jump to navigation

Pergilah Seperti Uap, Karena Kutau, Kau Akan Kembali Sebagai Hujan (Part II) 6 November, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, gairah, hujan, selingkuh, skandal, soulmate.
Tags: , ,
13 comments

Mungkin satu-satunya cara membuatmu percaya, bahwa rumah inilah tempat dirimu sepenuhnya diterima, adalah dengan membiarkanmu melanglang hingga ke tepi dunia.

Juga hanya dengan melepasmu melahap semua pesona dan gairah, kau akhirnya tahu bahwa untukmu, akulah yang terindah.

Di puncak lelah, kau pun pulang ke rumah. Tapi aku tak merasa jadi penunggu tempat sampah. Justru ini bukti keberanianku menjajal kualitas dengan siapa saja yang bisa kau temukan di luar sana.

Dunia memang tempat yang panas, membuatmu mendidih, hilang menguap seperti dihisap awang-awang. Tapi biarlah kau pergi seperti uap, karena kutahu, langit tanpa batas akan membuatmu kesepian, dan kau pun pulang sebagai hujan. Kemudian aku menari di bawah curahmu, dengan kemarau rindu yang kering meretak. Tarianku lincah, liukanku indah, seperti pertama dulu, karena hujan selalu saja baru. (lagi…)

Kemeriahan dan Keceriaan tak Selalu Berhubungan 16 Oktober, 2009

Posted by Toga Nainggolan in celebration of life, cinta, inspirasi, kata hati, kehidupan.
22 comments

Kadang kita mengeluarkan biaya besar demi terciptanya kemeriahan. Tetapi meriah, tak selalu berarti ceria, apalagi bahagia. Sebuah pelajaran lagi, dari anak-anakku untuk kami, orang tua mereka.

Seminggu lebih setelah kepergian ibu saya, Zaid anak kedua saya tepat 5 tahun. Ultah sendiri atau nyonyah bolehlah luput (atau bahkan lupa andai gak ada situs2 jejaring sosial itu, ketika wall tiba2 penuh dengan ucapan selamat, entah dari belahan dunia mana). Tapi ultah anak? Ngutang dana ke tetangga pun jadi.

Dalam sidang paripurna keluarga, lengkap dengan 5 fraksi, saya dan istri selaku pimpinan sidang, dan ketiga “produk” kami itu sebagai anggota, saya menyampaikan usul, acara sebaiknya di rumah saja.

(lagi…)

Tak Cukup Dijalani, Hidup Juga Patut Dirayakan 14 Oktober, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, insomnia, inspirasi, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, spiritualitas.
19 comments

halfJika (sekadar) dijalani, hidup terdengar seperti sebuah tugas, dan yang namanya tugas, tak selalu (atau malah jarang) terasa menyenangkan, kecuali bila Anda seseorang yang sangat ingin dapat promosi dari bos. Tapi jika (juga) dirayakan, hidup akan terasa seperti sebuah kesempatan (untuk berbahagia), a party time. Dan tentang kesempatan, orang biasanya bilang, “Jangan sampai dilewatkan!”

Apakah menganggap hidup sebagai tugas atau sebuah kesempatan akan mengubah hidup itu? “Itu kan anggapan doang, label thok. Hidup ya tetap gini-gini aja, gitu-gitu doang.” Nah, itulah yang mau kita bicarakan. :D

(lagi…)

Bertahan Hidup Bukan Karena Takut Mati 6 Oktober, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, bencana, celebration of life, filosofi, gairah, inspirasi, kehidupan, kematian, spiritualitas.
14 comments

Jika seseorang berjuang bertahan hidup-dari serangan penyakit, terpaan bencana, kesulitan ekonomi, atau apapun itu yang bisa mengancam kelangsungan hidupnya-bisakah dia disebut sebagai pengecut yang terlalu takut mati?

BERANI mati itu memang terdengar gagah, tetapi saya lebih kagum kepada mereka yang berani hidup. Modal untuk mati itu murah; setengah liter pestisida atau seutas tali rafia juga sudah cukup. Tidak percaya? Silakan coba. Kalau memang berminat, petunjuk teknisnya nanti saya kirim lewat email. Bergaransi dan telah teruji. ;) Sebaliknya, modal untuk tetap hidup justru teramat mahal; butuh keseluruhan diri kita.

