonsentrasikan semua harapan mereka pada datangnya sang Periqlyte.

    Wahyu Al Qur’an bahwa Yesus, anak Maria, memberitahukan kepada bani Israel bahwa ia “membawa kabar gembira mengenaiseorang rasul, yang akan datang setelahku dan yang namanya adalah Ahmad,” adalah salah satu bukti terkuat bahwa Muhammad benar-benar seorang Nabi dan bahwa Al Qur’an adalah benar-benar sebuah Wahyu Ilahi. Dia tidak akan pernah mengetahui bahwa Periqlyte itu berarti Ahmad, kecuali melalui ilham dan Wahyu Ilahi. Otoritas Al Qur’an adalah menentukan dan bersifat final; karena arti harfiah dari nama dalam Yunani itu secara tepat dan tak dapat disangkal bersesuaian dengan Ahmad dan Muhammad.

    Sesungguhnya, Malaikat Jibril atau Roh Kudus pun kelihatan telah membedakan bentuk positif dari bentuk superlatifnya, yang pertama secara persis berarti Muhammad dan yang kedua berarti Ahmad.
    Sungguh Mengagumkan bahwa nama yang khas ini tidak pernah sebelumnya diberikan kepada siapapun, secara ajaib dicanangkan untuk Rasul Allah yang paling terkenal dan terpuji! Kita tidak pernah menemukan orang Yunani menyandang nama Periqleitos (atau Periqlytos) sebagai namanya, begitupun dengan orang Arab. Benar, memang ada seorang dari Athena yang bernama Periqleys yang berarti “sangat terkenal”, dan sebagainya, tapi tidak dalam bentuk tingkat superlatifnya.

    Jelas sekali dari gambaran Injil Keempat bahwa Periqlyte adalah seorang oknum tertentu, Roh Kudus yang diciptakan, yang akan datang dan berdiam ditubuh manusia untuk menyelesaikan pekerjaan luar biasa yang ditugaskan kepadanya oleh Tuhan, yang tidak pernah diselesaikan oleh orang lain, termasuk Musa, Yesus, dan nabi lainnya.

    Tentu saja kita tidak menyangkal bahwa murid-murid Yesus benar-benar menerima Roh Tuhan, bahwa Yesus disucikan oleh Roh Kudus, bahwa orang-orang yang benar-benar berubah meyakini Yesus disucikan dengan Roh Kudus, dan bahwa terdapat banyak umat Kristiani Ahlutauhid yang menjalani kehidupan suci dan shaleh.

    Pada hari Pantekosta –yaitu sepuluh hari setelah Kenaikan Yesus Kristus– Roh Tuhan turun pada murid-murid dan orang-orang percaya lainnya yang berjumlah seratus dua puluh orang, dalam bentuk lidah-lidah api (Kisah 2); dan jumlah ini, yang telah menerima Roh Kudus dalam bentuk seratus dua puluh lidah api, ditambahkan pada tiga ribu jiwa yang dibaptis, tapi tidak dikunjungi oleh lidah api Roh Kudus, tapi tidak dikunjungi oleh lidah api Roh Kudus. Sudah pasti satu Roh tertentu tidak dapat dibagi menjadi enam angka individu.

    Dengan Roh Kudus, kalau tidak secara pasti digambarkan sebagai satu kepribadian, kita bisa memahaminya sebagai kuasa, nikmat, karunia, perbuatan, dan ilham Tuhan. Yesus telah menjanjikan karunia surgawi ini dan kekuasaan untuk menyucikan, mencerahkan, memperkuat, dan mengajari jemaatnya; tapi Roh ini sangat berbeda dengan sang Periqlyte yang sendirian menyelesaikan kerja besar yang Yesus dan rasul-rasul setelahnya tidak diberi wewenang dan kekuatan untuk menyelesaikannya, sebagaimana akan kita ketahui nanti.

    Umat Kristiani awal dari abad pertama dan kedua lebih mempercayai tradisi daripada tulisan-tulisan tentang agama baru. Papias dan lain-lain termasuk dalam kategori ini. Bahkan di jaman para Rasul pun beberapa sekte, Kristus palsu, antiKristus, dan guru-guru palsu, merobek-robek Gereja sampai luluh (1 Yohanes 2:18-26; 2 Tesalonika 2:1-12; 2 Petrus 2,3:1; Yohanes 7-13;dan seterusnya). “Orang-orang yang percaya” dinasehatkan dan didesak untuk tetap berpegang dan patuh pada tradisi, yakni ajaran lisan para Rasul.

    Yang disebut sekte-sekte Bid’ah ini, seperti Gnostic, Appollinarian, Docetae, dan lain-lain, kelihatan tidak percaya kepada fabel, legenda, dan pandangan-pandangan berlebih-lebihan tentang pengorbanan dan penebusan Yesus Kristus, sebagaimana termuat dalam banyak tulisan hebat yang dikemukakan Lukas (1:1-4). Salah satu musuh utama pebid’ah dari sekte tertentu –yang namanya hilang dari ingatan saya– benar-benar menganggap “Periqleitos” sebagai namanya, pura-pura sebagai Nabi “yang paling terpuji” yang diramalkan oleh Yesus dan mempunyai banyak pengikut.

    Jika ada Kitab Injil asli yang disahkan oleh Yesus Kristus atau oleh semua rasul, tidak mungkin ada sedemikian banyak sekte, semuanya menentang isi kitab-kitab yang termuat di dalam atau di luar Perjanjian Baru yang ada. Kita dapat dengan aman mengambil kesimpulan dari perbuatan sang Periqlyte palsu bahwa umat Kristiani awal menganggap “Roh Kebenaran” yang dijanjikan sebagai seorang dan Nabi Tuhan yang terakhir.

    Tidak ada keraguan sedikit pun bahwa yang dimaksud “Periqlyte” adalah Muhammad, yaitu Ahmad. Dua nama ini, satu dalam bahasa Yunani dan lainnya bahasa Arab, mempunyai arti yang persis sama, dan kedua-duanya berarti “yang paling Terkenal dan Terpuji” sebagaimana “Pneuma” dan “Roh” tidak lebih dan tidak kurang berarti “Roh” dalam kedua bahasa itu.

    Kita sudah mengetahui bahwa terjemahan kata itu menjadi “Penghibur” atau “Penolong” adalah sama sekali tak dapat dimengerti dan salah. Bentuk gabungan dari Paraqalon berasal dari kata kerja yang tersusun dari para-qalo , tapi Periqlyte berasal dari Peri-qluo . Perbedaannya sama jelasnya dengan apa pun, karenanya mari kita periksa tanda-tanda sang Periqlyte yang hanya dapat ditemukan pada Ahmad –Muhammad.

    Muhammad sendiri mengungkapkan seluruh kebenaran tentang Tuhan, keesaan-Nya, agama, dan mengoreksi pencemaran nama dan fitnah-fitnah yang ditulis dan diyakini terhadap Diri-Nya dan banyak hamba-Nya yang suci.
    Yesus dilaporkan telah mengatakan tentang Periqlyte bahwa ia adalah “Roh Kebenaran”, bahwa ia “akan memberi kesaksian” tentang Yesus yang sebenarnya dan tentang misinya (Yohanes 14:17; 15:26).

    Dalam khotbah-khotbah dan orasinya, Yesus berbicara tentang pra-eksistensi rohnya (Yohanes 8:58; 17:5, dan seterusnya). Dalam Injil Barnabas, Yesus dilaporkan sering berbicara tentang keagungan dan kemegahan roh Muhammad yang telah dilihatnya. Tidak ada keraguan bahwa Roh dari Rasul Terakhir diciptakan lama sebelum Adam.

    Oleh karena itu Yesus, ketika berbicara tentang dia pasti akan menyatakan dan menggambarkannya sebagai “Roh Kebenaran”. Roh Kebenara inilah yang menegur umat Kristiani karena membagi keesaan Tuhan menjadi trinitas oknum-oknum; karena mereka mengangkat Yesus kepada martabat Tuhan dan Anak Tuhan, dan karena mereka telah membuat-buat segala macam ketakhayulan dan bid’ah. Roh Kebenaran inilah yang membongkar penipuan-penipuan yang dilakukan oleh kaum Yahudi dan Kristen karena menyelewengkan kitab suci mereka; yang mengutuk kaum Yahudi karena segala fitnah-fitnah mereka terhadap kesucian sang Perawan yang Diberkati dan terhadap kelahiran anaknya Yesus. Roh Kebenaran inilah yang menunjukkan hak kelahiran Ismail, ketidakberdosaan Lut, Sulaiman, dan banyak nabi sulung lainnya dan membersihkan nama mereka dari noda dan kekejian yang ditimpakan pada mereka oleh pemalsu-pemalsu Yahudi.

    Roh Kebenaran ini jugalah yang memberikan kesaksian tentang Yesus yang sejati, manusia, nabi, dan hamba Tuhan; dan telah menjadikannya benar-benar mustahil bagi kaum Muslim untuk menjadi penyembah berhala, tukang sihir, dan orang-orang yang percaya kepada lebih dari Allah yang Esa.

    Di antara tanda-tanda Periqlyte, sang Roh Kebenaran, yang pokok ketika ia datang dalam wujud “Anak Manusia” –Ahmad– adalah “ia menyadarkan dunia akan dosa” (Yohanes 16:8-9). Tidak ada hamba Allah lainnya, apakah seorang raja seperti Daud dan Sulaiman atau seorang nabi seperti Ibrahim dan Musa, yang melaksanakan penyadaran akan dosa ini sampai benar-benar tuntas, dengan ketegaran hati, semangat, dan keberanian seperti Muhammad.

    Setiap pelanggaran hukum adalah dosa, dan kemusyrikan adalah induk dan sumbernya. Kita berdosa terhadap Tuhan ketika kita mencintai suatu objek lebih dari Dia, tapi penyembahan sesuatu objek lain atau wujud di samping Tuhan adalah kemusyrikan, kejahatan, dan kelalaian total akan kebaikan –pendek kata, dosa pada umumnya.

    Semua nabi Allah menyadarkan tetangga dan kaum mereka akan dosa, tapi tidak “dunia”, seperti dilakukan Muhammad. Dia tidak hanya membasmi kemusyrikan sampai ke akar-akarnya di Jazirah Arabia dimasa hidupnya, tetapi juga mengutus utusan kepada Chosroes Parviz dan kepada Heraclius, penguasa dari dua kerajaan terbesar, Persia dan Romawi, dan kepada Raja Ethiopia, Gubernur Mesir, dan beberapa Raja dan Emir lainnya, mengajak mereka semua untuk memeluk agama Islam dan meninggalkan penyembahan berhala (kemusyrikan) dan keyakinan-keyakinan palsu.

    Penyucian oleh Muhammad dimulai dengan penyampaian firman Allah ketika ia menerimanya, yaitu pembacaan ayat-ayat al-Qur’an; kemudian dengan mengkhotbahkan, mengajarkan, dan mempraktekkan agama yang benar itu; tapi ketika Kuasa Kegelapan dan kemusyrikan, melawannya dengan sejata maka ia menghunus pedang dan menghukum musuh yang tidak percaya.

    Ini adalah pemenuhan ketetapan Tuhan (Daniel 7). Muhammad diberkahi Tuhan dengan kekuatan dan kekuasaan untuk menegakkan Kerajaan Allah, dan menjadi pangeran dan Panglima Tertinggi Pertama dan sebagai “Raja Diraja dan Tuhan.”

    Segi lainnya dari perbuatan-perbuatan Periqlyte (Ahmad) yang berani adalah bahwa ia akan menginsafkan terhadap banyak sekali kebenaran dan penghakiman (loc.cit). Penafsiran “akan kebenaran, karena pergi kepada Bapaku” (Yohanes 16:10) yang diletakkan pada mulut Yesus adalah tidak jelas dan bermakna ganda. Kembalinya Yesus kepada Tuhannya diberikan sebagai salah satu alasan untuk penghukuman dunia oleh sang Periclyte yang akan datang. Mengapa demikian? Dan siapa yang menghukum dunia menurut cerita itu?

    Kaum Yahudi percaya bahwa mereka menyalib dan membunuh Yesus, dan tidak percaya bahwa ia dibangkitkan dan diangkat ke langit. Muhammad lah yang menyucikan dan menghukum mereka dengan berat karena kekafiran mereka. “Mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Yesus (Isa), tetapi [yang sebenarnya], Allah telah mengangkat Yesus kepada-Nya” (Q.S An-Nisa [4]:157-158).

    Penghukuman yang sama ditimpakan kepada umat Kristiani yang percaya dan masih percaya bahwa ia sungguh-sungguh di salib dan dibunuh di ata salib, dan mengiranya sebagai Tuhan dan anak Tuhan. Terhadap semua ini Al-Qur’an menjawab, “Padahal mereka (kaum Yahudi) tidak membunuhnya, dan tidak pula menyalibnya, tetapi [yang mereka bunuh ialah] orang yang diserupakan degan Yesus bagi mereka” (QS An-Nisa 4:157).

    Beberapa orang yang percaya terhadap Yesus pada permulaan sekali agama Kristen, menyangkal bahwa Kristus sendiri menderita di atas salib, tetapi bersikukuh bahwa yang lain di antara para pengikutnya, Yudas Iskariot atau lainnya yang sangat serupa dengannya, ditangkap, dan disalib sebagai penggantinya.

    Jemaat Korintus, Basilidus, Korpokratus, dan banyak sekte Kristen lainnya memiliki pandangan yang sama. Saya sudah sepenuhnya membahas persoalan penyaliban ini dalam karya saya berjudul Injil wa Salib , diantaranya hanya satu jilid yang diterbitkan di Turki persis sebelum Perang Besar –saya akan mengkhususkan sebuah artikel mengenai subjek ini.

    Dengan demikian, peradilan yang dilakukan terhadap Yesus oleh Ahmad adalah berdasarkan sumber yang menyatakan bahwa ia adalah “Ruhullah,” Roh Tuhan, bahwa bukan dirinya yang disalib dan dibunuh, dan bahwa ia adalah seorang manusia yang menjadi kekasih dan utusan Tuhan. Inilah yang dimaksud Yesus dengan keadilan mengenai pribadi, misi, dan perpindahannya ke Surga, dan ini benar-benar diselesaikan oleh Rasul Allah.

    Tanda yang paling penting dari Periqlyte adalah bahwa ia akan menginsyafkan dunia akan penghakiman “karena penguasa dunia ini telah dihukum” (Yohanes 16:11). Raja atas Penguasa dunia ini adalah Setan (Yohanes 12:31; 14:30), karena dunia ini tunduk padanya.

    Saya harus menarik perhatian dari para pembaca saya agar memperhatikan pasal ketujuh Kitab Daniel yang ditulis dalam dialek Aramia atau Babilonia . Disana digambarkan bagaimana mahkota (kursawan) dan penghakiman (dina) ditegakkan, dan “buku-buku” (siphrin) dibukakan.

    Dalam bahasa Arab pun kata “dinu”, seperti bahasa Aramia “dina” artinya penghakiman, tapi umumnya ia digunakan dalam arti agama. Bahwa Al-Qur’an harus menggunakan “Dina” Daniel sebagai ungkapan penghakiman dan agama adalah lebih dari penting. Menurut pendapat saya yang sederhana, ini adalah suatu tanda dan bukti langsung dari kebenaran yang diturunkan oleh Roh Kudus yang sama atau Jibril kepada Daniel, Yesus, dan Muhammad. Muhammad tidak mampu memalsukan atau mengarang-ngarang ini meskipun ia sepandai Aristoteles.

    Pengadilan yang digambarkan dengan segala keagungannya dan kemuliaan ditegakkan untuk menghakimi Setan dalam bentuk Binatang Buas Keempat yang menakutkan. Barulah kemudian seseorang muncul “seperti anak manusia” (“Kbarinish”) atau “Barnasha” yang dihadapkan kepada Yang Maha Kuasa, diberikan kekuasaan, kehormatan, dan kerajaan untuk selamanya dan ditugaskan untuk membunuh si Binatang Buas Keempat dan menegakkan Kerajaan orang-orang Suci milik Yang Maha Tinggi.

    Yesus Kristus tidak ditugaskan untuk menghancurkan si Binatang Buas; ia tidak ikut dalam urusan-urusan politik. Sebaliknya Yesus membayar upeti kepada Caesar dan melarikan diri ketika mereka ingin menobatkannya sebagai Raja. Ia dengan jelas menyatakan bahwa Sang Pemimpin dunia ini akan datang, karena sang Periqlyte akan mencabut kejahatan dan kemusyrikan sampai keakar-akarnya. Semua ini dituntaskan oleh Muhammad dalam beberapa tahun.

    Islam adalah Kerajaan dan Pengadilan, atau agama; ia mempunyai Kitab Hukum, Al-Qur’an Suci; ia mempunyai Tuhan sebagai Hakim dan Rajanya yang tertinggi dan Muhammad sebagai pahlawannya yang meraih kebahagiaan dan keagungan yang abadi!

    Tanda yang tak kurang pentingnya dari sang Periqlyte adalah bahwa ia tidak akan berkata-kata dari dalam dirinya sendiri; tapi segala sesuatu yang didengarnya itulah yang akan dikatakannya, dan ia akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang akan datang (Yohanes 16:13).

    Tidak ada sedikitpun, tidak ada satu kata atau komentar dari Muhammad atau dari para sahabatnya yang setia dan suci dalam teks Al-Qur’an Karim, selain isinya adalah firman Allah yang diwahyukan. Muhammad mengucapkan, melafalkan firman Tuhan seperti yang ia dengar dibacakan kepadanya oleh malaikat Jibril, dan dituliskan oleh para juru tulis yang jujur.

    Kata-kata, ucapan, dan ajaran Nabi, meskipun sakral dan mendatangkan perbaikan, bukanlah firman Tuhan, dan disebut Hadits atau Tradisi.

    Maka, apakah ia bukan sang Periqlyte sejati. Meskipun dengan gambaran seperti itu? Dapatkah Anda menunjukkan kepada kami orang lain selain Ahmad yang ada dalam dirinya semua materi, moral, kualitas praktis, tanda-tanda, dan tanda-tanda istimewa Periqlyte ini? Anda tidak akan mampu.

    Saya pikir saya sudah cukup membuktikan tentang sang Periqlyte dan akan menyimpulkan dengan sebuah ayat Al-Qur’an, “Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan” (QS Al-Ahqaf [46]:9)

    Balas
  148. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Paraclete Bukanlah Roh Kudus
    Dalam artikel ini, sekarang kita dapat mendiskusikan sang “Paraclete” yang terkenal dari Kitab Injil Keempat. Yesus Kristus, seperti Yohanes Pembaptis mengabarkan lahirnya Kerajaan Tuhan, mengajak umat untuk bertobat, dan membaptis mereka untuk pengampunan dosa-dosa mereka. secara terhormat ia menyelesaikan misinya, dan dengan tepat menyampaikan pesan Tuhan kepada Bani Israel. Dirinya bukan pendiri Kerajaan Tuhan, tapi hanya pembawa kabarnya, dan itulah sebabnya ia tidak menulis apa pun dan tidak memerintah siapa pun untuk menuliskan Kitab Injil Suci yang terpahat dalam benaknya.

    Yesus mengungkapkan Injil yang berarti “berita baik” mengenai “Kerajaan Tuhan” dan sang “Pereiklitos” kepada para pengikutnya, tidak dalam catatan tertulis, tapi dalam bentuk percakapan lisan, dan dalam khotbah-khotbah umum. Khotbah-khotbahnya dan parabel-parabel ini disampaikan oleh mereka yang sudah mendengarnya dan mengabarkan kepada orang yang belum mendengarnya. Kemudian ucapan-ucapan dan ajaran-ajaran sang Guru itu dituliskan.

    Yesus bukan lagi Rabbi, tapi Logos –Firman Ilahi;, bukan lagi Pelopor sang Paraclete, melainkan Pelopor Raja dan Pemimpinnya. Kata-katanya yang suci dan benar dipalsukan dengan mitos dan legenda. Untuk sementara waktu ia diharapkan turun pada saat akan turun dari awan bersama pasukan malaikat. Para Rasul semuanya sudah meninggal; kedatangan kedua Yesus Kristus ditunda. Pribadi dan ajarannya memunculkan berbagai macam spekulasi keagamaan dan filsafat.

    Sekte-sekte silih berganti. Kitab-kitab Injil dan Epistel-epistelnya dengan nama dan judul yang berbeda-beda muncul dibanyak pusat sekte, dan banyak sekali sarjana dan apologis Kristen saling memerangi dan mengkritik teori masing-masing. Jika sudah ada ditulis sebuah Kitab Injil selama masa Yesus, atau bahkan sebuah kitab yang disahkan Fakultas Para Rasul, ajaran-ajaran Nabi dari Nazaret ini pasti sudah memelihara kemurnian dan inregritas mereka sampai munculnya sang Periqit –Ahmad.

    Namun tidak seperti itu yang terjadi. Masing-masing penulis Injil memiliki pandangannya yang berbeda-beda mengenai sang Guru dan agamanya, dan menggambarkan dia dalam kitabnya – yang ia beri nama Injil atau Epistel – sesuai dengan imajinasinya sendiri. Pikiran yang terbang membumbung tinggi tentang firman; nubuat tentang sang Periqlit; dan serangkaian mukjizat; peristiwa, dan ucapan yang tercatat dalam Injil keempat tidaklah dikenal oleh Sinoptik dan Konsekuensinya oleh mayoritas besar umat Kristiani yang belum pernah melihatnya paling tidak selama dua abad.

    Injil Keempat, pun, seperti setiap kitab lainnya dalam Perjanjian Lama, ditulis dalam bahasa Yunani dan tidak dalam bahasa Aramia, yakni bahasa-ibu Yesus dan murid-muridnya. Konsekuensinya, kita lagi-lagi berhadapan dengan kesulitan sama yang sebelumnya kita hadapi ketika mendiskusikan “Eudokia,”53 yakni: kata atau nama apakah yang digunakan Yesus dalam bahasa aslinya untuk mengungkapkan kata yang telah diterjemahkan Injil Keempat sebagai sang “Paraclete” dan yang telah diubah menjadi “Penghibur” dalam semua versi Injil itu?

    Sebelum membicarakan etimologi dan pengertian dari bentuk Paraclete yang tidak klasik atau malah menyimpang ini maka kita perlu mengadakan observasi singkat terhadap satu segi tertentu dari Injil Yohanes.

    Kengarangan dan keotentikan dari Kitab Injil ini adalah persoalan-persoalan menyangkut Higher Biblical Criticism (Kupasan Alkitab Lebih Tinggi); namun mustahil mempercayai bahwa Rasul telah mengarang kitab ini seperti kita miliki dalam bentuk dan kandungannya sekarang. Pengarang, apakah Yohanes anak Zebedee, atau seseorang lainnya yang menggunakan nama itu, kelihatannya mengetahui doktrin dari sarjana dan filsuf Yunani yang ternama, Philon, mengenai Logos (Firman).

    Diketahui bahwa penaklukan Palestina dan didirikannya kota Alexandria oleh Aleksander Agung telah membuka untuk pertama kalinya suatu zaman budaya dan peradaban yang baru. Setelah itu, barulah murid-murid Musa bertemu dengan murid-murid Epicurus, dan terjadilah pengaruh yang hebat dari doktrin-doktrin spiritual Alkitaba tas materialisme dari paganisme Yunani. Seni dan filsafat Yunani mulai dikagumi dan dikaji oleh doktor-doktor hukum Yahudi baik di Palestina maupun di Mesir, dimana mereka mempunyai komunitas yang banyak sekali. Perembesan pemikiran Yunani dan belles-Letters54 ke dalam sekolah-sekolah Yahudi membuat gusar para pendeta dan kalangan terpelajarnya.

    Sebenarnya bangsa Yahudi begitu diabaikan sehingga kitab-kitab suci dibaca di Sinagog-sinagog kota Alexandria dalam versi Septuagint. Namun, invasi pengetahuan asing ini menggerakkan kaum Yahudi untuk melakukan kajian yang lebih baik mengenai hukum mereka sendiri, dan mempertahankan terhadap semangat baru yang tidak menguntungkan. Oleh karena itu, mereka berusaha keras untuk menemukan suatu metode baru penafsiran alkitab untuk memungkinkan dilakukannya pendekatan ulang dan rekonsiliasi kebenaran-kebenaran alkitab dengan pemikiran Hellenik (Yunani). Karena, metode pertama penafsiran hukum secara harfiah dirasakan tidak dapat dilaksanakan, dan terlalu lemah untuk bertahan dari pemikiran Plato dan Aristoteles yang tajam.

    Pada saat yang sama, aktivitas-aktivitas kaum Yahudi yang kompak dan ketaatan mereka yang tinggi terhadap agama mereka seringkali memunculkan pada diri mereka sendiri rasa cemburu dan kebencian terhadap orang Yunani. Di masa Alexander Agung, seorang pendeta Mesir, Manetho, menuliskan pencemaran-pencemaran nama atau fitnah-fitnah terhadap agama Yahudi. Di bawah Tiberius, pun, orator besar Apion telah menyadarkan dan memasukkan penghinaan-penghinaan Manetho. Sehingga litreratur ini meracuni orang-orang yang, kemudian dengan kejam menyiksa orang-orang yang percaya kepada satu Tuhan sejati.

    Maka metode baru pun ditemukan dan dipakai. Penafsiran Alegoris dari setiap hukum, aturan, tuturan, dan bahkan nama-nama tokoh terkemuka dianggap menyembunyikan didalamnya suatu gagasan rahasia yang berusaha diungkapkan metode baru itu. Penafsiran Alegoris ini segera merebut tempat di alkitab dan seperti sebuah amplop menyertakan didalamnya sistem filsafat keagamaan.

    Nah, orang yang paling terkemuka mengejawantahkan ilmu pengetahuan ini adalah Filon, yang lahir dari keluarga Yahudi kaya di kota Alexandria pada tahun 25 SM. Dengan benar-benar menguasai filsafat Plato, ia menulis karya alegorisnya dalam gaya Yunani yang murni dan selaras. Ia percaya bahwa doktrin-doktrin wahyu dapat sesuai dengan pengetahuan dan kearifan manusia. Yang paling memenuhi pikirannya adalah fenomena hubungan Tuhan, sang Roh murni, dengan makhluk duniawi. Mengikuti teori “Gagasan (idea)” nya Plato, ia menemukan serangkaian gagasan intermediasi yang disebut “emanasi-emanasi Ketuhanan” yang ia ubah menjadi segi-segi yang menyatukan Tuhan dengan dunia. Substansi pokok dari gagasan-gagasan ini, Logos (Firman), merupakan kearifan tertinggi yang diciptakan dalam dunia dan ungkapan tertinggi dari perbuatan yang sudah ditakdirkan Tuhan (Providential action).

    Sekolah Alexandria mengikuti kemenangan agama Yahudi atas Paganisme. “Tetapi”, sebagaimana secara tepat dinyatakan oleh Grand-Rabin Paul Haguenaurer dalam buku kecilnya Manuel de litterature Juive (hal 24), “mais d’elle surgirent, plus tard, des susemes, nui sibles a l’hebraisme” sebenarnya sistem-sistem yang berbahaya tidak hanya bagi kaum Yahudi, tapi juga bagi Kristen.

    Asal-mula doktrin Logos, karenanya, harus ditelusuri ke teologi Filon dan Rasul Yohanes –atau pengarang Kitab Injil Keempat, siapa pun dia– hanya mendogmatisir teori “gagasan” yang telah mandul pertama kali oleh otak cemerlang Plato. Sebagaimana dinyatakan dalam artikel pertama dari serial ini, firman Ilahi artinya firman Tuhan, dan bukan Tuhan yang firman. Kata merupakan atribut dari suatu wujud yang rasional. Ia berasal dari sang pembicara, tetapi ia bukanlah wujud yang rasional itu, yakni si pembicara. Firman Ilahi tidaklah abadi, ia mempunyai suatu asal, suatu permualaan, ia tidak ada sebelum permulaan itu, kecuali kemungkinan. Kata bukanlah hakikatnya.

    Adalah suatu kesalahan yang serius mensubstansir setiap atribut apapun. Jika dibolehkan mengatakan “Tuhan yang firman”, mengapa mesti dilarang mengatakan, Tuhan Yang Rahman, Tuhan Yang Kasih, Tuhan Yang Pembalas, Tuhan Yang Hidup, Tuhan Yang Kuasa, dan sebaginya?

    Saya dapat memahami dan menerima dengan baik julukan Yesus “Roh Ilahi” (Ruhullah), Musa “firman Ilahi” (Kalamullah), Muhammad “Rasul Ilahi” (Rasullullah), artinya, berturut-turut roh Tuhan, firman Tuhan, rasul Tuhan. Tapi saya tidak pernah dapat memahami ataupun menerima bahwa roh, atau firman, atau rasul, adalah Oknum Ilahi yang memiliki sifat-sifat ilahiah dan manusia.

    Sekarang kita akan melanjutkan dengan membuktikan dan membantah kekeliruan umat Kristen tentang Paraclete.

    Dalam artikel ini saya akan mencoba membuktikan bahwa Paraclete itu bukan –sebagaimana dipercaya Gereja Kristen– Holy Ghost (Roh Kudus), juga sama sekali tidak berarti “penghibur” atau “perantara”; dalam artikel berikut, insya-Allah, saya akan menunjukkan bahwa bukanlah “Paraclete” melainkan yang benar adalah “Periclyte” yang secara persis berarti “Ahmad” yang artinya adalah “yang paling terkenal, terpuji, dan termasyur”.

    Roh Kudus Digambarkan dalam Perjanjian Baru Sebagai suatu Kepribadian Yang Lain

    Suatu pemeriksaan yang seksama mengenai pasal-pasal berikut dalam Perjanjian Baru akan meyakinkan para pembaca bahwa Roh Kudus, tidak hanya ia bukan oknum ketiga dari Trinitas, tapi juga bukan satu oknum yang berbeda. Perbedaan yang mendasar di antara dua ini, karenanya, merupakan sanggahan yang tegas terhadap hipotesis bahwa kedua wujud itu adalah satu oknum yang sama (itu-itu juga).

    Dalam Lukas 11:13 Roh Kudus dinyatakan sebagai “pemberian” Tuhan. Kontras antara “pemberian yang baik” yang diberikan oleh orang tua yang jahat dan Roh Kudus yang diberikan kepada orang beriman oleh Tuhan sama sekali meniadakan gagasan tentang suatu kepribadian dari Roh itu.

    Dapatkah kita secara sungguh-sungguh dan nyata-nyata menegaskan bahwa Yesus Kristus ketika ia membuat kontras diatas, bermaksud mengajarkan kepada pendengarnya bahwa “Tuhan Bapa” menghadiahkan “Tuhan Roh Kudus” kepada “anak-anak” duniawi-Nya ? Pernahkah ia menyinggung secara tak langsung bahwa ia mempercayai oknum Tuhan ketiga Trinitas sebagai pemberian dari oknum Tuhan yang pertama Trinitas? Dapatkah kita secara sungguh-sungguh mengakui bahwa Rasul mempercayai “pemberian” ini sebagai Tuhan Yang Mahakuasa yang diberikan oleh Tuhan Yang Mahakuasa kepada makhluk hidup? Gagasan dari keyakinan semacam itu membuat seorang Muslim merasa ngeri.

    Dalam 1 Korintus 2:12, Roh Kudus ini digambarkan dalam jenis netral “Roh dari Tuhan”.

    Paulus dengan jelas menyatakan bahwa sebagaimana Roh yang berada dalam diri manusia membuat manusia tahu hal-hal yang ada didalam dirinya, begitu pula Roh Tuhan membuat seorang manusia tahu hal-hal yang bersifat Ilahiah (1 Korintus 2:11). Konsekuensinya, Roh Kudus disini bukanlah Tuhan melainkan suatu hasil, saluran, atau medium melalui mana Tuhan mengajarkan, mencerahkan, dan mengilhami orang-orang yang diridhai-Nya. Itu semata-mata perbuatan Tuhan pada jiwa dan pikiran manusia. Pengajar, pemberi pencerahan, pemberi ilham tidaklah langsung sang Roh melainkan Tuhan sendiri.

    Menurut saya Filon adalah orang yang mempelajari filsafat Plato. Ia tidak pernah bertemu Plato, tapi hanya mempelajari filsafat Plato dan menjadi filsuf dan Platonis. Dalam pengertian yang sama saya katakan bahwa Rasul Petrus dan Imam Ali menerima Roh Kudus Tuhan dan menjadi terilhami dengan pengetahuan Tuhan –mereka menjadi bersifat ilahiah. Sebagaimana filsafat Plato adalah bukan Plato, dan Filon sang Platonis bukan pencipta kearifan (hikmah) khusus itu, begitu pula Petrus dan Ali adalah bukan Tuhan. Mereka bersifat ilahiah karena dicerahkan oleh Roh Tuhan.

    Paulus dengan jelas mengemukakan , dalam pasal yang baru saja dikutip, bahwa jiwa manusia tidak dapat melihat kebenaran-kebenaran tentang Tuhan tapi hanya melalui Roh, ilham, dan petunjuk-Nya.

    Dalam 1 Korintus 6:19, kita membaca bahwa hamba-hamba Tuhan yang shaleh disebut “Bait Roh Kudus yang mereka terima dari Tuhan”. Disini lagi-lagi Roh Tuhan tidak ditunjukkan sebagai suatu oknum (pribadi), melainkan kebajikan, firman, atau kuasa dan agama-Nya. Tubuh dan jiwa seorang beriman yang shaleh dipersamakan dengan Bait yang diperuntukkan untuk penyembahan Yang Mahakekal.

    Dalam Epistel kepada bangsa Romawi (8:9), Roh ini yang “hidup” didalam orang beriman disebut secara bergantian “Roh Allah” dan “Roh Kristus”. Dalam pasal ini “Roh” berarti keyakinan dan agama Tuhan yang sejati yang diproklamirkan oleh Yesus. Tentu saja, Roh ini tidak dapat diartikan sebagai Holy Ghost (Roh Kudus) idaman umat Kristiani, yakni yang ketiga dari tiga tuhan.

    Kita kaum Muslim selalu menginginkan dan bermaksud untuk mengatur kehidupan kita dan bertingkah laku sesuai dengan ruh Muhammad, maksudnya adalah bahwa kita diteguhkan untuk setia pada agama Tuhan dengan cara yang benar-benar sama dengan Nabi Terakhir. Karena Ruh Suci yang ada dalam Muhammad, dalam Yesus, dan setiap nabi lainnya tak lain adalah Roh Allah –terpujilah Nama-Nya yang Suci! Roh ini disebut “suci” untuk membedakannya dengan roh tidak suci dan jahat dari Iblis dan para malaikat-malaikat yang terjungkal. Roh ini bukanlah oknum ilahiah, melainkan sinar ilahi yang mencerahkan dan menyucikan umat Tuhan.

    Ucapan salam Injil, “Dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”, meskipun asli dan benar-benar ditetapkan oleh Kristus, bisa saja secara sah diterima sebagai ungkapan keimanan sebelum berdirinya Islam secara resmi, yakni Kerajaan Tuhan yang sejati di muka bumi. Tuhan Yang Mahakuasa dalam kualitas-Nya sebagai Pencipta adalah Bapak dari semua wujud, benda, dan kecerdasan, tapi bukan Bapak dari satu anak tertentu.

    Kaum Orientalis Kristen tahu bahwa kata Semit “Abb” atau “Abba” yang diterjemahkan sebagai “bapa”, berarti “orang yang melahirkan atau berbuah” (“ibba” =buah). Pengertian ini untuk kata tersebut sudah cukup masuk akal dan penggunaannya cukup sah.

    Alkitab seringkali menggunakan sebutan “Bapa”. Tuhan dimanapun dalam alkitab, mengatakan “Israel adalah anakku yang pertama lahir”; dan ditempat lain dalam kitab Ayub, Dia dipanggil “Bapak Hujan”. Hal ini karena penyalahgunaan sebutan ilahiah dari sang Pencipta ini oleh umat Kristen yang justru sanga dijaga oleh Al-Qur’an jangan sampai menggunakannya.

    Dari sudut keyakinan seorang Ahlutauhid dan Muslim sejati, dogma Kristen mengenai kelahiran abadi dari sang Anak adalah suatu pelecehan.

    Apakah ucapan salam pembaptisan Kristiani adalah asli atau palsu? Saya percaya bahwa para Penginjil tidak pernah mengesahkan penggunaan dalam ritual, doa, atau ibadah lain apa pun selain dalam Pembaptisan. Poin ini sangatlah penting.

    Yohanes telah meramalkan pembaptisan dengan Roh Kudus dan Api oleh nabi Muhammad, sebagaimana kita lihat dalam artikel-artikel yang terdahulu. Sang Pembaptisnya adalah langsung Tuhan sendiri, dan perantaranya adalah Anak Manusia atau Barnasha menurut penglihatan Daniel, maka sangatlah benar dan sah menyebut dua nama itu sebagai sebab pertama dan kedua yang tepat guna, dan nama Roh Kudus pun, sebagai causa materialis dari Sibhghatullah.

    Nah, sebutan ilahiah “Bapa,” sebelum disalahgunakan oleh Gereja, sudah tepat diseru dalam doa.

