Karena Tuhan Itu Tak Ada, Maka Janganlah Berbuat Dosa

Oops… Jangan ngamuk dulu. Itu “cuma” ungkapan Albert Camus, filsuf Perancis penerima hadiah nobel sastra 1957. Barangkali, dia hendak “menyindir” mentalitas orang-orang beragama, yang memposisikan Tuhan cuma menjadi penghapus atau tipeks, terhadap dosa-dosa manusia. Namun bisa juga lebih dari sekadar menyindir, karena sepertinya, Albert memang atheis.

Boleh tak setuju dengan penggagas absurditas ini. Namun setidaknya, ada satu sindiran Albert lainnya yang semestinya kita jadikan renungan. Katanya, dan saya setuju, di permukaan bumi ini, kita lebih sering menemukan konflik antarsesama orang beriman, baik yang beda agama maupun satu agama namun lain sekte, dibanding konflik antara orang beriman dengan yang atheis. Tidakkah itu sangat aneh?

Begitu asyiknya orang-orang beriman ini dengan perasaan paling benarnya itu, sehingga mereka lupa, “musuh” mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang tak mengakui Tuhan.

Konflik itu bisa sekadar debat panas di ruang-ruang obrol (chat room), sampai pembantaian buas di arena perang “suci”. Sekali lagi bukankah ini aneh?

Nah, kalau aneh, mending ngga usah dibahas. Ntar, ikutan aneh.

*****

Salah satu isu, di mana kaum beriman dengan yang atheis berbeda pendapat sangat keras, adalah soal teori evolusi. Bagaimana tidak, terbukti tidaknya teori ini, secara langsung akan menentukan, ada tidaknya peran Tuhan di alam semesta.

Lewat teorinya dalam buku The Origin of Species itu, Darwin tidak saja menohok keimanan Kristen, tetapi juga melabrak hampir semua iman, terutama dua “saudaranya” sesama agama samawi (Abrahamic religions) Yahudi dan Islam, yang narasi kitab sucinya tentang penciptaan sungguh mirip.

Sebenarnya, aku sering merasa geli sendiri melihat [ulah penganut] tiga agama ini. “Sedarah” tapi konfliknya justru paling berdarah-darah. Paling banyak kesamaan paham, namun justru saling bungkam. Sedarah, karena sama-sama turunan Ibrahim, yang diakui sebagai “Bapak” orang beriman oleh ketiganya. Begitu pula dua anaknya, Ishak dan Ishmail, mendapat penhormatan yang kurang lebih sama. Banyak kesamaan paham, karena memang sangat banyak kemiripannya. Nanti saya akan posting soal ini, dalam keadaan yang lebih tenang.

Nah, kini saya agak senang, karena sesekali orang Yahudi, Kristen, dan Islam mulai memperlihatkan kemarahan yang sama kepada teori evolusi. Bagaimana tidak, teori ini, membuat kisah penciptaan Adam dan Eva (Hawa), yang ditulis rapi jali di kitab-kitab suci, menjadi tak lebih dari sekadar dongeng pengantar tidur.

Memang, musuh bersama, akan mengingatkan orang, bahwa mereka sesungguhnya bersaudara.

Kepalaku tiba-tiba pusing dengan topik agak berat ini. Pokoknya, walau Tuhan itu ada, usahakanlah jangan berbuat dosa. Sebab, selain untuk mengampuni kita, sungguh masih sangat banyak urusan Tuhan yang lainnya.

Salam….

About these ads

16 thoughts on “Karena Tuhan Itu Tak Ada, Maka Janganlah Berbuat Dosa

  1. Susie

    Seperti ajakan Bang Toga utk merenungkan , saya jadi tercenung , dengan pertanyaan sama , mengapa , mengapa orang2 yg beriman tapi beda aliran atau orang2 beriman tapi beda agama seringnya saling berantem dan bermusuhan ???

    setiap agama mempunyai kitab sucinya masing2 , di mana fungsinya tidak ubahnya seperti buku “Fortran User Guide , kalau kita belajar bahasa FORTRAN dan tentu saja berbeda dengan bahasa C ( pascal ) .Kalau kita pingin menulis program dalam bahasa fortran ya jangan pakai user guidenya bahasa pascal karena nggak akan berhasil karena perbedaan metodenya , begitu pula sebaliknya

    Jadi intinya , selayaknya setiap penganut agama tidak saling mencampuri , berimanlah sesuai user guide buku masing2 , dan tidak usah memaksakan kehendak kita terhadap apa yg kita yakini karena agama dan Tuhan adalah sesuatu yg abstrak , setiap dari kita mempunyai pandangan2 masing dan biarlah itu menjadi urusan kita masing2 ( pribadi2 ) dengan Tuhan seperti yang kita yakini …

    ahkirnya saya hanya berani mengutip tulisan Bang Toga “walau Tuhan itu ada, usahakanlah jangan berbuat dosa. Sebab, selain untuk mengampuni kita, sungguh masih sangat banyak urusan Tuhan yang lainnya ” .

    soal theori Darwin , sebagai fans Tuhan yg baik saya ” no comment ” , hahaha

    ( orang Batak khan , panggilan Mas yg kemarin2 jd kurang sreg hehehe ) .