Ketika hidup terasa menyesak dan pengap, saat segenap harap luruh menguap, and the only way to escape sepertinya adalah loncat dari atap, (atap JW Marriott biar langsung kolaps), malulah kepada nenek tua yang bertahan hidup dengan menjajakan kue, dari pagi hingga petang, dari tanah lapang sampai ujung-ujung gang. (lagi…)

Hidup Hanya Menunda Kekalahan 2 Oktober, 2009

Posted by Toga Nainggolan in celebration of life, cinta, dedikasi, kata hati, kehidupan, kematian, spiritualitas.
18 comments

Untuk Ibunda tercinta, dan semua saudaraku yang tengah dicabik bencana

Di depan pintu ruang ICU itu, saya benar-benar dihadapkan pada kenyataan, betapa ringkihnya nyawa, betapa rapuh kehidupan. Betapa hidup memang hanya menunda kekalahan.

Di dalam, ibu saya, wanita agung yang melahirkan dan membesarkanku dengan segala cinta, berbaring tanpa kesadaran. Matanya membuka, tapi ia sudah tak melihat apa-apa, termasuk tetes air mata anaknya.

Bermacam selang dan kabel terhubung ke tubuhnya. Monitor jantung terus berbunyi, nadanya datar, seperti menghitung langkah maut, yang menjadi semakin akrab.

Diabetes telah melumpuhkan ginjalnya. “Kita upayakan tidak harus cuci darah. Kita kasih insulin dosis tinggi, perlahan-lahan gulanya kita turunkan. Mohon Anda terus berdo’a,” kata dokter spesialis yang menanganinya. Itu pada hari kedua di ruang ICU. (lagi…)

Mencintaimu, tanpa Mengambil Satu Hal pun Darimu 3 September, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, celebration of life, cinta, inspirasi, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, soulmate.
40 comments

Jika aku bisa menghentikan denyut waktu, ku ingin menaruhmu ke dalam sebuah bingkai, menangkap cahaya di sekitarmu, mengagungkanmu dengan gita dan puja, memajang mengusungmu sebagaimana kau mestinya terlihat, lepas pisah dari noda dan pesona pada permukaan keseharian…

Kemudian aku akan berlutut, di sini di tengah jalanan, mengambil gambarmu. Tapi siapa yang akan percaya? Apakah hanya aku yang bisa melihatnya? Aku hanya ingin memandang, sebelum sesaat kemudian kau menghilang.

Aku hanya ingin mencintaimu, tanpa harus merenggut satu hal pun, dari dirimu… (lagi…)

Kama Rabbayani Saghira… 28 Agustus, 2009

Posted by Toga Nainggolan in artikel, spiritualitas.
Tags: , , , ,
14 comments

Pater Noster, atau Doa Bapa Kami, barangkali merupakan doa yang paling terkenal dalam agama Kristen. Perhaps the best-known prayer in Christianity, kata Wikipedia. Dalam Islam, “padanannya” barangkali Al Fatiha, surat (chapter) pembuka Al-Qur’an.

(Dan memang, substansi bahkan struktur keduanya mirip loh: pengakuan dan pemujaan, penyerahan diri, permohonan akan kebutuhan hidup, petunjuk dan pengampunan, dan terakhir perlindungan dari kesesatan. Tapi ngga usah bahas itu ya… Ntar jadi forum “holy war” lagi deh).

Nah, salah satu bagian dari Pater Noster tadi berbunyi: “Dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. (lagi…)

For Everything Will Come To An End… 21 Agustus, 2009

Posted by Toga Nainggolan in arise, cinta, inspirasi.
15 comments

Saya lebih memilih satu tarikan napas merasakan aroma rambutnya, satu kecupan saja dari bibirnya, satu genggaman pada jemarinya, daripada keabadian tapi tanpa itu semua…

Kalau sudah nonton City of Angels, dan menyimaknya tentu saja–bukannya malah membuat “suting pilem” sendiri di keremangan bioskop itu–Anda pasti ingat quote itu, dari sang “malaikat” yang diperankan Nicolas Cage.

Ketika harus memilih, antara keabadian yang hampa, an empty eternity, atau sebuah momen yang penuh tapi akan berlalu meluruh, manakah yang akan Anda ambil? (lagi…)

Ngerumpi? Y Not? Jika Niatnya untuk Memahami Wanita, Menjadi Makin Pria 24 Juli, 2009

Posted by Toga Nainggolan in artikel, celebration of life, cinta, dedikasi, filosofi, insomnia, inspirasi, interkonektivitas, kehidupan, nesiaweekism, pernikahan, wanita.
25 comments

Masalah yang muncul dalam hubungan pria-wanita, hampir semuanya muncul akibat minimnya saling pengertian satu sama lain. Masing-masing berharap agar pasangan berpikir seperti dirinya.