    Sebenarnya Sibghatullah adalah suatu kelahiran dari Kerajaan Tuhan, yakni Islam. Sang Pembaptis yang menyebabkan kelahiran kembali (regenerasi) ini adalah langsung Allah. Dilahirkan dalam agama Islam, diberi keyakinan pada Tuhan yang sejati, adalah nikmat dan karunia terbesar dari “Bapa Yang Ada di Surga”–menggunakan ungkapan penginjil. Dalam hal ini Tuhan sangat jauh lebih murah hati dari bapa duniawi.

    Mengenai nama kedua dalam ucapan salam Kristen, “Anak”, kita tidak mengetahui siapa atau apa “anak” ini? Anak siapa? Jika Tuhan dengan tepat disebut “Bapa”, maka kita heran dan penasaran, yang mana saja “anak-anak”-Nya yang banyak sekali itu yang dimaksudkan dalam ucapan salam pembaptisan.

    Yesus mengajarkan kita untuk berdoa “Bapa kami yang ada di Surga”. Jika kita semua adalah anak-Nya dalam artian makhluk-makhluk-Nya, maka penyebutan kata “anak” dalam ucapan salam menjadi agak tidak berarti dan bahkan menggelikan. Kita tahu bahwa “Anak Manusia” –atau Barnasha– disebutkan sebanyak delapan puluh tiga kali dalam khotbah-khotbahnya Yesus.

    Al-Qur’an tidak pernah menyebut Yesus sebagai Anak Manusia, melainkan “Anak Maria (Maryam)”. Ia tidak bisa menyebut dirinya “Anak Manusia” karena ia adalah hanya “anak seorang perawan”. Tidak mungkin melepaskan diri dari kenyataan itu. Anda bisa menjadikan “anak Tuhan” sebagaimana dengan tolol Anda lakukan, tetapi Anda tidak bisa menjadikannya “Anak Manusia” kalau Anda tidak mempercayainya sebagai keturunan Yusuf, atau seorang lainnya, dan konsekuensinya melemparkan padanya noda ketidaksahan.

    Saya tidak tahu persis bagaimana, apakah melalui intuisi, ilham, atau mimpi, saya diajari dan diyakinkan bahwa nama kedua dalam ucapan salam itu adalah suatu perubahan“Anak Manusia”, yang membawa sial, yakni Barnasha menurut Daniel (7), dan dengan demikian Ahmad “sang Periqlytos” (Paraclete) menurut Injil Yohanes.

    Adapun mengenai Roh Kudus dalam ucapan salam, ia bukanlah roh oknum atau individu, melainkan wakil, kekuatan energi Tuhan dengan mana seorang manusia dilahirkan atau masuk kedalam agama yang benar dan pengetahuan tentang Tuhan yang satu.

    Apa kata Bapa-bapa Nasrani Awal Mengenai Roh Kudus?

    Hermas (Similitude v, 5, 6) memahami, dengan “Roh Sudus” sebagai unsur Ilahiah dalam diri Kristus, yaitu Anak yang diciptakan sebelum segala sesuatu. Tanpa memasuki pembicaraan yang tak berguna atau malah tidak berarti apakah Hermas mencampur adukkan Roh Kudus dengan Firman, atau seandainya itu adalah suatu unsur yang berbeda pada Kristus, diakui bahwa firman diciptakan sebelum segala sesuatu–artinya, pada permulaan– dan bahwa Roh menurut keyakinan Hermas aalah bukan suatu oknum (pribadi)

    Justin – dipanggil “sang martir” (100?-167? M)– dan Theophilus (120?-180? M) memahami Roh Kudus kadang-kadang sebagai bentuk yang aneh dari perwujudan firman dan kadang-kadang sebagai sifat ilahiah, tapi tidak pernah sebagai satu oknum ilahiah. Mesti diingat bahwa dua Bapa dan Penulis Yunani abad kedua Masehi ini tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan yang pasti tentang Roh Kudus kaumTrinitas dari abad keempat dan seterusnya.

    Athenagoras (110-180M) mengatakan bahwa Roh Kudus adalah pancaran Tuhan yang berasal dan kembali kepada-Nya seperti sinar matahari (Deprecatio pro Christiarus, ix, x.). Irenaeus (130?-202? M) mengatakan bahwa Roh Kudus dan Anak adalah dua hamba Tuhan dan bahwa malaikat tunduk kepada mereka. Perbedaan besar antara keyakinan dan konsepsi dua bapa awal ini tentang Roh Kudus jelas sekali membutuhkan ulasan lebih jauh lagi. Adalah mengejutkan bahwa dua hamba Tuhan itu, menurut pernyataan dari sumber seperti Irenaeus, seharusnya, dua abad kemudian, di angkat ke martabat Tuhan dan menyatakan dua oknum ilahiah bersama dengan satu Tuhan sejati yang menciptakan mereka.

    Yang paling termasyhur dan berpengetahuan tinggi dari semua Bapak anti-Nicene dan apologis Kristen adalah Origen (185-254 M). Pengarang Hexepla menganggap kepribadian berasal dari Roh Kudus, tetapi menjadikannya pengikut sang Anak. Penciptaan Roh Kudus oleh sang Anak adalah tidaklah mungkin sekalipun pada permulaan ketika firman –atau Anak- diciptakan oleh Tuhan. Doktrin mengenai Roh Kudus ini tidak cukup berkembang pada 325 M, dan oleh karena itu tidak ditetapkan oleh Dewan Nicene. Hanya saja pada 386 M dalam Dewan Gereja Konstantinopel kedua barulah dinyatakan sebagai Oknum Ketiga Tuhan dari Trinitas yang bersifat konsubstansial55 dan sebaya dengan Bapa dan Anak.

    “Paraclete” tidak berarti “penghibur” atau “penolong”. Sebenarnya, ia sama sekali bukan sebuah kata klasik. Ortografi Yunani dari kata tersebut adalah Paraklytos yang dalam literatur Gereja diartikan sebagai “orang yang diminta untuk membantu, menyokong, memperantarai” ( Dict. Grec-Francais oleh Alexandre).

    Kita tidak perlu mengaku sebagai seorang sarjana Yunani untuk mengetahui bahwa kata Ibrani untuk “penghibur” ( Comforter atau Conselor ) bukanlah “ Paraclytos ” atau “ Paracalon ”. Saya tidak memiliki Septuagint versi Yunani, tapi saya ingat dengan baik bahwa kata Ibrani untuk “penghibur” (mnahem) dalam Ratapan Yeremia (1:2,9,16,17,21, dan seterusnya) diterjemahkan menjadi Parakaloon , dari kata Parakaloo , yang artinya adalah “memanggil, mengajak, mendesak, menghibur, berdoa, memohon.”

    Perlu diketahui bahwa ada dua huruf vokal alpha yang panjang setelah konsonan kappa dalam “Paracalon” yang tidak ada dalam “Paraclytos” . Dalam ungkapan “Dia yang menghibur kita akan semua penderitaan kita” kata paracalon (dan bukan paraclytos ) digunakan. “Saya mendesak, atau mengajak, engkau untuk bekerja”.

    Adapun mengenai arti lainnya dari “perantara” atau “penolong” yang diberikan oleh Gereja yakni “ paraclete” , sekali lagi saya menyatakan bahwa “ Paracalon” (bukan “ paraclytos” ) dapat membawa pengertian yang sama. Istilah Yunani yang benar untuk “penolong” adalah “Sunegorus” dan untuk “perantara” atau “mediator” adalah “meditea”.

    Dalam artikel saya selanjutnya, saya akan memaparkan bentuk Yunani nya yang benar yang diselewengkan menjadi “Paraclytos”. Secara sambil lalu, saya ingin mengoreksi kesalahan dimana sarjana Perancis Ernest Renan juga terperosok.

    Jika saya mengingat kembali dengan baik, Monsier Renan, dalam karyanya yang terkenal The Life of Christ , menerjemahkan Paraclete Yohanes (14:16,26; 15:7; 1 Yohanes 2:1) sebagai “penolong”. Ia menyebutkan bahwa bentuk Syrio-Khaldean “Peraklit ” sebagai lawan dari “Ktighra” (pendakwa) dari “Kategorus” . Nama Syria untuk mediator atau perantara adalah “mis’aaya” , tetapi dipengadilan-pengadilan “Snighra” (dari kata Yunani Sunegorus) digunakan untuk seorang pembela. Banyak orang Syria yang tidak mengenal bahasa Yunani menganggap “Paraqlita” sebagai bentuk bahasa Aramia atau Syriak dari “Paraclete” dalam versi Pshittha dan terbentuk dari Paraq (menyelamatkan diri, mengantarkan dari) dan “lita” (yang terkutuk).

    Pemikiran bahwa Kristus adalah “sang Juru Selamat dari kutukan sumpah”, dan karenanya dia sendiri pun “Paraqlita” (1 Yohanes 2:1), bisa menggiring seseorang berpikir bahwa kata Yunani tersebut asalnya dari kata Aramia, seperti kalimat Yunani “Maran atha” dalam bahasa Aramia adalah “Maran Athi” , artinya Tuhan kita akan datang (1 Yohanes 16:22), yang nampak merupakan ungkapan ditengah kaum beriman mengenai kedatangan Nabi Besar Terakhir. Maran Athi ini, dan juga, khususnya ucapan salam pembaptisan, mengandung poin-poin yang terlalu penting untuk diabaikan. Keduanya patut mendapat kajian khusus dan penjelasan terperinci yang berharga. Keduanya memasukkan indikasi yang menguntungkan agama Kristen.

    Saya pikir sudah cukup membuktikan bahwa “Paraclytos”, dari sudut pandang Linguistik dan etimologis, tidak berarti “penolong, penghibur, atau penenang”. Ditempat lain saya telah menjelaskan hal ini sebagai “biadab”, tapi saya menarik kembali ungkapan itu dan akan menggantinya dengan “penyelewengan”.

    Kebodohan melibatkan banyak kesalahan. Selama berabad-abad bangsa Latin dan Eropa yang bodoh telah menulis nama Muhammad “Mahomet”, Musa “Moses”. Oleh karenanya, apakah sedikit mengherankan kalau pendeta atau penulis Kristen yang agak kuat harus menuliskan nama sebenarnya dalam bentuk Paraclytos yang diselewengkan? Yang pertama berarti “yang paling terkenal, patut terpuji”. Tetapi bentuk yang telah diselewengkan sama sekali tidak berarti apa-apa selain rasa malu pada diri mereka yang selama 18 abad memahami kata itu dalam arti “penolong” atau “penghibur”.

    ——————————————————————————–

    Catatan Kaki
    53. Vide Islamic Review untuk Januari, 1930.
    54. Kepustakaan yang dihargai lebih karena nilai estetikanya daripada didaktika atau muatan informatikanya–penerj.
    55. Memiliki substansi, sifat, atau hakikat yang sama–penerj.

    Balas
  149. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Paraclete Bukanlah Roh Kudus
    Dalam artikel ini, sekarang kita dapat mendiskusikan sang “Paraclete” yang terkenal dari Kitab Injil Keempat. Yesus Kristus, seperti Yohanes Pembaptis mengabarkan lahirnya Kerajaan Tuhan, mengajak umat untuk bertobat, dan membaptis mereka untuk pengampunan dosa-dosa mereka. secara terhormat ia menyelesaikan misinya, dan dengan tepat menyampaikan pesan Tuhan kepada Bani Israel. Dirinya bukan pendiri Kerajaan Tuhan, tapi hanya pembawa kabarnya, dan itulah sebabnya ia tidak menulis apa pun dan tidak memerintah siapa pun untuk menuliskan Kitab Injil Suci yang terpahat dalam benaknya.

    Yesus mengungkapkan Injil yang berarti “berita baik” mengenai “Kerajaan Tuhan” dan sang “Pereiklitos” kepada para pengikutnya, tidak dalam catatan tertulis, tapi dalam bentuk percakapan lisan, dan dalam khotbah-khotbah umum. Khotbah-khotbahnya dan parabel-parabel ini disampaikan oleh mereka yang sudah mendengarnya dan mengabarkan kepada orang yang belum mendengarnya. Kemudian ucapan-ucapan dan ajaran-ajaran sang Guru itu dituliskan.

    Yesus bukan lagi Rabbi, tapi Logos –Firman Ilahi;, bukan lagi Pelopor sang Paraclete, melainkan Pelopor Raja dan Pemimpinnya. Kata-katanya yang suci dan benar dipalsukan dengan mitos dan legenda. Untuk sementara waktu ia diharapkan turun pada saat akan turun dari awan bersama pasukan malaikat. Para Rasul semuanya sudah meninggal; kedatangan kedua Yesus Kristus ditunda. Pribadi dan ajarannya memunculkan berbagai macam spekulasi keagamaan dan filsafat.

    Sekte-sekte silih berganti. Kitab-kitab Injil dan Epistel-epistelnya dengan nama dan judul yang berbeda-beda muncul dibanyak pusat sekte, dan banyak sekali sarjana dan apologis Kristen saling memerangi dan mengkritik teori masing-masing. Jika sudah ada ditulis sebuah Kitab Injil selama masa Yesus, atau bahkan sebuah kitab yang disahkan Fakultas Para Rasul, ajaran-ajaran Nabi dari Nazaret ini pasti sudah memelihara kemurnian dan inregritas mereka sampai munculnya sang Periqit –Ahmad.

    Namun tidak seperti itu yang terjadi. Masing-masing penulis Injil memiliki pandangannya yang berbeda-beda mengenai sang Guru dan agamanya, dan menggambarkan dia dalam kitabnya – yang ia beri nama Injil atau Epistel – sesuai dengan imajinasinya sendiri. Pikiran yang terbang membumbung tinggi tentang firman; nubuat tentang sang Periqlit; dan serangkaian mukjizat; peristiwa, dan ucapan yang tercatat dalam Injil keempat tidaklah dikenal oleh Sinoptik dan Konsekuensinya oleh mayoritas besar umat Kristiani yang belum pernah melihatnya paling tidak selama dua abad.

    Injil Keempat, pun, seperti setiap kitab lainnya dalam Perjanjian Lama, ditulis dalam bahasa Yunani dan tidak dalam bahasa Aramia, yakni bahasa-ibu Yesus dan murid-muridnya. Konsekuensinya, kita lagi-lagi berhadapan dengan kesulitan sama yang sebelumnya kita hadapi ketika mendiskusikan “Eudokia,”53 yakni: kata atau nama apakah yang digunakan Yesus dalam bahasa aslinya untuk mengungkapkan kata yang telah diterjemahkan Injil Keempat sebagai sang “Paraclete” dan yang telah diubah menjadi “Penghibur” dalam semua versi Injil itu?

    Sebelum membicarakan etimologi dan pengertian dari bentuk Paraclete yang tidak klasik atau malah menyimpang ini maka kita perlu mengadakan observasi singkat terhadap satu segi tertentu dari Injil Yohanes.

    Kengarangan dan keotentikan dari Kitab Injil ini adalah persoalan-persoalan menyangkut Higher Biblical Criticism (Kupasan Alkitab Lebih Tinggi); namun mustahil mempercayai bahwa Rasul telah mengarang kitab ini seperti kita miliki dalam bentuk dan kandungannya sekarang. Pengarang, apakah Yohanes anak Zebedee, atau seseorang lainnya yang menggunakan nama itu, kelihatannya mengetahui doktrin dari sarjana dan filsuf Yunani yang ternama, Philon, mengenai Logos (Firman).

    Diketahui bahwa penaklukan Palestina dan didirikannya kota Alexandria oleh Aleksander Agung telah membuka untuk pertama kalinya suatu zaman budaya dan peradaban yang baru. Setelah itu, barulah murid-murid Musa bertemu dengan murid-murid Epicurus, dan terjadilah pengaruh yang hebat dari doktrin-doktrin spiritual Alkitaba tas materialisme dari paganisme Yunani. Seni dan filsafat Yunani mulai dikagumi dan dikaji oleh doktor-doktor hukum Yahudi baik di Palestina maupun di Mesir, dimana mereka mempunyai komunitas yang banyak sekali. Perembesan pemikiran Yunani dan belles-Letters54 ke dalam sekolah-sekolah Yahudi membuat gusar para pendeta dan kalangan terpelajarnya.

    Sebenarnya bangsa Yahudi begitu diabaikan sehingga kitab-kitab suci dibaca di Sinagog-sinagog kota Alexandria dalam versi Septuagint. Namun, invasi pengetahuan asing ini menggerakkan kaum Yahudi untuk melakukan kajian yang lebih baik mengenai hukum mereka sendiri, dan mempertahankan terhadap semangat baru yang tidak menguntungkan. Oleh karena itu, mereka berusaha keras untuk menemukan suatu metode baru penafsiran alkitab untuk memungkinkan dilakukannya pendekatan ulang dan rekonsiliasi kebenaran-kebenaran alkitab dengan pemikiran Hellenik (Yunani). Karena, metode pertama penafsiran hukum secara harfiah dirasakan tidak dapat dilaksanakan, dan terlalu lemah untuk bertahan dari pemikiran Plato dan Aristoteles yang tajam.

    Pada saat yang sama, aktivitas-aktivitas kaum Yahudi yang kompak dan ketaatan mereka yang tinggi terhadap agama mereka seringkali memunculkan pada diri mereka sendiri rasa cemburu dan kebencian terhadap orang Yunani. Di masa Alexander Agung, seorang pendeta Mesir, Manetho, menuliskan pencemaran-pencemaran nama atau fitnah-fitnah terhadap agama Yahudi. Di bawah Tiberius, pun, orator besar Apion telah menyadarkan dan memasukkan penghinaan-penghinaan Manetho. Sehingga litreratur ini meracuni orang-orang yang, kemudian dengan kejam menyiksa orang-orang yang percaya kepada satu Tuhan sejati.

    Maka metode baru pun ditemukan dan dipakai. Penafsiran Alegoris dari setiap hukum, aturan, tuturan, dan bahkan nama-nama tokoh terkemuka dianggap menyembunyikan didalamnya suatu gagasan rahasia yang berusaha diungkapkan metode baru itu. Penafsiran Alegoris ini segera merebut tempat di alkitab dan seperti sebuah amplop menyertakan didalamnya sistem filsafat keagamaan.

    Nah, orang yang paling terkemuka mengejawantahkan ilmu pengetahuan ini adalah Filon, yang lahir dari keluarga Yahudi kaya di kota Alexandria pada tahun 25 SM. Dengan benar-benar menguasai filsafat Plato, ia menulis karya alegorisnya dalam gaya Yunani yang murni dan selaras. Ia percaya bahwa doktrin-doktrin wahyu dapat sesuai dengan pengetahuan dan kearifan manusia. Yang paling memenuhi pikirannya adalah fenomena hubungan Tuhan, sang Roh murni, dengan makhluk duniawi. Mengikuti teori “Gagasan (idea)” nya Plato, ia menemukan serangkaian gagasan intermediasi yang disebut “emanasi-emanasi Ketuhanan” yang ia ubah menjadi segi-segi yang menyatukan Tuhan dengan dunia. Substansi pokok dari gagasan-gagasan ini, Logos (Firman), merupakan kearifan tertinggi yang diciptakan dalam dunia dan ungkapan tertinggi dari perbuatan yang sudah ditakdirkan Tuhan (Providential action).

    Sekolah Alexandria mengikuti kemenangan agama Yahudi atas Paganisme. “Tetapi”, sebagaimana secara tepat dinyatakan oleh Grand-Rabin Paul Haguenaurer dalam buku kecilnya Manuel de litterature Juive (hal 24), “mais d’elle surgirent, plus tard, des susemes, nui sibles a l’hebraisme” sebenarnya sistem-sistem yang berbahaya tidak hanya bagi kaum Yahudi, tapi juga bagi Kristen.

    Asal-mula doktrin Logos, karenanya, harus ditelusuri ke teologi Filon dan Rasul Yohanes –atau pengarang Kitab Injil Keempat, siapa pun dia– hanya mendogmatisir teori “gagasan” yang telah mandul pertama kali oleh otak cemerlang Plato. Sebagaimana dinyatakan dalam artikel pertama dari serial ini, firman Ilahi artinya firman Tuhan, dan bukan Tuhan yang firman. Kata merupakan atribut dari suatu wujud yang rasional. Ia berasal dari sang pembicara, tetapi ia bukanlah wujud yang rasional itu, yakni si pembicara. Firman Ilahi tidaklah abadi, ia mempunyai suatu asal, suatu permualaan, ia tidak ada sebelum permulaan itu, kecuali kemungkinan. Kata bukanlah hakikatnya.

    Adalah suatu kesalahan yang serius mensubstansir setiap atribut apapun. Jika dibolehkan mengatakan “Tuhan yang firman”, mengapa mesti dilarang mengatakan, Tuhan Yang Rahman, Tuhan Yang Kasih, Tuhan Yang Pembalas, Tuhan Yang Hidup, Tuhan Yang Kuasa, dan sebaginya?

    Saya dapat memahami dan menerima dengan baik julukan Yesus “Roh Ilahi” (Ruhullah), Musa “firman Ilahi” (Kalamullah), Muhammad “Rasul Ilahi” (Rasullullah), artinya, berturut-turut roh Tuhan, firman Tuhan, rasul Tuhan. Tapi saya tidak pernah dapat memahami ataupun menerima bahwa roh, atau firman, atau rasul, adalah Oknum Ilahi yang memiliki sifat-sifat ilahiah dan manusia.

    Sekarang kita akan melanjutkan dengan membuktikan dan membantah kekeliruan umat Kristen tentang Paraclete.

    Dalam artikel ini saya akan mencoba membuktikan bahwa Paraclete itu bukan –sebagaimana dipercaya Gereja Kristen– Holy Ghost (Roh Kudus), juga sama sekali tidak berarti “penghibur” atau “perantara”; dalam artikel berikut, insya-Allah, saya akan menunjukkan bahwa bukanlah “Paraclete” melainkan yang benar adalah “Periclyte” yang secara persis berarti “Ahmad” yang artinya adalah “yang paling terkenal, terpuji, dan termasyur”.

    Roh Kudus Digambarkan dalam Perjanjian Baru Sebagai suatu Kepribadian Yang Lain

    Suatu pemeriksaan yang seksama mengenai pasal-pasal berikut dalam Perjanjian Baru akan meyakinkan para pembaca bahwa Roh Kudus, tidak hanya ia bukan oknum ketiga dari Trinitas, tapi juga bukan satu oknum yang berbeda. Perbedaan yang mendasar di antara dua ini, karenanya, merupakan sanggahan yang tegas terhadap hipotesis bahwa kedua wujud itu adalah satu oknum yang sama (itu-itu juga).

    Dalam Lukas 11:13 Roh Kudus dinyatakan sebagai “pemberian” Tuhan. Kontras antara “pemberian yang baik” yang diberikan oleh orang tua yang jahat dan Roh Kudus yang diberikan kepada orang beriman oleh Tuhan sama sekali meniadakan gagasan tentang suatu kepribadian dari Roh itu.

    Dapatkah kita secara sungguh-sungguh dan nyata-nyata menegaskan bahwa Yesus Kristus ketika ia membuat kontras diatas, bermaksud mengajarkan kepada pendengarnya bahwa “Tuhan Bapa” menghadiahkan “Tuhan Roh Kudus” kepada “anak-anak” duniawi-Nya ? Pernahkah ia menyinggung secara tak langsung bahwa ia mempercayai oknum Tuhan ketiga Trinitas sebagai pemberian dari oknum Tuhan yang pertama Trinitas? Dapatkah kita secara sungguh-sungguh mengakui bahwa Rasul mempercayai “pemberian” ini sebagai Tuhan Yang Mahakuasa yang diberikan oleh Tuhan Yang Mahakuasa kepada makhluk hidup? Gagasan dari keyakinan semacam itu membuat seorang Muslim merasa ngeri.

    Dalam 1 Korintus 2:12, Roh Kudus ini digambarkan dalam jenis netral “Roh dari Tuhan”.

    Paulus dengan jelas menyatakan bahwa sebagaimana Roh yang berada dalam diri manusia membuat manusia tahu hal-hal yang ada didalam dirinya, begitu pula Roh Tuhan membuat seorang manusia tahu hal-hal yang bersifat Ilahiah (1 Korintus 2:11). Konsekuensinya, Roh Kudus disini bukanlah Tuhan melainkan suatu hasil, saluran, atau medium melalui mana Tuhan mengajarkan, mencerahkan, dan mengilhami orang-orang yang diridhai-Nya. Itu semata-mata perbuatan Tuhan pada jiwa dan pikiran manusia. Pengajar, pemberi pencerahan, pemberi ilham tidaklah langsung sang Roh melainkan Tuhan sendiri.

    Menurut saya Filon adalah orang yang mempelajari filsafat Plato. Ia tidak pernah bertemu Plato, tapi hanya mempelajari filsafat Plato dan menjadi filsuf dan Platonis. Dalam pengertian yang sama saya katakan bahwa Rasul Petrus dan Imam Ali menerima Roh Kudus Tuhan dan menjadi terilhami dengan pengetahuan Tuhan –mereka menjadi bersifat ilahiah. Sebagaimana filsafat Plato adalah bukan Plato, dan Filon sang Platonis bukan pencipta kearifan (hikmah) khusus itu, begitu pula Petrus dan Ali adalah bukan Tuhan. Mereka bersifat ilahiah karena dicerahkan oleh Roh Tuhan.

    Paulus dengan jelas mengemukakan , dalam pasal yang baru saja dikutip, bahwa jiwa manusia tidak dapat melihat kebenaran-kebenaran tentang Tuhan tapi hanya melalui Roh, ilham, dan petunjuk-Nya.

    Dalam 1 Korintus 6:19, kita membaca bahwa hamba-hamba Tuhan yang shaleh disebut “Bait Roh Kudus yang mereka terima dari Tuhan”. Disini lagi-lagi Roh Tuhan tidak ditunjukkan sebagai suatu oknum (pribadi), melainkan kebajikan, firman, atau kuasa dan agama-Nya. Tubuh dan jiwa seorang beriman yang shaleh dipersamakan dengan Bait yang diperuntukkan untuk penyembahan Yang Mahakekal.

    Dalam Epistel kepada bangsa Romawi (8:9), Roh ini yang “hidup” didalam orang beriman disebut secara bergantian “Roh Allah” dan “Roh Kristus”. Dalam pasal ini “Roh” berarti keyakinan dan agama Tuhan yang sejati yang diproklamirkan oleh Yesus. Tentu saja, Roh ini tidak dapat diartikan sebagai Holy Ghost (Roh Kudus) idaman umat Kristiani, yakni yang ketiga dari tiga tuhan.

    Kita kaum Muslim selalu menginginkan dan bermaksud untuk mengatur kehidupan kita dan bertingkah laku sesuai dengan ruh Muhammad, maksudnya adalah bahwa kita diteguhkan untuk setia pada agama Tuhan dengan cara yang benar-benar sama dengan Nabi Terakhir. Karena Ruh Suci yang ada dalam Muhammad, dalam Yesus, dan setiap nabi lainnya tak lain adalah Roh Allah –terpujilah Nama-Nya yang Suci! Roh ini disebut “suci” untuk membedakannya dengan roh tidak suci dan jahat dari Iblis dan para malaikat-malaikat yang terjungkal. Roh ini bukanlah oknum ilahiah, melainkan sinar ilahi yang mencerahkan dan menyucikan umat Tuhan.

    Ucapan salam Injil, “Dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”, meskipun asli dan benar-benar ditetapkan oleh Kristus, bisa saja secara sah diterima sebagai ungkapan keimanan sebelum berdirinya Islam secara resmi, yakni Kerajaan Tuhan yang sejati di muka bumi. Tuhan Yang Mahakuasa dalam kualitas-Nya sebagai Pencipta adalah Bapak dari semua wujud, benda, dan kecerdasan, tapi bukan Bapak dari satu anak tertentu.

    Kaum Orientalis Kristen tahu bahwa kata Semit “Abb” atau “Abba” yang diterjemahkan sebagai “bapa”, berarti “orang yang melahirkan atau berbuah” (“ibba” =buah). Pengertian ini untuk kata tersebut sudah cukup masuk akal dan penggunaannya cukup sah.

    Alkitab seringkali menggunakan sebutan “Bapa”. Tuhan dimanapun dalam alkitab, mengatakan “Israel adalah anakku yang pertama lahir”; dan ditempat lain dalam kitab Ayub, Dia dipanggil “Bapak Hujan”. Hal ini karena penyalahgunaan sebutan ilahiah dari sang Pencipta ini oleh umat Kristen yang justru sanga dijaga oleh Al-Qur’an jangan sampai menggunakannya.

    Dari sudut keyakinan seorang Ahlutauhid dan Muslim sejati, dogma Kristen mengenai kelahiran abadi dari sang Anak adalah suatu pelecehan.

    Apakah ucapan salam pembaptisan Kristiani adalah asli atau palsu? Saya percaya bahwa para Penginjil tidak pernah mengesahkan penggunaan dalam ritual, doa, atau ibadah lain apa pun selain dalam Pembaptisan. Poin ini sangatlah penting.

    Yohanes telah meramalkan pembaptisan dengan Roh Kudus dan Api oleh nabi Muhammad, sebagaimana kita lihat dalam artikel-artikel yang terdahulu. Sang Pembaptisnya adalah langsung Tuhan sendiri, dan perantaranya adalah Anak Manusia atau Barnasha menurut penglihatan Daniel, maka sangatlah benar dan sah menyebut dua nama itu sebagai sebab pertama dan kedua yang tepat guna, dan nama Roh Kudus pun, sebagai causa materialis dari Sibhghatullah.

    Nah, sebutan ilahiah “Bapa,” sebelum disalahgunakan oleh Gereja, sudah tepat diseru dalam doa.

    Sebenarnya Sibghatullah adalah suatu kelahiran dari Kerajaan Tuhan, yakni Islam. Sang Pembaptis yang menyebabkan kelahiran kembali (regenerasi) ini adalah langsung Allah. Dilahirkan dalam agama Islam, diberi keyakinan pada Tuhan yang sejati, adalah nikmat dan karunia terbesar dari “Bapa Yang Ada di Surga”–menggunakan ungkapan penginjil. Dalam hal ini Tuhan sangat jauh lebih murah hati dari bapa duniawi.

    Mengenai nama kedua dalam ucapan salam Kristen, “Anak”, kita tidak mengetahui siapa atau apa “anak” ini? Anak siapa? Jika Tuhan dengan tepat disebut “Bapa”, maka kita heran dan penasaran, yang mana saja “anak-anak”-Nya yang banyak sekali itu yang dimaksudkan dalam ucapan salam pembaptisan.

    Yesus mengajarkan kita untuk berdoa “Bapa kami yang ada di Surga”. Jika kita semua adalah anak-Nya dalam artian makhluk-makhluk-Nya, maka penyebutan kata “anak” dalam ucapan salam menjadi agak tidak berarti dan bahkan menggelikan. Kita tahu bahwa “Anak Manusia” –atau Barnasha– disebutkan sebanyak delapan puluh tiga kali dalam khotbah-khotbahnya Yesus.

    Al-Qur’an tidak pernah menyebut Yesus sebagai Anak Manusia, melainkan “Anak Maria (Maryam)”. Ia tidak bisa menyebut dirinya “Anak Manusia” karena ia adalah hanya “anak seorang perawan”. Tidak mungkin melepaskan diri dari kenyataan itu. Anda bisa menjadikan “anak Tuhan” sebagaimana dengan tolol Anda lakukan, tetapi Anda tidak bisa menjadikannya “Anak Manusia” kalau Anda tidak mempercayainya sebagai keturunan Yusuf, atau seorang lainnya, dan konsekuensinya melemparkan padanya noda ketidaksahan.

    Saya tidak tahu persis bagaimana, apakah melalui intuisi, ilham, atau mimpi, saya diajari dan diyakinkan bahwa nama kedua dalam ucapan salam itu adalah suatu perubahan“Anak Manusia”, yang membawa sial, yakni Barnasha menurut Daniel (7), dan dengan demikian Ahmad “sang Periqlytos” (Paraclete) menurut Injil Yohanes.

    Adapun mengenai Roh Kudus dalam ucapan salam, ia bukanlah roh oknum atau individu, melainkan wakil, kekuatan energi Tuhan dengan mana seorang manusia dilahirkan atau masuk kedalam agama yang benar dan pengetahuan tentang Tuhan yang satu.

    Apa kata Bapa-bapa Nasrani Awal Mengenai Roh Kudus?

    Hermas (Similitude v, 5, 6) memahami, dengan “Roh Sudus” sebagai unsur Ilahiah dalam diri Kristus, yaitu Anak yang diciptakan sebelum segala sesuatu. Tanpa memasuki pembicaraan yang tak berguna atau malah tidak berarti apakah Hermas mencampur adukkan Roh Kudus dengan Firman, atau seandainya itu adalah suatu unsur yang berbeda pada Kristus, diakui bahwa firman diciptakan sebelum segala sesuatu–artinya, pada permulaan– dan bahwa Roh menurut keyakinan Hermas aalah bukan suatu oknum (pribadi)

    Justin – dipanggil “sang martir” (100?-167? M)– dan Theophilus (120?-180? M) memahami Roh Kudus kadang-kadang sebagai bentuk yang aneh dari perwujudan firman dan kadang-kadang sebagai sifat ilahiah, tapi tidak pernah sebagai satu oknum ilahiah. Mesti diingat bahwa dua Bapa dan Penulis Yunani abad kedua Masehi ini tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan yang pasti tentang Roh Kudus kaumTrinitas dari abad keempat dan seterusnya.

    Athenagoras (110-180M) mengatakan bahwa Roh Kudus adalah pancaran Tuhan yang berasal dan kembali kepada-Nya seperti sinar matahari (Deprecatio pro Christiarus, ix, x.). Irenaeus (130?-202? M) mengatakan bahwa Roh Kudus dan Anak adalah dua hamba Tuhan dan bahwa malaikat tunduk kepada mereka. Perbedaan besar antara keyakinan dan konsepsi dua bapa awal ini tentang Roh Kudus jelas sekali membutuhkan ulasan lebih jauh lagi. Adalah mengejutkan bahwa dua hamba Tuhan itu, menurut pernyataan dari sumber seperti Irenaeus, seharusnya, dua abad kemudian, di angkat ke martabat Tuhan dan menyatakan dua oknum ilahiah bersama dengan satu Tuhan sejati yang menciptakan mereka.

    Yang paling termasyhur dan berpengetahuan tinggi dari semua Bapak anti-Nicene dan apologis Kristen adalah Origen (185-254 M). Pengarang Hexepla menganggap kepribadian berasal dari Roh Kudus, tetapi menjadikannya pengikut sang Anak. Penciptaan Roh Kudus oleh sang Anak adalah tidaklah mungkin sekalipun pada permulaan ketika firman –atau Anak- diciptakan oleh Tuhan. Doktrin mengenai Roh Kudus ini tidak cukup berkembang pada 325 M, dan oleh karena itu tidak ditetapkan oleh Dewan Nicene. Hanya saja pada 386 M dalam Dewan Gereja Konstantinopel kedua barulah dinyatakan sebagai Oknum Ketiga Tuhan dari Trinitas yang bersifat konsubstansial55 dan sebaya dengan Bapa dan Anak.

    “Paraclete” tidak berarti “penghibur” atau “penolong”. Sebenarnya, ia sama sekali bukan sebuah kata klasik. Ortografi Yunani dari kata tersebut adalah Paraklytos yang dalam literatur Gereja diartikan sebagai “orang yang diminta untuk membantu, menyokong, memperantarai” ( Dict. Grec-Francais oleh Alexandre).

    Kita tidak perlu mengaku sebagai seorang sarjana Yunani untuk mengetahui bahwa kata Ibrani untuk “penghibur” ( Comforter atau Conselor ) bukanlah “ Paraclytos ” atau “ Paracalon ”. Saya tidak memiliki Septuagint versi Yunani, tapi saya ingat dengan baik bahwa kata Ibrani untuk “penghibur” (mnahem) dalam Ratapan Yeremia (1:2,9,16,17,21, dan seterusnya) diterjemahkan menjadi Parakaloon , dari kata Parakaloo , yang artinya adalah “memanggil, mengajak, mendesak, menghibur, berdoa, memohon.”

    Perlu diketahui bahwa ada dua huruf vokal alpha yang panjang setelah konsonan kappa dalam “Paracalon” yang tidak ada dalam “Paraclytos” . Dalam ungkapan “Dia yang menghibur kita akan semua penderitaan kita” kata paracalon (dan bukan paraclytos ) digunakan. “Saya mendesak, atau mengajak, engkau untuk bekerja”.

    Adapun mengenai arti lainnya dari “perantara” atau “penolong” yang diberikan oleh Gereja yakni “ paraclete” , sekali lagi saya menyatakan bahwa “ Paracalon” (bukan “ paraclytos” ) dapat membawa pengertian yang sama. Istilah Yunani yang benar untuk “penolong” adalah “Sunegorus” dan untuk “perantara” atau “mediator” adalah “meditea”.

    Dalam artikel saya selanjutnya, saya akan memaparkan bentuk Yunani nya yang benar yang diselewengkan menjadi “Paraclytos”. Secara sambil lalu, saya ingin mengoreksi kesalahan dimana sarjana Perancis Ernest Renan juga terperosok.

    Jika saya mengingat kembali dengan baik, Monsier Renan, dalam karyanya yang terkenal The Life of Christ , menerjemahkan Paraclete Yohanes (14:16,26; 15:7; 1 Yohanes 2:1) sebagai “penolong”. Ia menyebutkan bahwa bentuk Syrio-Khaldean “Peraklit ” sebagai lawan dari “Ktighra” (pendakwa) dari “Kategorus” . Nama Syria untuk mediator atau perantara adalah “mis’aaya” , tetapi dipengadilan-pengadilan “Snighra” (dari kata Yunani Sunegorus) digunakan untuk seorang pembela. Banyak orang Syria yang tidak mengenal bahasa Yunani menganggap “Paraqlita” sebagai bentuk bahasa Aramia atau Syriak dari “Paraclete” dalam versi Pshittha dan terbentuk dari Paraq (menyelamatkan diri, mengantarkan dari) dan “lita” (yang terkutuk).