    Balas
  2. Jarar Siahaan

    pada judul artikel ini lae tulis: karena TUHAN itu tak ada, maka janganlah berbuat dosa.

    dan di alinea terakhir lae tulis: walau TUHAN itu ada, usahakanlah jangan berbuat dosa.

    aku setuju dengan kedua kalimat itu; ada atau tidak ada TUHAN, mari jangan berbuat dosa. dan kita jangan berbuat baik hanya karena takut pada neraka; tapi karena memang setulusnya ingin berbuat baik.

    lae toga, kata-katamu selalu indah bagiku.
    terima kasih untuk tulisan yang mencerahkan ini.

    Balas
  3. eselha

    tambah cantik aja blognya… juga tulisannya, Let’s Keep writing, Bang, tulisan yang ditulis dengan hati semoga juga akan kembali ke hati pembacanya.
    Untuk 3 penganut yang selalu berdarah-darah…yah karena memang mereka memahami agama dan pengabdian pada Tuhan dengan darah, it’s all…! seandainya cinta menyentuhnya, amboi indahnya

    Balas
  4. sahat

    Tulisan yang menyentuh hati dan perlu untuk direnungkan. Kita sering menempatkan Tuhan sesuai dengan kehendak kita, seharusnya kita mengatakan ” KehendakMU lah yang terjadi dalam hidupku ” , salam kenal buat lae Toga dari saya yang telah kurang ajar memberikan tanggapan hahahahahaha bercanda :))

    Balas
  5. hanum

    hi…kalau ngmgin soal Dia, seakan-akan semua orang memaksa Dia-nya orang lain harus seperti Dia-nya dia. Padahal Dia bagi setiap orang bisa berbeda-beda. Dan setuju sama bang Toga kalau “sungguh masih sangat banyak urusan Tuhan yang lainnya” wheuk langsung pusing ya kepalanya saat ngmgin si Dia…hihihi…sama dunk…

    Balas
  6. yati

    woi….ada apa ini, kok menggosipkan saya? saya ada kok! tapi ya gitu deh….banyak urusan lain :p jadi…kalian semua, baik baik yaaa…

    *duh, maapkan saya, cuma becanda. manusia sih…cuma taat kalo diawasi!

    Balas
  7. irdix

    hmm.. antara orang ber-theis dan atheis sama aja sih.. dasar konsep yg mereka reaksi dari ‘keberadaan’ Tuhan. yg satu nrimo, yg satu nolak.. jd ya sama2 bahas ttg keberadaan.. tp emang bener jg mereka ga pernah konflik.

    jadinya ironis.. pertikaian internal ‘keluarga’ utk rebutan warisan..

    Balas
  8. angela

    maap………tapi apa yg dimaksud albert camus mengenai bunuh diri itu sebenarnya maksudnya adalah menyangkal diri dari segala hal yg ertentangan dgn kebenaran pribadi misal melakukan hal benar menurut pribadi walaupun yg lain bilang salah

    bkn bunuh diri bener2 mati

    Balas
  9. Fadli

    Hehe…secara keseluruhan aku memang belum membaca karya Camus. tapi tentang Tuhan tetap menjadi misteri bagiku “walaupun aku sendiri meyakininya”, pertumpahan darah di dunia, kematian dan lain sebagainya itu juga kehendaknya (takdir)..bukankah tak ada satupun kejadian yang lewat begitu saja tanpa sepengetahuan-Nya?
    mengenai Darwin dan Nietszhe tampaknya Adolf Hitler pernah mengaplikasikannya (rasist)..dia memilih bahwa hanya bangsa Aria yang lebih unggul..
    hmmm…dah ah, ga usah yang aneh-aneh, jadi njlimet, dosa lagi….

    Balas
  10. naikdelman

    Bagaimana tuhan bisa mati, kalo keberadaan(eksistensi) tuhan itu sendiri tidak bisa dibuktikan secara rasional, obyektif, empiris dan logis? Pakailah nalar untuk mencerahkan dunia, jangan pakai nalar untuk hal2 yang akhirnya buang2 energi aja…..

    Balas
  11. amputasi

    wah si abang ini, bagusnya smua postingan abang di rangkum jadi sebuah buku neh… atau udah yah? wah kalo udah saya mau beli neh…
    up.. sangat ngena banget… ada apa enggaknya Tuhan, masih banyak hal yang bisa dilakukan daripada berbuat dosa…

    Balas
  12. Maren Kitatau

    Karena Tuhan Itu tak ada,
    Maka janganlah berbuat dosa, hahaha!

    Tapi,
    Lebih baik lah berpikir Tuhan itu ada walaupun tak ada,
    Dari pada berpikir Tuhan itu tak ada padahal ada, kan?

    Paling baik memang berpikir Tuhan itu ada,
    Agar mati kita tak sia-sia kek binatang, gituloh.
    Bisanya mati ala alami doang! Tak keren, kan?

    Salam Damai!

    Balas
  13. reader

    “Begitu asyiknya orang-orang beriman ini dengan perasaan paling benarnya itu, sehingga mereka lupa, “musuh” mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang tak mengakui Tuhan…”

    opini yang absurd… apa anda benar2 membaca bukunya? apa mungkin anda kurang begitu paham dengan materinya?

    Balas
    1. Maren Kitatau

      Yg spt apa mati keren itu? Apa ada mati yg nggak keren?
      Mungkin perlu dicaoba berpikir mulai dari pada akhirnya, mati.
      Dari sana ke sini ada banyak yg perlu dipikirkan, dikerjakan, dijadikan,

      Salam Damai!

      Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s