Hasilnya bisa ditebak. Kedua belah pihak merasa tidak dimengerti, merasa dirinya harus selalu mengalah, dan akhirnya sama-sama terlempar pada kesepian dan kekecewaan masing-masing. (lagi…)

Agama vs Atheisme, Round 2! 13 Juli, 2009

Posted by Toga Nainggolan in artikel, filosofi, inspirasi, kutipan, spiritualitas.
318 comments

Tulisan Islam vs Kristen, Pemenangnya Atheis, telah menjelma menjadi thread diskusi spiritualitas yang sangat ramai. Saat tulisan ini saya publish, tulisan itu sudah mendapat 684 komentar, belum termasuk komentar yang berupa balasan langsung. Ini sudah mendekati “sukses” judul Justru Setelah Jadi Muslim, Aku Tahu Kristen Itu Benar, yang mendapat komentar di atas 1.000 buah!

Tulisan berikut adalah salah satu komentar untuk tulisan tersebut, dari seorang pembaca dengan nick Hari. Sebuah tulisan singkat, namun mampu membuka mata–setidaknya mata saya–bahwa rasionalitas dan irasionalitas, agama dan atheisme, tak selalu bisa dipertandingkan, karena mereka memang punya “kelas” yang berbeda, punya pesona masing-masing, memiliki “lubang” sendiri-sendiri. (lagi…)

Ranking 6 Itu Ngga Ada Apa-apanya! 30 Juni, 2009

Posted by Toga Nainggolan in dedikasi, gairah, inspirasi, kata hati, kehidupan, sahabat.
15 comments

Tulisan saya, Anak Berprestasi, Bangga atau Justru Malu Sendiri?, yang berisi perenungan tentang kedurhakaan saya sebagai orang tua kepada Echa anak saya, mendapat tanggapan beragam, baik di blog ini, maupun di Facebook.

Ternyata saya tidak sendirian dalam kekeliruan itu. Hal itu tergambar dalam penuturan seorang pembaca, Sealead, pemilik Blog Cinta dan Patah Hati, dalam komennya untuk tulisan itu. Berikut saya muat utuh, mudah-mudahan bisa memperkaya refleksi kita, para orang tua atau yang pada gilirannya juga akan menjadi orang tua. (lagi…)

Anak Berprestasi, Bangga atau Justru Malu Sendiri? 28 Juni, 2009

Posted by Toga Nainggolan in celebration of life, cinta, dedikasi.
29 comments

Prestasi anak pasti membuat orang tua bangga. Tapi bukankah itu sama naifnya–atau tololnya?–dengan anak yang membangga-banggakan orang tuanya, padahal dia sendiri sesungguhnya bukanlah siapa-siapa? Sekadar berbagi kerisauan hati…

Echa, ketiga dari kanan, di antara kawan-kawannya sesama juara kelas paralel.

Echa, ketiga dari kiri, di antara kawan-kawannya sesama juara kelas paralel.

“Riqueza Raihan Nainggolan!” kata pembawa acara, lantang, disambut gemuruh tepukan ratusan murid SD Wahidin Medan, dan para orang tua murid  yang menyaksikan pembagian rapor dan pengumuman peringkat di sekolah itu.

Echa, bidadari kecilku itu, dituntun wali kelasnya yang tampak sumringah, melangkah ke depan. Dia peringkat 2 paralel di seluruh kelas 1, dari 1-A sampai 1-M. Tak bisa kucegah hatiku dari membuncah oleh rasa bangga yang meluap melimpah ruah. Tak sadar aku bertepuk tangan, lebih keras, lebih bersemangat, lebih satu menit!, lebih lama dari siapapun yang ada di situ.