    Pemikiran bahwa Kristus adalah “sang Juru Selamat dari kutukan sumpah”, dan karenanya dia sendiri pun “Paraqlita” (1 Yohanes 2:1), bisa menggiring seseorang berpikir bahwa kata Yunani tersebut asalnya dari kata Aramia, seperti kalimat Yunani “Maran atha” dalam bahasa Aramia adalah “Maran Athi” , artinya Tuhan kita akan datang (1 Yohanes 16:22), yang nampak merupakan ungkapan ditengah kaum beriman mengenai kedatangan Nabi Besar Terakhir. Maran Athi ini, dan juga, khususnya ucapan salam pembaptisan, mengandung poin-poin yang terlalu penting untuk diabaikan. Keduanya patut mendapat kajian khusus dan penjelasan terperinci yang berharga. Keduanya memasukkan indikasi yang menguntungkan agama Kristen.

    Saya pikir sudah cukup membuktikan bahwa “Paraclytos”, dari sudut pandang Linguistik dan etimologis, tidak berarti “penolong, penghibur, atau penenang”. Ditempat lain saya telah menjelaskan hal ini sebagai “biadab”, tapi saya menarik kembali ungkapan itu dan akan menggantinya dengan “penyelewengan”.

    Kebodohan melibatkan banyak kesalahan. Selama berabad-abad bangsa Latin dan Eropa yang bodoh telah menulis nama Muhammad “Mahomet”, Musa “Moses”. Oleh karenanya, apakah sedikit mengherankan kalau pendeta atau penulis Kristen yang agak kuat harus menuliskan nama sebenarnya dalam bentuk Paraclytos yang diselewengkan? Yang pertama berarti “yang paling terkenal, patut terpuji”. Tetapi bentuk yang telah diselewengkan sama sekali tidak berarti apa-apa selain rasa malu pada diri mereka yang selama 18 abad memahami kata itu dalam arti “penolong” atau “penghibur”.

    Balas
  150. dongan naburju

    salam..
    horas..

    salam hangat buat semua manusia di bumi

    marilah kita semua menyebut namanya… JESUS… tulus dari dalam hati??

    maka bersiaplah semua manusia menjadi saleh,suci dan taat pada printah Allah, bersiap untuk menolong orang menderita,bersahaja ketika di caci maki,memaafkan yang telah memfitnah kita,sabar,rendah hati,TIDAK MEMPUNYAI HARTA DAN TAHTA DI BUMI dan hidup mati untuk mengasihi manusia,tidak menikah dan dapat mengendalikan diri dari godaaan hawa nafsu…

    menyebut JESUS…buat semua manusia di bumi
    apapun dan siapapun anda monggo mas..monggo mbak..

    MENGENAL/MENGETAHUI ALLAH MERUPAKAN KESOMBONGAN MANUSIA
    MARILAH KITA BIJAK UNTUK MENGENAL MANUSIA YANG SALEH DAN SUCI…JESUS SANG MESIAS/ ISA AL-MASIH/MUSLIM SEJATI/KRISTUS…

    JESUS MAHA BIJAKSANA DAN MAHA PENGASIH PUN MENGERTI MANUSIA DI BUMI SEMUANYA BERDOSA..OLEH KARENA KASIHNYA JESUS KITA DIMAAFKAN BAPA DI SURGA…

    salam damai dan kasih menyertai kita semua..
    holong do naummarga di portibion
    salam…

    Balas
  151. leonardokenny

    dari atas ampe bawah smuanya comment2 argument yang ngk jelas smua…

    islam vs kristen…. dua2nya merasa paling benar.. padahal gw yakin banget nih diantara kalian smua blom ada yang pernah liat tampangnya TUHAN kalian face to face..

    Dunia kita serba abu2 yang kita bisa hanya yakin, percaya, dan mentaati keyakinan kita sendiri…
    masalah hujat-menghujat dan cela-mencela itu cmn kerjaan orang bodoh…

    Balas
  152. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Sibghatullah, Atau Pembaptisan Dengan Roh Kudus Dan Api
    Salah satu dari segelintir fenomena keagamaan yang belum mampu saya jelaskan adalah: Mengapa kaum Saba’i (Sabian) yang terkenal dan begitu berkuasa diJazirah Arabia dan Mesopotamia, tidak memeluk agama Kristen, seandainya Nabi Yohanes Pembaptis telah benar-benar dan secara terbuka menyatakan bahwa Yesus sebagai nabi “yang lebih kuat” dari dirinya, dan Yesus adalah sang Mesias yang untuk membuka tali sepatunya pun ia tidak pantas? Seandainya, seperti diramalkan oleh Yohanes, Yesus adalah Rasul Allah yang datang untuk membaptis –dengan Roh Kudus dan dengan api–banyak sekali orang yang ia “celup” dalam air sungai Yordan dan ditempat lainnya, mengapa Yesus tidak secara serta-mereta membaptis mereka dengan Roh Kudus dan api dan kemudian membersihkan dari pemberhalaan semua tanah yang dijanjikan oleh Allah kepada benih Ibrahim dan menegakkan Kerajaan Tuhan dengan kekuatan dan api?

    Sama sekali tidak dapat dipahami kalau para murid dan orang-orang yang percaya pada misi ilahiah dari Yohanes justru tidak mengikuti Yesus, padahal ia telah diajukan kepada publik sebagai Tuan dan Pemimpinnya sekaligus. Para pengikut Yohanes mungkin telah memaafkan atas penolakan mereka untuk memasuki Gereja Kristen jika Yesus Kristus sudah datang, katakanlah, satu abad lebih belakangan dari sang Pembaptis, tapi untunglah tidak seperti itu yang terjadi. Mereka berdua sebaya dan lahir di tahun yang sama. Mereka berdua membaptis dengan air untuk pertobatan, dan mempersiapkan para pemeluk barunya yang bertobat untuk Kerajaan Tuhan yang sedang mendekat namun tidak ditegakkan di masa mereka.

    Kaum Saba’i, kaum “Pencelup” atau “Pembaptis” adalah pengikut setia Yohanes. Mereka mungkin saja telah jatuh ke dalam kesalahan dan takhayul, tetapi mereka tahu benar bahwa bukanlah Yesus yang dimaksud dalam nubuat Nabi mereka. Mereka memeluk Islam ketika Muhammad datang.

    Bangsa Harran di Syria adalah bukan – sebagaimana yang dikira – sisa dari kaum Saba’i lama. Ditanah-tanah yang dijanjikan hanya ada tiga agama non-Islam yang diakui dan ditolerir oleh Al-Qur’an yakni Yahudi, Kristen, dan Sabianisme. Dinyatakan bahwa orang-orang Harran mengaku sebagai sisa kaum Saba’i lama, dan karenanya, mereka dibolehkan untuk menjalankan agama mereka tanpa gangguan dari pemerintah Turki.

    Konsep Kristen tentang Roh Kudus (Holy Spirit) sama sekali berbeda dengan konsep Islam dan Yahudi. Roh Kudus bukanlah oknum Tuhan yang memiliki sifat-sifat dan fungsi-fungi Ilahiah yang tidak dimiliki oknum ilahiah lainnya dari tiga tuhan. Kepercayaan umat Kristiani bahwa roh kudus ini, oknum ilahiah ketiga, turun dari singgasana Surganya atas perintah setiap Pendeta – dalam penyelenggaraan Sakramen hariannya – untuk mentasbihkan unsur-unsurnya dan mengubah hakikat dan kualitas mereka menjadi beberapa unsur supranatural adalah sangat menjijikkan bagi sentimen-sentimen keagamaan setiap Ahlutauhid, baik Yahudi atau pun Islam.

    Tidak ada yang lebih mengejutkan perasaan Muslim daripada kepercayaan bahwa Roh Kudus – selalu dalam intervensi seorang Pendeta – mengubah air pembaptisan menjadi darah Tuhan yang disalib dan menghapuskan apa yang disebut dosa asal; atau kepercayaan bahwa perbuatan sihir atas unsur-unsur material Ekaristi mengubah mereka menjadi darah dan tubuh Tuhan yang menjelma. Kepercayaan-kepercayaan ini benar-benar bertentangan dengan ajaran Perjanjian Lama dan merupakan pemalsuan ajaran Yesus dan Yohanes yang sebenarnya.

    Penegasan umat Kristiani bahwa Roh Kudus melalui mantera-mantera seorang pendeta mengisi individu-individu tertentu dan mensucikan mereka, tapi tidak menjamin ketidaktercelaan dan ketidaktahuan mereka, adalah tidak berarti.

    Konon Hananya (Ananias) dan istrinya Safira dibaptis, maksudnya diisi Roh Kudus. Karena itu mereka diilhami oleh oknum ilahi ketiga untuk menjual lahan mereka dan meletakkan uang pembeliannya secara kontan di kaki Rasul Petrus, tetapi pada saat yang yang sama dibujuk oleh Iblis untuk menyembunyikan sebagian uangnya. Konsekuensinya adalah bahwa pasangan komunis yang sial ini ditemukan mati secara aneh (Kisah 5).

    Renungkanlah keyakinan bahwa Oknum Ketiga dari Trinitas turun pada manusia, menyucikan mereka, dan kemudian membolehkan mereka jatuh kedalam kesalahan, kemunafikan, dan atheisme, dan membiarkan mereka melakukan peperangan dan pembantaian yang kejam. Mungkinkah ini terjadi? Mampukah Iblis menggoda seorang manusia yang diisi dan dijaga oleh Roh Kudus dan mengubahnya menjadi orang yang kerasukan? Al-Qur’an sangat mengesankan dalam hal ini. Allah berkata kepada Iblis:

    “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS al-Hijr [15]:42)

    Kita tidak bisa mempercayai, bahkan tidak bisa membayangkan walau sesaat, bahwa seorang hamba Tuhan, seorang beriman yang shaleh yang telah menerima Roh penyucian dapat jatuh kedalam perbuatan dosa yang membuat kebinasaan dineraka. Tidak! Seorang manusia suci, sepanjang ia beada didunia materi ini akan terus berjuang melawan dosa dan kejahatan; ia bisa saja jatuh, namun ia akan bangkit lagi dan tidak akan pernah ditinggalkan oleh Roh suci yang menjaganya.

    Pertobatan yang sejati adalah pekerjaan dari Roh baik yang hidup dalam diri kita. Jika seorang Kristiani dibaptis dengan Roh Kudus dan api, dalam pengertian seperti yang digambarkan oleh kitab “Kisah Para Rasul” dan diterima oleh Gereja, maka setiap orang Latin, Yunani, atau Ethiopia yang dibaptis mesti tidak hanya menjadi orang suci tanpa dosa tapi juga seorang nabi yang ahli bahasa dan poliglot!

    Sebenarnya umat Kristiani tidak memiliki konsep yang pasti dan tepat mengenai Roh Kudus yang mengisi seorang Kristiani yang dibaptis. Seandainya ia adalah Tuhan, maka betapa beraninya Iblis mendekat, menggoda, dan membujuk orang yang keramat dan malah ditantangi? Dan, disamping itu, yang lebih serius lagi adalah: Bagaimana mungkin Iblis dapat mengusir Roh Kudus (Holy Ghost) dan menempatkan diri di dalam hati seseorang ahli bid’ah dan atheis yang dibaptis?

    Dilain pihak, jika Roh Kudus adalah Malaikat Jibril atau seoran malaikat lainnya, maka Gereja-gereja Kristen mengembara di gurun ketahayulan; karena seorang malaikat tidak hadir dimana-mana. Jika Roh yang menyucikan dan mengisi seorang Kristen yang dibaptis adalah Tuhan sendiri, karena demuikianlah kepercayaan mereka akan Oknum Ketiga dari Trinitas, maka semua orang Kristiani yang dibaptis harus mengklaim diri mereka sebagai tuhan atau yang dituhankan.

    Kemudian ada lagi konsepsi Protestan mengenai Roh Kudus, yang mengisi hati orang-orang yang, dengan kegembiraan dan ekstasi yang paling tinggi selama khotbah yang berkobar-kobar dari seorang tukang pidato yang bodoh ataupun berpengetahuan tinggi, mempercayai diri mereka sebagai “terlahir baru”, namun banyak di antara mereka akhirnya tergelincir kembali dan menjadi seperti sebelumnya, bajingan dan penipu!

    Sekarang, sebelum saya menjelaskan –sesuai dengan pemahaman saya yang sederhana– tentang pembaptisan secara spiritual dan berapi-api, saya ingin menyatakan dan mengakui bahwa terdapat banyak orang shaleh dan bertakwa di antara kaum Yahudi dan Kristiani. Karena, betapapun pandangan dan keyakinan agama mereka berbeda dengan kita, mereka mencintai Tuhan dan berbuat baik dalam nama-Nya. Kita tidak dapat memahami dan menetapkan hubungan Tuhan dengan orang-orang dari agama-agama yang berbeda.

    Konsep Kristen tentang Ketuhanan hanyalah suatu definisi yang keliru tentang Tuhan sejati yang mereka yakini dan cintai. Jika mereka memuji Yesus dan menuhankannya, itu tidak berarti bahwa mereka ingin melecehkan Tuham, tapi mereka melihat keindahan-Nya dalam Roh Allah (Spirit of God, yaitu Yesus). Mereka tentu saja tidak mengakui Kerasulan Muhammad, tidak, karena mereka menolak kebaktiannya yang tidak sama terhadap Tuhan dengan memberikan pukulan terbesar pada iblis dan pemujaan berhalanya, tapi karena mereka tidak memahami seperti ia pahami tentang sifat sebenarnya dari misi dan sosok Yesus Kristus.

    Alasan serupa di atas bisa dikemukakan mengenai kaum Yahudi terhadap Yesus dan Muhammad. Tuhan Maha Pengasih dan Pengampun!

    the Holy Spirit dengan kata sandang tertentu “the” dalam bahasa Inggris, menunjukkan suatu personalitas malaikat, Jibril, atau salah satu dari banyak sekali roh “suci” yang diciptakan oleh Allah, dan ditugaskan untuk melaksanakan suatu misi tertentu. Turunnya Roh Kudus pada seorang manusia adalah mengungkapkan kepadanya kehendak dan firman Allah, dan menjadikannya seorang nabi. Orang semacam itu tidak pernah dapat dibujuk oleh setan.

    Pembaptisan dengan Roh Kudus dan api yang dilakukan Muhammad dijelaskan kepada kita melalui wahyu Ilahi hanya dalam satu ayat Al-Qur’an:

    “Shibghah (pembaptisan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.” (QS Al-Baqoroh 2:138)

    Para ahli tafsir Muslim secara tepat memahami kata “Shibghah”, tidak dalam arti harfiahnya yakni “celupan”, tetapi dalam arti spiritual dan metaforisnya yakni “agama”. Ayat al-Qur’an ini membatalkan dan menghapuskan agama-agama “Sab’utha” dan “Ma’muditha” atau Saba’i dan Nashara.

    “Shibghatullah” adalah pembaptisan agama Allah, tidak dengan air, melainkan dengan Roh Kudus dan Api!. Agama yang diakui oleh siapa pun diantara para sahabat Rasulullah dalam tahun-tahun pertama Hijriah sekarang diakui secara keseluruhannya oleh setiap Muslim. Ini tidak dapat disebut sebagai agama pembaptisan.

    Lebih dari 16 Dewan Gereja telah diperintahkan untuk menetapkan agama Kristen. Hanya untuk diketahui oleh Sinode (Muktamar Gereja) Vatikan dalam abad 19 bahwa misteri “ infallibility ”51 dan “ Immaculate Conception”52 adalah dua dari dogma-dogma pokok, keduanya tidak dikenal oleh Rasul Petrus dan Perawan Maria yang diberkati! Keyakinan atau agama apa pun yang bergantung pada pertimbangan yang mendalam dan keputusan dalam Sinode-sinode umum –suci atau bid’ah– adalah palsu dan buatan manusia.

    Agama Islam adalah kepercayaan pada satu Allah dan penyerahan diri secara mutlak pada Kehendak-Nya, dan keyakinan ini diakui oleh para malaikat di langit dan kaum Muslim di bumi. Ia adalah agama penyucian dan pencerahan, dan benteng pertahanan yang tak dapat ditumbangkan oleh kemusyrikan. Mari kita mengembangkan poin-poin pembahasan ini secara lebih jauh.

    Pembaptisan spiritual adalah pekerjaan langsung Tuhan sendiri. Sebagaimana tukang cuci yang mencuci kain atau objek apapun lainnya dengan air, sebagaimana dengan seorang tukang celup mewarnai wol atau katun dengan bahan pewarna untuk memberinya warna biru; dan sebagaimana seorang pembaptis menghapuskan dosa-dosa masa lalu dari orang beriman yang benar-benar bertobat, begitu pula Tuhan Yang Mahakuasa membaptis, bukan tubuh, tapi roh dan jiwa orang yang dengan kasih sayang diarahkan dan dibimbing-Nya kepada Agama Islam yang Suci. Inilah “Sibghatullah,” Pembaptisan Allah, yang membuat seseorang pantas dan mulia untuk menjadi warga Kerajaan Allah dan anggota agama-Nya.

    Ketika Malaikat Jibril menyampaikan firman Tuhan untuk pertama kalinya kepada Muhammad, ia (Muhammad) diberi karunia nubuat (kenabian). Rohnya disucikan dan diagungkan dengan Roh Kudus sampai derajat dan taraf sedemikian rupa sehingga ketika ia –yang pada gilirannya menyebarkan firman itu kepada mereka yang rohnya dibimbing Allah dan Allah ridha– juga disucikan, dibaptis. Dengan demikian, mereka pun menjadi petugas-petugas suci dalam tentara baru kaum Muslim yang beriman.

    Pembaptisan spiritual tersebut tidak menjadikan nabi-nabi Muslim sebagai orang-orang suci tanpad dosa, atau orang-orang keramat. Karena setelah Pengungkapan Kehendak dan firman Allah dalam Al-Qur’an maka disanalah akhir dari nubuat dan wahyu. Mereka telah dijadikan orang-orang suci tanpa dosa kaena keshalehan dan karya-karya terbaik mereka bukan merupakan hasil dari upaya dan perjuangan melawan kejahatan, dan oleh karenanya tidak benar-benar bermanfaat. Mereka tidak ditugaskan untuk menjadi pekerja keajaiban supernatural karena mereka memiliki keyakinan yang kokoh dan benar pada Tuhan mereka.

    Lebih jauh, “Sibghatullah” ini menjadikan kaum Muslim sejati sangat serius, konstan (istiqamah) dalam kewajiban-kewajiban mereka kepada Allah dan terhadap sesama manusia serta keluarga mereka. Shibghstullah tidak membawa mereka kepada kebodohan dengan meyakini diri mereka lebih suci dari sesama orang beragama, dan karenanya merebut jabatan kepastoran untuk diri mereka sendiri atas orang-orang lain seakan-akan mereka adalan jemaat dan massayanya. Fanatisme, kecongkakan keagamaan, dan semacamnya bukanlah pekerjaan Roh Kudus.

    Setiap Muslim menerima pada penciptaannya shibghatullah yang sama, agama dan pembaptisan spiritual yang sama, dan harus menjalani kehidupan duniawinya yang singkat dengan segala daya upayanya demi meraih mahkota kemuliaan di dunia akan datang.

    Setiap orang beriman yang tercerahkan dapat menjadi seorang Imam, misionaris (da’i), pengkhotbah sesuai dengan ilmu dan semangat keagamaannya, tidak untuk kemuliaan yang sia-sia atau demi memperoleh keuntungan.

    Singkatnya, setiap Muslim, apakah saat kelahirannya atau kepindahan agamanya, dibaptis secara spiritual, dan menjadi seorang warga Kerajaan Tuhan, seorang manusia bebas, dan memiliki hak-hak dan kewajiban yang sama, sesai dengan kemampuan, kebajikan, pengetahuan, kekayaan, dan pangkatnya.

    Yohanes Pembaptis menganggap pembaptisan spiritual yang berapi-api ini dari yang Mulia Rasul Allah, bukan sebagai suatu zat ilahiah, Tuhan, atau anak Tuhan, melainkan sebagai wakil suci, dan sebagai instrumen melalui mana sakramen pembaptisan ilahiah ini akan dijalankan.

    Muhammad menyampaikan Pesan Allah yang merupakan firman-Nya; ia memimpin shalat, menyelenggarakan kebaktian, dan melakukan perang suci melawan kaum kafir dan penyembah berhala untuk mempertahankan agamanya. Namun keberhasilan dan kemenangan yang dicapai adalah milik Tuhan.

    Dengan jalan yang sama Yohanes memberikan pengajaran dan membaptis, tapi perasaan dosa yang mendalam, penebusan dosa, dan pengampunan dari dosa-dosa hanya dapat dilakukan oleh Tuhan. Prediksi Nabi Yohanes bahwa “dia yang datang setelah aku adalah lebih kuat dariku; dia akan membaptismu dengan Roh dan dengan api” sangatlah masuk akal, karena hanya melalui Muhammadlah pembaptisan spiritual ini diberikan dan dilaksanakan.

    Harus dinyatakan bahwa bentuk dan materi dari pembaptisan ini benar-benar bersifat ilahiah dan supernatural. Kita merasakan dan melihat akibat dari sebab yang tidak kelihaan tapi nyata yang menyempurnakan akibat itu. Tidak ada lagi air bagi materinya, juga tidak ada seorang pembaptis yang memimpin ritus atau bentuknya. Tuhanlah yang, melalui sang Roh, menyusunnya.

    Materi Shibghatullah dalam kata-kata sang Pembaptis adalah Roh Kudus dan api. Bentuknya semata-mata hak Allah. Kita tidak dapat menisbahkan kepada Yang Mahakuasa bentuk pengerjaan apa pun kecuali firman-Nya “kun” (jadilah)!” –dan perintah-Nya pun ditaati atau tercipta. Hasilnya adalah bahwa seorang Muslim menjadi suci, tercerahkan, dan tentara yang diperlengkapi untuk memerangi setan dan pemberhalaannya. Tiga efek dari Shibghatullah ini patut diperhatikan dan dikaji secara serius.

    Penjelasan mereka singkat saja:

    Roh Kudus, apakah Malaikat Jibril atau yang lainnya dari Roh-roh Mulia yang diciptakan, atas perintah Tuhan menyucikan roh seorang Muslim saat kelahirannya atau kepindahan agamanya –terserah nantil dan penyucian ini berarti:

    Memahatkan keyakinan yang sempurna akan satu Tuhan yang sejati.

    Shibghatullah menjadikan roh seorang Muslim percaya pada keesaan mutlak Allah, bergantung pada-Nya, dan mengetahui hanya Dia lah pemelihara, Pemilik, dan Pelindungnya. Keyakinan pada Tuhan yang sejati ini mewujud pada setiap orang yang mengakui dirinya seorang Muslim. Tanda dan bukti keyakinan yang melekat ini pada seorang Muslim bersinar dengan cemerlang ketika ia menjelaskan, “Anna Muslim, Alhamdulillah (Saya Muslim, segala puji bagi Allah).” Apa tanda dari sebuah keyakinan suci yang lebih mengesankan dan benar-benar nyata daripada kebencian dan rasa jijik yang dirasakan seorang Muslim terhadap apa pun objek penyembahan lain di samping Tuhan? Yang mana di antara dua yang lebih suci dalam pandangan Tuhan: orang yang menyembah Penciptanya dalam sebuah bangunan mesjid yang sederhana, atau orang yang menyembah empat belas patung dan gambar yang melukiskan adegan penyaliban (Crucifixion) dalam sebuah gedung yang dinding-dinding dan altar-altarnya diperindah dengan patung-patung berhala, pekarangannya menutupi tulang-belulang orang mati, dan kubahnya dihiasi dengan gambar-gambar para malaikat dan para santo?

    Penyucian dengan Roh Kudus dan api yang Tuhan lakukan atas roh seorang Muslim adalah bahwa Dia meresapi dan mengisinya dengan rasa cinta dan ketundukkan kepada-Nya.

    Seorang suami yang terhormat akan lebih memiliki menceraikan istrinya daripada melihatnya berbagi cinta dengan laki-laki lain. Yang Mahakuasa akan mencampakkan setiap “orang beriman” yang menyekutukan objek atau makhluk lain dengan-Nya.

    Kecintaan seorang Muslim terhadap Allah tidaklah bersifat teoritis atau idealistis tapi praktis dan riil. Ia tidak akan ragu sedetik pun untuk mengeluarkan istri, anak, atau sahabatnya dari rumahnya jika ia harus melecehkan Nama atau Orang suci. Seorang Pagan atau pemeluk agama lainnya bisa menunjukkan semangat yang sama hebatnya terhadap objek penyembahannya. Tapi kecintaan yang ditunjukkan terhadap Satu Tuhan Sejati itu adalah suci; dan kecintaan seperti itu hanya dapat hidup dalam hati seorang Muslim.

    Ucapan bismillah (dengan nama Allah) dan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) pada awal dan akhir dari setiap tindakan atau usaha, adalah ungkapan yang paling tulus dari roh suci seorang Muslim yang terkesan dan mabuk dengan “Cinta Tuhan” yang melampaui dan mengungguli setiap cinta lainnya. Seruan-seruan ini bukan ungkapan yang dibuat-buat atau munafik dalam mulut kaum Muslim, melainkan doa dan pujian dari roh yang dibaptis

    dibaptis yang berdiam dalam tubuhnya. Dan jika seseorang Kristiani dan Yahudi dikaruniai keyakinan dan ketaatan yang sama dan Yahudi dikaruniai keyakinan dan ketaatan yang sama, dan jika jiwa mereka memancarkan ungkapan-ungkapan yang dipancarkan oleh roh seorang Muslim, maka ia adalah seorang Muslim meskipun ia tidak mengetahuinya.

    Penyucian baptis yang disemangati oleh Shibghatullah dalam roh seorang Muslim Ahlutauhid, disamping keyakinan dan cinta, adalah suatu ketundukkan dan kepasrahan total terhadap kehendak suci Tuhan. Ketundukkan mutlak ini memancar tidak hanya dari keyakinan dan rasa cinta, tapi juga dari rasa takut yang suci dan dari respek yang dalam yang begitu tersembunyi dalam jiwa dan roh dari setiap orang beriman yang sejati.

    Demikianlah ciri-ciri pokok dari pembaptisan spiritual dan ciri-ciri tersebut tidak ada di manapun juga selain di kalangan pemeluk Islam.

    Yohanes Pembaptis, Yesus Kristus dan para rasulnya beriman, cinta, dan takut kepada Allah sebagaimana halnya setiap Muslim sesuai dengan derajat kerahman-rahiman Tuhan. Roh Kudus sendiri, pun, adalah makhluk dan mencintai serta takut terhadap Allah yang sama yang Anda dan saya cintai dan takuti juga.

    Tanda kedua dari pembaptisan spiritual adalah pencerahan.

    Pengetahuan sejati tentang Allah dan kehendak-Nya, sebanyak yang mampu manusia miliki, semata-mata hanya dapat dilihat pada kaum Muslim. Pengetahuan ini berkilau mempesona dalam wajah dan perilaku umum setiap Muslim. Ia bisa saja tidak memahami hakikat dan diri Tuhan, persis sebagaimana seorang anak tidak dapat memahami sifat dan kualitas orang tuanya; namun seorang bayi dapat mengenali ibunya di antara semua perempuan lain. Analogi tersebut jelas sekali di bawah realitas, dan perbandingannya sangat jauh lebih rendah antara seorang Muslim yang baik yang tercerahkan dalam hubungannya dengan Penciptanya dan seorang bayi yang menangis mencari ibunya yang baik.

    Setiap Muslim, betapapun bodoh, miskin, dan berdosanya ia, mampu melihat tanda-tanda Allah dalam setiap fenomena alam ini. Apa pun yang menimpanya, dalam suka ataupun duka, Allah selalu dalam benaknya. Panggilan kaum Muslim untuk shalat adalah saksi hidup dari pencerahan ini. “Tidak ada objek penyembahan di samping Allah,” adalah sebuah protes abadi terhadap semua orang yang menyekutukan Allah dengan objek-objek lain yang tidak patut disembah. Setiap Muslim mengakui: “Aku bersaksi bahwa Allah adalah satu-satunya Zat yang patut disembah.”

    Khusus hal ini, saya bisa mengisyaratkan pada kenyataan bahwa jiwa manusia sangatlah berbeda dengan roh manusia. Roh Kuduslah yang mencerahkan jiwa dan menanamkan di dalamnya pengetahuan tentang kebenaran. Lagi-lagi roh jahatlah yang membujuk sang jiwa kepada kekeliruan, pemberhalaan (kemusyrikan), dan ketidakberimanan.

    Shibghatullah berarti pembaptisan ilahiah dengan api yang mempersenjatai dan memperlengkapi seorang Muslim untuk menjadi benteng pertahanan terhadap kesalahan dan ketakhayulan, terutama terhadap segala jenis pemberhalaan. Api pembaptisan inilah yang melelehkan jiwa dan roh seorang Muslim, sehingga memisahkan substansi yang baik dari sampah dan kotoran. Kuasa Tuhan inilah yang memperkuat dan menyatukan antara Dia dan hamba yang beriman, dan mempersenjatainya untuk memperjuangkan agama Tuhan. Kegairahan dan semangat kaum Muslim terhadap Allah dan Agama-Nya bersifat unik dan suci.

    Orang-orang biadab juga memperjuangkan jimat-jimat mereka, penyembah berhala memperjuangkan berhala-berhala mereka, dan umat Kristiani memperjuangkan salib mereka; namuan betapa kontrasnya antara objek penyembahan yang tidak berguna ini dengan Tuhan Islam!

    Sebagai kesimpulan, saya harus menarik perhatian saudara Muslim saya untuk memikirkan siapakah diri mereka sebenarnya; untuk mengingat nikmat Allah; dan untuk hidup sesuai dengan itu.

    Footnotes
    51. Keadaan tidak dapat berbuat kesalahan atau kekeliruan–penerj.
    52. Doktrin agama Katolik yang mengatakan bahwa Perawan Maria mengandung tanpa pergaulan dengan laki-laki –penerj.

    Balas
  153. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Pembaptisan Yohanes dan Yesus Hanyalah Jenis Sibghatullah
    Sungguh sayang para penginjil tidak mewariskan kita catatan yang lengkap dan terperinci dari khotbahnya Yohanes; dan kalaupun mereka dianggap pernah mewariskannya, namun tidak ada kejahatan dipihak Gereja karena tidak memeliharanya. Karena, adalah mustahil mengira ucapan-ucapan sang Pembaptis yang misterius dan membingungkan dalam bentuknya sekarang ini dapat dipahami oleh yang paling terpelajar di antara pendengarnya sekalipun.

    Kita tahu bahwa para doktor dan ahli hukum Yahudi meminta dia untuk menjelaskan sendiri tentang berbagai macam hal dan menjadikan pernyataannya lebih tegas dan jelas (Yohanes 1:19-23 dan 5:33). Tidak ada keraguan bahwa ia membentangkan poin-poin penting itu kepada para pendengarnya, dan tidak meninggalkan mereka dalam ketidakjelasan; karena ia adalah “pelita yang menyala dan bercahaya” yang “bersaksi tentang kebenaran” (Yohanes 5:33,35). Apa kesaksian ini dan apa ciri kebenaran yang disaksikan itu? Dan yang membuatnya masih tidak jelas lagi adalah kenyataan bahwa masing-masing Penginjil tidak melaporkan poin-poin yang sama dalam istilah-istilah yang identik.

    Tidak ada ketepatan mengenai ciri kebenaran itu; apakah itu tentang Kristus dan sifat misinya, ataukah tentang Rasul Allah, sebagaimana diramalkan oleh Yaqub (Kejadian 49)? Apa kata-kata yang tepat untuk kesaksian Yohanes tentang Yesus, dan tentang Nabi masa akan datang yang merupakan pemimpinnya?

    Dalam artikel ketiga dari serial ini49 ini sayang mengajukan cukup banyak bukti bahwa Nabi yang diramalkan oleh sang Pembaptis adalah selain dari Yesus Kristus; dan dalam artikel50 keempat kita menemukan beberapa argumen yang menyokong Rasul Allah sebagai Nabi yang ulung dan lebih kuat dari Yohanes. Argumen-argumen tersebut, menurut pendapat saya yang sederhana, dan menurut keyakinan kuat saya, adalah logis, benar, dan meyakinkan. Masing-masing argumen dapat dikembangkan dengan mudah duntuk membuat berjilid-jilid buku. Saya sadar sepenuhnya mengenai fakta bahwa argumentasi-argumentasi ini akan menjadi suara yang menggelegar di kuping banyak orang Kristen fanatik. Namun kebenaran akan mengangungkan diri dan memuji orang yang menyebarkannya.

    Kebenaran yang dipersaksikan oleh Yohanes, sebagaimana dikutip tadi, kita yakin tanpa ragu-ragu lagi adalah tentang Muhammad. Yohanes memberikan dua kesaksian, satu tentang “Syliha d’Allaha” –menurut dialek Palestina waktu itu yang artinya adalah “Rasul Allah”– dan satunya lagi tentang Yesus yang dinyatakan telah lahir dari Roh Kudus dan tidak dari seorang bapak duniawi; menjadi Mesias sejati yang diutus oleh Allah sebagai nabi Yahudi agung terakhir yang memberikan cahaya dan roh baru kepada Hukum Musa; dan telah ditugaskan untuk mengajarkan kepada kaum Yahudi bahwa keselamatan mereka terletak pada ketundukan mereka terhadap anak Islmail yang agung.

    Seperti halnya kaum Yahudi lama yang mengacaukan kitab-kitab suci mereka, maka kaum Yahudi baru dari Gereja Kristen pun mengikuti dan meniru nenek moyang mereka dengan menyelewengkan kitab-kitab suci mereka. Namun, penyelesaian kitab-kitab Injil ini pun tidak dapat menyembunyikan kebenaran.

    Poin utama yang merupakan kekuasaan dan superioritas sang Pangeran Rasul Allah adalah pembaptisan dengan Roh Kudus dan Api. Pengakuan dari pengarang Kitab Injil Keempat bahwa Yesus dan murid-muridnya juga dahulu biasa membaptis dengan air secara serempak dengan Yohanes adalah suatu pencabutan de facto catatan Injil yang disisipkan bahwa “Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan hanya murid-muridnya saja” (Yohanes 3:23 dan 4:1,2). Tetapi sungguhpun ia sendiri tidak membaptis, pengakuan bahwa murid-muridnya yang melakukan menunjukkan bahwa pembaptisan mereka sama sifatnya dengan pembaptisan Yohanes.

    Mengingat fakta bahwa Yesus selama periode misi keduniawiannya melaksanakan ritus itu persis seperti yang dilakukan sang Pembaptis dialiran air Sungai atau kolam air, dan bahwa ia menyuruh para muridnya untuk melanjutkan hal yang sama, maka menjadi terang dan jelaslah bahwa ia bukan orang yang dimaksud oleh sang Penyeru di padang gurun ketika ia meramalkan seorang Nabi yang kuat dan membaptis dengan Roh Kudus dan api. Tidak memerlukan banyak pengetahuan atau kecerdasan luar biasa untuk memahami kekuatan argumen itu –yakni, Yesus semasa hidupnya dalam membaptis tidak seorangpun denganRoh Kudus dan Api.

    Lantas bagaimana bisa ia dianggap sebagai Pembaptis dengan Roh Kudus dan Api, atau diidentifikasi sebagai Nabi yang diramalkan oleh Yohanes? Jika kata-kata khotbah, dan nubuat berarti apa saja, dan diucapkan untuk mengajarkan apa saja, maka kata-kata sang Pembaptis berarti dan mengajarkan kita bahwa pembaptisan dengan air harus terus dipraktekkan sampai kemunculan sang “Syilohah” atau Rasul Allah, dan kemudian ia akan berhenti dan digantikan dengan praktek pembaptisan dengan Roh Kudus dan api. Inilah satu-satunya kesimpulan logis dan dapat dimengerti yang dapat ditarik dari khotbah seperti yang terekam dalam pasal tiga Kitab Injil Pertama.

    Kesinambungan pembaptisan umat Kristen dan peningkatannya ke martabat Sakramen adalah suatu bukti yang jelas bahwa Gereja tidak mempercayai pembaptisan selain dari yang digunakan melalui air. Logika, nalar, dan respek terhadap suatu perintah suci harus meyakinkan setiap pembaca yang tidak memihak (objektif) bawha dua pembaptisan itu adalah dua hal yang sangat berbeda.

    Nabi dari gurun itu tidak mengakui pembaptisan dengan api dalam pembaptisan dengan air. Sifat dan kemanjuran dari masing-masing pembaptisan dinyatakan dan ditegaskan dengan jelas. Yang satu dilaksanakan dengan membenamkan atau mencuci tubuh dengan air sebagai tanda atau lambang pertobatan; dan satunya lagi dilaksanakan tidak lagi dengan air, melainkan dengan Roh Suci dan api, yang efeknya adalah suatu perubahan yang sungguh-sungguh pada hati, keyakinan, dan perasaan. Yang satu mensucikan tubuh, yang satu lagi mencerahkan pikiran, meneguhkan keyakinan, dan menghidupkan kembali hati. Yang satu adalah lahir, itulah agama Yahudi; yang satu lagi adalah batin, itulah Islam. Pembaptisan Yohanes dan Yesus mencuci kulit, tapi pembaptisan Rasul Allah mencuci isi.

    Pendek kata, pembaptisan Yudeo-Kristen digantikan oleh “mandi” (ghusl) dan “wudhu” Islam –atau pembersihan yang dilaksanakan tidak oleh seorang Nabi atau pendeta, tetapi oleh si individu yang beriman sendiri. Pembaptisan Yudeo-Kristen itu perlu dan merupakan kewajiban sepanjang Pembaptisan Allah –-menurut Al-Qur’an adalah Sibhghatullah – dipenuhi lebih dahulu; dan ketika Muhammad menggelegarkan wahyu Ilahi (Al-Qur’an), maka barulah pembaptisan yang pertama lenyap bagaikan bayangan.

    Begitu pentingnya dua pembaptisan itu hingga patut mendapat perhatian yang benar-benar serius, dan saya percaya observasi-observasi yang dilakukan dalam artikel ini pasti sangat menarik bagi para pembaca muslim maupun lainnya. Karena persoalan yang dibicarakan dari sudut pandang keagamaan, sangatlah penting untuk mendapat keselamatan.

    Umat Kristen –terus terang saya berpendapat– tidak dibenarkan mengabadikan pembaptisan mereka dengan air ad infinitum , karena Kitab-kitab Injil mereka sendiri meramalkan bahwa ia akan dibatalkan oleh pembaptisan lain yang akan meniadakan penggunaan air sama sekali. Saya menyerahkan observasi-observasi berikut kepada penilaian yang bijak dan objektif dari para pembaca.

    Pembaptisan dan Yang Bukan

    Hak kita untuk setuju atau tidak setuju terhadap suatu doktrin atau suatu teori, tetapi tidak ada yang dapat membenarkan perilaku kita jika kita sengaja mengubah dan salah dalam menggambarkan suatu doktrin untuk membuktikan kebenaran teori kita tentang doktrin itu.

    Mengubah Kitab Suci adalah perbuatan asusila dan kriminal; karena kesalahan yang disebabkan perbuatan ini tidak dapat diperbaiki dan merusak. Nah, pembaptisan Yohanes dan Yesus dengan jelas digambarkan dan diilustrasikan kepada kita dalam Kitab-kitab Injil, dan sama sekali berbeda serta bertentangan dengan pembaptisan gereja-gereja.

    Kita tidak tahu pasti tentang kata Ibrani atau Aramia yang asli untuk pembaptisan versi kata Yunani. Versi Pshittha menggunakan “ma’muditha” dari kata “aimad” dan “aa’mid” yang berarti “berdiri seperti sebuah a’muda” (pilar atau tiang), dan bentuk kausatifnya “aa’mid” artinya membangunkan, mendirikan, menegakkan, mengokohkan, dan sebagainya, tetapi tidak mempunyai pengertian “membenamkan, memasukkan, mencuci, menyirami, memandikan” Sebagaimana yang dimaksud pembaptisan gereja.

    Kata kerja Ibrani “rahas” (memandikan), “tabhal” (dibaca “thaval”) (membenamkan, memasukkan), bisa memberikan arti dalam kata Yunani “baptizo” –aku membaptis.” Versi Arab dari Perjanjian Baru dalam bahasa Arab telah memakai bentuk Aramia, dan menyebut sang Pembaptis “al-Ma’midan” dan “ma’mudiyah” untuk pembaptisan.

    Dalam semua rumpun bahasa Semit, termasuk Arab, kata kerja “a’mad” berarti -dalam bentuk sederhananya atau qal – “berdiri tegak seperti sebuah pilar,” dan tidak mengandung arti pencucian atau penyelupan, dan oleh karena itu tidak mungkin kata tersebut merupakan kata asli yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani “baptismos” .

    Tidak perlu berargumen bahwa Yohanes dan Yesus tidak pernah mendengar tentang kata “baptismos” dalam bentuk Yunaninya, melainkan bahwa jelas-jelas ada tatanama Semit lain yang digunakan oleh mereka.

    Memperhatikan pengertian klasik dari “baptismos” Yunani yang berarti larutan obat dalam alkohol, celup, dan pencelupan, kata yang digunakan tidak bisa tidak selain “Saba” dan kata Arab “Sabagha” (mencelup). Merupakan fakta yang terkenal bahwa kaum Sabian yang disebutkan oleh Al-Qur’an dan oleh para Bapak Kristen awal –seperti Epifanus dan lain-lain– adalah pengikut Yohanes. Nama “Sabian” menurut penulis kondang Ernest Renan ( La vie de Jesus , bab vi) berarti para “Pembaptis”. Mereka mempraktekkan pembaptisan, dan seperti Hassayi lama (Essenian atau al-Chassaite) dan Ibionayi (Ebionite) menjalani kehidupan yang keras. Mengingat kenyataan bahwa pendiri mereka, Budasp, adalah seorang bijak Khaldea, ortografi yang benar dari nama mereka haruslah “Saba’i” yang berarti “pencelup” atau “pembaptis”.

    Seorang Khaldea terkenal atau Catholicos Assyria dari abad ke 4, Mar Shimon, disebut “Bar Saba’i” (Anak para Pencelup). Barangkali keluarganya beragama Sabin. Al-Qur’an menulis nama “Sabi’in” ini dengan huruf vokal hamzah bukannya ‘ain sebagaimana dalam bahasa Arami aslinya “Saba’i” .

    Namun, saya sadar akan interpretasi-interpretasi lain untuk nama “Sabian”: Sebagian penulis menganggapnya berasal dari “Sabi” (anak Syet), dan yang lainnya dari Ibrani “ Saba ” (tentara), karena mereka dulu mempunyai semacam ketaatan khusus kepada bintang-bintang sebagai tuan rumah surga. Meskipun mereka tidak punya kesamaan dengan gereja Kristen, kecuali “Sab’utsa”, atau pembaptisan, yang khusus, mereka secara keliru dipanggil “umat Kristiani Yohanes Pembaptis”. Al-Qur’an, seperti biasa, menuliskan semua nama asing seperti diucapkan oleh bangsa Arab.

    Sebuah riset yang luas dan dalam mengenai agama kaum Sabian, yang sudah hampir membanjiri bangsa Arab lama sebelum sinar Islam memancar dengan munculnya Rasul Allah, akan menunjukkan kepada kita beberapa kebenaran.

    Ada tiga bentuk pembaptisan yang dipraktekkan oleh kaum Yahudi, Sabian, dan Kristen. Pembaptisan kaum Yahudi, yang tidak bersumber dari kitab-kitab suci mereka, terutama dimaksudkan untuk pemeluk baru. Masing-masing agama mempunyai formula pembaptisannya yang tertentu dan suatu ritual yang khusus. “Kohen” (pendeta) Yahudi membaptis pemeluk baru atas nama Allah. Sabian atas nama Allah dan Yohanes. Tetapi “Qusyisya” (Arab, “Qassis” atau Pastur) Kristen membaptis atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus (Holy Ghost), dimana nama Allah dan Yesus tidak dibaca secara langsung. Perbedaan dan antagonisme dari 3 sistem pembaptisan ini jelas kelihatan.

    Umat Yahudi sebagai ahlutauhid (unitarian) tidak dapat mentoleransi nama Yohanes diasosiasikan dengan nama Elohim; Sementara formula Kristen sangat menjijikkan bagi rasa keagamaannya.

    Tidak ada keraguan bahwa pembaptisan Kristen, dengan ciri Sakramen dan noda Politeistiknya juga dibenci oleh kaum Sabian. Simbol perjanjian antara Allah dan umatNya bukanlah pembaptisan melainkan penyunatan (Kejadian 17), suatu kebiasaan kuno yang dilaksanakan secara ketat, tidak hanya oleh ketiga agama, tetapi juga oleh banyak suku Arab pagan. Bermacam-macam bentuk pembaptisan dan ritual ditengah bangsa-bangsa Semit di Timur ini bukanlah suatu institusi Ilahiah yang esensiil, tetapi hanya suatu simbol atau tanda, dan karenanya tidak cukup kuat dan manjur untuk menggantikan satu sama lain. Kesemuanya menggunakan air sebagai materi pembaptisan mereka, dan kurang lebih, dalam bentuk dan tata cara yang relatif sama. Tetapi, masing-masing agama memakai nama berbeda untuk membedakan prakteknya dengan praktek yang dijalankan dua agama lainnya.

    Kata Arami asli ”Sab’utha” – secara tepat diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani “Baptismos” – dengan setia dipertahankan oleh kaum Saba’I (Sabian),

    Tampak bahwa umat Kristiani Semit, dalam rangka membedakan pembaptisan sakramen mereka dengan pembaptisan kaum Saba’i menggunakan sebutan “ma’muditha” yang dari sudut lingustik tidak ada hubungan apa-apa dengan pembaptisan ataupun dengan pencucian atau pencelupan. Itu hanya bikinan-bikinan Gereja saja.

    Mengapa “ma’muditha” dipakai untuk menggantikan “Sab’utha” adalah suatu pertanyaan yang sama sekali asing bagi pokok pembahasan kita sekarang; namun secara sambil lalu, saya bisa menambahkan bahwa kata ini dalam Pshittha digunakan juga dalam arti kolam tempat pembersihan (Yohanes 5:2).

    Satu-satunya penjelasan yang bisa membawa kepada pemecahan persoalan “ma’muditha” ini adalah kenyataan bahwa Yohanes Pembaptis dan para pengikutnya, termasuk Yesus dan murid-muridnya, menyuruh seorang yang bertobat atau seorang pengikut baru untuk berdiri tegak dalam kolam air atau sebuah sungai untuk dimandikan dengan air, karena itulah namanya “aa’mid” dan “ma’muditha”.

    Pembaptisan umat Kristiani dengan berbagai macam definisinya, tak lebih dan tak kurang dari suatu fitnahan dengan air atau pencelupan didalamnya. Dewan Trent melaknat siapa saja yang mengatakan bahwa pembaptisan Kristen itu sama dengan pembaptisan Yohanes. Saya memberanikan diri untuk menyatakan bahwa pembaptisan kristen bukan saja tidak punya pengaruh spiritualnya, tetapi juga bahkan lebih rendah dari pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes. Dan jika saya pantas mendapat laknat Gereja karena pendirian saya, saya akan menganggapnya sebagai sebuah kehormatan besar dihadapan Pencipta saya.

    Pembaptisan dengan air hanyalah simbol pembaptisan dengan Roh Kudus dan Api, dan setelah tegaknya Islam sebagai Kerajaan Tuhan yang resmi, maka tiga pembaptisan sebelumnya semuanya hilang dan dihapuskan.

    Dari catatan yang tidak lengkap dalam kitab-kitab Injil, kita tidak bisa mendapatkan definisi yang benar mengenai sifat sebenarnya dari pembaptisan yang dipraktekkan oleh Yohanes dan Yesus. Klaim bahwa Gereja adalah tempat penyimpanana wahyu Ilahi dan penafsirannya yang benar, adalah sangat tidak masuk akal dan menggelikannya dengan klaim Gereja bahwa bayi atau orang dewasa yang dibaptis menerima Roh Kudus dan menjadi seorang anak Tuhan.

    Jika kata Yunani “baptismos” adalah kata tepat untuk bahasa Arami “Sab’utha” atau “Sbhu’tha”, yang saya yakin memang benar, maka kata Arab “Sibghat” dalam Al-Qur’an, tidak hanya benar-benar memcahkan persoalan yang menyingkapkan misteri nubuat dari Yohanes, tetapi juga merupakan salah satu bukti yang mengagumkan bahwa kitab suci Islam adalah wahyu Allah langsung. Dan bahwa nabi Muhammad diberi wahyu dan merupakan orang sesungguhnya yang dinantikan kehadirannya oleh Yohanes!

    Sang Pembaptis (Saba’a) mencelupkan atau membenamkan orang barunya atau seorang bayi kedalam sebuah kolam, seperti tukang celup mencelupkan kain atau pakaian ke dalam ceret celupan. Mudah dipahami bahwa pembaptisan bukanlah suatu “thahara”, penyucian atau pembersihan, juga bukan “thabala”, pembenaman, ataupun “rahsha”, pemandian atau penyucian, melainkan “sab’aitsa”, pencelupan, pewarnaan. Sangatlah pentinga untuk mengetahui perbedaan-perbedaan ini. Sebagaimana seorang “saba’a”, (tukang celup), memberikan warna biru pada pakaian dengan cara membenamkannya kedalam katel larutan pewarna, begitu pula seorang pembaptis memberikan kepada pemeluk baru suatu warna spiritual baru.

    Disini kita harus membuat suatu perbedaan yang mendasar antara seorang Gentile (bangsa non-Yahudi) dan seorang Yahudi yang bertobat serta Arab keturunan Ismail. Yang pertama (Gentile) disunat secara formal, sedangkan yang berikutnya hanya dibaptis. Dengan penyunatan, seorang Gentile diterima dalam keluarga Ibrahim, dan karenanya tergabung dalam umat Tuhan. Dengan pembaptisan, orang beriman yang disunat diterima dalam masyarakat kaum beriman yang bertobat dan baru.

    Penyunatan adalah adat Ilahiah kuno yang tidak dibatalkan oleh Yesus ataupun Muhammad. Pembaptisan dipraktekkan oleh Yohanes dan Yesus hanya untuk kepentingan orang-orang yang bertobat di antara orang-orang yang disunat. Kedua adat ini menunjukkan dan menyajikan sebuah agama. Pembaptisan Yohanes dan sepupunya, Yesus, adalah tanda penerimaan dalam masyarakat atas orang-orang yang bertobat dan menjanjikan loyalitas dan penghormatan kepada Rasul Allah yang kedatangannya telah mereka berdua ramalkan.

    Oleh karena itu, maka selanjutnya penyunatan menandakan agama Ibrahim dan para pengikutnya (budak-budak-nya juga disunat), begitu pula, pembaptisan menandakan agama Yohanes dan Yesus, yang merupakan persiapan bagi kaum Yahudi dan kaum Gentile untuk memberikan sambutan kepada Pendiri Islam dan untuk memeluk agamanya.

    Menurut kesaksian St. Markus (1:1-8), pembaptisan Yohanes bersifat “pengampunan dosa”. Dinyatakan bahwa “seluruh daerah Yudea dan penduduk Yerusalem datang kepadanya dan semuanya dibaptis olehnya di Sungai Yordan sambil mengakui dosa-dosa mereka”, Ini sama dengan mengatakan bahwa jutaan kaum Yahudi yang bertobat mengakui dosa-dosanya, dibaptis oleh Nabi, dan kemudian dosa-dosa mereka dihapuskan oleh air pembaptisan.

    Pada umumnya, diakui bahwa Injil St. Markus adalah Injil tertua diantara empat Injil. Semua manuskrip Yunani kuno tidak mengandung 12 ayat terakhir yang ditambahkan kepada pasal 16 dari Injil ini (ayat 9-20). Bahkan dalam ayat-ayat tambahan ini, ucapan “Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus” tidak dituliskan. Yesus hanya mengatakan, “Pergi dan ajarkanlah Injil keseluruh dunia, dia yang percaya dan dibaptis akan hidup, dan dia yang tidak percaya akan dikutuk”.

    Jelaslah bahwa pembaptisan Yesus sama dengan pembaptisan Yohanes dan merupakan kelanjutannya. Jika pembaptisan Yohanes itu cukup hanya dengan penghapusan dosa, maka pernyataan tegas bahwa, “Anak Domba Allah akan menghapuskan dosa dunia” (Yohanes 1:29) pun dikumandangkan. Jika air Sungai Yordan cukup mujarab untuk membersihkan penyakit kusta Naaman melalui doa Elisa ( 2 Raja-raja 5), dan mengampuni dosa-dosa banyak orang melalui doa Nabi Yohanes, maka penumpahan darah Tuhan akan tidak berguna dan sebenarnya bertentangan dengan keadilan Ilahi.

    Tidak diragukan bahwa sampai kemunculan Rasul Paulus, para pengikut Yesus mempraktekkan upacara pembaptisan Yohanes-Pembaptis.

    Penting untuk dicatat bahwa Paulus adalah seorang “Pharisee” dari sekte Yahudi yang terkenal –seperti sekte Saducees– yang dicela oleh Yohanes dan Yesus sebagai “anak-anak ular berbisa”.

    Ada yang harus diperhatikan bahwa pengarang kitab ke lima dari Perjanjian Baru, yang disebut Kitab “Kisah Para Rasul”, adalah seorang sahabat Paulus yang berpura-pura menunjukkan bahwa mereka yang dibaptis oleh Yohanes Pembaptis belum menerima Roh Kudus, dan oleh karenanya dibaptis lagi dan kemudian diisi dengan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 8:16-17, dan 19:2-7), tidak melalui pembaptisan dalam nama Yesus, tetapi dengan cara “menumpangkan tangan”.

    Dengan jelas dinyatakan melalui kutipan-kutipan diatas bahwa dua pembaptisan itu sama dalah sifat dan kemujarabannya, dan bahwa mereka tidak “menurunkan” Roh Kudus pada orang yang dibaptis baik oleh Yohanes, Yesus, atau dalam nama salah satu dari keduanya. Dengan “menumpangkan tangan [para rasul] mereka” pada seseorang yang dibaptis, Roh kudus menyentuh hatiny, mengisinya dengan iman dan cinta akan Tuhan. Namun karunia Ilahi ini diberikan hanya kepada para rasul yang betul-betul nabi dan diberi wahyu, dan tidak bisa diakui oleh yang disebut para pengganti mereka.

    Jika Kitab-kitab Injil menunjukkan sesuatu juga dalam pernyataan-pernyataan mengenai pembaptisan, maka kitab-kitab tersebut meninggalkan kesan bahwa tidak ada perbedaan antara kedua pembaptisan itu, selain bahwa keduanya dilaksanakan dalam nama salah satu dari dua nabi. Orang Pharisee yang agung bernama, Paulus, atau Saul dari Tarsus tidak mempunyai satu pun kata yang baik tentang Yohanes Pembaptis yang telah mencap sekte Pharisee dengan julukan “anak-anak ular berbisa”.

    Ada sedikit rasa iri terhadap Yohanes dan terhadap nilai pembaptisannya dalam pernyataan-pernyataan Lukas didalam “Kisah Para Rasul”. Dan Lukas adalah murid dan sahabat Paulus. Pengakuan Lukas bahwa pembaptisan dalam nama Yesus, juga, tidak dilaksanakan oleh Roh Kudus adalah suatu bukti meyakinkan terhadap Gereja yang sewenang-wenang dan serampangan mengubahnya menjadi sebuah sakramen atau sebuah misteri.

    Pembaptisan Gereja adalah suatu upaya pelestarian pembaptisan Yohanes dan tidak lebih; tapi pembaptisannya dengan Roh Kudus dan Api dicanangkan hanya untuk Islam. Ungkapan bahwa sekitar dua belas orang Samaria “belum menerima Roh Kudus, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus” (Kisah Para Rasul 8:16-17), jelas merupakan pretensi-pretensi Gereja.

    Tiga ayat terakhir dalam pasal tersebut dianggap banyak orang sebagai penyisipan (interpolasi) ayat. Ketiganya tidak ada dalam manuskrip tertua yang ada, yang tentu saja merupakan sumber dari semua versi-versi alkitab berikutnya, termasuk versi Vulgate.

    Sebuah dokumen sama sekali tidak layak menjadi saksi pengadilan yang serius juga sebagian isinya terbukti sebagai pemalsuan. Namun disini kita berjalan selangkah lebih jauh karena tambahan kepada teks asli tersebut diakui apa adanya bahwa oleh mereka yang membela keasliannya.

    Tapi, mari kita menerima nubuat sebagaimana adanya. Saya tidak perlu mengatakan bahwa nubuat berbicara tentang hal-hal yang dapat diduga oleh pikiran sehat biasa, mengingat bahwa peristiwa-peristiwa yang diramalkan selalu terjadi dari waktu ke waktu dalam Alam.

    Wabah dan perang; kelaparan dan gempa bumi, telah begitu sering mengunjungi dunia sehingga menyebutkan mereka di dalam suatu nubuat sebagai tanda keotentikannya akan menghilangkan arti penting yang mungkin dimilikinya.

    Di samping itu, para pengikut pertama dari sebuah keyakinan baru pasti mengalami penyiksaan, terutama jika kedudukan sosial mereka lebih rendah. Namun terlepas dari persoalan ini, nubuat dengan nada yang sama berbicara tentnag beberapa hal, yang mungkin terjadi atau sama sekali tidak terjadi kapan pun.

    Penyiksaan terhadap murid-murid Yesus dimulai begitu Yesus berangkat dari Yudea. Mereka “diantarkan sampai sinagog-sinagog dan dimasukkan ke dalam penjara, dan di bawa ke hadapan para raja dan penguasa” atas nama Yesus. Namun, ramalan tidak membutuhkan nalar kenabian, karena penyiksaan telah mulai sekalipun ketika Yesus bersama murid-muridnya.

    Peristiwa-peristiwa tersebut adalah akibat wajar dari ajaran-ajaran yang dibenci kaum Yahudi. Para murid tentu saja menanggung segala penderitaan dan cobaan yang dapat dipikirkan dengan sabar dan berani, namun mereka yakin akan kembalinyta Yesus dengan janjinya, “Sesungguhnya aku berkata kepadamu, bahwa generasi ini tidak akan berlalu, sampai semua hal ini dikerjakan.”

    Keyakinan terhadap ucapan tersebut telah menciptakan kesabaran yang luar biasa pada generasi itu. Namun ucapannya yang hilang sering dengan waktu tidak menyebabkan “langit dan bumi menghilang”. Selain itu, hari-hari penyiksaan para murid tidak mengalami fenomena apapun yang tidak biasa dalam bentuk gempa bumi, peperangan, atau wabah. Bahkan dalam periode selanjutnya, empat peristiwa yang diramalkan itu tidak mensinkronkan.

    Dalam dua tahun terakhir dari dua abad terakhir kita mendengar tentang “perang dan huru-hara.” “Bangsa melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan.” “Gempa bumi hebat” dialami di berbagai tempat juga kelaparan dan wabah sampar, tapi malaikat tidak menjadi gelap dan bulan pun memancarkan cahayanya, yakni hal-hal yang mesti terjadi sebelum “kedatangan Anak Manusia.” Kata-kata ini bisa dipahami secara metaforis, tapi dalam hal ini, mengapa kaum Adventis harus mencari kedatangan kedua dalam arti harfiahnya?

    Selain itu, sebagian besar fenomena tersebut di atas telah terjadi kadang-kadang ketika mereka yang berkhotbah dan mengajar dalam nama Yesus, karena alasan politis, tidak bisa dibawa ke hadapan para raja dan penguasa untuk mendapat hukuman.. Sebaliknya, mereka malah mendapatkan kebebasan untuk memasuki tanah-tanah yang sudah lama ditutup bagi mereka. Semua itu membuktikan bahwa ramalan itu hanyalah dongeng belaka atau, kalau tidak, catatan-catatan tentang kehidupannya, yang ditulis dua abad kemudian, telah secara sia-sia mencampur-adukkan hal-hal berbeda mengenai persoalan-persoalan berbeda.

    Footnotes

    48. Al-Qur’an Surah al-Baqarah [2]:138, terjemahan Muhammad Ali.
    49. Vide Islamic Review untuk Maret – April, 1930.
    50. ibid, Mei, 1930.

    Balas
  154. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Pembaptisan Yohanes dan Yesus Hanyalah Jenis Sibghatullah
    Pembaptisan Yohanes dan Yesus Hanyalah Jenis Sibghatullah-48

    Sungguh sayang para penginjil tidak mewariskan kita catatan yang lengkap dan terperinci dari khotbahnya Yohanes; dan kalaupun mereka dianggap pernah mewariskannya, namun tidak ada kejahatan dipihak Gereja karena tidak memeliharanya. Karena, adalah mustahil mengira ucapan-ucapan sang Pembaptis yang misterius dan membingungkan dalam bentuknya sekarang ini dapat dipahami oleh yang paling terpelajar di antara pendengarnya sekalipun.

    Kita tahu bahwa para doktor dan ahli hukum Yahudi meminta dia untuk menjelaskan sendiri tentang berbagai macam hal dan menjadikan pernyataannya lebih tegas dan jelas (Yohanes 1:19-23 dan 5:33). Tidak ada keraguan bahwa ia membentangkan poin-poin penting itu kepada para pendengarnya, dan tidak meninggalkan mereka dalam ketidakjelasan; karena ia adalah “pelita yang menyala dan bercahaya” yang “bersaksi tentang kebenaran” (Yohanes 5:33,35). Apa kesaksian ini dan apa ciri kebenaran yang disaksikan itu? Dan yang membuatnya masih tidak jelas lagi adalah kenyataan bahwa masing-masing Penginjil tidak melaporkan poin-poin yang sama dalam istilah-istilah yang identik.

    Tidak ada ketepatan mengenai ciri kebenaran itu; apakah itu tentang Kristus dan sifat misinya, ataukah tentang Rasul Allah, sebagaimana diramalkan oleh Yaqub (Kejadian 49)? Apa kata-kata yang tepat untuk kesaksian Yohanes tentang Yesus, dan tentang Nabi masa akan datang yang merupakan pemimpinnya?

    Dalam artikel ketiga dari serial ini49 ini sayang mengajukan cukup banyak bukti bahwa Nabi yang diramalkan oleh sang Pembaptis adalah selain dari Yesus Kristus; dan dalam artikel50 keempat kita menemukan beberapa argumen yang menyokong Rasul Allah sebagai Nabi yang ulung dan lebih kuat dari Yohanes. Argumen-argumen tersebut, menurut pendapat saya yang sederhana, dan menurut keyakinan kuat saya, adalah logis, benar, dan meyakinkan. Masing-masing argumen dapat dikembangkan dengan mudah duntuk membuat berjilid-jilid buku. Saya sadar sepenuhnya mengenai fakta bahwa argumentasi-argumentasi ini akan menjadi suara yang menggelegar di kuping banyak orang Kristen fanatik. Namun kebenaran akan mengangungkan diri dan memuji orang yang menyebarkannya.

    Kebenaran yang dipersaksikan oleh Yohanes, sebagaimana dikutip tadi, kita yakin tanpa ragu-ragu lagi adalah tentang Muhammad. Yohanes memberikan dua kesaksian, satu tentang “Syliha d’Allaha” –menurut dialek Palestina waktu itu yang artinya adalah “Rasul Allah”– dan satunya lagi tentang Yesus yang dinyatakan telah lahir dari Roh Kudus dan tidak dari seorang bapak duniawi; menjadi Mesias sejati yang diutus oleh Allah sebagai nabi Yahudi agung terakhir yang memberikan cahaya dan roh baru kepada Hukum Musa; dan telah ditugaskan untuk mengajarkan kepada kaum Yahudi bahwa keselamatan mereka terletak pada ketundukan mereka terhadap anak Islmail yang agung.

    Seperti halnya kaum Yahudi lama yang mengacaukan kitab-kitab suci mereka, maka kaum Yahudi baru dari Gereja Kristen pun mengikuti dan meniru nenek moyang mereka dengan menyelewengkan kitab-kitab suci mereka. Namun, penyelesaian kitab-kitab Injil ini pun tidak dapat menyembunyikan kebenaran.

    Poin utama yang merupakan kekuasaan dan superioritas sang Pangeran Rasul Allah adalah pembaptisan dengan Roh Kudus dan Api. Pengakuan dari pengarang Kitab Injil Keempat bahwa Yesus dan murid-muridnya juga dahulu biasa membaptis dengan air secara serempak dengan Yohanes adalah suatu pencabutan de facto catatan Injil yang disisipkan bahwa “Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan hanya murid-muridnya saja” (Yohanes 3:23 dan 4:1,2). Tetapi sungguhpun ia sendiri tidak membaptis, pengakuan bahwa murid-muridnya yang melakukan menunjukkan bahwa pembaptisan mereka sama sifatnya dengan pembaptisan Yohanes.

    Mengingat fakta bahwa Yesus selama periode misi keduniawiannya melaksanakan ritus itu persis seperti yang dilakukan sang Pembaptis dialiran air Sungai atau kolam air, dan bahwa ia menyuruh para muridnya untuk melanjutkan hal yang sama, maka menjadi terang dan jelaslah bahwa ia bukan orang yang dimaksud oleh sang Penyeru di padang gurun ketika ia meramalkan seorang Nabi yang kuat dan membaptis dengan Roh Kudus dan api. Tidak memerlukan banyak pengetahuan atau kecerdasan luar biasa untuk memahami kekuatan argumen itu –yakni, Yesus semasa hidupnya dalam membaptis tidak seorangpun denganRoh Kudus dan Api.

    Lantas bagaimana bisa ia dianggap sebagai Pembaptis dengan Roh Kudus dan Api, atau diidentifikasi sebagai Nabi yang diramalkan oleh Yohanes? Jika kata-kata khotbah, dan nubuat berarti apa saja, dan diucapkan untuk mengajarkan apa saja, maka kata-kata sang Pembaptis berarti dan mengajarkan kita bahwa pembaptisan dengan air harus terus dipraktekkan sampai kemunculan sang “Syilohah” atau Rasul Allah, dan kemudian ia akan berhenti dan digantikan dengan praktek pembaptisan dengan Roh Kudus dan api. Inilah satu-satunya kesimpulan logis dan dapat dimengerti yang dapat ditarik dari khotbah seperti yang terekam dalam pasal tiga Kitab Injil Pertama.

    Kesinambungan pembaptisan umat Kristen dan peningkatannya ke martabat Sakramen adalah suatu bukti yang jelas bahwa Gereja tidak mempercayai pembaptisan selain dari yang digunakan melalui air. Logika, nalar, dan respek terhadap suatu perintah suci harus meyakinkan setiap pembaca yang tidak memihak (objektif) bawha dua pembaptisan itu adalah dua hal yang sangat berbeda.

    Nabi dari gurun itu tidak mengakui pembaptisan dengan api dalam pembaptisan dengan air. Sifat dan kemanjuran dari masing-masing pembaptisan dinyatakan dan ditegaskan dengan jelas. Yang satu dilaksanakan dengan membenamkan atau mencuci tubuh dengan air sebagai tanda atau lambang pertobatan; dan satunya lagi dilaksanakan tidak lagi dengan air, melainkan dengan Roh Suci dan api, yang efeknya adalah suatu perubahan yang sungguh-sungguh pada hati, keyakinan, dan perasaan. Yang satu mensucikan tubuh, yang satu lagi mencerahkan pikiran, meneguhkan keyakinan, dan menghidupkan kembali hati. Yang satu adalah lahir, itulah agama Yahudi; yang satu lagi adalah batin, itulah Islam. Pembaptisan Yohanes dan Yesus mencuci kulit, tapi pembaptisan Rasul Allah mencuci isi.

    Pendek kata, pembaptisan Yudeo-Kristen digantikan oleh “mandi” (ghusl) dan “wudhu” Islam –atau pembersihan yang dilaksanakan tidak oleh seorang Nabi atau pendeta, tetapi oleh si individu yang beriman sendiri. Pembaptisan Yudeo-Kristen itu perlu dan merupakan kewajiban sepanjang Pembaptisan Allah –-menurut Al-Qur’an adalah Sibhghatullah – dipenuhi lebih dahulu; dan ketika Muhammad menggelegarkan wahyu Ilahi (Al-Qur’an), maka barulah pembaptisan yang pertama lenyap bagaikan bayangan.

    Begitu pentingnya dua pembaptisan itu hingga patut mendapat perhatian yang benar-benar serius, dan saya percaya observasi-observasi yang dilakukan dalam artikel ini pasti sangat menarik bagi para pembaca muslim maupun lainnya. Karena persoalan yang dibicarakan dari sudut pandang keagamaan, sangatlah penting untuk mendapat keselamatan.

    Umat Kristen –terus terang saya berpendapat– tidak dibenarkan mengabadikan pembaptisan mereka dengan air ad infinitum , karena Kitab-kitab Injil mereka sendiri meramalkan bahwa ia akan dibatalkan oleh pembaptisan lain yang akan meniadakan penggunaan air sama sekali. Saya menyerahkan observasi-observasi berikut kepada penilaian yang bijak dan objektif dari para pembaca.

    Pembaptisan dan Yang Bukan

    Hak kita untuk setuju atau tidak setuju terhadap suatu doktrin atau suatu teori, tetapi tidak ada yang dapat membenarkan perilaku kita jika kita sengaja mengubah dan salah dalam menggambarkan suatu doktrin untuk membuktikan kebenaran teori kita tentang doktrin itu.

    Mengubah Kitab Suci adalah perbuatan asusila dan kriminal; karena kesalahan yang disebabkan perbuatan ini tidak dapat diperbaiki dan merusak. Nah, pembaptisan Yohanes dan Yesus dengan jelas digambarkan dan diilustrasikan kepada kita dalam Kitab-kitab Injil, dan sama sekali berbeda serta bertentangan dengan pembaptisan gereja-gereja.

    Kita tidak tahu pasti tentang kata Ibrani atau Aramia yang asli untuk pembaptisan versi kata Yunani. Versi Pshittha menggunakan “ma’muditha” dari kata “aimad” dan “aa’mid” yang berarti “berdiri seperti sebuah a’muda” (pilar atau tiang), dan bentuk kausatifnya “aa’mid” artinya membangunkan, mendirikan, menegakkan, mengokohkan, dan sebagainya, tetapi tidak mempunyai pengertian “membenamkan, memasukkan, mencuci, menyirami, memandikan” Sebagaimana yang dimaksud pembaptisan gereja.

    Kata kerja Ibrani “rahas” (memandikan), “tabhal” (dibaca “thaval”) (membenamkan, memasukkan), bisa memberikan arti dalam kata Yunani “baptizo” –aku membaptis.” Versi Arab dari Perjanjian Baru dalam bahasa Arab telah memakai bentuk Aramia, dan menyebut sang Pembaptis “al-Ma’midan” dan “ma’mudiyah” untuk pembaptisan.

    Dalam semua rumpun bahasa Semit, termasuk Arab, kata kerja “a’mad” berarti -dalam bentuk sederhananya atau qal – “berdiri tegak seperti sebuah pilar,” dan tidak mengandung arti pencucian atau penyelupan, dan oleh karena itu tidak mungkin kata tersebut merupakan kata asli yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani “baptismos” .

    Tidak perlu berargumen bahwa Yohanes dan Yesus tidak pernah mendengar tentang kata “baptismos” dalam bentuk Yunaninya, melainkan bahwa jelas-jelas ada tatanama Semit lain yang digunakan oleh mereka.

    Memperhatikan pengertian klasik dari “baptismos” Yunani yang berarti larutan obat dalam alkohol, celup, dan pencelupan, kata yang digunakan tidak bisa tidak selain “Saba” dan kata Arab “Sabagha” (mencelup). Merupakan fakta yang terkenal bahwa kaum Sabian yang disebutkan oleh Al-Qur’an dan oleh para Bapak Kristen awal –seperti Epifanus dan lain-lain– adalah pengikut Yohanes. Nama “Sabian” menurut penulis kondang Ernest Renan ( La vie de Jesus , bab vi) berarti para “Pembaptis”. Mereka mempraktekkan pembaptisan, dan seperti Hassayi lama (Essenian atau al-Chassaite) dan Ibionayi (Ebionite) menjalani kehidupan yang keras. Mengingat kenyataan bahwa pendiri mereka, Budasp, adalah seorang bijak Khaldea, ortografi yang benar dari nama mereka haruslah “Saba’i” yang berarti “pencelup” atau “pembaptis”.

    Seorang Khaldea terkenal atau Catholicos Assyria dari abad ke 4, Mar Shimon, disebut “Bar Saba’i” (Anak para Pencelup). Barangkali keluarganya beragama Sabin. Al-Qur’an menulis nama “Sabi’in” ini dengan huruf vokal hamzah bukannya ‘ain sebagaimana dalam bahasa Arami aslinya “Saba’i” .

    Namun, saya sadar akan interpretasi-interpretasi lain untuk nama “Sabian”: Sebagian penulis menganggapnya berasal dari “Sabi” (anak Syet), dan yang lainnya dari Ibrani “ Saba ” (tentara), karena mereka dulu mempunyai semacam ketaatan khusus kepada bintang-bintang sebagai tuan rumah surga. Meskipun mereka tidak punya kesamaan dengan gereja Kristen, kecuali “Sab’utsa”, atau pembaptisan, yang khusus, mereka secara keliru dipanggil “umat Kristiani Yohanes Pembaptis”. Al-Qur’an, seperti biasa, menuliskan semua nama asing seperti diucapkan oleh bangsa Arab.

    Sebuah riset yang luas dan dalam mengenai agama kaum Sabian, yang sudah hampir membanjiri bangsa Arab lama sebelum sinar Islam memancar dengan munculnya Rasul Allah, akan menunjukkan kepada kita beberapa kebenaran.