Para orang tua dan guru-guru di dekatku segera tahu, aku ayah anak yang dipanggil ke depan itu. Rasa bangga itu makin menjadi-jadi. Ingin rasanya menegaskan kepada mereka yang sedang melihat ke arahku, “Ya, aku ayah anak itu, aku ayahnya!(lagi…)

Hakikat Kerakyatan, Lebih Cepat Melanjutkan Derita 24 Juni, 2009

Posted by Toga Nainggolan in Politik, kata hati, kebohongan, kehidupan, kejenuhan, kemiskinan, marah-marah, opini, perbedaan kelas, sosial, stress, tragis.
Tags: , , ,
12 comments
Tiga pasangan itu sama-sama bagus. Maksudnya, bagus dalam berjanji, mencela, membusungkan dada atau membesarkan paha. Nasib kita di tangan kita, siapa pun yg terpilih tak kan memberi beda.

Dengan segala kehebohannya, mereka toh cuma sedang cari makan, sama seperti penjual es dawet ayu, yang berpeluh diterkam terik, merunduk dipukul debu. Bedanya, si penjual es ini tak merasa perlu berbohong, atau mengata-ngatai penjual es buah di sebelahnya.

Dua paragraf di atas menjadi status paling panjang sekaligus paling skeptis sepanjang sejarah saya berpesbuk. (Sejarah, Cing!) (lagi…)

Derita yang Menyembuhkan 17 Juni, 2009

Posted by Toga Nainggolan in celebration of life, dedikasi, filosofi, gairah, inspirasi, interkonektivitas, kata hati, kehidupan, nesiaweekism, spiritualitas.
10 comments

Ketika hati retak menganga, air mata jatuh menelaga, pikiran justru menemukan sebuah celah cahaya. Dengan caranya sendiri, aku justru merasa perih adalah rute yang harus dilewati untuk tetap tumbuh dan berkembang, untuk sembuh dan tetap terbang.

Membendung emosi justru bahaya terbesar. Kadang orang lari menghindari perih: menenggak alkohol, obat, melukai orang lain, dsb. Padahal jauh lebih aman dengan membiarkan diri terbuka kepada apa yang disebut sebagai derita.

Pelarian perih itu akan mendatangkan candu, apakah sekadar main PS atau main dengan PSK. Tapi mungkin sudah menjadi naluri alamiah kita untuk menghindarinya, dan oleh karenanya setiap orang pasti mencandu terhadap sesuatu. (lagi…)

Kutipan Wawancara dengan Hamzah Haz 26 Mei, 2009

Posted by Toga Nainggolan in Politik, artikel, filosofi, fundamentalisme, iblis, inspirasi, kutipan, nesiaweekism, opini, sosial, spiritualitas, wawancara.
Tags: , , , ,
5 comments

Hanya wawancara biasa, dengan mantan pejabat pula.

Tapi mungkin ada gunanya.

Mantan Wakil Presiden RI dan Ketua Umum PPP ini berbicara tentang merosotnya pamor partai Islam, dinamika politik dan demokrasi Indonesia, serta nikmatnya kehidupan setelah tak lagi menjadi “orang penting” di negeri ini.

Sebelumnya, saya hanya dijadwalkan punya waktu selama 30 menit. Namun perbincangan kemudian menjadi sangat akrab, dan akhirnya molor sampai hampir 2 jam, dan baru berhenti setelah azan Ashar berkumandang di dalam rumah, tempat berlangsungnya wawancara.

Ya, di dalam rumah, karena kediamannya di Jalan Kebon Pedes, Bogor itu, memang telah diubah menjadi masjid, dan hanya menyisakan sebuah kamar tamu, kamar tidur, dan teras yang tak terlalu luas, untuk kepentingan pribadinya. (lagi…)

Tak Ada yang Abadi, Hiduplah Sepenuhnya Hari Ini 26 Mei, 2009

Posted by Toga Nainggolan in artikel, celebration of life, cinta, filosofi, inspirasi, spiritualitas.
Tags: , ,
11 comments

Dijadwalkan bertemu selama 30 menit, saya akhirnya ngobrol hampir 2 jam dengan beliau. Tampak betul, sejak tak lagi jadi pejabat tinggi negara, waktu luangnya semakin banyak.

Obrolan yang akrab, ditemani kue-kue basah yang enak dan masih hangat di rumahnya di Bogor, sulit rasanya membayangkan beberapa tahun lalu dia merupakan orang kedua di republik ini.

Saya pernah melihatnya ketika berkunjung ke Medan, saat menjadi Wapres sekaligus Ketua Umum PPP. Bertemu dia kali ini, setelah tak lagi menyandang semua jabatan dan “kehormatan” itu, dengan jelas bisa terlihat wajahnya jauh lebih fresh. (lagi…)