    Ada tiga bentuk pembaptisan yang dipraktekkan oleh kaum Yahudi, Sabian, dan Kristen. Pembaptisan kaum Yahudi, yang tidak bersumber dari kitab-kitab suci mereka, terutama dimaksudkan untuk pemeluk baru. Masing-masing agama mempunyai formula pembaptisannya yang tertentu dan suatu ritual yang khusus. “Kohen” (pendeta) Yahudi membaptis pemeluk baru atas nama Allah. Sabian atas nama Allah dan Yohanes. Tetapi “Qusyisya” (Arab, “Qassis” atau Pastur) Kristen membaptis atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus (Holy Ghost), dimana nama Allah dan Yesus tidak dibaca secara langsung. Perbedaan dan antagonisme dari 3 sistem pembaptisan ini jelas kelihatan.

    Umat Yahudi sebagai ahlutauhid (unitarian) tidak dapat mentoleransi nama Yohanes diasosiasikan dengan nama Elohim; Sementara formula Kristen sangat menjijikkan bagi rasa keagamaannya.

    Tidak ada keraguan bahwa pembaptisan Kristen, dengan ciri Sakramen dan noda Politeistiknya juga dibenci oleh kaum Sabian. Simbol perjanjian antara Allah dan umatNya bukanlah pembaptisan melainkan penyunatan (Kejadian 17), suatu kebiasaan kuno yang dilaksanakan secara ketat, tidak hanya oleh ketiga agama, tetapi juga oleh banyak suku Arab pagan. Bermacam-macam bentuk pembaptisan dan ritual ditengah bangsa-bangsa Semit di Timur ini bukanlah suatu institusi Ilahiah yang esensiil, tetapi hanya suatu simbol atau tanda, dan karenanya tidak cukup kuat dan manjur untuk menggantikan satu sama lain. Kesemuanya menggunakan air sebagai materi pembaptisan mereka, dan kurang lebih, dalam bentuk dan tata cara yang relatif sama. Tetapi, masing-masing agama memakai nama berbeda untuk membedakan prakteknya dengan praktek yang dijalankan dua agama lainnya.

    Kata Arami asli ”Sab’utha” – secara tepat diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani “Baptismos” – dengan setia dipertahankan oleh kaum Saba’I (Sabian),

    Tampak bahwa umat Kristiani Semit, dalam rangka membedakan pembaptisan sakramen mereka dengan pembaptisan kaum Saba’i menggunakan sebutan “ma’muditha” yang dari sudut lingustik tidak ada hubungan apa-apa dengan pembaptisan ataupun dengan pencucian atau pencelupan. Itu hanya bikinan-bikinan Gereja saja.

    Mengapa “ma’muditha” dipakai untuk menggantikan “Sab’utha” adalah suatu pertanyaan yang sama sekali asing bagi pokok pembahasan kita sekarang; namun secara sambil lalu, saya bisa menambahkan bahwa kata ini dalam Pshittha digunakan juga dalam arti kolam tempat pembersihan (Yohanes 5:2).

    Satu-satunya penjelasan yang bisa membawa kepada pemecahan persoalan “ma’muditha” ini adalah kenyataan bahwa Yohanes Pembaptis dan para pengikutnya, termasuk Yesus dan murid-muridnya, menyuruh seorang yang bertobat atau seorang pengikut baru untuk berdiri tegak dalam kolam air atau sebuah sungai untuk dimandikan dengan air, karena itulah namanya “aa’mid” dan “ma’muditha”.

    Pembaptisan umat Kristiani dengan berbagai macam definisinya, tak lebih dan tak kurang dari suatu fitnahan dengan air atau pencelupan didalamnya. Dewan Trent melaknat siapa saja yang mengatakan bahwa pembaptisan Kristen itu sama dengan pembaptisan Yohanes. Saya memberanikan diri untuk menyatakan bahwa pembaptisan kristen bukan saja tidak punya pengaruh spiritualnya, tetapi juga bahkan lebih rendah dari pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes. Dan jika saya pantas mendapat laknat Gereja karena pendirian saya, saya akan menganggapnya sebagai sebuah kehormatan besar dihadapan Pencipta saya.

    Pembaptisan dengan air hanyalah simbol pembaptisan dengan Roh Kudus dan Api, dan setelah tegaknya Islam sebagai Kerajaan Tuhan yang resmi, maka tiga pembaptisan sebelumnya semuanya hilang dan dihapuskan.

    Dari catatan yang tidak lengkap dalam kitab-kitab Injil, kita tidak bisa mendapatkan definisi yang benar mengenai sifat sebenarnya dari pembaptisan yang dipraktekkan oleh Yohanes dan Yesus. Klaim bahwa Gereja adalah tempat penyimpanana wahyu Ilahi dan penafsirannya yang benar, adalah sangat tidak masuk akal dan menggelikannya dengan klaim Gereja bahwa bayi atau orang dewasa yang dibaptis menerima Roh Kudus dan menjadi seorang anak Tuhan.

    Jika kata Yunani “baptismos” adalah kata tepat untuk bahasa Arami “Sab’utha” atau “Sbhu’tha”, yang saya yakin memang benar, maka kata Arab “Sibghat” dalam Al-Qur’an, tidak hanya benar-benar memcahkan persoalan yang menyingkapkan misteri nubuat dari Yohanes, tetapi juga merupakan salah satu bukti yang mengagumkan bahwa kitab suci Islam adalah wahyu Allah langsung. Dan bahwa nabi Muhammad diberi wahyu dan merupakan orang sesungguhnya yang dinantikan kehadirannya oleh Yohanes!

    Sang Pembaptis (Saba’a) mencelupkan atau membenamkan orang barunya atau seorang bayi kedalam sebuah kolam, seperti tukang celup mencelupkan kain atau pakaian ke dalam ceret celupan. Mudah dipahami bahwa pembaptisan bukanlah suatu “thahara”, penyucian atau pembersihan, juga bukan “thabala”, pembenaman, ataupun “rahsha”, pemandian atau penyucian, melainkan “sab’aitsa”, pencelupan, pewarnaan. Sangatlah pentinga untuk mengetahui perbedaan-perbedaan ini. Sebagaimana seorang “saba’a”, (tukang celup), memberikan warna biru pada pakaian dengan cara membenamkannya kedalam katel larutan pewarna, begitu pula seorang pembaptis memberikan kepada pemeluk baru suatu warna spiritual baru.

    Disini kita harus membuat suatu perbedaan yang mendasar antara seorang Gentile (bangsa non-Yahudi) dan seorang Yahudi yang bertobat serta Arab keturunan Ismail. Yang pertama (Gentile) disunat secara formal, sedangkan yang berikutnya hanya dibaptis. Dengan penyunatan, seorang Gentile diterima dalam keluarga Ibrahim, dan karenanya tergabung dalam umat Tuhan. Dengan pembaptisan, orang beriman yang disunat diterima dalam masyarakat kaum beriman yang bertobat dan baru.

    Penyunatan adalah adat Ilahiah kuno yang tidak dibatalkan oleh Yesus ataupun Muhammad. Pembaptisan dipraktekkan oleh Yohanes dan Yesus hanya untuk kepentingan orang-orang yang bertobat di antara orang-orang yang disunat. Kedua adat ini menunjukkan dan menyajikan sebuah agama. Pembaptisan Yohanes dan sepupunya, Yesus, adalah tanda penerimaan dalam masyarakat atas orang-orang yang bertobat dan menjanjikan loyalitas dan penghormatan kepada Rasul Allah yang kedatangannya telah mereka berdua ramalkan.

    Oleh karena itu, maka selanjutnya penyunatan menandakan agama Ibrahim dan para pengikutnya (budak-budak-nya juga disunat), begitu pula, pembaptisan menandakan agama Yohanes dan Yesus, yang merupakan persiapan bagi kaum Yahudi dan kaum Gentile untuk memberikan sambutan kepada Pendiri Islam dan untuk memeluk agamanya.

    Menurut kesaksian St. Markus (1:1-8), pembaptisan Yohanes bersifat “pengampunan dosa”. Dinyatakan bahwa “seluruh daerah Yudea dan penduduk Yerusalem datang kepadanya dan semuanya dibaptis olehnya di Sungai Yordan sambil mengakui dosa-dosa mereka”, Ini sama dengan mengatakan bahwa jutaan kaum Yahudi yang bertobat mengakui dosa-dosanya, dibaptis oleh Nabi, dan kemudian dosa-dosa mereka dihapuskan oleh air pembaptisan.

    Pada umumnya, diakui bahwa Injil St. Markus adalah Injil tertua diantara empat Injil. Semua manuskrip Yunani kuno tidak mengandung 12 ayat terakhir yang ditambahkan kepada pasal 16 dari Injil ini (ayat 9-20). Bahkan dalam ayat-ayat tambahan ini, ucapan “Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus” tidak dituliskan. Yesus hanya mengatakan, “Pergi dan ajarkanlah Injil keseluruh dunia, dia yang percaya dan dibaptis akan hidup, dan dia yang tidak percaya akan dikutuk”.

    Jelaslah bahwa pembaptisan Yesus sama dengan pembaptisan Yohanes dan merupakan kelanjutannya. Jika pembaptisan Yohanes itu cukup hanya dengan penghapusan dosa, maka pernyataan tegas bahwa, “Anak Domba Allah akan menghapuskan dosa dunia” (Yohanes 1:29) pun dikumandangkan. Jika air Sungai Yordan cukup mujarab untuk membersihkan penyakit kusta Naaman melalui doa Elisa ( 2 Raja-raja 5), dan mengampuni dosa-dosa banyak orang melalui doa Nabi Yohanes, maka penumpahan darah Tuhan akan tidak berguna dan sebenarnya bertentangan dengan keadilan Ilahi.

    Tidak diragukan bahwa sampai kemunculan Rasul Paulus, para pengikut Yesus mempraktekkan upacara pembaptisan Yohanes-Pembaptis.

    Penting untuk dicatat bahwa Paulus adalah seorang “Pharisee” dari sekte Yahudi yang terkenal –seperti sekte Saducees– yang dicela oleh Yohanes dan Yesus sebagai “anak-anak ular berbisa”.

    Ada yang harus diperhatikan bahwa pengarang kitab ke lima dari Perjanjian Baru, yang disebut Kitab “Kisah Para Rasul”, adalah seorang sahabat Paulus yang berpura-pura menunjukkan bahwa mereka yang dibaptis oleh Yohanes Pembaptis belum menerima Roh Kudus, dan oleh karenanya dibaptis lagi dan kemudian diisi dengan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 8:16-17, dan 19:2-7), tidak melalui pembaptisan dalam nama Yesus, tetapi dengan cara “menumpangkan tangan”.

    Dengan jelas dinyatakan melalui kutipan-kutipan diatas bahwa dua pembaptisan itu sama dalah sifat dan kemujarabannya, dan bahwa mereka tidak “menurunkan” Roh Kudus pada orang yang dibaptis baik oleh Yohanes, Yesus, atau dalam nama salah satu dari keduanya. Dengan “menumpangkan tangan [para rasul] mereka” pada seseorang yang dibaptis, Roh kudus menyentuh hatiny, mengisinya dengan iman dan cinta akan Tuhan. Namun karunia Ilahi ini diberikan hanya kepada para rasul yang betul-betul nabi dan diberi wahyu, dan tidak bisa diakui oleh yang disebut para pengganti mereka.

    Jika Kitab-kitab Injil menunjukkan sesuatu juga dalam pernyataan-pernyataan mengenai pembaptisan, maka kitab-kitab tersebut meninggalkan kesan bahwa tidak ada perbedaan antara kedua pembaptisan itu, selain bahwa keduanya dilaksanakan dalam nama salah satu dari dua nabi. Orang Pharisee yang agung bernama, Paulus, atau Saul dari Tarsus tidak mempunyai satu pun kata yang baik tentang Yohanes Pembaptis yang telah mencap sekte Pharisee dengan julukan “anak-anak ular berbisa”.

    Ada sedikit rasa iri terhadap Yohanes dan terhadap nilai pembaptisannya dalam pernyataan-pernyataan Lukas didalam “Kisah Para Rasul”. Dan Lukas adalah murid dan sahabat Paulus. Pengakuan Lukas bahwa pembaptisan dalam nama Yesus, juga, tidak dilaksanakan oleh Roh Kudus adalah suatu bukti meyakinkan terhadap Gereja yang sewenang-wenang dan serampangan mengubahnya menjadi sebuah sakramen atau sebuah misteri.

    Pembaptisan Gereja adalah suatu upaya pelestarian pembaptisan Yohanes dan tidak lebih; tapi pembaptisannya dengan Roh Kudus dan Api dicanangkan hanya untuk Islam. Ungkapan bahwa sekitar dua belas orang Samaria “belum menerima Roh Kudus, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus” (Kisah Para Rasul 8:16-17), jelas merupakan pretensi-pretensi Gereja.

    Tiga ayat terakhir dalam pasal tersebut dianggap banyak orang sebagai penyisipan (interpolasi) ayat. Ketiganya tidak ada dalam manuskrip tertua yang ada, yang tentu saja merupakan sumber dari semua versi-versi alkitab berikutnya, termasuk versi Vulgate.

    Sebuah dokumen sama sekali tidak layak menjadi saksi pengadilan yang serius juga sebagian isinya terbukti sebagai pemalsuan. Namun disini kita berjalan selangkah lebih jauh karena tambahan kepada teks asli tersebut diakui apa adanya bahwa oleh mereka yang membela keasliannya.

    Tapi, mari kita menerima nubuat sebagaimana adanya. Saya tidak perlu mengatakan bahwa nubuat berbicara tentang hal-hal yang dapat diduga oleh pikiran sehat biasa, mengingat bahwa peristiwa-peristiwa yang diramalkan selalu terjadi dari waktu ke waktu dalam Alam.

    Wabah dan perang; kelaparan dan gempa bumi, telah begitu sering mengunjungi dunia sehingga menyebutkan mereka di dalam suatu nubuat sebagai tanda keotentikannya akan menghilangkan arti penting yang mungkin dimilikinya.

    Di samping itu, para pengikut pertama dari sebuah keyakinan baru pasti mengalami penyiksaan, terutama jika kedudukan sosial mereka lebih rendah. Namun terlepas dari persoalan ini, nubuat dengan nada yang sama berbicara tentnag beberapa hal, yang mungkin terjadi atau sama sekali tidak terjadi kapan pun.

    Penyiksaan terhadap murid-murid Yesus dimulai begitu Yesus berangkat dari Yudea. Mereka “diantarkan sampai sinagog-sinagog dan dimasukkan ke dalam penjara, dan di bawa ke hadapan para raja dan penguasa” atas nama Yesus. Namun, ramalan tidak membutuhkan nalar kenabian, karena penyiksaan telah mulai sekalipun ketika Yesus bersama murid-muridnya.

    Peristiwa-peristiwa tersebut adalah akibat wajar dari ajaran-ajaran yang dibenci kaum Yahudi. Para murid tentu saja menanggung segala penderitaan dan cobaan yang dapat dipikirkan dengan sabar dan berani, namun mereka yakin akan kembalinyta Yesus dengan janjinya, “Sesungguhnya aku berkata kepadamu, bahwa generasi ini tidak akan berlalu, sampai semua hal ini dikerjakan.”

    Keyakinan terhadap ucapan tersebut telah menciptakan kesabaran yang luar biasa pada generasi itu. Namun ucapannya yang hilang sering dengan waktu tidak menyebabkan “langit dan bumi menghilang”. Selain itu, hari-hari penyiksaan para murid tidak mengalami fenomena apapun yang tidak biasa dalam bentuk gempa bumi, peperangan, atau wabah. Bahkan dalam periode selanjutnya, empat peristiwa yang diramalkan itu tidak mensinkronkan.

    Dalam dua tahun terakhir dari dua abad terakhir kita mendengar tentang “perang dan huru-hara.” “Bangsa melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan.” “Gempa bumi hebat” dialami di berbagai tempat juga kelaparan dan wabah sampar, tapi malaikat tidak menjadi gelap dan bulan pun memancarkan cahayanya, yakni hal-hal yang mesti terjadi sebelum “kedatangan Anak Manusia.” Kata-kata ini bisa dipahami secara metaforis, tapi dalam hal ini, mengapa kaum Adventis harus mencari kedatangan kedua dalam arti harfiahnya?

    Selain itu, sebagian besar fenomena tersebut di atas telah terjadi kadang-kadang ketika mereka yang berkhotbah dan mengajar dalam nama Yesus, karena alasan politis, tidak bisa dibawa ke hadapan para raja dan penguasa untuk mendapat hukuman.. Sebaliknya, mereka malah mendapatkan kebebasan untuk memasuki tanah-tanah yang sudah lama ditutup bagi mereka. Semua itu membuktikan bahwa ramalan itu hanyalah dongeng belaka atau, kalau tidak, catatan-catatan tentang kehidupannya, yang ditulis dua abad kemudian, telah secara sia-sia mencampur-adukkan hal-hal berbeda mengenai persoalan-persoalan berbeda.

    Footnotes

    48. Al-Qur’an Surah al-Baqarah [2]:138, terjemahan Muhammad Ali.
    49. Vide Islamic Review untuk Maret – April, 1930.
    50. ibid, Mei, 1930.

    Balas
  155. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Nabi Yang Diramalkan Oleh Sang Pembaptis Pastilah Muhammad

    Ada dua ucapan yang sangat penting mengenai Yohanes Pembaptis yang disampaikan oleh Yesus Kristus, tapi dicatat dengan cara yang aneh:

    Ucapan pertama mengenai sang Pembaptis adalah bahwa Yohanes dimunculkan ke dunia sebagai reinkarnasi Elia sang Perjanjian Lama. Keanehan yang menyelimuti sebutan ini terjadi pada diamnya Kristus mengenai identitas dari orang yang diharapkan secara resmi diperkenalkan oleh Elia (Elias) kepada dunia sebagai Nabi Terakhir. Bahasa Yesus dalam hal ini adalah sangat kabur, ambigu, dan aneh.

    Jika Yohanes adalah Elia, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dan tak kenal takut, lantas mengapa orang yang perintis jalannya adalah Elia tidak disebutkan secara jelas dan tanpa takut?

    Jika Yesus adalah sang “Utusan yang dijanjikan” dan Dominator [terjemahan Vulgate untuk bahasa Ibrani Adon (Maleakhi 3:1)], mengapa dia tidak secara terbuka mengatakan begitu? Jika ia dengan berani menyatakan bahwa bukan dirinya, tetapi Nabi lain yang merupakan “Dominator” itu. Maka sebenarnya pasti ada tangan jahat yang menghapus dan menghilangkan kata-kata Yesus dari kitab Injil yang asli.

    Bagaimanapun juga, kitab-kitab Injillah yang bertanggung jawab atas ambiguitas dan ketidakjelasan ini. Itu hanya dapat digambarkan sebagai hal kejam yang merusak teks dan telah menyesatkan jutaan umat Kristen selama berabad-abad.

    Yesus, sebenarnya, harus menunjukkan diri secara terbuka dan terang-terangan mengatakan, “Yohanes adalah sang Elia yang diutus sebagai perintis yang mempersiapkan jalan untukku!” Atau jika bukan seperti itu, maka mungkin ia sudah menyatakan hal sebagai berikut, “Yohanes adalah sang Elia yang diutus untuk mempersiapkan jalan bagi Muhammad”. Barangkali ini disebabkan oleh kegemaran Yesus akan ambiguitas (kemenduaan makna).
    Sebenarnya ada beberapa contoh –sebagaimana dilaporkan dalam Kitab-kitab Injil, dimana Yesus memberikan jawaban atau membuat pernyataan yang tidak jelas dan sama sekali tidak dapat dipahami. Dengan mengesampingkan ketuhanannya, sebagai seorang nabi, oh tidak, bahkan sebagai seorang guru pun, ia diharapkan menjadi seorang guru dan pemimpin yang terus terang.

    Ucapan lain terselubung dalam keanehan yang lebih tebal lagi, “Tidak seorang pun yang dilahirkan oleh perempuan lebih besar dari Yohanes Pembaptis” kata Yesus, “Tetapi yang paling kecil di Kerajaan Surga adalah lebih besar daripada Yohanes”. Apakah Yesus bermaksud mengajari kita bahwa Yohanes dan semua Nabi serta orang-orang shaleh berada diluar Kerajaan Tuhan? Siapakah orang “paling kecil” yang lebih besar dari Yohanes? Dan konsekuensinya dari semua umat Tuhan yang mendahului sang Pembaptis? Apakah Yesus sendiri yang dimaksud “paling kecil” itu, atau yang “paling kecil” diantara orang-orang Kristen yang dibaptis? Tidak mungkin dia sendiri, karena pada masanya Kerajaan itu belum didirikan di bumi; jika memang dia, maka tidak mungkin ia sebagai yang “paling kecil” didalamnya karena ia adalah pendirinya.

    Gereja-gereja –bukannya masing-masing Gereja, ortodoks atau heterodoks, dari sudut pandangnya yang aneh – telah menemukan solusi yang sangat musykil dan sangat tidak masuk akal untuk problem ini; dan solusi itu adalah bahwa orang Kristen yang “paling kecil” untuk dicuci dengan darah Yesus –melalui sakramen pembaptisan, menurut keyakinan kaum Sacerdotolis, atau, kalau tidak, melalui semacam regenerasi, menurut ketakhayulan Penginjil) menjadi “lebih besar” dari sang Pembaptis dan semua lasykar laki-laki dan perempuan suci, termasuk Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Elia, Daniel, dan Yohanes Pembaptis!

    Alasan atau bukti dari klaim yang mengagumkan ini adalah bahwa umat Kristen, betapapun berdosa, bodoh, rendah, dan miskinnya dia, asalkan ia beriman kepada Yesus sebagai Juru Selamatnya, maka ia memiliki hak-hak istimewa (privilages) yang didambakan para Nabi Suci namun tidak dinikmatinya. Hak-hak istimewa ini tidak terkira banyaknya; penyucian dari dosa asal melalui Pembaptisan umat kristiani, pengetahuan tentang “Trinitas Suci” (!!! hasya! astaghfirullah!–Allah melarang dan memafkan istilah ini); pemberian makanan daging dan darah Yesus dalam Sakramen Ekaristi; doa dengan membuat tanda salib; hak-hak kuci Surga dan Neraka diberikan kepada Paus, dan kegembiraan yang berlebih-lebihan (ectasy) dari kaum Puritan41, Quaker42, Persaudaraan, dan semua sekte lain yang disebut Kaum NonKonformis, yang masing-masing dengan jalannya sendiri-sendiri, meskipun mengklaim hak-hak istimewa dan hak-hak prerogratif yang sama, semua sepakat bahwa setiap orang Kristen yang baik pada hari kebangkitan akan menjadi perawan suci dan menampilkan dirinya sebagai pengantin perempuan untuk “Domba Tuhan”!

    Lantas, tidakkah Anda berpikir bahwa umat Kristiani berhak untuk percaya bahwa yang “paling kecil” diantara mereka adalah “lebih besar” dari semua nabi? Tidakkah Anda berpikir, kalau demikian, bahwa biarawan Patagonian yang kekar dan biarawati Parisian yang menebus dosa adalah lebih mulia daripada Adam dan Hawa, karena misteri Trinitas disampaikan kepada orang-orang idiot ini dan tidak kepada nenek moyang mereka yang dahulunya hidup bersama Allah di Surga sebelum kejatuhan mereka?

    Atau, tidakkah Anda berpikir bahwa keyakinan seperti ini sangatlah tidak pantas dan tidak bermartabat di jaman yang agung dengan ilmu pengetahuan dan peradaban yang sudah maju ini? Mengklaim bahwa seorang pangeran Inggris atau seorang negro yatim “lebih besa” dari Yohanes Pembaptis karena mereka Kristiani adalah, sebenarnya, buruk sekali!

    Namun semua keyakinan dan aqidah yang bermacam-macam ini berasal dari Perjanjian Baru dan dari ucapan-ucapan yang dinisbahkan kepada Yesus dan rasul-rasulnya. Namun, bagi kita sebagai kaum Ahlutauhid Muslim ada sedikit cahaya kemilau yang tertinggal dalam kitab-kitab Injil, dan sudah cukup bagi kita untuk menemukan kebenaran tentang Yesus dan sepupunya, Yohannan Ma’mdana (Yohanes Pembapts), yang sebenarnya.

    Yohanes Pembaptis meramalkan Muhammad

    Menurut kesaksian Yesus, tidak ada orang yang dilahirkan perempuan lebih besar dari Yohanes Pembaptis, namun yang “paling kecil” dalam Kerajaan Surga adalah lebih besar dari Yohanes. Perbandingan yang dibuat oleh “Roh Allah” (Ruhullah, yakni Yesus) adalah antara Yohanes dan semua Nabi sebelumnya sebagai para pejabat dan administrator Kerajaan Surga. Nah dalam urutan kronologis maka Nabi terakhir adalah yang “paling kecil” diantara mereka semua, ia akan menjadi yunior mereka dan yang paling muda.

    Kata “z’ira” dalam bahasa Aramia, seperti kata Arab “saghir”, berarti “anak kecil”. Versi Pshittha menggunakan kata “z’ira” atau “z’eira” sebagai lawan dari “rabba” untuk “besar, tua”.

    Setiap orang Kristen akan mengakui Yesus adalah bukan nabi yang “terakhir”, dan karenanya ia tidak mungkin sebagai yang “paling kecil”. Tidak hanya para rasul sendiri yang diberkati dengan pemenuhan nubuat, tetapi juga banyak manusia suci lainnya di zaman kerasulan disokong dengan itu (Kisah-kisah 11:27,28; 13:1; 15:32; 21:9-10),

    Dan karena kita tidak dapat menemukan yang mana dari nabi-nabi gereja yang banyak ini adalah “yang terakhir”, tentu saja kita dipaksa untuk mencari kemana-mana seorang Nabi yang tidak dapat disangkal adalah Terakhir dan Penutup Daftar Kenabian. Dapatkah kita membayangkan bukti-bukti yang mendukung Muhammad yang lebih kuat dan lebih brilian daripada pemenuhan nubuat Yesus Kristus yang menakjubkan ini?

    Dalam daftar panjang keluarga nubuat, tentu saja yang “paling muda”, yang “paling kecil” adalah Muhammad; beliau adalah Sultan, “Adon”, dan “Keagungan” mereka. Menyangkal ciri dan sifat nubuat kerasulan dari misi Muhammad merupakan suatu penyangkalan yang mendasar terhadap keseluruhan wahyu Ilahiah dan semua Nabi yang mengajarkannya. Karena semua Nabi lainnya secara bersama-sama belum menyelesaikan karya raksasa yang diselesaikan sendiri oleh Nabi dari Mekkah dalam waktu singkat yakni dua puluh tiga tahun misi kerasulannya.

    Misteri tentang kehidupan sebelumnya dari roh-roh para Nabi belum diungkapkan kepada kita, tapi setiap muslim sejati mempercayainya. Roh yang ada sebelumnyalah dengan kekuatan firman Allah “ kun ” (jadi) seorang lanjut usia Sarah, seorang Hannah, dan seorang perawan Maria melahirkan Ishaq, sang Pembaptis, dan Yesus. Ada beberapa nama lain yang tercatat dalam Perjanjian Lama–misalnya Samson, Yeremia.

    Injil Barnabas melaporkan bahwa Yesus berbicara tentang Roh Muhammad yang dinyatakan olehnya telah diciptakan sebelum semua yang lain. Karena itu, kesaksian sang Pembaptis mengenai Nabi yang diramalkannya: “Dia yang datang setelah aku telah menjadi sebelum aku, karena ia sudah ada sebelum aku” (Yohanes 1:15)

    Tidak ada gunanya menafsirkan kata-kata yang mengagumkan dari sang Pembaptis tentang Muhammad ini sebagai menunjuk kepada Yesus seperti yang berusaha dilakukan oleh pengarang Kitab Injil Keempat.

    Ada sebuah bab yang luar biasa mengenai Yohanes Pembaptis dalam buku terkenal karangan Ernest Renan tentang La vie de Jesu. Sudah lama saya membaca dengan teliti karya ini. Jika penulis Perancis yang terpelajar ini sedikit saja memperhatikan hak Muhammad dalam dunia para Nabi, saya yakin penyelidikan dan ulasannya yang dalam akan benar-benar membimbing dia kepada konklusi yang berbeda. Ia, seperti para kritikus Alkitab dan orang yang tidak setuju lainnya, bukannya mengungkapkan kebenaran, malah mengkritisi agama secara berlawanan dan membuat para pembacanya menjadi skeptis.

    Saya senang mengatakan bahwa hak sayalah, berkat karunia Allah, untuk memecahkan problem misteri yang selama ini menutupi apa arti dan maksud sebenarnya dari “yang paling kecil dalam Kerajaan Surga” !

    Yohanes Pembaptis mengakui Muhammad sebagai lebih unggul dan lebih kuat dari dirinya. Ungkapan penting disampaikannya kepada orang-orang Yahudi itu, “Dia yang datang setelah aku” mengingatkan para Penulis, Pharisee, dan ahli hukum mereka pada ramalan kuno dari nenek moyang mereka, Yaqub, dimana Patriarch itu menggunakan gelar yang unik “Syilokhah” untuk “Rasul Allah”, julukan yang sering digunakan oleh Yesus untuk Muhammad dalam Kitab Injil Barnabas. Pada waktu menulis artikel saya tentang “Syiloh”43, saya mengatakan bahwa kata itu bisa jadi merupakan perubahan dari “Syiloukh” atau “Syilokhah”44 yang artinya adalah Rasul Allah, tetapi kemudian saya lupa bahwa St.Yerome juga telah memahami bentuk Ibrani itu dalam arti tersebut, karena ia telah menerjemahkannya sebagai “ qui mittendis est ”

    Kita hanya mempunyai contoh khotbah Yohanes dalam beberapa baris, yang ditulis tidak oleh dirinya tapi oleh tangan yang tidak dikenal–setidaknya tidak dalam bahasa aslinya sendiri– dan banyak dirusak oleh para penulis dan redaktur yang telah menjadikan muridnya Yesus sebagai berhala atau tuhan. Namun apabila kita membandingkan khotbah yang disampaikan di gurun padang gurun Yudea dan di pantai-pantai Yordan ini dengan keanggunan, keelokan, kefasihan, dan kekuatan yang mewujud dalam setiap ayat dan halaman Al-Qur’an Suci, maka kita dapat memahami makna dari kata-kata, “Dia lebih kuat dari aku!”

    Ketika saya membayangkan sendiri sang Pembaptis asketik yang berkhotbah dengan suara keras di padang gurun, atau tepi Sungai Yordan, kepada banyak sekali kaum Yahudi, dengan didukung sejarah teokratis yang berusia sekitar empat ribu tahun, dan kemudian melakukan tinjauan singkat mengenai sikap yang tenang, tertib, dan bermartabat di mana Muhammad memproklamirkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada kaum pagan Arab; dan akhirnya, ketika saya memeriksa dan memperhatikan efek dari dua khotbah itu atas para pendengar dan hasil akhirnya, saya memahami besarnya perbedaan di antara mereka, dan arti penting dari ucapan “Dia lebih kuat dari aku!”

    Ketika saya merenungkan penangkapan dan pemenjaraan sang Pembaptis yang tidak berdaya oleh Herod Antipas 45 dan pemenggalan lehernya yang kejam– atau ketika saya membaca dengan teliti cerita-cerita membingungkan tapi tragis mengenai pencambukan Yesus (atau Yudas Iskariot) oleh Pilatus, penobatan Yesus dengan mahkota duri oleh Herod, dan malapetaka di Calvary46, lalu saya beranjak memalingkan pandangan saya pada masuknya Adon yang agung –Sultan para nabi– dengan penuh kemenangan ke Mekah, penghancuran total semua berhala purbakala dan pembersihan Ka’bah suci; atas pemandangan yang menggetarkan hati dari musuh pembawa maut pimpinan Abu Sufyan yang takluk dikaki Syilokhah –Rasul Allah– memohon pengampunannya dan mengakui keimanannya, dan atas ibadah yang agung, kebaktian, dan khotbah terakhir dari sang Penutup para Nabi dalam kata-kata Ilahiah yang serius ini, “Al yauma akmaltu lakum dinukum” (Hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu), dan sebagainya, kemudian saya sepenuhnya memahami bobot dan nilai dari pengakuan sang Pembaptis, “Dia lebih kuat dariku”.

    “Kemurkaan yang akan datang” . Pernahkah Anda menjumpai penfsiran yang pantas dan bijaksana, dan meyakinkan dari kalimat ini diantara banyak sekali komentar mengenai kitab Injil? Apa yang dimaksud Yohanes dengan ungkapan, “Lihatlah kapak sudah dipasang pada akar pohon?” Atau perkataannya, “Ia memegang kapas ditangannya untuk membersihkan lantai pengiriknya?” Atau ketika ia meremehkan gelar “Anak-anak Ibrahim”?

    Saya tidak akan menghalangi Anda untuk mengetahui tingkah laku-para penafsir, karena mereka adalah lamunan yang tidak pernah diimpikan oleh Yohanes ataupun pendengarnya. Mungkinkah Yohanes pernah mengajari kaum Pharisee yang angkuh dan kaum Saduqee47 yang rasionalistik itu menyangkal kebangkitan jasmaniah bahwa pada hari kiamat Yesus dari Nazaret akan menumpahkan kemurkaannya pada mereka dan membakar mereka bagaikan pohon-pohon yang tidak berbuah dan bagaikan sekam dalam api neraka? Tidak ada satu kata pun dalam semua literatur kitab suci mengenai kebangkitan jasad-jasad atau mengenai api neraka. Tulisan-tulisan Talmudistik ini penuh dengan misteri eskatologis yang sangat mirip dengan tulisan kaum Zardusytee, tetapi sumbernya sama dari kitab-kitab resmi.

    Nabi yang bertobat dan membawa kabar baik itu tidak berbicara tentang kemurkaan yang jauh dan tidak terbatas yang sudah pasti menunggu kaum kafir dan kaum tidak bertuhan, tetapi berbicara tentang malapetaka yang terdekat dari bangsa Yahudi. Ia mengancam bahwa murka Allah sedang menunggu kaum itu jika mereka terus-menerus berbuat dosa dan menolak misi dan koleganya, Yesus Kristus.

    Bencana yang akan datang adalah hancurnya Yerusalem dan pembubaran terakhir Israel yang terjadi sekitar tiga puluh tahun sesudah itu selama masa hidup para pendengarnya. Baik dia maupun Yesus mengabarkan kedatangan Rasul Allah yang agung yang telah dikabarkan oleh Yaqub dengan gelar Syiloha, dan bahwa dengan kelahirannya semua hak kenabian dan kehormatan serta otoritas akan diambil dari bangsa Yahudi; dan memang, demikianlah yang terjadi sekitar enam abad kemudian, ketika benteng-benteng terakhir mereka di Hijaz diratakan dengan tanah dan kepangeranan mereka dihancurkan oleh Muhammad.

    Kekuasaan Romawi yang semakin mendominasi di Syria dan Palestina telah mengancam otonomi palsu bangsa Yahudi, dan arus emigrasi bangsa Yahudi sudah dimulai. Dan mengenai cerita inilah sang Pengkhotbah bertanya, “Siapa yang memberitahu kalian untuk melarikan diri dari kemurkaan yang akan datang?” Mereka diperingatkan dan didesak untuk menghasilkan buah-buah yang bagus dan panen yang bagusdengan pertobatan dan kepercayaan terhadap para rasul Tuhan yang sejati, khususnya kepada Rasul Allah, yang merupakan sang pemimpin sejati dan terakhir yang kuat.

    kaum Yahudi dan Kristiani selalu menuduh Muhammad telah menegakkan agama Islam dengan kekuatan, paksaan, dan pedang. Kaum modernis Islam selalu berusaha untuk menyangkal tuduhan ini. Tetapi ini tidak berarti mengatakan bahwa Muhammad tidak pernah menggunakan pedang. Ia harus menggunakannya untuk mempertahankan nama Tuhan.

    Setiap kesabaran ada batasnya. Setiap kemurahan hati ada akhirnya. Kesempatan dan waktu yang diberikan oleh Allah kepada bangsa Yahudi, Arab, dan lainnya berakhir selama lebih dari empat ribu tahun. Hanya setelah berakhirnya periode inilah baru Allah mengutus Muhammad dengan membawa kekuatan dan pedang, api dan roh, untuk menghadapi kaum kafir yang kejam, menghadapi anak-anak Ibrahim yang tidak bersyukur –baik kaum Ismailiyah maupun Israiliyah– dan menghadapi kekuatan Iblis, untuk penghabisan kali.

    Keseluruhan Perjanjian Lama merupakan cerita tentang teokrasi dan pemberhalaan. Kadang-kadang sedikit cahaya Islam –yakni, agama Allah– bersinar di Yerusalem dan Mekah; namun ia selalu dianiaya oleh kekuatan Setan. Empat Binatang Buas yang kejam datang menginjak-injak kaum beriman. Lalu datanglah Muhammad untuk menghancurkan dan membunuh Ular Berbisa dan memberinya gelar yang hina “iblis” –setan yang “terluka memar”.

    Tentu saja Muhammad adalah seorang nabi yang melakukan pertempuran, tetapi objek pertempuran itu adalah kemenangan bukan balas dendam. Penaklukan musuh dan bukan pembasmiannya, dan, singkatnya, menegakkan agama Islam sebagai Kerajaan Tuhan dimuka bumi.

    Sebenarnya, ketika sang Penyeru di gurun pasir berseru dengan suara nyaring, “Siapkan jalan Tuhan dan luruskan jalan-jalan-Nya”, ketika itu ia sedang menyinggung agama Tuhan dalam bentuk sebuah kerajaan yang sedang datang mendekat. Tujuh abad sebelumnya, nabi Yesaya telah meneriakkan dan mengucapkan kata-kata yang sama (Yesaya 40:1-4); dan dua abad kemudian Allah sendiri meratakan jalan untuk Koresy dengan menaikkan dan menutup setiap lembah, meratakan setiap bukit dan gunung untuk memudahkan penaklukan dan mempercepat gerakan (45:1-3).

    Sejarah berulang sendiri, kata mereka; dalam kedua kasus tersebut bahasa dan maknanya sama. Yang pertama menjadi prototipe yang kedua. Allah telah meratakan jalan untuk Koresy, menundukkan musuh-musuhnya kepada penakluk Persia, karena Rumah-Nya di Yerusalem dan orang-orang pilihan-Nya dalam penjara.

    Kini sekali lagi Tuhan mengulang kejadian yang hampir sama, tetapi dengan skala yang lebih besar dan lebih luas. Dihadapan khotbah Muhammad, berhala-berhala dan kesesatan menghilang; di hadapan pedangnya kerajaan-kerajaan ambruk; dan anak-anak Kerajaan Allah menjadi sederajat dan membentuk “orang-orang Suci milik Yang Maha Tinggi”. Karena hanya dalam Islamlah semua orang beriman sederajat, tidak ada pendeta, tidak ada sakramen; tidak ada Muslim yang tinggi laksana bukti, atau rendah laksana lembah; dan tidak ada kasta atau perbedaan ras dan pangkat. Semua orang beriman adalah satu, kecuali dalam kebajikan dan kesabaran, dalam hal mana mereka saling mengungguli. Hanya agama Islamlah yang benar-benar mengakui sesuatu makhluk, betapapun besar dan sucinya, sebagai perantara mutlak antara Allah dan manusia.

    Footnotes
    41. Orang yang sangat teguh berpegang pada peraturan-peraturan terhadap tata susila.
    42. Anggota suatu perkumpulan Kristen anti perang dan anti sumpah.
    43. Bandingkan, Islamic Review, September 1929, h.313 et seq.
    44. Bangsa Yahudi Timur dan Assyria mengucapkan “Syilokha” atau “Syiloakh.” Sangatlah sulit untuk menuliskan atau mentransliterasikan bahasa-bahasa Semit ke dalam bahasa Latin.
    45. Ada anakronisme dalam cerita tentang kesyahidan Yohanes mengenai keluarga Herod Agung dalam Kitab-kitab Injil (Matius XIV, dsb.); pembaca dapat merujuk Antiquites karya Joseph Flavius.
    46. Bukit di luar kota kuno Palestina tempat Yesus disalib.
    47. Nama Ibrani ini secara salah ditulis “Saducee.”

    Balas
  156. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Yohanes Pembaptis Mengabarkan Seorang Nabi Yang kuat
    Yohanes Pembaptis menurut penuturan dari empat Penginjil adalah sepupu dan sebaya dengan Yesus, yang usianya hanya sekitar enam bulan lebih tua dari Yesus. Al-Qur’a tidak menyebutkan apa-apa tentang kehidupan dan karya nabi itu kecuali bahwa Tuhan melalui para malaikat memberitahukan kepada bapaknya, Zakaria, bahwa ia akan mempunyai seorang anak lelaki yang bernama Yahya, yang akan memberikan kesaksian terhadap firman Allah, dan bahwa ia akan menjadi orang yang terhormat, suci dan salah seorang nabi yan berbudi (Q.S.Ali Imran)

    Tidak ada yang diketahui tentang kelahirannya selain bahwa ia adalah seorang Nazaret yang hidup di padang gurun, makan belalang dan madu liar menutupi tubuhnya dengan pakaian terbuat dari bulu unta, yang diikat dengan korset kulit. Ia diyakini sebagai salah satu sekte keagamaan Yahudi yang awal disebut “Essenes”, yang melahirkan kaum “Ibionit” kristen awal dengan ciri utamanya adalah meninggalkan kesenangan duniawi.

    Sebenarnya, istilah Qur’ani mengenai nabi pertapa ini –“hashura” yang artinya “suci” dalam arti kata –menunjukkan bahwa ia menjalani kehidupan membujang dalam kesucian, kemiskinan, dan kesalehan. Ia tidak dinilai dari masa mudanya yang awal sampai menjadi dewasa usia tiga puluh tahun atau lebih, ketika ia memilai misi mengajarkan pertobatan dan membaptis para pendosa yang bertobat dengan air.

    Banyak sekali yang tertarik kepada padang gurun Yudea untuk mendengarkan khotbah-khotbah yang berapi-api dari sang nabi baru; dan kaum Yahudi yang bertobat dibaptis dalam air sungai Yordan. Ia mencerca kaum Pharisee yang berpendidikan namun fanatik dan para pendeta dan mengancam kaum Saduqee (Saducee) yang terpelajar namun rasionalis dengan balasan yang kelak akan menimpa mereka. Ia menyatakan bahwa ia membaptis mereka dengan air hanya sebagai tanda penyucian hati lewat penebusan dosa. Ia mengabarkan bahwa akan datang setelah dirinya nabi lain yang akan membaptis mereka dengan roh kdudus dan api; yang akan mengumpulkan gandum kedalam lumbung-lumbung dan membakarnya dengan api yang tak terpadamkan. Selanjutnya ia menyatakan bahwa orang yang akan datang kemudian itu jauh lebih kuat darinya dalam segi kekuatan dan martabat sehingga Yohanes Pembaptis mengaku tidak layak baginya untuk membungkuk untuk membukakan ikatan dan melepaskan sepatunya.

    Pada salah satu pelaksanaan pembaptisan yang agung oleh Yahya (Yohanes Pembaptis) inilah Yesus dari Nazaret juga masuk kedalam air Sungai Yordan dan dibaptis oleh nabi Yahya seperti lainnya. Markus (1:9) dan Lukas (3:21) yang melaporkan pembaptisan Yesus oleh Yohanes ini tidak tahu ucapan-ucapan Yohanes mengenai hal ini seperti disebut dalam Matius (3) dimana dinyatakan bahwa Yohanes berkata kepada Yesus, “Akulah yang harus dibaptis oleh mu, dan apakah engkau akan datang kepadaku?” Dilaporkan juga bahwa Yesus menjawab :”Marilah kita memenuhi kebenaran”, dan kemudian ia membaptisnya. Injil sinoptik itu menyatakan bahwa roh kenabian turun kepada Yesus dalam bentuk seekor merpati ketika ia keluar dari air, dan terdengar suara yang mengatakan, “Inilah anakku yang terkasih, aku ridha kepadanya”.

    Injil keempat tidak mengatakan apapun tentang Yesus yang dubaptis oleh Yohanes, tetapi mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis, ketika ia melihat Yesus, berseru,”Lihatlah domba Tuhan,” dan seterusnya (Yohanes 1:36) menganggap bahwa Andreas adalah murid Yohanes Pembaptis, dan setelah meninggalkan gurunya kemudian membahwa saudaranya, Simon kepada Yesus (Yohanes 1) – suatu kisah yang secara menyolok bertentangan dengan pernyataan-pernyataan para Penginjil lainnya. (Matius 4:18-19; Markus 1:16-18).

    Dalam Injil Lukas kisah diatas berbeda sama sekali: disini Yesus mengenal Simon Petrus sebelum ia dijadikan murid (Lukas 4:38-39); dan keadaan yang menyebabkan sang Guru memasukkan anak-anak Yonah dan Zebedee dalam daftar muridnya adalah sama sekali asing bagi para penginjil lainnya (Lukas 4:1-11).

    Keempat Injil Gereja trinitas mengandung banyak pernyataan yang kontradiktif tentang hubungan seksual antara dua nabi sepupuan. Dalam Injil keempat kita membaca bahwa Yohanes Pembaptis tidak mengetahui siapakah itu Yesus sampai setelah pembaptisannya, ketika sebuah Roh seperti seekor burung merpati turun dan berdiam dalam dirinya (Yohanes 1); sementaraLukas mengatakan bahwa sang Pembaptis ketika masih berada dalam rahim ibunya, mengetahui dan memuja Yesus yang juga sebagai janin yang lebih muda didalam rahim Maria (Lukas 1:44). Kemudian lagi-lagi dikatakan bahwa Yohanes Pembaptis ketika berada dalam penjara dimana ia dipenggal kepalanya (Matius 11,14), tidak mengetahui sifat sesungguhnya dari misi Yesus!

    Ada indikasi misterius yang tersembunyi dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Yahya oleh para Pendeta dan kaum Lewi. Mereka bertanya kepada sang Pembaptis, “Apakah engkau Mesias? Apakah engkau Elia?” Dan ketika ia menjawab, “Bukan!” mereka berkata, “Jika engkau bukan Mesias dan juga bukan Elia, atau pun Nabi itu, lalu mengapa engkau membaptis?” (Yohanes 1).

    Oleh karena itu, akan diketahui bahwa, menurut Injil keempat, Yohanes Pembaptis bukanlah Mesias, ataupun Elia, dan juga bukan “nabi itu” ! Dan saya mengajukan pertanyaan kepada Gereja-gereja Kristen, yang percaya bahwa inspirator dari semua pernyataan-pernyataan yang kontradiktif ini adalah Holy Ghost yang ketiga dari tiga tuhan- yang dimaksudkan oleh kependetaan Yahudi, apakah paus dan patriarch tahu siapa “dan nabi itu”? Jika tidak, lalu apa manfaat duniawi dari Injil-injil palsu dan ditambah-tambah ini? Sebaliknya, jika Anda memang tahu siapa “nabi itu”, lantas mengapa Anda terus saja diam?

    Dalam kutipan diatas (Yohanes 1) dengan jelas dinyatakan bahwa sang Pembaptis mengaku dirinya bukan seorang nabi. Sedangkan kontradiksi dengan pernyataan Yohanes, Yesus dilaporkan telah berkata bahwa tidak ada manusia yang dilahirkan perempuan lebih besar daripada Yohanes (Matius 11). Benarkah Yesus membuat pernyataan kontradiksi itu? Apakah Yohanes lebih besar daripada Ibrahim, Musa, Daud, bahkan Yesus sendiri? Dan dalam hal apa keunggulan dan kebesarannya ?

    Jika kesaksian Yesus tentang anak Zakaria ini otentik dan benar, maka kebesaran sang “Pemakan Belalang dipadang gurun” hanyalah terletak pada pembuangan dirinya secara mutlak. Pengorbanan kepentingan diri dan menahan diri dari kepentingan duniawi, keinginannya yang berapi-api untuk mengajak manusia kepada penebusan dosa, dan kabar baiknya tentang “nabi itu.”

    Atau apakah kebesarannya karena sebagai sepupu, sebaya dan saksi Yesus? Nilai dan kehebatan seorang manusia dan juga seorang nabi dapat ditentukan dan dinilai dari karyanya. Kita sama sekali tidak tahu jumlah orang yang berubah keyakinan melalui khotbah-khotbah dan disucikan lewat pembaptisan Yohanes. Juga tidak mengetahui tentang efek dari perubahan tersebut atas sikap kaum Yahudi yang bertobat itu, terhadap “Domba Tuhan!”

    Konon Kristus telah menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis adalah reinkarnasi Nabi Elia (Matius 11:4; 17:12; Lukas 1:17), padahal dengan terang Yohanes mengatakan kepada perutusan kaum Yahudi bahwa dia bukan Elia, bukan Kristus, dan bukan pula nabi itu (Yohanes 1).

    Kini, dapatkah, dari Injil-Injil yang penuh dengan pernyataan yang saling menentang dan menyangkal ini, seseorang menarik konklusi yang benar? Atau dapatkah ia mencoba menemukan kebenaran? Tanggung jawab ini sangat penting dan serius, karena orang-orang yang bersangkutan bukanlah manusia biasa seperti kita, melainkan dua Nabi yang diciptakan dalam rahim melalui Roh dan lahir secara ajaib –yang satu tidak punya bapak, sedangkan orang tua yang satu lagi steril dan merupakan pasangan berusia antara 90-99 tahun yang impoten.

    Daya tarik tanggung jawab ini bahkan lebih gawat lagi ketika kita memperhatikan dokumen-dokemen berisi penyataan-pernyataan kontradiktif ini. Periwayatnya adalah para Penginjil, orang-orang yang dikatakan sebagai mendapat ilham dari Roh Kudus, dan catatannya diyakini Kristen sebagai wahyu!

    Namun, ada kebohongan, pernyataan palsu, atau dusta. Elia (Elias) dikatakan datang sebelum “Nabi itu” (Maleakhi 4:5,6); Yesus berkata, “Yohanes adalah Elia”; Yohanes berkata, “Aku bukan Elia,” dan Kitab Suci kaum kristen lah yang membuat pernyataan-pernyataan mengiyakan dan menyangkal ini!

    Benar-benar mustahil menemukan kebenaran, agama yang benar, dari Injil-Injil ini, kalau mereka tidak dibaca dan diperiksa dari sudut pandang Islam dan Ahlutauhid. Hanya setelah itulah kebenaran dapat dipisahkan dari kepalsuan, dan yang asli dibedakan dari yang lancung. Hanya semangat dan keyakinan Islam yang dapat menyaring Alkitab (Bibel) dan membuang dedak dan kesalahan-kesalahan dari halaman-halamannya.

    Sebelum meneruskan lebih jauh dengan menunjukkan bahwa Nabi yang diramalkan oleh sang Pembaptis tidak bisa lain adalah Muhammad, saya harus menarik perhatian pembaca yang serius kepada satu atau dua hal penting lainnya:

    Pertama, bisa dikatakan bahwa umat Muslim memberikan penghormatan dan pentakziman yang paling tinggi kepada semua Nabi, terutama kepada para nabi yang namanya disebutkan dalam Al-Qur’an seperti Yohanes (Yahya) dan Yesus (Isa); dan percaya bahwa para rasul dan murid Yesus adalah orang-orang suci serta mendapat ilham dari Allah. Namun karena kita tidak memiliki tulisan-tulisan mereka yang asli, konsekuensinya kita tidak dapat sejenak pun membayangkan kemungkinan bahwa salah satu dari dua hamba Allah yang agung ini saling bertentangan.

    Soal penting lainnya yang harus diketahui adalah diamnya Injil Barnabas tentang Yohanes Pembaptis, dan ini adalah sangat penting. Injil ini, yang tidak pernah menyebutkan nama Yahya, menisbahkan ramalannya tentang “nabi yang lebih kuat” sebagai ucapan yang keluar dari mulut Yesus Kristus. Di dalamnya Kristus, ketika berbicara tentang Roh Muhammad yang telah diciptakan sebelum roh-roh nabi-nabi lainnya, mengatakan bahwa saking mulianya Muhammad sampai-sampai ketika ia datang Yesus merasa dirinya tidak pantas untuk berlutut dan membuka tali-tali sepatunya.

    Sang “penyeru” agung di padang gurun dalam khotbah-khotbahnya kepada khalayak ramai, biasa berseru dengan keras dan berkata, “Aku membaptismu dengan air untuk pertobatan dan pengampuanan dosa-dosa. Namun ada orang yang akan datang setelah ku lebih yang lebih kuat dariku, yang untuk membuka tali-tali sepatunya pun aku tidak pantas. Ia akan membaptismu dengan Roh dan api”. Kata-kata ini secara berbeda dilaporkan oleh para Penginjil, namun semua menunjukkan arti yang sama yaitu respek dan perhatian yang paling tinggi terhadap kepribadian yang mengagumkan dan martabat yang penuh keagungan untuk seorang “nabi yang kuat” yang diramalkan. Kata-kata sang Pembaptis ini sangat deskriptif tentang keramahan dan sikap hormat gaya Timur yang diberikan kepada seorang tamu yang bermartabat. Begitu sang tamu melangkah masuk, sang tuan rumah atau salah seorang anggota keluarga buru-buru melepaskan sepatunya, dan mengantarnya ke bangku atau alas duduk. Ketika sang tamu pamit maka perbuatan hormat yang sama diulanginya; ia dibantu mengenakan tali sepatu diatas dengkulnya.

    Yang dimaksud oleh Yohanes Pembaptis adalah bahwa jika ia menemui Nabi yang bermartabat itu maka ia pasti menganggap dirinya tidak patut mendapat kehormatan untuk membungkuk guna membuka tali sepatunya. Dari penghormatan ini yang diberikan sebelumnya oleh sang Pembaptis, ada satu hal pasti: bahwa nabi yang diramalkan itu dikenal oleh semua Nabi sebagai Adon, Tuan, dan Sultan mereka; karena kalau tidak maka orang yang terhormat, Rasul Allah yang suci dan tanpa dosa seperti Sayidina Yahya, tidak akan melakukan pengakuan yang rendah hati seperti itu.

    Kini kita masih harus menentukan identitas dari “Nabi itu”. Oleh karena itu, artikel ini harus dibagi kedalam dua bagian, yakni:

    Nabi yang diramalkan itu bukan Yesus Kristus, dan

    Nabi yang diramalkan itu adalah Muhammad.

    Semua orang tahu bahwa gereja-gereja Kristen selalu menganggap Yohanes Pembaptis sebagai bawahan Yesus, dan pembawa berita tentang kedatangannya. Semua juru tafsir Kristen menunjukkan Yesus sebagai objek penyaksian dari nubuat Yohanes.

    Meskipun bahasa para Penginjil telah diselewengkan oleh orang-orang yang melakukan penambahan atau penyisipan ke arah itu, namun kecurangan atau kesalahan tidak selamanya dapat lepas dari sorotan mata yang tajam seorang kritikus dan pemeriksa yang objektif. Yesus tidak dapat menjadi objek penyaksian Yohanes karena:

    Kata depan “setelah” dengan jelas mengecualikan Yesus dari Nabi yang diramalkan. Mereka berdua sezaman dan lahir dalam tahun yang sama. “Dia yang datang setelahku” kata Yohanes, “Lebih kuat dariku”. Kata “setelah” ini mengindikasikan masa yang akan datang pada suatu jarak yang tak terbatas, dan dalam bahasa profetis hal itu mengungkapkan satu siklus waktu atau lebih.

    Kaum Sufi dan orang-orang yang menjalani kehidupan spiritual dan pertapaan sangat mengetahui bahwa pada setiap siklus yang dianggap sebagai sama dengan lima atau enam abad, muncul seorang tokoh besar yang terkenal yang dikelilingi oleh beberapa satelit yang terlihat dibelahan dunia yang berbeda-beda, dan memperkenalkan gerakan-gerakan keagamaan dan sosial yang hebat yang berlangsung selama beberapa generasi sampai muncul Nabi yang bersinar lainnya, disertai oleh banyak murid dan sahabat, membawa pembaruan dan pencerahan yang luar biasa.

    Sejarah agama yang benar, mulai dari Ibrahim sampai Muhammad, karenanya dihiasi dengan berbagai peristiwa yang membuka jaman baru dibawah Ibrahim, Musa, Daud, Zorobabel, Yesus, dan Muhammad. Masing-masing jaman ini ditandai dengan hal-hal khusus, dan membuat suatu kemajuan lalu berangsur hilang dan membusuk hingga tokoh terkenal lainnya tampil, dan terus begitu sampai lahirnya Yohanes, Yesus, dan Rasul-Rasul satelit.

    Yohanes mendapati bangsanya sudah bekerja keras banting tulang dibawah penindasan Romawi, dengan para Herod yang kejam dan tentara pagan mereka. Ia menyaksikan kaum Yahudi yang bodoh disesatkan oleh kependetaan yang korup dan arogan. Kitab-kitab suci yang diselewengkan dan digantikan oleh literatur peninggalan leluruh yang penuh takhayul. Ia menemukan bahwa kaum itu telah kehilangan semua harapan akan penyelamatan, kecuali kalau Ibrahim, yang merupakan bapak mereka, menyelamatkan mereka.

    Yohanes mengatakan kepada mereka bahwa Ibrahim tidak menghendaki mereka menjadi anak-anaknya, karena mereka tidak patut memiliki bapak seperti itu. Tetapi “Allah dapat menghidupkan anak-anak Ibrahim dari batu-batu” (Matius 3). Kemudian mereka memiliki sedikit harapan pada seorang Mesias, seorang keturunan dari keluarga Daud yang mereka harapkan, akan datang dan mengembalikan kerajaan dari raja itu di Yerusalem.

    Kini ketika perutusan kaum Yahudi dari Yerusalem bertanya,”Apakah engkau Mesias?” dengan jengkel ia menjawab, ‘Tidak’ terhadap pertanyaan ini dan juga tentang pertanyaan mereka berikutnya. Tuhan sendiri tahu apa omelan dan teguran yang mereka dengar dari ucapan-ucapan pedas Nabi Suci dari Padang gurun itu yang secara hati-hati tidak dibiatkan muncul dalam tulisan oleh Gereja dan Sinagog.

    Dengan mengesampingkan pernyataan-pernyataan yang berlebihan, yang jelas-jelas telah ditambahkan pada Kitab-kitab Injil. Kami sepenuhnya percaya bahwa sang Pembaptis memperkenalkan Yesus sebagai Mesias sejati dan menasihatkan kepada khalayak ramai agar menaatinya serta mengikuti perintah-perintahnya dan Kitab Injilnya. Tapi, dengan jelas ia mengatakan kepada kaumnya bahwa ada seorang bintang lain, dan yang terakhir, yang saking agungnya dan bermartabatnya di hadapan Allah, sampai-sampai ia (Yohanes) tidak pantas membuka tali sepatunya.

    Tidak mungkin Yesus Kristus sebagaimana yang dimaksudkan oleh Yohanes. Karena jika demikian halnya, maka ia akan sudah mengikuti Yesus dan tunduk padanya seperti seorang murid dan bawahan. Namun tidak demikian yang terjadi. Sebaliknya, kita menemukandia berkhotbah, membaptis, menerima calon anggota dan murid, menghukum Raja Herod, mencaci hierarkhi kaum Yahudi, dan meramalkan kedatangan Nabi lain yang “lebih kuat” dari dirinya, tanpa sedikitpun Yohanes memperhatikan kehadiran di Yudea atau Galilea.

    Meskipun gereja-gereja Kristen telah menjadikan Yesus Kristus sebagai salah satu tuhan atau anak dari salah satu Tuhan. Fakta bahwa ia dikhitan seperti semua orang Israel dan dibaptis oleh Yohanes seperti seorang Yahudi biasa, membuktikan bahwa yang terjadi adalah sebaliknya.

    Kata-kata yang dipertukarkan antara Pembaptis dan yang dibaptis di Sungai Yordan, nampak sekali sebagai sebuah penyisipan atau penggabungan, karena keduanya kontradiktif dan bersifat memperdayakan.

    Jika Yesus dalam realitasnya adalah orang yang diramalkan oleh sang Pembaptis sebagai “lebih kuat” dari dirinya sedemikian rupa sehingga ia tidak layak untuk berlutut dan membukakan sepatunya,” dan bahwa “ia akan membaptis dengan Roh dan api,” maka tidak perlu dan juga tidak ada guna apa pun untuk membaptis dia disungai oleh mereka yang lebih rendah darinya seperti seorang Yahudi biasa yang bertobat! Ungkapan Yesus, “Kita harus memenuhi semua keadilan” tidaklah dapat dimengerti. Mengapa dan Bagaimana “semua keadilan” akan dijalankan oleh mereka jika Yesus dibaptis? Ungkapan ini sama sekali tidak dapat dipahami. Ungkapan itu adalah sisipan, atau kalau tidak, kalimat yang sengaja dipotong.

    Inilah contoh lain yang harus dipecahkan dan ditafsirkan dengan spirit Islam. Dari sudut pandang seorang Muslim, satu-satunya pengertian pengertiandalam ungkapan Yesus ini adalah bahwa Yohanes, lewat penglihatan seorang peramal atau “sophi”, merasakan watak kenabian dari orang Nazaret ini, dan menganggap dia untuk sementara sebagai Rasul Allah Terakhir yang Agung, dan konsekuensinya segan untuk membaptisnya; dan bahwa hanya ketika Yesus mengakui identitas dirinyalah baru Yohanes setuju untuk membaptisnya.

    Fakta bahwa Yohanes ketika berada dalam penjara mengutus para muridnya kepada Yesus, dengan bertanya, “Apakah engkau Nabi itu yang akan datang, atau haruskah kami mengharapkan Nabi yang lain?” dengan jelas menunjukkan bahwa Yohanes tidak mengetahui karunia kenabian pada Yesus sampai ia mendengar – ketika dalam penjara – tentang mukjizat-mukjizatnya.

    Kesaksian Matius (11:3) bertentangan dan membatalkan kesaksian Injil keempat (Yohanes 1), dimana dinyatakan bahwa sang Pembaptis, ketika melihat Yesus, berseru,”Lihatlah domba Tuhan yang mengangkat [atau memikul] dosa dunia!” Penginjil keempat tidak tahu apa-apa tentang kematian Yohanes secara kejam (Matius 14; Markus 6:14-29)

    Dari sudut keyakinan Ahlutauhid Muslim, adalah suatu kemustahilan moril bahwa seorang nabi seperti sang Pembaptis, yang digambarkan dalam Al-Qur’an Suci sebagai Sayyidan, wa Hasuran wa Nabiyyun minash-Shalihin, menggunakan ungkapan berbau musyrik seperti itu tentang Yesus Kristus. Sifat dan hakikat dari misi Yohanes adalah mengajarkan penebusan dosa– yaitu, setiap orang bertanggung jawab atas dosanya dan harus menanggungnya, atau menghapuskannya sendiri melalui pertobatan. Pembaptisan hanyalah pembersihan atau penyucian lahir sebagai tanda pengampunan dosa, tetapi kontribusi, pengakuan (terhadap Tuhan, dan terhadap kontribusi, pengakuan (terhadap Tuhan, dan terhadap orang yang disakiti oleh dosa itu–jika benar-benar harus) dan janji untuk mengulanginyalah yang dapat menebusnya.

    Jika Yesus adalah “Domba Tuhan” yang menebus dosa dunia, maka khotbah Yohanes akan –semoga Tuhan melindungi!– menggelikan dan tidak berarti. Lagi pula, Yohanes lebih mengetahui dari siapa pun bahwa kata-kata seperti itu yang keluar dari mulutnya akan menyebabkan –sebagaimana telah terjadi– kesalahan yang tidak dapat diperbaiki yang sepenuhnya akan menjelekkan dan merusakkan Gereja Kristus.

    Akar kesalahan yang telah mengotori agama gereja-gereja itu harus dicari dan ditemukan dalam usaha “pengorbanan orang lain” yang pandir ini! Sudahkah sang “Domba Tuhan” menghilangkan dosa dunia? Halaman-halaman gelap “sejarah Eklesiastikal” dari setiap Gereja yang bermusuhan dan “bid’ah” akan menjawab dengan kata ‘Tidak’ yang besar! “Domba-domba” dalam kotak-kotak pengakuan dapat menceritakan kepada Anda dengan rintihan-rintihan mereka bahwa beratnya aneka warna dosa yang sangat besar dibebankan diatas pundak-pundak mereka bahwa masih ada dosa-dosa, pembunuhan, pencurian, mabuk-mabukan, perzinaan, perang, penindasan, perampokan, dan ketamakan yang pernah puas akan penaklukkan dan uang, yang lebih mengerikan dibandingkan seluruh umat manusia lainnya bersama-sama.

    Yohanes Pembaptis tidak mungkin sebagai perintis jalan bagi Yesus Kristus dalam pengertian sebagaimana Gereja menafsirkan misinya. Ia diperkenalkan kepada kita oleh kitab-kitab Injil sebagai “suara yang berseru keras di padang gurun”, sebagai pemenuhan dari sebuah pasal dalam Yesaya (40:3), dan sebagai pengabar Yesus Kristus atas wewenang Nabi Maleakhi (Maleakhi 3:1).

    Menegaskan bahwa misi atau tugas sang Pembaptis adalah mempersiapkan jalan untuk kedatangan Yesus –sang Pembaptis dalam kapasitasnya sebagai perintis jalan dan Yesus dalam kapasitasnya sebagai Penakluk yang jaya yang datang “tiba-tiba ke baitnya,” dan di sana menegakkan agama “Syalom”-nya dan menjadikan Yerusalem beserta baitnya lebih megah dibanding sebelumnya (Hagai 2:8) – berarti mengakui kegagalan mutlak dari seluruh usaha.

    Namun demikian, satu hal sama besarnya dengan dua tambah dua sama dengan empat –bahwa keseluruhan proyek, menurut pandangan yang berlebihan dari umat Kristiani, menunjukkan kegagalan total. Karena, dari sudut apapun kita mengkaji segala interpretasi-interpretasi Gereja, kegagalan nampak jelas sekali. Bukannya menyambut sang pangeran di Gerbang bait Yerusalem dengan mengenakan mahkota dan warna ungu, ditengah-tengah sambutan yang penuh kegembiraan dari kaum Yahudi, sang perintis jalan malah menyambutnya, yang bertelanjang seperti dirinya, di tengah Sungai Yordan, dan kemudian memperkenalkannya, setelah membenamkan atau mencelupkan gurunya ke dalam air, kepada khalayak dengan berkata, “Lihatlah ini adalah sang Mesias” atau “Ini adalah Anak Tuhan” atau ditempat lain “Lihatlah Domba Tuhan” sama dengan benar-benar menghina orang-orang Israel atau, kalau tidak, melecehkan; atau semata-mata mengejek Yesus dan juga membuat dirinya tidak wajar.

    Sifat sebenarnya dari misi asketik yang keras, dan makna sesungguhnya dari khotbahnya, semuanya disalahpahami oleh gereja-gereja, tetapi dipahami oleh para imam dan kaum bijak Yahudi yang dengan keras kepala menolaknya.

    Saya akan membicarakan hal ini dalam artikel saya berikutnya, dan menunjukkan bahwa sifat dari misi Yohanes dan juga objek dari pesan Kristus kepada bangsa Yahudi sangatlah berbeda dengan pesan yang sok diyakini oleh gereja-gereja.

    Sumber:
    “Menguak Misteri Muhammad SAW”, Benjamin Keldani, Sahara Publisher, Edisi Khusus Cetakan kesebelas Mei 2006., hal. 181-193

    Balas
  157. Kasturi Kijang

    Salib dan umat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.
    Dia tidak di Salib.
    Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
    Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
    Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
    dan ke Kandahar aku memandang.
    Dia tidak di dataran tinggi maupun dataran rendah.
    Dengan tegas, aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).
    Di sana cuma ada tempat tinggal (legenda) burung Anqa.
    Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah.
    Dia tidak ada di sana.
    Aku menanyakannya kepada Avicenna sang filsuf
    Dia ada di luar jangkauan Avicenna…
    Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
    Di situlah, tempatnya, aku melihat diri-Nya.
    Dia tidak di tempat lain.

    Balas
  158. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Eudokia Artinya Ahmadiyah [Lukas 2 14]
    Menerjemahkan ulang sebuah karya besar seorang penulis terkenal dari versi bahasa asing jika ia membiarkan tulisan-tulisan lain dalam bahasanya sendiri. Tidak akan terlalu sulit. Karena dengan demikian si penerjemah dapat mengkaji pikiran, alasan-alasan, dan ungkapan-ungkapan dalam karyanya, dan mengerahkan segenap kemampuannya untuk menerjemahkan ulang buku itu ke dalam bahasa aslinya. Namun, sejauh mana ia akan berhasil adalah pertanyaan yang hanya dapat diputuskan dan ditetapkan oleh penerjemah-penerjemah yang cakap.

    Sama halnya, jika terdapat sedikit dua epistel atau tulisan St. Lukas dalam bahasa Ibrani, maka kitab Injilnya dapat diterjemahkan kedalam bahasa itu dan terhitung tidaklah sulit dibandingkan dengan upaya saat ini kita lakukan. Namun sayang, yang terjadi pada Perjanjian Baru tidaklah seperti itu. Karena sudah tidak ada lagi tulisan-tulisan kuno dalam bahasa Yesus dari mana St. Lukas menerjemahkan Kidung Malaikat; juga ia sendiri tidak mewariskan kepada kita buku lain dalam dialek Semit.

    Agar saya dapat memahami lebih baik, dan agar para pembaca bahasa Inggris –atau bahasa Indonesia– dapat mengapresiasi lebih baik akan betapa pentingnya persoalan ini, saya mengajukan tantangan kepada sarjana terbaik dalam literatur bahasa Inggris dan Perancis –juga Indonesia– untuk menerjemah ulang dari edisi Perancis karya dramatis Shakespeare ke dalam bahasa Inggris – atau Indonesia– tanpa melihat teks bahasa Inggris–atau bahasa Indonesia– aslinya, dan untuk menunjukkan juga keapikan dan keelokan yang asli.

    Filsuf Muslim besar Ibn Sina (Avicenna) menulis dalam bahasa Arab, dan beberapa karyanya kemudian diterjemah ulang dari bahasa Latin ke dalam bahasa Arab karena yang asli telah hilang. Apakah reproduksi-reproduksi ini merupakan teks yang serupa benar dengan teks karya Aristoteles Muslim itu? Pasti tidak!

    Dalam artikel sebelumnya dari serial ini,37 tentang Eiriny, kita membicarakan masalah penerjemahan ini sampai taraf tertentu; dan kita tidak menemukan kesulitan untuk menemukan kata padanannya dalam bahasa Ibrani Syalom, karena kedua-duanya identik dalam teks bahasa Ibrani Septuagint. Tetapi kata gabungan bahasa Yunani “Eudokia” tidak muncul, sepengatahuan saya, dalam Versi Septuagint, dan memang sangat sulit untuk menemukan istilah padanan atau sinonimnya dalam bahasa aslinya. St. Barnabas tidak menyebutkan dalam Kitab Injilnya kidung malaikat ini dan kisah Gembala-gembala Betlehem; juga tidak disebutkan dalam sinoptik38 atau Epistel lainnya dalam Perjanjian Baru.

    Bahasa Yunani modern seringkali menggunakan kata “Eudokia” dan “Eudoxia” untuk kata benda nama diri perempuan mereka; dan kedua kata benda ini terdiri dari dua elemen; “eu” dan “dokeo”, serta “eu” dan “doxa” yang berarti “kemuliaan” atau “pujian”, dan sebagainya.

    Untuk menemukan kata Semit asli dalam nyanyian yang didengar dan diceritakn oleh para gembala dan diceritakan oleh gembala dan yang telah diformulasikan oleh Lukas menjadi “Eudokia”, kita dipaksa untuk memeriksa dan melacaknya langsung dari akar dan derivasinya dalam bahasa Yunani. Namun sebelum melakukannya, kita perlu mengkritisi dan mengekspos versi-versi yang salah yang telah memudarkan makna-makna Eudokia yang sebenarnya dan menyembunyikan hubungan kenabiannya, dengan Ahmad atau Muhammad.

    Ada dua versi utama Perjanjian Baru dari teks Yunani, satu dalam bahasa yang disebut bahasa Syriac, dan satu lagi dalam bahasa Latin. Keduanya memuat judul yang sama pentingnya yakni “simplex” atau “simple” yang berarti “pshittha” dan “Vulgate”. Terdapat banyak bahan informasi baru mengenai dua versi kuno yang terkenal ini yang pasti membuat malu mengenai dua versi kuno yang terkenal ini yang pasti membuat malu para sejarawan kristen dan teolog kristen yang dogmatis. Namun untuk sekarang mungkin cukup mengatakan bahwa Versi Aramia,39 yang disebut Pshittha, adalah lebih tua dari Vulgate versi Latin.

    Umum diketahui bahwa Gereja Roma selama empat abad pertama tidak mempunyai Kitab Suci atau Liturgi dalam bahasa Latin melainkan dalam bahsa Yunani. Sebelum Konsili Nicene pada 325 M, undang-undang dari kitab-kitab Perjanjian Baru tidak disempurnakan, atau bahkan tidak ditegakkan. Terdapat puluhan kitab Injil dan Epistel yang dianggap sakral oleh berbagai macam sekte Kristen, namun ditolak oleh Konsili Nicene karena dianggap palsu.

    Karena kedudukan atau pusat bahasa dan pembelajaran Syriac adalah Orhai, yakni Edessa, dan tidak pernah Antiokh, maka disinilah kitab-kitab Perjanjian Baru diterjemahkan dari bahasa Yunani setelah Konsili Nicene yang terkenal (dengan citra buruk).

    Pemeriksaan dan kajian yang amat dalam terhadap literatur dan sejarah Kristen awal akan menunjukkan bahwa penyebar-penyebar pertama Kitab Injil adalah orang Yahudi yang berbicara bahasa Aramia atau bahasa Syriac lama. Apakah “Kitab Injil” ini merupakan sebuah dokumen tertulis, atau doktrin tidak tertulis atau agama yang diajarkan dan disebarkan secara lisan, adalah sebuah pokok bahasan yang perlu dijawab namun diluar pokok pembahasan kita sekarang. Namun satu yang pasti dan benar-benar berada di dalam batas pokok pembahasan kita– yakni umat Kristiani awal menjalankan ibadah keagamaan mereka dalam bahasa Aramia. Itulah bahasa sehari-hari yang digunakan oleh bangsa Yahudi, Syria, Phoenicia, Khaldea, dan Assyria .

    Kini jelaslah bahwa kaum Kristen yang bahasa kebangsaannya adalah bahasa Aramia pasti akan lebih suka membaca dan berdoa dalam bahasa mereka sendiri, dan konsekuensinya berbagai macam kitab Injil, Epistel, buku-buku doa, dan liturgi ditulis dalam bahasa Syriac.

    Dilain pihak, para pemeluk baru dari kaum “kafir” (Gentiles) non-Semit yang pindah ke “jalan baru” membaca Perjanjian Lama dalam versi Yunaninya dari “tujuh puluh” (The seventy) . Seperti lazimnya para filsafat Yunani, begitu pindah ke agama baru dan ada Septuagint di hadapan mereka, tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan “Perjanjian Baru” sebagai penyelesaian atau kelanjutan dari Perjanjian Lama.

    Bagaimana Kitab Injil yang sederhana dari orang Nazaret Utusan Allah menjadi sumber dari dua arus pemikiran dua arus pemikiran yang kuat, semitik, dan Hellenik, dan bagaimana pemikiran politeistik Yunani akhirnya menggagahi akidah Semitik yang monoteistik dibawah para kaisar Greco-Latin yang paling lalim dan dibawah para Uskup Trinitas Romawi dan Romawi yang paling tidak toleran dan takhayul, adalah hal-hal ekstrem untuk sebuah kajian yang dalam oleh para sarjana Unitarian Muslim.

    Kemudian ada pertanyaan tentang kesatuan iman, kesatuan doktrin, dan kesatuan teks wahyu. Selama lebih dari tiga abad, Gereja Kristen belum mempunyai Perjanjian Baru seperti kita saksikan dalam bentuknya sekarang. Tidak satu pun dari Gereja Semit atau Gereja Yunani, juga Antiokh, Edessa, Byzantium, dan Romawi mempunyai semua kitab Perjanjian Baru, bahkan tidak juga empat Injil sebelum Dewan Nicene. Dan saya bertanya-tanya apa gerangan keyakinan umat Kristiani yang hanya memiliki Kitab Injil St. Lukas, atau St. Markus, atau St. Yohanes, mengenai dogma-dogma Ekaristi, pembaptisan, trinitas, konsep yang menakjubkan tentang Kristus dan puluhan dogma dan doktrin lainnya!

    Versi Syriac dan pshittha tidak mengandung apa yang disebut “Essential Word” (Firman Pokok) atau “Institutional Words” (Firman Kelembagaan) yang sekarang masih ada dalam St. Lukas (22:17,18,19).

    Dua belas ayat terakhir dari pasal enam belas Injil Kedua tidak terdapat dalam manuskrip-manuskrip Yunani kuno. Yang namanya “doa Tuhan” (Matius 6:9, Lukas 11:2) tidak dikenal oleh pengarang Injil Kedua dan Keempat.

    Sebenarnya banyak ajaran penting yang termuat dalam satu Kitab Injil tidak dikenal oleh gereja-gereja yang tidak memilikinya. Konsekuensinya tidak ada keseragaman ibadah, disiplin, otoritas, keyakinan, perintah, dan hukum pada Gereja Awal, sebagaimana terjadi sekarang.

    Yang dapat kita simpulkan dari literatur Perjanjian Baru hanyalah bahwa umat Kristiani pada jaman Apostolik menjadikan Kitab-kitab Suci Yahudi sebagai Alkitab mereka, dengan sebuah Kitab Injil yang memuat wahyu sebenarnya yang disampaikan kepada Yesus, dan bahwa substansinya persis sama dengan yang dikemukakan dalam Serephic Canticle (Kidung Makhluk Angkasa) ini- yakni ISLAM dan AHMADIYAH.

    Misi khusus yang diembankan oleh Allah kepada Yesus Rasul-Nya adalah meluruskan keyakinan yang keliru terhadap Mesias keluarga Daud, dan meyakinkan mereka bahwa Kerajaan Tuhan dibumi yang sedang mereka tunggu-tunggu tidaklah datang melalui Mesias keturunan Daud, tetapi melalui mesias keturunan Ismail yang bernama Ahmad, padanan yang benar dari nama yang telah dipertahankan oleh kitab-kitab Ijil Yunani dalam bentuk “Eudoxos” dan “Periclytos” dan bukan “Paraclete” sebagaimana yang ditetapkan oleh Gereja-gereja. Dengan sendirinya “Periclyte” akan menjadi salah satu topik penting dalam serial artikel ini.

    Namun apapun pengertian dari “Paraclete” (penghibur) (Yohanes 14:16, 26; 15:26; dan 16:17) atau ortografi etimologis yang benar, tetap saja ada kebenaran yang cemerlang yang Yesus tinggalkan dan agama yang belum tuntas yang harus diselesaikan dan disempurnakan oleh apa yang digambarkan Yohanes (ubi supra) dan Lukas (XXIV:49) sebagai “Roh”. “Roh” ini bukanlah salah satu Tuhan, yang ketiga dari yang tiga dalam trinitas Tuhan-tuhan, tetapi Roh Kudus Ahmad yang eksis seperti Roh-Roh para Nabi lainnya disurga (bandingkan, Injil Barnabas).

    Jika Roh Yesus, atas kesaksian seorang rasul Yohanes (17:5, dan seterusnya), eksis sebelum ia menjadi seorang manusia, kaum Unitarian muslim, pun, dibenarkan sepenuhnya untuk meyakini eksistensi Roh Muhammad atas kesaksian Rasul lainnya, Barnabas! Mengapa tidak? Karena hal ini akan dibicarakan dalam artikel berikutnya, untuk sekarang ini yang ingin saya tanyakan kepada semua Gereja Kristen adalah: Apakah semua Gereja Kristen di Asia, Afrika, dan Eropa memiliki Injil keempat sebelum Dewan Nicene? Jika jawabannya ya, berdoalah, kemukakan bukti-bukti Anda; Jika jawabannya tidak, maka haruslah diakui bahwa sebagian besar kaum Nasrani tidak tahu apa-apa tentang “Paraclete” Yohanes, sebuah kata biadab yang tidak berarti “penghibur” ( comforter ) atau penengah ( mediator ) atau tidak ada arti sama sekali! Sudah pasti semua ini merupakan tuduhan sangat serius dan berat terhadap agama Kristen.

    Mari kita kembali ke pokok permasalahan. Pshittha telah menerjemahkan kata Yunani “Eudokia” (bangsa Yunani membaca kata itu, “Ivdokia” atau malah mengucapkan “Ivthokia”) sebagai “Sobhra Tabha” (diucapkan “Sovra Tavra”), yang berarti “harapan yang baik” atau “penantian yang baik”, sementara Vulagate versi Latin, dilain pihak, menerjemahkan “Eudokia” sebagai “Bona Voluntas” atau “kehendak baik”

    Saya tidak takut menantang semua sarjana bahasa Yunani, jika mereka berani untuk menentang saya ketika saya menyatakan bahwa penerjemah Injil versi Syriac dan Latin telah membuat suatu kesalahan yang serius dalam menerjemahkan “Eudokia”. Namun demikian, saya harus mengakui bahwa tidak bisa sama sekali menyalahkan para penerjemah itu sebagai telah sengaja menyelewengkan arti kata Yunani ini; Karena saya mengakui bahwa kedua versi tersebut memiliki dasar rapuh untuk membenarkan terjemahan mereka masing-masing. Namun, kendati demikian, meski dikatakan bahwa dengan demikian kedua versi tersebut telah kehilangan makna profetis dan arti sesungguhnya dari kosa kata Semit ketika mengubah menjadi kata Yunani “Eudokia”.

    Padanan yang tepat dari “harapan yang baik” dalam bahasa Yunani bukan “Eudokia”, tetapi “eu elpis” atau malah “euelpistia”. Penjelasan yang rinci tentang “evelpistia” (pengucapan Yunaninya) ini cukup untuk membungkam Pshittha. Istilah yang tepat dan persis dengan bahasa Latin “bona voluntas”, atau “kehendak baik”, dalam bahasa Yunani pasti bukan “eudokia”, melainkan “euthelyma”. Dan penjelasan yang singkat namun meyakinkan ini lagi-lagi cukup menjadi teguran bagi para pendeta Vatikan, Phanar (Konstantinopel), dan Canterbury, yang menyanyikan “Gloria in Excelsis” ketika mereka merayakan Misa atau melaksanakan sakramen lainnya.

    Etimologi dan Pengertian “Eudokia”

    Sekarang mari kita lanjutkan dengan memberikan arti yang sebenarnya dari “Eudokia”.

    Awalan kata “eu” artinya “baik, benar, lebih, dan paling”. Contohnya “eudokimeo” artinya “dihargai, diakui, dicintai, dan “memperoleh kemuliaan”; “eudokimos” – “sangat dihargai, paling termasyur, dan mulia”; “eudoxos”–”sangat ternama dan mulia”; “eudoxia” –selebriti, termasyur.” Kata substantif Yunani “doxa” yang dipakai dalam kata benda gabungan “ortodox”, “doxology”, dan sebagainya, adalah berasal dari kata kerja “dokeo”.

    Setiap peneliti literatur Inggris mengetahui bahwa “doxa” berarti “kemuliaan, kehormatan, terkenal”. Terdapat banyak ungkapan pada pengarang Yunani kuno dimana “doxa” digunakan dalam arti “kemuliaan”. “Peri doxis makheshai”– “berjuang memperoleh kemuliaan”.

    Orator Athena yang terkenal, Demosthenes, “lebih menyukai kemuliaan daripada kehidupan yang tentram”, “kemuliaan sama dengan kemuliaan tuhan-tuhan”.

    Saya mengetahu fakta bahwa “doxa”, meskipun jarang digunakan dalam arti (a) opini, kepercayaan; (b) dogma, prinsip, doktrin; dan (c) penantian atau harapan. Tetapi semuanya sama. Pengertian yang umum dan komprehensif adalah “kemuliaan”. Sebenarnya, bagian pertama dari Canticle dimulai dengan: “Doxa [mulialah] Allah yang paling Tinggi”.

    Dalam Dictionnaire Grec-Francais (diterbitkan pada 1846 di Paris oleh R.C. Alexandre) kata “eudokia” diartikan “ bienveillence, tendresse, volunte, bon plaisir , dan sebagainya”. Dan penulisnya menyebutkan “dokeo” sebagai akar kata “doxa” dengan berbagai macam pengertiannya yang sudah saya sebutkan diatas.

    Orang-orang Yunani Konstantinopel, beberapa di antara gurunya sudah saya kenal, meskipun dengan suara bulat memahami “eudokia” dengan makna “kesenangan, kemolekan, kesukaan, dan keinginan”, juga mengakui bahwa kata itu benar-benar menunjukkan orang yang “terkenal, termasyhur, dan terhormat” dalam pengertian yang asli.

    Etimologi Bentuk Bahasa Ibrani dari MaHMaD dan HiMDaH serta pengertiannya

    Saya yakin bahwa jalan satu-satunya untuk memahami makna dan spirit dari Alkitab adalah mengkajinya dari sudut pandang Islam. Hanya setelah itu, baru sifat nyata dari wahyu Tuhan dapat dipahami. Juga hanya setelah itulah baru elemen-elemen palsu, dusta, dan yang ditambahkan kedalamnya dapat ditemukan dalam segi-seginya yang paling gelap dan dihilangkan. Dan dari sudut pandang inilah saya menyambut kata Yunani “eudokia” yang dalam pengertiannya yang benar bersesuaian dengan arti kata Ibrani “Mahmad, Mahamod, Himdah, dan Hemed” yang seringkali digunakan dalam Perjanjian Lama.

    Hamad. Kata kerja ini yang terdiri dari 3 konsonan pokok hmd , dan lazim digunakan disemua dialek Semit, ada dimana-mana dalam Tulisan Suci kaum Yahudi, berarti “mendambakan, jatuh cinta, rindu, gembira, senang” dan “menginginkan dengan nafsu”.

    Mereka yang mampu berbahasa Arab pasti akan memahami pengertian yang komprehensif dari kata “syahwat” yang diartikan dalam bahasa Inggris sebagai “lust, cupidity, ardent desire, dan appetile”. Nah inilah arti tepat dari kata kerja “hamad” dalam Kitab-kitab Suci Ibrani. Salah satu dalam Sepuluh Perintah Tuhan (Taurat) atau Hukum Musa juga memuat kalimat ini “lo’-tahmod ’isy reikha” –“Janganlah engkau mengingini istri tetanggamu” (Keluaran 20:17).

    Hemed.40 Kata benda substanstif dalam jenis kelamin laki-laki dan “Himdah” dalam jenis kelamin perempuan, berarti “syahwat, hasrat, kesenangan, kegembiraan, objek, kerinduan, keinginan, dan kemolekan”. (Hagai 2:7; Yeremia 25:34, 20:17)

    MaHMaD, MaHaMoD (Ratapan 1:7,10;2:4, dan seterusnya). Bentuk partisipel ini juga berasal dari kata kerja “hamad” dan berarti: “paling dirindukan, menyenangkan, sedap, lezat, menarik, berharga, dicintai”. Bahwa bentuk Arab MuHaMmaD dan bentuk Ibrani MaHMaD dan MaHaMoD bersal dari satu kata kerja atau akar kata yang sama, dan bahwa mereka, sekalipun ada perbedaan ortografi tipis diantara bentuk-bentuk Ibraninya sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang Yahudi dan para leksikografernya

    Oleh karena itu, nampak bahwa kata Yunani “eudokia” pastilah merupakan representasi harfiah dari bentuk substantif Ibrani HiMDaH, dan bahwa keduanya berarti: “kegembiraan, kenikmatan, kesenangan yang baik (bon plaisir), hasrat, kemolekan, dan kemuliaan” dan beberapa kata sinonim lainnya.

    Selanjutnya adalah bahwa padanan yang bersesuaian dengan kata Ibrani “MaHaMoD” tidak bisa lain selain “eudoxos” yang merupakan objek keinginan dan kerinduan, yang paling menyenangkan, menggembirakan, dan dirindukan, dan paling dihargai, diakui, dicintai, dan mulia.

    ***

    Bahwa diantara semua anak Adam nama Muhammad diberikan pertama kali hanya pada anak Abdullah dan Aminah di kota Mekah, adalah suatu keajaiban yang unik dalam sejarah agama. Tidak mungkin ada muslihat, upaya, atau kebohongan dalam hal ini. Orang tua dan kerabatnya adalah kaum pagan Mekkah dan tidak tahu apa-apa tentang ramalan dalam Kitab-Kitab Suci Yahudi atau Kristen mengenai seorang Nabi Besar yang dijanjikan akan datang untuk memperbaiki dan menegakkan agama Islam. Pilihan mereka terhadap nama Muhammad atau Ahmad tidak dapat dijelaskan sebagai peristiwa yang terjadi secara kebetulan atau aksidental. Ia benar-benar takdir Tuhan dan diwahyukan.

    Apakah para penyair dan sastrawan Arab telah mempertahankan arti yang tidak dipakai lagi dari kata kerja passive participle bahasa Ibrani hamad bentuk fi’il, atau tidak, saya tidak bermaksud untuk membuktikan dengan cara apa pun. Namun, bentuk passive participle Arab dari konjungsi ( fi’il ) dan dari kata kerja Hammida adalah Muhammad, dan dari kata Ibrani himmid adalah Mahmad atau Mahamod. Afinitas antara persamaan dan identitas dari kedua bentuk itu tidak dapat disangkal lagi.

    Saya tetap memakai arti dari bentuk-bentuk Ibrani sebagaimana diberikan oleh para leksikografer dan penerjemah. Namun makna intrinsik atau spiritual dari “himdah” dan “Mahamod” adalah “pujian dan patut dipuji, keterkenalan, dan terkenal, kemuliaan, dan mulia”. Karena diantara wujud-wujud dan benda-benda yang diciptakan, apa yang dapat “lebih mulia, terhormat, termasyur, dan terpuji dari yang paling dirindukan dan diinginkan” dalam arti praktis inilah AL-Qur’an menggunakan kata “hamdu” dimana kata Ahmad dan Muhammad berasal, dan “hamdu” adalah kata yang sama dengan “hemed” dalam bahasa Ibrani.

    Kemuliaan Muhammad melampui makhluk lain manapun, sebagaimana digambarkan oleh Daniel (7) dan dalam firman Allah: “law la ka lama khalaqnal aflaka” (seandainya bukan karena engkau, seandainya bukan karena engkau (Wahai Muhammad yang tercinta), Kami tidak akan menciptakan dunia ini”. Namun kehormatan dan kemuliaan tertinggi yang diberikan oleh Allah kepada rasulnya yang paling mulia adalah bahwa ia ditugaskan untuk menegakkan dan menyempurnakan agama Allah yang sejati, dibawah nama “Islam”, yang seperti nama pendirinya Muhammad, memiliki arti-arti yang begitu sangat menghibur dan menyegarkan: “kedamaian, keamanan, ketentraman, kebaikan, dan keselamatan”, disamping berarti sebagai “ketundukan dan kepasrahan pada Allah semata”.

    ***

    Penglihatan yang diterima oleh para Gembala yang shaleh mengenai kelahiran Yesus Kristus adalah tepat pada waktunya dan pas. Karena seorang Utusan Allah yang agung, seorang Penyebar Islam yang suci telah lahir pada malam itu.

    Sebagaimana Yesus adalah belantara Kerajaan Allah, begitu pula Kitab Injilnya adalah pengantar untuk Al-Qur’an. Kelahiran Yesus merupakan permulaan dari suatu era baru dalam sejarah agama dan moral. Dia sendiri bukanlah sang “Mahamod” yang akan datang kemudian untuk menghancurkan Yang Jahat dan Kerajaan Musyrik-nya di Negeri-negeri yang Dijanjikan.

    “Binatang Buas Keempat,” Kerajaan Romawi yang kuat, masih sedang berkembang dan memperluas penaklukan-penaklukannya. Yerusalem, dengan bait yang indah dan kenabiannya, akan dihancurkan oleh Binatang Buas itu. Yesus “datang kepada kaumnya; namun kaum itu tidak menerimanya.” Dan orang-orang di antara kaum Yahudi yang menerimanya dijadikan sebagai “anak-anak Kerajaan,” tapi sisanya tersebar di dunia.

    Lalu menyusul sepuluh penyiksaan yang mengerikan di bawah Kaisar Romawi yang akan menobatkan ribuan orang dengan mahkota kesyahidan; dan Konstantin yang Agung serta para penggantinya dibolehkan untuk menginjak-injak kaum yang benar-benar beriman pada keesaan Allah. Dan kemudian Muhammad–bukan seorang tuhan atau anak seorang Tuhan, melainkan “yang mulia, yang dirindukan, Anak Manusia yang paling termasyhur, sang Barnasha yang sempurna”–akan datang dan menghancurkan Binatang Buas.

    ——————————————————————————–

    Footnotes

    37. Vide Islamic Review untuk Nopember, 1929.
    38. Tiga Kitab Injil pertama dari Perjanjian Baru yang berhubungan erat–penerj
    39. Versi Pshittha dari Perjanjian Lamatidak pernah menggunakan kata-kata “Syria” dan “Syriac,” melainkan “Aram” dan “Aramaic.”
    40. Sebuah artikel tentang “himdah,” oleh Profesor ahli, dimuat dalam Islamic Review untuk Oktober, 1927.

    Sumber:

    “Menguak Misteri Muhammad SAW”, Benjamin Keldani, Sahara Publisher, Edisi Khusus Cetakan kesebelas Mei 2006. hal.169-180

    Balas
  159. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Islam Dan Ahmadiyah Yang Diberitahukan Oleh Malaikat
    Dua peristiwa yang sangat luar biasa telah dicatat oleh dua orang Evangelist (Penginjil) berkaitan dengan lahirnya Sayyidina Yesus Kristus as. Evangelist Mattai (Matius) telah meninggalkan bagi kita sebuah cerita tentang perjalanan ziarah yang mengagumkan dari kaum Magi, yang dipandu oleh sebuah bintang dari Persia menuju palung di Betlehem, tempat terbaringnya sang bayi Yesus, yang mereka “sembah” dan dihujani dengan banyak sekali hadiah dari emas, damar, dan dupa.

    Cerita fiktif tentang “Manusia Bijak” dari Timur itu sendiri merupakan sebuah legenda yang masuk akal dan terdiri lebih dari setengah lusin keajaiban, yang hanya dapat diciptakan dan dipercayai oleh Gereja Kristen saja. Gereja telah mempertahankan nama-nama kaum Magi, yang, dipimpin oleh Raja Caspar, “diilhami Tuhan” dan tahu bahwa sang Bayi kecil dari Beitlehem adalah Tuhan, Yesus, dan Raja, dan oleh karena itu, mereka memberinya dupa sebagaimana kepada seorang dewa, myrrh untuk penguburannya sebagai korban, dan emas untuk perbendaharaan kerajaannya!.

    Bahwa para tukang sihir Zoroaster atau para astrolog Khaldea, melalui ramalan dan pedoman bintang mengadakan perjalanan jauh ke Yerusalem, dan disana tidak dapat melihat bintang, bahwa raja Yahudi yang sedang berkuasa, Herod, dan penduduk Yerusalem gemetar dan menggigil mendengar kabar kelahiran seorang raja baru, bahwa hanya satu bagian yang membingungkan dalam tulisan-tulisan Nabi Mika (5:2) yang dapat memecahkan persoalan dimana lokasi kelahiran Yesus berada, dan terakhir, bahwa para astrolog diberitahu oleh Tuhan lewat mimpi agar tidak kembali ke Herod, sebenarnya adalah beberapa peristiwa ajaib yang hanya dapat diterima oleh ketakhayulan umat Kristen. Rombongan peziarah Kerajaan meneruskan perjalanan ke Betlehem hanya beberapa mil jauhnya dari Yerusalem, dan lihat! Bintang lima yang menunjuki itu muncul lagi dan mengantar mereka sampai ia berhenti persis diatas tempat dimana sang bayi lahir. Kecepatan yang luar biasa dengan mana perjalanan jauh dari Persia ke Betlehem diselesaikan selagi sang bayi masih berada dalam kandang (Lukas 2:4-7) menunjukkan pentingnya keajaiban.

    Keajaiban lain yang dikaitkan dengan kelahiran Yesus adalah fakta, atau fiksi, bahwa setelah semua pertunjukan itu di istana Herod dan di kalangan terpelajar Yerusalem itu, tidak seorang pun tahu alamat Keluarga Suci, dan bahwa kebodohan yang membingungkan ini menyebabkan terjadinya pembantaian oleh Raja Herod atas ratusan bayi di Betlehem dan sekitarnya.

    Keajaiban yang tak kalah pentingnya disindir dalam cerita ini adalah pemenuhan nubuat yang lain dari Yeremia (31:15), dimana Rahel digambarkan menangisi dan meratapi pembunuhan besar-besaran kaum Efraim di Ramah dan bukan di Betlehem. Dan ini pun, sekitar tujuh ratus tahun silam ketika keturunan Rahel diusir ke Assyria sementara dia sendiri mati jauh sebelum Yakub suaminya datang ke Mesir! Matius yang hanya dia diantara semua juru arsip dan sejarahwan kuno yang mengetahui peristiwa ini tidak menyebutkan bagaimana kesan Raja Caspar dan para astrolognya setelah kunjungan ziarah mereka ke Betlehem. Apakah mereka percaya bahwa anak Maria itu adalah seorang raja atau tidak? Jika mereka yakin bahwa Yesus adalah seorang raja, lantas mengapa Persia menghambat agama Kristen sampai diubah menjadi Islam pada abad ke tujuh? Tidak benarkah bahwa bangsa Persia tidak menerima peperangan dan informasi tentang Yesus dari Nazaret dari para tukang sihir mereka, tapi hanya dari tentara muslim yang dikirim oleh Sayyidina Umar, khalifah kedua?

    Saya tidak berniat untuk menolak sama sekali kebenaran dari kunjungan beberapa Magi Timur ke ruang bawah tanah Yesus, tetapi hanya menunjukkan keinginan besar atau ambisi Gereja untuk melebih-lebihkan kejadian-kejadian biasa dalam kehidupan Yesus Kristus dan untuk mempertontonkan segi-segi supranatural pada kejadian-kejadian tersebut.

    Kejadian lain yang sama-sama menakjubkan dan penting bagi wacana kita sekarang dicatat oleh Penginjil Lukas (2:1-20). Beberapa gembala sedang mengawasi ternaknya di sebuah lapangan dekat Betlehem pada malam ketika Yesus dilahirkan dalam sebuah palung. Seorang malaikat memberitahukan kelahiran “juru selamat”, dan tiba-tiba serombongan malaikat muncul di langit dan menyanyikan dengan suara keras nyanyian pujian berikut:

    Kemuliaan Tuhan di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi
    Di antara manusia yang berkenan kepadanya. [Ayat 14]

    Nyanyian malaikat yang termasyur ini, yang dikenal sebagai Gloria in excelsis Deo , dan dinyanyikan di semua gereja Sakerdotalis selama upacara sakramen mereka, sayangnya, hanya terjemahan yang tidak jelas dari teks Yunani yang sama sekali tidak dapat dipercaya karena tidak menunjukkan kepada kita kata-kata aslinya dalam bahasa yang digunakan para malaikat dan dimengerti oleh gembala Yahudi. Bahwa rombongan langit menyanyikan lagu gembira mereka dalam bahasa para gembala, dan bahwa bahasa itu bukan bahasa Yunani melainkan bahasa Yahudi sehari-hari — atau bahkan bahasa Aramia — adalah kebenaran yang diakui.

    Semua nama kitab suci dari Allah, para malaikat, langit, para nabi, dan sebagainya, diberitahukan kepada kita dalam bahasa Semit (Yahudi, Aramia, Arab), dan membayangkan rombongan langit bernyanyi dalam bahasa Yunani untuk para gembala Yahudi yang bodoh di daerah pinggiran Betlehem adalah sama dengan mempercayai bahwa sepasukan malaikat seperti itu, dicakrawala diatas pegunungan Kurdistan, menyanyikan lagu pujian yang sama dalam bahasa Jepang untuk dihayati oleh, atau menjadi teka-teki, gembali bangsa Kurdi!

    Penampakan seorang malaikat kepada para gembala Betlehem yang sederhana dan pemberitahuan lahirnya seorang Nabi Besar malam itu juga, dan diperdengarkan Halleluyah (Alliluyah) oleh mereka sendiri dan bukan para pendeta yang sombong atau maupun juru tulis adalah salah satu keajaiban yang tak terkira banyaknya yang dicatat dalam sejarah Bani Israel. Tidak ada dalam cerita ini yang bisa dianggap sebagai hal yang bertentangan seperti mengekspos ketidakmasukakalan cerita ini.

    Seorang malaikat dapat menampakkan diri kepada seorang nabi atau seorang hamba yang suci dan menyimpulkan kepadanya pesan dari Allah dihadapan orang lain, meskipun tidak kelihatan oleh mereka. Para gembala yang baik mempunyai hati yang baik dan keyakinan yang baik, oleh karena itu mereka patut mendapat kemurahan ilahi. Maka dari sudut pandang keagamaan tidak ada yang bertentangan atau luar biasa dalam kejadian hebat ini sebagaimana yang dicatat oleh St. Lukas.

    Pengarang cerita ini menunjukkan kecermatan gaya menulis (diksi), ia hati-hati dan bijaksana dalam pernyataan-pernyataannya, dan diseluruh Kitab Injilnya ia menggunakan gaya bahasa Yunani yang sangat baik. Memperhatikan kenyataan bahwa ia menulis kitabnya lama setelah kematian semua rasul dan bahwa ia telah “dengan sangat hati-hati” memeriksa banyak sekali karya mengenai Yesus dan kitab Injilnya, kelihatannya sangat mungkin kalau ia mengetahui legenda kaum Magi dan sama sekali tidak memasukkan legenda tersebut kedalam kitabnya sendiri.30

    Persisnya ia menyatakan dalam empat ayat pertama yang merupakan pembuka dari Kitab Injil ketiga bahwa para Rasul, yang disebutnya sebagai “saksi mata dan pendeta-pendeta sang Firman,” mereka sendiri tidak menulis cerita apa pun tentang Yesus dan ajaran-ajarannya, tapi hanya melalui tradisi yang disampaikans secara lisan kepada para pengikut atau pengganti mereka.

    Juga dinyatakan dengan jelas bahwa sumber-sumber yang digunakan St. Lukas untuk menyusun Kitab Injilnya adalah berbagai macam “cerita” yang dikarang oleh orang-orang yang pernah mendengarnya diceritakan oleh para Rasul dan lain-lainnya yang merupakan saksi mata atas kejadian-kejadian dan doktrin-doktrin itu, dan bahwa si pengarang dengan sangat penuh perhatian memeriksa semuanya dan memilih hanya yang dianggapnya benar dan dapat dipercaya.

    Selain itu, terang sekali dari pengakuan Lukas sendiri, sebagaimana bisa disimpulkan dengan mudah dari kata pengantarnya, bahwa tidak ada wahyu langsung yang diberikan kepada dirinya, juga ia tidak menisbahkan kepada kitabnya sifat wahyu apapun. Bisa disimpulkan pula bahwa Kitab Injil yang pertama dan keempat tidak ditulis ketika Lukas menyusun ceritanya sendiri, atau kalau tidak, ia tidak melihat kitab-kitab itu; karena ia tidak bisa mengajukan tulisannya untuk mengimbangi atau menandingi Kitab-kitab Injil yang ditulis oleh dua Rasul, Matius, dan Yohanes.

    Observasi-observasi ini, yang dapat dikembangkan, mesti meyakinkan setiap pembaca yang objektif bahwa yang disebut “Injil yang Empat” tidak menunjukkan segi-segi penting yang menjadi syarat sebagai Kitab Suci yang mengklaim sebagai wahyu Ilahi.

    Gereja-gereja percaya bahwa pengarang kitab Injil ketiga adalah Lukas sang tabib (Kolose 4:14) yang menemani Paulus dalam perjalanan-perjalanan pengabaran Injilnya dan ditemani seorang narapidana di Roma (2 Timotius 4:11 dan Filemon :24, dan seterusnya).

    Namun, ini bukan tempatnya untuk membicarakan persoalan kepengarangan dari kitab tersebut, ataupun kepelikan-kepelikan penting lainnya. Cukup mengatakan bahwa St. Lukas telah mencatat beberapa parabel yang indah dan ajaran-ajaran dari Yesus, seperti parabel kaum Samaria yang baik (10:25-37); Si kaya yang tamak (12:15-21); kaum Pharisee31 yang suka membenarkan diri sendiri dan kaum Publikan 32 (13:9-18); Ketekunan dalam sembahyang (11:1-13); Domba yang Tersesat, Koin yang hilang, dan Anak yang Boros (15), Si kaya dan Lazarus (Lukas 16-19-31); Sedekah Si Janda Miskin (21); petani yang jahat (20:9-16); Hakim yang Tidak Adil (18:1-8); Perubahan Zakheus (19:1-10), dan beberapa lainnya.

    Namun, yang terpenting di antara isi Injil ketiga adalah nyanyian puji-pujian malaikat, yang menjadi topik kajian dan perenungan kita sekarang.

    Nyanyian puji-pujian ini, seperti semua isi Perjanjian Baru, dipersembahkan kepada kita tidak dalam bahasa asli dengan mana ia dinyanyikan, tapi hanya dalam versi Yunaninya; dan hanya Tuhan yang tahu sumber dari mana Pengabar Injil kita menyalin, menerjemahkan, ataukah sekedar menceritakannya dari kabar angin.

    Mungkinkah Yesus dan Rasul-rasulnya tidak meninggalkan Kitab Injil yang riil dan otentik dalam bahasa mana ia diwahyukan? Seandainya memang ada kitab Injil yang benar seperti itu, lantas apa yang terjadi pada kitab itu? Siapa yang menghilangkannya? Apakah ia dihancurkan? Oleh siapa dan kapan? Pernahkah ia diterjemahkan kepada bahasa Yunani atau bahasa asing lainnya? Mengapa Gereja tidak memperlihatkan kepada kita teks asli dari kitab Injil yang sebenarnya atau terjemahannya?

    Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas negatif, maka kita mengajukan serangkaian pertanyaan lain yang sama pentingnya; yaitu mengapa para rasul dan Penginjil Yahudi ini menulis tidak dalam bahasa mereka sendiri tetapi semuanya dalam bahasa Yunani? Di mana nelayan Simon Kifa (Simon Peter), Yohannan (Yohanes), Yakobus (James), dan Mattai (Matius) sang publikan belajar bahasa Yunani untuk menuliskan serangkaian “kitab suci”?

    Jika Anda mengatakan “Holy Ghost (Roh Kudus) mengajari mereka,” berarti Anda benar-benar membuat diri sendiri menggelikan. Holy Ghost bukanlah guru grammar dan bahasa. Perlu wahyu lain untuk menjelaskan secara terperinci alasan atau hikmah mengapa Holy Ghost harus mewahyukan dalam bahasa Yahudi kepada seorang Israel di Nazaret, kemudian menyebabkannya dihancurkan, dan terakhir mengajarkan bahasa Yunani kepada setengah lusin orang Yahudi dan memberi inspirasi kepada masing-masing untuk menulis dalam gaya dan caranya sendiri-sendiri sebagian dari wahyu yang itu-itu juga!

    Jika dikatakan bahwa Kitab-kitab Injil dan Epistel33 ditulis untuk kepentingan Penyebaran kaum Yahudi yang mengenal bahasa Yunani, kami mengajukan pertanyaan: Manfaat apa yang diperoleh dari Perjanjian Baru oleh penyebaran kaum Yahudi itu, dan mengapa salinannya tidak boleh dibuat untuk kaum Yahudi Palestina dalam bahasa mereka sendiri, mengingat kenyataan bahwa Yerusalem adalah pusat Agama baru tersebut dan Yakobus, “saudara dari Tuhan Yesus” (Galatia 1:19), adalah pemimpin atau kepala Gereja dan tinggal disana (Kisah 15; Galatia 2:11-15, dan seterusnya).

    Adalah usaha yang sangat sia-sia untuk menemukan satu parabel, sabda, atau pesan apapun yang disampaikan Yesus Kristus dalam bahasanya sndiri. Muktamar Gereja (sinode) Nicea selamanya harus bertanggung jawab secara pidana sebagai satu-satunya penyebab kehilangan yang tidak dapat diperbaiki dari kitab suci Injil dalam teks Aramianya yang asli.

    Alasan mengapa saya begitu bersikeras menekankan sangat perlu memelihara pesan Allah, sudahlah jelas, karena hanya dokumen seperti itulah yang dapat dipercaya dan sah. Suatu terjemahan, tidak peduli betapapun jujur dan cakapnya ia dibuat, namun hasilnya tidak pernah dapat mempertahankan keakuratan yang persis dan pengertian yang riil seperti yang terkandung dalam kata-kata dan ungkapan aslinya.

    Setiap versi selalu dapat diperselisihkan dan dikritik. Empat kitab Injil ini misalnya, terjemahan pun bukan, tetapi teksnya asli dalam bahasa Yunani, dan yang paling buruk adalah bahwa keempatnya diselewengkan melalui penyisipan-penyisipan dikemudian hari.

    Sekarang, kita mempunyai sebuah kidung suci yang pasti dinyanyikan dalam dialek Semit, tetapi ternyata disajikan kepada kita dalam versi Yunani. Tentu saja kita sangat ingin mengetahui kata-katanya dalam bahasa asli ketika ia dinyanyikan. Disini saya menarik perhatian serius pembaca kepada istilah padanannya yang tepat dalam bahasa Semit yang diubah kedalam bahasa Yunani eudokia dan diterjemahkan kedalam bahasa Inggris menjadi good will (kehendak baik).

    Kidung suci ini terdiri dari tiga anak kalimat. Subjek dari anak kalimat pertama adalah Allaha (dalam bahasa Aramia) diubah menjadi Theos dalam bahasa Yunani. Subjek dari anak kalimat kedua adalah Sylama (dalam bahasa Aramia) dan diterjemahkan menjadi Eiriny dalam bahasa Yunani. Subjek anak kalimat ketiga adalah eudokia dalam bahasa Yunani dan diubah menjadi Bona voluntas oleh Vulgate34 dan Sobhra Tabha (diucapkan sovra thava ) oleh Pshittha (al-Basith).

    Kedua versi ini, yang diikuti oleh semua versi lain, telah gagal menyampaikan maksud dan pengertian yang tepat dari kata eudokia , dan konsekuensinya anak kalimat kedua dan ketiga tetap tanpa tujuan dan bahkan tidak punya makna, kalau tidak bohong sama sekali. Mungkin kita kecewa karena tidak mempunyai kata-kata yang pasti dan nyanyian surga dalam bentuk orisinil. Namun kita tidak perlu putus asa dalam upaya mencari dan menemukan arti sesungguhnya yang dikandung maknanya.
    Oleh karenanya, kita akan terus mencari pengertian etimologis yang benar dari kata Yunani Eiriny dan Eudokia , dan arti serta interpretasi yang benar dari Doksologi (Kidung Pujian) malaikat.

    Interpretasi kaum Kristen atas kata Eiriny dan Eudokia adalah salah dan sama sekali tidak dapat diterima.

    Menurut interpretasi Kidung ini oleh semua Gereja dan sekte Kristen adalah kepercayaan terhadap Ketuhanan Yesus dalam penyelamatan dari dosa dan api neraka melalui kematiannya di atas salib, dan dalam komunikasi yang berkesinambungan dengan Holy Ghost membawakan “kedamaian” dan ketentraman dalam hati, dan membuat kaum beriman saling menunjukkan “kehendak baik”, kebajikan, dan rasa cinta.

    Interpretasi ini sampai sekarang diterima secara umum oleh kelompok-kelompok Sakramen dan Penginjil. Tetapi, mereka tidaklah berhenti pada tiga prinsip ini, dan juga sangat bijaksana, karena sampai sekarang tidak ada perdamaian umum, rekonsiliasi, kerukunan dan persatuan, ataupun kehendakl baik dan rasa saling mencintai tertinggal diantara mereka. Kemudian mereka saling melepaskan dan mencoba cara-cara lain untuk memastikan “kedamaian” dan “kehendak baik” ini.

    Kaum Sakramentarian bersikeras untuk tetap meyakini tujuh sakramen dan banyak dogma yang tidak masuk akal dan juga tidak dapat ditolerir oleh ajaran Yesus yang sederhana. Gereja, setelah dibersihkan dengan darah sang Penebus melalui arti pembaptisan yang disucikan secara misterius, telah menjadi Pengantin Perempuan dari Yesus dan tubuhnya. Gereja yang dirinya sendiri merupakan tubuh Yesus, hidup dari tubuhnya dalam roti dan anggur yang disucikan secara misterius dan berubah menjadi daging dan darah tulen dari Sang Pengantin Laki-laki.

    Sang Pengantin Perempuan -Gereja- mempunyai ketaatan tertentu terhadap “hati suci” Yesus, Maria, dan Yusuf; terhadap empat belas tingkatan atau rumah besar penyaliban ( crucifixion ) terhadap patung-patung dan gambar-gambar dari beratus-ratus orang suci dan martir, terhadap ribuan tulang dan barang peninggalan mereka yang asli atau fiktif, dan pemujaan terhadap wafer (biskuit tipis) yang disucikan persis seperti terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa! Tetap saja tidak ada perdamaian; semua dosa harus diakui dihadapan sang pendeta, dan adalah pengampunan dosa yang diperoleh si pendosa dari “Bapak Spiritual” itu yang mendatangkan kedamaian dan ketentraman dalam hatinya dan mengisinya dengan kehendak baik!!!

    Jika kita kembali ke kelompok penginjil dari akidah dan ajaran yang berbeda-beda, kita akan menemukan mereka berusaha keras untuk memperoleh kedamaian batin dengan berdoa langsung kepada tiga oknum ketuhanan secara sendiri-sendiri -sekarang kepada Yesus, sekarang kepada Roh, kemudian kepada Bapak- dengan mata tertutup, tetapi dengan sikap dan gerakan bergaya orator dengan membaca alkitab dan dengan praktek-praktek lainnya secara pribadi atau dihadapan umum; dan kemudian mereka percaya bahwa mereka diisi dengan Roh Kudus dan berada dalam kedamaian!

    Namun saya meyakinkan para pembaca bahwa semua orang Kristen yang “menyesal” ini, yang melalui kebaktian yang benar-benar atau dibuat-buat berpura-pura telah memperoleh “kedamaian” dan telah memiliki “kehendak baik” terhadap para tetangga mereka, bukannya menjadi patuh, lemah lembut, dan damai seperti Tuan mereka yang pura-pura menjadi sangat keras pendirian dan tidak toleran.

    Apakah seorang ortodoks atau seorang heterodoks, ketika seorang kristiani keluar dari gereja dimana ia memberikan “Perjamuan Suci” yang mereka sebut “Lembaga Ekaristi”35 menjadi sangat munafik dengan bersikap fanatik dan tidak senang bergaul sehingga lebih suka bertemu dengan seekor anjing ketimbang seorang muslim atau seorang Yahudi, dikarenakan muslim dan Yahudi tidak mempercayai Trinitas dan “Makan Malam Suci”. Saya tahu itu. Saya pernah merasakan hal yang sama ketika dahulu saya seorang pendeta Katolik. Semakin saya merasa diri agamis, suci, dan tanpa dosa, semakin saya benci terhadap kaum bid’ah, khususnya orang-orang yang tidak beriman kepada Trinitas.

    Ketika kaum Kristiani terutama para pendeta dan pastor mereka menjadi sangat sungguh-sungguh dan bersemangat dengan kebaktian dan praktek-prakteknya yang aneh, mereka menjadi sangat gelisah, geram, dan bersikap menyerang terhadap musuh-musuh keagamaan mereka! Tunjukkan kepada saya seorang Katolik, Skismatik, atau seorang santo bid’ah setelah adanya Dewan Nicene yang bukan seorang tiran, apakah dalam tulisan-tulisannya atau khotbah-khotbahnya atau dalam perbuatan-perbuatannya terhadap orang-orang yang mereka anggap “tukang bid’ah”. Inkuisisi Romawi adalah saksi abadi terhadap pemenuhan kidung malaikat ini “Damai di bumi dan kehendak baik diantara manusia”!

    Jelaslah bahwa kedamaian sejati tidak dapat diperoleh dengan cara yang dibuat-buat. Hanya ada tiga cara untuk dapat memperoleh kedamaian sejati dan sempurna, yaitu keyakinan yang teguh akan keesaan mutlak Allah, ketundukan dan kepasrahan sempurna kepada kehendak suci-Nya, dan meditasi serta pengingatan yang sering akan Dia. Orang yang melakukan tiga cara ini sebagai penolongnya adalah seorang muslim sesungguhnya, dan kedamaian yang diperoleh dengan cara itu adalah kedamaian sejati dan tidak dibuat-buat. Ia menjadi toleran, jujur, adil, dan welas asih, tetapi pada saat yang sama jiwa dan raganya selalu siap untuk berperang membela semua yang berhubungan dengan keagungan Allah dan dengan kehormatannya sendiri ketika diancam atau diserang.

    Tetapi tentu saja para malaikat tidak menyanyi untuk menghormait kedamaian individu atau pribadi yang bagaimanapun terbatas pada sejumlah orang shaleh yang terhitung sedikit, juga mereka tidak melakukannya untuk memuji-muji suatu kedamaian universal yang khayali, yang berarti perlucutan sejata total dari bangsa-bangsa dan penghentian perang dan permusuhan. Tidak, tidak satu pun dari dua kedamaian khusus ini merupakan objek dari lagu tersebut.

    Kedamaian spiritual adalah ketenangan hati dan nurani yang diberikan oleh Allah sebagai nikmat dan berkah hanya kepada segelintir kaum beriman yang membuat kemajuan besar dan kesalehan dan kehidupan spiritual dan yang terpenting mencintai-Nya dan mengorbankan kecintaan kepada yang lain demi kecintaan kepada-Nya.

    Tidak ada kedamaian sosial ataupun politik bagi bani Israel, karena sejarah dua puluh abad terakhir menunjukkan keadaan sangat berlawanan. Oleh karena itu, para malaikat tidak dapat menyanyikan dan mengumumkan suatu kedamaian yang tidak pernah dapat terwujud ataupun terlaksana. Maka kita terpaksa menghadapi berbagai fakta sejarah berikutnya disatu pihak, dan karena pentingnya kejadian ini, dan juga bagian darimana pengumuman yang luar biasa ini berasal, dilain pihak, untuk menyimpulkan bahwa “kedamaian di bumi” ini tidak lain selain dari berdirinya Kerajaan Allah di muka bumi yang semakin dekat, yakni Islam. Kata Yunani Eiriny berarti Syalom, Sylama, dan Islam dalam bahasa Semit. Hanya itu saja!

    Sebutan “banyak rombongan surga” memberikan kepada kidung itu suasana perang dan kemenangan. Sebenarnya itu adalah satu indikasi kegembiraan dipihak tentara Kerajaan Surga, demi sekutu-sekutu masa depan mereka dari Kerajaan Tuhan di bumi, karena bayi Betlehem yang baru lahir adalah penginjil dan Pemberi Kabar yang agung.

    Pada berbagai kesempatan, dalam artikel-artikel ini, kita telah menjelaskan bahwa Sylom , dalam arti konkrit dan praktisnya memiliki pengertian agama yang benar, baik, aman, bermanfaat, dan jalan kedamaian, lawan dari agama yang jahat, buruk, merusak, dan jalan kesengsaraan dan kbinasaan. Dalam pengertian inilah Allah, dalam pesan-Nya melalui nubuat Yesaya (14) kepada Koresy, menggunakan kata Syalom yang sinonim dengan kebaikan sebagai lawan dari kejahatan.

    Inilah persisnya interpretasi harfiah, etimologis, moral, dan praktis dari Islam sebagai agama yang paling benar, dan sebagai Kerajaan Allah yang kuat di muka bumi, dengan hukum dan petunjuk-petunjuknya yang abadi dan masuk akal yang tergores didalam al-Qur’an yang suci.

    Di luar Islam yang secara harfiah berarti “membuat kedamaian”, setiap interpretasi lain atau kedamaian yang khayali tidaklah sesuai dengan pengertian Eiriny yang digunakan dalam nyanyian kemenangan ini. Dalam pengertian Islam, dari kata inilah bahwa Yesus Kristus dalam khotbah agungnya diatas gunung berkata, “Kebahagianlah bagi kaum muslim [secara harfiah,”pembuat kedamaian”]; karena mereka akan disebut anak Tuhan” (Matius 5:9). Dan itulah persisnya, kedamaian khayali yang disangkal oleh Sayyidina Yesus Kristus ketika ia menyatakan: “Jangan berpikir bahwa aku datang untuk menegakkan kedamaian di muka bumil aku tidak datang untuk membawa kedamaian melainkan pedang.” (Matius 10:34-36); atau, sebagaimana dinyatakan Lukas, “Aku tidak datang untuk menyalakan api di bumi …. Apakah kau pikir aku datang untuk menegakkan kedamaian? Aku katakan kepadamu, tidak, melainkan perpecahan ….” (Lukas 12:49-53)

    Kalau Eiriny tidak dipahami dalam arti Agama Islam, maka dua statemen Yesus yang krusial dan kontradiktif ini mestilah masih menjadi teka-teki, jika bukan luka yang tidak dapat di tebus –yang telah dijalankan oleh Gereja Kristen– dengan menerima Kitab-kitab Injil ini sebagai “Firman Tuhan yang diwahyukan.”

    ——————————————————————————–

    Footnotes
    30. Pembaca disarankan untuk dengan saksama membaca kata pengantar, atau bagian pendahuluan, pada permulaan Injil Lukas.
    31. Anggota sebuah sekte Yahudi kuno yang menafsirkan dan mengamalkan Hukum musa secara keras baik dalam bentuk lisan maupun tulisannnya–penerj.
    32. Penghimpun pajak atau bea umum di kekaisaran Romawi kuno, penerj.
    33. Surat yang ditulis oleh salah seorang sahabat Yesus –penerj
    34. Terjemahan Injil dalam bahasa Latin –penerj.
    35. Saya lupa menyebutkan di atas bahwa St. Lukas, menurut versi Pshittha kuno, tidak memuat ayat 17-19 dari pasal 22; juga yang disebut “kata-kata penting” ini tidak ada di dalam Liturgi kaum Nestorian.
    36. Ungkapan “Anak-anak” Tuhan akan dibicarakan nanti.

    Sumber:
    “Menguak Misteri Muhammad SAW”, Benjamin Keldani, Sahara Publisher, Edisi Khusus Cetakan kesebelas Mei 2006, hal. 155-168

    Balas
  160. syekh yusuf

    Menguak Misteri Muhammad
    Kepalsuan nabi-nabi sejati umat Kristiani terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri Muhammad pun terkuak lewat Injil yang telah lama disembunyikan.

    Sunday, November 11, 2007
    Nabi-nabi Sejati Hanya Mengajarkan Islam
    Tidak ada bangsa yang dikenal dalam sejarah seperti Bani Israel, yang dalam jangka waktu kurang dari empat ratus tahun penuh dengan ribuan nabi palsu, belum lagi para tukang sihir, tukang ramal, dan semua jenis ilmu sihir dan tukang sulap.

    Nabi-nabi palsu ada dua jenis: yang mengakui agama dan Taurat (Hukum) Yahweh dan pura-pura bernubuat atas nama-Nya, dan yang berada di bawah perlindungan seorang raja Israel penyembah berhala yang bernubuat atas nama Baal atau dewa-dewa lain dari kaum musyrikin sekitarnya. Termasuk kategori pertama ada beberapa penipu ulung yang sejaman dengan nabi-nabi sejati seperti Mikha (Micah) dan Yeremia, dan termasuk kategori kedua ada orang-orang yang memberikan banyak kesulitan kepada kaum beriman selama pemerintahan Ahab dan istrinya Yezebel.

    Yang paling berbahaya bagi keyakinan dan agama yang benar adalah para nabi-semu, yang mengerjakan tugas-tugas ilahiah di bait dan juga Mishpha-mispha dan berpura-pura menyampaikan sabda-sabda Tuhan kepada manusia. Barangkali, tidak ada nabi yang menerima siksaan dan kesulitan dari para penipu ulung ini sebanyak Nabi Yeremia.

    Selagi usia muda, Yeremia memulai misi kenabiannya sekitar kuartal terakhir abad ketujuh sebelum Masehi, ketika Kerajaan Yudas sedang terancam bahaya invasi oleh pasukan Khaldea. Kaum Yahudi telah bersekutu dengan Fir’aun dari Mesir, tetapi karena Fir’aun ditaklukkan dengan buruk oleh tentara Nebukadnezar, maka ajal Yerusalem hanya tinggal menunggu waktu saja. Pada masa-masa kritis ini, selama mana nasib orang beriman yang tersisa akan diputuskan, Nabi Yeremia dengan keras menasihati raja dan para pemimpin kaum Yahudi untuk tunduk dan mengabdi Raja Babylonia, agar Yerusalem bisa diselamatkan jangan sampai dibakar menjadi bau dan jangan sampai orang-orang dijebloskan ke dalam tahanan. Ia menumpahkan semua pidatonya yang pedas dan mengesankan ke telinga para raja, pendeta, dan orang-orang tua, namun semuanya sia-sia.

    Nabi Yeremia menyampaikan pesan demi pesan dari Tuhan, dengan mengatakan bahwa satu-satunya obat untuk menyelamatkan negeri dan masyarakat dari kehancuran yang sudah dekat adalah menyerah kepada bangsa Khaldea; namun tidak satu pun mau mendengarkan peringatan-peringatannya.

    Nabukadnezar datang dan merebut kota, mengangkut raja, para pangeran, dan banyak tawanan, dan juga semua harta bait, termasuk bejana-bejana emas dan perak. Pangeran lainnya, dan pangeran yang ketiga, diangkat oleh Kaisar Babylonia untuk memerintah sebagai budaknya di Yerusalem. Raja ini, bukannya bersifat bijak dan loyal terhadap pemimpinnya di babylonia, tapi malah memberontak terhadapnya.

    Yeremia tak henti-hentinya memperingatkan sang raja tetap loyal dan meninggalkan kebijakan bangsa Mesir. Namun, nabi-nabi palsu terus berpidato panjang lebar di dalam bait, dengan mengatakan, “Maka berkatalah Tuhan Rombongan Besar, Lihatlah, Aku telah mematahkan kuk Raja Babylonia, dan dalam waktu dua tahun semua tawanan Yahudi dan bejana-bejana Rumah Tuhan akan dikembalikan ke Yerusalem.” Yeremia memasang buah kuk kayu di sekeliling lehernya sendiri lalu pergi ke kuil dan memberitahu orang-orang bahwa Tuhan telah ridha memasang dengan cara ini kuk raja Babylonia pada leher semua kaum Yahudi. Ia dipukul mukanya oleh seorang nabi yang melawan, yang mematahkan hingga berkeping-keping kuk kayu dari leher Yeremia dan mengulangi pidato panjang lebar para nabi palsu.

    Yeremia dilemparkan ke dalam sebuah penjara bawah tanah yang penuh lumpur dan dalam, dan hanya diberi makan sepotong roti gandum kering sehari sampai kelaparan melanda kota, yang dikepung oleh bangsa Khaldea. Nabi-palsu Hananya mati seperti yang diramalkan Yeremia. Tembok kota diruntuhkan, dan pasukan yang menang cepat-cepat memasuki kota, Raja Zedekiah dan rombongannya melarikan diri ditangkap dan dibawa ke Raja Babylonia. Kota dan bait, setelah dijarah, dibakar, dan seluruh penduduk Yerusalem digiring ke Babylonia; hanya golongan miskin yang dibiarkan untuk mengolah tanah.

    Atas perintah Nebukadnezar, Yeremia dibolehkan untuk tinggal di Yerusalem, dan gubernur yang baru diangkat, Gedaliah, ditugaskan untuk menjaga dan mengurus nabi dengan baik. Tapi Gedaliah dibunuh oleh orang-orang Yahudi yang memberontak, dan kemudian mereka semua melarikan diri ke Mesir, membawa serta Yeremia. Di Mesir pun ia bernubuat untuk para buronan dan bangsa Mesir. Ia harus mengakhiri hidupnya di Mesir.

    Kitab-kitabnya, sebagaimana ada sekarang, sangat berbeda dengan teks kitab Septuagint; terang saja, salinan dari mana teks Yunani ditulis oleh para penerjemah Aleksandria mempunyai urutan pasal-pasal yang berbeda.

    Para kritikus Alkitab beranggapan bahwa Yeremia adalah pengarang, atau, bagaimanapun, penyusun kitab kelima Pentateuch yang disebut Ulangan. Saya sendiri punya pendapat yang sama. Yeremia adalah orang Lewi dan pendeta dan juga nabi. Terdapat banyak ajaran Yeremia dalam Ulangan yang tidak ada dalam bagian lain dari tulisan-tulisan Perjanjian Lama. Dan saya mengutip salah satu ajaran ini untuk pokok bahasan saya sekarang, yang saya anggap sebagai salah satu teks mutiara atau emas dalam Perjanjian Lama dan harus dihargai karena sangat mulia dan suci.

    Setelah penjelasan yang mendetail ini saya bersegera ke persoalan utama yang telah saya pilih untuk topik artikel ini: Bagaimana membedakan seorang nabi sejati dari nabi palsu. Yeremia telah memasok kita dengan jawaban yang cukup memuaskan, yaitu: “Nabi yang mengajarkan Islam”.

    Dalam kitab Ulangan (13:1-5, 18:20-22) Tuhan Yang Mahakuasa memberikan beberapa petunjuk mengenai nabi-nabi palsu yang bisa bernubuat atas nama Tuhan dan dengan cara yang demkian busuk dan membahayakan sehingga mereka bisa menyesatkan kaumnya. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengetahui kedurhakaan si penipu ulung ini adalah dengan mengantisipasi pemenuhan ramalan-ramalannya, dan kemudian menghukum mati dia ketika penipuannya terbongkar.

    Namun, sebagaimana banyak diketahui, orang bodoh tidak dapat membedakan dengan benar antara nabi palsu dan penipu ulung, persis seperti sekarang ini mereka tidak mampu secara tepat menemukan yang mana di antara dua, seorang pendeta Katolik Roma atau seorang pendeta Calvinis, adalah pengikut sejati Yesus Kristus! Nabi palsu juga akan meramalkan berbagai keajaiban, menyembuhkan secara ajaib, dan melakukan hal-hal religius lainnya yang sama –paling tidak kelihatan sama– dengan yang dilakukan oleh seorang nabi sejati.

    Persaingan antara Nabi Musa dan para tukang sihir mesir adalah ilustrasi yang tepat dari pernyataan ini. Dengan demikian, Yeremia-lah yang memberi kita contoh terbaik untuk menguji kejujuran dan kesejatian seorang nabi, dan cara itu adalah syariat Islam. Silahkan baca Yeremia pasal 28 seluruhnya, dan kemudian renungkan secara hayati ayat 9:

    “Nabi yang bernubuat tentang Islam (Syalom), saat datangnya sabda Nabi, nabi itu akan diakui benar-benar telah diutus oleh Tuhan.” (Yeremia 28:9)

    Terjemahan ini sangat harfiah. Kata kerja asli naba, biasa diterjemahkan menjadi “meramalkan” atau “bernubuat,” dan kata benda nabi, “nabi” memberikan kesan bahwa seorang nabi adalah seorang yang meramalkan masa depan atau kejadian-kejadian masa lalu dengan bantuan wahyu ilahi. Definisi ini hanya benar sebagian. Definisi yang lengkap dari kata “Nabi” mestilah: “orang yang menerima sabda atau pesan dari Tuhan, dan menyampaikannya dengan jujur kepada orang atau kaum yang dituju.”

    Jelaslah bahwa pesan Ilahi tidak harus berupa ramalan tentang kejadian-kejadian masa lalu dan masa akan datang. Dengan cara yang sama, kata kerja “bernubuat” tidak mesti berarti mengungkapkan kejadian-kejadian masa lalu dan masa akan datang, melainkan mengajarkan atau menyebarluaskan pesan Tuhan. Konsekuensinya bernubuat adalah menyampaikan dan mengucapkan sabda baru, yang sifat dan karakternya sangat immaterial. Membaca ucapan seorang nabi adalah bernubuat tidak lebih dari sabda yang disampaikan oleh seorang nabi ketika berceramah atau berpidato atas kehendaknya sendiri.

    Dalam Al-Qur’an Tuhan menyuruh hamba-Nya yang dikasihi, Muhammad, untuk menyatakan, “Aku adalah manusia seperti kalian; hanya [bedanya] aku menerima wahyu,” dan seterusnya, sehingga kita berhati-hati untuk tidak menisbahkan kepada seorang nabi sifat mengetahui dan mengucapkan segala seseuatu melalui wahyu.

    Wahyu Ilahi biasanya datang sewaktu-waktu, sedangkan para nabi dalam hubungan dan pengetahuan pribadi, mereka bisa saja salah dan keliru. Seorang nabi tidak diangkat oleh Tuhan untuk mengajari manusia ilmu fisika, matematika, atau ilmu positif lainnya. Kita sangat tidak adil kalau menyalahkan seorang nabi karena kesalahan bicara atau kekhilafan yang dilakukan sebagai seorang manusia. Oleh karenanya, seorang nabi diuji dan diperiksa hanya ketika ia secara resmi dan secara jabatan menyampaikan pesan yang diterimanya dari Tuhan.

    Untuk mengetahui apakah seorang nabi itu asli atau penipu ulung, tidaklah fair memberikan putusan terhadap sifat profetisnya karena ia dilaporkan telah bersifat sedikit kasar atau tidak sopan terhadap ibunya atau karena ia mempercayai spiration seperti apa adanya dan mempercayai bahwa pengarang Pentateuch adalah Musa. Ketika melakukan observasi ini, saya mempertimbangkan kasus Yesus Kristus, dan banyak kasus lainnya dalam sejarah Israel tentang hal-hal lain.

    Adalah tidak jujur dan karena rasa benci menuduh para nabi dengan sifat-sifat sensualitas, kekasaran, bodoh dalam ilmu, dan kelemahan-kelemahan moral lainnya. Mereka adalah manusia seperti kita dan sewaktu-waktu merasakan kecenderungan dan nafsu yang alamiah. Mereka dilindungi hanya dari dosa-dosa besar dan dari pemutarbalikkan pesan yang harus mereka sampaikan.

    Kita harus ekstra hati-hati jangan sampai mengagungkan nabi-nabi Tuhan terlalu tinggi dalam imajinasi kita, kalau tidak Tuhan tidak meridhai kita. Mereka adalah makhluk dan hamba-Nya; para nabi menunaikan tugas mereka dan kembali kepada-Nya. Ketika kita melupakan Tuhan dan mengkonsentrasikan cinta dan pujian kita pada salah seorang dari utusa-utusan Tuhan, maka kita dalam bahaya terperosok ke dalam dosa syirik (politheisme).

    Setelah jauh menjelaskan sifat dan signifikansi prophet (nabi) dan prophecy (nubuat), sekarang saya akan berusaha keras untuk membuktikan bahwa tidak ada nabi yang asli kecuali, sebagaimana dengan jelas dikatakan oleh Yeremia, kalau ia mengajarkan dan menyebarluaskan agama Islam.

    Untuk memahami dengan lebih baik pengertian dan arti penting dan soal yang sedang kita renungkan, kita harus melirik sejenak pada ayat sebelumnya, di mana Yeremia berkata kepada musuhnya Nabi Hananya, “Nabi-nabi yang ada sebelumku dan sebelummu dari [jaman] dahulu kala telah bernubuat terhadap banyak negeri dan kerajaan-kerajaan yang besar mengenai perang, malapetaka, dan penyakit sampat.” Lalu ia melanjutkan:

    “Nabi yang bernubuat tentang Islam segera setelah datang sabda nabi, nabi itu diketahui benar-benar telah diutus oleh Tuhan.”

    Bisa saja tidak ada keberatan terhadap susunan kata Inggris dari bagian ini kecuali kalimat “l Syalom” yang telah saya terjemahkan sebagai “concerning Islam.” Kata depan “l” sebelum “Syalom” berarti “concerning” atau “about” (tentang), dan menempatkan subjeknya dalam kasus objektif dan tidak dalam kasus datif, sebagaimana halnya kalau predikatnya adalah kata kerja seperti “come” (datang), “go”, atau “give” (memberi).

    Bahwa “Syalom” dan bahasa Syria “Sylama”, dan juga kata Arab “salam” dan “Islam.” berasa; daro sati alar lata najasa Semit yang sama, “shalam” berarti “tunduk, menyerahkan diri”, dan kemudian “berdamai”; dan konsekuensinya “menjadi aman, baik, dan tenang.”

    Tidak ada sistem keagamaan di dunia ini yang diberi sifat dengan nama yang baik dan lebih komprehensif, bermartabat dan luhur selain dari nama “Islam.” Agama sejati dari Tuhan Yang Sejati tidak bisa diberi nama dengan nama suatu kaum atau negeri. Sebenarnya, kesucian dan ketidaktercelaan dari kata “Islam” inilah yang membuat musuh-musuhnya terpesona, takut, dan hormat sekalipun ketika kaum Muslim dalam keadaan lemah dan tidak bahagia. Itulah nama dan gelar dari sebuah agama yang mengajarkan dan memerintahkan suatu ketundukkan dan kepasrahan mutlak terhadap Zat Yang Mahatinggi, dan kemudian meraih kedamaian dan ketenangan dalam batin, tidak peduli dengan kesengsaraan atau kemalangan yang mungkin mengancam kita. Itulah yang membuat musuh-musuh Islam terpesona.21

    Adalah keyakinan yang teguh dan tak tergoyahkan akan Keesaan Allah dan kepercayaan yang kokoh terhadap belasan kasih dan keadilan-Nya yang menjadikan seorang Muslim dapat dibedakan dan menonjol di tengah-tengah kaum non-Muslim. Dan keimanan yang benar terhadap Allah dan kecintaan yang tulus terhadap Al-Qur’an Suci dan Rasul lah yang menyebabkan para misionaris kristen mati-matian menyerang dan gagal dengan sia-sia. Karena itu, ucapan Yeremia bahwa “Nabi yang bernubuat, yaitu, yang mengajarkan dan berbicara mengenai urusan-urusan Islam sebagai agamanya, ia akan langsung dikenal lebih benar-benar diutus oleh Tuhan.” Oleh karena itu, mari kita perhatikan dengan sungguh-sungguh beberapa poin berikut:

    Nabi Yeremia adalah satu-satunya nabi sebelum Kristus yang menggunakan kata Syalom dalam pengertian sebuah agama. Ia adalah satu-satunya nabi yang menggunakan kata ini dengan tujuan untuk menetapkan atau membuktikan kejujuran seorang utusan Tuhan.

    Menurut wahyu Al-Qur’an, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, Musa, dan semua nabi adalah Muslim, dan mengakui Islam sebagai agama mereka. Istilah “Islam” dan padanan “Syalom” dan “Sylama”, dikenal oleh kaum Yahudi dan Nasrani Mekah dan Madinah ketika Muhammad muncul untuk menyempurnakan dan menguniversalkan agama Islam.

    Seorang nabi yang memprediksi “perdamaian” sebagai suatu kondisi yang abstrak, samar-samar, dan temporer tidak akan bisa berhasil dalam membuktikan identitasnya.

    Sebenarnya, yang menjadi pokok perselisihan, atau malah persoalan kebangsaan yang gawat, yang dipertentangkan oleh dua nabi terkemuka yang dikenal pengadilan dan bangsa seperti Yeremia dan Hananya (Yeremia 28), tidak dapat dipecahkan dan ditetapkan secara pasti oleh penegasan dari salah satu dan penolakan dari satunya lagi, mengenai malapetaka yang sudah dekat. Memprediksi “perdamaian” menurut Yeremia ketika dari sejak semula ia sudah meramalkan bencana nasional yang besar–apakah dengan takluknya Raja Sidaqia kepada penguasa Khaldea atau dengan perlawanannya–tidak hanya akan menyebabkan kegagalannya, belum lagi keberhasilannya dalam membuktikan kejujurannya, tapi juga malah akan membuatnya konyol. Karena, bagaimana pun, “perdamaian” yang diduganya itu berarti tidak ada perdamaian sama sekali.

    Sebaliknya, jika kaum Yahudi melawan tentara Khaldea, maka itu artinya kehancuran nasional yang menyeluruh, dan jika mereka menyerah, maka itu artinya suatu perbuatan tanpa syarat. Oleh karena itu, maka jelaslah bahwa Yeremia menggunakan Syalom dalam pengertian suatu sistem keagamaan yang nyata, konkret, dan riil yang dicakup dalam Islam.

    Agar lebih jelas, kita harus mendengar dengan penuh perhatian argumen-argumen dari dua nabi lawannya yang mendiskusikan dan memperselisihkan persoalan nasional dihadapan seorang raja yang jahat dan pengadilan para penyanjung yang busuk dan kaum munafik yang sudah bejat akhlaknya.

    Yeremia dalam batinnya memiliki hujah Tuhan dan agama perdamaian-Nya, dan demi kepentingan-kepentingan vital agama perdamaian, atau Islam, ia menasehati raja yang jahat dan para anggota istananya untuk menyerah pada tekanan Babylonia dan melayani bangsa Khaldea dan hidup. Karena tidak ada alternatif lain bagi mereka. Mereka harus meninggalkan Tuhan para nenek moyang mereka, mengotori bait-Nya, mengolok-olok dan mencerca pada nabi-Nya, dan melakukan kejahatan serta pengkhianatan (2 Tawarikh.36, dan seterusnya). Maka Tuhan menyerahkan mereka ke dalam kekuasaan Nebukadnezar, dan tidak akan menyelamatkan mereka.

    Bagi seorang hamba Tuhan yang sejati dan tulus, agama adalah nomor satu dan baru kemudian bangsa. Pemerintahan dan bangsa lah –terutama apabila mereka mengabaikan Tuhan– yang harus dikorbankan demi agama, dan bukan sebaliknya!

    Nabi dari Gibeon lainnya, Hananya, berusaha menyerahkan tuannya, sang raja: ia adalah seorang anggota istana dan disukainya, kaya serta necis, sementara lawan-lawannya selalu merana dan mati kelaparan di dalam penjara dan ruang tahanan bawah tanah. Ia tidak peduli dengan seruan kepada agama dan kesejahteraan umat yang nyata. Ia juga seorang nabi, begitulah kata Kitab Yeremia, namun ia seorang bajingan, dan telah menukar Tuhan dengan seorang raja yang bejat akhlaknya! Ia bernubuat atas nama Tuhan yang sama seperti dilakukan Yeremia, dan mengumumkan pengembalian barang rampasan dan para tawanan dari Babylonia dalam tempo dua tahun.

    Nah, dari gambaran yang sumbang mengenai para nabi di atas, yang mana di antara keduanya yang akan Anda golongkan sebagai hamba Tuhan yang sejati dan sebagai pembela setia agama Tuhan? Sudah pasti Yeremia akan langsung menarik simpati dan pilihan Anda.

    Hanya agama Syalom (Islam) lah yang dapat memberikan bukti tentang watak dan tegas seorang nabi sejati, imam, atau duta Tuhan di muka bumi. Tuhan itu satu, san agama-Nya pun satu. Tidak ada agama lain di dunia ini seperti Islam, yang mengakui dan mempertahankan keesaan Tuhan yang mutlak. Oleh karena itu, orang yang mengorbankan setiap kepentingan, kehormatan, dan cinta lain apa pun demi Agama Suci ini, tidak diragukan lagi dia adalah nabi sejati dan duta Tuhan.

    Namun, masih ada satu hal yang patut kita ketahui, yaitu, jika agama Islam tidak menjadi standar dan ukuran untuk menguji kejujuran seorang nabi atau duta Tuhan, maka tidak ada kriteria lain untuk memenuhi tujuan itu. Mukjizat tidak selalu menjadi bukti yang cukup, karena tukang sihir juga bisa melakukan keajaiban. Pemenuhan suatu ramalan atau nujuman itu sendiri, pun, bukan bukti yang cukup; karena sebagaimana roh kudus mengungkapkan suatu peristiwa masa akan datang kepada seorang nabi sejati, begitu pula kadang-kadang roh jahat melakukan hal yang sama terhadap seorang penipu ulung.

    Maka jelaslah bahwa nabi yang “bernubuat tentang Syalom (Islam) sebagai nama agama dan jalan hidup, begitu ia menerima pesan dari Tuhan maka ia akan dikenal telah diutus oleh-Nya”. Begitulah argumen yang telah dikemukakan Yeremia untuk meyakinkan para audiensnya mengenai kepalsuan Hananya. Tetapi raja yang jahat dan gengnya tidak mau mendengar dan menaati firman Tuhan.

    Sebagaimana disampaikan dalam paragraf sebelumnya, perlu dicatat bahwa baik pemenuhan suatu ramalan atau pun terjadinya suatu mukjizat tidaklah cukup untuk menunjukkan ciri sejati dari seorang nabi; bahwa loyalitas dan kecintaan yang sempurna terhadap agama adalah bukti yang paling tepat dan meyakinkan untuk tujuan ini; bahwa Syalom digunakan untuk mengekspresikan agama perdamaian.

    Sekali lagi kita mengulangi penegasan yang sama bahwa Syalom tak lain adalah Islam. Dan kita meminta dari mereka yang berkeberatan terhadap penafsiran ini untuk menunjukkan kata Arab selain Islam dan Salam sebagai padanan kata Syalom, dan juga mencarikan bagi kita kata lain dalam bahasa Ibrani disamping Syalom yang memberikan dan mengungkapkan makna yang sama dengan Islam.

    Memang mustahil menemukan padanan lain seperti itu. Oleh karenanya, kita dipaksa bahwa Syalom sama dengan Salam atau Perdamaian dalam pengertian abstrak, dan “Islam” sebagai sebuah agama dan keyakinan dalam pengertian konkrit

    Sebagaimana Al-Qur’an dalam surah 2 dengan jelas mengingatkan kita bahwa Ibrahim dan anak-cucunya adalah pengikut Islam; bahwa mereka bukanlah Yahudi atau pun Kristen; bahwa mereka mengajarkan dan menyebarkan penyembahan dan keimanan akan satu Tuhan kepada semua umat di tengah mana mereka tinggal atau berada, kita harus mengakui bahwa tidak hanya bangsa Yahudi, tapi beberapa bangsa lain yang berasal dari anak-anak Ibrahim lainnya dan banyak suku-sku yang diajak dan terpikat oleh mereka, adalah juga Muslim; artinya, orang-orang yang beriman kepada Allah dan tunduk pada kehendak-Nya.

    Adalah Bani Esau, Edom, Midian, dan banyak bani lainnya yang tinggal di Arabia, mereka mengenal Tuhan dan menyembah-Nya seperti bani Israel. Bani-bani ini juga punya nabi dan pembimbing agamanya masing-masing seperti Yob, Yethro (bapak mertuanya Nabi Musa), Balaam, Hud, dan banyak lagi. Namun, seperti kaum Yahudi, mereka telah lari kepada penyembahan berhala sampai diberantas total oleh sang Pangeran para nabi.

    Kaum Yahudi, sekitar abad ketujuh SM, mengarang sebagian besar kitab-kitab Perjanjian Lama, ketika ingatan-ingatan akan penaklukkan negeri Kanaan oleh Yoshua, bait Sulaiman dan Yerusalem, adalah kejadian-kejadian yang terkubur dalam sejarah jaman dulu mereka yang menakjubkan. Semangat nasionalistik dan Yudaistik terhadap keasingan dan kecemasan merajalela di tengah sebagian kecil bangsa Israel; keyakinan akan datangnya Juru Selamat Agung untuk mengembalikan singgasana dan mahkota Daud yang hilang telah mendominasi, dan makna lama Syalom sebagai nama agama Ibrahim dan lazim bagi semua umat yang berbeda-beda yang merupakan keturunannya sudah dilupakan.

    Dari sudut pandang inilah saya memandang pasal Yeremia ini sebagai salah satu golden text dalam tulisan suci bahasa Ibrani.

    ——————————————————————————–

    Footnotes
    21. Menarik dan penting untuk dicatat, betapa hasil-hasil observasi para pakar bersesuaian dengan hasil observasi eks-Kaiser Jerman yang, pada saat peringatan ulang tahunnya yang ketujuh puluh tahun di Doorn, Belanda, dikabarkan telah mengatakan dalam pidatonya, “Dan pahamilah ini –jika sekiranya kaum Muhammadan memahami ide bahwa adalah perintah Allah untuk membawa ketertiban ke Barat yang mundur dan tunduk kepada kehendak-Nya, kemudian– dengan keimana kepada Tuhan– mereka akan menemukan bangsa Eropa yang tidak bertuhan seperti gelombang air pasang, terhadap mana kaum Bolshevis yang paling komunis sekalipun, yang penuh dengan hasrat perang, akan tidak berdaya.” (Evening Standard, London, Januari 26, 1929).

    Sumber:

    “Menguak Misteri Muh